Catatan Tentang Luka, Kenangan, dan Kebiasaan Manusia Mengobati Patah Hati dengan Diskon Belanja
Ada dua jenis manusia di dunia ini.
Jenis pertama, ketika patah hati langsung berkata, "Aku
harus move on."
Jenis kedua berkata, "Aku juga harus move on."
Bedanya, yang pertama benar-benar berusaha sembuh. Yang
kedua mengganti foto profil, menghapus chat, memblokir mantan, membeli tanaman
monstera, ikut kelas yoga, belajar membuat sourdough, lalu tiga bulan kemudian
diam-diam masih membuka akun media sosial mantannya menggunakan akun teman.
Kita semua pernah menjadi jenis kedua.
Andrew Faber tampaknya memahami spesies manusia yang satu
ini. Ia mengatakan bahwa hati sembuh bukan karena melupakan, tetapi karena
memahami. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi efeknya cukup mengganggu
industri motivasi yang selama bertahun-tahun hidup dari slogan "Move on
sekarang juga!"
Bayangkan jika luka hati benar-benar bisa disembuhkan hanya
dengan melupakan.
Rumah sakit akan membuka Poli Amnesia.
"Keluhannya apa, Pak?"
"Patah hati, Dok."
"Baik. Silakan antre bersama pasien yang lupa PIN
ATM."
Sayangnya, otak manusia tidak bekerja seperti tombol
"Delete All". Kalau begitu mudahnya melupakan, tidak akan ada orang
yang tiba-tiba teringat mantan hanya gara-gara mendengar lagu yang dulu diputar
di angkot.
Lucunya, manusia memang makhluk yang aneh.
Password email bisa lupa dalam lima menit.
Nama tetangga depan rumah lupa terus.
Tapi kalimat "Kita lebih baik berteman saja" yang
diucapkan delapan tahun lalu masih diingat lengkap beserta intonasinya.
Otak rupanya punya prioritas yang sulit dipahami.
Faber kemudian mengatakan bahwa melupakan sama saja
melarikan diri dari sejarah.
Nah, di sinilah kita mulai panik.
Karena sebagian besar dari kita sebenarnya bukan ingin
melupakan mantan. Kita hanya ingin menghapus bab yang memalukan.
Bab ketika kita pernah mengirim pesan:
"Kamu sudah makan?"
Sebanyak tiga puluh dua kali.
Tanpa balasan.
Kalau hidup adalah buku, kita ingin menjadi editor yang
kejam.
Bab memalukan dihapus.
Bab gagal disobek.
Bab ditolak diterbitkan.
Yang tersisa hanya foto-foto ketika sedang tersenyum.
Padahal sejarah bukan album Instagram.
Ia lebih mirip rapor sekolah.
Nilai Matematikanya boleh merah, tetapi tetap menjadi bagian
dari cerita hidup.
Kalau dihapus, kita mungkin tidak pernah belajar bahwa jatuh
cinta ternyata lebih sulit daripada mengerjakan integral.
Yang menarik adalah ajakan Faber untuk "tinggal bersama
penderitaan."
Kalimat ini terdengar sangat filosofis.
Tetapi kalau diterapkan secara harfiah di Indonesia bisa
menimbulkan salah paham.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"
"Aku sedang tinggal bersama penderitaan."
"Kontrak rumahnya berapa tahun?"
Maksud Faber tentu bukan menyuruh kita menyewa kos bersama
kesedihan.
Yang ia maksud adalah berhenti kabur setiap kali hati terasa
sakit.
Masalahnya, manusia modern punya bakat luar biasa dalam
melarikan diri.
Sedih sedikit...
Scroll TikTok.
Kecewa sedikit...
Checkout barang.
Gagal sedikit...
Ngopi.
Galau sedikit...
Nonton drama Korea tiga musim.
Putus cinta...
Tiba-tiba merasa harus belajar bahasa Spanyol.
Padahal selama ini mengucapkan "permisi" kepada
tetangga saja masih grogi.
Media sosial memperparah keadaan.
Di sana semua orang tampak sembuh dalam tiga hari.
Hari pertama putus.
Hari kedua unggah kutipan filsafat.
Hari ketiga foto di pantai dengan caption:
"Healing."
Padahal yang benar bukan healing.
Itu liburan sambil membawa luka dalam koper.
Begitu pulang, luka ikut turun bersama bagasi.
Faber juga berbicara tentang memberi belaian kepada diri
sendiri.
Konsep ini sangat indah.
Sayangnya banyak orang salah menerjemahkannya.
Self-compassion berubah menjadi self-shopping.
"Kasihan aku."
Lalu membeli sepatu.
Besoknya masih sedih.
Beli jam tangan.
Masih sedih juga.
Tambah headphone.
Seminggu kemudian bukan hanya hatinya yang patah.
Tagihan kartu kredit juga ikut patah.
Padahal membelai diri sendiri bukan berarti memanjakan semua
keinginan.
Kadang bentuk kasih sayang paling besar adalah berhenti
menyalahkan diri sendiri.
Mengakui bahwa kita memang pernah salah memilih orang bukan
berarti kita adalah orang yang salah.
Sama seperti membeli durian busuk tidak berarti kita harus
pensiun makan buah.
Puncak kutipan Faber adalah kalimat bahwa pada akhirnya kita
tidak mati.
Kita dilahirkan kembali.
Kalimat ini mengingatkan bahwa manusia sebenarnya memiliki
kemampuan luar biasa.
Kita bisa bangkit setelah kehilangan.
Bisa tertawa setelah menangis.
Bisa mencintai lagi setelah kecewa.
Dan yang paling hebat...
Kita bisa berkata, "Aku sudah ikhlas."
Lalu benar-benar ikhlas.
Walaupun prosesnya sedikit lebih lama daripada proses
pembangunan jalan tol.
Yang penting selesai.
Pada akhirnya, setiap luka memang seperti guru yang galak.
Saat pelajaran berlangsung kita mengeluh.
Saat ulangan kita menangis.
Tetapi bertahun-tahun kemudian justru pelajaran itulah yang
paling kita ingat.
Luka tidak selalu datang untuk menghancurkan.
Kadang ia hanya datang membawa papan tulis.
Menuliskan sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh
kebahagiaan.
Bahwa manusia ternyata jauh lebih kuat daripada yang ia
kira.
Bahwa hati memiliki kemampuan memperbaiki dirinya sendiri,
asalkan tidak terus-menerus dipaksa berpura-pura baik-baik saja.
Dan bahwa move on ternyata bukan tombol ajaib.
Ia lebih mirip memasak rendang.
Harus sabar.
Harus pelan.
Tidak bisa dipercepat dengan slogan motivasi.
Kalau dipaksa cepat, yang gosong bukan rendangnya.
Melainkan kewarasan kita.
Maka, mungkin Andrew Faber benar.
Kita tidak perlu buru-buru melupakan.
Kita hanya perlu cukup berani untuk memahami.
Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan siapa yang
paling cepat move on.
Melainkan siapa yang berhasil mengubah luka menjadi
kebijaksanaan.
Kalau pun masih sesekali teringat masa lalu, anggap saja itu
notifikasi dari kehidupan.
Tidak harus dibalas.
Cukup dibaca.
Lalu ditutup.
Sebab beberapa kenangan memang tidak dikirim agar kita
kembali ke sana.
Melainkan agar kita tersenyum kecil dan berkata,
"Untung sekarang aku sudah jauh lebih waras."
Kalau masih belum sepenuhnya waras?
Tenang saja.
Bahkan mi instan pun masih butuh tiga menit untuk matang.
Apalagi hati manusia.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026




