Senin, 27 Juli 2026

Bandara NU: Ketika Runway Lebih Ramai oleh Ego daripada Pesawat

Konon, setiap organisasi besar itu seperti bandara. Ada menara kontrol, ada ruang tunggu, ada petugas keamanan, ada koper yang kadang hilang entah ke mana, dan tentu saja ada pengumuman yang suaranya lebih misterius daripada isi rapat pleno.

Nah, ada yang bilang Bandara NU sedang kotor.

Bukan karena habis musim hujan atau karena petugas kebersihan sedang cuti bersama. Yang dimaksud adalah debu kepentingan. Debu jenis ini unik. Ia tidak membuat orang bersin, tetapi membuat orang sulit melihat. Lucunya, setiap orang merasa dirinya membawa sapu, padahal yang diayunkan justru kipas angin. Debunya bukannya hilang, malah berpindah ke wajah tetangga.

Runway pun konon dipenuhi pesawat politik. Ini menarik. Pesawat-pesawat itu datang membawa slogan, berangkat membawa jabatan, lalu kembali lagi lima tahun kemudian dengan cat baru tetapi pilot yang sama. Bandara jadi sibuk bukan karena banyak penerbangan ilmu, melainkan karena jadwal lepas landas ambisi yang padat merayap.

Yang paling menggelitik adalah istilah "mekanik pembajak". Biasanya mekanik memperbaiki mesin. Kalau mekaniknya pembajak, pesawat yang tadinya hendak terbang ke "kemaslahatan umat" bisa mendarat mendadak di Terminal "Kepentingan Pribadi". Penumpangnya bingung. Tiketnya bertuliskan "pengabdian", tetapi bagasinya tiba di kota "transaksi".

Namun, sebelum kita sibuk menunjuk mekanik mana yang nakal, ada baiknya kita bercermin. Sebab sejarah organisasi mengajarkan satu hal sederhana: kadang yang paling berisik meneriakkan "bandara kotor!" ternyata baru saja selesai menginjak kubangan lumpur sambil memakai sepatu putih.

Lalu muncullah usulan yang terdengar agung: bukan manajemen, melainkan tazkiyah.

Kalimat ini membuat para konsultan organisasi mendadak gelisah. Bayangkan, mereka datang membawa presentasi seratus slide tentang tata kelola, indikator kinerja, dan transformasi digital. Belum sempat menyalakan proyektor, seorang kiai berkata, "Masalahnya bukan Excel, Nak. Masalahnya hati."

PowerPoint langsung kehilangan daya.

Memang ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan rapat koordinasi. Kalender rapat bisa penuh, notulen bisa rapi, konsumsi bisa mewah, tetapi kalau ego ikut hadir sebagai peserta tetap, keputusan sering kali hanya menjadi cara yang elegan untuk memperpanjang masalah.

Masalahnya, kata "penyucian" juga memiliki efek samping. Semua orang mendukung penyucian, asalkan yang dicuci adalah orang lain.

Tidak ada yang keberatan rumah dibersihkan. Yang keberatan biasanya adalah tikus.

Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan siapa tikusnya. Dalam politik organisasi, tikus sering memakai jas, sementara kucing kadang mengenakan topi tikus. Kamera CCTV pun akhirnya menyerah.

Di sinilah humor menjadi penting. Humor mengingatkan bahwa manusia mempunyai bakat luar biasa untuk menganggap dirinya malaikat yang sedang tersesat di tengah kumpulan setan. Padahal kenyataannya sering lebih sederhana: kita semua sedang antre memperbaiki diri, hanya nomor antreannya berbeda.

Ada pula bahaya ketika metafora bekerja terlalu keras. Begitu sering menyebut "langit", kadang kita lupa mengecek apakah pengeras suara di bumi masih berfungsi. Mengaku membawa pesan langit memang terdengar mulia. Hanya saja, langit tidak pernah memberi stempel "bebas salah" kepada siapa pun. Kalau iya, rapat tidak akan pernah berlangsung lebih dari lima menit.

Pendiri-pendiri NU dahulu memberi teladan yang menarik. Mereka gemar berdebat, tetapi lebih gemar lagi bermusyawarah. Mereka berbeda pendapat tanpa harus berbeda adab. Mereka tahu bahwa mencari kebenaran bukan seperti lomba tarik tambang: bukan soal siapa yang berhasil menjatuhkan lawan, melainkan bagaimana semua tetap berdiri ketika tali dilepaskan.

Kalau Bandara NU benar-benar ingin dibersihkan, mungkin yang pertama disapu bukan runways, melainkan ruang tunggu kesombongan. Setelah itu loket prasangka. Kemudian gudang ambisi. Terakhir, menara kontrol ego yang sering merasa paling tinggi sehingga lupa melihat landasan di bawah.

Sebab organisasi besar bukan hancur karena terlalu banyak kritik. Ia biasanya mulai retak ketika setiap orang sibuk menjadi pilot, sementara tidak ada yang mau menjadi petugas yang diam-diam memungut sampah di terminal.

Pada akhirnya, kita semua hanyalah penumpang. Hari ini duduk di kelas eksekutif, besok bisa saja dipindahkan ke kursi paling belakang oleh waktu. Yang abadi bukan kartu akses ruang VIP, melainkan jejak pengabdian yang tertinggal setelah pesawat sejarah lepas landas.

Dan barangkali itulah makna tazkiyah yang paling membumi: membersihkan hati sebelum membersihkan organisasi. Sebab lantai yang mengilap tidak banyak gunanya bila orang-orang yang berjalan di atasnya masih gemar membawa lumpur di telapak sepatunya.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Cermin yang Hobinya Bohong

Tentang Dostoevsky, Kebohongan Diri, dan Profesi Manusia sebagai Juru Bicara Egonya Sendiri

Ada dua jenis pembohong di dunia. Yang pertama berbohong kepada orang lain. Yang kedua lebih canggih: berbohong kepada diri sendiri, lalu memberikan tepuk tangan untuk pidatonya sendiri.

Jenis kedua inilah yang membuat Fyodor Dostoevsky gelisah. Dalam Les Frères Karamazov, ia seolah berkata, "Hati-hati. Begitu Anda berhasil menipu diri sendiri, karier Anda sebagai manusia mulai memasuki masa pensiun."

