Selasa, 31 Maret 2026

Ketika “Berpikir Kritis” Dituduh Terlalu Kritis: Curhat Akal yang Mulai Baper

Di sebuah sudut kehidupan modern—di antara notifikasi WhatsApp yang tak kunjung reda dan deadline yang datang seperti tamu tak diundang—manusia mulai mengalami satu fenomena aneh: terlalu banyak berpikir. Bukan sekadar berpikir, tapi berpikir kritis. Ironisnya, yang dulu dipuja sebagai tanda kecerdasan, kini mulai dicurigai sebagai biang kerok kegelisahan.

Masuklah sebuah video dari kanal dakwah Nasihat Sang Cahaya, yang dengan penuh kelembutan (dan sedikit “tamparan halus”) mengatakan: “Jangan-jangan, yang kamu sebut berpikir kritis itu… cuma overthinking yang pakai jas akademik.”

Dan di titik ini, akal manusia mendadak terdiam. Mungkin sambil berkata pelan, “Loh, saya salah apa?”

Berpikir Kritis: Dari Pahlawan Jadi Tersangka

Sejak kecil kita diajarkan, “Nak, jadilah anak yang berpikir kritis.” Maka kita pun tumbuh menjadi pribadi yang rajin bertanya:

  • “Bagaimana kalau gagal?”
  • “Bagaimana kalau ditolak?”
  • “Bagaimana kalau ternyata hidup ini cuma plot twist tanpa ending bahagia?”

Tanpa sadar, kita bukan lagi kritis—kita jadi penulis skenario film horor versi hidup sendiri.

Video tersebut dengan cerdas (dan sedikit nyeletuk) mengungkap bahwa banyak dari kita sebenarnya tidak sedang berpikir kritis, melainkan sedang latihan jadi cenayang bencana. Semua kemungkinan buruk dipikirkan, dipelihara, bahkan dipoles hingga mengkilap.

Padahal, dalam perspektif iman, ini agak janggal. Masa depan itu wilayah Allah, tapi kita sibuk membuat “fan fiction” yang isinya penuh tragedi.

Tawakal: Ketika Kita Disuruh “Santai Tapi Niat”

Sebagai penawar, datanglah konsep klasik yang sering kita dengar tapi jarang kita praktikkan dengan benar: tawakal.

Tawakal sering disalahpahami. Ada yang mengira:

“Tawakal itu berarti santai saja, nanti juga ada jalan.”

Padahal kalau diterjemahkan lebih jujur, tawakal itu kira-kira:

“Sudah usaha mati-matian, tapi tetap sadar kalau hasilnya bukan kita yang pegang.”

Masalahnya, kita sering terjebak di dua ekstrem:

  1. Terlalu mikir → belum apa-apa sudah stres.
  2. Tidak mikir sama sekali → belum apa-apa sudah pasrah.

Padahal yang diminta itu kombinasi langka: berpikir secukupnya, percaya sepenuhnya.

Sindrom “Orang Pilihan”: Antara Motivasi dan Halu Tipis

Bagian paling menarik dari narasi ini adalah gagasan bahwa setiap kita adalah “orang pilihan”.

Ini konsep yang sangat membangkitkan semangat. Siapa sih yang tidak ingin merasa spesial? Bahkan mie instan saja punya varian “special edition”.

Kita diingatkan:

  • Nabi dulu bukan siapa-siapa.
  • Tokoh besar lahir dari kondisi biasa.
  • Bahkan yang hidupnya berantakan pun bisa jadi luar biasa.

Pesannya jelas: jangan remehkan diri sendiri.

Namun di sinilah letak kelucuannya. Jika tidak hati-hati, “orang pilihan” bisa berubah jadi:

“Tokoh utama dalam drama hidup versi sendiri.”

Gejalanya mulai terlihat:

  • Merasa semua kejadian adalah “plot besar untuk kesuksesan saya”
  • Menganggap kritik sebagai “ujian bagi orang hebat”
  • Dan tentu saja, mulai sulit menerima kenyataan bahwa… kadang kita cuma salah ambil Keputusan 

Akal vs Hati: Drama yang Tak Pernah Tamat

Esai ini pada dasarnya memperlihatkan konflik klasik: akal dan hati seperti dua tokoh sinetron yang tidak pernah benar-benar akur.

Akal berkata:

“Kita harus analisis risiko!”

Hati berkata:

“Tenang saja, Allah ada.”

Akal membalas:

“Ya, tapi tetap harus ada rencana!”

Hati menimpali:

“Iya, tapi jangan panik juga!”

Dan manusia… berdiri di tengah, sambil buka Google: “cara hidup tenang tapi tetap realistis”.

Jalan Tengah yang Tidak Viral Tapi Benar

Pada akhirnya, yang ditawarkan oleh nasihat ini sebenarnya sederhana—meskipun tidak selalu mudah dipraktikkan:

  • Jangan tenggelam dalam pikiran negatif.
  • Jangan juga mematikan akal sehat.
  • Percaya pada Allah, tapi tetap ikhtiar.
  • Optimis, tapi tidak naif.

Atau dalam bahasa yang lebih jujur:

“Hidup itu bukan antara mikir atau pasrah. Tapi mikir secukupnya, lalu pasrah tanpa drama.”

Karena kalau dipikir-pikir (secara kritis, tentu saja), masalah kita bukan pada berpikirnya—tapi pada kebiasaan kita yang terlalu serius menanggapi pikiran sendiri.

Dan mungkin, sesekali, yang kita butuhkan bukan tambahan teori…
melainkan kemampuan untuk berkata pada diri sendiri:

“Sudahlah, kamu ini lagi mikir atau lagi cari masalah?”

abah-arul.blogspot.com., April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.