Rabu, 05 Agustus 2026

Ghosting, Departemen Humas Ego, dan Olimpiade Mencuci Tangan

"Yang paling sulit dalam hidup bukan kehilangan orang, melainkan kehilangan sinyal WhatsApp tepat ketika sedang mengetik paragraf terakhir." Untungnya, sinyal biasanya kembali. Sayangnya, beberapa orang tidak.

Ada fenomena unik dalam peradaban modern yang layak diusulkan menjadi cabang olahraga resmi. Namanya lari estafet tanggung jawab. Aturannya sederhana: menyakiti orang lain, lalu menghilang secepat mungkin, kemudian muncul kembali di tempat lain sambil membawa biografi baru yang telah direvisi oleh Departemen Humas Ego.

Ironisnya, manusia abad ke-21 mampu melacak paket belanja dari gudang Shenzhen hingga rumah dalam hitungan detik, tetapi tidak mampu melacak satu kalimat sederhana:

"Maaf, aku salah."

Kalimat itu rupanya lebih langka daripada diskon tanpa syarat.

Ghosting: Teknologi Menghilang Tanpa Harus Menjadi Ninja

Dulu orang kalau ingin menghilang harus menjadi pertapa di gunung atau setidaknya pindah ke kota lain. Sekarang? Cukup tekan tombol blokir, nonaktifkan centang biru, lalu menghilang seperti jin yang kontraknya habis.

Hebatnya lagi, setelah menghilang, mereka tidak benar-benar diam.

Mereka membuka cabang baru perusahaan bernama PT Narasi Sejahtera, dengan slogan:

"Kalau kenyataan tidak menguntungkan, ubahlah ceritanya."

Di perusahaan itu tersedia berbagai layanan.

Paket Hemat:

  • Mengaku sebagai korban.

Paket Premium:

  • Menyalahkan mantan.

Paket Platinum:

  • Menulis ulang sejarah seolah-olah sejak lahir dirinya adalah malaikat yang salah mendarat di planet penuh penjahat.

Lucunya, semua pelanggan merasa puas.

Ego: Ahli Tata Rias Kenyataan

Ego manusia itu sebenarnya kreatif sekali.

Kalau seorang anak memecahkan vas bunga, ia akan berkata, "Bukan aku."

Kalau orang dewasa melakukan kesalahan, kalimatnya jauh lebih elegan.

"Aku melakukan itu demi kebaikan bersama."

Kalimatnya naik kelas, tetapi substansinya masih sama.

Psikologi menyebutnya proyeksi, rasionalisasi, atau disonansi kognitif.

Kalau bahasa warung kopi menyebutnya:

"Pokoknya jangan sampai saya kelihatan salah."

Bayangkan kalau ego punya kantor.

Di ruang rapatnya ada tulisan besar:

"Fakta boleh masuk, asal jangan mengganggu citra diri."

Setiap kali hati nurani datang membawa laporan, satpam ego langsung berkata,

"Maaf, Bapak tidak punya janji."

Permintaan Maaf: Barang Langka yang Tidak Dijual di Marketplace

Ada orang yang sanggup menulis status sepanjang tiga halaman tentang pentingnya kesehatan mental.

Tetapi menulis dua kata,

"Aku salah."

Tidak sanggup.

Mungkin tombol huruf M dan A di ponselnya rusak.

Atau mungkin aplikasi "Kerendahan Hati" belum kompatibel dengan sistem operasi egonya.

Padahal meminta maaf itu seperti servis kendaraan.

Lebih murah dilakukan sejak awal daripada menunggu semuanya rusak total.

Masalahnya, sebagian orang lebih memilih mengganti kendaraan daripada mengganti kebiasaan.

Closure yang Dicari-Cari

Manusia modern juga punya hobi baru.

Mengejar sesuatu yang disebut closure.

Ia berharap suatu hari mantannya datang membawa bunga, mengenakan pakaian putih, diiringi musik piano, lalu berkata,

"Aku sadar sekarang. Selama ini kamu benar."

Kalau perlu turun hujan tipis-tipis supaya sinematografinya sempurna.

Masalahnya, hidup bukan drama Korea.

Kadang yang datang bukan permintaan maaf.

Yang datang malah notifikasi promosi pinjaman online.

Kita menunggu dialog penutup.

Semesta malah mengirim iklan diskon blender.

Akhirnya kita sadar bahwa alam semesta memang suka bercanda.

Diam yang Sering Disalahpahami

Ada orang mengira diam berarti kalah.

Padahal belum tentu.

Kadang diam hanyalah keputusan paling hemat listrik.

Mengapa harus menyalakan mesin debat kalau lawan bicara memakai bahan bakar pembenaran?

