Sabtu, 25 Juli 2026

Menyelamatkan Mimpi dari Tempat Sampah: Ketika Tempat Sampah Kehilangan Pelanggan Bernama Stephen King

Ada dua jenis tempat sampah di dunia. Yang pertama adalah tempat sampah biasa, tempat bungkus mi instan, botol air mineral, dan nota belanja yang sudah tak punya masa depan berkumpul dengan damai. Yang kedua adalah tempat sampah yang nyaris menjadi kuburan karya besar. Untungnya, yang kedua jarang terjadi. Kalau terlalu sering, petugas kebersihan mungkin sudah memenangkan Nobel Sastra.

Konon, Stephen King pernah membuang naskah novel Carrie ke tempat sampah. Ia merasa tulisannya buruk, tak layak dibaca, apalagi diterbitkan. Untung ada istrinya, Tabitha King, yang memiliki bakat langka: percaya kepada suaminya ketika suaminya sedang tidak percaya kepada dirinya sendiri.

Bayangkan kalau Tabitha punya hobi yang berbeda. Misalnya hobi berkata, “Ya sudah, mungkin memang bukan bakatmu. Coba daftar jadi pegawai administrasi saja.” Bisa jadi dunia kehilangan salah satu raja horor, dan sebagai gantinya kita memperoleh pegawai kantor yang sangat pandai menyusun arsip.

Untunglah sejarah memilih jalur yang lebih menarik.


Kisah ini sering dibagikan di media sosial sebagai pelajaran memilih pasangan hidup. Rumusnya sederhana: carilah orang yang mau memungut mimpimu dari tempat sampah.

Nasihat ini terdengar indah. Sangat indah. Saking indahnya, para jomblo mendadak memandangi tong sampah di depan rumah dengan tatapan filosofis.

“Jangan-jangan jodohku sedang ada di sana.”

Tentu bukan begitu maksudnya.

Yang dimaksud adalah mencari seseorang yang melihat kemungkinan ketika kita hanya melihat kegagalan. Seseorang yang berkata, “Coba sekali lagi,” ketika kita sudah mengucapkan, “Sudahlah.”

Masalahnya, media sosial punya kebiasaan mengubah kehidupan menjadi slogan. Seolah-olah kesuksesan hanya membutuhkan tiga bahan: mimpi, pasangan suportif, dan koneksi internet untuk mengunggah kisah inspiratif.

Padahal hidup jauh lebih ribet daripada itu.


Mari kita bersikap adil kepada Stephen King. Tabitha memang menyelamatkan naskah itu, tetapi Tabitha tidak menulis novel tersebut. Ia tidak menyusun alur cerita, menciptakan karakter, atau begadang mengejar tenggat. Ia menyelamatkan bibit, tetapi pohonnya tetap ditanam, disiram, dan dirawat oleh King sendiri.

Ini seperti orang yang mendorong mobil mogok. Orang yang mendorong berjasa besar. Tetapi kalau mobilnya ternyata tidak punya mesin, ya mau didorong sampai Bali pun tetap tidak akan hidup.

Dukungan memang penting, tetapi tetap harus ada sesuatu yang layak didukung.

Di sinilah kita sering keliru memahami kisah sukses. Kita menyukai bagian ketika seseorang menemukan emas. Kita lupa bahwa sebelum emas ditemukan, ada bertahun-tahun menggali tanah, berkeringat, dan sering kali menemukan batu biasa.

Kalau semua batu langsung menjadi emas hanya karena ada pasangan yang optimis, para penjual batu akik pasti sudah menjadi konglomerat dunia.


Yang lebih menarik justru bukan soal mencari "Tabitha", melainkan belajar menjadi "Tabitha".

Kita hidup di zaman yang murah memberikan kritik tetapi mahal memberikan harapan.

Mengatakan, “Ah, itu jelek,” hanya butuh lima detik.

Mengatakan, “Aku percaya kamu bisa lebih baik,” membutuhkan keberanian, kesabaran, dan kadang-kadang kesediaan mendengarkan keluhan selama dua jam penuh tanpa menyela.

Dukungan sejati ternyata lebih melelahkan daripada komentar sinis.

Bahkan algoritma media sosial pun tampaknya lebih menyukai pertengkaran daripada penyemangat. Coba unggah status penuh kemarahan, komentar berdatangan seperti hujan di musim penghujan. Unggah kabar bahwa temanmu sedang berjuang mengejar mimpinya, yang memberi tanda suka sering kali hanya ibunya dan akun toko online yang salah pencet.


Namun, jangan pula terjebak dalam romantisasi.

Tidak semua orang memiliki pasangan yang luar biasa. Ada yang didukung orang tua. Ada yang didukung sahabat. Ada yang didukung guru. Ada pula yang didukung secangkir kopi dan tagihan listrik yang memaksa mereka terus bekerja.

Bahkan ada orang yang bertahan hanya karena gengsi.

“Sudah terlanjur bilang ke tetangga mau sukses.”

Aneh memang, tetapi motivasi manusia sering kali lebih kreatif daripada seminar pengembangan diri.

Karena itu, jangan sampai kisah Stephen King berubah menjadi syarat mutlak kebahagiaan. Seolah-olah tanpa pasangan yang rela mengaduk-aduk tong sampah, masa depan pasti suram.

Faktanya, sejarah dipenuhi orang-orang hebat yang diselamatkan oleh berbagai bentuk kasih sayang: seorang ibu yang tak pernah berhenti mendoakan, seorang guru yang meminjamkan buku, seorang teman yang berkata, “Aku yakin kamu bisa,” atau bahkan seorang editor yang menolak naskah dengan kritik yang justru membuat penulisnya berkembang.

Kadang-kadang malaikat memang tidak bersayap. Ia hanya memakai sandal jepit dan datang membawa semangkuk mi rebus ketika kita sedang putus asa.


Yang paling lucu dari kisah Stephen King sebenarnya adalah ironi tentang tempat sampah.

Tempat itu diciptakan untuk membuang sesuatu yang dianggap tak berguna. Tetapi berkali-kali sejarah membuktikan bahwa manusia lebih sering salah menilai daripada tempat sampah.

