Selasa, 11 Agustus 2026

Emmenez-moi: Bawa Aku Pergi, Asal Jangan Suruh Bayar Cicilan Dulu

Ada lagu yang membuat kita ingin berdansa. Ada lagu yang membuat kita ingin menangis. Dan ada lagu yang membuat kita ingin membeli tiket pesawat, meskipun saldo rekening baru saja mengirimkan pesan yang kurang lebih berbunyi: “Jangan macam-macam.”

“Emmenez-moi” karya Charles Aznavour termasuk jenis yang terakhir.

Lagu ini seperti bisikan seorang manusia yang sudah terlalu lama bekerja, terlalu sering melihat langit kelabu, dan terlalu akrab dengan rutinitas sampai-sampai kalender pun terasa seperti musuh pribadi.

“Bawa aku pergi.”

Ke mana?

Ke tempat yang mataharinya lebih ramah, lautnya lebih biru, orang-orangnya tampak bahagia, dan—ini yang penting—tidak ada orang yang bertanya, “Besok masuk jam berapa?”

Begitulah kira-kira semangat lagu Aznavour.

Pelabuhan: Tempat Orang Bekerja, Kapal Pergi, dan Mimpi Tidak Pernah Naik Kapal

Dalam “Emmenez-moi”, kita bertemu dengan seorang pekerja pelabuhan di utara. Ia hidup di tengah pekerjaan berat, langit kelabu, dan rutinitas yang perlahan membuat tubuhnya membungkuk sekaligus membuat jiwanya ingin mengajukan surat pengunduran diri kepada kehidupan.

Pelabuhan menjadi simbol yang sempurna.

Di sana kapal datang dari tempat-tempat jauh. Kapal membawa barang, aroma negeri asing, buah-buahan eksotis, dan berbagai kabar dari dunia yang tampaknya lebih menyenangkan.

Ironisnya, kapal-kapal itu bisa pergi.

Si pekerja tidak.

Ini mungkin salah satu pengalaman manusia paling menyakitkan: melihat sesuatu yang bergerak ketika kita sendiri sedang terjebak.

Kapal berangkat menuju negeri tropis.

Kita berangkat menuju kantor.

Kapal melihat laut.

Kita melihat spreadsheet.

Kapal menikmati angin.

Kita menikmati AC kantor yang suhunya disetel oleh seseorang yang mungkin punya hubungan pribadi dengan kutub utara.

Dan setiap kali melihat kapal meninggalkan pelabuhan, muncul satu pikiran yang sangat manusiawi:

“Seandainya aku ikut.”

Tetapi kenyataan segera menjawab:

“Tiketnya dari mana?”

Lalu kita kembali bekerja.

Kita Semua Punya Pelabuhan Kelabu

Yang membuat “Emmenez-moi” bertahan begitu lama bukan semata-mata melodinya yang indah. Lagu itu berbicara tentang pengalaman yang jauh lebih universal daripada pelabuhan.

Sebab tidak semua orang bekerja di dermaga.

Ada yang terjebak di kantor.

Ada yang terjebak dalam hubungan.

Ada yang terjebak dalam kemacetan.

Ada yang terjebak dalam grup WhatsApp keluarga.

Dan yang paling parah: ada yang terjebak dalam pikirannya sendiri.

Pelabuhan kelabu setiap orang berbeda.

Bagi seseorang, pelabuhan itu adalah pekerjaan yang tidak disukai.

Bagi orang lain, rumah yang sudah kehilangan kehangatan.

Bagi sebagian orang, mungkin kehidupan yang tampak baik-baik saja dari luar tetapi terasa seperti mengulang episode yang sama setiap hari.

Kita bangun.

Mandi.

Sarapan.

Bekerja.

Macet.

Pulang.

Makan.

Menatap layar.

Tidur.

Bangun lagi.

Lalu tiba-tiba kita menyadari bahwa usia sudah bertambah lima tahun dan kita masih menunggu “nanti kalau sudah punya waktu”.

Masalahnya, waktu tidak pernah benar-benar punya waktu untuk kita.

Media Sosial: Kapal Modern yang Membuat Kita Ingin Pergi

Kalau Aznavour hidup di zaman Instagram dan TikTok, mungkin liriknya akan sedikit berubah.

Dahulu sang pekerja pelabuhan melihat kapal membawa aroma negeri jauh.

Sekarang kita cukup membuka media sosial.

Dalam lima menit, kita bisa melihat seseorang sedang sarapan di Santorini, berenang di Maldives, minum kopi di Paris, meditasi di Bali, bekerja dari pantai, atau—yang paling menyakitkan—mengunggah caption:

“Simple life.”

Sambil duduk di vila seharga beberapa juta per malam.

Kita melihat foto itu sambil duduk di kamar dengan kipas angin yang bunyinya seperti mesin kapal tua.

