Media sosial memang tempat yang ajaib. Di sana, persoalan cinta yang mestinya diselesaikan sambil minum teh hangat sering berubah menjadi seminar filsafat dadakan. Seseorang mengunggah kalimat puitis, lalu ribuan orang mendadak merasa menjadi perpaduan antara penyair Andalusia, psikolog keluarga, dan konsultan rumah tangga bersertifikat oleh pengalaman patah hati.
Salah satu kalimat yang belakangan ramai berbunyi kira-kira begini: perempuan adalah cermin bagi laki-laki. Jika laki-laki baik, perempuan akan memantulkan kebaikan. Jika laki-laki dingin, perempuan akan berubah menjadi kutub utara. Romantis sekali. Bahkan terdengar seperti iklan kaca antipecah.
Masalahnya, hidup tidak dijalankan di dalam showroom kaca.
Bayangkan jika teori itu diterapkan secara mutlak. Berarti setiap kali hubungan bermasalah, laki-laki tinggal bercermin sambil berkata, "Oh, ternyata ini salahku semua." Sebaliknya, perempuan cukup berdiri anggun seperti cermin hotel berbintang: diam, mengilap, dan menunggu objek berikutnya lewat.
Padahal kenyataannya jauh lebih ramai.
Hubungan itu lebih mirip bermain bulu tangkis daripada bercermin. Kalau shuttlecock nyangkut di net, jarang ada yang berteriak, "Ini pasti salah raket sebelah!" Biasanya ada kombinasi tenaga, arah pukulan, angin, bahkan kadang sandal yang licin. Intinya, permainan selalu melibatkan dua orang, bukan satu orang melawan pantulannya sendiri.
Memang harus diakui, ada kebijaksanaan yang layak dipeluk dari ungkapan tersebut. Perlakuan yang baik memang sering melahirkan balasan yang baik. Senyum cenderung mengundang senyum. Bentakan biasanya hanya melahirkan volume yang lebih tinggi. Dalam hubungan, kita memang sedang menanam. Anehnya, banyak orang berharap menanam cabai tetapi panennya stroberi.
Namun, menganggap perempuan hanyalah cermin adalah penyederhanaan yang kelewat bersemangat. Kalau benar perempuan hanyalah cermin, industri kosmetik pasti bangkrut. Sebab cermin tidak pernah punya pendapat tentang lipstik yang dipakai orang di depannya.
Faktanya, setiap orang membawa koper tak kasatmata ke dalam hubungan. Isinya bermacam-macam: pengalaman masa kecil, luka lama, trauma, harapan, rasa takut, kebiasaan, bahkan cara menyeduh mi instan. Semua itu ikut duduk di meja makan bersama pasangan. Jadi, konflik tidak selalu lahir karena seseorang gagal menjadi "pemantul" yang baik, melainkan karena dua koper itu saling bertabrakan sebelum sempat dibongkar.
Psikologi modern pun tidak sesederhana slogan media sosial. Memang ada konsep resiprositas emosional: emosi dapat menular. Tetapi manusia bukan mesin fotokopi yang otomatis menggandakan perlakuan orang lain. Ada orang yang dibentak tetap menjawab pelan. Ada pula yang disapa dengan lembut tetapi membalas dengan wajah seperti baru mengetahui harga cabai naik lagi.
Artinya, manusia memiliki agensi. Ia bisa memilih.
Kalau semua hanya soal pantulan, dunia akan sangat membosankan. Guru galak pasti menghasilkan murid galak. Tetangga cerewet pasti melahirkan kompleks yang seluruh penghuninya menjadi komentator profesional. Untungnya hidup tidak sesederhana itu.
Yang lebih lucu lagi adalah kebiasaan kita mengubah kutipan indah menjadi hukum alam. Baru membaca satu kalimat puitis, langsung merasa menemukan teori cinta paling final sejak ditemukannya cokelat. Padahal penyair itu tugasnya membuat kita merenung, bukan menyusun buku petunjuk penggunaan pasangan edisi revisi.
Hubungan yang sehat justru menyerupai duet musik. Kadang satu orang memimpin melodi, kadang yang lain mengambil harmoni. Sesekali ada nada fals, tetapi tujuan utamanya bukan mencari siapa penyebab sumbang, melainkan bagaimana lagu itu tetap enak didengar sampai selesai.
Mungkin karena itulah, cinta tidak membutuhkan cermin sebanyak ia membutuhkan jendela. Cermin hanya membuat kita sibuk melihat diri sendiri. Jendela mengingatkan bahwa di seberang sana ada manusia lain yang juga sedang belajar memahami kita, lengkap dengan segala kekurangan, kelebihan, dan kebiasaan anehnya.
Jadi, jika suatu hari Anda membaca lagi kalimat bahwa perempuan adalah cermin bagi laki-laki, jangan buru-buru membeli kaca baru. Ambillah inti kebijaksanaannya: perlakukan pasangan dengan hormat, karena kebaikan memang sering kembali kepada pemberinya. Tetapi jangan lupa bahwa pasangan Anda bukanlah pantulan, melainkan manusia utuh yang memiliki pikiran, kehendak, dan sesekali kemampuan luar biasa untuk mengingat kesalahan Anda sejak tiga tahun yang lalu secara kronologis, lengkap dengan jam dan cuacanya.
Di situlah cinta menjadi menarik. Ia bukan perkara mencari siapa yang paling bening menjadi cermin, melainkan siapa yang cukup dewasa untuk sama-sama membersihkan kaca ketika mulai berdebu.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026






