Di zaman modern ini, manusia sangat serius dalam satu hal: terlihat sibuk. Kalender penuh, notifikasi berbunyi setiap lima menit, dan kata “deadline” diperlakukan seperti kiamat kecil yang datang setiap minggu. Anehnya, setelah semua kesibukan itu selesai, manusia sering duduk termenung sambil bertanya, “Kok hidup terasa kosong ya?”
Di titik inilah kajian tasawuf sering datang seperti seorang
kiai yang menepuk bahu kita dengan santai lalu berkata, “Nak, kamu ini sibuk
sekali, tapi tahu tidak sedang sibuk apa?”
Kurang lebih begitulah rasa yang muncul ketika menyimak
kajian “Selubung Dzikir” yang membahas hikmah. Kajian ini
seperti mengingatkan kita bahwa waktu sebenarnya bukan cuma benda yang suka
habis, tapi juga makhluk misterius yang sering kabur tanpa meninggalkan bekas.
Waktu: Makhluk Aneh yang Suka Menghilang
Menurut hikmah para sufi, panjang umur ternyata tidak
otomatis membuat hidup lebih bermakna. Ada orang hidup sampai tua, tapi
hidupnya seperti serial televisi yang episodenya banyak namun ceritanya tidak
jelas. Sebaliknya, ada yang hidup tidak terlalu lama, tapi setiap harinya
seperti film pemenang festival.
Para ulama sering memberi contoh Al-Ghazali yang
pernah menghitung waktu ibadah formal dalam sehari. Hasilnya cukup mengejutkan:
kira-kira hanya sekitar satu jam lebih sedikit dari 24 jam.
Artinya, jika dihitung secara matematis—yang biasanya sangat
disukai oleh manusia modern—lebih dari 22 jam hidup kita berpotensi menjadi
“waktu kosong”.
Ini agak mengkhawatirkan.
Bayangkan jika hidup adalah paket internet, lalu 90% kuotanya tidak dipakai untuk hal yang berguna. Allah memberi paket unlimited, sementara manusia memakainya untuk refresh media sosial dan mencari diskon.
Lailatul Qadar Versi Harian
Di sinilah para sufi punya trik yang cukup elegan. Seorang
tokoh sufi besar, Abu al-Abbas al-Mursi, pernah menyebut konsep yang
terdengar agak ajaib: “Lailatul Qadar bagi para sufi.”
Bukan berarti para sufi menemukan malam seribu bulan setiap
hari. Kalau benar begitu, kalender Islam mungkin sudah kacau sejak lama.
Maksudnya lebih sederhana tapi dalam: setiap detik bisa
menjadi sakral jika disadari sebagai anugerah baru dari Allah.
Perbedaannya kecil secara jam, tapi besar secara makna.
Dzikir sebagai “Mode Hemat Baterai Ruh”
Kajian ini juga menjelaskan bahwa dzikir bukan sekadar
kegiatan lisan yang dilakukan setelah shalat sambil melihat jam. Dalam
perspektif tasawuf, dzikir adalah semacam “sistem operasi spiritual”.
Jika hati sedang online kepada Allah, semua aktivitas bisa
berubah fungsi.
- Bekerja
→ jadi ibadah
- Belajar
→ jadi tafakur
- Istirahat
→ jadi syukur
- Bahkan
tidur → jadi bentuk tawakal
Ini mirip seperti ponsel yang masuk mode hemat baterai.
Energi tidak terbuang sia-sia.
Dalam bahasa sufi, keadaan ini sering disebut hidup billah-lillah: semuanya dari Allah dan kembali untuk Allah.
Kritik Halus untuk Manusia Modern
Jika dilihat dengan kacamata tasawuf, kehidupan modern
kadang terlihat lucu. Manusia bekerja delapan jam, belajar lima jam, lalu sisa
waktunya dihabiskan untuk menonton video pendek tentang orang lain yang juga
sedang sibuk.
Semua terlihat produktif, tapi hati sering tetap kosong.
Tasawuf tidak menolak dunia. Yang dikritik adalah cara
manusia memperlakukan dunia seolah-olah itu tujuan akhir.
Menurut para sufi, indikator keberkahan bukanlah:
- omzet
meningkat
- followers
bertambah
- atau
laptop semakin mahal
Melainkan hal-hal yang tidak terlalu viral di media sosial:
- sabar
yang bertambah
- syukur
yang makin dalam
- tawakal
yang makin stabil
- dan
cinta kepada Allah yang makin tenang
Ini indikator yang tidak bisa dipamerkan di Instagram, tapi justru menentukan kualitas hidup.
Mengakali Waktu dengan Dzikir
Akhirnya, pesan utama dari kajian “Selubung Dzikir”
sebenarnya sederhana, walau efeknya sangat besar: jangan biarkan waktu lewat
tanpa makna.
Setiap detik adalah “voucher sekali pakai” yang tidak bisa
di-refund, tidak bisa di-qadha, dan tidak bisa diunduh ulang dari cloud
kehidupan.
Maka para sufi punya strategi yang cukup cerdas: mereka
menyelimuti hidup dengan dzikir.
Bukan berarti mereka duduk di pojok sepanjang hari sambil
menghitung tasbih. Justru mereka hidup normal—bekerja, berjalan,
berbicara—namun hati mereka seperti memiliki jaringan Wi-Fi permanen dengan
langit.
Sehingga pada akhirnya, manusia tidak lagi hanya berkata:
“Waktu saya habis.”
Tetapi bisa berkata dengan lebih damai:
“Waktu saya dipakai.”
Dan dalam perspektif tasawuf, itu adalah bentuk keberhasilan
yang jauh lebih elegan daripada sekadar terlihat sibuk.
abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.