Lalu muncul pikiran:

“Aku juga ingin hidup seperti itu.”

Kita lupa bahwa yang kita lihat hanya foto.

Kita tidak melihat tagihan vila.

Tidak melihat sakit kepala pemilik akun.

Tidak melihat pertengkaran rumah tangga.

Tidak melihat isi rekening.

Media sosial pada dasarnya adalah pelabuhan modern tempat kapal-kapal mimpi lewat setiap tiga detik.

Dan kita berdiri di dermaga sambil melakukan satu pekerjaan penting:

scrolling.

Imajinasi: Tiket Gratis yang Tidak Pernah Kehabisan Masa Berlaku

Namun di sinilah Aznavour menjadi lebih bijaksana daripada sekadar penyanyi yang mengajak kita kabur.

Ia memahami bahwa imajinasi bukan sekadar pelarian.

Imajinasi adalah salah satu cara manusia bertahan.

Ketika kenyataan terlalu berat, manusia membangun sebuah tempat di dalam dirinya sendiri.

Di sana ada matahari.

Ada laut.

Ada musim panas.

Ada cinta.

Ada tangan-tangan yang terbuka untuk menyambutnya.

Dan untuk beberapa saat, ia tidak lagi menjadi buruh yang lelah.

Ia menjadi seseorang yang ditunggu.

Ini penting.

Sebab mungkin yang sebenarnya kita cari bukanlah pantai.

Bukan pulau tropis.

Bukan negeri asing.

Bukan bahkan liburan.

Yang kita cari adalah perasaan bahwa hidup kita berarti.

Kita ingin merasa bahwa ada tempat di mana keberadaan kita tidak sekadar dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan, membayar tagihan, dan memenuhi kewajiban.

Kita ingin disambut.

Kita ingin dicintai.

Kita ingin sesekali merasa bahwa hidup bukan hanya daftar tugas.

“Il Me Semble”: Sebuah Keraguan yang Justru Jujur

Salah satu keindahan “Emmenez-moi” terletak pada semangat il me semble—“rasanya”, “sepertinya”.

Perhatikan kata itu.

Bukan:

“Di sana pasti bahagia.”

Melainkan:

“Rasanya di sana akan lebih bahagia.”

Ada perbedaan besar.

Aznavour tidak menjual surga dengan garansi uang kembali.

Ia memahami bahwa manusia sering membayangkan tempat lain sebagai penyelamat hidupnya.

Kita berkata:

“Nanti kalau pindah kota, aku bahagia.”

“Nanti kalau punya uang, aku tenang.”

“Nanti kalau pensiun, aku menikmati hidup.”

“Nanti kalau menikah, hidup lengkap.”

“Nanti kalau cerai, hidup tenang.”

“Nanti kalau punya rumah, hidup damai.”

“Nanti kalau anak-anak besar, hidup bebas.”

Lalu setelah semua “nanti” itu tiba, kita menemukan masalah baru.

Ternyata manusia membawa dirinya sendiri ke mana pun ia pergi.

Kita bisa pindah negara, tetapi kepala tetap ikut.

Kita bisa pindah rumah, tetapi kebiasaan buruk ikut pindah.

Kita bisa pergi ke pantai, tetapi kecemasan ikut membawa koper.

Bahkan kalau pergi ke pulau terpencil, ponsel masih mungkin menangkap sinyal.

Jadi sebenarnya yang perlu dibawa pergi bukan selalu tubuh.

Kadang-kadang yang perlu dibawa pergi adalah cara kita memandang hidup.

Pelarian yang Tidak Sepenuhnya Salah

Ada kecenderungan dalam kehidupan modern untuk memandang keinginan melarikan diri sebagai kelemahan.

“Jangan lari dari masalah.”

Nasihat ini terdengar bijaksana.

Tetapi kadang-kadang kita memang perlu lari.

Kalau rumah terbakar, kita tidak perlu berdiri di ruang tamu sambil berkata:

“Saya harus menghadapi masalah ini dengan dewasa.”

Kita keluar.

Begitu pula dalam kehidupan.

Ada saat ketika manusia perlu berhenti.

Pergi.

Mengambil jarak.

Melihat laut.

Berjalan tanpa tujuan.

Membaca buku.

Mendengarkan musik.

Duduk sendirian.

Atau sekadar tidur siang tanpa merasa bersalah.

Sebab tidak semua perjalanan adalah bentuk pengecut.

Kadang perjalanan adalah cara jiwa melakukan servis berkala.

Mobil saja perlu dibawa ke bengkel.

Mengapa manusia merasa dirinya tidak perlu?

Masalahnya Bukan Selalu Pelabuhan

Namun “Emmenez-moi” juga dapat dibaca dengan sedikit kewaspadaan.

Jangan sampai kita terlalu percaya bahwa kebahagiaan selalu berada di tempat lain.

