Selasa, 18 Agustus 2026

Sampai di Tujuan, Lalu Bingung Mau Ngapain

Ada satu bentuk kelelahan yang sangat modern: berhasil.

Dulu kita mengira hidup akan indah kalau berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan. Nilai bagus, pekerjaan bagus, jabatan bagus, rumah bagus, rekening bagus. Kita mengejarnya dengan semangat seekor kucing mengejar laser pointer: fokus, cepat, dan tidak pernah bertanya apakah benda merah itu sebenarnya bisa ditangkap.

Lalu suatu hari kita berhasil.

Dan ternyata rasanya...

“Wah, capek.”

Di sinilah kutipan yang dinisbatkan kepada Ernest Hemingway itu terasa seperti tamparan yang sangat sopan. Seseorang berkata bahwa sejak kecil ia selalu sampai pada apa yang diinginkannya, tetapi setiap kali sampai, ia sudah terlalu lelah untuk bergembira. Ia ingin mencapai sesuatu, bukan untuk menikmati pencapaian itu, melainkan untuk akhirnya bisa berbaring.

Ini sungguh tragis.

Tetapi juga agak lucu.

Sebab manusia modern tampaknya memang memiliki cita-cita yang sangat mulia: bekerja keras supaya suatu hari bisa cukup kaya untuk membeli kasur yang nyaman, lalu terlalu sibuk untuk tidur di atasnya.

Kita Mengejar Tujuan Seperti Mengejar Kereta

Masalah terbesar kita mungkin bukan tidak punya tujuan.

Masalahnya adalah kita terlalu pandai membuat tujuan baru.

Ketika masih sekolah, kita berkata:

“Kalau sudah lulus, saya bahagia.”

Lulus.

Kemudian:

“Kalau sudah dapat kerja, saya bahagia.”

Dapat kerja.

Kemudian:

“Kalau sudah naik jabatan, hidup saya tenang.”

Naik jabatan.

Kemudian:

“Kalau punya rumah sendiri, selesai sudah.”

Punya rumah.

Kemudian ternyata cicilan rumah punya pendapat lain.

Akhirnya kita berkata:

“Kalau pensiun nanti, baru saya menikmati hidup.”

Dan ketika pensiun tiba, tubuh sudah mengirim surat resmi:

“Maaf, layanan petualangan sudah tidak tersedia.”

Inilah paradoks pencapaian. Kita sering menganggap kebahagiaan sebagai hadiah yang baru boleh dibuka setelah semua pekerjaan selesai.

Padahal pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai.

Email tetap masuk. Pesan WhatsApp tetap berbunyi. Grup keluarga tetap aktif. Grup alumni yang dulu kita pikir sudah mati ternyata tiba-tiba mengadakan reuni. Bahkan ketika kita sedang tidur, algoritma media sosial bekerja lembur mencarikan masalah baru untuk kita pikirkan.

Kita hidup dalam perlombaan yang garis finisnya terus dipindahkan.

Ketika “Sampai” Tidak Lagi Berarti “Bahagia”

Kata “sampai” biasanya memiliki nuansa kemenangan.

Kita sampai di puncak.

Sampai di tujuan.

Sampai pada cita-cita.

Tetapi ada kemungkinan kita terlalu sibuk mengejar “sampai” sampai lupa bertanya:

“Setelah sampai, saya mau melakukan apa?”

Ini seperti orang yang menghabiskan sepuluh tahun menabung untuk membeli kapal, kemudian begitu kapal terbeli ia berkata:

“Bagus. Sekarang saya harus bekerja lebih keras supaya bisa membeli kapal yang lebih besar.”

Kapal pertama akhirnya hanya menjadi tempat menaruh kapal kedua dalam mimpi.

Begitulah cara ambisi bekerja. Ia sangat sopan. Ia tidak pernah mengatakan, “Kamu sudah cukup.”

Ia selalu berkata:

“Bagus. Tapi...”

Sudah punya pekerjaan?

“Bagus. Tapi gajinya?”

Sudah punya gaji?

“Bagus. Tapi jabatannya?”

Sudah punya jabatan?

“Bagus. Tapi pengaruhnya?”

Sudah punya pengaruh?

“Bagus. Tapi pengikutnya?”

Sudah punya pengikut?

“Bagus. Tapi engagement-nya?”

Akhirnya manusia bukan lagi hidup.

Ia menjadi dashboard KPI yang kebetulan bisa merasa sedih.

Hemingway dan Seni Menahan Sakit

Di sinilah sosok Hemingway terasa relevan.

Dalam banyak karya Hemingway, manusia tidak digambarkan sebagai makhluk yang selalu bahagia. Ia justru sering muncul sebagai manusia yang terluka, kalah, kesepian, tetapi tetap menjaga martabat.

Santiago dalam The Old Man and the Sea terus berjuang menghadapi laut, ikan, tubuhnya sendiri, dan nasib. Ia tidak mendapat kehidupan yang mudah. Tetapi ia tetap bergerak.

Hemingway juga terkenal dengan gagasan tentang grace under pressure: kemampuan mempertahankan martabat ketika berada di bawah tekanan.

