Selasa, 24 Februari 2026

Arsitek Otak, Tukang Bangunan, dan Drama Zona Nyaman

Di suatu pagi yang penuh niat baik (yang biasanya berlangsung hanya sampai jam 10), jagat media sosial kembali dihebohkan oleh akun @thecurioustales. Dengan gaya khas “BREAKING NEWS!!!” yang seolah-olah NASA baru saja menemukan otak cadangan di Mars, mereka mengumumkan bahwa setiap kali kita belajar hal baru, otak kita sedang “dibangun ulang”.

Publik pun tersentak.

Sebagian langsung termotivasi: “Mulai hari ini saya belajar bahasa Korea!”

Sebagian lagi lebih realistis: “Saya belajar cara menahan diri untuk tidak buka kulkas tiap lima menit.”

Dan sisanya… hanya membaca judulnya saja, lalu lanjut scroll.

Namun di balik drama digital itu, ada satu kenyataan ilmiah yang diam-diam tersenyum: kita memang sedang merenovasi otak kita setiap hari. Ya, tanpa perlu tukang, tanpa semen, dan tanpa grup WhatsApp keluarga yang ribut soal biaya.

Otak: Kontraktor yang Tidak Pernah Libur

Bayangkan otak kita sebagai proyek pembangunan yang tidak pernah selesai. Bukan proyek pemerintah yang mangkrak, tapi proyek pribadi yang selalu aktif—bahkan saat kita pura-pura “istirahat” sambil scroll TikTok.

Setiap kali kita belajar sesuatu—entah itu bahasa asing, cara masak mie instan yang “lebih niat”, atau teknik menunda pekerjaan secara profesional—otak kita melakukan sesuatu yang canggih: memperkuat jalur saraf. Para ilmuwan menyebutnya Long-Term Potentiation (LTP).

Bahasanya sederhana:
“Sering dipakai, makin kuat.”

Sebaliknya, kebiasaan lama yang ditinggalkan akan melemah melalui Long-Term Depression (LTD). Ini bukan depresi karena melihat saldo rekening, melainkan proses alami otak menghapus jalur yang jarang dipakai.

Jadi ketika Anda berhasil berhenti rebahan sejenak untuk olahraga, sebenarnya ada jalur saraf yang sedang berkata:
“Alhamdulillah, akhirnya saya dipakai juga.”

Zona Nyaman: Surga yang Diam-Diam Membosankan

Masalahnya, manusia punya satu tempat favorit: zona nyaman.

Di sana, segalanya terasa aman. Tidak ada tantangan, tidak ada risiko, dan tidak ada keinginan untuk berubah. Persis seperti kasur empuk di pagi hari—yang secara ilmiah memiliki gravitasi lebih kuat daripada hukum Newton.

Namun, keluar dari zona nyaman itu ibarat memaksa otak untuk “kerja lembur”. Di situlah tubuh melepaskan BDNF—semacam pupuk untuk neuron.

Sayangnya, bagi banyak orang, “pupuk” ini terasa seperti “penderitaan”.

Belajar hal baru terasa sulit. Mencoba kebiasaan baru terasa aneh. Bahkan membuka buku saja bisa memicu reaksi alergi ringan: mengantuk mendadak.

Padahal, di saat itulah otak sedang berkata:
“Tenang, ini bukan penderitaan. Ini upgrade.”

Antara Sains dan Judul Clickbait

Tentu saja, media sosial tidak pernah puas dengan kebenaran yang sederhana. Ia harus dibungkus dengan dramatisasi.

“OTAK ANDA BERUBAH SEKETIKA!!!”
“INI BUKTI BARU!!!”

Padahal para ilmuwan sudah lama tahu soal neuroplastisitas. Ini bukan berita baru, hanya saja baru viral.

Dan ya, perubahan otak itu tidak instan.
Belajar satu hari tidak langsung menjadikan Anda jenius.
Olahraga sekali tidak langsung jadi atlet.
Dan membaca satu buku motivasi tidak otomatis membuat Anda bangun jam 4 pagi (meskipun bookmark-nya sudah siap).

Otak butuh pengulangan, konsistensi, dan—yang paling sering dilupakan—tidur.

Ya, tidur. Aktivitas yang sering dianggap “kemalasan” itu ternyata adalah bagian dari proses belajar. Tanpa tidur, otak Anda ibarat tukang bangunan yang disuruh kerja terus tanpa istirahat: hasilnya bukan bangunan, tapi kekacauan.

Kita Semua Tukang Bangunan (Meski Sering Mogok Kerja)

Hal paling menarik dari konsep ini bukan sekadar sainsnya, tapi harapannya.

Neuroplastisitas membisikkan sesuatu yang sangat penting:
Anda tidak “terjebak” menjadi diri Anda yang sekarang.

Anda bisa berubah.

Bukan secara ajaib, bukan secara instan, tapi secara bertahap—melalui pilihan kecil yang diulang setiap hari.

Masalahnya, kita sering ingin hasil besar tanpa mau melakukan hal kecil. Kita ingin jadi “arsitek otak”, tapi masih sering mogok kerja.

Hari ini semangat.
Besok istirahat.
Lusa lupa.