Sebab manusia memiliki kebiasaan aneh: ia sering menganggap rumput tetangga lebih hijau karena belum pernah mencium bau pupuknya.

Kita melihat orang lain hidup di kota besar dan berpikir mereka bahagia.

Kita tinggal di kota besar dan ingin tinggal di desa.

Orang desa melihat foto kota dan ingin pindah ke kota.

Orang kota ingin ke Bali.

Orang Bali mungkin ingin ke luar Bali.

Orang yang punya pekerjaan ingin pensiun.

Orang yang pensiun rindu bekerja.

Orang lajang ingin menikah.

Orang menikah kadang ingin tidur sendirian di kamar hotel.

Manusia memang makhluk yang luar biasa.

Ia bisa memiliki sesuatu dan merindukan sesuatu yang tidak dimilikinya pada saat yang sama.

Mungkin itulah sebabnya kita tidak pernah benar-benar selesai mencari.

Surga Kadang Hanya Sebuah Kursi dan Sore yang Tenang

Barangkali pesan terdalam “Emmenez-moi” bukanlah:

“Tinggalkan hidupmu.”

Melainkan:

“Jangan biarkan hidupmu kehilangan kemampuan untuk bermimpi.”

Sebab mimpi tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk tiket pesawat.

Kadang negeri ajaib itu hanya sebuah sore yang tenang.

Secangkir kopi.

Buku yang bagus.

Percakapan dengan orang yang kita cintai.

Tawa anak-anak.

Musik yang tiba-tiba mengingatkan kita pada masa lalu.

Atau duduk di teras rumah sambil melihat langit berubah warna.

Kita mungkin tidak bisa pergi ke pulau tropis.

Tetapi kita bisa menciptakan sedikit musim panas di dalam diri.

Kita mungkin tetap harus bekerja.

Tetapi kita tidak harus menyerahkan seluruh jiwa kepada pekerjaan.

Kita mungkin masih tinggal di pelabuhan yang sama.

Tetapi kita dapat belajar melihat laut dengan cara berbeda.

Pada Akhirnya, Kita Semua Ingin Dibawa Pergi

Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam seruan Emmenez-moi:

“Bawa aku pergi.”

Kita mengatakannya ketika lelah.

Kita mengatakannya ketika kecewa.

Kita mengatakannya ketika kehidupan terlalu penuh suara.

Dan mungkin kita juga mengatakannya ketika diam-diam kita tahu bahwa ada bagian dalam diri kita yang belum pernah benar-benar hidup.

Tetapi perjalanan paling penting sering kali bukan perjalanan dari satu negeri ke negeri lain.

Ia adalah perjalanan dari keputusasaan menuju harapan.

Dari kebosanan menuju rasa ingin tahu.

Dari keterasingan menuju kasih sayang.

Dari sekadar bertahan hidup menuju kemampuan untuk kembali menikmati hidup.

Sebab mungkin kita tidak perlu menunggu kapal datang.

Mungkin kapal itu memang tidak pernah datang.

Mungkin kita harus belajar membuat perahu sendiri.

Walaupun kecil.

Walaupun bocor.

Walaupun mesinnya kadang mogok.

Yang penting bergerak.

Dan kalau ternyata di tengah perjalanan kita menemukan bahwa “negeri keajaiban” yang selama ini kita cari ternyata tidak sempurna?

Tidak apa-apa.

Kita sudah belajar sesuatu yang penting:

Surga yang kita bayangkan mungkin tidak pernah ada persis seperti dalam mimpi. Tetapi manusia tetap membutuhkan mimpi agar sanggup menjalani kenyataan.

Jadi, ketika hidup terasa seperti pelabuhan kelabu, jangan buru-buru membenci pelabuhannya.

Dengarkan musik.

Tatap laut.

Bayangkan perjalanan.

Istirahatlah.

Lalu, kalau memang ada kesempatan, berangkatlah.

Tetapi jangan lupa membawa satu benda yang sering tertinggal:

diri kita sendiri.

Sebab ke mana pun kita pergi, itulah penumpang yang paling sulit ditinggalkan.

Dan sayangnya, dia tidak pernah mau membayar tiket sendiri.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Menua Itu Wajib, Keriput Itu Bonus

Renungan  dari Cermin, Skincare, dan Nasihat Colette

Ada satu hal yang sangat tidak adil dalam hidup: kita boleh menolak banyak hal, tetapi tidak boleh menolak tua.

Kita boleh menolak mantan. Boleh menolak ajakan reuni. Boleh menolak telepon dari nomor tidak dikenal. Bahkan boleh menolak kenyataan bahwa saldo rekening tinggal cukup untuk membeli gorengan.

Tetapi menolak tua?

Silakan coba.

Pagi-pagi Anda bangun, melihat cermin, lalu berkata:

“Saya tidak mau tua.”

