Sebuah Renungan dari Munajat Sang Majdzub
Menjelang Ramadan, ada dua jenis manusia yang biasanya
sangat sibuk.
Kelompok pertama biasanya jumlahnya lebih sedikit, dan
sering kali dicurigai tetangga sebagai orang yang “terlalu serius hidupnya”.
Sementara kelompok kedua jauh lebih banyak, dan sering terlihat membawa pulang
tiga kantong belanja sambil berkata dengan penuh spiritualitas: “Ini semua
demi ibadah puasa.”
Di tengah kesibukan duniawi yang sangat religius itu, muncul
sebuah ceramah berjudul “Munajat Sang Majdzub.”
Ceramah ini tidak membahas resep kolak pisang yang khusyuk atau strategi sahur
anti-ngantuk. Ia membahas sesuatu yang lebih berbahaya: kedekatan dengan
Allah.
Bahaya, karena kalau orang terlalu dekat dengan Allah,
biasanya ia mulai kehilangan beberapa hal yang dianggap penting oleh masyarakat
modern—seperti gengsi, ego, dan keinginan untuk selalu benar dalam grup
WhatsApp keluarga.
Doa Para Pecinta Tuhan yang Sangat Serius
Ceramah ini berangkat dari munajat Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam:
Misalnya:
- Ia
tidak lagi terlalu marah ketika motornya disalip tanpa sein.
- Ia
tidak lagi merasa paling suci ketika berdebat di internet.
- Ia
bahkan mungkin mulai berpikir bahwa dirinya bukan pusat alam semesta.
Ini tentu kondisi yang agak asing bagi sebagian manusia
modern.
Salik dan Majdzub: Dua Tipe Pendaki Gunung Spiritual
Dalam tasawuf ada dua tipe orang yang menuju Allah.
Yang kedua adalah majdzub.
Ini tipe yang… ditarik langsung oleh Allah.
Kalau dianalogikan secara sederhana:
- Salik
itu seperti orang yang mendaki gunung dengan penuh perjuangan.
- Majdzub
itu seperti orang yang tiba-tiba dijemput helikopter.
Masalahnya, manusia sering berharap menjadi majdzub tanpa
mau mendaki sama sekali.
Musyahadah: Menyadari Tuhan Lebih Dekat dari WiFi
Salah satu konsep penting yang dijelaskan Kiai adalah
musyahadah—kesadaran bahwa Allah selalu dekat.
Tetapi terhadap kehadiran Allah, kadang manusia jauh lebih
santai.
Padahal secara teologis, Allah lebih dekat daripada sinyal
WiFi mana pun. Bahkan tidak pernah buffering.
Masalahnya bukan pada jarak Tuhan.
Masalahnya ada pada kesibukan manusia sendiri yang
terlalu sibuk memikirkan dirinya.
Itthirar: Ketika Manusia Akhirnya Mengaku Tidak Bisa
Apa-Apa
Salah satu bagian paling menarik dari ceramah ini adalah
konsep itthirar—kondisi benar-benar tidak berdaya di hadapan Allah.
Ini agak kontras dengan budaya modern yang selalu berkata:
- “Kamu
pasti bisa!”
- “Semua
tergantung usaha!”
- “Jangan
menyerah!”
Tasawuf justru berkata dengan sangat jujur:
Kadang manusia memang tidak bisa apa-apa.
Dan justru pada saat itulah hubungan dengan Allah menjadi
paling jernih.
Karena selama manusia masih merasa hebat, biasanya ia tidak
terlalu membutuhkan Tuhan. Ia lebih membutuhkan validasi LinkedIn.
Para Majdzub yang Aneh: Mereka Malah Banyak Istighfar
Hal yang cukup mengejutkan adalah penjelasan bahwa para
majdzub—orang yang sangat dekat dengan Allah—justru banyak beristighfar.
Bukan karena mereka merasa penuh dosa.
Tetapi karena mereka merasa semua kebaikan berasal dari
Allah.
Ini berbeda dengan sebagian manusia yang baru sekali
berhasil bangun tahajud lalu merasa layak membuka kelas motivasi spiritual.
Para sufi justru semakin dekat dengan Allah, semakin merasa
kecil.
Sementara manusia biasa sering mengalami fenomena
kebalikannya:
Semakin sedikit ibadahnya, semakin besar komentarnya.
Bahaya Ego Spiritual
Salah satu peringatan penting dalam ceramah ini adalah
bahaya ego spiritual.
Ini penyakit yang cukup unik.
Orang dengan ego spiritual biasanya:
- Merasa
dirinya lebih dekat dengan Tuhan daripada orang lain
- Merasa
pengalaman rohaninya sangat istimewa
- Diam-diam
berharap orang lain menyadari keistimewaan tersebut
Padahal dalam tasawuf, pengalaman spiritual justru bukan
tujuan.
Bukan sensasi.
Bukan pengalaman mistik.
Apalagi status “orang yang sudah sampai”.
Kalau seseorang sudah merasa “sampai”, biasanya justru ia
sedang tersesat di terminal yang salah.
Ramadan: Bulan yang Mengajarkan Kita Tidak Hebat
Ramadan sebenarnya adalah pelatihan besar-besaran untuk
menghancurkan ego manusia.
Bayangkan:
Manusia yang biasanya bebas makan tiba-tiba tidak boleh
makan.
Manusia yang biasanya merasa kuat tiba-tiba lemas jam tiga
sore.
Manusia yang biasanya merasa sabar tiba-tiba sadar bahwa
antrean takjil bisa menjadi ujian keimanan yang sangat berat.
Semua ini mengajarkan satu hal sederhana:
Manusia tidak sehebat yang ia kira.
Dan itu kabar baik.
Karena dalam tasawuf, kesadaran bahwa kita tidak hebat
adalah pintu awal menuju kedekatan dengan Allah.
Doa yang Sangat Berbahaya
Pada akhirnya, munajat Ibnu Athaillah ini sebenarnya adalah
doa yang cukup berani.
“Ya Allah, jadikan aku seperti hamba-hamba yang dekat
dengan-Mu.”
Doa ini berbahaya karena jika dikabulkan, manusia mungkin
harus kehilangan beberapa hal:
- kesombongan
- rasa
paling benar
- kebutuhan
untuk selalu dipuji
Sebagai gantinya, ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih
tenang:
kerendahan hati.
Tetapi hati mereka ringan.
Sementara banyak manusia modern terlihat sangat sukses,
tetapi hatinya seperti koper bandara—penuh, berat, dan selalu khawatir
tertinggal.
Maka menjelang Ramadan ini, mungkin doa terbaik bukanlah doa
yang terlalu panjang.
Cukup doa sederhana yang pernah dipanjatkan para pecinta
Tuhan:
“Ilahi haqqiqni bihaqa'iki ahlil qurbi.”
Ya Allah, tariklah aku menuju kedekatan dengan-Mu.
Kalau bisa… sebelum aku terlalu sibuk mengatur menu sahur.
abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.