Namun otak tidak protes. Ia hanya mengikuti apa yang kita lakukan. Jika kita terus mengulang kebiasaan yang sama, ia akan memperkuatnya—baik itu membaca buku… atau menunda pekerjaan sambil berkata, “nanti saja”.

Kesimpulan: Evolusi Dimulai dari Hal Sepele

Pada akhirnya, unggahan @thecurioustales itu benar—meskipun sedikit lebay demi algoritma.

Kita memang sedang membangun otak kita setiap hari.

Setiap pilihan kecil—belajar, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi—adalah satu ketukan palu yang membentuk diri kita di masa depan.

Masalahnya bukan apakah otak kita berubah.
Masalahnya: berubah ke arah mana.

Karena, jujur saja…
Otak tidak tahu apakah Anda sedang “bertumbuh” atau hanya “bertambah ahli dalam rebahan”.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Ketika Otak Suka “Jalan-Jalan” Tapi Tiba-Tiba Pulang Bawa Ide

Ada dua jenis manusia di dunia ini: yang fokus dari awal sampai akhir, dan yang baru buka laptop, lalu tiba-tiba sudah di dapur, terus nyasar ke YouTube, lalu kembali dengan ide bisnis startup. Nah, kelompok kedua ini seringkali dicurigai sebagai “kurang fokus”. Padahal, jangan-jangan mereka sedang loading inovasi.

Begitulah kira-kira pesan yang meledak di linimasa pada 20 Februari 2026 lewat akun @Rainmaker1973. Dengan gaya khas “sains tapi bikin semangat hidup”, ia menyampaikan bahwa ADHD bukan sekadar gangguan, melainkan—dalam kondisi tertentu—sebuah “mesin kreativitas edisi turbo”.

Tentu saja, ini bukan sekadar motivasi ala “bangkitlah wahai pejuang mimpi”. Ada dasar ilmiahnya. Studi dari Drexel University yang dimuat di jurnal Personality and Individual Differences menemukan bahwa individu dengan gejala ADHD tinggi cenderung unggul dalam divergent thinking—yakni kemampuan berpikir ke berbagai arah yang tak terduga. Mereka juga lebih sering mengalami momen “Aha!” yang datang tiba-tiba, seperti ide yang muncul saat sedang mandi, nyetir, atau... pura-pura kerja.

Otak yang Tidak Betah, Tapi Kaya Cerita

Bayangkan otak ADHD seperti anak kecil di taman bermain. Ia tidak mau diam di satu wahana. Baru lima menit di ayunan, sudah pindah ke perosotan, lalu ke jungkat-jungkit, lalu tiba-tiba ngobrol dengan anak lain. Hasilnya? Ia tahu banyak hal, meski tidak selalu mendalam.

Dalam bahasa ilmiah, ini terkait dengan kadar dopamin yang lebih rendah. Otak jadi seperti pelanggan setia diskon: selalu mencari hal baru yang lebih menarik. Maka jangan heran jika pemilik ADHD cenderung:

  • cepat bosan,

  • suka mencoba hal baru,

  • berani ambil risiko,

  • dan kadang punya ide yang... tidak masuk akal, tapi jenius.

Masalahnya, dunia seringkali dibangun untuk orang yang bisa duduk manis, fokus, dan menyelesaikan tugas satu per satu. Sementara otak ADHD berkata, “Satu tugas? Itu terlalu mainstream.”

Antara Genius dan “Aduh, Deadline!”

Di sinilah letak dramanya. Narasi baru yang menyebut ADHD sebagai “superpower” memang terasa menyegarkan. Setelah sekian lama dicap sebagai “gangguan”, tiba-tiba ada sudut pandang yang berkata, “Hei, mungkin kamu bukan rusak. Mungkin kamu hanya beda setting.”

Ini seperti menemukan bahwa Anda bukan “pemalas”, melainkan “energi kreatif yang belum diarahkan”. Rasanya langsung ingin bikin startup, menulis buku, dan membuka kanal YouTube—semuanya sekaligus, tentu saja, tanpa selesai satu pun.

Namun, di balik optimisme ini, ada kenyataan yang tak bisa di-skip seperti iklan YouTube. ADHD bukan hanya soal ide cemerlang. Ia juga membawa tantangan nyata:

  • sulit mengatur waktu,

  • susah mempertahankan rutinitas,

  • sering menunda hal yang membosankan,

  • dan kadang hidup terasa seperti browser dengan 47 tab terbuka—tidak tahu mana yang bunyi.

Di titik ini, narasi “superpower” bisa berubah jadi tekanan baru. Orang dengan ADHD bisa merasa, “Katanya ini kelebihan, kok hidup saya malah berantakan?” Akhirnya bukan empowerment yang datang, tapi rasa bersalah.

Superpower Butuh Manual

Mungkin masalahnya bukan pada ADHD-nya, melainkan pada cara kita memahami “superpower”. Kita membayangkan kekuatan seperti di film: sekali punya, langsung hebat. Padahal, kenyataannya lebih mirip alat canggih tanpa buku petunjuk.

Punya kreativitas tinggi tanpa sistem itu seperti punya mobil sport tapi tanpa rem. Bisa cepat, tapi juga bisa menabrak.