Kita membuang ide karena merasa bodoh.

Kita membuang mimpi karena merasa terlambat.

Kita membuang kesempatan karena takut ditertawakan.

Padahal, sering kali yang salah bukan mimpinya, melainkan penilaian kita yang sedang kelelahan.

Mungkin sesekali, sebelum membuang sesuatu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri, “Ini benar-benar sampah, atau hanya sedang mengalami hari yang buruk?”

Sebab siapa tahu, yang hari ini tampak seperti kertas kusut, besok justru menjadi buku yang dibaca ratusan juta orang.

Dan kalau memang suatu hari Anda menemukan seseorang yang rela memungut kembali mimpi Anda dari tempat sampah, jangan buru-buru memujinya sebagai pasangan ideal.

Bisa jadi ia hanya sedang menjalankan prinsip hidup paling sederhana: percaya kepada seseorang tepat ketika orang itu mulai kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.

Itulah bentuk cinta yang paling sunyi. Ia tidak selalu menulis puisi, tidak selalu mengunggah kutipan romantis, bahkan mungkin tidak pandai mengucapkan kata-kata manis.

Tetapi ia tahu kapan harus berkata, “Jangan dibuang dulu. Coba kita baca sekali lagi.”

Sering kali, kalimat sesederhana itulah yang mengubah sejarah. Atau, paling tidak, menyelamatkan satu mimpi agar tidak ikut diangkut truk sampah setiap Selasa pagi.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Jumat, 24 Juli 2026

Tolstoy, Gorky, dan Mata yang Seolah Punya CCTV Sejagad

Ada orang yang kalau dipotret hasilnya selalu tampak lebih muda. Ada juga yang difoto malah seperti sedang mengajukan pinjaman koperasi. Tetapi Leo Tolstoy, menurut Maxim Gorky, adalah spesies yang berbeda. Ia bukan sekadar terlihat tua. Ia tampak seperti sebuah batu purbakala yang entah mengapa memutuskan bangun pagi, merapikan janggut, lalu duduk di pantai menikmati angin Laut Hitam.

Kalau kita percaya pada deskripsi Gorky, Tolstoy bukan manusia biasa. Tubuhnya memang kecil, rambutnya putih, wajahnya renta, tetapi matanya... ah, matanya! Gorky menggambarkannya seolah memiliki seribu mata. Untung bukan seribu mulut. Bayangkan betapa repotnya membeli pasta gigi.

Tentu saja "seribu mata" itu bukan berarti Tolstoy keturunan laba-laba atau kandidat dewa dalam mitologi Yunani. Itu cara sastra mengatakan bahwa ada orang-orang yang sekali memandang, rasanya seluruh isi hidup kita sudah terbaca. Kita baru duduk lima menit, beliau sudah tahu bahwa kita masih menyimpan nota utang sejak 2018.

Begitulah sastra Rusia bekerja. Mereka tidak pernah puas mengatakan, "Dia tampak tua." Tidak. Itu terlalu sederhana. Mereka akan berkata, "Ia seperti batu yang telah mendengar percakapan angin selama seribu tahun, lalu memutuskan diam karena manusia terlalu berisik." Setelah membacanya, kita manggut-manggut sambil berpura-pura mengerti. Padahal dalam hati bertanya, "Ini sebenarnya sedang mendeskripsikan orang atau tebing?"

Yang menarik justru bukan Tolstoy seorang diri, melainkan Gorky yang sedang mengamatinya. Sebab dalam dunia sastra Rusia, penulis bukan hanya gemar menulis novel setebal kamus. Mereka juga gemar mengamati sesama penulis seperti ahli burung mengamati elang langka.

Kalau media sosial zaman sekarang penuh komentar, "Mas, aura Anda beda," maka Gorky melakukannya dengan level yang jauh lebih artistik. Ia melihat Tolstoy duduk di pantai, lalu lahirlah potret psikologis yang lebih panjang daripada sebagian skripsi.

Bayangkan adegannya.

Tolstoy duduk sendiri di Pantai Gaspra. Ombak datang dan pergi. Angin memainkan janggutnya seperti anak kecil memainkan tirai ruang tamu. Burung-burung mungkin lewat tanpa sadar sedang melintasi kepala penulis War and Peace. Sementara Gorky memandang dari kejauhan dengan ekspresi seorang sahabat yang kagum sekaligus curiga.

Di situlah hubungan mereka menjadi menarik.

Gorky menghormati Tolstoy sebagai gunung sastra. Namun, seperti kebanyakan sahabat dekat, ia juga memiliki stok keraguan yang cukup sehat. Ia mengagumi kebesaran Tolstoy, tetapi tidak otomatis membeli seluruh paket pemikirannya.

Ketika Tolstoy mulai hidup sederhana, mengenakan pakaian petani, dan berkhotbah tentang kesederhanaan, Gorky tampaknya bergumam dalam hati, "Bagus sih... tapi jangan-jangan ini juga semacam pertunjukan."

Ah, persahabatan memang begitu. Teman sejati bukan yang selalu berkata, "Kamu luar biasa." Teman sejati sesekali berkata, "Aku tahu kamu luar biasa, tapi aku juga tahu kamu kadang dramatis."

Ironisnya, justru keraguan itulah yang membuat penghormatan Gorky terasa lebih tulus. Kekaguman tanpa kritik biasanya berubah menjadi fan club. Sebaliknya, kritik tanpa kekaguman hanya menghasilkan kolom komentar yang melelahkan. Gorky memilih jalan tengah yang lebih sulit: mengagumi sambil tetap berpikir.

Sikap seperti ini sekarang mulai langka. Kita hidup di zaman ketika seseorang harus dipilih menjadi malaikat atau monster. Padahal manusia lebih sering menjadi campuran keduanya, ditambah sedikit rasa takut, sedikit gengsi, dan sedikit tagihan yang belum lunas.

Tolstoy sendiri adalah contoh terbaik tentang kontradiksi itu.

Ia seorang bangsawan yang mengagungkan kehidupan petani.

