Di zaman ketika blender saja datang dengan kartu garansi dua tahun, manusia justru menjalani hidup tanpa buku petunjuk, tanpa layanan pelanggan, dan tanpa tombol "undo". Mungkin karena itulah kutipan-kutipan Elif Shafak terasa begitu mengena. Ia seperti petugas informasi di stasiun kehidupan yang dengan tenang berkata:
"Maaf, kereta kepastian tidak pernah beroperasi di
jalur ini."
Kutipan yang beredar di media sosial itu dimulai dengan
kalimat sederhana: "Saya telah belajar bahwa..." Namun daftar
pelajaran yang mengikuti kalimat itu tidak sesederhana resep mi instan. Isinya
lebih mirip catatan seorang musafir yang sudah cukup lama dipermainkan oleh
kehidupan hingga akhirnya memahami cara kerja semesta.
Cinta: Tamu Tak Diundang yang Suka Keluar Diam-Diam
Salah satu pelajaran pertama yang disampaikan Shafak adalah
bahwa cinta bisa datang tiba-tiba dan bisa pergi dalam semalam.
Ini adalah fakta yang sering membuat manusia frustrasi.
Ketika membeli rumah, kita menandatangani akta. Ketika
membeli motor, ada STNK. Ketika membeli ponsel, ada kartu garansi.
Tetapi ketika jatuh cinta?
Tidak ada surat perjanjian yang berbunyi:
"Produk ini dijamin bertahan selamanya. Jika
hubungan rusak sebelum masa berlaku habis, silakan hubungi pusat layanan
pelanggan."
Tidak ada.
Cinta datang seperti tamu yang mengetuk pintu tanpa mengirim
pesan terlebih dahulu. Kadang ia membawa bunga. Kadang membawa puisi. Kadang
membawa trauma.
Yang lebih aneh, cinta juga bisa pergi tanpa mengucapkan
salam.
Karena itu, kata Shafak, mungkin kita perlu berhenti
memperlakukan kehidupan seperti lemari besi dan mulai memperlakukannya seperti
taman. Bunga memang akan layu, tetapi itu bukan alasan untuk tidak menanamnya.
Sahabat dan Fenomena "Update Status Terakhir
2018"
Shafak juga mengingatkan bahwa sahabat besar bisa menjadi
orang asing.
Awalnya kalimat ini terdengar menyedihkan.
Tetapi jika dipikir-pikir, hampir semua orang memiliki teman
yang dulu setiap hari bercakap-cakap hingga tengah malam, lalu sekarang
keberadaannya hanya diketahui dari foto profil WhatsApp.
Hubungan manusia ternyata lebih mirip stasiun kereta
daripada tempat parkir permanen.
Ada yang naik di pemberhentian pertama.
Ada yang menemani sampai separuh perjalanan.
Ada yang turun tanpa sempat berpamitan.
Masalahnya, kita sering marah kepada kehidupan karena
mengira semua penumpang harus ikut sampai tujuan akhir.
Padahal tiket mereka mungkin memang hanya sampai stasiun
berikutnya.
Menunggu Takdir seperti Menunggu Durian Jatuh
Bagian favorit saya adalah ketika Shafak mengatakan bahwa
jika ingin bertemu seseorang, kita harus mencarinya.
Nasihat ini terdengar sangat sederhana, tetapi anehnya
banyak orang hidup dengan strategi sebaliknya.
Mereka berharap jodoh datang sendiri.
Pekerjaan datang sendiri.
Kesempatan datang sendiri.
Inspirasi datang sendiri.
Mereka duduk diam sambil menunggu keajaiban seperti petani
yang berharap durian jatuh tepat ke piring tanpa pernah menanam pohonnya.
Padahal kehidupan lebih sering menghargai orang yang
bergerak.
Semesta mungkin tidak selalu memberikan apa yang kita
inginkan, tetapi hampir pasti tidak memberikan apa pun kepada orang yang bahkan
tidak mencoba.
