Minggu, 12 Juli 2026

Kalau Masih Waras, Jangan Jadi Penulis!

Tentang Orang-Orang yang Memilih Bertengkar dengan Kertas

Ada dua jenis orang yang mengatakan, "Aku ingin menjadi penulis."

Jenis pertama mengucapkannya setelah membaca novel pemenang Nobel sambil menyeruput kopi di kafe estetik. Jenis kedua mengucapkannya pukul dua dini hari ketika kepalanya penuh kata-kata yang tidak mau tidur.

Yang pertama biasanya membeli notebook kulit seharga setengah gaji. Yang kedua biasanya menulis di balik struk belanja karena takut ide itu kabur duluan.

Paul Auster tampaknya hanya percaya pada jenis yang kedua.

Sebab nasihatnya terkenal kejam sekaligus menyegarkan:

"Jangan menjadi penulis."

Bayangkan. Nasihat itu datang bukan dari tukang parkir yang gagal menerbitkan puisi, melainkan dari seorang penulis kelas dunia. Rasanya seperti mendengar koki bintang lima berkata, "Kalau masih punya pilihan, jangan buka restoran."

Kalimat itu memang terdengar seperti sabotase terhadap cita-cita. Padahal sebenarnya ia sedang membersihkan karat romantisme yang menempel di kepala kita.

Karena banyak orang jatuh cinta pada bayangan menjadi penulis, bukan pada pekerjaan menulis.


Masyarakat memang memiliki imajinasi yang luar biasa tentang kehidupan penulis.

Dalam film, penulis selalu tinggal di apartemen mungil yang artistik. Ada jendela besar, hujan turun pelan, seekor kucing tidur di dekat mesin tik, lalu tiba-tiba lahirlah mahakarya.

Yang tidak pernah diperlihatkan kamera adalah penulis yang menatap layar kosong selama tiga jam hanya untuk menghapus satu kalimat yang ditulisnya sendiri.

Kalau inspirasi itu benar-benar seperti burung, sebagian penulis pasti sudah memasang perangkap, sangkar, bahkan CCTV.

Faktanya, inspirasi sering berperilaku seperti kucing tetangga. Dipanggil tidak datang. Ketika kita sedang mandi atau naik motor, barulah ia muncul sambil berkata, "Eh, aku punya ide bagus."

Begitu kita duduk di depan laptop...

Hilang.

Seperti janji politik menjelang pemilu.


Auster lalu menyebut tiga teman akrab penulis: kemiskinan, kesendirian, dan kegelapan.

Kalau profesi lain menawarkan paket tunjangan kesehatan, profesi penulis kadang menawarkan paket "semoga kuat."

Kemiskinan bukan sekadar isi dompet yang tipis.

Ia adalah kemampuan ajaib untuk mengubah mie instan menjadi makanan bertema sastra.

Kesendirian juga bukan sekadar tidak punya teman.

Kesendirian penulis adalah ketika semua orang mengira ia sedang santai karena hanya duduk menatap layar.

Padahal di dalam kepalanya sedang terjadi perang saudara antara paragraf pertama dan paragraf terakhir.

Sedangkan kegelapan?

Itu adalah momen ketika kita membaca tulisan sendiri lalu bertanya dengan penuh filosofi,

"Ini sebenarnya bagus atau aku cuma kurang tidur?"

Tidak ada jawaban.

Bahkan kursor pun hanya berkedip seperti sedang mengejek.


Namun musuh terbesar penulis ternyata bukan editor.

Bukan penerbit.

Bukan bahkan pembaca yang meninggalkan ulasan satu bintang dengan komentar, "Bukunya terlalu banyak kata."

Musuh terbesar penulis adalah ego.

Ego itu makhluk lucu.

Ia selalu membisikkan hal-hal yang terdengar mulia.

"Bayangkan bukumu difilmkan."

"Bayangkan diundang ke festival sastra."

"Bayangkan tanda tanganmu diperebutkan orang."

Masalahnya, ego tidak pernah membisikkan kemungkinan lain.

Misalnya...

"Bayangkan bukumu dibeli ibumu sendiri karena kasihan."

Atau...

"Bayangkan satu-satunya orang yang memberi ulasan adalah temanmu, dan itu pun karena kamu yang memintanya."

Ego selalu menjual trailer.

Hidup justru memberikan film dokumenternya.


Di zaman media sosial, ego memperoleh vitamin tambahan.

Hari ini banyak orang ingin menjadi penulis karena ingin punya bio yang berbunyi:

"Author."

Padahal yang lebih sering dikerjakan justru menghitung jumlah "like."

Ada yang lebih sering menyegarkan notifikasi daripada memperbaiki naskah.

Kalau algoritma sedang baik hati, ia merasa dirinya Tolstoy.

Kalau unggahan sepi, mendadak merasa seluruh dunia membenci sastra.

Padahal algoritma hanyalah satpam pusat perbelanjaan digital.

Tugasnya mengatur lalu lintas manusia.

Bukan menentukan kualitas jiwa.

Sayangnya kita sering menyerahkan harga diri kepada mesin yang bahkan tidak tahu cara menikmati puisi.


Auster lalu memberikan syarat yang terdengar seperti mantra kuno:

Menulislah hanya jika kau terbakar.

Bukan terbakar karena iri melihat teman menerbitkan buku.

Bukan terbakar karena ingin terkenal.

Tetapi terbakar karena kata-kata di dalam kepalamu sudah seperti jagung dalam panci berisi pasir panas.

Kalau tidak segera dituangkan, semuanya akan meletup ke mana-mana.

Penulis sejati memang aneh.

