Minggu, 22 Februari 2026

Gym Otak di Era Scroll: Ketika Kita Lebih Jago Menggeser daripada Mengerti

Di zaman ketika ibu jari lebih terlatih daripada akal budi, kita hidup dalam keyakinan mulia: “Aku membaca, maka aku pintar.” Padahal, kalau jujur, yang kita lakukan sering kali bukan membaca, melainkan olahraga ekstrem bernama scrolling tanpa tujuan. Kita membuka artikel panjang, menatap paragraf pertama, lalu—tanpa dosa—melompat ke bawah, mencari kalimat yang bisa dijadikan status WhatsApp. Selesai. Kita merasa tercerahkan, meski sebenarnya baru membaca judul dan satu kata yang kebetulan tebal.

Seorang pemikir (yang mungkin sedang lelah melihat kita semua) pernah mengingatkan bahwa membaca itu seperti melatih otot. Bukan otot perut—yang tetap saja tidak jadi six-pack meski sudah baca 10 thread motivasi—melainkan “otot kognitif.” Dahulu, membaca adalah aktivitas berat. Kita duduk diam, membuka buku tebal, dan berusaha memahami isi kepala orang lain yang bahkan sudah wafat ratusan tahun lalu. Itu bukan sekadar membaca—itu sparring intelektual.

Sekarang? Kita lebih sering sparring dengan notifikasi.

Dari Membaca Linier ke Membaca “F”—F untuk “Fokus? Tidak.”

Dulu, membaca itu linier. Kita mulai dari awal, lalu setia sampai akhir, seperti hubungan yang sehat. Kita mengikuti alur, memahami argumen, bahkan bersedia tersesat dalam kalimat panjang yang berliku-liku seperti jalan menuju mantan.

Kini, kita mengenal pola baru: F pattern. Mata kita bergerak seperti drone yang kehabisan baterai—melintas sebentar di atas, turun sedikit, lalu jatuh di sisi kiri. Kita tidak lagi membaca; kita mengintai. Kita tidak memahami; kita mengendus.

Teks panjang kini diperlakukan seperti prasmanan: ambil yang enak, tinggalkan yang rumit. Kalau ada paragraf yang lebih dari lima baris, kita anggap itu ujian kesabaran, bukan pengetahuan.

Masalahnya, otak kita mulai beradaptasi. Ia belajar bahwa berpikir lama itu tidak perlu. “Kenapa harus memahami satu buku,” kata otak kita, “kalau bisa membaca 30 judul artikel dalam 10 menit dan tetap merasa pintar?”

Ini seperti merasa atlet hanya karena rajin nonton pertandingan.

Ilusi Literasi: Pintar Membaca, Gagal Mengerti

Lahirlah generasi baru: generasi yang bisa membaca, tapi tidak tahan membaca. Mereka fasih mengeja kata, tapi gagap menghadapi paragraf. Mereka cepat memberi opini, tapi lambat memahami persoalan.

Ini seperti orang yang hafal menu restoran, tapi tidak tahu rasa makanan.

Kita bisa membaca judul berita dan langsung punya pendapat. Kita bisa membaca satu kutipan dan langsung merasa jadi filsuf. Bahkan, kadang kita belum selesai membaca kalimat pertama, tapi sudah siap berdebat di kolom komentar. Ini bukan lagi membaca—ini refleks.

Dan refleks, sebagaimana kita tahu, jarang menghasilkan kebijaksanaan.

Dunia yang Semakin Biner: Antara “Setuju” dan “Salah Kamu!”

Dunia ini sebenarnya rumit. Masalah sosial, politik, bahkan kehidupan pribadi, jarang sekali hitam-putih. Banyak abu-abu. Banyak nuansa. Banyak “tergantung konteks.”

Tapi otak yang terbiasa scroll cepat tidak punya waktu untuk nuansa. Ia ingin kesimpulan instan: benar atau salah, kawan atau lawan, like atau skip.

Akhirnya, diskusi berubah menjadi lomba reaksi. Siapa paling cepat marah, dia menang. Siapa paling keras berpendapat, dia terlihat benar. Padahal, mungkin dia hanya paling cepat membaca setengah paragraf.

Di dunia seperti ini, argumen panjang menjadi barang langka. Yang laku adalah slogan. Yang viral adalah emosi. Yang menang adalah yang paling singkat.

Kalau Plato hidup sekarang, mungkin dia akan disuruh “ringkas jadi thread 5 poin.”

Apakah Kita Harus Kembali ke Zaman Buku?

Tenang. Ini bukan ajakan untuk membakar gadget dan pindah ke hutan sambil membaca novel klasik di bawah pohon kelapa. Teknologi itu bukan musuh. Ia hanya alat.

Masalahnya, kita sering lupa bahwa alat juga membentuk penggunanya.

Kalau kita terus melatih diri dengan membaca cepat, otak kita akan jadi pelari sprint—cepat, tapi tidak tahan lama. Padahal, untuk memahami dunia, kita butuh pelari maraton—lambat, tapi dalam.

Maka mungkin solusi paling sederhana bukan revolusi digital, tapi revolusi kecil: sesekali membaca tanpa loncat. Duduk dengan satu teks. Menyelesaikan satu argumen. Bertahan dalam kebingungan tanpa buru-buru mencari ringkasan.

Anggap saja itu gym otak.

Awalnya berat. Kita akan gelisah. Tangan gatal ingin scroll. Pikiran ingin kabur. Tapi kalau dilatih, pelan-pelan kita akan menemukan kembali satu kemampuan yang mulai langka: menikmati berpikir.