Karena itu, “superpower” ADHD baru bekerja jika didampingi:

  • lingkungan yang fleksibel,

  • strategi manajemen diri,

  • rutinitas yang disederhanakan,

  • dan, jika perlu, bantuan profesional.

Dengan kata lain, ide brilian perlu teman bernama disiplin. Kalau tidak, ia hanya akan jadi “ide bagus yang tertunda”.

Dunia yang Terlalu Sempit untuk Otak yang Beragam

Barangkali pelajaran terbesar dari semua ini bukan sekadar tentang ADHD, tetapi tentang cara kita memandang perbedaan. Dunia modern sering menuntut satu model kecerdasan: fokus, rapi, linear, efisien. Siapa yang tidak sesuai, dianggap bermasalah.

Padahal, inovasi sering lahir dari orang-orang yang “tidak sepenuhnya cocok” dengan sistem.

Mungkin, daripada memaksa semua orang menjadi sama, kita perlu memperluas definisi “normal”. Karena bisa jadi, ide-ide besar masa depan justru datang dari pikiran yang sering melayang—lalu pulang membawa sesuatu yang tak terpikirkan oleh orang lain.

Melayang yang Terarah

Jadi, lain kali ketika pikiran Anda tiba-tiba melompat dari pekerjaan ke ide bisnis, lalu ke rencana liburan, lalu ke filosofi hidup—jangan buru-buru panik. Siapa tahu, Anda sedang berada di jalur kreativitas.

Hanya saja, jangan lupa kembali.

Karena ide hebat itu penting, tapi menyelesaikannya—itu yang benar-benar revolusioner.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Dari Jarum Suntik ke “Pabrik Mini”: Ketika Tubuh Dapat Upgrade Software

Pada suatu pagi yang tampaknya biasa—di mana kopi masih pahit dan notifikasi belum sempat dimatikan—linimasa tiba-tiba diserbu kabar yang membuat jantung para penderita diabetes berdetak sedikit lebih optimistis. Sebuah cuitan dari akun sains populer, @scitechgirl, muncul dengan gaya khas internet: dramatis, kapital semua, dan sedikit mengancam ketenangan jiwa.

“DIABETES CURE… OR THE BEGINNING OF A MEDICAL REVOLUTION?”

Kalimat itu, seperti biasa, punya dua efek: membuat harapan melonjak setinggi langit, dan membuat para ilmuwan menghela napas panjang sambil berkata, “Ya ampun, ini lagi.”

Hidup Sebagai “Langganan Jarum Suntik”

Selama ini, hidup dengan diabetes Tipe 1 itu ibarat berlangganan layanan yang tidak bisa di-unsubscribe. Setiap hari, suntikan insulin menjadi rutinitas wajib—lebih konsisten daripada alarm subuh, lebih setia daripada mantan yang katanya “akan selalu ada.”

Masalahnya sederhana tapi kejam: tubuh berhenti memproduksi insulin karena sel beta pankreas diserang oleh sistem imun sendiri. Jadi, alih-alih tubuh bekerja otomatis seperti pabrik canggih, kita harus mengambil alih tugas itu secara manual—dengan jarum suntik.

Bayangkan tubuh Anda seperti smartphone mahal, tapi baterainya dicabut. Anda tetap bisa memakainya… asalkan terus colok charger setiap beberapa jam.

Masuklah Era “Pabrik Insulin Versi Portable”

Nah, di sinilah sains datang seperti teknisi yang bilang, “Masalahnya bukan di charger, tapi di baterainya. Kita ganti saja.”

Dua pendekatan revolusioner muncul:

  • Pendekatan pertama: membuat sel baru dari sel punca, lalu menanamkannya ke dalam tubuh.

  • Pendekatan kedua: membuat sel baru dari sel pasien sendiri, sehingga tubuh tidak “protes” seperti satpam yang terlalu rajin.

Hasilnya? Tubuh mulai memproduksi insulin lagi.

Ya, Anda tidak salah baca.

Tubuh. Produksi. Insulin. Lagi.

Ini seperti tiba-tiba menemukan bahwa mesin cuci yang rusak ternyata bisa diperbaiki—tanpa harus mencuci baju pakai tangan sambil merenungi nasib.

Tubuh Jadi Startup: Mendirikan Cabang Baru

Yang lucu (dan sedikit mengejutkan), “pabrik insulin” baru ini tidak dibangun kembali di pankreas. Tidak. Pankreas yang lama mungkin sudah terlalu banyak drama.

Sebagai gantinya, sel-sel baru ini ditanam di tempat lain, seperti hati atau dinding perut.

Artinya, tubuh kita kini seperti perusahaan startup yang fleksibel:
“Kalau kantor pusat rusak, ya buka cabang saja.”

Dan cabang itu bekerja. Diam-diam. Tanpa notifikasi. Tanpa update sistem. Tanpa minta Wi-Fi.

Sains vs Judul Clickbait

Namun, sebagaimana semua hal di internet, selalu ada jarak antara judul dan kenyataan.

Judulnya: “CURE!”
Realitanya: “Masih uji klinis, harap bersabar.”

Judulnya: “Revolusi!”
Realitanya: “Masih fase awal, jangan langsung berhenti kontrol ke dokter.”

