Sebelum ramai-ramai menyimpulkan bahwa semua orang pendiam itu sedang galau, sedang menyusun puisi, atau diam-diam menghafal isi perpustakaan nasional, ada baiknya kita mengakui satu hal: dunia memang terlalu berisik. Bukan hanya suara klakson atau tetangga yang sedang renovasi rumah untuk kesembilan kalinya. Yang lebih bising adalah notifikasi. Ponsel sekarang bunyinya lebih sering daripada hati yang dipanggil mantan. Bahkan kadang-kadang, seseorang belum sempat selesai berpikir, sudah diminta memberi reaksi, komentar, like, subscribe, dan kalau bisa sambil tersenyum.
Di tengah konser kebisingan itu, ada sekelompok manusia yang
tampak seperti spesies langka. Mereka tidak mengejar sorotan. Mereka juga tidak
punya hobi mengumumkan setiap aktivitas dengan kalimat, "Morning
vibes!" hanya karena berhasil menyeduh kopi tanpa membakar dapur.
Mereka hidup tenang, pulang cepat, dan menganggap rumah bukan sekadar bangunan,
melainkan markas besar untuk memulihkan kewarasan setelah bertemu dunia yang
percaya bahwa rapat daring pukul delapan malam adalah bentuk kasih sayang
perusahaan.
Lucunya, masyarakat sering bingung menghadapi orang-orang
seperti ini.
"Dia kok pendiam ya? Marah?"
Padahal belum tentu. Bisa jadi ia hanya sedang menikmati
kemewahan yang sekarang semakin mahal: tidak berbicara jika memang tidak ada
yang perlu dibicarakan. Bayangkan betapa revolusionernya tindakan itu di zaman
ketika orang bisa membuat video berdurasi tiga menit hanya untuk mengabarkan
bahwa mereka tidak punya ide membuat video.
Mereka yang mencintai kesunyian sering dianggap misterius.
Padahal kenyataannya lebih sederhana. Mereka hanya tidak merasa setiap pikiran
harus segera dipublikasikan. Mereka memperlakukan opini seperti teh hangat:
diseduh dulu, didiamkan sebentar, baru diminum. Sementara sebagian dari kita
memperlakukan opini seperti mi instan: air panas sedikit, langsung siap
disajikan ke seluruh internet.
Persahabatan mereka pun berbeda. Mereka tidak punya lima
ratus teman yang semuanya mengucapkan "Happy Birthday" karena
diingatkan algoritma. Mereka mungkin hanya punya dua sahabat. Tetapi dua orang
itu tahu letak rumahnya, tahu kapan ia benar-benar sedih, dan tahu bahwa
kalimat "nggak apa-apa" yang diucapkan sambil memandang langit
biasanya berarti "tolong jangan pulang dulu."
Di dunia modern, memiliki sedikit teman terdengar seperti
kegagalan pemasaran. Padahal kualitas hubungan tidak pernah dihitung seperti
jumlah pengikut media sosial. Seribu kenalan belum tentu bisa dimintai tolong
saat motor mogok. Kadang satu sahabat lebih berguna daripada dua ribu emoji
jempol.
Lalu ada kebiasaan yang sering membuat banyak orang cemas:
ponsel mereka selalu dalam mode senyap.
Sebagian orang melihat itu sebagai tanda kiamat kecil.
"Kenapa WhatsApp-ku belum dibalas? Sudah lima belas
menit!"
Lima belas menit sekarang memang terasa seperti lima belas
tahun geologis. Kita hidup di masa ketika balasan yang terlambat dianggap
penghinaan diplomatik. Seolah-olah setiap pesan memiliki status darurat
nasional.
Padahal mungkin ia sedang membaca buku. Atau sedang
menikmati hujan. Atau sedang menatap langit-langit rumah sambil memikirkan
pertanyaan besar umat manusia: mengapa tutup kotak makanan selalu hilang,
padahal kotaknya tetap ada?
Mode senyap bukan berarti hidupnya sunyi. Justru itu cara
sederhana mengatakan kepada dunia, "Maaf, hari ini saya ingin mendengar
suara pikiran saya sendiri."
Mereka juga sering membuka media sosial tanpa meninggalkan
jejak. Mereka hadir seperti penonton bioskop yang membeli tiket, menikmati
film, lalu pulang tanpa berdiri memberi ulasan sepanjang empat puluh utas.
