Pada 2 Maret 2026, lini masa mendadak terasa seperti kelas psikologi kilat ketika akun X @Mathonymics membagikan cuitan tentang Dunning-Kruger effect. Lengkap dengan grafik legendaris “Mount Stupid” karya Timothy Tiryaki, unggahan itu menjelma menjadi semacam brosur wisata rohani: “Selamat datang di Gunung Kebodohan. Tiket naik gratis, turun bayar pakai harga diri.”
Konsep aslinya berasal dari penelitian tahun 1999 oleh David Dunning dan Justin Kruger. Intinya sederhana sekaligus menampar: orang yang kurang kompeten cenderung merasa paling kompeten, sementara yang benar-benar ahli justru sering merasa, “Ah, saya ini cuma kebetulan saja.” Dengan kata lain, yang belum bisa berenang merasa sudah siap ikut Olimpiade, sementara perenang sungguhan masih sibuk mengecek apakah gaya kupu-kupunya sudah simetris.
Grafik “Mount Stupid” itu memang menggoda. Ia menyajikan perjalanan intelektual layaknya drama Korea: awalnya penuh percaya diri (“Saya tahu segalanya!”), lalu jatuh ke lembah eksistensial (“Saya tidak tahu apa-apa!”), dan akhirnya mendaki pelan-pelan menuju pencerahan yang rendah hati (“Ternyata ini rumit, ya…”). Kalau ditambah musik sendu, mungkin banyak yang akan menangis sambil menghapus thread lama mereka.
Namun, seperti semua hal yang viral, ada jebakan batmannya. Grafik itu begitu memikat sehingga kita lupa bahwa ia hanyalah interpretasi populer, bukan peta topografi ilmiah resmi. Realitas belajar tidak selalu linear. Kadang kita naik, lalu turun lagi, lalu nyasar ke warung kopi, lalu merasa tercerahkan karena membaca satu artikel Medium.
Sebagian peneliti bahkan mengkritik bahwa fenomena ini bisa dipengaruhi faktor statistik seperti regression to the mean. Tapi tentu saja, menjelaskan itu di media sosial sama sulitnya dengan menjelaskan perbedaan antara “valid” dan “validasi” dalam hubungan percintaan. Akhirnya, yang lebih mudah adalah menunjuk orang lain dan berkata, “Tuh kan, dia lagi di Puncak Gunung Bodoh.”
Ironisnya, grafik yang mestinya menjadi cermin sering berubah jadi teropong. Kita pakai untuk mengamati kebodohan orang lain dari kejauhan, sambil merasa diri sudah mendirikan tenda di “Plateau of Sustainability”. Padahal bisa jadi kita cuma pindah puncak.
Diskusi di kolom komentar pun tak kalah seru. Ada yang mengaitkannya dengan politik, ada yang menyindir “arogansi PhD”, seolah-olah gelar doktor otomatis memberi tiket fast track ke lembah keraguan. Padahal manusia itu kompleks. Seseorang bisa rendah hati dalam fisika kuantum, tapi sangat percaya diri soal resep rendang—yang ternyata terlalu asin.
Di sinilah pelajaran jenakanya: Gunung Bodoh bukan destinasi permanen. Ia lebih seperti wahana di taman hiburan intelektual. Kita semua pernah naik, berfoto, lalu turun dengan muka agak merah. Bedanya, ada yang menghapus fotonya, ada yang menjadikannya foto profil.
Maka, alih-alih memakai Efek Dunning-Kruger sebagai palu untuk memukul orang lain, mungkin lebih bijak jika kita menjadikannya kompas. Setiap kali merasa paling benar setelah membaca satu thread, satu jurnal, atau satu video berdurasi tiga menit, mungkin itu tanda kita sedang berdiri di puncak yang licin.
Pada akhirnya, semakin kita belajar, semakin kita sadar luasnya yang belum kita tahu. Dan itu kabar baik. Sebab kesadaran bahwa “ini rumit” adalah tanda kita sudah turun dari puncak ilusi dan mulai mendaki dengan sepatu yang lebih realistis.
Jadi, jika suatu hari Anda merasa sangat yakin tentang sesuatu yang baru saja Anda pelajari lima menit lalu, jangan panik. Tarik napas. Lihat sekeliling. Periksa apakah ada papan bertuliskan “Welcome to Mount Stupid”. Kalau ada, jangan malu. Kita semua pernah selfie di sana.
abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.