Kamis, 20 Agustus 2026

Bangkitlah, Kata Schopenhauer—Kalau Memang Dia yang Bilang

Di internet, ada satu hukum alam yang tampaknya lebih kuat daripada gravitasi: semakin indah sebuah kalimat, semakin besar kemungkinan kalimat itu ditempelkan kepada orang terkenal yang tidak pernah mengucapkannya.

Maka lahirlah kutipan-kutipan ajaib.

Ada kalimat tentang kesabaran, nama Ibnu Qayyim muncul. Ada kalimat tentang cinta, tiba-tiba Rumi dituduh sebagai pelakunya. Ada nasihat tentang bangkit dari kesedihan, nama Schopenhauer ikut diseret. Padahal kalau Schopenhauer benar-benar melihat kutipan itu, mungkin ia akan berkata, “Saudara, saya pesimis, bukan motivator seminar.”

Salah satu kutipan viral yang beredar dalam bahasa Prancis kurang lebih mengatakan: bangkitlah dari kesedihan, sebab hidup tidak akan berhenti menunggu Anda. Pesannya bagus. Bahkan sangat bagus. Kita semua membutuhkannya sesekali.

Masalahnya hanya satu: Schopenhauer kemungkinan besar tidak pernah mengatakan itu.

Dan lebih lucu lagi, kalau kita mengenal pemikiran Schopenhauer, kutipan tersebut justru terasa seperti seseorang menyuruh seorang pesimis profesional menjadi pembicara self improvement.

Schopenhauer dan Larangan Menjadi Motivator

Bayangkan Schopenhauer datang ke sebuah seminar motivasi modern.

Pembawa acara membuka:

“Bapak dan Ibu, hari ini kita akan belajar bagaimana bangkit dari keterpurukan!”

Tepuk tangan.

Kemudian Schopenhauer naik ke panggung.

“Saudara-saudara, hidup adalah penderitaan.”

Suasana langsung hening.

“Keinginan menghasilkan penderitaan. Ketika keinginan terpenuhi, kita bosan. Ketika tidak terpenuhi, kita menderita.”

Peserta mulai membuka Google untuk mencari pintu keluar.

Lalu Schopenhauer melanjutkan:

“Solusinya adalah mengurangi keterikatan terhadap kehendak.”

Moderator panik.

“Pak, ini seminar Healing Your Inner Self, bukan pengantar pesimisme metafisik.”

Schopenhauer mungkin hanya mengangkat bahu.

Karena memang di situlah letak perbedaannya.

Kutipan viral tersebut berbicara dengan bahasa ketahanan: jangan menyerah, bangkit, terus berjalan. Schopenhauer justru mengajak kita melihat lebih dalam: mengapa kita terus mengejar sesuatu yang membuat kita menderita?

Dalam kerangka pemikirannya, manusia didorong oleh Will to Live—kehendak untuk hidup yang terus menginginkan, mengejar, dan mengulang.

Ingin punya uang.

Setelah punya uang, ingin lebih banyak.

Setelah lebih banyak, ingin rumah.

Setelah punya rumah, ingin rumah yang lebih besar.

Setelah rumah lebih besar, tetangga membeli mobil baru.

Maka rumah mendadak terasa kecil.

Begitulah roda kehidupan berputar.

Schopenhauer mungkin akan berkata: “Selamat. Anda baru saja menemukan penderitaan versi cicilan.”

Internet: Pabrik Kutipan Tanpa Akta Kelahiran

Masalah sebenarnya bukan hanya siapa yang mengucapkan sebuah kalimat.

Masalahnya adalah bagaimana internet bekerja.

Media sosial menyukai kalimat pendek, dramatis, indah, dan mudah dibagikan. Pemikiran filsafat yang membutuhkan 400 halaman jelas kalah bersaing dengan satu kalimat yang bisa dibaca sambil menunggu kopi selesai dibuat.

Bayangkan:

“Hidup adalah manifestasi kehendak metafisik yang secara struktural menjerumuskan manusia ke dalam siklus hasrat dan penderitaan.”

Tidak viral.

Terlalu panjang.

Kemudian seseorang mengubahnya menjadi:

“Jangan sedih. Bangkit. Hidup terus berjalan.” — Schopenhauer

Nah!

Langsung cocok untuk Instagram.

Bahkan bisa diberi latar belakang matahari terbenam.

Lebih bagus lagi kalau siluet seorang laki-laki berdiri di tepi pantai.

Selesai.

Schopenhauer berubah dari filsuf pesimisme menjadi guru healing.

Yang Penting Bijaksana, Soal Sumber Belakangan

Fenomena ini menunjukkan penyakit kecil dalam budaya digital: kita sering lebih tertarik pada kebijaksanaan daripada kebenaran.

Kalimatnya terasa benar, maka kita tidak terlalu peduli siapa yang mengatakannya.

Kalau nasihatnya menyentuh hati, kita merasa urusan selesai.

Padahal ada perbedaan antara:

“Kalimat ini bagus.”

dan

“Schopenhauer mengatakan kalimat ini.”

Yang pertama bisa benar.

Yang kedua membutuhkan bukti.

Ini seperti menemukan nasi goreng enak lalu mengatakan bahwa resepnya ditemukan oleh Leonardo da Vinci.

Nasi gorengnya tetap enak.

Tetapi sejarahnya kacau.

Demikian pula dengan kutipan. Sebuah kalimat boleh saja bijaksana meskipun penulis aslinya bukan filsuf terkenal. Tidak perlu memberikan jas akademik kepada kalimat yang sebenarnya lahir dari dapur internet.

Kalau Bukan Schopenhauer, Lalu Apakah Nasihatnya Salah?

Tidak juga.

Inilah bagian yang menarik.

Kita bisa menolak atribusinya tanpa harus membuang pesannya.

Bahwa hidup terus berjalan adalah kenyataan sederhana. Dunia tidak otomatis berhenti ketika hati kita patah.

Ketika kita gagal, matahari tetap terbit.

Ketika seseorang meninggalkan kita, tagihan listrik tetap datang.

Ketika bisnis bangkrut, notifikasi bank tidak ikut berduka.

Ketika kita sedang patah hati, algoritma media sosial bahkan tetap tega menampilkan iklan sepatu.

Dunia memang tidak menunggu.

Karena itu, pesan untuk bangkit memiliki nilai praktis.

Tetapi ia tidak perlu menjadi milik Schopenhauer.

Bahkan mungkin lebih sehat jika kita mengatakannya sebagai kebijaksanaan manusia biasa.

Sebab tidak semua kebenaran harus memiliki nama besar di belakangnya.

