Sabtu, 20 Juni 2026

Ketika Dunia Ribut, Jangan Ikut Menjadi Grup WhatsApp

Sebuah Renungan tentang Ketenangan, Rasulullah ﷺ, dan Kebiasaan Manusia Memelihara Kecemasan

Ada satu fenomena aneh dalam kehidupan modern: manusia hari ini memiliki teknologi yang mampu memotret galaksi berjarak jutaan tahun cahaya, tetapi masih panik karena status "sedang mengetik..." yang tidak kunjung berubah menjadi balasan.

Kita hidup di zaman yang sangat kaya informasi sekaligus sangat miskin ketenangan. Setiap pagi, sebelum sempat mengucapkan "Alhamdulillah", sebagian orang sudah mengonsumsi sarapan berupa berita krisis ekonomi, ancaman global, teori konspirasi, ramalan kiamat digital, dan video seseorang yang dengan penuh keyakinan menjelaskan bahwa dunia akan berubah total minggu depan. Minggu depannya? Ternyata dunia masih sama. Yang berubah hanya sumber kecemasannya.

Dalam situasi seperti itu, kajian tentang kemuliaan Rasulullah ﷺ dan kebersamaan Allah terasa seperti menemukan sumur di tengah gurun notifikasi.

Tasbih dan Kesalahan Besar Manusia

Kajian tersebut dimulai dengan kata yang sering kita ucapkan tanpa berpikir panjang: Subhanallah.

Biasanya kata ini keluar ketika melihat pemandangan indah, harga cabai yang turun, atau ketika seseorang berhasil parkir mundur sekali masuk tanpa mengulang.

Padahal para ulama menjelaskan bahwa Subhanallah jauh lebih dalam daripada sekadar ekspresi kagum. Ia adalah pengakuan bahwa Allah Mahasuci dari segala kekurangan, sementara seluruh makhluk hanyalah debu yang sedang berusaha terlihat penting.

Masalahnya, manusia sering mengalami gangguan optik spiritual. Kita melihat diri sendiri seperti tokoh utama film superhero, padahal di hadapan Allah kita lebih mirip figuran yang bahkan tidak tahu seluruh naskah cerita.

Karena itulah Imam Al-Ghazali berbicara tentang fanā': kesadaran bahwa ego manusia hanyalah lilin kecil di bawah matahari. Ia tidak perlu dipukul hingga padam; cukup disadarkan bahwa ada cahaya yang jauh lebih besar.

Ironisnya, banyak kecemasan lahir karena kita ingin menjadi sutradara, produser, penulis skenario, sekaligus pemeran utama kehidupan. Ketika satu adegan tidak berjalan sesuai rencana, kita protes kepada semesta.

Padahal kita bahkan tidak tahu adegan berikutnya.

Gua Tsur dan Psikologi Orang Panik

Salah satu bagian paling menarik dalam kajian adalah kisah Gua Tsur.

Bayangkan situasinya. Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar bersembunyi. Musuh sedang mencari. Secara logika manusia, ini adalah momen yang sangat layak untuk panik.

Dan Abu Bakar memang cemas.

Ini kabar baik bagi kita.

Karena ternyata orang saleh pun bisa cemas. Kecemasan bukan dosa. Yang menjadi masalah adalah ketika kecemasan diangkat menjadi menteri utama dalam pemerintahan hati.

Saat itulah Rasulullah ﷺ mengucapkan kalimat yang mungkin menjadi salah satu terapi psikologis paling singkat namun paling dahsyat sepanjang sejarah:

"Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."

Menariknya, beliau tidak berkata:

"Tenang, saya sudah membuat rencana cadangan."

Beliau juga tidak berkata:

"Tunggu sebentar, saya cek perkembangan situasi di media sosial."

Beliau mengarahkan perhatian kepada sesuatu yang jauh lebih besar daripada ancaman yang ada: kebersamaan Allah.

Di sinilah letak rahasia ketenangan.

Banyak orang ingin menghilangkan badai agar tenang.

Para nabi justru mengajarkan cara menjadi tenang meskipun badai masih ada.

Hobi Manusia Menghitung Makar

Kajian ini juga membahas tentang makar atau rekayasa musuh.

Dan harus diakui, manusia memang memiliki hobi unik: menghitung kekuatan musuh lebih rajin daripada menghitung pertolongan Allah.

Kita bisa menghafal daftar ancaman dengan sangat detail.

Tetapi ketika ditanya berapa kali Allah menyelamatkan kita dari masalah yang tidak kita sadari, kita mendadak kehilangan data.

Seolah-olah kita bekerja sebagai analis intelijen bagi kecemasan.

Padahal Al-Qur'an berulang kali mengingatkan bahwa sejarah bukanlah pertandingan antara manusia melawan manusia.

Sejarah adalah panggung tempat kehendak Allah bekerja melalui berbagai peristiwa.

Manusia membuat rencana.

Allah menciptakan realitas.

Perbedaannya cukup jauh.

Ibarat anak kecil menggambar perahu kertas lalu merasa sedang bersaing dengan samudra.

Al-Kawtsar dan Cara Allah Membalas Ejekan

Surah Al-Kawtsar adalah contoh lain yang menakjubkan.

Ketika musuh-musuh Nabi ﷺ menganggap beliau akan terlupakan, Allah justru memberikan kabar bahwa merekalah yang akan terputus.

Kalau dipikir-pikir, ini adalah bentuk humor ilahi yang sangat elegan.

Manusia sering sibuk mengukur kemenangan dengan ukuran yang pendek: jumlah pengikut, kekuasaan, popularitas, dan sorotan publik.

Allah menggunakan ukuran yang jauh lebih panjang: keberkahan.

Karena itu ada orang yang memiliki banyak hal tetapi tidak meninggalkan apa-apa.

Ada pula orang yang hidup sederhana namun jejaknya tetap mengalir ribuan tahun kemudian.

Rasulullah ﷺ adalah bukti terbesar bahwa keberkahan lebih kuat daripada propaganda.

