"Yang paling sulit dalam hidup bukan kehilangan orang, melainkan kehilangan sinyal WhatsApp tepat ketika sedang mengetik paragraf terakhir." Untungnya, sinyal biasanya kembali. Sayangnya, beberapa orang tidak.
Ada fenomena unik dalam peradaban modern yang layak
diusulkan menjadi cabang olahraga resmi. Namanya lari estafet tanggung jawab.
Aturannya sederhana: menyakiti orang lain, lalu menghilang secepat mungkin,
kemudian muncul kembali di tempat lain sambil membawa biografi baru yang telah
direvisi oleh Departemen Humas Ego.
Ironisnya, manusia abad ke-21 mampu melacak paket belanja
dari gudang Shenzhen hingga rumah dalam hitungan detik, tetapi tidak mampu
melacak satu kalimat sederhana:
"Maaf, aku salah."
Kalimat itu rupanya lebih langka daripada diskon tanpa
syarat.
Ghosting: Teknologi Menghilang Tanpa Harus Menjadi Ninja
Dulu orang kalau ingin menghilang harus menjadi pertapa di
gunung atau setidaknya pindah ke kota lain. Sekarang? Cukup tekan tombol blokir,
nonaktifkan centang biru, lalu menghilang seperti jin yang kontraknya habis.
Hebatnya lagi, setelah menghilang, mereka tidak benar-benar
diam.
Mereka membuka cabang baru perusahaan bernama PT Narasi
Sejahtera, dengan slogan:
"Kalau kenyataan tidak menguntungkan, ubahlah
ceritanya."
Di perusahaan itu tersedia berbagai layanan.
Paket Hemat:
- Mengaku
sebagai korban.
Paket Premium:
- Menyalahkan
mantan.
Paket Platinum:
- Menulis
ulang sejarah seolah-olah sejak lahir dirinya adalah malaikat yang salah
mendarat di planet penuh penjahat.
Lucunya, semua pelanggan merasa puas.
Ego: Ahli Tata Rias Kenyataan
Ego manusia itu sebenarnya kreatif sekali.
Kalau seorang anak memecahkan vas bunga, ia akan berkata,
"Bukan aku."
Kalau orang dewasa melakukan kesalahan, kalimatnya jauh
lebih elegan.
"Aku melakukan itu demi kebaikan bersama."
Kalimatnya naik kelas, tetapi substansinya masih sama.
Psikologi menyebutnya proyeksi, rasionalisasi, atau
disonansi kognitif.
Kalau bahasa warung kopi menyebutnya:
"Pokoknya jangan sampai saya kelihatan salah."
Bayangkan kalau ego punya kantor.
Di ruang rapatnya ada tulisan besar:
"Fakta boleh masuk, asal jangan mengganggu citra
diri."
Setiap kali hati nurani datang membawa laporan, satpam ego
langsung berkata,
"Maaf, Bapak tidak punya janji."
Permintaan Maaf: Barang Langka yang Tidak Dijual di
Marketplace
Ada orang yang sanggup menulis status sepanjang tiga halaman
tentang pentingnya kesehatan mental.
Tetapi menulis dua kata,
"Aku salah."
Tidak sanggup.
Mungkin tombol huruf M dan A di ponselnya rusak.
Atau mungkin aplikasi "Kerendahan Hati" belum
kompatibel dengan sistem operasi egonya.
Padahal meminta maaf itu seperti servis kendaraan.
Lebih murah dilakukan sejak awal daripada menunggu semuanya
rusak total.
Masalahnya, sebagian orang lebih memilih mengganti kendaraan
daripada mengganti kebiasaan.
Closure yang Dicari-Cari
Manusia modern juga punya hobi baru.
Mengejar sesuatu yang disebut closure.
Ia berharap suatu hari mantannya datang membawa bunga,
mengenakan pakaian putih, diiringi musik piano, lalu berkata,
"Aku sadar sekarang. Selama ini kamu benar."
Kalau perlu turun hujan tipis-tipis supaya sinematografinya
sempurna.
Masalahnya, hidup bukan drama Korea.
Kadang yang datang bukan permintaan maaf.
Yang datang malah notifikasi promosi pinjaman online.
Kita menunggu dialog penutup.
Semesta malah mengirim iklan diskon blender.
Akhirnya kita sadar bahwa alam semesta memang suka bercanda.
Diam yang Sering Disalahpahami
Ada orang mengira diam berarti kalah.
Padahal belum tentu.
Kadang diam hanyalah keputusan paling hemat listrik.
Mengapa harus menyalakan mesin debat kalau lawan bicara
memakai bahan bakar pembenaran?
Berdebat dengan orang yang sudah memutuskan dirinya selalu
benar itu seperti bermain catur melawan burung merpati.
Ia akan menjatuhkan semua bidak, mengotori papan, lalu
terbang sambil merasa menang.
Kita sibuk menjelaskan kronologi.
Ia sibuk mengedit naskah.
Kita membawa bukti.
Ia membawa imajinasi.
Pertandingan semacam ini memang tidak punya wasit.
Namun Jangan Terlalu Cepat Mengangkat Diri Menjadi Korban
Nasional
Di sinilah jebakan media sosial.
Setelah membaca kutipan-kutipan bijak, kita sering langsung
merasa menjadi tokoh utama film.
Semua mantan adalah penjahat.
Semua teman adalah pengkhianat.
Semua bos adalah tiran.
Sementara kita?
Malaikat bersertifikat ISO.
Padahal hubungan antarmanusia lebih rumit daripada kabel di
belakang meja komputer.
Kadang memang ada pelaku yang lari dari tanggung jawab.
Kadang pula kedua belah pihak sama-sama membawa koper penuh
ego.
Bedanya hanya ukuran koper.
Karena itu, introspeksi tetap perlu.
Kalau setiap konflik selalu menyisakan satu orang yang
merasa paling suci, kemungkinan besar cerminnya sedang rusak.
Babak Baru
Pada akhirnya, kedewasaan bukan ditandai oleh keberhasilan
membuat orang lain mengakui kesalahan.
Kalau kebahagiaan kita bergantung pada permintaan maaf
seseorang, berarti kita tanpa sadar menyerahkan remote control hidup kepada
orang yang bahkan lupa mengganti baterainya sendiri.
Lebih baik mengambil kembali remote itu.
Mengganti baterainya.
Lalu menonton babak kehidupan berikutnya tanpa terus-menerus
memutar ulang episode yang sama.
Karena hidup terlalu pendek untuk menjadi editor film yang
hanya mengulang adegan patah hati.
Dan sungguh, tidak semua orang yang keluar dari hidup kita
adalah kehilangan.
Sebagian hanyalah pembaruan sistem.
Memang sempat membuat layar gelap beberapa menit.
Tetapi setelah selesai, hidup justru berjalan lebih ringan.
Kalau masih ada yang sibuk menyebarkan narasi palsu tentang
diri kita, biarkan saja.
Setiap orang berhak menulis novel.
Hanya saja, tidak semua novel laris.
Lagi pula, kebenaran punya satu kelebihan yang tidak
dimiliki kebohongan.
Ia tidak perlu promosi besar-besaran.
Ia cukup sabar.