Antara Scroll dan Sadar

Di tengah banjir informasi, tantangan kita bukan kekurangan bacaan, tapi kekurangan kedalaman. Kita tidak kekurangan pengetahuan, tapi kekurangan kesabaran untuk memahaminya.

Kita hidup di zaman di mana semua orang bisa membaca, tapi tidak semua orang mau mengerti.

Maka mungkin pertanyaan terpenting hari ini bukan, “Sudah berapa banyak yang kamu baca?” tetapi, “Sudah berapa lama kamu benar-benar berpikir?”

Karena pada akhirnya, peradaban tidak dibangun oleh orang yang paling cepat membaca, tetapi oleh mereka yang paling lama merenung.

Dan kalau kita terus begini, jangan-jangan di masa depan, manusia tidak lagi dikenal sebagai homo sapiens—makhluk yang berpikir—melainkan homo scrollingensis: makhluk yang pandai menggeser, tapi lupa mengerti.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Sabtu, 21 Februari 2026

Mata Hati yang Hakiki: Ketika Nafsu Punya WiFi dan Hati Kehabisan Sinyal

Manusia Modern, Hatinya Offline

Di zaman ketika semua serba online—belanja online, ngaji online, bahkan sedih pun bisa di-update status—ternyata ada satu yang sering offline: hati.

Kita hidup di era yang katanya paling maju. Teknologi canggih, informasi melimpah, kopi kekinian bertebaran. Tapi anehnya, manusia tetap gelisah. Tidur pakai kasur empuk, tapi mimpi tetap ruwet. Notifikasi penuh, tapi hati kosong.

Di sinilah ceramah Pak Kyai tentang  “Mata Hati yang Hakiki” datang seperti pesan WhatsApp dari langit:
“Mas, masalahmu bukan kurang WiFi, tapi kebanyakan nafsu.”

Nafsu: Aplikasi Default yang Tidak Bisa Di-Uninstall

Menurut Pak Kyai, sumber masalah manusia itu sederhana: nafsu.

Kalau diibaratkan, nafsu itu seperti aplikasi bawaan HP.
Tidak pernah kita instal, tapi selalu ada.
Tidak bisa dihapus, tapi sering update sendiri.

Dari satu aplikasi ini, muncul tiga fitur premium:

  1. Maksiat
  2. Lalai
  3. Syahwat

Dan parahnya, semuanya auto-renew subscription.

Psikologi modern bilang ini impuls, kecanduan, atau gangguan kesadaran.
Tasawuf sudah lama bilang: “Itu mah nafsu, Bro.”

Bedanya, psikologi kadang kasih nama keren.
Tasawuf langsung kasih solusi: puasa, zikir, istighfar.

Satu pakai istilah Latin.
Satu lagi pakai air wudhu.

Dunia Modern: Mall Besar Bernama Nafsu

Kalau kita jujur, dunia sekarang ini seperti mall raksasa.
Isinya bukan cuma barang, tapi godaan.

Semua dirancang untuk satu tujuan:
“Silakan turuti nafsu Anda.”

Mau makan? Ada.
Mau marah? Ada kontennya.
Mau pamer? Tinggal upload.
Mau iri? Scroll saja.

Kapitalisme modern itu cerdas.
Dia tidak memaksa kita berdosa.
Dia hanya menyediakan fasilitas.

Sisanya? Kita sendiri yang checkout.

Riyadatun Nafs: Gym untuk Jiwa

Kalau tubuh punya gym, jiwa juga punya: riyadatun nafs.

Bedanya:

  • Gym biasa bikin otot besar
  • Gym spiritual bikin ego mengecil

Di sini latihannya sederhana tapi berat:

  • Puasa → menahan diri
  • Zikir → mengingat Tuhan
  • Istighfar → mengakui salah

Masalahnya, manusia modern itu suka yang ribet.
Kalau disuruh puasa: “Apa evidence-based?”
Kalau disuruh istighfar: “Ada jurnalnya?”

Padahal nenek kita tidak baca jurnal, tapi hatinya tenang.
Kita baca jurnal, tapi masih overthinking.

Mungkin yang kurang bukan referensi, tapi latihan.

Nafsu Itu Pintar: Bisa Menyamar Jadi “Suara Hati”

Ini bagian paling berbahaya.

Tidak semua yang kita rasakan itu ilham.
Kadang itu cuma nafsu pakai baju religius.

Contoh:
“Aku ingin ini karena panggilan hati.”
Padahal: panggilan diskon.

“Aku melakukan ini demi kebaikan.”
Padahal: demi pengakuan.

Nafsu itu kreatif.
Dia bisa jadi motivator, influencer, bahkan ustaz dadakan.

Makanya dalam tasawuf, kita diajari curiga pada diri sendiri.
Karena musuh terdekat bukan tetangga, tapi ego.

Level Nafsu: Dari Drama ke Damai

Tasawuf menjelaskan bahwa jiwa manusia itu naik level seperti game:

  1. Nafsu ammarah → tukang nyuruh dosa
  2. Lawwamah → habis dosa, nyesel
  3. Mulhamah → mulai dapat ilham
  4. Mutmainnah → hati mulai adem
  5. Radhiyah → ridha
  6. Mardhiyah → diridhai
  7. Kamilah → selesai, tapi tetap lanjut

Masalah kita biasanya masih di level:
“ammarah + kuota unlimited.”

