Sabtu, 28 Maret 2026

“Mata Cinta Mengintip… Jangan-Jangan Kita yang Diintip”

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern—yang notifikasinya lebih rajin dari malaikat pencatat amal—manusia sering terjebak dalam satu fenomena unik: merasa sudah sangat mencintai Allah, padahal masih panik ketika sinyal WiFi hilang. Di sinilah letak tragedi sekaligus komedi spiritual kita.

Kita ini aneh. Mengaku rindu bertemu Tuhan, tapi kalau diingatkan soal kematian, jawabannya spontan: “Nanti dulu, ya Allah, saya masih ada cicilan.” Cinta kok pakai tempo?

Cinta: Antara Klaim dan Bukti Transfer

Dalam hikmah agung yang dinukil dari Abul Hasan asy-Syadzili, disebutkan:

“Barangsiapa mencintai Allah dan mencintai karena Allah, maka sempurnalah kewaliannya.”

Kalimat ini sederhana, tapi kalau direnungkan, efeknya bisa lebih dalam daripada overthinking tengah malam.

Masalahnya, banyak dari kita baru sampai pada level:

  • “Aku cinta Allah…”

  • Tapi belum sampai:

  • “Aku cinta apa yang Allah cintai.”

Ibarat orang bilang cinta sama seseorang, tapi benci sama keluarganya, sahabatnya, bahkan kucingnya. Itu bukan cinta, itu seleksi alam.

Cinta yang Belum Lulus Uji Nyali

Ciri cinta sejati kata para arifin itu sederhana: tidak takut bertemu dengan yang dicintai.

Kalau kita:

  • Dengar kata “wafat” langsung merinding,

  • Dengar kata “diskon” langsung berlari,

maka perlu kita evaluasi: ini cinta atau sekadar like spiritual?

Para sahabat dulu di medan perang wajahnya tenang. Kita? Baru dengar kabar harga cabai naik saja sudah mencapai maqam fana… fana dompet maksudnya.

Fana: Antara Lenyapnya Ego dan Lenyapnya Pulsa

Dalam tasawuf, ada konsep fana—lenyapnya ego dalam kehendak Allah. Tapi dalam praktik sehari-hari, kita sering mengalami versi KW-nya:

  • Lenyap fokus saat shalat karena ingat drama Korea

  • Lenyap niat karena godaan rebahan

  • Lenyap khusyuk karena notifikasi: “Flash sale dimulai!”

Ini bukan fana fillah, ini fana fillapak.

Pergi ke Pasar, Tapi Hatinya ke Mana?

Menurut penjelasan para guru, termasuk pengajian ala  tasawuf itu bukan kabur dari dunia. Bahkan ke pasar pun bisa jadi ibadah, asal niatnya:

“Karena-Mu, bersama-Mu, menuju-Mu.”

Masalahnya, kita ke pasar:

  • Niat awal: beli kebutuhan

  • Pulang-pulang: bawa barang diskon yang tidak dibutuhkan

Ini bukan tanazul, ini tergoda zul.

Kewalian: Bukan Soal Aura, Tapi Arah

Di zaman sekarang, kewalian sering disalahpahami:

  • Dikiranya harus punya karamah,

  • Bisa menebak isi hati,

  • Atau minimal punya tatapan mata slow motion.

Padahal menurut Abul Hasan asy-Syadzili, kewalian itu sederhana:

Hati yang hanya mengarah kepada Allah.

Jadi kalau hati kita:

  • Kadang ke Allah,

  • Kadang ke mantan,

  • Kadang ke marketplace,

berarti kita masih dalam tahap “beta version wali.”

Cinta yang Selektif: Bukan Toxic, Tapi Tauhid

Cinta karena Allah itu punya efek samping:
jadi selektif.

Bukan selektif dalam arti sombong, tapi:

  • Mencintai yang dicintai Allah

  • Menjauhi yang dimurkai Allah

Kalau semua dicintai tanpa filter, itu bukan mahabbah, itu emotional all-you-can-eat.

Kritik Halus untuk Kita Semua

Di era “viralitas spiritual”, banyak orang:

  • Cepat merasa sudah sampai,

  • Padahal baru parkir di gerbang.

Merasa sudah makrifat karena:

  • Bisa bicara tinggi,

  • Padahal perilaku masih rendah.

Padahal tanda Allah menyertai kita itu bukan:

“Semua keinginan kita dikabulkan,”

tapi justru:

“Sebagian keinginan kita digagalkan… demi menyelamatkan kita.”

Dan biasanya, yang digagalkan itu justru yang kita kejar mati-matian. Plot twist level langit.

Siapa yang Sebenarnya Mengintip?

Judulnya “Mata Cinta Mengintip Kewalian”.

Tapi setelah direnungkan, jangan-jangan bukan kita yang mengintip kewalian…

…melainkan kewalian yang sedang mengintip kita, sambil bertanya:

“Ini serius cinta, atau cuma lagi suasana hati?”

Akhirnya, kita sampai pada kesimpulan sederhana:
Cinta sejati itu bukan soal perasaan yang meledak-ledak,
tapi arah hati yang konsisten.

Kalau hati masih sering belok:

  • ke dunia,

  • ke ego,

  • ke hal-hal receh,

maka perjalanan masih panjang.

Tenang saja. Bahkan GPS saja butuh recalculating berkali-kali sebelum sampai tujuan.

Semoga kita termasuk yang akhirnya sampai.
Bukan hanya update status: “Menuju Allah”
tapi benar-benar tiba.

Amin.

abah-arul.blogspot.com., Maret 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.