Jumat, 08 Mei 2026

Ketika Kedamaian Batin Lebih Mahal daripada Paket Data untuk Debat Online

Ada satu fase dalam hidup ketika seseorang mulai memahami bahwa tidak semua hal harus ditanggapi. Dulu, kalau ada orang salah bicara sedikit, kita langsung berubah menjadi pengacara Mahkamah Konstitusi versi warung kopi. Ada komentar nyinyir sedikit di media sosial, jempol langsung panas. Baru baca separuh status Facebook, darah sudah mendidih seperti mi instan tiga menit.

Namun seiring bertambah usia, manusia mulai mengalami pencerahan spiritual yang sangat dalam:
"Ah sudahlah."

Konon, kutipan ini disematkan kepada Harrison Ford. Intinya sederhana: ada titik dalam hidup ketika kedamaian batin terasa jauh lebih nikmat daripada menang debat. Dan terus terang saja, ini adalah bentuk evolusi manusia paling tinggi setelah kemampuan membedakan charger sendiri dan charger milik teman.

Dulu kita merasa setiap argumen harus dimenangkan. Kalau ada orang berkata, “Bakso lebih enak daripada sate,” kita siap membuat presentasi PowerPoint lengkap dengan grafik statistik dan data BPS. Kalau ada yang salah menyebut tahun Proklamasi, kita langsung menjelma dosen sejarah yang belum menerima honor.

Sekarang?
Ada orang menulis:

“Bumi itu datar.”

Kita hanya mengangguk sambil menyeruput kopi:

“Baiklah, semoga perjalanan Anda lancar sampai ujungnya.”

Itulah kematangan emosional. Atau mungkin kelelahan. Kadang sulit dibedakan.

Esai serius tadi menyebut bahwa ini bukan sikap apatis. Dan memang benar. Orang yang sudah matang bukan tidak peduli; dia hanya mulai sadar bahwa energi hidup itu terbatas. Setelah umur tertentu, manusia mulai menghitung stamina emosional seperti menghitung kuota internet menjelang akhir bulan.

Kalau dulu kita rela begadang demi memenangkan debat online dengan akun bernama SingaPadang69, sekarang kita sadar:
“Loh, saya ini capek-capek debat, sementara lawan saya mungkin sedang komentar sambil rebahan pakai sarung dan makan kerupuk.”

Ada kebijaksanaan besar dalam memilih diam. Sebab banyak pertengkaran modern sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa selain migrain ringan dan keinginan untuk uninstall media sosial lalu pindah ke gunung.

Media sosial hari ini memang seperti pasar malam emosi. Semua orang ingin bereaksi. Semua orang merasa harus punya pendapat. Ada orang makan mi dicampur cokelat saja bisa memicu perang saudara di kolom komentar.

Dan lucunya, algoritma internet sangat menyukai kemarahan. Semakin marah kita, semakin lama kita menatap layar. Semakin lama menatap layar, semakin banyak iklan masuk. Jadi di era digital, kemarahan bukan cuma emosi—ia sudah menjadi komoditas ekonomi. Kapitalisme ternyata bukan hanya menjual barang, tetapi juga menjual emosi tersinggung.

Di titik inilah pesan ala Harrison Ford terasa relevan. Setelah melewati banyak drama hidup, manusia mulai sadar bahwa kemenangan debat itu sering kali tidak mengubah apa pun. Anda bisa memenangkan argumen selama tiga jam penuh, menyusun logika seperti filsuf Yunani, menghadirkan data, jurnal ilmiah, dan kutipan Latin—tetapi lawan debat tetap menjawab:

“Ya terserah sih.”

Seketika seluruh perjuangan intelektual runtuh seperti rempeyek kena angin.

Maka orang bijak mulai memilih medan perang yang penting. Mereka tidak lagi bertarung demi ego, tetapi demi ketenangan. Ini mirip pendekar tua dalam film silat yang sudah malas menghunus pedang. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena sadar biaya servis rumah sakit sekarang mahal.

Ada fase ketika kebahagiaan terbesar bukan lagi “menang,” melainkan bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan komentar orang asing di internet. Sebab kedamaian batin ternyata lebih mewah daripada validasi digital.

Dan memang benar: semakin dewasa seseorang, semakin ia menikmati hal-hal sederhana. Duduk tenang. Minum kopi hangat. Tidak membuka kolom komentar. Tidak ikut perang opini. Tidak menjelaskan sesuatu kepada orang yang memang tidak ingin mengerti.

Itu sebabnya banyak orang tua tampak lebih santai. Mereka bukan kalah. Mereka hanya sudah naik kelas. Ketika anak muda sibuk adu argumen, mereka sibuk mencari posisi tidur yang tidak bikin pinggang sakit.

Pada akhirnya, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan membuktikan bahwa kita selalu benar. Kadang kemenangan terbesar justru datang ketika kita berkata:

“Sudahlah.”

Lalu menutup ponsel.
Memanaskan gorengan.
Dan kembali menikmati hidup dengan tenang.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.