Berdebat dengan orang yang sudah memutuskan dirinya selalu benar itu seperti bermain catur melawan burung merpati.

Ia akan menjatuhkan semua bidak, mengotori papan, lalu terbang sambil merasa menang.

Kita sibuk menjelaskan kronologi.

Ia sibuk mengedit naskah.

Kita membawa bukti.

Ia membawa imajinasi.

Pertandingan semacam ini memang tidak punya wasit.

Namun Jangan Terlalu Cepat Mengangkat Diri Menjadi Korban Nasional

Di sinilah jebakan media sosial.

Setelah membaca kutipan-kutipan bijak, kita sering langsung merasa menjadi tokoh utama film.

Semua mantan adalah penjahat.

Semua teman adalah pengkhianat.

Semua bos adalah tiran.

Sementara kita?

Malaikat bersertifikat ISO.

Padahal hubungan antarmanusia lebih rumit daripada kabel di belakang meja komputer.

Kadang memang ada pelaku yang lari dari tanggung jawab.

Kadang pula kedua belah pihak sama-sama membawa koper penuh ego.

Bedanya hanya ukuran koper.

Karena itu, introspeksi tetap perlu.

Kalau setiap konflik selalu menyisakan satu orang yang merasa paling suci, kemungkinan besar cerminnya sedang rusak.

Babak Baru

Pada akhirnya, kedewasaan bukan ditandai oleh keberhasilan membuat orang lain mengakui kesalahan.

Kalau kebahagiaan kita bergantung pada permintaan maaf seseorang, berarti kita tanpa sadar menyerahkan remote control hidup kepada orang yang bahkan lupa mengganti baterainya sendiri.

Lebih baik mengambil kembali remote itu.

Mengganti baterainya.

Lalu menonton babak kehidupan berikutnya tanpa terus-menerus memutar ulang episode yang sama.

Karena hidup terlalu pendek untuk menjadi editor film yang hanya mengulang adegan patah hati.

Dan sungguh, tidak semua orang yang keluar dari hidup kita adalah kehilangan.

Sebagian hanyalah pembaruan sistem.

Memang sempat membuat layar gelap beberapa menit.

Tetapi setelah selesai, hidup justru berjalan lebih ringan.

Kalau masih ada yang sibuk menyebarkan narasi palsu tentang diri kita, biarkan saja.

Setiap orang berhak menulis novel.

Hanya saja, tidak semua novel laris.

Lagi pula, kebenaran punya satu kelebihan yang tidak dimiliki kebohongan.

Ia tidak perlu promosi besar-besaran.

Ia cukup sabar.

Karena waktu, diam-diam, adalah editor terbaik.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

Senin, 03 Agustus 2026

Voltaire, Senin Pagi, dan Nasib Orang yang Terlalu Banyak Rebahan

Ada dua jenis manusia pada Senin pagi.

Golongan pertama bangun dengan semangat, menyeduh kopi, membuka laptop, lalu berkata, "Hari ini aku akan produktif."

Golongan kedua membuka mata, melihat jam, memeluk bantal lebih erat, lalu bernegosiasi dengan alam semesta, "Kalau hari ini langsung Jumat, aku janji akan jadi orang baik."

Voltaire, filsuf Prancis abad ke-18, kemungkinan besar termasuk golongan pertama. Ia pernah menulis kalimat yang hingga kini masih mondar-mandir di media sosial setiap Senin pagi:

"Kerja menjauhkan kita dari tiga malapetaka besar: kebosanan, keburukan, dan kemiskinan."

Kalimat itu biasanya ditemani gambar secangkir kopi, matahari terbit, dan font elegan yang membuat orang merasa produktif padahal lima menit kemudian kembali menggulir media sosial selama satu jam.

Voltaire rupanya sudah memahami tabiat manusia jauh sebelum ditemukan Wi-Fi.

Musuh Terbesar Bernama "Nanti"

Dalam novel Candide, Voltaire mengisahkan seorang tokoh yang sudah keliling dunia, menyaksikan perang, bencana, pengkhianatan, penipuan, dan berbagai bentuk kekacauan manusia.

Setelah perjalanan yang panjang itu, Candide bertemu seorang petani Turki.

Petani ini tidak memberikan ceramah motivasi.

Tidak membuka seminar "Tujuh Langkah Menjadi Sultan Sebelum Usia 30."

Tidak menjual kelas daring berharga jutaan rupiah.

Ia hanya bekerja di kebunnya.

Sederhana sekali.

Ketika ditanya rahasia hidupnya, jawabannya kurang lebih begini:

"Kalau kami sibuk bekerja, kami tidak sempat bosan, tidak sempat berbuat macam-macam, dan tidak sempat kelaparan."