Kadang-kadang kalimat yang benar hanyalah kalimat yang benar.

Tidak perlu diberi stempel Nietzsche.

Tidak perlu tanda tangan Rumi.

Tidak perlu foto Schopenhauer dengan ekspresi seperti sedang menagih utang metafisik.

Antara Bangkit dan Berhenti Sejenak

Ada pula satu hal yang perlu dikritik dari budaya motivasi: kita terlalu cepat menyuruh orang bangkit.

Sedih?

Bangkit!

Gagal?

Bangkit!

Patah hati?

Bangkit!

Kehilangan arah?

Bangkit!

Kadang-kadang manusia ingin berkata:

“Boleh saya duduk dulu lima menit?”

Tidak semua kesedihan harus segera diubah menjadi produktivitas.

Ada luka yang membutuhkan waktu.

Ada kegagalan yang perlu dipahami.

Ada kehilangan yang tidak bisa diselesaikan dengan poster bertuliskan Never Give Up.

Bangkit memang penting.

Tetapi berhenti sejenak juga manusiawi.

Dan mungkin di sinilah Schopenhauer, meskipun tidak pernah mengucapkan kutipan tersebut, justru memberi kita pelajaran yang lebih serius: jangan sekadar memaksa diri terus mengejar kehidupan. Cobalah memahami apa yang sebenarnya kita kejar.

Sebab bisa jadi kita bukan sedang mencari kebahagiaan.

Kita hanya sedang berlari dari ketidaknyamanan menuju ketidaknyamanan berikutnya.

Filsafat Jangan Dijadikan Stiker Motivasi

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah kutipan itu indah.

Ia memang indah.

Persoalannya adalah kita perlu membedakan antara pesan yang baik dan atribusi yang benar.

Kalimat motivasi boleh menjadi bahan bakar.

Tetapi sejarah tetap membutuhkan alamat.

Jika sebuah kutipan dikaitkan dengan Schopenhauer, sebaiknya kita bertanya: di buku mana?

Di halaman berapa?

Dalam konteks apa?

Dan kalau jawabannya adalah, “Ada di Pinterest,” maka mungkin kita sedang berhadapan dengan cabang baru ilmu pengetahuan:

Filologi Pinterest.

Metodenya sederhana.

Pertama, cari kalimat.

Kedua, tambahkan nama filsuf.

Ketiga, pasang gambar hitam-putih.

Keempat, unggah.

Kelima, tunggu orang lain berkata, “Deep banget.”

Penutup: Bangkitlah, Tetapi Jangan Mengarang

Kita boleh bangkit dari kesedihan.

Kita boleh terus berjalan.

Kita boleh percaya bahwa hidup harus diteruskan.

Tetapi ketika menyampaikan kebijaksanaan, ada satu kebiasaan sederhana yang sebaiknya ikut dibawa: kejujuran intelektual.

Jika kita tidak tahu siapa yang mengatakannya, katakan saja tidak tahu.

Kalimat tanpa nama tidak otomatis menjadi bodoh.

Sebaliknya, kalimat dengan nama besar tidak otomatis menjadi benar.

Dan mungkin itulah ironi terbesar dari kutipan Schopenhauer yang tidak pernah dikatakan Schopenhauer ini:

kita begitu ingin bangkit dari kesedihan, sampai-sampai kita rela mengarang kata-kata orang mati untuk menyemangati orang hidup.

Schopenhauer sendiri mungkin akan menganggapnya sebagai bukti tambahan bahwa manusia memang makhluk yang aneh.

Dan kalau dia benar-benar sedang berada di sana, mungkin ia hanya tersenyum tipis lalu berkata:

“Sudah saya bilang. Hidup memang penuh penderitaan.”

Kali ini, setidaknya, kita tahu kalimat itu memang lebih mendekati Schopenhauer.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Selubung Dzikir: Lailatul Qadar, Bahkan Saat Kita Sedang Menunggu Wi-Fi

Ada manusia yang sangat rajin menghitung umur. Umur sendiri dihitung sampai dua angka di belakang koma, umur orang lain dibandingkan, lalu ketika memasuki usia tertentu mulai panik: “Kok belum punya rumah? Kok belum kaya? Kok belum punya jabatan?”

Padahal ada satu pertanyaan yang jauh lebih mengganggu: selama umur itu berjalan, sebenarnya apa yang sudah kita lakukan dengan waktu?

Sebab umur panjang belum tentu panjang berkahnya. Ada orang hidup puluhan tahun tetapi sebagian besar waktunya habis untuk mengeluh, mengejar dunia, bertengkar di kolom komentar, dan mencari siapa yang salah. Ada pula orang yang hidupnya singkat, tetapi setiap waktunya terasa penuh: banyak memberi, banyak mengingat Allah, banyak bersyukur, dan ketika pergi meninggalkan jejak kebaikan yang lebih panjang daripada usianya.

Inilah salah satu kegelisahan yang dibangkitkan oleh hikmah-hikmah Ibnu ‘Aṭā’illāh as-Sakandarī. Waktu ternyata bukan sekadar angka pada kalender. Waktu adalah amanah yang setiap detiknya diam-diam sedang berjalan menuju pintu keluar.

Dan yang lebih menyedihkan: tidak ada tombol “undo”.

Umur Panjang, Tapi Isinya Loading

Kita sering mengira keberkahan identik dengan panjang umur. Seolah-olah kalau seseorang hidup sampai 90 tahun, otomatis ia lebih beruntung daripada yang hidup 50 tahun.

Padahal Allah tidak menilai kehidupan seperti petugas sensus.

Bukan soal berapa tahun kita hidup, melainkan apa yang terjadi di dalam tahun-tahun tersebut.

Ada usia yang panjang tetapi kosong. Ada usia yang pendek tetapi padat makna.

Mirip hard disk: kapasitas besar tidak menjamin isinya berguna. Bisa saja 1 terabyte penuh dengan foto makanan, screenshot percakapan, video yang tidak pernah ditonton lagi, dan 4.000 foto langit yang sebenarnya hampir sama.

Begitu pula hidup.

Yang penting bukan berapa banyak hari yang kita miliki, tetapi berapa banyak hari yang benar-benar kita hidupi dengan kesadaran kepada Allah.

Al-Qur’an bahkan mengingatkan manusia melalui Surah al-‘Aṣr bahwa waktu membawa manusia kepada kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Jadi masalah kita bukan semata-mata kekurangan waktu.

Sering kali masalah kita adalah kelebihan waktu yang tidak tahu mau dipakai untuk apa.

