Di sebuah sudut kehidupan modern—di antara notifikasi WhatsApp yang tak kunjung reda dan deadline yang datang seperti tamu tak diundang—manusia mulai mengalami satu fenomena aneh: terlalu banyak berpikir. Bukan sekadar berpikir, tapi berpikir kritis. Ironisnya, yang dulu dipuja sebagai tanda kecerdasan, kini mulai dicurigai sebagai biang kerok kegelisahan.
Masuklah sebuah video dari kanal dakwah Nasihat Sang
Cahaya, yang dengan penuh kelembutan (dan sedikit “tamparan halus”)
mengatakan: “Jangan-jangan, yang kamu sebut berpikir kritis itu… cuma
overthinking yang pakai jas akademik.”
Dan di titik ini, akal manusia mendadak terdiam. Mungkin sambil berkata pelan, “Loh, saya salah apa?”
Berpikir Kritis: Dari Pahlawan Jadi Tersangka
Sejak kecil kita diajarkan, “Nak, jadilah anak yang berpikir
kritis.” Maka kita pun tumbuh menjadi pribadi yang rajin bertanya:
- “Bagaimana
kalau gagal?”
- “Bagaimana
kalau ditolak?”
- “Bagaimana
kalau ternyata hidup ini cuma plot twist tanpa ending bahagia?”
Tanpa sadar, kita bukan lagi kritis—kita jadi penulis
skenario film horor versi hidup sendiri.
Video tersebut dengan cerdas (dan sedikit nyeletuk)
mengungkap bahwa banyak dari kita sebenarnya tidak sedang berpikir kritis,
melainkan sedang latihan jadi cenayang bencana. Semua kemungkinan buruk
dipikirkan, dipelihara, bahkan dipoles hingga mengkilap.
Padahal, dalam perspektif iman, ini agak janggal. Masa depan itu wilayah Allah, tapi kita sibuk membuat “fan fiction” yang isinya penuh tragedi.
Tawakal: Ketika Kita Disuruh “Santai Tapi Niat”
Sebagai penawar, datanglah konsep klasik yang sering kita
dengar tapi jarang kita praktikkan dengan benar: tawakal.
Tawakal sering disalahpahami. Ada yang mengira:
“Tawakal itu berarti santai saja, nanti juga ada jalan.”
Padahal kalau diterjemahkan lebih jujur, tawakal itu
kira-kira:
“Sudah usaha mati-matian, tapi tetap sadar kalau hasilnya
bukan kita yang pegang.”
Masalahnya, kita sering terjebak di dua ekstrem:
- Terlalu
mikir → belum apa-apa sudah stres.
- Tidak
mikir sama sekali → belum apa-apa sudah pasrah.
Padahal yang diminta itu kombinasi langka: berpikir secukupnya, percaya sepenuhnya.
Sindrom “Orang Pilihan”: Antara Motivasi dan Halu Tipis
Bagian paling menarik dari narasi ini adalah gagasan bahwa
setiap kita adalah “orang pilihan”.
Ini konsep yang sangat membangkitkan semangat. Siapa sih
yang tidak ingin merasa spesial? Bahkan mie instan saja punya varian “special
edition”.
Kita diingatkan:
- Nabi
dulu bukan siapa-siapa.
- Tokoh
besar lahir dari kondisi biasa.
- Bahkan
yang hidupnya berantakan pun bisa jadi luar biasa.
Pesannya jelas: jangan remehkan diri sendiri.
Namun di sinilah letak kelucuannya. Jika tidak hati-hati,
“orang pilihan” bisa berubah jadi:
“Tokoh utama dalam drama hidup versi sendiri.”
Gejalanya mulai terlihat:
- Merasa
semua kejadian adalah “plot besar untuk kesuksesan saya”
- Menganggap
kritik sebagai “ujian bagi orang hebat”
- Dan tentu saja, mulai sulit menerima kenyataan bahwa… kadang kita cuma salah ambil Keputusan
Akal vs Hati: Drama yang Tak Pernah Tamat
Esai ini pada dasarnya memperlihatkan konflik klasik: akal
dan hati seperti dua tokoh sinetron yang tidak pernah benar-benar akur.
Akal berkata:
“Kita harus analisis risiko!”
Hati berkata:
“Tenang saja, Allah ada.”
Akal membalas:
“Ya, tapi tetap harus ada rencana!”
Hati menimpali:
“Iya, tapi jangan panik juga!”
Dan manusia… berdiri di tengah, sambil buka Google: “cara hidup tenang tapi tetap realistis”.
Jalan Tengah yang Tidak Viral Tapi Benar
Pada akhirnya, yang ditawarkan oleh nasihat ini sebenarnya
sederhana—meskipun tidak selalu mudah dipraktikkan:
- Jangan
tenggelam dalam pikiran negatif.
- Jangan
juga mematikan akal sehat.
- Percaya
pada Allah, tapi tetap ikhtiar.
- Optimis,
tapi tidak naif.
Atau dalam bahasa yang lebih jujur:
“Hidup itu bukan antara mikir atau pasrah. Tapi mikir
secukupnya, lalu pasrah tanpa drama.”
Karena kalau dipikir-pikir (secara kritis, tentu saja),
masalah kita bukan pada berpikirnya—tapi pada kebiasaan kita yang terlalu
serius menanggapi pikiran sendiri.
“Sudahlah, kamu ini lagi mikir atau lagi cari masalah?”
abah-arul.blogspot.com., April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.