Sabtu, 09 Mei 2026

Dunia Itu Kos-Kosan, Bukan Rumah Permanen

Ada satu kesalahan manusia modern yang tampaknya sudah mencapai level kronis: mengira fasilitas dunia adalah hak milik abadi. Baru cicil motor 36 bulan, sudah merasa seperti Sultan Brunei. Baru punya kopi mahal dengan nama yang sulit dieja, langsung merasa tercerahkan secara spiritual. Padahal hidup kita kadang tidak lebih dari “penumpang transit” yang terlalu nyaman di ruang tunggu bandara.

Nasihat tentang “memanfaatkan fasilitas dunia untuk bekal akhirat” sebenarnya sederhana. Tetapi justru karena sederhana, manusia sering gagal memahaminya. Kita ini seperti tamu hotel yang terlalu semangat mendekorasi kamar, sampai lupa bahwa besok jam 12 siang harus check-out.

Manusia dan Khayalan Kepemilikan

Lucunya, manusia itu cepat sekali merasa memiliki. Baru punya ponsel baru tiga hari, casing-nya sudah seperti menjaga pusaka kerajaan. Padahal dua tahun lagi ponsel itu nasibnya kemungkinan besar hanya jadi tempat menyimpan resep masakan dan alarm subuh yang tidak pernah dimatikan.

Kita hidup seolah-olah semua ini permanen:

  • rekening,
  • jabatan,
  • followers,
  • bahkan sandal swallow favorit.

Padahal dunia hanya fasilitas. Mirip troli di supermarket. Tujuannya membantu membawa barang, bukan untuk dipeluk sambil menangis haru.

Tetapi manusia sering terbalik. Fasilitas dianggap tujuan. Akhirnya hidup berubah menjadi perlombaan absurd: siapa paling sibuk mengumpulkan barang yang nanti juga ditinggal.

Hukum Sebab-Akibat: Alam Semesta Tidak Bisa Disuap

Salah satu bagian paling menohok dari nasihat itu adalah tentang hukum sebab-akibat. Bahwa hasil tidak mengkhianati proses.

Ini hukum yang sangat adil, meskipun kadang menyakitkan ego. Orang yang tiap malam belajar biasanya lulus ujian. Orang yang tiap malam rebahan sambil berkata “aku belajar lewat energi semesta” biasanya lulus sebagai motivator TikTok.

Dalam urusan spiritual juga sama. Amal baik tidak hilang. Bahkan senyum kecil, membantu orang, menyingkirkan duri dari jalan—semua dicatat. Sistem administrasi langit tampaknya jauh lebih rapi daripada arsip kantor kelurahan.

Yang menarik, Allah menggunakan istilah “zarrah”—partikel sangat kecil—untuk menggambarkan amal. Ini berarti semesta ini bekerja dengan presisi luar biasa. Tidak ada:

  • “amal pending,”
  • “pahala gagal sinkronisasi,”
  • atau “server akhirat sedang maintenance.”

Semua masuk.

Surat Al-Asr dan Tragedi Manusia Modern

Surat Al-Asr sebenarnya sangat pendek. Tetapi efek tamparannya bisa lebih keras daripada notifikasi tagihan pinjaman online.

“Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.”

Kalimat ini luar biasa brutal. Tidak ada basa-basi motivasi:

“Kamu hebat.”
“Kamu spesial.”
“Semesta mendukungmu.”

Tidak. Langsung: rugi.

Dan lucunya, manusia modern memang tampak sibuk sekali menjadi rugi dengan cara yang kreatif. Bangun pagi cek media sosial, siang membandingkan hidup dengan orang lain, malam overthinking sambil makan mi instan rasa galau.

Kita punya teknologi canggih, tetapi sering kehilangan arah. Punya GPS, tapi hidup tetap nyasar.

Dunia sebagai Fasilitas: Jangan Salah Fungsi

Bayangkan Anda datang ke gym. Di sana ada treadmill, barbel, dan alat fitness lengkap. Tetapi Anda malah rebahan di lobby sambil selfie:
“MasyaAllah, luar biasa fasilitasnya.”

Petugas gym bingung.

Begitulah kira-kira manusia terhadap dunia. Dunia diberi sebagai alat untuk bertumbuh:

  • kesehatan untuk ibadah,
  • ilmu untuk memberi manfaat,
  • harta untuk membantu,
  • waktu untuk mendekat kepada Allah.

Tetapi yang terjadi sering sebaliknya. Fasilitas dipakai untuk:

  • perang komentar,
  • pamer liburan,
  • stalking mantan,
  • dan menonton video konspirasi bahwa bumi sebenarnya dikendalikan kadal multinasional.

Akhirnya hidup habis bukan karena kurang nikmat, tetapi karena salah penggunaan.

Pertanggungjawaban: Semua Akan Ditanya

Bagian paling menggetarkan sebenarnya sederhana: semua fasilitas akan dimintai pertanggungjawaban.

Dan ini menakutkan.

Bayangkan kalau waktu benar-benar bisa bicara:

“Saya diberikan 24 jam per hari. Kenapa 9 jam dipakai scrolling video orang makan seblak?”

Atau dompet berkata:

“Saya dulu penuh. Mengapa saya dikorbankan demi diskon tanggal kembar?”

Bahkan mungkin kasur pun bersaksi:

“Dia berniat tahajud. Tetapi kalah oleh selimut.”

Dalam perspektif ini, hidup jadi sangat lucu sekaligus serius. Kita sibuk mengoleksi barang, padahal yang akan dibawa hanyalah amal.

Mobil tidak ikut.
WiFi tidak ikut.
Centang biru media sosial juga tampaknya tidak terlalu membantu di alam kubur.

Jangan Jadi Turis yang Lupa Pulang

Pada akhirnya, dunia ini seperti rest area panjang dalam perjalanan menuju keabadian. Tempat singgah, bukan alamat akhir.

Orang bijak memanfaatkan fasilitas dunia seperti musafir memakai bekal: secukupnya, seperlunya, sepermanfaatnya. Bukan malah membangun istana di ruang tunggu.

