Selasa, 09 Juni 2026

Lubang Kecil dan Tikus Influencer: Pelajaran Tolstoy tentang Rezeki, Keserakahan, dan Bahaya Viral

Konon, sebelum ada Instagram, TikTok, YouTube Shorts, dan status WhatsApp yang bisa membuat tetangga mendadak stres, dunia sudah memiliki para influencer. Bedanya, mereka berbulu, berekor, dan tinggal di bawah gudang gandum.

Salah satu influencer pertama dalam sejarah sastra mungkin adalah seekor tikus dalam fabel Leo Tolstoy.

Kisahnya sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Ada seekor tikus yang hidup nyaman di bawah gudang gandum. Dari sebuah lubang kecil di lantai, biji-biji gandum jatuh perlahan. Tidak banyak, tetapi cukup. Tikus itu tidak kaya raya. Ia juga tidak masuk daftar Forbes Tikus Sedunia. Namun ia kenyang, tenang, dan bisa tidur tanpa harus memikirkan cicilan rumah atau harga cabai.

Singkatnya, ia hidup dalam kondisi yang oleh filsuf disebut "cukup", dan oleh manusia modern disebut "kurang konten."

Masalah mulai muncul ketika tikus itu mengalami penyakit yang sangat umum di segala zaman: ingin terlihat sukses.

Awalnya ia hanya menikmati gandum sendirian. Tetapi lama-kelamaan muncul pertanyaan berbahaya dalam benaknya:

"Kalau tidak ada yang tahu aku kaya, apa gunanya aku kaya?"

Pertanyaan itu telah menghancurkan lebih banyak kehidupan daripada harga saham yang jatuh.

Maka ia mulai menggerogoti lubang kecil itu agar semakin besar. Bukan karena lapar. Bukan karena kebutuhan hidup meningkat. Bukan pula karena anak tikusnya masuk universitas swasta.

Ia ingin mengadakan open house.

Ia ingin mengundang tikus-tikus lain.

Ia ingin berkata dengan nada santai yang sangat tidak santai:

"Oh ini? Gudang gandum biasa saja kok. Rezeki kecil. Alhamdulillah."

Padahal di belakang kalimat "rezeki kecil" itu biasanya tersembunyi harapan agar semua orang pingsan karena kagum.

Begitulah cara kerja ego. Ia tidak pernah puas hanya dengan memiliki. Ia ingin disaksikan.

Dalam dunia modern, lubang kecil itu bisa berupa bisnis yang berjalan lancar, penghasilan yang cukup, rumah yang nyaman, atau kehidupan yang damai. Semua baik-baik saja sampai muncul godaan untuk menjadikan semuanya tontonan publik.

Manusia hari ini sering mengalami nasib yang sama dengan si tikus. Awalnya membeli kopi karena haus. Lama-lama membeli kopi karena perlu difoto. Awalnya pergi berlibur untuk beristirahat. Lama-lama berlibur untuk membuktikan kepada orang lain bahwa dirinya sedang beristirahat.

Kita hidup di zaman ketika sebagian orang lebih sibuk mengabarkan kebahagiaan daripada menikmati kebahagiaan itu sendiri.

Celakanya, alam semesta memiliki selera humor yang unik.

Begitu lubang itu membesar, petani melihatnya.

Dan seperti semua petani yang waras, ia segera menutup lubang tersebut.

Selesai.

Tidak ada debat. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada utas sepanjang dua puluh cuitan yang menjelaskan konteks sebenarnya.

Lubang ditutup.

Gandum berhenti mengalir.

Para tamu pulang dengan perut kosong.

Dan si tikus influencer mendadak kehilangan sumber pendapatannya.

Di sinilah Tolstoy menunjukkan kejeniusannya. Tokoh terpenting dalam cerita ternyata bukan tikus, melainkan petani.

Petani adalah simbol realitas.

Realitas tidak peduli pada pencitraan.

Ia tidak terkesan oleh jumlah pengikut.

Ia tidak kagum pada flexing.

Ia hanya bekerja menurut hukumnya sendiri.

Kita sering lupa bahwa banyak nikmat bertahan justru karena ukurannya kecil. Sebagaimana api unggun yang menghangatkan akan berubah menjadi kebakaran jika terlalu dibesarkan, demikian pula rezeki yang cukup sering berubah menjadi musibah ketika dipaksa menjadi pertunjukan.

Bahkan korupsi sering berjalan mengikuti logika tikus tersebut.

Awalnya hanya lubang kecil.

Lalu muncul keyakinan bahwa dirinya pintar.

Kemudian lubang diperbesar.

Lalu diperbesar lagi.

Lalu diperbesar lagi.

Sampai suatu hari petani bernama KPK, auditor, wartawan, atau netizen menemukan lubang itu.

Dan seperti dalam fabel Tolstoy, penutup datang lebih cepat daripada permintaan maaf.

Yang menarik, Tolstoy tidak sedang mengajarkan kita untuk anti-ambisi. Ia tidak menyuruh manusia menjadi malas dan puas dalam kemiskinan.

Ia hanya mengingatkan bahwa ada perbedaan besar antara bertumbuh dan membesar-besarkan.

Pohon mangga tumbuh tanpa pidato.

Matahari terbit tanpa siaran pers.

Padi yang berisi justru menunduk.

Hanya balon yang suka membesar sambil berisik, dan nasib balon biasanya berakhir dengan suara "duar!"

Mungkin itulah sebabnya banyak orang bijak memilih hidup seperti lubang kecil di bawah gudang gandum. Tidak mencolok, tetapi mencukupi. Tidak viral, tetapi tenang. Tidak menjadi bahan iri banyak orang, tetapi juga tidak mengundang perhatian petani.

Sebab pada akhirnya, kebahagiaan sering kali bukan soal memiliki lebih banyak gandum.

Kebahagiaan adalah kemampuan untuk menikmati gandum yang sudah jatuh tanpa merasa perlu mengundang seluruh dunia untuk menyaksikannya.

Dan jika suatu hari Anda menemukan sebuah lubang kecil yang membuat hidup terasa cukup, rawatlah baik-baik.

Jangan terlalu rajin menggerogotinya.

Karena sejarah telah menunjukkan bahwa banyak tragedi besar berawal dari kalimat sederhana:

"Tenang saja, siapa yang akan tahu?"

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Belajar dari Elif Shafak: Mengapa Hidup Tidak Punya Garansi Resmi?

