Jumat, 24 Juli 2026

Menua Itu Enak, Asal Lutut Tidak Ikut Berkomentar

Ada masa ketika ulang tahun adalah pesta. Lilin bertambah, doa mengalir, hadiah berdatangan, dan kita masih sanggup meniup semua lilin tanpa perlu inhaler. Lalu datanglah usia yang membuat kita mulai menghitung ulang: bukan lagi berapa banyak lilin, melainkan berapa banyak obat yang diminum setelah makan.

Namun, di tengah dunia yang sibuk menjual serum anti-aging, krim penghapus keriput, dan aplikasi penyunting wajah yang mampu mengubah kakek menjadi mahasiswa semester tiga, muncul sebuah gagasan yang terasa menyegarkan: bagaimana kalau menjadi tua tidak perlu dilawan?

Gagasan itu sederhana, tetapi dampaknya seperti menemukan colokan listrik di bandara. Melegakan.

Barangkali selama ini kita salah paham terhadap penuaan. Kita mengira menjadi tua berarti kalah dari waktu. Padahal, bisa jadi yang kalah justru dompet kita karena terlalu sering membeli produk yang menjanjikan wajah bayi dengan harga cicilan motor.

Yang sesungguhnya berubah ketika usia bertambah bukanlah jumlah keriput. Yang berubah adalah daftar hal yang sudah tidak layak dipusingkan.

Saat muda, kita bisa menghabiskan dua jam hanya untuk memilih foto profil. Foto yang terlalu serius dianggap angkuh. Terlalu santai dianggap tidak punya masa depan. Terlalu tersenyum dibilang sedang jatuh cinta. Terlalu datar dikira habis dimarahi atasan.

Ketika usia mulai matang, persoalan itu selesai dalam tiga detik.

"Foto ini buram."

"Ya sudah."

Selesai.

Ada kebebasan luar biasa dalam kata "ya sudah."

Kebebasan itu mungkin merupakan hadiah paling mahal dari penuaan. Bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi karena kita akhirnya sadar bahwa tidak semua pertandingan wajib diikuti.

Dulu kita ingin semua orang menyukai kita. Kita belajar menjadi menyenangkan, ramah, fleksibel, bahkan rela tertawa pada lelucon yang sebenarnya lebih kering daripada kerupuk disimpan di dashboard mobil.

Semakin tua, kita mulai mengerti bahwa menjadi kesukaan semua orang adalah pekerjaan yang bahkan es teh manis pun gagal melakukannya.

Kalau teh saja masih ada yang bilang kemanisan, kita ini mau berharap apa?

Lalu ada penyakit yang hanya menyerang usia muda: FOMO—Fear of Missing Out. Takut ketinggalan apa saja. Diskon, konser, tren, gosip, drama, podcast, webinar, kelas daring, kelas luring, kelas yang bahkan tidak tahu mengajarkan apa.

Begitu usia bertambah, penyakit itu perlahan berubah menjadi JOMO—Joy of Missing Out.

Teman mengirim pesan, "Besok kumpul sampai tengah malam, ya!"

Jawabannya sederhana.

"Selamat menikmati."

Tidur pukul sembilan tiba-tiba terasa lebih revolusioner daripada menghadiri pesta.

Penuaan ternyata membuat kita menjadi ekonom ulung. Energi tidak lagi dihamburkan sembarangan. Setiap debat diperlakukan seperti belanja bulanan: kalau tidak penting, tidak masuk keranjang.

Dulu, komentar asing di media sosial bisa membuat hati panas seminggu. Sekarang?

"Semoga sehat selalu."

Lalu lanjut menyiram tanaman.

Sungguh, bunga lebih tahu cara berterima kasih daripada kolom komentar.

Yang menarik, menjadi tua juga mengajarkan bahwa produktivitas bukan agama. Dunia modern sering memperlakukan manusia seperti mesin fotokopi. Selama bisa mencetak hasil, dianggap berguna. Begitu mulai lambat, langsung dicari model terbaru.

Padahal manusia bukan printer.

Kalau dipaksa terus mencetak, yang keluar bukan lagi karya, melainkan bunyi "krek... krek..." dari pinggang.

Ada hari ketika kita menghasilkan banyak hal. Ada hari ketika pencapaian terbesar hanyalah berhasil minum air putih delapan gelas dan tidak lupa membawa kacamata yang ternyata sejak tadi sudah bertengger di kepala.

Anehnya, kedua hari itu sama-sama layak disyukuri.

Di situlah letak kebijaksanaan yang sering terlambat kita sadari. Hidup bukan perlombaan siapa paling sibuk. Sebab kesibukan kadang hanya cara elegan untuk menghindari percakapan dengan diri sendiri.

Semakin tua, kita mulai menikmati hal-hal yang dulu tampak remeh. Cahaya matahari yang menembus jendela. Aroma kopi pagi. Angin sore. Tawa cucu. Bahkan suara hujan yang dulu dianggap mengganggu jemuran kini terdengar seperti konser privat dari langit.

Kita mulai mengerti bahwa kebahagiaan bukanlah pesta kembang api.

Sering kali ia hanya secangkir teh hangat yang tidak sempat dingin karena langsung diminum.

Tentu saja, penuaan bukan berarti tanpa kehilangan. Ada teman yang lebih dulu berpamitan. Ada orang tua yang tinggal dalam kenangan. Ada impian yang ternyata memang bukan jatah kita.

Namun, usia mengajarkan sesuatu yang aneh: hati manusia ternyata seperti rumah tua.

Semakin banyak ruang yang ditinggalkan penghuninya, semakin banyak cahaya yang bisa masuk lewat jendela.

Mungkin itulah sebabnya banyak orang yang tampak lebih damai ketika rambutnya mulai memutih. Mereka bukan tidak pernah sedih. Mereka hanya sudah lelah bertengkar dengan kenyataan.

Dan bukankah kenyataan memang selalu menang?

Pada akhirnya, menjadi tua bukan tentang bertambahnya angka di kartu identitas. Menjadi tua adalah saat kita berhenti membawa koper berisi harapan orang lain ke mana-mana.

