Senin, 16 Februari 2026

Di Balik Keriput, Tersimpan Mahkota

(Atau: Mengapa Uban Lebih Dekat ke Kebijaksanaan daripada Filter Instagram)

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang mengukur kebahagiaan dengan jumlah likes dan garis rahang yang tegas, tiba-tiba muncul sebuah kabar mengejutkan dari jagat maya. Bukan soal selebritas baru, bukan pula teknologi yang bisa membuat kopi tanpa gula tetap manis, melainkan sebuah tweet dari akun Massimo yang dengan santai mengabarkan: “Santai saja, puncak kejernihan hidup itu bukan di usia 20-an. Tunggu saja… sekitar 60.”

Ini adalah kabar yang membuat dua kelompok manusia bereaksi berbeda. Anak muda berkata, “Ah, masih lama.” Sementara yang sudah mendekati 60 berkata, “Nah, akhirnya penelitian mengakui!”

Penelitian yang dimaksud—diterbitkan di jurnal Intelligence oleh Gilles Gignac dan Marcin Zajenkowski—menjelaskan sesuatu yang selama ini kita rasakan tapi sering kita bantah demi menjaga gengsi: bahwa cepat itu belum tentu tepat.

Ferrari Tanpa GPS vs Tank Berpeta

Mari kita jujur. Usia 20-an itu seperti mengendarai Ferrari. Cepat, responsif, penuh gaya. Masalahnya cuma satu: sering tidak tahu mau ke mana.

Di usia ini, otak kita sedang berada pada puncak fluid intelligence—cepat menangkap informasi, hafal banyak hal, dan bisa debat sampai subuh tanpa kehabisan energi. Tapi, keputusan hidup? Ah, itu sering seperti memilih menu di warung padang: cepat, banyak, tapi nanti menyesal.

Sementara itu, memasuki usia 50-60, Ferrari tadi mungkin sudah diganti dengan kendaraan yang… tidak terlalu “Instagramable”. Katakanlah tank. Lambat? Mungkin. Tapi:

  • Tidak mudah goyah
  • Tahan banting
  • Dan yang paling penting: punya peta

Di fase ini, manusia tidak lagi hanya cepat berpikir, tetapi juga tepat berpikir. Ia tahu kapan harus diam, kapan harus bicara, dan—yang paling langka—kapan harus tidak ikut berkomentar di grup WhatsApp keluarga.

Ketika Emosi Tidak Lagi Drama

Penelitian tadi menunjukkan sesuatu yang menarik: semakin bertambah usia, semakin stabil emosi seseorang.

Kalau di usia 20-an kita bisa marah hanya karena pesan “dibaca tapi tidak dibalas”, maka di usia 60-an kita akan berkata:

“Ah, mungkin dia lagi sibuk… atau memang tidak penting.”

Ini bukan karena kita menjadi cuek. Ini karena kita sudah terlalu sering melihat drama kehidupan untuk tahu bahwa sebagian besar masalah… tidak perlu diperbesar.

Kesadaran diri meningkat. Penilaian moral matang. Bias berpikir mulai berkurang. Singkatnya, manusia mulai memahami satu hal penting:

Tidak semua hal harus ditanggapi.

Sebuah pencapaian yang lebih sulit daripada lulus ujian matematika.

Midlife Crisis? Atau Midlife Upgrade?

Selama ini, kita sering mendengar istilah midlife crisis. Gambaran klasiknya: seseorang membeli motor besar, mulai berpakaian seperti anak muda, dan tiba-tiba hobi kopi berubah dari “kopi sachet” menjadi “single origin dengan catatan rasa karamel dan kesedihan masa lalu”.

Namun, penelitian ini seperti berkata:

“Tenang. Itu bukan krisis. Itu proses update.”

Karena pada kenyataannya, usia paruh baya bukanlah awal penurunan, melainkan fase penyempurnaan. Kita mulai:

  • Lebih bijak dalam mengambil keputusan
  • Lebih sabar menghadapi manusia (yang ternyata memang rumit)
  • Dan lebih paham bahwa kebahagiaan tidak selalu perlu diumumkan

Keriput bukan lagi tanda “menua”, tapi tanda bahwa hidup sudah cukup lama kita pelajari.

Mahkota yang Tidak Terlihat

Masalahnya, dunia modern masih terjebak pada estetika muda. Kulit harus kencang, energi harus tinggi, dan produktivitas harus seperti mesin.

Padahal, ada jenis kecerdasan lain yang tidak bisa diukur dengan kecepatan: kebijaksanaan.

Dan kebijaksanaan ini, seperti kopi terbaik, tidak bisa instan. Ia butuh waktu, pengalaman, bahkan sedikit kepahitan.

Itulah mengapa banyak pemimpin, pengambil keputusan, dan orang-orang yang “tenang tapi menentukan” sering berada di usia yang lebih matang. Bukan karena mereka tidak bisa cepat, tapi karena mereka tahu kapan tidak perlu cepat.

Menjadi Versi Lengkap Diri Sendiri

Pada akhirnya, menua bukanlah tentang kehilangan kemampuan, melainkan tentang mengganti jenis kemampuan.

Dari cepat menjadi tepat.
Dari reaktif menjadi reflektif.
Dari sekadar pintar menjadi… bijaksana.