Di zaman ketika blender saja datang dengan kartu garansi dua tahun, manusia justru menjalani hidup tanpa buku petunjuk, tanpa layanan pelanggan, dan tanpa tombol "undo". Mungkin karena itulah kutipan-kutipan Elif Shafak terasa begitu mengena. Ia seperti petugas informasi di stasiun kehidupan yang dengan tenang berkata:

"Maaf, kereta kepastian tidak pernah beroperasi di jalur ini."

Kutipan yang beredar di media sosial itu dimulai dengan kalimat sederhana: "Saya telah belajar bahwa..." Namun daftar pelajaran yang mengikuti kalimat itu tidak sesederhana resep mi instan. Isinya lebih mirip catatan seorang musafir yang sudah cukup lama dipermainkan oleh kehidupan hingga akhirnya memahami cara kerja semesta.

Cinta: Tamu Tak Diundang yang Suka Keluar Diam-Diam

Salah satu pelajaran pertama yang disampaikan Shafak adalah bahwa cinta bisa datang tiba-tiba dan bisa pergi dalam semalam.

Ini adalah fakta yang sering membuat manusia frustrasi.

Ketika membeli rumah, kita menandatangani akta. Ketika membeli motor, ada STNK. Ketika membeli ponsel, ada kartu garansi.

Tetapi ketika jatuh cinta?

Tidak ada surat perjanjian yang berbunyi:

"Produk ini dijamin bertahan selamanya. Jika hubungan rusak sebelum masa berlaku habis, silakan hubungi pusat layanan pelanggan."

Tidak ada.

Cinta datang seperti tamu yang mengetuk pintu tanpa mengirim pesan terlebih dahulu. Kadang ia membawa bunga. Kadang membawa puisi. Kadang membawa trauma.

Yang lebih aneh, cinta juga bisa pergi tanpa mengucapkan salam.

Karena itu, kata Shafak, mungkin kita perlu berhenti memperlakukan kehidupan seperti lemari besi dan mulai memperlakukannya seperti taman. Bunga memang akan layu, tetapi itu bukan alasan untuk tidak menanamnya.

Sahabat dan Fenomena "Update Status Terakhir 2018"

Shafak juga mengingatkan bahwa sahabat besar bisa menjadi orang asing.

Awalnya kalimat ini terdengar menyedihkan.

Tetapi jika dipikir-pikir, hampir semua orang memiliki teman yang dulu setiap hari bercakap-cakap hingga tengah malam, lalu sekarang keberadaannya hanya diketahui dari foto profil WhatsApp.

Hubungan manusia ternyata lebih mirip stasiun kereta daripada tempat parkir permanen.

Ada yang naik di pemberhentian pertama.

Ada yang menemani sampai separuh perjalanan.

Ada yang turun tanpa sempat berpamitan.

Masalahnya, kita sering marah kepada kehidupan karena mengira semua penumpang harus ikut sampai tujuan akhir.

Padahal tiket mereka mungkin memang hanya sampai stasiun berikutnya.

Menunggu Takdir seperti Menunggu Durian Jatuh

Bagian favorit saya adalah ketika Shafak mengatakan bahwa jika ingin bertemu seseorang, kita harus mencarinya.

Nasihat ini terdengar sangat sederhana, tetapi anehnya banyak orang hidup dengan strategi sebaliknya.

Mereka berharap jodoh datang sendiri.

Pekerjaan datang sendiri.

Kesempatan datang sendiri.

Inspirasi datang sendiri.

Mereka duduk diam sambil menunggu keajaiban seperti petani yang berharap durian jatuh tepat ke piring tanpa pernah menanam pohonnya.

Padahal kehidupan lebih sering menghargai orang yang bergerak.

Semesta mungkin tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi hampir pasti tidak memberikan apa pun kepada orang yang bahkan tidak mencoba.

Mungkin inilah yang dimaksud Shafak ketika mengatakan bahwa orang yang mengambil risiko tidak pernah benar-benar kehilangan.

Kalau berhasil, ia mendapat hasil.

Kalau gagal, ia mendapat pelajaran.

Sementara yang tidak mencoba hanya mendapat satu hal: alasan.

Sakit Itu Paket Standar, Penderitaan Itu Fitur Tambahan

Inilah bagian paling filosofis dari kutipan tersebut.

"Merasa sakit tidak terhindarkan, tetapi menderita adalah pilihan."

Bayangkan seseorang terkena hujan.

Basah adalah kenyataan.

Tetapi berdiri tiga jam di bawah hujan sambil berteriak kepada awan tentang ketidakadilan kosmik adalah pilihan.

Hidup memang tidak mungkin bebas dari luka.

Ditolak.

Dikhianati.

Gagal.

Kehilangan.

Semua itu termasuk paket standar kemanusiaan.

Namun sering kali yang membuat kita sengsara bukan peristiwanya, melainkan rapat internal yang terus berlangsung di kepala kita setelah peristiwa itu selesai.

Kita memutar ulang kejadian yang sama seperti sutradara yang terlalu mencintai adegan sedih.

Luka satu hari bisa berubah menjadi penderitaan sepuluh tahun karena terus diputar dalam bioskop pikiran.

Seni Sulit Bernama Menerima Kenyataan

Pelajaran terakhir Shafak mungkin yang paling mahal.

Ia mengatakan bahwa menyangkal hal yang sudah jelas tidak ada gunanya.

Ini terdengar sederhana sampai kita mengingat berapa banyak energi yang dihabiskan manusia untuk menyangkal kenyataan.

Hubungan yang sudah mati diberi infus harapan.

Kesalahan yang jelas masih dicari pembenarannya.

Masalah yang nyata disembunyikan di bawah karpet sampai karpetnya sendiri menyerupai gunung.

Manusia kadang seperti penumpang kapal yang bocor tetapi sibuk mengecat dinding kabin agar terlihat indah.

Padahal laut tidak peduli pada warna cat.

Ia hanya peduli apakah kapal itu sedang tenggelam atau tidak.

Menerima kenyataan memang menyakitkan.

Tetapi menyangkal kenyataan biasanya lebih mahal.

Hidup Tanpa Garansi, Tetapi Tetap Layak Dijalani

Tentu saja, beberapa gagasan Shafak bisa diperdebatkan. Tidak semua orang yang mau pasti bisa. Dunia nyata memiliki kemiskinan, ketimpangan, diskriminasi, dan berbagai tembok yang tidak bisa ditembus hanya dengan semangat.

Namun inti pesannya bukanlah bahwa hidup itu mudah.

Justru sebaliknya.

Hidup itu rumit, tidak pasti, dan sering kali tidak masuk akal.

Tetapi karena itulah kita perlu keberanian.

Keberanian untuk mencintai meski bisa kehilangan.