Habis salah, nyesel.
Habis nyesel, ulang lagi.

Seperti diet hari Senin, gagal hari Selasa.

Zikir: Jangan Dijadikan ATM

Salah satu kritik paling halus adalah soal zikir.

Banyak orang zikir, tapi niatnya:

  • Supaya cepat kaya
  • Supaya dapat jodoh
  • Supaya hidup lancar

Zikir jadi seperti ATM:
“Ya Allah, saya sudah input, mana hasilnya?”

Padahal tujuan zikir itu bukan dunia.
Tapi kembali kepada Tuhan.

Kalau zikir hanya untuk dunia,
itu seperti telepon orang tua cuma kalau butuh uang.

Basirah: Mata Hati, Bukan CCTV Gaib

Banyak orang mengira “mata hati” itu kemampuan supranatural.
Bisa lihat makhluk halus, tahu masa depan, atau menebak isi dompet orang.

Padahal bukan itu.

Mata hati yang hakiki itu sederhana:
melihat Allah di balik segala sesuatu.

Minum kopi → ingat Allah
Melihat matahari → ingat Allah
Kena masalah → tetap ingat Allah

Bukan jadi dukun.
Tapi jadi hamba yang sadar.

Kisah Matahari: Ketika Orang Lain Lihat Panas, Sufi Lihat Zikir

Ada cerita tentang seorang kyai yang melihat matahari lalu terdiam.
Bukan karena kepanasan, tapi karena melihat tasbihnya.

Kita lihat matahari:
“Panas banget, AC mana?”

Beliau lihat matahari:
“Subhanallah, makhluk ini tidak pernah berhenti taat.”

Perbedaannya bukan di mata.
Tapi di hati.

Kritik Sosial: Dunia yang Terlalu Sibuk, Tapi Tidak Tahu Untuk Apa

Pak Kyai juga menyentil dunia modern.

Kita sibuk bekerja, tapi tidak tahu untuk apa.
Kita mengejar sukses, tapi lupa definisinya.
Kita punya segalanya, kecuali ketenangan.

Manusia modern seperti lari di treadmill.
Capek, tapi tidak ke mana-mana.

Tasawuf datang dan berkata:
“Coba berhenti sebentar. Lihat ke dalam.”

Jihad Terbesar Bukan di Medan Perang

Pada akhirnya, musuh terbesar kita bukan orang lain.
Tapi diri sendiri.

Bukan karena kita jahat,
tapi karena kita terlalu sering menuruti nafsu.

Tasawuf mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan menaklukkan dunia,
tapi menaklukkan diri.

Dan mata hati yang hakiki bukan kemampuan luar biasa,
tapi kesadaran sederhana:

bahwa di balik semua ini, ada Allah.

Kalau hati sudah hidup,
kopi tidak sekadar pahit, tapi penuh makna.
masalah tidak sekadar beban, tapi jalan pulang.

Dan hidup tidak lagi sekadar sibuk,
tapi menjadi perjalanan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tiga Orde Magnitudo: Ketika AI Makan Lebih Banyak dari Warteg Sekampung

Di zaman ketika kecerdasan buatan lebih sering diajak ngobrol daripada tetangga sebelah, para petingginya tentu butuh cara sederhana untuk menjelaskan hal rumit. Maka muncullah analogi manis dari Sam Altman: melatih AI itu seperti membesarkan manusia selama 20 tahun—lengkap dengan makanannya sampai jadi “pintar”.

Analoginya terdengar hangat. Hampir seperti nasihat ibu: “Nak, kalau mau pintar, makan yang banyak.” Bedanya, ibu kita tidak pernah bilang, “Nak, kalau mau jadi AI, kamu harus makan listrik setara satu kota.”

Masuklah seorang pengamat teknologi, Shanaka Anslem Perera, yang dengan penuh cinta—dan sedikit rasa tidak percaya—memeriksa analogi tersebut. Hasilnya? Analogi tadi ternyata bukan sekadar meleset. Ia meleset sejauh tiga orde magnitudo. Itu bukan lagi salah hitung, itu sudah seperti salah alamat… ke galaksi sebelah.

Manusia vs AI: Duel Makan yang Tidak Seimbang

Mari kita bayangkan duel sederhana: satu manusia vs satu AI.

  • Manusia makan nasi, tempe, mungkin sesekali ayam goreng.
  • AI makan listrik. Banyak. Sangat banyak.

Menurut perhitungan Perera, seorang manusia selama 20 tahun mengonsumsi sekitar 17 MWh energi dari makanan. Sementara itu, melatih model seperti GPT-4 membutuhkan sekitar 50.000–60.000 MWh.

Artinya, satu AI setara dengan 3.000 manusia.

Kalau ini lomba makan di kampung, manusia baru selesai satu piring nasi, AI sudah menghabiskan satu kecamatan—termasuk gardu listriknya.

Dan di titik ini, kita mulai curiga: jangan-jangan AI bukan “anak digital”, tapi “anak kos” yang meterannya nyala terus 24 jam.

AI dan Umur Pendek yang Boros

Masalahnya tidak berhenti di situ. Kalau manusia makan banyak, setidaknya umurnya panjang. Kita bisa menikmati hasilnya—jadi dokter, guru, atau minimal jadi panitia 17-an.

AI? Umurnya pendek.

Hari ini kita punya GPT-4. Besok muncul GPT-5. Lusa GPT-6. Minggu depan kita sendiri sudah lupa GPT-4 itu siapa—seperti mantan yang terlalu cepat digantikan.

