Rabu, 12 Agustus 2026

Dari Takut Menuju Cinta: Perjalanan Hidup yang Tidak Punya GPS

Ada orang yang menjalani hidup seperti sedang menghadapi ujian nasional setiap hari. Bangun pagi takut terlambat, berangkat kerja takut macet, membuka ponsel takut melihat saldo rekening, membaca berita takut dunia kiamat, dan sebelum tidur takut besok lebih buruk daripada hari ini. Anehnya, setelah semua ketakutan itu selesai, kita masih sempat takut karena merasa terlalu banyak takut.

Di tengah keramaian itulah muncul sebuah nasihat dari Frédéric Lenoir yang terdengar sederhana, tetapi kalau direnungkan cukup mengganggu kenyamanan: “Satu-satunya kejahatan yang harus kau taklukkan di dalam hatimu adalah rasa takut. Seluruh perjalanan hidup adalah beralih dari rasa takut menuju Cinta.”

Kalimat ini seperti seorang bijak yang datang mengetuk pintu hati kita, lalu berkata, “Nak, sebenarnya masalahmu tidak sebanyak yang kamu kira.”

Kita tentu ingin membantah. Masalah kita jelas banyak. Ada cicilan, pekerjaan, keluarga, kesehatan, masa depan, masa lalu, tetangga yang suka membandingkan anak, dan grup WhatsApp keluarga yang tidak pernah kehabisan informasi. Tetapi Lenoir mengajak kita melihat lebih dalam: jangan-jangan banyak masalah itu hanya mengenakan kostum berbeda, sementara pemeran utamanya tetap sama—ketakutan.

Ketakutan: Direktur Utama di Dalam Kepala

Marah, misalnya.

Kita sering mengira kemarahan muncul karena orang lain memang menyebalkan. Itu mungkin benar. Tetapi kalau diperiksa lebih dalam, kemarahan kadang muncul karena kita takut kehilangan kendali.

Seseorang memotong antrean, kita marah. Mengapa? Karena kita takut diperlakukan tidak adil.

Anak tidak mengikuti nasihat, kita marah. Mengapa? Karena kita takut masa depannya berantakan.

Teman mendapat keberhasilan lebih dulu, kita iri. Mengapa? Karena kita takut hidup kita tertinggal.

Orang tidak membalas pesan, kita mulai berpikir macam-macam. Lima menit kemudian kita sudah membuat tiga belas teori konspirasi, lengkap dengan bukti yang seluruhnya berasal dari imajinasi sendiri.

Begitulah ketakutan bekerja. Ia jarang datang sambil berkata, “Halo, saya rasa takut.”

Ia lebih suka menyamar.

Kadang ia datang sebagai kemarahan. Kadang sebagai kecemburuan. Kadang sebagai kesombongan. Kadang sebagai kebutuhan untuk mengontrol segala sesuatu. Bahkan kadang ia menyamar sebagai “saya cuma realistis”.

Padahal “realistis” kadang hanyalah nama keren dari rasa takut yang sudah memakai jas.

Kita Takut Kehilangan Sesuatu yang Bahkan Belum Tentu Kita Miliki

Manusia mempunyai kemampuan luar biasa: mengkhawatirkan sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi.

Hewan biasanya takut ketika ada ancaman nyata. Kucing melihat anjing, ia lari. Manusia melihat tagihan bulan depan, ia sudah stres tiga minggu sebelumnya.

Kucing selesai dikejar anjing, kemudian tidur.

Manusia selesai menghadapi satu masalah, lalu membuka kalender untuk mencari masalah berikutnya.

Inilah kehebatan sekaligus kutukan pikiran manusia. Kita mampu tinggal di masa depan tanpa benar-benar pergi ke sana.

Kita takut kehilangan pekerjaan yang masih kita miliki. Takut ditinggalkan pasangan yang masih duduk di sebelah kita. Takut gagal dalam sesuatu yang bahkan belum kita mulai. Takut dianggap bodoh, tua, miskin, tidak sukses, tidak menarik, tidak penting.

Akhirnya kita hidup bukan berdasarkan apa yang sedang terjadi, melainkan berdasarkan berbagai kemungkinan buruk yang kita produksi sendiri.

Pikiran menjadi semacam studio film.

Bedanya, film yang diproduksi selalu bergenre tragedi.

Lalu Datanglah Cinta

Jika ketakutan adalah racun, Lenoir menawarkan cinta sebagai penawarnya.

Tentu bukan cinta yang membuat seseorang rela begadang menunggu “typing…” di layar ponsel.

Bukan pula cinta yang membuat kita mengirim pesan panjang setelah bertengkar, kemudian menyesal karena pesan tersebut lebih panjang daripada skripsi.

Cinta yang dimaksud jauh lebih luas.

Cinta adalah kemampuan menerima diri. Memaafkan. Memahami. Percaya. Memberi ruang. Mengakui bahwa kita tidak selalu benar. Dan yang paling sulit: menyadari bahwa dunia tidak wajib mengikuti skenario yang kita tulis sendiri.

Cinta berkata, “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi aku akan menghadapinya.”

Ketakutan berkata, “Bagaimana kalau semuanya hancur?”

Cinta menjawab, “Kalau hancur, kita bereskan pelan-pelan.”

Ketakutan ingin kepastian.

Cinta belajar hidup bersama ketidakpastian.

Dan barangkali di situlah kedewasaan manusia sebenarnya dimulai.

Dari “Harus Mengontrol” Menuju “Belajar Mempercayai”

Sebagian besar kegelisahan kita muncul karena kita ingin mengendalikan sesuatu yang memang tidak bisa kita kendalikan.

Kita ingin semua orang memahami kita.

Kita ingin anak-anak selalu mengambil keputusan yang benar.

Kita ingin pasangan tidak berubah.

Kita ingin tubuh tidak menua.

Kita ingin pekerjaan selalu aman.

Kita ingin masa depan sudah memberikan bocoran.

Sayangnya, kehidupan tidak menyediakan fitur “preview”.

Kita bahkan tidak tahu besok sarapan apa, apalagi bagaimana keadaan kita sepuluh tahun lagi.

Maka cinta mengajarkan sesuatu yang tampaknya sederhana tetapi sangat sulit dilakukan: melepaskan kebutuhan untuk menguasai segala sesuatu.