Karena yang paling rugi bukan orang miskin. Yang paling rugi adalah orang yang diberi banyak fasilitas tetapi lupa tujuan.

Punya waktu, tapi habis untuk lalai.
Punya ilmu, tapi dipakai menyombongkan diri.
Punya umur, tapi tidak pernah benar-benar hidup untuk Allah.

Dan ironinya, manusia sering baru sadar dunia itu sementara ketika password akun email saja sudah lupa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

 

Melompat ke Jurang, Ternyata Kasur Spring Bed: Terence McKenna dan Seni Nekat yang Berkelas

Ada dua jenis manusia di dunia ini.

Pertama, manusia yang kalau mau beli bakso saja membuka tiga aplikasi review, membaca rating bintang, membandingkan harga kuah, lalu akhirnya makan mi instan di rumah karena “lebih aman.”

Kedua, manusia seperti Terence McKenna, yang melihat jurang menganga lalu berkata:
“Hmm… sepertinya alam semesta sedang mengundang saya berdansa.”

Dan anehnya, orang kedua sering terlihat lebih bahagia.

Kutipan legendaris McKenna tentang keberanian eksistensial pada dasarnya adalah versi spiritual dari kalimat: “Udah, lompat aja dulu. Nanti semesta bantu.” Bedanya, kalau motivator biasa mengucapkannya sambil memakai jas ketat dan headset wireless, McKenna mengucapkannya seperti seorang dukun kosmik yang baru selesai ngobrol dengan jamur halusinogen di tengah hutan Amazon.

Ia berkata bahwa alam mencintai keberanian. Kalimat ini terdengar indah, meskipun kalau dipikir-pikir cukup membingungkan. Sebab pengalaman rata-rata manusia modern justru menunjukkan bahwa alam sering kali mencintai diskon, cicilan, dan notifikasi tagihan listrik.

Namun McKenna bersikeras: ketika manusia benar-benar berkomitmen pada sesuatu yang tampaknya mustahil, semesta akan membantu menyingkirkan rintangan. Dalam bahasa sehari-hari, ini seperti keyakinan para pedagang gorengan bahwa “rezeki mah ada aja.” Sebuah filsafat yang tampak sederhana, tetapi secara misterius membuat orang tetap kuat meskipun minyak goreng naik dan cuaca hujan terus.

Masalahnya, manusia modern terlalu akrab dengan rasa aman. Kita hidup di zaman ketika orang ingin segalanya serba pasti. Mau menikah harus ada simulasi Excel. Mau buka usaha harus ada webinar, e-book, mentor bisnis, dan minimal tiga quote stoik di Instagram. Bahkan untuk bahagia pun sekarang orang mencari tutorial YouTube berdurasi tujuh menit.

McKenna datang membawa kabar buruk sekaligus kabar baik: hidup tidak bisa dipahami sepenuhnya sebelum dijalani dengan nekat.

Ia menggunakan metafora yang sangat dramatis: “melemparkan diri ke jurang dan menemukan bahwa ternyata itu hanya kasur bulu.” Ini adalah kalimat yang sangat puitis, meskipun tetap terdengar seperti promosi hotel ekstrem milik kaum sufi.

Tetapi di situlah inti humornya kehidupan. Banyak ketakutan manusia ternyata hanyalah karangan pikiran sendiri. Kita membayangkan kegagalan seolah kiamat pribadi. Padahal sering kali setelah kejadian berlalu, kita malah berkata:
“Oh… cuma gitu?”

Mirip mahasiswa yang panik sebelum sidang skripsi, lalu keluar ruangan sambil heran karena dosennya ternyata lebih sibuk memikirkan makan siang daripada menghancurkan masa depan akademiknya.

McKenna tampaknya memahami sesuatu yang sering gagal dipahami manusia modern: alam semesta tidak selalu merespons kehati-hatian berlebihan. Kadang-kadang realitas baru membuka pintu setelah manusia cukup gila untuk mengetuknya.

Inilah sebabnya ia menyebut para filsuf dan guru besar sebagai mereka yang “menyentuh emas alkimia.” Dalam tradisi kuno, alkimia bukan sekadar mengubah timah menjadi emas, tetapi mengubah manusia penakut menjadi manusia sadar. Dan proses itu rupanya tidak terjadi lewat rebahan sambil scrolling media sosial selama empat jam.

Lucunya, manusia sangat pandai memelihara ketakutan. Kita merawat kecemasan seperti tanaman hias. Disiram setiap hari dengan overthinking. Dipupuk dengan skenario buruk. Lalu dipamerkan ke teman-teman:
“Kayaknya gue gak bakal berhasil deh…”

Padahal kadang-kadang semesta sudah berdiri di depan pintu sambil berkata:
“Tinggal jalan, Bos. Saya udah siap bantu.”

Tetapi manusia malah sibuk membuat PowerPoint tentang kemungkinan gagal.

Tentu saja McKenna bukan sedang mengajak orang menjadi nekat tanpa otak. Ini penting. Sebab selalu ada satu orang yang membaca filsafat eksistensial lalu memutuskan resign besok pagi tanpa tabungan, tanpa rencana, dan tanpa kemampuan memasak mi dengan benar.

Keberanian yang dimaksud McKenna bukan kecerobohan, melainkan kesediaan untuk hidup secara total. Ada beda besar antara “percaya pada semesta” dan “pinjam uang teman lalu menghilang demi mengejar pencerahan.”

Yang menarik, pesan McKenna terasa relevan justru di era modern yang sangat rasional. Kita hidup di zaman penuh data, statistik, dan algoritma, tetapi ironisnya semakin banyak orang kehilangan keberanian dasar untuk hidup spontan. Semua ingin terkalkulasi. Semua ingin aman. Semua ingin kepastian.

Padahal sebagian besar hal terbaik dalam hidup lahir dari sedikit kegilaan yang elegan.