Ketenangan Bukan Kasur Empuk

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang ketenangan adalah menganggapnya sebagai kondisi tanpa masalah.

Padahal ketenangan bukanlah kasur empuk tempat kehidupan berbaring santai.

Ketenangan adalah kompas.

Ia tidak menghilangkan badai, tetapi membuat kapal tidak kehilangan arah.

Rasulullah ﷺ tetap berdakwah ketika ditolak.

Beliau tetap berjuang ketika dikepung.

Beliau tetap optimis ketika situasi tampak mustahil.

Artinya, sakinah bukan obat tidur spiritual.

Sakinah adalah tenaga tambahan untuk bergerak.

Jangan Menjadi Grup WhatsApp di Dalam Kepala

Mungkin pelajaran paling penting dari kajian ini adalah bahwa hati manusia tidak boleh berubah menjadi grup WhatsApp yang tidak pernah berhenti berbunyi.

Ada saatnya berita harus berhenti.

Ada saatnya analisis harus berhenti.

Ada saatnya ketakutan harus berhenti.

Lalu hati kembali mengingat kalimat sederhana yang pernah menguatkan Abu Bakar di dalam gua:

"Innallāha ma'anā."

Allah bersama kita.

Kalimat itu tidak membuat gua menjadi istana.

Tidak membuat musuh langsung menghilang.

Tidak membuat jalan perjuangan menjadi mudah.

Tetapi kalimat itu mengubah sesuatu yang lebih penting: cara memandang seluruh keadaan.

Dan sering kali, ketenangan tidak lahir karena dunia menjadi lebih ramah.

Ketenangan lahir ketika hati akhirnya sadar bahwa di balik seluruh keributan zaman, ada Dzat yang tidak pernah kehilangan kendali.

Maka jika suatu hari dunia kembali gaduh, berita kembali menakutkan, dan pikiran mulai berlarian ke segala arah, mungkin kita tidak perlu menjadi analis konspirasi paruh waktu.

Cukuplah menjadi hamba yang mengingat bahwa Allah masih menjadi Tuhan.

Dan sejauh ini, itu terbukti cukup.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Jumat, 19 Juni 2026

Jantung yang Ikut Rapat: Blaise Pascal dan Nasib Manusia yang Tidak Sepenuhnya Excel

Ada dua kelompok manusia yang selalu membuat dunia menjadi menarik.

Kelompok pertama adalah mereka yang percaya bahwa semua masalah hidup bisa diselesaikan dengan spreadsheet. Sebelum menikah, mereka membuat tabel SWOT calon pasangan. Sebelum membeli bakso, mereka menghitung rasio harga terhadap jumlah pentol. Bahkan ketika patah hati, mereka mungkin membuat grafik penurunan kadar kebahagiaan per minggu.

Kelompok kedua adalah mereka yang menganggap perasaan sebagai GPS kehidupan. Mereka memilih pekerjaan karena "feeling-nya bagus", membeli motor karena "auranya cocok", dan menikah karena "hati ini bergetar". Kadang yang bergetar bukan hati, melainkan alarm bahaya yang sengaja diabaikan.

Di antara dua kutub yang sama-sama menggemaskan itulah Blaise Pascal berdiri sambil mengelus dagunya empat abad lalu.

Ia menulis kalimat yang sangat terkenal:

"Le cœur a ses raisons que la raison ne connaît point."

"Hati memiliki alasan-alasan yang tidak diketahui oleh akal."

Masalahnya, seperti nasib banyak kutipan terkenal, kalimat itu kemudian diperlakukan seperti mie instan: cepat saji, praktis, dan sering kehilangan kandungan gizinya.

Banyak orang memahami Pascal seolah-olah ia sedang berkata:

"Sudahlah, logika itu membosankan. Ikuti saja perasaanmu."

Padahal kalau Pascal mendengar tafsir seperti itu, kemungkinan besar ia akan memukul meja dengan kalkulator ciptaannya sendiri.

Karena Pascal bukanlah penyair galau yang sedang menatap hujan dari balik jendela sambil mendengarkan musik sendu. Ia adalah matematikawan kelas berat, fisikawan, penemu, dan salah satu otak paling cemerlang dalam sejarah Eropa.

Membayangkan Pascal memusuhi akal sama anehnya dengan membayangkan ikan memusuhi air atau tukang bakso memusuhi kuah.

Justru karena ia sangat menghormati akal, ia tahu batas-batas akal.

Pascal memahami sesuatu yang sering dilupakan manusia modern: tidak semua kebenaran datang melalui pintu logika yang memakai dasi dan membawa map presentasi.

Ada sebagian kebenaran yang masuk lewat pintu belakang.

Diam-diam.

Tanpa mengetuk.

Misalnya, bagaimana kita tahu seseorang dapat dipercaya?

Akal bisa membantu. Kita bisa mengumpulkan data, melihat rekam jejak, menghitung probabilitas.

Namun sering kali ada sesuatu yang bekerja lebih cepat daripada itu.

Sebuah intuisi.

Sebuah kesan.

Sebuah pengetahuan yang muncul sebelum kita sempat menjelaskan alasannya.

Di sinilah "hati" Pascal mulai berbicara.

Hati dalam pemikiran Pascal bukanlah tokoh sinetron yang menangis setiap lima menit. Hati adalah pusat intuisi manusia. Ia adalah perpustakaan raksasa yang menyimpan pengalaman, kebiasaan, pengamatan, dan pelajaran hidup yang telah mengendap selama bertahun-tahun.

Bayangkan akal sebagai petugas arsip yang rajin.

Ia membuka lemari satu per satu.

Memeriksa dokumen.

Menghitung.

Menganalisis.

Sementara hati adalah pustakawan tua yang sudah hafal seluruh isi perpustakaan.

Ketika ditanya sesuatu, ia langsung berkata,

"Oh, saya tahu jawabannya."

Masalahnya, ketika diminta menjelaskan sumbernya, ia sering hanya tersenyum misterius.

Empat ratus tahun setelah Pascal lahir, ilmu pengetahuan mulai mengejar ketertinggalannya.

