Rabu, 04 Februari 2026

Buku: Teman Setia yang Tidak Pernah Minta Ditraktir

Ada dua jenis orang saat penerbangan delay enam jam di bandara.

Yang pertama: mondar-mandir seperti zombie kehilangan WiFi.
Yang kedua: duduk tenang, senyum tipis, seolah baru saja menemukan pintu rahasia menuju Narnia.

Orang kedua itu biasanya… bawa buku.

Kutipan dari Joaquรญn Sabina yang dibagikan Paola Medina itu sebenarnya sederhana, tapi efeknya seperti kopi hitam jam tiga pagi: bikin melek jiwa. Sabina bilang buku menyelamatkannya dari kesepian. Dan jujur saja, buku memang satu-satunya teman yang kalau kita cuekin tidak ngambek, tidak kirim chat “kamu berubah ya”, dan tidak pernah minta traktiran.

Bandara: Ujian Kesabaran atau Pintu ke 1000 Kehidupan

Bayangkan suasana bandara saat delay:
Anak kecil menangis, bapak-bapak menghela napas seperti sedang menanggung dosa satu RT, dan pengumuman berbunyi setiap 10 menit hanya untuk bilang, “Mohon menunggu dengan sabar,” yang ironisnya membuat semua orang semakin tidak sabar.

Di tengah kekacauan itu, seorang pembaca membuka buku.

Secara fisik dia masih duduk di kursi plastik dekat colokan rusak.
Tapi secara mental?
Dia sudah di Roma Kuno, ikut debat filsuf berjanggut, atau mungkin sedang menyaksikan drama Yunani yang semua tokohnya punya masalah keluarga tingkat dewa.

Orang lain terjebak di bandara.
Dia terjebak… di dalam petualangan epik.
Dan anehnya, dia justru tidak ingin cepat-cepat “dibebaskan”.

Kesepian Itu Bukan Soal Sendiri, Tapi Soal Kosong

Sabina paham satu hal penting: kesepian itu bukan karena tidak ada orang. Buktinya, bandara penuh manusia—tapi rasanya tetap seperti ruang tunggu eksistensial.

Kesepian itu datang ketika pikiran tidak punya teman ngobrol.

Nah, buku itu cerewet.
Dia ngobrol tentang cinta, perang, pengkhianatan, filsafat, bahkan tentang orang yang berubah jadi serangga raksasa (kita lihat kamu, Kafka ๐Ÿ›).

Saat membaca, kita sebenarnya sedang menyewa otak orang lain untuk ditumpangi sementara. Kita hidup sebagai detektif, penyair, jenderal perang, atau nenek-nenek pemilik toko roti di kota kecil yang penuh rahasia. Satu buku saja bisa membuat kita mengalami lebih banyak drama daripada grup WhatsApp keluarga saat Lebaran.

Di Era Scroll Tanpa Jiwa

Sekarang ini kita hidup di zaman di mana jempol lebih atletis daripada kaki. Scroll, scroll, scroll… tahu-tahu dua jam hilang dan yang kita dapat cuma video kucing jatuh dari meja (yang tetap kita tonton tiga kali).

Media sosial itu seperti camilan: enak, cepat, tapi lima menit kemudian lapar lagi.
Buku itu seperti makan nasi lengkap lauk: butuh waktu, tapi kenyangnya sampai ke jiwa.

Buku tidak berisik. Tidak ada notifikasi. Tidak ada yang teriak, “Breaking news!” padahal beritanya cuma artis potong poni. Buku hadir pelan, tapi dalam. Dia tidak hanya mengisi waktu—dia mengisi ruang kosong di dalam diri yang sering tidak kita sadari.

Tapi… Buku Bukan Barang Gaib yang Turun dari Langit

Di balik romantisme “buku mengusir kesepian”, ada kenyataan yang tidak boleh di-skip seperti iklan YouTube: tidak semua orang punya akses mudah ke buku. Tidak semua orang punya waktu luang. Tidak semua orang dibiasakan akrab dengan bacaan sejak kecil.

Jadi kalau kita setuju buku adalah teman setia, tugas kita bukan cuma membaca diam-diam sambil terlihat intelek, tapi juga ikut bikin lebih banyak orang bisa kenal “teman” ini. Perpustakaan, donasi buku, ruang baca, atau sekadar membiasakan cerita ke anak—itu semua cara memperluas lingkaran pertemanan… antara manusia dan halaman kertas.

Anti-Kesepian Tanpa Baterai

Akhirnya, Sabina benar. Dengan buku di tangan, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Kita ditemani tokoh-tokoh yang mungkin fiktif, tapi emosinya nyata. Kita diajak masuk ke kehidupan yang mungkin tidak pernah kita jalani, tapi diam-diam membentuk cara kita memahami dunia.

Dan yang paling hebat:
Buku tidak perlu di-charge.
Tidak ada sinyal hilang.
Tidak ada password salah.

Cukup buka halaman pertama—dan tiba-tiba, kursi bandara berubah jadi mesin waktu, kapal bajak laut, atau bangku taman tempat dua tokoh novel jatuh cinta dengan dialog yang terlalu indah untuk terjadi di dunia nyata.