Ia kaya tetapi mengkritik kekayaan.

Ia terkenal tetapi ingin hidup sederhana.

Ia dicintai jutaan pembaca, tetapi sering merasa sendirian.

Kalau hidupnya dijadikan status media sosial, mungkin hanya berbunyi: "It's complicated."

Gorky menangkap kegelisahan itu melalui satu kalimat yang begitu indah: Tolstoy seperti seorang rahib yang tidak pernah menemukan ketenangan.

Bukankah itu juga penyakit manusia modern?

Kita membeli kasur paling empuk, tetapi tidur tetap gelisah.

Kita punya ribuan teman di media sosial, tetapi makan siang tetap sendirian.

Kita mengejar liburan ke pantai demi mencari ketenangan, lalu sibuk memotret matahari terbenam agar orang lain tahu bahwa kita sedang mencari ketenangan.

Mungkin yang berubah hanyalah jenis pantainya. Tolstoy punya Pantai Gaspra. Kita punya wallpaper pantai di layar ponsel.

Pada akhirnya, kisah Gorky tentang Tolstoy bukanlah cerita tentang seorang sastrawan tua yang duduk di tepi laut. Ini adalah cerita tentang bagaimana manusia mencoba memahami manusia lain tanpa menghapus kerumitannya.

Kita sering ingin menjadikan tokoh besar sebagai patung. Padahal patung tidak pernah ragu, tidak pernah gelisah, dan tidak pernah salah. Masalahnya, manusia besar justru menjadi besar karena ia pernah ragu, pernah gelisah, bahkan kadang salah arah.

Barangkali itulah sebabnya mata Tolstoy terasa seperti "seribu mata". Bukan karena ia mampu melihat seluruh dunia, melainkan karena ia telah berkali-kali menatap dirinya sendiri—dan menemukan bahwa manusia adalah makhluk yang jauh lebih rumit daripada tokoh mana pun dalam novel.

Dan mungkin, kalau Gorky hidup hari ini, ia tidak akan memotret Tolstoy dengan kamera ponsel. Ia tetap akan memilih kata-kata. Sebab kamera hanya menangkap wajah, sementara sastra berhasil menangkap angin yang mengibaskan janggut, ombak yang menyimpan kesunyian, dan kegelisahan yang bahkan pemiliknya sendiri belum selesai memahaminya.

Itulah keajaiban sastra Rusia. Mereka bisa membuat seorang lelaki tua yang sedang duduk diam di pantai terasa lebih menegangkan daripada sebagian film laga. Bahkan setelah selesai membaca, kita ikut memandang laut, mengelus dagu sendiri, lalu bertanya pelan, "Jangan-jangan setiap orang memang membawa seribu mata... hanya saja sembilan ratus sembilan puluh sembilannya sedang tertidur."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Menua Itu Enak, Asal Lutut Tidak Ikut Berkomentar

Ada masa ketika ulang tahun adalah pesta. Lilin bertambah, doa mengalir, hadiah berdatangan, dan kita masih sanggup meniup semua lilin tanpa perlu inhaler. Lalu datanglah usia yang membuat kita mulai menghitung ulang: bukan lagi berapa banyak lilin, melainkan berapa banyak obat yang diminum setelah makan.

Namun, di tengah dunia yang sibuk menjual serum anti-aging, krim penghapus keriput, dan aplikasi penyunting wajah yang mampu mengubah kakek menjadi mahasiswa semester tiga, muncul sebuah gagasan yang terasa menyegarkan: bagaimana kalau menjadi tua tidak perlu dilawan?

Gagasan itu sederhana, tetapi dampaknya seperti menemukan colokan listrik di bandara. Melegakan.

Barangkali selama ini kita salah paham terhadap penuaan. Kita mengira menjadi tua berarti kalah dari waktu. Padahal, bisa jadi yang kalah justru dompet kita karena terlalu sering membeli produk yang menjanjikan wajah bayi dengan harga cicilan motor.

Yang sesungguhnya berubah ketika usia bertambah bukanlah jumlah keriput. Yang berubah adalah daftar hal yang sudah tidak layak dipusingkan.

Saat muda, kita bisa menghabiskan dua jam hanya untuk memilih foto profil. Foto yang terlalu serius dianggap angkuh. Terlalu santai dianggap tidak punya masa depan. Terlalu tersenyum dibilang sedang jatuh cinta. Terlalu datar dikira habis dimarahi atasan.

Ketika usia mulai matang, persoalan itu selesai dalam tiga detik.

"Foto ini buram."

"Ya sudah."

Selesai.

Ada kebebasan luar biasa dalam kata "ya sudah."

Kebebasan itu mungkin merupakan hadiah paling mahal dari penuaan. Bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi karena kita akhirnya sadar bahwa tidak semua pertandingan wajib diikuti.

Dulu kita ingin semua orang menyukai kita. Kita belajar menjadi menyenangkan, ramah, fleksibel, bahkan rela tertawa pada lelucon yang sebenarnya lebih kering daripada kerupuk disimpan di dashboard mobil.

Semakin tua, kita mulai mengerti bahwa menjadi kesukaan semua orang adalah pekerjaan yang bahkan es teh manis pun gagal melakukannya.

Kalau teh saja masih ada yang bilang kemanisan, kita ini mau berharap apa?

Lalu ada penyakit yang hanya menyerang usia muda: FOMO—Fear of Missing Out. Takut ketinggalan apa saja. Diskon, konser, tren, gosip, drama, podcast, webinar, kelas daring, kelas luring, kelas yang bahkan tidak tahu mengajarkan apa.

Begitu usia bertambah, penyakit itu perlahan berubah menjadi JOMO—Joy of Missing Out.

Teman mengirim pesan, "Besok kumpul sampai tengah malam, ya!"

Jawabannya sederhana.

"Selamat menikmati."

Tidur pukul sembilan tiba-tiba terasa lebih revolusioner daripada menghadiri pesta.

Penuaan ternyata membuat kita menjadi ekonom ulung. Energi tidak lagi dihamburkan sembarangan. Setiap debat diperlakukan seperti belanja bulanan: kalau tidak penting, tidak masuk keranjang.

