Ada lagu yang membuat kita ingin berdansa. Ada lagu yang membuat kita ingin menangis. Dan ada lagu yang membuat kita ingin membeli tiket pesawat, meskipun saldo rekening baru saja mengirimkan pesan yang kurang lebih berbunyi: “Jangan macam-macam.”
“Emmenez-moi” karya Charles Aznavour termasuk jenis yang
terakhir.
Lagu ini seperti bisikan seorang manusia yang sudah terlalu
lama bekerja, terlalu sering melihat langit kelabu, dan terlalu akrab dengan
rutinitas sampai-sampai kalender pun terasa seperti musuh pribadi.
“Bawa aku pergi.”
Ke mana?
Ke tempat yang mataharinya lebih ramah, lautnya lebih biru,
orang-orangnya tampak bahagia, dan—ini yang penting—tidak ada orang yang
bertanya, “Besok masuk jam berapa?”
Begitulah kira-kira semangat lagu Aznavour.
Pelabuhan: Tempat Orang Bekerja, Kapal Pergi, dan Mimpi
Tidak Pernah Naik Kapal
Dalam “Emmenez-moi”, kita bertemu dengan seorang pekerja
pelabuhan di utara. Ia hidup di tengah pekerjaan berat, langit kelabu, dan
rutinitas yang perlahan membuat tubuhnya membungkuk sekaligus membuat jiwanya
ingin mengajukan surat pengunduran diri kepada kehidupan.
Pelabuhan menjadi simbol yang sempurna.
Di sana kapal datang dari tempat-tempat jauh. Kapal membawa
barang, aroma negeri asing, buah-buahan eksotis, dan berbagai kabar dari dunia
yang tampaknya lebih menyenangkan.
Ironisnya, kapal-kapal itu bisa pergi.
Si pekerja tidak.
Ini mungkin salah satu pengalaman manusia paling
menyakitkan: melihat sesuatu yang bergerak ketika kita sendiri sedang terjebak.
Kapal berangkat menuju negeri tropis.
Kita berangkat menuju kantor.
Kapal melihat laut.
Kita melihat spreadsheet.
Kapal menikmati angin.
Kita menikmati AC kantor yang suhunya disetel oleh seseorang
yang mungkin punya hubungan pribadi dengan kutub utara.
Dan setiap kali melihat kapal meninggalkan pelabuhan, muncul
satu pikiran yang sangat manusiawi:
“Seandainya aku ikut.”
Tetapi kenyataan segera menjawab:
“Tiketnya dari mana?”
Lalu kita kembali bekerja.
Kita Semua Punya Pelabuhan Kelabu
Yang membuat “Emmenez-moi” bertahan begitu lama bukan
semata-mata melodinya yang indah. Lagu itu berbicara tentang pengalaman yang
jauh lebih universal daripada pelabuhan.
Sebab tidak semua orang bekerja di dermaga.
Ada yang terjebak di kantor.
Ada yang terjebak dalam hubungan.
Ada yang terjebak dalam kemacetan.
Ada yang terjebak dalam grup WhatsApp keluarga.
Dan yang paling parah: ada yang terjebak dalam pikirannya
sendiri.
Pelabuhan kelabu setiap orang berbeda.
Bagi seseorang, pelabuhan itu adalah pekerjaan yang tidak
disukai.
Bagi orang lain, rumah yang sudah kehilangan kehangatan.
Bagi sebagian orang, mungkin kehidupan yang tampak baik-baik
saja dari luar tetapi terasa seperti mengulang episode yang sama setiap hari.
Kita bangun.
Mandi.
Sarapan.
Bekerja.
Macet.
Pulang.
Makan.
Menatap layar.
Tidur.
Bangun lagi.
Lalu tiba-tiba kita menyadari bahwa usia sudah bertambah
lima tahun dan kita masih menunggu “nanti kalau sudah punya waktu”.
Masalahnya, waktu tidak pernah benar-benar punya waktu untuk
kita.
Media Sosial: Kapal Modern yang Membuat Kita Ingin Pergi
Kalau Aznavour hidup di zaman Instagram dan TikTok, mungkin
liriknya akan sedikit berubah.
Dahulu sang pekerja pelabuhan melihat kapal membawa aroma
negeri jauh.
Sekarang kita cukup membuka media sosial.
Dalam lima menit, kita bisa melihat seseorang sedang sarapan
di Santorini, berenang di Maldives, minum kopi di Paris, meditasi di Bali,
bekerja dari pantai, atau—yang paling menyakitkan—mengunggah caption:
“Simple life.”
Sambil duduk di vila seharga beberapa juta per malam.
