Jumat, 10 Juli 2026

Ketika "Pergi Sana!" Berarti "Kok Belum Telepon?"

Tentang Cinta, Amarah, dan Kebiasaan Manusia Bertengkar dengan Orang yang Paling Dirindukan

Konon, cinta adalah satu-satunya penyakit yang membuat orang sehat sengaja begadang. Lucunya, bukan karena sedang bahagia, melainkan karena baru saja bertengkar.

Malam itu status WhatsApp berbunyi, "Sudah, kita selesai!"

Paginya berubah menjadi,

"Kamu sudah makan?"

Kalau ini bukan keajaiban, entah apa lagi namanya.

Fyodor Dostoevsky, sang ahli bedah jiwa manusia yang lebih suka mengoperasi hati daripada usus, tampaknya sudah mengetahui penyakit ini jauh sebelum ditemukan fitur last seen. Ia menggambarkan seseorang yang malam hari mengutuk semua laki-laki ke neraka, tetapi pagi harinya justru merindukan suara "setan" yang semalam dikirim ke alamat tersebut.

Beginilah manusia.

Mulutnya petugas pengusiran.

Hatinya bagian penerimaan tamu.


Amarah memang makhluk yang sangat cerewet. Ia selalu berbicara menggunakan huruf kapital.

"Aku muak!"

"Cukup!"

"Jangan hubungi aku lagi!"

Masalahnya, amarah bekerja seperti pegawai honorer yang terlalu bersemangat. Ia sering mengambil keputusan sebelum sempat rapat dengan hati. Akibatnya, begitu emosinya pulang kerja, hati datang sambil membawa daftar koreksi.

"Sebentar... tadi kita ngomong apa, ya?"

Manusia rupanya memiliki kemampuan luar biasa: mengatakan sesuatu yang tidak dimaksudkan, lalu menghabiskan beberapa hari untuk menjelaskan bahwa sebenarnya yang dimaksud bukan itu.

Kalau ada olahraga resmi bernama "menarik kembali ucapan," mungkin umat manusia sudah langganan medali emas.


Cinta sendiri ternyata memiliki selera humor yang cukup aneh.

Ia bisa tinggal serumah dengan amarah.

Bayangkan saja dua penyewa kos yang terus bertengkar tetapi tidak pernah benar-benar pindah.

Hari ini marah.

Besok rindu.

Lusa marah lagi.

Malamnya menunggu notifikasi.

Hubungan asmara kadang lebih mirip cuaca di pegunungan daripada kontrak bisnis. Lima menit yang lalu badai. Lima menit berikutnya matahari muncul seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Itulah sebabnya psikolog menyebutnya ambivalensi emosi.

Orang awam menyebutnya,

"Ya... begitulah."


Yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa lawan dari cinta adalah benci.

Padahal dalam banyak hubungan, lawan cinta justru bukan kebencian.

Melainkan rasa tidak peduli.

Selama seseorang masih sempat marah karena pesan dibalas satu jam kemudian, peluang hubungan itu justru masih hidup.

Yang berbahaya adalah ketika balasan datang tiga hari kemudian dan jawabannya cuma,

"Oh."

Satu huruf "O" kadang lebih menakutkan daripada seribu kalimat kemarahan.

Karena amarah masih mengandung energi.

Ketidakpedulian hanyalah ruang kosong yang sudah ditinggalkan penghuninya.


Dostoevsky memang menulis tentang perempuan, tetapi jangan buru-buru mengira hanya perempuan yang mengalami kontradiksi semacam itu.

Laki-laki pun tidak kalah kreatif.

Ada yang berkata,

"Aku baik-baik saja."

Padahal wajahnya sudah seperti server yang kehilangan listrik.

Ada pula yang menghapus foto profil agar terlihat tegar, tetapi diam-diam membuka profil orang yang sama setiap lima belas menit.

Kalau cinta adalah universitas, maka jurusan paling ramai adalah "Malu Mengakui Rindu."

Lulusannya jutaan.

Wisudanya tidak pernah selesai.


Media sosial mempercepat semuanya.

Dulu orang bertengkar harus bertatap muka.

Sekarang cukup dengan satu kalimat.

"Oke."

Yang lebih mengerikan lagi adalah variasinya.

"Oke."

"Oke..."

"Ok."

"K."

Empat bentuk yang secara tata bahasa hampir sama, tetapi secara psikologis mampu memicu perang dunia kecil dalam kepala pasangan.

Lalu dimulailah pekerjaan paling melelahkan abad digital: menafsirkan tanda baca.

Mengapa titiknya satu?

Mengapa tidak memakai emoji?

Mengapa tidak ada kata "ya"?

Mengapa hanya huruf "K"?

