Rabu, 10 Juni 2026

Jalan Ma'rifah yang Indah: Ketika GPS Hati Hanya Mengenal Satu Alamat

Di zaman modern ini, manusia memiliki banyak sekali alat navigasi. Ada Google Maps untuk mencari jalan, aplikasi cuaca untuk mencari hujan, aplikasi belanja untuk mencari diskon, dan media sosial untuk mencari perhatian. Hampir semua kebutuhan manusia sudah punya aplikasi masing-masing.

Sayangnya, belum ada aplikasi yang bisa menjawab pertanyaan paling sederhana sekaligus paling rumit:

"Sebenarnya hati saya sedang menuju ke mana?"

Di sinilah tasawuf datang seperti tukang servis GPS batin. Ia tidak menawarkan jalan tol menuju kekayaan, ketenaran, atau jumlah pengikut yang fantastis. Tasawuf hanya bertanya pelan:

"Kalau semua tujuan dunia sudah tercapai, lalu setelah itu mau ke mana?"

Ceramah tentang Jalan Ma'rifah yang Indah mengajak kita memasuki wilayah ini. Wilayah yang tidak dipenuhi gedung pencakar langit, tetapi dipenuhi kesadaran bahwa manusia ternyata lebih sering tersesat di dalam dirinya sendiri daripada di jalan raya.

Orang Kaya yang Merasa Miskin

Di dunia normal, orang kaya biasanya merasa kaya.

Kalau rekeningnya bertambah, senyumnya bertambah.
Kalau asetnya bertambah, percaya dirinya ikut bertambah.

Tetapi di dunia para sufi, logikanya agak membingungkan.

Semakin dekat kepada Allah, semakin merasa miskin.

Ini terdengar seperti promosi yang gagal.

Bayangkan ada iklan:

"Dekatlah kepada Allah. Bonusnya: Anda akan merasa semakin membutuhkan-Nya setiap hari."

Namun justru di situlah rahasianya.

Menurut Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, ma'rifah adalah al-ghina billah—merasa cukup dengan Allah. Anehnya, rasa cukup ini tidak lahir karena merasa kuat, melainkan karena sadar bahwa diri sendiri sebenarnya tidak punya apa-apa.

Mirip seperti bayi yang tertidur pulas di pelukan ibunya.

Ia tidak punya uang.
Tidak punya rumah.
Tidak punya kendaraan.

Tetapi ia tenang karena tahu ada tempat bergantung.

Ketenangannya lahir bukan dari kekuatan dirinya, melainkan dari kepercayaan penuh kepada yang menggendongnya.

Begitulah kira-kira keadaan hati seorang arif.

Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad: Dua Cara Menghadapi Masalah

Ceramah ini menghadirkan perbandingan yang menarik.

Ketika Nabi Ibrahim berhadapan dengan Namrud, beliau cukup berkata:

"Allah lebih tahu apa yang aku inginkan."

Singkat.
Padat.
Tanpa presentasi PowerPoint.

Sementara Rasulullah SAW dalam Perang Badar justru berdoa dengan sangat intens.

Beliau memohon.
Menangis.
Bersungguh-sungguh.

Di sinilah kita belajar bahwa kedekatan kepada Allah tidak membuat seseorang berhenti berdoa.

Justru sebaliknya.

Semakin mengenal Allah, semakin sadar bahwa segala sesuatu bergantung kepada-Nya.

Kalau orang awam berdoa karena takut gagal, orang ma'rifah berdoa karena sadar dirinya memang tidak pernah bisa berhasil sendirian.

Perbedaannya tipis, tetapi sedalam samudra.

Hutang yang Hampir Lunas dan Penyakit Manusia Modern

Ada satu penyakit yang cukup umum.

Ketika masalah masih besar, kita rajin berdoa.

Ketika masalah tinggal lima persen, kita mulai percaya diri.

Ketika masalah tinggal satu persen, kita merasa menjadi pahlawan utama dalam kisah hidup kita sendiri.

Lalu lupa bahwa sembilan puluh sembilan persen sebelumnya juga bukan hasil kemampuan kita semata.

Rasulullah menunjukkan kebalikan dari pola itu.

Ketika kemenangan sudah dekat, beliau justru semakin berdoa.

Karena beliau tidak melihat kemenangan.

Beliau melihat Sang Pemberi kemenangan.

Kita sering sibuk menghitung hasil.

Para nabi sibuk menjaga hubungan dengan Sumber hasil.

Langit Tidak Menyangga Langit

Ceramah ini juga mengajak kita melihat dunia dengan cara yang unik.

Biasanya kita berpikir:

Kita hidup karena bumi menopang kita.

Kita aman karena langit tidak runtuh.

Kita bernapas karena udara tersedia.

Benar.

Tetapi tasawuf bertanya lebih jauh:

"Siapa yang menopang bumi?"

"Siapa yang menahan langit?"

"Siapa yang membuat udara tetap ada?"

Ibarat seseorang yang begitu kagum pada lampu hingga lupa bahwa ada pembangkit listrik di belakangnya.

Kita sering sibuk mengagumi kabel-kabel kehidupan sambil melupakan sumber energinya.

Padahal sewaktu-waktu Allah bisa menunjukkan bahwa bumi bukan penjamin keselamatan.

Langit bukan penjamin keamanan.

Uang bukan penjamin ketenangan.

Bahkan kesehatan bukan penjamin umur panjang.

Semua hanyalah alat.

Bukan pemilik kuasa.

Mobil Menuju Allah

Salah satu bagian paling menarik adalah ketika dunia tidak diposisikan sebagai musuh spiritual.

Tasawuf Syadziliyah tidak mengajarkan kita membenci mobil.

Tidak mengajarkan kita memusuhi motor.

Tidak mengharamkan nasi goreng.

Tidak menyuruh semua orang pindah ke gunung sambil memeluk pohon.

Dunia tetap dipakai.

Mobil tetap dikendarai.

Motor tetap dijalankan.

Tetapi semuanya diarahkan menjadi tanda-tanda menuju Allah.

Ibarat papan petunjuk jalan.

Tidak ada orang waras yang memeluk papan petunjuk lalu berkata:

"Aku sudah sampai tujuan."

Papan hanya menunjukkan arah.

Begitu pula dunia.

Masalahnya, sebagian manusia jatuh cinta kepada papan petunjuk dan lupa melanjutkan perjalanan.

Empat Departemen Dalam Diri Manusia

Menurut penjelasan yang dibawakan dalam ceramah ini, manusia ternyata seperti perusahaan besar.

Ada banyak divisi di dalamnya.

Nafsu bertugas melayani.

