Sabtu, 04 Juli 2026

Menjadi Tua Itu Enak, Asal Tidak Masih Sibuk Membalas Status WhatsApp

Tentang Jean Benamour, Kedewasaan, dan Seni Berhenti Mengejar Hal yang Tidak Mengejar Kita

Ada dua kelompok manusia yang paling sulit menerima kenyataan.

Kelompok pertama adalah mereka yang masih percaya harga cabai akan segera turun.

Kelompok kedua adalah mereka yang berusia enam puluh tahun tetapi masih tersinggung karena komentar akun anonim bergambar telur di media sosial.

Jean Benamour tampaknya memilih keluar dari kedua kelompok itu.

Dalam puisinya tentang usia tua, ia tidak mengeluh soal rambut yang memutih atau lutut yang mulai berbunyi seperti pintu gudang peninggalan Belanda. Ia justru mengatakan sesuatu yang mengejutkan: tanda dirinya menua bukanlah keriput, melainkan ketika ia mulai berhenti.

Bukan berhenti hidup.

Bukan berhenti berkarya.

Melainkan berhenti melakukan berbagai pekerjaan batin yang selama puluhan tahun ternyata hanya menguras bensin jiwa.

Dan di situlah letak humornya.

Selama muda kita diajari bahwa hidup adalah perlombaan maraton. Setelah tua kita baru sadar ternyata sebagian besar peserta bahkan salah stadion.

Manusia modern sebenarnya memiliki pekerjaan sampingan yang tidak pernah tercantum dalam kontrak kerja.

Profesi itu bernama "manajer persepsi orang lain."

Setiap hari kita lembur memikirkan apa kata tetangga.

Apa komentar teman.

Apa pendapat mantan.

Apa isi hati atasan.

Apa isi pikiran warganet.

Lucunya, orang-orang yang kita pikirkan itu sedang sibuk memikirkan dirinya sendiri.

Kita seperti satpam yang menjaga rumah kosong.

Benamour akhirnya pensiun dari profesi itu.

Ia berhenti membujuk orang yang ingin pergi.

Berhenti ingin selalu benar.

Berhenti merasa harus memenangkan semua perdebatan.

Sungguh keputusan yang sangat revolusioner.

Sebab dalam budaya media sosial, banyak orang lebih rela kehilangan teman daripada kehilangan kesempatan mengetik, "Saya sudah bilang dari dulu."

Padahal tidak semua pertengkaran layak dimenangkan.

Ada debat yang nilainya sama seperti memperdebatkan rasa kerupuk dengan ayam di warung pecel lele pukul sebelas malam.

Menang pun tetap masuk angin.

Bagian yang paling menyentuh dari tulisan Benamour justru ketika ia berbicara tentang tubuhnya.

Kita hidup di zaman ketika tubuh diperlakukan seperti aplikasi.

Harus selalu diperbarui.

Harus selalu tampak muda.

Harus selalu bebas keriput.

Kalau bisa, umur enam puluh tetapi wajah tetap dua puluh lima.

Padahal kalau wajah tetap dua puluh lima sementara pengalaman hidup sudah enam puluh tahun, orang akan bingung apakah kita manusia atau bug dalam sistem.

Benamour memilih jalan berbeda.

Ia menyebut tubuh sebagai rumah.

Rumah yang telah menyimpan tangisan, tawa, patah hati, kelahiran, kehilangan, doa-doa panjang, dan mimpi-mimpi yang sebagian berhasil, sebagian berubah menjadi bahan cerita.

Betapa indah cara pandang itu.

Keriput bukan lagi kerusakan.

Ia adalah arsip.

Uban bukan kegagalan pigmen.

Ia adalah salju yang turun di pegunungan pengalaman.

Bekas luka bukan cacat.

Ia adalah tanda bahwa kehidupan pernah datang membawa palu, tetapi kita masih berdiri.

Tubuh ternyata bukan showroom.

Ia adalah perpustakaan.

Setiap lipatan kulit adalah halaman yang telah dibaca waktu.

Semakin tua, Benamour semakin sedikit membawa koper.

Bukan karena maskapai menaikkan tarif bagasi.

Melainkan karena ia mulai sadar bahwa sebagian besar beban hidup ternyata tidak pernah diminta Tuhan untuk dipikul.

Kita yang memungutnya sendiri.

Pendapat orang kita pikul.

Ekspektasi keluarga kita pikul.

Persaingan sosial kita pikul.

Keinginan membalas komentar Facebook tahun 2017 pun masih kita pikul.

Tidak heran hidup terasa berat.

Kita berjalan sambil menggendong lemari.

Dalam dunia tasawuf dikenal istilah takhalli—mengosongkan diri dari sifat-sifat yang memberatkan jiwa sebelum menghiasinya dengan kebajikan.

Benamour tidak memakai istilah Arab.

Tetapi praktiknya persis.

Ia membersihkan ruang batin sebagaimana orang membersihkan gudang.

Barang yang rusak dibuang.

Barang yang tidak dipakai disedekahkan.

Barang yang hanya membuat sesak dilepaskan.

Sebab rumah yang penuh barang belum tentu kaya.

Bisa jadi hanya sulit mengepel.

Begitu pula hati.

Psikolog Erik Erikson pernah mengatakan bahwa pada akhir kehidupan manusia akan berhadapan dengan dua pilihan.

Menjadi damai.

