Tentang Amerika, China, dan Spreadsheet yang Terlalu Optimis
Di zaman media sosial, perdebatan ekonomi dunia kadang
kualitasnya mirip debat warung kopi jam dua pagi: siapa yang GDP-nya lebih
besar, dia yang paling hebat. Amerika Serikat melihat angka GDP sambil berkata
penuh percaya diri, “Kami nomor satu!” Sementara China menatap pabrik-pabriknya
dan menjawab santai, “Bagus. Tapi siapa yang bikin barang buat isi Walmart?”
Lalu muncullah ekonom bernama Evrim Kanbur yang tampaknya
lelah melihat manusia modern memperlakukan GDP seperti skor FIFA atau ranking
Mobile Legends. Ia mengingatkan dunia bahwa GDP itu hanya ukuran aktivitas
ekonomi—bukan ukuran apakah rakyat masih punya tenaga untuk tersenyum tanpa
bantuan kopi ukuran galon.
Kanbur pada dasarnya berkata: “Kalau rakyatmu kerja tiga
shift, tidur sambil Zoom meeting, makan siang sambil membayar cicilan, lalu GDP
naik… itu prestasi ekonomi atau eksperimen sosial?”
Dan di situlah letak humor tragis ekonomi modern.
Spreadsheet yang Sehat, Rakyat yang Masuk Angin
Amerika memang punya GDP raksasa. Angkanya besar sekali
sampai kalau dipajang di ruang tamu mungkin bisa dijadikan wallpaper
nasionalisme. Namun, menurut kritik Kanbur, ada ironi kecil: GDP Amerika naik
terus, tetapi rakyatnya mulai hidup seperti karakter game survival mode.
Bayangkan seorang warga Amerika modern:
- pagi
jadi barista,
- siang
jadi programmer,
- malam
jadi driver aplikasi,
- akhir
pekan ikut seminar “financial freedom” yang tiketnya dicicil tiga bulan.
Semua itu dilakukan demi sesuatu yang dulu disebut
“kehidupan normal”.
Sementara itu, spreadsheet pemerintah berkata:
“Ekonomi tumbuh positif.”
Rakyatnya menjawab:
“Saya juga tumbuh… lingkar mata saya.”
GDP memang unik. Ia tidak peduli apakah uang berputar karena
inovasi hebat atau karena rakyat terpaksa bayar ambulans seharga motor sport.
Yang penting uang bergerak. Dalam logika GDP ekstrem, orang terpeleset kulit
pisang lalu masuk rumah sakit pun tetap dianggap kontribusi ekonomi.
Secara teknis, tragedi bisa menjadi pertumbuhan.
China: Negeri yang Masih Bisa Membuat Barang Selain
Konten Motivasi
Kanbur lalu membandingkan dengan China. Menurutnya, kekuatan
utama China bukan sekadar angka GDP, tetapi kemampuan membuat barang nyata.
China membuat:
- panel
surya,
- baterai
mobil listrik,
- drone,
- robot,
- kereta
cepat,
- mesin
industri,
- dan
mungkin sebentar lagi toaster yang bisa mengkritik kapitalisme sambil
memanggang roti.
Amerika? Amerika kadang tampak lebih fokus membuat:
- aplikasi
meditasi,
- startup
pengantar makanan organik,
- platform
NFT,
- dan
podcast berdurasi tiga jam tentang “mindset hustling”.
Ini bukan berarti Amerika lemah. Tidak. Amerika masih sangat
unggul dalam teknologi tinggi, inovasi, keuangan, hiburan, dan kemampuan
membuat dunia percaya bahwa membeli gelas Stanley seharga jutaan rupiah adalah
kebutuhan spiritual.
Tetapi kritik Kanbur cukup menampar:
“Kalau perang ekonomi terjadi, siapa yang lebih penting:
orang yang bisa membuat chip dan baja, atau orang yang membuat aplikasi untuk
menghitung langkah menuju kulkas?”