Jika usia muda adalah masa kita mengumpulkan pengalaman, maka usia matang adalah masa kita memahami pengalaman itu.

Dan mungkin, di situlah letak puncaknya.

Bukan saat kita bisa menjawab semua pertanyaan,
tetapi saat kita tahu… pertanyaan mana yang tidak perlu dijawab.

Jadi, jika hari ini Anda menemukan uban pertama, jangan panik. Itu bukan tanda akhir, melainkan notifikasi kecil dari kehidupan:

“Selamat, Anda sedang mendekati level berikutnya.”

Dan seperti semua level yang lebih tinggi, musuhnya mungkin lebih sulit…
tapi Anda juga sudah jauh lebih pintar.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Minggu, 15 Februari 2026

Ikhlas, Sanad, dan Karamah

Di tengah dunia yang serba cepat—di mana kopi harus instan, pesan harus dibalas cepat, dan doa pun kadang diharapkan same-day delivery—episode ke-39 “Kisah Sang Kiai” muncul seperti Wi-Fi gratis di tengah hutan. Ia tidak menawarkan kecepatan, tetapi kedalaman. Tidak menjanjikan hasil, tapi mengajarkan proses. Dan yang paling penting, ia mengingatkan kita bahwa spiritualitas bukanlah aplikasi yang bisa di-install, tapi jalan panjang yang kadang lebih mirip antrean BPJS daripada jalan tol.

Ikhlas: Olahraga Hati Tanpa Garis Finish

Kita sering mengira ikhlas itu seperti checklist: niat ✔️, amal ✔️, selesai. Padahal menurut kisah ini, ikhlas itu bukan checklist, tapi treadmill—Anda lari di tempat, capek, tapi tetap harus lanjut. Bedanya, treadmill ini tidak punya tombol “off”.

Konsep ini sejalan dengan wejangan para ulama besar seperti Abdul Qadir al-Jailani yang mengingatkan bahwa istikamah lebih utama daripada seribu karamah. Artinya, daripada sibuk berharap bisa jalan di atas air, mending fokus dulu bisa jalan lurus ke masjid lima waktu.

Di sini, ikhlas tidak diukur dari “feeling tenang” atau “doa langsung dikabulkan”. Kalau itu indikatornya, kita semua pasti sudah resign dari dunia keikhlasan sejak lama. Ikhlas justru terlihat dari hal yang membosankan: konsistensi. Datang shalat tepat waktu, walau tidak ada yang lihat. Bersedekah tanpa perlu update status. Dan yang paling berat: berbuat baik tanpa berharap di-notice.

Ikhlas itu seperti Wi-Fi—tidak kelihatan, tapi kalau tidak ada, semua sistem error.

Sanad: Jangan Belajar Spiritual dari Grup WhatsApp

Di era sekarang, belajar agama kadang lebih mirip scroll TikTok: satu menit belajar tasawuf, dua menit kemudian sudah pindah ke tutorial masak mie instan level sufi.

“Kisah Sang Kiai” mengingatkan satu hal penting: sanad. Ilmu itu harus nyambung. Jangan sampai kita belajar spiritualitas dari “kata teman”, yang katanya lagi dapat dari “kata temannya lagi”, yang ujung-ujungnya sumbernya adalah “katanya”.

Sanad itu ibarat paralon yang tersambung ke sumur Rasulullah, yaitu Muhammad. Kalau sambungannya benar, airnya jernih. Kalau tidak, ya siap-siap minum air got dengan label “hikmah”.

Tanpa sanad, amalan itu seperti pompa air tanpa air: bunyi “ngiiiing…” keras, tapi yang keluar cuma angin. Lebih parah lagi, tanpa bimbingan guru, orang bisa nyasar—bukannya mendekat ke Tuhan, malah sibuk negosiasi dengan “makhluk lain” yang tidak masuk kurikulum tauhid.

Dan di sinilah pentingnya guru. Bukan untuk disembah, tapi untuk memastikan kita tidak salah arah. Karena di jalan spiritual, GPS tidak tersedia—yang ada hanya “ikuti yang sudah sampai”.

Karamah: Bonus, Bukan Paket Utama

Bagian paling menarik (dan paling rawan disalahpahami) adalah soal karamah.  Manusia sering mengejar karamah seperti mengejar promo diskon, padahal itu cuma bonus item. Yang utama itu tetap ikhlas dan istikamah.

Bayangkan seseorang datang ke gym hanya untuk foto di depan kaca, tanpa pernah angkat beban. Karamah tanpa ikhlas ya seperti itu—gaya ada, isi nihil.

Spiritualitas vs Realitas: Antara Pabrik dan Langit

Yang membuat kisah ini semakin menarik adalah latarnya: kehidupan pekerja migran di Arab Saudi. Bukan di gunung sunyi, bukan di pesantren terpencil, tapi di pabrik. Tempat di mana suara mesin lebih sering terdengar daripada suara hati.

Di tengah rutinitas yang monoton, sang kiai tetap menjaga ibadah. Bahkan menolak “gaji buta”—sebuah sikap yang di zaman sekarang bisa dianggap “kurang update”.