Jadi lain kali hidup terasa sepi, mungkin solusinya bukan cari keramaian…
tapi cari rak buku terdekat.

Karena ternyata, obat kesepian itu bukan selalu seseorang.
Kadang… cuma 300 halaman dan sedikit imajinasi. ๐Ÿ“–✨

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Brasil Menari Samba, Dunia Medis Ikut Berdiri

Pada awal Februari 2026, dunia mendadak seperti bangun kesiangan lalu menemukan kabar besar di beranda: Brasil—negeri sepak bola, samba, dan karnaval—mengumumkan obat regenerasi sumsum tulang belakang pertama di dunia. Ya, Brasil. Bukan Jerman dengan jas putihnya, bukan Jepang dengan robotnya, tapi negara yang identik dengan goyang pinggul justru membuat dunia medis refleks berdiri… secara harfiah.

Kabar ini muncul lewat akun X @argosaki dan langsung bikin linimasa terasa seperti konferensi neurosains dadakan. Orang-orang yang biasanya debat kopi sachet vs kopi tubruk, mendadak bicara tentang akson, laminin, dan regenerasi saraf dengan penuh percaya diri. Internet memang ajaib: satu hari bahas gosip artis, besok sudah siap jadi anggota dewan etik penelitian.

Selama ini, cedera sumsum tulang belakang diperlakukan dunia kedokteran seperti mantan yang tak bisa balikan. Diterima dengan ikhlas, dirawat sebaik mungkin, tapi jangan berharap bisa kembali seperti dulu. Rehabilitasi iya, penyesuaian hidup iya, tapi “sembuh total”? Itu biasanya masuk kategori doa panjang setelah salat.

Lalu datanglah Polylaminin—nama yang terdengar seperti menu diet protein tapi ternyata serius sekali. Obat ini digadang-gadang mampu merangsang regenerasi sel saraf, memperbaiki jaringan yang rusak, dan membimbing akson layaknya pemandu wisata di Rio de Janeiro: “Lewat sini, Mas Akson, pemandangannya bagus dan nyambung ke otot.”

Hasil awalnya? Beberapa pasien yang sebelumnya lumpuh mulai bisa menggerakkan tubuh lagi. Bahkan ada yang berjalan. Dunia medis pun terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Lho… ini kok beneran?”

Ternyata ini bukan sulap, bukan editan AI, apalagi hoaks berlabel “dokter luar negeri bilang…”. Di baliknya ada penelitian 25 tahun yang dipimpin Dr. Tatiana Coelho-Sampaio dari UFRJ. Dua puluh lima tahun. Sebuah durasi yang cukup untuk membesarkan anak, menunggu cicilan lunas, atau—bagi netizen—menunggu janji reformasi birokrasi.

Obat ini sudah dipresentasikan secara resmi, mendapat lampu hijau dari Anvisa untuk uji klinis Fase 1, dan diuji pada manusia serta anjing. Bahkan anjing pun ikut merasakan revolusi medis. Sebuah bukti bahwa kemajuan sains benar-benar lintas spesies.

Namun tentu saja, di tengah euforia tagar #MedicalBreakthrough dan ilustrasi futuristik bertuliskan “paralysis may soon end”, para ilmuwan tetap berdiri dengan wajah serius: jangan GR dulu. Uji klinis masih panjang, jalannya berliku, dan sejarah pengobatan saraf penuh dengan harapan yang patah di tikungan fase lanjutan.

Sains, kata mereka, bukan lomba sprint, melainkan maraton. Bedanya, maraton ini sambil membawa mikroskop, proposal dana, dan reviewer jurnal yang galaknya setara dosen pembimbing skripsi.

Dari sisi media sosial, kisah ini juga menarik. Twitter—yang biasanya jadi arena adu argumen politik dan meme absurd—mendadak berubah jadi ruang kuliah umum. Warganet Brasil pun bangga, menegaskan bahwa universitas publik dan sistem kesehatan nasional mereka bukan cuma buat antre, tapi juga bisa melahirkan terobosan dunia. Nasionalisme versi ilmiah: tanpa yel-yel, tapi penuh sitasi.

Kesimpulannya, terobosan dari Brasil ini memang layak dirayakan—dengan tepuk tangan yang rapi, bukan lompat-lompat berlebihan. Ia membuka pintu yang selama ini dianggap terkunci permanen. Tapi pintu itu masih perlu dicek engselnya, gagangnya, dan izin bangunannya.

Jika semua berjalan lancar, dunia mungkin akan mencatat satu momen penting: saat harapan bagi penderita cedera tulang belakang tidak lagi sekadar kalimat penghibur, melainkan rencana nyata. Dan ketika hari itu tiba, kita akan ingat bahwa revolusi medis ini bukan datang dari laboratorium dingin penuh kesunyian, melainkan dari negeri yang mengajarkan dunia satu hal penting: bahkan sains pun boleh punya ritme—asal tetap berdansa dengan data. ๐Ÿ’ƒ๐Ÿง 

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Israiliyat: Ketika Tafsir Al-Qur’an Pernah “Kedatangan Tamu dari Sebelah”

Dalam sejarah panjang penafsiran Al-Qur’an, ada satu bab yang kalau difilmkan mungkin judulnya: “Tafsir dan Para Tamu Tak Diundang (Tapi Juga Tak Diusir)”. Tamu itu bernama Israiliyat — kisah-kisah dari tradisi Yahudi dan Nasrani yang ikut nimbrung dalam obrolan tafsir.

