Di zaman modern yang penuh tekanan—mulai dari notifikasi WhatsApp yang tak kenal waktu hingga deadline yang lebih cepat datang daripada gaji—manusia mulai mencari solusi kesehatan yang praktis. Kalau bisa, sekali klik langsung sembuh. Kalau perlu, cukup rebahan sambil “healing”. Nah, di tengah pencarian itu, muncullah kabar menggembirakan: ternyata, kita tidak perlu jauh-jauh ke apotek. Cukup ngobrol sama diri sendiri.
Betul. Ngobrol. Sama diri sendiri.
Sebuah unggahan dari akun X @NextScience mengklaim bahwa self-talk
positif bisa meningkatkan kesehatan bahkan lebih baik daripada suplemen.
Sekilas ini terdengar seperti kabar yang sangat menguntungkan: tidak perlu beli
vitamin mahal, tidak perlu antri dokter, cukup bilang, “Aku kuat, aku sehat,
aku luar biasa,” lalu... sembuh.
Kalau ini benar, maka cermin di rumah bukan lagi sekadar
alat berdandan, tapi sudah naik pangkat menjadi klinik pribadi.
Sains yang Membuat Kita Tampak Bijak di Depan Cermin
Sebelum kita semua mulai berbicara dengan bayangan sendiri
seperti tokoh film yang mengalami krisis identitas, ternyata ada sains di balik
fenomena ini. Namanya cukup panjang dan cocok untuk membuat kita terdengar
pintar: psychoneuroimmunology. Kalau diucapkan dengan percaya diri,
orang lain mungkin langsung mengira kita lulusan luar negeri.
Intinya sederhana: pikiran, saraf, dan sistem imun itu
saling terhubung. Jadi ketika kita berkata lembut pada diri sendiri—misalnya,
“Tenang ya, kita bisa”—tubuh kita benar-benar merespons. Sistem saraf
parasimpatis aktif, jantung melambat, otot rileks, dan tubuh mulai melakukan
mode “service gratis”.
Lebih hebat lagi, hormon stres seperti kortisol bisa
menurun. Artinya, hanya dengan berbicara baik kepada diri sendiri, kita bisa
membuat tubuh tidak terlalu panik. Ini kabar baik, karena selama ini kita
sering lebih kejam kepada diri sendiri daripada komentar netizen.
Masalahnya: Jangan Sampai Kebablasan
Namun, seperti semua hal yang viral di internet, ada sedikit
bumbu dramatis di dalamnya. Klaim bahwa self-talk lebih baik daripada
suplemen itu... ya, katakanlah, agak bersemangat.
Kalau begitu, rumah sakit mungkin sudah berubah fungsi jadi
tempat orang latihan afirmasi massal.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Self-talk
memang membantu—terutama untuk mengelola stres, meningkatkan suasana hati, dan
menciptakan kondisi tubuh yang lebih siap untuk sembuh. Tapi dia bukan
pengganti pengobatan medis.
Kalau kaki patah, kita tidak bisa hanya berkata, “Kamu utuh,
kamu utuh, kamu utuh,” sambil berharap tulangnya menyambung sendiri seperti
adegan film kartun.
Self-talk itu ibarat pupuk. Ia menyuburkan tanah. Tapi kalau
tidak ada benih, air, dan sinar matahari, ya tetap saja tidak tumbuh apa-apa.
Ngobrol dengan Diri Sendiri: Antara Waras dan Produktif
Menariknya, sains juga tidak sepenuhnya mendukung afirmasi
positif yang terlalu manis. Ternyata, dalam beberapa situasi, self-talk
yang realistis—bahkan sedikit “tegas”—justru lebih efektif.
Misalnya:
- “Ayo,
fokus!”
- “Kerjakan
sekarang, jangan malas!”
Ini mungkin terdengar seperti suara guru galak di kepala,
tapi ternyata cukup ampuh.
Jadi, berbicara dengan diri sendiri itu seperti menjadi
pelatih pribadi. Kadang perlu lembut, kadang perlu tegas. Yang penting jangan
sampai jadi tukang bully.
Karena jujur saja, banyak dari kita punya inner voice yang
kalau dijadikan orang nyata, mungkin sudah kita blokir dari kehidupan.
Seni Berbisik pada Diri Sendiri
Di tengah semua kesibukan dan tekanan hidup, ide untuk
berbicara baik kepada diri sendiri sebenarnya sangat revolusioner—dan gratis.
Tidak perlu langganan, tidak perlu diskon, tidak perlu kode promo.
Kalimat sederhana, tapi sering kita lupakan.
Kita sering lebih ramah kepada orang asing daripada kepada
diri sendiri. Padahal, kalau dipikir-pikir, kita ini teman hidup paling
setia—dari lahir sampai akhir.
Obat yang Selalu Tersedia
Pada akhirnya, kekuatan self-talk bukanlah sulap yang
bisa menyembuhkan segalanya dalam sekejap. Tapi ia adalah alat sederhana yang
sering diremehkan.
Jadi, lain kali saat hidup terasa berat, mungkin kita tidak
perlu langsung mencari solusi ke luar. Coba dulu ke dalam.






