Ada dua benda yang paling sering hilang di dunia ini. Yang pertama adalah kaus kaki sebelah kiri setelah dicuci. Yang kedua adalah akal sehat ketika orang sedang jatuh cinta.
Cinta memang memiliki kemampuan ajaib. Ia bisa membuat
seseorang yang biasanya logis berubah menjadi detektif amatir hanya karena
pasangan terlambat membalas pesan tiga menit. Ia juga sanggup mengubah orang
dewasa menjadi penyair dadakan, ahli astrologi paruh waktu, sekaligus peramal
cuaca emosional. "Dia membalas dengan titik. Wah, pasti ada badai."
Namun, seperti kata John Steinbeck, ternyata tidak semua
cinta diciptakan dengan resep yang sama. Ada cinta yang seperti pupuk: membuat
pohon tumbuh tinggi. Ada pula cinta yang seperti tali rafia: semakin lama
semakin mengikat sampai batangnya bengkok.
Cinta yang Hobi Memelihara Ego
Jenis cinta pertama adalah cinta yang sebenarnya lebih jatuh
cinta kepada dirinya sendiri.
Kalimat favoritnya sederhana.
"Aku mencintaimu."
Yang tidak pernah diucapkan adalah kalimat kecil yang
tersembunyi di belakangnya.
"Karena kau bekerja sebagai karyawan tetap untuk
memelihara harga diriku."
Dalam hubungan seperti ini, pasangan bukan dipandang sebagai
manusia, melainkan seperti aplikasi. Tugasnya memberi notifikasi bahagia,
validasi tanpa henti, pujian setiap pagi, perhatian setiap malam, dan layanan
pelanggan selama dua puluh empat jam.
Begitu aplikasinya macet sedikit saja, langsung muncul
pembaruan emosi.
"Kenapa berubah?"
"Kenapa sekarang beda?"
"Kenapa tadi senyum ke orang lain?"
Lucunya, cinta posesif sering menyamar sebagai perhatian.
"Aku cemburu karena sayang."
Padahal kalau kecemburuan sudah memiliki CCTV di setiap
sudut kehidupan pasangan, itu bukan cinta lagi. Itu sudah mendekati profesi
intelijen.
Hubungan seperti ini melelahkan karena satu orang sibuk
hidup, sementara yang lain sibuk mengawasi kehidupan orang pertama.
Lama-kelamaan, seseorang tidak lagi bertanya, "Apa yang
membuatku bahagia?"
Ia justru bertanya, "Hari ini aku boleh bernapas tanpa
izin, tidak?"
Cinta yang Memberi Ruang
Sebaliknya, ada cinta yang jauh lebih tenang.
Ia tidak berisik, tidak dramatis, dan tidak membutuhkan
panggung.
Ia seperti matahari.
Matahari tidak pernah berteriak kepada bunga,
"Hei! Cepat mekar! Aku sudah menyinarimu tiga
hari!"
Ia cukup hadir. Sisanya diserahkan kepada waktu.
Begitulah cinta yang sehat.
Ia tidak sibuk membentuk orang lain sesuai katalog
impiannya.
Ia justru penasaran melihat versi terbaik yang bisa tumbuh
dari diri pasangannya.
Cinta seperti ini aneh.
Semakin dekat, semakin bebas.
Semakin akrab, semakin menghormati.
Semakin sayang, semakin sadar bahwa pasangan bukan properti
pribadi.
Burung tetap terbang.
Pohon tetap bertumbuh.
Laut tetap memiliki ombaknya sendiri.
Tidak ada yang kehilangan dirinya hanya karena saling
mencintai.
Hubungan seperti ini bukan kandang, melainkan taman.
Orang-orang bertumbuh karena merasa aman, bukan karena
takut.
Media Sosial: Tempat Cinta Sering Salah Kostum
Sayangnya, zaman sekarang cinta sering salah kostum.
Media sosial membuat banyak orang mengira hubungan yang
sehat harus selalu tampak spektakuler.
Harus ada unggahan setiap minggu.
Harus ada foto tangan bergandengan.
Harus ada caption sepanjang skripsi.
Kalau tidak dipamerkan, dianggap tidak bahagia.
Padahal hubungan yang paling damai sering kali justru yang
paling sunyi.
Tidak semua pelukan membutuhkan kamera.
Tidak semua kebahagiaan memerlukan kolom komentar.
Ironisnya, banyak pasangan lebih rajin merawat feed daripada
merawat percakapan.
Ponsel diisi hingga memorinya penuh.
Hubungan dibiarkan kehabisan ruang.
Jangan Jadikan Pasangan Sebagai Charger Emosi
Barangkali kesalahan terbesar manusia adalah menganggap
pasangan sebagai charger kehidupan.
Begitu baterai emosi habis, kita mencolokkan seluruh harapan
kepada satu orang.
"Tolong bahagiakan aku."
Masalahnya, manusia bukan pembangkit listrik tenaga cinta.
Ia juga punya hari-hari buruk.
Ia juga lelah.
Ia juga ingin dipeluk, bukan terus menjadi tempat bersandar.
Cinta yang dewasa bukan mencari orang yang menyelesaikan
seluruh hidup kita.
Ia mencari seseorang yang bersedia berjalan bersama ketika
hidup sama-sama berantakan.
Kadang sambil membawa payung.
Kadang sambil kehujanan.
Kadang sambil tertawa karena ternyata payungnya bocor.
Penutup
Mungkin itulah ujian terbesar cinta.
Bukan menemukan seseorang yang sempurna.
Melainkan menjadi tempat di mana seseorang berani menjadi
dirinya sendiri tanpa takut kehilangan harga dirinya.
Karena cinta yang buruk membuat seseorang mengecil agar
mudah dimiliki.
Sedangkan cinta yang baik membuat seseorang membesar hingga
ia berani menjadi dirinya sendiri.
Pada akhirnya, cinta bukanlah borgol yang mengunci dua
tangan agar tidak ke mana-mana.
Cinta jauh lebih mirip sepasang sandal.
Keduanya berjalan berdampingan, saling menopang, kadang
terkena lumpur bersama, sesekali tertukar kiri dan kanan, tetapi tidak pernah
memaksa kaki yang satu menjadi kaki yang lain.
Dan mungkin di situlah letak keajaiban cinta yang
sesungguhnya: bukan ketika dua orang saling memiliki, melainkan ketika dua jiwa
saling menumbuhkan tanpa pernah saling mengerdilkan.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026