Kalbu bertugas mengenal Allah.

Akal bertugas membuka tabir pemahaman.

Ruh bertugas mencintai.

Masalah muncul ketika terjadi salah penempatan jabatan.

Akal ingin menjadi direktur utama.

Nafsu ingin menjadi presiden komisaris.

Ego ingin menjadi pemegang saham tunggal.

Akhirnya perusahaan batin bangkrut.

Tasawuf hadir untuk mengembalikan semua bagian ke tempatnya masing-masing.

Supaya hati kembali mengenal.
Akal kembali memahami.
Ruh kembali mencintai.
Dan nafsu kembali bekerja, bukan memerintah.

Jalan yang Aneh Tetapi Indah

Banyak jalan di dunia menawarkan kemandirian.

Jadilah kuat.
Jadilah hebat.
Jadilah tidak membutuhkan siapa pun.

Sementara jalan ma'rifah justru mengajarkan sesuatu yang terdengar bertolak belakang:

Semakin dekat kepada Allah, semakin sadar bahwa kita membutuhkan-Nya pada setiap tarikan napas.

Anehnya, dari kesadaran itulah lahir ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh uang, jabatan, maupun popularitas.

Seperti seorang pelaut yang akhirnya menemukan mercusuar setelah lama tersesat dalam kabut.

Ombak masih ada.

Angin masih ada.

Badai mungkin masih datang.

Tetapi kini ia tahu ke mana harus mengarahkan perahu.

Pada akhirnya, keindahan jalan ma'rifah bukan terletak pada kemampuan melihat hal-hal luar biasa.

Bukan pula pada cerita-cerita karamah yang menakjubkan.

Keindahannya justru terletak pada kesadaran yang sangat sederhana:

Bahwa sejak awal hingga akhir, kita hanyalah musafir.

Dan alamat tujuan yang sebenarnya selalu sama.

Dari Allah.

Menuju Allah.

Dengan Allah.

Dan karena Allah.

Sebuah perjalanan yang tidak membutuhkan tiket pesawat, tetapi membutuhkan hati yang bersedia menyerah kepada-Nya.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Manusia Setengah: Ketika Hak Selalu Full HD, Tapi Kewajiban Masih Buffering

Di dunia modern, ada banyak hal yang setengah-setengah. Kopi setengah gula, baterai ponsel setengah terisi, jalan raya setengah jadi, bahkan sinyal internet yang hanya muncul satu batang ketika kita sedang sangat membutuhkannya. Namun menurut pemikir besar Aljazair, Malik bin Nabi, ada satu jenis “setengah” yang jauh lebih berbahaya daripada semua itu: manusia setengah.

Bukan manusia yang tinggi badannya separuh atau yang hanya muncul dari pinggang ke atas seperti hantu dalam film horor murahan. Yang dimaksud Malik bin Nabi adalah manusia yang menuntut hak secara penuh, tetapi melaksanakan kewajiban secara cicilan.

Kalau hak adalah menu prasmanan hotel bintang lima, ia mengambil semua hidangan sampai piringnya menggunung. Namun ketika kewajiban datang, ia mendadak menjalankan program diet ketat.

Fenomena ini sebenarnya sangat mudah ditemukan. Ia ada di mana-mana. Kadang-kadang bahkan muncul di cermin kamar mandi setiap pagi.

Bayangkan seorang mahasiswa yang berapi-api menuntut fasilitas kampus terbaik, jaringan Wi-Fi tercepat, ruang kelas ber-AC, dan biaya pendidikan termurah. Semua tuntutan itu sah dan masuk akal. Masalah muncul ketika mahasiswa yang sama menganggap perpustakaan sebagai tempat tidur siang alternatif dan menganggap membaca buku sebagai aktivitas yang terlalu ekstrem.

Ia ingin menjadi sarjana, tetapi tidak terlalu tertarik pada ilmu.

Mirip seseorang yang ingin menjadi juara maraton dengan cara menonton pertandingan atletik sambil makan gorengan.

Di dunia kerja, spesies manusia setengah juga berkembang biak dengan subur. Mereka datang tepat waktu saat absen menggunakan sidik jari, tetapi menghilang lebih cepat daripada ninja setelah jam masuk tercatat.

Ketika gaji terlambat satu hari, mereka mampu mengingat seluruh pasal tentang hak pekerja. Namun ketika pekerjaan terlambat satu minggu, ingatan mereka tiba-tiba mengalami gangguan teknis.

Hak dihafal seperti lagu favorit.

Kewajiban diperlakukan seperti syarat dan ketentuan aplikasi yang langsung diklik "setuju" tanpa dibaca.

Malik bin Nabi melihat gejala ini bukan sekadar masalah moral individu. Ia menganggapnya sebagai penyakit peradaban.

Ibarat sebuah kapal besar, bangsa tidak tenggelam hanya karena badai dari luar. Kapal sering kali tenggelam karena lambungnya sudah bocor sejak lama. Air masuk sedikit demi sedikit sampai akhirnya kapal yang megah itu berubah menjadi akuarium raksasa.

Begitu pula sebuah masyarakat.

Kita sering menyalahkan kolonialisme, globalisasi, kapitalisme, cuaca, zodiak, algoritma media sosial, atau apa saja yang tersedia untuk disalahkan. Semua faktor itu mungkin memang berpengaruh. Namun Malik bin Nabi mengajak kita melihat ke arah yang lebih tidak nyaman: ke dalam diri sendiri.

Ia memperkenalkan gagasan tentang colonisability, yaitu kondisi batin suatu masyarakat yang membuatnya mudah dijajah atau sulit bangkit. Dengan kata lain, penjajahan tidak selalu dimulai dari kedatangan orang asing. Kadang-kadang ia dimulai ketika masyarakat kehilangan disiplin, etos kerja, tanggung jawab, dan semangat berprestasi.

Seperti rumah yang pintunya terbuka lebar. Pencuri memang salah karena masuk. Tetapi pemilik rumah juga perlu bertanya mengapa ia membiarkan pintunya terbuka selama bertahun-tahun.

Yang menarik, manusia setengah biasanya sangat pandai berbicara tentang perubahan.

Ia menghadiri seminar tentang produktivitas, lalu pulang untuk menunda pekerjaan.

Ia mengikuti pelatihan kepemimpinan, lalu kembali memimpin grup WhatsApp menuju kekacauan.

Ia mengunggah kutipan motivasi setiap pagi, tetapi tetap menunda target hidup sampai esok hari yang tidak pernah datang.

Ia mencintai gagasan besar, asalkan tidak perlu bekerja keras untuk mewujudkannya.