22 Jam yang Misterius

Imam al-Ghazālī dalam Bidāyat al-Hidāyah memberikan gambaran yang membuat kita agak malu kepada jam dinding: waktu ibadah formal manusia dalam sehari relatif singkat, sementara sebagian besar waktu lainnya terbuka lebar untuk berbagai aktivitas.

Dan di sinilah manusia modern menunjukkan kreativitasnya.

Dua puluh dua jam bisa digunakan untuk:

bangun tidur, membuka ponsel, mengecek notifikasi, membuka media sosial, menonton satu video, terseret ke video berikutnya, membaca komentar, membalas komentar, menyesal membalas komentar, lalu mencari video untuk menenangkan diri setelah membaca komentar.

Tiba-tiba sudah magrib.

Kita kemudian berkata:

“Wah, hari ini cepat sekali.”

Hari memang tidak cepat.

Kita yang terlalu sibuk sehingga tidak menyadari ia sedang pergi.

Setiap Napas Adalah Kesempatan

Dalam pembahasan ḥuqūq al-awqāt, ada satu kesadaran yang sangat dalam: tidak semua hak waktu dapat diganti.

Salat yang terlewat memiliki pembahasan qada. Puasa tertentu juga memiliki qada. Tetapi bagaimana dengan satu napas yang sudah berlalu?

Tidak ada qada untuk napas pukul 14.37 tadi.

Tidak ada tombol:

“Ulangi napas sebelumnya.”

Karena itu setiap detik memiliki keunikannya sendiri.

Satu detik yang lewat tidak pernah kembali dalam bentuk yang sama.

Di sinilah konsep zikir menjadi sangat luas. Zikir bukan hanya ketika seseorang duduk di atas sajadah dengan tasbih di tangan. Zikir adalah kesadaran bahwa hidup berlangsung billāh-lillāh: karena Allah dan untuk Allah.

Kuliah karena Allah.

Bekerja karena Allah.

Mengasuh anak karena Allah.

Mencari nafkah karena Allah.

Bahkan mencuci piring pun—kalau dilakukan dengan kesadaran yang benar—tidak harus menjadi aktivitas spiritual yang dramatis.

Hanya saja, kita sering ingin pengalaman spiritual yang spektakuler.

Mencuci piring sambil mengingat Allah terasa kurang mistis.

Kita maunya melihat cahaya dari langit.

Padahal mungkin Allah sedang mengajari kita ikhlas melalui piring kotor yang tidak pernah selesai.

Lailatul Qadar di Mana-Mana?

Ada ungkapan Syekh Abul ‘Abbās al-Mursī yang sangat indah:

“Awqātunā kulluhā lailat al-qadr.”

Setiap waktu kita adalah Lailatul Qadar.

Ini tentu bukan berarti setiap malam secara hukum menjadi Lailatul Qadar. Maksud spiritualnya adalah bahwa bagi orang yang benar-benar hadir bersama Allah, setiap saat dapat menjadi waktu yang penuh limpahan makna dan keberkahan.

Ramadan memberi kita Lailatul Qadar sebagai karunia yang luar biasa.

Tetapi tasawuf mengajak kita bertanya lebih jauh:

Kalau kita hanya sadar kepada Allah pada malam tertentu, lalu bagaimana dengan siang, sore, dan pagi yang lain?

Jangan-jangan kita terlalu sibuk menunggu malam istimewa sampai lupa membuat siang biasa menjadi istimewa.

Ada orang mengejar Lailatul Qadar sambil tetap menghabiskan sebelas bulan lainnya dalam mode autopilot.

Padahal spiritualitas bukan sekadar berburu malam.

Ia adalah belajar hadir dalam setiap saat.

Barakah Bukan Berarti Rekening Bertambah Nol

Ini bagian yang sering membuat manusia modern salah paham.

Ketika mendengar “barakah”, kita membayangkan:

rekening bertambah, bisnis laris, rumah besar, kendaraan bagus, proyek datang bertubi-tubi.

Kalau semua itu datang, kita berkata:

“Alhamdulillah, hidup saya penuh berkah.”

Tetapi kalau bisnis bangkrut, kesehatan terganggu, rencana gagal, lalu kita bertanya:

“Ya Allah, berkahnya ke mana?”

Padahal barakah bukan sekadar banyaknya benda yang kita miliki.

Barakah adalah bertambahnya kebaikan dalam diri kita.

Bertambah sabar.

Bertambah syukur.

Bertambah tawakkal.

Bertambah ridha.

Bertambah kasih sayang.

Bertambah kemampuan menerima kenyataan tanpa kehilangan Allah.

Karena itu seseorang bisa memiliki sedikit harta tetapi hidupnya penuh berkah. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi setiap malam hatinya tetap gelisah seperti tab browser yang terlalu banyak dibuka.

Kuliah Bisa Menjadi Ibadah, Kantor Bisa Menjadi Jalan Pulang

Gagasan billāh-lillāh menjadi menarik ketika diterapkan pada kehidupan sehari-hari.

Seorang mahasiswa yang berangkat kuliah dengan niat:

“Ilāhī anta maqṣūdī” — Tuhanku, Engkaulah tujuanku.

Maka perjalanan menuju kampus tidak lagi sekadar perpindahan geografis.

Kuliah bukan hanya mengejar nilai.

Belajar menjadi bagian dari amanah.

Demikian pula orang yang bekerja.

Ia tidak harus meninggalkan kantor untuk menjadi spiritual.

Justru kantor itulah medan spiritualnya.

Bos yang menyebalkan bisa menjadi latihan sabar.

Teman kerja yang sulit bisa menjadi latihan menahan ego.

Gaji yang pas-pasan bisa menjadi latihan syukur.

Deadline yang brutal bisa menjadi latihan tawakkal.

Dan rapat yang seharusnya 20 menit tetapi berlangsung dua jam?

Mungkin itu level lanjut dari mujāhadah.

Tentu saja, bukan berarti semua rapat adalah ibadah. Tetapi kesadaran kepada Allah membuat aktivitas biasa memperoleh orientasi yang berbeda.

Zikir yang Tidak Perlu Dipamerkan

Ada tingkatan zikir yang semakin dalam ketika semakin tidak membutuhkan penonton.

Kita hidup di zaman ketika hampir semua hal ingin didokumentasikan.

Makan difoto.

Liburan difoto.

Sedekah difoto.

Olahraga difoto.

Bahkan ketika sedang “tidak melakukan apa-apa”, kita masih sempat membuat story bahwa kita sedang tidak melakukan apa-apa.

Maka zikir yang rahasia menjadi sangat berharga.

Ada hubungan yang hanya diketahui oleh hamba dan Tuhannya.