Candide seperti mendapat tamparan lembut.

Ternyata setelah berkeliling dunia mencari jawaban filosofis, solusi hidup malah ditemukan pada seseorang yang lebih sibuk mencangkul daripada berdebat.

Kadang memang begitu.

Orang yang paling banyak teori tentang kehidupan justru paling jarang menyiram tanaman di halaman rumahnya.

Kebosanan Adalah Ibu dari Scroll Tanpa Tujuan

Voltaire menyebut musuh pertama manusia adalah kebosanan.

Kalau beliau hidup sekarang, mungkin definisinya diperbarui.

Kebosanan bukan lagi duduk melamun di bawah pohon.

Melainkan membuka media sosial "cuma lima menit" lalu sadar matahari sudah tenggelam, baterai tinggal tiga persen, dan yang diingat hanya seekor kucing yang bisa memainkan piano.

Manusia modern memiliki kemampuan luar biasa.

Mengeluh tidak punya waktu, sambil menghabiskan tiga jam menonton video berjudul:

"Pria Ini Memotong Semangka Menggunakan Sendok. Hasilnya Mengejutkan."

Setelah selesai menonton, yang mengejutkan sebenarnya hanyalah fakta bahwa kita masih menontonnya sampai habis.

Voltaire pasti mengangguk pelan.

"Sudah kubilang, bekerja lebih sehat."

Kemalasan Sangat Kreatif

Musuh kedua adalah keburukan.

Ini menarik.

Karena banyak keburukan ternyata lahir bukan dari kesibukan, tetapi dari orang yang terlalu banyak waktu luang.

Coba perhatikan grup keluarga.

Penyebar hoaks paling aktif biasanya bukan orang yang sedang memasang genteng di bawah terik matahari.

Mereka punya waktu untuk membaca berita yang belum tentu berita, memeriksa fakta menggunakan perasaan, lalu meneruskannya ke lima belas grup dengan keyakinan penuh.

Sebaliknya, tukang bakso keliling tidak sempat membuat teori konspirasi.

Ia sibuk mengejar pelanggan.

Petani tidak sempat berdebat tentang apakah bumi datar.

Ia lebih khawatir sawahnya kekurangan air.

Kadang pekerjaan adalah vaksin terbaik terhadap penyakit bernama "terlalu banyak mikir hal yang tidak perlu."

Dompet Juga Punya Filosofi

Musuh ketiga menurut Voltaire adalah kemiskinan.

Di sinilah semua orang mengangguk.

Kerja memang menghasilkan uang.

Walaupun kadang uangnya baru mampir sebentar sebelum berpamitan kepada cicilan, tagihan listrik, kuota internet, dan diskon tanggal kembar yang entah mengapa selalu terasa mendesak.

Gaji datang seperti tamu kehormatan.

Disambut meriah.

Difoto.

Lalu menghilang dalam dua hari.

Sisanya tinggal notifikasi:

"Terima kasih telah melakukan pembayaran."

Namun setidaknya, bekerja memberi peluang untuk hidup lebih baik.

Dompet kosong memang tidak otomatis membuat seseorang kehilangan kebijaksanaan.

Tetapi dompet yang sedikit lebih tebal jelas membuat filosofi terasa lebih mudah dipahami.

Sayangnya, Tidak Semua Kerja Itu Surga

Di sinilah kita perlu sedikit membela generasi modern.

Voltaire hidup pada abad ke-18.

Beliau belum mengenal rapat daring yang sebenarnya bisa selesai lewat tiga pesan singkat.

Beliau belum pernah menerima email bertuliskan "urgent" pukul sebelas malam.

Beliau juga belum tahu rasanya diminta "sebentar saja" mengerjakan revisi yang ternyata membutuhkan waktu tiga hari.

Kalau beliau mengalami semua itu, mungkin kutipannya menjadi sedikit lebih panjang.

"Kerja menjauhkan kita dari kebosanan, keburukan, dan kemiskinan... asalkan bosnya masih ingat bahwa karyawan juga manusia."

Karena memang tidak semua pekerjaan memerdekakan.

Ada pekerjaan yang justru membuat seseorang pulang dalam keadaan tubuh lelah, pikiran kusut, dan jiwa bertanya-tanya mengapa password kantor harus diganti setiap dua minggu.

Bekerja memang penting.

Tetapi bekerja secara manusiawi jauh lebih penting.

Mengolah Kebun Sendiri

Pada akhir Candide, Voltaire menulis kalimat yang mungkin lebih terkenal daripada kutipan tentang kerja:

"Kita harus mengolah kebun kita sendiri."

