Ada dua jenis orang saat penerbangan delay enam jam di bandara.
Orang kedua itu biasanya… bawa buku.
Kutipan dari Joaquรญn Sabina yang dibagikan Paola Medina itu sebenarnya sederhana, tapi efeknya seperti kopi hitam jam tiga pagi: bikin melek jiwa. Sabina bilang buku menyelamatkannya dari kesepian. Dan jujur saja, buku memang satu-satunya teman yang kalau kita cuekin tidak ngambek, tidak kirim chat “kamu berubah ya”, dan tidak pernah minta traktiran.
Bandara: Ujian Kesabaran atau Pintu ke 1000 Kehidupan
Di tengah kekacauan itu, seorang pembaca membuka buku.
Kesepian Itu Bukan Soal Sendiri, Tapi Soal Kosong
Sabina paham satu hal penting: kesepian itu bukan karena tidak ada orang. Buktinya, bandara penuh manusia—tapi rasanya tetap seperti ruang tunggu eksistensial.
Kesepian itu datang ketika pikiran tidak punya teman ngobrol.
Saat membaca, kita sebenarnya sedang menyewa otak orang lain untuk ditumpangi sementara. Kita hidup sebagai detektif, penyair, jenderal perang, atau nenek-nenek pemilik toko roti di kota kecil yang penuh rahasia. Satu buku saja bisa membuat kita mengalami lebih banyak drama daripada grup WhatsApp keluarga saat Lebaran.
Di Era Scroll Tanpa Jiwa
Sekarang ini kita hidup di zaman di mana jempol lebih atletis daripada kaki. Scroll, scroll, scroll… tahu-tahu dua jam hilang dan yang kita dapat cuma video kucing jatuh dari meja (yang tetap kita tonton tiga kali).
Buku tidak berisik. Tidak ada notifikasi. Tidak ada yang teriak, “Breaking news!” padahal beritanya cuma artis potong poni. Buku hadir pelan, tapi dalam. Dia tidak hanya mengisi waktu—dia mengisi ruang kosong di dalam diri yang sering tidak kita sadari.
Tapi… Buku Bukan Barang Gaib yang Turun dari Langit
Di balik romantisme “buku mengusir kesepian”, ada kenyataan yang tidak boleh di-skip seperti iklan YouTube: tidak semua orang punya akses mudah ke buku. Tidak semua orang punya waktu luang. Tidak semua orang dibiasakan akrab dengan bacaan sejak kecil.
Jadi kalau kita setuju buku adalah teman setia, tugas kita bukan cuma membaca diam-diam sambil terlihat intelek, tapi juga ikut bikin lebih banyak orang bisa kenal “teman” ini. Perpustakaan, donasi buku, ruang baca, atau sekadar membiasakan cerita ke anak—itu semua cara memperluas lingkaran pertemanan… antara manusia dan halaman kertas.
Anti-Kesepian Tanpa Baterai
Akhirnya, Sabina benar. Dengan buku di tangan, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Kita ditemani tokoh-tokoh yang mungkin fiktif, tapi emosinya nyata. Kita diajak masuk ke kehidupan yang mungkin tidak pernah kita jalani, tapi diam-diam membentuk cara kita memahami dunia.
Cukup buka halaman pertama—dan tiba-tiba, kursi bandara berubah jadi mesin waktu, kapal bajak laut, atau bangku taman tempat dua tokoh novel jatuh cinta dengan dialog yang terlalu indah untuk terjadi di dunia nyata.