Padahal di dunia modern, ukuran sukses seringkali sederhana: “yang penting cuan”. Tapi kisah ini menawarkan perspektif lain: “yang penting berkah”.

Konsep asbab dan tajrid juga muncul dengan indah. Kita tetap harus kerja (karena listrik tidak bisa dibayar pakai zikir saja), tapi hati tidak boleh bergantung pada gaji. Kalau gaji naik, jangan sombong. Kalau turun, jangan panik. Karena yang memberi rezeki bukan HRD, tapi Allah.

Ini semacam mindfulness versi langit: kerja di bumi, hati di atas.

Jangan Jadi "Hamba Instan"

Akhirnya, “Kisah Sang Kiai” ini seperti tamparan halus bagi kita yang ingin semuanya cepat: cepat kaya, cepat sukses, bahkan cepat “dekat dengan Tuhan”.

Padahal jalan spiritual itu bukan jalan pintas, tapi jalan napas—pelan, berulang, dan harus dijalani terus.

Ikhlas itu proses tanpa ujung.
Sanad itu peta agar tidak tersesat.
Karamah itu bonus, bukan tujuan.

Dan mungkin, pelajaran paling penting dari kisah ini adalah:
kalau Anda mulai dianggap “orang sakti”, segera cek lagi—jangan-jangan Anda cuma viral, bukan spiritual.

Karena pada akhirnya, menjadi hamba itu bukan soal terlihat luar biasa, tapi tetap setia dalam hal-hal biasa.

Dan di dunia yang penuh pencitraan ini, istiqamah diam-diam mungkin justru karamah yang paling langka.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Rahasia Umur Panjang: Ketika Nenek Mengalahkan Silicon Valley

Di zaman ketika manusia bisa memesan kopi lewat aplikasi, jatuh cinta lewat algoritma, dan bahkan merasa lelah lewat notifikasi, kita dikejutkan oleh sebuah kabar yang nyaris terdengar seperti lelucon: umur panjang ternyata tidak ditemukan di startup kesehatan berbasis AI, melainkan di pangkuan nenek—lebih tepatnya, di keranjang rajutannya.

Sebuah studi dari University of Helsinki menemukan bahwa perempuan yang rajin melakukan apa yang secara penuh kasih disebut sebagai “hobi nenek”—merajut, menjahit, menyulam, dan berkebun—bisa hidup hingga delapan tahun lebih lama.

Delapan tahun.

Itu bukan sekadar bonus waktu; itu cukup untuk menamatkan satu serial drama panjang, mencoba diet yang gagal tiga kali, dan tetap punya waktu untuk menyesalinya.

Ketika Jarum Rajut Mengalahkan Meditasi Digital

Mari kita jujur. Di era modern, untuk menenangkan diri, kita biasanya membuka aplikasi meditasi, memakai headphone mahal, lalu mendengarkan suara seseorang berbisik:

“Tarik napas… lepaskan stres…”

Lima detik kemudian, kita malah memikirkan cicilan, deadline, dan kenapa mantan kita masih bahagia.

Bandingkan dengan nenek.

Ia duduk, mengambil benang, dan mulai merajut. Tidak ada aplikasi. Tidak ada notifikasi. Hanya gerakan sederhana: masuk, tarik, simpul, ulangi.

Ajaibnya, gerakan repetitif ini secara ilmiah menurunkan hormon stres seperti kortisol. Jadi, sementara kita sibuk “mencari ketenangan” lewat teknologi, nenek sudah lebih dulu menemukannya—tanpa Wi-Fi, tanpa langganan premium.

Jika meditasi modern adalah guided, maka merajut adalah guided by pengalaman hidup dan sedikit kesabaran.

Kebahagiaan yang Bisa Dipakai (dan Dipamerkan)

Salah satu masalah terbesar manusia modern adalah kita sering merasa tidak menghasilkan apa-apa—meskipun sibuk sepanjang hari.

Kita mengetik, mengklik, menggulir, dan pada akhirnya… ya, kita hanya memindahkan data dari satu layar ke layar lain.

Nenek tidak punya masalah itu.

Ia mulai dari sehelai benang, dan beberapa jam kemudian—boom—sebuah syal.

Syal itu nyata. Bisa disentuh. Bisa dipakai. Bahkan bisa diwariskan, lengkap dengan cerita:

“Ini dibuat waktu listrik mati tiga hari.”

Bayangkan kepuasan itu. Kita di dunia modern mendapatkan dopamine dari notifikasi “like”, sementara nenek mendapatkan kepuasan dari sesuatu yang benar-benar ada.

Dan lebih hebat lagi, kalau hasil rajutannya jelek, nenek tinggal bilang:

“Ini motif baru.”

Selesai. Percaya diri tetap utuh.

Gym untuk Otak (Tanpa Membership dan Tanpa Selfie)

Kita hidup di zaman di mana orang pergi ke gym bukan hanya untuk sehat, tapi juga untuk foto.

Namun, nenek melakukan “latihan” yang jauh lebih kompleks tanpa perlu cermin besar.

Merajut butuh pola. Menyulam butuh ketelitian. Berkebun butuh strategi menghadapi hama, cuaca, dan tetangga yang suka memetik tanpa izin.

Semua itu melatih otak.

Sementara kita sibuk melatih jempol untuk scrolling, nenek melatih memori, fokus, dan kesabaran.

