Sabtu, 07 Februari 2026

AI dan Utang Kognitif: Ketika Otak Mulai Cicil, Lalu Galbay

Di zaman serba AI ini, menulis esai terasa seperti naik ojek online: cepat, praktis, dan kadang kita lupa jalan pulang. Tinggal ketik perintah, cling!—jadilah paragraf rapi, penuh istilah akademik, dan tampak lebih pintar dari penulisnya sendiri. Namun, sebuah studi dari MIT Media Lab tahun 2025 datang membawa kabar kurang sedap: ternyata, di balik kemudahan itu, otak kita diam-diam sedang mengajukan pinjaman. Namanya keren: utang kognitif.

Konsepnya sederhana tapi menohok. Setiap kali kita menyerahkan proses berpikir kepada AI—mulai dari menyusun argumen, memilih kata, sampai menyimpulkan—otak kita seperti berkata, “Sudahlah, biar mesin saja yang mikir.” Awalnya enak. Tapi lama-lama, otak yang jarang dipakai itu mulai ngambek. Studi ini bahkan menunjukkan penurunan konektivitas otak hampir setengahnya. Ibarat otot, otak yang jarang diajak kerja bukan jadi santai, tapi malah kempes.

Yang lebih tragis (dan agak lucu, kalau bukan kita korbannya), sebagian besar peserta penelitian tidak mampu mengingat satu kalimat pun dari esai yang baru saja mereka “tulis” dengan bantuan AI. Esainya ada, nilainya mungkin ada, tapi ingatannya nihil. Ini seperti memesan makanan mahal, memotretnya untuk Instagram, lalu lupa rasanya karena ternyata yang makan adalah tetangga.

Paradoks besar pun muncul. AI memang efisien—pekerjaan selesai lebih cepat, energi mental lebih hemat. Tapi hemat di sini seperti hemat belajar: yang disimpan bukan uang, melainkan pemahaman. Para pendidik menyebut hasilnya rapi tapi hambar: esai yang benar, namun terasa dingin, robotik, dan tak punya rasa kepemilikan. Seolah-olah penulisnya ada, tapi pikirannya sedang cuti.

Untungnya, studi ini tidak serta-merta menyuruh kita mematikan Wi-Fi dan kembali menulis dengan pena bulu angsa. Justru, solusi terbaik datang dari kelompok yang menggunakan strategi cerdas: Brain-to-LLM. Mereka berpikir dulu, menulis dulu, lalu memanggil AI sebagai editor, bukan sebagai dukun peramal ide. Hasilnya? Otak tetap aktif, ingatan tetap lengket, dan esai tetap bernyawa. AI pun bahagia, karena akhirnya diperlakukan sebagai asisten, bukan otak cadangan.

Pesan besarnya sederhana tapi penting: AI itu pelayan yang sangat rajin, tapi majikan yang buruk. Kalau semua urusan berpikir kita serahkan padanya, jangan kaget kalau suatu hari kita punya banyak output tapi minim insight. Utang kognitif ini bukan ditagih oleh bank, melainkan oleh realitas—saat kita diminta berpikir mandiri dan otak kita malah loading.

Maka, gunakan AI dengan niat yang waras. Biarkan ia membantu saat kita buntu, mempercepat yang mekanis, dan merapikan yang semrawut. Tapi untuk urusan inti—bertanya, meragukan, menyusun makna—biarlah otak kita tetap bekerja. Sebab masa depan yang benar-benar cerdas bukanlah masa depan di mana manusia digantikan AI, melainkan masa depan di mana manusia masih ingat cara berpikir… tanpa harus bertanya dulu ke ChatGPT.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Islam dari Langit, Bukan dari Grup WhatsApp Budaya

( Wahyu, Relativisme, dan Tauhid yang Tidak Bisa Ditawar)

Di zaman ketika segala sesuatu bisa dijelaskan dengan kalimat, “itu kan cuma konstruksi sosial,” agama pun ikut-ikutan diperlakukan seperti batik: indah, kaya makna, tapi katanya lahir dari budaya lokal dan selera zaman. Kalau sudah begitu, wahyu dari langit pun direduksi setara hasil diskusi antropolog plus secangkir kopi pahit di kafe akademik.

