Ada banyak hal yang ditakuti manusia. Takut mati, misalnya. Takut kehilangan pekerjaan. Takut harga kebutuhan naik. Takut pasangan membaca pesan WhatsApp yang seharusnya tidak dibaca. Takut pula ketika dokter berkata, “Kita lihat hasil lab dulu,” karena kalimat itu biasanya lebih menegangkan daripada film horor.
Namun Bertrand Russell menawarkan sesuatu yang lebih
menggelisahkan: manusia sebenarnya takut berpikir.
Ini terdengar aneh. Bukankah sejak kecil kita justru disuruh
berpikir?
“Anak harus berpikir kritis!”
Begitu slogan pendidikan.
Tetapi ketika anak benar-benar bertanya, “Mengapa harus
begini?”, suasana kadang berubah menjadi rapat kabinet.
“Sudah, jangan banyak tanya.”
Di situlah kita menemukan ironi besar kehidupan manusia:
kita menyuruh orang berpikir, tetapi diam-diam berharap pikirannya tidak
terlalu jauh.
Ketika Pikiran Mulai Nakal
Dalam Why Men Fight (1916), Russell melihat bahwa
pikiran bebas memiliki sifat yang agak merepotkan bagi kekuasaan: ia sulit
disuruh duduk manis.
Pikiran tidak mengenal pagar administrasi.
Ia bisa masuk ke ruang rapat, masuk ke kelas, masuk ke
rumah, bahkan muncul ketika kita sedang mandi. Justru ketika sedang tidak
dibutuhkan, ia datang membawa pertanyaan:
“Benarkah selama ini kita benar?”
Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi awal sebuah revolusi
batin.
Sebab pikiran yang benar-benar bebas tidak puas hanya dengan
kalimat, “Memang dari dulu begitu.”
Kalimat tersebut sebenarnya merupakan salah satu musuh
terbesar umat manusia. Banyak kebiasaan bertahan bukan karena benar, melainkan
karena sudah terlalu lama dilakukan.
Kalau umur dijadikan ukuran kebenaran, maka debu di atas
lemari adalah filsuf paling senior di rumah kita.
Tradisi tentu penting. Otoritas juga penting. Tetapi ketika
tradisi dan otoritas tidak boleh lagi ditanya, manusia mulai mengubah akal
sehat menjadi barang pajangan.
Mirip lukisan mahal: dipasang bagus di dinding, tetapi
jangan disentuh.
Mengapa Kita Takut Berpikir?
Karena berpikir itu melelahkan.
Percaya begitu saja jauh lebih praktis.
Kita tidak perlu membaca. Tidak perlu memeriksa. Tidak perlu
mempertimbangkan kemungkinan bahwa pendapat kita sendiri mungkin keliru.
Cukup berkata:
“Pokoknya saya yakin.”
Selesai.
Ketenangan pun datang.
Masalahnya, ketenangan semacam itu kadang hanya nama lain
dari kemalasan intelektual.
Manusia menyukai kepastian karena ketidakpastian membuat
kita gelisah. Kita ingin dunia memiliki jawaban yang jelas, seperti soal
pilihan ganda: A, B, C, atau D.
Sayangnya, kehidupan jarang menyediakan pilihan E: “Ternyata
masalahnya jauh lebih rumit.”
Berpikir membuat kita berhadapan dengan kerumitan. Ia
memaksa kita mengakui bahwa sesuatu yang kita yakini selama bertahun-tahun
mungkin tidak sepenuhnya benar.
Dan ini menyakitkan.
Sebab ternyata yang paling sulit dikalahkan bukanlah lawan
debat, melainkan ego sendiri.
Ego: Satpam yang Tidak Pernah Tidur
Setiap manusia memiliki semacam satpam di dalam kepala.
Tugasnya menjaga keyakinan kita.
Ketika informasi baru datang, ia bertanya:
“Ini menguntungkan posisi saya atau tidak?”
Kalau menguntungkan:
“Wah, fakta!”
Kalau merugikan:
“Hoaks!”
Begitulah cara kerja manusia modern.