Daniel Kahneman, misalnya, menemukan bahwa manusia memiliki dua sistem berpikir. Sistem pertama cepat, intuitif, dan otomatis. Sistem kedua lambat, logis, dan penuh pertimbangan.

Secara sederhana, Sistem 1 adalah orang yang langsung mengenali wajah teman lama dari kejauhan.

Sistem 2 adalah orang yang masih menghitung kemungkinan sambil berkata:

"Tunggu dulu. Tinggi badan cocok. Bentuk telinga mirip. Probabilitas 87 persen bahwa itu memang Budi."

Sementara Budi sudah pulang ke rumah.

Lebih menarik lagi, Antonio Damasio menemukan bahwa orang yang kehilangan kemampuan emosional justru kesulitan mengambil keputusan rasional.

Ini ironis.

Selama berabad-abad manusia menganggap emosi adalah pengganggu akal.

Ternyata tanpa emosi, akal seperti pegawai kantor yang kehilangan kopi pagi: tetap hadir, tetapi bingung harus mulai dari mana.

Penemuan-penemuan modern ini membuat Pascal tampak seperti seseorang yang diam-diam telah membaca jurnal neurosains empat abad lebih awal.

Namun kebijaksanaan Pascal tidak berhenti pada pembelaan terhadap intuisi.

Ia juga memperingatkan kita agar tidak menjadikan hati sebagai diktator.

Karena hati yang bijaksana berbeda dengan hati yang sedang lapar.

Hati yang tercerahkan berbeda dengan hati yang baru saja melihat diskon 90 persen.

Tidak semua bisikan batin adalah wahyu.

Kadang itu hanya impuls yang mengenakan kostum kebijaksanaan.

Karena itu Pascal menolak dua ekstrem sekaligus.

Ia menolak mereka yang ingin menjadikan hidup sebagai ujian matematika raksasa.

Tetapi ia juga menolak mereka yang mengubah perasaan menjadi agama baru.

Bagi Pascal, manusia bukan komputer.

Tetapi manusia juga bukan balon yang terombang-ambing angin emosi.

Kita adalah makhluk yang unik: berpikir dengan otak, merasakan dengan hati, belajar dengan tubuh, dan memahami dunia melalui seluruh pengalaman hidup kita.

Sayangnya, zaman modern sering memaksa kita memilih salah satu.

Media sosial menyuruh kita selalu mengikuti perasaan.

Sementara sebagian budaya produktivitas menyuruh kita menjadi mesin analisis berjalan.

Akibatnya banyak orang hidup seperti kendaraan yang hanya memiliki satu roda.

Maju bisa.

Tetapi jalannya aneh.

Pascal menawarkan sesuatu yang lebih sehat.

Ia mengajak akal dan hati duduk semeja.

Bukan untuk berdebat.

Melainkan untuk bermusyawarah.

Akal bertugas memeriksa arah.

Hati bertugas memahami makna.

Akal bertanya, "Apakah ini masuk akal?"

Hati bertanya, "Apakah ini layak dijalani?"

Dan kehidupan yang bijaksana lahir ketika keduanya saling mendengarkan.

Empat ratus tahun setelah kelahirannya, Pascal masih mengingatkan kita bahwa manusia bukan sekadar mesin logika yang kebetulan memiliki perasaan.

Kita adalah orkestra yang terdiri dari banyak instrumen.

Akal adalah biola.

Emosi adalah cello.

Pengalaman adalah drum.

Intuisi adalah seruling yang sering terdengar pelan tetapi justru menentukan melodi.

Masalah muncul ketika salah satu instrumen memaksa memainkan konser sendirian.

Karena kebijaksanaan, seperti musik yang indah, tidak lahir dari suara yang paling keras.

Ia lahir dari harmoni.

Dan mungkin itulah alasan mengapa Pascal tetap hidup dalam percakapan manusia hingga hari ini.

Ia tidak mengajari kita untuk memilih antara kepala dan dada.

Ia mengajari kita bahwa Tuhan tampaknya memang merancang manusia dengan keduanya untuk suatu alasan.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Dua Bait dan Sebuah Koper Pulang: Catatan tentang Penyair Mauritania yang Tidak Banyak Bicara

Ada dua jenis manusia ketika menghadapi hidup.

Jenis pertama adalah mereka yang jika ditanya kabar akan menjawab selama dua puluh menit, lengkap dengan grafik naik-turun ekonomi keluarga, laporan cuaca, serta analisis hubungan diplomatik dengan tetangga sebelah rumah.

Jenis kedua adalah Muhammad al-Dimani.

Beliau bahkan ketika menghadapi kematian hanya meninggalkan dua bait syair.

Dua bait.

Bukan dua jilid.

Bukan dua ratus halaman.

Bukan pula utas media sosial sepanjang perjalanan Jakarta–Surabaya.

Hanya dua bait.

Dan anehnya, dua bait itu justru lebih berat daripada banyak buku motivasi yang dijual dengan bonus tote bag.

Kisah ini berasal dari gurun Mauritania, tempat pasir tampaknya lebih rajin bermeditasi daripada manusia modern. Di sana hidup seorang penyair bernama Muhammad al-Dimani. Ketika beliau wafat, ditemukan dua bait syair di dekat kepalanya. Bukan daftar aset. Bukan catatan utang-piutang. Bukan pula password media sosial yang sering membuat keluarga panik setelah seseorang meninggal.

Yang ditemukan adalah doa.

Sebuah doa yang pendek, tetapi padat seperti kurma yang dijemur matahari gurun selama berbulan-bulan.

Syair itu dimulai dengan panggilan kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Mengampuni dosa-dosa besar dan menutupi aib-aib hamba-Nya.

Menarik sekali.

Kebanyakan manusia modern justru lebih sibuk menutupi aib dengan filter kamera daripada dengan taubat.

Padahal filter hanya bisa menghapus jerawat.

Ia tidak bisa menghapus kesombongan.

Ia tidak bisa menghilangkan iri hati.

Dan sejauh ini belum ada aplikasi yang mampu mempercantik akhlak hanya dengan satu sentuhan layar.