Nah, di tengah suasana intelektual yang rawan masuk angin relativisme inilah, sebuah esai tampil sambil mengangkat tangan dan berkata: “Maaf, Islam bukan produk UMKM budaya manusia.” Esai karya Zainun Hisyam ini dengan tenang—tapi tegas—menyatakan bahwa Islam adalah risalah langit, bukan hasil brainstorming kolektif para pemikir Timur Tengah.

Langkah pertama penulis cukup berani: mengajak pembaca berhadapan langsung dengan paradigma sekuler. Di sini, tokoh-tokoh seperti Peter L. Berger hadir bukan sebagai musuh bebuyutan, tapi sebagai representasi cara pandang yang melihat agama lebih sebagai gejala sosial ketimbang pesan ilahi. Dalam dunia ini, kebenaran absolut dianggap kurang sopan, dan wahyu ilahi dinilai terlalu yakin diri.

Namun, Hisyam tidak ikut-ikutan minder. Dengan membawa konsep ad-diin, ia mengingatkan bahwa dalam Islam, agama bukan sekadar ekspresi budaya, melainkan ketetapan Tuhan. Singkatnya: ini bukan soal selera lokal, tapi soal kebenaran yang datang dari langit—lengkap dengan petunjuk penggunaan hidup.

Sebagai senjata utama, Al-Qur’an pun dikeluarkan dari sarungnya. QS. Asy-Syura: 13 dijadikan bukti bahwa risalah tauhid itu konsisten sejak Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad. Tafsir Ibnu Asyur hadir sebagai bala bantuan intelektual, menegaskan bahwa penyebutan lima nabi besar bukan berarti nabi lain dilupakan, tapi sebagai penanda fase-fase penting sejarah wahyu.

Pesannya jelas: Islam bukan agama “pendatang baru” yang numpang eksis di sejarah, melainkan episode terakhir dari serial panjang monoteisme—final season, bukan spin-off.

Bagian yang paling hidup tentu dialog-dialog Nabi Muhammad dengan Ahli Kitab. Di sini, kita diajak melihat bahwa mengaku beragama saja tidak cukup jika tauhidnya sudah bercampur adonan lain. Dialog dengan Nasrani Najran menunjukkan bahwa iman bukan soal label, tapi soal siapa yang benar-benar duduk di singgasana ketuhanan.

Sementara ajakan menuju kalimatin sawa’ digambarkan sebagai fondasi dialog antaragama yang jujur: sama-sama berdiri di atas tauhid, bukan sekadar basa-basi toleransi sambil menghindari topik sensitif. Islam, kata penulis, siap berdialog—asal jangan minta tauhid ikut dinegosiasikan.

Menariknya, untuk membuktikan bahwa penyimpangan itu bukan klaim sepihak, penulis justru mengajak sejarawan Barat naik ke mimbar saksi. Nama-nama seperti Karen Armstrong, Bart D. Ehrman, hingga Patrick D. Miller dipanggil untuk menjelaskan bagaimana teologi Yahudi dan Kristen mengalami “penyesuaian budaya” yang cukup serius—dari pengaruh pagan Kanaan sampai konsili Nicea yang sarat nuansa politik Romawi.

Strategi ini cerdik: ketika orang sekuler berkata agama itu produk budaya, penulis membalas, “Ya, benar—dan itu justru terjadi pada agama-agama sebelumnya, bukan pada Islam.” Sentilannya halus, tapi terasa.

Secara keseluruhan, esai ini ibarat benteng akidah dengan desain modern: kokoh, penuh referensi, dan ramah bagi muslim terdidik yang tiap hari diserbu relativisme lewat buku, media sosial, dan seminar daring. Namun, tentu saja, benteng ini tidak tanpa celah.

Nada tulisan cenderung monologis—lebih seperti pledoi pembelaan tauhid ketimbang dialog dua arah. Kompleksitas internal Yahudi dan Kristen disederhanakan demi tujuan apologetik, dan pemikiran sekuler pun diringkas seolah-olah semuanya alergi terhadap klaim kebenaran. Dialog ada, tapi lebih banyak berbentuk “kami menjelaskan, silakan mendengarkan.”