Betapa berat hidup selama ini ternyata bukan karena usia, melainkan karena kita sibuk memikul ekspektasi yang bahkan bukan milik kita.

Kalau ada yang patut dirayakan dari penuaan, mungkin bukan karena kita semakin dekat dengan garis akhir, melainkan karena akhirnya kita tahu jalan mana yang tidak perlu lagi ditempuh.

Jadi, kalau suatu hari nanti ada yang bertanya, "Apa rasanya menjadi tua?"

Mungkin jawabannya sederhana.

"Rasanya seperti akhirnya menemukan tombol mute untuk semua kebisingan yang selama ini kita kira wajib didengarkan."

Dan itu, percayalah, jauh lebih ampuh daripada krim anti-keriput mana pun. Sebab wajah boleh saja berkerut, tetapi hati yang akhirnya damai selalu tampak jauh lebih muda daripada wajah yang dipoles mati-matian namun masih sibuk mengejar tepuk tangan.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Kamis, 23 Juli 2026

Jangan Salaman di Pintu, Nanti Persahabatan Kena Macet

Bayangkan Anda bertamu ke rumah seorang Rusia. Dengan penuh semangat, Anda mengulurkan tangan dari luar pintu sambil tersenyum selebar iklan pasta gigi. Namun tuan rumah malah mundur sedikit.

Bukan karena Anda lupa mandi.

Bukan pula karena parfum Anda terlalu optimistis.

Ia hanya berkata, "Masuk dulu."

Anda pun bingung. Dalam hati bertanya, "Apakah rumah ini memakai sistem antrean seperti bank?"

Ternyata tidak. Yang sedang bekerja adalah sebuah tradisi berusia ratusan tahun. Dalam budaya Rusia, berjabat tangan di ambang pintu dipercaya bisa mengundang sial, pertengkaran, bahkan hubungan yang retak. Jadi, sebelum tangan bertemu tangan, kaki harus lebih dulu melewati kusen.

Rupanya, bahkan persahabatan pun harus mengikuti prosedur masuk.


Tradisi ini berasal dari kepercayaan Slav kuno yang memandang ambang pintu sebagai wilayah istimewa. Ia bukan sekadar kayu yang dipaku di lantai, melainkan garis batas antara dunia yang aman dan dunia yang penuh ketidakpastian.

Kalau di zaman sekarang kita mengenal firewall untuk melindungi komputer, orang-orang Slav rupanya sudah lebih dulu memiliki doorwall untuk melindungi rumah.

Konon, di sekitar ambang pintu berdiam roh pelindung rumah yang disebut domovoi. Ia bertugas menjaga kedamaian keluarga. Maka, berjabat tangan tepat di atas wilayah kerjanya dianggap sama tidak sopannya dengan menggelar konser dangdut di ruang baca perpustakaan.

Barangkali si domovoi hanya ingin bekerja dengan tenang.


Yang menarik, zaman berubah, kerajaan berganti, agama datang silih berganti, internet muncul, kecerdasan buatan lahir, tetapi beberapa kebiasaan tetap bertahan.

Ini menunjukkan bahwa manusia sebenarnya makhluk yang sangat modern dalam membeli ponsel, tetapi sangat tradisional dalam menyimpan kebiasaan.

Lihat saja kita sendiri.

Masih banyak orang yang mengetuk meja tiga kali setelah mengucapkan sesuatu yang terlalu optimistis.

Masih ada yang tidak enak hati membuka payung di dalam rumah.

Masih ada pula yang percaya bahwa mencari barang hilang lebih cepat jika sambil memarahi seluruh isi rumah.

Logikanya memang sering cuti.

Namun tradisinya tetap masuk kerja.


Di Indonesia, kita pun tidak kekurangan kebiasaan serupa.

Jangan duduk di depan pintu, nanti susah jodoh.

Jangan menyapu malam hari, rezeki kabur.

Jangan bersiul malam-malam, nanti ada yang datang.

Kalau dipikir-pikir, hidup ini rupanya penuh larangan yang membuat pintu memiliki karier lebih sibuk daripada pegawai kelurahan.

Pintu bukan hanya tempat keluar masuk.

Ia menjadi pusat diplomasi keluarga, tempat nasihat nenek berkantor, sekaligus lokasi favorit berbagai mitos membuka cabang.


Yang lucu, hampir semua budaya memiliki "aturan tak terlihat" seperti ini.

Artinya, manusia di seluruh dunia sebenarnya sama saja. Kita sama-sama suka memberi makna lebih pada benda-benda biasa.

Ada bangsa yang menganggap angka tertentu membawa sial.

Ada yang percaya burung tertentu membawa pertanda.

Ada pula yang merasa rapat akan lebih sukses kalau presentasi dimulai tepat pukul sembilan lewat tiga menit.

Padahal penyebab rapat gagal biasanya bukan angka.

Melainkan presentasinya terdiri dari seratus tiga puluh tujuh slide.


Di sinilah keindahan unggahan seperti yang dibagikan akun @AdabRuss. Ia tidak sedang mengajarkan cara berjabat tangan yang benar. Ia sedang mengingatkan bahwa setiap bangsa memiliki logika budayanya sendiri.

Yang bagi kita terasa aneh, bagi mereka terasa biasa.

Yang kita anggap mitos, bagi orang lain adalah bentuk penghormatan kepada leluhur.

Budaya memang seperti resep keluarga.

Secara ilmiah mungkin sulit dijelaskan mengapa opor buatan nenek terasa lebih enak daripada restoran berbintang.

Namun semua anggota keluarga tetap percaya.

Dan tidak ada yang cukup berani membantah nenek.


Media sosial sering membuat kita sibuk berdebat tentang siapa yang paling benar.

Padahal sesekali kita perlu berhenti dan sekadar berkata, "Oh, ternyata di sana begitu."

Kalimat sederhana itu jauh lebih berguna daripada seribu komentar yang diawali dengan, "Sebenarnya..."

Karena memahami budaya orang lain bukan berarti harus ikut mempercayainya.

Kita cukup menghormatinya.

Seperti kita menghormati teman yang selalu mematikan dan menyalakan sakelar tiga kali sebelum tidur. Kita mungkin tidak ikut melakukannya, tetapi juga tidak perlu menyita sakelarnya.


