Ada satu tragedi modern yang jarang dibahas para filsuf
maupun HRD: manusia kini bisa membuat presentasi 120 slide, tetapi tidak bisa
duduk tenang lima menit tanpa mengecek notifikasi.
Dan sejak saat itu, hidup manusia berubah menjadi lomba
estafet antara kopi, deadline, dan kecemasan.
Padahal sebagian peserta seminar pulang sambil tetap bingung
cara membayar cicilan motor.
Di tengah hiruk-pikuk itu, muncul sebuah pendekatan sufistik
yang terdengar sederhana namun diam-diam mengguncang fondasi dunia kerja
modern: Takhalli, Tahalli, dan Tajalli.
Tiga istilah ini terdengar seperti nama menu herbal atau
jurus rahasia pendekar tua. Tetapi sebenarnya ia adalah metode membersihkan
manusia dari penyakit paling tua di muka bumi: ego yang terlalu percaya diri.
Takhalli: Mengosongkan Isi Kepala yang Sudah Terlalu
Penuh
Takhalli berarti membersihkan diri dari sifat-sifat
buruk.
Kalau dunia modern punya istilah detoks digital,
tasawuf punya detoks batin. Bedanya, yang dibuang bukan foto mantan atau
aplikasi belanja daring, tetapi kesombongan, iri hati, rakus pujian, dan rasa
“aku paling benar”.
Masalah manusia modern sebenarnya bukan kurang informasi.
Justru terlalu banyak informasi sampai hati seperti browser dengan 97 tab
terbuka: semuanya penting, semuanya bikin panas.
Dan ternyata yang paling sulit dibuang bukan harta,
melainkan rasa ingin dianggap penting.
Tahalli: Menghias Hati di Tengah Dunia yang Berisik
Setelah dibersihkan, hati tidak boleh kosong terlalu lama.
Sebab hati kosong itu seperti rumah kosong: cepat ditempati lagi oleh
kecemasan, iri hati, atau iklan diskon 11.11.
Maka masuklah tahap Tahalli: menghias diri dengan
sifat-sifat baik dan kesadaran Ilahi.
Di titik ini, hidup mulai berubah arah. Aktivitas
sehari-hari yang tadinya terasa mekanis perlahan menjadi bermakna.
Pendekatan ini menarik karena spiritualitas tidak lagi
dipenjara di tempat ibadah saja. Tuhan tidak hanya hadir saat manusia sedang
terharu mendengar ceramah atau ketika sinyal kehidupan mulai melemah.
Kesadaran spiritual justru dibawa masuk ke ruang rapat, meja
kasir, pabrik, kantor, bahkan ke depan layar Excel yang rumusnya kadang lebih
misterius daripada takdir.
Dunia modern sering mengajarkan manusia melihat segala
sesuatu hanya sebagai alat produksi.
Akibatnya, dunia yang tadinya terasa dingin dan mekanis
perlahan menjadi lebih hidup.
Tajalli: Cahaya yang Datang Saat Tidak Dipaksa
Lalu sampailah pada tahap paling misterius: Tajalli.
Ini adalah keadaan ketika kebaikan memancar alami dari diri
seseorang. Bukan dibuat-buat. Bukan demi pencitraan. Bukan karena ingin disebut
bijaksana di media sosial.
Masalah manusia modern adalah semua hal ingin dipercepat,
termasuk kedalaman jiwa.
Padahal jiwa tidak bekerja seperti layanan pengiriman
instan.
Tajalli justru muncul ketika seseorang berhenti sibuk
memamerkan dirinya.
Dunia Modern dan Krisis Makna
Salah satu ironi terbesar zaman ini adalah manusia semakin
produktif tetapi semakin kosong.
Kita punya teknologi yang mampu menghubungkan benua dalam
detik, tetapi tidak mampu menyambungkan manusia dengan dirinya sendiri.
Kita punya aplikasi meditasi, podcast motivasi, dan
video “healing”, tetapi tetap sulit tidur tanpa rasa cemas.
Di sinilah pendekatan sufistik terasa relevan.
Ia hanya mengingatkan bahwa manusia bukan robot berjas yang
hidup dari kopi dan KPI semata.
Manusia adalah makhluk yang diam-diam haus makna.
Dan kadang, yang paling dibutuhkan seseorang bukan liburan
mahal atau seminar motivasi, melainkan kemampuan sederhana untuk kembali
berdamai dengan dirinya sendiri.
Karena pada akhirnya, masalah terbesar manusia modern
mungkin bukan kurang pencapaian.
Melainkan terlalu jauh dari keheningan.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026






