Kamis, 06 Agustus 2026

Move On Tidak Dijual di Minimarket

Catatan Tentang Luka, Kenangan, dan Kebiasaan Manusia Mengobati Patah Hati dengan Diskon Belanja

Ada dua jenis manusia di dunia ini.

Jenis pertama, ketika patah hati langsung berkata, "Aku harus move on."

Jenis kedua berkata, "Aku juga harus move on."

Bedanya, yang pertama benar-benar berusaha sembuh. Yang kedua mengganti foto profil, menghapus chat, memblokir mantan, membeli tanaman monstera, ikut kelas yoga, belajar membuat sourdough, lalu tiga bulan kemudian diam-diam masih membuka akun media sosial mantannya menggunakan akun teman.

Kita semua pernah menjadi jenis kedua.

Andrew Faber tampaknya memahami spesies manusia yang satu ini. Ia mengatakan bahwa hati sembuh bukan karena melupakan, tetapi karena memahami. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi efeknya cukup mengganggu industri motivasi yang selama bertahun-tahun hidup dari slogan "Move on sekarang juga!"

Bayangkan jika luka hati benar-benar bisa disembuhkan hanya dengan melupakan.

Rumah sakit akan membuka Poli Amnesia.

"Keluhannya apa, Pak?"

"Patah hati, Dok."

"Baik. Silakan antre bersama pasien yang lupa PIN ATM."

Sayangnya, otak manusia tidak bekerja seperti tombol "Delete All". Kalau begitu mudahnya melupakan, tidak akan ada orang yang tiba-tiba teringat mantan hanya gara-gara mendengar lagu yang dulu diputar di angkot.

Lucunya, manusia memang makhluk yang aneh.

Password email bisa lupa dalam lima menit.

Nama tetangga depan rumah lupa terus.

Tapi kalimat "Kita lebih baik berteman saja" yang diucapkan delapan tahun lalu masih diingat lengkap beserta intonasinya.

Otak rupanya punya prioritas yang sulit dipahami.

Faber kemudian mengatakan bahwa melupakan sama saja melarikan diri dari sejarah.

Nah, di sinilah kita mulai panik.

Karena sebagian besar dari kita sebenarnya bukan ingin melupakan mantan. Kita hanya ingin menghapus bab yang memalukan.

Bab ketika kita pernah mengirim pesan:

"Kamu sudah makan?"

Sebanyak tiga puluh dua kali.

Tanpa balasan.

Kalau hidup adalah buku, kita ingin menjadi editor yang kejam.

Bab memalukan dihapus.

Bab gagal disobek.

Bab ditolak diterbitkan.

Yang tersisa hanya foto-foto ketika sedang tersenyum.

Padahal sejarah bukan album Instagram.

Ia lebih mirip rapor sekolah.

Nilai Matematikanya boleh merah, tetapi tetap menjadi bagian dari cerita hidup.

Kalau dihapus, kita mungkin tidak pernah belajar bahwa jatuh cinta ternyata lebih sulit daripada mengerjakan integral.

Yang menarik adalah ajakan Faber untuk "tinggal bersama penderitaan."

Kalimat ini terdengar sangat filosofis.

Tetapi kalau diterapkan secara harfiah di Indonesia bisa menimbulkan salah paham.

"Apa yang sedang kamu lakukan?"

"Aku sedang tinggal bersama penderitaan."

"Kontrak rumahnya berapa tahun?"

Maksud Faber tentu bukan menyuruh kita menyewa kos bersama kesedihan.

Yang ia maksud adalah berhenti kabur setiap kali hati terasa sakit.

Masalahnya, manusia modern punya bakat luar biasa dalam melarikan diri.

Sedih sedikit...

Scroll TikTok.

Kecewa sedikit...

Checkout barang.

Gagal sedikit...

Ngopi.

Galau sedikit...

Nonton drama Korea tiga musim.

Putus cinta...

Tiba-tiba merasa harus belajar bahasa Spanyol.

Padahal selama ini mengucapkan "permisi" kepada tetangga saja masih grogi.

Media sosial memperparah keadaan.

Di sana semua orang tampak sembuh dalam tiga hari.

Hari pertama putus.

Hari kedua unggah kutipan filsafat.

Hari ketiga foto di pantai dengan caption:

"Healing."

Padahal yang benar bukan healing.

Itu liburan sambil membawa luka dalam koper.

Begitu pulang, luka ikut turun bersama bagasi.

Faber juga berbicara tentang memberi belaian kepada diri sendiri.

Konsep ini sangat indah.

Sayangnya banyak orang salah menerjemahkannya.

Self-compassion berubah menjadi self-shopping.

"Kasihan aku."

Lalu membeli sepatu.

Besoknya masih sedih.

Beli jam tangan.

Masih sedih juga.

Tambah headphone.