Bukan karena umat Islam kurang bahan, ya. Tapi karena manusia memang punya satu sifat abadi: kalau dikasih cerita ringkas, pasti nanya, “Terus gimana detailnya?”

๐Ÿ“– Al-Qur’an Singkat, Manusia Penasaran

Al-Qur’an itu kalau bercerita sering gaya minimalis elegan. Kisah Nabi Musa? Intinya ada. Firaun? Jelas. Tapi detail seperti warna sandal Nabi Musa atau menu makan siang Bani Israil? Tidak dibahas.

Nah, di sinilah rasa penasaran manusia bangkit.

Umat Islam awal hidup berdampingan dengan Ahli Kitab yang sudah punya tradisi cerita panjang lebar. Jadi ketika ada ayat yang kisahnya global, sebagian orang bertanya ke “tetangga sebelah”:

“Eh, di kitab kalian ceritanya gimana lanjutannya?”

Dan tetangga menjawab. Panjang. Detail. Kadang terlalu detail. Sampai ada kisah yang kalau dibayangkan terasa seperti versi director’s cut yang bahkan sutradaranya sendiri tidak ingat pernah syuting.

๐Ÿง  Bukan Konspirasi, Tapi Interaksi Sosial

Masuknya Israiliyat ini bukan hasil rapat rahasia bertema “Misi Menyelundupkan Cerita Tambahan”. Ini lebih mirip fenomena sosial biasa: orang pindah agama, tapi memorinya belum di-factory reset.

Tokoh-tokoh seperti Ka’b al-Ahbar dan Wahb bin Munabbih itu ibarat perpustakaan berjalan. Mereka masuk Islam, tapi tetap menyimpan banyak kisah dari tradisi sebelumnya. Ketika ditanya, ya mereka cerita. Dan orang-orang mendengarkan.

Awalnya para sahabat Nabi itu super hati-hati. Sikap mereka kira-kira begini:

“Boleh dengar… tapi jangan langsung percaya. Kita cek dulu.”

Masalahnya, generasi setelahnya tidak selalu seketat itu. Ada yang mencatat semua cerita seperti mahasiswa rajin yang takut ada materi keluar ujian. Akibatnya, sebagian tafsir klasik jadi mirip buku sejarah + dongeng + catatan kaki yang lupa disaring.

๐Ÿงบ Untung Ada “Keranjang Sortir”

Para ulama tidak tinggal diam. Mereka sadar kalau semua cerita ditelan mentah-mentah, nanti tafsir bisa berubah jadi Netflix: Ancient Universe Edition.

Maka dibuatlah klasifikasi Israiliyat jadi tiga:

  1. Yang cocok dengan ajaran Islam → boleh diterima
  2. Yang bertentangan → langsung tolak
  3. Yang netral, nggak jelas benar-salah → boleh diceritakan, tapi jangan diyakini

Ini semacam fitur “filter spam” versi klasik. Tidak semua email dari luar itu virus, tapi juga jangan asal klik link berhadiah unta gratis.

๐Ÿงฉ Sisi Positifnya Ada?

Aneh tapi nyata, Israiliyat juga punya sisi manfaat. Ia menunjukkan bahwa Islam tumbuh dalam dialog peradaban, bukan dalam ruang hampa. Umat Islam awal itu aktif, terbuka, dan mau berdiskusi. Jadi jangan dibayangkan mereka hidup dalam gelembung WiFi syariat tanpa sinyal dari luar.

Tapi tetap, keterbukaan tanpa saringan itu seperti prasmanan tanpa penutup:
lalat ideologi bisa ikut hinggap.

๐Ÿ“ฑ Israiliyat Zaman Sekarang: Versi Digital

Kalau dulu Israiliyat datang lewat lisan, sekarang datang lewat forward WhatsApp.

Dulu orang bertanya ke mantan rabbi.
Sekarang orang bertanya ke akun dengan nama “SejarahIslam_RealNoHoax_786”.

Dulu sanad diperiksa.
Sekarang yang diperiksa cuma:

“Banyak yang share berarti benar.”

Padahal bisa jadi itu Israiliyat 2.0: kisah dramatis, penuh detail, bikin merinding… tapi sumbernya dari grup sebelah yang adminnya juga tidak tahu asalnya dari mana.

๐ŸŽ“ Pesan Serius di Balik Senyum

Di sinilah relevansi besar pembahasan Israiliyat. Artikel yang dibahas itu sebenarnya sedang mengingatkan kita bahwa:

Islam itu terbuka terhadap ilmu
Tapi juga punya tradisi verifikasi ketat
Tidak semua cerita religius itu otomatis religius secara valid

Sikap sahabat Nabi itu keren sekali:
tidak paranoid, tapi juga tidak polos.

