Konon, ada dua tipe orang ketika pertama kali mencoba makanan asing. Tipe pertama langsung berkata, "Wah, mulai sekarang saya hanya makan ini!" Tipe kedua mencicipi sedikit, lalu bersumpah bahwa masakan leluhurnya adalah satu-satunya yang layak masuk surga kuliner. Yang lucu, dua-duanya sama-sama belum sempat membaca daftar bahannya.
Begitulah sering kali bangsa-bangsa bersikap terhadap
peradaban.
Di awal abad ke-20, seorang intelektual Jepang bernama Natsume
Sōseki berangkat ke London dengan misi mulia: belajar dari pusat
peradaban modern. Pemerintah Jepang berharap ia pulang membawa ilmu. Barangkali
mereka membayangkan ia akan pulang sambil membawa koper penuh gagasan
cemerlang.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Sōseki merasa kesepian, asing, bahkan menggambarkan dirinya
seperti "anjing kurus di tengah kawanan serigala." Ternyata
modernitas tidak selalu menyambut tamunya dengan karpet merah. Kadang ia
menyambut dengan udara dingin, tatapan acuh, dan harga sewa kamar yang membuat
dompet ikut mengalami depresi eksistensial.
Pengalaman itu melahirkan sebuah pertanyaan yang jauh lebih
penting daripada sekadar bagaimana cara naik kereta bawah tanah di London: bagaimana
belajar dari dunia tanpa kehilangan diri sendiri?
Pertanyaan ini ternyata tidak pernah pensiun.
Hari ini kita hidup di zaman ketika budaya datang bukan
lewat kapal uap, melainkan lewat Wi-Fi. Dahulu orang harus berbulan-bulan
berlayar untuk mengimpor kebiasaan Barat. Sekarang cukup menonton video
berdurasi tiga puluh detik, besok pagi kita sudah merasa perlu minum kopi
dengan nama yang sulit dieja sambil mengatakan "literally" di setiap
dua kalimat.
Modernitas kini bekerja seperti parfum di pusat
perbelanjaan. Awalnya hanya ingin lewat, tiba-tiba seluruh tubuh sudah wangi
ide-ide impor.
Yang menarik, Sōseki seolah mengingatkan bahwa ada dua
penyakit yang sama-sama berbahaya.
Penyakit pertama adalah demam peniruan. Apa pun yang
datang dari luar dianggap otomatis lebih baik. Seolah-olah kebijaksanaan lokal
hanya berlaku sampai bandara internasional. Jika sebuah gagasan memakai istilah
bahasa Inggris, langsung terdengar ilmiah. Kalau memakai bahasa ibu sendiri,
dianggap kurang keren. Padahal kadang isinya sama saja, hanya bungkusnya
berbeda. Pisang goreng tetap pisang goreng, meski diberi nama banana crispy
artisan.
Penyakit kedua adalah alergi terhadap segala hal baru.
Kelompok ini juga tidak kalah kreatif. Mereka menganggap
setiap inovasi adalah konspirasi. Teknologi dipandang sebagai ancaman,
perubahan dianggap pengkhianatan, dan masa lalu dipercaya selalu lebih indah.
Padahal kalau benar masa lalu selalu sempurna, nenek moyang kita tentu masih
memakai batu sebagai ponsel dan mengirim emoji lewat asap unggun.
Dua kubu ini sebenarnya seperti dua orang yang sama-sama
gagal memasak.
Yang satu memakan bahan mentah tanpa dimasak.
Yang satu lagi menolak makan apa pun karena takut kompornya
berasal dari luar negeri.
Di sinilah Jepang sering dipuji karena mencoba jalan yang
lebih masuk akal.
Mereka tidak sekadar menelan modernitas mentah-mentah.
Mereka mencoba mencerna.
Metafora ini luar biasa indah.
Tubuh manusia mengajarkan filsafat yang sering diabaikan
para politisi. Makanan terbaik sekalipun tidak berguna jika hanya berhenti di
mulut. Ia harus dikunyah, dicerna, diserap, lalu diubah menjadi bagian dari
tubuh kita sendiri.
Begitu pula peradaban.
Teknologi asing tidak seharusnya dipasang seperti stiker di
atas identitas lama. Ia harus diproses menjadi sesuatu yang cocok dengan
"metabolisme budaya" kita. Kalau tidak, hasilnya seperti mengenakan
jas musim dingin di tengah siang bolong Jakarta: mahal, bergengsi, tetapi tetap
membuat penggunanya berkeringat tanpa memperoleh manfaat.
Namun, kisah Jepang juga tidak boleh dibaca seperti brosur
agen perjalanan.
Negeri itu memang berhasil melompat menjadi kekuatan modern
melalui Restorasi Meiji, tetapi setiap lompatan selalu meninggalkan
jejak di tanah. Ada tradisi yang memudar, tekanan sosial yang meningkat, bahkan
kemudian muncul jalan gelap menuju militerisme yang membawa Jepang ke dalam
tragedi **Perang Dunia II>.
Artinya, tidak ada resep instan bernama "Model
Jepang".
Kalau ada seminar yang menjanjikan "Menjadi Jepang
dalam Lima Langkah Mudah", mungkin yang paling cepat berkembang justru
rekening penyelenggaranya.
Setiap bangsa mempunyai sistem pencernaan sejarah yang
berbeda.
Indonesia, misalnya, punya kebiasaan unik.
Kita sering bergantian menjadi penggemar fanatik dan
pembenci fanatik. Hari ini mengidolakan segala sesuatu dari luar negeri. Besok
marah karena terlalu banyak pengaruh luar negeri. Lusa bingung sendiri karena
ponsel yang dipakai untuk mengeluh ternyata juga hasil teknologi luar negeri.
Kita seperti orang yang memarahi hujan sambil berteduh di
bawah payung.
Yang sebenarnya dibutuhkan bukanlah rasa minder terhadap
dunia, juga bukan rasa curiga terhadap dunia.
Yang dibutuhkan adalah rasa percaya diri.
Percaya diri sebuah bangsa bukan berarti merasa paling
hebat. Justru ia seperti pohon besar. Semakin kuat akarnya, semakin berani ia
membiarkan angin dari berbagai arah meniup daunnya. Angin tidak akan mencabut
pohon yang akarnya mengenal tanahnya sendiri.
Sebaliknya, pohon plastik memang selalu tampak rapi. Daunnya
tidak pernah gugur. Warnanya selalu hijau. Sayangnya, ia juga tidak pernah
benar-benar hidup.
Mungkin itulah pelajaran paling berharga dari kegelisahan
Sōseki.
Modernitas bukanlah perlombaan mengganti pakaian tradisional
dengan jas Barat, atau mengganti pepatah nenek moyang dengan kutipan motivator
internet.
Peradaban yang matang bukanlah fotokopi bangsa lain.
Ia lebih mirip secangkir teh.
Airnya mungkin berasal dari hujan yang sama. Teknologinya
mungkin menggunakan ketel yang sama. Namun, rasa akhirnya ditentukan oleh daun
yang tumbuh di tanahnya sendiri.
Dan bangsa yang berhasil bukanlah bangsa yang paling banyak
mengimpor air mendidih, melainkan bangsa yang tidak pernah lupa merawat kebun
tehnya sendiri.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026






