Semua berawal dari pertanyaan klasik seorang pemuda: “Bagaimana menghadapi ujian, apalagi kalau kayaknya ini ulah orang lain… mungkin santet?” Pertanyaan yang jujur, sekaligus sedikit dramatis—karena di negeri ini, masuk angin saja kadang dicurigai ada “unsur non-medis”.
Namun, alih-alih menjawab dengan template “yang sabar ya dek 😊”, sang kyai justru memberikan metode tiga langkah. Bukan tiga langkah TikTok, tapi tiga langkah spiritual yang jauh lebih sulit dari sekadar joget sinkron.
Langkah pertama: ikhlas dan ridha. Ini bagian yang sering kita skip, seperti membaca syarat dan ketentuan aplikasi. Kita ingin cepat ke bagian “sembuh” tanpa mau install dulu “penerimaan”. Padahal, menerima ujian itu seperti menerima kenyataan bahwa gorengan sore ini tidak lagi seribu tiga: pahit, tapi harus.
Langkah kedua: muhasabah. Nah, ini lebih berat lagi. Karena daripada bertanya “apa yang salah dengan diri saya?”, kita lebih suka bertanya “siapa yang salah sama saya?”. Lebih praktis, lebih lega, dan tentu saja lebih dramatis. Dalam mode ini, tetangga yang dulu ramah bisa tiba-tiba naik pangkat jadi “tersangka utama santet tingkat RT”.
Padahal, kata kyai, mungkin saja masalahnya bukan di luar, tapi di dalam. Mungkin dulu kita pernah menyakiti orang, entah lewat ucapan, perbuatan, atau status WhatsApp yang terlalu jujur. Atau mungkin juga tidak ada sebab spesifik—hanya saja ini cara Allah mengingatkan bahwa kita sudah lama tidak “update sistem” spiritual.
Langkah ketiga: baru usaha lahiriah. Berobat, mencari solusi, konsultasi. Ini penting, karena Islam tidak pernah menyuruh kita jadi pasrah tanpa ikhtiar. Tapi lucunya, banyak dari kita justru membalik urutan: panik dulu, lari ke sana-sini, tanya semua orang termasuk yang tidak kompeten, baru terakhir—kalau ingat—coba ikhlas.
Yang lebih menarik, kyai itu menekankan: kalau belum sembuh juga, ulang lagi dari awal. Seperti game yang tidak bisa di-skip, kita harus kembali ke level satu: ikhlas, muhasabah, usaha. Lagi. Dan lagi. Sampai hati kita benar-benar naik level, bukan cuma karakter di layar.
Di sinilah letak kejenakaannya: manusia modern itu sangat canggih dalam mencari sebab eksternal, tapi sangat kikuk saat diminta melihat ke dalam diri. Kita bisa menganalisis geopolitik, membaca teori konspirasi, bahkan menjelaskan algoritma media sosial—tapi untuk jujur pada diri sendiri, kita butuh waktu dan… kadang, sinyal hidayah.
Nasihat ini juga secara halus “membongkar” mentalitas korban. Bukan berarti kita tidak boleh dizalimi—itu realitas. Tapi terlalu fokus pada “siapa pelaku” bisa membuat kita lupa pada “apa pelajaran”. Bahkan kalau benar ada santet sekalipun, kekuatannya tetap kalah dengan satu hal: izin Allah. Jadi kalau kita lebih takut pada manusia daripada pada Yang Maha Mengizinkan, mungkin ada yang perlu ditata ulang dalam hati.
Tentu saja, pembahasan santet di sini terasa seperti trailer film: menarik, tapi singkat. Kita yang penasaran mungkin berharap ada “behind the scenes”—penjelasan lebih dalam. Tapi mungkin justru itu poinnya: jangan terlalu sibuk pada “yang gaib-gaib”, sampai lupa memperbaiki yang jelas-jelas ada—yaitu diri sendiri.
Akhirnya, nasihat ini seperti cermin. Bukan cermin yang menunjukkan wajah, tapi cermin yang menunjukkan sikap. Ketika ujian datang, kita punya dua pilihan: jadi detektif yang sibuk mencari tersangka, atau jadi murid yang sibuk mencari makna.
Dan jujurnya, jadi detektif itu lebih seru. Tapi sayangnya, yang menyembuhkan bukan itu.
Jadi lain kali hidup terasa berat—entah karena sakit, masalah, atau bahkan Wi-Fi yang tiba-tiba lemot tanpa sebab—mungkin kita bisa berhenti sejenak, tarik napas, dan bertanya:
“Ini mau saya salahkan siapa… atau mau saya pelajari apa?”
abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.