Minggu, 08 Maret 2026

Ketika Manusia Ingin Dekat dengan Tuhan (Tapi Masih Sibuk Mengatur Menu Sahur)

Sebuah Renungan dari Munajat Sang Majdzub

Menjelang Ramadan, ada dua jenis manusia yang biasanya sangat sibuk.

Yang pertama sibuk memeriksa hati: “Apakah aku sudah siap secara spiritual?”
Yang kedua sibuk memeriksa harga minyak goreng.

Kelompok pertama biasanya jumlahnya lebih sedikit, dan sering kali dicurigai tetangga sebagai orang yang “terlalu serius hidupnya”. Sementara kelompok kedua jauh lebih banyak, dan sering terlihat membawa pulang tiga kantong belanja sambil berkata dengan penuh spiritualitas: “Ini semua demi ibadah puasa.”

Di tengah kesibukan duniawi yang sangat religius itu, muncul sebuah ceramah  berjudul “Munajat Sang Majdzub.” Ceramah ini tidak membahas resep kolak pisang yang khusyuk atau strategi sahur anti-ngantuk. Ia membahas sesuatu yang lebih berbahaya: kedekatan dengan Allah.

Bahaya, karena kalau orang terlalu dekat dengan Allah, biasanya ia mulai kehilangan beberapa hal yang dianggap penting oleh masyarakat modern—seperti gengsi, ego, dan keinginan untuk selalu benar dalam grup WhatsApp keluarga.

Doa Para Pecinta Tuhan yang Sangat Serius

Ceramah ini berangkat dari munajat Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam:

“Ilahi haqqiqni bihaqa'iki ahlil qurbi.”
Ya Allah, jadikanlah aku seperti hamba-hamba yang dekat dengan-Mu.

Doa ini sederhana, tetapi implikasinya cukup besar.
Karena kalau doa ini benar-benar dikabulkan, hidup seseorang bisa berubah drastis.

Misalnya:

  • Ia tidak lagi terlalu marah ketika motornya disalip tanpa sein.
  • Ia tidak lagi merasa paling suci ketika berdebat di internet.
  • Ia bahkan mungkin mulai berpikir bahwa dirinya bukan pusat alam semesta.

Ini tentu kondisi yang agak asing bagi sebagian manusia modern.

Salik dan Majdzub: Dua Tipe Pendaki Gunung Spiritual

Dalam tasawuf ada dua tipe orang yang menuju Allah.

Pertama, salik.
Ini tipe pekerja keras spiritual. Mereka bangun malam, zikir panjang, mujahadah, menahan nafsu, dan terus berlatih seperti atlet maraton rohani.

Yang kedua adalah majdzub.

Ini tipe yang… ditarik langsung oleh Allah.

Kalau dianalogikan secara sederhana:

  • Salik itu seperti orang yang mendaki gunung dengan penuh perjuangan.
  • Majdzub itu seperti orang yang tiba-tiba dijemput helikopter.

Masalahnya, manusia sering berharap menjadi majdzub tanpa mau mendaki sama sekali.

Logikanya kira-kira begini:
“Ya Allah, tariklah aku menuju-Mu… tapi kalau bisa tanpa mengganggu jadwal tidur saya.”

Musyahadah: Menyadari Tuhan Lebih Dekat dari WiFi

Salah satu konsep penting yang dijelaskan Kiai adalah musyahadah—kesadaran bahwa Allah selalu dekat.

Dalam kehidupan modern, manusia sangat sadar terhadap sinyal WiFi.
Begitu sinyal melemah sedikit saja, ia langsung panik.

Tetapi terhadap kehadiran Allah, kadang manusia jauh lebih santai.

Padahal secara teologis, Allah lebih dekat daripada sinyal WiFi mana pun. Bahkan tidak pernah buffering.

Masalahnya bukan pada jarak Tuhan.

Masalahnya ada pada kesibukan manusia sendiri yang terlalu sibuk memikirkan dirinya.

Itthirar: Ketika Manusia Akhirnya Mengaku Tidak Bisa Apa-Apa

Salah satu bagian paling menarik dari ceramah ini adalah konsep itthirar—kondisi benar-benar tidak berdaya di hadapan Allah.

