Senin, 13 Juli 2026

Kalau Semua Boleh, Buat Apa Ada Nurani?


Catatan Ringan tentang Dostoevsky, Netizen, dan Gorengan yang Hilang

Ada satu pertanyaan yang selalu membuat saya curiga kepada manusia.

Mengapa orang yang mengambil gorengan terakhir di meja rapat selalu pura-pura sibuk melihat ponsel?

Kalau memang semua boleh, harusnya dia mengambil gorengan itu dengan penuh percaya diri. Bahkan mungkin sambil berpidato, "Saudara-saudara, berdasarkan prinsip kebebasan universal, saya nyatakan bakwan ini resmi menjadi milik saya."

Nyatanya tidak begitu.

Ia melirik kanan.

Melirik kiri.

Lalu bergerak secepat ninja yang baru melihat diskon.

Mengapa?

Karena jauh di dalam dadanya masih ada makhluk kecil bernama nurani. Makhluk ini memang tidak bisa dilihat di USG, tidak muncul di hasil MRI, tetapi kemampuannya luar biasa. Ia bisa membuat seseorang tidak bisa tidur hanya karena mengaku "OTW" padahal masih pakai handuk.

Fyodor Dostoevsky rupanya sudah mengenal makhluk ini jauh sebelum media sosial ditemukan.

Dalam The Brothers Karamazov, ia memperingatkan bahwa jika manusia kehilangan nurani, maka hidup tinggal soal memenuhi insting. Tidak ada lagi dosa. Tidak ada lagi kebajikan. Yang ada hanya pertanyaan praktis:

"Untungnya buat saya apa?"

Kalimat itu terdengar modern sekali.

Bahkan terlalu modern.

Hari ini kita hidup di zaman ketika hampir semua hal memiliki departemen humas yang siap membela.

Korupsi?

"Itu optimalisasi anggaran."

Bohong?

"Itu pengelolaan persepsi."

Pamer?

"Itu personal branding."

Malas?

"Itu sedang menjaga kesehatan mental."

Menghilang saat ditagih utang?

"Itu sedang menjalani digital detox."

Hebat memang manusia. Kita mungkin satu-satunya spesies yang bisa mengganti nama dosa menjadi istilah yang terdengar seperti seminar bisnis.

Dostoevsky pasti akan mengelus dada melihat kemampuan kita mencuci istilah. Mesin cuci modern kalah canggih dibanding kemampuan manusia mencuci nurani.

Yang lucu, manusia sebenarnya tahu kapan ia sedang salah.

Coba perhatikan.

Orang yang jujur tidak pernah gugup ketika pintu rumah diketuk.

Sebaliknya, orang yang baru saja melakukan kesalahan bisa panik hanya karena mendengar suara motor berhenti di depan rumah.

Padahal yang datang ternyata tukang galon.

Nurani memang suka bercanda.

Ia membuat polisi tidak perlu bekerja lembur di dalam kepala kita.

Kadang ia muncul saat kita hendak tidur.

Kadang saat sedang mandi.

Kadang ketika membaca komentar netizen yang kebetulan benar.

Ia seperti ibu-ibu kompleks.

Tidak pernah diundang.

Tetapi selalu tahu apa yang kita lakukan.

Sayangnya, zaman sekarang banyak orang memperlakukan nurani seperti aplikasi bawaan ponsel.

Tidak pernah dibuka.

Tidak pernah diperbarui.

Kalau muncul notifikasi, langsung ditekan "Nanti Saja."

Sebaliknya, aplikasi media sosial diperiksa setiap tiga menit.

Jumlah pengikut naik dua orang, bahagia.

Harga saham naik sedikit, bahagia.

Like bertambah seratus, bahagia.

Tetapi hati mulai kehilangan kepekaan?

"Ah... nanti juga normal sendiri."

Masalahnya, nurani bukan luka ringan.

Ia lebih mirip alarm kebakaran.

Kalau terus-menerus dimatikan, suatu hari rumahnya benar-benar terbakar, dan kita baru sadar bahwa tombol snooze ternyata bukan solusi hidup.

Media sosial memperlihatkan fenomena yang sangat menarik.

Semua orang ingin terlihat benar.

Sangat sedikit yang ingin benar-benar menjadi baik.

Kolom komentar sering berubah menjadi arena pencak silat intelektual.

Semua membawa data.

Semua membawa grafik.

Semua membawa tautan.

Yang tidak ada hanya kerendahan hati untuk berkata,

"Oh iya ya... mungkin saya salah."

Kalimat itu sekarang lebih langka daripada parkir kosong di pusat kota.

Padahal dunia tidak kekurangan orang pintar.

Kita kekurangan orang yang mau mendengarkan suara kecil dalam dirinya sendiri.

Suara yang berkata,

"Sudahlah... jangan ikut menyebarkan berita yang belum jelas."

"Sudahlah... jangan menghina orang hanya karena berbeda pilihan."

"Sudahlah... jangan ambil gorengan terakhir itu."

Terutama yang terakhir.

Karena dari gorengan, peradaban bisa diuji.

Dostoevsky tampaknya memahami satu hal yang sering kita lupakan.

Masalah terbesar manusia bukan kurangnya ilmu.

Melainkan terlalu pintarnya manusia mencari pembenaran.

Kita bisa membuat seribu alasan mengapa kesalahan kita sebenarnya bukan kesalahan.

Kalau perlu dibuat infografis.

Lengkap dengan diagram lingkaran.

Ditambah musik latar yang mengharukan.

Lalu diunggah dengan tagar #JanganMenghakimi.

Padahal inti persoalannya sederhana.

Nurani tidak bertanya seberapa viral tindakan kita.

Ia hanya bertanya,

"Kalau semua lampu dimatikan, semua kamera dicabut, semua saksi pulang, apakah kamu masih mau melakukan itu?"

Pertanyaan itu sederhana.

