Rabu, 22 Juli 2026

Sekolah Tanpa Komite, Guru Tanpa Peta: Komedi Serius dari Ruang RUU

Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa mendidik anak membutuhkan satu kampung. Namun, dalam dunia regulasi, kadang muncul gagasan yang terdengar seperti, "Tidak usah satu kampung. Cukup satu meja rapat."

Begitulah kira-kira suasana ketika draf RUU Sisdiknas 2026 mulai beredar. Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) membacanya dengan wajah yang mula-mula tenang, lalu mengernyit, kemudian mencari kopi, dan akhirnya mengeluarkan daftar kritik yang panjangnya hampir menyaingi daftar tugas siswa menjelang ujian.

Membaca kritik itu rasanya seperti menyaksikan seseorang pulang dari pasar dengan membawa kantong belanja yang ternyata isinya tinggal struk pembayaran. Barang-barangnya entah ke mana.

Ketika Komite Sekolah Dianggap Terlalu Ramai

Salah satu sorotan terbesar adalah hilangnya Komite Sekolah atau POMG dari rancangan undang-undang.

Komite sekolah selama ini ibarat grup WhatsApp keluarga besar. Memang kadang ramai oleh pesan "Selamat pagi" bergambar bunga matahari, sesekali ada perdebatan soal uang kas, bahkan ada yang diam bertahun-tahun lalu tiba-tiba muncul saat membahas seragam. Tetapi justru di situlah denyut partisipasi hidup.

Bayangkan sebuah sekolah tanpa komite.

Orang tua hanya menerima kabar ketika rapor dibagikan atau ketika anak pulang membawa surat yang diawali kalimat legendaris:

"Mohon kehadiran orang tua."

Padahal kehadiran orang tua seharusnya bukan hanya ketika anak membuat ulah, tetapi juga ketika sekolah sedang menentukan arah kebijakan.

Menghapus komite sekolah karena dianggap tidak sempurna sama seperti membuang payung karena pernah bocor. Solusinya mungkin bukan membuang payung, melainkan memperbaiki kainnya.

Dewan Pendidikan: Wasit yang Dipensiunkan Sebelum Pertandingan

Lebih menarik lagi adalah hilangnya Dewan Pendidikan.

Dewan Pendidikan itu seperti wasit dalam pertandingan sepak bola. Tidak selalu disukai semua pihak, tetapi semua orang baru sadar pentingnya wasit ketika pertandingan berubah menjadi adu dorong.

Tanpa wasit, setiap pemain merasa dirinya benar.

Kiper merasa golnya sah.

Penyerang merasa semua pelanggaran layak diabaikan.

Penonton ikut meniup peluit yang sebenarnya tidak mereka miliki.

Begitulah nasib pendidikan jika semua pengawasan dipersempit. Semua tampak rapi di atas kertas, tetapi belum tentu sehat di lapangan.

Demokrasi memang sering berisik. Ada rapat, ada kritik, ada usulan, ada yang setuju, ada yang mengeluh karena rapatnya terlalu lama.

Namun alternatifnya bukanlah kesunyian.

Kesunyian dalam tata kelola sering kali lebih menakutkan daripada kebisingan diskusi.

Guru Harus Lahir, Tapi Rumah Bersalinnya Hilang

Bagian yang paling filosofis justru menyangkut LPTK.

RUU masih menghendaki guru berasal dari pendidikan keguruan, tetapi pengaturan tentang lembaga pencetak guru justru menghilang.

Logikanya mengingatkan pada seseorang yang berkata,

"Saya ingin selalu makan roti hangat."

Lalu lima menit kemudian ia menutup semua toko roti.

Tentu roti masih mungkin ada. Barangkali dibuat di tempat lain. Barangkali diatur lewat aturan lain. Namun kesannya tetap unik: hasilnya dipertahankan, prosesnya disamarkan.

Guru bukan produk yang muncul seperti mi instan setelah disiram air panas.

Ia dibentuk melalui latihan, praktik, refleksi, bahkan kadang melalui pengalaman salah mengajar yang kemudian menjadi pelajaran hidup.

Mengurangi perhatian terhadap lembaga pencetak guru sama seperti berharap panen melimpah sambil lupa menyiram sawah.

Ikatan Dinas dan Romantika Daerah Terpencil

Lalu ada soal ikatan dinas.

Indonesia memiliki ribuan daerah yang jauh dari pusat kota. Sebagian bisa ditempuh dengan pesawat, kapal, mobil, motor, lalu ditambah berjalan kaki sambil bertanya kepada kambing yang sedang merumput.

Menempatkan guru terbaik ke daerah seperti itu memang bukan perkara mudah.

Ikatan dinas selama ini menjadi salah satu cara agar negara bisa berkata,

"Mari mengabdi. Setelah belajar dengan biaya negara, sekarang saatnya membantu daerah yang membutuhkan."

Kalau mekanisme ini dihapus tanpa alternatif yang jelas, situasinya mirip membuka lowongan pekerjaan dengan syarat:

  • Bersedia tinggal jauh dari kota.
  • Internet kadang muncul kadang menghilang.
  • Jalan menuju lokasi lebih sering muncul di cerita petualangan daripada di aplikasi peta.
  • Semangat mengabdi wajib tinggi.

Lalu berharap pelamar datang berbondong-bondong.

Optimisme memang penting.

Tetapi optimisme juga sesekali perlu ditemani logistik.

Pendidikan Tidak Bisa Diatur Seperti Merapikan Lemari

Di sisi lain, kritik P2G tentu bukan kitab suci yang bebas dari pertanyaan.

Boleh jadi pemerintah memiliki alasan mengapa beberapa lembaga dianggap perlu disederhanakan.

Mungkin ada komite sekolah yang hanya aktif saat pemilihan ketua.

Mungkin ada dewan pendidikan yang lebih sering rapat daripada menghasilkan rekomendasi.

Mungkin ada tumpang tindih kewenangan yang memang perlu dirapikan.

Semua kemungkinan itu layak dibahas.

Masalahnya, pendidikan bukan lemari pakaian.

Kalau ada baju yang kusut, kita menyetrikanya.

Bukan membuang seluruh lemarinya.

RUU dan Seni Mendengarkan

Setiap rancangan undang-undang sebenarnya hanyalah sebuah draf—kata yang secara halus berarti, "Masih boleh diperbaiki, asal semua mau mendengarkan."

