Di zaman ketika kesuksesan sering diukur dari jumlah followers, saldo rekening, dan seberapa sering kita bilang “lagi sibuk banget nih”, jiwa manusia diam-diam kayak tanaman hias yang lupa disiram: layu tapi tetap difoto buat Instagram. Nah, di tengah kegersangan batin ini, nasihat sang kyai datang seperti air zamzam di tengah gurun—bedanya, ini bukan buat diminum doang, tapi buat nyiram ego juga.
Masalah Utama: Hati Kita Terlalu Ramai Penghuni
Ibarat mau nyalain lampu, tapi stopkontaknya penuh colokan
duniawi: colokan gengsi, terminal ambisi, charger pencitraan. Ya jelas cahaya
Ilahi susah masuk. Bukan karena Allah pelit cahaya, tapi hati kita sudah kayak
gudang flash sale—penuh barang nggak penting tapi tetap dipertahankan.
Makrifat Itu Bukan Ilmu Sulap
Sering orang mengira kedekatan dengan Allah itu identik
dengan “kesaktian spiritual”: mimpi aneh, firasat tajam, atau aura bergetar 5G.
Padahal kata sang kyai, pintu makrifat bukan dibuka dengan jurus “Tenaga Dalam
Level Dewa”, tapi dengan jurus yang lebih berat: mengalahkan diri sendiri.
Ikhlas: Kata Sederhana, Praktik Level Legenda
Ikhlas itu sering disangka mode hemat energi: pasrah, diem,
nggak usah mikir. Padahal justru kebalikannya. Ikhlas itu hasil dari paham.
Dari sadar betul siapa kita dan siapa Allah. Jadi bukan ibadah sambil mikir,
“Semoga ada yang lihat story shalat tahajudku.”
Ibadah yang tulus itu nggak berisik. Yang berisik biasanya…
nafsunya.
Bersih Luar Dalam, Bukan Cuma Feed Instagram
- Iri
level profesional
- Dendam
edisi terbatas
- Ujub
premium package
Padahal kata kyai, membersihkan batin itu sama wajibnya
dengan bersihin badan. Kalau badan bau, orang menjauh. Kalau hati bau… malaikat
yang menjauh. Dan malaikat nggak bisa dibohongi pakai parfum kasturi.
Orang Bercahaya Itu Nggak Perlu Spotlight
Sementara kita kadang kayak lampu disko: nyala-mati,
nyala-mati, plus berisik. Hari ini semangat ibadah, besok ngambek sama takdir,
lusa debat kusir di komentar.
Kyai mengingatkan, hidup ini pendek. Jangan habisin waktu
buat ribut, baper, dan debat yang ujungnya cuma nambah dosa jempol. Lebih baik
duduk dekat “cahaya” daripada lama-lama nongkrong di kegelapan sambil merasa
paling benar.
Soal Rezeki: Kita Panik, Allah Santai
Manusia sering stres mikirin rezeki masa depan, sampai lupa
menikmati rezeki hari ini: masih bisa napas gratis, jantung berdetak tanpa
langganan premium, dan masih bisa sujud.
Kyai menegaskan: rezeki itu bukan cuma uang. Bisa ibadah
enak, hati tenang, badan sehat—itu juga rezeki. Bahkan tidur pun tetap dapat
jatah hidup. Coba bayangin kalau napas pakai token listrik. Panik kita tiap
malam.
Tawakal bukan berarti rebahan sambil nunggu uang jatuh dari
langit. Itu mah namanya rebahan kreatif tanpa hasil. Tawakal itu usaha
maksimal, hati tetap tenang. Kayak sudah kirim lamaran kerja: setelah itu ya
doa, bukan refresh email tiap 30 detik sambil curiga ke takdir.
Akhirnya: Pulang dengan Ringan
Nasihat sang kyai mengajak kita jadi hamba yang wajar:
ibadah tanpa pamer, hidup tanpa berlebihan, berharap tanpa cemas berlebihan.
Pelan-pelan hati dibersihkan, sampai cahaya itu datang sendiri.
Itulah tanda perjalanan pulang sudah dimulai. 🌿✨
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026






