Konon ada dua jenis manusia yang paling sulit diajak ngobrol santai di warung kopi: matematikawan dan penyair. Yang satu kalau ditanya “apa kabar?” malah menjawab dengan grafik. Yang satu lagi kalau ditanya harga cabai malah menjawab dengan metafora hujan di hati ibu pertiwi. Tetapi pada tahun 1960, seorang pria Prancis bernama Raymond Queneau memutuskan melakukan sesuatu yang sangat berbahaya bagi kesehatan logika umat manusia: ia menikahkan matematika dengan puisi.
Hasilnya bukan anak biasa. Hasilnya adalah buku sepuluh
halaman yang secara teoritis lebih panjang daripada umur spesies manusia.
Judulnya Cent mille milliards de poèmes—Seratus
Ribu Miliar Puisi. Nama yang terdengar seperti jumlah utang negara kecil
atau jumlah chat keluarga yang belum dibaca selama Ramadan. Namun jangan
tertipu: secara fisik, bukunya kecil. Tidak tebal. Tidak berat. Bahkan mungkin
bisa diselipkan di rak sebelah buku resep ayam kecap. Tetapi secara konseptual,
buku ini seperti lubang hitam sastra: kecil di luar, tak berujung di dalam.
Bayangkan seseorang datang ke toko buku dan berkata:
“Mas, saya mau beli buku yang tidak akan selesai saya baca
sampai matahari mati.”
Keajaiban Queneau dimulai dari ide sederhana namun agak
sinting. Ia menulis sepuluh soneta—puisi klasik empat belas baris—dengan pola
rima dan ritme yang sama. Lalu setiap baris dipotong menjadi strip terpisah
sehingga pembaca bisa mencampur-adukkan baris pertama dari puisi A dengan baris
kedua dari puisi F, lalu baris ketiga dari puisi J, dan seterusnya.
Jadi membaca buku ini terasa seperti merakit nasi goreng
prasmanan sastra.
“Baris pertama romantis, tambahkan sedikit absurditas di
baris ketiga, lalu tutup dengan kesedihan eksistensial di baris terakhir.”
Dan boom—lahirlah puisi baru yang mungkin belum pernah
dibaca siapa pun sejak dinosaurus punah.
Secara matematis, kombinasi yang mungkin adalah:
10^{14}
Seratus ribu miliar puisi.
Angka yang begitu besar sampai otak manusia otomatis berubah
menjadi bubur ketika mencoba membayangkannya. Itu seperti mencoba menghitung
semua butir nasi di hajatan satu galaksi.
Queneau bahkan menghitung bahwa jika seseorang membaca semua
kemungkinan puisi itu satu per satu, manusia tersebut akan membutuhkan sekitar
dua ratus juta tahun. Dua ratus juta tahun!
Sebagai perbandingan:
- Dinasti
besar runtuh dalam ratusan tahun.
- Peradaban
naik turun dalam ribuan tahun.
- Grup
WhatsApp keluarga sudah chaos dalam tiga hari.
Tetapi buku Queneau masih belum selesai dibaca.
Di sinilah kita mulai sadar bahwa Queneau sebenarnya bukan
sedang membuat buku. Ia sedang membuat mesin kemungkinan. Semacam ATM puisi
yang tidak mengeluarkan uang, tetapi mengeluarkan kombinasi makna.
Dan lucunya, semua ini dilakukan pada tahun 1960—ketika
komputer masih sebesar lemari es dan internet bahkan belum lahir. Queneau
seperti tukang bakso yang diam-diam ternyata sudah menemukan konsep aplikasi
pesan antar makanan sebelum smartphone ada.
Hari ini kita hidup di zaman AI generatif. Mesin dapat
menulis puisi, esai, bahkan surat putus cinta dengan efisiensi yang mengerikan.
Tetapi Queneau sudah lebih dulu memahami rahasia besarnya: kreativitas sering
kali bukan menciptakan dari kehampaan, melainkan mengombinasikan unsur-unsur
lama dengan cara baru.
Bedanya, AI modern bekerja dengan miliaran parameter dan
jaringan saraf. Queneau bekerja dengan gunting, kertas, dan mungkin kopi yang
terlalu kuat.
Ia seperti kakek tua yang duduk santai di pojok ruangan
sambil berkata kepada dunia teknologi modern:
“Oh, kalian baru menemukan ini?”
Yang lebih menarik lagi adalah filsafat tersembunyi di balik
eksperimen ini. Kita sering mengira kebebasan berarti tanpa aturan. Tanpa
batas. Tanpa struktur. Tetapi Queneau justru membuktikan kebalikannya: semakin
cerdas batasannya, semakin liar kemungkinan yang muncul.
Ini seperti hidup manusia sendiri.
Kita lahir dengan tubuh terbatas, waktu terbatas, tenaga
terbatas, saldo rekening terbatas—tetapi justru dari keterbatasan itulah muncul
kreativitas. Orang kaya bisa bosan karena semua tersedia. Tetapi mahasiswa
akhir bisa menciptakan seribu resep mi instan dari satu telur dan dua cabai. Di
situlah peradaban bertahan.
Kelompok sastra Queneau, Oulipo, memahami satu hal penting:
aturan bukan selalu penjara. Kadang aturan adalah papan permainan. Tanpa papan
catur, raja dan pion hanya kayu tidak jelas nasibnya.
Begitu pula hidup manusia. Kita sering memusuhi batasan:
- ingin
hidup tanpa aturan,
- ingin
bekerja tanpa tekanan,
- ingin
cinta tanpa risiko,
- ingin
makan sepuasnya tanpa kolesterol.
Padahal justru karena ada batas, permainan menjadi menarik.
Puisi Queneau adalah bukti bahwa keterbatasan bisa
melahirkan keabadian. Hanya sepuluh halaman, tetapi cukup untuk membuat manusia
membaca selama dua ratus juta tahun. Itu seperti melihat tukang siomay membawa
termos kecil, lalu ternyata isinya samudra.
Lalu entah bagaimana, dari kombinasi yang tampaknya acak
itu, lahirlah sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya: diri kita.
Dan mungkin di situlah kejeniusan Queneau yang sebenarnya.
Ia tidak sedang berkata bahwa manusia bisa menciptakan puisi tanpa akhir. Ia
sedang berbisik bahwa kemungkinan dalam hidup selalu lebih besar daripada yang
sanggup kita baca sebelum ajal datang mengetuk pintu.
Meski, tentu saja, kalau semua puisi itu benar-benar
dicetak, kemungkinan besar rak bukunya tetap kalah penuh dibanding rak
screenshot meme di ponsel manusia modern.