Yang sering menjadi persoalan bukanlah ada atau tidaknya kritik.

Melainkan apakah kritik diperlakukan sebagai gangguan, atau sebagai vitamin.

Vitamin memang rasanya kadang pahit.

Tetapi justru karena pahit itulah ia berguna.

Kalau semua yang didengar hanya tepuk tangan, jangan heran bila suatu hari yang lahir bukan kebijakan terbaik, melainkan kebijakan yang paling sedikit diperdebatkan.

Padahal sejarah pendidikan menunjukkan bahwa sekolah terbaik bukanlah sekolah yang tidak pernah menerima masukan.

Melainkan sekolah yang tahu bahwa belajar bukan hanya tugas murid.

Pemerintah pun belajar.

DPR belajar.

Guru belajar.

Orang tua belajar.

Bahkan undang-undang pun, sebelum disahkan, seharusnya diberi kesempatan untuk "belajar" dari kritik.

Karena pada akhirnya, pendidikan adalah satu-satunya tempat di mana menghapus kesempatan berdialog justru bisa menjadi pelajaran yang paling mahal.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Selasa, 21 Juli 2026

# Membangun Wall Street Rasa Nusantara: Ketika Indonesia Memasang Papan "Buka Cabang Dunia"

Ada dua jenis manusia di dunia. Yang pertama bercita-cita punya tabungan darurat. Yang kedua bercita-cita punya pusat finansial internasional. Indonesia, tampaknya, memilih menjadi golongan kedua.

Dengan disahkannya Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (UU PFII), negeri ini sedang berkata kepada dunia, "Silakan mampir. Kopinya hangat, regulasinya sedang dipoles, dan semoga investasinya betah."

Ambisinya memang tidak kecil. Kalau biasanya orang bermimpi punya rumah dua lantai, Indonesia langsung bermimpi punya "alamat tetap" di peta keuangan global. Ini ibarat seorang pemain futsal kampung yang mendadak memasang target ikut Liga Champions. Terdengar nekat? Tentu. Tapi bukankah semua pencapaian besar memang selalu diawali oleh keberanian yang sedikit membuat tetangga mengernyitkan dahi?

UU PFII dibangun di atas tiga tiang utama: modal, inovasi, dan daya saing. Bahasa sederhananya, Indonesia ingin menjadi rumah yang nyaman bagi uang, ide, dan orang-orang pintar. Sebab uang, sama seperti kucing, hanya betah tinggal di tempat yang terasa aman. Investor pun demikian. Mereka tidak hanya melihat angka keuntungan, tetapi juga bertanya, "Kalau ada masalah nanti, siapa yang menyelesaikan? Pengadilannya jelas, kan?"

Karena itu dibentuklah berbagai mekanisme hukum, arbitrase, dan tata kelola yang lebih modern. Dunia keuangan ternyata mirip hubungan asmara. Yang dicari bukan hanya rayuan manis, tetapi juga kepastian. Tidak ada investor yang ingin kisah cintanya dengan sebuah negara berakhir dengan status, "Hubungan ini rumit."

Target pertumbuhan ekonomi delapan persen pun terdengar gagah. Angka ini seperti target seseorang yang baru membeli sepatu lari lalu langsung mendaftar maraton. Sepatunya memang baru, semangatnya menyala, tetapi tetap saja latihan sehari-hari yang menentukan apakah garis finis bisa dicapai atau hanya menjadi latar belakang foto swafoto.

Tentu saja, setiap pesta optimisme selalu ditemani tamu bernama "kehati-hatian". Sejumlah pengamat mengingatkan agar pusat finansial ini tidak berubah menjadi tempat persembunyian uang yang lebih lihai daripada cicak bersembunyi di balik kalender. Jangan sampai fasilitas kelas dunia justru dimanfaatkan untuk menghindari pajak atau mempermainkan aturan. Sebab pusat finansial yang hebat bukanlah tempat uang bisa menghilang dengan elegan, melainkan tempat uang bekerja dengan jujur.

Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai. Membuat undang-undang memang penting, tetapi menjaganya agar tetap hidup jauh lebih sulit. Membuat akuarium mewah tidak otomatis membuat ikan bahagia jika airnya keruh. Begitu pula pusat finansial internasional. Gedung-gedung megah, regulasi modern, dan istilah-istilah berbahasa Inggris tidak akan banyak berarti bila integritas hanya dipajang di spanduk peresmian.

Sesungguhnya, kepercayaan adalah mata uang paling mahal dalam dunia keuangan. Ia tidak bisa dicetak oleh mesin, tidak bisa diimpor lewat kapal, dan tidak bisa dipinjam dari negara tetangga. Ia hanya bisa dibangun sedikit demi sedikit melalui konsistensi, transparansi, dan keberanian menegakkan aturan, bahkan ketika aturan itu menyulitkan orang-orang yang paling berkuasa.

Mungkin suatu hari nanti Indonesia benar-benar menjadi salah satu pusat finansial dunia. Para analis global akan menyebut Jakarta dengan nada kagum, para investor berdatangan, dan grafik ekonomi menari ke atas seperti layang-layang yang mendapat angin sore.

Namun, sampai hari itu tiba, ada satu nasihat sederhana yang layak diingat: membangun pusat finansial bukan sekadar mengundang uang datang. Yang lebih penting adalah memastikan uang itu pulang membawa cerita baik, bukan membawa pengacara.

Karena pada akhirnya, kemajuan ekonomi bukan diukur dari seberapa banyak modal yang masuk, melainkan dari seberapa banyak rakyat yang ikut merasakan manfaatnya. Jika itu berhasil, barulah Indonesia bukan hanya menjadi pusat finansial internasional, tetapi juga pusat harapan bahwa ambisi besar masih bisa berjalan beriringan dengan keadilan.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Takdir atau Kebiasaan? Jangan-Jangan Alam Bawah Sadar Kita Lagi Iseng

Ada satu kebiasaan manusia yang tampaknya sudah diwariskan sejak zaman batu: kalau berhasil, itu karena kerja keras. Kalau gagal, itu karena takdir. Kalau nilai ujian jelek, soal terlalu sulit. Kalau dompet tipis di akhir bulan, ekonomi sedang lesu. Kalau mantan menikah duluan, ya... mungkin semesta sedang bercanda.