Meski begitu, tujuan utama esai ini tercapai dengan baik: menegaskan bahwa dalam Islam, agama bukan hasil eksperimen sosial, melainkan pesan suci yang diturunkan. Tauhid bukan opini, tapi fondasi. Dan Islam bukan sekadar salah satu versi kebenaran, melainkan penjaga terakhir risalah langit.

Akhirnya, sebagaimana ditutup dengan kalimat klasik penuh adab, Wallahu a’lam. Tapi satu hal jelas: setelah membaca esai ini, sulit rasanya mengatakan bahwa Islam hanyalah produk budaya—kecuali jika langit pun kini dianggap bagian dari konstruksi sosial.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Dari Mulut ke Otak: Ketika Gusi Ikut Nimbrung Urusan Ingatan

Selama ini, Alzheimer sering diposisikan sebagai penyakit yang “ya sudah nasib usia.” Seolah-olah otak, ketika mencapai umur tertentu, otomatis pensiun dini tanpa pamit. Namun riset mutakhir datang membawa kabar yang cukup mengejutkan: ternyata, otak tidak sendirian dalam drama ini. Mulut—yang selama ini kita kira hanya bertugas mengunyah gorengan dan mengeluh saat cabai kepedasan—diam-diam ikut campur.

Sebuah cuitan sains populer memperkenalkan tokoh antagonis baru dalam kisah Alzheimer: Porphyromonas gingivalis. Namanya panjang, perilakunya pendek akal. Inilah bakteri biang penyakit gusi, yang selama ini hanya kita salahkan atas bau mulut dan gigi goyang, ternyata berani-beraninya melancong sampai ke otak. Tanpa visa. Tanpa izin. Benar-benar bakteri backpacker.

Penelitian tahun 2019 menemukan bahwa bakteri ini—beserta racun enzimnya yang bernama gingipains (nama yang terdengar seperti kelompok band metal)—ditemukan di otak pasien Alzheimer. Lebih mengejutkan lagi, jejaknya sudah ada jauh sebelum gejala lupa nama cucu atau lupa naruh kunci motor muncul. Artinya, Alzheimer mungkin bukan datang tiba-tiba, tapi dia sudah lama “booking tempat” lewat pintu gusi yang meradang.

Eksperimen pada tikus pun menambah dramanya. Tikus yang terinfeksi bakteri gusi ini secara oral mulai menunjukkan tanda-tanda Alzheimer: plak amyloid menumpuk di otak. Dari sini kita belajar satu hal penting: bahkan tikus pun tidak aman jika malas menjaga kebersihan mulut. Jadi jangan terlalu jumawa sebagai manusia.

Teori ini menggoyang asumsi lama. Alzheimer bukan cuma soal neuron yang menua, tapi bisa jadi akibat infeksi kronis yang berasal dari tempat paling sering kita abaikan: sela-sela gigi. Lebih absurd lagi, hubungan ini bersifat dua arah. Plak amyloid di otak ternyata bisa membantu bakteri membangun koloni—sebuah kerja sama yang kalau terjadi pada manusia normal, sudah masuk kategori pertemanan toksik.

Lalu apa solusinya? Kabar baiknya, pencegahan Alzheimer ternyata tidak selalu butuh teknologi futuristik atau pil mahal. Kadang cukup dengan ritual sederhana: menyikat gigi, flossing, dan sesekali menyapa dokter gigi tanpa rasa takut berlebihan. Ternyata, benang gigi bukan cuma alat penyiksa gusi, tapi juga calon pahlawan neuroprotektif.

Dunia farmasi pun ikut tergugah. Obat-obatan yang menarget bakteri gusi mulai dikembangkan. Sayangnya, tidak semua kisah berakhir bahagia. Ada obat yang menjanjikan, tapi kemudian “tersandung” di hati (secara harfiah). Namun, seperti sinetron panjang, cerita ini belum tamat. Versi-versi lanjutan terus diuji, dan harapan tetap disimpan—meski tidak lagi dengan euforia berlebihan.

