Ada dua jenis manusia di dunia.
Yang pertama, orang yang setiap bangun pagi berkata,
"Hari ini aku akan menaklukkan dunia!"
Yang kedua, orang yang baru membuka mata, melihat tagihan
listrik, cicilan, grup WhatsApp kantor, dan notifikasi "Penyimpanan hampir
penuh", lalu berbisik lirih, "Ya Allah..."
Anehnya, menurut Al-Hikam, justru golongan kedua
sering kali lebih dekat dengan pintu ma'rifat.
Ternyata jalan menuju Allah kadang tidak diawali dengan
seminar motivasi, melainkan dengan saldo rekening yang motivasinya sudah habis.
Begitulah salah satu pelajaran indah dari hikmah-hikmah Ibnu
Atha'illah. Semakin seseorang merasa fakir di hadapan Allah, semakin ia sedang
menemukan jati dirinya. Sebaliknya, semakin seseorang merasa hebat, semakin ia
berisiko tersesat di museum ego, lengkap dengan tiket VIP dan pemandu wisata
bernama "Aku".
Ego: Direktur Utama yang Tidak Pernah Mau Pensiun
Masalah terbesar manusia ternyata bukan kemiskinan.
Bukan pula inflasi.
Bukan cuaca yang sulit diprediksi.
Masalah terbesar manusia adalah satu makhluk yang selalu
ikut ke mana-mana, tidak pernah membayar kos, tetapi merasa pemilik rumah.
Namanya: ego.
Ego memiliki kebiasaan unik.
Kalau berhasil ujian, ia berkata, "Aku memang
cerdas."
Kalau gagal, ia berkata, "Soalnya tidak
berkualitas."
Kalau dipuji, ia merasa memang pantas.
Kalau dikritik, ia menyimpulkan dunia sedang iri.
Ego adalah politisi paling sukses dalam sejarah batin
manusia. Apa pun hasil pemilu kehidupan, ia selalu mengklaim kemenangan.
Padahal menurut Al-Hikam, selama "aku" masih
terlalu besar, Allah hanya kebagian ruang kecil di dalam hati. Sulit
menyaksikan Yang Maha Besar jika ruang batin dipenuhi papan reklame bertuliskan
"Prestasi Saya".
Manusia Modern dan Agama Bernama Kontrol
Kita hidup di zaman ketika hampir semuanya bisa
dikendalikan.
Lampu cukup tepuk tangan.
Pintu cukup sidik jari.
Mobil bisa parkir sendiri.
Jam tangan bisa mengingatkan kita untuk bernapas,
seolah-olah paru-paru sedang magang.
Lalu pelan-pelan muncul keyakinan baru.
"Kalau semua bisa dikontrol, hidup juga pasti bisa
dikontrol."
Di sinilah masalah dimulai.
Begitu kenyataan tidak mengikuti jadwal Google Calendar,
manusia langsung protes kepada semesta.
Ketika promosi jabatan gagal, kita kecewa.
Ketika rencana liburan batal, kita murung.
Ketika sinyal internet hilang lima menit, kita merasa kiamat
versi digital telah tiba.
Padahal hidup memang tidak pernah menandatangani kontrak
untuk selalu sesuai ekspektasi kita.
Tasawuf datang seperti teman lama yang menepuk bahu sambil
berkata,
"Barangkali yang perlu dikendalikan bukan dunia,
melainkan rasa ingin mengendalikan dunia."
Kalimat ini tidak laku dijual dalam seminar "Jadilah
Penguasa Alam Semesta dalam 21 Hari", tetapi justru menyelamatkan banyak
hati dari kelelahan.
Doa: Saat Manusia Berhenti Berlagak Jadi Superman
Ada alasan mengapa doa disebut inti ibadah.
Karena saat berdoa, semua gelar mendadak kehilangan tenaga.
Profesor tetap mengangkat tangan.
Direktur tetap mengangkat tangan.
Pejabat tetap mengangkat tangan.
Juara dunia pun tetap mengangkat tangan.
Di hadapan Allah, semua kembali menjadi makhluk yang sedang
berkata,
"Aku tidak sanggup."
Ironisnya, kalimat yang paling sulit diucapkan manusia
bukanlah rumus fisika kuantum.
Melainkan:
"Aku memang membutuhkan pertolongan."
Ego alergi terhadap kalimat itu.
Ia lebih suka berkata,
"Aku bisa sendiri."
Lalu tiga hari kemudian mengetik di mesin pencari:
"Cara mengatasi hidup yang terasa berat."
Kepepet: Universitas Spiritual Tanpa Wisuda
Dalam kehidupan sehari-hari, kata "kepepet"
terdengar menyedihkan.
Padahal dalam Al-Hikam, kepepet sering kali adalah ruang
kelas favorit Allah.