Atau menjadi penyesal profesional.

Pilihan pertama melahirkan kebijaksanaan.

Pilihan kedua melahirkan kebiasaan membuka kalimat dengan,

"Seandainya dulu..."

Kalimat itu tampaknya menjadi makanan favorit banyak orang.

Seandainya dulu mengambil jurusan lain.

Seandainya dulu menikah dengan orang lain.

Seandainya dulu membeli tanah, bukan membeli ikan cupang.

Hidup berubah menjadi museum penyesalan.

Benamour menolak membuka museum itu.

Ia memilih membuka taman.

Tempat semua kenangan boleh datang tanpa harus diadili.

Sebab masa lalu bukan pengadilan.

Ia perpustakaan.

Kita datang bukan untuk menghukum buku-buku lama, melainkan untuk memahami cerita yang telah membentuk kita.

Yang menarik, pesan Benamour ternyata sangat akrab dengan kearifan Nusantara.

Orang Jawa mengenal nrima ing pandum.

Bukan menyerah.

Bukan pasrah tanpa usaha.

Melainkan kemampuan menerima kenyataan tanpa kehilangan martabat.

Mirip air sungai.

Ia tidak marah karena batu menghalangi.

Ia mengalir mencari jalan lain.

Sementara kita kadang lebih mirip notifikasi aplikasi.

Sedikit saja terganggu langsung berbunyi.

Ironisnya, banyak orang ingin menjadi tua tetapi tidak ingin menjadi dewasa.

Umur bertambah.

Ego tetap balita.

Rambut memutih.

Perasaan masih mudah tersinggung.

Cucu sudah tiga.

Masih sibuk membuktikan diri kepada teman SMP.

Padahal kedewasaan bukan soal jumlah lilin di kue ulang tahun.

Kedewasaan adalah jumlah pertengkaran yang berhasil kita hindari.

Jumlah dendam yang berhasil kita kuburkan.

Jumlah beban yang akhirnya kita letakkan.

Mungkin memang begitulah usia tua bekerja.

Ia bukan pencuri masa muda.

Ia petugas kebersihan.

Sedikit demi sedikit ia mengambil barang-barang yang ternyata tidak kita perlukan.

Ambisi yang berlebihan.

Keinginan selalu dipuji.

Hasrat memenangkan semua debat.

Ketakutan terhadap penilaian orang.

Kalau kita mengizinkannya bekerja, hidup menjadi lapang.

Kalau kita terus menghalanginya, usia bertambah tetapi hati tetap penuh sesak seperti gudang diskon akhir tahun.

Pada akhirnya, kalimat Jean Benamour yang paling indah bukanlah tentang umur.

Melainkan tentang kebebasan.

"Aku milik diriku sendiri... dan untuk pertama kalinya, itu sudah cukup."

Mungkin itulah definisi dewasa yang paling sederhana.

Bukan ketika kita berhasil mengumpulkan banyak orang yang menyukai kita.

Melainkan ketika kita akhirnya berhenti meminta izin kepada dunia untuk menjadi diri sendiri.

Dan kalau suatu hari kita bisa tidur nyenyak tanpa penasaran siapa yang belum membalas pesan WhatsApp, siapa yang tidak memberi tanda suka pada unggahan kita, atau siapa yang menang dalam perdebatan politik semalam...

Selamat.

Barangkali uban memang belum banyak.

Tetapi jiwa kita sudah mulai berumur dengan cara yang paling anggun.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Diego, Confucius, dan Pensiun yang Salah Alamat

Tentang Orang Tua, Anak, dan Seni Tidak Menjadi Furniture

Ada satu kesalahan yang tampaknya diwariskan turun-temurun oleh umat manusia, selain mewariskan resep opor dan pertanyaan "kapan nikah?". Kesalahan itu adalah keyakinan bahwa setelah membesarkan anak dengan penuh pengorbanan, kelak kita akan menikmati masa pensiun berupa pelayanan bintang lima dari mereka.

Bayangannya indah. Pagi disuguhi teh hangat. Sore diajak jalan-jalan. Malam dipijat sambil mendengarkan cucu mengaji. Hidup terasa seperti paket "All Inclusive Resort" yang dibayar dengan popok, uang sekolah, dan begadang selama dua puluh tahun.

Sayangnya, kenyataan sering lebih mirip kos-kosan mahasiswa: sempit, sibuk, dan semua orang berharap orang lain yang mencuci piring.

Di sinilah Diego masuk panggung.

Diego adalah ayah teladan. Ia bekerja keras, memeras keringat, menukar masa mudanya dengan masa depan anak-anaknya. Jika hidup adalah pertandingan sepak bola, Diego rela menjadi rumput yang diinjak agar anak-anaknya bisa menjadi pencetak gol.

Masalahnya, rumput kadang lupa bahwa setelah pertandingan selesai, stadion akan ditutup.

Ketika anak-anaknya dewasa, Diego menjual rumahnya dan pindah ke rumah anak laki-lakinya. Ia datang membawa koper penuh kenangan dan hati penuh harapan.

Yang menyambut bukan orkestra cinta keluarga.

Melainkan Wi-Fi yang lemot, kamar tamu yang berubah menjadi gudang, dan ekspresi wajah yang mengatakan, "Ayah... sebenarnya kapan pulangnya?"

Begitulah hidup. Kadang kita merasa menjadi pahlawan dalam cerita sendiri, padahal di cerita orang lain kita hanya karakter pendukung yang kebetulan lupa mengetuk pintu.

