(Atau: Mengapa Uban Lebih Dekat ke Kebijaksanaan daripada Filter Instagram)
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang mengukur kebahagiaan dengan
jumlah likes dan garis rahang yang tegas, tiba-tiba muncul sebuah kabar
mengejutkan dari jagat maya. Bukan soal selebritas baru, bukan pula teknologi
yang bisa membuat kopi tanpa gula tetap manis, melainkan sebuah tweet dari akun
Massimo yang dengan santai mengabarkan: “Santai saja, puncak kejernihan hidup
itu bukan di usia 20-an. Tunggu saja… sekitar 60.”
Ini adalah kabar yang membuat dua kelompok manusia bereaksi
berbeda. Anak muda berkata, “Ah, masih lama.” Sementara yang sudah mendekati 60
berkata, “Nah, akhirnya penelitian mengakui!”
Penelitian yang dimaksud—diterbitkan di jurnal Intelligence oleh Gilles Gignac dan Marcin Zajenkowski—menjelaskan sesuatu yang selama ini kita rasakan tapi sering kita bantah demi menjaga gengsi: bahwa cepat itu belum tentu tepat.
Ferrari Tanpa GPS vs Tank Berpeta
Mari kita jujur. Usia 20-an itu seperti mengendarai Ferrari.
Cepat, responsif, penuh gaya. Masalahnya cuma satu: sering tidak tahu mau ke
mana.
Di usia ini, otak kita sedang berada pada puncak fluid
intelligence—cepat menangkap informasi, hafal banyak hal, dan bisa debat
sampai subuh tanpa kehabisan energi. Tapi, keputusan hidup? Ah, itu sering
seperti memilih menu di warung padang: cepat, banyak, tapi nanti menyesal.
Sementara itu, memasuki usia 50-60, Ferrari tadi mungkin
sudah diganti dengan kendaraan yang… tidak terlalu “Instagramable”. Katakanlah
tank. Lambat? Mungkin. Tapi:
- Tidak
mudah goyah
- Tahan
banting
- Dan
yang paling penting: punya peta
Di fase ini, manusia tidak lagi hanya cepat berpikir, tetapi juga tepat berpikir. Ia tahu kapan harus diam, kapan harus bicara, dan—yang paling langka—kapan harus tidak ikut berkomentar di grup WhatsApp keluarga.
Ketika Emosi Tidak Lagi Drama
Penelitian tadi menunjukkan sesuatu yang menarik: semakin
bertambah usia, semakin stabil emosi seseorang.
Kalau di usia 20-an kita bisa marah hanya karena pesan
“dibaca tapi tidak dibalas”, maka di usia 60-an kita akan berkata:
“Ah, mungkin dia lagi sibuk… atau memang tidak penting.”
Ini bukan karena kita menjadi cuek. Ini karena kita sudah
terlalu sering melihat drama kehidupan untuk tahu bahwa sebagian besar masalah…
tidak perlu diperbesar.
Kesadaran diri meningkat. Penilaian moral matang. Bias
berpikir mulai berkurang. Singkatnya, manusia mulai memahami satu hal penting:
Tidak semua hal harus ditanggapi.
Sebuah pencapaian yang lebih sulit daripada lulus ujian matematika.
Midlife Crisis? Atau Midlife Upgrade?
Selama ini, kita sering mendengar istilah midlife crisis.
Gambaran klasiknya: seseorang membeli motor besar, mulai berpakaian seperti
anak muda, dan tiba-tiba hobi kopi berubah dari “kopi sachet” menjadi “single
origin dengan catatan rasa karamel dan kesedihan masa lalu”.
Namun, penelitian ini seperti berkata:
“Tenang. Itu bukan krisis. Itu proses update.”
Karena pada kenyataannya, usia paruh baya bukanlah awal
penurunan, melainkan fase penyempurnaan. Kita mulai:
- Lebih
bijak dalam mengambil keputusan
- Lebih
sabar menghadapi manusia (yang ternyata memang rumit)
- Dan
lebih paham bahwa kebahagiaan tidak selalu perlu diumumkan
Keriput bukan lagi tanda “menua”, tapi tanda bahwa hidup sudah cukup lama kita pelajari.
Mahkota yang Tidak Terlihat
Masalahnya, dunia modern masih terjebak pada estetika muda.
Kulit harus kencang, energi harus tinggi, dan produktivitas harus seperti
mesin.
Padahal, ada jenis kecerdasan lain yang tidak bisa diukur
dengan kecepatan: kebijaksanaan.
Dan kebijaksanaan ini, seperti kopi terbaik, tidak bisa
instan. Ia butuh waktu, pengalaman, bahkan sedikit kepahitan.
Itulah mengapa banyak pemimpin, pengambil keputusan, dan orang-orang yang “tenang tapi menentukan” sering berada di usia yang lebih matang. Bukan karena mereka tidak bisa cepat, tapi karena mereka tahu kapan tidak perlu cepat.
Menjadi Versi Lengkap Diri Sendiri
Pada akhirnya, menua bukanlah tentang kehilangan kemampuan,
melainkan tentang mengganti jenis kemampuan.
Jika usia muda adalah masa kita mengumpulkan pengalaman,
maka usia matang adalah masa kita memahami pengalaman itu.
Dan mungkin, di situlah letak puncaknya.
Jadi, jika hari ini Anda menemukan uban pertama, jangan
panik. Itu bukan tanda akhir, melainkan notifikasi kecil dari kehidupan:
“Selamat, Anda sedang mendekati level berikutnya.”
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026