Cermin biasanya tidak menjawab. Ia hanya menunjukkan kenyataan dengan kejam.

Kerutan tetap ada.

Rambut putih tetap tumbuh.

Mata tetap membutuhkan jarak tertentu untuk membaca tulisan kecil di kemasan obat.

Dan yang paling menyakitkan: wajah kita mulai memiliki fitur-fitur baru yang sebelumnya tidak pernah kita pesan.

Di tengah kegelisahan manusia menghadapi waktu itulah nasihat Colette terasa seperti tamparan lembut yang sangat beradab.

Dalam Les Vrilles de la vigne, Colette mengajak kita menerima kenyataan bahwa kita memang harus menua. Bukan dengan menangis, memberontak, atau berdoa agar Tuhan salah memasukkan tanggal lahir kita.

Kita harus pergi menuju usia tua.

Dan menurut Colette, kita sebaiknya pergi dengan membawa kesehatan, keceriaan, daya tarik, kebaikan, dan keadilan.

Singkatnya:

Tua boleh. Berantakan jangan.


Manusia dan Perang Dunia Melawan Keriput

Peradaban manusia telah mencapai kemajuan luar biasa.

Kita bisa mengirim manusia ke luar angkasa.

Kita bisa melakukan video call dengan orang yang berada ribuan kilometer jauhnya.

Kita memiliki kecerdasan buatan yang bisa menulis puisi, membuat gambar, menganalisis data, bahkan menjawab pertanyaan yang sebenarnya tidak pernah kita tanyakan.

Tetapi begitu melihat satu kerutan baru di dahi, kita panik.

“Ini apa?”

“Kerutan.”

“Sejak kapan?”

“Sepertinya sejak lima tahun lalu.”

“LIMA TAHUN?!”

Lalu dimulailah operasi militer.

Serum.

Moisturizer.

Retinol.

Sunscreen.

Masker.

Krim malam.

Krim pagi.

Krim sebelum krim.

Dan entah apa lagi.

Kamar mandi akhirnya berubah menjadi laboratorium kimia.

Sementara itu, nenek kita dulu mungkin hanya menggunakan sabun dan tetap hidup sampai usia delapan puluh sekian.

Kita hidup di zaman ketika manusia takut terlihat tua, padahal seluruh isi tubuhnya sedang bekerja sama menuju ke sana.

Ini agak lucu.

Kita membayar mahal untuk melawan sesuatu yang secara biologis sudah menjadi bagian dari paket kelahiran.


Colette Tidak Menyuruh Kita Menyerah

Di sinilah Colette menarik.

Ia tidak mengatakan:

“Kalau sudah tua, ya sudah. Jangan peduli penampilan.”

Bukan.

Justru ia mengatakan: pergilah dengan berhias.

Ini penting.

Menerima penuaan bukan berarti kita harus menyerah kepada kemalasan.

Kalau rambut memutih, kita masih boleh menyisirnya.

Kalau kulit berubah, kita masih boleh merawatnya.

Kalau tubuh bertambah usia, kita masih boleh menjaga kesehatan.

Kalau wajah mulai menunjukkan sejarah kehidupan, kita tidak harus menyembunyikannya seolah-olah kita baru saja melakukan kejahatan.

Ada perbedaan besar antara merawat diri dan memusuhi diri sendiri.

Merawat diri berkata:

“Aku menghargai tubuhku.”

Obsesi anti-tua berkata:

“Aku membenci kenyataan bahwa tubuhku mempunyai umur.”

Yang pertama adalah perawatan.

Yang kedua adalah perang saudara.

Dan lucunya, dalam perang tersebut kita memakai tubuh sendiri sebagai medan tempur.


Keriput Itu Arsip, Bukan Aib

Bayangkan wajah sebagai sebuah buku.

Setiap kerutan adalah semacam catatan kaki.

Ada kerutan karena terlalu banyak tertawa.

Ada kerutan karena terlalu sering berpikir.

Ada kerutan karena pernah menangis.

Ada kerutan karena terlalu sering mengernyit melihat harga kebutuhan pokok.

Ada juga kerutan karena bertahun-tahun menghadapi orang yang mengatakan:

“Sebentar saja, Pak.”

Lalu rapat berlangsung tiga jam.

Jadi sebenarnya kerutan bukan sekadar tanda bahwa usia bertambah.

Ia adalah semacam arsip biologis.

Wajah manusia menyimpan sejarah.

Masalahnya, masyarakat modern lebih menyukai wajah tanpa sejarah.

Kita ingin wajah yang terlihat seperti baru keluar dari pabrik.

Halus.

Licin.

Mengilap.

Tanpa noda.

Tanpa kerutan.

Tanpa masa lalu.

Kalau bisa, wajah umur lima puluh tetapi tampak seperti baru lulus SMA.