Akhirnya saya sampai pada kesimpulan sederhana.

Mungkin bukan ambang pintu yang membawa sial.

Yang sering membawa sial justru kebiasaan manusia mengambil kesimpulan sebelum benar-benar masuk ke "rumah" pemahaman orang lain.

Kita terlalu sering berjabat tangan dengan prasangka, sebelum melangkah masuk ke ruang budaya yang berbeda.

Barangkali itulah pelajaran paling berharga dari tradisi Rusia tersebut.

Kadang-kadang, sebelum mengulurkan tangan, kita memang perlu melangkah satu langkah lebih dulu.

Bukan sekadar masuk ke dalam rumah.

Melainkan masuk ke dalam pengertian.

Dan untungnya, untuk memasuki rumah itu, tidak diperlukan paspor.

Cukup rasa ingin tahu, sedikit kerendahan hati, dan kesediaan meninggalkan sandal kesombongan di depan pintu.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Koperasi Desa Merah Putih: Ketika Uang Triliunan Diajak Pulang Kampung

Ada dua hal yang selalu membuat orang Indonesia mendadak menjadi ahli ekonomi. Yang pertama, harga cabai naik. Yang kedua, mendengar angka Rp240 triliun. Begitu angka itu muncul, sebagian orang langsung mengambil kalkulator, sebagian lagi mengambil napas, dan sisanya mengambil kesimpulan—meski belum tentu membaca penjelasannya.

Program Koperasi Desa Merah Putih datang membawa angka yang membuat alis naik beberapa sentimeter. Dua ratus empat puluh triliun! Jumlah yang kalau diwujudkan dalam uang seratus ribuan mungkin bisa membuat semut berpikir dua kali untuk menyeberanginya.

Untungnya, pemerintah tidak berniat menumpuk uang sebanyak itu di balai desa sambil berkata, "Silakan dijaga, Pak Ketua Koperasi." Sebab kalau itu terjadi, yang pertama kali datang mungkin bukan anggota koperasi, melainkan orang-orang yang mendadak mengaku masih saudara jauh sejak zaman Majapahit.

Yang menarik justru cara pembiayaannya. Dana itu tidak digelontorkan sekaligus, melainkan dicicil sekitar Rp40 triliun per tahun melalui perbankan Himbara selama enam tahun. Mirip orang membeli rumah dengan KPR. Bedanya, kalau cicilan rumah telat, yang ditelepon bank. Kalau program sebesar ini meleset, yang menelepon bisa seluruh rakyat.

Skema bertahap ini menunjukkan bahwa mengelola negara rupanya tidak boleh seperti mengelola uang THR. Baru tanggal dua sudah habis karena tergoda diskon "beli satu gratis rasa bersalah".


Selama ini desa sering diperlakukan seperti pemain cadangan dalam pertandingan ekonomi. Padahal, pemain inti kita justru banyak tinggal di sana. Petani menanam padi, nelayan menangkap ikan, UMKM membuat berbagai produk, tetapi keuntungan terbesar sering kali berhenti di tengah jalan karena rantai distribusi lebih panjang daripada antrean saat pembagian sembako.

Di sinilah koperasi diharapkan menjadi "mak comblang ekonomi". Ia mempertemukan produsen kecil dengan pasar yang lebih luas tanpa harus melalui terlalu banyak perantara. Harapannya, yang semakin gemuk bukan hanya laporan penjualan, tetapi juga dompet anggotanya.

Namun koperasi bukanlah tongkat sihir. Memberi modal kepada koperasi tanpa membangun tata kelola ibarat menghadiahkan mobil sport kepada orang yang belum bisa membedakan pedal gas dan rem. Kendaraan memang melaju, tetapi arah akhirnya masih misteri.

Karena itu, transparansi menjadi syarat utama. Dana triliunan punya sifat yang unik. Ia tidak bisa berjalan sendiri, tetapi entah mengapa kadang-kadang bisa "hilang jalan". Maka laporan keuangan harus lebih rajin daripada status media sosial. Bedanya, laporan keuangan sebaiknya memang sesuai kenyataan.


Indonesia juga punya satu keunikan yang sering membuat para perencana pembangunan menggaruk kepala. Kita suka membuat resep yang sama untuk dapur yang berbeda.

Padahal desa bukan fotokopi satu sama lain. Desa penghasil kopi tentu berbeda kebutuhannya dengan desa nelayan. Desa wisata berbeda dengan desa pertanian. Memberi strategi yang sama kepada semuanya sama saja seperti menyuruh semua orang memakai ukuran sandal nomor 41. Ada yang pas, ada yang longgar, ada pula yang hanya bisa dipakai sebagai pajangan.

Karena itu, pendekatan lokal bukan sekadar slogan. Desa harus diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Sebab potensi desa bukan sesuatu yang harus diciptakan, melainkan ditemukan dan dikelola.

Lalu ada urusan yang sering dianggap sepele, padahal justru menentukan: kualitas manusia.

Teknologi digital memang penting. Aplikasi pelaporan keuangan bisa dibuat secanggih apa pun. Namun aplikasi tidak akan banyak membantu kalau kata sandinya ditulis di balik bungkus mi instan lalu hilang ketika dapur dibersihkan.

Pelatihan pengurus koperasi jauh lebih berharga daripada sekadar membeli komputer baru. Sebab komputer tidak pernah membuat keputusan. Yang menentukan arah koperasi tetap manusia yang duduk di depannya—entah sedang fokus bekerja atau sibuk mencari colokan charger.


Program ini pada akhirnya mengajarkan satu pelajaran sederhana: uang memang penting, tetapi uang hanyalah pemain pendukung. Pemeran utamanya tetap kepercayaan, integritas, dan kemampuan mengelola.

Triliunan rupiah bisa menjadi pupuk yang menyuburkan ekonomi desa. Namun pupuk sebanyak apa pun tidak akan membuat panen berhasil jika sawahnya dibiarkan penuh gulma. Sebaliknya, lahan yang dikelola dengan baik akan membuat setiap butir pupuk bekerja lebih maksimal.