Tidak perlu caption.

Tidak perlu emoji.

Tidak perlu:

“Masya Allah, sedang menikmati kedekatan spiritual.”

Sebab semakin dalam zikir, semakin kecil kebutuhan untuk memberitahukan bahwa kita sedang berzikir.

Di titik tertentu, lafaz bahkan menjadi sunyi, sementara hati mengalami ḥuḍūr—kehadiran.

Bukan lagi sekadar “mengucapkan nama Allah”, tetapi hidup dalam kesadaran bahwa Allah tidak pernah absen.

Takhallī, Taḥallī, Tajallī: Bersih-Bersih Batin

Perjalanan spiritual kemudian bergerak melalui tiga istilah indah: takhallī, taḥallī, dan tajallī.

Takhallī adalah mengosongkan diri dari sifat buruk.

Terutama ego.

Masalahnya, ego ini sangat pintar.

Ketika kita mengatakan:

“Aku tidak punya ego.”

Ego kita langsung tersenyum bangga.

Ketika kita berkata:

“Aku sudah ikhlas.”

Ego menjawab:

“Hebat juga saya.”

Karena itu perjuangan melawan ego bukan perkara sederhana.

Setelah mengosongkan diri, datang taḥallī: menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji—sabar, tawaduk, syukur, kasih sayang, dan kejujuran.

Lalu tajallī: ketika nilai-nilai itu mulai memancar dalam kehidupan.

Artinya, kesalehan tidak berhenti di sajadah.

Kalau selesai salat kita langsung memarahi orang serumah, mungkin ada sesuatu yang masih perlu direnungkan.

Kalau rajin zikir tetapi senang merendahkan orang lain, mungkin tasbih sudah panjang tetapi ego masih pendek umur.

Tafakur: Jalan-Jalan Tanpa Tiket

Tasawuf juga mengajak manusia bertafakur.

Al-fikratu sairul-qalbi fī mayādīnil-agyār—tafakur adalah perjalanan hati di medan makhluk.

Ini menarik karena kita sebenarnya sering jalan-jalan setiap hari, tetapi belum tentu hati kita ikut berjalan.

Kita melihat langit, tetapi yang dipikirkan saldo.

Melihat hujan, tetapi memikirkan jemuran.

Melihat gunung, tetapi memikirkan angle foto.

Melihat laut, tetapi mencari sinyal.

Tafakur mengubah cara memandang.

Langit bukan sekadar langit.

Hujan bukan sekadar hujan.

Kelahiran, kematian, pertemuan, perpisahan, kegagalan, keberhasilan—semuanya dapat menjadi pintu untuk membaca tanda-tanda Allah.

Para ulul albāb bukan orang yang berhenti berpikir karena sudah beriman.

Justru karena beriman, mereka berpikir lebih dalam.

Mereka berzikir sambil berdiri, duduk, dan berbaring. Kemudian bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi.

Dengan kata lain:

zikir menjaga hati agar tidak tersesat; tafakur membuat akal tidak menganggur.

Orang Arif dan Seni Melihat Allah di Balik Kejadian

Ada perbedaan menarik antara orang yang hanya melihat peristiwa dan orang yang belajar melihat makna di balik peristiwa.

Bagi sebagian orang, dunia adalah kumpulan ancaman.

Ada orang yang harus ditakuti.

Ada masalah yang harus dikhawatirkan.

Ada masa depan yang harus dicemaskan.

Tetapi bagi orang yang arif, setiap kejadian dapat menjadi pintu untuk mengenal Allah.

Bukan berarti ia tidak sedih.

Bukan berarti ia tidak menangis.

Bukan berarti hidupnya bebas masalah.

Ia hanya tidak membiarkan masalah menjadi tuhan kecil yang menguasai seluruh hatinya.

Karena itu ḥusnuzan kepada Allah bukan sekadar berpikir positif.

Ia adalah keyakinan bahwa di balik sesuatu yang belum kita pahami, tetap ada hikmah dan pengaturan Allah.

Kita hanya belum melihat seluruh halaman.

Kita Sering Mengejar Surga, Tetapi Lupa Menjadi Orang yang Layak Memasukinya

Ada manusia yang sangat rajin membicarakan surga.

Gambarannya indah.

Sungai mengalir.

Buah-buahan.

Tidak ada pajak.

Tidak ada deadline.

Tidak ada grup WhatsApp kantor.

Sungguh menjanjikan.

Tetapi pembahasan spiritual mengingatkan: menginginkan surga tanpa amal adalah lamunan.

Demikian pula mengejar dunia tanpa henti sampai kematian datang adalah kesia-siaan.

Kita harus hidup di antara keduanya: bekerja di dunia, tetapi tidak diperbudak dunia; berharap akhirat, tetapi tidak menjadikannya alasan untuk mengabaikan amanah di dunia.

Satu Jam Tafakur

Anjuran untuk menyediakan waktu bertafakur setidaknya satu jam terdengar sederhana.

Tetapi cobalah.

Satu jam tanpa ponsel.

Satu jam tanpa scrolling.

Satu jam tanpa membuka berita.

Satu jam tanpa memeriksa apakah seseorang sudah membaca pesan kita.

Mungkin lima menit pertama kita akan merasa damai.

Menit keenam mulai gelisah.

Menit kesepuluh tangan mencari ponsel.

Menit kelima belas kita sadar bahwa ponsel ternyata memiliki kekuatan magnetis.

Dan di situlah latihan dimulai.

Karena kita bukan hanya belajar duduk diam.

Kita sedang belajar berjumpa dengan diri sendiri tanpa distraksi.

Mungkin setelah itu kita baru sadar betapa berisiknya kehidupan yang selama ini kita sebut “normal”.

Selubung Dzikir

Pada akhirnya, zikir bukanlah aktivitas yang ditempelkan di pinggir kehidupan.

Ia adalah selubung yang menyelimuti kehidupan.

Ketika bekerja, zikir.

Ketika belajar, zikir.

Ketika berjalan, zikir.

Ketika makan, zikir.

Ketika menghadapi masalah, zikir.

Bukan berarti lidah harus terus-menerus mengucapkan lafaz tertentu sampai lupa bahwa kita sedang menyebrang jalan.

Kesadaran spiritual tidak menghapus kewaspadaan.

Ia justru membuat kita lebih hadir.

Kita makan dengan sadar.

Berbicara dengan sadar.

Bekerja dengan sadar.

Marah dengan sadar—dan kalau bisa, jangan terlalu sering.

Kita mulai menyadari bahwa setiap napas adalah hadiah.

Setiap detak jantung adalah kesempatan.

