Selasa, 14 Juli 2026

Menunggu Diri Sendiri di Bangku Taman: Ketika Jiwa Ketinggalan Kereta Ekspres Kesuksesan

Konon ada dua jenis orang di taman kota. Yang pertama datang untuk olahraga. Yang kedua datang untuk memberi makan burung merpati. Lalu ada jenis ketiga yang jauh lebih misterius: seorang kakek yang setiap sore duduk diam di bangku tua sambil memandangi matahari tenggelam. Tidak membaca koran, tidak bermain ponsel, tidak membuat konten "healing sore hari" lengkap dengan musik piano yang membuat penonton ikut merasa sedang mencicil cicilan.

Seorang pemuda yang penuh semangat akhirnya bertanya, "Kakek sedang menunggu siapa?"

Jawaban sang kakek terdengar seperti kalimat yang salah kirim dari grup filsafat.

"Aku sedang menunggu diriku sendiri."

Pemuda itu mungkin sempat mengecek apakah bangku itu terlalu panas sehingga memengaruhi kewarasan penghuninya. Tetapi kakek itu melanjutkan dengan tenang. Sepanjang hidup ia terlalu sibuk berlari mengejar uang, jabatan, kesuksesan, dan segala sesuatu yang katanya penting. Ia berlari begitu cepat hingga jiwanya tertinggal jauh di belakang. Sekarang, setelah napas mulai lebih pendek daripada daftar penyesalan, ia memilih duduk diam, berharap jiwanya akhirnya berhasil menyusul.

Ironisnya, cerita ini terasa lucu karena terlalu dekat dengan kehidupan kita.

Hari ini manusia modern bangun bukan karena ayam berkokok, melainkan karena alarm yang bunyinya seperti petugas penagih utang. Begitu mata terbuka, tangan otomatis mencari ponsel. Belum sempat mengucek mata, sudah melihat teman SMA membeli rumah, teman kuliah liburan ke Islandia, tetangga membuka bisnis baru, dan seseorang yang entah siapa mendadak menjadi miliarder hanya karena menjual minuman rasa stroberi dengan nama yang panjangnya mengalahkan doa bala.

Akhirnya kita pun ikut berlari.

Masalahnya, kita sering lupa bertanya: sebenarnya lombanya siapa?

Lucunya lagi, manusia adalah satu-satunya makhluk yang rela mengorbankan kesehatan demi mencari uang, lalu menghabiskan uang demi mengembalikan kesehatan. Kita bekerja lembur supaya suatu hari bisa menikmati hidup, tetapi ketika hari itu datang, dokter malah berkata, "Silakan kurangi stres."

Stresnya sudah menjadi penghuni tetap.

Budaya hustle memang menjanjikan kehidupan yang gemerlap. Slogannya terdengar gagah: kerja keras sekarang, nikmati hasilnya nanti.

Sayangnya, kata "nanti" itu elastis seperti karet gelang.

Saat masih muda, kita berkata, "Nanti setelah lulus."

Sesudah lulus berubah menjadi, "Nanti setelah dapat pekerjaan."

Lalu berganti lagi menjadi, "Nanti setelah promosi."

Berikutnya, "Nanti setelah punya rumah."

Kemudian, "Nanti setelah anak besar."

Pada akhirnya, kata "nanti" pensiun lebih lambat daripada pemiliknya.

Parabel tentang bangku taman itu sebenarnya sedang mengolok-olok kebiasaan kita memperlakukan masa depan seperti restoran mewah yang selalu menerima reservasi. Kita yakin kebahagiaan tersedia di sana, tinggal datang sesuai jadwal. Padahal ketika tiba, restorannya ternyata sedang direnovasi.

Di sinilah letak kelucuannya.

Kita begitu sibuk membangun kehidupan sampai lupa menghuninya.

Rumah megah selesai dibangun, tetapi penghuninya selalu rapat.

Mobil sudah berganti tiga kali, tetapi jalan-jalan selalu ditunda.

Kopi mahal dibeli agar bisa bekerja lebih lama, bukan agar bisa menikmati aromanya.

Bahkan liburan pun berubah menjadi proyek. Alih-alih menikmati pantai, kita sibuk mencari sudut terbaik agar orang lain percaya bahwa kita sedang menikmati pantai.

Jangan-jangan matahari terbenam sekarang merasa minder. Ia harus bersaing dengan kamera depan.

Secara psikologis, kisah sang kakek sebenarnya sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius: alienasi diri. Tubuh hadir di ruang rapat, pikiran sudah berada di target bulan depan, hati masih tertinggal di masa lalu, sementara jiwa entah sedang macet di jalan mana.

Lengkap sudah. Satu orang dihuni empat zona waktu.

Para filsuf menyebutnya keterasingan. Orang Jawa mungkin cukup berkata, "Ora nggenah."

Kita menjadi asing bagi diri sendiri. Kita hafal target tahunan perusahaan, tetapi lupa kapan terakhir kali tertawa tanpa alasan. Kita tahu harga saham naik turun, tetapi tidak tahu kapan terakhir kali duduk tanpa merasa bersalah karena sedang tidak produktif.

Produktivitas memang penting. Namun jika setiap menit harus menghasilkan sesuatu, kapan hidup sempat bernapas?

Bayangkan kalau bunga matahari dipaksa berbunga dua puluh empat jam sehari. Mungkin ia akan protes kepada Tuhan sambil membawa surat dari serikat pekerja tanaman.

Manusia pun demikian.

Istirahat bukan kemalasan. Ia adalah bengkel tempat jiwa mengganti oli.

Barangkali itulah sebabnya sang kakek memilih bangku taman. Bangku tidak pernah terburu-buru. Ia tidak iri kepada kursi direktur. Ia tidak bermimpi menjadi sofa premium. Ia cukup menjadi tempat orang berhenti sejenak.

Betapa bijaksananya sepotong kayu dibanding sebagian manusia.

Pada akhirnya, cerita ini bukan mengajak kita berhenti bekerja, apalagi mengubah taman kota menjadi tempat pensiunan filosof berkumpul sambil mengeluh tentang harga cabai. Pesannya jauh lebih sederhana.

Berlarilah jika memang harus berlari.

Bercita-citalah setinggi langit.

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh.

Tetapi sesekali, lihatlah ke belakang.

Pastikan ada sesuatu yang ikut berlari bersama kita.