Dulu, komentar asing di media sosial bisa membuat hati panas seminggu. Sekarang?

"Semoga sehat selalu."

Lalu lanjut menyiram tanaman.

Sungguh, bunga lebih tahu cara berterima kasih daripada kolom komentar.

Yang menarik, menjadi tua juga mengajarkan bahwa produktivitas bukan agama. Dunia modern sering memperlakukan manusia seperti mesin fotokopi. Selama bisa mencetak hasil, dianggap berguna. Begitu mulai lambat, langsung dicari model terbaru.

Padahal manusia bukan printer.

Kalau dipaksa terus mencetak, yang keluar bukan lagi karya, melainkan bunyi "krek... krek..." dari pinggang.

Ada hari ketika kita menghasilkan banyak hal. Ada hari ketika pencapaian terbesar hanyalah berhasil minum air putih delapan gelas dan tidak lupa membawa kacamata yang ternyata sejak tadi sudah bertengger di kepala.

Anehnya, kedua hari itu sama-sama layak disyukuri.

Di situlah letak kebijaksanaan yang sering terlambat kita sadari. Hidup bukan perlombaan siapa paling sibuk. Sebab kesibukan kadang hanya cara elegan untuk menghindari percakapan dengan diri sendiri.

Semakin tua, kita mulai menikmati hal-hal yang dulu tampak remeh. Cahaya matahari yang menembus jendela. Aroma kopi pagi. Angin sore. Tawa cucu. Bahkan suara hujan yang dulu dianggap mengganggu jemuran kini terdengar seperti konser privat dari langit.

Kita mulai mengerti bahwa kebahagiaan bukanlah pesta kembang api.

Sering kali ia hanya secangkir teh hangat yang tidak sempat dingin karena langsung diminum.

Tentu saja, penuaan bukan berarti tanpa kehilangan. Ada teman yang lebih dulu berpamitan. Ada orang tua yang tinggal dalam kenangan. Ada impian yang ternyata memang bukan jatah kita.

Namun, usia mengajarkan sesuatu yang aneh: hati manusia ternyata seperti rumah tua.

Semakin banyak ruang yang ditinggalkan penghuninya, semakin banyak cahaya yang bisa masuk lewat jendela.

Mungkin itulah sebabnya banyak orang yang tampak lebih damai ketika rambutnya mulai memutih. Mereka bukan tidak pernah sedih. Mereka hanya sudah lelah bertengkar dengan kenyataan.

Dan bukankah kenyataan memang selalu menang?

Pada akhirnya, menjadi tua bukan tentang bertambahnya angka di kartu identitas. Menjadi tua adalah saat kita berhenti membawa koper berisi harapan orang lain ke mana-mana.

Betapa berat hidup selama ini ternyata bukan karena usia, melainkan karena kita sibuk memikul ekspektasi yang bahkan bukan milik kita.

Kalau ada yang patut dirayakan dari penuaan, mungkin bukan karena kita semakin dekat dengan garis akhir, melainkan karena akhirnya kita tahu jalan mana yang tidak perlu lagi ditempuh.

Jadi, kalau suatu hari nanti ada yang bertanya, "Apa rasanya menjadi tua?"

Mungkin jawabannya sederhana.

"Rasanya seperti akhirnya menemukan tombol mute untuk semua kebisingan yang selama ini kita kira wajib didengarkan."

Dan itu, percayalah, jauh lebih ampuh daripada krim anti-keriput mana pun. Sebab wajah boleh saja berkerut, tetapi hati yang akhirnya damai selalu tampak jauh lebih muda daripada wajah yang dipoles mati-matian namun masih sibuk mengejar tepuk tangan.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Kamis, 23 Juli 2026

Jangan Salaman di Pintu, Nanti Persahabatan Kena Macet

Bayangkan Anda bertamu ke rumah seorang Rusia. Dengan penuh semangat, Anda mengulurkan tangan dari luar pintu sambil tersenyum selebar iklan pasta gigi. Namun tuan rumah malah mundur sedikit.

Bukan karena Anda lupa mandi.

Bukan pula karena parfum Anda terlalu optimistis.

Ia hanya berkata, "Masuk dulu."

Anda pun bingung. Dalam hati bertanya, "Apakah rumah ini memakai sistem antrean seperti bank?"

Ternyata tidak. Yang sedang bekerja adalah sebuah tradisi berusia ratusan tahun. Dalam budaya Rusia, berjabat tangan di ambang pintu dipercaya bisa mengundang sial, pertengkaran, bahkan hubungan yang retak. Jadi, sebelum tangan bertemu tangan, kaki harus lebih dulu melewati kusen.

Rupanya, bahkan persahabatan pun harus mengikuti prosedur masuk.


Tradisi ini berasal dari kepercayaan Slav kuno yang memandang ambang pintu sebagai wilayah istimewa. Ia bukan sekadar kayu yang dipaku di lantai, melainkan garis batas antara dunia yang aman dan dunia yang penuh ketidakpastian.

Kalau di zaman sekarang kita mengenal firewall untuk melindungi komputer, orang-orang Slav rupanya sudah lebih dulu memiliki doorwall untuk melindungi rumah.

Konon, di sekitar ambang pintu berdiam roh pelindung rumah yang disebut domovoi. Ia bertugas menjaga kedamaian keluarga. Maka, berjabat tangan tepat di atas wilayah kerjanya dianggap sama tidak sopannya dengan menggelar konser dangdut di ruang baca perpustakaan.

Barangkali si domovoi hanya ingin bekerja dengan tenang.


Yang menarik, zaman berubah, kerajaan berganti, agama datang silih berganti, internet muncul, kecerdasan buatan lahir, tetapi beberapa kebiasaan tetap bertahan.

Ini menunjukkan bahwa manusia sebenarnya makhluk yang sangat modern dalam membeli ponsel, tetapi sangat tradisional dalam menyimpan kebiasaan.

Lihat saja kita sendiri.

Masih banyak orang yang mengetuk meja tiga kali setelah mengucapkan sesuatu yang terlalu optimistis.

