Di zaman ketika segala sesuatu bisa diukur—dari langkah kaki sampai jumlah like—rupanya manusia modern juga diam-diam mencoba mengukur pahala. “Hari ini zikir 1.000 kali, besok semoga rezeki naik 20%.” Jika bisa, mungkin ada aplikasi: Zikir Tracker Pro — sinkron dengan rekening bank. Sayangnya (atau untungnya), Tuhan tidak bekerja dengan sistem cashback.
Di sinilah nasihat seorang Kiai hadir seperti segelas air dingin di tengah siang bolong—menyegarkan, tapi juga bikin kita tersadar: selama ini kita berzikir atau lagi negosiasi halus?
Sang Kiai dengan santai tapi menusuk menjelaskan bahwa ikhlas itu seperti WiFi Tuhan—dia hanya terhubung kalau kita tidak sibuk mencari sinyal lain. Begitu niat kita bercabang, misalnya zikir sambil berharap naik jabatan, kaya mendadak, atau minimal dapat mimpi spiritual level sinetron religi, maka koneksinya mulai “lemot”. Bukan karena Tuhannya jauh, tapi karena kita terlalu banyak membuka tab di hati.
Masalahnya, manusia modern ini terlalu kreatif dalam berharap. Bahkan saat sudah disuruh ikhlas, masih sempat bertanya dalam hati: “Ikhlas sih, tapi boleh dong kalau sekalian dapat bonus?” Nah, di titik inilah setan mulai ikut nimbrung, bukan dengan cara menakutkan, tapi justru dengan cara yang sangat “saleh”.
Bayangkan, Anda bermimpi didatangi sosok berjubah putih, wajahnya bercahaya, lalu berkata: “Perbanyak baca Al-Qur’an.” Secara logika awam, ini seperti notifikasi dari surga. Tapi Sang Kiai dengan tenang merusak euforia itu: bisa jadi itu jebakan. Karena kalau Anda membaca Al-Qur’an karena “disuruh makhluk”, maka niat Anda sudah bukan murni karena Tuhan.
Ini seperti niat olahraga karena ingin sehat, tapi ujung-ujungnya karena ingin pamer di Instagram. Secara lahiriah tetap lari, tapi batinnya sudah pindah jalur.
Namun, bagian paling “mind-blowing” dari nasihat ini bukan teori tasawufnya—melainkan cerita tentang pohon mangga yang tampaknya ikut masuk majelis zikir.
Kisahnya sederhana tapi efeknya seperti iklan pupuk premium: air yang sudah “terisi” zikir digunakan untuk menyiram tanaman. Hasilnya? Pohon mangga berbuah raksasa di luar musim. Jeruk purut tumbuh seperti sedang ikut kompetisi. Bahkan toko pun ikut laris, seolah-olah pelanggan juga tersiram air zikir secara tidak langsung.
Di titik ini, kita mulai curiga: ini zikir atau startup agrikultur spiritual?
Tapi justru di situlah letak keindahannya. Sang Kiai tidak sedang mengajarkan trik cepat kaya berbasis dzikir, melainkan menunjukkan efek samping dari keikhlasan. Bahwa ketika hati sudah “benar”, alam semesta seperti ikut menyelaraskan diri. Bukan karena kita hebat, tapi karena kita tidak lagi sibuk menjadi pusat segalanya.
Sayangnya, manusia tetap saja manusia. Mendengar cerita itu, sebagian orang mungkin langsung berpikir: “Baik, besok saya zikir, lalu siram tanaman. Target: mangga minimal dua kilo.” Dan di situlah eksperimen spiritual berubah jadi proyek pertanian ambisius.
Padahal pesan utamanya sederhana, meski sulit dijalankan: berhenti berharap hasil, mulai merapikan niat.
Ikhlas itu mirip seperti tidur. Semakin dipaksa, semakin tidak datang. Tapi ketika kita benar-benar melepas kendali, dia hadir tanpa diundang.
Dan kalau suatu hari pohon mangga Anda tiba-tiba berbuah sebesar bola sepak… ya, anggap saja itu testimoni alami. Bukan untuk dipamerkan, tapi untuk ditertawakan sambil bersyukur.
abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.