Kalau ternyata yang tertinggal bukan dompet, bukan ponsel, melainkan jiwa sendiri, mungkin sudah waktunya mencari bangku taman terdekat.

Duduklah sebentar.

Tarik napas.

Nikmati angin.

Dan bila suatu hari seseorang bertanya, "Sedang menunggu siapa?"

Semoga kita bisa menjawab sambil tersenyum, "Tidak sedang menunggu siapa-siapa. Syukurlah, kali ini aku dan jiwaku datang bersama."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Medioker Naik Takhta: Ketika Isi Kepala Kalah oleh Isi FYP

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa zaman sekarang seseorang bisa terkenal hanya karena berhasil membuka tutup botol dengan alis? Atau karena mampu mengulas kehidupan dengan kalimat sedalam, "Yang penting vibes-nya positif." Entah harus kagum atau mencari colokan untuk mencabut internet.

Kalau filsuf Kanada Alain Deneault masih sering membuka media sosial, mungkin beliau akan menutup aplikasi itu sambil menghela napas sepanjang Sungai St. Lawrence. Dalam bukunya La Médiocratie, ia berpendapat bahwa kita sedang hidup di era ketika mediokritas bukan lagi sekadar tamu yang numpang lewat. Ia sudah menjadi pemilik rumah, mengganti gorden, bahkan mengatur playlist ruang tamu.

Dulu orang menjadi terkenal karena menemukan teori gravitasi. Sekarang cukup menemukan sudut kamera yang membuat dagu tampak satu.

Begitulah hidup berkembang.

Atau mungkin... menyusut.

Deneault bukan sedang marah kepada orang yang biasa-biasa saja. Ia sedang mengkritik sebuah sistem yang membuat "biasa-biasa saja" menjadi standar emas. Dalam sistem ini, yang penting bukan lagi apakah gagasan Anda benar, melainkan apakah thumbnail-nya mencolok. Isi boleh kosong, asal judulnya pakai huruf kapital semua dan disertai tiga tanda seru.

Bayangkan sebuah restoran.

Dulu orang datang karena masakannya enak. Kini sebagian pengunjung lebih sibuk memotret makanannya daripada memakannya. Bahkan ada makanan yang dingin karena terlalu lama menjadi model pemotretan. Soto akhirnya pensiun sebagai makanan dan beralih profesi menjadi properti fotografi.

Begitulah nasib gagasan di era digital.

Kadang-kadang ide hanya dipakai sebagai garnish.

Media sosial sebenarnya seperti pasar malam raksasa. Semua orang berteriak bersamaan menawarkan dagangannya. Ada yang menjual ilmu, ada yang menjual pengalaman, ada yang menjual kursus menjadi miliarder sebelum umur dua puluh lima, padahal usianya sendiri baru dua puluh empat dan masih menumpang Wi-Fi tetangga.

Di pasar seramai itu, suara yang paling nyaring sering terdengar paling benar.

Padahal toa dan kebijaksanaan bukan saudara kandung.

Algoritma juga makhluk yang lucu. Ia tidak pernah bertanya, "Apakah ini benar?" Yang ia tanyakan hanyalah, "Apakah orang akan berhenti menggulir layar selama lima detik?"

Jika jawabannya ya, silakan lewat.

Kalau tidak, meskipun isinya hasil perenungan tiga puluh tahun, mohon antre di belakang video kucing yang gagal meloncat ke meja.

Ironisnya, kita sering ikut bermain dalam perlombaan ini. Kita membuka media sosial dengan niat mencari ilmu, lalu dua jam kemudian justru hafal kisah perceraian orang yang tidak pernah kita kenal. Otak kita seperti pergi membeli buku ke perpustakaan, tetapi pulang membawa balon dan jagung bakar.

Deneault menyebut keadaan ini sebagai kemenangan mediokritas. Saya membayangkannya seperti lomba lari maraton yang dimenangkan oleh peserta yang naik ojek. Bukan karena ia paling kuat, tetapi karena aturan perlombaannya diam-diam sudah berubah.

Namun, mari kita berlaku adil.

Tidak semua yang ringan itu dangkal.

Secangkir teh tidak harus mengandung teori relativitas agar bisa dinikmati. Humor tidak wajib disertai catatan kaki. Video memasak tidak harus mengutip Aristoteles sebelum menumis bawang.

Masalahnya muncul ketika semua hal dipaksa menjadi hiburan instan. Ketika diskusi harus dipadatkan menjadi lima belas detik. Ketika membaca buku dianggap terlalu melelahkan, tetapi menghabiskan empat jam menonton drama komentar justru disebut "healing."

Kita akhirnya hidup seperti restoran cepat saji intelektual.

Semua serba cepat.

Cepat membaca.

Cepat menyimpulkan.

Cepat marah.

Cepat lupa.

Yang lambat tinggal satu: berpikir.

Ada pula gejala baru yang menarik. Orang kini lebih takut kehilangan sinyal daripada kehilangan rasa ingin tahu. Baterai ponsel tinggal satu persen bisa memicu kepanikan nasional dalam diri seseorang, tetapi rasa penasaran terhadap sebuah buku sering kali meninggal dunia bahkan sebelum halaman pertama dibuka.

Padahal pengetahuan itu seperti menanam pohon mangga. Ia tumbuh perlahan, akarnya diam-diam bekerja, buahnya baru muncul setelah sabar dipelihara.

Media sosial lebih suka menjual biji mangga yang sudah diberi label: "Panen dalam tiga menit."

Sayangnya, yang tumbuh biasanya bukan mangga.

Melainkan kekecewaan.

Meski begitu, saya tidak sepenuhnya sepesimis Deneault. Di balik lautan konten receh, masih banyak orang yang diam-diam membaca, menulis, berdiskusi, dan berpikir. Mereka mungkin tidak viral. Tidak muncul di halaman rekomendasi. Tidak diundang menjadi bintang tamu acara gosip.

Tetapi mereka seperti akar pohon.

Jarang difoto.

Jarang dipuji.

Namun justru merekalah yang menjaga pohon tetap berdiri.

Mungkin memang beginilah zaman bekerja. Dunia selalu gaduh, hanya pengeras suaranya yang berganti model. Dahulu gosip menyebar lewat sumur kampung. Kini ia bepergian dengan kecepatan internet. Dulu orang berdebat di warung kopi. Kini mereka berdebat di kolom komentar dengan keberanian yang hanya muncul karena foto profilnya bergambar pemandangan.