Mungkin itulah filosofi tersembunyi dari Koperasi Desa Merah Putih. Ia bukan sekadar proyek memindahkan angka dari kas negara ke rekening koperasi. Ia adalah ujian nasional bagi kemampuan kita bekerja sama.

Kalau berhasil, desa akan membuktikan bahwa kemajuan tidak selalu lahir dari gedung pencakar langit. Kadang ia tumbuh pelan, dari balai desa, dari rapat koperasi yang diselingi teh hangat dan pisang goreng, lalu menjalar menjadi kesejahteraan yang benar-benar terasa.

Dan semoga, untuk sekali ini, yang paling cepat berkembang bukan hanya grup WhatsApp pengurus koperasi, melainkan juga ekonomi desanya.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Belajar Hidup dari Elif Shafak: Jangan Terlalu Percaya Kata "Selamanya", Apalagi Diskon yang Tinggal Lima Menit

Ada dua jenis manusia di dunia. Yang pertama percaya bahwa hidup bisa direncanakan dengan rapi seperti jadwal belajar menjelang ujian. Yang kedua sudah menyerah dan menganggap hidup hanyalah serial drama dengan penulis naskah yang suka mengganti alur di episode terakhir.

Elif Shafak tampaknya berdiri di tengah-tengah. Ia tidak menyuruh kita menjadi pesimis, tetapi juga tidak membiarkan kita mabuk optimisme. Ia sekadar mengingatkan bahwa hidup itu lebih kreatif daripada manusia yang membuat vision board setiap awal tahun.

Lihat saja urusan cinta.

Konon cinta datang tanpa diundang. Benar. Yang jarang dibahas adalah bahwa kadang ia juga pulang tanpa pamit. Bahkan lebih cepat daripada tamu hajatan yang baru datang, makan dua kali, lalu menghilang sebelum acara doa.

Kita sering menganggap cinta seperti kontrak internet berlangganan: begitu aktif, tinggal bayar setiap bulan. Padahal cinta lebih mirip tanaman. Kalau tidak disiram, ia layu. Kalau disiram berlebihan, ia juga layu. Kalau tetangganya lebih rajin menyiram... nah, itu sudah masuk sinetron.

Begitu pula persahabatan.

Teman terbaik bisa berubah menjadi orang asing. Sebaliknya, orang asing bisa menjadi sahabat seumur hidup. Fenomena ini membuat kita sadar bahwa hubungan antarmanusia lebih dinamis daripada harga cabai.

Di media sosial, seseorang bisa memberi tanda hati pada semua unggahan kita selama bertahun-tahun, lalu suatu hari hilang tanpa jejak. Sebaliknya, orang yang dulu hanya bertanya, "Permisi, colokannya kosong?" justru beberapa tahun kemudian menjadi orang yang membantu kita saat hidup sedang korsleting.

Karena itu jangan terlalu cepat memberi label permanen kepada manusia. Bahkan aplikasi yang kita anggap paling stabil pun rutin meminta pembaruan. Masa manusia tidak?

Yang paling menarik dari renungan Shafak adalah kritiknya terhadap dua kata yang sangat disukai manusia: "selamanya" dan "tidak akan pernah."

Lucunya, kedua kalimat itu paling sering diucapkan saat emosi sedang mencapai puncak.

"Aku tidak akan pernah memaafkan dia!"

Dua minggu kemudian mereka sudah makan bakso bersama.

Atau sebaliknya.

"Kita akan bersama selamanya."

Lalu enam bulan kemudian status media sosial berubah menjadi, "Perjalanan terbaik adalah perjalanan menemukan diri sendiri."

Hidup memang gemar mempermalukan kalimat yang terlalu absolut. Alam semesta tampaknya alergi pada kata "selamanya". Ia lebih suka berkata, "Kita lihat nanti."

Kemudian datang nasihat yang membuat para penunda kronis sedikit berkeringat: kalau ingin bertemu seseorang, pergilah mencarinya sebelum terlambat.

Masalahnya, manusia punya bakat luar biasa dalam menunda.

Menelepon orang tua? Nanti malam.

Mengunjungi sahabat lama? Minggu depan.

Meminta maaf? Tunggu suasana lebih enak.

Mulai olahraga? Senin.

Seninnya? Senin depan.

Kalender mungkin satu-satunya benda yang paling sabar menghadapi kebiasaan manusia. Ia terus berganti halaman sambil diam-diam berkata, "Silakan ditunda lagi. Aku tetap jalan."

Shafak juga mengatakan bahwa orang yang mau akan bisa melakukannya.

Kalimat ini sederhana, tetapi cukup mengganggu. Sebab selama ini kita memiliki gudang alasan yang jauh lebih besar daripada gudang usaha.

Kita ahli membuat kalimat seperti, "Belum waktunya."

Padahal kadang yang belum waktunya hanyalah niat kita bangun dari kasur.

Lalu tibalah bagian favorit para pencinta zona nyaman: tentang risiko.

Kita sering mengira hidup paling aman adalah hidup tanpa risiko.

Padahal itu seperti membeli payung lalu tidak pernah keluar rumah karena takut hujan. Payungnya memang awet, tetapi pemiliknya tidak pernah melihat pelangi.

Risiko memang bisa menghadirkan kegagalan.

Namun tidak mengambil risiko hampir pasti menghadirkan penyesalan.

Yang satu melukai harga diri.

Yang satunya lagi menghantui sampai tua.

Pilihannya tidak pernah benar-benar nyaman.

Bagian paling filosofis dari Shafak adalah ketika ia membedakan rasa sakit dan penderitaan.

Sakit memang datang tanpa meminta izin. Kehilangan, kegagalan, ditolak, kecewa—semuanya bagian dari paket kehidupan.

Namun penderitaan sering kali adalah hasil rapat panjang di dalam kepala sendiri.

Bayangkan seseorang tertusuk duri. Itu sakit.

Lalu setiap hari ia membuka album foto duri itu, mengenangnya, membahasnya di grup keluarga, membuat seminar tentang duri, lalu menulis status, "Tak semua orang mengerti perjuanganku melawan duri."

Nah, di situlah penderitaan mulai membuka kantor cabang.

Yang terakhir mungkin paling sulit: menerima kenyataan.

