Kamis, 12 Maret 2026

Hidayah di Tangan Tuhan, Tugas Kita Menyapa (dan Tidak Emosi di Kolom Komentar)

Di zaman ketika kolom komentar lebih panas daripada wajan gorengan, sebuah video pendek berjudul “Kenapa Hidayah Tak Bisa Dipaksakan?” muncul seperti kipas angin di tengah perdebatan daring. Kanal Nasihat Sang Cahaya menyampaikan pesan sederhana namun dalam: hidayah itu urusan Tuhan, bukan urusan manusia yang kebetulan punya paket data dan akun media sosial.

Pesan ini sebenarnya sangat menenangkan. Bayangkan jika hidayah benar-benar bisa dipaksakan oleh manusia—mungkin dunia sudah penuh dengan dai yang membawa megafon, spanduk, dan presentasi PowerPoint berjudul “10 Alasan Anda Harus Bertobat Sekarang Juga (Slide ke-57)”. Untungnya, sistem langit tidak bekerja seperti itu.

Video tersebut menggunakan metafora yang menarik: hati manusia diibaratkan seperti air. Jika airnya jernih, cahaya mudah menembus. Tetapi jika airnya sudah keruh karena limbah—entah limbah kebiasaan buruk, limbah kesombongan, atau limbah debat kusir—maka cahaya malah dianggap gangguan.

Ibarat seseorang yang sudah lama tinggal di ruang gelap. Ketika lampu dinyalakan, reaksinya bukan bersyukur, tetapi berkata, “Matikan lampunya! Silau!”

Begitulah kira-kira kondisi hati yang terlalu lama akrab dengan kegelapan. Ketika kebenaran datang, bukan diterima, malah dicurigai. Air bening dianggap racun, cahaya dianggap serangan.

Menariknya, penjelasan ini sebenarnya sejalan dengan apa yang dalam psikologi disebut cognitive bias. Manusia cenderung menerima informasi yang sesuai dengan keyakinannya dan menolak yang tidak cocok. Jadi ketika seseorang menolak nasihat, itu tidak selalu karena dia bodoh. Bisa jadi karena pikirannya sudah memiliki “sistem filter” yang bekerja seperti satpam klub malam: yang tidak sesuai daftar tamu langsung ditolak masuk.

Namun setelah menjelaskan sisi psikologisnya, video ini segera mengingatkan kita pada fondasi teologis yang sangat penting. Dalam Surah Al-Fatihah, doa yang kita baca minimal 17 kali sehari berbunyi:

“Ihdinas-siratal mustaqim.”
Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Menariknya, doa ini tidak berbunyi: “Ya Allah, kami sudah menemukan jalan lurus, tinggal orang lain saja yang belum.”

Tidak. Kita semua tetap memohon hidayah. Artinya, bahkan orang yang rajin berdoa pun mengakui bahwa hidayah bukan produk usaha manusia semata. Ia adalah karunia.

Ini mengingatkan satu prinsip penting dalam dakwah: tugas manusia hanya menyampaikan.

Kalau mau diibaratkan, manusia itu seperti kurir. Tugasnya mengetuk pintu dan menyerahkan paket. Soal paketnya dibuka, disimpan, atau malah dijadikan ganjal meja, itu sudah di luar tanggung jawab kurir.

Sayangnya, di era media sosial, ada kurir yang bukan hanya mengantar paket, tetapi juga memaksa penerima membuka paket sambil berkata, “Kalau tidak dibuka sekarang, saya marah!”

Padahal dakwah bukan kompetisi jumlah pengikut. Ia bukan lomba siapa yang paling banyak membuat orang berkata, “Saya bertobat gara-gara video ini.”

Jika niatnya mulai berubah menjadi “ingin terkenal sebagai penyelamat umat”, maka dakwah bisa berubah dari ibadah menjadi proyek personal branding.

Di sinilah video tersebut memberikan kritik sosial yang cukup menohok. Kita sering melihat pendakwah—atau siapa pun yang merasa sedang berdakwah—yang begitu mudah marah ketika pendapatnya ditolak. Kolom komentar berubah menjadi arena gulat intelektual. Ayat dan hadis kadang dipakai seperti kursi lipat dalam pertandingan gulat: bukan untuk menenangkan, tetapi untuk memukul lawan debat.

Padahal dakwah yang ikhlas biasanya lebih tenang. Ia tidak panik jika orang tidak langsung berubah. Ia tidak emosi jika nasihatnya tidak viral.

Sebab ia sadar satu hal sederhana: yang mengubah hati bukan retorika manusia, tetapi kehendak Tuhan.

Karena itu, bagian paling indah dari pesan  ini justru ada di akhir: ajakan untuk introspeksi diri.

Sebelum sibuk memperbaiki dunia, ada baiknya kita memperbaiki diri dulu. Jangan sampai kita sangat fasih membahas kesalahan orang lain, tetapi lupa bahwa kita juga punya “arsip dosa” yang cukup tebal.

Jangan sampai kita pandai berbicara tentang akhlak, tetapi tetangga sendiri mengira kita sedang meneliti definisi kemarahan.

Dan jangan sampai kita sibuk mengajak orang menuju cahaya, sementara lampu di dalam hati kita sendiri belum diganti bohlamnya.

Pada akhirnya, dakwah mungkin bisa diringkas dalam satu kalimat sederhana: sampaikan kebaikan dengan ikhlas, lalu serahkan hasilnya kepada Tuhan.

Jika ada yang menerima, bersyukurlah. Jika ada yang menolak, bersabarlah. Dan jika ada yang membalas dengan komentar pedas, mungkin saatnya menutup aplikasi sebentar dan minum teh hangat.

Karena dalam urusan hidayah, manusia hanya bertugas menyapa.

Yang membuka pintu hati, tetap Tuhan.

abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.