Untunglah Diego bertemu Confucius.

Saya membayangkan Confucius bukan sedang duduk di singgasana kebijaksanaan, melainkan menikmati teh sambil memandangi kolam ikan. Sebab orang yang benar-benar bijak biasanya tidak sibuk membuat podcast tentang kebijaksanaan.

Diego mengeluh panjang lebar.

Confucius tidak memberi seminar tiga jam. Ia hanya menunjukkan tiga benda sederhana.

Segelas air.

Dua batang pohon.

Segenggam pasir.

Sungguh luar biasa. Orang bijak memang hemat properti. Kalau zaman sekarang mungkin motivator membutuhkan layar LED, drone, dan musik sinematik agar pesannya terdengar mendalam. Confucius cukup membawa gelas.

"Gelas yang penuh," katanya, "tidak bisa diisi lagi."

Betapa sering kita menjadi teko yang keras kepala. Kita terus menuangkan diri ke tempat yang sudah tak punya ruang. Lalu ketika air meluap, kita marah kepada gelas, padahal fisika sudah memberi peringatan sejak zaman dahulu.

Lalu dua pohon.

Pohon yang terlalu rapat bukan saling menguatkan. Cabangnya berebut matahari. Akarnya saling mengganggu. Keduanya tumbuh bengkok karena terlalu sibuk hidup dalam bayang-bayang satu sama lain.

Ironis sekali.

Manusia sering mengira cinta berarti menempel terus seperti perangko. Padahal bahkan pohon yang diam saja tahu bahwa tumbuh memerlukan jarak.

Kemudian pasir.

Semakin kuat digenggam, semakin cepat ia lolos di sela-sela jari.

Hubungan antarmanusia memang aneh. Kucing saja tahu kapan harus datang dan kapan harus pergi. Tetapi manusia sering mengira kasih sayang bisa diamankan seperti deposito.

Tidak bisa.

Cinta bukan borgol.

Ia lebih mirip burung. Semakin kita cekik agar tidak terbang, semakin cepat ia mati.

Lalu Confucius mengajukan pertanyaan yang membuat Diego terdiam.

"Ketika kau menanam pohon, apakah kau menanamnya supaya nanti pohon itu memberi bayangan hanya kepadamu?"

Pertanyaan itu seperti sandal yang dilempar ibu dari dapur: sederhana, tetapi selalu tepat sasaran.

Bukankah kita memang menanam pohon agar dunia menjadi lebih teduh?

Mengapa anak justru kita tanam seperti investasi obligasi yang harus membayar dividen emosional setiap bulan?

Di sinilah letak kelucuan manusia.

Kita sering berkata bahwa cinta orang tua itu tanpa syarat.

Lalu diam-diam kita menambahkan catatan kaki kecil.

"Tanpa syarat... selama anak tetap sering menelepon, rajin berkunjung, ingat ulang tahun, mengajak liburan, dan tidak lupa membawa oleh-oleh."

Ternyata syaratnya bukan hilang.

Hanya ditulis dengan huruf ukuran delapan.

Setelah itu Diego berubah.

Ia tidak menghabiskan hari menghitung berapa kali anaknya mengirim pesan.

Ia mulai membantu anak-anak sekolah membaca.

Menanam pohon.

Bercerita kepada tetangga.

Belajar menikmati matahari tanpa harus menunggu notifikasi dari grup keluarga.

Aneh memang.

Begitu Diego berhenti mengejar perhatian, justru perhatian datang sendiri.

Mungkin karena manusia selalu merindukan orang yang hidupnya penuh.

Bukan orang yang seluruh dunianya hanya berputar mengelilingi dirinya.

Namun, di tengah tepuk tangan untuk kisah Diego, kita juga perlu sedikit bersikap adil.

Tidak semua lansia punya kemewahan untuk "memulai hidup baru."

Ada yang sakit.

Ada yang miskin.

Ada yang benar-benar bergantung pada anak karena negara belum sepenuhnya hadir.

Maka cerita ini jangan dibaca sebagai surat izin bagi anak untuk berkata, "Nah, kan... Confucius saja menyuruh Ayah mandiri."

Kalau begitu, bukan Confucius yang sedang berbicara.

Itu dompet Anda.

Pesan sesungguhnya jauh lebih halus.

Orang tua jangan menggantungkan seluruh makna hidup kepada anak.

Tetapi anak juga jangan menggantungkan seluruh alasan untuk lupa berbakti kepada kalimat-kalimat motivasi dari internet.

Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa kebutuhan.

Melainkan hubungan yang tidak menjadikan kebutuhan sebagai alat menyandera kasih sayang.

Barangkali inilah ironi terbesar kehidupan.

Sejak kecil kita mengajari anak berjalan agar suatu hari mereka bisa meninggalkan rumah.

Namun ketika hari itu benar-benar datang, justru kita yang protes karena pelajaran kita berhasil.

Seorang petani tidak menangis ketika padinya menguning.

Seorang guru tidak marah ketika muridnya lulus.

Mengapa orang tua kecewa ketika anak akhirnya benar-benar menjadi dewasa?

Bukankah itu tujuan dari seluruh pengorbanan?

Mungkin menjadi tua bukan sekadar soal rambut memutih atau lutut berbunyi setiap bangun dari kursi.