Al-Dimani tampaknya memahami sesuatu yang sering kita lupakan: menjelang akhir perjalanan, yang paling kita butuhkan bukanlah pencitraan, melainkan pengampunan.

Lalu ia menyebut Allah sebagai Tuhan yang membuat para tiran dan pembesar sombong menundukkan leher mereka.

Di sinilah letak humor kosmis kehidupan.

Di dunia, manusia sering berlomba menjadi besar.

Ada yang ingin besar jabatannya.

Ada yang ingin besar rekeningnya.

Ada yang ingin besar jumlah pengikutnya.

Kadang-kadang bahkan ada yang hanya ingin besar tanda tangannya.

Namun kematian memiliki kebiasaan yang sangat demokratis.

Ia tidak pernah bertanya:

"Maaf, Bapak direktur atau satpam?"

"Maaf, Ibu selebgram atau penjual gorengan?"

"Maaf, pengusaha atau pengangguran?"

Di hadapannya, semua manusia masuk melalui pintu yang sama.

Maka para tiran yang sepanjang hidup membuat orang lain menunduk, pada akhirnya ikut menundukkan kepala.

Bukan karena kalah dalam pemilu.

Bukan karena bangkrut.

Melainkan karena seluruh alam semesta memang tunduk kepada Pemiliknya.

Kesombongan manusia ternyata seperti topi pesta ulang tahun: terlihat penting selama beberapa jam, lalu berakhir di tempat sampah sejarah.

Bagian yang paling menyentuh justru datang pada bait berikutnya.

Al-Dimani berkata bahwa Allah telah memperlakukannya dengan baik sejak awal kehidupannya.

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat sulit diucapkan.

Sebab manusia punya bakat luar biasa untuk mengingat satu musibah dan melupakan seribu nikmat.

Kita bisa mengingat komentar pedas seseorang selama bertahun-tahun.

Namun sering lupa bahwa selama puluhan tahun jantung kita bekerja tanpa pernah meminta kenaikan gaji.

Kita mengeluh karena hujan turun saat akhir pekan.

Tetapi lupa bahwa hujan yang sama mengisi sawah, sungai, dan gelas yang kita minum.

Kita seperti penumpang yang menikmati perjalanan gratis ribuan kilometer lalu marah karena kursinya sedikit miring.

Al-Dimani melihat hidup dengan cara yang berbeda.

Ia memandang seluruh sejarah hidupnya sebagai rangkaian kebaikan Allah.

Napas pertama adalah kebaikan.

Masa kecil adalah kebaikan.

Pertemuan dengan orang-orang baik adalah kebaikan.

Bahkan ujian dan kesedihan pun, setelah direnungkan, sering berubah menjadi guru yang diam-diam mendewasakan.

Puncak syair itu adalah permohonan yang sangat indah:

"Sebagaimana Engkau telah berbuat baik di awal, maka lanjutkanlah hingga akhir."

Inilah doa seorang musafir yang hampir tiba di rumah.

Bayangkan seseorang yang telah menempuh perjalanan panjang melintasi padang pasir. Ia tidak meminta kendaraan mewah menjelang tiba. Ia hanya berharap tidak tersesat di kilometer terakhir.

Karena sering kali bagian paling menentukan dari sebuah perjalanan justru berada di penghujungnya.

Pelari maraton tidak dikenang karena langkah pertama.

Mahasiswa tidak lulus karena semangat pada semester pertama.

Dan manusia tidak dinilai hanya dari bagaimana ia memulai hidup, tetapi juga bagaimana ia menutupnya.

Maka permintaan Al-Dimani sesungguhnya sangat sederhana:

"Ya Allah, Engkau yang membawaku sejak awal. Jangan tinggalkan aku ketika aku sudah hampir sampai."

Betapa lembutnya doa itu.

Betapa rendah hatinya.

Betapa berbeda dengan manusia modern yang kadang merasa seluruh keberhasilannya adalah hasil kerja keras dirinya sendiri, seolah-olah udara yang ia hirup setiap hari merupakan hasil produksi pribadinya.

Mungkin itulah sebabnya dua bait ini begitu menyentuh banyak orang hingga sekarang.

Karena di balik segala teknologi, kecerdasan buatan, media sosial, dan hiruk-pikuk dunia modern, pertanyaan manusia ternyata tidak banyak berubah.

Kita tetap mencari jawaban yang sama:

Bagaimana cara pulang dengan baik?

Bagaimana cara mengakhiri perjalanan tanpa penyesalan?

Bagaimana cara berdiri di hadapan Allah dengan hati yang tenang?

Muhammad al-Dimani tidak menjawab pertanyaan itu dengan teori yang rumit.

Ia menjawabnya dengan dua bait.

Hanya dua bait.

Namun dua bait itu ibarat sebutir benih kurma yang kecil. Ketika ditanam dalam hati, ia tumbuh menjadi pohon yang akarnya menembus kesadaran dan cabangnya menaungi jiwa.

Barangkali pada akhirnya, hidup memang bukan soal seberapa banyak kata yang kita tinggalkan.

Bukan pula seberapa panjang daftar pencapaian yang kita kumpulkan.

Melainkan apakah ketika koper perjalanan dunia ini ditutup, kita masih memiliki satu kalimat yang layak dibawa pulang:

"Ya Allah, sebagaimana Engkau telah baik kepadaku sejak awal, maka baikilah aku hingga akhir."

Karena sesungguhnya, semua manusia sedang berjalan menuju senja.

Dan yang paling beruntung bukanlah mereka yang memiliki jalan paling ramai, melainkan mereka yang menemukan Tuhan menunggu di ujung jalan itu.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Schopenhauer dan Klub Orang-Orang yang Berhenti Menagih Keadilan kepada Alam Semesta

Sebuah Renungan tentang Harapan, Penderitaan, dan Seni Berteman dengan Kenyataan

Bayangkan Anda sedang antre di sebuah kantor pelayanan bernama "Kehidupan". Di tangan Anda ada nomor antrean. Di kepala Anda ada harapan. Di hati Anda ada keyakinan bahwa karena Anda orang baik, rajin membantu tetangga, tidak pernah mencuri sandal masjid, dan sesekali memberi makan kucing liar, maka petugas loket akan memanggil nama Anda dengan senyum ramah lalu memberikan paket bertuliskan:

"Selamat! Anda berhak atas hidup yang mudah, adil, dan membahagiakan."