Jatuh cinta adalah kegilaan.
Membuat karya adalah kegilaan.
Memulai usaha adalah kegilaan.
Mengatakan “saya bisa” ketika semua orang berkata “mustahil” juga kegilaan.

Dan mungkin benar kata McKenna: alam diam-diam menyukai orang-orang seperti itu.

Sebab semesta tampaknya bosan dengan manusia yang hidup seperti draft email—disimpan terus, diedit terus, tapi tidak pernah dikirim.

Pada akhirnya, kutipan McKenna adalah tamparan lembut bagi jiwa manusia modern yang terlalu hati-hati. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan ruang tunggu bandara tempat kita terus menunda keberangkatan sampai merasa benar-benar siap.

Karena rahasia besar kehidupan mungkin memang absurd:
sering kali kasur paling empuk berada tepat di dasar jurang yang paling kita takuti.

abah-arul.blospot.com., Mei 2026

 

Cincinnatus, Tukang Cangkul, dan Orang-Orang yang Betah di Kursi

Ada satu pertanyaan yang diam-diam menghantui sejarah politik manusia sejak ribuan tahun lalu:

Mengapa orang yang paling layak memimpin biasanya justru ingin cepat pulang?

Dan mengapa orang yang paling ingin memimpin biasanya harus disuruh pulang paksa?

Pertanyaan ini muncul setiap kali kita membaca kisah Lucius Quinctius Cincinnatus, seorang petani Romawi yang dipanggil negara ketika republik sedang sekarat. Bayangkan suasananya: beliau lagi nyangkul dengan damai, mungkin sambil memikirkan pupuk kandang dan panen gandum, tiba-tiba datang utusan negara dengan wajah panik seperti admin grup keluarga menjelang Lebaran.

“Pak, Roma hampir runtuh. Tolong selamatkan negara.”

Dan yang lebih mengherankan lagi: beliau mau.

Di zaman sekarang, kebanyakan orang kalau ditawari jabatan akan bereaksi seperti peserta giveaway. Belum resmi menjabat saja sudah pesan baliho ukuran raksasa. Tapi Cincinnatus justru terlihat seperti bapak-bapak yang diminta jadi ketua panitia kurban secara mendadak: menghela napas panjang, memakai sandal, lalu berkata, “Ya sudah, saya bantu sebentar.”

Yang membuat kisah ini legendaris bukan cuma karena ia berhasil menyelamatkan Roma dalam waktu singkat, melainkan karena setelah semuanya selesai… dia pulang.

Tidak bikin partai.

Tidak bikin yayasan “Sahabat Cincinnatus”.

Tidak membuka kanal YouTube berjudul Leadership from the Soil.

Tidak menjual kelas daring “Bangkitkan Jiwa Kaisar dalam Dirimu.”

Beliau literally kembali nyangkul.

Dan justru di situlah dunia mulai bingung.

Ketika Kekuasaan Tidak Dianggap Mainan Koleksi

Masalah terbesar manusia modern adalah kita terlalu terbiasa melihat kekuasaan seperti koleksi action figure: kalau sudah dapat satu, maunya tambah lagi. Jabatan dianggap seperti langganan streaming—kalau bisa auto-renew seumur hidup.

Karena itu, kisah Cincinnatus terdengar hampir tidak realistis bagi telinga modern. Orang sekarang lebih rela kehilangan password email daripada kehilangan jabatan.

Lucunya, orang Romawi sendiri sebenarnya sadar bahwa kisah ini luar biasa. Mereka menjadikan Cincinnatus sebagai simbol ideal republik: pemimpin yang datang ketika dibutuhkan dan pergi sebelum disuruh.

Semacam teknisi AC politik.

Datang. Memperbaiki kerusakan. Minum teh manis. Lalu pulang tanpa meminta dibuatkan patung.

Tetapi sejarah punya selera humor yang gelap. Republik Romawi yang memuja Cincinnatus justru akhirnya hancur oleh orang-orang yang tidak pernah mau pulang. Setelah itu muncul tokoh-tokoh seperti Julius Caesar yang melihat kekuasaan bukan sebagai “amanah darurat” melainkan “paket langganan premium tanpa batas waktu.”

Dan sejak saat itu, politik dunia berubah menjadi semacam kompetisi kursi musik yang aneh: semua orang berebut duduk, tetapi tidak ada yang mau berdiri ketika musik berhenti.

George Washington dan Trauma Istana Eropa

Dua ribu tahun kemudian, sejarah mengulang leluconnya.

George Washington baru saja memenangkan perang kemerdekaan Amerika. Rakyat mencintainya. Tentara mendukungnya. Kalau beliau mau mengangkat diri jadi raja, kemungkinan besar orang-orang juga akan tepuk tangan sambil bikin merchandise.

Tapi Washington malah pulang ke perkebunannya di Mount Vernon.

Eropa syok.

Para raja di sana mungkin bingung seperti melihat influencer menghapus akun Instagram centang biru lalu berkata, “Saya capek validasi digital. Sekarang saya ingin fokus ternak lele.”

Konon George III sampai berkata bahwa jika Washington benar-benar melepaskan kekuasaan secara sukarela, maka dia adalah orang terbesar di dunia.

Karena bagi monarki Eropa, penguasa yang rela turun tahta terdengar seperti konsep fiksi ilmiah.

Dan memang di situlah letak keanehannya: orang-orang seperti Cincinnatus dan Washington memahami sesuatu yang sering gagal dipahami para pecinta kursi kekuasaan—bahwa jabatan hanyalah alat, bukan identitas.

Mereka tidak bangun pagi sambil berbisik ke cermin:

“Aku tanpa kekuasaan bukan siapa-siapa.”

Mereka bisa hidup tenang tanpa panggung.

Sebuah kemampuan langka di zaman ketika sebagian orang bahkan tidak bisa makan bakso tanpa mengunggahnya ke media sosial.

Republik dan Penyakit Bernama “Terlalu Betah”

Ada ironi besar dalam demokrasi modern. Kita selalu berkata ingin pemimpin yang bijaksana, rendah hati, dan tidak haus kuasa. Tetapi setiap musim politik tiba, kita justru terpesona pada orang yang paling percaya diri mempromosikan dirinya sendiri.