Bukan berarti pasrah tanpa usaha.

Kita tetap bekerja, merencanakan, belajar, berhati-hati, dan mengambil keputusan. Tetapi setelah melakukan bagian kita, ada saatnya kita berkata, “Selebihnya, mari kita lihat.”

Kalimat ini terdengar sederhana.

Namun bagi manusia yang hobinya mengontrol, kalimat tersebut bisa terasa seperti ujian spiritual tingkat akhir.

Tetapi Jangan Sampai Salah Memahami Takut

Namun kita juga tidak boleh terlalu cepat memusuhi rasa takut.

Tidak semua ketakutan adalah musuh.

Takut tertabrak kendaraan membuat kita melihat kanan-kiri sebelum menyeberang. Takut jatuh membuat kita memegang pegangan tangga. Takut kehilangan kesehatan membuat kita sesekali mengurangi gorengan—meskipun gorengan biasanya punya argumen filosofis yang sangat kuat untuk dipertahankan.

Rasa takut tertentu justru menjaga kehidupan.

Masalahnya bukan keberadaan rasa takut, melainkan ketika rasa takut menjadi penguasa.

Takut boleh duduk di dalam hati.

Tetapi jangan beri dia kursi direktur.

Karena kalau rasa takut menjadi direktur utama, seluruh keputusan hidup akan dibuat berdasarkan pertanyaan: “Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk?”

Sedangkan cinta mengajukan pertanyaan yang berbeda:

“Apa yang benar untuk dilakukan sekarang?”

Perbedaan dua pertanyaan itu sangat besar.

Cinta Bukan Berarti Tidak Takut

Barangkali salah satu kesalahpahaman terbesar adalah mengira orang pemberani tidak memiliki rasa takut.

Justru sebaliknya.

Orang pemberani takut.

Bedanya, ia tidak selalu menaati ketakutannya.

Seorang ibu tetap mendampingi anaknya meski khawatir.

Seseorang tetap memulai usaha meski takut gagal.

Seseorang meminta maaf meski takut harga dirinya jatuh.

Seseorang mencari pertolongan ketika hidup terasa terlalu berat meski takut dianggap lemah.

Itulah cinta dalam bentuk yang paling konkret.

Cinta bukan tidak adanya rasa takut.

Cinta adalah keberanian untuk tidak membiarkan rasa takut menentukan seluruh hidup kita.

Perjalanan Pulang ke Diri Sendiri

Mungkin karena itu Lenoir menyebutnya sebagai “seluruh perjalanan hidup”.

Kita tidak tiba-tiba bangun pada suatu pagi lalu menjadi manusia yang sepenuhnya bebas dari ketakutan.

Tidak.

Kita mungkin bangun pagi dengan niat mencintai kehidupan, lalu lima belas menit kemudian kesal karena Wi-Fi lambat.

Kita mungkin bertekad menjadi pribadi penuh kasih, lalu bertemu seseorang yang parkir sembarangan dan seluruh filosofi kita mendadak masuk masa percobaan.

Transformasi batin memang tidak selalu dramatis.

Kadang ia terjadi dalam hal-hal kecil.

Kita memilih tidak membalas kemarahan dengan kemarahan.

Kita memilih memahami sebelum menghakimi.

Kita memilih memaafkan meski ego meminta kemenangan.

Kita memilih meminta bantuan ketika tidak sanggup.

Kita memilih bersyukur meski hidup belum sempurna.

Sedikit demi sedikit, hati berpindah tempat: dari ruang sempit yang dipenuhi kekhawatiran menuju ruang yang lebih lapang bernama cinta.

Pada Akhirnya, Kita Semua Sedang Belajar

Kehidupan mungkin bukan perjalanan untuk menghapus rasa takut.

Barangkali kehidupan adalah perjalanan untuk mengubah hubungan kita dengan rasa takut.

Dulu kita diperintah olehnya.

Sekarang kita belajar mendengarkannya tanpa harus mematuhinya.

Dulu kita mengira keselamatan berarti mengendalikan segala sesuatu.

Sekarang kita belajar bahwa kedamaian justru muncul ketika kita menerima bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan.

Dan dulu kita mencari cinta sebagai sesuatu yang datang dari luar.

Sekarang kita mulai memahami bahwa cinta juga merupakan cara kita memandang dunia.

Mungkin itulah makna terdalam nasihat Lenoir.

Kita tidak diminta menjadi manusia yang tidak pernah takut.

Kita hanya diminta agar, setiap kali ketakutan mengetuk pintu, kita tidak buru-buru menyerahkan seluruh rumah kepadanya.

Bukakan pintu.

Lihat wajahnya.

Dengarkan pesannya.

Lalu katakan dengan tenang:

“Terima kasih sudah mengingatkan. Tapi hari ini, saya memilih cinta.”

Sebab pada akhirnya, mungkin seluruh perjalanan hidup memang bukan tentang menjadi manusia yang tidak pernah takut.

Melainkan tentang perlahan-lahan belajar bahwa hati kita terlalu luas untuk dijadikan kantor cabang rasa takut.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Manusia: Makhluk yang Selalu Salah Alamat Waktu

Ada sebuah kalimat yang beredar luas di media sosial:

“Manusia menangisi masa lalu yang tidak akan kembali, takut pada masa depan yang belum datang, dan melupakan masa kini yang sedang dijalaninya.”

Kalimat ini sering dikaitkan dengan Mark Twain. Padahal, seperti banyak kutipan bijak di internet, nama Mark Twain kadang-kadang diperlakukan seperti stempel kelurahan: asal ditempel, dianggap sah.

Mark Twain sendiri belum tentu pernah mengucapkannya. Tetapi tidak apa-apa. Sebab meskipun nama penulisnya masih menjadi misteri, isi kalimatnya terlalu akrab dengan kehidupan kita. Bahkan mungkin terlalu akrab.

Sebab begitulah manusia.

Pagi-pagi memikirkan masa depan.

Siang hari menyesali masa lalu.

Malam hari membuka ponsel dan kehilangan masa kini.

Masa Lalu: Museum Penyesalan yang Tidak Pernah Tutup

Masa lalu adalah tempat yang sangat aneh. Ia sudah tidak ada, tetapi manusia rajin sekali mengunjunginya.