Ironisnya, manusia justru paling kreatif ketika sedang membela kesalahannya. Kita bisa mengubah dosa menjadi "proses pendewasaan", kemalasan menjadi "healing", keras kepala menjadi "prinsip", dan gengsi menjadi "menjaga harga diri". Kalau diperlukan, kita bahkan sanggup menyewa seribu alasan hanya agar tidak perlu mengakui satu kesalahan.

Rupanya otak manusia memiliki divisi Humas yang sangat rajin.

Begitu hati mengajukan laporan, bagian Humas segera mengadakan konferensi pers.

"Benarkah Anda salah?"

"Bukan salah. Itu hanya miskomunikasi semesta."

"Benarkah Anda malas?"

"Tidak. Saya sedang menghemat energi untuk masa depan."

Kalau diteruskan, mungkin suatu hari kita akan berkata, "Saya tidak berbohong kepada diri sendiri. Saya hanya sedang memberikan versi premium dari kenyataan."


Dostoevsky memahami sesuatu yang sering lolos dari perhatian kita. Kebohongan paling berbahaya bukanlah yang membuat orang lain tertipu, melainkan yang membuat kita sendiri percaya.

Di sinilah tragedinya.

Bohong kepada orang lain masih membutuhkan usaha. Bohong kepada diri sendiri jauh lebih hemat biaya. Tidak perlu saksi, tidak perlu bukti, tidak perlu notaris. Cukup ulangi kalimat yang sama setiap hari.

Lama-lama otak berkata,
"Kalau sudah diucapkan seribu kali, mungkin memang benar."

Padahal belum tentu.

Prinsip ini sebenarnya sudah dipraktikkan oleh banyak orang ketika bercermin.

"Besok saya mulai olahraga."

Kalimat itu begitu sering diucapkan hingga dumbbell di sudut kamar mulai merasa menjadi pajangan museum.

Ada juga yang berkata,

"Saya tidak kecanduan media sosial."

Kalimat itu ditulis pukul dua dini hari sambil menggulir layar selama empat jam.

Ironinya, kebohongan selalu datang dengan pakaian yang sangat sopan. Ia tidak masuk membawa papan bertuliskan "Saya Bohong". Ia datang memakai jas bernama "Rasionalisasi".


Menurut Dostoevsky, setelah orang kehilangan kejujuran terhadap dirinya sendiri, tahap berikutnya adalah kehilangan rasa hormat.

Ini masuk akal.

Bagaimana mungkin seseorang menghormati dirinya jika ia sendiri sudah tidak percaya pada isi pidatonya?

Lama-kelamaan hidup menjadi seperti rapat yang dipenuhi presentasi indah tanpa satu pun laporan yang benar.

Semua tampak sukses.

Semua tampak bahagia.

Semua tampak baik-baik saja.

Padahal hati sedang mengangkat tangan dari pojok ruangan sambil berkata,

"Maaf, saya punya sedikit keberatan..."

Tetapi mikrofon sudah dimatikan.


Setelah rasa hormat menghilang, kata Dostoevsky, cinta ikut pamit.

Ini mungkin terdengar dramatis.

Namun coba pikirkan.

Sulit mencintai orang lain jika kita sibuk mempertahankan citra diri yang palsu.

Hubungan akhirnya berubah seperti layanan pelanggan.

Yang penting penampilan.

Yang penting rating.

Yang penting terlihat harmonis.

Sementara percakapannya semakin pendek.

"Apa kabar?"

"Baik."

Padahal yang menjawab bukan hati, melainkan bagian Humas tadi.


Lalu tibalah bab favorit dunia modern: hiburan.

Begitu kehilangan makna, manusia akan mencari distraksi.

Sedikit bosan, buka gawai.

Sedikit sedih, belanja.

Sedikit kecewa, unggah kutipan motivasi.

Sedikit kesepian, beli kopi ukuran satu liter.

Kita mengobati kekosongan dengan notifikasi.

Masalahnya, notifikasi memang bisa membuat ponsel berbunyi, tetapi tidak otomatis membuat hati bernyanyi.

Di sinilah Dostoevsky tampak seperti psikolog yang lahir seratus tahun terlalu cepat.

Ia tahu bahwa manusia bisa sangat sibuk tanpa pernah benar-benar bertemu dirinya sendiri.


Yang paling lucu sebenarnya bukan kebohongan itu sendiri.

Yang lucu adalah betapa seriusnya kita mempertahankannya.

Kita bisa berdebat berjam-jam hanya untuk membuktikan bahwa kita benar, padahal jauh di dalam hati ada suara kecil yang berbisik,

"Sepertinya kamu memang salah."

Suara kecil itu biasanya kalah oleh suara ego yang memakai pengeras suara.

Ego memang luar biasa.

Kalau hati hanya berbicara pelan, ego sudah membawa panggung konser.


Namun Dostoevsky bukan sedang mengajak manusia menjadi makhluk yang selalu murung dan sibuk menghakimi diri.

Ia hanya mengingatkan bahwa keberanian terbesar bukan mengalahkan orang lain, melainkan mengalahkan ilusi tentang diri sendiri.

Mengaku salah memang tidak membuat kita langsung menjadi suci.

Tetapi setidaknya kita berhenti menjadi juru bicara resmi kebohongan kita sendiri.

Dan itu sudah merupakan kemajuan besar.


Barangkali itulah sebabnya cermin tidak pernah tertawa.

Ia hanya memantulkan.

Yang tertawa justru kita, ketika sibuk memperbaiki rambut sementara karakter masih kusut.

Mungkin suatu hari nanti teknologi akan menciptakan cermin yang bukan hanya memantulkan wajah, tetapi juga alasan-alasan yang kita pakai untuk membela diri.

Kalau hari itu tiba, kemungkinan besar banyak orang akan buru-buru menutup cermin dengan handuk.

Bukan karena wajahnya jelek.

Melainkan karena akhirnya ada benda yang tidak bisa dibohongi.

Dan mungkin, di sudut langit sastra Rusia, Dostoevsky hanya akan tersenyum tipis sambil berkata,

"Selamat. Akhirnya Anda bertemu orang yang paling sulit diajak jujur: diri sendiri."

Begitulah. Ternyata perjalanan menuju kebinatangan tidak selalu dimulai dengan taring dan cakar. Kadang ia berawal dari kalimat yang terdengar sangat sederhana:

"Saya baik-baik saja."