Keberanian untuk melangkah meski bisa gagal.

Keberanian untuk menerima kenyataan meski pahit.

Keberanian untuk tetap hidup utuh di dunia yang tidak pernah menawarkan garansi apa pun.

Mungkin itulah kebijaksanaan terbesar yang ingin disampaikan Elif Shafak.

Bahwa kehidupan bukanlah kontrak jangka panjang yang penuh kepastian.

Ia lebih mirip perjalanan naik angkot di kota yang belum pernah kita kunjungi.

Kita tidak selalu tahu siapa yang akan duduk di samping kita, siapa yang akan turun lebih dulu, atau di mana jalan akan macet.

Tetapi selama perjalanan masih berlangsung, mungkin yang terbaik bukanlah terus-menerus menuntut kepastian.

Melainkan menikmati perjalanan, sambil sesekali tertawa pada kekacauan yang menyertainya.

 abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Senin, 08 Juni 2026

PBNU, AI, dan Durian: Ketika Organisasi Keagamaan Mulai Bermain di Liga Masa Depan

Pada zaman dahulu, orang mengenal organisasi keagamaan dari tiga hal: pengajian, kitab kuning, dan konsumsi rapat yang kadang lebih panas daripada materi diskusinya. Namun dunia berubah. Kini, ketika seseorang menyebut Nahdlatul Ulama, jangan kaget jika yang dibicarakan bukan hanya fikih wudu, tetapi juga kecerdasan buatan, energi terbarukan, ekonomi syariah, bahkan... durian.

Ya, durian.

Pada 5 Juni 2026, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerima kunjungan Dewan Perniagaan Melayu Malaysia (DPMM). Jika dibaca sekilas, peristiwa ini tampak seperti kunjungan persahabatan biasa. Foto-foto berjabat tangan, senyum diplomatis, dan kalimat-kalimat yang selalu mengandung kata "sinergi", "kolaborasi", dan "penguatan kapasitas".

Namun jika diperhatikan lebih dalam, pertemuan ini sebenarnya seperti trailer film yang memberi bocoran arah cerita berikutnya: PBNU tampaknya sedang mencoba naik level dari organisasi sosial-keagamaan menjadi pemain yang ikut menentukan arah ekonomi, teknologi, dan bahkan diplomasi kawasan.

Dari Kitab Kuning ke Kecerdasan Buatan

Salah satu topik yang dibahas adalah pemanfaatan AI untuk pendidikan, khususnya di pesantren dan madrasah.

Bayangkan seorang santri tahun 1990-an yang harus membolak-balik kitab setebal batu bata untuk mencari satu kalimat dalam kitab tafsir. Kini muncul kemungkinan bahwa suatu hari nanti seorang santri cukup bertanya kepada AI:

"Apa pendapat Imam Nawawi tentang masalah ini?"

Lalu dalam hitungan detik jawaban muncul lengkap dengan referensi.

Tentu saja ini tidak berarti AI akan menggantikan kiai. Sama seperti kalkulator tidak menggantikan guru matematika. Yang terjadi justru sebaliknya: orang jadi makin sadar bahwa memahami jawaban jauh lebih sulit daripada sekadar menemukannya.

AI mungkin bisa menemukan dalil dalam satu detik. Tetapi memahami kapan dalil itu tepat digunakan tetap membutuhkan kebijaksanaan manusia.

Singkatnya, AI bisa menjadi santri yang rajin membaca, tetapi belum tentu santri yang paham adab.

Ekonomi Syariah: Dari Mustahiq ke Market Share

Bagian lain yang menarik adalah ambisi PBNU untuk menjadi penggerak utama ekosistem ekonomi syariah.

Ini adalah perubahan yang cukup besar.

Selama puluhan tahun NU dikenal sebagai kekuatan sosial dengan jutaan anggota dan jaringan pesantren yang luas. Namun kini PBNU tampaknya menyadari sebuah kenyataan sederhana: ceramah yang baik memang menggerakkan hati, tetapi ekonomi yang kuat membantu menjaga dapur tetap menyala.

Dalam bahasa yang lebih jenaka, umat tidak bisa hidup dari tausiyah saja. Bahkan setelah mendengarkan ceramah paling menyentuh sekalipun, seseorang tetap perlu membeli beras saat pulang.

Karena itu masuk akal jika NU mulai berbicara tentang industri halal, investasi, farmasi, energi, dan berbagai sektor ekonomi lainnya.

Ini seperti seorang kiai yang selama bertahun-tahun mengajarkan pentingnya menanam pohon, lalu suatu hari memutuskan membuka perkebunan sendiri.

Diplomasi Durian

Namun dari semua topik yang dibahas, ada satu yang paling mencuri perhatian: durian.

Banyak orang mungkin tersenyum ketika membaca kata itu.

Apa hubungan organisasi Islam terbesar di dunia dengan durian?

Jawabannya sederhana: ekonomi.

Malaysia memiliki pengalaman, teknologi, dan akses pasar yang kuat. Indonesia memiliki lahan luas dan potensi produksi yang besar. Maka lahirlah kerja sama durian.

Sebenarnya durian adalah simbol yang menarik.

Ia mengajarkan bahwa diplomasi tidak selalu harus membahas hal-hal rumit seperti konflik geopolitik, tarif perdagangan, atau perjanjian multilateral. Kadang-kadang hubungan antarbangsa bisa dimulai dari sesuatu yang baunya membuat sebagian orang lari dan sebagian lainnya jatuh cinta.

Durian mengingatkan kita bahwa ekonomi sering bergerak melalui hal-hal yang sangat konkret.

Tidak semua kerja sama harus terdengar canggih. Kadang yang dibutuhkan hanyalah buah berduri dengan aroma yang mampu mengusir nyamuk dalam radius beberapa meter.

Gus Yahya dan Politik Jendela

Jika diperhatikan, seluruh pertemuan ini mencerminkan gaya kepemimpinan Gus Yahya yang relatif berbeda.

Jika sebagian organisasi sibuk memperkuat tembok, PBNU saat ini tampaknya lebih sibuk membuka jendela.

Mereka berbicara dengan berbagai pihak, menjalin hubungan internasional, membangun jejaring ekonomi, dan mencoba menempatkan NU dalam percakapan global.

Pendekatan ini mengingatkan pada filosofi rumah tradisional Nusantara.

Rumah yang sehat bukan rumah yang seluruh pintunya tertutup rapat. Rumah yang sehat adalah rumah yang cukup kokoh menjaga identitasnya, tetapi cukup terbuka untuk menerima angin segar dari luar.