Seminggu kemudian bukan hanya hatinya yang patah.

Tagihan kartu kredit juga ikut patah.

Padahal membelai diri sendiri bukan berarti memanjakan semua keinginan.

Kadang bentuk kasih sayang paling besar adalah berhenti menyalahkan diri sendiri.

Mengakui bahwa kita memang pernah salah memilih orang bukan berarti kita adalah orang yang salah.

Sama seperti membeli durian busuk tidak berarti kita harus pensiun makan buah.

Puncak kutipan Faber adalah kalimat bahwa pada akhirnya kita tidak mati.

Kita dilahirkan kembali.

Kalimat ini mengingatkan bahwa manusia sebenarnya memiliki kemampuan luar biasa.

Kita bisa bangkit setelah kehilangan.

Bisa tertawa setelah menangis.

Bisa mencintai lagi setelah kecewa.

Dan yang paling hebat...

Kita bisa berkata, "Aku sudah ikhlas."

Lalu benar-benar ikhlas.

Walaupun prosesnya sedikit lebih lama daripada proses pembangunan jalan tol.

Yang penting selesai.

Pada akhirnya, setiap luka memang seperti guru yang galak.

Saat pelajaran berlangsung kita mengeluh.

Saat ulangan kita menangis.

Tetapi bertahun-tahun kemudian justru pelajaran itulah yang paling kita ingat.

Luka tidak selalu datang untuk menghancurkan.

Kadang ia hanya datang membawa papan tulis.

Menuliskan sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh kebahagiaan.

Bahwa manusia ternyata jauh lebih kuat daripada yang ia kira.

Bahwa hati memiliki kemampuan memperbaiki dirinya sendiri, asalkan tidak terus-menerus dipaksa berpura-pura baik-baik saja.

Dan bahwa move on ternyata bukan tombol ajaib.

Ia lebih mirip memasak rendang.

Harus sabar.

Harus pelan.

Tidak bisa dipercepat dengan slogan motivasi.

Kalau dipaksa cepat, yang gosong bukan rendangnya.

Melainkan kewarasan kita.

Maka, mungkin Andrew Faber benar.

Kita tidak perlu buru-buru melupakan.

Kita hanya perlu cukup berani untuk memahami.

Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat move on.

Melainkan siapa yang berhasil mengubah luka menjadi kebijaksanaan.

Kalau pun masih sesekali teringat masa lalu, anggap saja itu notifikasi dari kehidupan.

Tidak harus dibalas.

Cukup dibaca.

Lalu ditutup.

Sebab beberapa kenangan memang tidak dikirim agar kita kembali ke sana.

Melainkan agar kita tersenyum kecil dan berkata,

"Untung sekarang aku sudah jauh lebih waras."

Kalau masih belum sepenuhnya waras?

Tenang saja.

Bahkan mi instan pun masih butuh tiga menit untuk matang.

Apalagi hati manusia.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Rabu, 05 Agustus 2026

Menjadi Diri Sendiri Itu Mahal, Apalagi Kalau Tetangga Ikut Rapat

Konon, salah satu pekerjaan paling melelahkan di dunia bukanlah kuli bangunan, operator excavator, atau petugas parkir di pasar yang harus hafal seribu wajah. Pekerjaan paling melelahkan justru adalah menjadi orang lain selama dua puluh empat jam sehari.

Gajinya tidak ada.
THR-nya nihil.
Bonusnya paling banter hanya komentar, "Nah, gitu dong. Sekarang kamu lebih enak dilihat."

Masalahnya, besok standar "enak dilihat" berubah lagi.

Hari ini disuruh pendiam supaya dewasa.
Besok disuruh cerewet supaya komunikatif.

Hari ini disuruh hemat.
Besok dibilang pelit.

Hari ini disuruh tampil sederhana.
Besok dikira gagal.

Kalau mengikuti semua pendapat orang, kita akan hidup seperti aplikasi yang setiap lima menit meminta update. Belum selesai mengunduh versi terbaru, sudah muncul notifikasi, "Update tersedia."


Media sosial memperparah keadaan.

Dulu kita hanya punya satu RT yang suka mengomentari hidup kita.

Sekarang kita punya seluruh planet.

Ada orang yang baru bangun tidur langsung membuka media sosial bukan untuk mencari berita, tetapi memastikan apakah cara ia minum kopi sudah mendapat persetujuan publik.

Kalau ternyata memegang cangkir dengan tangan kiri dianggap kurang estetik, besok ia pindah tangan kanan.

Kalau tangan kanan dianggap terlalu kapitalis, ia mencoba dua tangan.

Kalau dua tangan dianggap kurang natural, ia membeli mug baru.

Begitulah. Hidup perlahan berubah menjadi audisi yang tak pernah selesai.


Tweet berbahasa Spanyol itu sebenarnya sederhana.

Jangan malu berbeda.