Kadang hubungan modern tidak kandas karena perbedaan prinsip hidup, melainkan karena salah membaca titik.


Yang membuat kutipan Dostoevsky bertahan hingga sekarang bukan karena ia sedang membicarakan perempuan.

Ia sedang membicarakan manusia.

Makhluk yang bisa mengunci pintu sambil berharap ada yang mengetuk.

Menghapus nomor sambil hafal di luar kepala.

Memblokir akun seseorang, tetapi meminjam ponsel teman untuk melihat kabarnya.

Kita memang spesies yang unik.

Otak berkata, "Sudah selesai."

Hati menjawab, "Tunggu sebentar."

Ego berkata, "Jangan hubungi dulu."

Jempol sudah lebih dulu mengetik,

"Lagi apa?"


Mungkin beginilah cara cinta bekerja.

Ia bukan garis lurus, melainkan benang kusut yang sesekali membentuk pita indah. Ia bukan jalan tol yang mulus, melainkan gang kecil yang penuh belokan, tanjakan, dan sesekali ayam lewat tanpa melihat kanan-kiri.

Karena itu, jangan terlalu heran bila malam hari seseorang berkata, "Pergi sana!"

Lalu pagi harinya diam-diam berharap telepon berbunyi.

Bukan karena manusia munafik.

Melainkan karena hati tidak pernah belajar logika secepat mulut.

Dan mungkin itulah sebabnya Dostoevsky masih terasa relevan hingga hari ini.

Beliau tampaknya sudah memahami satu rahasia besar yang terus dibuktikan oleh jutaan pasangan setiap hari:

Dalam kamus cinta, kalimat "Aku benci kamu!" sering kali hanyalah dialek yang sangat berisik dari kalimat,

"Tolong jangan benar-benar pergi."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Kamis, 09 Juli 2026

Nabi Muhammad SAW: Ketika Kesempurnaan Tidak Perlu Pamer Sertifikat

Ada kebiasaan unik manusia modern. Kalau bertemu orang pintar, pertanyaan pertama biasanya bukan, "Apa yang bisa saya pelajari darimu?" melainkan, "Lulus dari kampus mana?"

Kalau bertemu dokter, ditanya ijazahnya.

Kalau bertemu insinyur, ditanya proyeknya.

Kalau bertemu tukang bakso yang baksonya enak, bahkan ditanya, "Ini pakai resep siapa?"

Seolah-olah kehebatan selalu harus memiliki riwayat pendidikan yang panjang, daftar seminar yang menggunung, dan sertifikat yang cukup banyak untuk dijadikan wallpaper ruang tamu.

Lalu sejarah menghadirkan seorang pribadi yang tidak belajar di universitas, tidak membuka perpustakaan pribadi, tidak pernah mengikuti lokakarya kepemimpinan, tetapi mampu mengubah arah peradaban dunia.

Di titik itulah logika kita mulai berkeringat.


Dalam tradisi tasawuf, Nabi Muhammad SAW bukan hanya dipandang sebagai manusia yang baik. Itu terlalu sederhana. Beliau dipahami sebagai insan kamil, manusia yang mencapai kesempurnaan sebagai hamba Allah. Bukan sempurna karena ototnya besar, bukan pula karena pidatonya paling viral, melainkan karena seluruh dimensi dirinya berada dalam harmoni.

Kalau manusia modern sering mengalami "buffering" antara pikiran, hati, dan tindakan, pada diri Nabi semuanya seperti internet berkecepatan cahaya.

Hati memahami.

Akal membenarkan.

Lisan menyampaikan.

Perbuatan membuktikan.

Tidak ada rapat koordinasi internal yang molor.


Lucunya, kita hidup pada zaman spesialisasi.

Ada orang yang IQ-nya mengagumkan, tetapi lupa menaruh kunci motor yang sedang dipegangnya.

Ada yang sangat piawai berbicara tentang kesehatan mental, tetapi panik ketika sinyal Wi-Fi hilang selama lima menit.

Ada pula yang hafal ribuan teori kepemimpinan, tetapi kesulitan mengatur antrean parkir di acara keluarga.

Manusia memang sering unggul di satu sisi sambil jungkir balik di sisi lainnya.

Nabi Muhammad justru digambarkan memiliki keseimbangan yang mengagumkan.

Kecerdasannya bukan hanya rasional, tetapi juga spiritual.

Keberaniannya bukan sekadar fisik, tetapi juga moral.

Kasih sayangnya bukan hanya kepada sahabat, melainkan juga kepada musuh yang suatu hari bisa berubah menjadi saudara.

Beliau seperti orkestra yang seluruh alat musiknya bermain selaras. Tidak ada genderang yang merasa dirinya lebih penting daripada seruling.