Padahal yang mengucapkannya hanyalah ego yang sedang bekerja lembur.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Minggu, 26 Juli 2026

Jalan Tol Menuju Diri Sendiri (Sayangnya Tidak Ada Rest Area)

Konon, jalan menuju kesuksesan itu banyak. Ada yang lewat pendidikan, ada yang lewat kerja keras, ada yang lewat koneksi, dan ada pula yang lewat konten "Bangun Jam 4 Pagi Biar Jadi Miliarder". Carl Gustav Jung datang dengan wajah tenang lalu berkata, "Maaf, semua itu boleh saja, tetapi jalan yang paling penting tetap satu: jalanmu sendiri."

Masalahnya, manusia memang memiliki bakat luar biasa dalam berjalan ke mana-mana kecuali ke arah dirinya sendiri.

Kita hafal jadwal diskon e-commerce, tahu gosip artis yang baru putus, bahkan bisa menjelaskan strategi klub sepak bola favorit dengan semangat seorang analis profesional. Namun ketika ditanya, "Sebenarnya kamu ingin hidup seperti apa?" mendadak sinyal batin berubah menjadi "Connecting..."

Jung mungkin akan menghela napas panjang.

Ia menulis The Red Book bukan ketika hidupnya sedang santai menikmati kopi di teras rumah. Ia menulisnya saat dirinya sendiri sedang mengalami badai batin. Setelah berpisah jalan dengan Sigmund Freud, ia seperti orang yang keluar dari rombongan pendaki gunung. Di depan berkabut, di belakang sudah tidak ada teman seperjalanan. Dalam keadaan seperti itulah ia menemukan sesuatu yang sering kita hindari: kesendirian ternyata bukan hukuman, melainkan ruang tunggu menuju perkenalan dengan diri sendiri.

Sayangnya, manusia modern alergi terhadap ruang tunggu.

Lima detik menunggu lift saja sudah membuka ponsel. Dua menit mengantre kopi sudah melihat media sosial. Sepuluh menit tanpa notifikasi terasa seperti kehilangan kewarganegaraan digital.

Ironisnya, kita lebih sering bertemu algoritma daripada bertemu isi kepala sendiri.

Jung berkata bahwa hanya ada satu keselamatan: keselamatanmu sendiri. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi efeknya lebih mengejutkan daripada tagihan listrik setelah sebulan menyalakan pendingin ruangan tanpa henti.

Sebab diam-diam kita berharap ada orang lain yang mengerjakan hidup kita.

Kita ingin orang tua menentukan masa depan, atasan menentukan arah karier, motivator menentukan mimpi, influencer menentukan gaya hidup, bahkan aplikasi menentukan kapan kita harus tidur, minum air, berjalan kaki, bernapas, dan mungkin suatu hari nanti menentukan kapan kita boleh galau.

Kalau memungkinkan, kita juga ingin ada fitur "Auto Living Version 2.0".

Tinggal tekan tombol.

Hidup selesai.

Sayangnya, semesta belum mengeluarkan pembaruan perangkat lunak itu.

Jung mengingatkan bahwa tidak ada orang yang bisa menjalani hidup kita selain kita sendiri. Orang lain boleh memberi peta, tetapi tidak bisa menggantikan kaki kita berjalan. Bahkan Google Maps pun kadang berkata, "Anda telah keluar dari rute," tetapi ia tetap membiarkan kita yang memutuskan mau putar balik atau nekat masuk gang sempit.

Begitulah hidup.

Bedanya, di kehidupan nyata tidak ada suara perempuan ramah yang berkata, "Dalam lima meter, beloklah menuju jati diri."

Yang ada justru suara tetangga.

"Kerja di mana sekarang?"

"Kapan nikah?"

"Anaknya belum?"

"Kok belum beli rumah?"

Pertanyaan-pertanyaan itu sering kali lebih menyerupai ujian nasional daripada basa-basi.

Lalu kita mulai membandingkan hidup sendiri dengan katalog kehidupan orang lain.

Media sosial membuat semuanya tampak mudah. Semua orang tampak bahagia, produktif, romantis, rajin berolahraga, sukses berbisnis, fasih memasak, pandai mengasuh anak, sambil sesekali mendaki gunung dan minum kopi estetik.

Aneh sekali.

Kalau semua orang benar-benar sebahagia itu, mengapa kolom komentar justru sering lebih panas daripada permukaan wajan?

Di sinilah nasihat Jung menjadi obat yang pahit tetapi mujarab.

Ia meminta kita berhenti mengukur hidup memakai penggaris milik orang lain.

Seekor ikan tidak akan pernah lulus wawancara kerja sebagai burung.

Pohon mangga tidak pernah minder kepada pohon kelapa hanya karena tidak bisa menghasilkan kelapa muda.

Namun manusia memiliki kemampuan unik: membandingkan apel dengan jeruk, jeruk dengan semangka, lalu menyimpulkan dirinya gagal menjadi durian.

Kemampuan ini sungguh mengagumkan sekaligus melelahkan.

Jung juga berbicara tentang "bayangan" atau shadow, bagian diri yang sering kita sembunyikan.

Lucunya, kita rajin memakai filter kamera agar wajah tampak mulus, tetapi lupa bahwa jiwa juga memerlukan keberanian untuk melihat noda-nodanya sendiri.

Kita lebih mudah menghapus foto daripada menghapus kesombongan.

Lebih mudah membersihkan layar daripada membersihkan iri hati.

Lebih mudah mengganti wallpaper daripada mengganti kebiasaan buruk.

Padahal pekerjaan paling berat memang bukan memindahkan gunung.

Melainkan mengakui bahwa selama ini kita sering menyalahkan gunung karena malas mendaki.

Ada bagian paling menggelitik dari pesan Jung. Ia mengatakan bahwa hidup yang tidak dijalani akan terus menghantui kita.

Bayangkan saja, semua mimpi yang ditunda berkumpul seperti alumni sekolah.

Suatu malam mereka datang mengetuk pintu.

"Permisi, kami adalah cita-cita yang dulu kamu parkir karena terlalu sibuk menyenangkan semua orang."

Tidak menyeramkan seperti film horor, tetapi cukup membuat seseorang mendadak menatap langit-langit kamar pukul dua pagi.