Jika otak adalah otot, maka nenek sudah melakukan full-body workout sejak sebelum istilah itu populer.

Terapi Tanah vs Terapi Timeline

Ada satu lagi rahasia besar dari “hobi nenek”: hubungan dengan dunia nyata.

Berkebun, misalnya, mengharuskan kita menyentuh tanah, memahami musim, dan menerima satu fakta pahit kehidupan:

Tidak semua yang kita tanam akan tumbuh.

Sebuah pelajaran eksistensial yang dalam.

Bandingkan dengan timeline media sosial, di mana semua orang tampak sukses, bahagia, dan punya tanaman yang selalu berbunga.

Di kebun, realitas lebih jujur. Dan justru karena itu, ia lebih menenangkan.

Kekalahan Telak Peradaban Digital

Temuan dari University of Helsinki ini secara tidak langsung adalah pukulan halus bagi peradaban modern.

Kita membangun teknologi untuk membuat hidup lebih mudah, lebih cepat, dan lebih efisien.

Namun ternyata, untuk hidup lebih lama dan lebih bahagia, kita justru perlu melakukan sesuatu yang:

  • Lambat

  • Sederhana

  • Berulang

  • Dan… sedikit membosankan

Dengan kata lain, kita harus menjadi sedikit seperti nenek.

Kesimpulan: Menuju Revolusi Nenekisme

Mungkin sudah saatnya kita mempertimbangkan sebuah gerakan baru:

Nenekisme.

Sebuah filosofi hidup yang percaya bahwa kebahagiaan tidak ditemukan di layar, melainkan di tangan yang sibuk mencipta.

Bahwa ketenangan tidak datang dari notifikasi yang dimatikan, tetapi dari benang yang disimpul.

Dan bahwa umur panjang bukan hasil dari biohacking yang rumit, melainkan dari kebiasaan sederhana yang dilakukan dengan penuh kesabaran.

Jadi, jika suatu hari Anda merasa hidup terlalu cepat, terlalu bising, dan terlalu melelahkan—cobalah bertanya pada diri sendiri:

“Apa yang akan dilakukan nenek?”

Kemungkinan besar, jawabannya bukan membuka aplikasi.

Melainkan… mengambil benang.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, merajut sedikit demi sedikit umur panjang kita sendiri.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Mahar, Gengsi, dan Dompet yang Menjerit

Di zaman ketika harga cabai bisa bikin orang lebih emosional daripada mantan yang tiba-tiba menikah, pernikahan justru ikut-ikutan jadi mahal. Bukan mahal secara cinta—itu sih katanya gratis—tapi mahal secara finansial, sampai-sampai calon pengantin pria lebih sering membuka aplikasi kalkulator daripada membuka hati.

Di tengah situasi ekonomi yang membuat dompet terasa seperti puasa sunnah setiap hari, muncullah suara menyejukkan dari seorang ulama Aceh, Hasanoel Basri HG. Beliau dengan santai tapi menusuk, mengingatkan bahwa mahar itu tidak perlu mahal. Pernikahan itu ibadah, bukan lomba “Siapa Paling Kaya Tapi Ngutang”.

Pesan ini terasa seperti angin segar—atau lebih tepatnya, seperti diskon 90% di tengah inflasi.

Mahar: Simbol atau Simpanan Berjangka?

Dalam praktik kekinian, mahar sering kali berubah fungsi. Dari simbol kesungguhan menjadi semacam “investasi awal” yang bikin calon suami berpikir: “Ini nikah atau KPR?”

Padahal, menurut ajaran Muhammad, keberkahan pernikahan justru ada pada yang paling ringan maharnya. Tapi entah kenapa, sebagian masyarakat menafsirkan “ringan” sebagai “ringan kalau pakai emas 100 gram, bukan 200 gram.”

Di sinilah logika mulai goyah. Mahar yang seharusnya jadi tanda cinta, berubah jadi alat ukur gengsi. Seolah-olah semakin berat mahar, semakin berat pula cinta—padahal yang sering berat justru cicilannya.

Akad Nikah vs. Acara Nikah

Abu Mudi dengan jernih memisahkan dua hal yang sering dicampuradukkan:

  • Akad nikah → sakral, sederhana, dan penuh doa

  • Resepsi → sosial, meriah, dan penuh nasi kotak

Masalahnya, di lapangan, yang sakral kadang cuma 10 menit, sementara yang sosial bisa 10 jam (dan 10 juta).

Bahkan ada fenomena unik: pasangan yang menikah dengan niat membangun keluarga sakinah, tapi setelah resepsi justru membangun cicilan bersama.

Lebih romantis, sih, tapi bukan itu maksudnya.

Gengsi: Musuh Dalam Dompet

Budaya gengsi ini seperti hantu tak kasat mata. Tidak ada bentuknya, tapi dampaknya nyata—terutama di rekening bank.

Orang tua sering berkata:

“Minimal jangan kalah sama tetangga.”

Padahal tetangga itu sendiri masih mencicil utang resepsi anaknya.

Akhirnya, pernikahan berubah menjadi ajang kompetisi sosial:

  • Siapa pelaminnya paling megah

  • Siapa undangannya paling banyak

  • Siapa yang paling lama bayar utang setelahnya

Kalau ini dilombakan, mungkin sudah ada medali emasnya.