Tubuh berkata:

“Saya sudah melewati banyak hal.”

Filter berkata:

“Tidak ada yang perlu tahu.”


Manusia Modern Ingin Menipu Cermin

Kita sekarang hidup dalam zaman ketika kamera depan ponsel menjadi hakim baru kehidupan.

Sebelum keluar rumah, kita bercermin.

Setelah keluar rumah, kita membuka kamera.

Setelah memotret, kita memperbaiki wajah.

Setelah memperbaiki wajah, kita masih merasa ada yang kurang.

Akhirnya kita mengedit foto sampai orang yang ada di foto tidak lagi sepenuhnya mengenali dirinya sendiri.

Teman bertanya:

“Ini kamu?”

Kita menjawab:

“Versi terbaikku.”

Masalahnya, versi terbaik itu kadang bahkan tidak memiliki pori-pori.

Padahal manusia asli memang punya pori-pori.

Dan Colette tampaknya memahami sesuatu yang kita lupakan: martabat tidak membutuhkan wajah yang selalu muda.

Martabat membutuhkan cara kita membawa diri.


Keceriaan: Skincare yang Tidak Dijual di Apotek

Menariknya, Colette memasukkan keceriaan ke dalam bekal menghadapi usia tua.

Ini mungkin salah satu kosmetik terbaik yang sering kita lupakan.

Kita membeli krim anti-aging seharga ratusan ribu, tetapi lupa membeli kegembiraan.

Kita rajin merawat kulit, tetapi lupa merawat humor.

Padahal kemampuan tertawa adalah salah satu bentuk perlawanan paling sehat terhadap keseriusan hidup.

Orang yang bisa menertawakan dirinya sendiri memiliki keunggulan besar.

Ia tidak mudah dipermalukan oleh kenyataan.

Ketika rambutnya putih, ia berkata:

“Ini bukan uban. Ini highlight alami.”

Ketika lupa sesuatu:

“Bukan lupa. Otak sedang melakukan seleksi prioritas.”

Ketika harus membaca tulisan kecil dengan menjauhkan ponsel:

“Saya sedang menggunakan teknologi zoom manual.”

Begitulah manusia bertahan.

Dengan humor.

Sebab kalau semua perubahan hidup dianggap tragedi, kita akan kehabisan tenaga bahkan sebelum mencapai usia tua.


Yang Menjadi Tua Bukan Hanya Wajah

Ada hal yang lebih mengkhawatirkan daripada keriput.

Yaitu ketika hati menjadi tua sebelum waktunya.

Wajah boleh menua.

Rambut boleh memutih.

Langkah boleh melambat.

Tetapi jangan sampai rasa ingin tahu mati.

Jangan sampai kita menjadi orang yang setiap melihat sesuatu yang baru langsung berkata:

“Zaman saya dulu tidak begitu.”

Kalimat itu adalah salah satu tanda penuaan mental paling klasik.

Anak muda memakai teknologi baru:

“Zaman saya dulu…”

Mereka mendengarkan musik baru:

“Zaman saya dulu…”

Mereka memiliki cara komunikasi baru:

“Zaman saya dulu…”

Akhirnya seluruh kehidupan menjadi museum pribadi.

Padahal menjadi tua tidak berarti harus berhenti belajar.

Justru usia seharusnya memberi kita kemampuan untuk berkata:

“Saya mungkin tidak memahami semuanya, tetapi saya ingin tahu.”

Itulah kemudaan yang lebih penting daripada wajah.


Bawa Kebaikan, Karena Krim Tidak Bisa Melakukannya

Colette juga menyebut kebaikan dan keadilan.

Ini menarik.

Karena keduanya tidak bisa dibeli di toko kosmetik.

Tidak ada serum:

Anti-Wrinkle + Anti-Jahat Formula.

Tidak ada moisturizer:

Deep Hydration + Deep Empathy.

Tidak ada toner:

Brightening + Tidak Suka Menghakimi Orang.

Padahal semakin tua, mestinya manusia semakin ringan dalam menjalani hidup.

Kita sudah cukup lama melihat manusia melakukan kesalahan.

Kita sendiri sudah cukup banyak melakukan kesalahan.

Maka usia seharusnya membuat kita lebih memahami bahwa setiap orang sedang membawa sesuatu yang tidak terlihat.

Orang yang semakin tua tetapi semakin kasar sebenarnya hanya menambah umur, bukan menambah kebijaksanaan.

Sebab tua secara biologis itu otomatis.

Bijaksana tidak.


Jangan Berhenti di Tengah Jalan

Nasihat Colette akhirnya kembali kepada sebuah gagasan sederhana:

Jangan berhenti di jalan yang memang harus ditempuh.

Kita sering berhenti bukan karena tidak mampu berjalan, tetapi karena terus menoleh ke belakang.

“Dulu saya begini.”