Setiap model baru datang dengan satu pesan sederhana:
“Terima kasih atas listrik Anda. Kami akan menggunakannya lagi.”

Ini bukan inovasi. Ini lebih mirip langganan boros versi teknologi.

Infrastruktur: Ketika AI Minta Listrik Satu Kota

Puncak drama muncul ketika proyek-proyek besar mulai masuk. Salah satunya adalah proyek “Stargate” yang—dalam semangat ambisi luar angkasa—membutuhkan listrik hingga 10 gigawatt.

Sebagai perbandingan, itu setara dengan konsumsi listrik seluruh New York City.

Bayangkan Anda datang ke PLN dan berkata:

“Pak, saya mau bikin AI. Butuh listrik… ya, kira-kira satu New York saja.”

Petugasnya mungkin tidak akan marah. Tapi dia akan pelan-pelan mengambil kursi, duduk, dan mempertanyakan seluruh hidupnya.

Tagihan Listrik: Plot Twist yang Tidak Lucu

Masalah sebenarnya bukan pada AI yang lapar. Masalahnya adalah siapa yang akan membayar makanannya.

Perera menunjukkan bahwa jaringan listrik sudah mulai kewalahan. Kekurangan pasokan, lonjakan harga, dan ancaman krisis bukan lagi teori—ini sudah mulai terjadi.

Artinya, suatu hari nanti, kita membuka tagihan listrik dan menemukan angka yang membuat kita langsung bertobat.

Dan di sudut kecil tagihan itu, mungkin ada tulisan kecil:

“Terima kasih telah membantu melatih AI.”

Blind Spot: Gajah di Ruang Server

Dalam artikelnya, Perera menyebut adanya “blind spot” senilai 850 miliar dolar—biaya infrastruktur listrik yang jarang dibicarakan.

Ini seperti pesta besar di mana semua orang memuji makanannya, tapi tidak ada yang bertanya siapa yang mencuci piring.

Semua terpukau oleh AI yang bisa menulis puisi, membuat gambar, dan menjawab pertanyaan. Tapi jarang yang bertanya: “Listriknya dari mana?”

Jawabannya sederhana: dari kita semua.

Antara Kecerdasan dan Tagihan

Pada akhirnya, ini bukan soal menolak AI. Kita semua menikmati kemudahannya. AI membantu pekerjaan, mempercepat riset, bahkan kadang membantu kita terlihat lebih pintar dari yang sebenarnya.

Masalahnya hanya satu: AI ternyata tidak makan nasi. Ia makan listrik. Dan porsinya bukan satu piring, tapi satu pembangkit.

Analogi makanan dari Sam Altman memang puitis. Tapi seperti banyak puisi lainnya, ia lebih indah daripada akurat.

Dan ketika puisi bertemu dengan tagihan listrik, biasanya yang kalah adalah dompet kita.

Jadi pertanyaan sebenarnya bukan lagi:

“Apakah AI akan menjadi cerdas?”

Melainkan:

“Apakah kita siap membayar makan si jenius ini… setiap bulan?”

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Revolusi Mikroba dari Brasil: Ketika Bakteri Lebih Rajin dari Manusia

Di era ketika manusia berlomba menciptakan kecerdasan buatan, robot penulis puisi, dan mobil tanpa sopir, ternyata ada kabar mengejutkan dari dunia yang jauh lebih kecil—bahkan terlalu kecil untuk diajak debat di Twitter. Di sana, sekelompok bakteri sedang bekerja diam-diam, tanpa gaji, tanpa bonus, tanpa drama kantor, tapi berhasil menyelamatkan ekonomi sebuah negara.

Cerita ini mencuat lewat unggahan seorang ilmuwan biomedis, Bo Wang, yang membagikan kisah Mariangela Hungria—ilmuwan Brasil yang selama 40 tahun meneliti sesuatu yang sering kita anggap musuh: bakteri. Ya, makhluk yang biasanya kita basmi dengan sabun antiseptik itu, ternyata di tangan Hungria berubah jadi “pegawai teladan” sektor pertanian.

Dan bukan pegawai biasa—ini pegawai yang bisa menghemat miliaran dolar tanpa pernah minta cuti.

Bakteri: Makhluk Kecil, Ambisi Besar

Selama ini, nitrogen adalah nutrisi penting bagi tanaman. Masalahnya, tanaman itu agak “manja”—mereka tidak bisa mengambil nitrogen langsung dari udara, padahal udara kita 78% nitrogen. Ibarat punya ATM penuh uang tapi lupa PIN.

Di sinilah bakteri masuk sebagai “teman baik yang tahu password.”

Hungria meneliti bakteri pengikat nitrogen, yang bisa mengambil nitrogen dari udara dan mengubahnya jadi makanan bagi tanaman kedelai. Jadi alih-alih petani membeli pupuk mahal, mereka cukup “menyewa” jasa bakteri—yang kebetulan tarifnya jauh lebih murah dan tidak pernah demo naik upah.

Dari Pupuk Mahal ke Bakteri Murah

Bandingkan saja:

  • Pupuk kimia: sekitar US$50

  • Bakteri: sekitar US$2

Ini seperti mengganti langganan restoran bintang lima dengan warung nasi padang yang ternyata lebih enak dan bikin sehat.

Akibatnya?

  • Hemat hingga puluhan miliar dolar per tahun

  • Produksi kedelai melonjak drastis

  • Emisi karbon berkurang ratusan juta ton

Singkatnya, bakteri ini tidak hanya rajin, tapi juga ramah lingkungan. Kalau mereka punya LinkedIn, profilnya pasti sudah “Open to Work (Global Impact)”.