Kita membuka kembali percakapan lama, melihat foto lama, mengingat keputusan lama, lalu berkata:

“Seandainya waktu itu saya tidak mengatakan begitu…”

“Seandainya saya memilih yang lain…”

“Seandainya dulu saya lebih berani…”

Kata seandainya adalah kendaraan paling populer menuju masa lalu. Sayangnya, kendaraan ini tidak memiliki roda.

Ia hanya berputar-putar di tempat.

Kita sering memperlakukan masa lalu seperti film yang bisa diedit. Masalahnya, tombol undo kehidupan tidak pernah dipasang oleh Tuhan. Kita bisa menghapus foto di galeri, tetapi tidak bisa menghapus kejadian dari sejarah diri sendiri.

Lucunya, manusia sering menghabiskan hari ini untuk memperbaiki kemarin.

Padahal kemarin sudah tidak menerima layanan perbaikan.

Masa lalu sebenarnya berguna. Ia adalah guru. Ia memberikan pelajaran, pengalaman, dan kadang-kadang rasa malu yang cukup untuk membuat kita tidak mengulangi kebodohan yang sama.

Tetapi manusia sering salah memahami fungsi guru.

Bukannya mengambil pelajaran, kita malah mengajak gurunya tinggal di rumah.

Akhirnya setiap malam masa lalu duduk di ruang tamu sambil berkata:

“Coba kalau dulu…”

Masa Depan: Bioskop yang Tiketnya Sudah Dibeli, Filmnya Belum Dibuat

Kalau masa lalu membuat manusia menyesal, masa depan membuat manusia cemas.

Masa depan bahkan lebih mengagumkan: ia belum terjadi, tetapi sudah berhasil membuat kita lelah.

Kita khawatir tentang pekerjaan yang belum hilang, penyakit yang belum datang, masalah yang belum muncul, orang yang belum mengecewakan, dan kegagalan yang bahkan belum sempat mencoba menyapa.

Ada orang yang baru mendapat kesempatan besok, tetapi malam ini sudah takut gagal.

Ada yang belum melamar, tetapi sudah membayangkan ditolak.

Belum memulai usaha, sudah menghitung kerugiannya.

Belum ujian, sudah membayangkan nilai jelek.

Belum tua, sudah khawatir pensiun.

Bahkan ada yang sedang menikmati liburan tetapi pikirannya sibuk memikirkan pekerjaan hari Senin.

Ini luar biasa.

Tubuhnya berada di pantai, tetapi pikirannya sudah duduk di kantor.

Manusia memang satu-satunya makhluk yang mampu berlibur sambil bekerja secara imajinatif.

Kecemasan pada masa depan sebenarnya memiliki fungsi. Ia bisa membuat kita bersiap. Masalahnya muncul ketika persiapan berubah menjadi kepanikan.

Mempersiapkan payung sebelum hujan adalah kebijaksanaan.

Duduk di rumah sambil menatap langit selama tiga hari karena takut hujan adalah masalah lain.

Masa Kini: Satu-satunya Waktu yang Tidak Pernah Kita Hadiri

Di antara masa lalu dan masa depan terdapat sebuah wilayah kecil bernama sekarang.

Inilah satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki.

Tetapi justru di sinilah manusia sering tidak hadir.

Saat makan, kita melihat ponsel.

Saat bersama keluarga, pikiran berada di kantor.

Saat bekerja, kita memikirkan liburan.

Saat liburan, kita memikirkan pekerjaan.

Saat bersama orang yang kita cintai, kita sibuk memotret agar bisa membuktikan kepada orang lain bahwa kita sedang bahagia.

Akhirnya kita bukan lagi menjalani kehidupan.

Kita menjadi fotografer kehidupan sendiri.

Momen sedang berlangsung, tetapi kita sibuk mencari sudut kamera.

Bahkan kopi pun sekarang tidak cukup hanya diminum. Ia harus difoto, diberi caption, diberi filter, lalu menunggu komentar orang lain.

Kopi yang tadinya masuk ke tubuh, sekarang lebih dulu masuk Instagram.

Inilah ironi zaman digital: manusia memiliki kamera yang semakin canggih untuk mengabadikan kehidupan, tetapi semakin sulit menikmati kehidupan ketika kehidupan itu berlangsung.

Seneca Sudah Mengingatkan, Kita Malah Scroll

Gagasan semacam ini sebenarnya bukan penemuan baru.

Para filsuf Stoik telah lama mengingatkan manusia agar tidak menyia-nyiakan waktu.

Seneca, misalnya, berbicara panjang tentang singkatnya kehidupan dan betapa manusia sering merasa hidupnya pendek, padahal sebagian besar waktunya diberikan secara cuma-cuma kepada hal-hal yang tidak penting.

Marcus Aurelius juga mengingatkan pentingnya hidup dalam momen yang sedang dijalani.

Dua ribu tahun kemudian, masalahnya tetap sama.

Bedanya hanya alat gangguannya.

Dulu manusia mungkin terganggu oleh pesta, ambisi, gosip, dan urusan politik.

Sekarang kita punya notifikasi.

Dulu orang bisa kehilangan waktu karena ngobrol terlalu lama.

Sekarang kita bisa kehilangan dua jam hanya karena berniat melihat satu video pendek.

“Cuma sebentar.”

Kalimat paling berbahaya dalam sejarah umat manusia.

Cuma sebentar membuka TikTok.

Cuma sebentar melihat WhatsApp.

Cuma sebentar membaca berita.

Tahu-tahu ayam sudah berkokok.

Kita bahkan belum tahu mengapa video tentang orang memperbaiki mesin cuci bisa membawa kita kepada video tentang kehidupan gurita di dasar laut.

Masa Lalu untuk Belajar, Masa Depan untuk Bersiap

Lalu apakah kita harus melupakan masa lalu?

Tidak.

Masa lalu tetap penting. Tetapi tempatnya bukan di kursi pengemudi.

Ia seharusnya duduk di kursi belakang.

Sesekali boleh bertanya:

“Dari pengalaman tadi, apa yang bisa kita pelajari?”

Tetapi jangan biarkan ia memegang kemudi.

Begitu pula masa depan.

Kita perlu merencanakannya. Menabung, belajar, bekerja, menjaga kesehatan, mempersiapkan keluarga—semuanya penting.

Tetapi masa depan seharusnya menjadi tujuan, bukan rumah tempat kita tinggal secara mental.