Ketika semua pintu tertutup...
Ketika semua kenalan tidak bisa membantu...
Ketika semua rencana berantakan...
Di situlah manusia mulai belajar mengetuk pintu yang sejak
awal sebenarnya tidak pernah tertutup.
Lucunya, banyak orang baru rajin tahajud ketika dokter
berkata,
"Besok kita lihat hasil laboratoriumnya."
Banyak yang baru khusyuk berzikir ketika proposal ditolak.
Banyak yang baru menghafal doa ketika pesawat mengalami
turbulensi.
Kalau pesawat selalu mulus, mungkin sebagian penumpang lebih
sibuk memilih filter foto daripada mengingat Penciptanya.
Kepepet memang bukan pengalaman yang menyenangkan.
Tetapi sering kali ia adalah guru yang paling jujur.
Cahaya yang Tidak Bisa Difoto
Zaman sekarang orang sangat menyukai cahaya.
Lampu RGB.
Lampu LED.
Ring light.
Neon.
Aura.
Filter "glow."
Semua ingin terlihat bercahaya.
Namun cahaya yang dibicarakan para sufi bukanlah cahaya yang
bisa ditingkatkan resolusinya.
Ia tidak muncul di kamera.
Tidak bisa dipasang sebagai wallpaper.
Tidak bisa dipamerkan di media sosial dengan caption:
"Feeling blessed."
Cahaya itu justru membuat seseorang semakin rendah hati.
Kalau setelah merasa mendapat "cahaya" seseorang
justru makin merasa paling suci, mungkin yang menyala bukan nur, melainkan
lampu indikator ego.
Orang Arif Tidak Sibuk Mengiklankan Kedekatannya dengan
Allah
Ada fenomena menarik.
Semakin sedikit ilmu, semakin mudah seseorang merasa sudah
sampai.
Semakin banyak ilmu, semakin sadar bahwa perjalanan masih
panjang.
Gunung tidak pernah mengiklankan dirinya tinggi.
Laut tidak pernah memperkenalkan dirinya dalam seminar.
Matahari tidak pernah membuat unggahan,
"Hari ini kembali sukses menerangi bumi."
Mereka cukup menjalankan tugasnya.
Begitu pula orang yang benar-benar mengenal Allah.
Ia justru semakin lembut.
Semakin tenang.
Semakin sedikit berbicara tentang dirinya.
Karena ia sibuk melihat Sang Pencipta, bukan sibuk melihat
dirinya sedang melihat Sang Pencipta.
Faqir yang Kaya
Tasawuf tidak mengajarkan manusia menjadi miskin.
Yang diajarkan adalah jangan pernah merasa memiliki.
Kita boleh punya rumah.
Tetapi jangan sampai rumah memiliki kita.
Boleh punya jabatan.
Asal jangan jabatan yang menjalankan hidup kita.
Boleh punya harta.
Asal jangan hati disimpan di dalam dompet.
Sebab sejarah membuktikan, dompet paling mahal pun tidak
memiliki ruang untuk menyimpan ketenangan.
Penutup: Pulang Tanpa Membawa Gelar
Pada akhirnya, hidup mungkin memang bukan perlombaan untuk
menjadi manusia paling hebat.
Melainkan perjalanan panjang untuk menjadi hamba yang paling
tahu diri.
Lucunya, dunia terus menyuruh kita menjadi
"besar".
Al-Hikam justru mengajarkan seni menjadi "kecil".
Dunia berkata, "Buktikan bahwa engkau mampu."
Allah mengajarkan, "Sadari bahwa tanpa-Ku engkau tidak
mampu."
Dunia memuja orang yang tidak pernah jatuh.
Tasawuf menghormati orang yang setiap jatuh justru semakin
mengenal Tuhannya.
Mungkin itulah sebabnya Allah kadang membiarkan hidup
sedikit oleng.
Bukan karena Dia lupa memegang kemudi.
Melainkan karena kita terlalu percaya bahwa kitalah
sopirnya.
Dan ketika akhirnya kita menyerahkan setir kepada-Nya,
barulah kita sadar bahwa perjalanan ini sejak awal memang bukan tentang
seberapa hebat kita mengemudi, melainkan tentang seberapa rela kita menjadi
penumpang yang percaya kepada Sang Pengarah Jalan.
Karena dalam kamus para arif, orang yang paling kaya
bukanlah yang rekeningnya penuh, melainkan yang hatinya selalu merasa
membutuhkan Allah. Dan mungkin, di situlah letak humor paling halus dalam
kehidupan: manusia sibuk mengejar rasa cukup, sementara kebahagiaan justru
lahir ketika ia dengan jujur mengakui bahwa dirinya akan selalu faqir di
hadapan Yang Maha Kaya.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026