Mereka tidak bilang:

“Semua dari luar itu sesat!”

Tapi juga tidak bilang:

“Wah, cerita baru! Masukkan tafsir edisi revisi!”

Mereka memilih jalan tengah: dengar, cek, timbang, baru simpulkan.

๐Ÿ  Tafsir Butuh Ilmu, Bukan Imajinasi Liar

Kisah Israiliyat dalam tafsir adalah bukti bahwa perjalanan ilmu itu dinamis, manusiawi, dan kadang sedikit berantakan. Tapi dari situ lahir tradisi kritik, klasifikasi, dan metodologi ilmiah dalam Islam.

Jadi kalau hari ini kita menemukan cerita agama yang:

  • dramatis sekali
  • detailnya sinematik
  • tapi sumbernya “katanya dari kitab lama”

Maka ingatlah pelajaran klasik ini.

Senyum boleh. Kagum boleh.
Tapi tetap tanyakan:

“Sanadnya mana, Bos?”

Karena pada akhirnya, seperti penutup paling elegan dalam dunia keilmuan Islam:

Wallahu a’lam bisshawab
dan manusia tetap wajib pakai akal sebelum pakai tombol share.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Mencari Sahabat Sejati: Ternyata Bukan di Grup WhatsApp

Manusia itu makhluk sosial. Katanya. Buktinya? Kita punya teman sekolah, teman kerja, teman ngopi, teman curhat, teman yang cuma muncul kalau mau pinjam uang, dan teman yang hilang kalau kita yang mau pinjam duluan. Lengkap. Paket komplit.

Tapi di balik semua interaksi itu, ada satu pencarian klasik umat manusia sejak zaman belum ada Wi-Fi: mencari sahabat sejati. Yang ngerti kita luar-dalam. Yang setia. Yang nggak kabur waktu kita lagi berantakan. Yang tetap stay walau kita lagi versi “draft belum diedit”.

Nah, menurut kajian tasawuf dari Hikam Ibnu Atha’illah (hikmah ke-132), ada kabar yang agak mengejutkan tapi juga melegakan:
Sahabat sejati itu… bukan manusia.

Iya. Bukan si dia. Bukan bestie. Bukan juga teman yang bio Instagram-nya “always here for you” tapi slow respon tiga hari.

Sahabat sejati itu Allah SWT.


Sahabat yang Tahu Aibmu… dan Tidak Screenshoot

Coba bayangkan ini.
Manusia berteman itu biasanya karena nggak tahu semuanya. Kita menampilkan versi terbaik: foto yang sudah difilter, cerita yang sudah diedit, dan aib yang sudah dikubur dalam-dalam.

Kalau semua isi hati kita diputar di layar LED satu kota?
Kemungkinan besar, kita pindah planet.

Tapi Allah?
Dia tahu semuanya. Dari pikiran random jam 2 pagi, niat yang setengah tulus setengah pencitraan, sampai dosa yang kita sendiri sudah lupa — semua dalam database Ilahi. Full akses. Tanpa password.

Dan yang bikin merinding sekaligus terharu:
Dia tetap menutupi.
Tetap memberi rezeki.
Tetap memberi napas.
Tetap membuka pintu taubat.

Kalau manusia tahu 10% saja dari aib kita, bisa-bisa hubungan berubah jadi,
“Maaf ya, kita temenan biasa aja dulu.”

Allah tahu 100% — dan tetap sayang.

Itu level persahabatan yang bahkan algoritma media sosial pun nggak sanggup pahami.


Malu Level Premium: Dia Selalu Online

Dari sini lahir satu perasaan penting dalam tasawuf: malu kepada Allah (haya’).

Bukan malu karena ketahuan orang.
Bukan malu karena viral.
Tapi malu karena sadar:

“Ya Allah, Engkau lihat aku terus… dan aku masih aja begini.”

Ini bukan malu yang bikin minder. Ini malu yang bikin rem otomatis aktif sebelum maksiat jalan.

Kayak ada CCTV, tapi bukan buat menakut-nakuti.
Lebih kayak… kamera kasih sayang.

Allah melihat bukan untuk mempermalukan, tapi untuk menjaga kita tetap punya arah.


Transaksi Paling Aneh: Kita Dijual, Tapi Untung

Dalam QS At-Taubah: 111, Allah menggambarkan hubungan ini seperti jual-beli.
Allah “membeli” jiwa dan harta orang beriman, dibayar dengan surga.

Kalau ini terjadi di marketplace dunia, review-nya pasti begini:

⭐⭐⭐⭐⭐
“Barang jelek, penuh dosa, sering lalai, tapi tetap dibeli dengan harga surga. Seller terbaik. Recommended.”

Masalahnya, setelah “dibeli”, kita kadang masih bertingkah seperti pemilik asli.

Masih bilang:
“Ini semua karena kerja keras saya.”
“Ini murni usaha saya.”