Kesimpulannya cukup sederhana, tapi agak menampar: kesehatan otak bisa dimulai dari sikat gigi. Mulut bukan sekadar gerbang masuk makanan dan gosip, tapi juga jalur strategis menuju otak. Jadi, sebelum mengeluh lupa password atau lupa tujuan hidup, mungkin ada baiknya kita bertanya lebih dulu: sudahkah gusi kita diperlakukan dengan layak hari ini?

Dalam perang melawan Alzheimer, ternyata senjata paling awal bukan MRI atau obat mahal—melainkan sikat gigi, pasta gigi, dan sedikit niat baik sebelum tidur. 🪥🧠

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Jumat, 06 Februari 2026

Leonhard Euler: Dosen Privat yang Terlalu Rajin untuk Sekadar Jenius

Di zaman sekarang, jika seorang guru mengirim 234 pesan pribadi kepada satu murid selama dua tahun, besar kemungkinan ia akan dipanggil oleh HRD, komite etik, atau minimal grup WhatsApp orang tua murid. Namun di abad ke-18, tindakan serupa justru melahirkan sebuah mahakarya pendidikan. Pelakunya bukan guru les biasa, melainkan Leonhard Euler—manusia yang bagi matematika posisinya mirip Indomie bagi anak kos: selalu relevan, di mana-mana, dan sulit digantikan.

Euler menulis 234 surat kepada seorang putri Jerman berusia 15 tahun, Friederike Charlotte von Brandenburg-Schwedt. Bukan surat cinta, bukan pula surat motivasi ala “kamu pasti bisa”, melainkan tutorial serius tentang geometri, fisika, astronomi, hingga filsafat. Bayangkan seorang remaja menerima surat berisi penjelasan hukum gerak planet, sementara remaja abad ke-21 menerima notifikasi: “Video ini mungkin Anda sukai.”

Yang membuat kisah ini makin absurd—dalam arti yang mengagumkan—adalah kondisi Euler sendiri. Saat itu ia sudah kehilangan penglihatan di satu mata dan kemudian buta total. Artinya, ketika kebanyakan orang mengeluh tidak bisa fokus karena baterai ponsel 5%, Euler justru berpikir, “Baiklah, mari kita jelaskan kosmos kepada seorang putri.” Produktivitas level dewa, tutorial privat level mitologi.

Lebih jenaka lagi, Euler tidak mengajar dengan gaya “ini rumus, hafalkan”. Ia menjelaskan sains dengan bahasa yang ramah, seolah berkata, “Tenang, kita pelan-pelan. Alam semesta ini memang rumit, tapi masih bisa dijelaskan sambil minum teh.” Hasilnya? Surat-surat itu dibukukan dengan judul Letters to a German Princess, dan—tanpa niat viral, tanpa algoritme—menjadi buku populer di Era Pencerahan. Sebuah thread panjang, tapi versi kertas dan tanpa drama kolom komentar.

Akun @Math_files yang mengangkat kisah ini di media sosial tampaknya paham betul bahwa matematika butuh sentuhan manusia. Dengan moto “Life is nonlinear. So handle it using Math,” mereka mengingatkan kita bahwa di balik simbol-simbol rumit, ada cerita tentang mentoring, kesabaran, dan keberanian melawan kebiasaan zaman. Mengajarkan fisika kepada perempuan muda di abad ke-18 bukan hal netral—itu cukup radikal, bahkan tanpa spanduk demonstrasi.

Tentu, klaim bahwa buku Euler menjadi teks wajib di setiap akademi perempuan mungkin agak dilebihkan—maklum, gaya media sosial. Namun esensinya tetap sahih: Euler membuka pintu yang sebelumnya tertutup rapat. Ia tidak sekadar mengajar satu putri, tetapi ikut menggeser anggapan tentang siapa yang “layak” belajar sains.

