Di zaman modern, manusia punya banyak ketakutan. Takut miskin. Takut gagal. Takut tidak punya pasangan. Takut tidak punya sinyal Wi-Fi. Tetapi anehnya, manusia justru jarang takut pada satu makhluk yang paling dekat dengannya: nafsunya sendiri.
Padahal, menurut para ahli tasawuf, nafsu itu seperti teman
kos yang makan mi instan kita diam-diam, memakai charger tanpa izin, lalu
ketika ditanya malah bilang, “Kita kan keluarga.” Ia hidup bersama kita, tidur
bersama kita, ikut dalam semua keputusan kita, tetapi diam-diam menyeret kita
ke jurang sambil tersenyum ramah.
Di tengah dunia yang sibuk mengajarkan “jadilah dirimu
sendiri,” tasawuf datang membawa kabar yang agak mengganggu pasar motivasi
modern: “Dirimu itu justru masalahnya.”
Kalimat ini terdengar tidak menjual. Tidak cocok dijadikan
caption Instagram dengan latar pegunungan dan kopi susu gula aren. Tetapi
justru di situlah letak kejujurannya.
Tasawuf mengajarkan bahwa perjalanan menuju Tuhan bukan
dimulai dengan membangun citra diri, melainkan membongkar diri. Bukan
mempertebal ego, tetapi mengikisnya perlahan seperti kerak gosong di pantat
panci.
Konon ada ungkapan terkenal:
Masalahnya, mengenal diri dalam tasawuf bukan berarti
mengenali “love language,” “MBTI,” atau menemukan bahwa diri kita ternyata
“introvert yang suka healing.” Itu baru pengenalan kulit luar. Tasawuf
berbicara lebih dalam dan lebih tidak nyaman.
Kalau konsep ini dijual dalam seminar motivasi modern,
mungkin peserta langsung meminta refund.
Bayangkan seorang motivator naik ke panggung lalu berkata:
“Saudara-saudara! Anda lemah! Anda miskin di hadapan Allah!
Anda tak berdaya!”
Belum selesai kalimat kedua, panitia mungkin sudah diminta
mematikan mikrofon.
Namun justru kesadaran itulah pintu ma’rifat. Sebab selama
manusia merasa dirinya hebat, ia tidak punya ruang untuk merasakan kebesaran
Tuhan. Gelas yang sudah penuh oleh ego tak bisa lagi diisi air hikmah.
Paling-paling hanya tumpah menjadi thread panjang di media sosial.
Tasawuf memahami satu rahasia yang sering gagal dipahami
zaman modern: ego manusia itu licin sekali. Ia bisa menyamar menjadi apa saja,
bahkan menjadi kesalehan.
Orang bisa riya bukan hanya karena memamerkan mobil baru,
tetapi juga karena memamerkan air mata tahajudnya.
Dulu riya mungkin terjadi di masjid kampung. Sekarang riya
sudah punya ring light.
Dan anehnya, setelah mengatakan “bukan untuk dipuji,” ia
lalu mengecek notifikasi setiap tiga menit.
Nafsu memang kreatif. Jika setan adalah penjahat jalanan,
maka nafsu adalah konsultan branding. Ia tahu cara membuat manusia merasa suci
sambil diam-diam menikmati pujian.
Karena itu para sufi sangat takut dipuji. Bukan karena
mereka tidak suka apresiasi, tetapi karena mereka tahu pujian itu seperti
gorengan: renyah di luar, tetapi bisa menaikkan kolesterol ruhani.
Tasawuf memang sering terasa seperti tamparan halus. Tidak
keras, tetapi membuat pipi batin terasa hangat.
Yang menarik, tasawuf tidak berhenti pada menyalahkan nafsu.
Ia menawarkan jalan panjang untuk mendidiknya. Nafsu itu tidak dibunuh seperti
mematikan lampu. Ia lebih mirip anak kecil hiperaktif yang harus diajak belajar
pelan-pelan.
Perjalanan ini bukan sulap. Tidak ada paket “Hijrah Platinum
7 Hari Langsung Wali.” Bahkan kadang manusia merasa sudah ikhlas, lalu marah
hanya karena komentarnya tidak dibalas.
Begitulah nafsu bekerja. Ia seperti rumput liar di musim
hujan. Baru dicabut hari ini, besok muncul lagi sambil melambai.
Namun di situlah indahnya perjuangan spiritual. Tasawuf
tidak meminta manusia menjadi malaikat. Ia hanya meminta manusia jujur melihat
dirinya sendiri.
Dan ini sangat relevan di era media sosial.
Hari ini manusia hidup dalam pasar citra. Semua orang sibuk
menjadi etalase. Sarapan dipotret. Sedekah direkam. Menangis direels-kan.
Bahkan kesepian pun kini punya filter estetik.
Padahal semakin keras manusia meminta dilihat, sering kali
semakin kosong ia di dalam.
Pada akhirnya, inti perjalanan ruhani bukan menjadi terkenal
sebagai orang saleh, melainkan menjadi hamba yang tulus. Sebab ada perbedaan
besar antara orang yang terlihat dekat dengan Tuhan dan orang yang benar-benar
dekat dengan Tuhan.
Tasawuf memilih yang kedua.
Bukan setan.
Bukan teknologi.
Tetapi diri sendiri yang terlalu kagum pada dirinya sendiri.
Dan mungkin itulah sebabnya perjalanan menuju Allah terasa
berat. Sebab yang harus dibawa naik bukan hanya badan, tetapi juga ego yang
gemar minta dipuji seperti anak kecil merengek balon di pasar malam.
Sebab sering kali, manusia tidak sadar bahwa berhala paling
modern bukan patung batu.
Melainkan ego yang duduk diam di dalam dada.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.