Ini seperti melihat iklan “turun 10 kg dalam seminggu” padahal sebenarnya butuh diet, olahraga, dan menahan diri dari gorengan.

Masalah lain juga belum selesai. Misalnya:

  • Tubuh bisa menolak sel baru (seperti warga yang menolak pendatang baru).

  • Obat penekan imun punya efek samping serius.

  • Produksi sel masih mahal (dompet bisa ikut diabetes).

Jadi, meskipun terdengar seperti keajaiban, ini bukan sihir. Ini sains—dan sains selalu berjalan dengan langkah kecil, bukan lompat galaksi.

Antara Harapan dan Kesabaran

Namun, di balik semua candaan, ada satu hal yang tidak bisa diremehkan: ini adalah kemajuan nyata.

Untuk pertama kalinya, manusia tidak hanya “mengelola” penyakit, tapi mencoba memperbaikinya dari akar. Bukan sekadar mengganti insulin, tetapi menghidupkan kembali fungsi tubuh.

Ini bukan akhir dari perjalanan. Ini baru trailer-nya.

Filmnya masih panjang. Dan seperti semua film bagus, kita harus sabar menunggu—tanpa spoiler, tanpa ekspektasi berlebihan, tapi dengan harapan yang tetap menyala.

Epilog: Revolusi yang Dimulai dari Sel

Mungkin revolusi medis tidak datang dengan ledakan besar. Ia tidak selalu viral, tidak selalu trending, dan tidak selalu masuk headline.

Kadang, ia datang diam-diam.

Dari sebuah laboratorium.
Dari sebuah sel kecil.
Dari seorang pasien yang untuk pertama kalinya tidak perlu lagi mengambil jarum suntik di pagi hari.

Dan mungkin, suatu hari nanti, generasi mendatang akan bertanya dengan polos:

“Dulu orang harus suntik insulin setiap hari?”

Dan kita akan menjawab, sambil tersenyum:

“Iya. Dan dulu kita juga pakai kabel untuk ngecas HP.”

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Menyendiri untuk Merdeka: Ketika “Offline” Lebih Berarti daripada “Online”

Di zaman ketika notifikasi lebih rajin menyapa daripada tetangga, manusia modern menghadapi dilema eksistensial: “Aku posting, maka aku ada.” Namun, setelah mendapat 3 likes, 1 komentar dari akun bot, dan 2 views dari diri sendiri (yang diam-diam ngecek pakai akun lain), hati tetap terasa… kosong.

Di titik inilah ajaran Gus Mus tentang uzlah muncul seperti sinyal Wi-Fi di tengah hutan: tidak terlihat, tapi menyelamatkan.

Uzlah: Mode Pesawat untuk Jiwa

Menurut Gus Mus, uzlah bukan berarti kita tiba-tiba pindah ke gunung, memelihara kambing, lalu menulis caption “healing dulu ya gaes”. Bukan.

Uzlah itu semacam mode pesawat untuk hati.
Semua koneksi dunia diputus sementara, agar bisa tersambung kembali ke “server utama”: Tuhan.

Kalau diibaratkan HP, hati kita ini sering panas bukan karena kerja keras, tapi karena kebanyakan aplikasi terbuka:

  • notifikasi orang lain,
  • komentar netizen,
  • overthinking,
  • dan tentu saja… mantan.

Maka uzlah adalah tombol “clear all apps” bagi jiwa.

Kerajaan Diri: Raja yang Sering Kudet

Al-Ghazali pernah bilang manusia itu seperti kerajaan:

  • Hati = Raja
  • Pikiran = Perdana Menteri
  • Anggota tubuh = Rakyat

Masalahnya, di zaman sekarang, rajanya sering tidak tahu apa-apa.

Yang jadi “raja darurat” malah:

  • timeline media sosial,
  • trending topic,
  • dan komentar orang yang fotonya saja pakai anime.

Akibatnya, kerajaan diri kita kacau.
Rakyat (tangan, mulut) bergerak tanpa komando:

  • jari ngetik komentar nyinyir,
  • mulut bicara tanpa filter,
  • hati? sibuk baper.

Padahal, kata Gus Mus, kalau rajanya sehat (hati jernih), kerajaan aman.
Kalau rajanya lelah? Negara bisa dipimpin oleh story WhatsApp.

Kesepian: Antara Galau dan Tumbuh

Selama ini, kesepian dianggap musuh.
Kalau sepi sedikit, langsung buka HP.
Kalau HP mati, langsung panik seperti kehilangan separuh iman.

Padahal, kata Gus Mus, kesepian itu bukan kutukan.
Itu ruang VIP untuk ngobrol dengan diri sendiri… dan Tuhan.

Masalahnya, kita sering salah kaprah:

  • sendiri = kesepian,
  • sepi = sedih,
  • padahal… bisa jadi itu kesempatan upgrade jiwa.

Bayangkan kalau setiap kali sepi, kita tidak lari ke scroll tanpa akhir, tapi ke tafakur.
Mungkin hidup kita tidak viral… tapi lebih bermakna.

Ardhil Khumul: Jadi Hebat Tanpa Harus Terlihat

Gus Mus juga mengenalkan konsep ardhil khumul: tanah ketersembunyian.
Bahasa sederhananya: berkarya tanpa harus pamer.