Jawabannya sering kali membuat kita menelan ludah.

Mungkin karena itulah nurani tidak pernah populer.

Ia tidak memberi tepuk tangan.

Tidak memberi medali.

Tidak membuat kita trending.

Ia hanya membuat kita tetap menjadi manusia.

Dan menurut saya, itu sudah lebih dari cukup.

Sebab ketika dunia sibuk mengejar citra, kekuasaan, keuntungan, dan validasi digital, barangkali tindakan paling revolusioner hari ini bukanlah menjadi orang paling terkenal.

Melainkan tetap bisa pulang ke rumah, bercermin, lalu berkata kepada diri sendiri,

"Syukurlah... hari ini saya masih belum berhasil membungkam nurani."

Kalau itu masih bisa kita lakukan, berarti masih ada harapan.

Dan selama masih ada harapan, silakan ambil gorengan.

Asal satu saja.

Jangan rakus.

Karena bahkan bakwan pun punya hak asasi

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Jangan Salahkan Sushi: Lima Filosofi Jepang yang Disangka Jalan Tol Menuju Kebahagiaan

Konon, orang Jepang bangun pukul lima pagi dengan wajah segar, semangat membara, lalu berangkat bekerja sambil tersenyum kepada matahari. Sementara itu, sebagian dari kita bangun pukul lima juga—tetapi karena alarm ketiga berbunyi, ayam tetangga ikut berkokok, dan grup WhatsApp keluarga sudah mengirim tiga puluh tujuh video "selamat pagi". Bedanya tipis. Mereka bangun untuk berlari mengejar mimpi, kita bangun untuk mematikan notifikasi.

Di media sosial, penyebab perbedaan itu sudah ditemukan. Bukan nasi, bukan teh hijau, bukan kereta yang selalu tepat waktu. Jawabannya adalah lima filosofi Jepang: Kaizen, Ikigai, Oubaitori, Wabi-Sabi, dan Hara Hachi Bu. Lima kata yang terdengar begitu elegan sehingga kalau diucapkan sambil memegang secangkir kopi, kita langsung merasa hidup lebih bermakna meski tagihan listrik belum dibayar.

Masalahnya, internet punya kebiasaan mengubah filosofi yang lahir dari sejarah panjang menjadi resep mi instan. Tinggal seduh satu menit, hidup berubah. Seolah-olah setelah membaca satu utas di media sosial, besok pagi kita otomatis menjadi samurai produktivitas.

Mari kita lihat satu per satu.

Kaizen mengajarkan perbaikan kecil setiap hari. Ide ini memang indah. Bayangkan hidup seperti menabung recehan. Hari ini belajar lima menit, besok enam menit, lusa tujuh menit. Lama-lama terkumpul menjadi keahlian.

Sayangnya, banyak orang menerjemahkan Kaizen menjadi, "Hari ini saya membuka buku selama tiga menit. Besok saya niat membuka lagi." Bukunya memang terbuka, tetapi isinya tetap tidak terbaca karena yang dibuka justru media sosial.

Kaizen sebenarnya bukan sulap. Ia lebih mirip tetesan air yang sabar mengikis batu. Tidak gaduh, tidak viral, tetapi diam-diam mengubah bentuk gunung. Masalahnya, kita hidup di zaman yang menganggap perubahan harus secepat mi instan. Kalau dalam tiga hari belum sukses, kita mulai curiga bahwa semesta sedang bersekongkol.

Lalu datanglah Ikigai, alasan untuk bangun setiap pagi.

Media sosial menggambarkannya seperti harta karun yang tinggal ditemukan. Padahal kenyataannya, banyak orang bangun pagi bukan karena menemukan makna hidup, melainkan karena cicilan rumah juga punya alarm sendiri.

Ikigai bukan berarti setiap hari kita melompat dari tempat tidur sambil berteriak, "Inilah panggilanku!" Ada hari-hari ketika panggilan terbesar dalam hidup hanyalah suara teko mendidih yang mengajak membuat kopi.

Makna hidup sering kali tidak muncul seperti petir yang menyambar langit. Ia tumbuh pelan seperti pohon mangga di halaman. Lama, kadang membosankan, tetapi suatu hari memberi buah yang membuat penantian terasa masuk akal.

Kemudian ada Oubaitori, filosofi yang mengatakan setiap bunga mekar pada waktunya.

Ini mungkin filosofi yang paling sering dikutip, terutama setelah melihat teman seusia sudah punya rumah, mobil, jabatan, usaha, dan liburan ke Jepang—sementara kita masih membandingkan harga cabai di pasar.

Oubaitori mengingatkan bahwa sakura tidak iri kepada pohon plum. Pohon persik juga tidak protes karena mekar belakangan.

Yang lucu, manusia justru bisa iri kepada orang yang bahkan belum dikenalnya. Cukup melihat foto seseorang memakai jas di LinkedIn, kita langsung merasa gagal menjadi manusia. Padahal bisa saja lima menit sebelum foto itu diambil, orang tersebut sedang panik mencari password Wi-Fi.

Media sosial membuat kita membandingkan proses hidup sendiri dengan hasil akhir orang lain. Itu seperti membandingkan adonan mentah dengan kue yang sudah keluar dari oven. Tentu saja adonannya terlihat kalah menarik. Padahal, ia hanya belum selesai dipanggang.

Berikutnya adalah Wabi-Sabi, seni menerima ketidaksempurnaan.

Ini filosofi yang sangat menenangkan, terutama bagi orang yang mengetik pesan panjang lalu menemukan salah ketik setelah tombol kirim ditekan.

Di Jepang, ada seni Kintsugi, memperbaiki keramik retak dengan emas sehingga retakannya menjadi bagian dari keindahan.

Di kehidupan kita, retakan sering ditutup dengan stiker atau lakban. Bahkan kadang retakan hati juga ditutup dengan unggahan yang berbunyi, "Tidak apa-apa," padahal jelas-jelas masih apa-apa.

