Ada banyak cara manusia mencari kebebasan.
Bayangkan seorang narapidana duduk di sel sempit sambil
memegang karya Dostoevsky. Di luar sana, teman-temannya mungkin sedang latihan
tato improvisasi atau debat filsafat tingkat warung tentang siapa yang mencuri
sandal siapa. Tetapi dia justru sibuk menulis esai tentang makna eksistensi
manusia. Bukan karena tiba-tiba tercerahkan seperti biksu Himalaya, melainkan
karena setiap buku yang selesai dibaca bisa memotong hukuman empat hari.
Program itu bernama Remissão pela Leitura—Remisi
melalui Membaca. Sejak 2012, pemerintah Brasil memberi kesempatan kepada
narapidana untuk “kabur secara intelektual” sebelum benar-benar keluar dari
penjara. Maksimal 12 buku setahun. Total potongan hukuman: 48 hari. Tidak
banyak memang. Tetapi di balik jeruji, 48 hari bisa terasa seperti menemukan
gorengan terakhir di meja rapat RT: kecil, namun penuh harapan.
Yang menarik, buku-buku yang dipilih bukan bacaan ringan
seperti “Cara Cepat Kaya lewat Kripto” atau “1001 Jurus Menjadi Influencer
Spiritual”. Yang diberikan justru karya sastra, filsafat, sains, dan klasik.
Jadi ada kemungkinan seorang bandar narkoba tiba-tiba berdiskusi tentang
Nietzsche sambil antre makan siang.
Di titik ini, penjara berubah agak mirip perpustakaan yang
salah desain.
Program ini sebenarnya menyimpan gagasan yang sangat dalam:
manusia mungkin berubah bukan hanya karena dihukum, tetapi karena diajak
berpikir. Sebab sering kali kejahatan lahir bukan semata dari niat buruk,
melainkan dari dunia batin yang sempit. Membaca memperluas ruang itu. Buku
adalah jendela—klise memang—tetapi bagi orang yang hidup di sel beton, jendela
sekecil apa pun terasa seperti mukjizat arsitektur.
Filsuf Prancis Michel Foucault pernah menjelaskan bahwa
penjara modern bukan sekadar tempat menghukum tubuh, melainkan tempat membentuk
jiwa. Namun praktiknya sering gagal. Banyak penjara justru menjadi “universitas
kriminal”, tempat orang masuk sebagai pencopet lalu lulus dengan spesialisasi
manajemen kartel. Seperti kursus online, hanya sertifikatnya lebih menegangkan.
Brasil tampaknya mencoba membalik keadaan. Mereka sadar
bahwa mengurung manusia tanpa memberi arah hanyalah seperti memasukkan mie
instan ke air dingin: bentuknya tetap ada, tetapi tidak matang-matang.
Tentu saja program ini bukan tanpa masalah. Namanya juga
kebijakan publik; selalu ada celah antara idealisme dan akal licik manusia.
Pertanyaan paling sederhana adalah: apakah narapidana benar-benar membaca
bukunya?
Karena jujur saja, bahkan mahasiswa yang tidak dipenjara pun
sering hanya membaca kesimpulan dan berharap dosennya sedang berbaik hati.
Bayangkan seorang napi menyerahkan laporan filsafat
eksistensial yang terlalu bagus. Sipir mulai curiga.
“Ini tulisanmu sendiri?”
“Iya, Pak.”
“Kok ada catatan kaki format Chicago Style?”
“Karena saya telah menemukan makna hidup, Pak.”
Ada pula masalah pemilihan buku. Siapa yang menentukan
bacaan “baik”? Jangan sampai narapidana yang baru belajar membaca langsung
diberi kitab filsafat setebal batu bata. Orang itu mungkin belum tercerahkan;
dia malah ingin memakai bukunya untuk ganjal meja.
Namun di situlah menariknya program ini. Ia percaya bahwa
manusia tidak boleh diukur hanya dari kesalahan terburuknya. Dalam dunia yang
gemar memberi label permanen, program ini seperti berkata: “Baiklah, kamu
pernah jatuh. Sekarang coba baca Camus dulu.”
Karena membaca pada dasarnya memang tindakan yang aneh.
Tubuh kita diam, tetapi pikiran pergi ke mana-mana. Orang bisa tetap duduk di
sel penjara sambil berkelana ke Rusia abad ke-19, Yunani kuno, atau bahkan ke
masa depan bersama teori-teori sains. Buku membuat tembok kehilangan sebagian
kekuasaannya.
Dalam tradisi tasawuf, ada gagasan bahwa penjara paling
sempit bukanlah ruangan kecil, melainkan hati yang tertutup. Sebaliknya, jiwa
yang tercerahkan bisa merasa lapang bahkan dalam kesempitan. Maka program
membaca di penjara ini terasa seperti bentuk tasawuf administratif: negara
tidak mengajarkan zikir, tetapi diam-diam memberi kesempatan untuk tafakur
melalui halaman-halaman buku.
Pada akhirnya, program Brasil ini mungkin tidak akan
menyelesaikan seluruh masalah kriminalitas. Ia bukan tongkat sihir. Penjara
tetap penuh. Geng tetap ada. Kekerasan tetap terjadi. Tetapi setidaknya, di
tengah sistem yang sering hanya tahu menghukum, ada satu eksperimen kecil yang
percaya pada kemungkinan perubahan manusia.
“Baiklah… saya baca sampai bab dua dulu.”
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026