Ini konsep yang agak sulit di zaman sekarang.
Karena sekarang:

  • makan harus difoto,
  • sedekah harus di-post,
  • bahkan ngopi saja harus ada caption filosofis.

Padahal, dalam ardhil khumul, yang penting bukan dilihat manusia, tapi dilihat Tuhan.

Kalau kita tetap baik meskipun tidak ada yang tahu,
itu tandanya kita sudah mulai naik level…
meskipun belum naik followers.

Tapa Ngrame: Menyepi di Tengah Keramaian

Puncaknya adalah konsep Jawa: tapa ngrame.
Artinya, tetap “menyendiri” bersama Tuhan, meskipun di tengah keramaian.

Ini level yang cukup sulit.
Karena biasanya kalau di keramaian, yang kita lakukan:

  • ikut-ikutan,
  • banding-bandingkan,
  • lalu… minder pelan-pelan.

Padahal tapa ngrame itu seperti:

  • hati tetap tenang,
  • tidak ikut arus,
  • tapi tetap aktif di dunia.

Istilah modernnya:
“Ikut grup, tapi tidak terbawa drama.”

Detoks Digital: Puasa dari Scroll

Di era sekarang, uzlah bisa dimulai dari hal sederhana:
tidak membuka HP setiap 3 menit sekali.

Ini memang berat.
Bahkan sebagian orang lebih rela kehilangan dompet daripada kehilangan sinyal.

Namun, sesekali kita perlu:

  • diam,
  • berpikir,
  • dan bertanya:

“Ini hidup saya yang saya jalani… atau algoritma yang mengendalikan?”

Kalau jawaban kedua, berarti sudah saatnya uzlah.

Menyendiri agar Tidak Kehilangan Diri

Akhirnya, uzlah bukan tentang menjauh dari dunia,
tapi tentang tidak kehilangan diri di dalamnya.

Karena di zaman yang penuh suara,
yang paling langka bukanlah informasi—
melainkan keheningan.

Dan mungkin, justru di dalam sunyi itulah,
kita menemukan sesuatu yang selama ini kita cari-cari:

bukan followers,
bukan validasi,
tapi…
ketenangan yang tidak perlu di-posting.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Ketika Otak Kita WiFi: Sebuah Esai tentang Harapan, Hoaks, dan Headset Kosmik

Di zaman di mana sinyal WiFi kadang lebih kuat daripada iman (terutama saat kuota sekarat), muncullah sebuah kabar yang membuat kita semua mendadak merasa seperti router berjalan. Sebuah unggahan dari akun misterius @RedPilledNurse pada 23 Februari 2026 mengabarkan kabar gembira: otak manusia ternyata bisa terhubung hingga 10.000 kilometer, membentuk “jaringan saraf global.”

Bayangkan. Tanpa paket data, tanpa tower BTS, tanpa pulsa darurat dari mantan—kita semua ternyata sudah punya “internet batin” sejak lahir.

Jika ini benar, maka selama ini kita bukan sekadar manusia, tapi juga hotspot spiritual. Dan barangkali, orang yang suka melamun itu bukan malas—dia sedang buffering kosmik.

Ketika Harapan Lebih Kencang dari Sinyal

Narasi ini sebenarnya sangat menggoda. Siapa sih yang tidak ingin percaya bahwa pikirannya bisa menjangkau orang lain di belahan dunia berbeda?

Misalnya:

  • Kita lagi sedih → tiba-tiba teman kita di Jepang ikut galau.
  • Kita lagi lapar → orang di Paris mendadak pesan nasi goreng.
  • Kita lagi mikirin utang → debt collector di kota sebelah langsung bersin.

Ah, dunia ini terasa begitu terhubung. Bukan oleh kabel fiber optik, tapi oleh getaran hati.

Ditambah lagi, nama besar seperti Princeton University disebut-sebut. Seketika, narasi ini naik kelas dari “katanya” menjadi “kayaknya ilmiah.” Karena, mari jujur saja, kalau sudah ada embel-embel universitas luar negeri, kita cenderung mengangguk dulu, mikir belakangan.

Sains, Tapi Versi Trailer Film

Kisah ini semakin dramatis ketika menyebut Princeton Engineering Anomalies Research Laboratory (PEAR). Laboratorium ini memang pernah ada dan melakukan eksperimen tentang pikiran dan mesin.

Namun, di tangan narasi viral, PEAR berubah dari:

“penelitian kontroversial dengan hasil kecil dan tidak konsisten”

menjadi:

“bukti bahwa pikiran manusia bisa mengubah realitas.”

Ini seperti mengubah trailer film menjadi isi filmnya. Padahal, trailer selalu lebih keren daripada kenyataan. Sama seperti janji diet Senin pagi.

Efeknya kecil, sulit direplikasi, dan diperdebatkan—tapi di media sosial, itu cukup untuk jadi “terobosan revolusioner.” Karena di internet, yang penting bukan akurat, tapi menarik.

Telepati atau Tersugesti?

Mari kita jujur sejenak. Pernah tidak kita merasa:

“Kok aku kepikiran dia, ya? Jangan-jangan dia lagi mikirin aku juga…”

Padahal, kenyataannya:

dia lagi mikirin diskon makanan.

