Sabtu, 02 Mei 2026

Menuju Ketergantungan Mutlak kepada Allah

Manusia Modern dan Ilusi “Aku Bisa Sendiri”

Di zaman sekarang, manusia itu unik. Bangun tidur, buka mata, lalu langsung berkata dalam hati: “Hari ini aku harus produktif, mandiri, dan tidak bergantung pada siapa pun!”
Lima menit kemudian: WiFi mati. Langsung panik.

Beginilah potret manusia modern—percaya diri setinggi langit, tapi sinyal hilang sedikit saja, iman ikut buffering.

Di tengah absurditas ini, datanglah nasihat dari kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, yang dibahas oleh KH Luqman Hakim. Isinya sederhana tapi menusuk:
“Kamu itu tidak mandiri. Kamu hanya belum sadar seberapa bergantungnya dirimu.”

Isi Utama: Tiga Tamparan Halus untuk Ego

1. Himmah: Cita-Cita yang Sering Salah Alamat

Kita ini punya banyak keinginan: ingin sukses, kaya, terkenal, punya rumah, punya pasangan, bahkan punya inner peace (yang biasanya dicari lewat kopi mahal).

Masalahnya bukan pada keinginan itu. Masalahnya:
kita sering menjadikan keinginan itu sebagai tujuan akhir, bukan Allah.

Padahal dalam logika tasawuf, semua keinginan itu cuma “anak panah”, bukan “target”. Targetnya tetap satu: Allah.

Kalau tidak begitu, jadinya aneh.
Orang gagal dapat jabatan → stres.
Padahal dari awal memang salah alamat: berharap pada jabatan, bukan pada Yang Mengatur jabatan.

2. Fuqara: Fakir yang Suka Lupa Diri

Menurut tasawuf, manusia itu fuqara—miskin total. Bukan miskin saldo, tapi miskin eksistensi.

Kita ini seperti HP tanpa charger.
Masih bisa hidup… sebentar.

Masalahnya, manusia sering lupa. Ketika punya sedikit “baterai” (harta, ilmu, koneksi), langsung merasa:
“Aku ini kuat. Aku bisa.”

Padahal itu cuma low battery mode yang belum mati total.

Analogi paling menyentil dari kajian ini:
meminta tolong kepada makhluk itu seperti orang tenggelam menolong orang tenggelam.

Bedanya cuma gaya tenggelamnya saja.
Yang satu panik, yang satu sok tenang—tapi dua-duanya tetap menuju dasar.

3. Self-Reliance: Kesombongan yang Disamarkan Motivasi

Di era self-help, kita sering dengar:
“Percaya pada diri sendiri!”

Tasawuf menjawab dengan santai:
“Boleh. Tapi jangan kaget kalau ternyata dirimu tidak seberapa bisa dipercaya.”

Bahkan seorang wali besar berkata:
“Aku sudah putus asa dari diriku sendiri untuk memberi manfaat kepada diriku.”

Ini bukan pesimisme. Ini justru kejujuran tingkat tinggi.

Karena faktanya:

  • Kita bisa niat baik pagi hari
  • Siangnya sudah berubah
  • Malamnya lupa niat awal

Kalau diri sendiri saja tidak stabil, kenapa dijadikan sandaran utama?

Maksud Utama: Tauhid Level “No Backup Plan”

Pesan utama kajian ini sebenarnya radikal (tapi dalam arti yang menenangkan):
Sandaran hidup hanya satu: Allah. Tidak ada “opsi cadangan”.

Bukan berarti tidak boleh kerja, usaha, atau minta tolong orang.
Boleh. Sangat boleh.

Tapi hati jangan salah parkir.

Masalahnya selama ini, kita:

  • Usaha = percaya penuh
  • Allah = cadangan darurat

Padahal harusnya dibalik:

  • Allah = utama
  • Usaha = pelengkap

Analisis: Relevansi di Era “Manifesting dan Overthinking”

Hari ini orang suka “manifesting”: membayangkan sesuatu supaya jadi kenyataan.

Tasawuf melihat ini sambil tersenyum tipis:
“Daripada kamu sibuk membayangkan masa depan, kenapa tidak mendekat pada Yang Menentukan masa depan?”

Kajian ini juga menjawab pertanyaan klasik:
“Kenapa hidupku banyak masalah?”

Jawaban tasawuf:
“Mungkin karena kamu terlalu merasa tidak butuh Allah.”

Masalah itu bukan hukuman.
Kadang itu notifikasi:
“Hei, kamu lupa siapa sumber hidupmu.”

Dari Sok Mandiri ke Sadar Diri

Di dunia yang memuja kemandirian, tasawuf justru menawarkan kebebasan lewat ketergantungan.

Bukan ketergantungan yang melemahkan, tapi yang menyadarkan:
bahwa kita ini bukan pusat semesta.

Akhirnya, kebahagiaan bukan ketika hidup tanpa masalah.
Tapi ketika hati tidak lagi salah alamat.

Karena pada akhirnya:

  • yang membuat tenang bukan kontrol
  • tapi kepercayaan

Dan mungkin, inti dari semua ini bisa diringkas sederhana:

Manusia modern itu lelah bukan karena kurang kuat,
tapi karena terlalu sering berpura-pura kuat tanpa Allah.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.