Pada suatu hari yang cerah—atau mungkin mendung karena notifikasi tagihan kartu kredit—akun media sosial membagikan kabar yang membuat kita semua sejenak merasa tercerahkan: Prancis melarang planned obsolescence. Sebuah istilah yang terdengar canggih, padahal intinya sederhana: barang sengaja dibuat cepat rusak supaya kita cepat beli lagi.
Dengan kata lain, ternyata bukan kita yang boros. Kita hanya
korban skenario.
Dan seperti biasa, internet pun bereaksi. Ada yang terharu,
ada yang skeptis, dan ada yang langsung menatap ponselnya dengan curiga, seolah
berkata, “Jadi selama ini kamu yang salah, ya?”
Barang yang Cepat Tua, Manusia yang Dipaksa Dewasa
Dulu, orang tua kita punya radio yang bisa dipakai puluhan
tahun. Sekarang, kita punya ponsel yang mulai “batuk-batuk” begitu ulang tahun
kedua. Bukan karena dia sudah lelah menemani hidup kita, tapi karena—secara
misterius—ia mulai berpikir lebih lambat dari siput yang sedang merenung.
Kita pun panik. Bukan karena rusak, tapi karena “rasanya
sudah tidak enak dipakai.”
Padahal kalau direnungkan, hubungan kita dengan barang
modern ini mirip hubungan percintaan era digital: bukan rusak, hanya “kurang
responsif.”
Dan solusi yang ditawarkan selalu sama: upgrade.
Prancis dan Romantisme Barang Tua
Di tengah budaya “ganti baru adalah solusi,” Prancis tampil
seperti sahabat yang tiba-tiba berkata, “Coba diperbaiki dulu, bukan langsung
ditinggal.”
Lewat undang-undangnya, mereka tidak hanya melarang praktik
mempercepat kematian barang, tetapi juga mendorong budaya memperbaiki. Bahkan
ada indeks reparabilitas—semacam “rating kepribadian” untuk barang: apakah dia
mudah diajak kompromi atau langsung ngambek kalau rusak.
Denda Besar, Tapi Dompet Lebih Tebal
Tentu saja, hukum tanpa drama bukanlah hukum. Ada perusahaan
besar yang pernah kena denda karena memperlambat perangkat lama. Nilainya
fantastis—puluhan juta euro.
Namun, bagi perusahaan raksasa, angka itu kadang terasa
seperti kita kehilangan uang receh di sofa: agak nyesek, tapi tidak mengubah
gaya hidup.
Di sinilah ironi terjadi. Kita diajari untuk tidak boros,
sementara sistem ekonomi global justru berdiri di atas kebiasaan kita untuk
terus membeli.
Seperti diet yang disponsori oleh restoran all-you-can-eat.
Antara Ideal dan Realitas
Secara teori, kebijakan ini luar biasa. Bayangkan dunia di
mana barang dibuat untuk tahan lama, mudah diperbaiki, dan tidak membuat kita
harus “move on” setiap dua tahun.
Namun praktiknya tidak semudah mengganti casing ponsel.
Membuktikan bahwa perusahaan sengaja membuat barang cepat rusak itu sulit.
Mereka bisa selalu berkata, “Ini bukan rusak, ini inovasi.”
Dan kita, sebagai konsumen, sering kali tidak peduli apakah
itu inovasi atau manipulasi. Selama kameranya lebih jernih, kita siap memaafkan
segalanya.
Sampah Elektronik: Warisan dari Gaya Hidup
Di balik semua ini, ada satu hal yang jarang kita pikirkan:
ke mana perginya barang lama kita?
Jawabannya sering tidak romantis. Ia berakhir di tumpukan
limbah elektronik, sering kali di negara yang bahkan tidak pernah menikmati
kemewahan menggunakannya.
Kita upgrade. Mereka yang menanggung.
Sebuah globalisasi yang tidak pernah kita masukkan dalam
foto Instagram.
Media Sosial: Guru yang Kadang Lupa Tanggal
Menariknya, semua diskusi ini bermula dari sebuah unggahan
yang—ternyata—tidak sepenuhnya baru. Hukum yang dibicarakan sudah ada sejak
lama.
Namun justru di situlah keindahan media sosial. Ia tidak
selalu akurat dalam waktu, tetapi sering tepat dalam momentum.
Ia seperti teman yang salah tanggal ulang tahun, tapi tetap
datang membawa kue.
Refleksi: Antara Butuh dan Ingin
Pada akhirnya, pertanyaan besar bukan hanya tentang hukum
atau perusahaan, tetapi tentang kita sendiri.
Apakah kita benar-benar butuh barang baru, atau hanya ingin
merasakan sensasi “punya yang lebih baik”?
Budaya konsumsi modern membuat kita percaya bahwa
kebahagiaan bisa di-install seperti aplikasi. Tinggal unduh versi
terbaru, maka hidup akan terasa lebih lancar.
Padahal, sering kali yang perlu diperbarui bukan perangkat
kita, tetapi cara kita memandangnya.
Siapa tahu, dia hanya lelah.