Takdir, rupanya, telah menjadi pegawai serbaguna. Apa pun yang sulit dijelaskan, langsung diserahkan kepadanya. Ia bekerja tanpa cuti, tanpa THR, dan tanpa pernah diberi kesempatan membela diri.

Di sinilah Carl Gustav Jung datang membawa kabar yang kurang menyenangkan bagi para penggemar kambing hitam metafisik. Ia berkata, "Sampai kamu menjadikan yang tidak sadar menjadi sadar, ia akan mengarahkan hidupmu, dan kamu akan menyebutnya takdir."

Kalimat itu terdengar elegan. Namun, jika diterjemahkan ke bahasa warung kopi, kira-kira bunyinya begini: "Jangan buru-buru menyalahkan semesta. Bisa jadi yang sedang mengerjai hidupmu adalah dirimu sendiri, hanya saja kamu belum sadar."

Itulah ironi manusia. Kita begitu pandai mengamati kesalahan pemerintah, tetangga, pasangan, algoritma media sosial, bahkan cuaca. Tetapi ketika diminta mengamati isi kepala sendiri selama lima menit, kita mendadak sibuk mencari charger.

Padahal, menurut Jung, di dalam diri setiap orang ada penghuni lama yang diam-diam mengatur lalu lintas kehidupan. Namanya alam bawah sadar. Ia bekerja seperti operator di balik panggung teater. Penonton sibuk memperhatikan aktor di depan, sementara seluruh lampu, musik, dan efek dramatis dikendalikan oleh seseorang yang bahkan tidak pernah muncul menerima tepuk tangan.

Celakanya, operator ini bukan pegawai baru. Ia sudah bekerja sejak kita kecil. Ia menyimpan semua pengalaman memalukan, luka batin, rasa takut, rasa minder, hingga kalimat-kalimat yang pernah kita dengar seperti, "Kamu memang tidak berbakat," atau "Jangan bermimpi terlalu tinggi."

Masalahnya, alam bawah sadar tidak mengenal konsep pensiun. Ia terus menjalankan program lama, bahkan ketika pemilik tubuhnya sudah berganti pekerjaan, menikah, punya anak, dan rajin membayar cicilan.

Akibatnya, banyak orang menjalani hidup seperti aplikasi yang tidak pernah diperbarui. Tampilan luarnya modern, telepon genggamnya keluaran terbaru, tetapi sistem operasinya masih menggunakan versi "Aku Tidak Layak Bahagia 1.0."

Lalu kita heran mengapa setiap hubungan selalu berakhir dengan drama yang sama.

Mengapa setiap kali ada kesempatan bagus, kita justru mundur perlahan seperti kepiting yang sedang sopan.

Mengapa setiap kali ingin berubah, tiba-tiba muncul suara dari dalam kepala yang berkata, "Nanti saja Senin."

Padahal hari itu sudah Senin.

Bayangan (shadow), kata Jung, adalah gudang seluruh sisi diri yang kita sembunyikan. Ia seperti gudang belakang rumah. Awalnya kita hanya berniat menaruh satu kardus. Lama-lama seluruh barang yang tidak ingin dilihat dilempar ke sana.

Masalahnya, gudang itu tidak pernah benar-benar tertutup. Sesekali isinya keluar sendiri.

Kadang berupa kemarahan yang meledak hanya karena sendok hilang.

Kadang berupa kecemburuan kepada orang yang bahkan tidak tahu kita ada.

Kadang berupa komentar pedas di media sosial yang ditulis sambil mengaku, "Ini hanya kritik yang membangun."

Padahal yang dibangun hanyalah jumlah notifikasi.

Jung menawarkan solusi yang terdengar sederhana, tetapi praktiknya jauh lebih berat daripada diet setelah Lebaran: sadari dirimu sendiri.

Ini bukan sekadar bercermin sambil berkata, "Aku hebat."

Melainkan duduk diam dan bertanya dengan jujur, "Mengapa aku selalu bereaksi seperti ini?"

Pertanyaan itu ternyata lebih menegangkan daripada melihat saldo rekening sehari sebelum tanggal gajian.

Sebab jawaban yang muncul sering kali tidak menyenangkan.

Bisa jadi selama ini kita marah bukan karena orang lain kasar, tetapi karena ego kita terlalu mudah tersinggung.

Bisa jadi kita takut gagal bukan karena dunia kejam, melainkan karena sejak lama kita percaya bahwa nilai diri bergantung pada pujian orang lain.

Dan bisa jadi kita menyebut semuanya sebagai takdir karena lebih nyaman daripada mengakui bahwa ada pekerjaan rumah psikologis yang belum pernah kita sentuh.

Namun justru di situlah kabar baiknya.

Kalau masalahnya ada di dalam diri, berarti pintu keluarnya juga ada di sana.

Kesadaran memang tidak menghapus semua persoalan hidup. Tagihan listrik tetap datang. Macet tetap ada. Harga cabai tetap memiliki kehidupan spiritualnya sendiri yang sulit ditebak.

Tetapi kesadaran membuat kita berhenti menjadi boneka yang talinya ditarik oleh luka masa lalu.

Kita mulai memilih, bukan sekadar bereaksi.

Mulai memahami, bukan sekadar menyalahkan.

Mulai bertumbuh, bukan sekadar mengulang.

Barangkali inilah makna terdalam dari pesan Jung. Takdir bukan selalu sesuatu yang jatuh dari langit. Kadang ia hanyalah kebiasaan lama yang belum pernah diperiksa.

Dan lucunya, manusia rela membaca ramalan zodiak sepanjang halaman, tetapi enggan membaca isi hatinya sendiri yang bahkan tidak sampai dua puluh menit.

Padahal, kalau benar ingin mengetahui masa depan, mungkin kita tidak perlu bertanya kepada bintang-bintang.

Cukup beranikan diri menyalakan lampu di ruang paling gelap dalam diri sendiri.