Masalahnya, manusia modern tampaknya telah mengambil konsep itu terlalu serius.

Kita ingin selalu kuat.

Sedih? Tetap produktif.

Lelah? Tetap produktif.

Kecewa? Tetap produktif.

Patah hati?

Buka laptop.

Kita bahkan sudah memiliki budaya “healing” yang sangat produktif. Kita pergi ke tempat wisata untuk memulihkan diri, lalu sibuk mengambil 47 foto agar orang lain tahu bahwa kita sedang healing.

Kita duduk di tepi pantai sambil menikmati matahari terbenam.

Tetapi lima menit kemudian:

“Sebentar, sunset-nya kurang estetik kalau tidak difoto dari angle sini.”

Bahkan ketenangan pun kini punya target engagement.

Masyarakat Pencapaian

Filsuf Byung-Chul Han menyebut masyarakat modern sebagai Leistungsgesellschaft, masyarakat pencapaian.

Dalam masyarakat seperti ini, kita tidak perlu lagi dipaksa oleh mandor.

Kita menjadi mandor bagi diri sendiri.

Tidak ada bos?

Kita sendiri yang menyuruh diri bekerja.

Tidak ada yang memarahi?

Kita sendiri yang merasa bersalah.

Tidak ada deadline?

Kita buat sendiri.

Tidak ada target?

Kita merasa hidup tidak berguna.

Ini bentuk perbudakan yang sangat canggih karena budaknya bahkan membayar sendiri biaya internet untuk mengakses aplikasi produktivitas.

Kita membuat daftar tugas untuk mengatur hidup.

Kemudian kita membuat aplikasi untuk mengatur daftar tugas.

Kemudian membuat kalender untuk mengatur aplikasi.

Lalu membeli buku tentang manajemen waktu.

Pada akhirnya waktu habis untuk mengatur bagaimana mengatur waktu.

Dan ketika malam tiba, kita berkata:

“Hari ini saya tidak produktif.”

Padahal kita sudah menghabiskan delapan jam mengoptimalkan produktivitas.

Yang Kita Inginkan Mungkin Bukan Kesuksesan, Melainkan Istirahat

Inilah bagian paling menarik dari kutipan tersebut.

Ia mengatakan bahwa seseorang ingin “sampai” terutama agar bisa beristirahat.

Berarti mungkin selama ini kita salah membaca banyak keinginan kita.

Kita berkata ingin uang.

Mungkin sebenarnya kita ingin rasa aman.

Kita berkata ingin jabatan.

Mungkin sebenarnya kita ingin dihargai.

Kita berkata ingin sukses.

Mungkin sebenarnya kita ingin bebas.

Kita berkata ingin memiliki banyak hal.

Mungkin sebenarnya kita ingin merasa bahwa hidup kita sudah cukup.

Ironisnya, kita sering mengejar semua itu dengan cara yang justru menghancurkan rasa cukup tersebut.

Kita bekerja agar bisa hidup nyaman.

Kemudian bekerja terlalu keras sehingga tidak punya waktu menikmati kenyamanan.

Kita membeli rumah agar merasa tenang.

Kemudian sibuk membayar rumah sehingga tidak sempat menikmati ketenangan.

Kita mengejar kebebasan finansial.

Kemudian menghabiskan seluruh hidup untuk mencapai kebebasan finansial.

Ini seperti berlari sekuat tenaga menuju sebuah kursi agar bisa duduk.

Begitu sampai di kursi, kita terlalu lelah untuk duduk.

Mungkin Hidup Tidak Harus Selalu Naik Level

Kita terlalu terpesona dengan gagasan “naik level”.

Anak kecil harus naik kelas.

Mahasiswa harus lulus.

Karyawan harus naik jabatan.

Pengusaha harus memperbesar bisnis.

Konten kreator harus menambah followers.

Investor harus menambah aset.

Semua harus naik.

Tidak ada yang mengajarkan seni tetap.

Padahal pohon tidak merasa gagal hanya karena hari ini ia masih menjadi pohon yang sama.

Bulan tidak mengadakan rapat evaluasi setiap akhir bulan untuk membahas pencapaian kuartalnya.

Kucing juga tidak membuat personal development plan.

Ia tidur.

Bangun.

Makan.

Membersihkan diri.

Tidur lagi.

Dan tampaknya ia baik-baik saja.

Mungkin sesekali manusia perlu belajar dari kucing.

Bukan soal malas.

Melainkan soal tidak selalu merasa wajib membuktikan bahwa keberadaan kita layak dipertahankan melalui pencapaian.

Berhenti Sebelum Kita Sampai

Ada pertanyaan yang lebih penting daripada “Apa yang ingin saya capai?”

Yaitu:

“Menjadi siapa saya ketika mencapai itu?”

Jika kita menjadi manusia yang semakin cemas, semakin kosong, semakin mudah marah, semakin jauh dari keluarga, semakin tidak punya waktu untuk membaca, bercakap-cakap, berdoa, tertawa, atau sekadar duduk tanpa tujuan—mungkin ada yang salah dengan arah perjalanan.