Masih ada yang tidak enak hati membuka payung di dalam rumah.

Masih ada pula yang percaya bahwa mencari barang hilang lebih cepat jika sambil memarahi seluruh isi rumah.

Logikanya memang sering cuti.

Namun tradisinya tetap masuk kerja.


Di Indonesia, kita pun tidak kekurangan kebiasaan serupa.

Jangan duduk di depan pintu, nanti susah jodoh.

Jangan menyapu malam hari, rezeki kabur.

Jangan bersiul malam-malam, nanti ada yang datang.

Kalau dipikir-pikir, hidup ini rupanya penuh larangan yang membuat pintu memiliki karier lebih sibuk daripada pegawai kelurahan.

Pintu bukan hanya tempat keluar masuk.

Ia menjadi pusat diplomasi keluarga, tempat nasihat nenek berkantor, sekaligus lokasi favorit berbagai mitos membuka cabang.


Yang lucu, hampir semua budaya memiliki "aturan tak terlihat" seperti ini.

Artinya, manusia di seluruh dunia sebenarnya sama saja. Kita sama-sama suka memberi makna lebih pada benda-benda biasa.

Ada bangsa yang menganggap angka tertentu membawa sial.

Ada yang percaya burung tertentu membawa pertanda.

Ada pula yang merasa rapat akan lebih sukses kalau presentasi dimulai tepat pukul sembilan lewat tiga menit.

Padahal penyebab rapat gagal biasanya bukan angka.

Melainkan presentasinya terdiri dari seratus tiga puluh tujuh slide.


Di sinilah keindahan unggahan seperti yang dibagikan akun @AdabRuss. Ia tidak sedang mengajarkan cara berjabat tangan yang benar. Ia sedang mengingatkan bahwa setiap bangsa memiliki logika budayanya sendiri.

Yang bagi kita terasa aneh, bagi mereka terasa biasa.

Yang kita anggap mitos, bagi orang lain adalah bentuk penghormatan kepada leluhur.

Budaya memang seperti resep keluarga.

Secara ilmiah mungkin sulit dijelaskan mengapa opor buatan nenek terasa lebih enak daripada restoran berbintang.

Namun semua anggota keluarga tetap percaya.

Dan tidak ada yang cukup berani membantah nenek.


Media sosial sering membuat kita sibuk berdebat tentang siapa yang paling benar.

Padahal sesekali kita perlu berhenti dan sekadar berkata, "Oh, ternyata di sana begitu."

Kalimat sederhana itu jauh lebih berguna daripada seribu komentar yang diawali dengan, "Sebenarnya..."

Karena memahami budaya orang lain bukan berarti harus ikut mempercayainya.

Kita cukup menghormatinya.

Seperti kita menghormati teman yang selalu mematikan dan menyalakan sakelar tiga kali sebelum tidur. Kita mungkin tidak ikut melakukannya, tetapi juga tidak perlu menyita sakelarnya.


Akhirnya saya sampai pada kesimpulan sederhana.

Mungkin bukan ambang pintu yang membawa sial.

Yang sering membawa sial justru kebiasaan manusia mengambil kesimpulan sebelum benar-benar masuk ke "rumah" pemahaman orang lain.

Kita terlalu sering berjabat tangan dengan prasangka, sebelum melangkah masuk ke ruang budaya yang berbeda.

Barangkali itulah pelajaran paling berharga dari tradisi Rusia tersebut.

Kadang-kadang, sebelum mengulurkan tangan, kita memang perlu melangkah satu langkah lebih dulu.

Bukan sekadar masuk ke dalam rumah.

Melainkan masuk ke dalam pengertian.

Dan untungnya, untuk memasuki rumah itu, tidak diperlukan paspor.

Cukup rasa ingin tahu, sedikit kerendahan hati, dan kesediaan meninggalkan sandal kesombongan di depan pintu.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Koperasi Desa Merah Putih: Ketika Uang Triliunan Diajak Pulang Kampung

Ada dua hal yang selalu membuat orang Indonesia mendadak menjadi ahli ekonomi. Yang pertama, harga cabai naik. Yang kedua, mendengar angka Rp240 triliun. Begitu angka itu muncul, sebagian orang langsung mengambil kalkulator, sebagian lagi mengambil napas, dan sisanya mengambil kesimpulan—meski belum tentu membaca penjelasannya.

Program Koperasi Desa Merah Putih datang membawa angka yang membuat alis naik beberapa sentimeter. Dua ratus empat puluh triliun! Jumlah yang kalau diwujudkan dalam uang seratus ribuan mungkin bisa membuat semut berpikir dua kali untuk menyeberanginya.

Untungnya, pemerintah tidak berniat menumpuk uang sebanyak itu di balai desa sambil berkata, "Silakan dijaga, Pak Ketua Koperasi." Sebab kalau itu terjadi, yang pertama kali datang mungkin bukan anggota koperasi, melainkan orang-orang yang mendadak mengaku masih saudara jauh sejak zaman Majapahit.

Yang menarik justru cara pembiayaannya. Dana itu tidak digelontorkan sekaligus, melainkan dicicil sekitar Rp40 triliun per tahun melalui perbankan Himbara selama enam tahun. Mirip orang membeli rumah dengan KPR. Bedanya, kalau cicilan rumah telat, yang ditelepon bank. Kalau program sebesar ini meleset, yang menelepon bisa seluruh rakyat.

Skema bertahap ini menunjukkan bahwa mengelola negara rupanya tidak boleh seperti mengelola uang THR. Baru tanggal dua sudah habis karena tergoda diskon "beli satu gratis rasa bersalah".


Selama ini desa sering diperlakukan seperti pemain cadangan dalam pertandingan ekonomi. Padahal, pemain inti kita justru banyak tinggal di sana. Petani menanam padi, nelayan menangkap ikan, UMKM membuat berbagai produk, tetapi keuntungan terbesar sering kali berhenti di tengah jalan karena rantai distribusi lebih panjang daripada antrean saat pembagian sembako.