Dalam kitab-kitab sirah dan tasawuf diceritakan berbagai keistimewaan beliau.

Beliau dapat melihat apa yang berada di belakang ketika shalat tanpa harus menoleh.

Perjalanan Isra' Mi'raj memperlihatkan pengalaman yang melampaui hukum kebiasaan.

Bahkan dalam riwayat disebutkan beliau pernah mengalahkan pegulat tangguh bernama Rukanah.

Membaca kisah-kisah seperti ini kadang membuat kita tersenyum kecil.

Bukan karena ingin membandingkan, melainkan karena menyadari betapa manusia modern sering menganggap dirinya hebat hanya karena berhasil menyelesaikan target sepuluh ribu langkah di aplikasi kesehatan.

Kita baru berjalan dua kilometer sudah mengunggahnya ke media sosial lengkap dengan tangkapan layar.

Nabi berjalan untuk mengubah sejarah, tetapi tidak pernah membuat unggahan, "Alhamdulillah, hari ini langkah saya 12.000."


Yang paling menarik justru bukan mukjizatnya.

Yang lebih memikat adalah kerendahan hatinya.

Bayangkan.

Seandainya manusia zaman sekarang diberi kemampuan luar biasa, kemungkinan besar bio media sosialnya akan berubah menjadi tiga halaman.

"Visioner."

"Master."

"Mentor."

"Founder."

"Spiritual Coach."

"Certified Everything."

Untung kolom biodata memiliki batas karakter.

Nabi Muhammad justru mengajarkan kalimat yang sangat membumi:

"Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian."

Kalimat itu tampak sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan pelajaran kepemimpinan yang sangat mahal.

Pemimpin sejati tidak sibuk menunjukkan bahwa dirinya tahu segalanya.

Ia justru menciptakan ruang agar orang lain bertumbuh.

Ia tidak memonopoli kecerdasan.

Ia menumbuhkan kecerdasan.

Sayangnya, sebagian dari kita justru menganut teori yang berkebalikan.

Semakin sedikit tahu, semakin keras volume suaranya.

Semakin banyak belajar, semakin banyak bertanya.

Barangkali karena ilmu memang membuat seseorang sadar bahwa lautan pengetahuan jauh lebih luas daripada ember yang dibawanya.


Tasawuf sebenarnya mengajak kita melihat kejeniusan dari sudut yang berbeda.

Kejeniusan bukan sekadar cepat menghitung.

Bukan sekadar pandai berdebat.

Bukan pula kemampuan menghafal seluruh isi buku sambil minum kopi tanpa gula.

Kejeniusan adalah ketika akal menjadi pelayan kebijaksanaan.

Ilmu menjadi pelayan akhlak.

Kekuatan menjadi pelayan kasih sayang.

Kalau ilmu diibaratkan mesin mobil, maka akhlak adalah setirnya.

Mesin tanpa setir memang bisa melaju.

Masalahnya, kita tidak pernah tahu akan berhenti di taman kota atau di kolam tetangga.


Di zaman yang mengukur manusia dengan angka—nilai rapor, jumlah pengikut, omzet, peringkat, dan statistik—kisah Nabi mengingatkan bahwa kualitas manusia jauh lebih luas daripada apa yang dapat dihitung.

Ada kecerdasan hati.

Ada kejernihan niat.

Ada kelembutan budi.

Ada kemampuan memaafkan ketika memiliki kesempatan membalas.

Hal-hal semacam itu tidak pernah masuk dalam lembar nilai, tetapi justru menentukan nilai seseorang.

Mungkin inilah ironi terbesar kehidupan modern.

Kita memiliki kalkulator yang semakin canggih, tetapi sering kehilangan kemampuan menghitung nikmat.

Kita memiliki peta digital yang mampu menunjukkan jalan tercepat ke mana pun, tetapi kadang lupa jalan pulang menuju hati yang tenang.


Pada akhirnya, memuliakan Nabi Muhammad SAW bukanlah perlombaan membuktikan betapa luar biasanya mukjizat beliau.

Mukjizat tentu memiliki tempatnya dalam keimanan.

Namun yang lebih penting adalah membiarkan akhlak beliau menular ke dalam kehidupan kita.

Karena tidak semua orang bisa menjadi cerdas seperti Nabi.

Tidak semua orang bisa menjadi pemberani seperti Nabi.

Tetapi setiap orang bisa mulai belajar menjadi lebih jujur, lebih lembut, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat.

Barangkali itulah pelajaran tasawuf yang paling membumi.

Shalawat bukan sekadar rangkaian kalimat yang meluncur dari bibir.

Ia adalah kompas yang mengingatkan bahwa semakin seseorang mencintai Nabi, semakin ia terdorong untuk meneladani akhlaknya.