Nikah atau Nunda? Itu Pertanyaannya

Karena mahalnya biaya, banyak anak muda memilih menunda pernikahan. Bukan karena tidak cinta, tapi karena:

“Cinta saja tidak cukup untuk bayar katering.”

Padahal, semakin lama ditunda, semakin besar risiko “cinta dialihkan ke yang lain”. Ini bukan teori, ini realita sosial yang sering terjadi.

Di sinilah pesan Hasanoel Basri HG. alias Abu Mudi jadi relevan: mempermudah pernikahan bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal menjaga moral.

Karena, jujur saja, biaya nikah yang mahal sering kali lebih berbahaya daripada godaan itu sendiri.

Solusi: Nikah Minimalis, Bahagia Maksimal

Bayangkan sebuah konsep baru: “Nikah Minimalis”.

  • Mahar sederhana

  • Akad khusyuk

  • Resepsi secukupnya

  • Tanpa utang

  • Tanpa stres

  • Tanpa drama Excel keuangan

Hasilnya?
Rumah tangga dimulai dengan senyum, bukan spreadsheet.

Dan yang paling penting: cinta tidak dikurangi, hanya biaya yang dipangkas.

Cinta Tidak Diukur Gram

Pada akhirnya, pernikahan bukan tentang angka:

  • bukan berapa gram emas

  • bukan berapa juta biaya

  • bukan berapa banyak tamu

Tapi tentang dua orang yang siap hidup bersama—dalam suka, duka, dan… tagihan listrik.

Seruan Abu Mudi ini seperti alarm bagi kita semua: jangan sampai pernikahan yang seharusnya memudahkan hidup, justru menjadi pintu masuk kesulitan baru.

Karena sejatinya, yang membuat rumah tangga langgeng bukanlah kemewahan awal, tetapi kesederhanaan yang penuh berkah.

Dan jika masih ragu, ingat satu prinsip sederhana:

Lebih baik nikah sederhana tapi bahagia, daripada resepsi mewah tapi masih bayar sampai anak masuk sekolah.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026 

Keheningan: Investasi Dua Jam untuk Otak yang Lelah Jadi Grup WhatsApp

Di zaman ketika ponsel lebih cerewet daripada tetangga komplek, hidup kita tak ubahnya grup WhatsApp keluarga: ramai, berisik, dan penuh pesan yang sebenarnya tidak kita minta. Notifikasi berdenting seperti azan versi kapitalisme digital—memanggil kita bukan ke masjid, tapi ke timeline. Di tengah kebisingan ini, sebuah tweet dari akun sains populer NextScience muncul seperti suara ibu yang tiba-tiba berkata, “Sudah, matikan HP-nya dulu.”

Pesannya sederhana namun mengguncang: dua jam keheningan setiap hari bisa membantu otak menumbuhkan sel baru. Dua jam! Sebuah durasi yang bagi manusia modern terasa lebih mustahil daripada diet tanpa gorengan.

Otak Kita Bukan Mesin Kopi, Tapi Lebih Mirip Warung yang Tak Pernah Tutup

Selama ini kita memperlakukan otak seperti mesin kopi: harus terus dipanaskan, dipakai, dan diisi ulang dengan informasi. Kalau tidak scrolling, ya nonton. Kalau tidak nonton, ya denger podcast. Pokoknya otak harus sibuk, karena kalau diam sedikit saja, kita takut tiba-tiba mikir tentang masa depan.

Namun menurut studi ilmiah yang dikutip dalam tweet tersebut—penelitian oleh Imke Kirste—keheningan justru memicu neurogenesis, yaitu kelahiran sel-sel otak baru, khususnya di hippocampus. Ini bagian otak yang bertanggung jawab atas memori dan navigasi—dua hal yang ironisnya sering kita serahkan ke Google Maps dan “ingatan kolektif Twitter”.

Dalam penelitian itu, tikus yang diberi dua jam keheningan per hari ternyata mengalami pertumbuhan neuron baru yang lebih signifikan dibanding tikus yang mendengarkan musik atau noise. Artinya, bagi otak, keheningan bukanlah “mati gaya”, melainkan “mode upgrade”.

Kalau otak kita bisa bicara, mungkin dia akan bilang:
"Bro, aku bukan butuh podcast motivasi. Aku butuh diem."

Masalahnya: Kita Lebih Takut Hening daripada Kehabisan Kuota

Keheningan bagi manusia modern bukan lagi hal alami, tapi kondisi yang mencurigakan. Saat suasana tiba-tiba sepi, kita refleks:
“Kenapa ya? Internet mati?”

Padahal, justru di situlah otak mulai bekerja dengan cara yang lebih dalam. Tanpa gangguan, ia mulai merapikan “file-file kehidupan” yang selama ini tercecer: kenangan, ide, bahkan trauma yang kita sembunyikan di folder “nanti saja”.

Namun, seperti biasa, sains populer punya kebiasaan sedikit lebay. Klaim bahwa keheningan bisa “membentuk ulang otak” terdengar seperti iklan skincare: “Pakai ini, wajah langsung glowing!” Padahal kenyataannya lebih kompleks. Studi tersebut dilakukan pada tikus, bukan manusia yang tiap lima menit cek notifikasi.

