Ada dua tipe manusia di dunia ini. Pertama, orang yang pulang dari liburan ke Jepang lalu berkata, “Budayanya disiplin sekali.” Kedua, orang yang baru dua minggu ke Rusia lalu menulis esai panjang tentang kebodohan Eropa Barat selama berabad-abad. Stefan Zweig jelas masuk kategori kedua—dan syukurlah, karena kalau tidak, kita tak akan punya bahan intelektual yang begitu elegan untuk diperdebatkan sambil ngopi dan pura-pura memahami geopolitik Eurasia.
Tahun 1928, Zweig pergi ke Uni Soviet untuk menghadiri
perayaan seratus tahun kelahiran Leo Tolstoy. Dua minggu di sana, ia langsung
merasa menemukan sesuatu yang selama ini tak dipahami Barat: Rusia bukan
sekadar negeri salju, vodka, dan revolusi berkumis tebal. Rusia adalah
peradaban besar yang lapar budaya, rakus pendidikan, dan punya semangat
intelektual yang membuat Eropa tampak seperti turis museum yang cuma datang
buat beli magnet kulkas.
Zweig lalu menulis dengan nada seorang humanis yang baru
saja mendapat pencerahan spiritual di kereta Trans-Siberia. Ia heran mengapa
orang Eropa begitu rajin mondar-mandir ke Paris, Roma, atau Amsterdam, tetapi
malas memahami Rusia. Alasannya, kata dia, selalu sama: prasangka. Dulu
anti-Tsar, lalu anti-Bolshevik. Pokoknya setiap kali Rusia muncul, Eropa
seperti tetangga kompleks yang langsung menutup pagar sambil berbisik, “Wah,
orang situ lagi.”
Dan lucunya, hampir seratus tahun kemudian, internet
menyambut kutipan itu seperti menemukan meme kuno yang ternyata masih relevan.
Tahun 2026, kutipan Zweig viral lagi. Netizen modern membagikannya dengan
semangat, seolah-olah Stefan Zweig adalah podcaster geopolitik yang baru
selesai episode “Mengapa Barat Salah Paham terhadap Rusia, Part 47.”
Memang ada sesuatu yang abadi dari pola manusia. Dulu orang
Eropa takut Bolshevisme, sekarang takut “putinisme.” Dulu Rusia dianggap
ancaman ideologis, sekarang ancaman geopolitik. Dulu koran-koran menulis
tentang bahaya revolusi merah, sekarang timeline media sosial penuh analis
dadakan dengan avatar anime dan bendera NATO mini di bio.
Yang menarik, Zweig sebenarnya bukan buzzer Kremlin avant la
lettre. Ia bukan influencer geopolitik bersponsor gandum Siberia. Ia cuma
seorang humanis klasik yang percaya bahwa cara terbaik memahami bangsa lain
adalah datang langsung, melihat manusianya, membaca sastranya, dan mungkin
makan supnya. Pendeknya: ia percaya rasa ingin tahu lebih sehat daripada
prasangka.
Dan di sinilah ironi modern muncul.
Hari ini banyak orang merasa memahami Rusia hanya karena
menonton tiga video YouTube, membaca utas Twitter sepanjang 48 slide, dan
melihat peta perang dengan musik dramatis. Kita hidup di era ketika seseorang
bisa merasa menjadi ahli Eurasia hanya karena pernah membaca caption Instagram
tentang Dostoevsky sambil minum kopi oat latte.
Zweig mungkin akan terkejut melihat bahwa abad ke-21
berhasil menciptakan spesies baru: turis intelektual digital. Mereka
tidak pergi ke mana-mana, tetapi opininya melintasi benua setiap tiga menit.
Namun, tentu saja, Zweig juga bukan nabi yang kebal kritik.
Dua minggu di Uni Soviet memang cukup untuk jatuh cinta pada semangat
rakyatnya, tetapi belum tentu cukup untuk memahami mesin politiknya. Ini
seperti menginap dua malam di pesantren lalu langsung menulis buku berjudul Hakikat
Islam Nusantara dan Masa Depan Peradaban Dunia. Ada kemungkinan sedikit
tergesa-gesa.
Apalagi Rusia yang dilihat Zweig adalah Rusia era NEP—masa
yang relatif longgar sebelum Stalin mulai mengubah negara menjadi kombinasi
antara birokrasi raksasa dan mimpi buruk administratif. Zweig datang ketika
optimisme revolusi masih punya aroma romantis. Ia belum melihat gulag, teror
besar-besaran, atau paranoia politik yang kemudian membuat banyak intelektual
Barat mendadak sadar bahwa “eksperimen sejarah” kadang bisa berubah menjadi
ruang interogasi yang sangat tidak eksperimental.
Di sinilah André Gide masuk seperti teman tongkrongan yang
pulang lebih belakangan lalu berkata, “Bro… situasinya ternyata agak serem.”
Dan memang begitulah sejarah bekerja. Selalu ada intelektual
yang datang terlalu cepat dan terlalu terpesona, lalu ada intelektual lain yang
datang belakangan dan terlalu kecewa. Dunia pemikiran kadang mirip review
restoran Google Maps: bintang lima karena pelayannya ramah, bintang satu karena
ternyata dapurnya terbakar.
Meski begitu, pesan utama Zweig tetap menarik: jangan
reduksi sebuah bangsa hanya menjadi pemerintahannya. Rusia lebih besar daripada
Kremlin, sebagaimana Amerika lebih besar daripada Gedung Putih, dan Indonesia
lebih besar daripada grup WhatsApp keluarga yang penuh hoaks kesehatan.
Masalahnya, manusia memang suka menyederhanakan. Otak kita
malas. Jauh lebih gampang berkata “Rusia jahat” atau “Barat munafik” daripada
membaca sejarah panjang, sastra, filsafat, dan kompleksitas sosialnya. Kita
ingin dunia seperti pertandingan sepak bola: pilih kubu, teriak, selesai.
Padahal kebudayaan tidak pernah sesederhana itu. Negeri yang
melahirkan Fyodor Dostoevsky, Anton Chekhov, dan Pyotr Tchaikovsky jelas tak
bisa dijelaskan hanya dengan headline perang. Sama seperti Eropa tak bisa
direduksi menjadi kolonialisme, atau internet tak bisa direduksi menjadi tempat
orang debat sambil salah baca artikel.
Mungkin itulah yang paling lucu dari seluruh kisah ini:
manusia terus mengulang pola yang sama sambil merasa dirinya paling modern.
Kita mengira sudah sangat maju karena memakai AI, satelit, dan media sosial,
padahal cara kita berprasangka masih sama seperti tahun 1928—hanya resolusi
gambarnya yang lebih HD.
Dan Stefan Zweig, dari alam baka intelektualnya, mungkin
hanya bisa menghela napas sambil berkata, “Saya cuma menyuruh kalian lebih
penasaran sedikit, bukan saling lempar thread geopolitik tiap malam.”
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.