Suatu hari nanti mungkin akan lahir seorang manajer yang begitu produktif sehingga ia dapat mengukur seluruh hidupnya dengan spreadsheet.
Ia bangun pagi dengan grafik efisiensi tidur, sarapan dengan
tabel kalori, berangkat kerja dengan aplikasi pengukur langkah, lalu pulang
membawa laporan KPI yang lebih tebal daripada kitab kuning pesantren.
Namun ada satu masalah kecil.
Ia bisa menghitung pertumbuhan perusahaan sampai tiga digit
di belakang koma, tetapi tidak tahu mengapa istrinya sedang murung.
Ia bisa membaca tren pasar Asia Tenggara, tetapi gagal
membaca wajah anaknya sendiri.
Ia memahami perilaku konsumen, tetapi bingung menghadapi
perilaku manusia.
Di sinilah Bernard Pivot tertawa pelan.
Menurut jurnalis dan pecinta sastra Prancis itu, manusia
modern sedang terjangkit penyakit aneh: alergi terhadap hal-hal yang dianggap
tidak berguna. Buku harus produktif. Bacaan harus menghasilkan uang. Waktu
harus memberi keuntungan. Bahkan secangkir kopi pun kini dituntut memiliki
manfaat antioksidan sebelum diizinkan masuk ke lambung.
Novel?
"Untuk apa?"
Puisi?
"Tidak ada ROI-nya."
Cerpen?
"Tidak bisa dipakai presentasi."
Maka lahirlah generasi manusia yang membaca seratus buku
bisnis tetapi panik ketika berhadapan dengan satu mertua.
Padahal hidup, sayangnya, lebih mirip novel daripada laporan
keuangan.
Mengapa Manusia Perlu Sedikit Fiksi?
Bayangkan otak manusia seperti rumah makan.
Sebagian orang hanya menyantap data.
Pagi data.
Siang data.
Malam data.
Camilannya data.
Lama-lama pikiran mereka seperti gudang beras: penuh stok
tetapi tidak pernah menghasilkan aroma masakan.
Sastra bekerja berbeda.
Ia bukan sekadar memberi informasi.
Ia memberi pengalaman.
Ketika membaca Les Misérables, kita ikut menjadi Jean
Valjean yang dikejar masa lalu.
Ketika membaca Dostoevsky, kita ikut mengalami perang
saudara kecil di dalam kepala manusia.
Ketika membaca Pramoedya, kita diajak melihat dunia dari
mata orang yang hidup di zaman yang tidak pernah kita alami.
Sastra seperti jasa penyewaan kehidupan.
Dengan harga sebuah buku, kita bisa hidup sebagai ratusan
orang tanpa harus mengganti KTP.
Itulah sebabnya pembaca novel sering kali lebih mudah
memahami manusia.
Mereka sudah berkali-kali menjadi miskin, kaya, jatuh cinta,
dikhianati, gagal, berhasil, dan patah hati—setidaknya secara imajinatif.
Sementara sebagian orang hanya pernah menjadi dirinya
sendiri selama lima puluh tahun penuh.
Bahaya Menjadi Manusia yang Terlalu Praktis
Ada sebuah ironi besar dalam peradaban modern.
Kita memiliki teknologi untuk berbicara dengan siapa saja di
seluruh dunia, tetapi semakin sulit berbicara dengan tetangga.
Kita dapat mengakses jutaan informasi dalam hitungan detik,
tetapi tidak sabar membaca lima halaman tanpa melihat notifikasi.
Kita tahu harga saham hari ini, tetapi lupa harga kesepian.
Kita mengetahui indeks ekonomi, tetapi tidak mengenali
indeks kegelisahan dalam hati sendiri.
Manusia praktis sering menganggap sastra tidak efisien.
Memang benar.
Sastra memang tidak efisien.
Sama seperti matahari terbenam tidak efisien.
Sama seperti mendengarkan suara hujan tidak efisien.
Sama seperti memeluk ibu tidak efisien.
Namun anehnya, hal-hal yang tidak efisien itulah yang
membuat hidup layak dijalani.
Kalau seluruh hidup hanya diisi oleh hal-hal yang berguna,
manusia akhirnya berubah menjadi obeng.