Lalu muncul pertanyaan yang sangat tidak sopan namun sangat jujur:

"Kalau hidupku adalah karangan, apakah aku benar-benar menjadi tokoh utama, atau hanya figuran yang sibuk mengikuti naskah orang lain?"

Pertanyaan semacam itu memang tidak nyaman.

Tetapi justru ketidaknyamanan sering menjadi pintu masuk menuju pertumbuhan.

Persis seperti olahraga.

Belum pernah ada orang menjadi lebih bugar hanya dengan membaca motivasi sambil rebahan.

Begitu pula mengenal diri.

Tidak cukup hanya menyimpan kutipan Jung sebagai status media sosial dengan latar belakang hutan berkabut dan secangkir kopi hitam.

Jung barangkali akan tersenyum tipis melihat kebiasaan kita mengoleksi kutipan bijak layaknya perangko.

Banyak dimiliki.

Sedikit dipraktikkan.

Pada akhirnya, pesan Jung bukanlah ajakan menjadi penyendiri yang memusuhi dunia. Ia hanya mengingatkan bahwa hubungan paling penting dalam hidup adalah hubungan dengan diri sendiri. Sebab seseorang yang mengenal dirinya tidak akan mudah terseret arus tepuk tangan maupun hujatan. Ia tahu kapan mendengar nasihat dan kapan cukup tersenyum sambil berkata dalam hati, "Terima kasih, tetapi jalan saya belok kiri."

Mungkin memang benar bahwa jalan menuju diri sejati terasa sunyi.

Namun bukankah jalan yang paling ramai sering kali justru penuh kemacetan?

Kalau semua orang berdesakan di jalan yang sama, barangkali sesekali kita perlu berani mengambil jalan kecil yang sepi. Siapa tahu di ujungnya bukan hanya ada pemandangan yang indah, melainkan juga seseorang yang selama ini paling sulit kita temui.

Diri kita sendiri.

Dan kabar baiknya, untuk bertemu dengannya kita tidak perlu membeli tiket, mendaftar seminar, atau menunggu algoritma merekomendasikannya.

Cukup satu syarat.

Berani berjalan.

Meskipun, seperti kata Jung, tidak ada yang bisa menggantikan langkah itu selain kaki kita sendiri.

 abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Mimpi Tidak Bisa Dicicil: Pelajaran dari Ana María Matute untuk Manusia yang Terlalu Sibuk Mengisi Keranjang Belanja

Ada dua jenis manusia di dunia modern. Yang pertama bangun pagi lalu bertanya, "Apa mimpiku hari ini?" Yang kedua bangun pagi, membuka ponsel, lalu bertanya, "Siapa yang sudah liburan ke Jepang lagi?" Ironisnya, golongan kedua jauh lebih banyak. Mereka bahkan belum sempat menyikat gigi, tetapi sudah berhasil menyikat habis rasa syukur.

Di sinilah Ana María Matute datang seperti tetangga bijak yang tidak pernah ikut arisan, tetapi sekali bicara membuat seluruh kampung terdiam. Ia mengatakan bahwa orang tanpa mimpi adalah orang yang sangat gagal. Bukan gagal karena saldo ATM lebih tipis daripada tisu warung makan, melainkan karena ia kehilangan mesin paling penting dalam hidup: imajinasi.

Sebab sesungguhnya manusia hidup bukan hanya dengan nasi. Kalau hanya nasi, ayam goreng juga hidup bahagia sampai hari-H sebelum masuk penggorengan. Manusia bertahan karena mempunyai sesuatu yang ingin dicapai, walaupun kadang sesuatu itu berubah-ubah. Waktu kecil ingin jadi astronot. Remaja ingin jadi penyanyi. Dewasa cukup ingin cicilan lunas dan grup WhatsApp keluarga berhenti mengirim hoaks setiap pagi.

Mimpi memang sering dituduh tidak realistis. Padahal, yang paling tidak realistis justru keyakinan bahwa kita bisa bahagia hanya dengan menambah angka di rekening. Kalau benar demikian, para miliarder pasti sudah tidak pernah insomnia. Nyatanya, kasur paling empuk tetap tidak bisa menggantikan hati yang keras seperti kerupuk semalaman.

Matute menggambarkan mimpi sebagai sebuah bukit. Indah sekali. Bukit memang tempat orang melihat dunia lebih luas. Hanya saja, zaman sekarang banyak orang lebih suka mendaki "Bukit Diskon 11.11". Napas ngos-ngosan mengejar promo, tetapi santai saja membiarkan cita-cita berdebu di gudang pikiran.

Lucunya lagi, manusia modern sangat rajin membuat daftar keinginan, tetapi malas membuat daftar impian. Perbedaannya tipis, tetapi dampaknya jauh. Keinginan biasanya berakhir di keranjang belanja. Impian berakhir di sejarah hidup.

Namun Matute rupanya belum selesai menggoda kita. Setelah membicarakan mimpi, ia mengeluarkan daftar penyakit yang menurutnya paling menyebalkan: hati yang sempit, keserakahan, dan tidak mau bermurah hati.

Kalau dipikir-pikir, penyakit ini memang lebih menular daripada flu. Bedanya, flu membuat orang bersin. Kekerdilan hati membuat orang alergi melihat kebahagiaan tetangga.

Ada orang yang melihat temannya sukses lalu berkata, "Alhamdulillah."

Ada pula yang berkata, "Pasti ada orang dalam."

Kalau temannya membeli mobil baru, ia langsung menjadi detektif ekonomi.

"Utangnya berapa?"

Kalau temannya menikah bahagia, ia berubah menjadi analis hubungan.

"Nanti juga berantem."

Kalau temannya mendapat penghargaan, ia mendadak ahli konspirasi.

"Itu pasti setting-an."

Begitulah kekerdilan hati bekerja. Ia tidak pernah bisa menikmati bunga di taman karena terlalu sibuk menghitung kenapa bunga tetangga mekar lebih dulu.

Yang menarik, Matute tidak menuduh kemiskinan materi sebagai musuh terbesar manusia. Ia justru mengingatkan adanya kemiskinan spiritual. Dan yang satu ini lebih licin. Orang miskin harta masih bisa tertawa bersama teman-temannya sambil minum kopi sachet. Tetapi orang miskin hati bisa duduk di restoran bintang lima sambil iri kepada meja sebelah.