Terlalu tertutup membuat penghuninya pengap.

Terlalu terbuka membuat ayam tetangga ikut masuk.

Kebijaksanaan terletak pada menemukan titik tengahnya.

Tantangan yang Tidak Kecil

Tentu saja jalan menuju transformasi ini tidak bebas hambatan.

Mengelola organisasi keagamaan besar saja sudah rumit. Mengelola ekosistem ekonomi berskala nasional jauh lebih rumit lagi.

Pertanyaannya bukan apakah NU memiliki massa yang besar. Semua orang tahu jawabannya.

Pertanyaannya adalah apakah massa besar itu dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi yang efektif, profesional, dan berkelanjutan.

Lalu ada tantangan AI.

Teknologi sering kali seperti pisau dapur. Di tangan koki, ia menghasilkan makanan lezat. Di tangan anak kecil yang baru belajar bermain-main, hasilnya bisa berbeda.

Karena itu modernisasi pesantren tidak cukup hanya membeli perangkat lunak atau memasang internet cepat. Yang lebih penting adalah membangun budaya berpikir kritis, etika digital, dan kemampuan menyaring informasi.

Jika tidak, AI hanya akan menjadi versi mahal dari mesin fotokopi.

Dari Penonton Menjadi Pemain

Pada akhirnya, pertemuan PBNU dan DPMM bukan sekadar berita kunjungan biasa.

Ia adalah pertanda bahwa NU sedang mencoba mendefinisikan ulang perannya di abad ke-21.

Dunia hari ini ibarat sebuah pertandingan sepak bola yang dimainkan dengan aturan baru setiap beberapa menit. Ada AI, ekonomi digital, perubahan geopolitik, dan transformasi sosial yang bergerak sangat cepat.

Dalam situasi seperti itu, PBNU tampaknya tidak ingin duduk di tribun sambil mengomentari pertandingan.

Mereka ingin turun ke lapangan.

Tentu, belum ada jaminan semua rencana akan berhasil. AI bisa gagal menjangkau pesantren terpencil. Ekonomi syariah bisa tersandung birokrasi. Diplomasi durian bisa saja berakhir hanya menjadi obrolan sambil minum kopi.

Namun sejarah selalu lebih ramah kepada mereka yang mencoba daripada mereka yang hanya mengeluh.

Dan jika suatu hari nanti ada santri yang belajar fikih menggunakan AI sambil menikmati durian hasil kerja sama Indonesia-Malaysia, mungkin kita akan tersenyum dan berkata:

"Ternyata masa depan datang bukan dengan suara gemuruh. Kadang ia datang membawa laptop di satu tangan dan durian di tangan yang lain."

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Sumber: https://nu.or.id/nasional/pbnu-terima-delegasi-dpm-malaysia-bahas-ekonomi-syariah-hingga-ai-untuk-pendidikan-2wiZz

Piagam Ulama di Zaman Influencer: Ketika Sanad Bertemu Sinyal Wi-Fi

Ada sebuah fenomena menarik di zaman modern ini. Dahulu seseorang menjadi ulama setelah bertahun-tahun mondok, menghafal kitab, berguru dari satu kiai ke kiai lain, dan menghabiskan hidupnya bergelut dengan ilmu. Kini, kadang-kadang seseorang cukup membeli peci putih, menambahkan kata "official" di belakang namanya, lalu mengunggah video berdurasi 60 detik dengan musik latar yang mengharukan. Dalam hitungan minggu, lahirlah seorang "ustaz viral".

Jika dulu sanad keilmuan ditelusuri dari guru ke guru hingga bersambung kepada ulama-ulama besar, kini sanad sering kali hanya bersambung dari algoritma ke algoritma. Guru utamanya bukan lagi kitab kuning, melainkan fitur "For You Page".

Barangkali inilah yang membuat PBNU merasa perlu menyusun Piagam Nilai-Nilai Keulamaan. Sebab, jika tidak ada penanda jalan, masyarakat bisa salah masuk jalur. Niatnya mencari ulama, yang ditemukan justru motivator spiritual, komentator politik, analis konspirasi, pedagang suplemen, dan kadang-kadang semuanya sekaligus dalam satu akun.

Piagam ini pada dasarnya adalah upaya sederhana namun penting: mengingatkan bahwa ulama bukan profesi dadakan seperti mie instan. Ada proses panjang yang harus dilalui. Bahkan mie instan saja masih perlu direbus tiga menit. Masa ulama cukup tiga video TikTok?

Gus Yahya menjelaskan bahwa piagam ini memiliki tiga fungsi. Pertama, sebagai pengingat bagi para ulama sendiri. Ini mirip cermin yang dipasang di ruang tamu. Bukan karena penghuni rumah lupa wajahnya, tetapi agar tetap ingat seperti apa dirinya.

Kedua, sebagai panduan bagi calon ulama. Ibarat papan petunjuk di gunung, piagam ini menjelaskan bahwa jalur menuju keulamaan bukan jalan tol yang bisa ditembus dengan modal percaya diri dan mikrofon wireless. Ada tanjakan ilmu, jurang ego, dan tikungan akhlak yang harus dilewati.

Ketiga, sebagai panduan bagi masyarakat. Sebab di era digital, memilih guru agama kadang lebih rumit daripada memilih telepon genggam. Spesifikasi luar terlihat jelas, tetapi kualitas "mesin dalamnya" sering sulit diperiksa.

Dalam tradisi NU, ulama bukan sekadar orang yang pandai berbicara. Burung beo juga bisa mengulang kalimat yang sama sepanjang hari. Yang membedakan ulama adalah kedalaman ilmu, keluasan wawasan, akhlak, dan keterhubungannya dengan rantai keilmuan yang panjang.

Masalahnya, media sosial memiliki logika yang berbeda dengan pesantren.

Pesantren menghargai proses.

Media sosial menghargai kecepatan.

Pesantren mengajarkan kehati-hatian.

Media sosial mengajarkan bahwa yang tercepat sering kali menang.

Pesantren mengutamakan kedalaman.

Media sosial mengutamakan durasi pendek yang bisa ditonton sambil menunggu lampu merah.

Akibatnya, terjadi benturan budaya yang cukup unik. Di dunia nyata, seorang kiai mungkin membutuhkan puluhan tahun untuk diakui keilmuannya. Di dunia maya, seseorang bisa menjadi "ulama nasional" setelah satu video viral dan tiga kali tampil di podcast.

Keadaan ini mengingatkan pada cerita tentang emas dan kertas alumunium. Dari jauh keduanya sama-sama berkilau. Namun ketika diuji, barulah terlihat mana yang benar-benar berharga dan mana yang hanya memantulkan cahaya.