Menjadi tua adalah belajar mengubah peran.

Dari pusat orbit menjadi bintang penunjuk arah.

Dari nahkoda menjadi mercusuar.

Dari akar yang menggenggam menjadi tanah yang rela melepaskan.

Karena cinta, seperti pohon yang sehat, tidak sibuk menghitung siapa yang berteduh di bawahnya.

Ia cukup terus bertumbuh.

Dan barangkali, justru di situlah kebahagiaan yang paling dewasa tinggal.

Bukan ketika anak terus berada di samping kita.

Melainkan ketika mereka bisa berjalan jauh dengan tenang, sementara kita masih mampu tersenyum, menyiram bunga di halaman, lalu berkata kepada angin,

"Pergilah. Aku tidak kehilanganmu. Aku hanya berhasil membesarkanmu."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Jumat, 03 Juli 2026

Ketika Kang Dedi Menagih Uang Negara: Sebuah Komedi Fiskal tentang Anak, Induk, dan Dompet yang Nyasar

Ada satu hukum tak tertulis dalam kehidupan: selama masih ada urusan uang, filsafat akan selalu bertemu akuntansi.

Kita boleh berdebat berjam-jam tentang demokrasi, keadilan sosial, bahkan makna kehidupan menurut Aristoteles, Al-Ghazali, atau warung kopi sebelah kantor kecamatan. Namun begitu muncul kalimat, "Dana Bagi Hasilnya belum turun," seluruh pembicaraan berubah menjadi sangat praktis. Tiba-tiba semua orang hafal angka, pasal undang-undang, bahkan tanggal surat yang sudah dikirim tujuh kali.

Pidato Dedi Mulyadi di MPR terasa seperti adegan itu.

Bedanya, yang sedang menagih bukan ketua RT kepada warga yang belum membayar iuran, melainkan gubernur provinsi terbesar di Indonesia kepada pemerintah pusat.

Dan yang ditagih bukan uang kas ronda.

Melainkan triliunan rupiah.


Dalam pidatonya, Kang Dedi tidak memakai bahasa yang berputar-putar seperti petunjuk penggunaan mesin fotokopi. Ia memilih bahasa yang lebih mudah dipahami siapa saja.

"Pusat itu induk."

Kalimat sederhana ini sebenarnya menyimpan kritik yang cukup pedas.

Karena menurut logika keluarga Indonesia, induk biasanya rela makan nasi dengan garam agar anaknya bisa membeli buku sekolah. Yang terjadi, menurut Kang Dedi, justru terasa sebaliknya. Anak sudah bekerja keras, hasil panennya disetor ke rumah induk, tetapi ketika uang jajan diminta kembali, jawabannya masih, "Nanti ya."

Kalau hanya sekali, mungkin lupa.

Kalau sampai tujuh surat, itu sudah seperti orang mengirim chat, di-read, tetapi balasannya cuma stiker.


Yang membuat pidato ini menarik bukan semata-mata soal uang.

Kalau hanya soal uang, para bendahara di seluruh Indonesia sudah lebih dulu menjadi filsuf.

Yang menarik adalah cara Kang Dedi membangun narasi moral.

Ia tidak datang sambil berkata, "Kami miskin."

Sebaliknya, ia berkata, "Kami tetap bekerja."

Pegawai boleh bekerja dari rumah.

Perjalanan dinas dipangkas.

Anggaran makan-minum disunat.

Sosialisasi dikurangi.

Tetapi jalan tetap dibangun.

Sekolah tetap berdiri.

Jembatan tetap tersambung.

Irigasi tetap mengalir.

Logikanya sederhana. Ia ingin mengatakan bahwa efisiensi bukan berarti pembangunan berhenti. Sama seperti orang yang sedang diet. Mengurangi nasi tidak berarti berhenti hidup. Yang berhenti hanya kebiasaan mengambil nasi tiga centong.

Ini sindiran yang cukup elegan terhadap budaya birokrasi yang kadang menganggap rapat adalah bahan bakar utama pembangunan.

Padahal rakyat sering curiga, pembangunan justru mulai berjalan ketika rapatnya selesai.


Ada bagian lain yang menggelitik.

Kang Dedi mengeluhkan listrik dari Cirata mengalir ke tempat lain, sementara daerah asal menikmati listrik dari sumber yang berbeda.

Mendengar ini, saya teringat petani durian.

Ia menanam pohon.

Menyiram.

Merawat.

Mengusir tupai.

Menunggu bertahun-tahun.

Begitu panen datang, duriannya masuk truk menuju kota.

Yang tersisa di kampung hanya kulitnya.

Kalau sedang beruntung, ia masih bisa mencium aromanya ketika truk melintas.

Begitulah terkadang hubungan antara daerah penghasil dan pusat distribusi.

Yang menghasilkan sering hanya memperoleh kehormatan.

Yang menikmati memperoleh keuntungan.


Persoalan pajak bahkan lebih lucu lagi.

Pabrik berdiri di Jawa Barat.

Truknya lewat jalan Jawa Barat.

Asapnya dihirup warga Jawa Barat.

Banjirnya terjadi di Jawa Barat.

Tetapi kantor pusatnya berada di Jakarta.

Akibatnya, pajak ikut tinggal di Jakarta.

Fenomena ini mengingatkan kita pada anak kos.

Sampahnya ditinggalkan di kamar.

Tetapi alamat KTP tetap di rumah orang tua.