Dan boleh jadi, ukuran keberhasilan hidup bukanlah seberapa sering kita berhasil membuat orang berkata, "Hebat sekali!"

Melainkan seberapa sering kehadiran kita membuat orang lain merasa, "Untung ada dia."

Kalau itu mulai tumbuh dalam diri kita, mungkin kita memang belum menjadi manusia sempurna.

Tetapi setidaknya, kita sudah berjalan ke arah yang benar—dan itu jauh lebih penting daripada sekadar sibuk menghitung berapa langkah yang telah kita tempuh.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tangga yang Makin Tinggi dan Konspirasi Semesta terhadap Lutut Kita

Tentang Penuaan, Ilusi, dan Keengganan Manusia Berdamai dengan Cermin

Ada usia ketika kita mulai curiga kepada dunia.

Bukan karena dunia semakin jahat, tetapi karena dunia tampaknya ikut-ikutan usil.

Tangga yang dulu cuma sepuluh anak tangga sekarang rasanya seperti jalur pendakian Gunung Semeru. Huruf koran mengecil tanpa izin. Nomor telepon mendadak ditulis memakai semut sebagai font resmi. Kereta selalu berangkat lebih cepat, padahal kita yakin dulu masinis masih sempat ngopi sebelum meniup peluit.

Dunia ini jelas sedang mengerjai kita.

Begitulah, setidaknya menurut seorang kakek dalam monolog humor Prancis yang dipopulerkan Philippe Noiret. Ia menyusun daftar panjang "kejahatan dunia" terhadap dirinya dengan kesungguhan seorang jaksa yang sedang membacakan dakwaan.

Sayangnya...

...terdakwa yang sebenarnya duduk diam di balik kaca cermin.


Manusia memang makhluk yang luar biasa kreatif.

Kalau masih muda, kita menyalahkan orang tua.

Kalau sudah tua, kita menyalahkan gravitasi.

Padahal gravitasi sejak zaman Nabi Adam tidak pernah mengajukan revisi aturan.

Yang berubah hanyalah lutut kita.

Lucunya, menerima bahwa dunia berubah terasa lebih mudah daripada menerima bahwa pinggang kita sekarang mengeluarkan bunyi "krek" ketika berdiri.

Ego manusia rupanya seperti aplikasi yang selalu menolak pembaruan sistem.

"Remind me tomorrow."

Besoknya muncul lagi.

"Remind me next week."

Lalu bertahun-tahun kemudian kita masih memakai versi lama sambil mengeluh mengapa hidup terasa lambat.


Penuaan sebenarnya bukan pencuri.

Ia lebih mirip petugas perpustakaan.

Datang perlahan, mengambil sedikit demi sedikit tenaga, ketajaman mata, kecepatan langkah, lalu meninggalkan kita dengan sesuatu yang lebih berharga: kesempatan memahami hidup.

Masalahnya, kita sering lebih sibuk menghitung buku yang hilang daripada membaca kebijaksanaan yang masih tersisa.

Kita sibuk berkata,

"Dulu saya kuat naik tiga lantai."

Padahal yang lebih menarik adalah pertanyaan,

"Sekarang saya naik tiga lantai untuk apa?"

Usia memang mengurangi tenaga, tetapi seharusnya menambah alasan.


Ada satu bagian yang paling lucu sekaligus paling menyayat.

Narator itu melihat teman seusianya.

"Ya ampun... dia tua sekali."

Kalimat itu terdengar biasa.

Tetapi sesungguhnya itulah punchline terbaik.

Karena hanya manusia yang bisa memandang cermin dari kejauhan tanpa sadar bahwa bayangan itu sedang melambai kepadanya.

Kita mudah melihat uban di kepala orang lain.

Yang di kepala sendiri kita sebut "efek pencahayaan."

Perut tetangga disebut buncit.

Perut sendiri disebut "rezeki."

Teman mulai pikun.

Kalau kita lupa, alasannya karena sedang banyak pikiran.

Betapa murah hati manusia terhadap dirinya sendiri.


Psikologi menyebutnya denial.

Bahasa sehari-hari menyebutnya "belum siap."

Kita belum siap menerima bahwa sekarang membaca menu restoran membutuhkan cahaya matahari, lampu LED, dan posisi tangan sejauh satu meter.

Belum siap mengakui bahwa suara "kretek" ketika jongkok ternyata bukan suara kursi.

Itu lutut.

Belum siap menerima bahwa tidur salah posisi sekarang bisa menjadi topik pembicaraan selama tiga hari.

Ketika muda, kita bangun tidur langsung berlari.

Sekarang bangun tidur saja perlu rapat koordinasi antar-persendian.


Yang menarik, penuaan selalu datang dengan sopan.

