Ada orang yang tidak menikah bukan karena tidak laku, melainkan karena terlalu laku di dalam imajinasinya sendiri.
Ia punya gambaran pasangan ideal yang begitu lengkap: cantik, cerdas, setia, sabar, tidak cerewet, mandiri tetapi perhatian, punya karier tetapi tidak sibuk, religius tetapi tidak menggurui, humoris tetapi tidak norak, romantis tetapi tidak lebay. Kalau perlu, bisa memasak, memahami filsafat, tahu kapan harus diam, tahu kapan harus bicara, dan kalau sedang marah cukup mengirim emoji tanpa membuat sidang keluarga.
Masalahnya sederhana: manusia seperti itu biasanya hanya tersedia dalam novel, film, atau kepala kita sendiri.
Anis Mansour, sastrawan Mesir yang terkenal dengan sindirannya yang tajam, pernah membuat lelucon yang sebenarnya sangat serius: seseorang memutuskan tidak menikah sebelum menemukan wanita ideal. Ia mencarinya bertahun-tahun. Akhirnya wanita ideal itu ditemukan.
Sayangnya, wanita tersebut sedang mencari pria ideal.
Di sinilah cinta berubah menjadi komedi situasi.
Dua Orang Ideal dan Satu Masalah Besar
Bayangkan dua orang duduk berhadapan.
Laki-laki berkata:
“Menurut saya, kamu sempurna.”
Perempuan menjawab:
“Terima kasih. Tapi kamu belum memenuhi kriteriaku.”
Laki-laki terdiam.
“Lho, bukankah aku sedang mencari perempuan ideal?”
“Iya.”
“Dan kamu perempuan ideal?”
“Iya.”
“Lalu kenapa kita tidak menikah?”
“Karena kamu bukan pria ideal.”
Maka tamatlah sebuah kisah cinta sebelum sempat dimulai.
Ironinya, sang laki-laki menemukan apa yang dicari, tetapi lupa bahwa orang yang dicari juga mempunyai hak untuk mencari.
Kita sering membayangkan pasangan ideal seperti barang di toko: kita datang membawa daftar spesifikasi, lalu memilih sesuai kebutuhan.
“Tinggi sekian.”
“Pendidikan minimal sekian.”
“Penghasilan sekian.”
“Akhlak bagus.”
“Lucu.”
“Tidak posesif.”
“Tidak banyak teman lawan jenis.”
“Harus bisa diajak ngobrol.”
“Harus memahami saya.”
Dan yang paling penting:
“Harus menerima saya apa adanya.”
Kalimat terakhir biasanya menjadi standar paling tidak adil.
Kita ingin diterima apa adanya, tetapi pasangan harus diperbaiki terlebih dahulu.
Cinta di Zaman Algoritma
Dahulu orang mencari pasangan melalui pertemanan, keluarga, pengajian, sekolah, kampus, kantor, atau kebetulan yang romantis.
Sekarang kita memiliki teknologi.
Kita bisa melihat foto seseorang dalam hitungan detik, membaca profilnya, menilai hobinya, pekerjaannya, gaya hidupnya, bahkan memutuskan apakah ia layak menjadi calon pasangan hanya berdasarkan cara ia menggunakan tanda baca.
Satu foto kurang menarik: swipe.
Satu kalimat terlalu sok bijak: swipe.
Terlalu sering unggah makanan: swipe.
Jarang unggah makanan: jangan-jangan tidak punya kehidupan.
Terlalu banyak teman: red flag.
Tidak punya teman: red flag juga.
Terlalu religius: dicurigai.
Kurang religius: juga dicurigai.
Terlalu romantis: “love bombing.”
Kurang romantis: “tidak punya effort.”
Akhirnya kita memiliki kemampuan luar biasa untuk menolak banyak orang tanpa pernah benar-benar mengenal mereka.
Kita menjadi seperti pelanggan restoran yang membaca menu selama tiga jam, lalu pulang karena tidak ada hidangan yang memenuhi seluruh daftar keinginan.
