Awal Maret 2026, ketika rudal beterbangan seperti notifikasi promo tanggal kembar, seorang analis bernama Shanaka Anslem Perera justru menatap layar yang berbeda: aplikasi pemesanan tiket pesawat.
“Sinyal pertama perang bukan rudal, melainkan price of
exit,” tulisnya di X.
Kalimat itu terdengar seperti tagline film thriller ekonomi:
Fast & Furious 12: Escape Pricing. Tapi sayangnya, ini bukan film.
Ini dunia nyata, di mana harga tiket mendadak berubah fungsi dari sekadar angka
menjadi ujian iman—iman pada saldo rekening.
Ekonomi Evakuasi: Antara Boarding Pass dan Doa Qunut
Di bandara-bandara Teluk—Dubai, Doha, Abu Dhabi—yang
biasanya berkilau seperti mal masa depan, suasana berubah drastis. Layar
keberangkatan lebih banyak bertuliskan cancelled daripada jadwal.
Orang-orang me-refresh aplikasi maskapai lebih khusyuk daripada wirid selepas
salat.
Di lantai terminal, kelas ekonomi duduk bersila dengan koper
yang sudah pasrah. Mereka menatap ponsel seperti menunggu wahyu: mungkin harga
turun, mungkin kursi tambahan muncul, mungkin mukjizat terjadi.
Sementara itu, di dimensi lain—yang konon hanya bisa diakses
dengan kartu kredit berlapis titanium—kelas ultra-kaya tidak menunggu. Mereka
“menghilang”. Ada konvoi SUV melintasi gurun menuju Riyadh, ada jet pribadi
yang lepas landas dengan biaya 260.000 pound sterling per kursi. Harga yang
kalau dirupiahkan bisa membuat dompet menjerit minta ampun. Rp
Perera menyebutnya “medieval in a futuristic wrapper.”
Abad Pertengahan rasa 5G. Dulu orang menebus keselamatan dengan emas batangan.
Sekarang dengan transfer instan dan bunyi sakral: payment confirmed.
Regime Change Lewat Struk Pembayaran
Bagian paling nakal dari analisis Perera adalah klaimnya
bahwa perubahan rezim tidak selalu datang lewat pidato berapi-api atau tank di
jalanan, melainkan lewat harga.
“Inilah cara regime change terjadi—bukan lewat pidato, tapi
lewat pricing.”
Terdengar seperti teori konspirasi yang minum kopi mahal.
Tapi ada benarnya. Ketika negara tak mampu memastikan warganya bisa pulang
dengan aman, pasar datang membawa solusi—dan invoice.
Di titik itu, paspor diplomatik bisa kalah sakti dari limit
kartu kredit. Uang bukan lagi alat tukar, melainkan tiket menuju dimensi
keselamatan. Yang tak punya? Maaf, silakan duduk manis di ruang tunggu sejarah.
Volatility Tax: Pajak yang Dipungut oleh Kecemasan
Dari drama boarding pass ini, lahirlah istilah keren: volatility
tax. Pajak volatilitas. Pajak yang tidak disahkan parlemen mana pun, tapi
ditarik langsung oleh ketidakpastian global.
Barang tak lagi dihargai semata karena kelangkaannya, tetapi
karena peluangnya selamat sampai tujuan tanpa dihantam rudal. Anda bukan hanya
membeli minyak atau gandum—Anda membeli probabilitas bahwa ia tidak meledak di
tengah jalan.
Antara Brilian dan Sedikit Lebay
Harus diakui, Perera jeli. Ia melihat bahwa dalam krisis,
yang paling cepat bergerak bukan hanya rudal, tapi harga.
Namun, seperti semua tulisan yang lahir dari linimasa media
sosial, ada bumbu dramatisnya. Dunia belum tentu runtuh hanya karena tiket
kelas bisnis naik lima kali lipat. Sejarah perang mengajarkan satu hal: manusia
selalu menemukan cara bertahan, bahkan tanpa lounge eksekutif.
Lagipula, jutaan pekerja migran dan warga biasa tidak punya
opsi “konvoi gurun”. Mereka bertahan bukan karena pilihan, tetapi karena
realitas. Dan realitas sering kali lebih keras daripada metafora.
Epilog: Bunyi yang Lebih Nyaring dari Ledakan
Pada akhirnya, tulisan ini membuat kita tertawa pahit. Di
tengah gemuruh konflik Iran–Israel, suara yang paling menentukan mungkin bukan
ledakan, melainkan notifikasi bank.
Bukan dentuman rudal, tapi:
“Transaksi berhasil.”
Peradaban kita memang maju: jet pribadi, sistem pembayaran
instan, konvoi SUV ber-AC melintasi gurun. Namun dalam distribusi rasa aman,
kita masih seperti kerajaan lama—keselamatan adalah hak istimewa, bukan hak
dasar.
Dan mungkin benar kata Perera: di abad ke-21, harga bukan
sekadar angka. Ia adalah paspor. Bedanya, bukan petugas imigrasi yang
memeriksa, melainkan saldo yang menentukan.
Selamat datang di dunia di mana dompet lebih cepat bergerak
daripada diplomasi.
abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.