Ada dua jenis manusia di dunia modern. Yang pertama bangun pagi lalu bertanya, "Apa mimpiku hari ini?" Yang kedua bangun pagi, membuka ponsel, lalu bertanya, "Siapa yang sudah liburan ke Jepang lagi?" Ironisnya, golongan kedua jauh lebih banyak. Mereka bahkan belum sempat menyikat gigi, tetapi sudah berhasil menyikat habis rasa syukur.
Di sinilah Ana María Matute datang seperti tetangga bijak
yang tidak pernah ikut arisan, tetapi sekali bicara membuat seluruh kampung
terdiam. Ia mengatakan bahwa orang tanpa mimpi adalah orang yang sangat gagal.
Bukan gagal karena saldo ATM lebih tipis daripada tisu warung makan, melainkan
karena ia kehilangan mesin paling penting dalam hidup: imajinasi.
Sebab sesungguhnya manusia hidup bukan hanya dengan nasi.
Kalau hanya nasi, ayam goreng juga hidup bahagia sampai hari-H sebelum masuk
penggorengan. Manusia bertahan karena mempunyai sesuatu yang ingin dicapai,
walaupun kadang sesuatu itu berubah-ubah. Waktu kecil ingin jadi astronot.
Remaja ingin jadi penyanyi. Dewasa cukup ingin cicilan lunas dan grup WhatsApp
keluarga berhenti mengirim hoaks setiap pagi.
Mimpi memang sering dituduh tidak realistis. Padahal, yang
paling tidak realistis justru keyakinan bahwa kita bisa bahagia hanya dengan
menambah angka di rekening. Kalau benar demikian, para miliarder pasti sudah
tidak pernah insomnia. Nyatanya, kasur paling empuk tetap tidak bisa
menggantikan hati yang keras seperti kerupuk semalaman.
Matute menggambarkan mimpi sebagai sebuah bukit. Indah
sekali. Bukit memang tempat orang melihat dunia lebih luas. Hanya saja, zaman
sekarang banyak orang lebih suka mendaki "Bukit Diskon 11.11". Napas
ngos-ngosan mengejar promo, tetapi santai saja membiarkan cita-cita berdebu di
gudang pikiran.
Lucunya lagi, manusia modern sangat rajin membuat daftar
keinginan, tetapi malas membuat daftar impian. Perbedaannya tipis, tetapi
dampaknya jauh. Keinginan biasanya berakhir di keranjang belanja. Impian
berakhir di sejarah hidup.
Namun Matute rupanya belum selesai menggoda kita. Setelah
membicarakan mimpi, ia mengeluarkan daftar penyakit yang menurutnya paling
menyebalkan: hati yang sempit, keserakahan, dan tidak mau bermurah hati.
Kalau dipikir-pikir, penyakit ini memang lebih menular
daripada flu. Bedanya, flu membuat orang bersin. Kekerdilan hati membuat orang
alergi melihat kebahagiaan tetangga.
Ada orang yang melihat temannya sukses lalu berkata,
"Alhamdulillah."
Ada pula yang berkata, "Pasti ada orang dalam."
Kalau temannya membeli mobil baru, ia langsung menjadi
detektif ekonomi.
"Utangnya berapa?"
Kalau temannya menikah bahagia, ia berubah menjadi analis
hubungan.
"Nanti juga berantem."
Kalau temannya mendapat penghargaan, ia mendadak ahli
konspirasi.
"Itu pasti setting-an."
Begitulah kekerdilan hati bekerja. Ia tidak pernah bisa
menikmati bunga di taman karena terlalu sibuk menghitung kenapa bunga tetangga
mekar lebih dulu.
Yang menarik, Matute tidak menuduh kemiskinan materi sebagai
musuh terbesar manusia. Ia justru mengingatkan adanya kemiskinan spiritual. Dan
yang satu ini lebih licin. Orang miskin harta masih bisa tertawa bersama
teman-temannya sambil minum kopi sachet. Tetapi orang miskin hati bisa duduk di
restoran bintang lima sambil iri kepada meja sebelah.
Padahal kemurahan hati tidak selalu membutuhkan dompet
tebal. Senyum itu gratis. Mengucapkan selamat tidak dikenai pajak. Memberi
semangat belum dipungut bea materai. Bahkan memuji orang lain tidak membuat
tinggi badan kita berkurang satu sentimeter.
Sayangnya, ada manusia yang memperlakukan pujian seperti
emas batangan: disimpan rapat-rapat, takut berkurang kalau dibagikan.
Untungnya, Matute tidak hanya pandai mendiagnosis penyakit.
Ia juga membawa resep. Obatnya sederhana: cinta dan persahabatan.
Bukan cinta ala sinetron yang setiap lima menit kehilangan
ingatan, lalu ingat lagi menjelang iklan. Bukan pula persahabatan yang hanya
aktif ketika butuh pinjaman motor atau password Wi-Fi.
Yang ia maksud adalah cinta sebagai kebiasaan memberi ruang
bagi orang lain untuk tumbuh. Persahabatan sebagai kesediaan hadir bahkan
ketika tidak ada foto yang bisa diunggah ke media sosial.
Karena pada akhirnya hidup bukan perlombaan mengumpulkan pengikut, melainkan perjalanan mengumpulkan orang-orang yang bersedia tetap tinggal ketika kita sedang tidak menarik untuk ditonton.
Di zaman sekarang, kita memang memiliki ribuan teman
digital. Tetapi ketika pindahan rumah, yang datang sering kali hanya dua orang
dan satu di antaranya adalah jasa ekspedisi.
Mungkin itulah sebabnya kutipan Matute terasa semakin segar.
Ia mengingatkan bahwa manusia bukan mesin produktivitas. Kita bukan aplikasi
yang harus terus diperbarui versinya setiap bulan. Kita hanyalah makhluk yang
membutuhkan tiga hal agar tidak berubah menjadi robot berwajah lelah: mimpi
yang masih menyala, hati yang cukup lapang untuk ikut bergembira atas
keberhasilan orang lain, dan persahabatan yang tidak memakai sistem poin
loyalitas.
Maka, sesekali berhentilah menggulir layar. Cobalah
menggulir kembali mimpi-mimpi yang pernah Anda simpan. Barangkali masih ada
yang belum kedaluwarsa.
Dan kalau hari ini Anda belum mampu mengubah dunia, tidak
apa-apa. Mulailah dari hal yang lebih sederhana: jangan pelit memberi tepuk
tangan ketika orang lain berhasil. Toh tepuk tangan tidak pernah membuat
telapak tangan menjadi lebih tipis.
Karena ternyata, sebagaimana diingatkan Ana María Matute,
hidup yang paling miskin bukanlah hidup yang kekurangan uang. Hidup yang paling
miskin adalah hidup yang kehilangan mimpi, kekurangan kasih sayang, dan terlalu
sibuk menghitung milik orang lain sampai lupa menikmati miliknya sendiri. Itu
baru benar-benar bangkrut—bahkan sebelum dompetnya kosong.
abah-arul.blospot.com., Juli 2026