Dari kisah ini, kita belajar satu hal penting: ilmu pengetahuan tidak selalu maju karena teori baru, tetapi karena kesediaan seseorang untuk menjelaskan dengan sabar. Di era digital yang serba cepat, kisah Euler terasa seperti sindiran halus. Kita punya video berdurasi 30 detik, tapi kehilangan kesabaran. Euler punya 234 surat tulisan tangan—dan waktu.

Jadi, dari seorang matematikawan buta di abad ke-18 hingga sebuah tweet di abad ke-21, pesannya tetap sama: ilmu yang paling rumit pun seharusnya bisa dibagi. Dan jika Euler bisa menjelaskan tata surya tanpa bisa melihatnya, barangkali kita juga bisa menjelaskan sesuatu—tanpa harus berkata, “Cari saja di Google.”

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tujuh Nafsu dan Sebuah Lukisan: Ketika Jiwa Manusia Ternyata Lebih Ramai dari Timeline Media Sosial

Jika manusia modern merasa hidupnya rumit karena terlalu banyak notifikasi, Ada kabar yang sedikit menenangkan sekaligus menohok: keramaian itu bukan hanya di ponsel, tapi sudah lama menetap di dalam diri kita—bernama nafsu. Tepatnya, bukan satu, melainkan tujuh. Dan semuanya punya watak, warna, alamat tubuh, bahkan “alamat alam”.

Dalam  7 Nafsu Manusia (Ngaji Lukisan), kita diajak menyelami tasawuf dengan metode yang tidak biasa: ngaji sambil melihat lukisan. Ini semacam Google Maps spiritual—lengkap dengan titik warna, rute zikir, dan peringatan keras: “Anda sedang berada di nafsu ammarah, harap putar balik.”

Nafsu: Bukan Musuh, Tapi Tetangga yang Kurang Sopan

Nafsu bukanlah iblis berkedok manusia. Ia lebih mirip tetangga yang sebenarnya satu keluarga, tapi hobi parkir sembarangan. Nafsu adalah alam batin manusia: ada kalbu, ruh, fikrah—dan tentu saja si nafsu yang kadang bikin status WA kita disesali lima menit kemudian.

Tasawuf, dalam versi ini, tidak memusuhi nafsu. Ia mendidik nafsu. Seperti orang tua sabar menghadapi anak yang masih belajar makan tanpa menumpahkan sambal ke mana-mana.

Nafsu Ammarah: CEO Keserakahan

Tahap pertama adalah nafsul ammarah, berlokasi di pusar dan berwarna biru. Di sinilah kantor pusat sifat-sifat favorit netizen: pelit, ambisius, sombong, dengki, lalai, dan oportunis. Ini nafsu yang kalau diberi mikrofon, akan berkata, “Yang penting saya untung.”

Alamnya adalah alam syahadah, dunia nyata—tempat diskon, kekuasaan, dan drama hidup berseliweran. Obatnya? Syariah dan zikir panjang “la…”. Ya, memanjangkan “la” seolah-olah dosa-dosa itu perlu diberi tahu dengan jelas: “La—bukan itu hidup yang benar.”

Nafsu Lawwamah: Si Penyesal Produktif

Naik sedikit ke dada, kita bertemu nafsul lawwamah, berwarna kuning. Ini nafsu yang hobi menyesal. Setelah marah, ia merenung. Setelah pamer, ia overthinking. Setelah posting, ia hapus.

Sayangnya, lawwamah juga punya penyakit khas: ujub—bangga karena merasa sudah sadar. Ini fase di mana seseorang berkata, “Saya memang bukan orang suci, tapi saya lebih sadar daripada kalian.” Alamnya barzakh: setengah dunia, setengah batin. Jalannya lillah—mulai belajar berbuat bukan demi ego, tapi demi Allah. Obatnya: ikhlas dan cinta. Dua hal yang mudah diucapkan, sulit dipraktikkan, dan sering disalahpahami.

Nafsu Mulhamah: Inspirasi yang Bikin Repot Tapi Indah

Lalu muncullah nafsul mulhamah, berwarna merah, beralamat di roh. Di sini orang mulai ringan tangan, qanaah, sabar, tawadhu, dan—yang paling berbahaya—suka menanggung beban orang lain. Ini tipe manusia yang kalau ditanya kenapa capek, jawabannya, “Gak apa-apa.”

