Minggu, 29 Maret 2026

Mengintip Kesombongan yang Pakai Sandal Jepit: Tentang Hati yang “Katanya” Rendah

Ada satu hal yang menarik dalam perjalanan spiritual manusia: semakin kita merasa sudah tidak sombong, biasanya justru di situlah kesombongan mulai tepuk tangan pelan-pelan di pojok hati.

Bayangkan begini. Ada orang yang tidak lagi pamer mobil, tidak flexing saldo rekening, bahkan tidak update story saat sedekah. Lalu ia duduk tenang, menarik napas panjang, dan berkata dalam hati, “Alhamdulillah, saya sudah tidak sombong.”
Nah, di momen sakral itulah—plot twist terjadi—kesombongan muncul pakai sandal jepit, nyengir, lalu bisik: “Selamat, kamu sekarang sombong versi premium.”

Video “Betulkah Kita Tidak Sombong?” dari seri Nasihat Sang Cahaya ini sebenarnya seperti kaca cermin… tapi bukan cermin biasa. Ini cermin yang kalau kita lihat, bukannya makin rapi, malah makin sadar: loh, ini noda dari kapan ya?

Pesan dari “Sang Kyai” sederhana tapi menohok: kesombongan itu bukan cuma soal pamer kekayaan atau jabatan. Itu mah level pemula. Kesombongan yang lebih canggih justru sering bersembunyi di balik hal-hal yang kelihatan mulia.

Contohnya:

  • Merasa lebih baik karena lebih rajin ibadah
  • Merasa lebih lurus karena orang lain kelihatan “belok”
  • Bahkan… merasa lebih rendah hati daripada orang lain (ini sudah kategori plot twist dalam plot twist)

Jadi, kalau ada lomba kesombongan, yang menang sering bukan yang paling sombong kelihatan, tapi yang paling tidak merasa dirinya sombong.

Menariknya, video ini tidak datang dengan gaya “menghakimi dari langit”. Tidak ada nada, “kamu salah, saya benar.” Justru sebaliknya—ini seperti kumpul bareng sambil ngopi, lalu salah satu bilang, “Kayaknya kita semua agak bermasalah deh.”

Dan semua yang hadir langsung diam… karena sadar, iya juga.

Pendekatan ini penting. Karena kalau nasihat disampaikan dengan nada terlalu tinggi, biasanya yang terjadi bukan introspeksi, tapi defensif. Orang bukan berubah, malah sibuk mencari pembenaran.
Sedangkan di sini, kita diajak duduk sejajar: sama-sama punya potensi sombong, sama-sama lagi belajar.

Bahasanya sederhana: bukan ceramah, tapi ngobrol yang diam-diam menampar.

Di era media sosial, pembahasan ini jadi makin relevan. Dulu orang pamer mungkin pakai mobil atau rumah. Sekarang?
Upgrade.

  • Pamer sedekah (pakai caption “tidak bermaksud riya”)
  • Pamer ibadah (dengan filter aesthetic)
  • Pamer kesederhanaan (ini yang paling tricky—flexing kerendahan hati)

Kadang kita tidak sadar, kita bukan sedang menjadi baik, tapi sedang menampilkan versi baik diri kita untuk ditonton orang lain.
Dan lebih bahaya lagi: kita mulai percaya dengan “versi tampil” itu.

Padahal hati asli kita mungkin lagi duduk di belakang, sambil bilang:
“Halo, saya masih di sini, belum dibersihkan.”

Kalau ditarik ke akar, kesombongan itu seperti debu. Bukan batu besar yang kelihatan jelas, tapi partikel halus yang terus nempel. Hari ini dibersihkan, besok muncul lagi.

Artinya?
Ini bukan proyek sekali jadi. Ini kerja seumur hidup.

Dan ironisnya, semakin kita merasa sudah selesai membersihkan, biasanya justru kita sedang melewatkan bagian yang paling kotor.

Pada akhirnya, menjadi rendah hati itu bukan soal berkata, “Saya ini hina, saya ini kecil” sambil berharap dipuji orang lain. Itu juga bisa jadi bentuk kesombongan yang cosplay jadi tawadhu.

Rendah hati yang asli itu sederhana:

  • Tidak merasa lebih tinggi dari siapa pun
  • Tidak merasa punya “hak” untuk lebih mulia
  • Sadar bahwa semua yang kita miliki… statusnya cuma titipan
Dan kalau mau jujur, mungkin indikator paling aman itu bukan “saya sudah rendah hati”, tapi:
“Sepertinya saya masih perlu banyak beres-beres hati.”

abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.