Sangat berguna.
Tetapi tetap saja obeng.
Buku yang Baik Adalah Tukang Ganggu Profesional
Keistimewaan sastra bukan karena ia memberi jawaban.
Justru karena ia suka mengacaukan jawaban.
Media sosial sering bekerja seperti pelayan yang terlalu
ramah.
Ia hanya menyajikan apa yang ingin kita dengar.
Jika kita suka satu pendapat, algoritma akan memberi seribu
pendapat yang sama.
Akhirnya kita hidup di dalam ruang gema.
Kita berbicara dengan diri sendiri, lalu mengira sedang
berdialog dengan dunia.
Novel melakukan kebalikannya.
Ia memaksa kita tinggal sementara di kepala orang lain.
Ia mengajak kita memahami tokoh yang berbeda agama, berbeda
bangsa, berbeda kelas sosial, bahkan berbeda moralitas.
Sastra adalah latihan bertetangga dengan manusia yang tidak
mirip kita.
Dan itu bukan pekerjaan mudah.
Kadang-kadang buku terbaik justru buku yang membuat kita
kesal.
Buku yang membuat kita berkata:
"Tokoh ini menyebalkan sekali!"
Lalu lima puluh halaman kemudian kita sadar:
"Astaga, ternyata saya juga begitu."
Membaca sebagai Olahraga Jiwa
Orang pergi ke gym untuk melatih otot.
Orang membaca sastra untuk melatih kemanusiaan.
Bedanya, otot yang terbentuk tidak terlihat di cermin.
Yang bertambah bukan lingkar lengan, melainkan lingkar
pengertian.
Yang membesar bukan dada, melainkan kapasitas memahami
sesama.
Membaca novel tidak otomatis membuat seseorang suci.
Banyak orang pintar tetap bisa menjadi orang jahat.
Sejarah sudah membuktikannya.
Namun sastra setidaknya memberi kesempatan untuk keluar dari
penjara ego.
Karena masalah terbesar manusia sering bukan kurangnya
informasi.
Melainkan terlalu sempitnya imajinasi.
Kita sulit memahami orang lain karena kita tidak pernah
mencoba hidup di dalam cerita mereka.
Di Tengah Dunia yang Sibuk Menggeser Layar
Hari ini kita hidup dalam peradaban jempol.
Bangun tidur menggeser layar.
Menunggu bus menggeser layar.
Sebelum tidur menggeser layar.
Kadang-kadang yang lelah bukan mata, melainkan jiwa yang
tidak pernah diberi kesempatan berdiam diri.
Maka membaca buku menjadi tindakan yang hampir revolusioner.
Hanya ada dua makhluk yang bertemu:
sebuah pikiran yang menulis dan sebuah pikiran yang membaca.
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada iklan.
Tidak ada suara "ting".
Hanya percakapan sunyi antara dua kesadaran manusia.
Mungkin karena itulah Bernard Pivot mengatakan bahwa membaca
membuat kecerdasan sampai ke ujung jari.
Sebab saat membalik halaman, yang sebenarnya bergerak bukan
hanya jari kita.
Pandangan kita tentang dunia ikut bergerak.
Jangan Hanya Membaca Neraca
Pada akhirnya, hidup bukan sekadar proyek yang harus
dioptimalkan.
Hidup adalah cerita yang harus dipahami.
Kita tentu perlu membaca laporan keuangan, buku bisnis,
panduan teknologi, dan berbagai bacaan praktis lainnya.
Tetapi sesekali, duduklah bersama sebuah novel.
Biarkan diri Anda tersesat di dalam kisah orang lain.
Karena mungkin, setelah ratusan halaman, Anda tidak akan
menjadi lebih kaya.
Tidak juga lebih terkenal.
Mungkin bahkan tidak lebih produktif.
Namun Anda pulang membawa sesuatu yang jauh lebih langka di
abad ini:
kemampuan untuk menjadi manusia.
Dan di zaman ketika banyak orang sibuk menjadi mesin yang
efisien, menjadi manusia barangkali adalah pencapaian yang paling luar biasa.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026