“Dulu wajah saya begitu.”

“Dulu rambut saya hitam.”

“Dulu badan saya lebih langsing.”

“Dulu saya kuat begadang.”

Tentu saja.

Dulu juga kita tidak punya cicilan sebanyak sekarang.

Tetapi waktu tidak mengenal nostalgia.

Ia terus berjalan.

Maka tugas kita bukan memaksa waktu mundur.

Tugas kita adalah berjalan bersamanya.

Hari ini kita mungkin tidak sekuat sepuluh tahun lalu.

Tetapi mungkin kita lebih sabar.

Mungkin kita tidak lagi mengejar semua orang.

Mungkin kita sudah tahu mana yang penting dan mana yang hanya kebisingan.

Mungkin kita mulai memahami bahwa tidak semua pertengkaran perlu dimenangkan.

Mungkin kita akhirnya tahu bahwa tidur lebih awal jauh lebih menyenangkan daripada debat politik di media sosial sampai pukul dua pagi.

Kalau begitu, bukankah ada sesuatu yang kita peroleh dari usia?


Menua dengan Anggun, Bukan dengan Panik

Pada akhirnya, menjadi tua bukanlah kegagalan.

Kegagalan adalah menghabiskan seluruh hidup kita dengan sibuk membenci kenyataan bahwa kita sedang hidup.

Colette mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana:

Kita harus pergi.

Maka pergilah.

Bawalah kesehatan jika masih ada.

Bawalah keceriaan.

Bawalah daya tarik tanpa harus terobsesi.

Bawalah kebaikan.

Bawalah keadilan.

Bawalah kenangan, tetapi jangan menjadikannya tempat tinggal permanen.

Dan kalau rambut sudah memutih, jangan buru-buru menganggapnya sebagai musuh.

Mungkin ia hanya sedang memberi tahu bahwa kita telah berjalan cukup jauh.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak membutuhkan wajah yang selalu muda.

Ia membutuhkan jiwa yang tidak kehilangan kemampuan untuk mencintai kehidupan.

Jadi, kalau besok pagi kita bercermin dan menemukan satu kerutan baru, jangan langsung panik.

Tataplah baik-baik.

Tersenyumlah.

Lalu katakan:

“Selamat datang. Rupanya kamu sudah sampai juga.”

Setelah itu, pakailah sunscreen.

Karena menerima takdir tidak berarti menolak akal sehat.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Senin, 10 Agustus 2026

Mencari Pasangan Ideal: Ketika Dua Orang Sempurna Saling Menunggu Orang yang Tidak Ada

Ada orang yang tidak menikah bukan karena tidak laku, melainkan karena terlalu laku di dalam imajinasinya sendiri.

Ia punya gambaran pasangan ideal yang begitu lengkap: cantik, cerdas, setia, sabar, tidak cerewet, mandiri tetapi perhatian, punya karier tetapi tidak sibuk, religius tetapi tidak menggurui, humoris tetapi tidak norak, romantis tetapi tidak lebay. Kalau perlu, bisa memasak, memahami filsafat, tahu kapan harus diam, tahu kapan harus bicara, dan kalau sedang marah cukup mengirim emoji tanpa membuat sidang keluarga.

Masalahnya sederhana: manusia seperti itu biasanya hanya tersedia dalam novel, film, atau kepala kita sendiri.

Anis Mansour, sastrawan Mesir yang terkenal dengan sindirannya yang tajam, pernah membuat lelucon yang sebenarnya sangat serius: seseorang memutuskan tidak menikah sebelum menemukan wanita ideal. Ia mencarinya bertahun-tahun. Akhirnya wanita ideal itu ditemukan.

Sayangnya, wanita tersebut sedang mencari pria ideal.

Di sinilah cinta berubah menjadi komedi situasi.

Dua Orang Ideal dan Satu Masalah Besar

Bayangkan dua orang duduk berhadapan.

Laki-laki berkata:

“Menurut saya, kamu sempurna.”

Perempuan menjawab:

“Terima kasih. Tapi kamu belum memenuhi kriteriaku.”

Laki-laki terdiam.

“Lho, bukankah aku sedang mencari perempuan ideal?”

“Iya.”

“Dan kamu perempuan ideal?”

“Iya.”

“Lalu kenapa kita tidak menikah?”

“Karena kamu bukan pria ideal.”

Maka tamatlah sebuah kisah cinta sebelum sempat dimulai.

Ironinya, sang laki-laki menemukan apa yang dicari, tetapi lupa bahwa orang yang dicari juga mempunyai hak untuk mencari.

Kita sering membayangkan pasangan ideal seperti barang di toko: kita datang membawa daftar spesifikasi, lalu memilih sesuai kebutuhan.

“Tinggi sekian.”

“Pendidikan minimal sekian.”

“Penghasilan sekian.”