Wabi-Sabi mengingatkan bahwa hidup bukan lomba menjadi manusia tanpa cacat. Justru bekas luka sering kali menjadi peta yang menunjukkan seberapa jauh kita telah berjalan. Tanpa retakan, cahaya mungkin tidak pernah menemukan jalan masuk.

Terakhir, Hara Hachi Bu, makan sampai delapan puluh persen kenyang.

Filosofi ini sederhana, tetapi bertemu musuh yang sangat tangguh: prasmanan hajatan.

Di depan meja prasmanan, teori sering kalah oleh aroma rendang. Pikiran berkata, "Cukup delapan puluh persen." Tangan menjawab, "Tambah sedikit lagi, kasihan ayamnya kalau tidak dihabiskan."

Namun Hara Hachi Bu sebenarnya bukan sekadar soal makanan. Ia adalah pengingat bahwa hidup juga perlu ruang kosong. Kalender yang penuh membuat jiwa sesak. Ambisi yang berlebihan membuat hati kehabisan oksigen.

Ironisnya, kita sering memperlakukan hidup seperti koper menjelang mudik. Semua ingin dimasukkan. Semua ingin dikejar. Sampai akhirnya resletingnya jebol.

Meski demikian, ada satu hal yang perlu kita waspadai dari semua konten motivasi semacam ini.

Kadang-kadang Jepang diperlakukan seperti negeri dongeng. Seolah-olah semua warganya sehat, tenang, bahagia, dan tidak pernah stres. Padahal kenyataan selalu lebih rumit daripada unggahan Instagram.

Jepang juga mengenal tekanan kerja yang tinggi, kesepian, populasi yang menua, bahkan istilah karoshi—kematian akibat bekerja berlebihan. Artinya, filosofi yang indah tidak otomatis menghapus realitas yang keras.

Mengambil inspirasi dari Jepang tentu baik. Tetapi menelan mentah-mentah narasi bahwa semua masalah hidup selesai hanya dengan lima kata berbahasa Jepang sama saja seperti percaya payung bisa menghentikan musim hujan.

Filosofi bukan mantra. Ia kompas.

Kompas tidak menggendong kita menuju tujuan. Ia hanya menunjukkan arah. Yang tetap harus berjalan adalah kaki kita sendiri.

Mungkin pelajaran paling berharga bukanlah bagaimana menjadi orang Jepang, melainkan bagaimana menjadi diri sendiri dengan lebih bijaksana. Kaizen mengajak kita bertumbuh perlahan. Ikigai mengingatkan bahwa hidup layak dijalani karena memiliki makna. Oubaitori menyuruh kita berhenti menghitung bunga tetangga. Wabi-Sabi mengajari kita berdamai dengan retakan. Hara Hachi Bu membisikkan bahwa "cukup" sering kali lebih sehat daripada "lebih."

Dan kalau besok pagi Anda masih bangun dengan mata berat, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Bisa jadi Anda memang kurang tidur, bukan kurang filosofi.

Sebab hidup yang baik tidak selalu dimulai dengan bangun pukul lima pagi. Kadang ia dimulai dari keberanian mengubah satu kebiasaan kecil hari ini, menertawakan kekacauan diri sendiri, lalu melanjutkan perjalanan tanpa sibuk membandingkan peta hidup dengan milik orang lain.

Lagipula, bahkan bunga sakura pun tidak pernah mekar sambil melihat kalender bunga sebelah.

 abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Minggu, 12 Juli 2026

Sufi di Era Wi-Fi: Ketika Keikhlasan Tak Bisa Diunggah ke Story

Konon, jika seorang sufi hidup di zaman sekarang, ia mungkin akan mengalami kebingungan yang cukup berat. Bukan karena sulit menemukan guru, melainkan karena setiap kali hendak berzikir, ponselnya bergetar memberi notifikasi, "Kenangan Anda lima tahun lalu." Padahal ia sedang berusaha melupakan dirinya sendiri, bukan justru diingatkan algoritma bahwa dulu pernah makan bakso dengan tambahan kerupuk.

Begitulah nasib spiritualitas di era digital. Jalan menuju ma'rifat kini sering macet oleh lalu lintas konten motivasi, video pendek, dan kutipan bijak yang berlomba-lomba mencari "engagement". Kadang-kadang kita lebih sibuk menghitung jumlah penonton ceramah daripada menghitung jumlah kelalaian dalam hati. Seolah-olah surga memiliki fitur analitik: berapa viewers, berapa subscriber, dan berapa persen retensi penonton.

Di sinilah kajian Menjelang Ma'rifat hadir seperti segelas teh hangat di tengah rapat Zoom yang terlalu panjang. Ia mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah tidak ditempuh dengan sinyal 5G, tetapi dengan keikhlasan yang bahkan malaikat pun tidak bisa mengukurnya secara kasat mata.

Sedekah Bukan Program Cashback

Kajian ini dimulai dari pembahasan tentang sedekah. Allah melipatgandakan pahala sedekah yang berasal dari harta yang halal dan baik. Sederhana, tetapi kemudian berkembang menjadi pelajaran yang jauh lebih dalam: semua amal bergantung pada keikhlasan.

Masalahnya, manusia modern sering kali memperlakukan ibadah seperti aplikasi belanja daring.

"Sedekah Rp100 ribu, kembali satu juta."

"Salat tahajud tujuh malam, rezeki langsung cair."

"Amalan ini dijamin membuat semua masalah selesai."

Kalau semua ibadah dihitung seperti investasi, jangan-jangan suatu hari nanti ada orang bertanya kepada malaikat, "Mohon maaf, ROI pahala saya semester ini berapa persen?"

Padahal ikhlas justru bekerja seperti akar pohon. Ia tidak terlihat, tidak dipuji, bahkan sering diinjak-injak. Tetapi justru akar itulah yang membuat pohon tetap tegak ketika badai datang. Orang sibuk memotret buahnya, sementara kehidupan pohon diselamatkan oleh sesuatu yang tidak pernah masuk kamera.

