Minggu, 03 Mei 2026

Sahabat yang Diam (Tapi Tidak Ngambek): Catatan dari Rak Buku yang Sering Kita PHP-in

Ada satu jenis hubungan yang paling stabil di dunia modern: hubungan kita dengan buku yang belum dibaca. Tidak ada drama, tidak ada tuntutan, tidak ada chat “kamu kok berubah?”. Mereka hanya diam. Sangat diam. Terlalu diam, malah—sampai kadang kita curiga mereka sedang menghakimi.

Di tengah dunia yang dipenuhi notifikasi—yang bahkan bisa lebih cerewet dari tetangga sebelah—buku tampil sebagai makhluk paling santun. Kita membeli mereka dengan penuh harapan, memajangnya dengan bangga, lalu… ya sudah. Kita tinggalkan. Hubungan ini kalau diibaratkan manusia, mungkin sudah masuk kategori ghosting intelektual.

Untungnya, Winston Churchill datang sebagai semacam konselor hubungan—khusus untuk relasi manusia dengan buku. Nasihatnya sederhana tapi radikal: kalau tidak sempat membaca semua buku, ya… dielus saja. Dibuka. Diintip. Dibiarkan terbuka di halaman mana pun. Intinya: jangan terlalu serius.

Bayangkan itu. Di saat dunia menyuruh kita “menyelesaikan” segala hal—target, resolusi, bahkan drama hidup orang lain—Churchill justru membebaskan kita dari kewajiban menaklukkan buku. Ia seperti berkata, “Tenang saja, ini bukan ujian nasional.”

Dan di sinilah letak kejenakaannya: kita ini sering merasa bersalah bukan karena tidak membaca, tapi karena merasa harus membaca secara benar. Dari halaman pertama, runtut, selesai, lalu bisa menjelaskan isi buku dengan percaya diri seolah-olah sedang sidang skripsi. Padahal, buku tidak pernah minta diperlakukan seperti itu. Buku bukan dosen pembimbing. Buku tidak akan bilang, “Ini kamu paham nggak sih konteksnya?”

Justru, seperti kata Churchill, hubungan terbaik dengan buku itu mirip kenalan santai. Tidak harus intens, tapi hangat. Kita bisa membuka satu halaman, membaca satu kalimat, lalu menutupnya lagi sambil berpikir, “Wah, dalam juga ya,” meskipun sebenarnya kita belum terlalu paham. Dan itu tidak apa-apa. Buku tidak akan menagih klarifikasi.

Di era doomscrolling, ketika jempol kita lebih atletis daripada pikiran kita, buku hadir sebagai oase yang… ya, kadang hanya kita pandangi dari jauh. Kita tahu mereka penting, kita tahu mereka dalam, tapi entah kenapa selalu kalah dengan video 30 detik tentang kucing yang bisa salat (yang belum tentu sah juga gerakannya).

Namun justru di situlah nilai buku yang belum terbaca. Mereka bukan simbol kegagalan. Mereka adalah simbol harapan. Setiap buku di rak adalah versi optimistis dari diri kita di masa lalu yang berkata, “Suatu hari nanti aku akan jadi lebih pintar.” Walaupun hari itu sering ditunda oleh episode serial berikutnya.

Fenomena TBR (To Be Read) yang menumpuk itu sebenarnya bukan masalah literasi, tapi masalah ekspektasi. Kita ingin menjadi manusia yang membaca segalanya, memahami segalanya, dan mungkin—kalau sempat—menjadi bijaksana. Tapi hidup keburu sibuk, dan akhirnya kita hanya sempat menjadi… pembeli buku yang penuh niat baik.

Dan tidak apa-apa.

Karena seperti yang disiratkan oleh Churchill, mencintai buku tidak harus berarti menaklukkannya. Kadang cukup dengan menyusunnya rapi, mengelus punggungnya, membuka satu halaman secara acak, lalu menutupnya lagi dengan perasaan puas yang agak misterius. Itu sudah bentuk cinta. Agak pasif-agresif memang, tapi tetap cinta.

Jadi, kalau malam ini Anda melihat rak buku yang penuh dengan “janji-janji intelektual yang tertunda”, jangan panik. Jangan merasa bersalah. Dekati mereka. Ambil satu buku. Buka secara acak. Baca satu kalimat. Kalau tidak paham, tutup lagi dengan anggun.

Ingat: buku tidak pernah menuntut kita untuk jadi sempurna. Mereka hanya ingin ditemani—meskipun kita sering datang sebagai tamu yang tidak tahu diri.

Dan dalam dunia yang serba ribut ini, punya sahabat yang diam, sabar, dan tidak pernah mengeluh… itu bukan kegagalan. Itu kemewahan.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.