Ada satu fase dalam hidup ketika seseorang mulai memahami bahwa tidak semua hal harus ditanggapi. Dulu, kalau ada orang salah bicara sedikit, kita langsung berubah menjadi pengacara Mahkamah Konstitusi versi warung kopi. Ada komentar nyinyir sedikit di media sosial, jempol langsung panas. Baru baca separuh status Facebook, darah sudah mendidih seperti mi instan tiga menit.
Konon, kutipan ini disematkan kepada Harrison Ford. Intinya
sederhana: ada titik dalam hidup ketika kedamaian batin terasa jauh lebih
nikmat daripada menang debat. Dan terus terang saja, ini adalah bentuk evolusi
manusia paling tinggi setelah kemampuan membedakan charger sendiri dan charger
milik teman.
Dulu kita merasa setiap argumen harus dimenangkan. Kalau ada
orang berkata, “Bakso lebih enak daripada sate,” kita siap membuat presentasi
PowerPoint lengkap dengan grafik statistik dan data BPS. Kalau ada yang salah
menyebut tahun Proklamasi, kita langsung menjelma dosen sejarah yang belum
menerima honor.
“Bumi itu datar.”
Kita hanya mengangguk sambil menyeruput kopi:
“Baiklah, semoga perjalanan Anda lancar sampai ujungnya.”
Itulah kematangan emosional. Atau mungkin kelelahan. Kadang
sulit dibedakan.
Esai serius tadi menyebut bahwa ini bukan sikap apatis. Dan
memang benar. Orang yang sudah matang bukan tidak peduli; dia hanya mulai sadar
bahwa energi hidup itu terbatas. Setelah umur tertentu, manusia mulai
menghitung stamina emosional seperti menghitung kuota internet menjelang akhir
bulan.
Ada kebijaksanaan besar dalam memilih diam. Sebab banyak
pertengkaran modern sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa selain migrain ringan
dan keinginan untuk uninstall media sosial lalu pindah ke gunung.
Media sosial hari ini memang seperti pasar malam emosi.
Semua orang ingin bereaksi. Semua orang merasa harus punya pendapat. Ada orang
makan mi dicampur cokelat saja bisa memicu perang saudara di kolom komentar.
Dan lucunya, algoritma internet sangat menyukai kemarahan.
Semakin marah kita, semakin lama kita menatap layar. Semakin lama menatap
layar, semakin banyak iklan masuk. Jadi di era digital, kemarahan bukan cuma
emosi—ia sudah menjadi komoditas ekonomi. Kapitalisme ternyata bukan hanya
menjual barang, tetapi juga menjual emosi tersinggung.
Di titik inilah pesan ala Harrison Ford terasa relevan.
Setelah melewati banyak drama hidup, manusia mulai sadar bahwa kemenangan debat
itu sering kali tidak mengubah apa pun. Anda bisa memenangkan argumen selama
tiga jam penuh, menyusun logika seperti filsuf Yunani, menghadirkan data,
jurnal ilmiah, dan kutipan Latin—tetapi lawan debat tetap menjawab:
“Ya terserah sih.”
Seketika seluruh perjuangan intelektual runtuh seperti
rempeyek kena angin.
Maka orang bijak mulai memilih medan perang yang penting.
Mereka tidak lagi bertarung demi ego, tetapi demi ketenangan. Ini mirip
pendekar tua dalam film silat yang sudah malas menghunus pedang. Bukan karena
tidak mampu, tetapi karena sadar biaya servis rumah sakit sekarang mahal.
Ada fase ketika kebahagiaan terbesar bukan lagi “menang,”
melainkan bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan komentar orang asing di internet.
Sebab kedamaian batin ternyata lebih mewah daripada validasi digital.
Dan memang benar: semakin dewasa seseorang, semakin ia
menikmati hal-hal sederhana. Duduk tenang. Minum kopi hangat. Tidak membuka
kolom komentar. Tidak ikut perang opini. Tidak menjelaskan sesuatu kepada orang
yang memang tidak ingin mengerti.
Itu sebabnya banyak orang tua tampak lebih santai. Mereka
bukan kalah. Mereka hanya sudah naik kelas. Ketika anak muda sibuk adu argumen,
mereka sibuk mencari posisi tidur yang tidak bikin pinggang sakit.
Pada akhirnya, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan
membuktikan bahwa kita selalu benar. Kadang kemenangan terbesar justru datang
ketika kita berkata:
“Sudahlah.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.