Ini bukan ajakan mendadak membeli cangkul.

Bukan pula promosi berkebun hidroponik.

"Kebun" adalah metafora.

Ia bisa berarti keluarga.

Pekerjaan.

Ilmu.

Keimanan.

Persahabatan.

Atau bahkan kesehatan mental.

Sayangnya, manusia modern sering lebih sibuk mengomentari kebun tetangga.

Rumput tetangga terlalu hijau.

Pohon tetangga terlalu rindang.

Pot bunga tetangga terlalu estetik.

Sementara halaman sendiri sudah berubah menjadi habitat rumput liar dan sandal jepit yang hilang sebelah.

Media sosial membuat kita ahli menjadi pengamat kehidupan orang lain.

Padahal yang perlu dipupuk justru kehidupan kita sendiri.

Kerja, Tapi Jangan Lupa Hidup

Barangkali Voltaire tidak sedang memuja kerja tanpa batas.

Ia sedang memuji hidup yang memiliki tujuan.

Sebab pekerjaan yang bermakna membuat manusia bangun pagi dengan alasan yang lebih baik daripada sekadar mengejar tanggal gajian.

Namun beliau mungkin juga akan tersenyum melihat zaman sekarang.

Ketika orang berkata ingin work-life balance, tetapi tetap membuka laptop saat liburan.

Ketika seseorang mengaku sedang "healing", tetapi sibuk mengedit foto healing agar terlihat benar-benar healing.

Dan ketika sebagian dari kita merasa sangat lelah, padahal energi terbesar hari itu dihabiskan untuk memindahkan ibu jari dari bawah ke atas layar ponsel.

Mungkin, kalau Voltaire hidup di era digital, ia tidak akan mengubah isi pesannya.

Ia hanya akan menambahkan satu kalimat kecil:

"Silakan bekerja dengan tekun. Tetapi sesekali tutuplah aplikasi yang membuatmu lupa bahwa hidupmu sendiri juga perlu diolah."

Karena pada akhirnya, kebun yang paling penting bukanlah yang paling banyak mendapat "like", melainkan yang benar-benar kita rawat dengan tangan sendiri.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026

HP Tidak Rusak, yang Sinyalnya Hilang Cuma Rasa Kangen

Tentang Telepon, Orang Tua, dan Anak yang Terlalu Sibuk Menjadi "Online"

Ada satu profesi yang paling sering disalahkan manusia modern: teknisi.

Wi-Fi lemot? Panggil teknisi.

AC tidak dingin? Panggil teknisi.

Printer macet? Panggil teknisi.

Hubungan rumah tangga dingin? Kadang-kadang juga ingin memanggil teknisi.

Mungkin suatu hari nanti akan muncul iklan:

"Service hubungan keluarga. Ganti kabel komunikasi. Update kasih sayang. Garansi tiga generasi."

Begitulah kisah seorang kakek yang datang ke toko perbaikan telepon. Dengan wajah penuh harap ia berkata, "Tolong diperiksa, telepon saya sepertinya rusak."

Teknisi memeriksa sebentar.

Nada sambung ada.

Speaker normal.

Mikrofon berfungsi.

Sinyal penuh.

Baterai sehat.

Kesimpulannya sederhana.

"Pak, telepon ini baik-baik saja."

Lalu dunia mendadak terasa lebih sunyi daripada ruang tunggu dokter gigi.

Kakek itu pelan-pelan berkata,

"Kalau begitu... kenapa anak-anak saya tidak pernah menelepon?"

Nah, di sinilah kita sadar bahwa kerusakan paling mahal ternyata bukan di perangkat elektronik.

Melainkan di jadwal.

Dan lebih parah lagi...

...di prioritas.


Kita hidup di zaman yang luar biasa.

Sekali klik kita bisa melihat orang sedang makan ramen di Jepang.

Bisa menyaksikan kucing bermain piano di Turki.

Bisa tahu artis Hollywood baru membeli sandal.

Tetapi entah kenapa, untuk mengetik:

"Bu, sudah makan?"

jempol kita mendadak terkena penyakit langka.

Namanya...

Sindrom Nanti Saja.

Penyakit ini sangat berbahaya.

Gejalanya ringan.

"Besok saja telepon."

"Nanti malam saja."

"Weekend saja."

"Nanti kalau agak longgar."

Masalahnya, "nanti" adalah mata uang yang tidak berlaku di usia tua.


Orang tua itu unik.

Kalau kita terlambat pulang lima menit saat SMP, mereka menelepon dua puluh kali.

Sekarang ketika mereka sudah tua, gantian mereka yang menunggu telepon.

