Ramadhan selalu punya drama sendiri. Di awal bulan, suasana seperti festival: masjid penuh, status media sosial dipenuhi foto takjil, dan orang-orang tiba-tiba menjadi ahli kurma internasional. Namun ketika memasuki 10 malam terakhir, suasana berubah menjadi sedikit lebih serius—seperti mahasiswa yang baru sadar besok ujian akhir.
Di sinilah puncak kemuliaan Ramadhan berada. Nabi Muhammad pernah memberi gambaran indah tentang kesungguhan di fase ini dengan istilah “mengencangkan ikat pinggang.” Dalam bahasa modern, ini mungkin berarti: mengurangi rebahan, memperbanyak ibadah, dan sedikit menunda rencana menonton serial yang “tinggal satu episode lagi.”
Sebuah kultum yang mengingatkan bahwa 10 malam terakhir adalah waktu berburu Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Jika dihitung-hitung secara sederhana, itu setara lebih dari 83 tahun ibadah. Artinya, satu malam saja bisa mengalahkan CV spiritual kita sejak lahir hingga pensiun.
Masalahnya, Allah tidak memberi tahu tanggal pastinya.
Ini rahasia ilahi yang penuh hikmah. Jika Lailatul Qadar diumumkan misalnya jatuh pada tanggal 27 Ramadhan pukul 22.15, bisa jadi umat manusia akan melakukan ibadah secara “sistem kebut semalam.” Masjid akan penuh hanya pada malam itu, sementara malam lainnya kembali sunyi seperti perpustakaan saat libur panjang.
Karena itulah waktunya dirahasiakan. Hikmahnya jelas: agar manusia tidak menjadi “pemburu diskon ibadah” yang hanya aktif ketika ada promo besar. Dengan dirahasiakan, setiap malam di sepuluh terakhir terasa seperti membuka kotak misteri.
Untungnya, syariat tidak membiarkan umat Islam berjalan tanpa petunjuk. Nabi memberi kompas sederhana: carilah pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir. Jadi peluangnya menyempit, seperti ujian pilihan ganda yang jawabannya tinggal lima kemungkinan.
Para ulama klasik pun ikut memberi penjelasan. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, misalnya, menegaskan bahwa peluang terbesar memang berada pada malam-malam ganjil. Artinya, kita tidak perlu membuat teori konspirasi astronomi yang rumit. Cukup fokus beribadah, bukan sibuk menghitung posisi bintang seperti ahli navigasi kapal abad pertengahan.
Lalu bagaimana cara “menemukan” malam mulia itu?
Di sinilah nasihat para ulama terasa sangat praktis. Ibnu Rajab Al-Hanbali menyarankan kombinasi ibadah yang sederhana namun dalam: shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan merenung. Tidak ada ritual aneh-aneh, tidak perlu pula membawa peralatan mistik.
Cukup kembali ke rutinitas spiritual yang sebenarnya sudah kita kenal sejak kecil—hanya saja selama ini sering tertunda oleh notifikasi ponsel.
Puncaknya adalah doa yang diajarkan Nabi:
“Allahumma innaka ‘afuwwun karim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.
Doa ini sederhana, tetapi dalam. Inti Lailatul Qadar ternyata bukan sekadar “mendapat pahala besar,” melainkan pulang dengan hati yang bersih—seperti komputer yang selesai di-reset setelah terlalu banyak file sampah.
Akhirnya, sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah semacam ujian kecil tentang kesungguhan manusia. Apakah kita benar-benar mencari kedekatan dengan Tuhan, atau sekadar ingin mendapatkan “bonus spiritual”?
Jika kita jujur, mungkin sebagian dari kita masih seperti orang yang mencari remote TV: baru panik mencarinya ketika acara favorit sudah mulai.
Namun kabar baiknya, Ramadhan selalu memberi kesempatan. Setiap malam masih terbuka, setiap doa masih didengar, dan setiap langkah menuju masjid masih dicatat sebagai perjalanan menuju rahmat.
Jadi, jika malam ini terasa sunyi dan kantuk mulai datang, ingatlah satu hal: siapa tahu justru malam itulah Lailatul Qadar sedang lewat dengan diam-diam—menunggu siapa yang masih terjaga, berdoa, dan berharap.
Dan kalau pun kita tidak tahu persis kapan ia datang, setidaknya kita sudah mencoba menyambutnya.
Karena dalam urusan rahmat Tuhan, kadang yang paling penting bukan menemukan malamnya, tetapi tidak berhenti mencarinya.
abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.