Kalimatnya pendek.

Tetapi dampaknya bisa membuat banyak orang berkeringat.

Sebab menjadi berbeda itu memang gampang diucapkan, tetapi sulit dipraktikkan.

Semua orang ingin menjadi "unik", tetapi dengan syarat keunikannya mendapat minimal lima ribu tanda suka.

Kalau tidak viral, rasanya kurang autentik.

Ironis sekali.

Bahkan keberanian pun sekarang menunggu validasi.


Kita hidup di zaman ketika orang lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan dirinya sendiri.

Ada yang mengganti hobi karena tidak banyak peminat.

Mengganti cara berpakaian karena algoritma.

Mengganti pendapat karena kolom komentar.

Mengganti prinsip karena takut tidak diajak nongkrong.

Kalau begini terus, lama-lama KTP masih atas nama sendiri, tetapi sistem operasinya milik orang lain.


Ada satu jenis olahraga yang sangat populer tetapi tidak pernah dipertandingkan di Olimpiade.

Namanya: People Pleasing Marathon.

Pesertanya selalu tersenyum.

Selalu berkata, "Terserah."

Selalu menjawab, "Aku ikut saja."

Padahal di dalam hati sedang berteriak,

"Saya tidak mau ke restoran itu! Sambalnya membuat saya bertobat setiap minggu!"

Namun demi menjaga suasana, ia tetap mengangguk.

Lama-kelamaan bukan hanya lidahnya yang kepedasan.

Harga dirinya ikut melepuh.


Psikolog menyebutnya people pleasing.

Nenek kita menyebutnya,

"Kamu itu kebanyakan nggak enakan."

Bedanya hanya istilah.

Penderitanya tetap sama-sama kelelahan.

Karena setiap hari harus memainkan karakter baru sesuai penonton.

Bayangkan seorang aktor yang bahkan lupa wajah aslinya setelah terlalu lama memakai topeng.

Begitulah nasib orang yang terlalu sibuk memenuhi ekspektasi semua orang.


Lucunya, masyarakat memiliki kemampuan luar biasa dalam membuat standar yang saling bertabrakan.

Kalau bekerja terlalu keras, dibilang ambisius.

Kalau santai sedikit, dibilang tidak punya masa depan.

Kalau menikah cepat, katanya terburu-buru.

Kalau menikah lambat, katanya memilih-milih.

Kalau banyak bicara, cerewet.

Kalau diam, sombong.

Kesimpulannya sederhana.

Kalau ingin memuaskan semua orang, mungkin satu-satunya pilihan adalah menjadi uang.

Itu pun masih ada yang mengeluh nominalnya kurang.


Tulisan itu juga mengatakan bahwa tidak ada persahabatan, keluarga, ataupun cinta yang layak dibayar dengan kehilangan diri sendiri.

Kalimat ini memang terdengar keras.

Namun sesungguhnya ia hanya sedang mengingatkan bahwa hubungan terbaik bukanlah hubungan yang membuat kita menjadi aktor terbaik.

Melainkan hubungan yang membuat kita boleh datang tanpa kostum.

Bayangkan kalau setiap bertemu sahabat kita harus membawa naskah dialog.

Capek.

Persahabatan berubah menjadi sinetron dengan episode tak berujung.


Filsuf seperti Sartre dan Heidegger mungkin akan menyebutnya autentisitas.

Tetapi kalau diterjemahkan ke bahasa warung kopi, kira-kira bunyinya begini:

"Jangan hidup pakai remote control yang dipegang tetangga."

Karena aneh sekali kalau setiap keputusan hidup selalu menunggu tombol dari orang lain.

Mau makan?

Tunggu komentar.

Mau menikah?

Tunggu polling.

Mau pindah kerja?

Lihat dulu trending topic.

Kalau begitu, hidup kita bukan lagi perjalanan.

Melainkan hasil survei.


Namun, menjadi diri sendiri bukan berarti keras kepala seperti paku beton.

Ada orang yang salah paham.

Begitu membaca tentang autentisitas, ia merasa semua kebiasaannya harus dipertahankan.

"Tapi saya memang begini."

Kalimat ini kadang digunakan untuk membela apa saja.

Datang terlambat.

"Saya autentik."

Tidak mau minta maaf.

"Saya sedang menjadi diri sendiri."

Padahal menjadi diri sendiri bukan berarti berhenti bertumbuh.

Pohon tetap menjadi pohon, tetapi ia terus menambah ranting.

Kalau pohon berkata, "Saya konsisten tidak mau tumbuh," itu bukan autentik.

Itu kayu bakar.


Yang menarik dari tweet itu adalah bagian akhirnya.

Kalau sekarang harus berjalan sendirian, teruslah berjalan.

Karena nanti akan bertemu orang-orang yang sefrekuensi.

Ini menghibur.

Sekaligus realistis.