Kita tidak perlu pindah ke masa depan hanya karena takut sesuatu akan terjadi di sana.

Sebab bisa jadi ketika kita sampai di sana, masalah yang kita takutkan ternyata tidak terjadi.

Dan kalau terjadi pun, kita baru akan menghadapinya saat waktunya tiba.

Mengapa harus membayar cicilan kecemasan sebelum barangnya datang?

Hidup di Sekarang Bukan Berarti Tidak Punya Rencana

Ada kesalahpahaman tentang hidup di masa kini.

Sebagian orang mengira hidup di masa kini berarti:

“Yang penting bahagia sekarang.”

Belanja sekarang.

Makan sekarang.

Bersenang-senang sekarang.

Besok urusan nanti.

Itu bukan hidup di masa kini.

Itu namanya menyerahkan masalah kepada versi diri kita di masa depan.

Dan versi diri kita di masa depan biasanya sangat kecewa kepada kita.

Hidup di masa kini bukan berarti mengabaikan masa depan. Justru sebaliknya: kita mempersiapkan masa depan tanpa kehilangan hari ini.

Kita menanam pohon sambil menikmati teduhnya.

Kita bekerja untuk masa depan sambil tetap menyadari bahwa hidup bukan sekadar daftar target yang harus dicentang.

Sebab manusia bisa begitu sibuk mengejar kehidupan yang ideal sampai lupa bahwa kehidupan yang sedang dijalani sebenarnya sudah berlangsung.

Waktu Tidak Pernah Meminta Kita untuk Mengejarnya

Barangkali inilah paradoks terbesar manusia.

Kita mengejar waktu seolah-olah waktu sedang melarikan diri.

Padahal waktu tidak pernah berlari.

Kitalah yang berubah.

Hari berganti malam, anak-anak tumbuh, rambut memutih, orang-orang datang dan pergi.

Kita sering baru menyadari indahnya sebuah masa setelah masa itu menjadi kenangan.

Ketika masih kecil, kita ingin cepat dewasa.

Ketika dewasa, kita ingin kembali muda.

Ketika bekerja, kita menunggu libur.

Ketika libur, kita memikirkan pekerjaan.

Ketika punya banyak uang, kita ingin punya waktu.

Ketika punya waktu, kita bingung menggunakannya.

Manusia memang makhluk yang sangat kreatif dalam menyia-nyiakan sesuatu yang paling berharga.

Padahal waktu tidak pernah bisa ditabung.

Uang yang hilang mungkin bisa dicari lagi.

Barang yang rusak bisa dibeli.

Kesempatan tertentu bisa datang kembali.

Tetapi pukul 04.00 yang sudah lewat tidak akan pernah kembali menjadi pukul 04.00.

Ia sudah pensiun dari kehidupan kita.

Mungkin Kita Tidak Membutuhkan Lebih Banyak Waktu

Barangkali yang kita perlukan bukan tambahan waktu.

Kita membutuhkan perhatian yang lebih utuh terhadap waktu yang sudah ada.

Secangkir kopi yang benar-benar diminum.

Percakapan yang benar-benar didengarkan.

Makan malam tanpa memeriksa ponsel setiap tiga menit.

Berjalan tanpa terburu-buru.

Memandang wajah orang yang kita cintai tanpa berpikir tentang pekerjaan berikutnya.

Duduk sebentar.

Bernapas.

Menyadari bahwa kita masih hidup.

Sebab kehidupan tidak selalu datang dalam bentuk peristiwa besar.

Kadang-kadang kehidupan hanya berupa pagi yang tenang, nasi hangat, suara anak-anak, obrolan sederhana, udara setelah hujan, atau seseorang yang bertanya:

“Sudah makan?”

Kalimat sederhana itu mungkin tidak akan masuk buku filsafat.

Tetapi bagi orang yang sedang lapar, ia adalah filsafat tingkat tinggi.

Penutup: Jangan Sampai Hidup Kita Hanya Menjadi Arsip

Masa lalu adalah arsip.

Masa depan adalah kemungkinan.

Masa kini adalah kehidupan.

Kita boleh membuka arsip untuk belajar. Kita boleh melihat peta masa depan untuk menentukan arah. Tetapi kaki tetap harus berdiri di tanah yang bernama sekarang.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mengenang kehidupan yang sudah berlalu dan terlalu takut pada kehidupan yang belum terjadi, sehingga lupa bahwa kehidupan sedang mengetuk pintu tepat di depan kita.

Dan mungkin, pada akhirnya, kebijaksanaan bukanlah kemampuan untuk mengetahui apa yang akan terjadi besok.

Bukan pula kemampuan untuk mengubah apa yang telah terjadi kemarin.

Kebijaksanaan mungkin jauh lebih sederhana:

mengetahui kapan harus belajar dari kemarin, kapan harus bersiap untuk besok, dan kapan harus berhenti sebentar untuk benar-benar hidup hari ini.

Sebab waktu tidak pernah meminta kita untuk menjadi sempurna.

Ia hanya terus berjalan.

Dan ironisnya, satu-satunya manusia yang sering tertinggal adalah kita sendiri—karena sibuk melihat ke belakang, terlalu cepat berlari ke depan, sementara kehidupan yang sesungguhnya diam-diam lewat di samping kita sambil berkata:

“Masih di sini, lho.”

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Selasa, 11 Agustus 2026

Emmenez-moi: Bawa Aku Pergi, Asal Jangan Suruh Bayar Cicilan Dulu

Ada lagu yang membuat kita ingin berdansa. Ada lagu yang membuat kita ingin menangis. Dan ada lagu yang membuat kita ingin membeli tiket pesawat, meskipun saldo rekening baru saja mengirimkan pesan yang kurang lebih berbunyi: “Jangan macam-macam.”

“Emmenez-moi” karya Charles Aznavour termasuk jenis yang terakhir.

Lagu ini seperti bisikan seorang manusia yang sudah terlalu lama bekerja, terlalu sering melihat langit kelabu, dan terlalu akrab dengan rutinitas sampai-sampai kalender pun terasa seperti musuh pribadi.

“Bawa aku pergi.”

Ke mana?

Ke tempat yang mataharinya lebih ramah, lautnya lebih biru, orang-orangnya tampak bahagia, dan—ini yang penting—tidak ada orang yang bertanya, “Besok masuk jam berapa?”