Ketika Bakteri Lebih Konsisten dari Manusia

Yang menarik, bakteri ini tidak punya masalah klasik manusia:

  • Tidak menunda pekerjaan

  • Tidak butuh motivasi pagi

  • Tidak butuh kopi literan

  • Tidak overthinking

Mereka cuma satu: bekerja.

Bandingkan dengan manusia modern yang baru buka laptop saja sudah butuh “healing”, “self-care”, dan tiga video motivasi.

Bakteri? Langsung kerja.

Tanpa podcast.

Revolusi Sunyi yang Mengalahkan Drama Teknologi

Sementara dunia sibuk dengan AI, blockchain, dan segala sesuatu yang berbau “disruptive”, Hungria justru melakukan sesuatu yang lebih radikal: bekerja sama dengan alam.

Bukan mengalahkan alam.
Bukan mendominasi alam.
Tapi berteman dengan alam.

Ia menyebutnya sebagai revolusi hijau mikro—sebuah pendekatan yang tidak memaksa tanah bekerja lebih keras, tapi membantu tanah bekerja lebih cerdas.

Dan hasilnya? Brasil berubah menjadi raksasa ekspor kedelai dunia.

Semua itu berkat makhluk yang bahkan tidak bisa difoto selfie.

Pelajaran Hidup dari Bakteri

Kalau kita renungkan, ada pelajaran filosofis yang cukup dalam dari kisah ini:

  1. Yang kecil belum tentu sepele
    Kadang solusi besar datang dari hal yang tak terlihat—seperti mikroba, atau ide sederhana yang kita abaikan.

  2. Kerja diam lebih berdampak daripada ribut tanpa hasil
    Bakteri tidak pernah pamer, tapi kontribusinya nyata. Ini sindiran halus untuk kita yang sering sibuk “terlihat produktif”.

  3. Bermitra lebih kuat daripada mendominasi
    Alam bukan lawan yang harus ditaklukkan, tapi mitra yang harus diajak kerja sama.

Penutup: Dunia Butuh Lebih Banyak “Mental Bakteri”

Kisah Mariangela Hungria bukan sekadar cerita sains. Ini cerita tentang ketekunan, kesabaran, dan keyakinan—terutama saat orang lain meragukan.

Empat puluh tahun meneliti sesuatu yang tidak terlihat, dan akhirnya mengubah dunia.

Sementara kita?
Baru empat menit loading saja sudah ingin menyerah.

Mungkin, di tengah hiruk-pikuk ambisi manusia menjadi semakin “besar”, kita justru perlu belajar dari yang kecil.

Karena ternyata, masa depan pangan dunia tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat, paling pintar, atau paling viral—

tapi oleh siapa yang paling mampu bekerja sama.

Dan saat ini, tampaknya…
bakteri sudah selangkah lebih maju.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Jumat, 20 Februari 2026

Bisikan Ajaib: Ketika Mulut Sendiri Jadi Dokter Pribadi

Di zaman modern yang penuh tekanan—mulai dari notifikasi WhatsApp yang tak kenal waktu hingga deadline yang lebih cepat datang daripada gaji—manusia mulai mencari solusi kesehatan yang praktis. Kalau bisa, sekali klik langsung sembuh. Kalau perlu, cukup rebahan sambil “healing”. Nah, di tengah pencarian itu, muncullah kabar menggembirakan: ternyata, kita tidak perlu jauh-jauh ke apotek. Cukup ngobrol sama diri sendiri.

Betul. Ngobrol. Sama diri sendiri.

Sebuah unggahan dari akun X @NextScience mengklaim bahwa self-talk positif bisa meningkatkan kesehatan bahkan lebih baik daripada suplemen. Sekilas ini terdengar seperti kabar yang sangat menguntungkan: tidak perlu beli vitamin mahal, tidak perlu antri dokter, cukup bilang, “Aku kuat, aku sehat, aku luar biasa,” lalu... sembuh.

Kalau ini benar, maka cermin di rumah bukan lagi sekadar alat berdandan, tapi sudah naik pangkat menjadi klinik pribadi.

Sains yang Membuat Kita Tampak Bijak di Depan Cermin

Sebelum kita semua mulai berbicara dengan bayangan sendiri seperti tokoh film yang mengalami krisis identitas, ternyata ada sains di balik fenomena ini. Namanya cukup panjang dan cocok untuk membuat kita terdengar pintar: psychoneuroimmunology. Kalau diucapkan dengan percaya diri, orang lain mungkin langsung mengira kita lulusan luar negeri.

Intinya sederhana: pikiran, saraf, dan sistem imun itu saling terhubung. Jadi ketika kita berkata lembut pada diri sendiri—misalnya, “Tenang ya, kita bisa”—tubuh kita benar-benar merespons. Sistem saraf parasimpatis aktif, jantung melambat, otot rileks, dan tubuh mulai melakukan mode “service gratis”.

Lebih hebat lagi, hormon stres seperti kortisol bisa menurun. Artinya, hanya dengan berbicara baik kepada diri sendiri, kita bisa membuat tubuh tidak terlalu panik. Ini kabar baik, karena selama ini kita sering lebih kejam kepada diri sendiri daripada komentar netizen.

Kalau tubuh bisa bicara, mungkin dia sudah lama protes:
“Bos, kenapa tiap salah sedikit langsung dimarahi? Saya ini bukan mesin fotokopi!”