Ia menulis bahkan ketika tidak ada yang membaca.

Ia menulis ketika bukunya tidak laku.

Ia menulis ketika listrik padam.

Kalau perlu, ia akan menulis di belakang kuitansi bengkel.

Karena baginya, menulis bukan pekerjaan.

Menulis adalah cara otaknya bernapas.


Lalu tibalah nasihat paling pahit:

"Dunia tidak berutang apa pun kepadamu."

Kalimat ini rasanya seperti es batu yang dilempar ke wajah orang yang sedang berkhayal memenangkan penghargaan sastra.

Dunia tidak pernah bangun pagi sambil berkata,

"Hari ini mari kita membuat Burhan terkenal."

Tidak.

Dunia sibuk membayar cicilan.

Dunia sibuk mengantar anak sekolah.

Dunia sibuk mencari sinyal internet.

Tulisan kita hanyalah setetes hujan di tengah badai informasi.

Tetapi justru di situlah kebebasannya.

Begitu kita berhenti meminta tepuk tangan, kita mulai mendengar suara sendiri.

Begitu kita berhenti mengejar pujian, kalimat-kalimat menjadi lebih jujur.

Tulisan tidak lagi berdandan untuk pesta.

Ia pulang ke rumah.


Mungkin inilah paradoks paling lucu dalam dunia kepenulisan.

Semakin keras seseorang mengejar gelar "penulis hebat", semakin besar kemungkinan ia kelelahan.

Sebaliknya, mereka yang sekadar sibuk menulis sering kali diam-diam menghasilkan karya yang bertahan lebih lama daripada umur notifikasi.

Kata-kata ternyata seperti pohon.

Ia tidak tumbuh karena diteriaki.

Ia tumbuh karena diam-diam menembus tanah.


Jadi, kalau setelah membaca semua peringatan Paul Auster Anda masih ingin menjadi penulis, saya hanya punya dua kemungkinan.

Pertama, Anda memang keras kepala.

Kedua, Anda memang terpanggil.

Dan anehnya, sejarah sastra menunjukkan bahwa sering kali kedua hal itu adalah orang yang sama.

Silakan menulis.

Tetapi jangan berharap dunia memasang karpet merah.

Dunia bahkan kadang lupa mengembalikan buku yang dipinjam.

Menulislah karena tanpa menulis, kepala terasa seperti gudang penuh nyamuk yang berdengung tanpa henti.

Menulislah karena kata-kata adalah cara jiwa merapikan kekacauan.

Dan bila suatu hari ada pembaca yang menemukan dirinya di dalam tulisan Anda, anggaplah itu bonus yang indah—bukan tujuan utama.

Sebab pada akhirnya, penulis bukanlah orang yang berhasil menerbitkan buku.

Penulis adalah orang yang tetap menulis, bahkan ketika satu-satunya tepuk tangan berasal dari suara keyboardnya sendiri.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tim Investigasi Tanpa Anggaran: Ketika Kepo Lebih Rajin daripada Peduli

Ada satu profesi yang jumlah pegawainya paling banyak di dunia, tetapi anehnya tidak pernah membuka lowongan. Mereka tidak digaji, tidak berseragam, tidak punya kartu identitas, namun dedikasinya luar biasa. Mereka adalah anggota Tim Investigasi Kehidupan Orang Lain.

Mereka selalu hadir di saat yang tepat. Ketika mendengar seseorang sedang tertimpa musibah, mereka muncul lebih cepat daripada ambulans. Ketika ada kabar perceraian, PHK, utang, gagal menikah, atau anak yang tiba-tiba menghilang dari media sosial, radar mereka langsung berbunyi.

"Eh, sebenarnya kenapa sih?"

Kalimat itu terdengar seperti pembuka doa, padahal sering kali hanya pembuka gosip.

Ahmed Khaled Tawfik, penulis Mesir yang terkenal dengan lidah setajam pisau bedah, pernah menyindir sifat manusia yang menurutnya sangat menjijikkan: ingin mengetahui seluruh isi hidup seseorang hanya karena penasaran, padahal sejak awal sudah tahu dirinya tidak akan membantu apa pun.

Kalimat itu pendek, tetapi efeknya seperti sandal yang dilempar ibu dari dapur—tidak panjang, tetapi tepat sasaran.


Lucunya, manusia memang makhluk yang aneh.

Kalau melihat tetangga membawa koper besar, otak langsung bekerja seperti detektif profesional.

"Mau ke mana?"

"Berapa hari?"

"Naik apa?"

"Siapa saja?"

"Biayanya berapa?"

Yang bertanya bahkan lebih lengkap daripada petugas bandara.

Namun setelah semua informasi diperoleh, kontribusinya hanya satu kalimat legendaris.

"Oh..."

Lalu pulang.

Informasi sudah dikumpulkan, rasa penasaran sudah kenyang, tetapi tidak ada satu gram pun manfaat yang dihasilkan. Seolah-olah hidup orang lain adalah serial televisi yang wajib diikuti setiap episodenya.


Media sosial memperparah kebiasaan ini.

Sekarang penderitaan memiliki tombol "Like."

Kesedihan memiliki kolom komentar.

Kebangkrutan memiliki emoji menangis.

Perceraian memiliki ribuan penonton.

Kita hidup pada zaman ketika tragedi berubah menjadi konten.

Ada seseorang yang menulis panjang lebar tentang perjuangannya melawan penyakit. Ribuan orang berkomentar,

"Semangat ya."

"Aamiin."

"Stay strong."

Kalimat-kalimat itu tentu tidak salah. Bahkan bisa menjadi penguat. Tetapi sering kali semuanya berhenti di sana.