Padahal kemurahan hati tidak selalu membutuhkan dompet tebal. Senyum itu gratis. Mengucapkan selamat tidak dikenai pajak. Memberi semangat belum dipungut bea materai. Bahkan memuji orang lain tidak membuat tinggi badan kita berkurang satu sentimeter.

Sayangnya, ada manusia yang memperlakukan pujian seperti emas batangan: disimpan rapat-rapat, takut berkurang kalau dibagikan.

Untungnya, Matute tidak hanya pandai mendiagnosis penyakit. Ia juga membawa resep. Obatnya sederhana: cinta dan persahabatan.

Bukan cinta ala sinetron yang setiap lima menit kehilangan ingatan, lalu ingat lagi menjelang iklan. Bukan pula persahabatan yang hanya aktif ketika butuh pinjaman motor atau password Wi-Fi.

Yang ia maksud adalah cinta sebagai kebiasaan memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh. Persahabatan sebagai kesediaan hadir bahkan ketika tidak ada foto yang bisa diunggah ke media sosial.

Karena pada akhirnya hidup bukan perlombaan mengumpulkan pengikut, melainkan perjalanan mengumpulkan orang-orang yang bersedia tetap tinggal ketika kita sedang tidak menarik untuk ditonton.

Di zaman sekarang, kita memang memiliki ribuan teman digital. Tetapi ketika pindahan rumah, yang datang sering kali hanya dua orang dan satu di antaranya adalah jasa ekspedisi.

Mungkin itulah sebabnya kutipan Matute terasa semakin segar. Ia mengingatkan bahwa manusia bukan mesin produktivitas. Kita bukan aplikasi yang harus terus diperbarui versinya setiap bulan. Kita hanyalah makhluk yang membutuhkan tiga hal agar tidak berubah menjadi robot berwajah lelah: mimpi yang masih menyala, hati yang cukup lapang untuk ikut bergembira atas keberhasilan orang lain, dan persahabatan yang tidak memakai sistem poin loyalitas.

Maka, sesekali berhentilah menggulir layar. Cobalah menggulir kembali mimpi-mimpi yang pernah Anda simpan. Barangkali masih ada yang belum kedaluwarsa.

Dan kalau hari ini Anda belum mampu mengubah dunia, tidak apa-apa. Mulailah dari hal yang lebih sederhana: jangan pelit memberi tepuk tangan ketika orang lain berhasil. Toh tepuk tangan tidak pernah membuat telapak tangan menjadi lebih tipis.

Karena ternyata, sebagaimana diingatkan Ana María Matute, hidup yang paling miskin bukanlah hidup yang kekurangan uang. Hidup yang paling miskin adalah hidup yang kehilangan mimpi, kekurangan kasih sayang, dan terlalu sibuk menghitung milik orang lain sampai lupa menikmati miliknya sendiri. Itu baru benar-benar bangkrut—bahkan sebelum dompetnya kosong.

abah-arul.blospot.com., Juli 2026

Sabtu, 25 Juli 2026

# Permata yang Tidak Pernah Turun Harga: Ketika Ilmu Lebih Mahal daripada Diskon 11.11

Ada dua jenis manusia di dunia. Yang pertama, rela antre tiga jam demi membeli panci yang didiskon 70 persen. Yang kedua, rela begadang tiga jam demi memahami satu halaman kitab yang isinya belum tentu langsung dipahami. Yang pertama pulang membawa panci. Yang kedua pulang membawa pencerahan. Bedanya, panci bisa penyok kalau jatuh. Ilmu justru semakin berharga kalau sering "dibenturkan" dengan pertanyaan.

Di zaman sekarang, istilah "berburu harta" terdengar begitu gagah. Padahal, kalau dipikir-pikir, pemburu harta sering kali justru menjadi buruan cicilan. Sementara pemburu ilmu mungkin dompetnya tidak selalu tebal, tetapi kepalanya jarang kosong. Dan kalau pun kosong, itu karena masih menyediakan ruang untuk belajar lagi.

Ceramah tentang "Permata yang Tidak Ternilai adalah Ilmu Pengetahuan" datang seperti tamu yang sopan di tengah pesta media sosial yang riuh. Saat semua orang sibuk menghitung jumlah pengikut, jumlah suka, dan jumlah saldo, Ceramah ini mengingatkan bahwa ada satu angka yang jauh lebih penting: berapa banyak kebijaksanaan yang berhasil kita kumpulkan.

Lucunya, manusia memang makhluk yang aneh. Kita rela membeli kotak beludru hanya karena di dalamnya ada cincin. Tetapi ketika Allah menawarkan ilmu sebagai permata yang jauh lebih mahal daripada seluruh isi toko perhiasan, kita malah berkata, "Nanti saja, setelah rebahan."

Seolah-olah surga membuka loket pendaftaran setiap hari, lengkap dengan nomor antrean daring.


Dalam ceramah tersebut dijelaskan bahwa ilmu adalah perdagangan paling menguntungkan. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat "mengganggu" logika ekonomi modern.

Bayangkan kalau ada investasi yang keuntungannya tidak pernah rugi.

Tidak kena inflasi.

Tidak dimakan rayap.

Tidak bisa dicuri.

Tidak perlu brankas.

Tidak perlu satpam.

Bahkan semakin dibagikan, jumlahnya justru bertambah.

Kalau investasi seperti itu ditawarkan di televisi, mungkin semua analis saham akan pensiun dan membuka perpustakaan.

Masalahnya, manusia lebih mudah percaya kepada iklan yang menjanjikan keuntungan 20 persen setahun daripada hadis yang menjanjikan kemuliaan ilmu hingga akhirat.

Padahal, iklan selalu memiliki tulisan kecil di bawah: "Syarat dan ketentuan berlaku."

Sedangkan ilmu memiliki tulisan yang jauh lebih besar: "Silakan diamalkan."


Cermah ini juga mengingatkan bahwa ulama adalah pewaris para nabi.

Kalimat ini sering disalahpahami seolah-olah warisan nabi berbentuk kursi kebesaran atau stempel otoritas.

Padahal, kalau para nabi benar-benar meninggalkan warisan materi, mungkin museum mereka akan dipenuhi lemari antik dan koleksi sandal.