Siapa tahu, yang selama ini kita sebut "takdir" ternyata hanyalah alam bawah sadar yang sudah terlalu lama menjadi sopir, sementara kita asyik tidur di kursi penumpang.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Senin, 20 Juli 2026

Ketika Dunia Sibuk Berisik, Mereka Memilih Pulang

Sebelum ramai-ramai menyimpulkan bahwa semua orang pendiam itu sedang galau, sedang menyusun puisi, atau diam-diam menghafal isi perpustakaan nasional, ada baiknya kita mengakui satu hal: dunia memang terlalu berisik. Bukan hanya suara klakson atau tetangga yang sedang renovasi rumah untuk kesembilan kalinya. Yang lebih bising adalah notifikasi. Ponsel sekarang bunyinya lebih sering daripada hati yang dipanggil mantan. Bahkan kadang-kadang, seseorang belum sempat selesai berpikir, sudah diminta memberi reaksi, komentar, like, subscribe, dan kalau bisa sambil tersenyum.

Di tengah konser kebisingan itu, ada sekelompok manusia yang tampak seperti spesies langka. Mereka tidak mengejar sorotan. Mereka juga tidak punya hobi mengumumkan setiap aktivitas dengan kalimat, "Morning vibes!" hanya karena berhasil menyeduh kopi tanpa membakar dapur. Mereka hidup tenang, pulang cepat, dan menganggap rumah bukan sekadar bangunan, melainkan markas besar untuk memulihkan kewarasan setelah bertemu dunia yang percaya bahwa rapat daring pukul delapan malam adalah bentuk kasih sayang perusahaan.

Lucunya, masyarakat sering bingung menghadapi orang-orang seperti ini.

"Dia kok pendiam ya? Marah?"

Padahal belum tentu. Bisa jadi ia hanya sedang menikmati kemewahan yang sekarang semakin mahal: tidak berbicara jika memang tidak ada yang perlu dibicarakan. Bayangkan betapa revolusionernya tindakan itu di zaman ketika orang bisa membuat video berdurasi tiga menit hanya untuk mengabarkan bahwa mereka tidak punya ide membuat video.

Mereka yang mencintai kesunyian sering dianggap misterius. Padahal kenyataannya lebih sederhana. Mereka hanya tidak merasa setiap pikiran harus segera dipublikasikan. Mereka memperlakukan opini seperti teh hangat: diseduh dulu, didiamkan sebentar, baru diminum. Sementara sebagian dari kita memperlakukan opini seperti mi instan: air panas sedikit, langsung siap disajikan ke seluruh internet.

Persahabatan mereka pun berbeda. Mereka tidak punya lima ratus teman yang semuanya mengucapkan "Happy Birthday" karena diingatkan algoritma. Mereka mungkin hanya punya dua sahabat. Tetapi dua orang itu tahu letak rumahnya, tahu kapan ia benar-benar sedih, dan tahu bahwa kalimat "nggak apa-apa" yang diucapkan sambil memandang langit biasanya berarti "tolong jangan pulang dulu."

Di dunia modern, memiliki sedikit teman terdengar seperti kegagalan pemasaran. Padahal kualitas hubungan tidak pernah dihitung seperti jumlah pengikut media sosial. Seribu kenalan belum tentu bisa dimintai tolong saat motor mogok. Kadang satu sahabat lebih berguna daripada dua ribu emoji jempol.

Lalu ada kebiasaan yang sering membuat banyak orang cemas: ponsel mereka selalu dalam mode senyap.

Sebagian orang melihat itu sebagai tanda kiamat kecil.

"Kenapa WhatsApp-ku belum dibalas? Sudah lima belas menit!"

Lima belas menit sekarang memang terasa seperti lima belas tahun geologis. Kita hidup di masa ketika balasan yang terlambat dianggap penghinaan diplomatik. Seolah-olah setiap pesan memiliki status darurat nasional.

Padahal mungkin ia sedang membaca buku. Atau sedang menikmati hujan. Atau sedang menatap langit-langit rumah sambil memikirkan pertanyaan besar umat manusia: mengapa tutup kotak makanan selalu hilang, padahal kotaknya tetap ada?

Mode senyap bukan berarti hidupnya sunyi. Justru itu cara sederhana mengatakan kepada dunia, "Maaf, hari ini saya ingin mendengar suara pikiran saya sendiri."

Mereka juga sering membuka media sosial tanpa meninggalkan jejak. Mereka hadir seperti penonton bioskop yang membeli tiket, menikmati film, lalu pulang tanpa berdiri memberi ulasan sepanjang empat puluh utas.

Mereka membaca.

Mengamati.

Lalu menghela napas ketika melihat orang berdebat tiga hari penuh tentang warna baju atau merek mi instan.

Mereka sadar ada perdebatan yang lebih baik diselesaikan dengan secangkir teh daripada seratus komentar.

Soal tempat favorit, mereka menyukai laut, pegunungan, gurun, atau musim dingin. Intinya, lokasi yang peluang bertemu orang berteriak "Konten dulu, guys!" relatif kecil.

Mungkin itu sebabnya mereka betah memandangi ombak selama satu jam. Ombak tidak pernah meminta validasi. Gunung tidak pernah mengunggah foto dirinya dengan tagar #FeelingBlessed. Padang pasir tidak pernah membuat video motivasi tentang bagaimana menjadi bukit pasir terbaik versi dirimu.

Alam mengajarkan sesuatu yang sering dilupakan manusia modern: sesuatu tidak harus ribut agar menjadi agung.

Yang paling menarik justru hati mereka.

Mereka sering dikira rapuh karena lembut. Ini kekeliruan klasik. Kapas memang lembut, tetapi coba gunakan bantal dari batu selama seminggu, baru kita tahu bahwa kelembutan bukan kelemahan, melainkan bentuk kecerdasan.

Orang yang memilih tidak melukai orang lain bukan berarti tidak mampu membalas. Ia hanya tahu bahwa dunia sudah cukup penuh dengan orang yang menjadikan komentar pedas sebagai olahraga pagi.

Ada pula anggapan bahwa orang pendiam tidak punya cerita.

Padahal justru sebaliknya.

Mereka seperti perpustakaan yang lampunya redup. Dari luar tampak biasa saja. Namun begitu kita masuk dengan niat membaca, ternyata rak-raknya penuh kisah, renungan, humor, dan pengalaman yang diam-diam matang karena terlalu lama direbus oleh waktu.

Masalahnya, banyak orang ingin membuka perpustakaan itu dengan cara mendobrak pintunya.

"Kenapa sih kamu diam?"

Pertanyaan itu kurang lebih sama seperti berdiri di depan akuarium lalu berteriak kepada ikan, "Kenapa kamu tidak memanjat pohon?"