Masalahnya, setelah menunggu puluhan tahun, Anda baru menyadari bahwa kantor itu tidak pernah memiliki loket semacam itu.

Di sudut ruangan, seorang pria tua berwajah muram sedang menyeruput kopi pahit tanpa gula. Namanya Arthur Schopenhauer. Ia melihat antrean manusia yang panjang sambil menggeleng pelan, lalu berkata:

"Kesalahan terbesar kalian adalah mengira kantor ini memang menjual kebahagiaan."

Begitulah kira-kira inti filsafat Schopenhauer.

Ia adalah filsuf yang datang ke pesta motivasi dengan membawa ember berisi air dingin. Ketika semua orang berteriak, "Kamu bisa menjadi apa pun yang kamu mau!", Schopenhauer justru bertanya, "Siapa yang bilang hidup wajib memenuhi maumu?"

Tidak heran banyak orang menganggapnya pesimis. Namun mungkin ia bukan pesimis. Mungkin ia hanya orang pertama yang membaca syarat dan ketentuan kehidupan sampai halaman terakhir.

Dunia Tidak Menandatangani Kontrak Kebahagiaan

Kita hidup di zaman yang sangat kreatif dalam memproduksi harapan.

Media sosial bekerja seperti agen properti untuk mimpi-mimpi manusia. Setiap hari kita diperlihatkan foto orang yang tampak sukses, bahagia, kaya, sehat, romantis, spiritual, produktif, dan entah bagaimana masih sempat jogging pukul lima pagi.

Tanpa sadar kita mulai percaya bahwa hidup seharusnya memang seperti itu.

Ketika kenyataan datang membawa tagihan listrik, sakit punggung, cicilan, konflik keluarga, dan cinta yang kandas karena alasan yang bahkan algoritma AI pun bingung menjelaskannya, kita merasa ditipu.

Schopenhauer muncul seperti petugas audit realitas.

Menurutnya, masalah terbesar manusia bukan penderitaan itu sendiri. Masalah terbesar adalah keyakinan bahwa penderitaan seharusnya tidak terjadi.

Ia seperti orang yang menonton film horor lalu marah karena ada hantu.

Padahal judul filmnya memang Kehidupan: Edisi Horor Eksistensial.

Mesin Keinginan yang Tidak Pernah Libur

Di jantung filsafat Schopenhauer terdapat satu tokoh utama yang sangat sibuk: Kehendak.

Kehendak ini ibarat balita kosmik yang tidak pernah merasa puas.

Saat tidak punya motor, kita ingin motor.

Saat sudah punya motor, kita ingin mobil.

Saat punya mobil, kita ingin mobil yang lebih besar.

Saat punya mobil yang lebih besar, kita mulai menonton video tentang yacht.

Saat punya yacht, kita mungkin mulai iri kepada paus biru karena memiliki lautan secara gratis.

Keinginan manusia bergerak seperti treadmill. Kita berlari sangat serius, berkeringat luar biasa, tetapi sering kali tetap berada di tempat yang sama.

Begitu satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan baru yang mengenakan kostum berbeda namun memiliki wajah yang sama.

Schopenhauer melihat pola ini dan menyimpulkan sesuatu yang tidak populer:

"Kebahagiaan bukan rumah tempat kita tinggal. Kebahagiaan hanyalah ruang tunggu sebelum keinginan berikutnya datang mengetuk pintu."

Keuntungan Menjadi Orang yang Tidak Terlalu Kaget

Meski terdengar suram, filsafat ini sebenarnya memiliki sisi yang sangat praktis.

Bayangkan dua orang menghadapi badai.

Orang pertama membawa payung pesta ulang tahun berbentuk bunga matahari. Ia yakin cuaca akan selalu cerah.

Orang kedua membawa jas hujan tebal karena tahu cuaca bisa berubah kapan saja.

Ketika hujan datang, siapa yang lebih tenang?

Schopenhauer sedang mengajarkan cara menjadi orang kedua.

Ia tidak mengatakan bahwa hujan itu menyenangkan. Ia hanya mengatakan bahwa mengutuk awan selama tiga jam tidak akan membuat langit berubah pikiran.

Dalam bahasa psikologi modern, ini disebut penerimaan.

Bukan menyerah.

Bukan pasrah.

Tetapi berhenti bertengkar dengan fakta.

Karena fakta terkenal sebagai lawan debat yang sangat keras kepala.

Bahaya Menjadi Murid Schopenhauer yang Terlalu Rajin

Namun ada masalah.

Jika filsafat Schopenhauer diminum tanpa dosis yang tepat, efek sampingnya bisa cukup mengkhawatirkan.

Seseorang bisa mulai berpikir:

"Kalau hidup memang sulit, untuk apa berusaha?"

"Kalau dunia tidak adil, mengapa memperbaikinya?"

"Kalau semua berakhir dengan penderitaan, mungkin saya akan tidur siang saja sampai kiamat."

Di sinilah Schopenhauer sering dikritik.

Ia pandai menjelaskan hujan, tetapi tidak selalu memberi alasan mengapa kita tetap harus menanam bunga.

Filsafatnya sangat bagus sebagai rem, tetapi kurang cocok menjadi mesin.

Ia melindungi manusia dari kekecewaan, tetapi kadang tidak cukup kuat untuk mengobarkan semangat perjuangan.

Nietzsche: Murid yang Membangkang

Menariknya, salah satu pembacanya yang paling terkenal adalah Friedrich Nietzsche.

Nietzsche melihat dunia yang sama kerasnya dengan Schopenhauer. Ia juga melihat penderitaan di mana-mana.

Tetapi reaksinya berbeda.

Jika Schopenhauer berkata:

"Hidup memang pahit. Terimalah."