“Akhlak bagus.”

“Lucu.”

“Tidak posesif.”

“Tidak banyak teman lawan jenis.”

“Harus bisa diajak ngobrol.”

“Harus memahami saya.”

Dan yang paling penting:

“Harus menerima saya apa adanya.”

Kalimat terakhir biasanya menjadi standar paling tidak adil.

Kita ingin diterima apa adanya, tetapi pasangan harus diperbaiki terlebih dahulu.

Cinta di Zaman Algoritma

Dahulu orang mencari pasangan melalui pertemanan, keluarga, pengajian, sekolah, kampus, kantor, atau kebetulan yang romantis.

Sekarang kita memiliki teknologi.

Kita bisa melihat foto seseorang dalam hitungan detik, membaca profilnya, menilai hobinya, pekerjaannya, gaya hidupnya, bahkan memutuskan apakah ia layak menjadi calon pasangan hanya berdasarkan cara ia menggunakan tanda baca.

Satu foto kurang menarik: swipe.

Satu kalimat terlalu sok bijak: swipe.

Terlalu sering unggah makanan: swipe.

Jarang unggah makanan: jangan-jangan tidak punya kehidupan.

Terlalu banyak teman: red flag.

Tidak punya teman: red flag juga.

Terlalu religius: dicurigai.

Kurang religius: juga dicurigai.

Terlalu romantis: “love bombing.”

Kurang romantis: “tidak punya effort.”

Akhirnya kita memiliki kemampuan luar biasa untuk menolak banyak orang tanpa pernah benar-benar mengenal mereka.

Kita menjadi seperti pelanggan restoran yang membaca menu selama tiga jam, lalu pulang karena tidak ada hidangan yang memenuhi seluruh daftar keinginan.

Padahal hubungan manusia bukan menu restoran.

Tidak ada pasangan “paket lengkap”.

Kalaupun ada, kemungkinan harganya mahal sekali.

Masalah Terbesar Bukan Pasangan, Melainkan Checklist

Perfeksionisme dalam cinta sering kali menyamar sebagai standar.

Tentu saja memiliki standar itu penting. Kita tidak sedang menyarankan seseorang menikah dengan orang yang jelas-jelas tidak cocok atau memperlakukan kita dengan buruk.

Tetapi ada perbedaan antara standar dan fantasi.

Standar berkata:

“Saya membutuhkan seseorang yang menghormati saya.”

Fantasi berkata:

“Saya ingin seseorang yang selalu tahu apa yang saya butuhkan tanpa saya jelaskan.”

Standar berkata:

“Saya ingin pasangan yang bertanggung jawab.”

Fantasi berkata:

“Saya ingin dia bertanggung jawab, sukses, romantis, selalu tersedia, tetapi tidak terlalu sibuk bekerja.”

Standar berkata:

“Saya ingin hubungan yang sehat.”

Fantasi berkata:

“Saya ingin hubungan sehat tanpa konflik.”

Padahal konflik adalah salah satu mata pelajaran wajib dalam universitas kehidupan rumah tangga.

Bahkan pasangan paling harmonis pun sesekali akan bertengkar tentang hal yang secara objektif tidak penting.

“Kenapa handuknya di situ?”

“Memangnya kenapa?”

“Ya, harusnya di sana.”

“Kenapa harus di sana?”

“Karena dari dulu di sana.”

Dan tiba-tiba sejarah keluarga, ekonomi nasional, pendidikan anak, bahkan dosa masa lalu ikut dibahas.

Kita Ingin Pasangan yang Sempurna, Padahal Kita Sendiri Sedang Dalam Proses

Ini bagian yang paling lucu.

Kita sering mencari seseorang yang sudah selesai menjadi manusia, sementara diri kita sendiri masih berupa proyek pembangunan.

Kita menginginkan pasangan yang sabar, sementara kita mudah tersinggung.

Kita ingin pasangan komunikatif, tetapi kalau ditanya “kamu kenapa?” jawabannya:

“Tidak apa-apa.”

Kita ingin pasangan dewasa secara emosional, tetapi ketika pasangan terlambat membalas pesan selama dua jam, kita sudah menyusun tiga teori konspirasi.

Kita ingin pasangan tidak posesif, tetapi ketika ia memberi tanda suka pada unggahan orang lain, kita mendadak menjadi detektif swasta.

Dan kita ingin dicintai dengan segala kekurangan.

Tetapi ketika melihat kekurangan orang lain, kita berkata:

“Wah, ini tidak sesuai kriteria.”

Barangkali cinta menjadi rumit bukan karena manusia sulit ditemukan, tetapi karena kita terlalu sibuk mencari manusia tanpa kekurangan.

Pasangan Bukan Barang Temuan, Melainkan Hubungan yang Dibangun

Kesalahan lain adalah menganggap bahwa pasangan ideal adalah seseorang yang sudah sempurna sejak pertama kali kita bertemu.