Padahal hubungan manusia bukan menu restoran.
Tidak ada pasangan “paket lengkap”.
Kalaupun ada, kemungkinan harganya mahal sekali.
Masalah Terbesar Bukan Pasangan, Melainkan Checklist
Perfeksionisme dalam cinta sering kali menyamar sebagai standar.
Tentu saja memiliki standar itu penting. Kita tidak sedang menyarankan seseorang menikah dengan orang yang jelas-jelas tidak cocok atau memperlakukan kita dengan buruk.
Tetapi ada perbedaan antara standar dan fantasi.
Standar berkata:
“Saya membutuhkan seseorang yang menghormati saya.”
Fantasi berkata:
“Saya ingin seseorang yang selalu tahu apa yang saya butuhkan tanpa saya jelaskan.”
Standar berkata:
“Saya ingin pasangan yang bertanggung jawab.”
Fantasi berkata:
“Saya ingin dia bertanggung jawab, sukses, romantis, selalu tersedia, tetapi tidak terlalu sibuk bekerja.”
Standar berkata:
“Saya ingin hubungan yang sehat.”
Fantasi berkata:
“Saya ingin hubungan sehat tanpa konflik.”
Padahal konflik adalah salah satu mata pelajaran wajib dalam universitas kehidupan rumah tangga.
Bahkan pasangan paling harmonis pun sesekali akan bertengkar tentang hal yang secara objektif tidak penting.
“Kenapa handuknya di situ?”
“Memangnya kenapa?”
“Ya, harusnya di sana.”
“Kenapa harus di sana?”
“Karena dari dulu di sana.”
Dan tiba-tiba sejarah keluarga, ekonomi nasional, pendidikan anak, bahkan dosa masa lalu ikut dibahas.
Kita Ingin Pasangan yang Sempurna, Padahal Kita Sendiri Sedang Dalam Proses
Ini bagian yang paling lucu.
Kita sering mencari seseorang yang sudah selesai menjadi manusia, sementara diri kita sendiri masih berupa proyek pembangunan.
Kita menginginkan pasangan yang sabar, sementara kita mudah tersinggung.
Kita ingin pasangan komunikatif, tetapi kalau ditanya “kamu kenapa?” jawabannya:
“Tidak apa-apa.”
Kita ingin pasangan dewasa secara emosional, tetapi ketika pasangan terlambat membalas pesan selama dua jam, kita sudah menyusun tiga teori konspirasi.
Kita ingin pasangan tidak posesif, tetapi ketika ia memberi tanda suka pada unggahan orang lain, kita mendadak menjadi detektif swasta.
Dan kita ingin dicintai dengan segala kekurangan.
Tetapi ketika melihat kekurangan orang lain, kita berkata:
“Wah, ini tidak sesuai kriteria.”
Barangkali cinta menjadi rumit bukan karena manusia sulit ditemukan, tetapi karena kita terlalu sibuk mencari manusia tanpa kekurangan.
Pasangan Bukan Barang Temuan, Melainkan Hubungan yang Dibangun
Kesalahan lain adalah menganggap bahwa pasangan ideal adalah seseorang yang sudah sempurna sejak pertama kali kita bertemu.
Padahal manusia tidak seperti rumah yang bisa kita lihat dari brosur.
Rumah dalam brosur selalu bersih, pencahayaan sempurna, tidak ada jemuran, tidak ada piring menumpuk, dan sofa tampak seperti tidak pernah diduduki.
Datanglah ke rumah aslinya.
Ada kabel berserakan.
Ada sandal di ruang tamu.
Ada cucian.
Ada suara anak.
Ada tetangga yang tiba-tiba meminjam sesuatu.
Begitu pula manusia.
Kita bertemu seseorang dalam kondisi terbaiknya. Setelah hubungan berjalan, barulah terlihat bahwa ia punya kebiasaan aneh, ketakutan tertentu, ego, luka masa lalu, dan cara marah yang kadang membuat kita ingin memanggil moderator.