Fenomena seperti ini lebih sering dijelaskan oleh psikologi, bukan gelombang elektromagnetik super canggih. Kita adalah makhluk yang pandai mencari pola, bahkan ketika polanya tidak ada.

Kalau setiap kebetulan dianggap koneksi kosmik, maka:

  • lupa password = sabotase alam semesta
  • kehabisan bensin = karma
  • ditolak gebetan = gangguan frekuensi cinta

Padahal… ya memang lagi sial saja.

Red-Pill dan Sensasi “Saya Tahu Sesuatu”

Narasi seperti ini juga punya daya tarik lain: membuat kita merasa “terbangun.”

Seolah-olah:

“Selama ini kita dibohongi. Tapi sekarang kita tahu kebenaran.”

Sensasi ini sangat nikmat. Lebih nikmat daripada kopi pagi, bahkan kadang lebih nikmat daripada validasi dari mantan.

Masalahnya, tidak semua yang terasa seperti “pencerahan” itu benar-benar pencerahan. Kadang itu hanya:

kesalahpahaman yang dikemas dengan percaya diri.

Dan di era media sosial, percaya diri sering kali lebih viral daripada kebenaran.

Solusi Dunia: Meditasi atau Action?

Bagian paling menarik dari narasi ini adalah pesannya:

“Mari kita ubah dunia dengan niat positif.”

Indah. Menenangkan. Damai.

Tapi juga sedikit… praktis.

Karena kalau benar niat saja cukup, maka:

  • rapat bisa diganti dengan doa bersama
  • pembangunan jalan cukup dengan afirmasi
  • macet Jakarta selesai dengan meditasi kolektif

Sayangnya, dunia nyata masih butuh kerja nyata. Niat baik itu penting, tapi ia bukan pengganti tindakan.

Kalau lapar, kita tetap harus makan. Tidak cukup hanya “memancarkan energi kenyang.”

Otak Bukan Router, Tapi Tetap Luar Biasa

Sains modern memang menunjukkan bahwa otak menghasilkan aktivitas listrik dan medan elektromagnetik. Tapi kekuatannya sangat kecil, dan tidak dirancang untuk mengirim pesan lintas benua.

Dengan kata lain:

Otak kita luar biasa, tapi belum sampai level “WiFi global.”

Dan mungkin itu kabar baik. Karena kalau pikiran kita bisa terbaca semua orang, bayangkan kekacauan yang terjadi.

Isi kepala kita kadang:

  • 30% rencana hidup
  • 20% kenangan lama
  • 50% dialog imajiner yang tidak pernah terjadi

Kalau itu semua tersiarkan… dunia bisa kacau sebelum kiamat.

Antara Inspirasi dan Ilusi

Narasi seperti ini sebenarnya punya sisi positif. Ia mengingatkan kita tentang:

  • pentingnya empati
  • kekuatan niat
  • harapan akan dunia yang lebih baik

Semua itu benar. Tapi bukan karena gelombang otak jarak jauh, melainkan karena interaksi sosial yang nyata.

Empati bukan karena frekuensi, tapi karena pengalaman.
Koneksi bukan karena energi, tapi karena hubungan.

Dan perubahan dunia… bukan karena pikiran saja, tapi karena tindakan bersama.

Jangan Sampai Pikiran Kita Disambungkan ke Hoaks

Di era digital ini, kita memang terhubung. Tapi bukan lewat gelombang misterius, melainkan lewat algoritma yang kadang lebih mistis dari metafisika.

Maka sebelum percaya pada “jaringan saraf global,” ada baiknya kita memastikan satu hal:

Apakah ini sains, atau hanya cerita yang terlalu indah untuk tidak dipercaya?

Karena kebenaran itu biasanya sederhana, tidak heboh, dan sering kali membosankan.

Sedangkan hoaks?
Ia selalu datang dengan efek dramatis, musik latar imajiner, dan janji bahwa kita istimewa.

Padahal, menjadi manusia biasa yang berpikir kritis—itu sudah cukup luar biasa.

Dan kabar baiknya:

kita tidak butuh sinyal 10.000 kilometer untuk menjadi bijak.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Senin, 23 Februari 2026

Antara Lahir dan Batin: Ketika Hati Ikut Update, Bukan Cuma Status

Di zaman ketika manusia bisa memesan kopi tanpa bangun dari kursi, menonton ceramah sambil rebahan, dan merasa tercerahkan hanya karena menekan tombol “like”, tiba-tiba muncul satu pertanyaan yang mengganggu kenyamanan: kenapa hati tetap kosong? Padahal, Wi-Fi lancar, notifikasi ramai, dan kuota aman sentosa.

Barangkali, masalahnya bukan pada jaringan internet, melainkan pada jaringan batin yang sudah lama “mode pesawat”.

Di sinilah ajaran Syekh Abdul Qadir al-Jailani hadir seperti teknisi spiritual yang berkata, “Coba restart hati Anda, sudah terlalu lama tidak dipakai.”

Alam Rohani: Bukan Dunia Mistis, Tapi Dunia yang Kita Abaikan

Banyak orang membayangkan “alam rohani” itu seperti film horor: penuh bayangan, suara misterius, dan mungkin bonus penampakan gratis. Padahal, menurut para sufi, alam rohani itu bukan di luar sana—ia justru ada di dalam diri kita sendiri.