Masalahnya: Jangan Sampai Kebablasan

Namun, seperti semua hal yang viral di internet, ada sedikit bumbu dramatis di dalamnya. Klaim bahwa self-talk lebih baik daripada suplemen itu... ya, katakanlah, agak bersemangat.

Bayangkan seseorang berkata:
“Saya tidak perlu obat, saya cukup bilang ‘sembuh’ saja.”

Kalau begitu, rumah sakit mungkin sudah berubah fungsi jadi tempat orang latihan afirmasi massal.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Self-talk memang membantu—terutama untuk mengelola stres, meningkatkan suasana hati, dan menciptakan kondisi tubuh yang lebih siap untuk sembuh. Tapi dia bukan pengganti pengobatan medis.

Kalau kaki patah, kita tidak bisa hanya berkata, “Kamu utuh, kamu utuh, kamu utuh,” sambil berharap tulangnya menyambung sendiri seperti adegan film kartun.

Self-talk itu ibarat pupuk. Ia menyuburkan tanah. Tapi kalau tidak ada benih, air, dan sinar matahari, ya tetap saja tidak tumbuh apa-apa.

Ngobrol dengan Diri Sendiri: Antara Waras dan Produktif

Menariknya, sains juga tidak sepenuhnya mendukung afirmasi positif yang terlalu manis. Ternyata, dalam beberapa situasi, self-talk yang realistis—bahkan sedikit “tegas”—justru lebih efektif.

Misalnya:

  • “Ayo, fokus!”
  • “Kerjakan sekarang, jangan malas!”

Ini mungkin terdengar seperti suara guru galak di kepala, tapi ternyata cukup ampuh.

Jadi, berbicara dengan diri sendiri itu seperti menjadi pelatih pribadi. Kadang perlu lembut, kadang perlu tegas. Yang penting jangan sampai jadi tukang bully.

Karena jujur saja, banyak dari kita punya inner voice yang kalau dijadikan orang nyata, mungkin sudah kita blokir dari kehidupan.

Seni Berbisik pada Diri Sendiri

Di tengah semua kesibukan dan tekanan hidup, ide untuk berbicara baik kepada diri sendiri sebenarnya sangat revolusioner—dan gratis. Tidak perlu langganan, tidak perlu diskon, tidak perlu kode promo.

Cukup berhenti sejenak, tarik napas, dan berkata:
“Terima kasih ya, sudah bertahan sejauh ini.”

Kalimat sederhana, tapi sering kita lupakan.

Kita sering lebih ramah kepada orang asing daripada kepada diri sendiri. Padahal, kalau dipikir-pikir, kita ini teman hidup paling setia—dari lahir sampai akhir.

Obat yang Selalu Tersedia

Pada akhirnya, kekuatan self-talk bukanlah sulap yang bisa menyembuhkan segalanya dalam sekejap. Tapi ia adalah alat sederhana yang sering diremehkan.

Ia bukan pengganti dokter, tapi bisa menjadi teman setia dokter.
Ia bukan obat utama, tapi bisa mempercepat pemulihan.
Dan yang paling penting, ia mengingatkan kita bahwa tubuh ini bukan sekadar mesin—ia juga mendengar.

Jadi, lain kali saat hidup terasa berat, mungkin kita tidak perlu langsung mencari solusi ke luar. Coba dulu ke dalam.

Siapa tahu, ternyata dokter terbaik yang kita cari selama ini...
sudah lama tinggal di dalam kepala—dan hanya menunggu untuk diajak bicara dengan baik.

abah-arul.blogspot.com.,Februari 2026

Kamis, 19 Februari 2026

Melawan Mitos Katarsis: Ketika Memukul Bantal Ternyata Hanya Menyakiti Bantal

Di zaman ketika semua masalah bisa diselesaikan dengan satu klik, satu swipe, atau satu postingan "healing banget", manusia modern menemukan satu mantra sakti untuk mengatasi amarah: luapin aja! Kalau marah, teriak. Kesal, pukul bantal. Jengkel, pergi ke rage room dan hancurkan piring—tentu saja sambil tetap estetik untuk Instagram.

Kita hidup dalam keyakinan kolektif bahwa emosi itu seperti panci presto. Kalau tidak dibuka, akan meledak. Maka, daripada meledak di kantor, lebih baik meledak di rumah. Daripada memarahi atasan, lebih baik memarahi tembok. Logikanya sederhana: keluarkan saja, nanti lega.

Sayangnya, sains datang seperti teman yang terlalu jujur di tengah pesta: “Maaf ya, itu semua tidak bekerja.”

Sebuah ulasan terhadap ratusan penelitian menunjukkan bahwa kegiatan “meledak”—baik itu berteriak, memukul sesuatu, atau menyalurkan amarah dengan agresif—ternyata tidak membuat kita lebih tenang. Bahkan, efeknya hampir nol. Nol! Selevel dengan harapan diet mulai besok. Lebih parah lagi, kadang justru memperburuk keadaan. Jadi, kalau Anda merasa lebih marah setelah memukul bantal, itu bukan karena bantalnya membalas, tapi karena memang begitu cara kerja otak kita.

Masalahnya, ketika kita marah, tubuh kita seperti mesin motor yang gasnya ditarik habis-habisan. Jantung berdegup kencang, napas memburu, otot menegang. Lalu kita berpikir, “Mari kita tambah gasnya!”—dengan berteriak atau memukul sesuatu. Ini seperti mencoba memadamkan api dengan bensin, lalu heran kenapa rumahnya makin panas.