Yang perlu kita jaga bukanlah nostalgia terhadap masa lalu, melainkan kemampuan untuk tetap waras di tengah kebisingan. Tidak semua yang ramai layak dipercaya. Tidak semua yang sepi tidak berharga.

Sebab kualitas sering kali berjalan kaki.

Popularitas biasanya naik motor.

Dan algoritma... ia hanya menjadi polisi lalu lintas yang lebih suka memberi jalan kepada kendaraan yang paling berisik membunyikan klakson.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah dunia dipenuhi orang medioker. Medioker selalu ada sejak manusia pertama kali membandingkan hasil berburu sambil membual.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita rela membiarkan diri ikut hanyut?

Karena menjadi dangkal itu seperti mi instan—cepat matang, aromanya menggoda, tetapi kalau dimakan setiap hari, lama-lama tubuh protes.

Sebaliknya, menjadi manusia yang terus belajar ibarat memasak rendang.

Butuh waktu.

Butuh kesabaran.

Kadang membuat mata pedih karena bawangnya.

Tetapi ketika matang, aromanya bertahan jauh lebih lama daripada sensasi FYP yang umurnya bahkan kalah panjang dari baterai ponsel.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

# Menari di Dapur Tanpa Penonton: Ketika Kesendirian Naik Pangkat Jadi Kemewahan

Ada masa dalam hidup ketika kita merasa rumah terlalu sepi. Sedikit-sedikit menyalakan televisi, padahal yang ditonton bukan acaranya, melainkan suara manusia agar kulkas tidak merasa menjadi penghuni paling cerewet di rumah.

Lalu usia berjalan seperti pegawai negeri yang tidak pernah terburu-buru tetapi entah bagaimana tahu-tahu sudah pensiun. Di ujung perjalanan itu, Helen Mirren datang membawa kabar yang cukup mengejutkan: ternyata kesendirian bukan musuh. Ia hanya tetangga yang selama ini kita salah sangka.

Kalau dipikir-pikir, hidup memang lucu. Waktu muda kita takut sendirian. Waktu dewasa kita mengeluh karena terlalu banyak orang menghubungi. Setelah grup WhatsApp keluarga mencapai 387 pesan hanya dalam satu pagi—sebagian besar berisi ucapan "Aamiin" dan video resep herbal yang bisa menyembuhkan apa saja kecuali rasa malas—mulailah kita memahami bahwa tombol mute adalah salah satu penemuan terbesar umat manusia setelah penanak nasi.

Mungkin inilah yang dimaksud Helen Mirren.

Bukan berarti beliau membenci manusia. Beliau hanya akhirnya menemukan bahwa manusia yang paling menyenangkan untuk diajak hidup ternyata... dirinya sendiri.

Dapur: Diskotek yang Tidak Memungut Tiket

Helen Mirren berkata ia senang menari sendirian di dapur.

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat revolusioner.

Sebab sebagian besar dari kita tidak menari di dapur. Kita hanya membuka kulkas setiap lima belas menit, berharap tiba-tiba muncul kue yang tadi belum ada. Kulkas menjadi semacam mesin waktu psikologis: isinya sama, tetapi harapan kita selalu baru.

Mirren justru menjadikan dapur sebagai panggung kebebasan.

Tidak ada penonton.

Tidak ada juri.

Tidak ada kamera yang merekam untuk diunggah menjadi konten "Morning Routine Jam 05.00".

Yang ada hanya seorang perempuan, musik entah dari mana, dan gerakan yang mungkin lebih mirip orang mengusir nyamuk daripada balerina profesional.

Dan justru di situlah letak keindahannya.

Hari ini kita sering melakukan sesuatu bukan karena ingin, melainkan karena bisa dipamerkan. Bahkan secangkir kopi pun kadang harus difoto dari tiga sudut berbeda sebelum diminum. Kopinya keburu dingin, tetapi estetikanya tetap hangat.

Helen Mirren seperti berkata, "Kalau tidak ada yang melihat, memang kenapa?"

Pertanyaan sederhana yang diam-diam membuat algoritma media sosial sedikit berkeringat.

Kita Terlalu Ramai, Bahkan Saat Sendiri

Ironisnya, zaman sekarang sangat sulit benar-benar sendirian.

Secara fisik mungkin kita duduk sendiri di ruang tamu.

Namun di dalam telepon genggam ada notifikasi, berita, video pendek, obrolan grup, promosi diskon, aplikasi yang mengingatkan bahwa kita belum berjalan delapan ribu langkah, dan seseorang yang baru mengunggah foto makan siang lebih mewah daripada isi lemari es kita.

Kesendirian sekarang seperti taman kota yang terus dibangun kios.

Tidak pernah benar-benar kosong.

Kita takut sunyi karena mengira sunyi adalah lubang.

Padahal bisa jadi sunyi adalah cermin.

Masalahnya, bercermin memang tidak selalu nyaman. Cermin tidak mengenal fitur beauty filter. Ia menunjukkan wajah apa adanya, termasuk kantong mata yang sudah lebih aktif daripada rekening tabungan.

Mungkin itulah sebabnya banyak orang lebih betah menggulir layar selama tiga jam daripada duduk bersama pikirannya sendiri selama sepuluh menit.

Penuaan: Saat Pendapat Orang Lain Kehilangan Jabatan

Ada keuntungan menjadi tua yang jarang diiklankan.

Bukan lutut yang mulai berbunyi ketika naik tangga.

Bukan kemampuan mengingat masa kecil dengan detail, tetapi lupa meletakkan kacamata yang sedang dipakai.

Keuntungan terbesar adalah pendapat orang lain perlahan kehilangan kekuasaan.

Ketika muda, kita sibuk bertanya, "Orang akan bilang apa?"

Ketika lebih matang, pertanyaannya berubah menjadi, "Memangnya mereka membayar listrik rumah saya?"

Ini bukan sikap masa bodoh.

Ini efisiensi emosional.

Usia ternyata seperti editor yang baik. Ia menghapus paragraf-paragraf kehidupan yang terlalu penuh drama dan menyisakan kalimat sederhana: hidup ini terlalu pendek untuk terus-menerus menjadi pemeran pembantu dalam ekspektasi orang lain.

Rumah yang Bernapas

Helen Mirren mengatakan rumahnya bernapas dengan damai.

Kalimat itu terdengar puitis.

Namun setelah dipikir-pikir, rumah memang ikut bernapas.