Tidak semua kehidupan berkembang dalam kebisingan. Ada bunga yang mekar justru saat malam. Ada embun yang turun ketika dunia tertidur. Ada gagasan terbaik yang lahir ketika notifikasi akhirnya menyerah.

Barangkali itulah kritik paling halus terhadap zaman kita. Kita hidup dalam budaya pertunjukan, seolah nilai seseorang ditentukan oleh seberapa sering ia muncul di layar. Padahal matahari sendiri bekerja tanpa pernah membuat status, "Selamat pagi, semoga sinarku bermanfaat."

Ironisnya, semakin banyak orang berbicara, semakin mahal harga seseorang yang benar-benar mendengarkan.

Mungkin karena itu, jika suatu hari Anda bertemu seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada berbicara, yang lebih suka duduk di sudut ruangan daripada menjadi pusat perhatian, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ia antisosial atau sedang patah hati.

Bisa jadi ia hanya sedang menjalankan profesi paling langka di abad ini: manusia yang tidak merasa wajib mengomentari segala hal.

Dan kalau Anda cukup beruntung menjadi temannya, jangan heran bila percakapannya tidak dimulai dengan, "Eh, tahu nggak gosip terbaru?"

Melainkan dengan kalimat sederhana yang jauh lebih mewah:

"Mari duduk sebentar. Tidak apa-apa kalau kita tidak mengatakan apa-apa."

Sebab pada akhirnya, dunia memang dipenuhi orang-orang yang pandai berbicara. Namun peradaban diam-diam diselamatkan oleh mereka yang masih sanggup mendengar. Di tengah kebisingan yang berlomba menjadi viral, jiwa-jiwa yang tenang mengingatkan kita bahwa keheningan bukanlah kekosongan. Ia adalah ruang istirahat bagi pikiran, ruang bernapas bagi hati, dan sesekali... tempat terbaik untuk menghindari grup WhatsApp yang sedang memperdebatkan hal-hal yang bahkan ayam tetangga pun tidak peduli.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak Ada Tombol Pause: Tragedi Orang Dewasa yang Tetap Harus Bayar Tagihan

Ada satu momen sakral yang dialami hampir semua orang dewasa. Bukan saat wisuda. Bukan ketika menikah. Apalagi ketika pertama kali berhasil memasak mi instan tanpa gosong.

Momen sakral itu adalah ketika kita sadar bahwa hidup ternyata tidak memiliki tombol pause.

Game punya pause. Film di Netflix bisa dihentikan. Lagu di Spotify bisa di-skip. Bahkan pertandingan sepak bola bisa dihentikan karena hujan atau lampu stadion mati. Tetapi kehidupan? Maaf, hidup memakai sistem layanan 24 jam. Tidak ada libur nasional. Tidak ada cuti emosional. Yang ada hanya notifikasi bertubi-tubi.

"Hati sedang remuk?"

Silakan, tapi rapat dimulai lima menit lagi.

"Baru patah hati?"

Silakan, tapi cicilan jatuh tempo besok.

"Lagi kehilangan semangat hidup?"

Silakan, tapi gas elpiji tetap harus dibeli.

Konon, ada sebuah kutipan yang sering beredar di media sosial dan dikaitkan dengan Ernest Hemingway: pelajaran tersulit orang dewasa adalah terus berjalan meski di dalam sudah hancur berkeping-keping.

Masalahnya, kemungkinan besar Hemingway sendiri sedang geleng-geleng kepala dari alam sana.

Bayangkan beliau sedang menikmati ketenangan abadi, lalu tiba-tiba diberi tahu, "Pak Ernest, Anda baru saja menulis kutipan tentang burnout, overthinking, dan orang yang tetap masuk kerja meski jiwanya sudah logout."

Beliau mungkin menjawab, "Saya menulis novel, bukan status WhatsApp."

Fenomena ini sebenarnya cukup lucu. Media sosial memiliki bakat luar biasa dalam menjodohkan siapa pun dengan kalimat apa pun. Besok-besok jangan kaget kalau muncul kutipan, "Jangan lupa minum air putih delapan gelas sehari." — Socrates.

Atau, "Kalau diskon 70 persen, beli dua." — Ibnu Khaldun.

Nama besar ternyata berfungsi seperti penyedap rasa. Kalimat biasa menjadi tampak filosofis hanya karena ditempeli nama tokoh terkenal. Seolah-olah kebijaksanaan tidak sah kalau tidak memakai jas sastra Eropa.

Namun, anehnya, walaupun mungkin bukan ditulis Hemingway, isi kutipan itu tetap terasa benar.

Di situlah ironi bekerja.

Sering kali yang palsu justru mengungkapkan sesuatu yang asli.

Orang dewasa memang memiliki profesi sampingan yang tidak pernah dicantumkan di kartu nama: aktor.

Pagi hari ia tersenyum kepada tetangga.

Siang hari memimpin rapat.

Sore hari mengantar anak les.

Malam hari memandangi langit-langit kamar sambil bertanya, "Sebenarnya aku sedang menjalani hidup atau sedang menjadi staf administrasi bagi semesta?"

Hebatnya lagi, semua itu dilakukan sambil berkata, "Alhamdulillah, baik."

Kalimat "baik" dalam kamus orang dewasa memiliki rentang makna yang sangat luas. Kadang berarti benar-benar baik. Kadang berarti baru saja kehilangan arah hidup. Kadang berarti sedang menghitung apakah saldo rekening cukup sampai akhir bulan.

Sungguh kata yang bekerja lembur.

Yang lebih lucu lagi adalah dunia sama sekali tidak peduli.

Matahari tetap terbit tanpa bertanya apakah kita sudah siap menghadapi hari.

Alarm tetap berbunyi walaupun semalam kita baru tidur dua jam.

Email kantor tetap masuk walaupun hati sedang ingin mengajukan pensiun dini dari kehidupan sosial.

Tagihan listrik bahkan tidak pernah berkata, "Kami memahami kondisi emosional Anda."

Tidak.

Ia hanya berkata, "Jatuh tempo."

Di sinilah letak kejeniusan kehidupan. Ia tidak kejam karena membenci kita. Ia hanya terlalu sibuk berputar.

Seperti kipas angin. Mau kita sedang galau, bahagia, atau baru sadar harga cabai naik lagi, kipas tetap berputar dengan penuh dedikasi.