Keikhlasan memang tidak fotogenik.

Fenomena Sufi Instan

Di zaman mi instan, tampaknya muncul pula sufi instan.

Cukup memakai pakaian longgar, berbicara pelan sambil sesekali menatap langit, lalu setiap kalimat diakhiri dengan, "Ini rahasia yang belum banyak orang tahu."

Padahal yang belum banyak orang tahu biasanya bukan rahasia langit, melainkan sumber kutipannya.

Kajian ini mengingatkan bahwa tasawuf tidak pernah berdiri melawan syariat. Justru syariat adalah jalannya, sedangkan tasawuf adalah ruh yang menghidupinya. Ibarat kopi dan cangkir, keduanya saling membutuhkan. Orang yang hanya memegang cangkir tanpa kopi akan tetap haus. Sebaliknya, membawa kopi tanpa cangkir biasanya berakhir dengan baju yang penuh noda.

Karena itu, mengaku telah sampai kepada Allah sambil meninggalkan syariat sama seperti seseorang yang mengaku telah sampai ke puncak gunung padahal baru memasuki area parkir.

Semangatnya memang luar biasa.

Lokasinya saja yang masih jauh.

Ketika Ego Menjadi Barang yang Harus Dibuang

Bagian paling menarik dari kajian ini adalah penjelasan tentang sufi sejati.

Ternyata cirinya bukan bisa berjalan di atas air.

Kalau itu, bebek juga bisa.

Bukan pula bisa mengetahui isi hati orang lain.

Kalau itu, ibu-ibu di kampung sering kali lebih cepat daripada teknologi kecerdasan buatan.

Sufi sejati justru ditandai oleh sesuatu yang jauh lebih sulit: ucapan, tindakan, dan geraknya tidak dikendalikan hawa nafsu. Ia tidak mudah dipermainkan pujian, tidak tumbang karena cacian, dan tidak berubah sikap hanya karena isi rekening berubah.

Inilah yang dalam tasawuf disebut sebagai "ada tanpa merasa ada."

Kalimat ini terdengar membingungkan sampai kita melihat kipas angin. Semua orang merasakan anginnya, tetapi jarang ada yang memuji baling-balingnya. Ia bekerja tanpa meminta tepuk tangan.

Sebaliknya, ego manusia sering seperti alarm mobil. Sedikit tersenggol langsung berbunyi panjang, berharap seluruh kompleks mengetahui bahwa dirinya sedang tersakiti.

Tasawuf mengajarkan sebaliknya: semakin dekat kepada Allah, semakin pelan suara ego kita.

Dunia yang Terlalu Berisik

Kita hidup di zaman ketika semua orang berlomba menjadi pusat perhatian. Bahkan secangkir kopi pun harus difoto dari tiga sudut sebelum diminum. Kadang kopi sudah dingin, tetapi unggahannya masih hangat menerima komentar.

Dalam suasana seperti itu, keikhlasan menjadi makhluk yang langka. Ia seperti kunang-kunang di tengah kota besar. Bukan karena sudah punah, melainkan karena cahaya lampu membuat kita lupa bahwa masih ada cahaya kecil yang jauh lebih indah.

Tasawuf tidak mengajak manusia lari dari dunia. Ia hanya mengingatkan agar dunia tidak pindah ke dalam hati.

Perahu memang harus berada di atas air.

Tetapi ketika air masuk ke dalam perahu, tenggelam hanyalah soal waktu.

Begitu pula harta, jabatan, dan popularitas. Semuanya boleh berada di tangan. Yang berbahaya adalah ketika semuanya pindah menjadi penghuni tetap hati.

Menjadi Biasa Itu Luar Biasa

Mungkin inilah paradoks terbesar dalam tasawuf.

Semakin tinggi derajat seseorang di sisi Allah, semakin kecil keinginannya untuk terlihat tinggi di hadapan manusia.

Sufi sejati bukan orang yang sibuk membangun citra sebagai manusia langit. Ia justru sibuk menjadi manusia biasa yang diam-diam memperbaiki dirinya. Ia tidak mengejar gelar "wali", apalagi mencantumkannya di kartu nama.

Pada akhirnya, perjalanan menuju ma'rifat bukanlah perlombaan siapa yang paling banyak mengetahui rahasia langit. Ia adalah perjalanan panjang membersihkan cermin hati agar pantulan cahaya Ilahi tidak lagi terhalang oleh debu kesombongan.

Dan mungkin, di zaman ketika semua orang ingin viral, salah satu bentuk kewalian yang paling langka adalah mampu berbuat baik tanpa merasa perlu mengabarkannya kepada siapa pun.

Sebab di hadapan Allah, yang paling nyaring bukanlah suara yang paling keras, melainkan hati yang paling hening.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Kalau Masih Waras, Jangan Jadi Penulis!

Tentang Orang-Orang yang Memilih Bertengkar dengan Kertas

Ada dua jenis orang yang mengatakan, "Aku ingin menjadi penulis."

Jenis pertama mengucapkannya setelah membaca novel pemenang Nobel sambil menyeruput kopi di kafe estetik. Jenis kedua mengucapkannya pukul dua dini hari ketika kepalanya penuh kata-kata yang tidak mau tidur.

Yang pertama biasanya membeli notebook kulit seharga setengah gaji. Yang kedua biasanya menulis di balik struk belanja karena takut ide itu kabur duluan.

Paul Auster tampaknya hanya percaya pada jenis yang kedua.

Sebab nasihatnya terkenal kejam sekaligus menyegarkan:

"Jangan menjadi penulis."

Bayangkan. Nasihat itu datang bukan dari tukang parkir yang gagal menerbitkan puisi, melainkan dari seorang penulis kelas dunia. Rasanya seperti mendengar koki bintang lima berkata, "Kalau masih punya pilihan, jangan buka restoran."