Di sinilah koperasi diharapkan menjadi "mak comblang ekonomi". Ia mempertemukan produsen kecil dengan pasar yang lebih luas tanpa harus melalui terlalu banyak perantara. Harapannya, yang semakin gemuk bukan hanya laporan penjualan, tetapi juga dompet anggotanya.

Namun koperasi bukanlah tongkat sihir. Memberi modal kepada koperasi tanpa membangun tata kelola ibarat menghadiahkan mobil sport kepada orang yang belum bisa membedakan pedal gas dan rem. Kendaraan memang melaju, tetapi arah akhirnya masih misteri.

Karena itu, transparansi menjadi syarat utama. Dana triliunan punya sifat yang unik. Ia tidak bisa berjalan sendiri, tetapi entah mengapa kadang-kadang bisa "hilang jalan". Maka laporan keuangan harus lebih rajin daripada status media sosial. Bedanya, laporan keuangan sebaiknya memang sesuai kenyataan.


Indonesia juga punya satu keunikan yang sering membuat para perencana pembangunan menggaruk kepala. Kita suka membuat resep yang sama untuk dapur yang berbeda.

Padahal desa bukan fotokopi satu sama lain. Desa penghasil kopi tentu berbeda kebutuhannya dengan desa nelayan. Desa wisata berbeda dengan desa pertanian. Memberi strategi yang sama kepada semuanya sama saja seperti menyuruh semua orang memakai ukuran sandal nomor 41. Ada yang pas, ada yang longgar, ada pula yang hanya bisa dipakai sebagai pajangan.

Karena itu, pendekatan lokal bukan sekadar slogan. Desa harus diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Sebab potensi desa bukan sesuatu yang harus diciptakan, melainkan ditemukan dan dikelola.

Lalu ada urusan yang sering dianggap sepele, padahal justru menentukan: kualitas manusia.

Teknologi digital memang penting. Aplikasi pelaporan keuangan bisa dibuat secanggih apa pun. Namun aplikasi tidak akan banyak membantu kalau kata sandinya ditulis di balik bungkus mi instan lalu hilang ketika dapur dibersihkan.

Pelatihan pengurus koperasi jauh lebih berharga daripada sekadar membeli komputer baru. Sebab komputer tidak pernah membuat keputusan. Yang menentukan arah koperasi tetap manusia yang duduk di depannya—entah sedang fokus bekerja atau sibuk mencari colokan charger.


Program ini pada akhirnya mengajarkan satu pelajaran sederhana: uang memang penting, tetapi uang hanyalah pemain pendukung. Pemeran utamanya tetap kepercayaan, integritas, dan kemampuan mengelola.

Triliunan rupiah bisa menjadi pupuk yang menyuburkan ekonomi desa. Namun pupuk sebanyak apa pun tidak akan membuat panen berhasil jika sawahnya dibiarkan penuh gulma. Sebaliknya, lahan yang dikelola dengan baik akan membuat setiap butir pupuk bekerja lebih maksimal.

Mungkin itulah filosofi tersembunyi dari Koperasi Desa Merah Putih. Ia bukan sekadar proyek memindahkan angka dari kas negara ke rekening koperasi. Ia adalah ujian nasional bagi kemampuan kita bekerja sama.

Kalau berhasil, desa akan membuktikan bahwa kemajuan tidak selalu lahir dari gedung pencakar langit. Kadang ia tumbuh pelan, dari balai desa, dari rapat koperasi yang diselingi teh hangat dan pisang goreng, lalu menjalar menjadi kesejahteraan yang benar-benar terasa.

Dan semoga, untuk sekali ini, yang paling cepat berkembang bukan hanya grup WhatsApp pengurus koperasi, melainkan juga ekonomi desanya.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Belajar Hidup dari Elif Shafak: Jangan Terlalu Percaya Kata "Selamanya", Apalagi Diskon yang Tinggal Lima Menit

Ada dua jenis manusia di dunia. Yang pertama percaya bahwa hidup bisa direncanakan dengan rapi seperti jadwal belajar menjelang ujian. Yang kedua sudah menyerah dan menganggap hidup hanyalah serial drama dengan penulis naskah yang suka mengganti alur di episode terakhir.

Elif Shafak tampaknya berdiri di tengah-tengah. Ia tidak menyuruh kita menjadi pesimis, tetapi juga tidak membiarkan kita mabuk optimisme. Ia sekadar mengingatkan bahwa hidup itu lebih kreatif daripada manusia yang membuat vision board setiap awal tahun.

Lihat saja urusan cinta.

Konon cinta datang tanpa diundang. Benar. Yang jarang dibahas adalah bahwa kadang ia juga pulang tanpa pamit. Bahkan lebih cepat daripada tamu hajatan yang baru datang, makan dua kali, lalu menghilang sebelum acara doa.

Kita sering menganggap cinta seperti kontrak internet berlangganan: begitu aktif, tinggal bayar setiap bulan. Padahal cinta lebih mirip tanaman. Kalau tidak disiram, ia layu. Kalau disiram berlebihan, ia juga layu. Kalau tetangganya lebih rajin menyiram... nah, itu sudah masuk sinetron.

Begitu pula persahabatan.

Teman terbaik bisa berubah menjadi orang asing. Sebaliknya, orang asing bisa menjadi sahabat seumur hidup. Fenomena ini membuat kita sadar bahwa hubungan antarmanusia lebih dinamis daripada harga cabai.

Di media sosial, seseorang bisa memberi tanda hati pada semua unggahan kita selama bertahun-tahun, lalu suatu hari hilang tanpa jejak. Sebaliknya, orang yang dulu hanya bertanya, "Permisi, colokannya kosong?" justru beberapa tahun kemudian menjadi orang yang membantu kita saat hidup sedang korsleting.

Karena itu jangan terlalu cepat memberi label permanen kepada manusia. Bahkan aplikasi yang kita anggap paling stabil pun rutin meminta pembaruan. Masa manusia tidak?

Yang paling menarik dari renungan Shafak adalah kritiknya terhadap dua kata yang sangat disukai manusia: "selamanya" dan "tidak akan pernah."