Barangkali inilah yang disebut filsuf sebagai absurditas.

Camus mengajak manusia membayangkan Sisyphus terus mendorong batu ke atas bukit.

Kalau Camus hidup sekarang, mungkin ia akan memperbarui ilustrasinya.

Bayangkan seorang pegawai yang setiap Senin membuka laptop, menutup spreadsheet, membuka spreadsheet lagi, menghadiri rapat yang sebenarnya bisa menjadi email, lalu pulang dengan tekad untuk tidur cepat, tetapi malah menggulir media sosial sampai pukul satu dini hari.

Itulah Sisyphus versi Wi-Fi.

Media sosial sendiri mempunyai bakat istimewa mengubah penderitaan menjadi konten.

Seseorang menulis bahwa hidupnya berantakan.

Sepuluh ribu orang menyukai.

Seribu orang membagikan.

Lima ratus orang berkomentar, "Aku banget."

Seratus orang menyimpan unggahan itu agar bisa dibaca lagi saat overthinking berikutnya.

Kesedihan ternyata juga memiliki algoritma.

Semakin universal lukanya, semakin besar peluang masuk beranda.

Meski demikian, ada sesuatu yang indah di balik semua kekonyolan itu.

Kita ternyata saling menemukan lewat cerita-cerita retak.

Bukan karena hidup kita sempurna, melainkan karena kita sama-sama pernah merasa ingin menyerah tetapi tetap bangun pagi untuk membeli sabun cuci piring.

Heroisme orang dewasa ternyata tidak selalu berupa menyelamatkan dunia.

Kadang heroisme itu hanya berupa tetap mencuci pakaian meski suasana hati sedang mendung.

Tetap menyapa orang lain dengan ramah ketika isi kepala sedang seperti grup WhatsApp keluarga yang tidak pernah berhenti berbunyi.

Tetap tertawa meski dompet mengeluarkan suara jangkrik.

Pada akhirnya, mungkin pelajaran terbesar menjadi dewasa bukanlah belajar menjadi kuat.

Melainkan belajar bahwa kita boleh rapuh tanpa harus berhenti hidup.

Kita boleh lelah tanpa merasa gagal.

Dan kita boleh sesekali menangis, asalkan setelah itu masih ingat mematikan kompor.

Sebab, berbeda dengan novel, kehidupan tidak pernah menunggu bab berikutnya selesai ditulis.

Ia terus berjalan.

Dan kita, dengan segala retak, kusut, kantung mata, daftar belanja, cicilan, serta humor yang tersisa, tetap ikut berjalan di belakangnya.

Kalau beruntung, sambil tertawa.

Kalau tidak beruntung...

Ya, setidaknya sambil membawa payung. Karena hidup, seperti grup WhatsApp RT, selalu punya kejutan yang datang tanpa permisi.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Mengalahkan Singa, Dikalahkan Wi-Fi: Belajar Rendah Hati dari Nyamuk Karya Leo Tolstoy

Ada sebuah pertanyaan yang jarang muncul dalam seminar motivasi.

"Kalau Anda berhasil mengalahkan singa, siapa lawan berikutnya?"

Sebagian orang mungkin menjawab, "Harimau."

Yang lain menjawab, "Naga."

Tolstoy menjawab dengan tenang, "Laba-laba."

Di sinilah letak kejeniusan seorang penulis Rusia. Ketika penulis lain sibuk membuat tokohnya menaklukkan kerajaan, Tolstoy justru membuat seekor nyamuk memenangkan duel terbesar dalam hidupnya, lalu langsung tersangkut di jaring laba-laba seperti sandal jepit yang nyangkut di ranting bambu. Tamat. Tidak ada parade kemenangan. Tidak ada podcast bertema How I Defeated the Lion in 7 Easy Steps. Yang ada hanyalah pelajaran bahwa hidup memiliki selera humor yang kadang lebih gelap daripada kopi tanpa gula.

Fabel "Nyamuk dan Singa" adalah pengingat bahwa alam semesta ternyata memiliki departemen komedi sendiri.


Nyamuk dalam cerita ini sungguh luar biasa percaya diri. Ia mendatangi singa tanpa membuat proposal kerja sama, tanpa meminta perlindungan hukum, bahkan tanpa mengenakan helm proyek. Ia hanya membawa senjata yang selama ini paling dibenci umat manusia: dengungan.

Bunyi "ngiiiiing..." yang biasanya cukup membuat seseorang menyalakan raket listrik ternyata mampu membuat raja hutan kehilangan martabatnya.

Singa mengamuk.

Ia mencakar.

Ia menampar.

Ia menggigit.

Sayangnya, sasaran serangannya lebih sering wajahnya sendiri.

Adegan ini sebenarnya sangat akrab dengan kehidupan modern. Betapa sering kita melihat seseorang begitu sibuk melawan kritik kecil hingga justru merusak citranya sendiri. Komentar satu akun anonim dibalas dengan konferensi pers. Satu meme dibalas dengan kemarahan nasional. Seekor nyamuk memang kecil, tetapi ego yang terusik sering kali jauh lebih besar daripada ukuran lawannya.

Kadang bukan lawan yang menghancurkan kita.

Melainkan reaksi kita sendiri.


Begitu singa menyerah, nyamuk pun merasa dirinya telah lulus dari Universitas Kesombongan dengan predikat cum laude.

Kalau cerita ini terjadi hari ini, mungkin nyamuk sudah membuat unggahan:

"Dulu mereka menertawakanku. Sekarang siapa yang tertawa?"

Lalu ia membuka kelas daring berjudul Strategi Mengalahkan Singa Tanpa Modal.

Followers bertambah.

Podcast bermunculan.

Undangan seminar datang dari mana-mana.

Merchandise bertuliskan #TeamNyamuk laris manis.

Masalahnya, hidup tidak pernah berhenti hanya karena kita sedang menikmati tepuk tangan.

Ketika nyamuk sibuk merayakan kemenangan, seekor laba-laba bekerja lembur tanpa banyak bicara.

Ia tidak berpidato.

Tidak membuat ancaman.

Tidak mengadakan debat publik.

Ia hanya memasang jaring.

Kadang memang demikian cara kehidupan memberi kejutan. Bencana terbesar sering kali datang tanpa pengeras suara.


Tolstoy tampaknya ingin mengingatkan bahwa ukuran tidak selalu menentukan kekuatan.