Begitulah kira-kira semangat lagu Aznavour.

Pelabuhan: Tempat Orang Bekerja, Kapal Pergi, dan Mimpi Tidak Pernah Naik Kapal

Dalam “Emmenez-moi”, kita bertemu dengan seorang pekerja pelabuhan di utara. Ia hidup di tengah pekerjaan berat, langit kelabu, dan rutinitas yang perlahan membuat tubuhnya membungkuk sekaligus membuat jiwanya ingin mengajukan surat pengunduran diri kepada kehidupan.

Pelabuhan menjadi simbol yang sempurna.

Di sana kapal datang dari tempat-tempat jauh. Kapal membawa barang, aroma negeri asing, buah-buahan eksotis, dan berbagai kabar dari dunia yang tampaknya lebih menyenangkan.

Ironisnya, kapal-kapal itu bisa pergi.

Si pekerja tidak.

Ini mungkin salah satu pengalaman manusia paling menyakitkan: melihat sesuatu yang bergerak ketika kita sendiri sedang terjebak.

Kapal berangkat menuju negeri tropis.

Kita berangkat menuju kantor.

Kapal melihat laut.

Kita melihat spreadsheet.

Kapal menikmati angin.

Kita menikmati AC kantor yang suhunya disetel oleh seseorang yang mungkin punya hubungan pribadi dengan kutub utara.

Dan setiap kali melihat kapal meninggalkan pelabuhan, muncul satu pikiran yang sangat manusiawi:

“Seandainya aku ikut.”

Tetapi kenyataan segera menjawab:

“Tiketnya dari mana?”

Lalu kita kembali bekerja.

Kita Semua Punya Pelabuhan Kelabu

Yang membuat “Emmenez-moi” bertahan begitu lama bukan semata-mata melodinya yang indah. Lagu itu berbicara tentang pengalaman yang jauh lebih universal daripada pelabuhan.

Sebab tidak semua orang bekerja di dermaga.

Ada yang terjebak di kantor.

Ada yang terjebak dalam hubungan.

Ada yang terjebak dalam kemacetan.

Ada yang terjebak dalam grup WhatsApp keluarga.

Dan yang paling parah: ada yang terjebak dalam pikirannya sendiri.

Pelabuhan kelabu setiap orang berbeda.

Bagi seseorang, pelabuhan itu adalah pekerjaan yang tidak disukai.

Bagi orang lain, rumah yang sudah kehilangan kehangatan.

Bagi sebagian orang, mungkin kehidupan yang tampak baik-baik saja dari luar tetapi terasa seperti mengulang episode yang sama setiap hari.

Kita bangun.

Mandi.

Sarapan.

Bekerja.

Macet.

Pulang.

Makan.

Menatap layar.

Tidur.

Bangun lagi.

Lalu tiba-tiba kita menyadari bahwa usia sudah bertambah lima tahun dan kita masih menunggu “nanti kalau sudah punya waktu”.

Masalahnya, waktu tidak pernah benar-benar punya waktu untuk kita.

Media Sosial: Kapal Modern yang Membuat Kita Ingin Pergi

Kalau Aznavour hidup di zaman Instagram dan TikTok, mungkin liriknya akan sedikit berubah.

Dahulu sang pekerja pelabuhan melihat kapal membawa aroma negeri jauh.

Sekarang kita cukup membuka media sosial.

Dalam lima menit, kita bisa melihat seseorang sedang sarapan di Santorini, berenang di Maldives, minum kopi di Paris, meditasi di Bali, bekerja dari pantai, atau—yang paling menyakitkan—mengunggah caption:

“Simple life.”

Sambil duduk di vila seharga beberapa juta per malam.

Kita melihat foto itu sambil duduk di kamar dengan kipas angin yang bunyinya seperti mesin kapal tua.

Lalu muncul pikiran:

“Aku juga ingin hidup seperti itu.”

Kita lupa bahwa yang kita lihat hanya foto.

Kita tidak melihat tagihan vila.

Tidak melihat sakit kepala pemilik akun.

Tidak melihat pertengkaran rumah tangga.

Tidak melihat isi rekening.

Media sosial pada dasarnya adalah pelabuhan modern tempat kapal-kapal mimpi lewat setiap tiga detik.

Dan kita berdiri di dermaga sambil melakukan satu pekerjaan penting:

scrolling.

Imajinasi: Tiket Gratis yang Tidak Pernah Kehabisan Masa Berlaku

Namun di sinilah Aznavour menjadi lebih bijaksana daripada sekadar penyanyi yang mengajak kita kabur.

Ia memahami bahwa imajinasi bukan sekadar pelarian.

Imajinasi adalah salah satu cara manusia bertahan.

Ketika kenyataan terlalu berat, manusia membangun sebuah tempat di dalam dirinya sendiri.

Di sana ada matahari.

Ada laut.

Ada musim panas.

Ada cinta.

Ada tangan-tangan yang terbuka untuk menyambutnya.

Dan untuk beberapa saat, ia tidak lagi menjadi buruh yang lelah.

Ia menjadi seseorang yang ditunggu.

Ini penting.

Sebab mungkin yang sebenarnya kita cari bukanlah pantai.

Bukan pulau tropis.

Bukan negeri asing.

Bukan bahkan liburan.

Yang kita cari adalah perasaan bahwa hidup kita berarti.

Kita ingin merasa bahwa ada tempat di mana keberadaan kita tidak sekadar dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan, membayar tagihan, dan memenuhi kewajiban.

Kita ingin disambut.

Kita ingin dicintai.

Kita ingin sesekali merasa bahwa hidup bukan hanya daftar tugas.

“Il Me Semble”: Sebuah Keraguan yang Justru Jujur

Salah satu keindahan “Emmenez-moi” terletak pada semangat il me semble—“rasanya”, “sepertinya”.

Perhatikan kata itu.

Bukan:

“Di sana pasti bahagia.”

Melainkan:

“Rasanya di sana akan lebih bahagia.”

Ada perbedaan besar.

Aznavour tidak menjual surga dengan garansi uang kembali.

Ia memahami bahwa manusia sering membayangkan tempat lain sebagai penyelamat hidupnya.

Kita berkata:

“Nanti kalau pindah kota, aku bahagia.”

“Nanti kalau punya uang, aku tenang.”

“Nanti kalau pensiun, aku menikmati hidup.”