Kita tidak selalu mencari kebenaran. Sering kali kita
mencari pembenaran.
Media sosial memperindah keadaan ini. Algoritma bekerja
seperti pelayan restoran yang sangat memahami selera pelanggan.
“Bapak suka berita seperti ini?”
“Iya.”
“Baik. Kami sajikan seribu lagi.”
Akhirnya kita hidup dalam gelembung yang isinya orang-orang
yang semuanya setuju dengan kita.
Lalu kita keluar dari gelembung itu sebentar, bertemu orang
yang berbeda pendapat, dan langsung merasa dunia sedang mengalami kerusakan
moral.
Padahal mungkin dunia baik-baik saja. Hanya algoritmanya
yang sedang memberi kita terlalu banyak makanan intelektual yang sama.
Pikiran sebagai Perusak yang Menyelamatkan
Russell menyebut pemikiran sebagai sesuatu yang bersifat
anarkis dan bebas dari hukum dalam arti tertentu. Pikiran tidak tunduk begitu
saja kepada aturan yang hanya karena dibuat oleh kekuasaan.
Inilah kekuatan sekaligus bahayanya.
Pikiran dapat membongkar mitos.
Ia dapat bertanya kepada kekuasaan:
“Benarkah begitu?”
Kepada tradisi:
“Apakah masih relevan?”
Kepada mayoritas:
“Apakah banyak orang otomatis berarti benar?”
Dan bahkan kepada diri sendiri:
“Jangan-jangan saya yang keliru?”
Pertanyaan terakhir inilah yang paling mahal.
Sebab untuk mengucapkannya kita membutuhkan kerendahan hati.
Manusia sangat mudah berkata, “Kamu salah.”
Tetapi berkata, “Mungkin saya salah,” membutuhkan keberanian
yang jauh lebih besar.
Socrates dan Galileo: Dua Orang yang Terlalu Banyak
Bertanya
Sejarah menunjukkan bahwa orang yang gemar berpikir sering
memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan zamannya.
Socrates dihukum karena pertanyaan-pertanyaannya dianggap
mengganggu tatanan pemikiran Athena.
Galileo mengalami tekanan karena pandangannya tentang alam
semesta bertentangan dengan pandangan dominan pada zamannya.
Pesannya jelas: kadang-kadang masyarakat menyukai orang
pintar, selama kepintarannya tidak membuat terlalu banyak orang merasa tidak
nyaman.
Kita senang dengan ilmuwan yang menemukan sesuatu.
Tetapi ketika hasil temuannya membuat kita harus mengubah
kebiasaan, kita mulai berkata:
“Ya, tapi…”
Kata “tapi” sering menjadi tempat pemakaman bagi banyak ide
bagus.
Ketakutan Terhadap Kebebasan
Masalahnya bukan hanya bahwa manusia takut salah.
Kita juga takut bebas.
Sebab kebebasan berpikir berarti tidak lagi bisa berlindung
sepenuhnya di balik kelompok.
Jika semua keputusan selalu mengikuti “kata orang”, kita
bisa berkata:
“Saya hanya mengikuti.”
Tetapi ketika kita berpikir sendiri, tanggung jawab juga
menjadi milik sendiri.
Itulah sebabnya kebebasan intelektual bukan sekadar hadiah.
Ia juga pekerjaan rumah.
Kita harus membaca.
Kita harus mendengar orang yang berbeda.
Kita harus memeriksa informasi.
Kita harus belajar mengatakan:
“Saya belum tahu.”
Kalimat itu tampak sederhana, tetapi dalam budaya yang
mengharuskan semua orang terlihat paling tahu, “saya belum tahu” hampir terasa
seperti pengakuan kriminal.
Padahal justru dari situlah pengetahuan dimulai.
Dunia Digital dan Seni Tidak Berpikir
Ironisnya, kita hidup pada zaman ketika informasi begitu
mudah diperoleh.
Dulu manusia harus pergi ke perpustakaan untuk mencari buku.
Sekarang informasi datang sendiri ke tangan kita.
Masalahnya, informasi yang datang terlalu banyak membuat
kita tidak otomatis menjadi lebih bijaksana.