Seekor nyamuk mampu mempermalukan singa.

Tetapi seekor laba-laba mampu mengakhiri karier sang pahlawan.

Kalau dipikir-pikir, hidup memang penuh ironi biologis.

Manusia berhasil mengirim robot ke Mars, tetapi tetap panik ketika file presentasi hilang lima menit sebelum rapat.

Negara mampu membangun gedung pencakar langit, tetapi pelayanan publik bisa lumpuh hanya karena server sedang "maintenance."

Seorang atlet sanggup berlari maraton empat puluh dua kilometer, tetapi menyerah ketika harus mencari sinyal di ruang tamu.

Barangkali memang begitulah hukum kehidupan.

Yang besar tidak selalu dikalahkan oleh yang lebih besar.

Sering kali justru oleh sesuatu yang nyaris tak terlihat.


Yang menarik, Tolstoy tidak menjadikan singa sebagai tokoh paling bodoh.

Justru nyamuklah yang akhirnya tampak paling naif.

Mengapa?

Karena ia mengira kemenangan adalah garis akhir.

Padahal kemenangan hanyalah pemberitahuan bahwa soal berikutnya segera dimulai.

Inilah kesalahan klasik manusia.

Naik jabatan sedikit, mulai merasa menjadi penasihat semesta.

Lulus kuliah, mendadak ingin mengoreksi seluruh peradaban.

Mendapat seratus ribu pengikut media sosial, mulai berbicara seolah-olah gravitasi bekerja atas izinnya.

Padahal kehidupan diam-diam sedang menyiapkan "laba-laba" masing-masing.

Ada yang bernama kesehatan.

Ada yang bernama ekonomi.

Ada yang bernama waktu.

Ada pula yang bernama lupa menyimpan dokumen sebelum listrik padam.

Tidak spektakuler.

Tetapi efektif.


Fabel ini juga mengajarkan sesuatu yang sering kita lupakan: setiap makhluk adalah pahlawan dalam ceritanya sendiri, sekaligus figuran dalam cerita makhluk lain.

Singa merasa dirinya penguasa.

Nyamuk merasa dirinya revolusioner.

Laba-laba mungkin hanya berpikir, "Alhamdulillah, makan siang datang sendiri."

Betapa sering kita memandang hidup hanya dari sudut kamera kita sendiri. Kita mengira seluruh dunia sedang memperhatikan kemenangan kita, padahal sebagian besar makhluk di sekitar hanya sedang sibuk mencari makan atau mengejar tenggat pekerjaan.

Alam semesta ternyata jauh lebih santai daripada ego manusia.


Humor terbesar dalam fabel ini justru terletak pada kenyataan bahwa semua tokohnya benar dan salah sekaligus.

Singa memang kuat.

Nyamuk memang cerdik.

Laba-laba memang sabar.

Tetapi tidak satu pun menjadi penguasa terakhir.

Ada rantai kerentanan yang menghubungkan semuanya.

Hari ini kita menjadi singa.

Besok menjadi nyamuk.

Lusa mungkin menjadi orang yang panik mencari charger ponsel dengan baterai tinggal satu persen.

Status berubah lebih cepat daripada cuaca.

Karena itu, kesombongan selalu menjadi investasi yang buruk. Keuntungannya sebentar, kerugiannya panjang.


Pada akhirnya, Tolstoy menyampaikan filsafat yang sangat sederhana, tetapi sering gagal dipraktikkan manusia modern.

Menanglah secukupnya.

Rayakan secukupnya.

Banggalah secukupnya.

Karena hidup memiliki kebiasaan aneh: setiap kali seseorang terlalu lama berdiri di atas podium, kehidupan akan mengingatkannya bahwa podium pun bisa dibangun di atas papan yang lapuk.

Nyamuk mengalahkan singa.

Singa kalah oleh nyamuk.

Nyamuk kalah oleh laba-laba.

Dan kita semua, cepat atau lambat, akan kalah oleh alarm Senin pagi yang berbunyi pukul lima.

Barangkali itulah sebabnya kerendahan hati bukan sekadar sifat baik.

Ia adalah perlengkapan keselamatan.

Sebab dalam rimba kehidupan, kita tidak pernah benar-benar tahu apakah hari ini sedang berhadapan dengan seekor singa... atau tanpa sadar sudah berjalan menuju seutas jaring laba-laba.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Minggu, 19 Juli 2026

Fatwa Cinta: Ketika Hati Disuruh Mandi, Bukan Sekadar Wajah

"Masalah terbesar manusia ternyata bukan dompet yang tipis, melainkan hati yang terlalu penuh oleh hal-hal yang salah."

Konon, kalau seseorang sedang jatuh cinta, gejalanya mudah dikenali. Ia tersenyum sendiri, lupa makan, rela menempuh puluhan kilometer hanya demi melihat seseorang lewat selama tiga detik, lalu pulang dengan wajah berbinar seolah baru menerima wahyu.

Namun tasawuf datang membawa kabar yang agak mengganggu kenyamanan: "Kalau cintamu hanya seperti itu, berarti latihanmu masih kurang jauh."

Begitulah kira-kira kesan pertama ketika menyimak kajian tentang Fatwa Cinta dalam tradisi Syadziliyah. Awalnya saya mengira akan mendengar petuah romantis yang cocok dijadikan status WhatsApp. Rupanya yang datang justru audit besar-besaran terhadap isi hati. Rasanya seperti datang ke seminar motivasi, tetapi malah diminta membuka gudang batin yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.

Dan ternyata... gudangnya berantakan.

Cinta Ternyata Ada Silabusnya

Selama ini kita mengira cinta adalah perkara spontan. Tiba-tiba suka. Tiba-tiba rindu. Tiba-tiba galau.

Al-Qur'an ternyata jauh lebih sistematis daripada drama percintaan.

Allah tidak mengatakan mencintai semua orang tanpa syarat. Ada daftar yang cukup jelas: orang yang gemar bertobat, yang terus menyucikan diri, yang berbuat ihsan, berlaku adil, bertakwa, sabar, dan berjuang di jalan-Nya.

Kalau dipikir-pikir, ini seperti proses rekrutmen perusahaan.

Bedanya, perusahaan sering mencari pelamar yang pengalaman kerjanya lima tahun pada usia dua puluh tahun.