Sebab tidak semua jalan menuju puncak harus ditempuh sampai puncak.

Kadang-kadang kita boleh berhenti di tengah.

Minum kopi.

Melihat langit.

Mendengarkan suara orang yang kita cintai.

Tertawa karena hal yang bodoh.

Tidak menghasilkan apa-apa.

Dan ternyata dunia tidak runtuh.

Produktivitas tidak mati.

Peradaban tetap berjalan.

Bahkan kemungkinan besar Excel kita tetap selamat.

Penutup: Jangan Sampai Berhasil Terlalu Cepat

Mungkin persoalan hidup bukan bagaimana mencapai semua yang kita inginkan.

Mungkin persoalannya adalah belajar mengenali mana yang memang layak diinginkan.

Sebab ada pencapaian yang membuat kita semakin hidup.

Tetapi ada pula pencapaian yang hanya membuat kita semakin pandai menyembunyikan kelelahan.

Dan mungkin kebijaksanaan terbesar bukanlah kemampuan untuk berlari lebih cepat, melainkan keberanian untuk bertanya:

“Saya ini sebenarnya sedang menuju ke mana?”

Sebab sungguh menyedihkan jika setelah puluhan tahun bekerja keras, kita akhirnya tiba di tujuan, membuka pintu, melihat sekeliling, lalu berkata:

“Jadi... cuma ini?”

Kemudian kita mencari tujuan baru.

Lalu berlari lagi.

Mungkin sesekali kita perlu melakukan hal yang sangat tidak produktif:

berhenti sebelum sampai.

Duduk.

Bernapas.

Menikmati apa yang sudah ada.

Sebab hidup bukan perlombaan untuk menjadi orang yang paling cepat sampai di akhir.

Kita semua akan sampai juga.

Dan ketika saat itu tiba, tidak ada penghargaan untuk manusia yang paling banyak lembur.

Yang tersisa hanyalah pertanyaan sederhana:

Apakah selama perjalanan tadi kita sempat hidup?

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Ilmu Tinggi, Akhlak Nanti Dulu: Ketika Otak Bergelar Doktor, tetapi Hati Masih Magang

Ada sebuah penyakit modern yang gejalanya cukup mudah dikenali: seseorang memperoleh gelar sarjana, kemudian merasa memperoleh sertifikat otomatis sebagai manusia baik.

Begitu mendapat gelar master, ia naik level lagi: sekarang bukan hanya pintar, tetapi juga merasa pendapatnya wajib didengar.

Setelah doktor, keadaan menjadi lebih serius. Ia mulai berbicara dengan kalimat panjang, memakai istilah asing, dan kalau sedang marah menyebut orang lain sebagai “kurang literasi”. Padahal persoalan yang sedang diperdebatkan sebenarnya sederhana: siapa yang mengambil uang kas?

Di sinilah peringatan yang dikaitkan dengan Jean-Jacques Rousseau terasa seperti tamparan yang datang terlambat beberapa abad: pengetahuan tidak otomatis melahirkan moralitas.

Otak bisa sangat cerdas, sementara hati tetap bisa menjadi pegawai honorer keburukan.

Gelar Tidak Termasuk Paket Akhlak

Kita hidup dalam masyarakat yang sangat menyukai gelar.

Nama tanpa gelar terasa seperti nasi goreng tanpa kecap: sebenarnya tetap bisa dimakan, tetapi dianggap kurang lengkap.

Maka nama seseorang pun sering dihiasi berbagai singkatan. Dr., Prof., M.M., Ph.D., M.H., M.T., dan seterusnya. Semakin panjang gelarnya, semakin besar pula harapan masyarakat bahwa orang tersebut pasti tahu apa yang sedang ia lakukan.

Masalahnya, gelar akademik sebenarnya hanya menjelaskan apa yang dipelajari seseorang, bukan apa yang akan dilakukan seseorang dengan pengetahuannya.

Seorang ahli hukum bisa menggunakan hukum untuk menegakkan keadilan.

Tetapi ia juga bisa menggunakan kecerdasannya untuk mencari celah agar ketidakadilan tampak legal.

Seorang ekonom bisa membantu negara mengelola kekayaan.

Tetapi ia juga bisa menjadi sangat pintar menjelaskan mengapa kekayaan negara tiba-tiba menguap ke rekening yang tidak pernah masuk dalam kurikulum ekonomi.

Seorang ahli komunikasi dapat menggunakan kemampuannya untuk menyampaikan kebenaran.

Atau ia dapat menggunakan kemampuan yang sama untuk membuat kebohongan terdengar begitu elegan sehingga orang-orang malah mengira mereka sedang mengikuti seminar.

Jadi, ilmu adalah alat.

Dan seperti semua alat, ia tergantung pada tangan yang memegangnya.

Pisau di tangan koki menghasilkan rendang.

Pisau di tangan orang yang salah menghasilkan laporan polisi.

Rousseau dan Kecurigaan kepada Kemajuan

Dalam Discours sur les sciences et les arts (1750), Rousseau mengajukan pertanyaan yang sampai sekarang masih membuat manusia modern gelisah: apakah kemajuan ilmu pengetahuan dan seni benar-benar membuat manusia menjadi lebih baik?