Kalau ditanya tinggal di mana, jawabannya fleksibel.

Kalau ditanya bayar pajak di mana, jawabannya sangat tegas.


Namun pidato ini sebenarnya bukan sekadar pidato tentang uang.

Ini pidato tentang pengakuan.

Daerah ingin diakui bukan hanya sebagai lokasi industri, tetapi juga sebagai mitra pembangunan.

Karena pembangunan bukan sekadar menghitung Produk Domestik Regional Bruto.

Ia juga menghitung berapa banyak jalan yang rusak karena truk industri, berapa sungai yang harus dinormalisasi, berapa sekolah yang harus dibangun akibat ledakan penduduk, dan berapa banyak warga yang berharap anaknya bisa hidup lebih baik daripada mereka.

Masalahnya, penderitaan semacam ini sering tidak masuk ke dalam tabel Excel.

Padahal justru di situlah biaya pembangunan yang sesungguhnya.


Pemerintah pusat bukan tokoh antagonis dalam sinetron yang tugasnya hanya membuat daerah menderita.

Mengelola negara sebesar Indonesia bukan perkara membagi kue ulang tahun.

Ada pertahanan.

Ada subsidi.

Ada pembangunan wilayah tertinggal.

Ada ribuan pulau yang sama-sama merasa penting.

Kalau semua daerah berkata, "Ini uang kami," negara bisa berubah menjadi grup WhatsApp keluarga yang isinya hanya perdebatan soal warisan.

Di sinilah letak rumitnya negara.

Semua merasa menjadi tulang punggung.

Padahal tubuh manusia hanya punya satu tulang belakang.

Yang lain juga penting.

Jantung tidak bisa berkata kepada paru-paru, "Tanpa saya kamu mati."

Paru-paru bisa menjawab dengan santai, "Coba saja bekerja lima menit tanpa saya."


Yang paling menarik dari pidato Kang Dedi justru bukan angka-angkanya.

Melainkan keberaniannya menghidupkan kembali diskusi lama tentang hubungan pusat dan daerah.

Diskusi ini sudah setua era reformasi.

Ia seperti lagu lawas yang terus diputar karena liriknya belum selesai.

Seberapa besar daerah boleh mengatur dirinya sendiri?

Seberapa besar pusat boleh mengatur semuanya?

Jawaban ekstrem di kedua sisi sama-sama berbahaya.

Terlalu sentralistis membuat daerah merasa hanya menjadi ATM nasional.

Terlalu otonom membuat negara bisa berubah menjadi kumpulan kerajaan kecil yang masing-masing merasa paling berjasa.

Kebijaksanaan mungkin berada di tengah, tempat di mana pusat tetap menjadi nahkoda, tetapi tidak lupa mendengar suara awak kapal yang setiap hari berhadapan dengan ombak.


Pada akhirnya, pidato Kang Dedi mengingatkan kita pada satu kenyataan sederhana.

Dalam keluarga yang sehat, anak tidak terus-menerus meminta.

Tetapi orang tua juga tidak terus-menerus berkata, "Nanti."

Karena kasih sayang bukan hanya diukur dari pidato penuh cinta.

Ia juga terlihat ketika dompet akhirnya benar-benar dibuka.

Mungkin di situlah pelajaran terbesar dari pidato ini.

Negara bukan sekadar mesin pemungut pajak.

Ia adalah keluarga besar yang harus memastikan bahwa mereka yang bekerja keras di dapur pembangunan tidak hanya kebagian asapnya, tetapi juga menikmati hangatnya masakan.

Sebab kalau yang sampai ke daerah hanya asap, jangan heran kalau suatu hari yang mengepul bukan lagi cerobong pabrik, melainkan keluhan yang semakin sulit diredam.

Dan seperti kita tahu, keluhan politik memiliki sifat yang unik.

Ia jauh lebih cepat viral daripada laporan keuangan.

Excel bisa menunggu.

Media sosial tidak.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Jangan Mengukur Surga dengan Meteran Karamah

Tentang Istiqomah, Adab, dan Kebiasaan Manusia Menjadi Juri Kehidupan Orang Lain

Di zaman media sosial, manusia memiliki bakat baru yang tampaknya tidak diajarkan di sekolah mana pun: menjadi juri profesional bagi kehidupan orang lain.

Belum sempat seseorang mengucapkan salam, sudah dinilai kualitas imannya. Baru sekali ceramah, langsung diputuskan apakah ia wali atau sekadar "motivator islami". Baru beberapa bulan rajin mengaji, sudah ada yang bertanya, "Mana karamahnya?"

Seolah-olah surga membuka cabang kantor rekrutmen di kolom komentar.

Kita memang hidup di zaman ketika segala sesuatu harus tampak spektakuler. Kopi harus viral. Liburan harus estetik. Sedekah harus direkam. Bahkan kesalehan pun kadang dianggap belum lengkap kalau belum disertai kisah melihat cahaya hijau, mimpi bertemu nabi, atau minimal bisa mengetahui isi dompet orang lain tanpa membuka resletingnya.

Padahal, Ibn Atha'illah As-Sakandari dalam Al-Hikam justru mengajak kita berjalan ke arah yang berlawanan.

Beliau seolah berkata,

"Kalau bertemu orang yang puluhan tahun istiqomah beribadah tetapi kelihatannya biasa saja, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ia belum sampai ke mana-mana. Bisa jadi justru engkau yang belum sampai pada adab."

