Ada satu jenis hubungan yang paling stabil di dunia modern: hubungan kita dengan buku yang belum dibaca. Tidak ada drama, tidak ada tuntutan, tidak ada chat “kamu kok berubah?”. Mereka hanya diam. Sangat diam. Terlalu diam, malah—sampai kadang kita curiga mereka sedang menghakimi.
Di tengah dunia yang dipenuhi notifikasi—yang bahkan bisa
lebih cerewet dari tetangga sebelah—buku tampil sebagai makhluk paling santun.
Kita membeli mereka dengan penuh harapan, memajangnya dengan bangga, lalu… ya
sudah. Kita tinggalkan. Hubungan ini kalau diibaratkan manusia, mungkin sudah
masuk kategori ghosting intelektual.
Untungnya, Winston Churchill datang sebagai semacam konselor
hubungan—khusus untuk relasi manusia dengan buku. Nasihatnya sederhana tapi
radikal: kalau tidak sempat membaca semua buku, ya… dielus saja. Dibuka.
Diintip. Dibiarkan terbuka di halaman mana pun. Intinya: jangan terlalu serius.
Bayangkan itu. Di saat dunia menyuruh kita “menyelesaikan”
segala hal—target, resolusi, bahkan drama hidup orang lain—Churchill justru
membebaskan kita dari kewajiban menaklukkan buku. Ia seperti berkata, “Tenang
saja, ini bukan ujian nasional.”
Dan di sinilah letak kejenakaannya: kita ini sering merasa
bersalah bukan karena tidak membaca, tapi karena merasa harus membaca secara
benar. Dari halaman pertama, runtut, selesai, lalu bisa menjelaskan isi
buku dengan percaya diri seolah-olah sedang sidang skripsi. Padahal, buku tidak
pernah minta diperlakukan seperti itu. Buku bukan dosen pembimbing. Buku tidak
akan bilang, “Ini kamu paham nggak sih konteksnya?”
Justru, seperti kata Churchill, hubungan terbaik dengan buku
itu mirip kenalan santai. Tidak harus intens, tapi hangat. Kita bisa membuka
satu halaman, membaca satu kalimat, lalu menutupnya lagi sambil berpikir, “Wah,
dalam juga ya,” meskipun sebenarnya kita belum terlalu paham. Dan itu tidak
apa-apa. Buku tidak akan menagih klarifikasi.
Di era doomscrolling, ketika jempol kita lebih
atletis daripada pikiran kita, buku hadir sebagai oase yang… ya, kadang hanya
kita pandangi dari jauh. Kita tahu mereka penting, kita tahu mereka dalam, tapi
entah kenapa selalu kalah dengan video 30 detik tentang kucing yang bisa salat
(yang belum tentu sah juga gerakannya).
Namun justru di situlah nilai buku yang belum terbaca.
Mereka bukan simbol kegagalan. Mereka adalah simbol harapan. Setiap buku di rak
adalah versi optimistis dari diri kita di masa lalu yang berkata, “Suatu hari
nanti aku akan jadi lebih pintar.” Walaupun hari itu sering ditunda oleh
episode serial berikutnya.
Fenomena TBR (To Be Read) yang menumpuk itu
sebenarnya bukan masalah literasi, tapi masalah ekspektasi. Kita ingin menjadi
manusia yang membaca segalanya, memahami segalanya, dan mungkin—kalau
sempat—menjadi bijaksana. Tapi hidup keburu sibuk, dan akhirnya kita hanya
sempat menjadi… pembeli buku yang penuh niat baik.
Dan tidak apa-apa.
Karena seperti yang disiratkan oleh Churchill, mencintai
buku tidak harus berarti menaklukkannya. Kadang cukup dengan menyusunnya rapi,
mengelus punggungnya, membuka satu halaman secara acak, lalu menutupnya lagi
dengan perasaan puas yang agak misterius. Itu sudah bentuk cinta. Agak
pasif-agresif memang, tapi tetap cinta.
Jadi, kalau malam ini Anda melihat rak buku yang penuh
dengan “janji-janji intelektual yang tertunda”, jangan panik. Jangan merasa
bersalah. Dekati mereka. Ambil satu buku. Buka secara acak. Baca satu kalimat.
Kalau tidak paham, tutup lagi dengan anggun.
Ingat: buku tidak pernah menuntut kita untuk jadi sempurna.
Mereka hanya ingin ditemani—meskipun kita sering datang sebagai tamu yang tidak
tahu diri.
Dan dalam dunia yang serba ribut ini, punya sahabat yang
diam, sabar, dan tidak pernah mengeluh… itu bukan kegagalan. Itu kemewahan.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.