Kita kira kita sedang “mengeluarkan” amarah, padahal kita sedang melatihnya. Setiap kali kita melampiaskan dengan cara agresif, otak belajar: “Oh, begini cara kita menghadapi masalah.” Lama-lama, sedikit saja kesal, reaksi kita sudah seperti adegan film aksi. Bedanya, tidak ada sutradara yang bilang “cut”.

Di sinilah sains memberikan alternatif yang terdengar... membosankan. Tidak ada drama. Tidak ada suara pecahan kaca. Tidak ada efek slow motion.

Solusinya adalah: duduk, tarik napas, dan tenang.

Ya, sesederhana itu. Dan ya, itu terdengar seperti nasihat dari guru BP yang dulu kita abaikan.

Teknik seperti pernapasan dalam, meditasi, mindfulness, atau sekadar berhenti sejenak terbukti jauh lebih efektif meredakan amarah. Bukan karena itu “spiritual banget”, tapi karena itu menurunkan arousal tubuh—menurunkan detak jantung, menenangkan saraf, dan secara harfiah mematikan bahan bakar kemarahan.

Tubuh yang tenang membuat pikiran ikut tenang. Dan pikiran yang tenang tidak tiba-tiba ingin melempar sandal ke arah siapa pun.

Ini mungkin terdengar tidak memuaskan. Tidak ada sensasi heroik. Tidak ada cerita dramatis untuk diceritakan ke teman. Bayangkan berkata, “Tadi saya marah besar, lalu saya duduk dan bernapas.” Itu tidak viral. Itu tidak cinematic. Itu bahkan tidak layak dijadikan status WhatsApp.

Namun justru di situlah kehebatannya.

Di dunia yang semakin bising, kemampuan untuk diam adalah pemberontakan. Di tengah budaya “luapin aja!”, memilih untuk tenang adalah tindakan yang hampir radikal. Kita terbiasa menganggap kekuatan itu identik dengan ledakan—padahal mungkin kekuatan sejati adalah kemampuan untuk tidak meledak.

Lagipula, mari jujur saja: bantal sudah cukup menderita. Tidak perlu ditambah lagi.

Akhirnya, sains mengajarkan sesuatu yang sederhana tapi menohok: mengelola kemarahan bukan tentang seberapa keras kita bisa meluapkannya, tapi seberapa dalam kita bisa menarik napas sebelum bereaksi.

Dan mungkin, di situlah letak revolusi kecil dalam hidup kita—bukan pada suara teriakan, tetapi pada jeda sebelum kita memilih untuk tidak berteriak.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Rabu, 18 Februari 2026

Lapar, Jubah Pahlawan, dan Jalan Pulang ke Diri Sendiri

Di zaman ketika satu utas di media sosial bisa mengubah hidup—atau setidaknya mengubah menu pagi—muncullah kabar menggembirakan: tidak sarapan adalah kekuatan super.

Akun-akun sains populer dengan gagah berani mengumumkan bahwa menolak telur, bacon, dan roti panggang adalah tindakan heroik setara menolak cincin kekuasaan. Meja sarapan dicoret silang merah besar. Asap dari bacon yang “ditinggalkan” mengepul dramatis, seolah berkata, “Pergilah, wahai karbohidrat, aku kini manusia unggul!”

Ratusan orang menyukai unggahan itu. Bisa jadi karena mereka juga sedang menatap piring kosong sambil mencari pembenaran ilmiah.

Lapar yang Berdering Seperti Alarm Pahlawan

Klaimnya terdengar meyakinkan. Melewatkan sarapan meningkatkan norepinefrin—zat kimia yang membuat kita lebih waspada. Tubuh, dalam kondisi tidak diberi makan, menyalakan mode siaga. Secara evolusioner masuk akal: nenek moyang kita tidak punya opsi “rebahan dulu, nanti juga lapar hilang sendiri.” Mereka harus berburu.

Maka, sebagian manusia modern pun merasakan sensasi yang sama. Jam 10 pagi, perut keroncongan, tapi pikiran terasa tajam. Spreadsheet terlihat seperti medan perang yang siap ditaklukkan. Mereka merasa seperti tokoh utama film laga versi nutrisi.

Namun, ada juga yang jam 9 pagi sudah ingin membatalkan peradaban.

Ketosis: Ketika Lemak Mendadak Jadi Bintang Utama

Narasi heroik ini semakin kuat ketika muncul kata-kata sakti: ketosis, insulin sensitivity, dan autophagy.

Tanpa sarapan, tubuh beralih dari glukosa ke lemak. Keton naik panggung, dan lemak yang selama ini dicurigai mendadak jadi pahlawan utama. Ada pula janji bahwa sel-sel kita sedang “bersih-bersih”—sebuah proses bernama autophagy yang terdengar seperti mantra di sekolah sihir tingkat lanjut.

Siapa yang tidak ingin tubuhnya melakukan kerja bakti internal?

Masalahnya, tubuh manusia bukan template PowerPoint. Ia lebih mirip grup WhatsApp keluarga: responsnya berbeda-beda, kadang tidak terduga, dan seringkali emosional.

Antara Fokus dan Emosi yang Siap Demo

Bagi sebagian orang, tidak sarapan membuat pikiran jernih. Bagi yang lain, ia memunculkan versi paling sensitif dari diri mereka.

Fokus meningkat? Bisa jadi.