Selain itu, “keheningan” dalam eksperimen adalah kondisi hampir tanpa suara sama sekali—semacam ruang hampa bunyi. Bukan “hening” versi kita yang masih ditemani suara motor lewat, ayam tetangga, dan status WA yang diam-diam kita cek.

Jadi, kalau setelah dua jam diam Anda tidak langsung jadi jenius, tenang. Itu bukan berarti sains salah. Mungkin Anda cuma masih hidup di Indonesia.

Keheningan: Barang Mewah yang Gratis Tapi Susah Didapat

Di era digital, keheningan adalah kemewahan yang ironis: gratis, tapi sulit dimiliki. Kita rela bayar mahal untuk liburan ke pegunungan hanya untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya bisa kita dapatkan dengan satu tombol: airplane mode.

Masalahnya, menekan tombol itu terasa seperti tindakan revolusioner. Kita bukan hanya mematikan sinyal, tapi juga mematikan akses ke validasi sosial, berita terbaru, dan—yang paling penting—gosip.

Padahal, dari sudut pandang kesehatan mental, keheningan itu seperti “puasa bagi otak”. Ia memberi jeda, membersihkan, dan mengembalikan keseimbangan. Praktik seperti meditasi atau mindfulness pada dasarnya adalah upaya sadar untuk menciptakan ruang sunyi di tengah dunia yang ribut.

Tanpa keheningan, otak kita seperti browser dengan 100 tab terbuka—lambat, panas, dan sewaktu-waktu bisa crash.

Dua Jam Hening: Antara Idealisme dan Realita

Sekarang pertanyaannya: apakah kita benar-benar bisa hening dua jam sehari?

Bagi sebagian orang, dua jam hening itu terdengar seperti hukuman.
“Dua jam tanpa HP? Saya mau disuruh lari 10 km saja deh.”

Namun mungkin kita tidak perlu langsung ekstrem. Keheningan bisa dimulai dari hal kecil: 10 menit tanpa layar, berjalan tanpa musik, atau duduk tanpa melakukan apa-apa—yang bagi generasi sekarang sudah termasuk aktivitas ekstrem.

Karena sejatinya, keheningan bukan tentang tidak melakukan apa-apa, tapi memberi ruang bagi sesuatu yang selama ini tertutup oleh kebisingan: kesadaran.

Diam Itu Bukan Kosong, Tapi Penuh yang Belum Kita Dengarkan

Tweet dari NextScience mungkin hanyalah satu dari sekian banyak konten yang lewat di timeline kita. Tapi ironisnya, pesan tentang keheningan itu sendiri harus bersaing dengan ribuan suara lain.

Namun jika kita berani mencobanya—mematikan sejenak dunia luar—kita mungkin akan menemukan sesuatu yang selama ini hilang: ruang untuk berpikir, merasakan, dan menjadi manusia yang tidak sekadar bereaksi terhadap notifikasi.

Di dunia yang terus berteriak, keheningan adalah bentuk perlawanan.
Dan mungkin, juga bentuk ibadah kecil yang selama ini kita abaikan.

Jadi, sebelum Anda membuka aplikasi berikutnya, mungkin ada baiknya bertanya:
Sudahkah hari ini saya memberi otak saya kesempatan untuk diam, atau setidaknya, tidak disuruh ikut rapat tanpa agenda?
abah-arul.blogspot.com.,Februari 2026

Sabtu, 14 Februari 2026

Ketika Swedia “Tobat Digital” dan Buku Kembali Jadi Selebriti Kelas

Di sebuah dunia yang begitu memuja layar—dari layar ponsel, layar tablet, hingga layar harapan hidup—tiba-tiba datang kabar dari Swedia yang membuat kita mengucek mata. Negara yang selama ini dianggap sebagai “ustaz digital” pendidikan modern, mendadak seperti santri yang baru sadar: “Eh, kitab itu ternyata penting ya?”

Ya, melalui sebuah tweet viral dari akun @Rainmaker1973, Swedia memutuskan menggelontorkan dana lebih dari €100 juta atau sekitar 1.998 triliun rupiah  untuk mengembalikan buku cetak ke ruang kelas. Tablet yang sebelumnya dielu-elukan kini seperti mantan: masih ada, tapi posisinya sudah tidak utama lagi.

Plot twist pendidikan, kalau kata anak sekarang.

Dari “Digital First” ke “Paper Comeback Tour”

Dulu, Swedia adalah duta besar dunia untuk konsep digital-first learning. Anak-anak dibekali tablet sejak dini, seolah-olah masa depan ditentukan oleh seberapa cepat jari mereka bisa swipe, bukan seberapa dalam mereka bisa berpikir.

Namun, setelah bertahun-tahun hidup bersama layar, Swedia tampaknya mengalami fase introspeksi nasional. Mereka mulai bertanya:

“Kenapa anak-anak kita bisa fokus 3 jam main game, tapi 3 menit baca buku sudah seperti menjalani ujian hidup?”

Jawabannya sederhana: layar itu seperti warung kopi—banyak godaan. Mau baca satu paragraf, tiba-tiba muncul notifikasi. Mau belajar sejarah, malah terseret ke video kucing yang “bersejarah”.