Sedangkan Allah justru mencari orang yang mau terus memperbaiki diri.

Perhatian terbesar bahkan diberikan kepada tawwabin, bukan sekadar orang yang pernah bertobat, melainkan mereka yang berkali-kali kembali kepada Allah.

Ini kabar baik.

Karena kalau syaratnya harus tidak pernah salah, mungkin surga akan terasa lengang seperti perpustakaan saat musim liburan.

Hati yang Bersih Bukan Berarti Tidak Pernah Kotor

Kajian ini kemudian berbicara tentang kesucian.

Di sinilah banyak orang mungkin mulai salah paham.

Kita terbiasa menghubungkan suci dengan pakaian putih, sajadah harum, atau air wudu yang belum sempat tersentuh debu.

Padahal tasawuf berkata dengan santai, "Semua itu bagus. Tapi bagaimana kondisi hatimu?"

Rupanya hati juga perlu mandi.

Masalahnya, sabun untuk hati tidak dijual di minimarket.

Yang membersihkan hati justru tobat, zikir, keikhlasan, dan keberanian mengurangi rasa cinta berlebihan kepada dunia.

Lucunya, manusia sangat rajin mencuci mobil.

Mobil dicuci seminggu sekali.

Motor dipoles setiap Sabtu.

Sepatu diberi semir.

Layar ponsel dibersihkan memakai tisu khusus.

Tetapi hati?

Sudah bertahun-tahun dipenuhi iri, gengsi, dengki, pamer, dendam, dan ambisi yang menumpuk seperti folder "Download" di laptop yang isinya belum pernah dibuka sejak 2019.

Dunia Tidak Bersalah

Bagian yang paling menyegarkan adalah ketika dijelaskan bahwa dunia sebenarnya tidak bersalah.

Yang bermasalah bukan rumah.

Bukan uang.

Bukan jabatan.

Bukan bisnis.

Yang bermasalah adalah hubungan emosional kita terhadap semuanya.

Ini seperti pisau dapur.

Pisau tidak jahat.

Kalau dipakai memasak, orang kenyang.

Kalau dipakai mengancam tetangga karena ayamnya masuk pekarangan, yang bermasalah bukan pisaunya.

Begitu pula dunia.

Dunia hanyalah alat.

Sayangnya manusia sering memperlakukan alat seperti tujuan hidup.

Kita membeli jam agar tahu waktu.

Lama-lama kita justru kehilangan waktu demi membeli jam yang lebih mahal.

Ironi semacam ini rupanya sudah dibahas para sufi jauh sebelum media sosial menemukan tombol "checkout".

Mabuk yang Tidak Perlu Ditilang Polisi

Lalu muncullah istilah yang membuat alis sebagian orang naik sebelah: mabuk cinta kepada Allah.

Tenang.

Ini bukan mabuk yang membuat seseorang bernyanyi keras pukul dua pagi sambil memeluk tiang listrik.

Ini mabuk yang membuat ego kehilangan dominasinya.

Dalam tasawuf ada fase sukr, mabuk oleh cinta Ilahi.

Namun ada pula sahwi, kembali sadar.

Artinya, pengalaman spiritual tidak boleh membuat orang lupa salat, lupa keluarga, lupa bekerja, apalagi lupa membayar utang.

Kalau selesai berzikir seseorang justru makin malas mencari nafkah, kemungkinan besar yang mabuk bukan karena cinta Ilahi.

Mungkin yang diminum memang es teh terlalu manis.

Tasawuf sejati justru membuat seseorang semakin waras.

Semakin dekat kepada Allah, semakin baik kepada manusia.

Semakin tinggi pengalaman batinnya, semakin ringan tangannya membantu tetangga.

Dunia Kerja yang Salah Motivasi

Ada kritik yang menarik.

Banyak orang bekerja karena takut dimarahi bos.

Kalau bos libur, semangat ikut libur.

Kalau bos mengawasi, produktivitas mendadak naik 300 persen.

Padahal tasawuf menawarkan sudut pandang yang jauh lebih elegan.

Bekerjalah karena Allah.

Bos hanya kebetulan memegang absensi.

Kalau motivasi ini benar-benar hidup, maka integritas tidak lagi bergantung pada CCTV.

Sebab kamera terbaik memang berada di dalam hati.

Sayangnya kamera itu sering dimatikan ketika peluang korupsi sedang bagus.

Cinta yang Membuat Orang Semakin Normal

Ironisnya, dunia modern sering menganggap orang religius akan semakin aneh.

Padahal pesan Syadziliyah justru sebaliknya.

Semakin seseorang tenggelam dalam cinta kepada Allah, ia justru semakin stabil.

Semakin rendah hati.

Semakin adil.

Semakin penyabar.

Semakin bisa dipercaya.

Kalau ada orang mengaku sudah mencapai puncak makrifat tetapi masih gemar menghina orang lain di kolom komentar, mungkin yang dicapai bukan makrifat.

Mungkin hanya paket internet tanpa batas.

Mungkin yang Perlu Di-upgrade Bukan Ponsel

Setiap tahun kita tergoda mengganti gawai.

Kamera bertambah satu.

Memori bertambah besar.

Prosesor makin cepat.

Namun hati sering tetap memakai sistem operasi versi lama: mudah iri, cepat marah, haus pujian, dan sulit ikhlas.

Tasawuf Syadziliyah mengingatkan bahwa pembaruan paling penting bukan terjadi pada teknologi, melainkan pada orientasi hidup.

Karena pada akhirnya, manusia tidak dinilai dari seberapa mahal rumahnya, seberapa panjang daftar pengikut media sosialnya, atau seberapa sering fotonya muncul di linimasa.

Yang dinilai justru sesuatu yang tidak pernah bisa difoto.

Yaitu hati.

Dan mungkin di situlah letak humor terbesar kehidupan.

Kita rela menghabiskan berjam-jam memilih filter agar wajah tampak lebih bercahaya.

Padahal Allah sejak awal hanya meminta satu hal yang jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih sulit:

"Cobalah sesekali memberi filter pada hati."

Kalau itu berhasil, mungkin kita tidak akan viral.

Tetapi mudah-mudahan menjadi orang yang dicintai-Nya.

Dan dibanding sejuta tanda suka di media sosial, rasanya itu pencapaian yang jauh lebih layak dirayakan.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026