Kita melihat foto itu sambil duduk di kamar dengan kipas
angin yang bunyinya seperti mesin kapal tua.
Lalu muncul pikiran:
“Aku juga ingin hidup seperti itu.”
Kita lupa bahwa yang kita lihat hanya foto.
Kita tidak melihat tagihan vila.
Tidak melihat sakit kepala pemilik akun.
Tidak melihat pertengkaran rumah tangga.
Tidak melihat isi rekening.
Media sosial pada dasarnya adalah pelabuhan modern tempat
kapal-kapal mimpi lewat setiap tiga detik.
Dan kita berdiri di dermaga sambil melakukan satu pekerjaan
penting:
scrolling.
Imajinasi: Tiket Gratis yang Tidak Pernah Kehabisan Masa
Berlaku
Namun di sinilah Aznavour menjadi lebih bijaksana daripada
sekadar penyanyi yang mengajak kita kabur.
Ia memahami bahwa imajinasi bukan sekadar pelarian.
Imajinasi adalah salah satu cara manusia bertahan.
Ketika kenyataan terlalu berat, manusia membangun sebuah
tempat di dalam dirinya sendiri.
Di sana ada matahari.
Ada laut.
Ada musim panas.
Ada cinta.
Ada tangan-tangan yang terbuka untuk menyambutnya.
Dan untuk beberapa saat, ia tidak lagi menjadi buruh yang
lelah.
Ia menjadi seseorang yang ditunggu.
Ini penting.
Sebab mungkin yang sebenarnya kita cari bukanlah pantai.
Bukan pulau tropis.
Bukan negeri asing.
Bukan bahkan liburan.
Yang kita cari adalah perasaan bahwa hidup kita berarti.
Kita ingin merasa bahwa ada tempat di mana keberadaan kita
tidak sekadar dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan, membayar tagihan, dan
memenuhi kewajiban.
Kita ingin disambut.
Kita ingin dicintai.
Kita ingin sesekali merasa bahwa hidup bukan hanya daftar
tugas.
“Il Me Semble”: Sebuah Keraguan yang Justru Jujur
Salah satu keindahan “Emmenez-moi” terletak pada semangat il
me semble—“rasanya”, “sepertinya”.
Perhatikan kata itu.
Bukan:
“Di sana pasti bahagia.”
Melainkan:
“Rasanya di sana akan lebih bahagia.”
Ada perbedaan besar.
Aznavour tidak menjual surga dengan garansi uang kembali.
Ia memahami bahwa manusia sering membayangkan tempat lain
sebagai penyelamat hidupnya.
Kita berkata:
“Nanti kalau pindah kota, aku bahagia.”
“Nanti kalau punya uang, aku tenang.”
“Nanti kalau pensiun, aku menikmati hidup.”
“Nanti kalau menikah, hidup lengkap.”
“Nanti kalau cerai, hidup tenang.”
“Nanti kalau punya rumah, hidup damai.”
“Nanti kalau anak-anak besar, hidup bebas.”
Lalu setelah semua “nanti” itu tiba, kita menemukan masalah
baru.
Ternyata manusia membawa dirinya sendiri ke mana pun ia
pergi.
Kita bisa pindah negara, tetapi kepala tetap ikut.
Kita bisa pindah rumah, tetapi kebiasaan buruk ikut pindah.
Kita bisa pergi ke pantai, tetapi kecemasan ikut membawa
koper.
Bahkan kalau pergi ke pulau terpencil, ponsel masih mungkin
menangkap sinyal.
Jadi sebenarnya yang perlu dibawa pergi bukan selalu tubuh.
Kadang-kadang yang perlu dibawa pergi adalah cara kita
memandang hidup.
Pelarian yang Tidak Sepenuhnya Salah
Ada kecenderungan dalam kehidupan modern untuk memandang
keinginan melarikan diri sebagai kelemahan.
“Jangan lari dari masalah.”
Nasihat ini terdengar bijaksana.
Tetapi kadang-kadang kita memang perlu lari.
Kalau rumah terbakar, kita tidak perlu berdiri di ruang tamu
sambil berkata:
“Saya harus menghadapi masalah ini dengan dewasa.”
Kita keluar.
Begitu pula dalam kehidupan.
Ada saat ketika manusia perlu berhenti.
Pergi.
Mengambil jarak.
Melihat laut.
Berjalan tanpa tujuan.
Membaca buku.
Mendengarkan musik.
Duduk sendirian.
Atau sekadar tidur siang tanpa merasa bersalah.
Sebab tidak semua perjalanan adalah bentuk pengecut.
Kadang perjalanan adalah cara jiwa melakukan servis berkala.