Rumah yang penghuninya gelisah memiliki suara pintu yang dibanting, langkah kaki yang terburu-buru, dan televisi yang menyala bahkan ketika tidak ada yang menonton.

Rumah yang damai berbeda.

Ada aroma kopi.

Ada suara hujan.

Ada buku yang terbuka.

Ada seseorang yang duduk diam tanpa merasa harus menjelaskan kepada siapa pun mengapa ia memilih diam.

Rumah seperti itu bukan sekadar bangunan.

Ia menjadi sahabat yang tidak cerewet.

Kesendirian Bukan Diskon Kesepian

Banyak orang mencampuradukkan kesendirian dengan kesepian.

Padahal keduanya berbeda jauh.

Kesepian adalah ketika kita membutuhkan orang lain agar merasa utuh.

Kesendirian adalah ketika kita sudah utuh, sehingga kehadiran orang lain menjadi hadiah, bukan perban.

Bayangkan secangkir teh.

Kalau tehnya sudah nikmat, tamu yang datang membuat sore menjadi lebih hangat.

Tetapi kalau tehnya hambar, mengundang satu RT pun tidak otomatis membuat rasanya lebih enak.

Begitu pula hidup.

Kita sering sibuk mencari teman perjalanan, padahal mesin kendaraan sendiri belum pernah diservis.

Semoga Kita Semua Punya Dapur Masing-Masing

Pada akhirnya, Helen Mirren tidak sedang mengajari dunia cara menjadi antisosial.

Beliau sedang mengingatkan bahwa sebelum menjadi teman yang baik bagi orang lain, kita perlu berhenti bermusuhan dengan diri sendiri.

Bahwa rumah tidak selalu membutuhkan pesta agar terasa hidup.

Bahwa kebahagiaan kadang muncul bukan ketika kita menghadiri acara paling ramai, melainkan ketika kita berhasil menikmati secangkir kopi tanpa sekalipun memotret cangkirnya.

Dan bahwa menari sendirian di dapur mungkin bukan pertanda aneh.

Bisa jadi itu justru tanda bahwa kita akhirnya lulus dari sekolah kehidupan.

Sebab kedewasaan barangkali bukan ditandai oleh jumlah pengikut di media sosial, banyaknya undangan yang kita terima, atau padatnya kalender.

Kedewasaan adalah ketika kita bisa berdiri di tengah dapur, bergoyang mengikuti lagu yang hanya kita dengar sendiri, sesekali salah langkah, sesekali tertawa, lalu menyadari bahwa penonton terbaik dalam hidup ini bukanlah dunia.

Melainkan hati yang akhirnya berhenti sibuk mencari tepuk tangan.

abah-arul.blogspot.com. Juli 2026

Senin, 13 Juli 2026

Tolstoy, Diskon Belanja, dan Jiwa yang Kelupaan di Keranjang

Ada satu penyakit yang diam-diam menjadi wabah zaman modern. Bukan flu, bukan demam berdarah, apalagi alergi melihat mantan menikah. Penyakit itu bernama "sindrom nanti kalau sudah..."

"Nanti kalau sudah kaya, aku bahagia."

"Nanti kalau sudah naik jabatan, hidupku tenang."

"Nanti kalau sudah punya rumah, mobil, lima rekening, tujuh kartu kredit, dan kopi buatan barista yang hafal nama panggilanku, barulah hidup terasa lengkap."

Masalahnya, kata "nanti" itu seperti horizon. Dikejar secepat apa pun, ia selalu mundur beberapa langkah sambil tertawa kecil.

Leo Tolstoy tampaknya sudah mengenali gejala ini jauh sebelum manusia sibuk mengejar flash sale dan followers. Ia menyindir empat benda yang sering dipuja manusia: kerakusan, syahwat, kekuasaan, dan kemuliaan duniawi. Kalau diterjemahkan ke bahasa masa kini, mungkin bunyinya begini: makan sampai aplikasi diet menyerah, mengejar sensasi tanpa henti, berebut kursi yang empuk, lalu sibuk memastikan semua orang tahu bahwa kursi itu memang empuk.

Manusia memang makhluk kreatif. Kita bahkan mampu mengubah hidup menjadi perlombaan yang hadiahnya belum tentu kita inginkan.

Lucunya, setelah menang pun kita sering bingung.

Seperti anjing yang berhasil mengejar mobil. Setelah mobil berhenti, ia mendadak berpikir, "Sekarang diapakan?"

Begitulah banyak ambisi bekerja. Kita mengejarnya mati-matian, lalu ketika berhasil, ternyata kebahagiaan hanya mampir sebentar seperti tamu yang salah alamat.

Tolstoy tidak sedang melarang manusia makan enak, mencintai pasangan, bekerja keras, atau sukses. Kalau semua itu dilarang, restoran akan bangkrut, pernikahan tinggal kenangan, dan motivator kehilangan mata pencaharian.

Yang ia persoalkan adalah ketika semua itu berubah menjadi agama baru.

Hari ini kita punya "kiblat" yang jumlahnya lebih banyak daripada pusat perbelanjaan. Ada yang menyembah angka di rekening, ada yang beribadah kepada jumlah likes, ada yang khusyuk memandangi grafik investasi setiap lima menit seolah-olah layar ponsel bisa memberi wahyu.

Ironisnya, semakin banyak fasilitas yang mempermudah hidup, semakin sedikit waktu yang kita miliki untuk benar-benar hidup.

Ponsel pintar membuat kita lupa bahwa pemiliknya kadang tidak ikut menjadi pintar.

Jam tangan kini bisa mengukur detak jantung, kadar oksigen, kualitas tidur, bahkan mengingatkan kita untuk berdiri. Sayangnya, belum ada jam tangan yang bergetar sambil berkata, "Maaf, ego Anda mulai membesar. Mohon segera diperbarui."

Padahal, itulah yang dimaksud Tolstoy dengan mengolah jiwa.

Mengolah jiwa bukan berarti harus pindah ke gunung, memakai jubah putih, lalu berbicara pelan kepada kupu-kupu.

Mengolah jiwa justru dimulai dari hal-hal yang sangat membumi.

Bisa tersenyum ketika orang lain berhasil.

Bisa meminta maaf tanpa mencari seribu alasan.

Bisa berhenti berdebat meski sebenarnya kita sudah menyiapkan dua belas tangkapan layar sebagai bukti.

Bisa makan secukupnya tanpa merasa prasmanan adalah pertandingan balas dendam kepada pemilik katering.