Sebab mencari teman yang benar-benar cocok memang seperti mencari sinyal Wi-Fi gratis.

Kadang harus berputar-putar dulu.

Kadang berdiri di sudut yang aneh.

Kadang mengangkat ponsel setinggi mungkin.

Tetapi ketika akhirnya tersambung, rasanya semua perjuangan terbayar.


Mungkin memang demikian hidup.

Kita tidak diciptakan untuk disukai semua orang.

Bahkan mi instan saja punya varian rasa yang membuat orang berdebat puluhan tahun.

Kalau mi saja tidak bisa memuaskan semua lidah, mengapa kita berharap bisa memuaskan seluruh umat manusia?

Itu target yang terlalu ambisius, bahkan untuk malaikat bagian administrasi.

Pada akhirnya, keberanian menjadi diri sendiri bukan berarti senang berbeda demi terlihat unik.

Bukan pula sengaja melawan arus agar tampak revolusioner.

Keberanian sejati adalah pulang ke rumah setiap malam tanpa harus bertanya kepada cermin,

"Hari ini sebenarnya aku sedang menjadi siapa?"

Sebab hidup yang paling damai bukanlah hidup yang penuh tepuk tangan.

Melainkan hidup ketika hati dapat berkata pelan,

"Syukurlah... hari ini aku masih sempat menjadi diriku sendiri."

Dan kalau ternyata tidak semua orang menyukai itu?

Tidak apa-apa.

Lagi pula, bahkan tombol "Skip Ad" pun masih ada yang membenci.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Sapu, Syair, dan Orang yang Merasa Lulus Cum Laude dari Universitas Kesombongan

Ada dua jenis manusia di dunia ini.

Yang pertama, menyapu jalan sambil menghafal puisi.

Yang kedua, menyapu harga diri orang lain sambil menghafal jumlah pengikut Instagram.

Celakanya, yang kedua biasanya merasa dirinya lebih terhormat.


Konon, di sebuah jalan yang tidak pernah masuk Google Maps sebagai destinasi wisata, seorang tukang sapu sedang bekerja. Tidak ada musik Spotify. Tidak ada podcast motivasi berjudul "Bangun Jam 4 Pagi Agar Jadi Miliarder". Yang menemani hanyalah desir angin dan bait syair Hatim al-Tai:

"Muliakanlah jiwamu. Sebab bila engkau menghinakannya, tak seorang pun akan memuliakannya."

Kalimat yang cukup berbahaya bagi orang-orang yang hobinya mengukur manusia berdasarkan merek sepatu.

Lalu muncullah seorang tokoh antagonis. Tokoh seperti ini selalu ada dalam setiap cerita. Kalau tidak ada naga, ya minimal ada orang yang merasa dirinya direktur semesta.

Ia bertanya dengan nada yang sudah lulus S-3 dalam jurusan meremehkan orang:

"Bagaimana mungkin engkau memuliakan jiwamu? Bukankah engkau cuma tukang sapu?"

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi aromanya seperti parfum kesombongan edisi premium.

Untunglah si tukang sapu bukan pelanggan tetap acara debat kusir.

Ia menjawab dengan tenang,

"Aku memuliakan jiwaku dengan tidak menjawab pertanyaan hina dari orang seperti dirimu."

Seketika jalanan menjadi lebih bersih. Bukan karena sapunya bekerja lebih cepat, tetapi karena ego si penanya baru saja disapu hingga masuk ke tempat sampah.


Yang lucu adalah keyakinan sebagian manusia bahwa harga diri mempunyai slip gaji.

Seolah-olah martabat bisa dihitung dengan rumus:

Harga Diri = Jabatan × Mobil ÷ Jumlah AC di Kantor.

Kalau rumus itu benar, berarti bayi yang baru lahir tidak punya kehormatan karena belum punya LinkedIn.

Padahal bayi justru satu-satunya makhluk yang menangis tanpa perlu membuat status, "Maaf kalau akhir-akhir ini aku berubah."


Masyarakat memang punya hobi aneh.

Kalau melihat seseorang memakai jas, langsung dianggap bijaksana.

Kalau melihat seseorang memegang sapu, langsung dianggap tidak punya filsafat.

Padahal Aristoteles tidak pernah berkata bahwa kebijaksanaan hanya boleh dimiliki orang yang memakai dasi.

Ironisnya, dalam kehidupan nyata justru sering terjadi kebalikannya.

Ada orang berdasi yang pidatonya sepanjang satu jam, tetapi isinya hanya lima menit dan sisanya ucapan terima kasih.

Ada pula tukang sapu yang berbicara satu kalimat, tetapi membuat orang berpikir seminggu.

Ternyata panjang pidato tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pikiran.


Media sosial memperparah keadaan.

Hari ini orang dinilai bukan dari akhlaknya, melainkan dari kualitas kameranya.

