Di tengah kesibukan itu, datanglah sebuah nasihat klasik dari seorang kyai, yang kalau diterjemahkan ke bahasa kekinian kira-kira begini: “Tenang saja, ini semua cuma mimpi. Jangan terlalu baper.”
Bayangkan hidup ini seperti mimpi panjang. Dalam mimpi itu, kita bisa jadi apa saja: sultan dadakan, influencer penuh endorse, atau minimal jadi orang yang tidak lupa password Wi-Fi. Kita punya rumah megah, pasangan rupawan, dan saldo rekening yang membuat aplikasi mobile banking ikut tersenyum.
Masalahnya, seperti semua mimpi, kita tidak sadar bahwa kita sedang bermimpi.
Dan lebih parahnya lagi, kita menikmati mimpi itu dengan sepenuh hati. Bahkan, ketika ada “alarm” berupa nasihat, musibah kecil, atau suara hati yang berbisik, “Hei, ini semua sementara,” reaksi kita sering kali bukan refleksi, tapi… kesal. Mirip orang yang dibangunkan dari mimpi indah tepat saat sedang makan di restoran mewah—gratis pula.
“Sebentar lagi,” kata kita. “Lagi enak-enaknya ini.”
Menurut sang kyai, kematian itu bukan akhir. Ia hanya semacam tombol “wake up” universal. Begitu ditekan, kita bangun. Dan seperti bangun tidur pada umumnya, ada momen canggung: mengucek mata, melihat sekeliling, lalu bergumam, “Loh… kok kosong?”
Istri cantik yang dulu dipuji tiap pagi? Hilang seperti karakter NPC yang logout. Harta yang dulu dihitung dengan kalkulator sampai baterainya habis? Tidak ikut pindah server. Jabatan yang dulu diperebutkan dengan strategi ala catur tingkat dewa? Ternyata tidak kompatibel dengan sistem akhirat.
Singkatnya: kita bangun, dan semua properti mimpi ditarik kembali oleh “manajemen alam semesta”.
Di titik ini, manusia terbagi dua.
Golongan pertama adalah mereka yang sudah curiga sejak awal. Mereka menjalani hidup seperti orang yang tahu bahwa ini hanya persinggahan. Mereka tetap bekerja, tetap berkeluarga, tetap makan enak—tapi tidak menggenggam dunia terlalu erat. Ibarat naik bus, mereka sadar ini bukan rumah, jadi tidak repot-repot memasang gorden.
Ketika “alarm” kematian berbunyi, mereka tidak kaget. Paling cuma bilang, “Oh, sudah sampai ya?”
Golongan kedua adalah kita-kita yang terlalu menikmati peran. Kita kira ini film panjang, padahal cuma trailer. Kita dekorasi dunia seolah-olah akan tinggal selamanya. Kita marah kalau diingatkan. Kita menunda-nunda introspeksi seperti menunda olahraga: selalu ada alasan.
Lalu, ketika akhirnya “bangun”… kita baru sadar bahwa selama ini kita salah genre. Kita kira drama romantis, ternyata ini ujian kehidupan.
Nasihat sang kyai ini sebenarnya sederhana, tapi efeknya seperti disiram air dingin di pagi hari: menyegarkan sekaligus sedikit menyakitkan. Ia mengajak kita untuk mulai sering “latihan bangun”—bukan dari tidur, tapi dari kelalaian.
Caranya? Tidak perlu langsung jadi wali level tinggi. Cukup mulai dari hal kecil: ingat bahwa semua ini sementara, kurangi keterikatan berlebihan, dan sesekali tanya diri sendiri pertanyaan yang agak tidak nyaman: “Kalau ini semua hilang besok, saya masih punya apa?”
Dalam bahasa tasawuf, ini disebut belajar “tidak terlalu percaya pada mimpi”. Dalam bahasa sehari-hari, mungkin lebih sederhana: jangan terlalu serius dengan hal yang tidak bisa dibawa mati—termasuk debat di kolom komentar.
Akhirnya, esai ini tidak bermaksud membuat kita takut hidup, apalagi menyuruh resign dari dunia lalu pindah ke gunung (kecuali memang sudah ada Wi-Fi stabil di sana). Justru sebaliknya, ia mengajak kita hidup dengan lebih sadar—bahwa ini hanya sementara, tapi tetap bermakna.
Karena mungkin masalah kita bukan hidup yang terlalu duniawi, tapi lupa bahwa kita sedang bermimpi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.