PBNU tampaknya ingin menyediakan alat uji tersebut.

Tentu saja langkah ini tidak bebas dari kritik. Akan ada yang bertanya, apakah ini bentuk monopoli definisi ulama? Apakah NU sedang membuat "sertifikat kelulusan" untuk dunia dakwah?

Pertanyaan itu wajar. Namun sesungguhnya setiap tradisi keilmuan selalu memiliki standar. Dokter memiliki standar. Pilot memiliki standar. Bahkan tukang bakso yang baik pun memiliki standar tentang berapa banyak bawang goreng yang layak ditaburkan.

Maka tidak aneh jika ulama juga memiliki standar.

Justru yang aneh adalah jika profesi yang mengurusi keselamatan rohani manusia tidak memiliki standar sama sekali.

Tantangan terbesar bukanlah menyusun piagam, melainkan menghidupkannya. Sebab sejarah manusia penuh dengan dokumen indah yang akhirnya hanya menjadi penghuni lemari. Nasib piagam ini akan ditentukan bukan oleh kualitas kertasnya, melainkan oleh kesediaan warga NU dan masyarakat untuk menjadikannya kompas dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, Piagam Nilai-Nilai Keulamaan adalah pengingat sederhana bahwa tidak semua yang viral itu alim, dan tidak semua yang sepi itu kurang ilmu.

Kadang-kadang ulama sejati ibarat sumur tua di desa. Ia tidak berisik. Ia tidak memiliki lampu warna-warni. Ia tidak membuat konten setiap hari. Namun ketika orang kehausan, merekalah yang tetap didatangi.

Sementara sebagian tokoh viral ibarat mesin minuman otomatis yang berkedip-kedip terang di malam hari. Menarik perhatian banyak orang, tetapi kadang setelah tombol ditekan, yang keluar justru angin.

Di zaman ketika jumlah pengikut sering dianggap lebih penting daripada kedalaman ilmu, piagam ini seolah ingin mengingatkan kembali satu hal yang sangat tua namun tetap relevan: bahwa otoritas keagamaan tidak tumbuh dari popularitas, melainkan dari ilmu, akhlak, dan ketekunan yang panjang.

Karena sejatinya, Wi-Fi bisa membuat seseorang terkenal dalam semalam. Tetapi hanya sanad dan ilmu yang membuat seseorang dipercaya lintas generasi.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Minggu, 07 Juni 2026

Ustadzah, Algoritma, dan Surat Al-Ahzab: Ketika Dakwah Bertemu Mesin Pencari Perhatian

Dahulu, seorang ustadzah cukup datang ke mushala, duduk di depan ibu-ibu pengajian, lalu menjelaskan hukum tajwid sambil sesekali mengingatkan bahwa huruf "ض" bukan saudara kandung huruf "د". Hari ini situasinya berbeda. Seorang ustadzah bisa mengajar dari ruang tamu, disaksikan ribuan orang, dikomentari jutaan akun, dan dihakimi oleh netizen yang bahkan belum tamat membaca caption.

Media sosial telah mengubah dakwah seperti warung kopi yang tiba-tiba berubah menjadi stadion. Semua orang bisa berbicara, semua orang bisa mendengar, dan yang paling bersemangat sering kali bukan pembicara maupun pendengar, melainkan kolom komentar.

Di tengah suasana itulah muncul tulisan tentang tiga etika Qur'ani bagi ustadzah di media sosial. Tulisan tersebut mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan yang sangat modern sekaligus sangat kuno: bagaimana cara menyampaikan kebenaran tanpa berubah menjadi tontonan?

Dakwah di Era Algoritma: Ketika Hikmah Bertemu Hashtag

Masalahnya bukan karena dakwah berpindah ke TikTok. Masalahnya adalah TikTok tidak dirancang untuk mencari hikmah.

Algoritma media sosial ibarat pedagang pasar yang cerewet. Ia tidak bertanya, "Apakah ini benar?" Ia hanya bertanya, "Apakah ini menarik?"

Akibatnya, konten yang tenang sering tenggelam, sementara konten yang heboh melambung. Video yang menjelaskan hukum mad wajib muttashil selama lima menit kalah populer dibanding video kucing yang terkejut melihat mentimun.

Dalam dunia seperti ini, para pendakwah menghadapi dilema yang unik. Jika terlalu datar, tidak ditonton. Jika terlalu ekspresif, dituduh mencari perhatian. Jika tersenyum, ada yang protes. Jika tidak tersenyum, ada yang bilang galak. Seolah-olah sebagian netizen menginginkan ustadzah yang mampu menarik perhatian semua orang sambil secara ajaib tidak menarik perhatian siapa pun.

Tiga Etika dan Seni Mengemudikan Suara

Tulisan tersebut mengambil inspirasi dari Surat Al-Ahzab ayat 32 yang menekankan tiga hal: menjaga nada suara, menjaga gestur, dan menggunakan perkataan yang baik.

Secara sederhana, pesan ini mirip nasihat orang tua ketika melepas anaknya ke pesta pernikahan:

"Silakan datang, silakan bergaul, silakan berbicara, tapi jangan sampai pulang membawa masalah."

Nada suara, gestur, dan kata-kata memang bukan perkara sepele. Dalam komunikasi, isi pesan sering kalah berpengaruh dibanding cara pesan itu disampaikan. Satu kalimat yang sama bisa terdengar seperti nasihat, candaan, sindiran, atau ancaman tergantung intonasinya.

Masalahnya, media sosial adalah panggung yang aneh. Kamera memperbesar hal-hal kecil. Gerakan yang biasa saja bisa tampak berlebihan. Senyum yang sekadar ramah bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang lain. Bahkan jeda dua detik terkadang cukup untuk melahirkan seratus teori konspirasi di kolom komentar.

Karena itu, ajakan menjaga etika sebenarnya cukup masuk akal. Bukan karena perempuan adalah sumber masalah, melainkan karena internet adalah pabrik kesalahpahaman yang bekerja tanpa libur.

Netizen: Makhluk yang Selalu Merasa Menjadi Dewan Juri

Menariknya, tulisan tersebut tidak hanya menasihati ustadzah. Penonton laki-laki juga diingatkan agar menjaga adab.

Ini penting.

Sebab kadang-kadang kita berbicara tentang fitnah seolah-olah fitnah adalah makhluk gaib yang muncul dari udara. Padahal sering kali fitnah lahir karena ada orang yang sengaja memeliharanya.