Pertanyaan ini sangat tidak nyaman.

Sebab kita senang sekali menganggap bahwa semakin maju teknologi, semakin maju pula manusia.

Kita punya kecerdasan buatan, tetapi masih kesulitan membuat kecerdasan manusia berhenti menyebarkan hoaks.

Kita bisa mengirim manusia ke luar angkasa, tetapi masih belum berhasil mengirim ego ke tempat sampah.

Kita mampu membuat mobil yang bisa berjalan tanpa sopir, tetapi dalam rapat organisasi, hampir semua orang masih ingin menjadi sopir.

Rousseau bukan sekadar berkata, “Ilmu itu buruk.”

Persoalannya lebih subtil.

Kemajuan intelektual tidak identik dengan kemajuan moral.

Manusia dapat mengetahui semakin banyak hal tentang alam semesta sambil semakin sedikit mengetahui cara memperlakukan tetangganya.

Kita bisa memahami struktur atom, tetapi tidak memahami mengapa tetangga marah ketika kita memutar musik keras pukul dua pagi.

Kita bisa membahas demokrasi dengan sangat akademis, tetapi tetap tersinggung ketika orang lain memilih calon yang berbeda.

Inilah ironi manusia modern: pengetahuan kita berkembang secara eksponensial, sementara kedewasaan kita kadang masih menggunakan sistem operasi tahun 1998.

Ketika Teknokrat Dianggap Malaikat

Masalah menjadi semakin menarik ketika masuk ke dunia politik.

Ada anggapan bahwa seorang teknokrat pasti bersih.

Mengapa?

Karena ia lulusan universitas ternama.

Logikanya kurang lebih begini:

“Dia doktor.”

“Berarti pintar.”

“Dia pintar.”

“Berarti kompeten.”

“Dia kompeten.”

“Berarti jujur.”

Nah, di sinilah matematika sosial kita mulai mengalami error.

Pintar tidak sama dengan jujur.

Bahkan, dalam beberapa keadaan, orang pintar yang tidak jujur justru lebih berbahaya daripada orang bodoh yang tidak jujur.

Orang bodoh mungkin hanya bisa melakukan kesalahan.

Orang pintar bisa membuat kesalahan menjadi strategi.

Orang biasa mungkin mencuri.

Orang yang sangat terdidik dapat menyusun teori tentang mengapa mengambil sesuatu yang bukan haknya sebenarnya merupakan “optimalisasi sumber daya”.

Korupsi pun bisa naik kelas.

Dulu disebut mencuri.

Sekarang bisa disebut conflict of interest.

Dulu disebut nepotisme.

Sekarang mungkin disebut strategic networking.

Dulu disebut bagi-bagi jabatan.

Sekarang disebut talent placement.

Kejahatan ternyata tidak selalu hilang setelah seseorang memperoleh pendidikan tinggi.

Kadang ia hanya memperoleh kosakata baru.

Otak Memerlukan Rem

Ilmu pengetahuan memberi manusia kemampuan.

Etika menentukan untuk apa kemampuan itu digunakan.

Bayangkan sebuah mobil sport dengan mesin luar biasa.

Tenaganya besar. Kecepatannya tinggi. Teknologinya canggih.

Tetapi remnya tidak berfungsi.

Apakah mobil itu mengagumkan?

Tentu.

Apakah kita ingin menaikinya?

Silakan Anda duluan.

Begitu pula manusia.

Kecerdasan adalah mesin.

Moralitas adalah rem.

Empati adalah setir.

Dan kebijaksanaan adalah kemampuan mengetahui kapan sebaiknya tidak menginjak gas.

Masalah pendidikan modern sering kali terlalu sibuk memperbesar mesin.

Anak diajari bagaimana mendapatkan nilai tinggi, memenangkan kompetisi, masuk universitas bergengsi, memperoleh pekerjaan bagus, mendapatkan jabatan, lalu menghasilkan uang sebanyak mungkin.

Tetapi pertanyaan yang jauh lebih penting sering terlupakan:

“Setelah kamu menjadi hebat, kamu akan menjadi orang seperti apa?”

Sebab menjadi pintar itu relatif mudah.

Menjadi baik jauh lebih rumit.

Untuk menjadi pintar kita membutuhkan buku.

Untuk menjadi baik kita membutuhkan latihan melawan diri sendiri.

Dan latihan melawan diri sendiri ini sayangnya tidak memiliki wisuda.

Tidak ada toga.

Tidak ada piagam.

Tidak ada foto yang bisa dipasang di LinkedIn.

Pendidikan yang Salah Arah

Pendidikan seharusnya bukan hanya proses memindahkan informasi dari buku ke kepala.

Kalau begitu, komputer jauh lebih unggul daripada manusia.

Komputer tidak perlu kuliah empat tahun untuk mengingat jutaan informasi.

Pendidikan seharusnya membuat manusia mampu bertanya:

“Apakah yang saya lakukan benar?”

“Apakah keputusan saya merugikan orang lain?”

