Tentang Kewirausahaan, Ketakutan, dan Cicilan Motor
Ada satu jenis kutipan motivasi yang beredar di internet
dengan kecepatan melebihi promo “flash sale”: kutipan yang membuat pembacanya
merasa tercerahkan sekaligus sedikit dihina. Salah satunya adalah analogi
terkenal tentang monyet, pisang, dan uang yang sering dikaitkan dengan Jack Ma.
Katanya begini: jika monyet diberi pilihan antara pisang dan
uang, ia akan memilih pisang karena tidak tahu bahwa uang bisa membeli lebih
banyak pisang.
Internet menyukai kalimat semacam ini karena terdengar
seperti gabungan antara filsafat Timur, seminar motivasi, dan tamparan halus
kepada pegawai kantoran yang baru saja membuka mobile banking tanggal 25.
Pesannya sederhana: manusia sering memilih kenyamanan jangka
pendek dibanding peluang besar jangka panjang. Gaji bulanan diibaratkan pisang.
Bisnis diibaratkan uang yang bisa membeli kebun pisang. Dan kita semua, tanpa
sadar, diposisikan sebagai primata yang terlalu fokus pada makan siang hari ini
sampai lupa memikirkan masa depan.
Analogi ini memang menggoda. Ia bekerja seperti aroma
gorengan saat hujan: sulit ditolak meski kita tahu konsekuensinya.
Lagi pula, sejarah memang penuh kisah orang-orang yang
berani mengambil risiko lalu sukses besar. Dari garasi kecil lahir perusahaan
raksasa. Dari kamar kos lahir startup miliaran dolar. Dari laptop tua dan kopi
sachet lahir presentasi PowerPoint yang isinya “disrupsi industri”.
Masalahnya, internet hanya suka menampilkan foto orang
sukses di puncak gunung, bukan ribuan orang yang kehabisan bekal di pos dua.
Di sinilah analogi monyet mulai sedikit nakal.
Sebab kehidupan manusia tidak sesederhana kandang kebun
binatang. Banyak orang memilih “pisang” bukan karena bodoh, tetapi karena
kontrakan jatuh tempo tidak bisa dibayar dengan “visi besar”. Seorang ayah
dengan tiga anak dan tagihan listrik menunggak tidak bisa begitu saja berkata
kepada istrinya, “Sayang, mulai besok aku mengejar passion dan membangun
ekosistem digital.”
Kalimat itu mungkin terdengar heroik di podcast. Tetapi di
dapur rumah, ia terdengar seperti awal pertengkaran.
Kita sering lupa bahwa keberanian mengambil risiko adalah
kemewahan tertentu. Orang miskin bukan cuma kekurangan uang; mereka sering
kekurangan ruang untuk gagal. Bagi kelas menengah bawah, kegagalan bisnis bukan
sekadar pengalaman hidup. Ia bisa berarti motor ditarik leasing, anak berhenti
sekolah, atau grup keluarga mulai mengirim pesan “yang sabar ya”.
Padahal kenyataannya lebih mirip memasak rendang: lama,
panas, menguras tenaga, dan kadang gosong sebelum matang.
Namun demikian, kutipan monyet tadi tetap menyimpan satu
kebijaksanaan penting: jangan terlalu nyaman menjadi penonton dalam hidup
sendiri.
Sebab ada orang yang bekerja 30 tahun tanpa pernah belajar
apa pun selain menunggu tanggal gajian. Hidupnya seperti hamster treadmill
ekonomi: bergerak terus, tetapi tidak pernah benar-benar pindah tempat. Setiap
bulan uang datang hanya untuk pamit lagi beberapa jam kemudian.
Di titik ini, analogi monyet sebenarnya bukan tentang bisnis
versus pekerjaan. Ia lebih dalam dari itu. Ia berbicara tentang cara manusia
memandang peluang.
Ada pegawai yang bergaji kecil tetapi diam-diam membangun
keterampilan baru, investasi kecil, dan usaha sampingan. Ada juga pengusaha
yang omsetnya besar tetapi pikirannya tetap miskin: panik, konsumtif, dan hidup
demi validasi.
Jadi masalahnya bukan profesinya, melainkan mentalitasnya.
Karyawan bukan kasta rendah. Pengusaha juga bukan nabi
ekonomi. Dunia membutuhkan keduanya. Bayangkan jika semua orang mendadak
menjadi CEO—siapa yang akan mengurus printer kantor yang error tepat sebelum
presentasi penting?
Lagipula, dalam kehidupan nyata, banyak orang sukses justru
berjalan di jalur tengah. Mereka bekerja sambil membangun usaha kecil. Mereka
mengambil risiko secara bertahap, bukan meloncat seperti tokoh seminar motivasi
yang berbicara seolah kegagalan hanyalah bumbu kesuksesan, padahal modal
seminar itu sendiri berasal dari orang-orang yang gagal.
Mungkin kebijaksanaan sejati memang bukan memilih antara
pisang atau uang.
Kadang hidup mengajarkan bahwa ada masa ketika kita harus
mengambil pisang—demi bertahan hidup hari ini. Ada masa ketika kita harus
menyimpan uang—demi keamanan masa depan. Dan ada masa ketika kita harus cukup
waras untuk sadar bahwa menanam pohon pisang lebih penting daripada memamerkan
kulit pisang di Instagram dengan caption “trust the process”.
Pada akhirnya, manusia bukan monyet. Kita punya kemampuan
berpikir, merencanakan, dan menimbang risiko. Meski, kalau sedang tanggal tua,
perilaku kita memang kadang tidak terlalu jauh berbeda: mudah panik, agresif
melihat diskon, dan rela melakukan apa saja demi sepiring nasi padang.
Maka pelajaran terbaik dari kisah ini bukanlah “semua orang
harus jadi pengusaha”, melainkan: jangan hidup terlalu pasif sampai masa
depanmu selalu ditentukan orang lain.
Sebab hidup modern itu aneh. Kita sering diajari mengejar
uang, lalu ketika uang datang, kita kehilangan waktu. Kita mengejar jabatan,
lalu lupa menikmati hidup. Kita mengejar kebebasan finansial, tetapi akhirnya
menjadi budak notifikasi marketplace.
Dan di tengah semua keramaian itu, mungkin monyet tadi
sebenarnya sedang menertawakan manusia.
Karena setelah ribuan tahun evolusi, kita masih sama-sama
bingung memilih antara kebutuhan hari ini dan harapan hari esok.






