Selasa, 31 Maret 2026

🌲 Ketika Pohon Punya Grup WhatsApp: Sebuah Esai Jenaka tentang Hutan yang Ternyata Lebih Sosial dari Kita


Image

Di zaman ketika manusia merasa paling canggih karena bisa kirim stiker “wkwk” dalam 0,3 detik, ternyata ada makhluk yang sudah lebih dulu punya jaringan komunikasi super kompleks—dan ironisnya, mereka tidak punya WiFi, tidak punya kuota, bahkan tidak tahu apa itu mode pesawat. Mereka adalah… pohon.

Ya, pohon. Makhluk yang selama ini kita kira kerjaannya cuma berdiri, diam, dan kalau lagi apes dijadikan bahan skripsi anak kehutanan.

Semua ini mencuat kembali berkat cuitan akun sains populer yang membahas penelitian Suzanne Simard. Beliau ini bukan sembarang ilmuwan—dia semacam “detektif bawah tanah” yang berhasil membongkar bahwa hutan bukan sekadar kumpulan individu yang saling sikut demi sinar matahari, melainkan jaringan sosial yang kalau dipikir-pikir… lebih rukun dari grup keluarga kita.

🌳 Dari Hutan Survival ke Hutan Sosial

Dulu kita diajari bahwa alam itu keras: siapa kuat dia menang, siapa lemah ya… silakan jadi kompos. Versi Darwin ini membuat hutan terasa seperti ajang “Survivor: Edisi Pepohonan”.

Tapi penelitian Simard berkata, “Tunggu dulu, jangan terlalu sinis.”

Ternyata pohon birch dan Douglas fir itu bukan musuh bebuyutan. Mereka justru seperti tetangga baik yang suka kirim makanan saat Lebaran—bedanya, yang dikirim bukan opor ayam, tapi karbon.

Melalui jaringan jamur mikoriza (yang bisa kita sebut sebagai “provider internet bawah tanah”), mereka saling berbagi nutrisi, air, bahkan sinyal bahaya. Kalau ada satu pohon diserang hama, yang lain bisa “dapat notifikasi” lebih cepat dari notifikasi flash sale.

Jaringan ini kemudian terkenal dengan nama Wood Wide Web. Ya, betul. Bahkan hutan pun sudah online sebelum kita sibuk cari sinyal di pojok rumah.

🌲 Mother Tree: Emak-Emak Sejati Hutan

Yang lebih menarik lagi, dalam jaringan ini ada sosok yang disebut mother tree. Ini adalah pohon tua yang besar, berpengalaman, dan—yang paling penting—dermawan.

Kalau di manusia, mungkin ini seperti ibu-ibu yang selalu bilang, “Udah makan belum?” sambil diam-diam nambah nasi ke piring kita.

Mother tree ini mendistribusikan nutrisi ke pohon-pohon muda di sekitarnya. Jadi kalau ada “anak pohon” yang lagi struggling (mungkin karena kurang cahaya atau tanahnya lagi bete), si emak ini bantu dari belakang layar.

Bayangkan: di dunia manusia, kita masih debat soal subsidi. Di dunia pohon, subsidi sudah berjalan alami tanpa rapat panjang dan tanpa drama politik.

🍃 Tapi Jangan Salah, Ini Bukan Sinetron

Namun, sebelum kita terlalu terharu dan mulai membayangkan pohon-pohon saling berpelukan sambil berkata, “Aku ada untukmu,” kita perlu sedikit realistis.

Hutan bukan sinetron religi jam 5 sore.

Di balik kerja sama itu, tetap ada kompetisi. Pohon tetap berebut cahaya, akar tetap bersaing ruang, dan tidak semua interaksi itu penuh cinta. Alam itu kompleks—kadang gotong royong, kadang juga “maaf ya, ini wilayahku.”

Jadi kalau ada yang bilang pohon itu sepenuhnya altruistik, mungkin dia terlalu banyak nonton drama Korea… atau terlalu sedikit baca jurnal ekologi.

🌏 Pelajaran (Halus) untuk Manusia

Yang menarik, narasi ini diam-diam seperti menyindir kita.

Kita yang punya akal, teknologi, dan LinkedIn… justru sering gagal membangun jaringan yang sehat. Sementara pohon—yang tidak punya CV dan tidak pernah ikut seminar motivasi—bisa menciptakan sistem yang saling menopang.

Cuitan itu seolah berkata:
“Kalau pohon saja bisa saling bantu lewat akar, masa kamu masih saling menjatuhkan lewat komentar?”

Dan di tengah krisis iklim, pesan ini jadi makin relevan. Menebang satu pohon tua bukan sekadar menghilangkan satu batang kayu, tapi seperti menghapus admin grup—semua jadi kacau, tidak ada yang koordinasi, dan ujung-ujungnya grupnya sepi.

🌿 Hutan, Cermin Kehidupan

Pada akhirnya, cerita tentang hutan ini bukan cuma soal botani, tapi juga tentang kita.

Bahwa kekuatan tidak selalu lahir dari kompetisi brutal, tapi dari keterhubungan. Bahwa menjadi “besar” bukan soal menyerap sebanyak mungkin, tapi tentang seberapa banyak kita bisa memberi.

Dan mungkin, setelah ini, setiap kali kita berjalan di hutan, kita tidak lagi melihat keheningan.

Kita sedang berdiri di tengah “grup chat raksasa” yang isinya pohon-pohon—diam, tapi aktif; sunyi, tapi penuh percakapan.

Bedanya dengan grup kita?
Mereka tidak pernah kirim hoaks.
abah-arul.blogspot.com., April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.