Kalimat itu memang terdengar seperti sabotase terhadap cita-cita. Padahal sebenarnya ia sedang membersihkan karat romantisme yang menempel di kepala kita.

Karena banyak orang jatuh cinta pada bayangan menjadi penulis, bukan pada pekerjaan menulis.


Masyarakat memang memiliki imajinasi yang luar biasa tentang kehidupan penulis.

Dalam film, penulis selalu tinggal di apartemen mungil yang artistik. Ada jendela besar, hujan turun pelan, seekor kucing tidur di dekat mesin tik, lalu tiba-tiba lahirlah mahakarya.

Yang tidak pernah diperlihatkan kamera adalah penulis yang menatap layar kosong selama tiga jam hanya untuk menghapus satu kalimat yang ditulisnya sendiri.

Kalau inspirasi itu benar-benar seperti burung, sebagian penulis pasti sudah memasang perangkap, sangkar, bahkan CCTV.

Faktanya, inspirasi sering berperilaku seperti kucing tetangga. Dipanggil tidak datang. Ketika kita sedang mandi atau naik motor, barulah ia muncul sambil berkata, "Eh, aku punya ide bagus."

Begitu kita duduk di depan laptop...

Hilang.

Seperti janji politik menjelang pemilu.


Auster lalu menyebut tiga teman akrab penulis: kemiskinan, kesendirian, dan kegelapan.

Kalau profesi lain menawarkan paket tunjangan kesehatan, profesi penulis kadang menawarkan paket "semoga kuat."

Kemiskinan bukan sekadar isi dompet yang tipis.

Ia adalah kemampuan ajaib untuk mengubah mie instan menjadi makanan bertema sastra.

Kesendirian juga bukan sekadar tidak punya teman.

Kesendirian penulis adalah ketika semua orang mengira ia sedang santai karena hanya duduk menatap layar.

Padahal di dalam kepalanya sedang terjadi perang saudara antara paragraf pertama dan paragraf terakhir.

Sedangkan kegelapan?

Itu adalah momen ketika kita membaca tulisan sendiri lalu bertanya dengan penuh filosofi,

"Ini sebenarnya bagus atau aku cuma kurang tidur?"

Tidak ada jawaban.

Bahkan kursor pun hanya berkedip seperti sedang mengejek.


Namun musuh terbesar penulis ternyata bukan editor.

Bukan penerbit.

Bukan bahkan pembaca yang meninggalkan ulasan satu bintang dengan komentar, "Bukunya terlalu banyak kata."

Musuh terbesar penulis adalah ego.

Ego itu makhluk lucu.

Ia selalu membisikkan hal-hal yang terdengar mulia.

"Bayangkan bukumu difilmkan."

"Bayangkan diundang ke festival sastra."

"Bayangkan tanda tanganmu diperebutkan orang."

Masalahnya, ego tidak pernah membisikkan kemungkinan lain.

Misalnya...

"Bayangkan bukumu dibeli ibumu sendiri karena kasihan."

Atau...

"Bayangkan satu-satunya orang yang memberi ulasan adalah temanmu, dan itu pun karena kamu yang memintanya."

Ego selalu menjual trailer.

Hidup justru memberikan film dokumenternya.


Di zaman media sosial, ego memperoleh vitamin tambahan.

Hari ini banyak orang ingin menjadi penulis karena ingin punya bio yang berbunyi:

"Author."

Padahal yang lebih sering dikerjakan justru menghitung jumlah "like."

Ada yang lebih sering menyegarkan notifikasi daripada memperbaiki naskah.

Kalau algoritma sedang baik hati, ia merasa dirinya Tolstoy.

Kalau unggahan sepi, mendadak merasa seluruh dunia membenci sastra.

Padahal algoritma hanyalah satpam pusat perbelanjaan digital.

Tugasnya mengatur lalu lintas manusia.

Bukan menentukan kualitas jiwa.

Sayangnya kita sering menyerahkan harga diri kepada mesin yang bahkan tidak tahu cara menikmati puisi.


Auster lalu memberikan syarat yang terdengar seperti mantra kuno:

Menulislah hanya jika kau terbakar.

Bukan terbakar karena iri melihat teman menerbitkan buku.

Bukan terbakar karena ingin terkenal.

Tetapi terbakar karena kata-kata di dalam kepalamu sudah seperti jagung dalam panci berisi pasir panas.

Kalau tidak segera dituangkan, semuanya akan meletup ke mana-mana.

Penulis sejati memang aneh.

Ia menulis bahkan ketika tidak ada yang membaca.

Ia menulis ketika bukunya tidak laku.

Ia menulis ketika listrik padam.

Kalau perlu, ia akan menulis di belakang kuitansi bengkel.

Karena baginya, menulis bukan pekerjaan.

Menulis adalah cara otaknya bernapas.


Lalu tibalah nasihat paling pahit:

"Dunia tidak berutang apa pun kepadamu."

Kalimat ini rasanya seperti es batu yang dilempar ke wajah orang yang sedang berkhayal memenangkan penghargaan sastra.

Dunia tidak pernah bangun pagi sambil berkata,

"Hari ini mari kita membuat Burhan terkenal."

Tidak.

Dunia sibuk membayar cicilan.

Dunia sibuk mengantar anak sekolah.

Dunia sibuk mencari sinyal internet.

Tulisan kita hanyalah setetes hujan di tengah badai informasi.

Tetapi justru di situlah kebebasannya.

Begitu kita berhenti meminta tepuk tangan, kita mulai mendengar suara sendiri.

Begitu kita berhenti mengejar pujian, kalimat-kalimat menjadi lebih jujur.

Tulisan tidak lagi berdandan untuk pesta.

Ia pulang ke rumah.


Mungkin inilah paradoks paling lucu dalam dunia kepenulisan.