Kulkas penuh tidak menjamin kita makan sehat.
Begitu pula kepala penuh informasi tidak menjamin kita
berpikir sehat.
Kita bisa mengetahui ribuan fakta tetapi gagal memahami satu
persoalan.
Kita bisa membaca seratus komentar tetapi tidak pernah
benar-benar mendengarkan satu orang.
Kita bisa menonton video lima menit tentang filsafat lalu
merasa siap membongkar pemikiran Plato, Kant, Nietzsche, dan tetangga sebelah
sekaligus.
Inilah zaman ketika manusia memiliki akses luar biasa
terhadap pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan luar biasa untuk menghindari
pemikiran.
Cukup geser layar.
Satu masalah selesai.
Masalah berikutnya datang.
Geser lagi.
Kehidupan pun berubah menjadi treadmill informasi: banyak
bergerak, tetapi tidak selalu ke mana-mana.
Berani Menatap Jurang
Russell mengajak manusia melakukan sesuatu yang tidak
populer: menatap ketidakpastian tanpa gemetar.
Berpikir berarti bersedia memasuki wilayah yang jawabannya
belum tersedia.
Mungkin kita menemukan bahwa keyakinan kita benar.
Bagus.
Mungkin ternyata sebagian salah.
Tidak apa-apa.
Sebab tujuan berpikir bukan memenangkan ego, melainkan
mendekati kebenaran.
Ini seperti membersihkan kaca jendela.
Kita mungkin menemukan pemandangan yang indah.
Tetapi kita juga mungkin menemukan bahwa selama ini
pemandangannya memang tidak seindah yang kita kira.
Tetap saja kaca harus dibersihkan.
Sebab tugas pikiran bukan membuat dunia selalu nyaman.
Tugasnya adalah membuat kita melihat dunia dengan lebih
jernih.
Pada Akhirnya, Kita Tidak Takut Pikiran
Mungkin Russell benar: ketakutan terbesar manusia bukanlah
pemikiran itu sendiri, melainkan apa yang mungkin terjadi setelah kita
benar-benar berpikir.
Kita mungkin harus mengubah pendapat.
Meminta maaf.
Mengakui kesalahan.
Meninggalkan kebiasaan.
Mempertanyakan pemimpin.
Mengoreksi guru.
Mengevaluasi tradisi.
Bahkan, dalam kasus yang paling ekstrem, kita mungkin harus
mengakui kepada diri sendiri:
“Selama ini saya ternyata salah.”
Kalimat itu memang menyakitkan.
Tetapi ada sesuatu yang lebih menyakitkan: menjalani hidup
dengan keyakinan yang tidak pernah diperiksa.
Berpikir memang berbahaya.
Ia bisa meruntuhkan ilusi.
Ia bisa membuat kita kehilangan kepastian palsu.
Ia bisa membuat kita tidak nyaman.
Tetapi justru karena itulah ia menjadi salah satu bentuk
keberanian tertinggi manusia.
Sebab manusia bukan hanya makhluk yang bisa percaya.
Manusia adalah makhluk yang bisa bertanya mengapa ia
percaya.
Dan mungkin di situlah letak kemuliaan kita.
Jadi, jika suatu hari kita merasa takut berpikir, jangan
buru-buru menyalahkan pikiran.
Bisa jadi pikiran tidak sedang mengancam kita.
Ia hanya sedang mengetuk pintu.
Yang membuat kita gemetar adalah kemungkinan bahwa ketika
pintu itu dibuka, kita akan bertemu diri kita sendiri—tanpa alasan, tanpa
pembenaran, dan tanpa tombol “skip ad”.
Itulah harga kebebasan berpikir.
Mahal, memang.
Tetapi dibandingkan hidup seumur-umur dengan kepala yang
hanya menjadi ruang tunggu bagi pendapat orang lain, rasanya harga itu masih
cukup layak dibayar.
Karena pada akhirnya, seperti semangat Russell, pikiran
yang bebas mungkin membuat hidup sedikit lebih rumit, tetapi justru kerumitan
itulah yang membuat manusia benar-benar hidup.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026