“Nanti kalau menikah, hidup lengkap.”

“Nanti kalau cerai, hidup tenang.”

“Nanti kalau punya rumah, hidup damai.”

“Nanti kalau anak-anak besar, hidup bebas.”

Lalu setelah semua “nanti” itu tiba, kita menemukan masalah baru.

Ternyata manusia membawa dirinya sendiri ke mana pun ia pergi.

Kita bisa pindah negara, tetapi kepala tetap ikut.

Kita bisa pindah rumah, tetapi kebiasaan buruk ikut pindah.

Kita bisa pergi ke pantai, tetapi kecemasan ikut membawa koper.

Bahkan kalau pergi ke pulau terpencil, ponsel masih mungkin menangkap sinyal.

Jadi sebenarnya yang perlu dibawa pergi bukan selalu tubuh.

Kadang-kadang yang perlu dibawa pergi adalah cara kita memandang hidup.

Pelarian yang Tidak Sepenuhnya Salah

Ada kecenderungan dalam kehidupan modern untuk memandang keinginan melarikan diri sebagai kelemahan.

“Jangan lari dari masalah.”

Nasihat ini terdengar bijaksana.

Tetapi kadang-kadang kita memang perlu lari.

Kalau rumah terbakar, kita tidak perlu berdiri di ruang tamu sambil berkata:

“Saya harus menghadapi masalah ini dengan dewasa.”

Kita keluar.

Begitu pula dalam kehidupan.

Ada saat ketika manusia perlu berhenti.

Pergi.

Mengambil jarak.

Melihat laut.

Berjalan tanpa tujuan.

Membaca buku.

Mendengarkan musik.

Duduk sendirian.

Atau sekadar tidur siang tanpa merasa bersalah.

Sebab tidak semua perjalanan adalah bentuk pengecut.

Kadang perjalanan adalah cara jiwa melakukan servis berkala.

Mobil saja perlu dibawa ke bengkel.

Mengapa manusia merasa dirinya tidak perlu?

Masalahnya Bukan Selalu Pelabuhan

Namun “Emmenez-moi” juga dapat dibaca dengan sedikit kewaspadaan.

Jangan sampai kita terlalu percaya bahwa kebahagiaan selalu berada di tempat lain.

Sebab manusia memiliki kebiasaan aneh: ia sering menganggap rumput tetangga lebih hijau karena belum pernah mencium bau pupuknya.

Kita melihat orang lain hidup di kota besar dan berpikir mereka bahagia.

Kita tinggal di kota besar dan ingin tinggal di desa.

Orang desa melihat foto kota dan ingin pindah ke kota.

Orang kota ingin ke Bali.

Orang Bali mungkin ingin ke luar Bali.

Orang yang punya pekerjaan ingin pensiun.

Orang yang pensiun rindu bekerja.

Orang lajang ingin menikah.

Orang menikah kadang ingin tidur sendirian di kamar hotel.

Manusia memang makhluk yang luar biasa.

Ia bisa memiliki sesuatu dan merindukan sesuatu yang tidak dimilikinya pada saat yang sama.

Mungkin itulah sebabnya kita tidak pernah benar-benar selesai mencari.

Surga Kadang Hanya Sebuah Kursi dan Sore yang Tenang

Barangkali pesan terdalam “Emmenez-moi” bukanlah:

“Tinggalkan hidupmu.”

Melainkan:

“Jangan biarkan hidupmu kehilangan kemampuan untuk bermimpi.”

Sebab mimpi tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk tiket pesawat.

Kadang negeri ajaib itu hanya sebuah sore yang tenang.

Secangkir kopi.

Buku yang bagus.

Percakapan dengan orang yang kita cintai.

Tawa anak-anak.

Musik yang tiba-tiba mengingatkan kita pada masa lalu.

Atau duduk di teras rumah sambil melihat langit berubah warna.

Kita mungkin tidak bisa pergi ke pulau tropis.

Tetapi kita bisa menciptakan sedikit musim panas di dalam diri.

Kita mungkin tetap harus bekerja.

Tetapi kita tidak harus menyerahkan seluruh jiwa kepada pekerjaan.

Kita mungkin masih tinggal di pelabuhan yang sama.

Tetapi kita dapat belajar melihat laut dengan cara berbeda.

Pada Akhirnya, Kita Semua Ingin Dibawa Pergi

Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam seruan Emmenez-moi:

“Bawa aku pergi.”

Kita mengatakannya ketika lelah.

Kita mengatakannya ketika kecewa.

Kita mengatakannya ketika kehidupan terlalu penuh suara.

Dan mungkin kita juga mengatakannya ketika diam-diam kita tahu bahwa ada bagian dalam diri kita yang belum pernah benar-benar hidup.

Tetapi perjalanan paling penting sering kali bukan perjalanan dari satu negeri ke negeri lain.

Ia adalah perjalanan dari keputusasaan menuju harapan.

Dari kebosanan menuju rasa ingin tahu.

Dari keterasingan menuju kasih sayang.

Dari sekadar bertahan hidup menuju kemampuan untuk kembali menikmati hidup.

Sebab mungkin kita tidak perlu menunggu kapal datang.

Mungkin kapal itu memang tidak pernah datang.

Mungkin kita harus belajar membuat perahu sendiri.

Walaupun kecil.

Walaupun bocor.

Walaupun mesinnya kadang mogok.

Yang penting bergerak.

Dan kalau ternyata di tengah perjalanan kita menemukan bahwa “negeri keajaiban” yang selama ini kita cari ternyata tidak sempurna?

Tidak apa-apa.

Kita sudah belajar sesuatu yang penting:

Surga yang kita bayangkan mungkin tidak pernah ada persis seperti dalam mimpi. Tetapi manusia tetap membutuhkan mimpi agar sanggup menjalani kenyataan.

Jadi, ketika hidup terasa seperti pelabuhan kelabu, jangan buru-buru membenci pelabuhannya.

Dengarkan musik.

Tatap laut.

Bayangkan perjalanan.

Istirahatlah.

Lalu, kalau memang ada kesempatan, berangkatlah.

Tetapi jangan lupa membawa satu benda yang sering tertinggal:

diri kita sendiri.

Sebab ke mana pun kita pergi, itulah penumpang yang paling sulit ditinggalkan.