Padahal kita ini sudah diakuisisi Ilahi.
Hidup ini bukan lagi perusahaan milik pribadi.
Kita sudah jadi anak perusahaan milik Allah — dan tetap sering melanggar SOP ๐Ÿ˜…

Lalu, Manusia Nggak Perlu Teman?

Perlu banget. Kita bukan pertapa Wi-Fi-off.

Tapi bedanya, manusia itu teman perjalanan, bukan tujuan akhir sandaran hati.
Teman yang baik itu yang bikin kita ingat Allah, bukan lupa waktu, lupa shalat, lupa diri, tapi ingat mantan.

Kalau setelah nongkrong kita jadi lebih dekat ke Allah — itu teman berkualitas.
Kalau setelah nongkrong kita malah makin jauh dari sajadah — itu bukan sahabat sejati, itu sahabat “uji iman”.

Terapi Psikologis Gratis dari Langit

Ada satu efek samping indah dari memahami ini:
kita jadi lebih rendah hati.

Bayangkan, kita ini cuma tahu sedikit sekali tentang diri kita sendiri. Tapi Allah tahu semuanya — dan tetap menerima kita.

Itu bikin hati tenang.
Kita nggak perlu pura-pura sempurna di hadapan-Nya.
Datang saja apa adanya:

“Ya Allah, ini aku. Versi gagal. Versi banyak dosa. Versi sering janji tapi lupa. Tapi aku datang lagi.”

Dan pintu-Nya tetap terbuka.

Itu penerimaan diri paling tinggi. Bukan karena kita hebat, tapi karena Allah Maha Lembut.


Akhirnya Kita Tahu Harus Curhat ke Siapa

Setelah paham ini, hidup jadi agak ringan.
Kita tetap punya teman, tapi tidak lagi menuntut mereka jadi “penyelamat jiwa”.

Karena tempat curhat paling aman itu bukan status WhatsApp.
Bukan close friends Instagram.
Bukan juga story dengan lagu galau.

Tapi sajadah.
Doa pelan-pelan.
Air mata yang nggak perlu penonton.

Di sanalah kita “bergosip” paling jujur — kepada Sahabat yang tidak pernah bosan mendengar, tidak pernah membocorkan rahasia, dan tidak pernah meninggalkan.


Jadi kalau hari ini merasa sendirian, ingat satu hal:
Kita mungkin tidak selalu punya manusia yang paham segalanya tentang kita.

Tapi kita selalu punya Allah.
Yang tahu semuanya.
Menutup aib kita setiap hari.
Dan masih memanggil kita:

“Kembalilah.” ๐Ÿค

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Selasa, 03 Februari 2026

Melangkah dalam Cahaya: Perjalanan Rohani yang Ternyata Bukan Paket Wisata Instan

Di zaman ketika kesuksesan sering diukur dari jumlah followers, saldo rekening, dan seberapa sering kita bilang “lagi sibuk banget nih”, jiwa manusia diam-diam kayak tanaman hias yang lupa disiram: layu tapi tetap difoto buat Instagram. Nah, di tengah kegersangan batin ini, nasihat sang kyai datang seperti air zamzam di tengah gurun—bedanya, ini bukan buat diminum doang, tapi buat nyiram ego juga.

Masalah Utama: Hati Kita Terlalu Ramai Penghuni

Kyai dengan lembut tapi menusuk mengingatkan bahwa yang bikin kita jauh dari Allah itu bukan jarak geografis (Allah nggak pindah kok), tapi jarak ego. Hati kita sering penuh oleh makhluk-makhluk kecil bernama:
“Pengen dipuji”,
“Pengen dianggap alim”,
“Pengen kelihatan paling sabar padahal mendidih”.

Ibarat mau nyalain lampu, tapi stopkontaknya penuh colokan duniawi: colokan gengsi, terminal ambisi, charger pencitraan. Ya jelas cahaya Ilahi susah masuk. Bukan karena Allah pelit cahaya, tapi hati kita sudah kayak gudang flash sale—penuh barang nggak penting tapi tetap dipertahankan.

Makrifat Itu Bukan Ilmu Sulap

Sering orang mengira kedekatan dengan Allah itu identik dengan “kesaktian spiritual”: mimpi aneh, firasat tajam, atau aura bergetar 5G. Padahal kata sang kyai, pintu makrifat bukan dibuka dengan jurus “Tenaga Dalam Level Dewa”, tapi dengan jurus yang lebih berat: mengalahkan diri sendiri.

Plot twist-nya: musuh terberat ternyata bukan setan, tapi “aku”.
Dan “aku” ini licin. Bisa muncul pakai jubah ibadah.

“Aku paling ikhlas.”
Nah, kalau sudah bilang begitu… ya batal lagi ๐Ÿ˜…

Ikhlas: Kata Sederhana, Praktik Level Legenda

Ikhlas itu sering disangka mode hemat energi: pasrah, diem, nggak usah mikir. Padahal justru kebalikannya. Ikhlas itu hasil dari paham. Dari sadar betul siapa kita dan siapa Allah. Jadi bukan ibadah sambil mikir, “Semoga ada yang lihat story shalat tahajudku.”