Ia tidak mengetuk pintu sambil berteriak,

"Halo! Saya tua!"

Tidak.

Ia datang diam-diam.

Awalnya kita mulai memilih kursi yang ada sandarannya.

Lalu mulai memperhatikan tempat parkir yang dekat pintu.

Kemudian mulai mengeluh AC terlalu dingin.

Sesudah itu...

Kita mulai mengatakan kalimat legendaris.

"Dulu di sini belum ada apa-apa."

Kalimat itu adalah sertifikat tidak resmi bahwa seseorang telah hidup cukup lama untuk menjadi saksi sejarah.


Ironinya, manusia modern rela menghabiskan jutaan rupiah untuk tampak sepuluh tahun lebih muda.

Krim wajah.

Vitamin.

Kolagen.

Laser.

Botox.

Filter kamera.

Aplikasi penghalus wajah.

Pokoknya semua dicoba.

Sementara umur tetap berjalan santai sambil menyeruput kopi.

Waktu mungkin melihat semua itu sambil tertawa kecil.

"Silakan saja mengecat pagar. Matahari tetap terbit dari timur."

Tidak ada salahnya merawat diri.

Tetapi ada bedanya antara merawat rumah dengan berpura-pura rumah itu baru dibangun kemarin.


Sesungguhnya yang membuat tua terasa berat bukan keriput.

Melainkan perasaan bahwa kita harus tetap menjadi orang yang sama seperti dua puluh tahun lalu.

Padahal sungai yang sehat justru selalu mengalir.

Bayangkan jika sungai berkata,

"Saya ingin tetap menjadi air yang sama seperti kemarin."

Itu bukan sungai.

Itu kolam.

Manusia pun demikian.

Yang membuat kita hidup bukan karena tidak berubah, melainkan karena mampu berubah tanpa kehilangan arah.


Penuaan adalah guru yang mengajar tanpa papan tulis.

Pelajarannya sederhana.

Tubuh boleh melambat.

Hati jangan.

Langkah boleh pendek.

Pandangan sebaiknya semakin jauh.

Tenaga boleh berkurang.

Syukur semestinya bertambah.

Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan siapa yang paling lama tampak muda.

Melainkan siapa yang paling anggun menerima bahwa setiap musim memiliki keindahannya sendiri.

Bunga sakura tidak iri kepada pohon beringin.

Matahari senja tidak malu karena tidak seterang matahari pagi.

Mengapa manusia justru sering malu menjadi tua, padahal itu adalah satu-satunya tanda bahwa ia berhasil terus hidup?


Mungkin suatu hari nanti kita juga akan berkata,

"Entah kenapa tangga sekarang tinggi sekali."

Anak-anak kita akan tersenyum kecil.

Lalu diam-diam menawarkan lengan mereka.

Dan semoga, pada saat itu, kita tidak sibuk menyalahkan arsitek.

Kita cukup tertawa.

Karena akhirnya kita mengerti bahwa tangga itu tidak pernah bertambah tinggi.

Yang bertambah adalah cerita yang dibawa lutut kita setiap kali menaikinya.

Dan bukankah hidup memang seperti itu?

Semakin panjang perjalanan, semakin banyak bunyi "krek" yang ternyata bukan tanda kehancuran, melainkan tepuk tangan halus dari waktu yang berkata,

"Selamat... Anda sudah sampai sejauh ini."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Harta, Pedang, dan Pena: Jangan Sampai Semua Salah Alamat

Tentang Betapa Canggihnya Alat Tidak Akan Menolong Karakter

Ada sebuah kenyataan yang sering membuat hidup terasa seperti acara komedi.

Manusia selalu sibuk mencari alat yang lebih hebat, padahal yang perlu di-upgrade justru penggunanya.

Orang membeli laptop mahal, tetapi isinya hanya folder bernama "Dokumen Baru (17)" yang kosong.

Ada yang membeli kamera profesional, tetapi hasil fotonya tetap miring.

Ada pula yang membeli sepeda statis seharga belasan juta rupiah... untuk dijadikan gantungan handuk.

Ternyata benar, alat tidak pernah menjamin hasil.

Di sinilah sebuah hikmah klasik menampar kita dengan cara yang sangat sopan.

"Tidak ada manfaatnya harta di tangan orang kikir, tidak ada manfaatnya pedang di tangan orang pengecut, dan tidak ada manfaatnya pena di tangan orang munafik."

Entah benar berasal dari Socrates atau bukan, kalimat itu tetap terasa seperti notifikasi yang muncul tepat ketika kita sedang merasa paling benar.

Harta: Kolektor Angka, Bukan Penyebar Manfaat

Orang kikir adalah makhluk yang unik.