Padahal sejarah peradaban menunjukkan bahwa kemajuan tidak dibangun oleh manusia yang sempurna. Ia dibangun oleh manusia yang bersedia menanggung kewajiban sebelum menikmati hak.

Seorang petani menanam jauh sebelum panen.

Seorang ilmuwan meneliti jauh sebelum mendapat penghargaan.

Seorang guru mengajar jauh sebelum melihat hasilnya.

Bahkan tukang bakso pun memahami hukum peradaban ini. Ia harus mendorong gerobak terlebih dahulu sebelum menghitung keuntungan. Tidak pernah ada orang yang memperoleh semangkuk bakso hanya dengan pidato tentang pentingnya bakso bagi kemajuan bangsa.

Di sinilah kritik Malik bin Nabi terasa begitu relevan.

Kita hidup di zaman ketika semua orang memiliki mikrofon, tetapi tidak semua orang memiliki kontribusi. Media sosial memberi kemampuan untuk berbicara kepada ribuan orang, tetapi tidak otomatis memberi kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi ribuan orang.

Akibatnya, suara semakin keras, tetapi karya tidak selalu bertambah.

Tuntutan semakin panjang, tetapi kontribusi sering kali tetap pendek.

Karena itu, solusi yang ditawarkan Malik bin Nabi sebenarnya sederhana sekaligus berat. Pendidikan harus kembali membentuk karakter, bukan sekadar pencetak ijazah. Masyarakat harus lebih menghargai karya daripada sekadar retorika. Dan setiap individu harus berani bertanya kepada dirinya sendiri pertanyaan yang agak menyakitkan:

"Apakah saya sedang membangun peradaban, atau hanya menjadi komentator peradaban?"

Pertanyaan itu memang tidak nyaman.

Namun seperti obat pahit, justru di situlah manfaatnya.

Pada akhirnya, kebangkitan bangsa tidak akan lahir dari slogan, spanduk, seminar, atau unggahan media sosial semata. Ia lahir ketika semakin banyak manusia yang berhenti menjadi setengah.

Sebab peradaban ibarat sebuah bangunan besar. Batu bata yang setengah matang tidak akan menghasilkan rumah yang kokoh. Dan bangsa yang dipenuhi manusia setengah akan sulit melahirkan peradaban yang utuh.

Mungkin itulah pesan terdalam Malik bin Nabi.

Sebelum kita sibuk bertanya mengapa peradaban belum bangkit, ada baiknya kita bercermin terlebih dahulu.

Jangan-jangan masalahnya bukan karena kita kekurangan ide besar.

Jangan-jangan kita hanya terlalu banyak mengoleksi hak, tetapi terlalu sedikit mengangsur kewajiban.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Roti, Kotoran Kerbau, dan Ambisi Menjadi Malaikat: Sebuah Esai tentang Kebaikan yang Sering Salah Alamat

Ada satu harapan yang diam-diam dipelihara hampir semua manusia ketika berbuat baik. Harapan itu sederhana: setidaknya orang yang kita bantu tidak melempar sandal ke arah kita.

Sayangnya, kehidupan sering kali punya selera humor yang aneh.

Kita membantu seseorang, lalu ia menganggap itu kewajiban kita. Kita memberi nasihat, lalu dituduh menggurui. Kita menolong tetangga, lalu dicurigai punya agenda politik. Bahkan kadang kita sekadar tersenyum, lalu ada yang bertanya, "Kenapa? Ada maunya ya?"

Pada titik tertentu, banyak orang mulai bertanya-tanya: "Apa gunanya berbuat baik kalau hasilnya begini?"

Pertanyaan itu sebenarnya sudah tua sekali. Mungkin usianya setua manusia pertama yang meminjamkan cangkul kepada tetangganya lalu mendapati cangkul itu kembali dalam keadaan lebih tua daripada pemiliknya.

Di tengah kebingungan itulah muncul sebuah nasihat sederhana dengan tokoh utama yang tidak terduga: sepotong roti.

Nasib Tragis Sebuah Roti

Menurut analogi tersebut, kebaikan kita ibarat roti.

Jika roti dilempar ke mentega, ia akan berlapis mentega. Jika dilempar ke cokelat, ia akan berlapis cokelat. Jika dilempar ke air, ia menjadi basah.

Dan jika nasib sedang kurang beruntung, roti itu bisa saja mendarat di kotoran kerbau.

Di sinilah letak pelajaran yang menarik.

Roti tidak pernah memilih tempat jatuhnya. Ia juga tidak berubah menjadi kerbau hanya karena terkena kotorannya.

Roti tetaplah roti.

Masalahnya bukan pada roti. Masalahnya pada tempat pendaratannya.

Begitu pula dengan kebaikan. Kebaikan yang jatuh ke hati yang lapang akan melahirkan syukur. Kebaikan yang jatuh ke hati yang dengki bisa berubah menjadi fitnah. Kebaikan yang jatuh ke hati yang penuh cinta menjadi inspirasi. Sedangkan kebaikan yang jatuh ke hati yang penuh prasangka kadang diperlakukan seperti surat tilang.

Kita sering mengira respons orang adalah ukuran kualitas kebaikan kita. Padahal sering kali respons orang hanya menunjukkan kondisi hati mereka sendiri.

Sama seperti cermin yang retak tidak bisa memantulkan wajah dengan baik, hati yang penuh kebencian juga sulit memantulkan kebaikan secara utuh.

Penyakit Bernama "Terima Kasih"

Mari jujur.

Banyak dari kita berbuat baik sambil membawa koper kecil berisi harapan.

Di dalam koper itu ada tulisan:

"Semoga dia berterima kasih."

Kalau bisa sedikit memuji, lebih bagus.

Kalau bisa membuat status tentang kebaikan kita, lebih bagus lagi.

Kalau bisa menganggap kita pahlawan nasional tingkat RT, tentu jauh lebih bagus.

Masalahnya, koper harapan ini sering menjadi sumber penderitaan.

Kita memberi satu, berharap menerima sepuluh.

Kita menanam mangga, tetapi menunggu panen durian.

Ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi, hati mulai mengeluh.

Padahal manusia adalah makhluk yang sangat kreatif dalam urusan lupa berterima kasih.

Ada orang yang sudah dibantu berkali-kali, tetapi satu kali tidak dibantu langsung berkata, "Saya kira kamu teman."

Ada pula yang mengingat kesalahan kita selama sepuluh tahun dan melupakan seluruh kebaikan kita dalam sepuluh menit.

Manusia memang kadang seperti aplikasi yang rajin menyimpan bug tetapi malas menyimpan pembaruan.