Yang paling keras berbicara dianggap paling visioner.

Yang paling sering muncul dianggap paling layak.

Yang paling ambisius dianggap paling siap.

Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa manusia yang terlalu mencintai kekuasaan biasanya memperlakukan negara seperti prasmanan hotel bintang lima: ambil sebanyak mungkin sebelum waktu habis.

Awalnya mereka datang membawa slogan.

Lalu slogan berubah menjadi baliho.

Baliho berubah menjadi dinasti.

Dan tiba-tiba republik berubah menjadi bisnis keluarga dengan logo nasional.

Sementara itu, orang-orang yang sebenarnya mungkin bijaksana justru sibuk mengurus kebun, mengajar, membaca buku, atau menghindari debat kusir di internet demi menjaga tekanan darah.

Karena orang bijak tahu satu hal penting: kekuasaan bukan cuma fasilitas. Kekuasaan adalah stres dengan pengawalan.

Sawah Lebih Menyehatkan daripada Istana

Mungkin itulah pelajaran terbesar dari Cincinnatus.

Peradaban tidak selalu runtuh karena kurang orang pintar. Kadang ia runtuh karena terlalu banyak orang yang tidak mau turun dari kursi.

Kita hidup di zaman ketika semua orang didorong untuk menjadi “alpha”, membangun personal branding, mengejar pengaruh, dan tampil dominan. Bahkan orang yang baru jadi ketua panitia buka puasa bersama kadang sudah berfoto seperti calon gubernur.

Di tengah budaya seperti itu, sosok Cincinnatus terasa nyaris revolusioner.

Dia menunjukkan bahwa puncak kebajikan bukanlah seberapa lama seseorang berkuasa, melainkan seberapa rela ia melepaskannya.

Bahwa sawah bisa lebih sehat daripada istana.

Bahwa cangkul kadang lebih mulia daripada singgasana.

Dan mungkin doa paling tulus rakyat kepada pemimpinnya sebenarnya sederhana saja:

“Pak, tolong selesaikan pekerjaan Anda dengan baik… lalu pulanglah dengan elegan sebelum kami hafal semua angle wajah Anda di televisi.”

Sebuah harapan yang terdengar sederhana.

Tetapi sepanjang sejarah manusia, ternyata itu termasuk kategori mukjizat politik.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Jumat, 08 Mei 2026

Ketika Buku Kalah oleh Reel 15 Detik: Ratapan Werner Herzog untuk Generasi “Scroll Terus”

Ada masa ketika orang membawa buku tebal ke kafe supaya terlihat intelektual. Sekarang? Orang membawa laptop, membuka 17 tab, lalu menonton video “5 Fakta Mengejutkan tentang Kucing yang Menguasai Dunia dalam 12 Detik.”

Di tengah dunia yang makin sibuk menggulir layar seperti sedang mengaduk bubur digital, muncul suara garang dari sineas Jerman legendaris Werner Herzog. Dengan gaya khas om-om Eropa yang tampak selalu marah bahkan saat memesan kopi, Herzog berkata:

“Baca. Baca. Baca. Baca. Baca.”

Kalimat itu terdengar seperti instruksi satpam perpustakaan yang habis kena PHK akibat e-book ilegal.

Namun Herzog tidak berhenti di situ. Ia mengatakan bahwa orang yang membaca akan “memiliki dunia,” sedangkan mereka yang tenggelam dalam internet dan televisi akan kehilangan dunia. Tentu saja, setelah kutipan itu viral, banyak orang langsung membagikannya di Instagram Story… tanpa membaca utuh isi kutipannya. Ironi modern bekerja sangat cepat.

Membaca: Aktivitas yang Kini Terlihat Seperti Ritual Kuno

Dulu membaca adalah tanda manusia beradab. Sekarang membaca satu artikel penuh tanpa pindah aplikasi setiap tiga menit dianggap kemampuan spiritual tingkat tinggi.

Coba lihat perilaku manusia modern saat membaca buku:

  • Baru dua halaman, sudah cek WhatsApp.
  • Baru satu bab, tiba-tiba ingin lihat cuaca di Islandia.
  • Baru masuk pendahuluan, eh malah berakhir nonton video “Kambing Marah karena Sandalnya Hilang.”

Otak kita kini dilatih algoritma untuk hidup dalam potongan-potongan kecil. Perhatian manusia modern mirip ikan cupang: indah, aktif, tapi lupa tujuan hidup tiap tujuh detik.

Herzog tampaknya sadar bahwa membaca bukan sekadar menerima informasi. Membaca itu olahraga mental. Ia memaksa kita duduk diam, bersabar, mengikuti argumen panjang, dan hidup tanpa ledakan dopamin tiap lima detik. Maka tidak heran banyak orang modern lebih takut membaca 20 halaman daripada maraton drama 20 episode.

Generasi “Tahu Sedikit tentang Semua Hal”

Masalah terbesar zaman sekarang bukan kurang informasi. Justru informasi terlalu banyak sampai manusia modern seperti orang masuk prasmanan gratis lalu mengambil semua makanan sekaligus—akhirnya kekenyangan, bingung, dan tidak menikmati apa pun.

Hari ini banyak orang tahu:

  • judul buku filsafat,
  • potongan podcast ekonomi,
  • kutipan stoikisme,
  • teori geopolitik,
  • dan cara membuat kopi ala barista Norwegia.

Tapi kalau ditanya lebih dalam, jawabannya:

“Nanti saya cari thread Twitter-nya dulu.”

Kita hidup di era manusia yang merasa pintar karena menonton video “Ringkasan Nietzsche dalam 30 Detik.” Bayangkan kalau peradaban Yunani kuno dibangun dengan format konten seperti itu:

“Socrates EXPOSED! Apa yang dia katakan sebelum minum racun bikin Plato MENANGIS 😱”

Herzog mungkin akan langsung pindah planet.