Manusia punya hubungan yang rumit dengan fakta. Kita sering berharap kenyataan berubah hanya karena kita tidak menyukainya.

Padahal kenyataan itu seperti petugas parkir.

Kita boleh protes sepanjang hari, tetapi tarifnya tetap harus dibayar.

Penerimaan bukan berarti menyerah. Ia hanyalah pengakuan bahwa melawan kenyataan dengan cara menyangkalnya sama efektifnya dengan memarahi hujan karena membasahi jemuran.

Pada akhirnya, Elif Shafak seolah mengajak kita menjalani hidup dengan cara yang lebih ringan. Mencintailah tanpa menganggap semuanya pasti abadi. Bersahabatlah tanpa merasa memiliki. Beranilah mengambil langkah meski lutut sedikit gemetar. Datangi orang-orang yang berarti sebelum nama mereka tinggal tersimpan di kontak yang tak pernah lagi dihubungi.

Sebab hidup, kalau dipikir-pikir, memang punya selera humor yang sangat khas. Ia sering menutup pintu yang kita kejar mati-matian, lalu diam-diam membuka jendela yang bahkan tidak kita sadari keberadaannya.

Mungkin itulah sebabnya orang bijak tidak sibuk mencari kepastian mutlak. Mereka cukup membawa bekal keberanian, sedikit kesabaran, dan kemampuan menertawakan diri sendiri.

Karena pada akhirnya, yang paling sering membuat hidup terasa berat bukanlah kenyataan itu sendiri, melainkan ekspektasi kita yang bersikeras bahwa hidup seharusnya mengikuti rencana. Padahal sejak awal, hidup hanya tersenyum sambil berkata, "Terima kasih atas usulnya. Sekarang izinkan saya memakai skenario saya sendiri."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Online Terus, Waras Kapan? Sebuah Pertapaan Digital di Negeri Notifikasi

Konon, manusia adalah makhluk sosial. Tetapi setelah hadirnya ponsel pintar, definisinya berubah sedikit: manusia adalah makhluk yang merasa berdosa kalau pesan WhatsApp belum dibalas dalam tiga menit. Kalau lima menit, mulai muncul, "Maaf ganggu ya..." Padahal yang diganggu sedang mandi. Atau sedang mengupas mangga. Atau sedang pura-pura tidak melihat pesan karena tahu ujung-ujungnya diminta mengisi Google Form.

Di zaman ini, menjadi manusia ternyata lebih sulit daripada menjadi server. Server masih boleh mengalami maintenance. Kita? Sedikit saja tidak aktif, langsung ditanya, "Kok hilang?" Seolah-olah hidup kita adalah serial televisi yang wajib tayang setiap hari.

Di sinilah filsuf Korea-Jerman, Byung-Chul Han, datang membawa kabar yang terdengar seperti ajakan berbuat kriminal ringan: beranilah menjadi tidak tersedia.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di era sekarang efeknya hampir seperti berkata, "Saya mau diet di depan meja prasmanan."


Kita hidup dalam zaman yang menganggap notifikasi lebih penting daripada intuisi. Bunyi "ting!" memiliki kekuatan spiritual yang bahkan mampu mengalahkan suara hati. Sedang khusyuk membaca buku? Ting! Sedang menikmati matahari sore? Ting! Sedang menatap wajah pasangan? Ting!

Lucunya, kita sering lebih cepat menjawab orang yang mengirim emoji jempol daripada menjawab pertanyaan hidup yang sudah bertahun-tahun mengendap di kepala.

Ponsel, yang dahulu diciptakan agar manusia mudah berkomunikasi, kini sukses membuat manusia sulit berkonsentrasi. Ia seperti tamu yang awalnya hanya numpang minum, lalu pindah alamat dan mulai mengatur tata letak ruang tamu.


Byung-Chul Han menyebut perlunya ascèse numérique, semacam pertapaan digital. Jangan bayangkan kita harus tinggal di gua sambil memakan umbi-umbian dan mengirim sinyal asap kepada keluarga.

Tidak.

Pertapaan digital versi Han jauh lebih sederhana sekaligus lebih berat: menaruh ponsel sebentar.

Ya, hanya itu.

Masalahnya, bagi sebagian orang, menaruh ponsel selama sepuluh menit rasanya setara dengan melepas tabung oksigen di puncak gunung.

Ada yang mulai gelisah.

"Tadi ada yang chat nggak ya?"

"Jangan-jangan ada promo."

"Kalau dunia kiamat, saya tahunya belakangan."

Padahal kemungkinan terbesar hanyalah grup keluarga sedang berdebat apakah tomat termasuk buah atau sayur.


Han mengatakan bahwa manusia modern kehilangan kemampuan menikmati hal-hal sederhana.

Coba saja duduk di bawah pohon.

Idealnya kita mengagumi batangnya yang kokoh, daunnya yang bergoyang pelan, cahaya matahari yang menyelinap di sela ranting, dan suara burung yang saling bersahutan.

Realitasnya?

Belum lima belas detik, kita sudah membuka kamera.

Lalu mencari sudut terbaik.

Lalu mengedit.

Lalu memberi caption, Healing.

Lalu lima menit berikutnya sibuk mengecek siapa yang menyukai unggahan itu.

Akhirnya yang benar-benar menikmati pohon hanyalah tupai.


Begitu pula dengan membaca buku.

Dahulu orang membaca novel empat ratus halaman dengan sabar. Sekarang membaca dua paragraf saja sudah muncul keinginan menggulir layar, seolah-olah Dostoevsky seharusnya menyediakan versi short video berdurasi tiga puluh detik.

Kita ingin filsafat dalam bentuk infografik.

Kita ingin sejarah dalam bentuk meme.

Kita ingin kebijaksanaan dalam bentuk kutipan yang bisa dibagikan tanpa perlu dipahami.

Ironisnya, semakin banyak informasi yang kita telan, semakin sedikit yang benar-benar kita cerna. Kepala kita berubah seperti laci dapur: penuh barang, tetapi setiap mencari sesuatu selalu berkata, "Tadi saya taruh di mana, ya?"


Menurut Han, kebebasan sejati bukanlah mampu melakukan semuanya.

Justru kebebasan adalah kemampuan berkata, "Tidak sekarang."