Semakin keras seseorang mengejar gelar "penulis hebat", semakin besar kemungkinan ia kelelahan.

Sebaliknya, mereka yang sekadar sibuk menulis sering kali diam-diam menghasilkan karya yang bertahan lebih lama daripada umur notifikasi.

Kata-kata ternyata seperti pohon.

Ia tidak tumbuh karena diteriaki.

Ia tumbuh karena diam-diam menembus tanah.


Jadi, kalau setelah membaca semua peringatan Paul Auster Anda masih ingin menjadi penulis, saya hanya punya dua kemungkinan.

Pertama, Anda memang keras kepala.

Kedua, Anda memang terpanggil.

Dan anehnya, sejarah sastra menunjukkan bahwa sering kali kedua hal itu adalah orang yang sama.

Silakan menulis.

Tetapi jangan berharap dunia memasang karpet merah.

Dunia bahkan kadang lupa mengembalikan buku yang dipinjam.

Menulislah karena tanpa menulis, kepala terasa seperti gudang penuh nyamuk yang berdengung tanpa henti.

Menulislah karena kata-kata adalah cara jiwa merapikan kekacauan.

Dan bila suatu hari ada pembaca yang menemukan dirinya di dalam tulisan Anda, anggaplah itu bonus yang indah—bukan tujuan utama.

Sebab pada akhirnya, penulis bukanlah orang yang berhasil menerbitkan buku.

Penulis adalah orang yang tetap menulis, bahkan ketika satu-satunya tepuk tangan berasal dari suara keyboardnya sendiri.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tim Investigasi Tanpa Anggaran: Ketika Kepo Lebih Rajin daripada Peduli

Ada satu profesi yang jumlah pegawainya paling banyak di dunia, tetapi anehnya tidak pernah membuka lowongan. Mereka tidak digaji, tidak berseragam, tidak punya kartu identitas, namun dedikasinya luar biasa. Mereka adalah anggota Tim Investigasi Kehidupan Orang Lain.

Mereka selalu hadir di saat yang tepat. Ketika mendengar seseorang sedang tertimpa musibah, mereka muncul lebih cepat daripada ambulans. Ketika ada kabar perceraian, PHK, utang, gagal menikah, atau anak yang tiba-tiba menghilang dari media sosial, radar mereka langsung berbunyi.

"Eh, sebenarnya kenapa sih?"

Kalimat itu terdengar seperti pembuka doa, padahal sering kali hanya pembuka gosip.

Ahmed Khaled Tawfik, penulis Mesir yang terkenal dengan lidah setajam pisau bedah, pernah menyindir sifat manusia yang menurutnya sangat menjijikkan: ingin mengetahui seluruh isi hidup seseorang hanya karena penasaran, padahal sejak awal sudah tahu dirinya tidak akan membantu apa pun.

Kalimat itu pendek, tetapi efeknya seperti sandal yang dilempar ibu dari dapur—tidak panjang, tetapi tepat sasaran.


Lucunya, manusia memang makhluk yang aneh.

Kalau melihat tetangga membawa koper besar, otak langsung bekerja seperti detektif profesional.

"Mau ke mana?"

"Berapa hari?"

"Naik apa?"

"Siapa saja?"

"Biayanya berapa?"

Yang bertanya bahkan lebih lengkap daripada petugas bandara.

Namun setelah semua informasi diperoleh, kontribusinya hanya satu kalimat legendaris.

"Oh..."

Lalu pulang.

Informasi sudah dikumpulkan, rasa penasaran sudah kenyang, tetapi tidak ada satu gram pun manfaat yang dihasilkan. Seolah-olah hidup orang lain adalah serial televisi yang wajib diikuti setiap episodenya.


Media sosial memperparah kebiasaan ini.

Sekarang penderitaan memiliki tombol "Like."

Kesedihan memiliki kolom komentar.

Kebangkrutan memiliki emoji menangis.

Perceraian memiliki ribuan penonton.

Kita hidup pada zaman ketika tragedi berubah menjadi konten.

Ada seseorang yang menulis panjang lebar tentang perjuangannya melawan penyakit. Ribuan orang berkomentar,

"Semangat ya."

"Aamiin."

"Stay strong."

Kalimat-kalimat itu tentu tidak salah. Bahkan bisa menjadi penguat. Tetapi sering kali semuanya berhenti di sana.

Empati berubah menjadi stiker digital.

Kepedulian cukup dibayar dengan emoji.

Seolah-olah hati manusia kini memiliki paket data: aktif selama lima detik, lalu habis masa berlakunya.


Yang lebih lucu lagi adalah kemampuan manusia menyimpan informasi yang tidak berguna.

Kita lupa tanggal membayar listrik.

Lupa ulang tahun pasangan.

Lupa meletakkan kunci motor.

Tetapi kita hafal bahwa sepupu teman SMA pernah bertengkar dengan mertuanya pada tahun 2019 gara-gara masalah pagar.

Otak manusia rupanya memiliki lemari arsip khusus bernama "Informasi yang Tidak Ada Gunanya tetapi Sayang Kalau Dibuang."

Ilmu pengetahuan mungkin menyebutnya memori jangka panjang.

Ibu-ibu kompleks menyebutnya "buat jaga-jaga."


Fenomena ini sebenarnya sudah tua.

Dulu orang berkumpul di sumur.

Lalu pindah ke warung kopi.

Kemudian ke grup WhatsApp.

Sekarang ke kolom komentar.

Teknologinya berubah.

Rasa penasarannya tetap sama.

Yang berganti hanya kecepatan internet.


Mengapa kita begitu ingin tahu kehidupan orang lain?

Psikolog mungkin menjawab dengan teori perbandingan sosial. Kita merasa lebih nyaman ketika mengetahui bahwa ternyata hidup orang lain juga berantakan.

Ada hiburan kecil dalam kalimat,

"Oh... ternyata bukan saya saja."