Jiwa ternyata tidak tumbuh karena banyak dipuji.

Ia tumbuh karena sering dikoreksi.

Tolstoy sendiri berbicara dari pengalaman. Ia bukan orang yang iri melihat orang kaya dari balik pagar. Ia sendiri adalah orang kaya. Ia sudah mencicipi ketenaran, kekuasaan sosial, penghormatan, dan segala kemewahan yang bisa dibeli uang. Anehnya, justru setelah memiliki semuanya, ia menemukan bahwa hatinya tetap bisa kosong.

Ini seperti membeli koper paling mahal, lalu sadar bahwa koper itu kosong karena memang belum pernah diisi perjalanan yang bermakna.

Zaman sekarang, kekosongan itu sering disamarkan dengan kesibukan.

Kalender penuh.

Notifikasi ramai.

Grup WhatsApp tidak pernah tidur.

Email berdatangan.

Tetapi ketika listrik padam dan sinyal hilang, kita mendadak berhadapan dengan seseorang yang sudah lama tidak diajak bicara: diri sendiri.

Dan ternyata percakapan itu sering terasa canggung.

Barangkali karena selama ini kita lebih mengenal algoritma daripada isi hati.

Lebih hafal kata sandi Wi-Fi daripada alasan mengapa kita bekerja sekeras ini.

Lebih sering memperbarui aplikasi daripada memperbarui niat.

Di sinilah Tolstoy tersenyum tipis dari abad ke-19 sambil berkata, "Saya sudah bilang."

Jiwa itu seperti kebun.

Kalau tidak dirawat, bukan berarti ia kosong.

Yang tumbuh justru ilalang.

Kesombongan tumbuh sendiri.

Iri hati tumbuh sendiri.

Ketamakan tumbuh sendiri.

Sedangkan kebijaksanaan, kesabaran, dan kasih sayang harus disiram setiap hari.

Tidak ada versi instannya.

Tidak ada tombol "upgrade premium".

Tidak ada paket langganan bulanan.

Barangkali inilah lelucon terbesar kehidupan.

Kita rela menghabiskan waktu berjam-jam membandingkan harga ponsel agar tidak salah membeli barang yang dipakai lima tahun.

Namun, kita hampir tidak pernah membandingkan keadaan jiwa hari ini dengan jiwa kita lima tahun lalu.

Padahal, ponsel yang lemot masih bisa diganti.

Jiwa yang dibiarkan berkarat jauh lebih sulit diperbaiki.

Akhirnya, pesan Tolstoy sederhana, tetapi justru karena sederhana ia sulit dijalankan.

Dunia boleh terus berlari.

Diskon boleh datang setiap tanggal kembar.

Media sosial boleh terus memproduksi alasan agar kita merasa kurang.

Tetapi jangan sampai kita ikut menjadi hamster yang berlari di roda: napas habis, kaki pegal, tetapi posisi hidup tetap di tempat.

Sesekali, berhentilah.

Tarik napas.

Matikan layar.

Lalu tanyakan pertanyaan yang mungkin membuat algoritma kebingungan:

"Hari ini, apakah hartaku bertambah?"

Itu pertanyaan bagus.

Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

"Apakah jiwaku juga ikut bertumbuh, atau justru tertinggal di keranjang belanja?"

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Kalau Semua Boleh, Buat Apa Ada Nurani?


Catatan Ringan tentang Dostoevsky, Netizen, dan Gorengan yang Hilang

Ada satu pertanyaan yang selalu membuat saya curiga kepada manusia.

Mengapa orang yang mengambil gorengan terakhir di meja rapat selalu pura-pura sibuk melihat ponsel?

Kalau memang semua boleh, harusnya dia mengambil gorengan itu dengan penuh percaya diri. Bahkan mungkin sambil berpidato, "Saudara-saudara, berdasarkan prinsip kebebasan universal, saya nyatakan bakwan ini resmi menjadi milik saya."

Nyatanya tidak begitu.

Ia melirik kanan.

Melirik kiri.

Lalu bergerak secepat ninja yang baru melihat diskon.

Mengapa?

Karena jauh di dalam dadanya masih ada makhluk kecil bernama nurani. Makhluk ini memang tidak bisa dilihat di USG, tidak muncul di hasil MRI, tetapi kemampuannya luar biasa. Ia bisa membuat seseorang tidak bisa tidur hanya karena mengaku "OTW" padahal masih pakai handuk.

Fyodor Dostoevsky rupanya sudah mengenal makhluk ini jauh sebelum media sosial ditemukan.

Dalam The Brothers Karamazov, ia memperingatkan bahwa jika manusia kehilangan nurani, maka hidup tinggal soal memenuhi insting. Tidak ada lagi dosa. Tidak ada lagi kebajikan. Yang ada hanya pertanyaan praktis:

"Untungnya buat saya apa?"

Kalimat itu terdengar modern sekali.

Bahkan terlalu modern.

Hari ini kita hidup di zaman ketika hampir semua hal memiliki departemen humas yang siap membela.

Korupsi?

"Itu optimalisasi anggaran."

Bohong?

"Itu pengelolaan persepsi."

Pamer?

"Itu personal branding."

Malas?

"Itu sedang menjaga kesehatan mental."

Menghilang saat ditagih utang?

"Itu sedang menjalani digital detox."

Hebat memang manusia. Kita mungkin satu-satunya spesies yang bisa mengganti nama dosa menjadi istilah yang terdengar seperti seminar bisnis.

Dostoevsky pasti akan mengelus dada melihat kemampuan kita mencuci istilah. Mesin cuci modern kalah canggih dibanding kemampuan manusia mencuci nurani.

Yang lucu, manusia sebenarnya tahu kapan ia sedang salah.

Coba perhatikan.

Orang yang jujur tidak pernah gugup ketika pintu rumah diketuk.

Sebaliknya, orang yang baru saja melakukan kesalahan bisa panik hanya karena mendengar suara motor berhenti di depan rumah.

Padahal yang datang ternyata tukang galon.

Nurani memang suka bercanda.

Ia membuat polisi tidak perlu bekerja lembur di dalam kepala kita.

Kadang ia muncul saat kita hendak tidur.

Kadang saat sedang mandi.

Kadang ketika membaca komentar netizen yang kebetulan benar.

Ia seperti ibu-ibu kompleks.

Tidak pernah diundang.

Tetapi selalu tahu apa yang kita lakukan.