Lucunya, kedua kalimat itu paling sering diucapkan saat emosi sedang mencapai puncak.

"Aku tidak akan pernah memaafkan dia!"

Dua minggu kemudian mereka sudah makan bakso bersama.

Atau sebaliknya.

"Kita akan bersama selamanya."

Lalu enam bulan kemudian status media sosial berubah menjadi, "Perjalanan terbaik adalah perjalanan menemukan diri sendiri."

Hidup memang gemar mempermalukan kalimat yang terlalu absolut. Alam semesta tampaknya alergi pada kata "selamanya". Ia lebih suka berkata, "Kita lihat nanti."

Kemudian datang nasihat yang membuat para penunda kronis sedikit berkeringat: kalau ingin bertemu seseorang, pergilah mencarinya sebelum terlambat.

Masalahnya, manusia punya bakat luar biasa dalam menunda.

Menelepon orang tua? Nanti malam.

Mengunjungi sahabat lama? Minggu depan.

Meminta maaf? Tunggu suasana lebih enak.

Mulai olahraga? Senin.

Seninnya? Senin depan.

Kalender mungkin satu-satunya benda yang paling sabar menghadapi kebiasaan manusia. Ia terus berganti halaman sambil diam-diam berkata, "Silakan ditunda lagi. Aku tetap jalan."

Shafak juga mengatakan bahwa orang yang mau akan bisa melakukannya.

Kalimat ini sederhana, tetapi cukup mengganggu. Sebab selama ini kita memiliki gudang alasan yang jauh lebih besar daripada gudang usaha.

Kita ahli membuat kalimat seperti, "Belum waktunya."

Padahal kadang yang belum waktunya hanyalah niat kita bangun dari kasur.

Lalu tibalah bagian favorit para pencinta zona nyaman: tentang risiko.

Kita sering mengira hidup paling aman adalah hidup tanpa risiko.

Padahal itu seperti membeli payung lalu tidak pernah keluar rumah karena takut hujan. Payungnya memang awet, tetapi pemiliknya tidak pernah melihat pelangi.

Risiko memang bisa menghadirkan kegagalan.

Namun tidak mengambil risiko hampir pasti menghadirkan penyesalan.

Yang satu melukai harga diri.

Yang satunya lagi menghantui sampai tua.

Pilihannya tidak pernah benar-benar nyaman.

Bagian paling filosofis dari Shafak adalah ketika ia membedakan rasa sakit dan penderitaan.

Sakit memang datang tanpa meminta izin. Kehilangan, kegagalan, ditolak, kecewa—semuanya bagian dari paket kehidupan.

Namun penderitaan sering kali adalah hasil rapat panjang di dalam kepala sendiri.

Bayangkan seseorang tertusuk duri. Itu sakit.

Lalu setiap hari ia membuka album foto duri itu, mengenangnya, membahasnya di grup keluarga, membuat seminar tentang duri, lalu menulis status, "Tak semua orang mengerti perjuanganku melawan duri."

Nah, di situlah penderitaan mulai membuka kantor cabang.

Yang terakhir mungkin paling sulit: menerima kenyataan.

Manusia punya hubungan yang rumit dengan fakta. Kita sering berharap kenyataan berubah hanya karena kita tidak menyukainya.

Padahal kenyataan itu seperti petugas parkir.

Kita boleh protes sepanjang hari, tetapi tarifnya tetap harus dibayar.

Penerimaan bukan berarti menyerah. Ia hanyalah pengakuan bahwa melawan kenyataan dengan cara menyangkalnya sama efektifnya dengan memarahi hujan karena membasahi jemuran.

Pada akhirnya, Elif Shafak seolah mengajak kita menjalani hidup dengan cara yang lebih ringan. Mencintailah tanpa menganggap semuanya pasti abadi. Bersahabatlah tanpa merasa memiliki. Beranilah mengambil langkah meski lutut sedikit gemetar. Datangi orang-orang yang berarti sebelum nama mereka tinggal tersimpan di kontak yang tak pernah lagi dihubungi.

Sebab hidup, kalau dipikir-pikir, memang punya selera humor yang sangat khas. Ia sering menutup pintu yang kita kejar mati-matian, lalu diam-diam membuka jendela yang bahkan tidak kita sadari keberadaannya.

Mungkin itulah sebabnya orang bijak tidak sibuk mencari kepastian mutlak. Mereka cukup membawa bekal keberanian, sedikit kesabaran, dan kemampuan menertawakan diri sendiri.

Karena pada akhirnya, yang paling sering membuat hidup terasa berat bukanlah kenyataan itu sendiri, melainkan ekspektasi kita yang bersikeras bahwa hidup seharusnya mengikuti rencana. Padahal sejak awal, hidup hanya tersenyum sambil berkata, "Terima kasih atas usulnya. Sekarang izinkan saya memakai skenario saya sendiri."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Online Terus, Waras Kapan? Sebuah Pertapaan Digital di Negeri Notifikasi

Konon, manusia adalah makhluk sosial. Tetapi setelah hadirnya ponsel pintar, definisinya berubah sedikit: manusia adalah makhluk yang merasa berdosa kalau pesan WhatsApp belum dibalas dalam tiga menit. Kalau lima menit, mulai muncul, "Maaf ganggu ya..." Padahal yang diganggu sedang mandi. Atau sedang mengupas mangga. Atau sedang pura-pura tidak melihat pesan karena tahu ujung-ujungnya diminta mengisi Google Form.

Di zaman ini, menjadi manusia ternyata lebih sulit daripada menjadi server. Server masih boleh mengalami maintenance. Kita? Sedikit saja tidak aktif, langsung ditanya, "Kok hilang?" Seolah-olah hidup kita adalah serial televisi yang wajib tayang setiap hari.

Di sinilah filsuf Korea-Jerman, Byung-Chul Han, datang membawa kabar yang terdengar seperti ajakan berbuat kriminal ringan: beranilah menjadi tidak tersedia.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di era sekarang efeknya hampir seperti berkata, "Saya mau diet di depan meja prasmanan."