Empati berubah menjadi stiker digital.

Kepedulian cukup dibayar dengan emoji.

Seolah-olah hati manusia kini memiliki paket data: aktif selama lima detik, lalu habis masa berlakunya.


Yang lebih lucu lagi adalah kemampuan manusia menyimpan informasi yang tidak berguna.

Kita lupa tanggal membayar listrik.

Lupa ulang tahun pasangan.

Lupa meletakkan kunci motor.

Tetapi kita hafal bahwa sepupu teman SMA pernah bertengkar dengan mertuanya pada tahun 2019 gara-gara masalah pagar.

Otak manusia rupanya memiliki lemari arsip khusus bernama "Informasi yang Tidak Ada Gunanya tetapi Sayang Kalau Dibuang."

Ilmu pengetahuan mungkin menyebutnya memori jangka panjang.

Ibu-ibu kompleks menyebutnya "buat jaga-jaga."


Fenomena ini sebenarnya sudah tua.

Dulu orang berkumpul di sumur.

Lalu pindah ke warung kopi.

Kemudian ke grup WhatsApp.

Sekarang ke kolom komentar.

Teknologinya berubah.

Rasa penasarannya tetap sama.

Yang berganti hanya kecepatan internet.


Mengapa kita begitu ingin tahu kehidupan orang lain?

Psikolog mungkin menjawab dengan teori perbandingan sosial. Kita merasa lebih nyaman ketika mengetahui bahwa ternyata hidup orang lain juga berantakan.

Ada hiburan kecil dalam kalimat,

"Oh... ternyata bukan saya saja."

Ironisnya, kebahagiaan seperti ini mirip orang yang melihat kapal lain bocor agar dirinya lupa bahwa perahunya sendiri juga kemasukan air.

Padahal dua-duanya tetap akan sibuk menimba.


Dalam tradisi Islam ada larangan tajassus—mencari-cari aib orang lain.

Larangan ini menarik.

Bukan karena Tuhan ingin manusia berhenti penasaran.

Mustahil.

Rasa ingin tahu adalah bawaan pabrik.

Yang dilarang adalah ketika rasa ingin tahu berubah menjadi hobi mengintip kehidupan orang lain tanpa membawa manfaat sedikit pun.

Kalau penasaran itu seperti garam, secukupnya membuat hubungan menjadi akrab.

Tetapi kalau satu karung ditumpahkan ke dalam sayur, yang lahir bukan keakraban, melainkan gagal ginjal sosial.


Namun Tawfik juga mengingatkan sesuatu yang lebih dalam.

Tidak semua orang yang bertanya benar-benar peduli.

Sebagian hanya mengumpulkan data.

Manusia ternyata memiliki bakat menjadi arsip nasional penderitaan orang lain.

Sayangnya, ketika diminta menjadi relawan untuk membantu, mendadak sinyalnya hilang.

Mereka seperti aplikasi gratis.

Rajin meminta akses ke kamera, mikrofon, lokasi, kontak, galeri foto, bahkan daftar belanja.

Tetapi ketika diminta menjalankan fungsi utama, muncul tulisan:

"Fitur ini belum tersedia di wilayah Anda."


Untungnya, dunia tidak sepenuhnya dipenuhi manusia seperti itu.

Masih ada orang-orang yang tidak banyak bertanya, tetapi diam-diam mengirim makanan.

Tidak sibuk mencari kronologi, melainkan mencari alamat.

Tidak penasaran dengan nominal utang, tetapi datang membawa beras.

Mereka jarang muncul di kolom komentar.

Sebab kebaikan sejati memang lebih suka bekerja lembur daripada berfoto.

Mereka mengerti bahwa telinga yang baik bukan hanya pandai mendengar cerita, melainkan juga mampu mendengar kebutuhan yang tidak diucapkan.


Barangkali ukuran kepedulian bukanlah seberapa banyak pertanyaan yang kita ajukan, melainkan seberapa ringan beban yang ditinggalkan setelah kita pulang.

Karena rasa ingin tahu tanpa empati ibarat turis yang datang ke daerah bencana: memotret, mengangguk prihatin, membeli es teh, lalu pulang membawa cerita.

Sementara para korban tetap sibuk membereskan puing-puing.

Maka lain kali ketika jari kita gatal ingin mengetik, "Sebenarnya ada apa?", mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri terlebih dahulu:

"Kalau dia menjawab, apakah aku siap membantu?"

Kalau jawabannya belum, mungkin yang perlu dipuaskan bukan rasa penasaran, melainkan rasa kemanusiaan.

Sebab dunia tidak sedang kekurangan orang yang ingin tahu.

Dunia jauh lebih kekurangan orang yang mau ikut memikul.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Sabtu, 11 Juli 2026

Ketika Hati Bukan Senter: Tentang Berburu Cahaya

Ada satu kebiasaan manusia modern yang cukup menggelikan. Kalau listrik mati lima menit saja, kita langsung panik mencari senter. Namun ketika hati sudah gelap bertahun-tahun, kita justru berkata, "Santai saja, nanti juga terang sendiri."

Padahal hati bukan kamar kos yang akan terang hanya karena tetangga menyalakan lampu. Hati punya instalasi listrik yang berbeda. Kabelnya bernama keikhlasan, saklarnya bernama taubat, dan sumber energinya bukan PLN, melainkan Allah. Celakanya, banyak dari kita lebih rajin mengisi daya ponsel daripada mengisi daya jiwa. Baterai ponsel tinggal 3% langsung mencari colokan. Baterai iman tinggal 0%, malah membuka media sosial.