Investasi yang Tidak Bergantung pada Bursa Manusia

Nasihat tersebut menawarkan cara pandang yang cukup menenangkan.

Kalau kebaikan diterima orang baik, kita mendapat pahala karena berbuat baik dan mungkin juga pahala karena menginspirasi.

Kalau kebaikan ditolak, dicibir, atau dibalas dengan keburukan, kita masih punya peluang mendapatkan pahala kesabaran.

Secara spiritual, ini seperti investasi yang aneh.

Untung ketika pasar naik.

Untung juga ketika pasar turun.

Tentu bukan berarti kita boleh sembrono dalam berbuat baik. Bukan berarti kita bisa berkata, "Yang penting niat saya baik," lalu memberi payung kepada orang yang sedang berenang.

Islam tetap mengajarkan hikmah, kebijaksanaan, dan ketepatan sasaran.

Tetapi nasihat ini mengingatkan bahwa hasil akhir tidak selalu berada dalam kendali kita.

Tugas petani adalah menanam.

Tugas hujan adalah turun.

Tugas matahari adalah bersinar.

Kalau ada kambing yang memakan tanaman, itu urusan lain yang harus diselesaikan dengan cara berbeda.

Dunia Media Sosial: Festival Kotoran Kerbau Digital

Analogi roti ini terasa semakin relevan di era media sosial.

Hari ini seseorang membagikan informasi bermanfaat.

Besok ia dituduh mencari popularitas.

Lusa ia dituduh antek kelompok tertentu.

Minggu depan ia dituduh sesuatu yang bahkan belum pernah ia dengar.

Internet telah membuat satu hal menjadi jelas: jumlah komentar tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah kebijaksanaan.

Kadang seseorang menulis kalimat penuh hikmah, lalu ada yang membalas:

"Pertama."

Begitulah kehidupan digital bekerja.

Karena itu, menggantungkan semangat berbuat baik pada penilaian publik ibarat menggantung jemuran pada benang laba-laba. Cepat atau lambat akan jatuh juga.

Menjadi Tukang Roti, Bukan Kolektor Pujian

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari kisah roti ini adalah tentang identitas.

Apakah kita berbuat baik untuk menjadi baik?

Atau berbuat baik untuk dianggap baik?

Dua hal itu terlihat mirip, tetapi jaraknya sejauh bumi dan langit.

Orang yang ingin dianggap baik akan berhenti ketika tepuk tangan berhenti.

Orang yang ingin menjadi baik akan tetap berjalan meski penonton sudah pulang.

Dalam bahasa tasawuf, inilah latihan ikhlas.

Dalam bahasa sehari-hari, ini berarti tetap menanam pohon meski tidak semua orang menghargai buahnya.

Jadi, teruslah menjadi "tukang roti" kebaikan.

Sebarkan roti sebanyak mungkin.

Kalau ada yang membalas dengan mentega, syukuri.

Kalau ada yang membalas dengan cokelat, nikmati.

Kalau ada yang membalas dengan air, keringkan.

Dan kalau suatu hari roti itu jatuh ke kotoran kerbau, jangan ikut menjadi kerbau.

Karena nilai roti tidak ditentukan oleh tempat ia jatuh, melainkan oleh siapa yang membuatnya.

Begitu pula nilai sebuah kebaikan. Ia tidak ditentukan oleh komentar manusia, melainkan oleh niat yang melahirkannya.

Dan dalam pembukuan langit, kabarnya tidak ada kolom untuk jumlah "like", tetapi ada ruang yang sangat luas untuk keikhlasan.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Selasa, 09 Juni 2026

Tulang Paha yang Lebih Beradab daripada Gedung Pencakar Langit

Ada ironi yang menarik dalam kehidupan modern. Kita mampu mengirim foto kucing ke belahan dunia lain dalam hitungan detik, tetapi kadang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menjenguk tetangga yang sedang sakit. Kita bisa membuat kecerdasan buatan menulis puisi, merancang roket yang mendarat sendiri, bahkan memesan kopi hanya dengan berbicara kepada telepon genggam. Namun ketika seseorang di sekitar kita jatuh, sering kali yang pertama bergerak bukan tangan untuk menolong, melainkan jari untuk merekam.

Karena itu, kisah tentang antropolog Margaret Mead dan tulang paha yang sembuh terasa begitu memikat.

Konon, ketika ditanya apa tanda pertama peradaban manusia, Mead tidak menunjuk pada kapak batu, tembikar, atau istana. Ia menunjuk pada sebuah tulang paha yang pernah patah lalu sembuh. Logikanya sederhana: seekor hewan yang patah kaki di alam liar biasanya tamat riwayatnya. Ia tidak bisa berlari, berburu, atau menghindari predator. Kalau ada tulang yang patah lalu pulih, berarti ada seseorang yang tinggal bersama si korban, memberinya makan, menjaganya, dan menunggu sampai ia sembuh.

Dengan kata lain, peradaban dimulai bukan ketika manusia menemukan palu, melainkan ketika manusia bersedia menjadi bantal.

Sayangnya, seperti banyak kutipan yang beredar di media sosial, cerita ini ternyata memiliki hubungan yang agak longgar dengan fakta sejarah. Para pemeriksa fakta menemukan bahwa tidak ada bukti kuat Margaret Mead pernah benar-benar mengucapkannya. Kisah tersebut lebih mirip penumpang gelap yang naik ke kereta popularitas Mead tanpa membeli tiket.

Namun anehnya, walaupun kisahnya diragukan, pesannya tetap terasa benar.

Ini seperti cerita tentang seorang kakek bijak yang tidak pernah ada, tetapi nasihatnya tetap membuat kita merenung. Dalam dunia filsafat, kadang-kadang sebuah mitos bekerja seperti cermin. Yang penting bukan siapa yang memegang cermin itu, melainkan apa yang kita lihat ketika bercermin.

Dan apa yang kita lihat?

Kita melihat bahwa ukuran peradaban sering kali salah alamat.

Kita cenderung mengukur kemajuan seperti anak kecil yang menilai kekayaan dari banyaknya topping es krim. Semakin tinggi gedung, semakin cepat internet, semakin rumit teknologi, semakin beradab, begitu kira-kira anggapan kita.

Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa manusia bisa sangat maju sekaligus sangat kejam.

Sebuah masyarakat dapat membangun jalan raya yang membentang ribuan kilometer, tetapi gagal menyediakan jalan keluar bagi orang miskin.

Sebuah negara dapat menciptakan kecerdasan buatan yang mampu mengenali wajah miliaran manusia, tetapi tidak mampu mengenali kesepian warganya sendiri.