Kita hidup dalam zaman yang menganggap notifikasi lebih penting daripada intuisi. Bunyi "ting!" memiliki kekuatan spiritual yang bahkan mampu mengalahkan suara hati. Sedang khusyuk membaca buku? Ting! Sedang menikmati matahari sore? Ting! Sedang menatap wajah pasangan? Ting!

Lucunya, kita sering lebih cepat menjawab orang yang mengirim emoji jempol daripada menjawab pertanyaan hidup yang sudah bertahun-tahun mengendap di kepala.

Ponsel, yang dahulu diciptakan agar manusia mudah berkomunikasi, kini sukses membuat manusia sulit berkonsentrasi. Ia seperti tamu yang awalnya hanya numpang minum, lalu pindah alamat dan mulai mengatur tata letak ruang tamu.


Byung-Chul Han menyebut perlunya ascèse numérique, semacam pertapaan digital. Jangan bayangkan kita harus tinggal di gua sambil memakan umbi-umbian dan mengirim sinyal asap kepada keluarga.

Tidak.

Pertapaan digital versi Han jauh lebih sederhana sekaligus lebih berat: menaruh ponsel sebentar.

Ya, hanya itu.

Masalahnya, bagi sebagian orang, menaruh ponsel selama sepuluh menit rasanya setara dengan melepas tabung oksigen di puncak gunung.

Ada yang mulai gelisah.

"Tadi ada yang chat nggak ya?"

"Jangan-jangan ada promo."

"Kalau dunia kiamat, saya tahunya belakangan."

Padahal kemungkinan terbesar hanyalah grup keluarga sedang berdebat apakah tomat termasuk buah atau sayur.


Han mengatakan bahwa manusia modern kehilangan kemampuan menikmati hal-hal sederhana.

Coba saja duduk di bawah pohon.

Idealnya kita mengagumi batangnya yang kokoh, daunnya yang bergoyang pelan, cahaya matahari yang menyelinap di sela ranting, dan suara burung yang saling bersahutan.

Realitasnya?

Belum lima belas detik, kita sudah membuka kamera.

Lalu mencari sudut terbaik.

Lalu mengedit.

Lalu memberi caption, Healing.

Lalu lima menit berikutnya sibuk mengecek siapa yang menyukai unggahan itu.

Akhirnya yang benar-benar menikmati pohon hanyalah tupai.


Begitu pula dengan membaca buku.

Dahulu orang membaca novel empat ratus halaman dengan sabar. Sekarang membaca dua paragraf saja sudah muncul keinginan menggulir layar, seolah-olah Dostoevsky seharusnya menyediakan versi short video berdurasi tiga puluh detik.

Kita ingin filsafat dalam bentuk infografik.

Kita ingin sejarah dalam bentuk meme.

Kita ingin kebijaksanaan dalam bentuk kutipan yang bisa dibagikan tanpa perlu dipahami.

Ironisnya, semakin banyak informasi yang kita telan, semakin sedikit yang benar-benar kita cerna. Kepala kita berubah seperti laci dapur: penuh barang, tetapi setiap mencari sesuatu selalu berkata, "Tadi saya taruh di mana, ya?"


Menurut Han, kebebasan sejati bukanlah mampu melakukan semuanya.

Justru kebebasan adalah kemampuan berkata, "Tidak sekarang."

Kalimat itu tampaknya sepele, tetapi sangat revolusioner.

Sebab sistem modern tidak ingin kita diam.

Ia ingin kita selalu aktif.

Selalu responsif.

Selalu produktif.

Selalu online.

Kalau bisa, bahkan ketika tidur tetap terlihat sedang "last seen recently."

Di mata sistem, manusia ideal adalah manusia yang selalu siap.

Di mata jiwa, manusia ideal justru kadang-kadang menghilang.

Bukan untuk kabur dari tanggung jawab, melainkan untuk kembali bertemu dirinya sendiri.


Tentu saja, kritik terhadap Han juga masuk akal.

Tidak semua orang punya kemewahan untuk mematikan ponsel. Ada dokter yang harus siaga. Ada pengemudi ojek daring yang menggantungkan penghasilan pada notifikasi. Ada ibu yang harus siap menerima kabar anaknya.

Pertapaan digital memang lebih mudah dilakukan oleh orang yang jadwalnya longgar daripada mereka yang hidupnya bergantung pada bunyi "ting."

Namun, pesan Han bukan soal membenci teknologi.

Ia hanya mengingatkan agar manusialah yang memegang kendali atas ponsel, bukan sebaliknya.

Karena kalau sampai ponsel lebih sering menentukan kapan kita bahagia, kapan kita panik, kapan kita marah, dan kapan kita merasa berharga, mungkin yang benar-benar pintar bukan lagi smartphone-nya, melainkan ia sudah berhasil membuat kita sedikit kurang pintar.


Mungkin kita memang tidak bisa sepenuhnya keluar dari dunia digital.

Lagipula, memesan makanan dengan merpati pos juga bukan solusi.

Tetapi kita masih bisa mencuri sedikit ruang sunyi.

Mematikan notifikasi sejam.

Membaca buku tanpa sesekali membuka media sosial.

Berjalan sore tanpa memotret setiap daun.

Duduk di teras tanpa merasa wajib mengunggah bukti bahwa kita sedang duduk di teras.

Sesederhana itu.

Karena ternyata hidup tidak selalu membutuhkan tombol "refresh."

Kadang yang perlu diperbarui bukan layar, melainkan perhatian kita.

Dan siapa tahu, ketika kita akhirnya berani menjadi "tidak tersedia" selama beberapa saat, kita justru menjadi lebih hadir—bukan di dunia maya, melainkan di dunia yang selama ini diam-diam menunggu kita mengangkat kepala.

Sebab, boleh jadi, kebebasan bukanlah sinyal dengan lima batang penuh.

Kebebasan adalah ketika lima batang itu ada, tetapi kita merasa tidak wajib memakainya setiap saat. Bahkan, sesekali, kita cukup berkata kepada ponsel, "Maaf, hari ini giliran aku yang offline. Kamu saja yang bekerja lembur."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026