Di zaman ketika alarm pagi lebih sering dimatikan daripada ditepati, dan niat “mulai besok lebih produktif” sudah seperti tradisi turun-temurun, manusia modern memang hidup di sebuah persimpangan yang membingungkan. Di satu sisi, kita ingin jadi pekerja keras—tipe yang bangun sebelum ayam, bahkan sebelum ayamnya bangun niat. Di sisi lain, ada dorongan spiritual yang tiba-tiba muncul, biasanya setelah nonton ceramah atau kena overthinking tengah malam: “Sepertinya aku harus fokus ibadah saja… dunia ini fana.”
Masalahnya, besok paginya tetap harus ngantor.
Di titik inilah konsep tiga alam—alam asbab, alam tajrid, dan alam wishal—masuk seperti GPS spiritual yang berkata, “Anda tidak salah jalan, hanya salah memahami posisi.” Sayangnya, seperti GPS pada umumnya, kita sering mengabaikannya dan memilih jalan pintas yang ternyata buntu.
Alam asbab itu ibarat dunia kerja: bangun pagi, ngopi, buka laptop, pura-pura fokus di depan Excel sambil sesekali melamun tentang makna hidup. Ini wilayah ikhtiar—tempat kita disuruh usaha, bukan sekadar update status “tawakal”. Jadi kalau ada yang bilang, “Saya tidak kerja karena tawakal,” kemungkinan besar itu bukan tawakal, tapi tawakal yang kebanyakan akal-akalan.
Sebaliknya, alam tajrid sering disalahpahami sebagai “mode pesawat” spiritual—ingin uzlah, menyepi, menjauh dari hiruk-pikuk dunia. Ini bagus… kalau memang sudah waktunya. Tapi kalau baru kena deadline, terus tiba-tiba ingin khalwat, itu bukan panggilan ruhani, itu panggilan menghindari kenyataan.
Di sinilah letak kelucuan sekaligus kejeniusan nasihat Ibnu Athaillah: keinginan untuk pindah level sebelum waktunya itu bisa jadi bukan hidayah, tapi syahwat yang menyamar pakai jubah sufi. Jadi, kalau tiba-tiba muncul keinginan, “Aku ingin fokus ibadah saja, resign dulu deh,” coba cek dulu: ini ilham… atau efek Senin pagi?
Sebaliknya juga tidak kalah menarik. Ada orang yang sudah diberi kesempatan untuk lebih dekat dengan Allah—waktu luang, lingkungan mendukung—eh malah sibuk scroll media sosial sambil mikir, “Kayaknya aku kurang hustle deh.” Ini seperti sudah dikasih tiket VIP ke konser, tapi malah keluar karena kangen suara knalpot di luar.
Intinya, kita sering tidak betah dengan posisi yang Allah tetapkan. Yang di asbab ingin lompat ke tajrid, yang di tajrid malah kangen asbab. Mirip orang diet yang iri sama yang makan gorengan, sementara yang makan gorengan iri sama yang punya niat diet.
Padahal, kuncinya sederhana tapi berat: rida. Rida itu bukan berarti pasrah sambil rebahan dan berharap keajaiban turun dari langit seperti notifikasi promo. Rida itu menerima posisi dengan lapang dada, lalu menjalankan peran dengan adab yang tepat. Kalau lagi di asbab, ya kerja yang benar, bantu orang, jangan lupa sedekah—bukan sedekah sambil berharap dilihat mantan.
Yang menarik, bahkan khusyuk dalam salat pun ternyata bukan hasil “dipaksa fokus 100%” seperti lagi ujian. Ia lebih mirip bonus—hadiah dari Allah. Jadi kalau lagi salat tapi pikiran ke mana-mana, jangan langsung panik merasa gagal total. Bisa jadi itu bukan tanda ditolak, tapi tanda sedang diuji: apakah kita tetap rida, atau malah kesel sendiri?
Dalam kehidupan sosial modern, fenomena ini makin terasa. Ada yang bergaul bukan karena ingin jadi baik, tapi ingin terlihat baik. Ada yang sedekah bukan karena peduli, tapi karena kamera sudah siap. Bahkan ada yang sengaja “menguji iman” dengan mendekati maksiat—ini seperti orang yang bilang, “Saya lagi diet, jadi saya masuk toko kue biar kuat iman.” Hasilnya? Ya… biasanya iman kalah sama brownies.
Akhirnya, perjalanan spiritual itu bukan soal pindah-pindah level seenaknya, tapi soal tahu diri di posisi mana kita sedang ditempatkan. Kita ini seperti penumpang kereta—bukan tugas kita memindahkan gerbong, tapi menjaga adab selama perjalanan. Duduk yang baik, tidak ganggu penumpang lain, dan tidak maksa turun di stasiun yang bukan tujuan kita.
Jadi, kalau hari ini Anda masih harus bekerja, menghadapi deadline, atau sekadar berjuang melawan rasa malas, jangan buru-buru ingin jadi ahli uzlah. Bisa jadi, justru di situlah Allah ingin Anda berlatih menjadi hamba yang rida.
Dan siapa tahu, di antara suara notifikasi, tumpukan kerjaan, dan niat yang naik-turun seperti sinyal Wi-Fi, di situlah diam-diam Anda sedang diajak berjalan bersama-Nya.
Meski kadang… sambil tetap membuka email.
abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.