Di zaman ketika orang lebih takut kehabisan kuota daripada kehabisan sabar, pembicaraan tentang “penyakit hati” terdengar seperti topik yang kalah pamor dari diskon tanggal kembar. Padahal, justru di tengah hiruk-pikuk notifikasi itulah hati diam-diam mengalami gejala: panas kalau lihat orang lain sukses, sesak kalau postingan sendiri sepi like, dan tiba-tiba tinggi kalau dipuji sedikit.
Konon, penyakit hati ini unik. Ia tidak butuh laboratorium,
tidak perlu rontgen, dan yang paling menarik: penderitanya hampir selalu merasa
sehat. Kalau flu, orang akan bilang, “Saya sakit.” Tapi kalau sombong? Biasanya
yang muncul justru, “Saya ini cuma percaya diri.” Sedikit upgrade istilah,
banyak downgrade kesadaran.
Diagnosis yang Sulit: Pasiennya Tidak Merasa Pasien
Masalah terbesar penyakit hati bukan pada tingkat
keparahannya, tapi pada keengganan untuk mengakuinya. Iri hati misalnya—ia
bekerja seperti rayap. Tidak berisik, tapi tahu-tahu rumah batin sudah keropos.
Sombong lebih halus lagi. Ia seperti parfum mahal: baunya tidak terasa oleh
pemakainya, tapi orang lain langsung pusing.
Lucunya, banyak orang rajin “check-up” badan, tapi tidak
pernah “check-in” ke hati. Kolesterol dipantau, tekanan darah diukur, tapi
tekanan batin dibiarkan liar seperti komentar netizen. Padahal, kalau hati
sudah “overthinking kronis”, seluruh hidup ikut buffering.
Terapi yang Aneh tapi Masuk Akal
Dalam dunia medis biasa, obat harus sesuai dengan penyakit.
Pusing minum obat sakit kepala, batuk minum sirup. Tapi dalam dunia hati,
logikanya sedikit unik: obatnya justru kebalikan dari penyakitnya.
Kalau sombong, obatnya rendah hati. Kalau iri, obatnya
belajar ikut senang. Kalau suka pamer, obatnya… ya, diam-diam saja. Ini
terdengar sederhana, tapi praktiknya lebih sulit daripada bangun tahajud
setelah begadang scroll media sosial.
Ada juga metode terapi yang terdengar “ekstrem”, seperti
melatih diri untuk tidak selalu ingin dihargai. Tentu tidak harus sampai minta
diludahi di pasar (itu bisa-bisa bukan sembuh, malah viral), tapi intinya
adalah melatih ego agar tidak merasa jadi pusat semesta. Karena kabar buruknya:
dunia memang tidak berputar di sekitar kita—meskipun algoritma kadang membuat
kita merasa begitu.
Hati sebagai Cermin: Masalahnya, Sudah Buram
Katanya, hati itu seperti cermin. Kalau bersih, ia bisa
memantulkan kebenaran. Tapi kalau sudah tertutup “kerak dosa”, yang terlihat
bukan lagi kenyataan, melainkan persepsi yang dimanipulasi.
Contohnya sederhana: orang lain sukses, kita merasa
tersaingi. Orang lain bahagia, kita merasa tersindir. Bahkan kadang, tidak ada
apa-apa pun, kita tetap merasa diserang. Ini bukan dunia yang terlalu kejam—ini
cerminnya yang terlalu kusam.
Membersihkan hati itu mirip membersihkan kaca kamar mandi:
kalau dibiarkan, keraknya makin tebal, dan akhirnya kita lupa bahwa kaca itu
sebenarnya transparan.
Obat Klasik di Era Modern
Ada beberapa “resep lama” yang sebenarnya masih sangat
relevan, meskipun kalah trending dari konten hiburan.
Pertama, mengingat mati. Ini bukan untuk membuat hidup jadi
muram, tapi justru untuk membuatnya lebih jernih. Sulit sekali merasa paling
hebat kalau ingat bahwa ujung perjalanan semua orang sama: tanah.
Kedua, introspeksi diri. Ini kegiatan yang jarang dilakukan
karena tidak ada fitur “auto-play”-nya. Harus sengaja duduk, diam, dan jujur
pada diri sendiri—sesuatu yang lebih menantang daripada debat di kolom
komentar.
Ketiga, keikhlasan. Ini level tertinggi sekaligus paling
sepi peminat. Berbuat baik tanpa ingin dilihat itu seperti upload tanpa
publish—tidak ada notifikasi, tidak ada validasi. Tapi justru di situlah nilai
aslinya.
Relevansi: Penyakit Lama, Gejala Baru
Kalau dipikir-pikir, penyakit hati ini bukan barang baru.
Dari dulu sudah ada. Bedanya, sekarang ia punya panggung yang lebih besar.
Media sosial bukan penyebabnya, tapi seperti pengeras suara: yang kecil jadi
besar, yang samar jadi jelas.
Iri sekarang bisa dipicu dalam hitungan detik. Sombong bisa
dikemas dengan filter estetik. Riya’ bahkan bisa diberi caption motivasi. Dunia
luar terlihat semakin indah, sementara dunia dalam makin berantakan.
Di titik ini, nasihat tentang membersihkan hati bukan lagi
sekadar wejangan klasik, tapi sudah seperti kebutuhan darurat. Bukan karena
dunia makin rusak, tapi karena kita makin jarang menengok ke dalam.
Masalahnya Bukan di Dunia, tapi di Dalam
Pada akhirnya, masalah terbesar manusia bukanlah kekurangan
harta, kurangnya pengakuan, atau minimnya pencapaian. Masalahnya sering kali
jauh lebih dekat: ada di dalam dada sendiri.
Hati yang sakit bisa membuat hidup yang sederhana terasa
menyedihkan. Sebaliknya, hati yang bersih bisa membuat hidup yang biasa terasa
cukup.
Jadi, mungkin sudah saatnya kita melakukan satu hal
sederhana tapi jarang: berhenti sejenak, lalu bertanya—bukan kepada dunia, tapi
kepada diri sendiri.
“Ini hati, masih jernih… atau sudah mulai berkerak?”
abah-arul.blogspot.com., April 2026