“Apakah saya menggunakan kecerdasan saya untuk membantu atau justru memanipulasi?”

“Apakah saya mengejar kebenaran atau hanya mencari pembenaran?”

Pertanyaan terakhir sangat penting.

Sebab manusia terpelajar memiliki kemampuan luar biasa untuk membenarkan dirinya sendiri.

Orang yang tidak punya argumen biasanya berkata:

“Saya benar karena saya bilang begitu.”

Orang yang punya pendidikan lebih tinggi mungkin berkata:

“Berdasarkan perspektif epistemologis, hermeneutis, dan multidimensional, posisi saya secara paradigmatik dapat dipertanggungjawabkan.”

Artinya tetap sama:

“Saya benar karena saya bilang begitu.”

Hanya saja sekarang lebih mahal biaya konsultasinya.

Jangan Takut kepada Orang Pintar

Karena itu, pesan Rousseau tidak seharusnya membuat kita membenci ilmu.

Justru sebaliknya.

Kita perlu lebih banyak ilmu.

Tetapi ilmu itu harus ditemani karakter.

Kita membutuhkan dokter yang pintar sekaligus berbelas kasih.

Hakim yang menguasai hukum sekaligus memiliki integritas.

Insinyur yang canggih sekaligus bertanggung jawab.

Politisi yang memahami ekonomi sekaligus tidak menganggap uang publik sebagai oleh-oleh perjalanan dinas.

Guru yang menguasai ilmu sekaligus mampu memberi teladan.

Dan tentu saja, pengguna media sosial yang mampu membedakan antara kutipan filsuf dan kutipan yang dibuat seseorang pada pukul dua pagi sambil minum kopi.

Sebab masalah terbesar bukanlah ketika manusia tidak mengetahui sesuatu.

Masalah yang lebih berbahaya adalah ketika manusia mengetahui sesuatu tetapi tidak memiliki kebijaksanaan untuk menggunakannya dengan benar.

Akhirnya, Gelar Hanya Menjelaskan Pendidikan

Pada akhirnya, gelar akademik adalah pencapaian yang layak dihormati.

Ilmu pengetahuan adalah salah satu kekuatan terbesar yang pernah dimiliki manusia.

Tetapi keduanya bukan sertifikat kesucian.

Seorang profesor tetap bisa sombong.

Seorang doktor tetap bisa berbohong.

Seorang teknokrat tetap bisa korup.

Seorang filsuf tetap bisa menyebalkan.

Dan seseorang yang tidak punya gelar akademik pun bisa memiliki kebijaksanaan yang membuat para profesor terdiam.

Maka barangkali ukuran manusia bukanlah seberapa banyak yang ia ketahui, melainkan apa yang ia lakukan dengan apa yang ia ketahui.

Sebab ilmu tanpa nurani bisa menjadi senjata.

Kecerdasan tanpa etika bisa menjadi alat manipulasi.

Pendidikan tanpa karakter hanya menghasilkan manusia yang semakin mahir menjelaskan kesalahannya sendiri.

Dan mungkin itulah ironi terbesar peradaban:

kita telah berhasil membuat manusia semakin pintar, tetapi tugas membuat manusia menjadi lebih baik ternyata masih dalam tahap penelitian.

Sayangnya, penelitian itu belum punya jurnal peer-reviewed.

Ia hanya punya satu laboratorium tua bernama nurani.

Dan di laboratorium itu, gelar akademik tidak banyak membantu.

Yang diuji bukan ijazah.

Yang diuji adalah hati.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Senin, 17 Agustus 2026

Menjadi Hamba yang Tak Berdaya

Ketika Ego Ingin Jadi Tuhan Kecil

Ada sebuah penyakit manusia yang cukup aneh: kita ingin menjadi penting, tetapi tidak ingin menjadi sombong. Kita ingin sukses, tetapi kalau dipuji terlalu banyak merasa tidak enak. Kita ingin rendah hati, tetapi diam-diam berharap orang lain menyadari betapa rendah hatinya kita.

Inilah problem klasik bernama “aku”.

“Aku berhasil.”

“Aku pintar.”

“Aku bekerja keras.”

“Aku bisa mengatasi semuanya.”

Kalimat-kalimat itu sebenarnya tidak salah. Yang menjadi masalah adalah ketika “aku” mulai mengajukan proposal untuk menjadi pemilik tunggal seluruh kehidupan.

Dalam tradisi tasawuf, terutama dalam renungan Al-Hikam Ibn ‘Aṭā’illāh al-Sakandārī, manusia diajak melakukan operasi besar-besaran terhadap ego: bukan membunuh dirinya secara fisik, melainkan menyadari bahwa dirinya bukan pusat semesta.

Dan ini kabar buruk bagi ego.

Sebab ego sangat suka menjadi pusat perhatian. Bahkan kalau tidak ada yang memperhatikannya, ia akan membuka kamera depan dan memperhatikan dirinya sendiri.


Ego: Direktur Utama Kehidupan

Kita sering hidup seolah-olah diri kita adalah direktur utama perusahaan bernama “Kehidupanku”.

Rapat dimulai pagi hari.