Di situlah hubungan sebenarnya dimulai.
Cinta bukan menemukan manusia tanpa kekurangan.
Cinta adalah menemukan seseorang yang kekurangannya masih bisa kita pahami, dan kekurangan kita masih mau ia hadapi.
Ironi Dua Pencari Kesempurnaan
Kisah Anis Mansour sebenarnya menyimpan ironi yang sangat dalam.
Bayangkan seorang pria mencari perempuan ideal.
Pada saat yang sama, seorang perempuan mencari pria ideal.
Keduanya mungkin melewati satu sama lain setiap hari.
Si pria berkata:
“Dia tidak sesuai kriteriaku.”
Si perempuan berkata:
“Dia juga tidak sesuai kriteriaku.”
Lalu keduanya pulang ke rumah masing-masing dan menulis status:
“Sulit sekali menemukan orang yang tulus di zaman sekarang.”
Ini mungkin salah satu lelucon terbesar dalam sejarah umat manusia.
Kita mengeluh sulit menemukan orang yang cocok, sementara kita sendiri sibuk memastikan tidak ada seorang pun yang cukup cocok.
Barangkali yang Kita Cari Bukan Orang Ideal
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Apakah dia pasangan ideal?”
Melainkan:
“Apakah kami bisa menjadi pasangan yang baik?”
Perbedaannya sangat besar.
Pertanyaan pertama menempatkan pasangan sebagai objek penilaian.
Pertanyaan kedua mengajak kita melihat hubungan sebagai pekerjaan bersama.
Sebab pasangan yang baik bukan selalu dua orang yang sempurna.
Kadang-kadang ia adalah dua orang biasa yang sama-sama mau belajar meminta maaf.
Dua orang yang sama-sama belajar mendengar.
Dua orang yang tahu kapan harus bicara dan kapan sebaiknya diam.
Dua orang yang mampu berkata:
“Ya, kamu memang menyebalkan.”
Lalu lima menit kemudian:
“Tapi sini, makan dulu.”
Mungkin itulah bentuk cinta yang paling realistis.
Bukan cinta yang bebas dari kekurangan, tetapi cinta yang tidak menjadikan setiap kekurangan sebagai alasan untuk pergi.
Penutup: Jangan Sampai Terlalu Lama Mencari
Sindiran Anis Mansour akhirnya membawa kita kepada sebuah kesimpulan yang sederhana sekaligus menyakitkan: kesempurnaan bisa menjadi cara yang sangat elegan untuk menghindari kedekatan.
Kita terus mencari orang yang lebih baik, lebih cocok, lebih menarik, lebih mapan, lebih romantis, lebih dewasa, lebih ini dan lebih itu.
Sampai suatu hari kita sadar bahwa umur sudah bertambah, teman-teman sudah menikah, anak-anak mereka sudah sekolah, sementara kita masih memperbarui daftar kriteria.
“Yang ini hampir cocok.”
“Yang itu kurang sedikit.”
“Yang kemarin sebenarnya bagus, tapi hobinya aneh.”
Akhirnya kita mendapatkan pasangan paling sempurna:
kesendirian.
Ia selalu tersedia.
Tidak pernah membantah.
Tidak pernah membuat kita kecewa.
Tidak pernah mengambil selimut.
Tidak pernah lupa membalas pesan.
Dan yang paling menyedihkan:
ia juga tidak pernah memeluk kita.
Maka mungkin cinta bukan perkara menemukan seseorang yang sempurna.
Cinta adalah keberanian untuk berkata:
“Orang ini tidak sempurna. Saya juga tidak. Tetapi mungkin, dengan segala kekacauan kami, kami bisa belajar menjadi lebih baik bersama.”
Sebab kalau kita menunggu manusia sempurna, jangan-jangan satu-satunya pasangan yang memenuhi seluruh kriteria kita hanyalah patung.
Dan bahkan patung pun, kalau sudah lama tidak dibersihkan, tetap berdebu.
abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026


