Di zaman ketika orang lebih rajin menyiram story daripada menyiram tanaman, muncul sebuah nasihat yang agak “tidak sopan” bagi algoritma: diam dulu, tanam diri, baru tumbuh. Nasihat ini datang dari sebuah video pendek yang durasinya bahkan kalah panjang dari waktu kita memilih filter wajah. Judulnya sederhana: perumpamaan orang yang membentuk diri. Tapi isinya? Lumayan menampar, meski pakai sarung.
Bayangkan sebuah biji. Ia tidak membuat konten “Day 1
ditanam, doakan ya gaes 🙏”. Ia juga tidak
mengeluh, “Kok gelap banget sih di sini, mana sinyal WiFi lagi?” Tidak. Ia
diam. Masuk ke tanah. Gelap. Lembap. Sepi. Bahkan mungkin tidak ada yang like.
Tapi justru di situlah keajaiban terjadi: akar tumbuh, pelan-pelan, tanpa
konferensi pers.
Sementara itu, manusia modern? Baru niat berubah sedikit,
langsung bikin thread: “Journey memperbaiki diri (part 1/87)”. Padahal akarnya
belum nancep, tapi sudah ingin panen validasi. Akhirnya, baru kena angin
komentar sedikit saja, langsung tumbang—bukan karena takdir, tapi karena
fondasi masih berupa caption motivasi.
Nah, video itu dengan santainya bilang: kalau mau jadi pohon
rindang, ya harus berani jadi biji yang “tidak kelihatan”. Ini jelas kabar
buruk bagi yang hidupnya bergantung pada notifikasi. Karena di fase paling
penting—fase bertumbuh—tidak ada penonton. Bahkan mungkin tidak ada yang tahu.
Kecuali cacing tanah, yang jujur saja, bukan target audiens kita.
Namun justru di situlah letak keindahannya. Pohon yang
benar-benar tumbuh dari proses sunyi akan punya akar yang kuat. Ia tidak mudah
roboh hanya karena badai komentar, hujan opini, atau angin cancel culture.
Ketika sudah besar, ia tidak sibuk memperkenalkan diri: “Hai, aku pohon sukses
hasil kerja keras ya!” Tidak. Ia cukup berdiri. Orang-orang datang sendiri.
Berteduh. Makan buahnya. Bahkan kadang… melemparinya dengan batu.
Dan di sinilah puncak kedewasaan itu diuji. Pohon yang
matang tidak membalas lemparan batu dengan story sindiran. Ia tetap
memberi buah. Bayangkan kalau pohon punya akun media sosial—mungkin caption-nya
akan berbunyi: “Dilempari batu? Ya sudah, sekalian saya kasih mangga. Semoga
sehat 😊.” Ini bukan lemah, ini level sabar yang
sudah di-upgrade ke versi premium.
Pesan utama dari perumpamaan ini sebenarnya sederhana, tapi
sulit dijalankan: tidak semua proses harus diumumkan, tidak semua
pertumbuhan harus ditonton. Ada fase dalam hidup yang memang harus dijalani
tanpa tepuk tangan. Tanpa validasi. Tanpa komentar “keren banget kak 🔥”.
Karena justru di situlah karakter dibangun, bukan di kolom komentar.
Lucunya, kita sering kebalik. Kita ingin terlihat seperti
pohon rindang—bijak, kuat, bermanfaat—tapi ogah menjalani fase jadi biji.
Maunya langsung besar, langsung viral, langsung teduh. Padahal, dalam hukum
alam (dan mungkin juga hukum kehidupan), tidak ada pohon yang lahir dari viralitas.
Semua berawal dari kesediaan untuk “tidak terlihat”.
Tentu saja, bukan berarti kita harus benar-benar menghilang
seperti sinyal di pelosok. Menyepi di sini bukan soal fisik, tapi soal fokus.
Mengurangi kebisingan, baik dari luar maupun dari dalam kepala sendiri. Karena
kadang yang paling berisik itu bukan dunia, tapi ekspektasi kita sendiri yang
ingin cepat diakui.
Jadi, kalau hari ini hidup terasa sepi, proses terasa
lambat, dan tidak ada yang memperhatikan usaha kita—mungkin itu bukan
kegagalan. Mungkin itu tanda bahwa kita sedang ditanam. Dan kabar baiknya:
tidak ada biji yang serius tumbuh, lalu gagal jadi pohon… kecuali dia keburu
menyerah dan pindah jadi konten motivasi.