Ironinya, kita membalasnya dengan kalimat favorit manusia modern:

"Lagi meeting."

Padahal lima menit sebelumnya kita sempat menonton video berjudul:

"Cara Bebek Menjadi Influencer dalam 30 Hari."

Durasinya empat puluh menit.

Lengkap.

Tidak di-skip iklannya.


Teknologi memang hebat.

Sekarang telepon bisa membuka rekening.

Bisa memesan makanan.

Bisa membeli saham.

Bisa mengedit video.

Bahkan bisa menghitung berapa langkah kita hari ini.

Sayangnya belum ada aplikasi yang mengirim notifikasi:

"Ayah sedang menunggumu menelepon sejak tiga hari lalu."

Kalau ada aplikasi seperti itu, mungkin rating-nya cuma satu bintang.

Bukan karena aplikasinya jelek.

Tetapi karena terlalu jujur.


Media sosial juga punya keajaiban tersendiri.

Kita bisa memberi ucapan ulang tahun kepada teman SD yang terakhir bertemu tahun 1998.

Lengkap dengan emoji balon, konfeti, dan GIF kucing menari.

Sementara ulang tahun ibu sendiri...

baru ingat setelah melihat status WhatsApp tante.


Yang lucu, kita sering berkata,

"Ayah tidak mengerti teknologi."

Padahal yang tidak mengerti justru kita.

Kita mengira perhatian bisa diganti transfer bank.

Kasih sayang bisa dikirim lewat paket ekspres.

Kerinduan bisa diwakilkan stiker "❤️".

Padahal orang tua bukan sedang membutuhkan saldo.

Mereka hanya ingin mendengar kalimat sederhana:

"Ayah, lagi ngapain?"

Lima belas detik.

Selesai.

Tetapi efeknya bisa membuat hati mereka hangat seharian.


Ada sebuah fakta menarik.

Ketika masih kecil, kita menelepon orang tua untuk hal-hal yang sangat penting.

Misalnya,

"Bu... PR matematika di mana?"

"Pak... uang jajan habis."

"Bu... aku lupa bawa seragam olahraga."

Begitu dewasa, justru saat kita sudah mampu membeli telepon paling mahal di dunia...

...kita kehilangan alasan untuk menelepon.

Ironi macam apa ini?

Telepon makin pintar.

Pemiliknya justru makin sulit dihubungi.


Kadang kita merasa orang tua akan selalu ada.

Mereka seperti charger.

Selalu tersedia saat baterai hidup kita habis.

Padahal charger pun suatu hari bisa rusak.

Dan toko elektronik tidak menjual pengganti seorang ibu.

Tidak ada diskon untuk membeli ayah baru.

Tidak ada layanan "Add to Cart" untuk masa kecil yang sudah lewat.


Lucunya lagi, kalau bos menelepon pukul sebelas malam, kita langsung angkat.

Nada suara pun berubah menjadi penuh semangat.

"Baik, Pak!"

"Siap, Pak!"

"Langsung saya kerjakan, Pak!"

Tetapi ketika ibu menelepon pukul delapan malam...

kita melihat layar beberapa detik.

Lalu berpikir,

"Nanti saja deh."

Seolah-olah ibu sedang menawarkan asuransi.


Padahal percakapan dengan orang tua biasanya sangat sederhana.

"Sudah makan?"

"Sudah."

"Sehat?"

"Sehat."

"Kerja jangan capek-capek."

"Iya."

Durasi dua menit.

Tetapi bagi mereka, dua menit itu bisa menjadi bahan cerita selama seminggu kepada tetangga.

"Anakku tadi telepon."

Kalimat sesederhana itu mampu membuat wajah mereka berbinar.

Yang membuat haru adalah...

kita tidak pernah sadar betapa murahnya cara membahagiakan orang tua.

Tidak perlu villa.

Tidak perlu mobil baru.

Tidak perlu makan di restoran bintang lima.

Kadang cukup dengan pulsa.

Atau sekarang bahkan tidak perlu pulsa.

Ada panggilan internet gratis.

Yang mahal justru niatnya.


Mungkin benar.

Telepon kakek itu memang tidak rusak.

Yang rusak adalah asumsi kita bahwa cinta selalu mengerti kesibukan.

Padahal cinta juga butuh disapa.

Butuh didengar.

Butuh dipastikan bahwa ia belum dilupakan.

Jadi kalau setelah membaca tulisan ini Anda langsung mengambil telepon dan menghubungi orang tua, selamat.

Kalau ternyata mereka bertanya selama empat puluh lima menit kenapa harga cabai naik, siapa tetangga yang baru beli motor, dan kapan cucu datang...

jangan buru-buru mengeluh.