Ia mencintai uang sebagaimana naga dalam dongeng menjaga emas.

Bedanya, naga kadang masih menyemburkan api.

Orang kikir bahkan enggan menyemburkan traktiran.

Dompetnya memiliki sistem keamanan lebih rumit daripada brankas bank sentral.

Jika diminta sumbangan, wajahnya langsung berubah seperti baru membaca tagihan listrik.

Ironisnya, uang diciptakan agar berputar.

Tetapi di tangan orang kikir, uang seperti dipenjara seumur hidup.

Uang itu mungkin bahagia karena tidak pernah lecet, tetapi masyarakat di sekitarnya hanya bisa melihatnya lewat jeruji rekening.

Padahal uang ibarat darah.

Kalau terus mengalir, tubuh menjadi hidup.

Kalau menggumpal di satu tempat, dokter mulai panik.

Ekonomi pun demikian.

Harta yang hanya dipuja akan berubah menjadi museum, bukan manfaat.

Pedang: Senjata Mahal, Mental Murahan

Pedang adalah simbol kekuatan.

Tetapi kekuatan tanpa keberanian ibarat harimau yang takut pada kucing.

Kelihatannya garang.

Begitu diuji, malah mencari tempat sembunyi.

Ada orang yang jabatannya tinggi.

Stempelnya besar.

Kursinya empuk.

Ruangannya luas.

Tetapi ketika harus mengambil keputusan sulit, mendadak berubah menjadi ahli berkata,

"Kita lihat dulu perkembangannya."

Kalimat itu sering kali berarti,

"Semoga masalahnya selesai sendiri."

Padahal sejarah tidak pernah berubah karena orang yang menunggu cuaca politik cerah.

Sejarah berubah karena ada orang yang berani mengambil risiko.

Pedang bukan dibuat untuk dipajang seperti piala lomba karaoke.

Ia dibuat untuk membela yang benar.

Kalau tidak berani menggunakannya demi keadilan, pedang itu hanya menjadi besi mahal dengan gagang yang artistik.

Pena: Alat Paling Tajam Setelah Komentar Netizen

Kalau harta menggerakkan ekonomi dan pedang menggerakkan kekuasaan, pena menggerakkan pikiran.

Dulu pena menulis sejarah.

Sekarang, papan ketik menulis apa saja.

Sayangnya, tidak semua tulisan lahir dari kejujuran.

Sebagian lahir karena sponsor.

Sebagian lagi karena algoritma.

Sebagian lainnya karena ingin viral meskipun logika sedang cuti bersama.

Orang munafik adalah penulis yang tintanya berubah warna mengikuti arah angin.

Hari ini memuji.

Besok menghujat.

Lusa menghapus unggahan sambil berkata,

"Akun saya diretas."

Pendapatnya tidak memiliki tulang belakang.

Ia seperti layang-layang.

Terbang tinggi, tetapi seluruh hidupnya bergantung pada siapa yang memegang benang.

Padahal pena adalah kompas.

Ia seharusnya menunjukkan arah.

Bukan ikut berputar setiap kali angin kepentingan berubah.

Masalahnya Bukan Alatnya

Manusia modern sering percaya bahwa semua persoalan bisa diselesaikan dengan teknologi.

Ponsel lebih pintar.

Mobil lebih pintar.

Rumah lebih pintar.

Bahkan kulkas sekarang bisa memberi tahu stok telur.

Yang belum banyak berkembang justru penghuninya.

Karakter tidak bisa diunduh seperti aplikasi.

Integritas tidak tersedia dalam paket berlangganan premium.

Kejujuran tidak bisa dibeli saat diskon tanggal kembar.

Kita sibuk memperbarui sistem operasi telepon setiap bulan, tetapi lupa memperbarui sistem operasi hati.

Akibatnya, alat terus berkembang, sementara akhlak berjalan memakai modem zaman batu.

Jangan Sampai Salah Alamat

Sesungguhnya hikmah itu sedang mengingatkan bahwa dunia tidak kekurangan uang.

Tidak kekurangan kekuasaan.

Tidak kekurangan orang pandai.

Yang sering langka justru manusia yang layak memegang semuanya.

Harta menjadi indah ketika bertemu orang dermawan.

Kekuasaan menjadi mulia ketika bertemu orang pemberani.

Ilmu menjadi cahaya ketika bertemu orang yang jujur.

Sebaliknya, ketiganya berubah menjadi bencana jika jatuh ke tangan yang salah.

Ibarat memberi gergaji mesin kepada tukang kebun yang sedang marah.

Pohonnya mungkin selamat.

Tetangganya belum tentu.

Penutup

Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan mengumpulkan alat.

Yang lebih penting adalah memperbaiki tangan yang memegangnya.