Sayangnya, zaman sekarang banyak orang memperlakukan nurani seperti aplikasi bawaan ponsel.

Tidak pernah dibuka.

Tidak pernah diperbarui.

Kalau muncul notifikasi, langsung ditekan "Nanti Saja."

Sebaliknya, aplikasi media sosial diperiksa setiap tiga menit.

Jumlah pengikut naik dua orang, bahagia.

Harga saham naik sedikit, bahagia.

Like bertambah seratus, bahagia.

Tetapi hati mulai kehilangan kepekaan?

"Ah... nanti juga normal sendiri."

Masalahnya, nurani bukan luka ringan.

Ia lebih mirip alarm kebakaran.

Kalau terus-menerus dimatikan, suatu hari rumahnya benar-benar terbakar, dan kita baru sadar bahwa tombol snooze ternyata bukan solusi hidup.

Media sosial memperlihatkan fenomena yang sangat menarik.

Semua orang ingin terlihat benar.

Sangat sedikit yang ingin benar-benar menjadi baik.

Kolom komentar sering berubah menjadi arena pencak silat intelektual.

Semua membawa data.

Semua membawa grafik.

Semua membawa tautan.

Yang tidak ada hanya kerendahan hati untuk berkata,

"Oh iya ya... mungkin saya salah."

Kalimat itu sekarang lebih langka daripada parkir kosong di pusat kota.

Padahal dunia tidak kekurangan orang pintar.

Kita kekurangan orang yang mau mendengarkan suara kecil dalam dirinya sendiri.

Suara yang berkata,

"Sudahlah... jangan ikut menyebarkan berita yang belum jelas."

"Sudahlah... jangan menghina orang hanya karena berbeda pilihan."

"Sudahlah... jangan ambil gorengan terakhir itu."

Terutama yang terakhir.

Karena dari gorengan, peradaban bisa diuji.

Dostoevsky tampaknya memahami satu hal yang sering kita lupakan.

Masalah terbesar manusia bukan kurangnya ilmu.

Melainkan terlalu pintarnya manusia mencari pembenaran.

Kita bisa membuat seribu alasan mengapa kesalahan kita sebenarnya bukan kesalahan.

Kalau perlu dibuat infografis.

Lengkap dengan diagram lingkaran.

Ditambah musik latar yang mengharukan.

Lalu diunggah dengan tagar #JanganMenghakimi.

Padahal inti persoalannya sederhana.

Nurani tidak bertanya seberapa viral tindakan kita.

Ia hanya bertanya,

"Kalau semua lampu dimatikan, semua kamera dicabut, semua saksi pulang, apakah kamu masih mau melakukan itu?"

Pertanyaan itu sederhana.

Jawabannya sering kali membuat kita menelan ludah.

Mungkin karena itulah nurani tidak pernah populer.

Ia tidak memberi tepuk tangan.

Tidak memberi medali.

Tidak membuat kita trending.

Ia hanya membuat kita tetap menjadi manusia.

Dan menurut saya, itu sudah lebih dari cukup.

Sebab ketika dunia sibuk mengejar citra, kekuasaan, keuntungan, dan validasi digital, barangkali tindakan paling revolusioner hari ini bukanlah menjadi orang paling terkenal.

Melainkan tetap bisa pulang ke rumah, bercermin, lalu berkata kepada diri sendiri,

"Syukurlah... hari ini saya masih belum berhasil membungkam nurani."

Kalau itu masih bisa kita lakukan, berarti masih ada harapan.

Dan selama masih ada harapan, silakan ambil gorengan.

Asal satu saja.

Jangan rakus.

Karena bahkan bakwan pun punya hak asasi

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Jangan Salahkan Sushi: Lima Filosofi Jepang yang Disangka Jalan Tol Menuju Kebahagiaan

Konon, orang Jepang bangun pukul lima pagi dengan wajah segar, semangat membara, lalu berangkat bekerja sambil tersenyum kepada matahari. Sementara itu, sebagian dari kita bangun pukul lima juga—tetapi karena alarm ketiga berbunyi, ayam tetangga ikut berkokok, dan grup WhatsApp keluarga sudah mengirim tiga puluh tujuh video "selamat pagi". Bedanya tipis. Mereka bangun untuk berlari mengejar mimpi, kita bangun untuk mematikan notifikasi.

Di media sosial, penyebab perbedaan itu sudah ditemukan. Bukan nasi, bukan teh hijau, bukan kereta yang selalu tepat waktu. Jawabannya adalah lima filosofi Jepang: Kaizen, Ikigai, Oubaitori, Wabi-Sabi, dan Hara Hachi Bu. Lima kata yang terdengar begitu elegan sehingga kalau diucapkan sambil memegang secangkir kopi, kita langsung merasa hidup lebih bermakna meski tagihan listrik belum dibayar.

Masalahnya, internet punya kebiasaan mengubah filosofi yang lahir dari sejarah panjang menjadi resep mi instan. Tinggal seduh satu menit, hidup berubah. Seolah-olah setelah membaca satu utas di media sosial, besok pagi kita otomatis menjadi samurai produktivitas.

Mari kita lihat satu per satu.

Kaizen mengajarkan perbaikan kecil setiap hari. Ide ini memang indah. Bayangkan hidup seperti menabung recehan. Hari ini belajar lima menit, besok enam menit, lusa tujuh menit. Lama-lama terkumpul menjadi keahlian.

Sayangnya, banyak orang menerjemahkan Kaizen menjadi, "Hari ini saya membuka buku selama tiga menit. Besok saya niat membuka lagi." Bukunya memang terbuka, tetapi isinya tetap tidak terbaca karena yang dibuka justru media sosial.

Kaizen sebenarnya bukan sulap. Ia lebih mirip tetesan air yang sabar mengikis batu. Tidak gaduh, tidak viral, tetapi diam-diam mengubah bentuk gunung. Masalahnya, kita hidup di zaman yang menganggap perubahan harus secepat mi instan. Kalau dalam tiga hari belum sukses, kita mulai curiga bahwa semesta sedang bersekongkol.

Lalu datanglah Ikigai, alasan untuk bangun setiap pagi.

Media sosial menggambarkannya seperti harta karun yang tinggal ditemukan. Padahal kenyataannya, banyak orang bangun pagi bukan karena menemukan makna hidup, melainkan karena cicilan rumah juga punya alarm sendiri.