Anggap saja itu biaya langganan kasih sayang.

Lagipula, dulu waktu kecil kita juga bercerita tanpa henti tentang robot, dinosaurus, atau mengapa langit tidak bisa dicat.

Mereka mendengarkan.

Sekarang giliran kita.

Karena pada akhirnya, masalah terbesar bukanlah telepon yang mati.

Melainkan hati yang lupa menekan tombol "Call."

abah-arul.blogspot.com. , Agustus 2026

Ketika Cermin Ikut Bingung: Seni Menjadi Versi Beta dari Diri Sendiri

Ada dua benda di dunia yang paling jujur: timbangan dan cermin. Bedanya, timbangan masih bisa kita salahkan karena baterainya lemah. Cermin? Susah. Ia tidak pernah menerima suap, tidak bisa diblokir, dan belum ada fitur "beauty filter" di kamar mandi. Karena itulah banyak tragedi eksistensial dimulai bukan dari rapat kantor, bukan dari tagihan listrik, tetapi dari seseorang yang berdiri di depan cermin sambil berkata lirih,

"Lho... ini siapa?"

Bukan karena rumahnya kemasukan maling.

Tetapi karena yang muncul di depan cermin tampak seperti versi bajakan dirinya sendiri.

Begitulah kira-kira suasana batin yang digambarkan dalam kutipan puitis dari akun @GustavoAdolf_. Sebuah renungan yang mengingatkan bahwa titik terendah hidup kadang bukan ketika dompet kosong atau sinyal Wi-Fi hilang, melainkan ketika kita kehilangan hubungan baik dengan orang yang paling dekat dengan kita: diri sendiri.

Lucunya, manusia memang makhluk yang aneh. Kita bisa lupa menaruh kunci motor selama dua jam, tetapi lebih sering lagi lupa menaruh diri sendiri selama bertahun-tahun.

Ada yang kehilangan dirinya demi mengejar jabatan.

Ada yang menitipkan identitasnya kepada jumlah pengikut media sosial.

Ada pula yang menggantung harga dirinya pada angka saldo rekening.

Begitu salah satu hilang, seluruh bangunan kepercayaan dirinya ikut roboh seperti menara balok yang ditendang bocah TK.

Lalu datanglah cermin.

Cermin tidak pernah berkata kasar. Ia hanya menunjukkan fakta. Tetapi entah mengapa fakta sering lebih menyakitkan daripada komentar netizen.

Saat itulah muncul pertanyaan klasik:

"Bagaimana aku bisa sampai begini?"

Pertanyaan ini terdengar sangat filosofis. Padahal sering kali jawabannya sangat sederhana.

Kurang tidur.

Kebanyakan lembur.

Terlalu sering membandingkan hidup sendiri dengan orang yang baru lima menit lalu upload foto liburan di Swiss, padahal fotonya hasil cicilan empat belas bulan.

Media sosial memang menciptakan spesies manusia baru.

Mereka tampak selalu bahagia.

Sarapan bahagia.

Ngopi bahagia.

Macet bahagia.

Putus cinta pun estetik.

Sementara kita melihat semua itu sambil makan mi instan rasa "akhir bulan", lalu bertanya kepada semesta mengapa hidup terasa seperti serial drama yang episodenya tidak kunjung tamat.

Padahal setiap orang diam-diam sedang berantakan.

Ada yang edit fotonya.

Ada yang edit emosinya.

Ada pula yang edit kenyataan.

Yang menarik dari renungan tadi justru bukan bagian "neraka"-nya.

Kalau soal neraka kehidupan, hampir semua orang punya paket langganan masing-masing.

Yang menarik justru kemunculan sebuah tangga.

Mengapa tangga?

Mengapa bukan lift?

Karena kehidupan ternyata mengikuti logika bangunan tua.

Naik harus pakai kaki sendiri.

Lift hanya tersedia di pusat perbelanjaan.

Bukan di perjalanan memperbaiki hidup.

Tangga adalah simbol yang sangat tidak modern.

Ia lambat.

Melelahkan.

Kadang membuat lutut bunyi "krek-krek."

Tetapi justru itu rahasianya.

Perubahan besar hampir tidak pernah datang lewat lompatan spektakuler.

Ia datang lewat kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Tidur lebih awal.

Mengurangi membandingkan diri.

Minta maaf.

Berani meminta bantuan.

Berjalan kaki.

Membaca buku.

Menertawakan diri sendiri.

Anak tangga kehidupan ternyata lebih mirip daftar pekerjaan rumah daripada adegan film superhero.

Ironisnya, banyak orang ingin keluar dari kegelapan menggunakan cara yang sama yang membuatnya jatuh ke sana.