Tapi juga bisa meningkatnya keinginan untuk memarahi printer, mengkritik AC, atau mempertanyakan makna hidup di depan lemari es.

Respons terhadap lapar dipengaruhi metabolisme, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, bahkan mikrobioma usus—tim konsultan tak terlihat yang diam-diam menentukan suasana hati kita.

Belum lagi faktor budaya. Di banyak rumah, sarapan bukan sekadar kalori. Ia adalah ritual: suara wajan, aroma teh, obrolan singkat. Itu bukan hanya nutrisi—itu kenangan.

Melewatkannya mungkin membuat tubuh membakar lemak, tapi juga bisa membakar suasana hati.

Autophagy dan Harapan yang Terlalu Cepat Viral

Autophagy memang nyata dan menarik. Namun sebagian besar bukti spektakulernya masih berasal dari laboratorium dan model hewan. Pada manusia, proses ini sudah berjalan alami tanpa perlu drama tanda silang merah di atas telur dadar.

Di sinilah masalah kata “superpower.” Ia mengilap, memikat, dan sangat ramah algoritma.

Namun tubuh manusia tidak bekerja berdasarkan tagar. Ia bekerja berdasarkan keseimbangan, kebiasaan, dan konteks.

Kebenaran sains sering kali sederhana sekaligus membosankan: tergantung.

Dari Biohacking ke Ibadah

Menariknya, ketika kita geser sedikit perspektif, fenomena “tidak sarapan” ini tiba-tiba kehilangan aura eksklusifnya.

Karena jutaan orang sudah melakukannya—bukan sebagai tren, tetapi sebagai tradisi.

Dalam diskursus modern, melewatkan sarapan disebut intermittent fasting. Tujuannya: fokus, lemak terbakar, metabolisme optimal.

Dalam Ramadan, ia disebut puasa.

Dan tujuannya bukan ketosis, melainkan kesadaran.

Lucunya, sesuatu baru dianggap keren ketika diberi nama bahasa Inggris dan grafik ilmiah. Padahal praktik menahan lapar dari fajar hingga magrib sudah dijalani berabad-abad tanpa perlu infografik telur dicoret.

Ketika Lapar Berubah Makna

Secara biologis, memang ada titik temu. Tubuh menggunakan cadangan energi, sistem saraf aktif, metabolisme beradaptasi.

Namun Ramadan membawa sesuatu yang tidak bisa diukur dengan grafik: makna.

Di sini, lapar bukan sekadar alarm biologis.

Ia adalah latihan kesabaran.
Latihan menahan diri.
Latihan mengingat bahwa tidak semua orang bisa berbuka dengan mudah.

Jika tren “skip breakfast” bertanya, “Bagaimana aku bisa lebih produktif?”
Ramadan bertanya, “Bagaimana aku bisa lebih sadar?”

Tiga Hal yang Tidak Bisa Diinfografikkan

Ada tiga hal yang membedakan keduanya secara mendasar.

Pertama, niat.
Yang satu mengejar performa. Yang lain mengejar kedalaman.

Kedua, kebersamaan.
Yang satu dilakukan sendirian, sering sambil scroll media sosial.
Yang lain dilakukan bersama—sahur, azan, berbuka—sebuah ritme kolektif yang sulit direplikasi aplikasi diet mana pun.

Ketiga, dimensi batin.
Dalam puasa, lapar bukan hanya sensasi. Ia adalah cermin.

Dan cermin, seperti kita tahu, tidak selalu nyaman.

Apakah Ini Semua Memberi Kekuatan Super?

Bisa jadi—tetapi bukan seperti yang dibayangkan poster motivasi.

Bagi sebagian orang, tidak sarapan atau berpuasa bisa meningkatkan fokus dan rasa kendali diri. Bagi yang lain, terutama di awal, yang muncul justru:

  • sakit kepala
  • ngantuk
  • produktivitas turun
  • emosi setipis tisu satu lapis

Dan itu normal. Tubuh sedang beradaptasi.

Yang tidak normal adalah berharap menjadi manusia super hanya karena melewatkan roti panggang.

Bahaya Menyederhanakan Lapar

Ada satu jebakan halus yang perlu dihindari: menyederhanakan pengalaman kompleks menjadi slogan.

Ketika puasa direduksi menjadi strategi diet, kita kehilangan ruhnya.

Ramadan bukan “30-Day Fat Loss Challenge.”

Ia adalah latihan pengendalian diri yang menyentuh tubuh, pikiran, dan hati sekaligus.

Jika “skip breakfast” menjanjikan efisiensi, puasa mengajarkan makna.

 Pahlawan yang Pulang ke Diri Sendiri

Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu memilih antara sarapan atau tidak, antara sains atau spiritualitas.

Yang kita butuhkan adalah kesadaran.

Karena “kekuatan super” yang sebenarnya bukanlah kemampuan menolak roti panggang sambil merasa lebih unggul.

Melainkan kemampuan memahami tubuh sendiri, tanpa terhipnotis sensasi digital.

Jika media sosial berkata, “Lewati sarapan dan kau akan jadi manusia hebat,”
maka kehidupan—dengan cara yang lebih tenang—berbisik:

“Kenali dirimu. Itu sudah cukup hebat.”

Dan mungkin di situlah letak kekuatan terbesar:
bukan pada kadar norepinefrin,
bukan pada ketosis,
bukan pada angka di timbangan—

melainkan pada kemampuan menahan diri,
bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Termasuk menahan diri… untuk tidak percaya semua utas di internet.

 abah-arul.blogspot.com., Februari 2026