Konon, setiap organisasi besar itu seperti bandara. Ada menara kontrol, ada ruang tunggu, ada petugas keamanan, ada koper yang kadang hilang entah ke mana, dan tentu saja ada pengumuman yang suaranya lebih misterius daripada isi rapat pleno.
Nah, ada yang bilang Bandara NU sedang kotor.
Bukan karena habis musim hujan atau karena petugas kebersihan sedang cuti bersama. Yang dimaksud adalah debu kepentingan. Debu jenis ini unik. Ia tidak membuat orang bersin, tetapi membuat orang sulit melihat. Lucunya, setiap orang merasa dirinya membawa sapu, padahal yang diayunkan justru kipas angin. Debunya bukannya hilang, malah berpindah ke wajah tetangga.
Runway pun konon dipenuhi pesawat politik. Ini menarik. Pesawat-pesawat itu datang membawa slogan, berangkat membawa jabatan, lalu kembali lagi lima tahun kemudian dengan cat baru tetapi pilot yang sama. Bandara jadi sibuk bukan karena banyak penerbangan ilmu, melainkan karena jadwal lepas landas ambisi yang padat merayap.
Yang paling menggelitik adalah istilah "mekanik pembajak". Biasanya mekanik memperbaiki mesin. Kalau mekaniknya pembajak, pesawat yang tadinya hendak terbang ke "kemaslahatan umat" bisa mendarat mendadak di Terminal "Kepentingan Pribadi". Penumpangnya bingung. Tiketnya bertuliskan "pengabdian", tetapi bagasinya tiba di kota "transaksi".
Namun, sebelum kita sibuk menunjuk mekanik mana yang nakal, ada baiknya kita bercermin. Sebab sejarah organisasi mengajarkan satu hal sederhana: kadang yang paling berisik meneriakkan "bandara kotor!" ternyata baru saja selesai menginjak kubangan lumpur sambil memakai sepatu putih.
Lalu muncullah usulan yang terdengar agung: bukan manajemen, melainkan tazkiyah.
Kalimat ini membuat para konsultan organisasi mendadak gelisah. Bayangkan, mereka datang membawa presentasi seratus slide tentang tata kelola, indikator kinerja, dan transformasi digital. Belum sempat menyalakan proyektor, seorang kiai berkata, "Masalahnya bukan Excel, Nak. Masalahnya hati."
PowerPoint langsung kehilangan daya.
Memang ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan rapat koordinasi. Kalender rapat bisa penuh, notulen bisa rapi, konsumsi bisa mewah, tetapi kalau ego ikut hadir sebagai peserta tetap, keputusan sering kali hanya menjadi cara yang elegan untuk memperpanjang masalah.
Masalahnya, kata "penyucian" juga memiliki efek samping. Semua orang mendukung penyucian, asalkan yang dicuci adalah orang lain.
Tidak ada yang keberatan rumah dibersihkan. Yang keberatan biasanya adalah tikus.
Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan siapa tikusnya. Dalam politik organisasi, tikus sering memakai jas, sementara kucing kadang mengenakan topi tikus. Kamera CCTV pun akhirnya menyerah.
Di sinilah humor menjadi penting. Humor mengingatkan bahwa manusia mempunyai bakat luar biasa untuk menganggap dirinya malaikat yang sedang tersesat di tengah kumpulan setan. Padahal kenyataannya sering lebih sederhana: kita semua sedang antre memperbaiki diri, hanya nomor antreannya berbeda.
Ada pula bahaya ketika metafora bekerja terlalu keras. Begitu sering menyebut "langit", kadang kita lupa mengecek apakah pengeras suara di bumi masih berfungsi. Mengaku membawa pesan langit memang terdengar mulia. Hanya saja, langit tidak pernah memberi stempel "bebas salah" kepada siapa pun. Kalau iya, rapat tidak akan pernah berlangsung lebih dari lima menit.
Pendiri-pendiri NU dahulu memberi teladan yang menarik. Mereka gemar berdebat, tetapi lebih gemar lagi bermusyawarah. Mereka berbeda pendapat tanpa harus berbeda adab. Mereka tahu bahwa mencari kebenaran bukan seperti lomba tarik tambang: bukan soal siapa yang berhasil menjatuhkan lawan, melainkan bagaimana semua tetap berdiri ketika tali dilepaskan.
Kalau Bandara NU benar-benar ingin dibersihkan, mungkin yang pertama disapu bukan runways, melainkan ruang tunggu kesombongan. Setelah itu loket prasangka. Kemudian gudang ambisi. Terakhir, menara kontrol ego yang sering merasa paling tinggi sehingga lupa melihat landasan di bawah.
Sebab organisasi besar bukan hancur karena terlalu banyak kritik. Ia biasanya mulai retak ketika setiap orang sibuk menjadi pilot, sementara tidak ada yang mau menjadi petugas yang diam-diam memungut sampah di terminal.
Pada akhirnya, kita semua hanyalah penumpang. Hari ini duduk di kelas eksekutif, besok bisa saja dipindahkan ke kursi paling belakang oleh waktu. Yang abadi bukan kartu akses ruang VIP, melainkan jejak pengabdian yang tertinggal setelah pesawat sejarah lepas landas.
Dan barangkali
itulah makna tazkiyah yang paling membumi: membersihkan hati sebelum
membersihkan organisasi. Sebab lantai yang mengilap tidak banyak gunanya bila
orang-orang yang berjalan di atasnya masih gemar membawa lumpur di telapak
sepatunya.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026