Di sinilah kajian ini  datang seperti teknisi listrik yang sabar. Ia tidak menawarkan lampu LED spiritual, apalagi paket "cepat tercerahkan dalam tujuh hari". Ia justru mengajak kita memahami bahwa cahaya bukan sesuatu yang dibeli, melainkan sesuatu yang diterima oleh hati yang siap menerimanya.

Lucunya, manusia memang selalu ingin yang instan. Kalau bisa, hari Senin baru mulai wirid, hari Rabu sudah ingin dipanggil "orang yang makrifat". Baru dua kali mengikuti kajian tasawuf, sudah mulai berbicara dengan nada pelan, sesekali memejamkan mata sambil berkata, "Semua ini hanyalah ilusi dunia."

Padahal yang ilusi justru perasaan bahwa dirinya sudah sampai.

Kajian tentang bab Nur dalam Al-Hikam mengingatkan bahwa ada dua macam cahaya. Yang pertama adalah Nûr al-Tawajjuh, cahaya yang menemani orang yang sedang berjalan menuju Allah. Cahaya ini ibarat lampu depan kendaraan ketika melewati jalan pegunungan pada malam hari. Lampunya tidak menerangi seluruh perjalanan sekaligus. Ia hanya cukup menerangi beberapa meter di depan. Namun justru itulah yang membuat perjalanan bisa diteruskan.

Sebagian orang keberatan.

"Masa cuma kelihatan lima meter?"

Padahal hidup memang begitu. Allah jarang menunjukkan seluruh peta kehidupan sekaligus. Kalau semua masa depan diperlihatkan sejak awal, mungkin kita bukan menjadi hamba yang tawakal, melainkan penonton spoiler kehidupan.

Jenis cahaya kedua adalah Nûr al-Muwâjahah, cahaya bagi mereka yang telah sampai. Di sini hati bukan lagi sekadar pejalan, tetapi telah menjadi cermin yang memantulkan cahaya Ilahi.

Masalahnya, manusia sering tertukar.

Baru membeli sepatu gunung, sudah merasa berhasil menaklukkan Everest.

Baru membeli sajadah mahal, sudah merasa dekat dengan langit.

Baru hafal beberapa istilah Arab, sudah berbicara seolah-olah malaikat Jibril adalah teman lama.

Padahal perjalanan spiritual bukan lomba mengoleksi istilah. Ia lebih mirip membersihkan kaca jendela.

Semakin bersih kacanya, semakin jelas cahaya masuk.

Tidak ada kaca yang menjadi terang karena membanggakan dirinya sebagai kaca.

Yang membuatnya bercahaya justru karena ia berhenti dipenuhi debu.

Inilah salah satu metafora paling indah dalam Ayat An-Nur. Hati manusia diibaratkan seperti kaca. Kalau kaca itu bening, cahaya akan memancar. Tetapi kalau penuh debu kesombongan, kerak iri hati, sidik jari kemarahan, dan noda pamer amal, jangan salahkan matahari. Cahaya tidak pernah bermasalah. Yang bermasalah adalah kacanya.

Ironisnya, manusia lebih rajin membersihkan layar ponsel daripada membersihkan layar hati.

Layar ponsel sedikit buram langsung dibelai dengan kain mikrofiber.

Hati buram karena dendam bertahun-tahun malah dianggap sebagai "prinsip hidup".

Padahal dendam itu seperti menempelkan lumpur pada kaca lalu mengeluh mengapa matahari tidak kelihatan.

Kajian ini juga menyampaikan satu gagasan yang sering terlupakan: cahaya harus dibagikan.

Ini menarik.

Kalau seseorang punya uang seratus ribu lalu diberikan lima puluh ribu, uangnya tinggal separuh.

Tetapi kalau seseorang punya ilmu lalu membaginya, ilmunya justru semakin hidup.

Kalau seseorang punya senyum lalu membaginya, wajahnya tidak menjadi setengah.

Kalau seseorang punya doa lalu menghadiahkannya kepada orang lain, doanya tidak berkurang.

Ternyata hanya ego yang takut berkurang.

Cahaya tidak.

Barangkali karena cahaya memiliki sifat matahari. Matahari tidak pernah kehilangan sinarnya hanya karena menerangi jutaan rumah. Yang kehilangan justru orang yang memilih menutup jendelanya rapat-rapat.

Begitu pula pengalaman hidup.

Kajian ini menjelaskan bahwa masa lalu yang gelap bukanlah kesalahan produksi dari Allah. Bahkan pengalaman jatuh, tersesat, atau penuh dosa sering kali menjadi sekolah yang paling jujur. Orang yang pernah berjalan dalam gelap biasanya lebih menghargai sebatang lilin daripada mereka yang sejak kecil hidup di bawah lampu kristal.

Bekas luka sering kali lebih pandai bersyukur daripada kulit yang belum pernah tergores.

Karena itu, terlalu lama menangisi masa lalu sama lucunya dengan seseorang yang terus memeluk peta setelah ia menemukan jalan pulang.

Peta memang berjasa.

Tetapi rumah tetap harus dimasuki.

Yang juga menggelitik adalah penjelasan tentang frasa Lâ syarqiyyah wa lâ gharbiyyah—tidak timur dan tidak barat. Di zaman sekarang, kalimat itu seperti mengingatkan kita agar tidak sibuk memberi label pada cahaya.

Sebagian orang merasa semua yang datang dari Barat pasti sesat.

Sebagian lagi merasa semua yang datang dari Timur pasti mistis.

Padahal cahaya Allah tidak mengenal paspor.

Ia tidak mengurus visa.

Ia juga tidak membutuhkan cap imigrasi.