Pertanyaan itu membuat banyak ekonom mendadak pura-pura
sibuk membuka Excel.
GDP dan Agama Baru Bernama Pertumbuhan
Masalah terbesar dunia modern mungkin bukan inflasi atau
utang, melainkan keyakinan bahwa angka pertumbuhan ekonomi otomatis berarti
kebahagiaan nasional.
GDP hari ini diperlakukan seperti dewa statistik:
- kalau
naik → pemerintah pidato,
- kalau
turun → menteri keuangan insomnia,
- kalau
stagnan → ekonom muncul di televisi dengan wajah seperti habis kehilangan
deposito.
Padahal, seperti diingatkan Kanbur, GDP itu mirip timbangan
badan. Berat badan naik belum tentu sehat. Bisa jadi karena otot. Bisa jadi
juga karena kebanyakan gorengan.
Negara pun demikian.
Sebuah negara bisa GDP-nya besar, tetapi:
- rakyat
stres,
- rumah
tidak terbeli,
- pendidikan
jadi utang seumur hidup,
- layanan
kesehatan terasa seperti paket premium MMORPG,
- dan
pensiun hanya menjadi legenda urban.
Namun selama grafik naik ke kanan, semua dianggap baik-baik
saja.
Ekonomi modern kadang seperti orang yang bangga punya mobil
mewah, tetapi tidur di dalamnya karena cicilan rumah terlalu mahal.
Romantisme China dan Kenyataan yang Tidak Masuk Brosur
Tentu saja, Kanbur juga tidak sepenuhnya bebas dari
romantisme. Internet memang punya kebiasaan lucu: kalau sedang mengkritik
Amerika, China tampak seperti surga efisiensi; kalau sedang mengkritik China,
Amerika tampak seperti negeri Avengers.
Padahal realitas jauh lebih berantakan.
China juga punya masalah:
- krisis
properti,
- pengangguran
muda,
- populasi
menua,
- utang
besar,
- dan
tekanan kerja yang membuat istilah “996” terdengar seperti kode boss
terakhir video game.
Banyak pekerja migran China bekerja sangat keras dengan
perlindungan sosial minim. Jadi gambaran “satu pekerjaan cukup untuk hidup
nyaman” kadang terdengar seperti iklan apartemen yang fotonya memakai filter
berlebihan.
Sementara Amerika, meski penuh masalah biaya hidup, tetap
menjadi magnet talenta dunia. Silicon Valley masih tempat lahirnya teknologi
yang mengubah dunia—dan juga tempat lahirnya aplikasi yang membantu manusia
memesan kopi tanpa perlu berbicara dengan kasir.
Kemajuan dan absurditas berjalan berdampingan.
Jangan Menikahi Angka
Pada akhirnya, kritik Kanbur penting karena mengingatkan
kita bahwa ekonomi bukan sekadar angka yang dipresentasikan memakai PowerPoint
mahal.
Tujuan ekonomi seharusnya bukan membuat grafik tampak
atletis, melainkan membuat manusia bisa hidup layak tanpa perlu menjual
kesehatan mental demi diskon cicilan.
GDP memang penting. Tetapi menjadikannya ukuran tunggal
keberhasilan negara itu seperti memilih pasangan hidup hanya berdasarkan jumlah
followers Instagram. Angkanya mungkin impresif, tetapi belum tentu bisa diajak
hidup susah saat AC rusak.
Mungkin ukuran ekonomi terbaik sebenarnya sederhana:
- apakah
rakyat bisa hidup tenang,
- apakah
mereka punya waktu bersama keluarga,
- apakah
rumah masih bisa dibeli tanpa menjual ginjal,
- dan
apakah manusia masih sempat tertawa tanpa harus menjadwalkannya di Google
Calendar.
Sebab pada akhirnya, ekonomi yang sehat bukan ekonomi yang
membuat spreadsheet tersenyum.
Melainkan ekonomi yang membuat manusia tetap waras.