Nyatanya, yang diwariskan justru ilmu.

Artinya, warisan nabi bukan benda yang dipajang di ruang tamu, melainkan cahaya yang dipasang di dalam kepala.

Ironisnya, banyak orang lebih bangga mewarisi sawah daripada mewarisi semangat belajar.

Sawah bisa menghasilkan padi.

Ilmu bisa menghasilkan peradaban.

Sawah yang tidak dirawat akan menjadi semak.

Ilmu yang tidak dirawat akan berubah menjadi komentar ngawur di media sosial.


Yang paling menarik adalah hubungan antara ilmu dan rasa takut kepada Allah.

Di zaman sekarang, banyak orang mengira semakin pintar berarti semakin banyak berdebat.

Padahal Al-Qur'an justru mengatakan bahwa orang yang benar-benar berilmu akan semakin tunduk.

Ini seperti pohon mangga.

Semakin berbuah, semakin merunduk.

Kalau semakin tinggi tetapi semakin sombong, kemungkinan itu bukan pohon mangga.

Mungkin tiang bendera.

Ilmu yang benar ternyata tidak membuat seseorang sibuk menunjukkan dirinya hebat.

Sebaliknya, ia membuat seseorang semakin sadar betapa luasnya samudra yang belum ia pahami.

Begitu seseorang berkata, "Saya sudah tahu semuanya," saat itulah ilmu diam-diam mengemasi koper lalu pindah rumah.


Ceramah ini juga terasa seperti sindiran halus kepada budaya digital.

Hari ini kita hidup di masa ketika seseorang bisa merasa menjadi ahli hanya karena menonton video berdurasi dua menit.

Padahal memahami satu persoalan agama kadang memerlukan dua puluh tahun belajar.

Internet memang luar biasa.

Ia membuat semua orang memiliki mikrofon.

Sayangnya, mikrofon tidak otomatis membuat suara menjadi benar.

Kalau iya, maka toa masjid adalah profesor.

Padahal yang membuat seseorang layak didengar bukan kerasnya suara, melainkan dalamnya pengetahuan.


Yang menarik, ceramah ini hanya berdurasi sekitar dua setengah menit.

Itu prestasi tersendiri.

Di era ketika perhatian manusia lebih pendek daripada masa garansi charger murah, menyampaikan pesan yang padat adalah seni.

Ceramah sekarang harus berlomba dengan video kucing yang terpeleset.

Kalau isi ceramah terlalu lambat, penonton sudah lebih dulu pindah ke resep seblak.

Karena itu, dakwah digital bukan berarti mengurangi kedalaman, melainkan memadatkan kebijaksanaan.

Seperti kopi.

Bukan semakin banyak airnya semakin nikmat.

Kadang justru yang pekat lebih membangunkan.


Namun ada satu hal yang diam-diam menggelitik.

Kita sering mengatakan bahwa ilmu adalah permata.

Sayangnya, cara memperlakukannya kadang seperti brosur.

Disimpan.

Dilipat.

Lalu lupa dibuka lagi.

Buku memenuhi rak.

Catatan memenuhi ponsel.

Kutipan memenuhi status.

Tetapi perilaku tetap versi lama.

Ini seperti membeli buku resep masakan sebanyak seratus jilid, tetapi setiap hari tetap makan mi instan.

Masalahnya bukan kurang referensi.

Masalahnya kompor tidak pernah dinyalakan.

Ilmu memang indah.

Tetapi ia baru benar-benar bersinar ketika berubah menjadi akhlak.


Barangkali itulah pesan paling berharga dari video ini.

Ilmu bukan sekadar menambah isi kepala, melainkan memperhalus isi hati.

Ia bukan membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain, tetapi membuat kita lebih mudah menghargai orang lain.

Sebab orang yang benar-benar berilmu tahu bahwa dirinya masih terus belajar.

Sedangkan orang yang baru mencicipi setetes pengetahuan sering kali sudah berjalan seperti ensiklopedia berkaki.

Pada akhirnya, permata memang berkilau karena memantulkan cahaya.

Begitu pula ilmu.

Nilainya bukan karena ia disimpan rapat-rapat di dalam kepala, melainkan karena ia memantulkan cahaya kebijaksanaan kepada siapa saja yang berada di sekitarnya.

Dan mungkin, itulah satu-satunya harta yang semakin dibagi justru semakin membuat pemiliknya kaya.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Lensa Diskon: Ketika Hidup Tidak Mau Mengikuti Skenario yang Sudah Kita Tulis

Ada satu kebiasaan manusia yang nyaris setua umur peradaban: menyusun skenario hidup sedetail mungkin, lalu marah kepada kehidupan karena lupa membaca naskahnya.

Kita berharap hidup itu seperti drama Korea: pemeran utama memang sengsara, tetapi tetap ganteng, tetap wangi, dan episode terakhir selalu diiringi musik yang membuat penonton ingin membeli tisu. Sayangnya, hidup lebih sering menyerupai sinetron listrik padam. Adegan penting baru dimulai, eh... "Maaf, jaringan sedang bermasalah."

Di situlah letak kelucuan manusia. Kita sering mengira masalah terbesar adalah kerasnya kehidupan. Padahal, bisa jadi yang lebih keras adalah kepala kita sendiri yang bersikeras bahwa semua harus berjalan sesuai ekspektasi.

Sejak kecil kita dijejali berbagai cerita. Putri cantik bertemu pangeran. Anak miskin tiba-tiba kaya. Tokoh utama selalu menemukan jalan keluar lima menit sebelum film selesai. Tidak ada dongeng yang berbunyi, "Pangeran akhirnya diterima cicilan rumah selama tiga puluh tahun." Dongeng juga jarang menceritakan bahwa naga ternyata menang karena lawannya sedang salah tidur.

Akhirnya kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup memiliki kewajiban moral untuk menghadiahkan "happy ending". Ketika kenyataan datang membawa tagihan, penolakan kerja, ban bocor, dan paket yang tertulis "sedang dikirim" selama seminggu, kita merasa semesta telah melakukan pelanggaran kontrak.

Padahal semesta tidak pernah menandatangani kontrak apa pun.