Sebuah kota dapat dipenuhi gedung kaca yang berkilau, tetapi di bawah pantulannya masih ada orang yang tidur di trotoar.

Kemajuan material ternyata tidak selalu berjalan beriringan dengan kemajuan moral. Kadang keduanya bahkan berpisah jalur seperti penumpang yang salah naik kereta.

Di sinilah simbol tulang paha yang sembuh menjadi menarik.

Tulang itu bukan lambang teknologi. Ia bukan monumen. Ia bukan aplikasi. Ia bukan startup yang sedang mencari pendanaan seri C.

Ia adalah bukti bahwa seseorang pernah melambat demi orang lain.

Dan sesungguhnya, melambat demi orang lain adalah pekerjaan yang semakin langka.

Kita hidup di zaman yang memuja kecepatan. Makanan harus cepat datang. Balasan pesan harus cepat diterima. Video harus dipercepat menjadi dua kali lipat. Bahkan motivasi pun harus hadir dalam format tiga puluh detik.

Di tengah budaya serba cepat itu, merawat orang yang terluka adalah tindakan yang hampir revolusioner. Sebab penyembuhan selalu membutuhkan sesuatu yang tidak disukai zaman modern: waktu.

Tidak ada tulang yang sembuh karena motivasi instan.

Tidak ada luka yang pulih karena hashtag.

Tidak ada manusia yang bangkit hanya karena diberi emoji tangan berdoa.

Penyembuhan membutuhkan kehadiran.

Dan kehadiran membutuhkan kesediaan untuk berhenti sejenak dari urusan diri sendiri.

Menariknya lagi, penelitian modern menunjukkan bahwa manusia memang bertahan bukan karena paling kuat. Kita bukan hewan tercepat, bukan yang paling bertaring, dan bukan pula yang paling berotot. Jika kehidupan adalah turnamen binaraga, kemungkinan besar manusia purba sudah tersingkir di babak penyisihan.

Yang membuat manusia menang adalah kemampuan bekerja sama.

Kita bertahan karena mampu berbagi makanan, berbagi pengetahuan, berbagi risiko, dan kadang-kadang berbagi penderitaan.

Peradaban sesungguhnya bukan dibangun oleh orang-orang yang berkata, "Aku bisa sendiri."

Peradaban dibangun oleh orang-orang yang berkata, "Mari aku bantu."

Mungkin itulah sebabnya kisah tulang paha ini terus hidup walaupun sumbernya goyah. Ia menyentuh sesuatu yang sangat tua dalam diri manusia: kebutuhan untuk saling menjaga.

Ia mengingatkan bahwa sebelum ada pasar saham, sebelum ada internet, sebelum ada universitas, bahkan sebelum ada kerajaan, kemungkinan besar ada seseorang yang duduk di samping orang lain yang terluka sambil berkata, "Tenang, aku tidak akan pergi."

Kalimat sederhana itulah yang mungkin menjadi fondasi pertama peradaban.

Bukan batu pertama sebuah gedung.

Bukan roda pertama sebuah kereta.

Bukan algoritma pertama sebuah komputer.

Melainkan tangan pertama yang terulur kepada mereka yang tidak mampu berdiri sendiri.

Jadi jika suatu hari para arkeolog masa depan menggali reruntuhan peradaban kita, mungkin mereka tidak akan terlalu terkesan dengan jumlah ponsel yang kita miliki atau kecepatan internet yang kita banggakan.

Mereka mungkin justru bertanya pertanyaan yang lebih sederhana:

"Ketika ada yang patah, apakah kalian membantunya sembuh?"

Karena pada akhirnya, ukuran sebuah masyarakat yang beradab bukanlah berapa banyak menara yang berhasil dibangun, melainkan berapa banyak manusia yang berhasil dipertahankan.

Dan mungkin, hanya mungkin, tulang paha yang sembuh memang lebih beradab daripada gedung pencakar langit.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Lubang Kecil dan Tikus Influencer: Pelajaran Tolstoy tentang Rezeki, Keserakahan, dan Bahaya Viral

Konon, sebelum ada Instagram, TikTok, YouTube Shorts, dan status WhatsApp yang bisa membuat tetangga mendadak stres, dunia sudah memiliki para influencer. Bedanya, mereka berbulu, berekor, dan tinggal di bawah gudang gandum.

Salah satu influencer pertama dalam sejarah sastra mungkin adalah seekor tikus dalam fabel Leo Tolstoy.

Kisahnya sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Ada seekor tikus yang hidup nyaman di bawah gudang gandum. Dari sebuah lubang kecil di lantai, biji-biji gandum jatuh perlahan. Tidak banyak, tetapi cukup. Tikus itu tidak kaya raya. Ia juga tidak masuk daftar Forbes Tikus Sedunia. Namun ia kenyang, tenang, dan bisa tidur tanpa harus memikirkan cicilan rumah atau harga cabai.

Singkatnya, ia hidup dalam kondisi yang oleh filsuf disebut "cukup", dan oleh manusia modern disebut "kurang konten."

Masalah mulai muncul ketika tikus itu mengalami penyakit yang sangat umum di segala zaman: ingin terlihat sukses.

Awalnya ia hanya menikmati gandum sendirian. Tetapi lama-kelamaan muncul pertanyaan berbahaya dalam benaknya:

"Kalau tidak ada yang tahu aku kaya, apa gunanya aku kaya?"

Pertanyaan itu telah menghancurkan lebih banyak kehidupan daripada harga saham yang jatuh.

Maka ia mulai menggerogoti lubang kecil itu agar semakin besar. Bukan karena lapar. Bukan karena kebutuhan hidup meningkat. Bukan pula karena anak tikusnya masuk universitas swasta.

Ia ingin mengadakan open house.

Ia ingin mengundang tikus-tikus lain.

Ia ingin berkata dengan nada santai yang sangat tidak santai:

"Oh ini? Gudang gandum biasa saja kok. Rezeki kecil. Alhamdulillah."

Padahal di belakang kalimat "rezeki kecil" itu biasanya tersembunyi harapan agar semua orang pingsan karena kagum.

Begitulah cara kerja ego. Ia tidak pernah puas hanya dengan memiliki. Ia ingin disaksikan.

Dalam dunia modern, lubang kecil itu bisa berupa bisnis yang berjalan lancar, penghasilan yang cukup, rumah yang nyaman, atau kehidupan yang damai. Semua baik-baik saja sampai muncul godaan untuk menjadikan semuanya tontonan publik.