AI dan Ilusi Kepintaran Instan

Kemunculan AI generatif membuat situasi makin lucu. Sekarang orang bisa berkata:

“Saya sudah memahami buku itu.”

Padahal yang dibaca cuma:

“Ringkas dalam 5 poin penting.”

Kita mulai menciptakan generasi yang ingin mendapatkan kebijaksanaan tanpa proses. Seperti ingin punya otot six-pack hanya dengan menonton video gym sambil makan martabak.

AI sebenarnya alat luar biasa. Ia bisa membantu riset, membuka akses ilmu, bahkan membantu menulis. Tetapi kalau semua hal hanya ingin diringkas, dipadatkan, dipercepat, akhirnya manusia kehilangan satu kemampuan penting: tenggelam dalam pemikiran panjang.

Dan memang, masalah utama zaman ini bukan kurang cerdas. Masalahnya: terlalu sibuk merasa cerdas.

Algoritma: Pedagang Perhatian Abad Modern

Internet tentu bukan musuh. Banyak orang belajar filsafat, sejarah, bahkan tafsir melalui dunia digital. Masalahnya, algoritma internet itu seperti pedagang kaki lima yang terus berteriak:

“Hei! Klik ini! Ada video bayi panda jatuh dari kursi!”

Kita awalnya mau membaca artikel serius tentang peradaban Romawi. Dua puluh menit kemudian, kita malah menonton kompilasi:

“Kucing-kucing yang gagal lompat 2026.”

Algoritma tidak peduli kita menjadi bijak atau bodoh. Yang penting kita tidak berhenti menggulir. Dalam ekonomi digital, perhatian manusia adalah minyak baru. Dan sayangnya, banyak dari kita menjualnya terlalu murah—kadang cuma demi video orang terpeleset kulit pisang.

Orang yang Membaca Akan Memiliki Dunia

Di tengah kekacauan digital ini, pembaca buku mulai tampak seperti kelompok bawah tanah yang bertahan dari kiamat budaya. Mereka duduk diam di sudut ruangan, membawa novel 500 halaman, sementara dunia sekitar sibuk menonton video “Cara Jadi Miliarder dengan Bangun Jam 3 Pagi.”

Ada sesuatu yang heroik dari orang yang masih mampu membaca panjang di zaman serba pendek. Mereka memiliki stamina berpikir. Mereka tahan terhadap kebisingan. Mereka tidak gampang panik hanya karena membaca headline sensasional.

Dan mungkin inilah maksud terdalam Herzog: membaca bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan mempertahankan kemanusiaan.

Sebab ketika semua orang hanya hidup dari potongan-potongan informasi, orang yang membaca mendalam akan terlihat seperti penyihir. Mereka bisa memahami konteks, melihat pola, dan berpikir tanpa perlu subtitle TikTok di bawah wajahnya.

Maka seruan Herzog sebenarnya sederhana:
Matikan notifikasi sebentar. Pegang buku. Baca satu halaman. Lalu lanjut lagi.

Kalau perlu sambil mengunci ponsel di lemari.

Karena di zaman ketika semua orang sibuk menggulir dunia, mungkin orang yang benar-benar membaca memang akan memilikinya.

 abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Adab Lebih Utama dari Karomah: Ketika Tukang Pamer Cahaya Kalah oleh Emak-emak Subuh

Di zaman media sosial yang penuh filter dan efek cahaya, menjadi “wali vibes” tampaknya semakin mudah. Tinggal upload foto sambil memandang langit, tambahkan caption: “Kadang hati ini terlalu dekat dengan langit untuk dipahami bumi”, lalu selesai—minimal tiga orang akan berkomentar, “MasyaAllah, auranya beda.” Satu lagi bertanya, “Guru, buka kelas ma’rifat online nggak?”

Padahal belum tentu itu cahaya ilahi. Bisa jadi cuma efek ring light 12 inci.

Di tengah fenomena “spiritual flexing” semacam itu, muncul sebuah pelajaran tua dari dunia tasawuf yang terdengar sederhana namun menghantam ego seperti sandal jepit emak-emak pengajian: adab lebih utama daripada karomah.

Artinya, Allah mungkin lebih menyukai orang yang diam-diam istiqomah tahajud selama 20 tahun meski tidak pernah melihat cahaya apa pun, dibanding orang yang sekali mimpi ketemu seseorang berjubah putih lalu besoknya langsung membuka praktik konsultasi ruhani plus air mineral doa Rp75 ribu per botol.

Tasawuf ternyata bukan perlombaan efek spesial.

Karomah dan Godaan Menjadi “Manusia DLC”

Sebagian orang mengira tanda kesalehan tertinggi adalah pengalaman mistik. Kalau habis zikir lalu merasa tubuh bergetar sedikit, langsung curiga dirinya sedang naik level spiritual.

“Akhi… tadi saat wirid, saya merasa melayang.”

“Itu karena belum makan dari pagi.”

Ada juga yang sedikit-sedikit mengaku mendapat isyarat gaib.

“Semalam saya bermimpi bertemu seorang tua bercahaya.”

“Itu satpam kompleks. Lampu pos ronda memang terang.”

Lucunya, manusia memang suka hal spektakuler. Kalau ada orang istiqomah salat subuh berjamaah selama 30 tahun, reaksinya biasa saja. Tapi kalau ada yang mengaku melihat cahaya hijau di atas sajadah, seluruh grup WhatsApp langsung aktif seperti sedang menerima bocoran kiamat.

Padahal para ulama tasawuf sejak dulu sudah mengingatkan: jangan sibuk mengejar sensasi spiritual sampai lupa membersihkan kesombongan hati.

Karena ego itu licik. Kadang ia tidak lagi berkata, “Aku paling kaya.” Ia naik kelas menjadi, “Aku paling ikhlas.”

Ini lebih berbahaya. Orang sombong biasa masih bisa sadar karena ditegur tetangga. Tapi orang sombong spiritual biasanya merasa teguran itu justru ujian maqam.

