Di zaman sekarang, hidup berjalan secepat notifikasi ponsel. Orang bangun tidur belum sempat menguap, sudah mengecek pesan, berita, dan kadang juga mengecek apakah iman masih tersisa di sudut hati. Dalam suasana dunia yang serba cepat dan agak panik ini, agama sering dipraktikkan seperti menu makanan cepat saji: praktis, cepat, dan kadang kurang dikunyah.
Iman, misalnya, sering dipahami secara ringkas: percaya enam rukun iman, selesai. Seperti checklist administrasi: sudah percaya kepada Allah? Centang. Malaikat? Centang. Kitab? Centang. Rasanya mirip mengisi formulir online.
Namun para sufi tampaknya tidak terlalu puas dengan metode “iman versi checklist” ini. Mereka mengajak kita sedikit lebih serius—atau setidaknya sedikit lebih dalam—dalam memahami iman. Salah satu tokoh yang sering disebut dalam pembahasan ini adalah Abu al-Hasan al-Shadhili, seorang maestro tasawuf yang memandang iman bukan sekadar pengakuan, melainkan pengalaman batin yang sangat dalam.
Menurut beliau, iman sejati itu seperti menyelam di samudra. Bukan sekadar melihat laut dari pinggir pantai sambil memegang es kelapa, tetapi benar-benar menyelam sampai ke dasar. Dan di dasar itu seseorang menyaksikan sesuatu yang mengejutkan: ternyata seluruh realitas ini bersumber dari Allah.
Segala yang tampak memiliki awal sebenarnya berasal dari Allah yang Maha Awal. Segala yang tampak berakhir sebenarnya kembali kepada Allah yang Maha Akhir. Jadi kalau seseorang merasa hidup ini penuh sebab-akibat yang rumit—kadang berhasil, kadang gagal—para sufi akan berkata dengan santai: “Tenang saja, itu cuma tirai.”
Tirai apa? Tirai logika sebab-akibat.
Di balik angin yang bertiup, hujan yang turun, bahkan kopi yang tiba-tiba tumpah ke laptop, para sufi melihat satu hal: kehendak Ilahi. Konsep ini sering disebut wahdatul wujud. Bukan berarti alam semesta ini menyatu secara fisik dengan Tuhan (itu bisa bikin pusing teolog), melainkan kesaksian batin bahwa wujud yang benar-benar hakiki hanyalah Allah.
Segala sesuatu berasal dari-Nya (minallah), berjalan menuju-Nya (ilallah), hidup dengan-Nya (billah), dan idealnya dilakukan demi-Nya (lillah). Kalau diringkas, hidup seorang mukmin seharusnya seperti kompas yang selalu menunjuk satu arah: Allah.
Namun tentu saja, mencapai kondisi iman seperti itu tidak semudah mengganti wallpaper ponsel dengan kaligrafi.
Karena itu para sufi memberi “resep spiritual”. Abu al-Hasan al-Shadhili menyebutkan lima pilar yang harus ditanamkan dalam hati.
Pilar pertama adalah taslim, yaitu penyerahan total. Bukan sekadar pasrah setelah semua rencana gagal, melainkan menyerahkan diri bahkan sebelum akal selesai berdebat. Tingkatannya naik dari tawakal, ke tafwid, sampai istislam—sebuah kondisi mental di mana masa lalu tidak membuat stres dan masa depan tidak membuat insomnia.
Pilar kedua adalah rida, yaitu kerelaan menerima takdir. Dalam kisah para sufi, tingkat rida ini kadang luar biasa. Misalnya kisah Abdul Qadir al-Jilani atau Rabia al-Adawiyya yang bahkan rela menerima apa pun dari Allah. Bagi mereka, jika cobaan datang, yang terlihat bukan penderitaan—tetapi kehendak Sang Kekasih. Sebuah perspektif yang mungkin sulit dipahami oleh orang yang baru saja kehilangan sinyal Wi-Fi.
Pilar ketiga adalah taslim kepada Amrullah, yaitu menyadari bahwa urusan batin sebenarnya milik Allah. Manusia bisa berusaha menjadi khusyuk dalam salat, tetapi rasa khusyuk itu sendiri adalah hadiah dari Tuhan. Sama seperti hidayah, tobat, atau kedekatan spiritual—semuanya berada di wilayah Ilahi.
Bahkan tentang surga pun, Al-Qur’an memberi peringatan bahwa kenikmatannya tidak bisa dibayangkan manusia. Artinya, kalau seseorang membayangkan surga seperti resort mewah dengan buffet tanpa antre, mungkin imajinasinya masih terlalu duniawi.
Pilar keempat adalah tawakal. Menariknya, dalam logika sufi, tawakal justru mendahului ikhtiar. Keyakinan kepada Allah membuat seseorang bekerja lebih serius, bukan lebih malas. Jadi tawakal bukan alasan untuk rebahan. Jika seseorang berkata, “Saya tawakal saja,” sambil tidur siang tiga jam, kemungkinan itu bukan tasawuf, melainkan manajemen kemalasan.
Pilar terakhir adalah sabar, terutama sabar di awal cobaan. Ini jenis sabar yang muncul langsung ketika musibah datang, bukan sabar yang muncul tiga hari kemudian setelah semua drama selesai.
Kelima pilar ini bekerja seperti sistem keamanan batin: taslim, rida, taslim kepada Amrullah, tawakal, dan sabar. Jika kelimanya terpasang dengan baik, hati seseorang menjadi lebih tenang. Dunia boleh ribut, tetapi batinnya relatif stabil.
Implikasinya sangat nyata. Orang yang memiliki iman dengan keyakinan mendalam akan menjalani salat dengan khusyuk, karena ia merasa benar-benar sedang berdiri di hadapan Allah. Sebaliknya, jika salat terasa seperti tugas administratif—cepat selesai, lalu kembali ke notifikasi ponsel—para sufi mungkin akan berkata dengan lembut: “Mungkin iman kita perlu diservis sedikit.”
Ceramah tentang iman seperti ini—seperti yang sering disampaikan oleh Luqman Hakim—sebenarnya bukan sekadar kajian teologi. Ia juga semacam terapi psikologis.
Di zaman modern yang penuh kecemasan, konsep rida dan taslim adalah obat yang cukup ampuh. Ketika seseorang yakin bahwa hidup berada dalam genggaman Tuhan, ia bisa menjalani kehidupan dengan lebih gagah. Tidak terlalu dihantui pikiran “jangan-jangan”.
Para sufi tampaknya sudah lama menemukan cara untuk hidup tanpa terlalu sering berkata “jangan-jangan”.
Tentu saja, bagi sebagian orang, konsep seperti wahdatul wujud terdengar rumit atau bahkan kontroversial. Tetapi selama tetap berada dalam koridor Al-Qur’an dan hadis, tradisi tasawuf sebenarnya berfungsi memperdalam dimensi batin dalam Islam.
Dan mungkin di situlah pelajaran paling pentingnya: iman bukan sekadar tiket menuju surga atau kartu bebas dari neraka. Iman adalah perjalanan panjang untuk semakin mengenal Allah.
Sebuah perjalanan spiritual yang, seperti samudra, tidak pernah benar-benar habis diselami.
Dan kabar baiknya: untuk mulai menyelam, seseorang tidak perlu kapal besar, tidak perlu alat canggih, bahkan tidak perlu tabung oksigen.
Cukup satu hal: hati yang mau belajar percaya.
abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.