Kyai menggambarkan ibadah yang benar itu mengalir alami—kayak angin berhembus, air mengalir, waktu berjalan. Bukan kayak orang diet yang tiap lima menit update:
“Masih kuat nggak makan gorengan, ya Allah…”

Ibadah yang tulus itu nggak berisik. Yang berisik biasanya… nafsunya.

Bersih Luar Dalam, Bukan Cuma Feed Instagram

Kita rajin wudhu, mandi, pakai baju bersih. Tapi hati?
Masih nyimpen:

  • Iri level profesional
  • Dendam edisi terbatas
  • Ujub premium package

Padahal kata kyai, membersihkan batin itu sama wajibnya dengan bersihin badan. Kalau badan bau, orang menjauh. Kalau hati bau… malaikat yang menjauh. Dan malaikat nggak bisa dibohongi pakai parfum kasturi.

Orang Bercahaya Itu Nggak Perlu Spotlight

Orang dekat Allah itu diibaratkan lampu. Dia nggak perlu teriak, “PERHATIKAN SAYA SEDANG BERSINAR!”
Dia cuma ada… tapi bikin terang.

Sementara kita kadang kayak lampu disko: nyala-mati, nyala-mati, plus berisik. Hari ini semangat ibadah, besok ngambek sama takdir, lusa debat kusir di komentar.

Kyai mengingatkan, hidup ini pendek. Jangan habisin waktu buat ribut, baper, dan debat yang ujungnya cuma nambah dosa jempol. Lebih baik duduk dekat “cahaya” daripada lama-lama nongkrong di kegelapan sambil merasa paling benar.

Soal Rezeki: Kita Panik, Allah Santai

Manusia sering stres mikirin rezeki masa depan, sampai lupa menikmati rezeki hari ini: masih bisa napas gratis, jantung berdetak tanpa langganan premium, dan masih bisa sujud.

Kyai menegaskan: rezeki itu bukan cuma uang. Bisa ibadah enak, hati tenang, badan sehat—itu juga rezeki. Bahkan tidur pun tetap dapat jatah hidup. Coba bayangin kalau napas pakai token listrik. Panik kita tiap malam.

Tawakal bukan berarti rebahan sambil nunggu uang jatuh dari langit. Itu mah namanya rebahan kreatif tanpa hasil. Tawakal itu usaha maksimal, hati tetap tenang. Kayak sudah kirim lamaran kerja: setelah itu ya doa, bukan refresh email tiap 30 detik sambil curiga ke takdir.

Akhirnya: Pulang dengan Ringan

Inti perjalanan rohani ini sederhana tapi berat dijalankan:
Kurangi beban yang bukan milik kita—gengsi, iri, haus pujian—supaya langkah menuju Allah jadi ringan.

Karena ternyata, yang bikin perjalanan terasa jauh itu bukan Allah yang jauh…
tapi kita yang bawa koper ego ukuran jumbo, plus tas tenteng berisi drama masa lalu.

Nasihat sang kyai mengajak kita jadi hamba yang wajar: ibadah tanpa pamer, hidup tanpa berlebihan, berharap tanpa cemas berlebihan. Pelan-pelan hati dibersihkan, sampai cahaya itu datang sendiri.

Dan saat cahaya itu sudah menyala…
kita nggak perlu bilang apa-apa.
Orang lain akan merasa hangat tanpa tahu kenapa.

Itulah tanda perjalanan pulang sudah dimulai. ๐ŸŒฟ✨

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Krasznahorkai dan Seni Bertahan Hidup Tanpa Harapan (Tapi Tetap Membaca)


Panduan Awal bagi Pembaca yang Ingin Gelisah Secara Intelektual

Di tengah dunia sastra yang semakin ramah pembaca—kalimat pendek, konflik jelas, dan akhir yang setidaknya memberi harapan untuk ngopi—Lรกszlรณ Krasznahorkai hadir sebagai sosok yang tampaknya bertanya: “Bagaimana kalau kita buat pembaca kelelahan dulu, baru kemudian putus asa?”

Ia bukan sekadar penulis, melainkan instruktur yoga eksistensial, dengan satu pose utama: menahan napas selama satu halaman penuh tanpa titik. Maka wajar bila muncul “panduan membaca cepat” untuk dirinya—bukan agar cepat selesai, melainkan agar pembaca tahu kapan harus berhenti, menarik napas, dan mempertanyakan pilihan hidup.

Tango Satรกnico: Novel atau Uji Ketahanan Mental?

Panduan ini dibuka dengan Tango Satรกnico (1985), sebuah novel yang membuktikan bahwa desa kecil bisa lebih menakutkan daripada kota besar, asalkan diisi oleh manusia yang kehilangan ideologi, harapan, dan jadwal kerja tetap.

Ini bukan cerita tentang pasca-komunisme semata, melainkan pasca-semua: pasca-makna, pasca-antusiasme, pasca-keinginan untuk bangun pagi. Ideologi runtuh, tapi yang tumbuh justru kebiasaan mabuk, gosip, dan rencana besar yang selalu gagal.

