Tentang George Bernard Shaw, Populisme, dan Perebutan Dompet Tetangga
Di sebuah negeri yang entah di mana, hiduplah dua warga yang
sangat terkenal: Juan dan Pedro.
Juan bangun pagi, bekerja keras, membayar pajak, mengisi
formulir yang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah anggota keluarganya, lalu
pulang dengan wajah yang terlihat seperti seseorang yang baru selesai
bertengkar dengan tagihan listrik.
Pedro juga bangun pagi. Bedanya, ia bangun untuk menonton
berita yang mengabarkan bahwa pemerintah akan memberikan bantuan baru kepada
masyarakat. Setelah mendengar kabar itu, Pedro tersenyum hangat kepada televisi
seperti seseorang yang baru menerima pesan cinta dari mantan.
Di tengah-tengah mereka berdirilah pemerintah, memegang
kalkulator di tangan kanan dan kotak suara di tangan kiri.
George Bernard Shaw pernah melontarkan kalimat yang
terkenal:
"Pemerintah yang merampok Juan untuk memberi kepada
Pedro akan selalu mendapatkan dukungan tanpa syarat dari Pedro."
Kalimat ini pendek. Tetapi dampaknya seperti cabai rawit
politik: kecil, namun cukup membuat banyak orang berkeringat.
Politik sebagai Seni Membagikan Kue yang Belum Dibuat
Masalahnya, dalam politik modern, membagi kue sering kali
lebih populer daripada membuat kue.
Membuat kue memerlukan kerja keras, investasi, pendidikan,
infrastruktur, reformasi birokrasi, dan berbagai kata rumit yang tidak cocok
dijadikan slogan kampanye.
Sebaliknya, membagi kue sangat sederhana.
Politikus hanya perlu berdiri di atas panggung dan berkata:
"Saudara-saudara! Kue ini akan kita bagikan secara
adil!"
Tepuk tangan pun bergemuruh.
Tidak ada yang bertanya dari mana tepungnya berasal.
Tidak ada yang bertanya siapa yang menyalakan oven.
Tidak ada yang bertanya siapa yang mencuci loyangnya.
Semua fokus pada potongan kue yang akan diterima.
Dalam situasi seperti ini, Juan mulai merasa dirinya bukan
warga negara, melainkan bahan baku negara.
Mesin Fotokopi Uang yang Tidak Pernah Ada
Politik populis sering bekerja seperti mesin fotokopi ajaib.
Setiap kali muncul masalah ekonomi, solusi yang ditawarkan
adalah program baru.
Ketika program gagal, dibuat program lain.
Ketika program kedua gagal, dibuat lagi program ketiga
dengan nama yang lebih panjang dan logo yang lebih berwarna.
Negara seolah percaya bahwa uang tumbuh di pohon anggaran.
Padahal uang negara tidak berbeda dengan uang keluarga.
Jika seorang ayah mengambil dompet anak sulung untuk memberi
uang jajan kepada adiknya, mungkin keluarga masih bisa bertahan.
Tetapi jika itu dilakukan setiap hari selama dua puluh
tahun, yang terjadi bukanlah keadilan keluarga.
Yang terjadi adalah kakak mulai malas bekerja, adik mulai
malas mandiri, dan ayah mulai bingung mengapa semua orang marah kepadanya.
Masalahnya Tidak Sesederhana Juan dan Pedro
Namun berhati-hatilah.
Dalam cerita politik, Juan tidak selalu malaikat.
Kadang-kadang Juan memiliki tiga rumah, lima perusahaan, dan
tujuh cara legal untuk menghindari pajak.
Ketika berbicara tentang kerja keras, ia sering lupa
menyebut bahwa kakeknya dulu mendapat monopoli dari negara.
Sebaliknya, Pedro tidak selalu pemalas.
Ada Pedro yang miskin karena lahir di daerah tanpa sekolah
yang layak.
Ada Pedro yang sakit.
Ada Pedro yang bekerja keras tetapi tetap tidak mampu
mengejar garis start yang sejak awal sudah jauh di depan.
Karena itu, dunia nyata tidak sesederhana kartun politik
yang menggambarkan Juan sebagai korban suci dan Pedro sebagai pemburu bantuan
profesional.
Kehidupan jauh lebih rumit.
Kadang Juan perlu dibantu agar tidak dimusuhi.
Kadang Pedro perlu dibantu agar tidak tertinggal.
Dan kadang pemerintah perlu dibantu agar mengingat bahwa
kalkulator lebih penting daripada pengeras suara.
Negara Sebagai Tukang Kebun, Bukan Pesulap
Mungkin kesalahan terbesar dalam perdebatan ini adalah
menganggap negara sebagai pesulap.
Kelompok pertama percaya negara bisa menyelesaikan semua
masalah dengan membagikan uang.
Kelompok kedua percaya negara tidak perlu melakukan apa pun
selain menjaga pagar.
Keduanya sama-sama berlebihan.
Negara yang baik lebih mirip tukang kebun.
Ia menyiram tanaman yang layu.
Ia membersihkan gulma.
Ia menjaga agar pohon besar tidak menutupi seluruh sinar
matahari.
Tetapi ia tidak bisa menarik batang tanaman setiap hari agar
tumbuh lebih cepat.
Jika dipaksa, akarnya justru patah.
Begitulah ekonomi.
Terlalu sedikit bantuan dapat melahirkan ketimpangan yang
meledak menjadi kemarahan sosial.
Terlalu banyak bantuan dapat melahirkan ketergantungan yang
mematikan produktivitas.
Keduanya sama-sama berbahaya.
Jangan Ambil Dompet Juan, Jangan Tinggalkan
Pedro
Kutipan Shaw tetap relevan karena mengingatkan bahwa politik
selalu berurusan dengan insentif.
Orang cenderung mendukung kebijakan yang menguntungkan
dirinya.
Itu bukan dosa. Itu sifat manusia.
Tetapi kebijakan yang baik tidak boleh berhenti pada
pertanyaan: "Siapa yang senang hari ini?"
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
"Apakah masyarakat akan lebih kuat sepuluh tahun dari
sekarang?"
Jika seluruh energi politik hanya digunakan untuk
memindahkan isi dompet Juan ke kantong Pedro, akhirnya yang tersisa hanyalah
dua kantong kosong dan satu pemerintah yang kebingungan mencari dompet
berikutnya.
Keadilan bukanlah soal mengambil sebanyak mungkin dari Juan.
Bukan pula soal membiarkan Pedro berjuang sendirian.
Keadilan adalah seni yang sulit: membuat Juan tetap
bersemangat menghasilkan kue, sambil memastikan Pedro memiliki kesempatan yang
adil untuk ikut masuk ke dapur.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026