Ikigai bukan berarti setiap hari kita melompat dari tempat tidur sambil berteriak, "Inilah panggilanku!" Ada hari-hari ketika panggilan terbesar dalam hidup hanyalah suara teko mendidih yang mengajak membuat kopi.

Makna hidup sering kali tidak muncul seperti petir yang menyambar langit. Ia tumbuh pelan seperti pohon mangga di halaman. Lama, kadang membosankan, tetapi suatu hari memberi buah yang membuat penantian terasa masuk akal.

Kemudian ada Oubaitori, filosofi yang mengatakan setiap bunga mekar pada waktunya.

Ini mungkin filosofi yang paling sering dikutip, terutama setelah melihat teman seusia sudah punya rumah, mobil, jabatan, usaha, dan liburan ke Jepang—sementara kita masih membandingkan harga cabai di pasar.

Oubaitori mengingatkan bahwa sakura tidak iri kepada pohon plum. Pohon persik juga tidak protes karena mekar belakangan.

Yang lucu, manusia justru bisa iri kepada orang yang bahkan belum dikenalnya. Cukup melihat foto seseorang memakai jas di LinkedIn, kita langsung merasa gagal menjadi manusia. Padahal bisa saja lima menit sebelum foto itu diambil, orang tersebut sedang panik mencari password Wi-Fi.

Media sosial membuat kita membandingkan proses hidup sendiri dengan hasil akhir orang lain. Itu seperti membandingkan adonan mentah dengan kue yang sudah keluar dari oven. Tentu saja adonannya terlihat kalah menarik. Padahal, ia hanya belum selesai dipanggang.

Berikutnya adalah Wabi-Sabi, seni menerima ketidaksempurnaan.

Ini filosofi yang sangat menenangkan, terutama bagi orang yang mengetik pesan panjang lalu menemukan salah ketik setelah tombol kirim ditekan.

Di Jepang, ada seni Kintsugi, memperbaiki keramik retak dengan emas sehingga retakannya menjadi bagian dari keindahan.

Di kehidupan kita, retakan sering ditutup dengan stiker atau lakban. Bahkan kadang retakan hati juga ditutup dengan unggahan yang berbunyi, "Tidak apa-apa," padahal jelas-jelas masih apa-apa.

Wabi-Sabi mengingatkan bahwa hidup bukan lomba menjadi manusia tanpa cacat. Justru bekas luka sering kali menjadi peta yang menunjukkan seberapa jauh kita telah berjalan. Tanpa retakan, cahaya mungkin tidak pernah menemukan jalan masuk.

Terakhir, Hara Hachi Bu, makan sampai delapan puluh persen kenyang.

Filosofi ini sederhana, tetapi bertemu musuh yang sangat tangguh: prasmanan hajatan.

Di depan meja prasmanan, teori sering kalah oleh aroma rendang. Pikiran berkata, "Cukup delapan puluh persen." Tangan menjawab, "Tambah sedikit lagi, kasihan ayamnya kalau tidak dihabiskan."

Namun Hara Hachi Bu sebenarnya bukan sekadar soal makanan. Ia adalah pengingat bahwa hidup juga perlu ruang kosong. Kalender yang penuh membuat jiwa sesak. Ambisi yang berlebihan membuat hati kehabisan oksigen.

Ironisnya, kita sering memperlakukan hidup seperti koper menjelang mudik. Semua ingin dimasukkan. Semua ingin dikejar. Sampai akhirnya resletingnya jebol.

Meski demikian, ada satu hal yang perlu kita waspadai dari semua konten motivasi semacam ini.

Kadang-kadang Jepang diperlakukan seperti negeri dongeng. Seolah-olah semua warganya sehat, tenang, bahagia, dan tidak pernah stres. Padahal kenyataan selalu lebih rumit daripada unggahan Instagram.

Jepang juga mengenal tekanan kerja yang tinggi, kesepian, populasi yang menua, bahkan istilah karoshi—kematian akibat bekerja berlebihan. Artinya, filosofi yang indah tidak otomatis menghapus realitas yang keras.

Mengambil inspirasi dari Jepang tentu baik. Tetapi menelan mentah-mentah narasi bahwa semua masalah hidup selesai hanya dengan lima kata berbahasa Jepang sama saja seperti percaya payung bisa menghentikan musim hujan.

Filosofi bukan mantra. Ia kompas.

Kompas tidak menggendong kita menuju tujuan. Ia hanya menunjukkan arah. Yang tetap harus berjalan adalah kaki kita sendiri.

Mungkin pelajaran paling berharga bukanlah bagaimana menjadi orang Jepang, melainkan bagaimana menjadi diri sendiri dengan lebih bijaksana. Kaizen mengajak kita bertumbuh perlahan. Ikigai mengingatkan bahwa hidup layak dijalani karena memiliki makna. Oubaitori menyuruh kita berhenti menghitung bunga tetangga. Wabi-Sabi mengajari kita berdamai dengan retakan. Hara Hachi Bu membisikkan bahwa "cukup" sering kali lebih sehat daripada "lebih."

Dan kalau besok pagi Anda masih bangun dengan mata berat, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Bisa jadi Anda memang kurang tidur, bukan kurang filosofi.

Sebab hidup yang baik tidak selalu dimulai dengan bangun pukul lima pagi. Kadang ia dimulai dari keberanian mengubah satu kebiasaan kecil hari ini, menertawakan kekacauan diri sendiri, lalu melanjutkan perjalanan tanpa sibuk membandingkan peta hidup dengan milik orang lain.

Lagipula, bahkan bunga sakura pun tidak pernah mekar sambil melihat kalender bunga sebelah.

 abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Minggu, 12 Juli 2026

Sufi di Era Wi-Fi: Ketika Keikhlasan Tak Bisa Diunggah ke Story

Konon, jika seorang sufi hidup di zaman sekarang, ia mungkin akan mengalami kebingungan yang cukup berat. Bukan karena sulit menemukan guru, melainkan karena setiap kali hendak berzikir, ponselnya bergetar memberi notifikasi, "Kenangan Anda lima tahun lalu." Padahal ia sedang berusaha melupakan dirinya sendiri, bukan justru diingatkan algoritma bahwa dulu pernah makan bakso dengan tambahan kerupuk.

Begitulah nasib spiritualitas di era digital. Jalan menuju ma'rifat kini sering macet oleh lalu lintas konten motivasi, video pendek, dan kutipan bijak yang berlomba-lomba mencari "engagement". Kadang-kadang kita lebih sibuk menghitung jumlah penonton ceramah daripada menghitung jumlah kelalaian dalam hati. Seolah-olah surga memiliki fitur analitik: berapa viewers, berapa subscriber, dan berapa persen retensi penonton.