Setiap pertemuan adalah kemungkinan untuk berbuat baik.

Setiap kesulitan adalah kesempatan untuk belajar.

Dan setiap waktu yang berlalu adalah halaman yang tidak dapat kita tulis ulang.

Mungkin inilah makna terdalam dari ungkapan bahwa setiap waktu dapat menjadi Lailatul Qadar.

Bukan karena setiap malam berubah secara hukum menjadi malam kemuliaan itu, tetapi karena hati yang hadir bersama Allah mampu menemukan keberkahan di dalam setiap detik.

Maka jangan menunggu usia panjang untuk menjadi dekat kepada Allah.

Jangan menunggu Ramadan untuk mulai sadar.

Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan.

Jangan menunggu kehilangan untuk memahami keberadaan.

Dan jangan menunggu ponsel kehabisan baterai untuk menyadari bahwa hidup kita sendiri juga sedang berjalan menuju angka nol.

Sebab barangkali pertanyaan terbesar kehidupan bukan:

“Berapa lama aku hidup?”

Melainkan:

“Berapa banyak dari hidupku yang benar-benar kujalani bersama Allah?”

Di situlah waktu berubah menjadi barakah.

Di situlah napas menjadi zikir.

Di situlah kehidupan sehari-hari perlahan menjadi perjalanan pulang.

Dan mungkin, di sanalah kita menemukan bahwa Lailatul Qadar tidak selalu harus dicari di kejauhan.

Kadang ia bersembunyi di balik satu napas yang kita sadari, satu detik yang kita syukuri, satu kesalahan yang kita tobati, dan satu hati yang akhirnya berkata dengan sungguh-sungguh:

“Ilāhī anta maqṣūdī.”

Tuhanku, Engkaulah tujuanku.

Selebihnya, dunia boleh ribut.

Notifikasi boleh berbunyi.

Deadline boleh mengejar.

Tetangga boleh membicarakan kita.

Tetapi hati tahu ke mana ia pulang.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Rabu, 19 Agustus 2026

Agama, Kekuasaan, dan Iman Sejati

Ketika Tuhan Diajak Kampanye

Ada sebuah kutipan yang konon berasal dari Leo Tolstoy:

“Jangan pernah lupakan ini, anakku! Mereka yang menggunakan agama untuk tujuan-tujuan duniawi adalah orang-orang yang sesungguhnya tidak beriman.”

Kalimat ini terdengar seperti nasihat seorang ayah kepada anaknya. Tetapi kalau dibaca di zaman sekarang, rasanya seperti nasihat seorang kakek kepada cucunya yang baru pulang dari media sosial dengan membawa 47 tangkapan layar, 13 video ceramah, dan satu keyakinan bahwa dirinya sudah memahami seluruh persoalan dunia.

Tolstoy seolah berkata: “Nak, hati-hati. Tidak semua orang yang membawa nama Tuhan sedang mencari Tuhan. Sebagian sedang mencari jabatan.”

Dan ini memang masalah yang menarik.

Sebab manusia mempunyai bakat luar biasa untuk mengubah sesuatu yang sakral menjadi alat untuk memperoleh sesuatu yang sangat profan. Doa bisa menjadi slogan. Kesalehan bisa menjadi branding. Ayat bisa menjadi baliho. Jubah bisa menjadi kostum kampanye. Bahkan Tuhan, dalam keadaan tertentu, bisa mendapat pekerjaan tambahan sebagai konsultan politik.

Padahal, kalau Tuhan memang Mahakuasa, sepertinya Ia tidak membutuhkan tim sukses.


Ketika Agama Mendadak Punya Target Elektoral

Agama pada dasarnya mengajarkan manusia untuk menundukkan ego.

Politik, dalam bentuknya yang sehat, seharusnya mengajarkan manusia mengelola kepentingan bersama.

Masalah muncul ketika ego masuk ke dalam agama, lalu kepentingan politik masuk melalui pintu belakang.

Tiba-tiba semuanya menjadi menarik.

Orang yang kemarin tidak pernah menyapa tetangganya mendadak sangat peduli pada “umat”.

Orang yang tidak pernah terlihat mengurus fakir miskin mendadak berbicara panjang tentang moralitas.

Orang yang selama ini hidup nyaman di atas penderitaan orang lain tiba-tiba menjelaskan bahwa semua yang terjadi adalah “ujian dari Tuhan”.

Yang lebih ajaib lagi: ketika pemilu tiba, orang-orang yang biasanya mengingatkan bahwa dunia ini sementara mendadak sangat bersemangat mempertahankan kursi duniawi.

Kursi memang unik.

Duduk di atasnya lima tahun bisa membuat seseorang lupa bahwa pada akhirnya semua manusia akan berdiri di hadapan Tuhan—tanpa kursi, tanpa podium, tanpa mikrofon.


Tolstoy dan Agama yang Tidak Mau Menjadi Alat Kekuasaan

Kritik Tolstoy terhadap agama institusional bukanlah sekadar kritik terhadap ritual atau lembaga agama. Ia justru sedang mempertanyakan sesuatu yang lebih mendasar:

Apa gunanya agama jika ia tidak membuat manusia menjadi lebih manusiawi?

Tolstoy melihat agama sebagai persoalan moral. Iman harus mengubah cara manusia hidup, bukan sekadar mengubah cara manusia berbicara.

Sebab seseorang bisa sangat fasih berbicara tentang Tuhan, tetapi tetap tega menindas manusia.

Ia bisa hafal banyak ayat, tetapi tidak hafal nama tetangganya yang sedang kesulitan.

Ia bisa menangis ketika berdoa, tetapi membuat orang lain menangis ketika mengambil keputusan.

Ini paradoks yang cukup menggelikan.

Air mata bisa begitu religius ketika keluar dari mata sendiri, tetapi penderitaan orang lain dianggap sebagai “konsekuensi”.

Barangkali inilah salah satu penyakit manusia: kita ingin Tuhan menilai hati kita, tetapi kita ingin Tuhan menilai musuh kita berdasarkan kesalahan mereka.


Kesalehan sebagai Kostum

Ada kesalehan yang tumbuh dari dalam.

Ada pula kesalehan yang tumbuh karena kamera menyala.

Perbedaannya kadang sangat tipis.

Ketika tidak ada kamera, orang yang tulus tetap berbuat baik.

Ketika kamera menyala, orang yang mengejar citra mulai mencari sudut terbaik.

Di zaman media sosial, kesalehan bahkan bisa memiliki statistik.

Jumlah pengikut.

Jumlah komentar.

Jumlah tanda suka.

Jumlah orang yang mengatakan, “Masyaallah.”

