Senin, 02 Maret 2026

Ketika Harga Menjadi Paspor: Tentang “Volatility Tax” di Tengah Konflik Iran–Israel 2026

Awal Maret 2026, ketika rudal beterbangan seperti notifikasi promo tanggal kembar, seorang analis bernama Shanaka Anslem Perera justru menatap layar yang berbeda: aplikasi pemesanan tiket pesawat.

“Sinyal pertama perang bukan rudal, melainkan price of exit,” tulisnya di X.

Kalimat itu terdengar seperti tagline film thriller ekonomi: Fast & Furious 12: Escape Pricing. Tapi sayangnya, ini bukan film. Ini dunia nyata, di mana harga tiket mendadak berubah fungsi dari sekadar angka menjadi ujian iman—iman pada saldo rekening.

Ekonomi Evakuasi: Antara Boarding Pass dan Doa Qunut

Di bandara-bandara Teluk—Dubai, Doha, Abu Dhabi—yang biasanya berkilau seperti mal masa depan, suasana berubah drastis. Layar keberangkatan lebih banyak bertuliskan cancelled daripada jadwal. Orang-orang me-refresh aplikasi maskapai lebih khusyuk daripada wirid selepas salat.

Di lantai terminal, kelas ekonomi duduk bersila dengan koper yang sudah pasrah. Mereka menatap ponsel seperti menunggu wahyu: mungkin harga turun, mungkin kursi tambahan muncul, mungkin mukjizat terjadi.

Sementara itu, di dimensi lain—yang konon hanya bisa diakses dengan kartu kredit berlapis titanium—kelas ultra-kaya tidak menunggu. Mereka “menghilang”. Ada konvoi SUV melintasi gurun menuju Riyadh, ada jet pribadi yang lepas landas dengan biaya 260.000 pound sterling per kursi. Harga yang kalau dirupiahkan bisa membuat dompet menjerit minta ampun. Rp 5.853.863.600,-

Perera menyebutnya “medieval in a futuristic wrapper.” Abad Pertengahan rasa 5G. Dulu orang menebus keselamatan dengan emas batangan. Sekarang dengan transfer instan dan bunyi sakral: payment confirmed.

Regime Change Lewat Struk Pembayaran

Bagian paling nakal dari analisis Perera adalah klaimnya bahwa perubahan rezim tidak selalu datang lewat pidato berapi-api atau tank di jalanan, melainkan lewat harga.

“Inilah cara regime change terjadi—bukan lewat pidato, tapi lewat pricing.”

Terdengar seperti teori konspirasi yang minum kopi mahal. Tapi ada benarnya. Ketika negara tak mampu memastikan warganya bisa pulang dengan aman, pasar datang membawa solusi—dan invoice.

Negara bilang: “Tenang, kami mengendalikan situasi.”
Pasar bilang: “Baik. Ini tagihannya.”

Di titik itu, paspor diplomatik bisa kalah sakti dari limit kartu kredit. Uang bukan lagi alat tukar, melainkan tiket menuju dimensi keselamatan. Yang tak punya? Maaf, silakan duduk manis di ruang tunggu sejarah.

Volatility Tax: Pajak yang Dipungut oleh Kecemasan

Dari drama boarding pass ini, lahirlah istilah keren: volatility tax. Pajak volatilitas. Pajak yang tidak disahkan parlemen mana pun, tapi ditarik langsung oleh ketidakpastian global.

Premi asuransi naik.
Biaya pengiriman merangkak.
Harga energi ikut joget.

Barang tak lagi dihargai semata karena kelangkaannya, tetapi karena peluangnya selamat sampai tujuan tanpa dihantam rudal. Anda bukan hanya membeli minyak atau gandum—Anda membeli probabilitas bahwa ia tidak meledak di tengah jalan.

Ini seperti membayar ongkir dengan tambahan opsi:
☑️ Asuransi
☑️ Proteksi ekstra
☑️ Doa bersama

Tagihannya? Untuk semua.
Bebannya? Tidak rata.

Yang kaya membayar lebih mahal—tapi tetap bisa membayar.
Yang pas-pasan membayar lebih mahal—dan mulai bertanya apakah hidup memang cicilan tanpa tenor jelas.

Antara Brilian dan Sedikit Lebay

Harus diakui, Perera jeli. Ia melihat bahwa dalam krisis, yang paling cepat bergerak bukan hanya rudal, tapi harga.

Namun, seperti semua tulisan yang lahir dari linimasa media sosial, ada bumbu dramatisnya. Dunia belum tentu runtuh hanya karena tiket kelas bisnis naik lima kali lipat. Sejarah perang mengajarkan satu hal: manusia selalu menemukan cara bertahan, bahkan tanpa lounge eksekutif.

Lagipula, jutaan pekerja migran dan warga biasa tidak punya opsi “konvoi gurun”. Mereka bertahan bukan karena pilihan, tetapi karena realitas. Dan realitas sering kali lebih keras daripada metafora.

Epilog: Bunyi yang Lebih Nyaring dari Ledakan

Pada akhirnya, tulisan ini membuat kita tertawa pahit. Di tengah gemuruh konflik Iran–Israel, suara yang paling menentukan mungkin bukan ledakan, melainkan notifikasi bank.

Bukan dentuman rudal, tapi:

“Transaksi berhasil.”

Itulah suara seleksi alam versi kapitalisme global.
Siapa yang bisa pulang, siapa yang harus tinggal.
Siapa yang naik jet pribadi, siapa yang mengisi daya ponsel di lantai bandara sambil berharap Wi-Fi lebih stabil daripada geopolitik.

Peradaban kita memang maju: jet pribadi, sistem pembayaran instan, konvoi SUV ber-AC melintasi gurun. Namun dalam distribusi rasa aman, kita masih seperti kerajaan lama—keselamatan adalah hak istimewa, bukan hak dasar.

Dan mungkin benar kata Perera: di abad ke-21, harga bukan sekadar angka. Ia adalah paspor. Bedanya, bukan petugas imigrasi yang memeriksa, melainkan saldo yang menentukan.

Selamat datang di dunia di mana dompet lebih cepat bergerak daripada diplomasi.

abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.