Agenda pertama: Apa yang aku mau?

Agenda kedua: Bagaimana caranya mendapatkan yang aku mau?

Agenda ketiga: Kenapa Allah tidak memberikan yang aku mau?

Padahal, dalam perspektif kehambaan, susunan pertanyaannya mestinya berbeda.

Bukan:

“Apa yang aku inginkan dari Allah?”

melainkan:

“Apa yang Allah kehendaki dariku?”

Perbedaannya sederhana, tetapi akibatnya luar biasa.

Yang pertama menjadikan Tuhan seperti petugas layanan pelanggan: kita pesan kesehatan, rezeki, jodoh, jabatan, ketenangan, lalu marah kalau pengirimannya terlambat.

Yang kedua membuat kita sadar bahwa kita adalah hamba.

Dan hamba, sebagaimana namanya, tidak sedang menjalankan perusahaan milik pribadi.


Dosa Pertama Mungkin Bukan Perbuatan, Melainkan “Aku”

Tasawuf memberikan perhatian besar kepada ar-riḍā bi an-nafs: merasa puas dengan diri sendiri, memanjakan ego, dan menjadikan hawa nafsu sebagai pusat keputusan.

Menariknya, manusia sering mengira dosa selalu berbentuk sesuatu yang kelihatan.

Mabuk, misalnya, jelas.

Mencuri, jelas.

Menipu, jelas.

Tetapi ada dosa yang tampil sangat sopan, memakai pakaian rapi, membawa buku agama, bahkan rajin menghadiri pengajian.

Namanya: “Aku lebih baik.”

Iblis sudah memperagakannya sejak dahulu.

Ia berkata, ana khairun minhu—“aku lebih baik daripadanya.”

Masalahnya bukan sekadar api dan tanah.

Masalah sebenarnya adalah “aku”.

“Aku lebih tinggi.”

“Aku lebih mulia.”

“Aku lebih pintar.”

“Aku lebih saleh.”

“Aku lebih tahu.”

Dan kalau sudah sampai pada kalimat terakhir, biasanya kita memang sudah berada dalam masalah. Sebab orang yang merasa paling tahu sering tidak sadar bahwa ada satu hal yang tidak diketahuinya: ia tidak tahu bahwa dirinya sedang dikuasai oleh “aku”.


Firaun: Influencer Pertama yang Terlalu Percaya Diri

Kalau Iblis adalah contoh kesombongan spiritual, Firaun adalah contoh kesombongan politik.

Ia bukan hanya berkata, “Aku hebat.”

Ia menaikkan level menjadi:

“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”

Ini menunjukkan bahwa ego memiliki kemampuan luar biasa untuk melakukan inflasi.

Hari ini kita berkata:

“Saya paling tahu.”

Besok:

“Saya paling benar.”

Lusa:

“Kalau tidak mengikuti saya, berarti Anda bodoh.”

Beberapa minggu kemudian, secara spiritual kita mungkin sudah mendirikan kerajaan kecil di dalam kepala sendiri.

Untungnya tidak ada pasukan.

Kalau ada, mungkin ego kita sudah melakukan kudeta.


Modernitas dan Agama Baru Bernama “Aku”

Dunia modern sebenarnya tidak menghapus penyembahan berhala. Ia hanya mengganti desain berhalanya.

Dulu manusia menyembah patung.

Sekarang sebagian manusia menyembah profil dirinya sendiri.

Dulu orang meminta pengakuan kepada patung.

Sekarang kita meminta pengakuan kepada algoritma.

Dulu orang mempersembahkan sesuatu kepada berhala.

Sekarang kita mempersembahkan foto sarapan, perjalanan, pencapaian, sertifikat, buku yang sedang dibaca, dan bahkan kegiatan amal kepada media sosial.

Tentu tidak semua itu salah.

Masalahnya adalah ketika hati mulai berkata:

“Kalau tidak ada yang melihat, rasanya belum benar-benar terjadi.”

Itulah saat ego menemukan teknologi baru.

Dan teknologi tersebut sangat canggih.

Namanya notifikasi.

Satu bunyi ting! dan ego langsung hidup kembali.

“Siapa yang menyukai postinganku?”

“Siapa yang berkomentar?”

“Kenapa dia melihat tapi tidak memberi tanda suka?”

Manusia yang katanya ingin mencapai fanā’ akhirnya malah mengalami fana-fana digital setiap kali jumlah likes turun.


Kita Menciptakan Teknologi, Lalu Teknologi Mengatur Kita

Ada ironi besar dalam kehidupan modern.

Manusia menciptakan komputer agar pekerjaan menjadi mudah.

Kemudian komputer menciptakan jadwal.

Manusia menciptakan telepon agar mudah berkomunikasi.

Kemudian telepon menentukan kapan manusia tidur.

Manusia menciptakan media sosial agar terhubung.

Kemudian media sosial menentukan apa yang harus dipikirkan.

Kita menciptakan algoritma untuk membantu memilih.

Kemudian algoritma memilihkan apa yang harus kita lihat, beli, dengarkan, bahkan marahi.

Akhirnya manusia berkata:

“Saya bebas.”