Kalimat itu sederhana, tetapi daya ledaknya mampu meruntuhkan gedung pencakar langit bernama kesombongan spiritual.

Kita Terlalu Suka Memberi Nilai

Lucunya, manusia memiliki kebiasaan unik.

Kalau melihat pohon mangga yang belum berbuah, kita masih sabar menunggu.

Kalau melihat padi baru ditanam, kita mengerti bahwa panen membutuhkan waktu.

Tetapi ketika melihat seorang muslim yang istiqomah shalat, rajin wirid, tekun belajar, namun tidak tampak memiliki "keistimewaan spiritual", kita langsung gelisah.

"Sudah lama kok belum jadi wali?"

Seolah-olah Allah memiliki target produksi karamah setiap triwulan.

Padahal Allah tidak pernah mengumumkan bahwa indikator keberhasilan ibadah adalah kemampuan berjalan di atas air.

Kalau memang itu syaratnya, bebek sudah lebih dahulu menjadi wali daripada kita.

Wirid Itu Seperti Menyikat Gigi

Ada orang yang menganggap wirid membosankan.

Setiap hari membaca bacaan yang sama.

Jumlahnya sama.

Waktunya sama.

Rasanya begitu-begitu saja.

Tetapi bukankah menyikat gigi juga begitu?

Tidak ada orang yang setelah menyikat gigi selama lima belas tahun lalu berkata,

"Aduh, bosan. Hari ini saya ingin mencoba tidak menyikat gigi supaya lebih kreatif."

Kita memahami bahwa kesehatan lahir membutuhkan rutinitas.

Aneh sekali kalau kesehatan hati justru ingin dicapai dengan cara yang serba spontan.

Dalam tasawuf, wirid bukan pertunjukan kembang api.

Ia lebih mirip tetesan air yang perlahan melubangi batu.

Tidak heboh.

Tidak viral.

Tetapi mengubah sesuatu yang tampaknya mustahil.

Istiqomah memang jarang membuat orang bertepuk tangan.

Namun justru karena itu ia sering lebih dicintai Allah.

Penyakit Baru: CV Spiritual

Kadang kita memperlakukan perjalanan menuju Allah seperti melamar pekerjaan.

Ada yang sibuk menyusun CV spiritual.

  • Sudah khatam sekian kitab.
  • Sudah ikut sekian majelis.
  • Sudah khalwat sekian hari.
  • Pernah mimpi bertemu sekian tokoh.
  • Pernah menangis sekian liter.

Seolah-olah nanti di akhirat ada wawancara.

"Silakan ceritakan pengalaman spiritual Anda selama lima tahun terakhir."

Padahal Allah tidak membutuhkan portofolio.

Allah mengetahui isi hati bahkan ketika kita sendiri belum selesai memahami diri kita.

Yang sering menjadi masalah justru bukan kurangnya amal.

Melainkan terlalu banyaknya kebanggaan terhadap amal.

Semua Orang Sedang Memainkan Peran Berbeda

Ibn Atha'illah mengingatkan bahwa Allah membagikan maqam sebagaimana seorang konduktor membagikan alat musik dalam sebuah orkestra.

Tidak semua memegang biola.

Tidak semua memainkan piano.

Bayangkan jika pemain segitiga berkata,

"Kenapa saya cuma ting... ting...? Saya juga ingin solo seperti pemain biola."

Konser itu akan berakhir menjadi kekacauan.

Begitu pula kehidupan.

Ada orang yang diberi maqam ilmu.

Ada yang diberi maqam melayani orang tua.

Ada yang diberi maqam mendidik anak.

Ada yang diberi maqam berdagang dengan jujur.

Ada tukang kebun yang setiap hari menyiram bunga sambil menjaga shalatnya.

Ada guru desa yang tidak dikenal siapa pun, tetapi setiap hari mengajarkan Al-Qur'an.

Ada petani yang tak pernah berceramah, tetapi tidak pernah meninggalkan Subuh berjamaah.

Boleh jadi, langit lebih mengenal nama mereka daripada nama orang-orang yang setiap hari muncul di layar ponsel kita.

Karena algoritma media sosial dan algoritma langit bekerja dengan logika yang sangat berbeda.

Yang satu mengejar perhatian.

Yang satu lagi melihat keikhlasan.

Adab: Ilmu yang Tidak Bisa Dipamerkan

Ironisnya, semakin tinggi seseorang mendaki gunung spiritual, semakin besar godaan untuk melihat ke bawah.

Dari atas sana, orang lain tampak kecil.

Padahal sebenarnya bukan mereka yang mengecil.

Kitalah yang sedang berada di tempat yang rawan membuat kepala berputar.

Di sinilah adab menjadi rem.

Adab mengingatkan bahwa semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin kecil pula perasaannya terhadap dirinya sendiri.

Padi yang berisi akan menunduk.

Yang kosong justru berdiri tegak sambil berisik diterpa angin.

Mungkin itulah sebabnya orang yang benar-benar dekat kepada Allah sering tidak sibuk menjelaskan bahwa dirinya dekat kepada Allah.

Ia terlalu sibuk memperbaiki dirinya.

Bahaya Kolektor Karamah

Ada orang yang mengoleksi cerita karamah seperti anak kecil mengoleksi kartu permainan.

Hari ini mendengar kisah wali berjalan di atas air.