Stres karena media sosial, obatnya... membuka media sosial.

Lelah bekerja, obatnya... mencari pekerjaan tambahan.

Capek berpikir, obatnya... debat di kolom komentar.

Seolah-olah seseorang mencoba memadamkan api dengan menyiram bensin premium.

Kalimat penutup kutipan itu sangat sederhana:

"Dari neraka pun orang bisa keluar, asal memilih tangga yang benar."

Kalimat ini terdengar indah karena mengandung harapan.

Namun, kalau dipikir-pikir, ia juga mengandung sindiran.

Masalahnya bukan tidak ada tangga.

Masalahnya sering kali kita sibuk mengecat dinding neraka supaya terlihat lebih estetik.

Kita membeli kursi baru untuk ruangan yang sebenarnya ingin kita tinggalkan.

Kita mengganti wallpaper penderitaan, tetapi lupa mencari pintu keluar.

Padahal hidup bukan lomba siapa yang paling nyaman tinggal di dasar jurang.

Hidup adalah keberanian untuk berkata,

"Baiklah... hari ini aku naik satu anak tangga saja."

Satu saja.

Besok satu lagi.

Lusa mungkin terpeleset sedikit.

Tidak apa-apa.

Tangga memang diciptakan untuk dinaiki, bukan untuk difoto lalu dijadikan status motivasi.

Pada akhirnya, mungkin cermin bukan musuh kita.

Ia hanya pegawai paling jujur di dunia.

Ia tidak pernah menghina.

Ia hanya berkata tanpa suara,

"Aku tidak peduli siapa kamu kemarin. Yang ingin kutahu, apakah besok kamu masih mau menjadi orang yang sama?"

Dan kalau suatu pagi kita kembali berdiri di depannya lalu tersenyum karena akhirnya mengenali wajah sendiri, mungkin saat itulah kita sadar bahwa kemenangan terbesar bukanlah menjadi lebih hebat daripada orang lain.

Melainkan berhasil kembali menjadi diri sendiri.

Karena sesungguhnya, versi terbaik manusia bukanlah versi yang selalu tampak sempurna.

Melainkan versi yang pernah hancur, sempat tersesat, lalu menemukan jalan pulang—meski harus menaiki tangga sambil sesekali berhenti karena napas tinggal setengah.


abah-arul-blogspot.com., Agustus 2026

Minggu, 02 Agustus 2026

Capek Itu Bernama Hati: Ketika Jiwa Mulia Tidak Punya Tombol "Skip Ad"

Ada dua jenis orang ketika melihat ketidakadilan.

Jenis pertama berkata, "Waduh, kasihan sekali," lalu lanjut makan bakso sambil menambah sambal.

Jenis kedua berkata, "Waduh, kasihan sekali," lalu baksonya mendadak terasa hambar karena pikirannya masih tertinggal pada orang yang dizalimi.

Kalau Anda termasuk golongan kedua, selamat. Menurut Ibn Hazm, Anda memang sedang mengalami gejala yang agak merepotkan: masih punya hati.

Di zaman sekarang, memiliki hati yang peka ternyata lebih melelahkan daripada menjadi admin grup WhatsApp keluarga. Setiap membuka media sosial, belum sempat melihat video kucing menari, sudah disambut berita korupsi, penipuan, perang, perundungan, sampai komentar netizen yang lebih tajam daripada pisau dapur baru diasah.

Belum lagi algoritma media sosial. Entah mengapa, ia seolah berkata, "Kamu tadi sedih melihat satu berita? Bagus. Nih, saya kasih dua puluh berita lagi."

Kalau hati kita masih normal, ya capek.


Ibn Hazm, ulama sekaligus sastrawan dari Andalusia, rupanya sudah memahami fenomena ini hampir seribu tahun sebelum media sosial ditemukan. Beliau menulis:

"Jiwa-jiwa yang mulia merasa lelah oleh kezaliman, meskipun kezaliman itu tidak menimpanya."

Kalimat ini sederhana, tetapi isinya seperti tagihan listrik bulan Agustus: pendek, tetapi bikin merenung.

Selama ini kita sering mengira orang baik adalah orang yang tidak berbuat jahat. Padahal Ibn Hazm menaikkan standar. Orang baik bukan hanya tidak menzalimi, tetapi juga tidak bisa santai ketika melihat orang lain dizalimi.

Artinya, kalau ada orang diperlakukan tidak adil lalu kita berkata, "Untung bukan saya," Ibn Hazm mungkin akan mengelus dada. Bukan karena marah, tetapi karena melihat betapa hematnya kita menggunakan empati.


Lucunya, manusia modern sering menganggap kepekaan sebagai gangguan.