Padahal manusia tidak seperti rumah yang bisa kita lihat dari brosur.

Rumah dalam brosur selalu bersih, pencahayaan sempurna, tidak ada jemuran, tidak ada piring menumpuk, dan sofa tampak seperti tidak pernah diduduki.

Datanglah ke rumah aslinya.

Ada kabel berserakan.

Ada sandal di ruang tamu.

Ada cucian.

Ada suara anak.

Ada tetangga yang tiba-tiba meminjam sesuatu.

Begitu pula manusia.

Kita bertemu seseorang dalam kondisi terbaiknya. Setelah hubungan berjalan, barulah terlihat bahwa ia punya kebiasaan aneh, ketakutan tertentu, ego, luka masa lalu, dan cara marah yang kadang membuat kita ingin memanggil moderator.

Di situlah hubungan sebenarnya dimulai.

Cinta bukan menemukan manusia tanpa kekurangan.

Cinta adalah menemukan seseorang yang kekurangannya masih bisa kita pahami, dan kekurangan kita masih mau ia hadapi.

Ironi Dua Pencari Kesempurnaan

Kisah Anis Mansour sebenarnya menyimpan ironi yang sangat dalam.

Bayangkan seorang pria mencari perempuan ideal.

Pada saat yang sama, seorang perempuan mencari pria ideal.

Keduanya mungkin melewati satu sama lain setiap hari.

Si pria berkata:

“Dia tidak sesuai kriteriaku.”

Si perempuan berkata:

“Dia juga tidak sesuai kriteriaku.”

Lalu keduanya pulang ke rumah masing-masing dan menulis status:

“Sulit sekali menemukan orang yang tulus di zaman sekarang.”

Ini mungkin salah satu lelucon terbesar dalam sejarah umat manusia.

Kita mengeluh sulit menemukan orang yang cocok, sementara kita sendiri sibuk memastikan tidak ada seorang pun yang cukup cocok.

Barangkali yang Kita Cari Bukan Orang Ideal

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Apakah dia pasangan ideal?”

Melainkan:

“Apakah kami bisa menjadi pasangan yang baik?”

Perbedaannya sangat besar.

Pertanyaan pertama menempatkan pasangan sebagai objek penilaian.

Pertanyaan kedua mengajak kita melihat hubungan sebagai pekerjaan bersama.

Sebab pasangan yang baik bukan selalu dua orang yang sempurna.

Kadang-kadang ia adalah dua orang biasa yang sama-sama mau belajar meminta maaf.

Dua orang yang sama-sama belajar mendengar.

Dua orang yang tahu kapan harus bicara dan kapan sebaiknya diam.

Dua orang yang mampu berkata:

“Ya, kamu memang menyebalkan.”

Lalu lima menit kemudian:

“Tapi sini, makan dulu.”

Mungkin itulah bentuk cinta yang paling realistis.

Bukan cinta yang bebas dari kekurangan, tetapi cinta yang tidak menjadikan setiap kekurangan sebagai alasan untuk pergi.

Penutup: Jangan Sampai Terlalu Lama Mencari

Sindiran Anis Mansour akhirnya membawa kita kepada sebuah kesimpulan yang sederhana sekaligus menyakitkan: kesempurnaan bisa menjadi cara yang sangat elegan untuk menghindari kedekatan.

Kita terus mencari orang yang lebih baik, lebih cocok, lebih menarik, lebih mapan, lebih romantis, lebih dewasa, lebih ini dan lebih itu.

Sampai suatu hari kita sadar bahwa umur sudah bertambah, teman-teman sudah menikah, anak-anak mereka sudah sekolah, sementara kita masih memperbarui daftar kriteria.

“Yang ini hampir cocok.”

“Yang itu kurang sedikit.”

“Yang kemarin sebenarnya bagus, tapi hobinya aneh.”

Akhirnya kita mendapatkan pasangan paling sempurna:

kesendirian.

Ia selalu tersedia.

Tidak pernah membantah.

Tidak pernah membuat kita kecewa.

Tidak pernah mengambil selimut.

Tidak pernah lupa membalas pesan.

Dan yang paling menyedihkan:

ia juga tidak pernah memeluk kita.

Maka mungkin cinta bukan perkara menemukan seseorang yang sempurna.

Cinta adalah keberanian untuk berkata:

“Orang ini tidak sempurna. Saya juga tidak. Tetapi mungkin, dengan segala kekacauan kami, kami bisa belajar menjadi lebih baik bersama.”

Sebab kalau kita menunggu manusia sempurna, jangan-jangan satu-satunya pasangan yang memenuhi seluruh kriteria kita hanyalah patung.

Dan bahkan patung pun, kalau sudah lama tidak dibersihkan, tetap berdebu.


abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026