Alamnya makin tinggi, istilahnya pun makin berat: malakut, jabarut, lahut. Mulai muncul rindu, isyq, dan ma’rifah. Hati mulai sensitif, bukan baper, tapi peka. Dunia tidak lagi hanya soal “apa yang saya dapat”, tapi “apa yang bisa saya pikul”.

Nafsu Mutmainnah: Tenang, Tapi Bukan Pensiun

Puncak bagian pertama adalah nafsul mutmainnah, berwarna putih, berlokasi di sirr. Di sini manusia mulai benar-benar tenang. Tawakal, rida, tegas, dan ibadahnya penuh syukur. Bukan karena hidupnya tanpa masalah, tapi karena ia tahu kepada siapa ia bersandar.

Namun tasawuf selalu punya cara membuyarkan rasa puas. Mutmainnah bukan garis finis. Ini baru rest area. Masih ada radhiyah, mardhiyah, kamilah—yang akan dibahas di bagian dua. Karena dalam tasawuf, selesai itu hanya milik kematian, dan bahkan itu pun masih berlanjut.

 Lukisan yang Sebenarnya Cermin

Pada akhirnya, lukisan dalam ngaji ini bukan sekadar gambar titik warna. Ia cermin. Kita mungkin datang untuk belajar tasawuf, tapi pulang dengan perasaan curiga pada diri sendiri: “Jangan-jangan yang sering update itu bukan pencerahan, tapi ammarah yang pakai baju religius.”

Pesan ini sederhana tapi menampar lembut: membersihkan nafsu bukan proyek manusia, melainkan anugerah Allah. Tugas kita bukan merasa suci, tapi terus mau dibersihkan.

Dan jika perjalanan spiritual terasa panjang, jangan khawatir. Bahkan nafsu pun butuh waktu untuk belajar sopan. Yang penting, jangan berhenti zikir—dan jangan lupa, kadang memanjangkan “la” itu lebih sulit daripada memanjangkan daftar kesalahan orang lain.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Puasa: Ibadah Paling Disiplin yang Tetap Punya Hati

Jika ibadah adalah bangunan, maka puasa dalam kitab Fathul Mu’in bukan sekadar rumah ibadah biasa. Ia lebih mirip gedung perkantoran syariat berlantai banyak: fondasinya kokoh, aturannya rapi, pintunya banyak, tapi semua pintu diberi papan bertuliskan “Masuk dengan niat yang benar”. Dan jangan lupa: satpamnya bernama mazhab Syafi’i, terkenal teliti tapi diam-diam penyayang.

Syekh Zainuddin al-Malibari tampaknya paham betul satu hal penting: manusia itu ingin taat, tapi juga sering lupa. Maka bab puasa dibuka dengan kalimat yang tegas: puasa Ramadhan itu wajib, titik. Tidak pakai “jika sempat”, “kalau cuaca mendukung”, atau “asal tidak lapar”. Ini sudah ijma’ ulama, bukan polling WhatsApp grup keluarga.

Namun, setelah menancapkan kewajiban, beliau langsung turun ke hal teknis: cara menentukan awal Ramadhan. Di sini mazhab Syafi’i tampil seperti orang perfeksionis yang tetap realistis. Cukup satu saksi adil yang melihat hilal—meski ia bukan seleb astronomi atau ustaz viral. Bandingkan dengan mazhab lain yang minta dua saksi: Syafi’i ini hemat, tapi bukan sembrono. Prinsipnya jelas: kebenaran itu tidak harus ramai.

Lalu muncullah bahasan ikhtilaf al-mathla’ dengan ukuran 24 farsakh. Ini semacam versi klasik dari perdebatan modern: “Ikut pemerintah atau ikut grup rukyat?” Bedanya, di Fathul Mu’in perdebatan ini dibahas dengan tenang, tanpa meme, tanpa sindiran, dan tanpa status Facebook panjang.