Akhirnya manusia menghadapi persoalan baru: bukan lagi “Apakah aku benar-benar baik?”, tetapi “Apakah orang mengira aku baik?”

Ini dua pertanyaan yang sangat berbeda.

Yang pertama menyangkut hati.

Yang kedua menyangkut algoritma.

Dan algoritma, sejauh yang kita tahu, tidak mempunyai timbangan amal.


Tuhan Tidak Perlu Dipinjamkan untuk Kepentingan Kita

Ada sesuatu yang lucu sekaligus berbahaya dalam politik identitas keagamaan: manusia sering berbicara seolah-olah mereka memiliki nomor telepon langsung ke Tuhan.

“Ini kehendak Tuhan.”

“Ini pilihan Tuhan.”

“Tuhan pasti berada di pihak kami.”

Masalahnya, lawan mereka biasanya mengatakan hal yang sama.

Jadilah dua kelompok manusia saling berteriak:

“Tuhan bersama kami!”

Dan dari kejauhan, kita bisa membayangkan Tuhan berkata:

“Sebentar. Saya sedang membaca berkasnya dulu.”

Kesombongan religius muncul ketika manusia menganggap kehendak Tuhan identik dengan kehendak kelompoknya sendiri.

Padahal iman mestinya membuat manusia lebih rendah hati.

Semakin dekat seseorang kepada Yang Mahatinggi, semestinya semakin sadar bahwa dirinya bukan pusat alam semesta.

Ironisnya, kadang justru sebaliknya.

Baru mendapat jabatan kecil, bicaranya sudah seperti pemegang mandat langit.


Iman yang Tidak Berisik

Tolstoy mengingatkan kita pada sesuatu yang sebenarnya sederhana: iman sejati tidak selalu berisik.

Ia tidak membutuhkan spanduk berukuran tiga kali lima.

Ia tidak selalu membutuhkan pengeras suara.

Ia tidak harus membuat orang lain merasa lebih rendah agar dirinya tampak lebih tinggi.

Iman sejati mungkin justru terlihat dalam hal-hal kecil:

menolong tanpa diumumkan,

memaafkan tanpa konferensi pers,

jujur ketika tidak ada yang mengawasi,

berlaku adil ketika mempunyai kekuasaan,

dan tetap manusiawi kepada orang yang berbeda keyakinan.

Sebab sangat mudah mencintai orang yang sepakat dengan kita.

Yang sulit adalah tetap adil kepada orang yang tidak kita sukai.

Di situlah agama berhenti menjadi identitas dan mulai menjadi akhlak.


Indonesia dan Seni Membawa Tuhan ke TPS

Indonesia tentu tidak kebal dari persoalan ini.

Kita hidup dalam masyarakat yang religius sekaligus sangat politis. Agama memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial, sehingga simbol-simbol keagamaan mempunyai daya mobilisasi yang besar.

Dan manusia, sebagaimana kita tahu, sangat kreatif kalau sudah menemukan sesuatu yang bisa dimobilisasi.

Maka simbol agama dapat masuk ke berbagai arena: pidato, kampanye, media sosial, baliho, debat, bahkan komentar Facebook yang panjangnya lebih panjang daripada skripsi.

Yang perlu kita waspadai bukan agamanya.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika agama dipakai sebagai kendaraan untuk kepentingan yang tidak lagi berhubungan dengan nilai agama itu sendiri.

Agama seharusnya menjadi kompas.

Bukan bensin untuk kendaraan politik.

Karena kalau agama dijadikan bensin, yang terbakar bukan hanya kendaraan.

Masyarakat juga bisa ikut terbakar.


Jangan Mudah Terkesan oleh Orang yang Membawa Nama Tuhan

Kita perlu belajar membedakan antara orang yang berbicara atas nama Tuhan dan orang yang hidup berdasarkan nilai-nilai yang diyakininya berasal dari Tuhan.

Keduanya tidak selalu sama.

Orang pertama mungkin sangat pandai berbicara.

Orang kedua mungkin tidak banyak bicara tetapi hidupnya membuat orang lain merasa aman.

Orang pertama mengajak kita membenci musuh.

Orang kedua mengajarkan keadilan.

Orang pertama meminta kita membela kelompok.

Orang kedua meminta kita membela kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu merugikan kelompok sendiri.

Dan mungkin di situlah ujian iman yang sebenarnya.

Sebab membela kelompok sendiri itu mudah.

Membela kebenaran ketika kelompok sendiri salah—nah, ini sudah masuk kelas lanjutan.


Nasihat untuk “Anakku”

Mungkin itulah makna paling menarik dari frasa “mon fils”—anakku.

Seolah-olah Tolstoy tidak sedang berpidato di depan massa.

Ia sedang berbicara kepada satu manusia.

Kepada seseorang yang kelak harus menentukan sendiri apa yang akan dilakukan dengan imannya.

Nasihatnya kira-kira begini:

Jangan tertipu oleh orang yang terlalu sering menggunakan Tuhan untuk memenangkan kepentingannya sendiri.

Lihat buahnya.

Apakah kehadirannya membuat orang lebih adil?

Lebih penyayang?

Lebih jujur?

Lebih rendah hati?

Lebih peduli kepada yang lemah?

Ataukah justru membuat manusia saling membenci, saling mencurigai, dan saling merasa paling suci?

Sebab kalau hasil akhirnya adalah kebencian, kesombongan, kekerasan, dan perebutan kekuasaan, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

Jangan-jangan yang sedang dibela bukan Tuhan, melainkan ego kita sendiri yang kebetulan memakai pakaian agama.


Penutup: Ketika Tuhan Tidak Perlu Dibela oleh Kesombongan Kita

Pada akhirnya, agama tidak membutuhkan manusia untuk membuatnya terlihat besar.

Yang membutuhkan pembenaran terus-menerus justru ego manusia.

Iman sejati mungkin tidak spektakuler.

Ia tidak selalu viral.

Ia tidak selalu punya pengikut.

Ia bahkan mungkin tidak memiliki akun media sosial.

Tetapi ia hadir ketika seseorang memilih jujur meskipun bisa berbohong.

Memilih adil meskipun bisa mengambil keuntungan.

Memilih memaafkan meskipun punya kesempatan membalas.

Dan memilih menolong meskipun tidak ada kamera.

Itulah sebabnya pesan Tolstoy terasa begitu mengganggu sekaligus menyegarkan.

Ia mengajak kita melakukan pemeriksaan sederhana terhadap diri sendiri:

Ketika aku menyebut nama Tuhan, apakah aku sedang mencari Tuhan—atau sedang mencari keuntungan dengan membawa nama-Nya?