Manusia hari ini sering mengalami nasib yang sama dengan si tikus. Awalnya membeli kopi karena haus. Lama-lama membeli kopi karena perlu difoto. Awalnya pergi berlibur untuk beristirahat. Lama-lama berlibur untuk membuktikan kepada orang lain bahwa dirinya sedang beristirahat.

Kita hidup di zaman ketika sebagian orang lebih sibuk mengabarkan kebahagiaan daripada menikmati kebahagiaan itu sendiri.

Celakanya, alam semesta memiliki selera humor yang unik.

Begitu lubang itu membesar, petani melihatnya.

Dan seperti semua petani yang waras, ia segera menutup lubang tersebut.

Selesai.

Tidak ada debat. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada utas sepanjang dua puluh cuitan yang menjelaskan konteks sebenarnya.

Lubang ditutup.

Gandum berhenti mengalir.

Para tamu pulang dengan perut kosong.

Dan si tikus influencer mendadak kehilangan sumber pendapatannya.

Di sinilah Tolstoy menunjukkan kejeniusannya. Tokoh terpenting dalam cerita ternyata bukan tikus, melainkan petani.

Petani adalah simbol realitas.

Realitas tidak peduli pada pencitraan.

Ia tidak terkesan oleh jumlah pengikut.

Ia tidak kagum pada flexing.

Ia hanya bekerja menurut hukumnya sendiri.

Kita sering lupa bahwa banyak nikmat bertahan justru karena ukurannya kecil. Sebagaimana api unggun yang menghangatkan akan berubah menjadi kebakaran jika terlalu dibesarkan, demikian pula rezeki yang cukup sering berubah menjadi musibah ketika dipaksa menjadi pertunjukan.

Bahkan korupsi sering berjalan mengikuti logika tikus tersebut.

Awalnya hanya lubang kecil.

Lalu muncul keyakinan bahwa dirinya pintar.

Kemudian lubang diperbesar.

Lalu diperbesar lagi.

Lalu diperbesar lagi.

Sampai suatu hari petani bernama KPK, auditor, wartawan, atau netizen menemukan lubang itu.

Dan seperti dalam fabel Tolstoy, penutup datang lebih cepat daripada permintaan maaf.

Yang menarik, Tolstoy tidak sedang mengajarkan kita untuk anti-ambisi. Ia tidak menyuruh manusia menjadi malas dan puas dalam kemiskinan.

Ia hanya mengingatkan bahwa ada perbedaan besar antara bertumbuh dan membesar-besarkan.

Pohon mangga tumbuh tanpa pidato.

Matahari terbit tanpa siaran pers.

Padi yang berisi justru menunduk.

Hanya balon yang suka membesar sambil berisik, dan nasib balon biasanya berakhir dengan suara "duar!"

Mungkin itulah sebabnya banyak orang bijak memilih hidup seperti lubang kecil di bawah gudang gandum. Tidak mencolok, tetapi mencukupi. Tidak viral, tetapi tenang. Tidak menjadi bahan iri banyak orang, tetapi juga tidak mengundang perhatian petani.

Sebab pada akhirnya, kebahagiaan sering kali bukan soal memiliki lebih banyak gandum.

Kebahagiaan adalah kemampuan untuk menikmati gandum yang sudah jatuh tanpa merasa perlu mengundang seluruh dunia untuk menyaksikannya.

Dan jika suatu hari Anda menemukan sebuah lubang kecil yang membuat hidup terasa cukup, rawatlah baik-baik.

Jangan terlalu rajin menggerogotinya.

Karena sejarah telah menunjukkan bahwa banyak tragedi besar berawal dari kalimat sederhana:

"Tenang saja, siapa yang akan tahu?"

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Belajar dari Elif Shafak: Mengapa Hidup Tidak Punya Garansi Resmi?

Di zaman ketika blender saja datang dengan kartu garansi dua tahun, manusia justru menjalani hidup tanpa buku petunjuk, tanpa layanan pelanggan, dan tanpa tombol "undo". Mungkin karena itulah kutipan-kutipan Elif Shafak terasa begitu mengena. Ia seperti petugas informasi di stasiun kehidupan yang dengan tenang berkata:

"Maaf, kereta kepastian tidak pernah beroperasi di jalur ini."

Kutipan yang beredar di media sosial itu dimulai dengan kalimat sederhana: "Saya telah belajar bahwa..." Namun daftar pelajaran yang mengikuti kalimat itu tidak sesederhana resep mi instan. Isinya lebih mirip catatan seorang musafir yang sudah cukup lama dipermainkan oleh kehidupan hingga akhirnya memahami cara kerja semesta.

Cinta: Tamu Tak Diundang yang Suka Keluar Diam-Diam

Salah satu pelajaran pertama yang disampaikan Shafak adalah bahwa cinta bisa datang tiba-tiba dan bisa pergi dalam semalam.

Ini adalah fakta yang sering membuat manusia frustrasi.

Ketika membeli rumah, kita menandatangani akta. Ketika membeli motor, ada STNK. Ketika membeli ponsel, ada kartu garansi.

Tetapi ketika jatuh cinta?

Tidak ada surat perjanjian yang berbunyi:

"Produk ini dijamin bertahan selamanya. Jika hubungan rusak sebelum masa berlaku habis, silakan hubungi pusat layanan pelanggan."

Tidak ada.

Cinta datang seperti tamu yang mengetuk pintu tanpa mengirim pesan terlebih dahulu. Kadang ia membawa bunga. Kadang membawa puisi. Kadang membawa trauma.

Yang lebih aneh, cinta juga bisa pergi tanpa mengucapkan salam.

Karena itu, kata Shafak, mungkin kita perlu berhenti memperlakukan kehidupan seperti lemari besi dan mulai memperlakukannya seperti taman. Bunga memang akan layu, tetapi itu bukan alasan untuk tidak menanamnya.

Sahabat dan Fenomena "Update Status Terakhir 2018"

Shafak juga mengingatkan bahwa sahabat besar bisa menjadi orang asing.

Awalnya kalimat ini terdengar menyedihkan.

Tetapi jika dipikir-pikir, hampir semua orang memiliki teman yang dulu setiap hari bercakap-cakap hingga tengah malam, lalu sekarang keberadaannya hanya diketahui dari foto profil WhatsApp.

Hubungan manusia ternyata lebih mirip stasiun kereta daripada tempat parkir permanen.

Ada yang naik di pemberhentian pertama.

Ada yang menemani sampai separuh perjalanan.

Ada yang turun tanpa sempat berpamitan.

Masalahnya, kita sering marah kepada kehidupan karena mengira semua penumpang harus ikut sampai tujuan akhir.