Dan sayangnya, dia tidak pernah mau membayar tiket sendiri.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Menua Itu Wajib, Keriput Itu Bonus

Renungan  dari Cermin, Skincare, dan Nasihat Colette

Ada satu hal yang sangat tidak adil dalam hidup: kita boleh menolak banyak hal, tetapi tidak boleh menolak tua.

Kita boleh menolak mantan. Boleh menolak ajakan reuni. Boleh menolak telepon dari nomor tidak dikenal. Bahkan boleh menolak kenyataan bahwa saldo rekening tinggal cukup untuk membeli gorengan.

Tetapi menolak tua?

Silakan coba.

Pagi-pagi Anda bangun, melihat cermin, lalu berkata:

“Saya tidak mau tua.”

Cermin biasanya tidak menjawab. Ia hanya menunjukkan kenyataan dengan kejam.

Kerutan tetap ada.

Rambut putih tetap tumbuh.

Mata tetap membutuhkan jarak tertentu untuk membaca tulisan kecil di kemasan obat.

Dan yang paling menyakitkan: wajah kita mulai memiliki fitur-fitur baru yang sebelumnya tidak pernah kita pesan.

Di tengah kegelisahan manusia menghadapi waktu itulah nasihat Colette terasa seperti tamparan lembut yang sangat beradab.

Dalam Les Vrilles de la vigne, Colette mengajak kita menerima kenyataan bahwa kita memang harus menua. Bukan dengan menangis, memberontak, atau berdoa agar Tuhan salah memasukkan tanggal lahir kita.

Kita harus pergi menuju usia tua.

Dan menurut Colette, kita sebaiknya pergi dengan membawa kesehatan, keceriaan, daya tarik, kebaikan, dan keadilan.

Singkatnya:

Tua boleh. Berantakan jangan.


Manusia dan Perang Dunia Melawan Keriput

Peradaban manusia telah mencapai kemajuan luar biasa.

Kita bisa mengirim manusia ke luar angkasa.

Kita bisa melakukan video call dengan orang yang berada ribuan kilometer jauhnya.

Kita memiliki kecerdasan buatan yang bisa menulis puisi, membuat gambar, menganalisis data, bahkan menjawab pertanyaan yang sebenarnya tidak pernah kita tanyakan.

Tetapi begitu melihat satu kerutan baru di dahi, kita panik.

“Ini apa?”

“Kerutan.”

“Sejak kapan?”

“Sepertinya sejak lima tahun lalu.”

“LIMA TAHUN?!”

Lalu dimulailah operasi militer.

Serum.

Moisturizer.

Retinol.

Sunscreen.

Masker.

Krim malam.

Krim pagi.

Krim sebelum krim.

Dan entah apa lagi.

Kamar mandi akhirnya berubah menjadi laboratorium kimia.

Sementara itu, nenek kita dulu mungkin hanya menggunakan sabun dan tetap hidup sampai usia delapan puluh sekian.

Kita hidup di zaman ketika manusia takut terlihat tua, padahal seluruh isi tubuhnya sedang bekerja sama menuju ke sana.

Ini agak lucu.

Kita membayar mahal untuk melawan sesuatu yang secara biologis sudah menjadi bagian dari paket kelahiran.


Colette Tidak Menyuruh Kita Menyerah

Di sinilah Colette menarik.

Ia tidak mengatakan:

“Kalau sudah tua, ya sudah. Jangan peduli penampilan.”

Bukan.

Justru ia mengatakan: pergilah dengan berhias.

Ini penting.

Menerima penuaan bukan berarti kita harus menyerah kepada kemalasan.

Kalau rambut memutih, kita masih boleh menyisirnya.

Kalau kulit berubah, kita masih boleh merawatnya.

Kalau tubuh bertambah usia, kita masih boleh menjaga kesehatan.

Kalau wajah mulai menunjukkan sejarah kehidupan, kita tidak harus menyembunyikannya seolah-olah kita baru saja melakukan kejahatan.

Ada perbedaan besar antara merawat diri dan memusuhi diri sendiri.

Merawat diri berkata:

“Aku menghargai tubuhku.”

Obsesi anti-tua berkata:

“Aku membenci kenyataan bahwa tubuhku mempunyai umur.”

Yang pertama adalah perawatan.

Yang kedua adalah perang saudara.

Dan lucunya, dalam perang tersebut kita memakai tubuh sendiri sebagai medan tempur.


Keriput Itu Arsip, Bukan Aib

Bayangkan wajah sebagai sebuah buku.

Setiap kerutan adalah semacam catatan kaki.

Ada kerutan karena terlalu banyak tertawa.

Ada kerutan karena terlalu sering berpikir.

Ada kerutan karena pernah menangis.

Ada kerutan karena terlalu sering mengernyit melihat harga kebutuhan pokok.

Ada juga kerutan karena bertahun-tahun menghadapi orang yang mengatakan:

“Sebentar saja, Pak.”

Lalu rapat berlangsung tiga jam.

Jadi sebenarnya kerutan bukan sekadar tanda bahwa usia bertambah.

Ia adalah semacam arsip biologis.

Wajah manusia menyimpan sejarah.

Masalahnya, masyarakat modern lebih menyukai wajah tanpa sejarah.

Kita ingin wajah yang terlihat seperti baru keluar dari pabrik.

Halus.

Licin.

Mengilap.

Tanpa noda.

Tanpa kerutan.

Tanpa masa lalu.

Kalau bisa, wajah umur lima puluh tetapi tampak seperti baru lulus SMA.

Tubuh berkata:

“Saya sudah melewati banyak hal.”

Filter berkata:

“Tidak ada yang perlu tahu.”


Manusia Modern Ingin Menipu Cermin

Kita sekarang hidup dalam zaman ketika kamera depan ponsel menjadi hakim baru kehidupan.

Sebelum keluar rumah, kita bercermin.

Setelah keluar rumah, kita membuka kamera.

Setelah memotret, kita memperbaiki wajah.

Setelah memperbaiki wajah, kita masih merasa ada yang kurang.

Akhirnya kita mengedit foto sampai orang yang ada di foto tidak lagi sepenuhnya mengenali dirinya sendiri.

Teman bertanya:

“Ini kamu?”

Kita menjawab:

“Versi terbaikku.”

Masalahnya, versi terbaik itu kadang bahkan tidak memiliki pori-pori.