Masuk ke bagian paling sensitif: niat puasa. Di sinilah puasa berubah dari sekadar menahan lapar menjadi latihan kesadaran tingkat tinggi. Puasa wajib harus diniati malam hari, dengan penentuan yang jelas. Tidak cukup berniat samar-samar seperti, “Besok kayaknya puasa, deh.” Tidak bisa. Syekh al-Malibari ingin memastikan: puasa itu bukan autopilot.

Tapi jangan khawatir, untuk puasa sunnah beliau longgar. Niat boleh siang hari, asal belum tergelincir matahari. Ini seperti syariat berkata: “Kalau yang wajib serius, kalau yang sunnah ayo semangat saja dulu.” Prinsip al-umuru bi maqashidiha bekerja elegan: yang dinilai bukan hanya perut kosong, tapi kesengajaan hati.

Bagian pembatal puasa dibahas dengan detail yang bisa membuat sebagian orang mendadak mengecek gigi dan tenggorokan. Jimak, onani, dan memasukkan sesuatu ke dalam jauf disebut dengan serius—karena puasa memang latihan menahan diri dari kesenangan primer. Tapi di balik keketatan itu, ada kabar baik: mimpi basah aman, madzi aman, sisa makanan mikroskopis di gigi pun aman. Syariat tahu manusia tidak bisa mengontrol segalanya. Bahkan berkumur berlebihan pun masih diperdebatkan dengan penuh empati oleh para ulama besar.

Ketika membahas keringanan, Fathul Mu’in terasa seperti buku hukum yang tiba-tiba berubah menjadi buku penguatan mental. Sakit, safar, haid, nifas—semua bukan celah menghindar, tapi fitur resmi syariat. Allah tidak meminta puasa sebagai ujian siapa paling kuat, tapi siapa paling taat dan jujur pada kondisi dirinya.

Sistem qadha, fidyah, dan kaffarah disusun rapi seperti menu restoran: ada yang mengganti, ada yang menebus, ada yang menyeimbangkan. Kaffarah besar untuk pelanggaran berat berfungsi seperti denda plus terapi kesadaran. Sementara fidyah bagi orang tua renta mengubah puasa dari latihan fisik menjadi ibadah sosial. Bahkan setelah wafat pun, urusan puasa masih diperhatikan. Hubungan hamba dan Tuhannya benar-benar long-term commitment, bukan kontrak sementara.

Menariknya, bab ini tidak berhenti pada puasa wajib. Ada puasa sunnah, larangan puasa di hari tertentu, dan iktikaf. Ini semacam pesan halus: jangan ekstrem. Ada hari menahan diri, ada hari merayakan nikmat. Ada waktu menyendiri di masjid, ada waktu kembali ke masyarakat. Puasa bukan pelarian dari dunia, tapi cara menata ulang hubungan dengannya.

Tentu saja, Fathul Mu’in bukan kitab futuristik. Beberapa istilah seperti “jauf” perlu dialog dengan dunia inhaler, infus, dan obat tetes. Rukyat perlu berdiskusi dengan hisab. Tapi justru di situlah keindahannya: yang teknis bisa berkembang, yang prinsip tetap relevan. Disiplin niat, keadilan beban, rahmat dalam hukum, dan kepekaan sosial—semuanya lintas zaman.

Akhirnya, bab puasa dalam Fathul Mu’in mengajarkan satu hal penting: puasa itu ibadah paling ketat, tapi tidak kaku. Aturannya jelas, tapi hatinya lembut. Ia menjaga kesahihan ibadah tanpa melupakan kemanusiaan pelakunya. Dalam konteks Muslim Indonesia yang mayoritas Syafi’i, bab ini bukan hanya panduan puasa, melainkan seni menyeimbangkan taat dan waras—menahan lapar, tanpa kehilangan rasa. 🍽️✨

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Kebaikan Sepotong Roti: Ketika Lapar Masih Punya Hati

Di tengah linimasa media sosial yang dipenuhi foto kopi estetik, kutipan motivasi berfont sans-serif, dan debat kusir yang tak kunjung selesai, sebuah unggahan sederhana tiba-tiba muncul membawa kejutan: puisi tentang roti dan lukisan tentang anak miskin bersama anjing. Bukan promo roti gandum bebas gluten, bukan pula iklan makanan anjing—melainkan puisi “La tranche de pain” karya Maurice Carême dan lukisan “Une part de la croûte” karya Augustus Edward Mulready. Dua karya ini seolah berbisik pelan, “Hei, sebelum kamu scroll lagi, ingatlah bahwa kebaikan kadang cuma butuh sepotong roti.”