Padahal tiket mereka mungkin memang hanya sampai stasiun berikutnya.

Menunggu Takdir seperti Menunggu Durian Jatuh

Bagian favorit saya adalah ketika Shafak mengatakan bahwa jika ingin bertemu seseorang, kita harus mencarinya.

Nasihat ini terdengar sangat sederhana, tetapi anehnya banyak orang hidup dengan strategi sebaliknya.

Mereka berharap jodoh datang sendiri.

Pekerjaan datang sendiri.

Kesempatan datang sendiri.

Inspirasi datang sendiri.

Mereka duduk diam sambil menunggu keajaiban seperti petani yang berharap durian jatuh tepat ke piring tanpa pernah menanam pohonnya.

Padahal kehidupan lebih sering menghargai orang yang bergerak.

Semesta mungkin tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi hampir pasti tidak memberikan apa pun kepada orang yang bahkan tidak mencoba.

Mungkin inilah yang dimaksud Shafak ketika mengatakan bahwa orang yang mengambil risiko tidak pernah benar-benar kehilangan.

Kalau berhasil, ia mendapat hasil.

Kalau gagal, ia mendapat pelajaran.

Sementara yang tidak mencoba hanya mendapat satu hal: alasan.

Sakit Itu Paket Standar, Penderitaan Itu Fitur Tambahan

Inilah bagian paling filosofis dari kutipan tersebut.

"Merasa sakit tidak terhindarkan, tetapi menderita adalah pilihan."

Bayangkan seseorang terkena hujan.

Basah adalah kenyataan.

Tetapi berdiri tiga jam di bawah hujan sambil berteriak kepada awan tentang ketidakadilan kosmik adalah pilihan.

Hidup memang tidak mungkin bebas dari luka.

Ditolak.

Dikhianati.

Gagal.

Kehilangan.

Semua itu termasuk paket standar kemanusiaan.

Namun sering kali yang membuat kita sengsara bukan peristiwanya, melainkan rapat internal yang terus berlangsung di kepala kita setelah peristiwa itu selesai.

Kita memutar ulang kejadian yang sama seperti sutradara yang terlalu mencintai adegan sedih.

Luka satu hari bisa berubah menjadi penderitaan sepuluh tahun karena terus diputar dalam bioskop pikiran.

Seni Sulit Bernama Menerima Kenyataan

Pelajaran terakhir Shafak mungkin yang paling mahal.

Ia mengatakan bahwa menyangkal hal yang sudah jelas tidak ada gunanya.

Ini terdengar sederhana sampai kita mengingat berapa banyak energi yang dihabiskan manusia untuk menyangkal kenyataan.

Hubungan yang sudah mati diberi infus harapan.

Kesalahan yang jelas masih dicari pembenarannya.

Masalah yang nyata disembunyikan di bawah karpet sampai karpetnya sendiri menyerupai gunung.

Manusia kadang seperti penumpang kapal yang bocor tetapi sibuk mengecat dinding kabin agar terlihat indah.

Padahal laut tidak peduli pada warna cat.

Ia hanya peduli apakah kapal itu sedang tenggelam atau tidak.

Menerima kenyataan memang menyakitkan.

Tetapi menyangkal kenyataan biasanya lebih mahal.

Hidup Tanpa Garansi, Tetapi Tetap Layak Dijalani

Tentu saja, beberapa gagasan Shafak bisa diperdebatkan. Tidak semua orang yang mau pasti bisa. Dunia nyata memiliki kemiskinan, ketimpangan, diskriminasi, dan berbagai tembok yang tidak bisa ditembus hanya dengan semangat.

Namun inti pesannya bukanlah bahwa hidup itu mudah.

Justru sebaliknya.

Hidup itu rumit, tidak pasti, dan sering kali tidak masuk akal.

Tetapi karena itulah kita perlu keberanian.

Keberanian untuk mencintai meski bisa kehilangan.

Keberanian untuk melangkah meski bisa gagal.

Keberanian untuk menerima kenyataan meski pahit.

Keberanian untuk tetap hidup utuh di dunia yang tidak pernah menawarkan garansi apa pun.

Mungkin itulah kebijaksanaan terbesar yang ingin disampaikan Elif Shafak.

Bahwa kehidupan bukanlah kontrak jangka panjang yang penuh kepastian.

Ia lebih mirip perjalanan naik angkot di kota yang belum pernah kita kunjungi.

Kita tidak selalu tahu siapa yang akan duduk di samping kita, siapa yang akan turun lebih dulu, atau di mana jalan akan macet.

Tetapi selama perjalanan masih berlangsung, mungkin yang terbaik bukanlah terus-menerus menuntut kepastian.

Melainkan menikmati perjalanan, sambil sesekali tertawa pada kekacauan yang menyertainya.

 abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Senin, 08 Juni 2026

PBNU, AI, dan Durian: Ketika Organisasi Keagamaan Mulai Bermain di Liga Masa Depan

Pada zaman dahulu, orang mengenal organisasi keagamaan dari tiga hal: pengajian, kitab kuning, dan konsumsi rapat yang kadang lebih panas daripada materi diskusinya. Namun dunia berubah. Kini, ketika seseorang menyebut Nahdlatul Ulama, jangan kaget jika yang dibicarakan bukan hanya fikih wudu, tetapi juga kecerdasan buatan, energi terbarukan, ekonomi syariah, bahkan... durian.

Ya, durian.

Pada 5 Juni 2026, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerima kunjungan Dewan Perniagaan Melayu Malaysia (DPMM). Jika dibaca sekilas, peristiwa ini tampak seperti kunjungan persahabatan biasa. Foto-foto berjabat tangan, senyum diplomatis, dan kalimat-kalimat yang selalu mengandung kata "sinergi", "kolaborasi", dan "penguatan kapasitas".

Namun jika diperhatikan lebih dalam, pertemuan ini sebenarnya seperti trailer film yang memberi bocoran arah cerita berikutnya: PBNU tampaknya sedang mencoba naik level dari organisasi sosial-keagamaan menjadi pemain yang ikut menentukan arah ekonomi, teknologi, dan bahkan diplomasi kawasan.

Dari Kitab Kuning ke Kecerdasan Buatan

Salah satu topik yang dibahas adalah pemanfaatan AI untuk pendidikan, khususnya di pesantren dan madrasah.

Bayangkan seorang santri tahun 1990-an yang harus membolak-balik kitab setebal batu bata untuk mencari satu kalimat dalam kitab tafsir. Kini muncul kemungkinan bahwa suatu hari nanti seorang santri cukup bertanya kepada AI:

"Apa pendapat Imam Nawawi tentang masalah ini?"