Mobil saja perlu dibawa ke bengkel.
Mengapa manusia merasa dirinya tidak perlu?
Masalahnya Bukan Selalu Pelabuhan
Namun “Emmenez-moi” juga dapat dibaca dengan sedikit
kewaspadaan.
Jangan sampai kita terlalu percaya bahwa kebahagiaan selalu
berada di tempat lain.
Sebab manusia memiliki kebiasaan aneh: ia sering menganggap
rumput tetangga lebih hijau karena belum pernah mencium bau pupuknya.
Kita melihat orang lain hidup di kota besar dan berpikir
mereka bahagia.
Kita tinggal di kota besar dan ingin tinggal di desa.
Orang desa melihat foto kota dan ingin pindah ke kota.
Orang kota ingin ke Bali.
Orang Bali mungkin ingin ke luar Bali.
Orang yang punya pekerjaan ingin pensiun.
Orang yang pensiun rindu bekerja.
Orang lajang ingin menikah.
Orang menikah kadang ingin tidur sendirian di kamar hotel.
Manusia memang makhluk yang luar biasa.
Ia bisa memiliki sesuatu dan merindukan sesuatu yang tidak
dimilikinya pada saat yang sama.
Mungkin itulah sebabnya kita tidak pernah benar-benar
selesai mencari.
Surga Kadang Hanya Sebuah Kursi dan Sore yang Tenang
Barangkali pesan terdalam “Emmenez-moi” bukanlah:
“Tinggalkan hidupmu.”
Melainkan:
“Jangan biarkan hidupmu kehilangan kemampuan untuk
bermimpi.”
Sebab mimpi tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk tiket
pesawat.
Kadang negeri ajaib itu hanya sebuah sore yang tenang.
Secangkir kopi.
Buku yang bagus.
Percakapan dengan orang yang kita cintai.
Tawa anak-anak.
Musik yang tiba-tiba mengingatkan kita pada masa lalu.
Atau duduk di teras rumah sambil melihat langit berubah
warna.
Kita mungkin tidak bisa pergi ke pulau tropis.
Tetapi kita bisa menciptakan sedikit musim panas di dalam
diri.
Kita mungkin tetap harus bekerja.
Tetapi kita tidak harus menyerahkan seluruh jiwa kepada
pekerjaan.
Kita mungkin masih tinggal di pelabuhan yang sama.
Tetapi kita dapat belajar melihat laut dengan cara berbeda.
Pada Akhirnya, Kita Semua Ingin Dibawa Pergi
Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam seruan Emmenez-moi:
“Bawa aku pergi.”
Kita mengatakannya ketika lelah.
Kita mengatakannya ketika kecewa.
Kita mengatakannya ketika kehidupan terlalu penuh suara.
Dan mungkin kita juga mengatakannya ketika diam-diam kita
tahu bahwa ada bagian dalam diri kita yang belum pernah benar-benar hidup.
Tetapi perjalanan paling penting sering kali bukan
perjalanan dari satu negeri ke negeri lain.
Ia adalah perjalanan dari keputusasaan menuju harapan.
Dari kebosanan menuju rasa ingin tahu.
Dari keterasingan menuju kasih sayang.
Dari sekadar bertahan hidup menuju kemampuan untuk kembali
menikmati hidup.
Sebab mungkin kita tidak perlu menunggu kapal datang.
Mungkin kapal itu memang tidak pernah datang.
Mungkin kita harus belajar membuat perahu sendiri.
Walaupun kecil.
Walaupun bocor.
Walaupun mesinnya kadang mogok.
Yang penting bergerak.
Dan kalau ternyata di tengah perjalanan kita menemukan bahwa
“negeri keajaiban” yang selama ini kita cari ternyata tidak sempurna?
Tidak apa-apa.
Kita sudah belajar sesuatu yang penting:
Surga yang kita bayangkan mungkin tidak pernah ada persis
seperti dalam mimpi. Tetapi manusia tetap membutuhkan mimpi agar sanggup
menjalani kenyataan.
Jadi, ketika hidup terasa seperti pelabuhan kelabu, jangan
buru-buru membenci pelabuhannya.
Dengarkan musik.
Tatap laut.
Bayangkan perjalanan.
Istirahatlah.
Lalu, kalau memang ada kesempatan, berangkatlah.
Tetapi jangan lupa membawa satu benda yang sering
tertinggal:
diri kita sendiri.
Sebab ke mana pun kita pergi, itulah penumpang yang paling
sulit ditinggalkan.
Dan sayangnya, dia tidak pernah mau membayar tiket sendiri.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026