Sebab dunia tidak runtuh karena kurangnya uang, kurangnya kekuasaan, atau kurangnya kecerdasan.

Dunia sering kali berantakan karena semua itu dimiliki oleh orang yang belum selesai berdamai dengan dirinya sendiri.

Mungkin itulah sebabnya orang bijak sejak dulu lebih sibuk membangun karakter daripada membangun lemari penyimpanan trofi.

Sebab pedang bisa berkarat.

Pena bisa kehabisan tinta.

Uang bisa kehilangan nilai.

Tetapi karakter yang baik akan selalu menjadi "sistem operasi" yang membuat semua alat bekerja sebagaimana mestinya.

Dan kalau suatu hari kita diberi harta, jabatan, atau kesempatan untuk berbicara kepada banyak orang, semoga kita tidak hanya bertanya, "Apa yang bisa kulakukan dengan semua ini?"

Tetapi juga bertanya,

"Apakah aku sudah cukup pantas memegangnya?"

Karena ternyata, yang paling berat dalam hidup bukanlah memegang pedang, pena, atau dompet.

Yang paling berat adalah memegang amanah tanpa menjatuhkannya.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Rabu, 08 Juli 2026

Bahasa Jangan Sampai Jadi Mi Instan

Tentang Christophe Clavé, Emoji, dan Manusia yang Semakin Lancar Mengetik "Wkwkwk" daripada Menjelaskan Perasaannya

Ada satu pertanyaan yang jarang muncul di tongkrongan.

"Boleh pinjam uang?"

Bukan.

Pertanyaannya adalah:

"Apakah kosakatamu bertambah tahun ini, atau malah berkurang?"

Biasanya orang akan diam.

Bukan karena sedang berpikir.

Melainkan karena tidak tahu kata lain selain "iya sih."

Padahal, menurut Christophe Clavé, kemiskinan bahasa bukan sekadar soal tata bahasa. Ia seperti rumah yang perlahan kehilangan kamar. Mula-mula gudangnya hilang. Lalu ruang tamu dibongkar. Lama-lama tinggal satu ruangan kosong berisi kasur lipat, colokan charger, dan Wi-Fi.

Penghuninya masih hidup.

Tetapi kalau mau berpikir agak panjang, kepalanya mulai mentok tembok.


Dulu orang menulis surat sepanjang empat halaman hanya untuk mengatakan,

"Aku merindukanmu."

Sekarang cukup mengirim satu emoji:

🥹

Lalu dianggap selesai.

Yang lucu, penerimanya masih harus menebak.

"Ini rindu... sedih... terharu... masuk angin... atau kuota habis?"

Bahasa perlahan berubah menjadi permainan tebak gambar.

Mungkin suatu hari nanti sidang pengadilan cukup berlangsung seperti ini.

Hakim:
"Saudara mengaku bersalah?"

Terdakwa:
😔🙏

Jaksa:
🤨

Hakim:
"Oke."

Clavé mengeluhkan hilangnya berbagai bentuk waktu dalam bahasa Prancis.

Sekilas terdengar seperti keluhan guru bahasa yang kehilangan murid.

Tetapi sebenarnya ia sedang membicarakan sesuatu yang lebih dalam.

Bahasa adalah mesin waktu.

Kalau kata-katamu hanya mengenal "sekarang", maka pikiranmu seperti sopir ojek yang motornya kehilangan gigi mundur sekaligus lampu jauh.

Ia tidak bisa menoleh ke sejarah.

Tidak bisa membayangkan masa depan.

Tidak bisa berkata,

"Seandainya dulu..."

atau

"Andai nanti..."

Yang tersisa hanyalah,

"Gas."

Padahal banyak tragedi manusia dimulai dari kata "gas" yang terlalu cepat.


Media sosial memang punya logika sendiri.

Kalimat panjang dianggap mengganggu.

Paragraf dicurigai.

Esai dianggap dosa.

Kalau bisa dijelaskan dalam tujuh detik, mengapa memakai tujuh menit?

Akibatnya, manusia mulai memperlakukan bahasa seperti mi instan.

Pokoknya cepat matang.

Soal gizinya belakangan.

Kita lebih sering membaca komentar:

"Fix."

"Valid."

"Auto."

"Respect."

Padahal empat kata itu sekarang dipakai untuk menjelaskan hampir seluruh kehidupan.

Ada bayi lahir.

"Valid."

Ada meteor jatuh.

"Auto."

Ada orang menemukan teori fisika baru.

"Respect."

Bahasa bekerja lembur sambil kekurangan pegawai.


Clavé juga mengatakan bahwa ketika kosakata mengecil, emosi ikut menyusut.

Ini menarik.