Istiqomah: Superpower yang Membosankan

Masalah terbesar istiqomah adalah ia tidak dramatis.

Tidak ada musik latar.
Tidak ada cahaya turun dari langit.
Tidak ada efek asap.

Orang yang tiap malam bangun tahajud diam-diam tidak viral. Tidak ada yang membuat film berjudul The Return of Tahajud Man. Padahal justru itu yang berat.

Kita hidup di zaman yang menganggap konsistensi itu kalah keren dibanding sensasi.

Padahal menurut hikmah para sufi, bisa terus beribadah tanpa bosan itu sendiri sudah karomah besar.

Coba pikirkan: bangun jam tiga pagi saat hujan, air dingin, kasur hangat, lalu tetap wudhu tanpa mengunggah status “lagi healing bersama Allah” — itu kekuatan luar biasa.

Masalahnya manusia modern ingin ibadah yang hasilnya cepat terlihat. Baru tiga hari zikir sudah berharap mendapat “akses premium” ke rahasia langit.

Begitu tidak ada pengalaman mistik, mulai kecewa.

“Kenapa saya belum merasa apa-apa?”

Mungkin karena memang tujuan ibadah bukan menjadi paranormal premium.

Semua Orang Sedang Menjalani Jatah Fasilitas dari Allah

Salah satu ajaran paling menenangkan dari tasawuf adalah: semua posisi hidup hanyalah pembagian peran dari Allah.

Ada yang diberi jalan ilmu.
Ada yang diberi jalan dakwah.
Ada yang diberi jalan bisnis.
Ada yang diberi jalan menjadi tukang kebun.
Dan ada yang diberi jalan menjadi admin grup keluarga yang setiap hari menghapus hoaks tentang daun kelor penyembuh segala penyakit.

Semua bisa menjadi mulia kalau dijalani dengan adab.

Masalah muncul ketika manusia mulai membandingkan takdir seperti membandingkan paket internet.

“Kenapa dia dapat karomah unlimited, saya cuma istiqomah reguler?”

Padahal bisa jadi istiqomah itulah hadiah terbesar.

Karena belum tentu orang yang terlihat “spiritual sekali” benar-benar dekat dengan Allah. Kadang yang dekat justru ibu-ibu sederhana yang tidak pernah bicara maqam, tapi diam-diam doanya menembus langit lebih cepat daripada sinyal WiFi kantor.

Jalaliah dan Jamaliah: Dua Mode Pelayanan Ilahi

Dalam tasawuf dijelaskan bahwa Allah memiliki manifestasi Jalaliah dan Jamaliah.

Jalaliah melahirkan keteguhan, disiplin, mujahadah. Orang tipe ini hidupnya seperti santri alarm: stabil, teratur, konsisten.

Jamaliah melahirkan cinta, kelembutan, kerinduan spiritual. Orang tipe ini sedikit-sedikit menangis saat dengar selawat.

Keduanya baik.

Masalahnya manusia suka membuat kasta.

Yang rajin ibadah dianggap kurang “dalam.”
Yang emosional spiritual dianggap lebih “tinggi.”

Padahal bisa jadi yang satu sedang melatih cinta, yang lain sedang melatih ketahanan. Dua-duanya sama-sama sedang dididik Allah.

Ibarat gym ruhani: ada yang latihan cardio, ada yang angkat beban. Jangan saling menghina hanya karena alat olahraganya beda.

Sufi Palsu dan Nafsu Berkedok Tasawuf

Tasawuf juga punya penyakit internal: keinginan menjadi “orang spesial.”

Ada orang yang awalnya belajar ikhlas, lalu tanpa sadar malah ingin dikenal sebagai manusia paling ikhlas se-kecamatan.

Ini seperti orang diet supaya sehat, lalu akhirnya sibuk upload foto timbangan tiap pagi.

Nafsu memang kreatif. Bahkan saat masuk dunia spiritual, ia tetap membawa map prestasi.

“Sudah berapa juz wirid antum?”
“Sudah berapa kali khalwat?”
“Sudah pernah mimpi apa?”

Akhirnya perjalanan menuju Allah berubah seperti kompetisi sertifikasi mistik nasional.

Padahal para sufi sejati justru takut dianggap istimewa. Mereka lebih sibuk menjaga adab daripada mengumpulkan cerita ajaib.

Karena mereka tahu: orang yang benar-benar dekat dengan Allah biasanya makin rendah hati, bukan makin sibuk branding diri sebagai “ahli rahasia langit.”

Menjadi Hamba yang Tidak Ribut

Pada akhirnya, tasawuf bukan tentang menjadi manusia paling bercahaya. Tasawuf adalah belajar menjadi hamba yang tidak ribut.

Tidak ribut ingin dipuji.
Tidak ribut ingin dianggap wali.
Tidak ribut ingin terlihat suci.

Kalau Allah memberi karomah, syukuri.
Kalau Allah hanya memberi kemampuan untuk tetap salat tepat waktu sampai tua, itu pun sudah nikmat besar.

Sebab boleh jadi di akhirat nanti, yang paling dekat kepada Allah bukan orang yang paling banyak cerita spiritualnya, melainkan orang yang diam-diam menjaga adabnya ketika tidak ada yang melihat.

Dan mungkin, di saat sebagian manusia sibuk mengejar cahaya mistik, Allah justru tersenyum kepada seorang bapak sederhana yang setiap subuh berjalan ke masjid sambil membawa sandal jepit putus yang disambung pakai peniti.

Karena langit, rupanya, tidak terlalu terkesan oleh drama.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Ketika Kedamaian Batin Lebih Mahal daripada Paket Data untuk Debat Online

Ada satu fase dalam hidup ketika seseorang mulai memahami bahwa tidak semua hal harus ditanggapi. Dulu, kalau ada orang salah bicara sedikit, kita langsung berubah menjadi pengacara Mahkamah Konstitusi versi warung kopi. Ada komentar nyinyir sedikit di media sosial, jempol langsung panas. Baru baca separuh status Facebook, darah sudah mendidih seperti mi instan tiga menit.