Nietzsche berkata:

"Hidup memang pahit. Tambah lagi secangkir!"

Melalui gagasan Amor Fati, Nietzsche mengajak manusia bukan hanya menerima takdir, tetapi mencintainya.

Jika Schopenhauer adalah penumpang yang berteduh saat badai, Nietzsche adalah orang yang keluar rumah sambil berteriak, "Anginnya lumayan juga hari ini!"

Keduanya berbeda, tetapi sama-sama mengingatkan bahwa penderitaan bukanlah kesalahan sistem.

Penderitaan adalah bagian dari sistem.

Menjadi Dewasa di Alam Semesta yang Acuh Tak Acuh

Mungkin pelajaran terbesar dari Schopenhauer adalah ini:

Kedewasaan dimulai ketika kita berhenti menganggap alam semesta sebagai petugas layanan pelanggan.

Bintang-bintang tidak berkumpul setiap malam untuk membahas masalah karier kita.

Galaksi tidak mengadakan rapat darurat karena hubungan asmara kita berakhir.

Alam semesta berjalan dengan ketidakpedulian yang megah.

Anehnya, justru di situlah kebebasan muncul.

Ketika kita berhenti menuntut hidup agar selalu adil, mudah, dan sesuai skenario, kita tidak lagi menjadi tawanan ekspektasi.

Kita menjadi seperti pelaut yang memahami bahwa laut tidak pernah berjanji untuk tenang.

Namun karena memahami itu, ia dapat berlayar dengan lebih bijaksana.

Schopenhauer mungkin benar dalam satu hal: hidup tidak berutang apa pun kepada kita.

Tetapi justru karena itulah setiap tawa menjadi hadiah.

Setiap persahabatan menjadi berkah.

Setiap keberhasilan menjadi bonus.

Dan setiap hari yang berhasil kita lalui tanpa kehilangan akal sehat adalah pencapaian yang patut dirayakan.

Barangkali kebijaksanaan bukanlah menemukan dunia yang lebih ramah.

Melainkan belajar tersenyum, bahkan ketika kita akhirnya sadar bahwa sejak awal dunia memang tidak pernah menjanjikan apa-apa.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Kamis, 18 Juni 2026

Ketika Eropa dan Jepang Nongkrong Bareng: Sebuah Kisah Persahabatan di Era Dunia yang Tidak Lagi Punya Bos Tunggal

Dulu dunia internasional mirip sebuah acara reuni keluarga yang aneh. Ada satu paman super kaya yang membayar hampir semua tagihan, mengatur tempat duduk, menentukan menu makan malam, dan kadang-kadang juga menentukan siapa yang boleh berbicara. Paman itu bernama Amerika Serikat.

Selama puluhan tahun, banyak negara merasa cukup nyaman dengan situasi tersebut. Toh ada yang menjaga keamanan, ada yang membuka pasar, dan ada yang siap turun tangan ketika tetangga mulai berkelahi.

Tetapi seperti semua drama keluarga, ada saat ketika para keponakan mulai dewasa dan sang paman mulai sedikit berubah tabiat.

Di sinilah kisah menarik Uni Eropa dan Jepang dimulai.

Mereka bukan tetangga. Mereka tidak berbagi bahasa. Mereka tidak pernah satu sekolah. Kalau dunia ini adalah kompleks perumahan, Jepang tinggal di ujung timur gang, sementara Uni Eropa tinggal di ujung barat. Jarak mereka begitu jauh sehingga kalau saling meminjam gula, gulanya mungkin basi sebelum sampai.

Namun tiba-tiba mereka tampak semakin akrab.

Mereka menandatangani perjanjian ekonomi. Mereka berbagi informasi keamanan. Mereka membicarakan semikonduktor, kecerdasan buatan, energi masa depan, hingga pertahanan militer.

Pertanyaannya sederhana:

Mengapa dua orang yang tinggal berjauhan tiba-tiba rajin ngopi bersama?

Jawabannya ternyata sama seperti alasan dua murid yang sering duduk sebangku ketika ada tukang bully berkeliaran di sekolah.

Sandwich Geopolitik yang Tidak Enak Dimakan

Uni Eropa dan Jepang saat ini berada dalam posisi yang agak tidak nyaman.

Mereka seperti isi sandwich yang terjepit di antara dua potong roti raksasa bernama Amerika Serikat dan China.

Masalahnya, kedua roti itu sedang berdebat tentang siapa yang paling penting di meja makan.

Amerika memiliki tarif.

China memiliki rare earth.

Amerika bisa berkata:

"Kalau mau jual mobil ke saya, bayar dulu."

China bisa berkata:

"Oh begitu? Kalau begitu saya simpan dulu logam tanah jarang yang kalian perlukan untuk membuat mobil itu."

Akhirnya Jepang dan Eropa berada pada posisi yang sangat filosofis:

Mereka bisa menjual barang tanpa bahan baku, atau memiliki bahan baku tanpa pasar.

Keduanya sama-sama tidak menyenangkan.

Rare Earth: Unsur Langka yang Ternyata Lebih Berkuasa daripada Raja

Banyak orang mengira dunia dikendalikan oleh presiden, raja, atau miliarder teknologi.

Padahal kadang-kadang dunia justru dikendalikan oleh sesuatu yang namanya sulit dieja.

Rare earth.

Benda ini terdengar seperti nama grup musik indie yang manggung di kafe, tetapi kenyataannya ia adalah jantung dari hampir semua teknologi modern.

Mobil listrik membutuhkannya.

Turbin angin membutuhkannya.

Rudal membutuhkannya.

Ponsel kita membutuhkannya.

Bahkan benda yang kita gunakan untuk mengeluh tentang dunia di media sosial pun membutuhkannya.

Dan China menguasai sebagian besar pasokan tersebut.

Bayangkan sebuah warung bakso yang ternyata menguasai 90 persen stok mangkuk di seluruh kota.

Pada hari biasa tidak ada masalah.

Tetapi ketika pemilik warung mulai kesal, seluruh pedagang bakso mendadak panik.