Kalau fotonya estetik, dianggap inspiratif.

Kalau fotonya sambil naik gunung, dianggap sedang mencari makna hidup.

Padahal bisa jadi ia cuma mencari sinyal.

Kita hidup di zaman ketika orang lebih sibuk mempercantik profil daripada memperbaiki perilaku.

Filter wajah tersedia ratusan.

Filter kesombongan belum ada.

Mungkin karena aplikasinya terlalu berat.


Tukang sapu dalam kisah tadi sebenarnya sedang mengajarkan ilmu manajemen konflik tingkat tinggi.

Ia tahu bahwa tidak semua pertanyaan pantas dijawab.

Ada pertanyaan yang fungsinya bukan mencari jawaban, melainkan mencari keributan.

Menjawabnya hanya membuat kita ikut mandi lumpur.

Ini seperti membaca komentar di internet.

Ada komentar yang mengundang diskusi.

Ada komentar yang mengundang migrain.

Bedanya tipis.

Yang satu membuat kita berpikir.

Yang satu lagi membuat kita ingin mematikan Wi-Fi.


Hatim al-Tai sejak berabad-abad lalu sudah memberi resep sederhana:

"Jagalah kehormatan jiwamu."

Resep itu ternyata tidak membutuhkan modal besar.

Tidak perlu membeli mobil mewah.

Tidak perlu mengganti ponsel setiap enam bulan.

Tidak perlu mengoleksi jam tangan yang harganya cukup untuk membeli sawah.

Yang diperlukan hanyalah kemampuan berkata kepada diri sendiri:

"Aku tidak akan merendahkan diriku hanya demi memenangkan pertengkaran."

Sayangnya, resep ini kurang laris.

Orang lebih suka membeli kelas daring berjudul "Cara Menjadi Alpha Male dalam 7 Hari" daripada belajar menjadi manusia yang sopan.


Yang paling menarik justru ada pada simbol sapu.

Sapu tidak pernah memilih debu.

Ia membersihkan semuanya.

Andai manusia meniru sapu, mungkin yang pertama dibersihkan bukan jalanan, melainkan prasangka.

Betapa banyak hubungan rusak bukan karena kebohongan, melainkan karena asumsi.

Betapa banyak orang gagal melihat mutiara hanya karena terlalu sibuk menilai cangkangnya.

Padahal kesombongan sering kali hanyalah debu yang menempel di kepala, tetapi pemiliknya mengira itu mahkota.


Pada akhirnya, kisah ini mengajarkan satu hal yang sangat penting.

Kalau suatu hari ada orang bertanya dengan nada merendahkan, jangan buru-buru marah.

Bisa jadi ia sedang memperkenalkan isi kepalanya tanpa sengaja.

Dan kalau Anda bertemu tukang sapu yang sedang melantunkan syair, jangan heran.

Siapa tahu yang sedang berdiri di depan Anda bukan sekadar penyapu jalan.

Bisa jadi ia sedang menyapu kesombongan dunia—sementara dunia masih sibuk menyapu notifikasi ponselnya.

Sebab ternyata, sapu paling hebat bukan yang membersihkan trotoar.

Melainkan yang mampu membersihkan hati manusia dari debu merasa paling tinggi.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Ghosting, Departemen Humas Ego, dan Olimpiade Mencuci Tangan

"Yang paling sulit dalam hidup bukan kehilangan orang, melainkan kehilangan sinyal WhatsApp tepat ketika sedang mengetik paragraf terakhir." Untungnya, sinyal biasanya kembali. Sayangnya, beberapa orang tidak.

Ada fenomena unik dalam peradaban modern yang layak diusulkan menjadi cabang olahraga resmi. Namanya lari estafet tanggung jawab. Aturannya sederhana: menyakiti orang lain, lalu menghilang secepat mungkin, kemudian muncul kembali di tempat lain sambil membawa biografi baru yang telah direvisi oleh Departemen Humas Ego.

Ironisnya, manusia abad ke-21 mampu melacak paket belanja dari gudang Shenzhen hingga rumah dalam hitungan detik, tetapi tidak mampu melacak satu kalimat sederhana:

"Maaf, aku salah."

Kalimat itu rupanya lebih langka daripada diskon tanpa syarat.

Ghosting: Teknologi Menghilang Tanpa Harus Menjadi Ninja

Dulu orang kalau ingin menghilang harus menjadi pertapa di gunung atau setidaknya pindah ke kota lain. Sekarang? Cukup tekan tombol blokir, nonaktifkan centang biru, lalu menghilang seperti jin yang kontraknya habis.

Hebatnya lagi, setelah menghilang, mereka tidak benar-benar diam.

Mereka membuka cabang baru perusahaan bernama PT Narasi Sejahtera, dengan slogan:

"Kalau kenyataan tidak menguntungkan, ubahlah ceritanya."