Puisi Carême tampil dengan gaya yang bersahaja, nyaris seperti catatan harian anak SD yang jujur dan polos. Tokohnya seorang anak, sendirian, lapar, dan hanya punya satu harta berharga: sepotong roti bermentega tebal. Di dunia modern, ini setara dengan punya satu porsi ayam geprek level 10 dan belum makan seharian. Lalu datanglah seekor anjing—makhluk berbulu yang menatap roti itu seolah berkata, “Wahai manusia, engkau pemilik surga dan neraka.” Dan di sinilah drama batin dimulai: makan sendiri atau berbagi?

Yang mengejutkan—dan agak menampar ego orang dewasa—anak itu memilih berbagi. Padahal ia lapar. Padahal rotinya cuma satu. Padahal tidak ada kamera, tidak ada likes, tidak ada caption “berbagi itu indah ”. Namun Carême, dengan nada tenang tapi licik secara moral, menyatakan bahwa tindakan kecil itu “disaksikan oleh seluruh dunia”. Sebuah pengingat halus bahwa kebaikan sejati justru paling lantang ketika tidak dipamerkan.

Lukisan Mulready lalu datang memperjelas situasi, seperti versi visual dari puisi tersebut. Anak lusuh duduk di tangga kota, anjing kecil di sampingnya, dan sepotong roti dibagi dua—tanpa presentasi plating, tanpa saus tambahan. Di belakang mereka, kota terus berjalan: orang-orang sibuk, toko-toko berdiri, dunia berputar tanpa peduli. Ironisnya, justru di sudut termiskin itulah kita menemukan kemewahan yang paling langka: hati yang masih mau memberi.

Detail-detail lukisan itu seolah sengaja mengolok kita. Kupu-kupu di latar? Simbol harapan. Tangga batu yang dingin? Simbol kerasnya hidup. Anak miskin yang berbagi roti? Simbol bahwa empati tidak memerlukan rekening saldo besar. Lukisan ini seperti berkata, “Jika anak ini bisa berbagi, apa alasanmu yang sudah makan tiga kali hari ini?”

Ketika puisi dan lukisan ini disandingkan dalam satu unggahan, efeknya mirip tamparan lembut berlapis estetika. Kita diajak merenung, tapi tidak dengan ceramah. Kita disentuh, tapi tidak dengan khotbah. Pesannya sederhana: kebaikan sering lahir bukan dari kelimpahan, melainkan dari rasa kekurangan yang dipahami bersama. Anak itu tidak berbagi karena ia kaya, tetapi karena ia tahu rasanya lapar—dan memilih tidak sendirian dalam rasa itu.

Di balik semua ini, unggahan tersebut juga seperti sindiran sosial yang santun. Di dunia yang semakin individualistis, di mana kata “copain” (teman) secara etimologis berarti “orang yang berbagi roti”, kita justru sering lupa berbagi—bahkan saat roti kita berlimpah. Anak dan anjing itu, tanpa seminar motivasi atau kelas pengembangan diri, justru mengajarkan definisi persahabatan yang paling dasar.

Akhirnya, puisi Carême, lukisan Mulready, dan unggahan yang mempertemukan keduanya, sama-sama menyampaikan satu kebenaran yang sulit dibantah: kemanusiaan tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, tetapi dari seberapa rela kita berbagi—terutama ketika kita sendiri kekurangan. Dan ya, jika sepotong roti saja bisa membuat dunia “menyaksikan”, mungkin kebaikan kecil kita juga lebih berdampak daripada yang kita kira. 🍞🐶
abah-arul.blogspot.com., Feberuari 2026