Ini agak kontras dengan budaya modern yang selalu berkata:

  • “Kamu pasti bisa!”
  • “Semua tergantung usaha!”
  • “Jangan menyerah!”

Tasawuf justru berkata dengan sangat jujur:

Kadang manusia memang tidak bisa apa-apa.

Dan justru pada saat itulah hubungan dengan Allah menjadi paling jernih.

Karena selama manusia masih merasa hebat, biasanya ia tidak terlalu membutuhkan Tuhan. Ia lebih membutuhkan validasi LinkedIn.

Para Majdzub yang Aneh: Mereka Malah Banyak Istighfar

Hal yang cukup mengejutkan adalah penjelasan bahwa para majdzub—orang yang sangat dekat dengan Allah—justru banyak beristighfar.

Bukan karena mereka merasa penuh dosa.

Tetapi karena mereka merasa semua kebaikan berasal dari Allah.

Ini berbeda dengan sebagian manusia yang baru sekali berhasil bangun tahajud lalu merasa layak membuka kelas motivasi spiritual.

Para sufi justru semakin dekat dengan Allah, semakin merasa kecil.

Sementara manusia biasa sering mengalami fenomena kebalikannya:

Semakin sedikit ibadahnya, semakin besar komentarnya.

Bahaya Ego Spiritual

Salah satu peringatan penting dalam ceramah ini adalah bahaya ego spiritual.

Ini penyakit yang cukup unik.

Orang dengan ego spiritual biasanya:

  • Merasa dirinya lebih dekat dengan Tuhan daripada orang lain
  • Merasa pengalaman rohaninya sangat istimewa
  • Diam-diam berharap orang lain menyadari keistimewaan tersebut

Padahal dalam tasawuf, pengalaman spiritual justru bukan tujuan.

Tujuannya tetap sederhana:
Allah.

Bukan sensasi.

Bukan pengalaman mistik.

Apalagi status “orang yang sudah sampai”.

Kalau seseorang sudah merasa “sampai”, biasanya justru ia sedang tersesat di terminal yang salah.

Ramadan: Bulan yang Mengajarkan Kita Tidak Hebat

Ramadan sebenarnya adalah pelatihan besar-besaran untuk menghancurkan ego manusia.

Bayangkan:

Manusia yang biasanya bebas makan tiba-tiba tidak boleh makan.

Manusia yang biasanya merasa kuat tiba-tiba lemas jam tiga sore.

Manusia yang biasanya merasa sabar tiba-tiba sadar bahwa antrean takjil bisa menjadi ujian keimanan yang sangat berat.

Semua ini mengajarkan satu hal sederhana:

Manusia tidak sehebat yang ia kira.

Dan itu kabar baik.

Karena dalam tasawuf, kesadaran bahwa kita tidak hebat adalah pintu awal menuju kedekatan dengan Allah.

Doa yang Sangat Berbahaya

Pada akhirnya, munajat Ibnu Athaillah ini sebenarnya adalah doa yang cukup berani.

“Ya Allah, jadikan aku seperti hamba-hamba yang dekat dengan-Mu.”

Doa ini berbahaya karena jika dikabulkan, manusia mungkin harus kehilangan beberapa hal:

  • kesombongan
  • rasa paling benar
  • kebutuhan untuk selalu dipuji

Sebagai gantinya, ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih tenang:

kerendahan hati.

Dan mungkin di situlah rahasia para sufi:
mereka terlihat sederhana, bahkan kadang dianggap aneh.

Tetapi hati mereka ringan.

Sementara banyak manusia modern terlihat sangat sukses, tetapi hatinya seperti koper bandara—penuh, berat, dan selalu khawatir tertinggal.

Maka menjelang Ramadan ini, mungkin doa terbaik bukanlah doa yang terlalu panjang.

Cukup doa sederhana yang pernah dipanjatkan para pecinta Tuhan:

“Ilahi haqqiqni bihaqa'iki ahlil qurbi.”

Ya Allah, tariklah aku menuju kedekatan dengan-Mu.

Kalau bisa… sebelum aku terlalu sibuk mengatur menu sahur.

abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.