Di perusahaan itu tersedia berbagai layanan.

Paket Hemat:

  • Mengaku sebagai korban.

Paket Premium:

  • Menyalahkan mantan.

Paket Platinum:

  • Menulis ulang sejarah seolah-olah sejak lahir dirinya adalah malaikat yang salah mendarat di planet penuh penjahat.

Lucunya, semua pelanggan merasa puas.

Ego: Ahli Tata Rias Kenyataan

Ego manusia itu sebenarnya kreatif sekali.

Kalau seorang anak memecahkan vas bunga, ia akan berkata, "Bukan aku."

Kalau orang dewasa melakukan kesalahan, kalimatnya jauh lebih elegan.

"Aku melakukan itu demi kebaikan bersama."

Kalimatnya naik kelas, tetapi substansinya masih sama.

Psikologi menyebutnya proyeksi, rasionalisasi, atau disonansi kognitif.

Kalau bahasa warung kopi menyebutnya:

"Pokoknya jangan sampai saya kelihatan salah."

Bayangkan kalau ego punya kantor.

Di ruang rapatnya ada tulisan besar:

"Fakta boleh masuk, asal jangan mengganggu citra diri."

Setiap kali hati nurani datang membawa laporan, satpam ego langsung berkata,

"Maaf, Bapak tidak punya janji."

Permintaan Maaf: Barang Langka yang Tidak Dijual di Marketplace

Ada orang yang sanggup menulis status sepanjang tiga halaman tentang pentingnya kesehatan mental.

Tetapi menulis dua kata,

"Aku salah."

Tidak sanggup.

Mungkin tombol huruf M dan A di ponselnya rusak.

Atau mungkin aplikasi "Kerendahan Hati" belum kompatibel dengan sistem operasi egonya.

Padahal meminta maaf itu seperti servis kendaraan.

Lebih murah dilakukan sejak awal daripada menunggu semuanya rusak total.

Masalahnya, sebagian orang lebih memilih mengganti kendaraan daripada mengganti kebiasaan.

Closure yang Dicari-Cari

Manusia modern juga punya hobi baru.

Mengejar sesuatu yang disebut closure.

Ia berharap suatu hari mantannya datang membawa bunga, mengenakan pakaian putih, diiringi musik piano, lalu berkata,

"Aku sadar sekarang. Selama ini kamu benar."

Kalau perlu turun hujan tipis-tipis supaya sinematografinya sempurna.

Masalahnya, hidup bukan drama Korea.

Kadang yang datang bukan permintaan maaf.

Yang datang malah notifikasi promosi pinjaman online.

Kita menunggu dialog penutup.

Semesta malah mengirim iklan diskon blender.

Akhirnya kita sadar bahwa alam semesta memang suka bercanda.

Diam yang Sering Disalahpahami

Ada orang mengira diam berarti kalah.

Padahal belum tentu.

Kadang diam hanyalah keputusan paling hemat listrik.

Mengapa harus menyalakan mesin debat kalau lawan bicara memakai bahan bakar pembenaran?

Berdebat dengan orang yang sudah memutuskan dirinya selalu benar itu seperti bermain catur melawan burung merpati.

Ia akan menjatuhkan semua bidak, mengotori papan, lalu terbang sambil merasa menang.

Kita sibuk menjelaskan kronologi.

Ia sibuk mengedit naskah.

Kita membawa bukti.

Ia membawa imajinasi.

Pertandingan semacam ini memang tidak punya wasit.

Namun Jangan Terlalu Cepat Mengangkat Diri Menjadi Korban Nasional

Di sinilah jebakan media sosial.

Setelah membaca kutipan-kutipan bijak, kita sering langsung merasa menjadi tokoh utama film.

Semua mantan adalah penjahat.

Semua teman adalah pengkhianat.

Semua bos adalah tiran.

Sementara kita?

Malaikat bersertifikat ISO.

Padahal hubungan antarmanusia lebih rumit daripada kabel di belakang meja komputer.

Kadang memang ada pelaku yang lari dari tanggung jawab.

Kadang pula kedua belah pihak sama-sama membawa koper penuh ego.

Bedanya hanya ukuran koper.

Karena itu, introspeksi tetap perlu.

Kalau setiap konflik selalu menyisakan satu orang yang merasa paling suci, kemungkinan besar cerminnya sedang rusak.

Babak Baru

Pada akhirnya, kedewasaan bukan ditandai oleh keberhasilan membuat orang lain mengakui kesalahan.

Kalau kebahagiaan kita bergantung pada permintaan maaf seseorang, berarti kita tanpa sadar menyerahkan remote control hidup kepada orang yang bahkan lupa mengganti baterainya sendiri.

Lebih baik mengambil kembali remote itu.

Mengganti baterainya.