Besok mendengar orang mengetahui isi hati.

Lusa mendengar seseorang bisa hadir di dua tempat sekaligus.

Semakin aneh kisahnya, semakin cepat menyebar.

Padahal, kalau dipikir-pikir, kemampuan paling langka bukan berjalan di atas air.

Kemampuan paling langka justru tetap sabar menghadapi tetangga yang meminjam tangga selama tiga bulan tetapi lupa mengembalikannya.

Kemampuan paling langka adalah tetap jujur ketika tidak ada CCTV.

Tetap lembut ketika sedang marah.

Tetap shalat Subuh ketika kasur terasa lebih religius daripada sajadah.

Itulah karamah yang setiap hari bisa kita perjuangkan.

Dan justru karena tampak biasa, sering kali nilainya luar biasa.

Istiqomah Adalah Mukjizat yang Tidak Berisik

Mungkin kita terlalu sering mencari petir, sehingga lupa menghargai matahari.

Petir memang menggelegar.

Tetapi mataharilah yang setiap hari menghidupkan dunia.

Begitulah istiqomah.

Ia tidak membuat orang berdecak kagum.

Ia hanya hadir setiap hari.

Diam-diam.

Setia.

Tanpa publisitas.

Tanpa tepuk tangan.

Tanpa sertifikat.

Namun dari situlah pohon-pohon iman bertumbuh.

Dan mungkin, Allah memang lebih menyukai cahaya matahari daripada kilatan petir.

Jangan Sibuk Menjadi Tim Penilai Langit

Pada akhirnya, hikmah Ibn Atha'illah bukan sekadar melarang kita meremehkan orang lain.

Ia sedang membebaskan kita dari pekerjaan yang memang bukan tugas manusia.

Kita terlalu sering menjadi panitia penilaian yang tidak pernah diminta.

Menimbang kadar iman.

Menghitung maqam.

Mengukur kedekatan seseorang kepada Allah dengan penggaris buatan ego.

Padahal Allah tidak pernah membuka lowongan sebagai "juri kehidupan orang lain."

Tugas kita jauh lebih sederhana, tetapi justru lebih sulit.

Menjaga wirid.

Memperbaiki adab.

Merawat istiqomah.

Bersyukur atas jalan yang Allah pilihkan.

Sebab boleh jadi, yang setiap hari tampak biasa di mata manusia, justru sedang menjadi pemandangan yang paling indah di langit.

Lagipula, jika suatu hari kita benar-benar bertemu Allah, sangat mungkin pertanyaan pertama bukanlah,

"Mengapa engkau tidak memiliki karamah?"

Melainkan,

"Mengapa engkau begitu sibuk mengukur orang lain, sementara pekerjaan mengukur dirimu sendiri belum juga selesai?"

Dan di situlah kita menyadari sebuah ironi yang menggelikan sekaligus menenangkan: ternyata perjalanan menuju Allah bukan perlombaan mencari keistimewaan, melainkan perjalanan panjang belajar menjadi manusia yang tidak merasa istimewa.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Ketika Kismis Lebih Asam daripada Penyesalan

Belajar dari "Gooseberries" karya Anton Chekhov tentang Mimpi, Kebahagiaan, dan Ilusi yang Kita Pelihara

Ada lelucon lama yang mengatakan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang rela menderita selama tiga puluh tahun demi menikmati secangkir kopi di beranda rumah impiannya. Ironisnya, ketika kopi itu akhirnya tersaji, rasanya biasa saja. Lalu ia menambahkan dua sendok gula, tersenyum, dan berkata kepada semua orang, "Inilah kebahagiaan."

Begitulah manusia. Kita bukan hanya ahli bermimpi, tetapi juga ahli membela mimpi yang sudah telanjur kita bayar terlalu mahal.

Tidak banyak penulis yang memahami ironi ini sedalam Anton Chekhov. Dalam cerpen legendarisnya, Gooseberries, ia tidak menghadirkan peperangan, pembunuhan, ataupun kisah cinta tragis. Ia hanya bercerita tentang seorang pegawai sederhana yang sepanjang hidupnya bercita-cita memiliki rumah kecil di desa lengkap dengan semak-semak kismis.

Sekilas, itu terdengar seperti impian paling polos di dunia. Tetapi Chekhov mengubah impian sederhana itu menjadi sebuah pisau bedah yang menguliti cara manusia memaknai kebahagiaan.

Mimpi yang Memakan Umurnya Sendiri

Tokoh utama dalam cerita itu hidup sangat hemat. Terlalu hemat.

Ia menolak menikmati hidup. Makanan sekadarnya. Pakaian seadanya. Kenyamanan ditunda. Kebahagiaan dicicil.

Seluruh hidupnya diperas menjadi satu tujuan: membeli rumah dengan kebun kismis.

Kalau zaman sekarang mungkin bentuknya berbeda. Ada yang menunda hidup demi mengejar jabatan. Ada yang mengorbankan kesehatan demi target omzet. Ada pula yang rela mengubah seluruh hidupnya agar suatu hari bisa mengunggah foto dengan latar rumah minimalis lengkap dengan pagar putih dan caption, "Alhamdulillah, finally."

Mimpi memang penting.

Tetapi ada saat ketika mimpi berhenti menjadi kompas dan berubah menjadi penjara.

Buah yang Asam, Tetapi Harus Terasa Manis

Puncak cerita Chekhov begitu sederhana hingga justru terasa menyakitkan.