Pertanyaan ini jauh lebih berat daripada sekadar mengetahui siapa yang paling saleh.

Karena ternyata persoalan terbesar dalam beragama bukan hanya membedakan antara iman dan kekafiran, tetapi juga membedakan antara iman dan ego yang sedang menyamar sebagai iman.

Dan ego adalah aktor yang luar biasa.

Ia bahkan bisa memakai peci, jubah, sorban, jas, dasi, atau ayat sebagai kostum.

Yang sulit adalah membuatnya benar-benar turun dari panggung.

Mungkin itulah pekerjaan agama yang paling sunyi sekaligus paling berat:

bukan memenangkan Tuhan untuk pihak kita, melainkan memenangkan diri kita sendiri dari kesombongan ketika merasa sudah berada di pihak Tuhan.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Kekuatan dalam Respons: Seni Mengendalikan Diri Saat Dunia Sedang Tidak Mau Diajak Kompromi

Ada satu jenis manusia yang sangat ingin mengendalikan segala sesuatu: kita.

Kita ingin mengatur cuaca, lalu kecewa ketika hujan turun tepat saat jemuran baru saja dicuci. Kita ingin mengatur orang lain, lalu marah ketika mereka ternyata memiliki kehendak bebas. Kita ingin mengatur masa depan, bahkan sering sudah stres terhadap kejadian yang sebenarnya belum terjadi. Pendek kata, manusia adalah makhluk yang luar biasa optimistis dalam mengira dirinya adalah direktur utama alam semesta.

Di tengah kegemaran manusia mengontrol sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa dikontrol, muncul sebuah kutipan yang beredar luas dan diatribusikan kepada Lao Tzu:

“Ketika Anda tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi, kendalikan cara Anda bereaksi terhadap apa yang terjadi. Di situlah terletak kekuatan Anda.”

Kalimat ini sederhana. Bahkan terlalu sederhana. Saking sederhananya, kita mungkin membacanya sambil mengangguk bijaksana, kemudian lima menit kemudian mengumpat karena seseorang memotong antrean.

Tetapi justru di situlah masalahnya.

Kita sering memahami kebijaksanaan secara intelektual, tetapi lupa mempraktikkannya ketika kehidupan mulai menguji kesabaran.

Kita Ingin Mengendalikan Dunia, Padahal Wi-Fi Saja Tidak Patuh

Ada hal-hal yang memang berada dalam kendali kita. Kita dapat memilih tindakan, perkataan, sikap, dan bagaimana menafsirkan sebuah kejadian.

Tetapi banyak hal lainnya berada di luar kendali.

Kita tidak bisa memaksa seseorang menyukai kita. Tidak bisa memerintah orang lain agar selalu memahami niat baik kita. Tidak bisa memastikan bisnis selalu berhasil. Tidak bisa mengatur harga kebutuhan pokok. Tidak bisa mengatur politik agar sesuai dengan harapan kita.

Bahkan terkadang kita tidak mampu mengendalikan koneksi internet ketika sedang mengirim sesuatu yang sangat penting.

Namun manusia mempunyai kebiasaan aneh: ketika sesuatu berada di luar kendali, justru di situlah kita menghabiskan energi paling banyak.

Orang tidak membalas pesan selama dua jam, kita mulai membuat teori konspirasi.

“Jangan-jangan dia marah.”

“Jangan-jangan dia bosan.”

“Jangan-jangan dia sudah menemukan orang lain.”

Padahal mungkin dia sedang tidur.

Inilah kemampuan luar biasa manusia: mengubah informasi sebesar “belum dibalas” menjadi serial drama 12 episode.

Lao Tzu dan Seni Tidak Memaksa Sungai

Kutipan tersebut memang sering dikaitkan dengan Lao Tzu, tetapi tidak ditemukan sebagai kalimat literal dalam Tao Te Ching. Ia lebih tepat dipahami sebagai ungkapan modern yang merangkum semangat tertentu dalam pemikiran Taoisme.

Salah satu konsep penting Taoisme adalah wu wei, yang secara sederhana dapat dipahami sebagai tindakan tanpa pemaksaan atau tindakan yang selaras dengan keadaan.

Ini bukan berarti duduk di sofa sepanjang hari sambil berkata, “Aku sedang mempraktikkan wu wei.”

Itu namanya malas.

Wu wei justru mengandung kebijaksanaan tentang kapan harus bertindak dan kapan harus berhenti memaksa. Air tidak berteriak kepada batu agar menyingkir. Ia mengalir. Perlahan, tetapi terus-menerus.

Manusia sering melakukan kebalikannya.

Ada tembok di depan kita, kita pukul.

Tembok tetap berdiri.

Kita pukul lagi.

Tangan kita sakit.

Lalu kita menyalahkan tembok karena tidak kooperatif.

Kadang-kadang masalah hidup memang bukan karena kita kurang kuat. Mungkin kita hanya sedang mendorong pintu yang sebenarnya harus ditarik.

Epictetus: Jangan Berkelahi dengan Cuaca

Menariknya, gagasan ini juga memiliki kemiripan dengan filsafat Stoikisme, terutama pemikiran Epictetus tentang apa yang berada dalam kendali kita dan apa yang tidak.

Secara sederhana: kita tidak mengendalikan semua kejadian, tetapi kita dapat berusaha mengendalikan penilaian dan respons kita terhadap kejadian tersebut.

Bayangkan kita sedang kehujanan.

Kita bisa marah kepada langit.

“Kenapa hujan sekarang?!”

Langit, tentu saja, tidak merasa bersalah.

Kita bisa menulis keluhan panjang di media sosial.

Langit tetap hujan.

Kita bisa berdebat dengan teman mengenai siapa yang bertanggung jawab atas cuaca.

Langit tetap tidak ikut rapat.

Atau kita bisa membuka payung.

Inilah perbedaan antara penderitaan dan kebijaksanaan: terkadang masalahnya tidak berubah, tetapi cara kita menghadapinya berubah.

Payung tidak menghentikan hujan. Ia hanya membuat kita tidak perlu ikut basah kuyup secara emosional.

Penerimaan Bukan Berarti Menyerah

Ada kesalahpahaman yang cukup populer tentang menerima keadaan.

Orang mengira menerima berarti pasrah.

Padahal menerima kenyataan justru bisa menjadi bentuk keberanian.

Jika sebuah hubungan berakhir, menerima bukan berarti kita tidak sedih. Artinya kita berhenti bernegosiasi dengan fakta.