Lalu menonton babak kehidupan berikutnya tanpa terus-menerus memutar ulang episode yang sama.

Karena hidup terlalu pendek untuk menjadi editor film yang hanya mengulang adegan patah hati.

Dan sungguh, tidak semua orang yang keluar dari hidup kita adalah kehilangan.

Sebagian hanyalah pembaruan sistem.

Memang sempat membuat layar gelap beberapa menit.

Tetapi setelah selesai, hidup justru berjalan lebih ringan.

Kalau masih ada yang sibuk menyebarkan narasi palsu tentang diri kita, biarkan saja.

Setiap orang berhak menulis novel.

Hanya saja, tidak semua novel laris.

Lagi pula, kebenaran punya satu kelebihan yang tidak dimiliki kebohongan.

Ia tidak perlu promosi besar-besaran.

Ia cukup sabar.

Karena waktu, diam-diam, adalah editor terbaik.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Senin, 03 Agustus 2026

Voltaire, Senin Pagi, dan Nasib Orang yang Terlalu Banyak Rebahan

Ada dua jenis manusia pada Senin pagi.

Golongan pertama bangun dengan semangat, menyeduh kopi, membuka laptop, lalu berkata, "Hari ini aku akan produktif."

Golongan kedua membuka mata, melihat jam, memeluk bantal lebih erat, lalu bernegosiasi dengan alam semesta, "Kalau hari ini langsung Jumat, aku janji akan jadi orang baik."

Voltaire, filsuf Prancis abad ke-18, kemungkinan besar termasuk golongan pertama. Ia pernah menulis kalimat yang hingga kini masih mondar-mandir di media sosial setiap Senin pagi:

"Kerja menjauhkan kita dari tiga malapetaka besar: kebosanan, keburukan, dan kemiskinan."

Kalimat itu biasanya ditemani gambar secangkir kopi, matahari terbit, dan font elegan yang membuat orang merasa produktif padahal lima menit kemudian kembali menggulir media sosial selama satu jam.

Voltaire rupanya sudah memahami tabiat manusia jauh sebelum ditemukan Wi-Fi.

Musuh Terbesar Bernama "Nanti"

Dalam novel Candide, Voltaire mengisahkan seorang tokoh yang sudah keliling dunia, menyaksikan perang, bencana, pengkhianatan, penipuan, dan berbagai bentuk kekacauan manusia.

Setelah perjalanan yang panjang itu, Candide bertemu seorang petani Turki.

Petani ini tidak memberikan ceramah motivasi.

Tidak membuka seminar "Tujuh Langkah Menjadi Sultan Sebelum Usia 30."

Tidak menjual kelas daring berharga jutaan rupiah.

Ia hanya bekerja di kebunnya.

Sederhana sekali.

Ketika ditanya rahasia hidupnya, jawabannya kurang lebih begini:

"Kalau kami sibuk bekerja, kami tidak sempat bosan, tidak sempat berbuat macam-macam, dan tidak sempat kelaparan."

Candide seperti mendapat tamparan lembut.

Ternyata setelah berkeliling dunia mencari jawaban filosofis, solusi hidup malah ditemukan pada seseorang yang lebih sibuk mencangkul daripada berdebat.

Kadang memang begitu.

Orang yang paling banyak teori tentang kehidupan justru paling jarang menyiram tanaman di halaman rumahnya.

Kebosanan Adalah Ibu dari Scroll Tanpa Tujuan

Voltaire menyebut musuh pertama manusia adalah kebosanan.

Kalau beliau hidup sekarang, mungkin definisinya diperbarui.

Kebosanan bukan lagi duduk melamun di bawah pohon.

Melainkan membuka media sosial "cuma lima menit" lalu sadar matahari sudah tenggelam, baterai tinggal tiga persen, dan yang diingat hanya seekor kucing yang bisa memainkan piano.

Manusia modern memiliki kemampuan luar biasa.

Mengeluh tidak punya waktu, sambil menghabiskan tiga jam menonton video berjudul:

"Pria Ini Memotong Semangka Menggunakan Sendok. Hasilnya Mengejutkan."

Setelah selesai menonton, yang mengejutkan sebenarnya hanyalah fakta bahwa kita masih menontonnya sampai habis.

Voltaire pasti mengangguk pelan.

"Sudah kubilang, bekerja lebih sehat."

Kemalasan Sangat Kreatif

Musuh kedua adalah keburukan.

Ini menarik.

Karena banyak keburukan ternyata lahir bukan dari kesibukan, tetapi dari orang yang terlalu banyak waktu luang.

Coba perhatikan grup keluarga.

Penyebar hoaks paling aktif biasanya bukan orang yang sedang memasang genteng di bawah terik matahari.

Mereka punya waktu untuk membaca berita yang belum tentu berita, memeriksa fakta menggunakan perasaan, lalu meneruskannya ke lima belas grup dengan keyakinan penuh.

