Catatan Ringan tentang Dostoevsky, Netizen, dan Gorengan yang Hilang
Ada satu pertanyaan yang selalu membuat saya curiga kepada
manusia.
Mengapa orang yang mengambil gorengan terakhir di meja rapat
selalu pura-pura sibuk melihat ponsel?
Kalau memang semua boleh, harusnya dia mengambil gorengan
itu dengan penuh percaya diri. Bahkan mungkin sambil berpidato,
"Saudara-saudara, berdasarkan prinsip kebebasan universal, saya nyatakan
bakwan ini resmi menjadi milik saya."
Nyatanya tidak begitu.
Ia melirik kanan.
Melirik kiri.
Lalu bergerak secepat ninja yang baru melihat diskon.
Mengapa?
Karena jauh di dalam dadanya masih ada makhluk kecil bernama
nurani. Makhluk ini memang tidak bisa dilihat di USG, tidak muncul di
hasil MRI, tetapi kemampuannya luar biasa. Ia bisa membuat seseorang tidak bisa
tidur hanya karena mengaku "OTW" padahal masih pakai handuk.
Fyodor Dostoevsky rupanya sudah mengenal makhluk ini jauh
sebelum media sosial ditemukan.
Dalam The Brothers Karamazov, ia memperingatkan bahwa
jika manusia kehilangan nurani, maka hidup tinggal soal memenuhi insting. Tidak
ada lagi dosa. Tidak ada lagi kebajikan. Yang ada hanya pertanyaan praktis:
"Untungnya buat saya apa?"
Kalimat itu terdengar modern sekali.
Bahkan terlalu modern.
Hari ini kita hidup di zaman ketika hampir semua hal
memiliki departemen humas yang siap membela.
Korupsi?
"Itu optimalisasi anggaran."
Bohong?
"Itu pengelolaan persepsi."
Pamer?
"Itu personal branding."
Malas?
"Itu sedang menjaga kesehatan mental."
Menghilang saat ditagih utang?
"Itu sedang menjalani digital detox."
Hebat memang manusia. Kita mungkin satu-satunya spesies yang
bisa mengganti nama dosa menjadi istilah yang terdengar seperti seminar bisnis.
Dostoevsky pasti akan mengelus dada melihat kemampuan kita
mencuci istilah. Mesin cuci modern kalah canggih dibanding kemampuan manusia
mencuci nurani.
Yang lucu, manusia sebenarnya tahu kapan ia sedang salah.
Coba perhatikan.
Orang yang jujur tidak pernah gugup ketika pintu rumah
diketuk.
Sebaliknya, orang yang baru saja melakukan kesalahan bisa
panik hanya karena mendengar suara motor berhenti di depan rumah.
Padahal yang datang ternyata tukang galon.
Nurani memang suka bercanda.
Ia membuat polisi tidak perlu bekerja lembur di dalam kepala
kita.
Kadang ia muncul saat kita hendak tidur.
Kadang saat sedang mandi.
Kadang ketika membaca komentar netizen yang kebetulan benar.
Ia seperti ibu-ibu kompleks.
Tidak pernah diundang.
Tetapi selalu tahu apa yang kita lakukan.
Sayangnya, zaman sekarang banyak orang memperlakukan nurani
seperti aplikasi bawaan ponsel.
Tidak pernah dibuka.
Tidak pernah diperbarui.
Kalau muncul notifikasi, langsung ditekan "Nanti
Saja."
Sebaliknya, aplikasi media sosial diperiksa setiap tiga
menit.
Jumlah pengikut naik dua orang, bahagia.
Harga saham naik sedikit, bahagia.
Like bertambah seratus, bahagia.
Tetapi hati mulai kehilangan kepekaan?
"Ah... nanti juga normal sendiri."
Masalahnya, nurani bukan luka ringan.
Ia lebih mirip alarm kebakaran.
Kalau terus-menerus dimatikan, suatu hari rumahnya
benar-benar terbakar, dan kita baru sadar bahwa tombol snooze ternyata
bukan solusi hidup.
Media sosial memperlihatkan fenomena yang sangat menarik.
Semua orang ingin terlihat benar.
Sangat sedikit yang ingin benar-benar menjadi baik.
Kolom komentar sering berubah menjadi arena pencak silat
intelektual.
Semua membawa data.
Semua membawa grafik.
Semua membawa tautan.
Yang tidak ada hanya kerendahan hati untuk berkata,
"Oh iya ya... mungkin saya salah."
Kalimat itu sekarang lebih langka daripada parkir kosong di
pusat kota.
Padahal dunia tidak kekurangan orang pintar.
Kita kekurangan orang yang mau mendengarkan suara kecil
dalam dirinya sendiri.
Suara yang berkata,
"Sudahlah... jangan ikut menyebarkan berita yang belum
jelas."
"Sudahlah... jangan menghina orang hanya karena berbeda
pilihan."
"Sudahlah... jangan ambil gorengan terakhir itu."
Terutama yang terakhir.
Karena dari gorengan, peradaban bisa diuji.
Dostoevsky tampaknya memahami satu hal yang sering kita
lupakan.
Masalah terbesar manusia bukan kurangnya ilmu.
Melainkan terlalu pintarnya manusia mencari pembenaran.
Kita bisa membuat seribu alasan mengapa kesalahan kita
sebenarnya bukan kesalahan.
Kalau perlu dibuat infografis.
Lengkap dengan diagram lingkaran.
Ditambah musik latar yang mengharukan.
Lalu diunggah dengan tagar #JanganMenghakimi.
Padahal inti persoalannya sederhana.
Nurani tidak bertanya seberapa viral tindakan kita.
Ia hanya bertanya,
"Kalau semua lampu dimatikan, semua kamera dicabut,
semua saksi pulang, apakah kamu masih mau melakukan itu?"
Pertanyaan itu sederhana.
Jawabannya sering kali membuat kita menelan ludah.
Mungkin karena itulah nurani tidak pernah populer.
Ia tidak memberi tepuk tangan.
Tidak memberi medali.
Tidak membuat kita trending.
Ia hanya membuat kita tetap menjadi manusia.
Dan menurut saya, itu sudah lebih dari cukup.
Sebab ketika dunia sibuk mengejar citra, kekuasaan,
keuntungan, dan validasi digital, barangkali tindakan paling revolusioner hari
ini bukanlah menjadi orang paling terkenal.
Melainkan tetap bisa pulang ke rumah, bercermin, lalu
berkata kepada diri sendiri,
"Syukurlah... hari ini saya masih belum berhasil
membungkam nurani."
Kalau itu masih bisa kita lakukan, berarti masih ada
harapan.
Dan selama masih ada harapan, silakan ambil gorengan.
Asal satu saja.
Jangan rakus.





