Ada satu hal yang menarik dalam perjalanan spiritual manusia: semakin kita merasa sudah tidak sombong, biasanya justru di situlah kesombongan mulai tepuk tangan pelan-pelan di pojok hati.
Video “Betulkah Kita Tidak Sombong?” dari seri Nasihat
Sang Cahaya ini sebenarnya seperti kaca cermin… tapi bukan cermin biasa.
Ini cermin yang kalau kita lihat, bukannya makin rapi, malah makin sadar: loh,
ini noda dari kapan ya?
Pesan dari “Sang Kyai” sederhana tapi menohok: kesombongan
itu bukan cuma soal pamer kekayaan atau jabatan. Itu mah level pemula.
Kesombongan yang lebih canggih justru sering bersembunyi di balik hal-hal yang
kelihatan mulia.
Contohnya:
- Merasa
lebih baik karena lebih rajin ibadah
- Merasa
lebih lurus karena orang lain kelihatan “belok”
- Bahkan…
merasa lebih rendah hati daripada orang lain (ini sudah kategori plot
twist dalam plot twist)
Jadi, kalau ada lomba kesombongan, yang menang sering bukan yang paling sombong kelihatan, tapi yang paling tidak merasa dirinya sombong.
Menariknya, video ini tidak datang dengan gaya “menghakimi
dari langit”. Tidak ada nada, “kamu salah, saya benar.” Justru sebaliknya—ini
seperti kumpul bareng sambil ngopi, lalu salah satu bilang, “Kayaknya kita
semua agak bermasalah deh.”
Dan semua yang hadir langsung diam… karena sadar, iya juga.
Bahasanya sederhana: bukan ceramah, tapi ngobrol yang diam-diam menampar.
- Pamer
sedekah (pakai caption “tidak bermaksud riya”)
- Pamer
ibadah (dengan filter aesthetic)
- Pamer
kesederhanaan (ini yang paling tricky—flexing kerendahan hati)
Kalau ditarik ke akar, kesombongan itu seperti debu. Bukan
batu besar yang kelihatan jelas, tapi partikel halus yang terus nempel. Hari
ini dibersihkan, besok muncul lagi.
Dan ironisnya, semakin kita merasa sudah selesai membersihkan, biasanya justru kita sedang melewatkan bagian yang paling kotor.
Pada akhirnya, menjadi rendah hati itu bukan soal berkata, “Saya
ini hina, saya ini kecil” sambil berharap dipuji orang lain. Itu juga bisa
jadi bentuk kesombongan yang cosplay jadi tawadhu.
Rendah hati yang asli itu sederhana:
- Tidak
merasa lebih tinggi dari siapa pun
- Tidak
merasa punya “hak” untuk lebih mulia
- Sadar
bahwa semua yang kita miliki… statusnya cuma titipan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.