Akhirnya, pemerintah Swedia mengambil langkah drastis: kembalikan buku!
Karena ternyata, buku itu seperti teman lama—diam, setia, dan tidak pernah minta notifikasi.

Ilmu Pengetahuan vs Scroll Tanpa Akhir

Secara ilmiah, keputusan ini tidak datang dari mimpi semalam. Banyak penelitian menunjukkan bahwa membaca di layar membuat otak bekerja seperti sedang dikejar deadline: cepat, dangkal, dan penuh distraksi.

Sebaliknya, membaca buku cetak itu seperti jalan santai di taman: pelan, dalam, dan—yang paling penting—tidak ada iklan tiba-tiba muncul di tengah paragraf.

Buku tidak pernah bilang:

“Lanjutkan membaca setelah menonton 2 iklan.”

Ini keunggulan yang sulit ditandingi teknologi mana pun 

Drama yang Terjadi: “Tablet Disalahkan!”

Namun, seperti biasa dalam kehidupan, kita suka mencari kambing hitam. Dalam kasus ini, tablet hampir dijadikan tersangka utama penurunan kualitas pendidikan.

Padahal, kalau mau jujur, masalahnya tidak sesederhana itu. Ada pandemi, ada perubahan sosial, ada tantangan integrasi, dan ada juga faktor klasik: malas belajar yang lintas zaman.

Dari zaman papan tulis hingga layar sentuh, satu hal tetap konstan:

“PR tetap terasa berat.”

Jadi, menyalahkan tablet sepenuhnya itu seperti menyalahkan sendok karena kita makan terlalu banyak. Sendoknya cuma alat, bukan pelaku utama.

Swedia Tidak Mundur, Hanya “Revisi Strategi”

Yang menarik, Swedia sebenarnya tidak benar-benar meninggalkan teknologi. Mereka hanya melakukan apa yang dalam bahasa halus disebut “rekalibrasi”, dan dalam bahasa jujur disebut:

“Kayaknya kita kebablasan deh.”

Buku kembali jadi fondasi, sementara teknologi diturunkan pangkatnya menjadi asisten—bukan lagi bos besar.

Ini seperti hubungan kerja yang sehat: teknologi membantu, tapi tidak mengambil alih seluruh kehidupan.

Pelajaran untuk Indonesia: Jangan Terlalu Cepat Jadi Futuristik

Bagi Indonesia, yang sedang semangat-semangatnya digitalisasi sekolah, kisah Swedia ini terasa seperti pesan dari masa depan:

“Tenang dulu, jangan semua anak dikasih tablet sebelum dia bisa fokus membaca satu halaman.”

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal siapa yang paling canggih, tapi siapa yang paling memahami cara manusia belajar.

Dan manusia, sejauh ini, masih belum berevolusi menjadi makhluk yang bisa fokus sambil melihat notifikasi 17 kali per menit.

Buku Itu Boring, Tapi Setia

Swedia mengajarkan kita satu hal penting: kemajuan bukan berarti meninggalkan masa lalu, tapi memilih yang terbaik dari keduanya.

Buku mungkin tidak interaktif, tidak berwarna-warni, dan tidak bisa di-zoom. Tapi buku punya satu keunggulan yang tidak dimiliki teknologi modern:

Ia tidak pernah mengalihkan perhatian kita dari berpikir.

Di dunia yang penuh distraksi, itu sudah seperti superpower.

Jadi mungkin, di masa depan, anak-anak akan berkata:

“Dulu, sebelum AI dan VR, ada benda ajaib bernama buku.
Dan anehnya… dari situlah kita benar-benar belajar berpikir.”

Dan Swedia, dengan segala kecanggihannya, akhirnya mengakui:

“Kadang, untuk maju, kita perlu membuka… halaman lama.”

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Revolusi Sunyi di Ruang Kelas Maya: Ketika Dosen, AI, dan Deadline Akhirnya Berdamai

Di zaman ketika notifikasi lebih berisik daripada hati nurani, sebuah tweet dari akun misterius @ihtesham2005 tiba-tiba menjadi semacam wahyu digital. Isinya sederhana: seorang profesor dari Massachusetts Institute of Technology secara tidak sengaja memamerkan cara ia menilai tugas mahasiswa lewat Zoom. Namun, seperti semua kejadian “tidak sengaja” di era digital, ini terasa sangat disengaja oleh semesta—seperti takdir yang berkata, “Sudah, akui saja, manusia lelah membaca esai 47 halaman tentang ‘peran kopi dalam eksistensialisme’.”

Dan benar saja, kisah ini bukan sekadar tentang teknologi. Ini adalah kisah tentang dendam lama para dosen terhadap tumpukan PDF.

Efisiensi Super: Dari Lelah Jadi Lega (Dan Sedikit Curiga)

Bayangkan hidup seorang dosen sebelum AI: kopi di tangan kanan, esai di tangan kiri, dan eksistensi di tangan Tuhan. Enam jam membaca tulisan mahasiswa yang kadang terasa seperti fan fiction dari Wikipedia.

Lalu datanglah sebuah alat dari Google bernama NotebookLM. Dengan penuh percaya diri, sang profesor mengunggah 47 esai sekaligus, lengkap dengan rubrik penilaian. Dalam waktu 15 menit, semua selesai.