Masalahnya, kita lebih sering merawat layar daripada jiwa.

Kita tahu cara membersihkan cache HP, tapi lupa membersihkan iri hati. Kita rajin update aplikasi, tapi jarang update kesabaran. Bahkan, sebagian dari kita mungkin lebih takut kehilangan charger daripada kehilangan ketenangan batin.

Padahal, dalam perspektif tasawuf, manusia itu punya dua perangkat utama:

  • Zahir (lahir): yang dipakai untuk selfie, kerja, dan scroll tanpa tujuan.
  • Batin (dalam): yang seharusnya dipakai untuk mengenal makna hidup—tapi sering “error 404: not found”.

Untuk mengaktifkan batin ini, tidak cukup hanya membaca caption bijak atau menonton video motivasi sambil ngemil. Diperlukan latihan serius—mujahadah dan riyadhah. Singkatnya: bukan cuma niat, tapi juga usaha.

Dan yang paling penting: butuh guru. Karena kalau belajar spiritual sendirian, risikonya bukan sekadar salah paham—tapi bisa jadi merasa sudah “sampai”, padahal baru masuk gerbang.

Pejuang Rohani: Bukan yang Galak, Tapi yang Sabar

Istilah “pejuang” biasanya identik dengan otot, teriakan, atau minimal postingan yang penuh semangat. Tapi dalam dunia tasawuf, pejuang sejati justru sering terlihat biasa saja—bahkan cenderung kalem.

Karena musuh mereka bukan orang lain, melainkan diri sendiri.

Kalau kita jujur, musuh terbesar kita itu bukan tetangga yang suka nyetel musik keras, tapi ego yang suka merasa benar sendiri. Bukan juga orang yang menyebalkan, tapi amarah yang mudah meledak tanpa aba-aba.

Dalam bahasa sufi, ini disebut jihad akbar: perang besar melawan hawa nafsu.

Dan menariknya, senjata yang dipakai bukan pedang, melainkan sifat-sifat yang “kurang populer” di era sekarang:

  • Sabar saat disakiti (padahal ingin balas lebih pedas)
  • Rendah hati saat berhasil (padahal ingin pamer)
  • Memaafkan saat bisa membalas (padahal jempol sudah siap mengetik)

Intinya, pejuang rohani itu tidak sibuk menaklukkan dunia, tapi sibuk menaklukkan dirinya sendiri.

Kalau dalam game, ini seperti mode “hard”—musuhnya selalu respawn, dan lokasinya persis di dalam hati.

Tawadhu’: Seni Tidak Merasa Paling Hebat

Salah satu ciri utama pejuang rohani adalah tawadhu’—rendah hati. Ini bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan, tapi sadar bahwa semua kebaikan itu bukan murni hasil usaha kita.

Masalahnya, di era digital, kerendahan hati sering kalah oleh kebutuhan untuk terlihat keren.

Sedikit berbuat baik, langsung ingin dibagikan. Sedikit belajar, langsung ingin mengajar. Baru paham satu istilah Arab, sudah siap membuka kelas online.

Padahal, dalam logika spiritual, semakin seseorang dekat dengan Tuhan, semakin ia merasa kecil. Bukan semakin merasa “level dewa”.

Orang yang benar-benar dalam biasanya justru lebih banyak diam—bukan karena tidak tahu, tapi karena tahu bahwa dirinya belum seberapa.

Sufi di Era Digital: Antara Pencerahan dan “Sufi Instan”

Kehadiran kanal seperti ini sebenarnya seperti oase di tengah gurun konten hiburan. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang produktivitas, tapi juga tentang makna.

Namun, ada satu tantangan besar: kita hidup di zaman serba instan.

Akibatnya, muncul fenomena baru: “Sufi instan”.

  • Ingin damai tanpa sabar
  • Ingin dekat dengan Tuhan tanpa disiplin
  • Ingin makrifat, tapi masih sensitif di kolom komentar

Padahal, jalan spiritual itu bukan jalan pintas. Ia lebih mirip perjalanan panjang tanpa Google Maps—harus sabar, harus belajar, dan kadang harus tersesat dulu supaya tahu arah.

Karena itu, penting untuk tetap rendah hati dalam belajar. Video, tulisan, atau ceramah hanyalah pintu—bukan tujuan akhir.

Upgrade Hati, Bukan Sekadar Perangkat

Pada akhirnya, pesan tasawuf itu sederhana tapi menantang: hidup bukan hanya soal apa yang kita miliki, tapi siapa kita di hadapan Tuhan.

Di dunia yang sibuk memperbarui teknologi, mungkin kita perlu bertanya:

kapan terakhir kali kita memperbarui hati?

Karena bisa jadi, masalah kita bukan kurang informasi—tapi kurang transformasi.

Dan mungkin, di tengah segala kecanggihan ini, yang paling kita butuhkan bukan koneksi 5G, melainkan koneksi batin yang stabil.