Dulu orang bisa membedakan kecewa, sedih, pilu, murung, resah, getir, galau, gusar, cemas, bimbang, dan sendu.

Sekarang semuanya diringkas menjadi satu kalimat sakti:

"Aku lagi overthinking."

Padahal overthinking itu seperti mengatakan semua makanan adalah "lauk."

Rendang?

Lauk.

Tempe?

Lauk.

Sambal?

Ya lauk juga.

Padahal rasa hidup jauh lebih rumit daripada menu warteg.

Semakin sedikit kata yang kita miliki, semakin sulit kita mengenali isi hati sendiri.

Tidak heran kadang seseorang marah bukan karena marah.

Ia hanya tidak menemukan kata yang tepat.

Maka yang keluar bukan kalimat.

Melainkan bantingan pintu.

Psikolog menyebutnya kesulitan memberi nama pada emosi.

Tetangga menyebutnya temperamental.


Di sinilah Orwell tampak tersenyum pahit dari balik halaman 1984.

Dalam novel itu, pemerintah mengurangi jumlah kata supaya rakyat tidak sempat berpikir aneh-aneh.

Lucunya, sekarang tidak perlu pemerintah.

Algoritma sudah bekerja sukarela.

Kalimat yang panjang kalah oleh video lima belas detik.

Argumen kalah oleh potongan suara.

Data kalah oleh caption.

Logika kalah oleh musik latar yang dramatis.

Peradaban ternyata tidak selalu dihancurkan oleh sensor.

Kadang cukup oleh tombol "skip."


Namun, kita juga tidak boleh menjadi polisi bahasa yang tiap lima menit meniup peluit.

Bahasa memang berubah.

Kalau tidak berubah, mungkin sampai hari ini kita masih berkirim kabar memakai prasasti batu.

Bahasa gaul bukan musuh.

Emoji juga bukan musuh.

Masalahnya muncul ketika semuanya menggantikan kemampuan berpikir, bukan sekadar melengkapinya.

Payung itu berguna.

Tetapi akan aneh kalau seluruh rumah diganti menjadi payung.


Di Indonesia gejalanya terasa akrab.

Orang bisa menulis tiga puluh status dalam sehari.

Tetapi kesulitan menulis satu surat lamaran kerja.

Bisa membuat seratus komentar.

Tetapi bingung menyusun tiga paragraf yang runtut.

Bisa hafal ribuan meme.

Tetapi lupa cara menyampaikan kritik tanpa memaki.

Kita menjadi generasi yang jarinya sangat lincah, tetapi kosakatanya mulai megap-megap mengejar kecepatan ibu jari.


Yang lebih menyedihkan adalah bahasa daerah yang perlahan menghilang.

Padahal setiap bahasa itu seperti kacamata.

Bahasa Jawa melihat dunia dengan cara tertentu.

Bahasa Sunda punya cara lain.

Bahasa Minangkabau, Bugis, Madura, Batak, Dayak, Aceh, dan ratusan bahasa Nusantara masing-masing membawa lensa yang berbeda.

Ketika satu bahasa mati, bukan sekadar kamus yang ditutup.

Satu cara memandang dunia ikut dimakamkan.

Seolah perpustakaan raksasa dibakar, tetapi orang-orang sibuk merekam apinya untuk dijadikan konten.


Mungkin solusi Clavé sebenarnya sederhana.

Membaca.

Menulis.

Berbicara.

Bukan demi nilai rapor.

Melainkan supaya isi kepala memiliki lebih banyak furnitur.

Sebab pikiran tanpa kosakata ibarat dapur yang hanya memiliki satu sendok.

Apa pun menunya, alatnya tetap itu.

Sulit memasak ide besar kalau peralatan berpikir tinggal dua atau tiga kata.


Pada akhirnya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi.

Ia adalah rumah tempat pikiran pulang.

Kalau rumah itu terus kita bongkar karena dianggap terlalu besar, jangan heran bila suatu hari gagasan kita tidur berdesakan di ruang sempit bernama "caption."

Barangkali itulah sebabnya membaca buku masih terasa seperti renovasi.

Setiap halaman menambah jendela.

Setiap kata menambah pintu.

Setiap kalimat memperluas langit-langit kepala.

Dan mungkin, di zaman ketika manusia semakin fasih berbicara kepada layar daripada kepada dirinya sendiri, memperkaya bahasa adalah bentuk perlawanan paling sunyi.

Karena orang yang memiliki banyak kata biasanya juga memiliki banyak cara untuk memahami dunia.

Sedangkan orang yang hanya punya satu kata...

biasanya akan menggunakannya untuk semua hal.

Termasuk ketika diminta menjelaskan hidup.

"Ya... pokoknya gitu."

abah-arul.blogspot.com.,Juli 2026