Kalimat itu tampaknya sepele, tetapi sangat revolusioner.

Sebab sistem modern tidak ingin kita diam.

Ia ingin kita selalu aktif.

Selalu responsif.

Selalu produktif.

Selalu online.

Kalau bisa, bahkan ketika tidur tetap terlihat sedang "last seen recently."

Di mata sistem, manusia ideal adalah manusia yang selalu siap.

Di mata jiwa, manusia ideal justru kadang-kadang menghilang.

Bukan untuk kabur dari tanggung jawab, melainkan untuk kembali bertemu dirinya sendiri.


Tentu saja, kritik terhadap Han juga masuk akal.

Tidak semua orang punya kemewahan untuk mematikan ponsel. Ada dokter yang harus siaga. Ada pengemudi ojek daring yang menggantungkan penghasilan pada notifikasi. Ada ibu yang harus siap menerima kabar anaknya.

Pertapaan digital memang lebih mudah dilakukan oleh orang yang jadwalnya longgar daripada mereka yang hidupnya bergantung pada bunyi "ting."

Namun, pesan Han bukan soal membenci teknologi.

Ia hanya mengingatkan agar manusialah yang memegang kendali atas ponsel, bukan sebaliknya.

Karena kalau sampai ponsel lebih sering menentukan kapan kita bahagia, kapan kita panik, kapan kita marah, dan kapan kita merasa berharga, mungkin yang benar-benar pintar bukan lagi smartphone-nya, melainkan ia sudah berhasil membuat kita sedikit kurang pintar.


Mungkin kita memang tidak bisa sepenuhnya keluar dari dunia digital.

Lagipula, memesan makanan dengan merpati pos juga bukan solusi.

Tetapi kita masih bisa mencuri sedikit ruang sunyi.

Mematikan notifikasi sejam.

Membaca buku tanpa sesekali membuka media sosial.

Berjalan sore tanpa memotret setiap daun.

Duduk di teras tanpa merasa wajib mengunggah bukti bahwa kita sedang duduk di teras.

Sesederhana itu.

Karena ternyata hidup tidak selalu membutuhkan tombol "refresh."

Kadang yang perlu diperbarui bukan layar, melainkan perhatian kita.

Dan siapa tahu, ketika kita akhirnya berani menjadi "tidak tersedia" selama beberapa saat, kita justru menjadi lebih hadir—bukan di dunia maya, melainkan di dunia yang selama ini diam-diam menunggu kita mengangkat kepala.

Sebab, boleh jadi, kebebasan bukanlah sinyal dengan lima batang penuh.

Kebebasan adalah ketika lima batang itu ada, tetapi kita merasa tidak wajib memakainya setiap saat. Bahkan, sesekali, kita cukup berkata kepada ponsel, "Maaf, hari ini giliran aku yang offline. Kamu saja yang bekerja lembur."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Rabu, 22 Juli 2026

Disiplin, Demokrasi, dan Antrean Gorengan: Belajar Politik dari Lee Kuan Yew Tanpa Harus Menjadi Satpam Semesta

Ada dua jenis orang di dunia. Yang pertama, kalau lampu lalu lintas merah jam dua pagi di jalan kosong, tetap berhenti. Yang kedua, berhenti sebentar hanya untuk memastikan tidak ada polisi, lalu melaju sambil berbisik, "Yang penting disiplin... situasional."

Di antara dua golongan itulah mungkin arwah perdebatan Lee Kuan Yew melayang-layang sambil menghela napas.

Mendiang bapak modernisasi Singapura itu pernah berkata bahwa negara lebih membutuhkan disiplin daripada demokrasi untuk berkembang. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi efeknya seperti melempar petasan ke ruang diskusi politik. Separuh orang bertepuk tangan, separuh lagi langsung membuka buku teori demokrasi, sementara sisanya sibuk berdebat di media sosial dengan semangat yang luar biasa demokratis—yakni saling memblokir.

Lee bukan sedang bercanda. Baginya, demokrasi tanpa disiplin hanyalah rapat RT yang berlangsung tiga jam untuk memutuskan warna pagar. Semua bebas berbicara, semua merasa benar, tetapi pagarnya tetap belum dicat.

Sebaliknya, disiplin memungkinkan keputusan diambil cepat. Jalan dibangun. Pelabuhan selesai. Pendidikan diperbaiki. Korupsi dipersempit ruang geraknya. Negara bergerak seperti kereta cepat, bukan seperti rombongan keluarga yang hendak piknik tetapi satu jam masih mencari sandal milik paman.

Dan, harus diakui, Singapura memang memberikan bukti yang sulit dibantah.

Pulau kecil yang dulu nyaris tanpa sumber daya berubah menjadi pusat keuangan dunia. Kotanya bersih sampai-sampai daun gugur pun tampaknya meminta izin sebelum menyentuh trotoar. Kereta datang tepat waktu. Pelayanan publik efisien. Korupsi rendah. Bahkan antrean di sana tampak lebih rapi daripada barisan semut menuju gula.

Melihat semua itu, banyak negara berkembang spontan berpikir, "Mungkin memang yang kita butuhkan bukan lebih banyak debat, melainkan lebih banyak peluit."

Namun, di sinilah letak jebakan logikanya.

Menganggap disiplin otomatis menghasilkan kemakmuran sama seperti mengira semua orang yang memakai jas pasti ekonom hebat. Kadang yang memakai jas hanyalah MC resepsi.

Keberhasilan Singapura tidak lahir hanya karena disiplin. Ia juga lahir karena kepemimpinan yang sangat kompeten, birokrasi yang profesional, hukum yang ditegakkan tanpa pandang bulu, serta budaya meritokrasi yang dibangun puluhan tahun.

Masalahnya, pemimpin seperti Lee Kuan Yew tidak tumbuh setiap musim hujan.

Kalau resep sebuah negara adalah, "Cari saja pemimpin jenius, jujur, visioner, tegas, antikorupsi, sekaligus tidak haus kekuasaan," maka resep itu kurang lebih setara dengan saran dokter, "Supaya sehat, jangan pernah sakit."

Secara teori benar.

Secara praktik... ya, semoga beruntung.