Jika novel lain bertanya, “Apa yang harus kita lakukan setelah sistem runtuh?”, Krasznahorkai menjawab, “Tidak ada. Duduklah. Tunggu. Busuklah dengan elegan.”

Melancolรญa de la resistencia: Melawan, Tapi Sambil Merasa Percuma

Masuk ke Melancolรญa de la resistencia (1989), kita diajak memahami bahwa melawan ketidakadilan itu penting—meski hasilnya mungkin nihil, dan perasaan murung tetap lebih dominan daripada kemenangan.

Di sini, melankoli bukan sekadar sedih, tapi modus hidup. Tokoh-tokohnya tampak seperti aktivis yang sudah membaca terlalu banyak teori kritis, sehingga sadar sejak awal bahwa revolusi kemungkinan besar akan gagal, tapi tetap dilakukan demi konsistensi batin.

Kalimat-kalimatnya panjang, berkelok, dan melelahkan—seolah dunia sudah terlalu kompleks untuk dijelaskan dengan subjek-predikat-objek yang sopan. Ini sastra yang berkata, “Kalau realitas ruwet, kalimat juga harus ikut ruwet.”

Guerra y guerra: Arsip, Sebelum Semuanya Hilang

Puncaknya adalah Guerra y guerra (1999), novel tentang obsesi menyelamatkan teks di tengah sejarah yang gemar menghancurkan segalanya. Tokohnya seperti pustakawan kiamat: tahu dunia akan runtuh, tapi tetap bersikeras menyimpan dokumen, karena siapa tahu masih ada satu makhluk hidup yang ingin membaca.

Di sini, menulis bukan lagi aktivitas estetis, melainkan ritual pengusiran ketiadaan. Bahasa diperlakukan seperti lilin kecil di tengah badai: nyalanya lemah, tapi memadamkannya berarti menyerah total.

Paradoksnya indah: Krasznahorkai menulis tentang kehancuran dengan struktur kalimat yang sangat disiplin, seolah berkata, “Dunia boleh runtuh, tapi sintaks tidak.”

Panduan Membaca atau Panduan Bertahan?

Maka, “panduan membaca cepat” ini sejatinya adalah kompas bagi jiwa-jiwa nekat yang ingin menjelajah wilayah gelap kesadaran manusia tanpa senter. Tiga novel itu bukan sekadar daftar bacaan, melainkan tahap inisiasi:

dari menyadari pembusukan,

menerima bahwa perlawanan pun bisa muram,

hingga menyimpan ingatan dengan penuh kecemasan namun keras kepala.

Membaca Krasznahorkai Tanpa Menjadi Nihilis (Total)

Apakah Krasznahorkai akan mendapat Nobel Sastra 2025? Itu urusan juri. Tapi bagi pembaca, ia sudah memberi hadiah yang jauh lebih konkret: izin untuk gelisah secara mendalam dan sah secara sastra.

Ia mengajarkan bahwa menghadapi kekosongan tidak harus dengan optimisme murahan. Cukup dengan kalimat panjang, kesabaran ekstra, dan keyakinan bahwa—meski dunia menuju entropi—menulis dan membaca tetaplah bentuk perlawanan paling keras kepala yang pernah ada.

Singkatnya, membaca Krasznahorkai itu seperti masuk lorong gelap tanpa janji keluar. Tapi setidaknya, lorong itu ditulis dengan sangat indah.

abah-arul.blogspot.com., Feberuari 2026

AGI Sudah Datang atau Masih Nyasar di Google Maps?

Beberapa tahun lalu, manusia masih sombong. Kita merasa jadi satu-satunya makhluk di planet ini yang bisa mikir sambil ngopi, galau sambil nulis puisi, dan salah kirim pesan tapi pura-pura itu strategi hidup. Lalu tiba-tiba muncul klaim mengejutkan: AGI (Artificial General Intelligence) sudah tercapai.

Bukan lagi “akan datang”.
Bukan “dalam 20 tahun lagi”.
Tapi… “Bro, itu sudah di sini. Kamu aja yang belum mau ngaku.”

Klaim ini muncul dari ringkasan dramatis sebuah artikel komentar ilmiah yang kemudian hidup bahagia di media sosial. Intinya: model bahasa besar seperti Grok dan kawan-kawannya sudah menunjukkan kemampuan intelektual setara manusia rata-rata. Bahkan kadang kelihatan lebih rajin, karena mereka tidak pernah bilang, “Maaf, lagi burnout.”

Bukti-Bukti: Dari Ngobrol Sampai Olimpiade

Para pendukung kubu “AGI sudah lahir” membawa daftar prestasi yang bikin CV manusia mendadak terlihat seperti catatan kegiatan RT.

Katanya, AI:

  • Bisa ngobrol begitu lancar sampai orang salah kira itu manusia (dan ironisnya, manusia asli kadang dikira bot karena jawabannya kaku).

  • Bisa menyelesaikan soal matematika tingkat olimpiade.

  • Bisa bantu bikin hipotesis ilmiah.

  • Bisa nulis kode.

  • Bisa bikin puisi.