Yang ia cari hanyalah hati yang bersedia dibersihkan.

Sayangnya, manusia lebih suka memperdebatkan arah mata angin daripada arah hatinya sendiri.

Yang paling lucu, kita sering membayangkan cahaya spiritual sebagai kilatan spektakuler.

Harus ada sinar biru.

Harus ada aura keemasan.

Harus ada sensasi merinding.

Padahal bisa jadi cahaya terbesar dalam hidup seseorang justru berupa kemampuan meminta maaf lebih dulu.

Atau kemampuan diam ketika marah.

Atau kemampuan tetap jujur ketika tidak ada yang mengawasi.

Barangkali cahaya Ilahi memang lebih sering bekerja seperti matahari pagi daripada kembang api malam tahun baru.

Ia tidak berisik.

Tidak dramatis.

Tetapi perlahan-lahan menghangatkan kehidupan.

Pada akhirnya, perjalanan menuju Allah bukanlah perlombaan menjadi manusia paling bercahaya di mata orang lain. Sebab cahaya yang sibuk dipamerkan biasanya berubah menjadi lampu panggung. Terang memang, tetapi hanya selama pertunjukan berlangsung.

Cahaya sejati lebih menyerupai pelita di rumah nenek di kampung. Tidak pernah masuk berita, tidak viral, tidak menghasilkan jutaan penonton, tetapi cukup menerangi siapa saja yang datang mengetuk pintu.

Mungkin itulah makna terdalam dari Nûrun 'alâ Nûr—cahaya di atas cahaya.

Bukan ketika kepala kita dipenuhi istilah-istilah tasawuf yang rumit.

Melainkan ketika hati menjadi begitu bening sehingga kehadiran kita membuat orang lain merasa lebih tenang, lebih jujur, lebih sabar, dan sedikit lebih dekat kepada Allah.

Kalau itu sudah terjadi, kita tidak perlu mengumumkan bahwa kita telah menemukan cahaya.

Orang lain akan merasakannya, sebagaimana orang tidak perlu diberi tahu bahwa matahari telah terbit. Mereka cukup melihat gelap yang perlahan mengundurkan diri.

abah-arul.blogspot.com. Juli 2026

Cinta Itu Bukan Borgol, Melainkan Sepasang Sandal

 Ada dua benda yang paling sering hilang di dunia ini. Yang pertama adalah kaus kaki sebelah kiri setelah dicuci. Yang kedua adalah akal sehat ketika orang sedang jatuh cinta.

Cinta memang memiliki kemampuan ajaib. Ia bisa membuat seseorang yang biasanya logis berubah menjadi detektif amatir hanya karena pasangan terlambat membalas pesan tiga menit. Ia juga sanggup mengubah orang dewasa menjadi penyair dadakan, ahli astrologi paruh waktu, sekaligus peramal cuaca emosional. "Dia membalas dengan titik. Wah, pasti ada badai."

Namun, seperti kata John Steinbeck, ternyata tidak semua cinta diciptakan dengan resep yang sama. Ada cinta yang seperti pupuk: membuat pohon tumbuh tinggi. Ada pula cinta yang seperti tali rafia: semakin lama semakin mengikat sampai batangnya bengkok.

Cinta yang Hobi Memelihara Ego

Jenis cinta pertama adalah cinta yang sebenarnya lebih jatuh cinta kepada dirinya sendiri.

Kalimat favoritnya sederhana.

"Aku mencintaimu."

Yang tidak pernah diucapkan adalah kalimat kecil yang tersembunyi di belakangnya.

"Karena kau bekerja sebagai karyawan tetap untuk memelihara harga diriku."

Dalam hubungan seperti ini, pasangan bukan dipandang sebagai manusia, melainkan seperti aplikasi. Tugasnya memberi notifikasi bahagia, validasi tanpa henti, pujian setiap pagi, perhatian setiap malam, dan layanan pelanggan selama dua puluh empat jam.

Begitu aplikasinya macet sedikit saja, langsung muncul pembaruan emosi.

"Kenapa berubah?"

"Kenapa sekarang beda?"

"Kenapa tadi senyum ke orang lain?"

Lucunya, cinta posesif sering menyamar sebagai perhatian.

"Aku cemburu karena sayang."

Padahal kalau kecemburuan sudah memiliki CCTV di setiap sudut kehidupan pasangan, itu bukan cinta lagi. Itu sudah mendekati profesi intelijen.

Hubungan seperti ini melelahkan karena satu orang sibuk hidup, sementara yang lain sibuk mengawasi kehidupan orang pertama.

Lama-kelamaan, seseorang tidak lagi bertanya, "Apa yang membuatku bahagia?"

Ia justru bertanya, "Hari ini aku boleh bernapas tanpa izin, tidak?"

Cinta yang Memberi Ruang

Sebaliknya, ada cinta yang jauh lebih tenang.

Ia tidak berisik, tidak dramatis, dan tidak membutuhkan panggung.

Ia seperti matahari.

Matahari tidak pernah berteriak kepada bunga,

"Hei! Cepat mekar! Aku sudah menyinarimu tiga hari!"

Ia cukup hadir. Sisanya diserahkan kepada waktu.

Begitulah cinta yang sehat.

Ia tidak sibuk membentuk orang lain sesuai katalog impiannya.

Ia justru penasaran melihat versi terbaik yang bisa tumbuh dari diri pasangannya.

Cinta seperti ini aneh.

Semakin dekat, semakin bebas.

Semakin akrab, semakin menghormati.

Semakin sayang, semakin sadar bahwa pasangan bukan properti pribadi.

Burung tetap terbang.