Lima belas menit.

Waktu yang biasanya dipakai dosen untuk… mencari alasan menunda grading.

AI ini bukan hanya memberi nilai, tetapi juga:

  • Membandingkan gaya tulisan mahasiswa dengan tugas sebelumnya (alias: “ini kamu atau ChatGPT yang nulis?”)
  • Menemukan tiga kasus mencurigakan (AI sekarang bukan cuma pintar, tapi juga agak curiga)
  • Memberikan feedback personal yang bahkan mengingatkan materi kuliah (yang mahasiswa sendiri mungkin lupa)

Di titik ini, dosen mulai mengalami krisis identitas:
“Kalau semua ini bisa dilakukan AI… saya ini sebenarnya siapa?”

AI: Asisten atau Detektif?

Yang menarik, AI tidak sekadar cepat. Ia juga teliti dengan gaya agak paranoid.

Prompt kedua—yang membandingkan gaya penulisan—adalah fitur yang membuat AI terasa seperti dosen senior yang sudah makan asam garam plagiarisme. Ia tidak hanya membaca tulisan, tapi “merasakan aura” tulisan itu.

Kalimat seperti:

“Ini bukan kamu yang nulis.”

Sekarang bukan lagi intuisi dosen, tapi hasil analisis algoritma.

Mahasiswa pun mulai gelisah. Mereka yang tadinya percaya diri memakai AI untuk menulis tugas, kini harus menghadapi AI lain yang bertugas membongkar penggunaan AI. Sebuah lingkaran takdir yang ironis:
AI melawan AI, manusia jadi penonton.

Demokratisasi Feedback: Semua Mahasiswa Jadi “Anak Kesayangan”

Dulu, feedback detail dari dosen adalah barang langka. Biasanya hanya diberikan kepada:

  1. Mahasiswa rajin
  2. Mahasiswa kritis
  3. Mahasiswa yang duduk di barisan depan

Sekarang? Semua dapat.

AI memberikan komentar yang spesifik, personal, bahkan mengaitkan dengan materi kuliah tertentu. Mahasiswa yang biasanya hanya menerima komentar “kurang mendalam” kini mendapatkan analisis selevel mentor.

Ironisnya, mahasiswa mungkin akan merasa:
“Wah, dosennya perhatian sekali.”

Padahal dosennya lagi nonton YouTube.

Sisi Gelap: Ketika AI Terlalu Rajin Menuduh

Namun, seperti semua cerita modern, ada plot twist.

AI memang pintar, tapi ia juga bisa overthinking.

Bayangkan seorang mahasiswa yang tiba-tiba rajin belajar, menulis lebih baik dari biasanya. AI melihatnya dan berpikir:
“Hmm… mencurigakan.”

Akhirnya, kerja keras disangka kecurangan.
Perkembangan intelektual dianggap glitch.

Mahasiswa pun dihadapkan pada dilema eksistensial:
“Haruskah saya tetap bodoh agar konsisten?”

Privasi: Tugas Kuliah atau Data Latihan?

Masalah lain muncul dari fakta bahwa semua esai diunggah ke server perusahaan teknologi. Secara tidak langsung, karya mahasiswa menjadi “tamu” di rumah digital korporasi.

Pertanyaannya:

  • Apakah mahasiswa tahu?
  • Apakah mereka setuju?
  • Atau ini seperti tugas kelompok—semua ikut, tapi tidak ada yang benar-benar paham?

Di sinilah pendidikan bertemu kapitalisme, dan semuanya menjadi agak canggung.

Hubungan Manusia: Dari Hangat ke Algoritmik

Yang paling menyedihkan mungkin bukan soal teknologi, tapi soal rasa.

Dulu, dosen membaca esai mahasiswa dengan segala kelelahan, lalu memberi komentar dengan emosi: kadang jengkel, kadang bangga. Ada hubungan di sana—hubungan yang lahir dari proses yang sama-sama melelahkan.

Sekarang, mahasiswa menerima feedback yang rapi, sistematis, dan... dingin.

Seperti pesan dari mantan yang terlalu formal:

“Terima kasih atas kontribusi Anda dalam hubungan ini.”

Dosen, AI, dan Masa Depan yang Agak Lucu

Insiden “kebocoran” ini bukan sekadar cerita teknologi. Ini adalah potret masa depan pendidikan yang agak absurd, tapi juga masuk akal.

Dosen tidak lagi sekadar pengoreksi tugas. Mereka berubah menjadi:

  • Kurator pembelajaran
  • Supervisor AI
  • Dan sesekali, manusia yang masih mencoba relevan

Sementara itu, mahasiswa harus belajar satu hal baru:
Bukan hanya menulis esai, tapi juga menulis dengan gaya yang meyakinkan bahwa mereka manusia.

Pada akhirnya, ini bukan tentang AI menggantikan manusia. Ini tentang manusia yang bernegosiasi dengan kemalasannya sendiri—dan akhirnya menemukan sekutu yang sangat efisien.

Karena di balik semua kecanggihan ini, ada satu kebenaran universal:

Yang benar-benar ingin diotomatisasi manusia sejak dulu bukan pekerjaan… tapi rasa capek.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026