Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern—yang notifikasinya lebih rajin dari malaikat pencatat amal—manusia sering terjebak dalam satu fenomena unik: merasa sudah sangat mencintai Allah, padahal masih panik ketika sinyal WiFi hilang. Di sinilah letak tragedi sekaligus komedi spiritual kita.
Kita ini aneh. Mengaku rindu bertemu Tuhan, tapi kalau diingatkan soal kematian, jawabannya spontan: “Nanti dulu, ya Allah, saya masih ada cicilan.” Cinta kok pakai tempo?
Cinta: Antara Klaim dan Bukti Transfer
Dalam hikmah agung yang dinukil dari Abul Hasan asy-Syadzili, disebutkan:
“Barangsiapa mencintai Allah dan mencintai karena Allah, maka sempurnalah kewaliannya.”
Kalimat ini sederhana, tapi kalau direnungkan, efeknya bisa lebih dalam daripada overthinking tengah malam.
Masalahnya, banyak dari kita baru sampai pada level:
“Aku cinta Allah…”
Tapi belum sampai:
“Aku cinta apa yang Allah cintai.”
Ibarat orang bilang cinta sama seseorang, tapi benci sama keluarganya, sahabatnya, bahkan kucingnya. Itu bukan cinta, itu seleksi alam.
Cinta yang Belum Lulus Uji Nyali
Ciri cinta sejati kata para arifin itu sederhana: tidak takut bertemu dengan yang dicintai.
Kalau kita:
Dengar kata “wafat” langsung merinding,
Dengar kata “diskon” langsung berlari,
maka perlu kita evaluasi: ini cinta atau sekadar like spiritual?
Para sahabat dulu di medan perang wajahnya tenang. Kita? Baru dengar kabar harga cabai naik saja sudah mencapai maqam fana… fana dompet maksudnya.
Fana: Antara Lenyapnya Ego dan Lenyapnya Pulsa
Dalam tasawuf, ada konsep fana—lenyapnya ego dalam kehendak Allah. Tapi dalam praktik sehari-hari, kita sering mengalami versi KW-nya:
Lenyap fokus saat shalat karena ingat drama Korea
Lenyap niat karena godaan rebahan
Lenyap khusyuk karena notifikasi: “Flash sale dimulai!”
Ini bukan fana fillah, ini fana fillapak.
Pergi ke Pasar, Tapi Hatinya ke Mana?
Menurut penjelasan para guru, termasuk pengajian ala tasawuf itu bukan kabur dari dunia. Bahkan ke pasar pun bisa jadi ibadah, asal niatnya:
“Karena-Mu, bersama-Mu, menuju-Mu.”
Masalahnya, kita ke pasar:
Niat awal: beli kebutuhan
Pulang-pulang: bawa barang diskon yang tidak dibutuhkan
Ini bukan tanazul, ini tergoda zul.
Kewalian: Bukan Soal Aura, Tapi Arah
Di zaman sekarang, kewalian sering disalahpahami:
Dikiranya harus punya karamah,
Bisa menebak isi hati,
Atau minimal punya tatapan mata slow motion.
Padahal menurut Abul Hasan asy-Syadzili, kewalian itu sederhana:
Hati yang hanya mengarah kepada Allah.
Jadi kalau hati kita:
Kadang ke Allah,
Kadang ke mantan,
Kadang ke marketplace,
berarti kita masih dalam tahap “beta version wali.”
Cinta yang Selektif: Bukan Toxic, Tapi Tauhid
Bukan selektif dalam arti sombong, tapi:
Mencintai yang dicintai Allah
Menjauhi yang dimurkai Allah
Kalau semua dicintai tanpa filter, itu bukan mahabbah, itu emotional all-you-can-eat.
Kritik Halus untuk Kita Semua
Di era “viralitas spiritual”, banyak orang:
Cepat merasa sudah sampai,
Padahal baru parkir di gerbang.
Merasa sudah makrifat karena:
Bisa bicara tinggi,
Padahal perilaku masih rendah.
Padahal tanda Allah menyertai kita itu bukan:
“Semua keinginan kita dikabulkan,”
tapi justru:
“Sebagian keinginan kita digagalkan… demi menyelamatkan kita.”
Dan biasanya, yang digagalkan itu justru yang kita kejar mati-matian. Plot twist level langit.
Siapa yang Sebenarnya Mengintip?
Judulnya “Mata Cinta Mengintip Kewalian”.
Tapi setelah direnungkan, jangan-jangan bukan kita yang mengintip kewalian…
…melainkan kewalian yang sedang mengintip kita, sambil bertanya:
“Ini serius cinta, atau cuma lagi suasana hati?”
Kalau hati masih sering belok:
ke dunia,
ke ego,
ke hal-hal receh,
maka perjalanan masih panjang.
Tenang saja. Bahkan GPS saja butuh recalculating berkali-kali sebelum sampai tujuan.
Amin.
abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.