Sementara ponsel di tangannya berkata:

“Baterai tinggal 7%.”

Dan manusia panik.

Ini contoh kecil betapa mudahnya sesuatu yang kita ciptakan berubah menjadi sesuatu yang mengendalikan kita.

Dalam perspektif tasawuf, masalah terdalam bukan teknologinya.

Masalahnya adalah ketundukan hati kepada selain Allah.

Jika manusia diperbudak oleh uang, jabatan, pujian, kesenangan, pasangan, popularitas, atau bahkan citra dirinya sendiri, maka ia sebenarnya telah kehilangan kebebasan batin.


Fanā’: Bukan Hilang dari Dunia

Ketika tasawuf berbicara tentang fanā’, jangan dibayangkan manusia harus menghilang seperti asap rokok ditiup angin.

Fanā’ bukan berarti kita berhenti bekerja, berhenti makan, berhenti berpikir, lalu duduk di pojok sambil menunggu menjadi cahaya.

Fanā’ lebih dekat kepada lenyapnya klaim ego.

“Aku berhasil” berubah menjadi:

“Allah memberi kemampuan sehingga aku bisa berhasil.”

“Aku kuat” berubah menjadi:

“Allah memberi kekuatan.”

“Aku tahu” berubah menjadi:

“Allah mengajarkan kepadaku.”

“Aku memiliki” berubah menjadi:

“Allah menitipkan kepadaku.”

Perhatikan: pekerjaan kita tetap ada.

Kemampuan kita tetap ada.

Harta tetap ada.

Karier tetap ada.

Tetapi klaim kepemilikannya berubah.

Kita tidak lagi berdiri di tengah panggung sambil berkata, “Lihat aku!”

Kita mulai berkata:

“Lihatlah siapa yang memungkinkan semua ini terjadi.”


Lilin yang Berhenti Membanggakan Api

Bayangkan sebuah lilin.

Ia menyala.

Terangnya nyata.

Tetapi lilin tidak pernah berkata:

“Saya sangat hebat. Saya menghasilkan cahaya.”

Sebab ia tahu—secara metaforis tentu saja—bahwa dirinya hanya terbakar.

Manusia justru sering lebih rumit.

Baru bisa melakukan sedikit kebaikan, langsung merasa dirinya sumber cahaya.

Baru membaca beberapa kitab, merasa sudah menjadi ensiklopedia berjalan.

Baru rajin ibadah, mulai menghitung siapa saja yang ibadahnya berada di bawah dirinya.

Bahkan kerendahan hati pun bisa dicuri oleh ego.

Ini bagian yang paling lucu sekaligus paling berbahaya.

Kita bisa sombong karena kekayaan.

Bisa sombong karena ilmu.

Bisa sombong karena keturunan.

Dan, yang paling halus, bisa sombong karena merasa paling rendah hati.

Ego ternyata sangat kreatif.

Kalau pintu kesombongan ditutup, ia masuk lewat jendela kerendahan hati.


Menjadi Hamba Justru Membebaskan

Sekilas, menjadi “hamba” terdengar seperti kehilangan kebebasan.

Padahal dalam pandangan tasawuf, justru sebaliknya.

Manusia yang menghambakan diri kepada Allah tidak perlu menghambakan diri kepada segala sesuatu yang lain.

Ia tidak harus hidup demi tepuk tangan.

Tidak harus mati-matian mengejar pengakuan.

Tidak harus hancur hanya karena seseorang tidak menyukainya.

Tidak harus merasa dunia kiamat karena kariernya gagal.

Tidak harus merasa dirinya tidak berharga karena seseorang meninggalkannya.

Sebab pusat nilai dirinya bukan lagi manusia.

Bukan angka di rekening.

Bukan jabatan.

Bukan jumlah pengikut.

Bukan jumlah penghargaan.

Bukan bahkan jumlah orang yang memujinya.

Ia tahu:

Aku hamba.

Dan itu sudah cukup.


Bahkan Ibadah Bisa Menjadi Milik Ego

Ini bagian yang lebih menakutkan.

Kita bisa melakukan ibadah kepada Allah, tetapi kemudian menjadikan ibadah itu sebagai alasan untuk mengagungkan diri.

“Aku sudah tahajud.”

“Aku sudah khatam.”

“Aku sudah sedekah.”

“Aku sudah lama belajar.”

“Aku sudah banyak membantu orang.”

Lalu tanpa sadar, pahala yang seharusnya menjadi jembatan menuju Allah berubah menjadi cermin untuk mengagumi diri sendiri.

Kita tidak lagi melihat Allah.

Kita melihat versi religius dari diri kita sendiri.

Ini sebabnya muhāsabah sangat penting.

Bukan hanya bertanya:

“Apa yang sudah aku lakukan?”

Tetapi juga:

“Untuk siapa aku melakukannya?”

Dan pertanyaan kedua biasanya jauh lebih sulit dijawab.

Sebab manusia bisa berbohong kepada orang lain.

Bahkan bisa berbohong kepada dirinya sendiri.