Jika sebuah pekerjaan hilang, menerima bukan berarti berhenti mencari pekerjaan. Artinya kita berhenti menghabiskan seluruh tenaga untuk bertanya, “Mengapa ini harus terjadi kepadaku?”

Jika seseorang memperlakukan kita dengan buruk, menerima bukan berarti membiarkan diri terus disakiti. Artinya kita mengakui bahwa kita tidak bisa mengendalikan perilaku orang tersebut, tetapi kita masih dapat menentukan batas yang sehat.

Dengan kata lain:

Menerima kenyataan bukan berarti menyukai kenyataan.

Kita boleh tidak suka hujan sambil tetap membawa payung.

Musuh Terbesar Kadang Bukan Masalah, Melainkan Reaksi Kita

Sebuah kejadian mungkin hanya berlangsung selama lima menit. Tetapi pikiran kita dapat memperpanjangnya selama lima hari.

Seseorang mengatakan sesuatu yang menyakitkan.

Kejadiannya selesai.

Namun kita mengulang percakapannya di kepala:

“Seharusnya tadi saya jawab begini.”

“Kenapa saya diam?”

“Kalau tadi saya bilang begitu, pasti dia malu.”

Lalu kita memenangkan perdebatan yang sudah selesai tiga hari lalu.

Lawan tidak hadir.

Penonton tidak ada.

Trofi pun tidak tersedia.

Tetapi kita tetap menjadi juara debat dalam kepala sendiri.

Di sinilah penguasaan respons menjadi penting.

Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi kepada kita. Tetapi kita memiliki ruang untuk memilih apa yang kita lakukan setelahnya.

Dan ruang kecil itu ternyata sangat berharga.

Kekuatan Tidak Selalu Berisik

Kita sering mengira orang kuat adalah orang yang mampu menguasai orang lain.

Padahal ada kekuatan yang jauh lebih sulit: mampu menguasai diri sendiri.

Mudah membalas hinaan dengan hinaan.

Sulit menahan diri.

Mudah marah ketika diprovokasi.

Sulit tetap tenang.

Mudah menyalahkan keadaan.

Sulit bertanya, “Apa yang masih bisa saya lakukan?”

Mudah mengendalikan orang lain.

Sulit mengendalikan ego sendiri.

Karena itu, orang yang tenang bukan selalu orang yang tidak punya masalah. Bisa jadi ia justru mempunyai banyak masalah, tetapi tidak memberikan jabatan direktur kepada setiap masalah yang datang.

Masalah boleh datang.

Kecemasan boleh mengetuk.

Kegagalan boleh masuk.

Tetapi jangan langsung beri semuanya akses administrator ke dalam pikiran.

Di Zaman Media Sosial, Penguasaan Diri Menjadi Semakin Mahal

Kita hidup dalam zaman ketika setiap orang memiliki mikrofon.

Seseorang bangun tidur, membuka ponsel, membaca komentar, lalu tiba-tiba merasa perlu menyelamatkan peradaban.

Satu kalimat dari orang asing dapat merusak suasana hati sepanjang hari.

Sebuah komentar pendek dapat membuat dua orang yang tidak saling mengenal bertengkar selama enam jam.

Ironisnya, kita sering memberikan kendali terbesar kepada orang yang paling tidak kita kenal.

Seseorang di internet menulis:

“Pendapatmu bodoh.”

Kita langsung marah.

Padahal kita tidak tahu siapa dia.

Mungkin dia sedang sarapan.

Mungkin dia sedang bosan.

Mungkin dia memang sedang mencari perhatian.

Dan kita, dengan penuh dedikasi, memberikannya.

Karena itu, salah satu bentuk kebebasan modern adalah kemampuan berkata:

“Tidak semua hal membutuhkan respons saya.”

Tidak semua komentar harus dijawab.

Tidak semua provokasi harus dilayani.

Tidak semua pertengkaran harus dimenangkan.

Kadang-kadang kemenangan terbesar adalah menutup aplikasi.

Kekuatan Ada pada Jarak antara Kejadian dan Respons

Barangkali inti kutipan ini terletak pada sebuah ruang kecil: jeda.

Sesuatu terjadi.

Kemudian sebelum kita bereaksi, ada sepersekian detik ketika kita masih memiliki pilihan.

Kita bisa marah.

Kita bisa diam.

Kita bisa bertanya.

Kita bisa pergi.

Kita bisa membalas.

Kita bisa memaafkan.

Kita bisa belajar.

Jeda itulah wilayah kebebasan manusia.

Semakin besar jeda tersebut, semakin besar kemungkinan kita merespons dengan kesadaran, bukan sekadar refleks.

Dan semakin kecil jedanya, semakin mudah hidup kita dikendalikan oleh tombol yang ditekan orang lain.

Ada orang yang cukup menekan tombol “provokasi”, lalu kita langsung menyala seperti lampu teras.

Pada Akhirnya, Kita Tidak Perlu Menjadi Penguasa Dunia

Mungkin kita tidak perlu menguasai dunia.

Dunia sudah cukup sibuk mengurus dirinya sendiri.

Kita tidak perlu mengendalikan semua orang.

Orang lain bahkan kadang tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Kita juga tidak perlu mengetahui apa yang akan terjadi besok.

Besok punya pekerjaan sendiri.

Yang perlu kita lakukan adalah mengurus bagian kecil yang memang menjadi milik kita: pikiran kita, pilihan kita, perkataan kita, tindakan kita, dan cara kita merespons kehidupan.

Itulah kekuatan yang tidak mudah dirampas.

Uang bisa hilang.

Jabatan bisa turun.

Popularitas bisa menguap.

Orang bisa pergi.

Rencana bisa gagal.

Tetapi kemampuan untuk berkata, “Saya tidak dapat mengendalikan ini, tetapi saya masih dapat memilih bagaimana menghadapinya,” adalah bentuk kebebasan yang sangat dalam.

Dan mungkin di situlah kita akhirnya memahami kebijaksanaan yang dikaitkan dengan Lao Tzu itu.

Hidup tidak pernah berjanji untuk mengikuti keinginan kita.

Tetapi kita masih memiliki pilihan untuk tidak menjadi kacau hanya karena dunia sedang kacau.

Sebab kadang-kadang kekuatan terbesar bukan kemampuan menghentikan badai.

Melainkan kemampuan tetap memegang kemudi ketika badai datang.

Dan kalau ternyata payung kita terbalik diterjang angin?

Ya sudah.

Rapikan payungnya.

Tarik napas.

Lalu lanjutkan perjalanan.

Sebab hidup memang tidak selalu bisa dikendalikan.

Tetapi tombol “reaksi” masih berada di tangan kita.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026