Mungkin inilah yang dimaksud Shafak ketika mengatakan bahwa
orang yang mengambil risiko tidak pernah benar-benar kehilangan.
Kalau berhasil, ia mendapat hasil.
Kalau gagal, ia mendapat pelajaran.
Sementara yang tidak mencoba hanya mendapat satu hal:
alasan.
Sakit Itu Paket Standar, Penderitaan Itu Fitur Tambahan
Inilah bagian paling filosofis dari kutipan tersebut.
"Merasa sakit tidak terhindarkan, tetapi menderita
adalah pilihan."
Bayangkan seseorang terkena hujan.
Basah adalah kenyataan.
Tetapi berdiri tiga jam di bawah hujan sambil berteriak
kepada awan tentang ketidakadilan kosmik adalah pilihan.
Hidup memang tidak mungkin bebas dari luka.
Ditolak.
Dikhianati.
Gagal.
Kehilangan.
Semua itu termasuk paket standar kemanusiaan.
Namun sering kali yang membuat kita sengsara bukan
peristiwanya, melainkan rapat internal yang terus berlangsung di kepala kita
setelah peristiwa itu selesai.
Kita memutar ulang kejadian yang sama seperti sutradara yang
terlalu mencintai adegan sedih.
Luka satu hari bisa berubah menjadi penderitaan sepuluh
tahun karena terus diputar dalam bioskop pikiran.
Seni Sulit Bernama Menerima Kenyataan
Pelajaran terakhir Shafak mungkin yang paling mahal.
Ia mengatakan bahwa menyangkal hal yang sudah jelas tidak
ada gunanya.
Ini terdengar sederhana sampai kita mengingat berapa banyak
energi yang dihabiskan manusia untuk menyangkal kenyataan.
Hubungan yang sudah mati diberi infus harapan.
Kesalahan yang jelas masih dicari pembenarannya.
Masalah yang nyata disembunyikan di bawah karpet sampai
karpetnya sendiri menyerupai gunung.
Manusia kadang seperti penumpang kapal yang bocor tetapi
sibuk mengecat dinding kabin agar terlihat indah.
Padahal laut tidak peduli pada warna cat.
Ia hanya peduli apakah kapal itu sedang tenggelam atau
tidak.
Menerima kenyataan memang menyakitkan.
Tetapi menyangkal kenyataan biasanya lebih mahal.
Hidup Tanpa Garansi, Tetapi Tetap Layak Dijalani
Tentu saja, beberapa gagasan Shafak bisa diperdebatkan.
Tidak semua orang yang mau pasti bisa. Dunia nyata memiliki kemiskinan,
ketimpangan, diskriminasi, dan berbagai tembok yang tidak bisa ditembus hanya
dengan semangat.
Namun inti pesannya bukanlah bahwa hidup itu mudah.
Justru sebaliknya.
Hidup itu rumit, tidak pasti, dan sering kali tidak masuk
akal.
Tetapi karena itulah kita perlu keberanian.
Keberanian untuk mencintai meski bisa kehilangan.
Keberanian untuk melangkah meski bisa gagal.
Keberanian untuk menerima kenyataan meski pahit.
Keberanian untuk tetap hidup utuh di dunia yang tidak pernah
menawarkan garansi apa pun.
Mungkin itulah kebijaksanaan terbesar yang ingin disampaikan
Elif Shafak.
Bahwa kehidupan bukanlah kontrak jangka panjang yang penuh
kepastian.
Ia lebih mirip perjalanan naik angkot di kota yang belum
pernah kita kunjungi.
Kita tidak selalu tahu siapa yang akan duduk di samping
kita, siapa yang akan turun lebih dulu, atau di mana jalan akan macet.
Tetapi selama perjalanan masih berlangsung, mungkin yang
terbaik bukanlah terus-menerus menuntut kepastian.
Melainkan menikmati perjalanan, sambil sesekali tertawa pada
kekacauan yang menyertainya.