Pohon tetap bertumbuh.

Laut tetap memiliki ombaknya sendiri.

Tidak ada yang kehilangan dirinya hanya karena saling mencintai.

Hubungan seperti ini bukan kandang, melainkan taman.

Orang-orang bertumbuh karena merasa aman, bukan karena takut.

Media Sosial: Tempat Cinta Sering Salah Kostum

Sayangnya, zaman sekarang cinta sering salah kostum.

Media sosial membuat banyak orang mengira hubungan yang sehat harus selalu tampak spektakuler.

Harus ada unggahan setiap minggu.

Harus ada foto tangan bergandengan.

Harus ada caption sepanjang skripsi.

Kalau tidak dipamerkan, dianggap tidak bahagia.

Padahal hubungan yang paling damai sering kali justru yang paling sunyi.

Tidak semua pelukan membutuhkan kamera.

Tidak semua kebahagiaan memerlukan kolom komentar.

Ironisnya, banyak pasangan lebih rajin merawat feed daripada merawat percakapan.

Ponsel diisi hingga memorinya penuh.

Hubungan dibiarkan kehabisan ruang.

Jangan Jadikan Pasangan Sebagai Charger Emosi

Barangkali kesalahan terbesar manusia adalah menganggap pasangan sebagai charger kehidupan.

Begitu baterai emosi habis, kita mencolokkan seluruh harapan kepada satu orang.

"Tolong bahagiakan aku."

Masalahnya, manusia bukan pembangkit listrik tenaga cinta.

Ia juga punya hari-hari buruk.

Ia juga lelah.

Ia juga ingin dipeluk, bukan terus menjadi tempat bersandar.

Cinta yang dewasa bukan mencari orang yang menyelesaikan seluruh hidup kita.

Ia mencari seseorang yang bersedia berjalan bersama ketika hidup sama-sama berantakan.

Kadang sambil membawa payung.

Kadang sambil kehujanan.

Kadang sambil tertawa karena ternyata payungnya bocor.

Penutup

Mungkin itulah ujian terbesar cinta.

Bukan menemukan seseorang yang sempurna.

Melainkan menjadi tempat di mana seseorang berani menjadi dirinya sendiri tanpa takut kehilangan harga dirinya.

Karena cinta yang buruk membuat seseorang mengecil agar mudah dimiliki.

Sedangkan cinta yang baik membuat seseorang membesar hingga ia berani menjadi dirinya sendiri.

Pada akhirnya, cinta bukanlah borgol yang mengunci dua tangan agar tidak ke mana-mana.

Cinta jauh lebih mirip sepasang sandal.

Keduanya berjalan berdampingan, saling menopang, kadang terkena lumpur bersama, sesekali tertukar kiri dan kanan, tetapi tidak pernah memaksa kaki yang satu menjadi kaki yang lain.

Dan mungkin di situlah letak keajaiban cinta yang sesungguhnya: bukan ketika dua orang saling memiliki, melainkan ketika dua jiwa saling menumbuhkan tanpa pernah saling mengerdilkan.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Jumat, 10 Juli 2026

Bekas Luka Bukan Cacat, Itu Bukti Garansi Hidup

Tentang Bangkit, Anna Magnani, dan Manusia yang Ternyata Tidak Dibuat dari Teflon

Ada dua jenis manusia di dunia.

Yang pertama adalah manusia yang setiap kali hidup menamparnya, langsung mengunggah kutipan motivasi.

Yang kedua adalah manusia yang ditampar hidup, menangis tiga hari, makan mi instan seminggu, menghilang dari grup WhatsApp sebulan, lalu suatu pagi muncul lagi sambil berkata, "Sudahlah... kopi dulu."

Aneh memang. Justru kelompok kedua biasanya lebih bijaksana.

Barangkali karena mereka tahu bahwa hidup bukan sinetron. Tidak ada musik haru yang otomatis berbunyi ketika kita patah hati. Tidak ada kamera yang mengambil sudut terbaik saat kita gagal. Yang ada hanyalah tagihan listrik yang tetap datang tepat waktu meskipun hati sedang remuk.

Itulah sebabnya kutipan yang sering dikaitkan dengan Anna Magnani terasa begitu mengena. Isinya sederhana: tidak ada yang lebih indah daripada seseorang yang sedang bangkit kembali.

Bukan orang yang tidak pernah jatuh.

Bukan orang yang hidupnya selalu mulus seperti jalan tol setelah diaspal menjelang kunjungan pejabat.

Tetapi orang yang pernah jungkir balik, terseret badai, dicubit nasib berkali-kali, lalu berdiri lagi sambil merapikan rambut dan berkata, "Lanjut."

Itu jauh lebih memesona.


Kita hidup di zaman yang agak lucu.

Media sosial membuat semua orang tampak seperti pemenang lomba kehidupan.

Ada yang baru bangun tidur sudah terlihat seperti selesai retret spiritual.

Ada yang mengaku "healing", padahal tujuan utamanya mencari sinyal Wi-Fi yang lebih kuat.

Ada pula yang menulis, "Aku menerima semua kekuranganku," tetapi menghabiskan dua jam menghapus jerawat dari foto.

Seolah-olah kehidupan ideal adalah kehidupan tanpa retakan.

Padahal, coba lihat ponsel kita.

Layarnya retak sedikit saja masih dipakai bertahun-tahun.

Yang tidak tahan justru pemiliknya.

Begitu hati retak sedikit, langsung merasa dirinya produk gagal.

Padahal manusia bukan gelas kristal.

Kita lebih mirip wajan.

Semakin sering dipakai, semakin banyak goresannya, tetapi justru semakin enak hasil masakannya.