Media sosial memperparah keadaan. Kita melihat teman mengunggah foto liburan di pegunungan. Yang tidak terlihat adalah tiga bulan sebelumnya ia lembur setiap malam, makan mi instan dengan penuh penghayatan, dan berdebat dengan aplikasi pinjaman online yang terus mengingatkan tanggal jatuh tempo.

Internet adalah museum prestasi, bukan gudang kegagalan.

Tidak ada orang yang bangga mengunggah foto dengan keterangan, "Hari ini saya ditolak lagi. Penolakan ke-17. Mohon doanya agar genap menjadi 20." Padahal justru koleksi penolakan itulah yang sering menjadi fondasi keberhasilan.

Akibatnya, kita membandingkan film dokumenter kehidupan sendiri dengan trailer kehidupan orang lain. Tentu hasilnya menyedihkan. Trailer memang dibuat agar tampak menarik. Tidak ada trailer yang memperlihatkan adegan tokohnya mencari sandal sebelah selama dua puluh menit.

Di sinilah metafora tentang lensa menjadi sangat menarik.

Ekspektasi ternyata seperti kacamata. Masalahnya, banyak dari kita membeli kacamata di toko fantasi. Lensanya dilengkapi fitur pembesar kekecewaan. Kesalahan kecil tampak sebesar gunung. Kritik ringan terdengar seperti deklarasi perang. Chat yang tidak dibalas lima menit langsung diterjemahkan menjadi, "Dia pasti membenciku."

Padahal, sangat mungkin lawan bicara hanya sedang mandi.

Atau lebih tragis lagi, sedang tidur sambil memeluk ponsel yang kehabisan baterai.

Lensa seperti itu membuat dunia tampak jauh lebih kejam daripada kenyataannya. Hidup sebenarnya hanya memberikan soal matematika sederhana, tetapi kacamata kita menerjemahkannya menjadi ujian filsafat tingkat doktoral.

Sebaliknya, lensa yang realistis tidak membuat hidup menjadi lebih mudah. Ia hanya membuat kita berhenti kaget terhadap hal-hal yang memang sudah menjadi sifat kehidupan.

Orang baik bisa dikhianati.

Orang rajin bisa gagal.

Orang pintar bisa salah.

Dan orang yang baru saja mengepel lantai hampir pasti akan didatangi seseorang dengan kaki penuh lumpur. Entah bagaimana hukum alam mengatur peristiwa ini.

Ketika kita menerima kenyataan itu, sesuatu yang menarik terjadi.

Kita berhenti menghabiskan energi untuk bertanya, "Mengapa ini terjadi padaku?"

Sebagai gantinya, kita mulai bertanya, "Baiklah, sekarang saya harus bagaimana?"

Perubahan satu kalimat itu kecil, tetapi dampaknya sebesar perubahan dari orang yang sibuk mengutuk hujan menjadi orang yang akhirnya membeli payung.

Kedewasaan rupanya bukan kemampuan untuk menghindari badai, melainkan kemampuan membawa jas hujan tanpa menyalahkan awan.

Lucunya lagi, manusia sering menganggap realistis berarti pesimis. Padahal keduanya berbeda sejauh warung kopi dengan kantor pajak.

Pesimis berkata, "Tidak ada gunanya mencoba."

Optimis naif berkata, "Pasti berhasil."

Optimis realistis berkata, "Bisa saja gagal. Maka mari kita siapkan rencana cadangan."

Yang terakhir mungkin terdengar kurang puitis, tetapi biasanya lebih panjang umur.

Pada akhirnya, hidup bukan sedang memusuhi kita. Ia hanya tidak bekerja sebagai layanan pelanggan yang siap memenuhi semua permintaan. Kehidupan tidak mengenal menu "komplain" dengan tombol "bicara dengan supervisor semesta."

Ia bekerja dengan cara yang lebih sederhana: siapa yang belajar akan bertambah bijak, siapa yang bertahan akan bertambah kuat, dan siapa yang mau mengganti lensanya akan melihat bahwa banyak hal yang dulu tampak sebagai bencana ternyata hanyalah belokan.

Mungkin memang sudah saatnya kita berhenti meminta kehidupan berubah menjadi dongeng.

Lagipula, kalau semua berjalan mulus, apa yang akan kita ceritakan kepada cucu nanti?

Masa iya kita berkata, "Nak, Kakek dulu hidupnya sangat membosankan. Semua sesuai rencana. Tidak ada drama, tidak ada salah belok, tidak ada nasi goreng gosong, bahkan sinyal internet selalu penuh."

Cucu kita mungkin akan mengangguk sopan.

Lalu diam-diam berpikir, "Kasihan sekali Kakek. Hidupnya tidak pernah punya bahan cerita."

Karena sesungguhnya, yang membuat hidup layak dikenang bukanlah banyaknya adegan yang sesuai harapan, melainkan kemampuan kita menertawakan adegan-adegan yang sama sekali tidak ada di naskah. Di situlah kebijaksanaan sering datang—bukan dengan mengetuk pintu, melainkan dengan menyelinap lewat jendela sambil membawa secangkir kopi dan berkata, "Lihat? Ternyata dunia tidak rusak. Yang perlu diganti hanya kacamatamu."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Menyelamatkan Mimpi dari Tempat Sampah: Ketika Tempat Sampah Kehilangan Pelanggan Bernama Stephen King

Ada dua jenis tempat sampah di dunia. Yang pertama adalah tempat sampah biasa, tempat bungkus mi instan, botol air mineral, dan nota belanja yang sudah tak punya masa depan berkumpul dengan damai. Yang kedua adalah tempat sampah yang nyaris menjadi kuburan karya besar. Untungnya, yang kedua jarang terjadi. Kalau terlalu sering, petugas kebersihan mungkin sudah memenangkan Nobel Sastra.

Konon, Stephen King pernah membuang naskah novel Carrie ke tempat sampah. Ia merasa tulisannya buruk, tak layak dibaca, apalagi diterbitkan. Untung ada istrinya, Tabitha King, yang memiliki bakat langka: percaya kepada suaminya ketika suaminya sedang tidak percaya kepada dirinya sendiri.

Bayangkan kalau Tabitha punya hobi yang berbeda. Misalnya hobi berkata, “Ya sudah, mungkin memang bukan bakatmu. Coba daftar jadi pegawai administrasi saja.” Bisa jadi dunia kehilangan salah satu raja horor, dan sebagai gantinya kita memperoleh pegawai kantor yang sangat pandai menyusun arsip.