Bayangkan seseorang menonton video kajian tajwid selama lima belas menit, lalu kesimpulan yang ia dapatkan bukan hukum bacaan Al-Qur'an, melainkan analisis mendalam tentang ekspresi wajah pengajarnya.

Itu seperti datang ke toko buku lalu pulang dengan kesimpulan bahwa rak bukunya menarik.

Tulisan tersebut secara halus mengingatkan bahwa penyakit hati bukan hanya urusan orang yang berbicara, tetapi juga urusan orang yang mendengar. Kamera memang menyorot satu orang, tetapi akhlak diuji pada kedua sisi layar.

Ketika Al-Ahzab Bertemu Algoritma

Di sinilah diskusi menjadi menarik.

Ayat Al-Ahzab turun pada zaman yang tidak mengenal Wi-Fi, ring light, maupun tombol "like". Namun manusia yang hidup di zaman itu dan manusia yang hidup di zaman sekarang ternyata memiliki kesamaan yang mengejutkan: sama-sama mudah tergoda oleh hal-hal yang memalingkan perhatian dari substansi.

Perbedaannya hanya pada teknologi.

Dahulu orang terganggu oleh pasar yang ramai. Sekarang orang terganggu oleh notifikasi yang berbunyi setiap tiga puluh detik.

Karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar menerapkan ayat ke dunia digital, melainkan menerjemahkan semangatnya. Bagaimana menjaga martabat tanpa kehilangan efektivitas? Bagaimana menarik perhatian tanpa menjual perhatian? Bagaimana berdakwah di panggung yang dirancang untuk hiburan tanpa ikut berubah menjadi hiburan?

Ini bukan pertanyaan yang mudah.

Ustadzah dan Ustadz Sama-Sama Berisiko Menjadi Influencer

Satu catatan yang layak direnungkan adalah bahwa etika digital seharusnya tidak berhenti pada ustadzah.

Ustadz laki-laki juga hidup di bawah algoritma yang sama.

Ada ustadz yang menjual kemarahan karena kemarahan meningkatkan engagement. Ada yang menjual sensasi karena sensasi meningkatkan jumlah penonton. Ada pula yang mengubah mimbar menjadi arena gulat verbal demi memperoleh potongan video viral.

Jika suara lembut bisa menjadi fitnah, suara yang gemar berteriak juga bisa menjadi fitnah.

Jika gestur yang terlalu manis berisiko mengaburkan pesan, gestur yang terlalu arogan juga mampu merusak dakwah.

Pendek kata, algoritma tidak pilih kasih. Ia bisa menggoda siapa saja. Baik ustadzah maupun ustadz, semua berpotensi berubah dari penyampai ilmu menjadi pemburu statistik.

Antara Cahaya Ring Light dan Cahaya Hikmah

Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang suara perempuan, gestur tubuh, atau teknik berbicara di depan kamera.

Persoalan yang lebih besar adalah bagaimana menjaga niat ketika dakwah berubah menjadi konten.

Ring light dapat menerangi wajah, tetapi tidak otomatis menerangi hati. Mikrofon dapat memperkeras suara, tetapi tidak otomatis memperkuat hikmah. Dan jutaan penonton tidak selalu berarti jutaan keberkahan.

Mungkin pelajaran terpenting dari diskusi ini sederhana saja: media sosial adalah kendaraan, bukan tujuan. Ia seperti perahu. Yang menentukan arah bukan perahunya, melainkan nahkodanya.

Karena itu, tantangan para pendakwah hari ini bukan memilih antara Al-Ahzab atau algoritma. Tantangannya adalah bagaimana membuat algoritma menjadi kendaraan bagi nilai-nilai Al-Ahzab.

Sebab jika dakwah kehilangan etika, ia berubah menjadi pertunjukan. Namun jika dakwah kehilangan efektivitas, ia berubah menjadi bisikan yang tak pernah sampai kepada siapa pun.

Di antara dua kutub itulah para pendakwah digital sedang berlayar—berusaha menjaga keseimbangan antara cahaya hikmah dan godaan jumlah viewers.

Dan seperti biasa, kolom komentar tetap menjadi ujian paling berat.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Dari Woke ke Absurd: Ketika Albert Camus Dipaksa Menjadi Motivator Finansial

Ada nasib yang lebih tragis daripada menjadi korban ideologi. Salah satunya adalah menjadi Albert Camus yang dijadikan konten pengembangan diri di media sosial.

Bayangkan sejenak. Camus, filsuf yang menghabiskan hidupnya bergulat dengan absurditas eksistensi manusia, tiba-tiba bangun dari kubur lalu mendapati kutipan-kutipannya dipakai untuk menjual kebebasan finansial, mindset anti-sistem, dan strategi menjadi kaya sebelum usia empat puluh.

Mungkin ia akan menyalakan rokok, memandang langit dengan tatapan kosong, lalu berkata, "Ternyata dunia memang absurd."

Begitulah kesan yang muncul ketika membaca kisah seseorang yang mengaku bertransformasi dari seorang "woke" menjadi pengagum absurdisme Camus. Ia bercerita bagaimana dulu percaya pada berbagai narasi kesetaraan, politik identitas, dan perjuangan kolektif. Namun setelah melewati berbagai kekecewaan, ia menemukan Camus dan merasa seperti menemukan pintu darurat untuk keluar dari gedung ideologi yang sedang terbakar.

Masalahnya, setelah keluar dari gedung itu, ia justru masuk ke mal.

Dari Aktivis Menjadi Konsultan Kehidupan

Ada pola menarik dalam banyak perjalanan intelektual zaman sekarang.

Awalnya seseorang sangat percaya bahwa dunia bisa diperbaiki melalui perubahan sistem. Semua persoalan dianggap berasal dari struktur sosial, budaya, ekonomi, atau politik.

Lalu ia kecewa.

Kemudian ia menemukan filsafat eksistensial atau absurdisme.

Lalu ia membaca Camus.

Kemudian ia menyimpulkan bahwa solusi terbaik adalah menjadi kaya.

Di titik inilah perjalanan intelektual tersebut sering kali berubah seperti film yang kehilangan penulis skenario pada babak ketiga.

Camus berbicara tentang makna hidup.

Pembacanya berbicara tentang investasi properti.

Camus bertanya bagaimana manusia tetap bermartabat dalam dunia yang tidak masuk akal.

Pembacanya bertanya bagaimana memperoleh kebebasan finansial sebelum usia pensiun.

Seolah-olah seseorang membaca buku tentang astronomi lalu menyimpulkan bahwa inti alam semesta adalah membuka warung kopi di Mars.