Tetapi hati yang jujur akan tahu ketika sebuah amal diam-diam ingin mendapat tepuk tangan.


Melihat Allah di Balik Segala Sesuatu

Salah satu latihan spiritual yang penting adalah belajar melihat ciptaan sebagai tanda, bukan sebagai tujuan akhir.

Kekayaan adalah tanda.

Ilmu adalah tanda.

Keindahan adalah tanda.

Alam adalah tanda.

Kemampuan adalah tanda.

Bahkan kesulitan pun bisa menjadi tanda.

Masalahnya, manusia sering berhenti pada tanda.

Melihat kekayaan lalu menyembah kekayaan.

Melihat kekuasaan lalu mengejar kekuasaan.

Melihat kecantikan lalu memperbudak diri demi kecantikan.

Melihat teknologi lalu percaya bahwa teknologi akan menyelesaikan seluruh persoalan hidup.

Padahal tanda seharusnya menunjuk kepada sesuatu yang lebih tinggi.

Seperti papan petunjuk.

Kalau ada papan bertuliskan “Jakarta 20 kilometer”, orang waras tidak berhenti memeluk papan itu.

Ia mengikuti arah yang ditunjukkannya.

Demikian pula ciptaan.

Ia bukan tujuan terakhir.

Ia adalah ayat.

Ia menunjuk kepada Sang Pencipta.


Allah Tidak Membutuhkan Kita Menjadi Hebat

Ada satu paradoks besar dalam perjalanan spiritual.

Semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, semakin kecil klaim terhadap dirinya.

Bukan karena ia membenci dirinya.

Bukan karena ia merasa tidak berguna.

Justru karena ia menemukan tempat yang benar bagi dirinya.

Kita tidak perlu menjadi “luar biasa” untuk menjadi berharga di hadapan Allah.

Kita hanya perlu menjadi hamba.

Dan menjadi hamba berarti berhenti menganggap diri sebagai pusat segala sesuatu.

Makan menjadi ibadah.

Bekerja menjadi ibadah.

Beristirahat menjadi ibadah.

Menolong menjadi ibadah.

Bahkan diam dapat menjadi ibadah jika dilakukan dengan adab yang benar.

Tidak perlu menunggu sepertiga malam untuk mengingat Allah.

Tidak perlu menunggu Ramadan.

Tidak perlu menunggu sedang berada di masjid.

Sebab Allah tidak hanya hadir dalam jadwal yang kita anggap religius.

Kesadaran kepada-Nya seharusnya menembus seluruh kehidupan.


Jadi, Siapa Sebenarnya “Aku”?

Barangkali pertanyaan paling penting bukan:

“Apa yang sudah aku capai?”

Melainkan:

“Siapakah aku ketika semua yang kucapai dicabut?”

Ketika jabatan hilang.

Ketika uang berkurang.

Ketika tubuh menua.

Ketika orang-orang berhenti memuji.

Ketika nama kita tidak lagi disebut.

Ketika media sosial tidak lagi peduli.

Ketika foto-foto lama tidak lagi mendapat likes.

Ketika semua identitas buatan manusia satu per satu dilepaskan.

Apa yang tersisa?

Seorang hamba.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Dan mungkin justru di sanalah kebahagiaan dimulai.

Sebab selama kita sibuk mempertahankan citra sebagai seseorang yang hebat, kita tidak pernah benar-benar beristirahat.

Kita terus membuktikan.

Terus menjelaskan.

Terus membandingkan.

Terus mengejar.

Terus berkata:

“Lihat aku.”

Tasawuf mengajarkan kalimat yang jauh lebih menenangkan:

“Lihatlah Dia.”


Penutup: Menjadi Tidak Berdaya di Hadapan Yang Mahakuasa

Pada akhirnya, menjadi hamba yang tak berdaya bukanlah kekalahan.

Ia adalah kemenangan atas kesombongan.

Kita tetap bekerja, tetapi tidak menyembah pekerjaan.

Kita tetap memiliki harta, tetapi tidak dimiliki harta.

Kita tetap berilmu, tetapi tidak diperbudak oleh ilmu.

Kita tetap menggunakan teknologi, tetapi tidak menjadikannya tuhan kecil.

Kita tetap memiliki “aku”, tetapi tidak menjadikan “aku” sebagai Tuhan.

Inilah barangkali inti perjalanan ruhani: bukan menghilangkan diri, melainkan menghilangkan klaim palsu tentang diri.

Aku ada karena Dia mengadakan.

Aku mampu karena Dia memberi kemampuan.

Aku hidup karena Dia memberi kehidupan.

Aku berbuat karena Dia memberi daya.

Dan ketika seluruh daya itu dikembalikan kepada-Nya, ego akhirnya boleh duduk sebentar dan berhenti rapat.

Sebab ternyata selama ini ia terlalu sibuk menjadi direktur utama sebuah perusahaan yang sejak awal bukan miliknya.

Dan mungkin itulah bentuk ketakberdayaan yang paling indah:

menyadari bahwa kita tidak memiliki apa-apa, sehingga tidak perlu takut kehilangan apa-apa—karena semuanya sejak awal adalah milik-Nya.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026