Di sinilah kajian Menjelang Ma'rifat hadir seperti segelas teh hangat di tengah rapat Zoom yang terlalu panjang. Ia mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah tidak ditempuh dengan sinyal 5G, tetapi dengan keikhlasan yang bahkan malaikat pun tidak bisa mengukurnya secara kasat mata.

Sedekah Bukan Program Cashback

Kajian ini dimulai dari pembahasan tentang sedekah. Allah melipatgandakan pahala sedekah yang berasal dari harta yang halal dan baik. Sederhana, tetapi kemudian berkembang menjadi pelajaran yang jauh lebih dalam: semua amal bergantung pada keikhlasan.

Masalahnya, manusia modern sering kali memperlakukan ibadah seperti aplikasi belanja daring.

"Sedekah Rp100 ribu, kembali satu juta."

"Salat tahajud tujuh malam, rezeki langsung cair."

"Amalan ini dijamin membuat semua masalah selesai."

Kalau semua ibadah dihitung seperti investasi, jangan-jangan suatu hari nanti ada orang bertanya kepada malaikat, "Mohon maaf, ROI pahala saya semester ini berapa persen?"

Padahal ikhlas justru bekerja seperti akar pohon. Ia tidak terlihat, tidak dipuji, bahkan sering diinjak-injak. Tetapi justru akar itulah yang membuat pohon tetap tegak ketika badai datang. Orang sibuk memotret buahnya, sementara kehidupan pohon diselamatkan oleh sesuatu yang tidak pernah masuk kamera.

Keikhlasan memang tidak fotogenik.

Fenomena Sufi Instan

Di zaman mi instan, tampaknya muncul pula sufi instan.

Cukup memakai pakaian longgar, berbicara pelan sambil sesekali menatap langit, lalu setiap kalimat diakhiri dengan, "Ini rahasia yang belum banyak orang tahu."

Padahal yang belum banyak orang tahu biasanya bukan rahasia langit, melainkan sumber kutipannya.

Kajian ini mengingatkan bahwa tasawuf tidak pernah berdiri melawan syariat. Justru syariat adalah jalannya, sedangkan tasawuf adalah ruh yang menghidupinya. Ibarat kopi dan cangkir, keduanya saling membutuhkan. Orang yang hanya memegang cangkir tanpa kopi akan tetap haus. Sebaliknya, membawa kopi tanpa cangkir biasanya berakhir dengan baju yang penuh noda.

Karena itu, mengaku telah sampai kepada Allah sambil meninggalkan syariat sama seperti seseorang yang mengaku telah sampai ke puncak gunung padahal baru memasuki area parkir.

Semangatnya memang luar biasa.

Lokasinya saja yang masih jauh.

Ketika Ego Menjadi Barang yang Harus Dibuang

Bagian paling menarik dari kajian ini adalah penjelasan tentang sufi sejati.

Ternyata cirinya bukan bisa berjalan di atas air.

Kalau itu, bebek juga bisa.

Bukan pula bisa mengetahui isi hati orang lain.

Kalau itu, ibu-ibu di kampung sering kali lebih cepat daripada teknologi kecerdasan buatan.

Sufi sejati justru ditandai oleh sesuatu yang jauh lebih sulit: ucapan, tindakan, dan geraknya tidak dikendalikan hawa nafsu. Ia tidak mudah dipermainkan pujian, tidak tumbang karena cacian, dan tidak berubah sikap hanya karena isi rekening berubah.

Inilah yang dalam tasawuf disebut sebagai "ada tanpa merasa ada."

Kalimat ini terdengar membingungkan sampai kita melihat kipas angin. Semua orang merasakan anginnya, tetapi jarang ada yang memuji baling-balingnya. Ia bekerja tanpa meminta tepuk tangan.

Sebaliknya, ego manusia sering seperti alarm mobil. Sedikit tersenggol langsung berbunyi panjang, berharap seluruh kompleks mengetahui bahwa dirinya sedang tersakiti.

Tasawuf mengajarkan sebaliknya: semakin dekat kepada Allah, semakin pelan suara ego kita.

Dunia yang Terlalu Berisik

Kita hidup di zaman ketika semua orang berlomba menjadi pusat perhatian. Bahkan secangkir kopi pun harus difoto dari tiga sudut sebelum diminum. Kadang kopi sudah dingin, tetapi unggahannya masih hangat menerima komentar.

Dalam suasana seperti itu, keikhlasan menjadi makhluk yang langka. Ia seperti kunang-kunang di tengah kota besar. Bukan karena sudah punah, melainkan karena cahaya lampu membuat kita lupa bahwa masih ada cahaya kecil yang jauh lebih indah.

Tasawuf tidak mengajak manusia lari dari dunia. Ia hanya mengingatkan agar dunia tidak pindah ke dalam hati.

Perahu memang harus berada di atas air.

Tetapi ketika air masuk ke dalam perahu, tenggelam hanyalah soal waktu.

Begitu pula harta, jabatan, dan popularitas. Semuanya boleh berada di tangan. Yang berbahaya adalah ketika semuanya pindah menjadi penghuni tetap hati.

Menjadi Biasa Itu Luar Biasa

Mungkin inilah paradoks terbesar dalam tasawuf.

Semakin tinggi derajat seseorang di sisi Allah, semakin kecil keinginannya untuk terlihat tinggi di hadapan manusia.

Sufi sejati bukan orang yang sibuk membangun citra sebagai manusia langit. Ia justru sibuk menjadi manusia biasa yang diam-diam memperbaiki dirinya. Ia tidak mengejar gelar "wali", apalagi mencantumkannya di kartu nama.

Pada akhirnya, perjalanan menuju ma'rifat bukanlah perlombaan siapa yang paling banyak mengetahui rahasia langit. Ia adalah perjalanan panjang membersihkan cermin hati agar pantulan cahaya Ilahi tidak lagi terhalang oleh debu kesombongan.

Dan mungkin, di zaman ketika semua orang ingin viral, salah satu bentuk kewalian yang paling langka adalah mampu berbuat baik tanpa merasa perlu mengabarkannya kepada siapa pun.

Sebab di hadapan Allah, yang paling nyaring bukanlah suara yang paling keras, melainkan hati yang paling hening.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026