Dalam psikologi ada istilah post-traumatic growth.

Bahasa sederhananya begini.

Ada orang yang setelah badai menjadi korban.

Ada yang setelah badai menjadi penyintas.

Dan ada yang setelah badai malah berubah menjadi nahkoda yang lebih hebat.

Trauma ternyata tidak selalu menghancurkan.

Kadang ia bekerja seperti tukang renovasi yang sangat kasar.

Ia membongkar seluruh rumah tanpa permisi.

Kita marah.

Kita menangis.

Kita mengeluh.

Tetapi beberapa waktu kemudian baru sadar bahwa rumah lama memang sudah rapuh.

Yang dibangun kembali ternyata jauh lebih kokoh.

Masalahnya, selama proses renovasi itu kita sering merasa hidup sedang dipermainkan.

Padahal semesta mungkin hanya sedang mengganti fondasi.

Sayangnya, semesta tidak pernah mengirim surat pemberitahuan sebelum membongkar.


Yang menarik dari kutipan itu bukan hanya soal luka.

Melainkan keberanian untuk tetap ingin "mengguncang dunia."

Ini luar biasa.

Karena biasanya setelah mengalami kegagalan, cita-cita kita mengecil drastis.

Dulu ingin mengubah dunia.

Sekarang cukup berharap paket belanja datang sesuai estimasi.

Dulu ingin menjadi inspirasi bangsa.

Sekarang asal grup keluarga tidak membahas politik saat makan bersama sudah merupakan kemenangan batin.

Namun justru di situlah letak keajaibannya.

Orang yang pernah benar-benar terluka sering kali memiliki tenaga hidup yang berbeda.

Ia tidak lagi sibuk membuktikan bahwa dirinya sempurna.

Ia hanya ingin hidup dengan jujur.

Dan anehnya, orang seperti itu justru lebih menginspirasi.

Karena kesempurnaan membuat kita kagum.

Tetapi ketidaksempurnaan membuat kita merasa ditemani.


Konon kutipan itu dilekatkan pada Anna Magnani.

Entah benar berasal darinya atau tidak, rasanya memang cocok.

Magnani dikenal bukan karena wajah yang dibuat-buat.

Ia dicintai karena emosinya yang mentah.

Ia menangis tanpa terlihat sedang berusaha menangis.

Ia marah tanpa tampak sedang berakting.

Hari ini, kemampuan seperti itu mungkin sudah langka.

Banyak orang lebih sibuk mengatur pencahayaan daripada mengatur isi hati.

Kita pandai memasang filter.

Sayangnya, filter tidak bisa menghapus rasa kehilangan.

Ia hanya membuat warna langit lebih biru.

Bukan membuat hati lebih damai.


Bekas luka memang unik.

Ia seperti tanda tangan kehidupan.

Tidak ada dua orang yang memiliki pola yang sama.

Ada yang terluka karena kehilangan.

Ada yang karena pengkhianatan.

Ada yang karena impian yang kandas.

Ada pula yang hanya karena membaca komentar netizen setelah mengunggah pendapat.

Semuanya meninggalkan jejak.

Namun jejak bukan berarti akhir perjalanan.

Kalau jalan setapak bisa menjadi indah justru karena banyak jejak kaki yang melewatinya, mengapa manusia harus malu memiliki bekas perjalanan hidup?

Luka bukan stempel kegagalan.

Ia lebih mirip cap imigrasi di paspor.

Artinya sederhana.

"Kamu pernah sampai di tempat yang sulit, dan kamu berhasil keluar."


Pada akhirnya, hidup mungkin memang bukan perlombaan menjadi manusia paling mulus.

Kalau begitu, pisang goreng lebih layak menjadi juara.

Hidup adalah keberanian untuk tetap tersenyum setelah kenyataan berkali-kali mengacak-acak rencana.

Senyum itu bukan tanda kita tidak pernah menangis.

Justru sebaliknya.

Ia adalah bunga yang tumbuh dari tanah yang pernah diguyur hujan paling deras.

Karena itu, kalau hari ini hidup terasa penuh retakan, jangan buru-buru merasa rusak.

Barangkali hidup sedang bekerja seperti seorang pematung.

Setiap pahatannya memang terasa menyakitkan.

Namun ia tidak sedang menghancurkan batu.

Ia sedang memperlihatkan patung yang selama ini tersembunyi di dalamnya.

Dan siapa tahu, beberapa tahun lagi, ketika menoleh ke belakang, kita akan tertawa sambil berkata,

"Untung dulu aku tidak menyerah."

Sebab ternyata bekas luka bukanlah noda yang harus disembunyikan.

Ia adalah tanda bahwa kehidupan pernah menguji kita habis-habisan... lalu akhirnya mengakui bahwa kita lebih keras kepala daripada semua badai yang pernah dikirimkannya.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Ketika "Pergi Sana!" Berarti "Kok Belum Telepon?"

Tentang Cinta, Amarah, dan Kebiasaan Manusia Bertengkar dengan Orang yang Paling Dirindukan

Konon, cinta adalah satu-satunya penyakit yang membuat orang sehat sengaja begadang. Lucunya, bukan karena sedang bahagia, melainkan karena baru saja bertengkar.

Malam itu status WhatsApp berbunyi, "Sudah, kita selesai!"

Paginya berubah menjadi,

"Kamu sudah makan?"

Kalau ini bukan keajaiban, entah apa lagi namanya.