Ironisnya, kebahagiaan seperti ini mirip orang yang melihat kapal lain bocor agar dirinya lupa bahwa perahunya sendiri juga kemasukan air.

Padahal dua-duanya tetap akan sibuk menimba.


Dalam tradisi Islam ada larangan tajassus—mencari-cari aib orang lain.

Larangan ini menarik.

Bukan karena Tuhan ingin manusia berhenti penasaran.

Mustahil.

Rasa ingin tahu adalah bawaan pabrik.

Yang dilarang adalah ketika rasa ingin tahu berubah menjadi hobi mengintip kehidupan orang lain tanpa membawa manfaat sedikit pun.

Kalau penasaran itu seperti garam, secukupnya membuat hubungan menjadi akrab.

Tetapi kalau satu karung ditumpahkan ke dalam sayur, yang lahir bukan keakraban, melainkan gagal ginjal sosial.


Namun Tawfik juga mengingatkan sesuatu yang lebih dalam.

Tidak semua orang yang bertanya benar-benar peduli.

Sebagian hanya mengumpulkan data.

Manusia ternyata memiliki bakat menjadi arsip nasional penderitaan orang lain.

Sayangnya, ketika diminta menjadi relawan untuk membantu, mendadak sinyalnya hilang.

Mereka seperti aplikasi gratis.

Rajin meminta akses ke kamera, mikrofon, lokasi, kontak, galeri foto, bahkan daftar belanja.

Tetapi ketika diminta menjalankan fungsi utama, muncul tulisan:

"Fitur ini belum tersedia di wilayah Anda."


Untungnya, dunia tidak sepenuhnya dipenuhi manusia seperti itu.

Masih ada orang-orang yang tidak banyak bertanya, tetapi diam-diam mengirim makanan.

Tidak sibuk mencari kronologi, melainkan mencari alamat.

Tidak penasaran dengan nominal utang, tetapi datang membawa beras.

Mereka jarang muncul di kolom komentar.

Sebab kebaikan sejati memang lebih suka bekerja lembur daripada berfoto.

Mereka mengerti bahwa telinga yang baik bukan hanya pandai mendengar cerita, melainkan juga mampu mendengar kebutuhan yang tidak diucapkan.


Barangkali ukuran kepedulian bukanlah seberapa banyak pertanyaan yang kita ajukan, melainkan seberapa ringan beban yang ditinggalkan setelah kita pulang.

Karena rasa ingin tahu tanpa empati ibarat turis yang datang ke daerah bencana: memotret, mengangguk prihatin, membeli es teh, lalu pulang membawa cerita.

Sementara para korban tetap sibuk membereskan puing-puing.

Maka lain kali ketika jari kita gatal ingin mengetik, "Sebenarnya ada apa?", mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri terlebih dahulu:

"Kalau dia menjawab, apakah aku siap membantu?"

Kalau jawabannya belum, mungkin yang perlu dipuaskan bukan rasa penasaran, melainkan rasa kemanusiaan.

Sebab dunia tidak sedang kekurangan orang yang ingin tahu.

Dunia jauh lebih kekurangan orang yang mau ikut memikul.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Sabtu, 11 Juli 2026

Ketika Hati Bukan Senter: Tentang Berburu Cahaya

Ada satu kebiasaan manusia modern yang cukup menggelikan. Kalau listrik mati lima menit saja, kita langsung panik mencari senter. Namun ketika hati sudah gelap bertahun-tahun, kita justru berkata, "Santai saja, nanti juga terang sendiri."

Padahal hati bukan kamar kos yang akan terang hanya karena tetangga menyalakan lampu. Hati punya instalasi listrik yang berbeda. Kabelnya bernama keikhlasan, saklarnya bernama taubat, dan sumber energinya bukan PLN, melainkan Allah. Celakanya, banyak dari kita lebih rajin mengisi daya ponsel daripada mengisi daya jiwa. Baterai ponsel tinggal 3% langsung mencari colokan. Baterai iman tinggal 0%, malah membuka media sosial.

Di sinilah kajian ini  datang seperti teknisi listrik yang sabar. Ia tidak menawarkan lampu LED spiritual, apalagi paket "cepat tercerahkan dalam tujuh hari". Ia justru mengajak kita memahami bahwa cahaya bukan sesuatu yang dibeli, melainkan sesuatu yang diterima oleh hati yang siap menerimanya.

Lucunya, manusia memang selalu ingin yang instan. Kalau bisa, hari Senin baru mulai wirid, hari Rabu sudah ingin dipanggil "orang yang makrifat". Baru dua kali mengikuti kajian tasawuf, sudah mulai berbicara dengan nada pelan, sesekali memejamkan mata sambil berkata, "Semua ini hanyalah ilusi dunia."

Padahal yang ilusi justru perasaan bahwa dirinya sudah sampai.

Kajian tentang bab Nur dalam Al-Hikam mengingatkan bahwa ada dua macam cahaya. Yang pertama adalah Nûr al-Tawajjuh, cahaya yang menemani orang yang sedang berjalan menuju Allah. Cahaya ini ibarat lampu depan kendaraan ketika melewati jalan pegunungan pada malam hari. Lampunya tidak menerangi seluruh perjalanan sekaligus. Ia hanya cukup menerangi beberapa meter di depan. Namun justru itulah yang membuat perjalanan bisa diteruskan.

Sebagian orang keberatan.

"Masa cuma kelihatan lima meter?"

Padahal hidup memang begitu. Allah jarang menunjukkan seluruh peta kehidupan sekaligus. Kalau semua masa depan diperlihatkan sejak awal, mungkin kita bukan menjadi hamba yang tawakal, melainkan penonton spoiler kehidupan.

Jenis cahaya kedua adalah Nûr al-Muwâjahah, cahaya bagi mereka yang telah sampai. Di sini hati bukan lagi sekadar pejalan, tetapi telah menjadi cermin yang memantulkan cahaya Ilahi.

