Di zaman sekarang, demokrasi kadang terasa seperti grup WhatsApp keluarga besar saat menjelang pemilu: semua orang mendadak jadi analis politik, pakar ekonomi, ahli geopolitik, sekaligus dokter konstitusi. Paman yang kemarin bingung membedakan inflasi dengan infeksi tiba-tiba menulis paragraf panjang tentang masa depan bangsa. Sementara bibi yang biasanya hanya mengirim stiker “selamat pagi” kini rajin menyebarkan video dengan musik dramatis dan tulisan merah menyala: “Kebenaran yang disembunyikan elite global!”
Di tengah suasana seperti itulah, muncul sebuah cuitan viral
yang mengeluh tentang demokrasi: mengapa suara orang yang rajin membaca buku
filsafat nilainya sama dengan suara orang yang percaya bahwa bumi dikendalikan
oleh kadal luar angkasa? Pertanyaan ini sebenarnya bukan barang baru. Dua ribu
tahun lalu, Plato juga sudah pusing melihat demokrasi Athena. Rupanya, bahkan
filsuf Yunani kuno pun pernah mengalami versi awal dari kolom komentar media
sosial.
Bayangkan sebuah kapal besar. Penumpangnya ramai. Laut
sedang ganas. Tetapi alih-alih menyerahkan kemudi kepada pelaut berpengalaman,
seluruh penumpang malah ribut memilih kapten berdasarkan siapa yang paling
pandai pidato. Ada yang berteriak, “Kapten nomor satu merakyat!” Ada yang
membalas, “Kapten nomor dua lebih dekat dengan rakyat kecil!” Sementara kapal
mulai miring, sebagian penumpang sibuk membuat meme.
Itulah analogi klasik Plato tentang demokrasi: kapal besar
yang kemudinya diperebutkan oleh orang-orang yang lebih ahli berteriak daripada
berlayar.
Cuitan itu menyentuh sesuatu yang memang nyata. Demokrasi
modern sering terasa seperti lomba popularitas raksasa. Banyak orang memilih
bukan karena memahami kebijakan, tetapi karena suka gaya bicara kandidat,
tersentuh slogan sederhana, atau merasa “dia orang kita.” Politik berubah
seperti pertandingan sepak bola: yang penting bukan siapa paling benar, tetapi
siapa yang suporternya paling fanatik.
Media sosial memperparah keadaan. Algoritma internet itu
seperti tukang gorengan yang tahu persis manusia lebih suka makanan renyah
daripada makanan sehat. Informasi yang marah, sensasional, dan penuh ketakutan
lebih cepat viral dibanding analisis yang tenang dan mendalam. Akibatnya, ruang
publik berubah menjadi pasar malam emosi. Orang tidak lagi mencari kebenaran,
tetapi mencari kenyamanan psikologis. Mereka memilih informasi seperti memilih
bantal: bukan yang paling benar, tetapi yang paling empuk untuk keyakinan
sendiri.
Namun, di sinilah jebakan besar dari kritik elitis terhadap
demokrasi.
Pertanyaannya sederhana: siapa yang berhak menentukan siapa
bodoh dan siapa bijak?
Masalahnya, manusia punya bakat luar biasa untuk menganggap
dirinya lebih pintar daripada orang lain. Bahkan orang yang salah pun sering
sangat percaya diri. Sejarah penuh dengan kaum intelektual yang merasa paling
rasional, tetapi justru membawa bencana. Ada profesor yang mendukung diktator.
Ada teknokrat yang menghitung ekonomi dengan sempurna, tetapi lupa rakyat bukan
angka di spreadsheet. Ada orang sangat terdidik yang bisa menjelaskan teori
politik berlembar-lembar, tetapi tidak tahu harga cabai di pasar.
Kadang rakyat kecil yang dianggap “tidak paham politik”
justru memiliki naluri sosial yang lebih sehat daripada elite yang tenggelam
dalam menara gading. Demokrasi lahir bukan karena manusia yakin semua orang
bijak, tetapi karena manusia sadar: terlalu berbahaya jika hanya segelintir
orang yang boleh menentukan nasib semua orang.
Demokrasi itu seperti warung kopi pinggir jalan. Berisik,
penuh debat ngawur, kadang bikin pusing, tetapi semua orang boleh bicara.
Alternatifnya adalah restoran mewah tempat hanya sedikit orang boleh masuk dan
menentukan menu untuk seluruh kota. Masalahnya, kalau kokinya salah masak,
semua orang keracunan bersama.
Memang benar, suara massa bisa salah. Tetapi sejarah juga
membuktikan bahwa elite bisa jauh lebih mengerikan ketika tidak diawasi. Tirani
sering lahir bukan dari terlalu banyak kebebasan, melainkan dari terlalu
sedikit partisipasi.
Karena itu, solusi atas kelemahan demokrasi bukanlah
mencabut hak suara rakyat, melainkan memperkuat kualitas rakyat. Pendidikan
kritis lebih penting daripada sekadar pendidikan hafalan. Literasi media lebih
penting daripada kemampuan mengetik cepat di kolom komentar. Demokrasi
membutuhkan warga yang mampu berpikir, bukan hanya warga yang mampu marah.
Masalahnya, membangun masyarakat kritis itu pekerjaan
panjang dan melelahkan. Ia tidak semudah membuat slogan kampanye. Membentuk
manusia berpikir itu seperti menanam pohon: butuh waktu, kesabaran, dan kadang
hasilnya baru terlihat puluhan tahun kemudian. Sedangkan politik modern sering
ingin hasil instan seperti mi cup — tinggal seduh emosi, lalu sajikan
kemarahan.
Pada akhirnya, kritik terhadap demokrasi dalam cuitan itu
ibarat alarm kebakaran: ia benar bahwa ada asap, tetapi belum tentu benar soal
cara memadamkannya. Demokrasi memang berisik, lambat, dan sering membuat
frustrasi. Namun sistem lain biasanya lebih sunyi bukan karena lebih bijak,
melainkan karena orang takut bicara.
Dan mungkin di situlah ironi terbesar manusia modern: kita
ingin rakyat cerdas, tetapi lebih suka konten 30 detik; ingin politik
berkualitas, tetapi malas membaca; ingin pemimpin bijak, tetapi memilih
berdasarkan potongan video paling lucu.
Demokrasi akhirnya menjadi cermin besar. Ketika kita
mengeluh tentang kualitas pemilih, diam-diam kita sedang bercermin pada
kualitas masyarakat itu sendiri. Sebab pemimpin, seburuk atau sebagus apa pun,
sering kali hanyalah pantulan kolektif dari rakyatnya.
Jadi mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi, “Apakah semua
orang layak memilih?” melainkan, “Apakah kita sungguh mau belajar menjadi
masyarakat yang layak untuk demokrasi?”
Karena suara rakyat memang bisa keliru. Tetapi suara rakyat
yang malas berpikir jauh lebih berbahaya daripada sekadar salah memilih.