Dunia Tidak Peduli Padamu

Salah satu gagasan paling menarik dalam absurdisme memang sederhana:

Dunia tidak peduli.

Gunung tidak peduli pada perasaan kita.

Laut tidak peduli pada status sosial kita.

Matahari tetap terbit meskipun kita sedang galau.

Alam semesta tidak memiliki departemen layanan pelanggan.

Bagi banyak orang, gagasan ini terasa menyakitkan.

Namun bagi sebagian lainnya, justru terasa membebaskan.

Jika dunia memang tidak peduli, maka kegagalan bukanlah kiamat.

Jika dunia memang tidak peduli, maka komentar warganet bukanlah wahyu.

Jika dunia memang tidak peduli, maka kita tidak perlu menghabiskan separuh hidup untuk memastikan semua orang menyukai kita.

Dalam hal ini, Camus seperti satpam realitas yang berkata:

"Maaf Pak, alam semesta tidak menyediakan fasilitas validasi emosional."

Pesan semacam ini memang menyegarkan, terutama di zaman ketika banyak orang mengukur harga dirinya menggunakan jumlah tanda suka dan komentar.

Fantasi Kesetaraan dan Fantasi Lainnya

Penulis thread mengkritik apa yang ia sebut sebagai "fantasi kesetaraan".

Namun di sinilah ironi mulai muncul.

Manusia memiliki bakat luar biasa untuk mengganti satu fantasi dengan fantasi lain.

Ketika bosan dengan fantasi politik, kita pindah ke fantasi ekonomi.

Ketika lelah dengan utopia sosial, kita beralih ke utopia finansial.

Ketika tidak lagi percaya bahwa revolusi akan menyelamatkan dunia, kita percaya bahwa rekening tabungan akan menyelamatkan jiwa.

Padahal rekening memiliki banyak fungsi.

Ia bisa membeli rumah.

Ia bisa membeli mobil.

Ia bahkan bisa membeli kopi yang sangat mahal.

Tetapi ia belum pernah terbukti mampu membeli makna hidup.

Kalau uang benar-benar mampu membeli kebahagiaan, para miliarder pasti sudah menjadi guru spiritual paling bijaksana di dunia.

Faktanya, banyak di antara mereka justru tampak seperti orang yang memenangkan permainan tetapi lupa mengapa mereka bermain sejak awal.

Camus dan Tukang Perahu

Camus sering diibaratkan sebagai seorang pelaut yang tahu bahwa laut itu ganas.

Ia tidak berjanji bahwa badai akan berhenti.

Ia tidak menjual kursus manifestasi semesta.

Ia tidak menawarkan tujuh langkah menuju kesuksesan universal.

Ia hanya berkata:

"Ya, badai itu ada. Tetaplah mendayung."

Dalam filsafat Camus, keberanian bukanlah menang.

Keberanian adalah tetap hidup dengan jujur meskipun tidak ada jaminan kemenangan.

Karena itu, sangat lucu ketika absurdisme diubah menjadi semacam ideologi sukses.

Itu seperti membaca kisah Sisifus yang mendorong batu ke puncak gunung setiap hari, lalu menyimpulkan bahwa pesan moralnya adalah membuka bisnis pertambangan batu.

Bahaya Pindah Kandang

Mungkin pelajaran terbesar dari kisah transformasi ini bukan tentang woke, kiri, kanan, kapitalisme, atau absurdisme.

Pelajaran terbesarnya adalah bahwa manusia sangat suka memiliki kandang.

Ketika satu kandang terasa sempit, kita mencari kandang lain yang lebih nyaman.

Kita menyebutnya kebebasan.

Padahal sering kali kita hanya berpindah alamat.

Dulu kita percaya semua jawaban ada pada gerakan politik.

Kini kita percaya semua jawaban ada pada pasar.

Dulu kita memuja kolektivitas.

Kini kita memuja individualitas.

Dulu kita menghafal slogan perjuangan.

Kini kita menghafal kutipan motivasi.

Perabotannya berubah.

Bangunannya tetap sama.

Menjadi Pemberontak yang Tidak Nyaman

Barangkali Camus akan mengusulkan sesuatu yang lebih merepotkan.

Bukan menjadi woke.

Bukan menjadi anti-woke.

Bukan menjadi kapitalis romantis.

Bukan pula menjadi pertapa anti-sistem.

Melainkan menjadi manusia yang terus-menerus curiga terhadap dogma, termasuk dogma yang sedang ia sukai.

Ini tentu tidak nyaman.

Jauh lebih menyenangkan menjadi penggemar fanatik.

Jauh lebih mudah memiliki jawaban untuk segala hal.

Namun justru di situlah letak pemberontakan sejati.

Karena musuh terbesar kebebasan sering kali bukan penjara yang dipaksakan orang lain.

Melainkan penjara yang kita bangun sendiri lalu kita hias dengan kutipan-kutipan filsafat.

Dan mungkin itulah bentuk absurditas yang paling lucu sekaligus paling manusiawi: kita menghabiskan hidup untuk melarikan diri dari ideologi, hanya untuk menemukan bahwa ideologi baru diam-diam sudah menunggu di pintu keluar sambil tersenyum ramah dan menawarkan secangkir kopi.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Merajuk kepada Tuhan: Seni Ngambek yang Justru Dianjurkan

Ada banyak jenis merajuk di dunia ini.

Anak kecil merajuk karena tidak dibelikan es krim.

Remaja merajuk karena pesan WhatsApp-nya hanya dibalas dengan stiker jempol.

Suami merajuk karena istrinya lebih antusias menyambut paket belanja online daripada menyambut dirinya pulang kerja.

Tetapi ada satu jenis merajuk yang aneh, mulia, dan justru dianjurkan para sufi: merajuk kepada Allah.

Ini mungkin terdengar janggal. Bukankah merajuk identik dengan kekanak-kanakan? Bukankah orang yang merajuk biasanya sedang kecewa?

Tidak selalu.

Dalam dunia tasawuf, merajuk justru bisa menjadi tanda cinta yang sangat dalam. Sebab hanya kepada pihak yang kita yakini mencintai kitalah kita berani merajuk.

Tidak ada orang yang merajuk kepada mesin ATM.

Tidak ada orang yang ngambek kepada kalkulator.

Tidak ada orang yang menangis di depan dispenser sambil berkata, "Mengapa engkau tidak memahami perasaanku?"

Kita hanya merajuk kepada yang kita yakini memiliki kasih sayang.

Dan itulah inti dari munajat yang dijelaskan  dalam kajian tentang Al-Hikam.

