Ada satu kebiasaan manusia yang tampaknya tidak akan pernah punah: setiap kali menghirup napas segar di bawah pohon rindang, kita langsung merasa menjadi duta besar kehutanan. “Terima kasih, wahai pohon,” bisik kita dalam hati, seolah-olah daun-daun itu punya rekening donasi oksigen atas nama pribadi. Hutan pun selama ini menikmati status selebritas sebagai “paru-paru dunia”—lengkap dengan citra hijau, dramatis, dan sangat Instagramable.
Namun, suatu hari linimasa diguncang oleh pengakuan yang agak menyakitkan bagi para pohon: ternyata, separuh oksigen yang kita hirup itu bukan dari mereka. Ya, Anda tidak salah baca. Laut—yang selama ini cuma kita anggap tempat liburan, ikan bakar, dan kadang galau di tepi pantai—diam-diam adalah produsen oksigen kelas kakap.
Pelakunya bukan paus, bukan juga lumba-lumba yang gemar salto, melainkan makhluk mikroskopis bernama fitoplankton. Ukurannya kecil, nyaris tak terlihat, tapi kontribusinya? Bisa mencapai 50 hingga 80 persen oksigen atmosfer. Bahkan ada satu “seleb tunggal”, Prochlorococcus, yang sendirian menghasilkan sekitar 20 persen oksigen global. Kalau ini dunia media sosial, dia sudah pasti verified dengan centang biru, endorsement sana-sini, dan mungkin sudah buka kelas “Cara Sukses Jadi Mikroorganisme Berpengaruh”.
Bayangkan betapa ironisnya situasi ini. Pohon-pohon berdiri gagah, tinggi, dan fotogenik—sementara fitoplankton bekerja di balik layar, tanpa pujian, tanpa tagar #SaveTheOcean yang konsisten, bahkan tanpa kesempatan untuk sekadar difoto dengan filter senja. Mereka ini seperti pekerja keras di balik layar film blockbuster: tanpa mereka, filmnya tidak jalan, tapi yang masuk poster tetap aktor utamanya.
Lalu, mengapa kita lebih memuja hutan daripada lautan? Jawabannya sederhana: manusia cenderung menyukai apa yang bisa dilihat. Pohon bisa dipeluk (meski agak canggung kalau ketahuan orang), bisa difoto, bahkan bisa dijadikan latar prewedding. Sementara fitoplankton? Jangankan dipeluk, dilihat saja perlu mikroskop. Sulit rasanya mengunggah foto “lagi nongkrong sama fitoplankton” tanpa dianggap sedang halusinasi.
Padahal, kalau kita mau jujur secara ilmiah, hutan itu juga agak “selfish”. Oksigen yang mereka hasilkan sering kali mereka pakai sendiri melalui respirasi dan proses pembusukan. Ibaratnya seperti orang yang masak mie instan, tapi dimakan sendiri tanpa sempat dibagikan. Sementara fitoplankton? Mereka produksi oksigen dalam skala besar dan “menyumbangkannya” ke atmosfer tanpa banyak drama.
Sayangnya, nasib para pahlawan mikro ini sedang tidak baik-baik saja. Mereka sensitif—bukan secara emosional, tapi secara ekologis. Perubahan suhu laut, keasaman air, dan gangguan arus bisa membuat mereka “mogok kerja”. Dan kalau mereka mogok, kita bukan cuma kehilangan pemandangan laut yang indah, tapi juga—secara halus—kehilangan napas.
Di sinilah letak tragedi sekaligus komedi manusia modern: kita sibuk menanam pohon (yang tentu saja baik), tapi sering lupa bahwa menjaga laut itu sama pentingnya. Kita seperti orang yang rajin beli kipas angin, tapi lupa bayar listriknya.
Akhirnya, mungkin sudah saatnya kita sedikit memperbarui kebiasaan. Lain kali ketika menarik napas dalam-dalam, cobalah ucapkan, “Terima kasih, pohon… dan juga, maaf ya laut, selama ini aku kurang menghargaimu.” Memang terdengar aneh, tapi setidaknya lebih adil.
Karena pada akhirnya, paru-paru dunia bukan hanya yang berdiri tegak di daratan, tetapi juga yang melayang diam di lautan—tak terlihat, tak terkenal, tapi setia menjaga agar kita tetap bisa bernapas… bahkan saat kita sibuk memuji yang lain.