Namun seiring bertambah usia, manusia mulai mengalami pencerahan spiritual yang sangat dalam:
"Ah sudahlah."

Konon, kutipan ini disematkan kepada Harrison Ford. Intinya sederhana: ada titik dalam hidup ketika kedamaian batin terasa jauh lebih nikmat daripada menang debat. Dan terus terang saja, ini adalah bentuk evolusi manusia paling tinggi setelah kemampuan membedakan charger sendiri dan charger milik teman.

Dulu kita merasa setiap argumen harus dimenangkan. Kalau ada orang berkata, “Bakso lebih enak daripada sate,” kita siap membuat presentasi PowerPoint lengkap dengan grafik statistik dan data BPS. Kalau ada yang salah menyebut tahun Proklamasi, kita langsung menjelma dosen sejarah yang belum menerima honor.

Sekarang?
Ada orang menulis:

“Bumi itu datar.”

Kita hanya mengangguk sambil menyeruput kopi:

“Baiklah, semoga perjalanan Anda lancar sampai ujungnya.”

Itulah kematangan emosional. Atau mungkin kelelahan. Kadang sulit dibedakan.

Esai serius tadi menyebut bahwa ini bukan sikap apatis. Dan memang benar. Orang yang sudah matang bukan tidak peduli; dia hanya mulai sadar bahwa energi hidup itu terbatas. Setelah umur tertentu, manusia mulai menghitung stamina emosional seperti menghitung kuota internet menjelang akhir bulan.

Kalau dulu kita rela begadang demi memenangkan debat online dengan akun bernama SingaPadang69, sekarang kita sadar:
“Loh, saya ini capek-capek debat, sementara lawan saya mungkin sedang komentar sambil rebahan pakai sarung dan makan kerupuk.”

Ada kebijaksanaan besar dalam memilih diam. Sebab banyak pertengkaran modern sebenarnya tidak menghasilkan apa-apa selain migrain ringan dan keinginan untuk uninstall media sosial lalu pindah ke gunung.

Media sosial hari ini memang seperti pasar malam emosi. Semua orang ingin bereaksi. Semua orang merasa harus punya pendapat. Ada orang makan mi dicampur cokelat saja bisa memicu perang saudara di kolom komentar.

Dan lucunya, algoritma internet sangat menyukai kemarahan. Semakin marah kita, semakin lama kita menatap layar. Semakin lama menatap layar, semakin banyak iklan masuk. Jadi di era digital, kemarahan bukan cuma emosi—ia sudah menjadi komoditas ekonomi. Kapitalisme ternyata bukan hanya menjual barang, tetapi juga menjual emosi tersinggung.

Di titik inilah pesan ala Harrison Ford terasa relevan. Setelah melewati banyak drama hidup, manusia mulai sadar bahwa kemenangan debat itu sering kali tidak mengubah apa pun. Anda bisa memenangkan argumen selama tiga jam penuh, menyusun logika seperti filsuf Yunani, menghadirkan data, jurnal ilmiah, dan kutipan Latin—tetapi lawan debat tetap menjawab:

“Ya terserah sih.”

Seketika seluruh perjuangan intelektual runtuh seperti rempeyek kena angin.

Maka orang bijak mulai memilih medan perang yang penting. Mereka tidak lagi bertarung demi ego, tetapi demi ketenangan. Ini mirip pendekar tua dalam film silat yang sudah malas menghunus pedang. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena sadar biaya servis rumah sakit sekarang mahal.

Ada fase ketika kebahagiaan terbesar bukan lagi “menang,” melainkan bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan komentar orang asing di internet. Sebab kedamaian batin ternyata lebih mewah daripada validasi digital.

Dan memang benar: semakin dewasa seseorang, semakin ia menikmati hal-hal sederhana. Duduk tenang. Minum kopi hangat. Tidak membuka kolom komentar. Tidak ikut perang opini. Tidak menjelaskan sesuatu kepada orang yang memang tidak ingin mengerti.

Itu sebabnya banyak orang tua tampak lebih santai. Mereka bukan kalah. Mereka hanya sudah naik kelas. Ketika anak muda sibuk adu argumen, mereka sibuk mencari posisi tidur yang tidak bikin pinggang sakit.

Pada akhirnya, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan membuktikan bahwa kita selalu benar. Kadang kemenangan terbesar justru datang ketika kita berkata:

“Sudahlah.”

Lalu menutup ponsel.
Memanaskan gorengan.
Dan kembali menikmati hidup dengan tenang.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Berani Berpikir Lain: Ketika Algoritma Lebih Tahu Selera Kita daripada Ibu Sendiri

“If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking.”

— Haruki Murakami

Di zaman sekarang, menjadi manusia itu sulit. Baru buka mata pagi hari, algoritma sudah menyambut lebih hangat daripada keluarga sendiri. Belum sempat mengucek mata, TikTok sudah berkata, “Kami tahu Anda suka video kucing, motivasi hidup, dan teori konspirasi tentang kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah.”

Lalu datanglah kutipan dari Haruki Murakami itu seperti tamparan lembut memakai hardcover novel 700 halaman: “Jika kamu hanya membaca buku yang dibaca semua orang, kamu hanya bisa berpikir seperti yang dipikirkan semua orang.”

Masalahnya, di era sekarang, jangankan buku. Banyak orang bahkan membaca caption Instagram saja sudah ngos-ngosan. Kita hidup di masa ketika ringkasan buku lebih populer daripada bukunya, opini lebih pendek dari umur baterai HP, dan debat intelektual sering berakhir dengan kalimat sakti: “Terserah sih, tapi menurut konten yang aku lihat tadi…”

Ketika Timeline Menjadi Kandang Ayam Intelektual

Dulu orang mencari ilmu ke perpustakaan. Sekarang orang mencari kebenaran lewat kolom komentar.