Setelah puluhan tahun berhemat, tokoh itu akhirnya berhasil memiliki rumah impiannya. Ia menanam kismis. Menunggu buahnya matang.

Ketika buah pertama dipetik, rasanya ternyata keras dan asam.

Namun ia tetap berkata dengan wajah berseri,

"Betapa lezatnya."

Di sinilah Chekhov sedang tersenyum tipis kepada para pembacanya.

Bukan karena buah itu enak.

Tetapi karena manusia sering kali lebih memilih mengubah penilaiannya daripada mengakui bahwa pengorbanannya mungkin terlalu besar.

Bukankah kita juga sering begitu?

Kita membeli barang mahal, lalu meyakinkan diri bahwa harganya sepadan.

Kita bertahan dalam pekerjaan yang menguras jiwa, lalu berkata, "Ini demi masa depan."

Kita mengejar sesuatu selama puluhan tahun, lalu ketika sampai, kita takut mengakui bahwa garis finis ternyata tidak semegah poster yang kita tempel di dinding.

Karena mengakui kesalahan arah kadang terasa lebih pahit daripada buah kismis itu sendiri.

Otak Manusia Memang Ahli Hubungan Masyarakat

Kalau tubuh memiliki sistem kekebalan, pikiran memiliki sistem pembelaan.

Ia akan membela harga diri kita sekuat tenaga.

Psikologi modern menyebutnya self-deception.

Chekhov sudah memahami gejala itu jauh sebelum istilah tersebut lahir.

Begitu banyak keputusan dalam hidup yang kita pertahankan bukan karena benar, melainkan karena terlalu mahal untuk diakui keliru.

Manusia ternyata bukan hanya makhluk rasional.

Ia juga seorang juru bicara yang sangat setia kepada egonya.

Bahaya Kebahagiaan yang Terlalu Nyaman

Dalam cerita tersebut, saudara tokoh utama justru merasa sedih melihat kebahagiaan itu.

Mengapa?

Karena ia melihat seseorang yang telah membangun dunia begitu kecil, lalu menganggap dunia kecil itu sebagai seluruh alam semesta.

Chekhov kemudian melontarkan gagasan yang menggugah:

Orang yang bahagia membutuhkan seseorang yang sesekali mengetuk pintunya dan mengingatkan bahwa di luar pagar rumahnya masih ada orang-orang yang menderita.

Kalimat ini bukan ajakan agar kita merasa bersalah ketika bahagia.

Melainkan peringatan bahwa kebahagiaan dapat berubah menjadi narkotika.

Sedikit demi sedikit membuat kita lupa bahwa dunia lebih luas daripada halaman rumah kita sendiri.

Bahwa hidup bukan sekadar soal berhasil.

Tetapi juga soal tetap mampu melihat.

Hustle Culture: Kismis Modern

Jika Chekhov hidup pada abad ke-21, mungkin ia tidak akan menulis tentang kebun kismis.

Ia akan menulis tentang target KPI.

Tentang startup.

Tentang investasi.

Tentang konten yang harus viral.

Tentang rumah yang dibeli dengan cicilan tiga puluh tahun.

Tentang kalender yang penuh rapat sampai lupa kapan terakhir kali berbicara santai dengan anak sendiri.

Semak kismis hanya berganti bentuk.

Cara kita menyembahnya tetap sama.

Budaya modern mengajarkan bahwa semua pengorbanan akan terbayar.

Chekhov mengingatkan sesuatu yang lebih penting:

Belum tentu.

Kadang yang benar-benar terbayar hanyalah cicilan.

Sedangkan umur sudah habis lebih dulu.

Jangan Sampai Mimpi Mengecilkan Kita

Cerita Gooseberries sebenarnya bukan kritik terhadap mimpi.

Chekhov tidak pernah berkata bahwa memiliki rumah adalah kesalahan.

Ia hanya bertanya dengan sangat pelan,

"Apakah rumah itu membuatmu menjadi manusia yang lebih luas... atau justru lebih sempit?"

Karena ada mimpi yang memperbesar jiwa.

Ada pula mimpi yang mengecilkan pandangan.

Ada cita-cita yang membuat seseorang semakin rendah hati.

Ada pula yang membuat pagar rumahnya semakin tinggi, sementara jendelanya semakin kecil.

Mencicipi Hidup dengan Jujur

Mungkin pelajaran terbesar dari cerita ini bukanlah agar kita berhenti bermimpi.

Melainkan agar sesekali kita berani mencicipi buah hidup kita tanpa kebohongan.

Kalau memang asam, akuilah asam.

Tidak semua pengorbanan menghasilkan kemenangan.

Tidak semua keberhasilan menghasilkan kebahagiaan.

Dan tidak semua mimpi layak dibayar dengan seluruh umur.

Karena tragedi terbesar bukanlah ketika seseorang gagal mencapai cita-citanya.

Tragedi terbesar adalah ketika ia berhasil mencapainya, lalu menyadari bahwa yang selama ini ia kejar ternyata hanya sebuah semak kecil di sudut kebun, sementara seluruh musim kehidupan telah berlalu tanpa sempat benar-benar ia nikmati.

Chekhov seakan berbisik kepada kita dari lebih satu abad yang lalu: jangan sampai kita terlalu sibuk menanam kismis, hingga lupa mencicipi kehidupan itu sendiri.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026