Fyodor Dostoevsky, sang ahli bedah jiwa manusia yang lebih suka mengoperasi hati daripada usus, tampaknya sudah mengetahui penyakit ini jauh sebelum ditemukan fitur last seen. Ia menggambarkan seseorang yang malam hari mengutuk semua laki-laki ke neraka, tetapi pagi harinya justru merindukan suara "setan" yang semalam dikirim ke alamat tersebut.

Beginilah manusia.

Mulutnya petugas pengusiran.

Hatinya bagian penerimaan tamu.


Amarah memang makhluk yang sangat cerewet. Ia selalu berbicara menggunakan huruf kapital.

"Aku muak!"

"Cukup!"

"Jangan hubungi aku lagi!"

Masalahnya, amarah bekerja seperti pegawai honorer yang terlalu bersemangat. Ia sering mengambil keputusan sebelum sempat rapat dengan hati. Akibatnya, begitu emosinya pulang kerja, hati datang sambil membawa daftar koreksi.

"Sebentar... tadi kita ngomong apa, ya?"

Manusia rupanya memiliki kemampuan luar biasa: mengatakan sesuatu yang tidak dimaksudkan, lalu menghabiskan beberapa hari untuk menjelaskan bahwa sebenarnya yang dimaksud bukan itu.

Kalau ada olahraga resmi bernama "menarik kembali ucapan," mungkin umat manusia sudah langganan medali emas.


Cinta sendiri ternyata memiliki selera humor yang cukup aneh.

Ia bisa tinggal serumah dengan amarah.

Bayangkan saja dua penyewa kos yang terus bertengkar tetapi tidak pernah benar-benar pindah.

Hari ini marah.

Besok rindu.

Lusa marah lagi.

Malamnya menunggu notifikasi.

Hubungan asmara kadang lebih mirip cuaca di pegunungan daripada kontrak bisnis. Lima menit yang lalu badai. Lima menit berikutnya matahari muncul seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Itulah sebabnya psikolog menyebutnya ambivalensi emosi.

Orang awam menyebutnya,

"Ya... begitulah."


Yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa lawan dari cinta adalah benci.

Padahal dalam banyak hubungan, lawan cinta justru bukan kebencian.

Melainkan rasa tidak peduli.

Selama seseorang masih sempat marah karena pesan dibalas satu jam kemudian, peluang hubungan itu justru masih hidup.

Yang berbahaya adalah ketika balasan datang tiga hari kemudian dan jawabannya cuma,

"Oh."

Satu huruf "O" kadang lebih menakutkan daripada seribu kalimat kemarahan.

Karena amarah masih mengandung energi.

Ketidakpedulian hanyalah ruang kosong yang sudah ditinggalkan penghuninya.


Dostoevsky memang menulis tentang perempuan, tetapi jangan buru-buru mengira hanya perempuan yang mengalami kontradiksi semacam itu.

Laki-laki pun tidak kalah kreatif.

Ada yang berkata,

"Aku baik-baik saja."

Padahal wajahnya sudah seperti server yang kehilangan listrik.

Ada pula yang menghapus foto profil agar terlihat tegar, tetapi diam-diam membuka profil orang yang sama setiap lima belas menit.

Kalau cinta adalah universitas, maka jurusan paling ramai adalah "Malu Mengakui Rindu."

Lulusannya jutaan.

Wisudanya tidak pernah selesai.


Media sosial mempercepat semuanya.

Dulu orang bertengkar harus bertatap muka.

Sekarang cukup dengan satu kalimat.

"Oke."

Yang lebih mengerikan lagi adalah variasinya.

"Oke."

"Oke..."

"Ok."

"K."

Empat bentuk yang secara tata bahasa hampir sama, tetapi secara psikologis mampu memicu perang dunia kecil dalam kepala pasangan.

Lalu dimulailah pekerjaan paling melelahkan abad digital: menafsirkan tanda baca.

Mengapa titiknya satu?

Mengapa tidak memakai emoji?

Mengapa tidak ada kata "ya"?

Mengapa hanya huruf "K"?

Kadang hubungan modern tidak kandas karena perbedaan prinsip hidup, melainkan karena salah membaca titik.


Yang membuat kutipan Dostoevsky bertahan hingga sekarang bukan karena ia sedang membicarakan perempuan.

Ia sedang membicarakan manusia.

Makhluk yang bisa mengunci pintu sambil berharap ada yang mengetuk.

Menghapus nomor sambil hafal di luar kepala.

Memblokir akun seseorang, tetapi meminjam ponsel teman untuk melihat kabarnya.

Kita memang spesies yang unik.

Otak berkata, "Sudah selesai."

Hati menjawab, "Tunggu sebentar."

Ego berkata, "Jangan hubungi dulu."

Jempol sudah lebih dulu mengetik,

"Lagi apa?"


Mungkin beginilah cara cinta bekerja.

Ia bukan garis lurus, melainkan benang kusut yang sesekali membentuk pita indah. Ia bukan jalan tol yang mulus, melainkan gang kecil yang penuh belokan, tanjakan, dan sesekali ayam lewat tanpa melihat kanan-kiri.

Karena itu, jangan terlalu heran bila malam hari seseorang berkata, "Pergi sana!"

Lalu pagi harinya diam-diam berharap telepon berbunyi.

Bukan karena manusia munafik.

Melainkan karena hati tidak pernah belajar logika secepat mulut.

Dan mungkin itulah sebabnya Dostoevsky masih terasa relevan hingga hari ini.

Beliau tampaknya sudah memahami satu rahasia besar yang terus dibuktikan oleh jutaan pasangan setiap hari:

Dalam kamus cinta, kalimat "Aku benci kamu!" sering kali hanyalah dialek yang sangat berisik dari kalimat,

"Tolong jangan benar-benar pergi."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026