Masalahnya, manusia sering tertukar.

Baru membeli sepatu gunung, sudah merasa berhasil menaklukkan Everest.

Baru membeli sajadah mahal, sudah merasa dekat dengan langit.

Baru hafal beberapa istilah Arab, sudah berbicara seolah-olah malaikat Jibril adalah teman lama.

Padahal perjalanan spiritual bukan lomba mengoleksi istilah. Ia lebih mirip membersihkan kaca jendela.

Semakin bersih kacanya, semakin jelas cahaya masuk.

Tidak ada kaca yang menjadi terang karena membanggakan dirinya sebagai kaca.

Yang membuatnya bercahaya justru karena ia berhenti dipenuhi debu.

Inilah salah satu metafora paling indah dalam Ayat An-Nur. Hati manusia diibaratkan seperti kaca. Kalau kaca itu bening, cahaya akan memancar. Tetapi kalau penuh debu kesombongan, kerak iri hati, sidik jari kemarahan, dan noda pamer amal, jangan salahkan matahari. Cahaya tidak pernah bermasalah. Yang bermasalah adalah kacanya.

Ironisnya, manusia lebih rajin membersihkan layar ponsel daripada membersihkan layar hati.

Layar ponsel sedikit buram langsung dibelai dengan kain mikrofiber.

Hati buram karena dendam bertahun-tahun malah dianggap sebagai "prinsip hidup".

Padahal dendam itu seperti menempelkan lumpur pada kaca lalu mengeluh mengapa matahari tidak kelihatan.

Kajian ini juga menyampaikan satu gagasan yang sering terlupakan: cahaya harus dibagikan.

Ini menarik.

Kalau seseorang punya uang seratus ribu lalu diberikan lima puluh ribu, uangnya tinggal separuh.

Tetapi kalau seseorang punya ilmu lalu membaginya, ilmunya justru semakin hidup.

Kalau seseorang punya senyum lalu membaginya, wajahnya tidak menjadi setengah.

Kalau seseorang punya doa lalu menghadiahkannya kepada orang lain, doanya tidak berkurang.

Ternyata hanya ego yang takut berkurang.

Cahaya tidak.

Barangkali karena cahaya memiliki sifat matahari. Matahari tidak pernah kehilangan sinarnya hanya karena menerangi jutaan rumah. Yang kehilangan justru orang yang memilih menutup jendelanya rapat-rapat.

Begitu pula pengalaman hidup.

Kajian ini menjelaskan bahwa masa lalu yang gelap bukanlah kesalahan produksi dari Allah. Bahkan pengalaman jatuh, tersesat, atau penuh dosa sering kali menjadi sekolah yang paling jujur. Orang yang pernah berjalan dalam gelap biasanya lebih menghargai sebatang lilin daripada mereka yang sejak kecil hidup di bawah lampu kristal.

Bekas luka sering kali lebih pandai bersyukur daripada kulit yang belum pernah tergores.

Karena itu, terlalu lama menangisi masa lalu sama lucunya dengan seseorang yang terus memeluk peta setelah ia menemukan jalan pulang.

Peta memang berjasa.

Tetapi rumah tetap harus dimasuki.

Yang juga menggelitik adalah penjelasan tentang frasa Lâ syarqiyyah wa lâ gharbiyyah—tidak timur dan tidak barat. Di zaman sekarang, kalimat itu seperti mengingatkan kita agar tidak sibuk memberi label pada cahaya.

Sebagian orang merasa semua yang datang dari Barat pasti sesat.

Sebagian lagi merasa semua yang datang dari Timur pasti mistis.

Padahal cahaya Allah tidak mengenal paspor.

Ia tidak mengurus visa.

Ia juga tidak membutuhkan cap imigrasi.

Yang ia cari hanyalah hati yang bersedia dibersihkan.

Sayangnya, manusia lebih suka memperdebatkan arah mata angin daripada arah hatinya sendiri.

Yang paling lucu, kita sering membayangkan cahaya spiritual sebagai kilatan spektakuler.

Harus ada sinar biru.

Harus ada aura keemasan.

Harus ada sensasi merinding.

Padahal bisa jadi cahaya terbesar dalam hidup seseorang justru berupa kemampuan meminta maaf lebih dulu.

Atau kemampuan diam ketika marah.

Atau kemampuan tetap jujur ketika tidak ada yang mengawasi.

Barangkali cahaya Ilahi memang lebih sering bekerja seperti matahari pagi daripada kembang api malam tahun baru.

Ia tidak berisik.

Tidak dramatis.

Tetapi perlahan-lahan menghangatkan kehidupan.

Pada akhirnya, perjalanan menuju Allah bukanlah perlombaan menjadi manusia paling bercahaya di mata orang lain. Sebab cahaya yang sibuk dipamerkan biasanya berubah menjadi lampu panggung. Terang memang, tetapi hanya selama pertunjukan berlangsung.

Cahaya sejati lebih menyerupai pelita di rumah nenek di kampung. Tidak pernah masuk berita, tidak viral, tidak menghasilkan jutaan penonton, tetapi cukup menerangi siapa saja yang datang mengetuk pintu.

Mungkin itulah makna terdalam dari Nûrun 'alâ Nûr—cahaya di atas cahaya.

Bukan ketika kepala kita dipenuhi istilah-istilah tasawuf yang rumit.

Melainkan ketika hati menjadi begitu bening sehingga kehadiran kita membuat orang lain merasa lebih tenang, lebih jujur, lebih sabar, dan sedikit lebih dekat kepada Allah.

Kalau itu sudah terjadi, kita tidak perlu mengumumkan bahwa kita telah menemukan cahaya.

Orang lain akan merasakannya, sebagaimana orang tidak perlu diberi tahu bahwa matahari telah terbit. Mereka cukup melihat gelap yang perlahan mengundurkan diri.

abah-arul.blogspot.com. Juli 2026