Padahal manusia asli memang punya pori-pori.

Dan Colette tampaknya memahami sesuatu yang kita lupakan: martabat tidak membutuhkan wajah yang selalu muda.

Martabat membutuhkan cara kita membawa diri.


Keceriaan: Skincare yang Tidak Dijual di Apotek

Menariknya, Colette memasukkan keceriaan ke dalam bekal menghadapi usia tua.

Ini mungkin salah satu kosmetik terbaik yang sering kita lupakan.

Kita membeli krim anti-aging seharga ratusan ribu, tetapi lupa membeli kegembiraan.

Kita rajin merawat kulit, tetapi lupa merawat humor.

Padahal kemampuan tertawa adalah salah satu bentuk perlawanan paling sehat terhadap keseriusan hidup.

Orang yang bisa menertawakan dirinya sendiri memiliki keunggulan besar.

Ia tidak mudah dipermalukan oleh kenyataan.

Ketika rambutnya putih, ia berkata:

“Ini bukan uban. Ini highlight alami.”

Ketika lupa sesuatu:

“Bukan lupa. Otak sedang melakukan seleksi prioritas.”

Ketika harus membaca tulisan kecil dengan menjauhkan ponsel:

“Saya sedang menggunakan teknologi zoom manual.”

Begitulah manusia bertahan.

Dengan humor.

Sebab kalau semua perubahan hidup dianggap tragedi, kita akan kehabisan tenaga bahkan sebelum mencapai usia tua.


Yang Menjadi Tua Bukan Hanya Wajah

Ada hal yang lebih mengkhawatirkan daripada keriput.

Yaitu ketika hati menjadi tua sebelum waktunya.

Wajah boleh menua.

Rambut boleh memutih.

Langkah boleh melambat.

Tetapi jangan sampai rasa ingin tahu mati.

Jangan sampai kita menjadi orang yang setiap melihat sesuatu yang baru langsung berkata:

“Zaman saya dulu tidak begitu.”

Kalimat itu adalah salah satu tanda penuaan mental paling klasik.

Anak muda memakai teknologi baru:

“Zaman saya dulu…”

Mereka mendengarkan musik baru:

“Zaman saya dulu…”

Mereka memiliki cara komunikasi baru:

“Zaman saya dulu…”

Akhirnya seluruh kehidupan menjadi museum pribadi.

Padahal menjadi tua tidak berarti harus berhenti belajar.

Justru usia seharusnya memberi kita kemampuan untuk berkata:

“Saya mungkin tidak memahami semuanya, tetapi saya ingin tahu.”

Itulah kemudaan yang lebih penting daripada wajah.


Bawa Kebaikan, Karena Krim Tidak Bisa Melakukannya

Colette juga menyebut kebaikan dan keadilan.

Ini menarik.

Karena keduanya tidak bisa dibeli di toko kosmetik.

Tidak ada serum:

Anti-Wrinkle + Anti-Jahat Formula.

Tidak ada moisturizer:

Deep Hydration + Deep Empathy.

Tidak ada toner:

Brightening + Tidak Suka Menghakimi Orang.

Padahal semakin tua, mestinya manusia semakin ringan dalam menjalani hidup.

Kita sudah cukup lama melihat manusia melakukan kesalahan.

Kita sendiri sudah cukup banyak melakukan kesalahan.

Maka usia seharusnya membuat kita lebih memahami bahwa setiap orang sedang membawa sesuatu yang tidak terlihat.

Orang yang semakin tua tetapi semakin kasar sebenarnya hanya menambah umur, bukan menambah kebijaksanaan.

Sebab tua secara biologis itu otomatis.

Bijaksana tidak.


Jangan Berhenti di Tengah Jalan

Nasihat Colette akhirnya kembali kepada sebuah gagasan sederhana:

Jangan berhenti di jalan yang memang harus ditempuh.

Kita sering berhenti bukan karena tidak mampu berjalan, tetapi karena terus menoleh ke belakang.

“Dulu saya begini.”

“Dulu wajah saya begitu.”

“Dulu rambut saya hitam.”

“Dulu badan saya lebih langsing.”

“Dulu saya kuat begadang.”

Tentu saja.

Dulu juga kita tidak punya cicilan sebanyak sekarang.

Tetapi waktu tidak mengenal nostalgia.

Ia terus berjalan.

Maka tugas kita bukan memaksa waktu mundur.

Tugas kita adalah berjalan bersamanya.

Hari ini kita mungkin tidak sekuat sepuluh tahun lalu.

Tetapi mungkin kita lebih sabar.

Mungkin kita tidak lagi mengejar semua orang.

Mungkin kita sudah tahu mana yang penting dan mana yang hanya kebisingan.

Mungkin kita mulai memahami bahwa tidak semua pertengkaran perlu dimenangkan.

Mungkin kita akhirnya tahu bahwa tidur lebih awal jauh lebih menyenangkan daripada debat politik di media sosial sampai pukul dua pagi.

Kalau begitu, bukankah ada sesuatu yang kita peroleh dari usia?


Menua dengan Anggun, Bukan dengan Panik

Pada akhirnya, menjadi tua bukanlah kegagalan.

Kegagalan adalah menghabiskan seluruh hidup kita dengan sibuk membenci kenyataan bahwa kita sedang hidup.

Colette mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana:

Kita harus pergi.

Maka pergilah.

Bawalah kesehatan jika masih ada.

Bawalah keceriaan.

Bawalah daya tarik tanpa harus terobsesi.

Bawalah kebaikan.

Bawalah keadilan.

Bawalah kenangan, tetapi jangan menjadikannya tempat tinggal permanen.

Dan kalau rambut sudah memutih, jangan buru-buru menganggapnya sebagai musuh.

Mungkin ia hanya sedang memberi tahu bahwa kita telah berjalan cukup jauh.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak membutuhkan wajah yang selalu muda.

Ia membutuhkan jiwa yang tidak kehilangan kemampuan untuk mencintai kehidupan.

Jadi, kalau besok pagi kita bercermin dan menemukan satu kerutan baru, jangan langsung panik.

Tataplah baik-baik.

Tersenyumlah.

Lalu katakan:

“Selamat datang. Rupanya kamu sudah sampai juga.”

Setelah itu, pakailah sunscreen.

Karena menerima takdir tidak berarti menolak akal sehat.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026