Di situlah demokrasi, meski sering tampak berantakan, memiliki kegunaan yang sering diremehkan.

Demokrasi memang ribut. Kadang terlalu ribut.

Ia seperti grup WhatsApp keluarga besar menjelang Idulfitri. Semua orang punya pendapat. Ada yang mengirim stiker, ada yang mengirim hoaks, ada yang tiba-tiba membahas harga cabai padahal topiknya jadwal halal bihalal.

Melelahkan?

Tentu.

Tetapi justru karena semua boleh berbicara, kesalahan lebih mudah ditemukan. Kebijakan bisa dikritik. Pemimpin bisa dikoreksi. Pers dapat bertanya tanpa harus berbisik. Sistem memiliki rem ketika sopir mulai terlalu percaya diri.

Sebaliknya, dalam sistem yang terlalu bergantung pada satu pemimpin hebat, masalah terbesar muncul ketika sang pemimpin pensiun.

Bayangkan sebuah orkestra yang selama tiga puluh tahun hanya memiliki satu dirigen jenius. Semua berjalan sempurna. Lalu suatu hari dirigennya pergi.

Kalau sistemnya sehat, musik tetap dimainkan.

Kalau sistemnya bergantung pada satu orang, yang terdengar berikutnya hanyalah suara pemain trombon bertanya, "Sekarang kita mulai dari nada apa?"

Indonesia sering tergoda oleh pesona kalimat Lee Kuan Yew.

Maklum.

Ketika melihat birokrasi berbelit, korupsi yang muncul seperti iklan sebelum video, atau rapat yang menghasilkan rapat lanjutan, orang mulai berkhayal tentang "pemimpin kuat" yang bisa menyelesaikan semua masalah dalam sekali gebrak meja.

Padahal meja bukan sumber masalah.

Kalau sistemnya rusak, meja hanya menjadi korban pertama.

Indonesia bukan Singapura. Luas wilayahnya berbeda. Keragaman suku, budaya, bahasa, agama, serta jumlah penduduknya jauh lebih kompleks. Mengelola Singapura ibarat mengatur satu kapal pesiar modern. Mengelola Indonesia lebih mirip mengatur armada kapal dari Sabang sampai Merauke, sementara sebagian awak masih memperdebatkan siapa yang membawa termos kopi.

Karena itu, menyalin model Singapura mentah-mentah sama seperti memakai jas ukuran anak SD untuk menghadiri konferensi internasional. Bahannya mungkin bagus, tetapi jelas tidak pas.

Yang sebenarnya dibutuhkan bukan memilih antara disiplin atau demokrasi.

Keduanya justru seperti dua kaki.

Kalau hanya punya disiplin tanpa demokrasi, negara bisa berjalan cepat, tetapi berisiko menuju arah yang salah tanpa ada yang berani mengingatkan.

Kalau hanya punya demokrasi tanpa disiplin, negara memang bebas menentukan arah, tetapi langkahnya sering berhenti karena semua sibuk berdebat tentang sepatu siapa yang paling demokratis.

Negara yang sehat memerlukan disiplin agar kebijakan dapat dijalankan dengan konsisten, sekaligus demokrasi agar kekuasaan tidak berubah menjadi kursi malas yang enggan ditinggalkan.

Akhirnya, mungkin pelajaran terbesar dari Lee Kuan Yew bukanlah bahwa demokrasi harus dikalahkan oleh disiplin. Melainkan bahwa pembangunan membutuhkan warga yang mau tertib sekaligus pemerintah yang mau diawasi.

Sebab disiplin tanpa kebebasan bisa berubah menjadi barak.

Sebaliknya, kebebasan tanpa disiplin bisa berubah menjadi kolom komentar.

Dan, sebagaimana kita semua tahu, tidak ada negara yang berhasil dibangun hanya dengan memenangkan perdebatan di kolom komentar.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Berserah yang Kreatif: Ketika Manusia Berhenti Menjadi Manajer Alam Semesta

Ada satu penyakit modern yang belum masuk daftar BPJS. Namanya Sindrom Direktur Takdir. Gejalanya cukup khas: bangun tidur langsung mengecek masa depan, sebelum mengecek tekanan darah. Baru buka mata sudah bertanya, "Bagaimana kalau rezeki seret? Bagaimana kalau usaha gagal? Bagaimana kalau jodoh menikah duluan? Bagaimana kalau tetangga beli mobil baru?"

Padahal, yang ditanya semua adalah urusan yang bahkan malaikat pun tidak diberi akses edit.

Lucunya, manusia tetap bersikeras ingin menjadi admin semesta.

Barangkali kalau Tuhan membuka lowongan, sebagian dari kita akan melamar sebagai "Koordinator Jalannya Takdir", lengkap dengan proposal perbaikan cuaca, revisi umur, serta pengajuan kenaikan gaji bulanan.

Untungnya, langit tidak mengenal sistem aspirasi semacam itu.

Di sinilah ceramah Berserah yang Kreatif datang seperti secangkir kopi hangat di tengah rapat kehidupan yang terlalu serius. Ia tidak mengajak kita berhenti bekerja, tetapi berhenti berpura-pura menjadi Tuhan.

Karena ternyata, dua pekerjaan itu sering tertukar.


Tasawuf dalam ceramah ini memulai pelajarannya dengan kalimat sederhana tetapi menghantam ego manusia seperti notifikasi tagihan kartu kredit di akhir bulan:

"Jangan mengatur apa yang sudah diatur Allah."

Kalimat ini sebenarnya terdengar ringan.

Masalahnya, manusia mempunyai hobi mengelola sesuatu yang tidak berada dalam daftar kewenangannya.

Kita ingin mengatur kapan kaya.

Kapan sukses.

Kapan anak menjadi juara kelas.

Kapan doa dikabulkan.

Bahkan kadang kita sudah membuat jadwal kapan Allah seharusnya mengabulkan permohonan kita.

Kalau lewat dari target, mulailah hati melakukan demonstrasi.

Padahal hubungan manusia dengan Tuhan bukan hubungan pelanggan dengan jasa ekspedisi yang bisa menulis ulasan, "Pengiriman doa terlambat. Bintang dua."