Itulah kira-kira posisi dunia terhadap rare earth China.

Greenland: Ketika Pulau Es Mendadak Menjadi Selebritas

Karena tidak ingin terlalu bergantung pada China, Jepang mulai melirik Greenland.

Ini menarik.

Selama bertahun-tahun Greenland dikenal sebagai tempat yang dingin, terpencil, dan lebih sering muncul di peta daripada dalam percakapan sehari-hari.

Lalu tiba-tiba dunia menemukan bahwa di bawah lapisan esnya terdapat berbagai mineral strategis.

Mendadak Greenland mengalami nasib seperti teman sekolah yang dulu tidak pernah dilirik siapa pun, lalu setelah sukses membuka perusahaan teknologi semua orang ingin berteman dengannya.

Jepang datang.

Eropa datang.

Amerika ikut datang.

Semua membawa senyum diplomatik dan kartu nama.

Masalahnya tetap ada.

Menemukan mineral ternyata hanya separuh pekerjaan.

Mengolahnya adalah cerita lain.

Ini seperti menemukan ladang kopi terbaik di dunia tetapi mesin penggilingnya masih dimiliki tetangga.

Dunia Sedang Pindah Rumah

Selama tiga dekade setelah Perang Dingin, dunia relatif sederhana.

Ada satu pusat gravitasi yang sangat kuat.

Semua planet berputar mengelilinginya.

Namun sekarang tata surya geopolitik mulai berubah.

China tumbuh.

India bangkit.

Negara-negara menengah semakin percaya diri.

Blok-blok baru bermunculan.

Aliansi lama mulai diperbarui.

Dunia sedang bergerak dari satu matahari menuju konstelasi banyak bintang.

Inilah yang disebut multipolaritas.

Bagi sebagian orang, ini terdengar rumit.

Padahal sebenarnya sederhana.

Jika dunia unipolar seperti satu warung makan yang sangat populer sehingga semua orang makan di sana, maka dunia multipolar adalah munculnya banyak warung baru yang sama-sama ramai.

Tidak ada lagi satu tempat yang menentukan seluruh menu.

Pelajaran dari Sebuah Jabat Tangan

Jabat tangan Uni Eropa dan Jepang sesungguhnya bukan tentang Eropa ataupun Jepang.

Ia adalah simbol.

Simbol bahwa negara-negara mulai belajar hidup dalam dunia yang lebih rumit.

Dulu cukup berteman dengan satu kekuatan besar.

Sekarang semua orang mulai sadar bahwa menaruh seluruh telur geopolitik dalam satu keranjang bukan ide yang bijaksana.

Karena keranjang bisa jatuh.

Karena pemilik keranjang bisa berubah pikiran.

Karena pasar bisa berubah arah.

Dan karena sejarah memiliki kebiasaan buruk: ia selalu bergerak ketika manusia mengira semuanya sudah stabil.

Pada akhirnya, kerja sama Uni Eropa dan Jepang mengingatkan kita pada satu pelajaran tua yang berlaku bukan hanya dalam politik internasional, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika cuaca mulai tidak menentu, orang bijak tidak sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.

Ia mulai menyiapkan payung.

Dan tampaknya, di tengah badai geopolitik abad ke-21, Eropa dan Jepang baru saja membeli payung yang sama.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Bebaskan Dirimu dari Jabatan Wakil Direktur Takdir

Catatan Ringan tentang Orang-Orang yang Sibuk Mengatur Alam Semesta

Ada pekerjaan yang sangat diminati manusia, tetapi anehnya tidak pernah dibuka lowongannya. Gajinya tidak jelas, kontraknya tidak ada, dan deskripsi kerjanya bahkan tidak pernah diumumkan. Namun jutaan orang melamar setiap hari.

Nama pekerjaannya adalah: Wakil Direktur Takdir.

Tugasnya sederhana: mengatur kapan doa dikabulkan, menentukan kapan rezeki datang, memastikan semua rencana berjalan sesuai keinginan pribadi, serta mengawasi Allah agar bekerja sesuai target yang telah dibuat manusia.

Terdengar lucu? Memang lucu. Namun sebagian besar dari kita diam-diam pernah menjabat posisi tersebut.

Kita berdoa, lalu lima menit kemudian mengecek hasilnya seperti pelanggan yang sedang melacak paket ekspedisi.

"Ya Allah, saya sudah berdoa kemarin. Kenapa belum sampai?"

Seolah-olah langit memiliki fitur same day delivery.

Di sinilah Imam Ibn Atha'illah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam memberikan tamparan yang lembut namun mengena. Beliau berkata:

"Bebaskan dirimu dari mengatur apa yang sudah diatur Allah untukmu."

Kalimat ini pendek, tetapi efeknya seperti mencabut kabel listrik yang selama ini menyuplai kecemasan dalam kepala kita.

Penyakit Modern: Sindrom CEO Alam Semesta

Masalah terbesar manusia modern bukan kekurangan informasi. Justru sebaliknya.

Kita tahu terlalu banyak hal.

Kita tahu prediksi ekonomi.

Kita tahu ramalan cuaca.

Kita tahu berita dari negara yang bahkan belum pernah kita kunjungi.

Kita tahu gosip artis yang tidak mengenal kita.

Namun anehnya, semakin banyak yang diketahui, semakin banyak pula yang ingin dikendalikan.

Akibatnya, hidup berubah seperti seseorang yang mencoba mengemudikan mobil sambil mengatur lampu lalu lintas, mengendalikan arah angin, dan memerintah awan agar tidak hujan.

Capek.

Sangat capek.

Padahal Allah hanya meminta kita memegang setir kendaraan kita sendiri.

Angin? Bukan urusan kita.

Awan? Bukan urusan kita.

Takdir? Apalagi.

Tetapi manusia sering bertingkah seperti manajer proyek alam semesta yang frustrasi karena kosmos tidak mengikuti rapat koordinasi yang ia buat sendiri.

Mengapa Kita Sulit Tenang?

Karena kita sering salah membedakan antara wilayah kerja hamba dan wilayah kerja Tuhan.