Dan seperti kita tahu, kolom komentar adalah tempat di mana:

  • ahli ekonomi lulusan “feeling pribadi”,
  • filsuf bersertifikat “katanya”,
  • serta pakar kesehatan alumni “thread Facebook tahun 2017”
    berkumpul dengan penuh percaya diri.

Algoritma modern bekerja seperti ibu kos yang terlalu perhatian. Ia tahu apa yang kita suka, lalu terus memberi hal yang sama sampai otak kita empuk seperti biskuit dicelup teh.

Anda suka satu video stoikisme? Besok seluruh hidup Anda dipenuhi lelaki berjanggut yang berkata:

“Jangan mengejar wanita. Kejarlah ketenangan.”

Anda suka satu video produktivitas? Tiba-tiba muncul orang bangun jam 4 pagi, mandi es, meditasi sambil baca saham, lalu membuat kita merasa gagal hanya karena sarapan pukul 9.

Lama-lama timeline kita berubah menjadi ruang gema. Semua orang bicara hal yang sama, memakai istilah yang sama, bahkan marah dengan nada yang sama. Seolah-olah seluruh umat manusia sedang direkrut menjadi NPC intelektual.

Mentalitas Kawanan: Ketika Otak Ikut Arus demi Bertahan Hidup

Dalam psikologi, manusia memang punya bakat alami ikut-ikutan. Eksperimen Solomon Asch menunjukkan bahwa manusia bisa setuju pada jawaban salah hanya karena mayoritas bilang begitu.

Kalau eksperimen itu dilakukan hari ini, mungkin hasilnya lebih cepat.

Peneliti:

“Menurut Anda, garis A atau B yang paling panjang?”

Peserta:

“Sebenarnya A…”

Netizen:

“BANG, YANG B LAH 😭🔥”

Peserta:

“…iya deng, B.”

Kadang kita tidak benar-benar setuju dengan opini publik. Kita hanya lelah berbeda. Karena berbeda di internet itu berat. Salah sedikit langsung dianggap:

  • kurang literasi,
  • tidak open minded,
  • antek kapitalis,
  • komunis,
  • buzzer,
  • atau lebih parah: pengguna Android versi lama.

Padahal pertumbuhan intelektual sering lahir justru saat kita merasa tidak nyaman. Jean Piaget menyebutnya disequilibrium—momen ketika pikiran lama kita diguncang ide baru.

Sayangnya, manusia modern alergi diguncang. Kita maunya membaca sesuatu yang membuat kita berkata:

“Nah, betul! Ini sesuai pendapat saya!”

Bukan:

“Waduh… jangan-jangan selama ini saya salah.”

Itulah sebabnya buku sulit sekarang kalah dari konten “5 cara cepat sukses tanpa usaha”. Otak manusia ternyata suka mie instan intelektual: cepat matang, gurih, tapi gizinya meragukan.

Menjadi Pembaca yang Berani

Nasihat Haruki Murakami sebenarnya sederhana: jangan biarkan isi kepala Anda disusun sepenuhnya oleh pasar dan algoritma.

Artinya, sesekali cobalah membaca buku yang:

  • tidak viral,
  • tidak masuk “best seller”,
  • tidak direkomendasikan influencer sambil ngopi estetik,
  • dan mungkin membuat Anda mengernyit lima halaman pertama.

Membaca buku berat memang tidak selalu menyenangkan. Kadang baru tiga halaman sudah merasa IQ turun dua digit. Ada buku filsafat yang membuat pembacanya berhenti sejenak lalu menatap tembok sambil bertanya:

“Ini penulisnya jenius atau saya yang kurang tidur?”

Tetapi justru di situlah latihan berpikir terjadi.

Orang yang hanya membaca hal populer biasanya mulai bicara dengan template:

“Sebagai manusia kita harus healing.”

Sedangkan orang yang bacaannya aneh-aneh kadang berbicara seperti:

“Menurut kaum Stoik, penderitaan adalah konsekuensi ontologis dari eksistensi.”

Walaupun sama-sama sedih karena ditinggal chat tidak dibalas.

Dunia Kerja Juga Penuh Tukang Fotokopi Pikiran

Di kantor, banyak orang ingin jadi inovator, tapi isi kepalanya hasil copy-paste LinkedIn motivasional.

Semua ingin “out of the box”, padahal isi box-nya sama semua.

Lucunya, inovasi besar sering muncul dari orang yang membaca hal di luar bidangnya. Steve Jobs belajar kaligrafi, lalu dunia mendapatkan tipografi komputer yang indah. Sementara sebagian orang sekarang bahkan memilih font PowerPoint saja masih memakai Comic Sans dengan percaya diri penuh.

Mungkin masalah terbesar manusia modern bukan kurang informasi. Kita justru tenggelam dalam informasi. Masalahnya adalah semua orang berenang di kolam yang sama sambil merasa dirinya penjelajah samudra.

Kebebasan Terakhir: Hak untuk Tidak Ikut-ikutan

Pada akhirnya, kutipan Haruki Murakami bukan hanya soal membaca buku. Ini soal keberanian menjaga isi kepala tetap merdeka.

Karena di zaman sekarang, berbeda pendapat sering dianggap gangguan sistem. Orang lebih nyaman hidup dalam keramaian opini massal daripada duduk sendirian bersama pertanyaan yang sulit.

Padahal pikiran yang sehat bukan pikiran yang selalu benar. Pikiran yang sehat adalah pikiran yang masih berani berkata:

“Tunggu dulu… apakah saya benar-benar berpikir sendiri?”

Jadi sesekali, lawan algoritma Anda. Baca buku yang tidak terkenal. Dengarkan pendapat yang membuat Anda kesal. Masuklah ke toko buku dan pilih buku yang sampulnya tidak dipromosikan siapa pun.

Minimal, itu membuat hidup lebih menarik.

Karena kalau semua orang membaca hal yang sama, berpikir hal yang sama, marah pada hal yang sama, dan membuat opini yang sama… lama-lama umat manusia hanya seperti grup WhatsApp keluarga:
ramai, penuh forward, tapi tidak ada yang benar-benar tahu sumbernya.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026