Yang menarik, ceramah ini tidak mengajarkan kemalasan.

Justru sebaliknya.

Ia mengatakan bahwa manusia harus sangat serius pada apa yang memang menjadi tugasnya.

Shalat? Serius.

Belajar? Serius.

Bekerja? Serius.

Menepati janji? Serius.

Menolong orang? Serius.

Tetapi begitu selesai...

Lepaskan hasilnya.

Ini konsep yang terdengar sederhana, tetapi praktiknya lebih sulit daripada menahan diri agar tidak membuka media sosial setiap lima menit.

Manusia memang makhluk unik.

Ketika bekerja, pikirannya sibuk pada hasil.

Ketika hasil datang, pikirannya sibuk pada hasil berikutnya.

Akhirnya ia bekerja terus, tetapi tidak pernah sempat menikmati bekerja.

Seperti hamster yang berlari di roda.

Capeknya nyata.

Majunya tidak ke mana-mana.


Ceramah ini juga memperkenalkan sesuatu yang terdengar aneh bagi telinga modern: naik kelas dalam beristighfar.

Biasanya orang beristighfar karena melakukan dosa.

Lalu selesai.

Tetapi para sufi rupanya memiliki standar yang jauh lebih tinggi.

Mereka beristighfar karena lupa kepada Allah.

Lalu naik lagi.

Beristighfar karena hatinya diisi selain Allah.

Kalau diteruskan, mungkin suatu hari ada sufi yang beristighfar karena ketika minum teh terlalu fokus pada tehnya sampai lupa mengagumi Sang Pencipta daun teh.

Di titik ini, orang awam mungkin mulai berkeringat.

"Kalau begitu saya harus istighfar berapa kali sehari?"

Jawabannya mungkin sederhana.

Sebanyak napas.

Karena ternyata perjalanan spiritual bukan lomba mengumpulkan angka, melainkan memperhalus kesadaran.


Ada bagian ceramah yang sangat menarik sekaligus lucu jika direnungkan.

Katanya, hati adalah rumah Allah.

Maka jangan diisi terlalu banyak barang.

Mendengar ini, saya membayangkan kondisi hati manusia modern.

Isinya cicilan.

Diskon tanggal kembar.

Komentar media sosial.

Harga cabai.

Drama grup WhatsApp keluarga.

Notifikasi marketplace.

Perbandingan hidup dengan tetangga.

Ditambah rasa kesal karena paket datang terlambat.

Kalau hati benar-benar rumah, mungkin sekarang kondisinya sudah seperti gudang yang gagal disortir.

Tidak heran ketenangan sulit menemukan alamatnya.


Yang lebih jenaka lagi adalah kebiasaan manusia mencemaskan rezeki.

Padahal rezeki dijamin.

Sebaliknya, akhlak yang tidak dijamin justru sering diabaikan.

Lucu sekali.

Kita seperti mahasiswa yang panik memikirkan warna map untuk wisuda, tetapi lupa mengerjakan skripsinya.

Fokusnya terbalik.

Kita sibuk mengurusi bonus, sementara pekerjaan pokok terbengkalai.

Padahal Tuhan berkali-kali mengatakan bahwa urusan manusia adalah berusaha.

Sedangkan hasil merupakan wilayah langit.

Kalau langit sudah diurus bumi, nanti siapa yang mengurus langit?


Lalu muncullah pembahasan tentang basirah, mata hati.

Kalau mata biasa melihat bentuk, mata hati melihat makna.

Mata biasa melihat seseorang memberi sedekah.

Mata hati melihat keikhlasan.

Mata biasa melihat hujan.

Mata hati melihat rahmat.

Mata biasa melihat kegagalan.

Mata hati melihat pelajaran.

Persoalannya, manusia modern terlalu rajin membersihkan kacamata, tetapi lupa membersihkan hati.

Lensanya semakin mahal.

Pandangannya semakin kabur.


Ceramah ini juga mengingatkan bahwa agama bukan sekadar gaya hidup.

Hari ini, agama kadang berubah menjadi aksesori.

Ada yang sibuk mempercantik foto ibadah, tetapi lupa mempercantik akhlak.

Feed media sosial penuh kutipan bijak.

Kolom komentar penuh pertengkaran.

Status dipenuhi doa.

Pesan pribadi dipenuhi umpatan.

Agaknya sebagian orang ingin masuk surga melalui filter kamera.

Padahal malaikat tidak pernah meminta kualitas resolusi foto.

Yang dicatat adalah kualitas hati.


Yang paling saya sukai dari ceramah ini adalah ia tidak mengajak manusia kabur dari dunia.

Ia justru mengajak manusia berhenti panik menghadapi dunia.

Ada perbedaan besar.

Tasawuf bukan menghapus pekerjaan.

Tasawuf menghapus kepanikan.

Tasawuf bukan melarang memiliki harta.

Tasawuf melarang harta memiliki hati.

Tasawuf bukan mematikan cita-cita.

Tasawuf mematikan kesombongan yang sering ikut tumbuh bersama cita-cita.

Karena itu, berserah ternyata bukan duduk sambil menunggu mukjizat jatuh dari langit.

Kalau begitu, ayam yang sedang mengerami telur pun sudah layak disebut wali.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Berserah adalah bekerja sepenuh tenaga, lalu tidak mabuk oleh hasil.


Akhirnya kami menyadari satu hal.

Mungkin hidup memang akan jauh lebih ringan jika manusia berhenti menjadi sutradara seluruh adegan kehidupannya.

Ada peran yang memang harus dimainkan dengan sebaik-baiknya.

Tetapi ada naskah yang memang tidak pernah diberikan kepada kita.

Tugas kita bukan menulis akhir cerita.

Tugas kita adalah memainkan karakter dengan jujur.

Sisanya?

Biarlah Sang Penulis Agung menyelesaikan skenarionya.

Dan mungkin, di situlah letak humor terbesar kehidupan.

Manusia berkeringat menyusun ribuan rencana.

Sementara Tuhan, dengan kelembutan-Nya, hanya tersenyum melihat betapa seriusnya kita mencoba mengatur sesuatu yang sejak awal sudah berada dalam genggaman-Nya.

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026