Di zaman ketika satu utas di media sosial bisa mengubah hidup—atau setidaknya mengubah menu pagi—muncullah kabar menggembirakan: tidak sarapan adalah kekuatan super.
Akun-akun sains populer dengan gagah berani mengumumkan
bahwa menolak telur, bacon, dan roti panggang adalah tindakan heroik setara
menolak cincin kekuasaan. Meja sarapan dicoret silang merah besar. Asap dari
bacon yang “ditinggalkan” mengepul dramatis, seolah berkata, “Pergilah, wahai
karbohidrat, aku kini manusia unggul!”
Ratusan orang menyukai unggahan itu. Bisa jadi karena mereka
juga sedang menatap piring kosong sambil mencari pembenaran ilmiah.
Lapar yang Berdering Seperti Alarm Pahlawan
Klaimnya terdengar meyakinkan. Melewatkan sarapan
meningkatkan norepinefrin—zat kimia yang membuat kita lebih waspada. Tubuh,
dalam kondisi tidak diberi makan, menyalakan mode siaga. Secara evolusioner
masuk akal: nenek moyang kita tidak punya opsi “rebahan dulu, nanti juga lapar
hilang sendiri.” Mereka harus berburu.
Maka, sebagian manusia modern pun merasakan sensasi yang
sama. Jam 10 pagi, perut keroncongan, tapi pikiran terasa tajam. Spreadsheet
terlihat seperti medan perang yang siap ditaklukkan. Mereka merasa seperti
tokoh utama film laga versi nutrisi.
Namun, ada juga yang jam 9 pagi sudah ingin membatalkan
peradaban.
Ketosis: Ketika Lemak Mendadak Jadi Bintang Utama
Narasi heroik ini semakin kuat ketika muncul kata-kata
sakti: ketosis, insulin sensitivity, dan autophagy.
Tanpa sarapan, tubuh beralih dari glukosa ke lemak. Keton
naik panggung, dan lemak yang selama ini dicurigai mendadak jadi pahlawan
utama. Ada pula janji bahwa sel-sel kita sedang “bersih-bersih”—sebuah proses
bernama autophagy yang terdengar seperti mantra di sekolah sihir tingkat
lanjut.
Siapa yang tidak ingin tubuhnya melakukan kerja bakti
internal?
Masalahnya, tubuh manusia bukan template PowerPoint. Ia
lebih mirip grup WhatsApp keluarga: responsnya berbeda-beda, kadang tidak
terduga, dan seringkali emosional.
Antara Fokus dan Emosi yang Siap Demo
Bagi sebagian orang, tidak sarapan membuat pikiran jernih.
Bagi yang lain, ia memunculkan versi paling sensitif dari diri mereka.
Fokus meningkat? Bisa jadi.
Tapi juga bisa meningkatnya keinginan untuk memarahi
printer, mengkritik AC, atau mempertanyakan makna hidup di depan lemari es.
Respons terhadap lapar dipengaruhi metabolisme, aktivitas
fisik, kondisi kesehatan, bahkan mikrobioma usus—tim konsultan tak terlihat
yang diam-diam menentukan suasana hati kita.
Belum lagi faktor budaya. Di banyak rumah, sarapan bukan
sekadar kalori. Ia adalah ritual: suara wajan, aroma teh, obrolan singkat. Itu
bukan hanya nutrisi—itu kenangan.
Melewatkannya mungkin membuat tubuh membakar lemak, tapi
juga bisa membakar suasana hati.
Autophagy dan Harapan yang Terlalu Cepat Viral
Autophagy memang nyata dan menarik. Namun sebagian besar
bukti spektakulernya masih berasal dari laboratorium dan model hewan. Pada
manusia, proses ini sudah berjalan alami tanpa perlu drama tanda silang merah
di atas telur dadar.
Di sinilah masalah kata “superpower.” Ia mengilap, memikat,
dan sangat ramah algoritma.
Namun tubuh manusia tidak bekerja berdasarkan tagar. Ia
bekerja berdasarkan keseimbangan, kebiasaan, dan konteks.
Kebenaran sains sering kali sederhana sekaligus membosankan:
tergantung.
Dari Biohacking ke Ibadah
Menariknya, ketika kita geser sedikit perspektif, fenomena
“tidak sarapan” ini tiba-tiba kehilangan aura eksklusifnya.
Karena jutaan orang sudah melakukannya—bukan sebagai tren,
tetapi sebagai tradisi.
Dalam diskursus modern, melewatkan sarapan disebut
intermittent fasting. Tujuannya: fokus, lemak terbakar, metabolisme optimal.
Dalam Ramadan, ia disebut puasa.
Dan tujuannya bukan ketosis, melainkan kesadaran.
Lucunya, sesuatu baru dianggap keren ketika diberi nama
bahasa Inggris dan grafik ilmiah. Padahal praktik menahan lapar dari fajar
hingga magrib sudah dijalani berabad-abad tanpa perlu infografik telur dicoret.
Ketika Lapar Berubah Makna
Secara biologis, memang ada titik temu. Tubuh menggunakan
cadangan energi, sistem saraf aktif, metabolisme beradaptasi.
Namun Ramadan membawa sesuatu yang tidak bisa diukur dengan
grafik: makna.
Di sini, lapar bukan sekadar alarm biologis.
Tiga Hal yang Tidak Bisa Diinfografikkan
Ada tiga hal yang membedakan keduanya secara mendasar.
Dan cermin, seperti kita tahu, tidak selalu nyaman.
Apakah Ini Semua Memberi Kekuatan Super?
Bisa jadi—tetapi bukan seperti yang dibayangkan poster
motivasi.
Bagi sebagian orang, tidak sarapan atau berpuasa bisa
meningkatkan fokus dan rasa kendali diri. Bagi yang lain, terutama di awal,
yang muncul justru:
- sakit
kepala
- ngantuk
- produktivitas
turun
- emosi
setipis tisu satu lapis
Dan itu normal. Tubuh sedang beradaptasi.
Yang tidak normal adalah berharap menjadi manusia super
hanya karena melewatkan roti panggang.
Bahaya Menyederhanakan Lapar
Ada satu jebakan halus yang perlu dihindari: menyederhanakan
pengalaman kompleks menjadi slogan.
Ketika puasa direduksi menjadi strategi diet, kita
kehilangan ruhnya.
Ramadan bukan “30-Day Fat Loss Challenge.”
Ia adalah latihan pengendalian diri yang menyentuh tubuh,
pikiran, dan hati sekaligus.
Jika “skip breakfast” menjanjikan efisiensi, puasa
mengajarkan makna.
Pahlawan yang Pulang ke Diri Sendiri
Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu memilih antara
sarapan atau tidak, antara sains atau spiritualitas.
Yang kita butuhkan adalah kesadaran.
Karena “kekuatan super” yang sebenarnya bukanlah kemampuan
menolak roti panggang sambil merasa lebih unggul.
Melainkan kemampuan memahami tubuh sendiri, tanpa
terhipnotis sensasi digital.
“Kenali dirimu. Itu sudah cukup hebat.”
Termasuk menahan diri… untuk tidak percaya semua utas di
internet.