Jadi kalau dulu kita bilang,

“Ah, AI cuma bisa niru doang,”

sekarang AI mungkin menjawab,

“Betul. Tapi saya nirunya cepat, tepat, dan tidak minta THR.”

Dengan standar ini, AGI didefinisikan bukan sebagai makhluk supercerdas ala film sci-fi, tapi cukup setara manusia biasa dalam banyak tugas intelektual. Bukan Einstein. Cukup “manusia yang bisa kerja Senin sampai Jumat tanpa drama eksistensial setiap 15 menit.”

Kalau definisinya begitu… ya memang kelihatannya AI sudah duduk manis di kursi AGI, sambil nunggu kita selesai debat definisi.

Kenapa Banyak yang Masih Nolak?

Menariknya, justru banyak ilmuwan dan pelaku industri yang bilang,
“Belum! Itu belum AGI!”

Kenapa?
Karena definisi AGI ini licin banget. Setiap AI berhasil melewati satu batas, batasnya dipindah lagi. Mirip target hidup setelah lihat pencapaian teman di LinkedIn.

Ada juga faktor psikologis:

  • Kalau AGI sudah ada, berarti banyak pekerjaan intelektual tidak lagi eksklusif milik manusia.

  • Kalau AGI sudah ada, kita harus serius mikirin regulasi, etika, dan dampak sosial.

  • Dan jujur saja… kalau AGI sudah ada, kita harus berdamai dengan fakta bahwa ternyata mikir bukan lagi keahlian langka.

Jadi penolakan ini kadang bukan soal data, tapi soal perasaan. Dan manusia memang makhluk yang bisa kalah debat, tapi tetap menang gengsi.

Tapi… Pintar Bukan Berarti Paham

Di sisi lain, kubu skeptis juga punya poin kuat. Mereka bilang:
“AI itu perform, bukan paham.”

AI bisa menjawab soal fisika, tapi tidak pernah benar-benar bingung kenapa hidup begini-begini saja.
AI bisa bikin puisi patah hati, tapi tidak pernah ngerasain ditinggal “seen doang”.

AI hebat dalam mengenali pola, tapi:

  • Tidak punya pengalaman tubuh

  • Tidak punya kesadaran

  • Tidak punya rasa lapar kecuali servernya mati

Dan yang paling manusiawi:
AI masih bisa halusinasi. Dengan percaya diri penuh, dia bisa bilang sesuatu yang salah… tapi terdengar meyakinkan. Jadi sebenarnya, dalam hal ini, AI sudah sangat manusiawi juga sih ๐Ÿ˜Œ

Masalahnya Bukan Lagi “Bisa atau Tidak”

Terlepas dari label AGI sah atau belum, satu hal jelas:
kemampuan AI sekarang sudah cukup kuat untuk mengubah cara dunia bekerja.

Perdebatan “ini AGI atau bukan” mulai mirip debat:

“Ini hujan deras atau cuma gerimis ekstrem?”

Sementara itu, kita semua sudah basah.

Yang lebih penting sekarang bukan labelnya, tapi:

  • Bagaimana dampaknya ke pekerjaan?

  • Bagaimana mencegah penyalahgunaan?

  • Bagaimana memastikan teknologi ini tidak cuma menguntungkan segelintir orang yang punya server segede lapangan bola?

Karena jujur saja, masalah terbesar dari AI bukan dia jadi pintar…
tapi kalau yang mengatur dia tidak bijak.

Refleksi: Jadi Manusia Itu Apa, Sih?

Kalau mesin bisa:

  • Menulis,

  • Menghitung,

  • Menganalisis,

  • Bahkan bercanda…

maka manusia pelan-pelan dipaksa naik level.

Mungkin nilai kita bukan lagi sekadar “bisa mikir”, tapi:

  • Bisa memberi makna

  • Bisa berempati

  • Bisa bertanggung jawab

  • Bisa memilih yang benar meski tidak efisien

AI mungkin bisa bantu menulis pidato tentang cinta kemanusiaan…
tapi manusia yang harus benar-benar memutuskan untuk tidak saling menghancurkan.

Kesimpulan: AGI Itu Mungkin Sudah Datang, Tapi PR Kita Baru Mulai

Bisa jadi AGI memang sudah berdiri di depan pintu.
Bisa juga dia masih di teras, bingung karena alamatnya beda antara definisi ilmuwan dan investor.

Tapi yang jelas, kita sudah hidup di zaman di mana:
mesin bisa berpikir,
dan manusia harus berpikir lebih dalam dari sebelumnya.

Tantangan terbesarnya bukan lagi,
“Bisakah kita menciptakan kecerdasan seperti manusia?”

Tapi,
“Bisakah kita tetap jadi manusia yang layak ditiru oleh kecerdasan yang kita ciptakan sendiri?”

Kalau tidak…
jangan-jangan nanti AI yang bikin esai reflektif tentang
    “Manusia: Makhluk Emosional dengan Potensi, Tapi Sering Salah Prioritas.” ๐Ÿ˜„

abah-arul.blogspot.com., Feberuari 2026