Lalu dalam hitungan detik jawaban muncul lengkap dengan referensi.

Tentu saja ini tidak berarti AI akan menggantikan kiai. Sama seperti kalkulator tidak menggantikan guru matematika. Yang terjadi justru sebaliknya: orang jadi makin sadar bahwa memahami jawaban jauh lebih sulit daripada sekadar menemukannya.

AI mungkin bisa menemukan dalil dalam satu detik. Tetapi memahami kapan dalil itu tepat digunakan tetap membutuhkan kebijaksanaan manusia.

Singkatnya, AI bisa menjadi santri yang rajin membaca, tetapi belum tentu santri yang paham adab.

Ekonomi Syariah: Dari Mustahiq ke Market Share

Bagian lain yang menarik adalah ambisi PBNU untuk menjadi penggerak utama ekosistem ekonomi syariah.

Ini adalah perubahan yang cukup besar.

Selama puluhan tahun NU dikenal sebagai kekuatan sosial dengan jutaan anggota dan jaringan pesantren yang luas. Namun kini PBNU tampaknya menyadari sebuah kenyataan sederhana: ceramah yang baik memang menggerakkan hati, tetapi ekonomi yang kuat membantu menjaga dapur tetap menyala.

Dalam bahasa yang lebih jenaka, umat tidak bisa hidup dari tausiyah saja. Bahkan setelah mendengarkan ceramah paling menyentuh sekalipun, seseorang tetap perlu membeli beras saat pulang.

Karena itu masuk akal jika NU mulai berbicara tentang industri halal, investasi, farmasi, energi, dan berbagai sektor ekonomi lainnya.

Ini seperti seorang kiai yang selama bertahun-tahun mengajarkan pentingnya menanam pohon, lalu suatu hari memutuskan membuka perkebunan sendiri.

Diplomasi Durian

Namun dari semua topik yang dibahas, ada satu yang paling mencuri perhatian: durian.

Banyak orang mungkin tersenyum ketika membaca kata itu.

Apa hubungan organisasi Islam terbesar di dunia dengan durian?

Jawabannya sederhana: ekonomi.

Malaysia memiliki pengalaman, teknologi, dan akses pasar yang kuat. Indonesia memiliki lahan luas dan potensi produksi yang besar. Maka lahirlah kerja sama durian.

Sebenarnya durian adalah simbol yang menarik.

Ia mengajarkan bahwa diplomasi tidak selalu harus membahas hal-hal rumit seperti konflik geopolitik, tarif perdagangan, atau perjanjian multilateral. Kadang-kadang hubungan antarbangsa bisa dimulai dari sesuatu yang baunya membuat sebagian orang lari dan sebagian lainnya jatuh cinta.

Durian mengingatkan kita bahwa ekonomi sering bergerak melalui hal-hal yang sangat konkret.

Tidak semua kerja sama harus terdengar canggih. Kadang yang dibutuhkan hanyalah buah berduri dengan aroma yang mampu mengusir nyamuk dalam radius beberapa meter.

Gus Yahya dan Politik Jendela

Jika diperhatikan, seluruh pertemuan ini mencerminkan gaya kepemimpinan Gus Yahya yang relatif berbeda.

Jika sebagian organisasi sibuk memperkuat tembok, PBNU saat ini tampaknya lebih sibuk membuka jendela.

Mereka berbicara dengan berbagai pihak, menjalin hubungan internasional, membangun jejaring ekonomi, dan mencoba menempatkan NU dalam percakapan global.

Pendekatan ini mengingatkan pada filosofi rumah tradisional Nusantara.

Rumah yang sehat bukan rumah yang seluruh pintunya tertutup rapat. Rumah yang sehat adalah rumah yang cukup kokoh menjaga identitasnya, tetapi cukup terbuka untuk menerima angin segar dari luar.

Terlalu tertutup membuat penghuninya pengap.

Terlalu terbuka membuat ayam tetangga ikut masuk.

Kebijaksanaan terletak pada menemukan titik tengahnya.

Tantangan yang Tidak Kecil

Tentu saja jalan menuju transformasi ini tidak bebas hambatan.

Mengelola organisasi keagamaan besar saja sudah rumit. Mengelola ekosistem ekonomi berskala nasional jauh lebih rumit lagi.

Pertanyaannya bukan apakah NU memiliki massa yang besar. Semua orang tahu jawabannya.

Pertanyaannya adalah apakah massa besar itu dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi yang efektif, profesional, dan berkelanjutan.

Lalu ada tantangan AI.

Teknologi sering kali seperti pisau dapur. Di tangan koki, ia menghasilkan makanan lezat. Di tangan anak kecil yang baru belajar bermain-main, hasilnya bisa berbeda.

Karena itu modernisasi pesantren tidak cukup hanya membeli perangkat lunak atau memasang internet cepat. Yang lebih penting adalah membangun budaya berpikir kritis, etika digital, dan kemampuan menyaring informasi.

Jika tidak, AI hanya akan menjadi versi mahal dari mesin fotokopi.

Dari Penonton Menjadi Pemain

Pada akhirnya, pertemuan PBNU dan DPMM bukan sekadar berita kunjungan biasa.

Ia adalah pertanda bahwa NU sedang mencoba mendefinisikan ulang perannya di abad ke-21.

Dunia hari ini ibarat sebuah pertandingan sepak bola yang dimainkan dengan aturan baru setiap beberapa menit. Ada AI, ekonomi digital, perubahan geopolitik, dan transformasi sosial yang bergerak sangat cepat.

Dalam situasi seperti itu, PBNU tampaknya tidak ingin duduk di tribun sambil mengomentari pertandingan.

Mereka ingin turun ke lapangan.

Tentu, belum ada jaminan semua rencana akan berhasil. AI bisa gagal menjangkau pesantren terpencil. Ekonomi syariah bisa tersandung birokrasi. Diplomasi durian bisa saja berakhir hanya menjadi obrolan sambil minum kopi.

Namun sejarah selalu lebih ramah kepada mereka yang mencoba daripada mereka yang hanya mengeluh.

Dan jika suatu hari nanti ada santri yang belajar fikih menggunakan AI sambil menikmati durian hasil kerja sama Indonesia-Malaysia, mungkin kita akan tersenyum dan berkata:

"Ternyata masa depan datang bukan dengan suara gemuruh. Kadang ia datang membawa laptop di satu tangan dan durian di tangan yang lain."

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Sumber: https://nu.or.id/nasional/pbnu-terima-delegasi-dpm-malaysia-bahas-ekonomi-syariah-hingga-ai-untuk-pendidikan-2wiZz