Tidak perlu sinyal penuh—yang penting terhubung.

 abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

 

Minggu, 22 Februari 2026

Penjaga Terakhir di Pasar Buku (yang Mungkin Tidak Punya Password Wi-Fi)

Di zaman ketika manusia lebih hafal password Wi-Fi tetangga daripada isi buku sendiri, muncul sebuah kisah yang membuat kita berhenti sejenak—atau setidaknya berhenti scrolling selama tiga detik. Pada 22 Februari 2026, akun @ExplorerMoment membagikan potret seorang pria bernama Muhammad Aziz, 72 tahun, yang telah membaca lebih dari lima ribu buku. Lima ribu! Angka yang bagi sebagian dari kita terasa seperti jumlah tab yang terbuka di browser—bedanya, tab kita tidak pernah selesai dibaca.

Muhammad Aziz bukan profesor, bukan pula influencer literasi dengan feed estetik. Ia hanya penjaga toko buku tua di pinggir jalan, dengan dekorasi yang mungkin lebih jujur daripada katalog minimalis IKEA. Di tokonya, tumpukan buku menjulang seperti ambisi resolusi tahun baru: tinggi, banyak, dan sedikit mengintimidasi. Ada poster Charlie Chaplin di dinding—mungkin sebagai pengingat bahwa hidup ini memang lebih lucu kalau kita tidak terlalu banyak bicara, apalagi debat di kolom komentar.

Yang paling mengejutkan bukan jumlah buku yang ia baca, tapi cara ia menjaga tokonya. Tidak ada CCTV. Tidak ada alarm. Tidak ada tulisan “Anda diawasi oleh 8 kamera dan 3 malaikat pencatat amal.” Tokonya dibiarkan terbuka begitu saja. Ketika ditanya apakah ia tidak takut bukunya dicuri, ia menjawab dengan santai, seolah-olah sedang membahas cuaca:

“Seorang pembaca tidak mencuri, dan seorang pencuri tidak membaca.”

Kalimat ini terdengar seperti kutipan bijak yang biasa kita simpan di status WhatsApp, tapi jarang kita praktikkan. Di dunia modern, kita cenderung berpikir sebaliknya: “Semua orang berpotensi mencuri, jadi lebih baik kita pasang CCTV, alarm, dan mungkin jebakan laser seperti di film.”

Muhammad Aziz, sebaliknya, percaya bahwa membaca adalah antivirus moral. Ia tampaknya yakin bahwa orang yang sudah akrab dengan buku akan berpikir dua kali sebelum mencuri—bukan karena takut tertangkap, tapi karena malu sama karakter utama novel yang baru saja ia baca. Bayangkan Anda baru saja membaca kisah kejujuran, lalu keluar toko sambil menyelipkan buku di balik jaket. Bahkan tokoh fiksi pun akan menggeleng kecewa.

Di sudut toko, seekor kucing oranye tidur nyenyak di antara tumpukan buku. Ini mungkin satu-satunya sistem keamanan yang benar-benar berfungsi: kucing yang terlalu santai untuk peduli. Jika ada pencuri masuk, kucing itu mungkin hanya membuka satu mata, lalu kembali tidur sambil berpikir, “Kalau dia mencuri buku, mungkin dia sedang mencoba memperbaiki diri.”

Bandingkan dengan kehidupan kita sekarang. Kita hidup di era di mana satu paket datang saja harus difoto dari tiga sudut, ditandatangani, dan dilacak sampai ke tingkat molekul. Kita percaya pada rekaman video, bukan pada niat baik. Bahkan kadang kita lebih percaya pada algoritma daripada pada tetangga sendiri.

Muhammad Aziz hadir seperti bug dalam sistem modernitas—sebuah error yang justru menyenangkan. Ia hidup seolah-olah dunia masih bisa dipercaya. Ia membaca enam hingga delapan jam sehari, jumlah waktu yang bagi kita biasanya dihabiskan untuk “sebentar saja” yang berubah menjadi tiga jam tanpa sadar.

Namun tentu saja, idealisme ini tidak selalu cocok di semua tempat. Beberapa orang mungkin berkata, “Kalau toko saya seperti itu, bukan hanya buku yang hilang, raknya sekalian.” Dan mungkin mereka tidak sepenuhnya salah. Dunia tidak selalu seindah peribahasa.

Tapi justru di situlah kekuatan kisah ini. Muhammad Aziz tidak sedang membuat teori sosial atau kebijakan publik. Ia hanya menjalani keyakinannya sendiri—bahwa pengetahuan membentuk karakter, dan bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang layak dipertahankan, meski dunia terus memberi alasan untuk meragukannya.

Pada akhirnya, kisah ini bukan sekadar tentang seorang pria dan ribuan buku. Ini tentang sebuah pertanyaan sederhana yang mulai terasa asing: apakah kita masih percaya pada kebaikan manusia?

Atau jangan-jangan kita sudah terlalu sibuk mengamankan barang, sampai lupa mengamankan hati?

Muhammad Aziz mungkin tidak punya CCTV, tapi ia punya sesuatu yang lebih langka: keyakinan bahwa membaca tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengurangi niat jahat. Dan di dunia yang penuh password, enkripsi, dan verifikasi dua langkah, mungkin itulah sistem keamanan paling canggih yang pernah ada.

Meskipun, tentu saja… tetap lebih aman kalau Anda tidak meninggalkan dompet di sana. Kita bijak, tapi tidak naif.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026