Mereka membaca.
Mengamati.
Lalu menghela napas ketika melihat orang berdebat tiga hari
penuh tentang warna baju atau merek mi instan.
Mereka sadar ada perdebatan yang lebih baik diselesaikan
dengan secangkir teh daripada seratus komentar.
Soal tempat favorit, mereka menyukai laut, pegunungan,
gurun, atau musim dingin. Intinya, lokasi yang peluang bertemu orang berteriak
"Konten dulu, guys!" relatif kecil.
Mungkin itu sebabnya mereka betah memandangi ombak selama
satu jam. Ombak tidak pernah meminta validasi. Gunung tidak pernah mengunggah
foto dirinya dengan tagar #FeelingBlessed. Padang pasir tidak pernah membuat
video motivasi tentang bagaimana menjadi bukit pasir terbaik versi dirimu.
Alam mengajarkan sesuatu yang sering dilupakan manusia
modern: sesuatu tidak harus ribut agar menjadi agung.
Yang paling menarik justru hati mereka.
Mereka sering dikira rapuh karena lembut. Ini kekeliruan
klasik. Kapas memang lembut, tetapi coba gunakan bantal dari batu selama
seminggu, baru kita tahu bahwa kelembutan bukan kelemahan, melainkan bentuk
kecerdasan.
Orang yang memilih tidak melukai orang lain bukan berarti
tidak mampu membalas. Ia hanya tahu bahwa dunia sudah cukup penuh dengan orang
yang menjadikan komentar pedas sebagai olahraga pagi.
Ada pula anggapan bahwa orang pendiam tidak punya cerita.
Padahal justru sebaliknya.
Mereka seperti perpustakaan yang lampunya redup. Dari luar
tampak biasa saja. Namun begitu kita masuk dengan niat membaca, ternyata
rak-raknya penuh kisah, renungan, humor, dan pengalaman yang diam-diam matang
karena terlalu lama direbus oleh waktu.
Masalahnya, banyak orang ingin membuka perpustakaan itu
dengan cara mendobrak pintunya.
"Kenapa sih kamu diam?"
Pertanyaan itu kurang lebih sama seperti berdiri di depan
akuarium lalu berteriak kepada ikan, "Kenapa kamu tidak memanjat
pohon?"
Tidak semua kehidupan berkembang dalam kebisingan. Ada bunga
yang mekar justru saat malam. Ada embun yang turun ketika dunia tertidur. Ada
gagasan terbaik yang lahir ketika notifikasi akhirnya menyerah.
Barangkali itulah kritik paling halus terhadap zaman kita.
Kita hidup dalam budaya pertunjukan, seolah nilai seseorang ditentukan oleh
seberapa sering ia muncul di layar. Padahal matahari sendiri bekerja tanpa
pernah membuat status, "Selamat pagi, semoga sinarku bermanfaat."
Ironisnya, semakin banyak orang berbicara, semakin mahal
harga seseorang yang benar-benar mendengarkan.
Mungkin karena itu, jika suatu hari Anda bertemu seseorang
yang lebih banyak tersenyum daripada berbicara, yang lebih suka duduk di sudut
ruangan daripada menjadi pusat perhatian, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa
ia antisosial atau sedang patah hati.
Bisa jadi ia hanya sedang menjalankan profesi paling langka
di abad ini: manusia yang tidak merasa wajib mengomentari segala hal.
Dan kalau Anda cukup beruntung menjadi temannya, jangan
heran bila percakapannya tidak dimulai dengan, "Eh, tahu nggak gosip
terbaru?"
Melainkan dengan kalimat sederhana yang jauh lebih mewah:
"Mari duduk sebentar. Tidak apa-apa kalau kita tidak
mengatakan apa-apa."
Sebab pada akhirnya, dunia memang dipenuhi orang-orang yang
pandai berbicara. Namun peradaban diam-diam diselamatkan oleh mereka yang masih
sanggup mendengar. Di tengah kebisingan yang berlomba menjadi viral, jiwa-jiwa
yang tenang mengingatkan kita bahwa keheningan bukanlah kekosongan. Ia adalah
ruang istirahat bagi pikiran, ruang bernapas bagi hati, dan sesekali... tempat
terbaik untuk menghindari grup WhatsApp yang sedang memperdebatkan hal-hal yang
bahkan ayam tetangga pun tidak peduli.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026