Gugatan yang Sebenarnya Bukan Gugatan

Munajat itu dipenuhi pertanyaan yang diawali kata Kaifa.

"Bagaimana mungkin aku diserahkan kepada diriku sendiri?"

"Bagaimana mungkin aku terlantar?"

"Bagaimana mungkin harapanku sia-sia?"

Sekilas terdengar seperti surat protes pelanggan kepada layanan konsumen langit.

Namun jika diperhatikan lebih dalam, ini bukan gugatan. Ini justru pujian yang menyamar sebagai pertanyaan.

Seorang hamba berkata:

"Ya Allah, aku tahu Engkau terlalu baik untuk meninggalkanku."

"Ya Allah, aku tahu Engkau terlalu penyayang untuk membiarkanku tersesat."

"Ya Allah, aku tahu Engkau terlalu lembut untuk mengecewakanku."

Seperti seorang anak kecil yang tersesat di pasar lalu berkata kepada ayahnya:

"Ayah pasti tidak akan meninggalkanku, kan?"

Kalimat itu bukan pertanyaan.

Itu adalah keyakinan yang sedang mencari pelukan.

Masalah Utama Manusia: Terlalu Percaya pada Diri Sendiri

Di zaman modern, manusia diajarkan untuk percaya diri.

Percaya pada kemampuan sendiri.

Percaya pada potensi diri.

Percaya pada kekuatan diri.

Akibatnya banyak orang yang akhirnya memperlakukan dirinya seperti aplikasi serba bisa.

Mereka mengira diri mereka Google Maps, psikolog, penasihat keuangan, motivator, konsultan karier, sekaligus peramal masa depan.

Lalu ketika hidup berbelok sedikit saja, sistem langsung error.

Tasawuf datang membawa kabar yang mengejutkan:

Masalahmu bukan karena terlalu lemah.

Masalahmu justru karena terlalu yakin bahwa dirimu kuat.

Para sufi menyebut obatnya dengan nama faqr — kefakiran.

Namun jangan bayangkan kefakiran sebagai dompet kosong atau rekening yang menangis setiap akhir bulan.

Kefakiran yang dimaksud adalah kesadaran bahwa seluruh keberadaan kita bergantung kepada Allah.

Kita ini seperti lampu.

Cahaya lampu memang indah.

Tetapi jangan sampai lampu lupa bahwa sumber energinya bukan dirinya sendiri.

Begitu colokan dicabut, semua kesombongan watt akan berakhir.

Berhala yang Tidak Disembah, Tapi Dipelihara

Bagian paling lucu sekaligus paling menampar dalam penjelasannya  adalah kisah tentang orang yang bangga dengan kefakirannya.

Ini seperti seseorang yang berhasil mengalahkan kesombongan, lalu menjadi sombong karena berhasil mengalahkan kesombongan.

Ironis sekali.

Ego manusia memang kreatif.

Ia bisa menyamar menjadi apa saja.

Bahkan menjadi kerendahan hati.

Seseorang bisa berkata:

"Saya ini orang kecil."

Tetapi dalam hati diam-diam berharap semua orang mengagumi betapa kecilnya dirinya.

Seseorang bisa berkata:

"Saya tidak punya apa-apa."

Tetapi diam-diam bangga karena merasa lebih zuhud daripada tetangganya.

Ego itu seperti pencopet profesional.

Ketika pintu depan ditutup, ia masuk lewat jendela.

Ketika jendela ditutup, ia masuk lewat ventilasi.

Ketika ventilasi ditutup, ia menyamar menjadi penghuni rumah.

Karena itu guru Syekh Abul Hasan asy-Syadzili mengingatkan bahwa seseorang bisa saja menjadikan kefakirannya sendiri sebagai berhala.

Bukan lagi Allah yang menjadi sandaran.

Melainkan status dirinya sebagai "orang yang merasa fakir".

Betapa licinnya ego manusia.

Bahkan saat beribadah, ia masih sempat-sempatnya mencari panggung.

Kelembutan Allah Tidak Selalu Berbentuk Diskon

Kebanyakan manusia memiliki definisi sederhana tentang kasih sayang Tuhan.

Jika keinginan terkabul: Allah sayang.

Jika bisnis lancar: Allah sayang.

Jika badan sehat: Allah sayang.

Jika dapat bonus: Allah sayang.

Seolah-olah kasih sayang Ilahi harus selalu tampil seperti promo akhir tahun.

Padahal para sufi memiliki pandangan yang berbeda.

Mereka percaya bahwa kelembutan Allah sering datang dengan penyamaran yang sangat canggih.

Kadang ia bernama kegagalan.

Kadang ia bernama kehilangan.

Kadang ia bernama sakit.

Kadang ia bernama pintu yang tertutup.

Kita sering mengira hidup seperti supermarket: semua yang kita inginkan harus tersedia di rak.

Padahal Allah lebih sering bertindak seperti dokter daripada pelayan restoran.

Dokter yang baik tidak selalu memberikan apa yang diminta pasien.

Ia memberikan apa yang dibutuhkan pasien.

Pasien meminta es krim.

Dokter memberikan obat pahit.

Pasien mengeluh.

Dokter tersenyum.

Lima tahun kemudian pasien baru mengerti.

Ngambek yang Paling Dewasa

Pada akhirnya, merajuk dalam tasawuf bukanlah perilaku kekanak-kanakan.

Justru inilah bentuk kedewasaan spiritual yang paling tinggi.

Sebab orang yang merajuk kepada Allah sebenarnya sedang mengakui dua hal sekaligus.

Pertama, dirinya tidak berdaya.

Kedua, Allah Maha Berdaya.

Ia sadar dirinya hanyalah setetes air.

Tetapi ia juga yakin bahwa lautan tempat ia kembali tidak pernah kering.

Di situlah letak keindahan munajat para sufi.

Mereka menangis, tetapi optimis.

Mereka merasa lemah, tetapi tidak putus asa.

Mereka mengaku tidak memiliki apa-apa, tetapi justru merasa memiliki segalanya karena memiliki Allah.

Mungkin itulah rahasia terbesar para pecinta Tuhan.

Mereka berani merajuk bukan karena merasa diabaikan.

Mereka berani merajuk justru karena terlalu yakin bahwa mereka dicintai.

Dan hanya orang yang benar-benar yakin dicintai yang berani berkata:

"Ya Allah, bagaimana mungkin Engkau meninggalkanku?"

Sebab jauh di dalam pertanyaan itu, sebenarnya sudah tersembunyi jawabannya:

"Tidak mungkin."

 abah-arul.blogspot.com., Juni 2026