Wilayah kerja manusia adalah usaha.

Wilayah kerja Allah adalah hasil.

Masalah muncul ketika manusia mencoba mengambil dua-duanya sekaligus.

Kita ingin belajar sekaligus menentukan nilai ujian.

Kita ingin melamar pekerjaan sekaligus menentukan keputusan HRD.

Kita ingin berobat sekaligus menentukan kesembuhan.

Kita ingin menanam padi sekaligus mengatur hujan.

Akibatnya, kita seperti pegawai yang diam-diam masuk ke ruang direktur lalu panik karena tidak mengerti tombol mana yang harus ditekan.

Ibn Atha'illah mengingatkan bahwa banyak penderitaan lahir bukan karena takdir yang berat, tetapi karena ego yang ingin ikut campur mengelola takdir.

Ridha: Kursi Santai untuk Jiwa

Dalam dunia tasawuf, ada satu kata yang terdengar sederhana tetapi mahal harganya: ridha.

Ridha bukan berarti berhenti bekerja.

Ridha bukan berarti rebahan sambil berkata, "Kalau rezeki mah nggak ke mana."

Kalimat itu biasanya diucapkan sambil menunggu rezeki yang memang akhirnya tidak ke mana-mana karena tidak pernah dicari.

Ridha adalah bekerja keras tanpa menjadikan hasil sebagai berhala.

Bayangkan seseorang sedang mendayung perahu di sungai.

Ia wajib mendayung.

Tetapi ia tidak perlu mengaduk-aduk air sungai agar arus bergerak lebih cepat.

Arus sudah memiliki Pemilik.

Tugas pendayung hanyalah mendayung.

Ridha adalah kemampuan menikmati proses tanpa menyiksa diri dengan obsesi terhadap hasil.

Orang yang ridha tetap berkeringat, tetapi tidak terbakar oleh kecemasan.

Yaqin: Ketika Kita Berhenti Mengajari Allah Cara Mengurus Hidup Kita

Ada kebiasaan unik manusia.

Ketika sesuatu sesuai harapan, kita berkata:

"Masya Allah, Allah Maha Bijaksana."

Namun ketika tidak sesuai harapan, kita diam-diam berpikir:

"Ya Allah, mungkin ada sedikit kesalahan administrasi di atas."

Padahal tidak ada kesalahan administrasi di langit.

Yang ada hanyalah keterbatasan pemahaman kita.

Seekor ulat mungkin menganggap kepompong sebagai bencana.

Ia tidak tahu bahwa itu adalah awal menjadi kupu-kupu.

Begitu pula manusia.

Kita sering mengira kehilangan adalah hukuman, padahal bisa jadi itu perlindungan.

Kita mengira kegagalan adalah akhir, padahal mungkin itu jalan memutar menuju sesuatu yang lebih baik.

Yaqin adalah kesediaan untuk mengakui bahwa Allah melihat seluruh peta, sementara kita baru melihat satu tikungan.

Tafwid: Seni Menyerahkan yang Memang Bukan Milik Kita

Tafwid adalah salah satu konsep tasawuf yang sangat menenangkan.

Artinya menyerahkan urusan kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik.

Perhatikan urutannya.

Bukan menyerah dulu baru usaha.

Bukan juga usaha terus lalu lupa menyerah.

Tetapi usaha maksimal dan penyerahan total.

Seperti petani yang menanam benih dengan sungguh-sungguh.

Ia menyiram.

Ia memupuk.

Ia membersihkan gulma.

Tetapi ia tidak berdiri di tengah sawah sambil berteriak kepada benih:

"Cepat tumbuh! Saya sudah investasi!"

Petani yang waras tahu bahwa pertumbuhan adalah urusan Allah.

Begitu pula seorang mukmin.

Ia melakukan bagian yang menjadi tugasnya, lalu berhenti di batas yang menjadi hak Allah.

Ketika Google Membuat Semua Orang Menjadi Mufti

Ada fenomena menarik di zaman sekarang.

Seseorang membaca tiga artikel, menonton dua video, lalu merasa siap memperbaiki pemahaman ulama yang belajar puluhan tahun.

Ini seperti orang yang baru melihat video operasi jantung di internet lalu menawarkan jasa bedah kepada tetangga.

Tasawuf mengajarkan kerendahan hati intelektual.

Bahwa ada hal-hal yang membutuhkan proses.

Ada ilmu yang harus dipelajari.

Ada guru yang harus dihormati.

Dan ada kebijaksanaan yang tidak bisa diunduh hanya dengan koneksi internet yang cepat.

Semakin dalam seseorang mengenal Allah, biasanya semakin kecil rasa ingin menjadi pusat alam semesta.

Merdeka Karena Berserah

Ironisnya, kebebasan terbesar justru lahir dari penyerahan.

Manusia modern sering mengira kebebasan berarti mampu mengontrol semuanya.

Padahal itu mustahil.

Mengontrol cuaca tidak bisa.

Mengontrol usia tidak bisa.

Mengontrol hati manusia lain tidak bisa.

Mengontrol masa depan tidak bisa.

Kalau begitu, mengapa kita terus memaksa diri melakukan pekerjaan yang bahkan malaikat tidak pernah diperintahkan mengerjakannya?

Ibn Atha'illah mengajak kita pensiun dari jabatan fiktif sebagai Wakil Direktur Takdir.

Kembalilah menjadi hamba.

Kerjakan yang diperintahkan.

Tinggalkan yang dilarang.

Berusaha sebaik mungkin.

Lalu serahkan hasilnya kepada Allah.

Sebab sebagian besar kecemasan hidup ternyata lahir bukan dari beratnya takdir, melainkan dari keras kepala kita yang ingin menjadi pengatur takdir.

Dan mungkin, pada saat kita akhirnya berhenti mengatur langit, kita justru menemukan kedamaian yang selama ini kita cari di bumi.

Karena ternyata surga dunia bukanlah ketika semua keinginan terpenuhi, melainkan ketika hati rela bahwa Allah selalu lebih tahu daripada kita.

Wallahu a'lam.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026