Sebaliknya, tukang bakso keliling tidak sempat membuat teori konspirasi.

Ia sibuk mengejar pelanggan.

Petani tidak sempat berdebat tentang apakah bumi datar.

Ia lebih khawatir sawahnya kekurangan air.

Kadang pekerjaan adalah vaksin terbaik terhadap penyakit bernama "terlalu banyak mikir hal yang tidak perlu."

Dompet Juga Punya Filosofi

Musuh ketiga menurut Voltaire adalah kemiskinan.

Di sinilah semua orang mengangguk.

Kerja memang menghasilkan uang.

Walaupun kadang uangnya baru mampir sebentar sebelum berpamitan kepada cicilan, tagihan listrik, kuota internet, dan diskon tanggal kembar yang entah mengapa selalu terasa mendesak.

Gaji datang seperti tamu kehormatan.

Disambut meriah.

Difoto.

Lalu menghilang dalam dua hari.

Sisanya tinggal notifikasi:

"Terima kasih telah melakukan pembayaran."

Namun setidaknya, bekerja memberi peluang untuk hidup lebih baik.

Dompet kosong memang tidak otomatis membuat seseorang kehilangan kebijaksanaan.

Tetapi dompet yang sedikit lebih tebal jelas membuat filosofi terasa lebih mudah dipahami.

Sayangnya, Tidak Semua Kerja Itu Surga

Di sinilah kita perlu sedikit membela generasi modern.

Voltaire hidup pada abad ke-18.

Beliau belum mengenal rapat daring yang sebenarnya bisa selesai lewat tiga pesan singkat.

Beliau belum pernah menerima email bertuliskan "urgent" pukul sebelas malam.

Beliau juga belum tahu rasanya diminta "sebentar saja" mengerjakan revisi yang ternyata membutuhkan waktu tiga hari.

Kalau beliau mengalami semua itu, mungkin kutipannya menjadi sedikit lebih panjang.

"Kerja menjauhkan kita dari kebosanan, keburukan, dan kemiskinan... asalkan bosnya masih ingat bahwa karyawan juga manusia."

Karena memang tidak semua pekerjaan memerdekakan.

Ada pekerjaan yang justru membuat seseorang pulang dalam keadaan tubuh lelah, pikiran kusut, dan jiwa bertanya-tanya mengapa password kantor harus diganti setiap dua minggu.

Bekerja memang penting.

Tetapi bekerja secara manusiawi jauh lebih penting.

Mengolah Kebun Sendiri

Pada akhir Candide, Voltaire menulis kalimat yang mungkin lebih terkenal daripada kutipan tentang kerja:

"Kita harus mengolah kebun kita sendiri."

Ini bukan ajakan mendadak membeli cangkul.

Bukan pula promosi berkebun hidroponik.

"Kebun" adalah metafora.

Ia bisa berarti keluarga.

Pekerjaan.

Ilmu.

Keimanan.

Persahabatan.

Atau bahkan kesehatan mental.

Sayangnya, manusia modern sering lebih sibuk mengomentari kebun tetangga.

Rumput tetangga terlalu hijau.

Pohon tetangga terlalu rindang.

Pot bunga tetangga terlalu estetik.

Sementara halaman sendiri sudah berubah menjadi habitat rumput liar dan sandal jepit yang hilang sebelah.

Media sosial membuat kita ahli menjadi pengamat kehidupan orang lain.

Padahal yang perlu dipupuk justru kehidupan kita sendiri.

Kerja, Tapi Jangan Lupa Hidup

Barangkali Voltaire tidak sedang memuja kerja tanpa batas.

Ia sedang memuji hidup yang memiliki tujuan.

Sebab pekerjaan yang bermakna membuat manusia bangun pagi dengan alasan yang lebih baik daripada sekadar mengejar tanggal gajian.

Namun beliau mungkin juga akan tersenyum melihat zaman sekarang.

Ketika orang berkata ingin work-life balance, tetapi tetap membuka laptop saat liburan.

Ketika seseorang mengaku sedang "healing", tetapi sibuk mengedit foto healing agar terlihat benar-benar healing.

Dan ketika sebagian dari kita merasa sangat lelah, padahal energi terbesar hari itu dihabiskan untuk memindahkan ibu jari dari bawah ke atas layar ponsel.

Mungkin, kalau Voltaire hidup di era digital, ia tidak akan mengubah isi pesannya.

Ia hanya akan menambahkan satu kalimat kecil:

"Silakan bekerja dengan tekun. Tetapi sesekali tutuplah aplikasi yang membuatmu lupa bahwa hidupmu sendiri juga perlu diolah."

Karena pada akhirnya, kebun yang paling penting bukanlah yang paling banyak mendapat "like", melainkan yang benar-benar kita rawat dengan tangan sendiri.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026