Sedikit-sedikit muncul nasihat motivasi:

"Jangan terlalu dipikirkan."

"Fokus pada diri sendiri."

"Yang penting healing."

Kalimat-kalimat itu ada benarnya. Masalahnya, kalau semua urusan diselesaikan dengan healing, nanti dunia ini isinya orang-orang yang piknik sambil membiarkan ketidakadilan lewat begitu saja.

Bayangkan ada rumah tetangga kebakaran.

Kita melihat dari jauh sambil berkata, "Semoga mereka kuat. Saya dulu ya, mau self-care."

Itu bukan kedamaian batin. Itu namanya kreativitas dalam menghindari tanggung jawab.


Yang menarik, Ibn Hazm tidak mengatakan jiwa mulia itu marah sepanjang waktu.

Beliau memilih kata "lelah."

Ini pilihan kata yang sangat manusiawi.

Orang yang peduli memang sering lelah.

Guru lelah melihat murid yang kehilangan semangat belajar.

Orang tua lelah melihat anaknya tumbuh di tengah budaya yang serba instan.

Dokter lelah melihat pasien yang terlambat berobat karena lebih percaya video pendek daripada ilmu kedokteran.

Dan orang yang masih punya nurani akan lelah melihat kebohongan dipoles menjadi hiburan.

Kelelahan seperti ini bukan penyakit.

Ini tanda bahwa hati masih bekerja lembur.


Masalahnya, di era digital kita mengalami fenomena baru: kelelahan tanpa kepedulian.

Setiap hari kita menggulir layar dengan kecepatan yang bahkan membuat ibu jari punya otot sendiri.

Hari ini melihat perang.

Lima detik kemudian melihat resep cireng.

Tiga detik berikutnya melihat anak panda bersin.

Lalu iklan diskon sandal.

Begitulah algoritma mendidik emosi kita. Tragedi dan hiburan diletakkan dalam satu antrean. Akibatnya, hati bingung: ini harus menangis atau tertawa?

Lama-kelamaan muncul kekebalan moral.

Bukan karena kita jahat.

Melainkan karena otak sudah seperti satpam mal menjelang Lebaran: terlalu banyak yang masuk, akhirnya semua dianggap biasa.


Namun Ibn Hazm mengingatkan bahwa hati yang sehat justru tetap terganggu.

Ia tidak kehilangan kemampuan untuk berkata, "Ini salah."

Bayangkan alarm kebakaran yang dimatikan karena dianggap berisik.

Rumah memang terasa lebih tenang.

Sampai akhirnya benar-benar terbakar.

Begitu pula hati.

Kalau ia tidak lagi terusik oleh ketidakadilan, mungkin bukan karena dunia sudah membaik.

Bisa jadi alarm moral kita yang sudah dicabut baterainya.


Tentu saja menjadi peduli bukan berarti harus berubah menjadi komentator profesional yang mengomentari semua hal dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Ada juga tipe manusia yang setiap isu langsung membuat utas dua puluh lima halaman, padahal belum selesai membaca judul beritanya.

Ibn Hazm tidak mengajarkan itu.

Beliau hanya mengingatkan bahwa hati jangan sampai kehilangan refleks kemanusiaannya.

Kalau mampu bertindak, bertindaklah.

Kalau mampu bersuara, bersuaralah.

Kalau belum mampu keduanya, setidaknya jangan ikut tepuk tangan ketika kezaliman sedang dipentaskan.

Kadang dunia tidak membutuhkan lebih banyak pahlawan.

Dunia hanya membutuhkan lebih sedikit penonton yang pura-pura tidak melihat.


Pada akhirnya, mungkin ukuran kemuliaan seseorang bukan seberapa sering ia mengutip kata-kata bijak di media sosial.

Melainkan seberapa sulit ia tidur setelah menyaksikan ketidakadilan.

Sebab hati yang mulia memang tidak selalu nyaman.

Ia mudah capek.

Mudah gelisah.

Kadang terlalu banyak berpikir.

Tetapi justru karena itulah ia masih hidup.

Jadi, kalau akhir-akhir ini Anda merasa lelah melihat begitu banyak ketidakadilan, jangan buru-buru menyalahkan usia, cuaca, atau sinyal internet.

Bisa jadi itu bukan gejala stres.

Bisa jadi hati Anda masih menolak menjadi batu.

Dan di zaman ketika banyak orang bangga bersikap "tidak peduli", mungkin itu justru kabar baik.

Karena dunia ini belum kekurangan orang pintar.

Yang mulai langka adalah orang yang masih bersedia ikut capek demi kebenaran.

abah-arul.blogspot.com., Agustus 2026