Ada satu kenyataan yang sering membuat manusia bingung tentang dirinya sendiri. Di satu sisi, ia merasa sangat mulia—makhluk pilihan, khalifah di bumi, pemilik akal, bahkan kadang merasa hampir seperti malaikat. Namun di sisi lain, pada pukul sebelas malam ia bisa ditemukan berdiri di depan kulkas, memakan sisa kue sambil berkata dalam hati, “Ini terakhir… demi kesehatan.”
Di sinilah tasawuf datang membawa kabar yang menenangkan:
memang begitu adanya. Manusia memang tidak pernah dimaksudkan menjadi makhluk
yang sepenuhnya rapi.
Dalam ceramah yang mengulas kitab Al-Qaṣd al-Mujarrad
karya Ibnu Athaillah al‑Iskandari, manusia dijelaskan sebagai makhluk
barzakh—makhluk yang hidup di antara dua dunia. Ia bukan sepenuhnya cahaya
seperti malaikat, dan bukan pula sepenuhnya gelap seperti setan. Ia adalah
semacam “ruang tunggu kosmik” tempat cahaya dan kegelapan duduk berdampingan
sambil sesekali berdebat.
Kedua penghuni itu memakai satu tubuh yang sama.
Drama Harian di Dalam Diri
Konsep barzakh menjelaskan kenapa kehidupan manusia
sering terasa seperti drama internal tanpa sutradara.
Inilah konflik eksistensial yang tidak dialami malaikat.
Malaikat itu sederhana: mereka tidak punya opsi. Mereka seperti pegawai yang
kontraknya hanya satu kalimat: taat tanpa diskusi.
Manusia berbeda. Ia diberi kebebasan memilih. Maka ketika
manusia tetap memilih taat di tengah godaan, nilainya menjadi sangat tinggi.
Dalam bahasa tasawuf: ketaatan yang diperjuangkan lebih mahal daripada
ketaatan yang otomatis.
Kalau malaikat itu seperti robot yang selalu benar, manusia
adalah mahasiswa yang sering salah tapi masih punya kesempatan memperbaiki
skripsinya.
Rahasia Huruf yang Mengandung Kosmos
Ceramah tersebut juga membawa kita ke wilayah simbolisme
huruf—sesuatu yang terdengar sangat serius, tetapi sebenarnya cukup puitis.
Huruf Alif digambarkan sebagai induk dari semua
huruf. Ia berdiri tegak, lurus, seperti tiang eksistensi. Dari satu garis
sederhana itu lahirlah seluruh kata di alam semesta.
Kemudian ada dua huruf Lam dalam lafaz “Allah”.
Artinya hidup manusia sebenarnya seperti barang pinjaman
kosmik.
Kritik Halus terhadap “Agama Kalkulator”
Ceramah itu juga menyinggung satu kebiasaan manusia modern:
menjalankan agama seperti menghitung investasi.
Sebagian orang berpikir begini:
- Kalau
beriman → hidup harus selalu selamat
- Kalau
berdoa → masalah harus langsung selesai
- Kalau
sedekah → rezeki harus naik minimal 200%
Padahal sejarah para sahabat menunjukkan hal yang berbeda.
Tokoh besar seperti Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan wafat terbunuh
meskipun iman mereka berada di puncak.
Ini semacam pengingat keras bahwa iman bukanlah asuransi
dunia.
Dengan kata lain, masalah terbesar manusia bukanlah hidup
susah.
Masalah terbesar manusia adalah hidup sibuk tapi lupa
arah pulang.
Puasa: Renovasi Rumah Batin
Di titik ini, ibadah seperti Ramadan muncul sebagai latihan
spiritual.
Puasa bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah proyek renovasi
rumah batin.
Pintu-pintu yang biasa dimasuki setan—lapar, emosi,
keinginan, keserakahan—mulai ditutup satu per satu.
Nafsu yang biasanya menjadi manajer hidup tiba-tiba
diturunkan jabatannya menjadi staf magang.
Manusia mulai mengingat asalnya: dari cahaya fitrah.
Dalam istilah tasawuf, perjalanan hidup adalah perjalanan turun
lalu pulang kembali.
Kita turun dari alam fitrah yang jernih, berjalan melalui
dunia yang penuh gangguan, lalu mencoba kembali dengan hati yang lebih
bersih—yang disebut qalbun salim.
Makhluk yang Sedang “Menjadi”
Akhirnya kita sampai pada kesimpulan yang agak menenangkan.
Manusia bukan makhluk yang sudah selesai.
Ia adalah makhluk yang sedang diproses.
Tetapi selama ia masih berjalan pulang, perjalanan itu
sendiri sudah bernilai.
Dan mungkin itulah makna terdalam dari menjadi makhluk barzakh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.