Untunglah sejarah memilih jalur yang lebih menarik.


Kisah ini sering dibagikan di media sosial sebagai pelajaran memilih pasangan hidup. Rumusnya sederhana: carilah orang yang mau memungut mimpimu dari tempat sampah.

Nasihat ini terdengar indah. Sangat indah. Saking indahnya, para jomblo mendadak memandangi tong sampah di depan rumah dengan tatapan filosofis.

“Jangan-jangan jodohku sedang ada di sana.”

Tentu bukan begitu maksudnya.

Yang dimaksud adalah mencari seseorang yang melihat kemungkinan ketika kita hanya melihat kegagalan. Seseorang yang berkata, “Coba sekali lagi,” ketika kita sudah mengucapkan, “Sudahlah.”

Masalahnya, media sosial punya kebiasaan mengubah kehidupan menjadi slogan. Seolah-olah kesuksesan hanya membutuhkan tiga bahan: mimpi, pasangan suportif, dan koneksi internet untuk mengunggah kisah inspiratif.

Padahal hidup jauh lebih ribet daripada itu.


Mari kita bersikap adil kepada Stephen King. Tabitha memang menyelamatkan naskah itu, tetapi Tabitha tidak menulis novel tersebut. Ia tidak menyusun alur cerita, menciptakan karakter, atau begadang mengejar tenggat. Ia menyelamatkan bibit, tetapi pohonnya tetap ditanam, disiram, dan dirawat oleh King sendiri.

Ini seperti orang yang mendorong mobil mogok. Orang yang mendorong berjasa besar. Tetapi kalau mobilnya ternyata tidak punya mesin, ya mau didorong sampai Bali pun tetap tidak akan hidup.

Dukungan memang penting, tetapi tetap harus ada sesuatu yang layak didukung.

Di sinilah kita sering keliru memahami kisah sukses. Kita menyukai bagian ketika seseorang menemukan emas. Kita lupa bahwa sebelum emas ditemukan, ada bertahun-tahun menggali tanah, berkeringat, dan sering kali menemukan batu biasa.

Kalau semua batu langsung menjadi emas hanya karena ada pasangan yang optimis, para penjual batu akik pasti sudah menjadi konglomerat dunia.


Yang lebih menarik justru bukan soal mencari "Tabitha", melainkan belajar menjadi "Tabitha".

Kita hidup di zaman yang murah memberikan kritik tetapi mahal memberikan harapan.

Mengatakan, “Ah, itu jelek,” hanya butuh lima detik.

Mengatakan, “Aku percaya kamu bisa lebih baik,” membutuhkan keberanian, kesabaran, dan kadang-kadang kesediaan mendengarkan keluhan selama dua jam penuh tanpa menyela.

Dukungan sejati ternyata lebih melelahkan daripada komentar sinis.

Bahkan algoritma media sosial pun tampaknya lebih menyukai pertengkaran daripada penyemangat. Coba unggah status penuh kemarahan, komentar berdatangan seperti hujan di musim penghujan. Unggah kabar bahwa temanmu sedang berjuang mengejar mimpinya, yang memberi tanda suka sering kali hanya ibunya dan akun toko online yang salah pencet.


Namun, jangan pula terjebak dalam romantisasi.

Tidak semua orang memiliki pasangan yang luar biasa. Ada yang didukung orang tua. Ada yang didukung sahabat. Ada yang didukung guru. Ada pula yang didukung secangkir kopi dan tagihan listrik yang memaksa mereka terus bekerja.

Bahkan ada orang yang bertahan hanya karena gengsi.

“Sudah terlanjur bilang ke tetangga mau sukses.”

Aneh memang, tetapi motivasi manusia sering kali lebih kreatif daripada seminar pengembangan diri.

Karena itu, jangan sampai kisah Stephen King berubah menjadi syarat mutlak kebahagiaan. Seolah-olah tanpa pasangan yang rela mengaduk-aduk tong sampah, masa depan pasti suram.

Faktanya, sejarah dipenuhi orang-orang hebat yang diselamatkan oleh berbagai bentuk kasih sayang: seorang ibu yang tak pernah berhenti mendoakan, seorang guru yang meminjamkan buku, seorang teman yang berkata, “Aku yakin kamu bisa,” atau bahkan seorang editor yang menolak naskah dengan kritik yang justru membuat penulisnya berkembang.

Kadang-kadang malaikat memang tidak bersayap. Ia hanya memakai sandal jepit dan datang membawa semangkuk mi rebus ketika kita sedang putus asa.


Yang paling lucu dari kisah Stephen King sebenarnya adalah ironi tentang tempat sampah.

Tempat itu diciptakan untuk membuang sesuatu yang dianggap tak berguna. Tetapi berkali-kali sejarah membuktikan bahwa manusia lebih sering salah menilai daripada tempat sampah.

Kita membuang ide karena merasa bodoh.

Kita membuang mimpi karena merasa terlambat.

Kita membuang kesempatan karena takut ditertawakan.

Padahal, sering kali yang salah bukan mimpinya, melainkan penilaian kita yang sedang kelelahan.

Mungkin sesekali, sebelum membuang sesuatu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri, “Ini benar-benar sampah, atau hanya sedang mengalami hari yang buruk?”

Sebab siapa tahu, yang hari ini tampak seperti kertas kusut, besok justru menjadi buku yang dibaca ratusan juta orang.

Dan kalau memang suatu hari Anda menemukan seseorang yang rela memungut kembali mimpi Anda dari tempat sampah, jangan buru-buru memujinya sebagai pasangan ideal.

Bisa jadi ia hanya sedang menjalankan prinsip hidup paling sederhana: percaya kepada seseorang tepat ketika orang itu mulai kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.

Itulah bentuk cinta yang paling sunyi. Ia tidak selalu menulis puisi, tidak selalu mengunggah kutipan romantis, bahkan mungkin tidak pandai mengucapkan kata-kata manis.

Tetapi ia tahu kapan harus berkata, “Jangan dibuang dulu. Coba kita baca sekali lagi.”

Sering kali, kalimat sesederhana itulah yang mengubah sejarah. Atau, paling tidak, menyelamatkan satu mimpi agar tidak ikut diangkut truk sampah setiap Selasa pagi.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026