Sebuah Renungan tentang Ketenangan, Rasulullah ﷺ, dan Kebiasaan Manusia Memelihara Kecemasan
Ada satu fenomena aneh dalam kehidupan modern: manusia hari
ini memiliki teknologi yang mampu memotret galaksi berjarak jutaan tahun
cahaya, tetapi masih panik karena status "sedang mengetik..." yang
tidak kunjung berubah menjadi balasan.
Kita hidup di zaman yang sangat kaya informasi sekaligus
sangat miskin ketenangan. Setiap pagi, sebelum sempat mengucapkan
"Alhamdulillah", sebagian orang sudah mengonsumsi sarapan berupa
berita krisis ekonomi, ancaman global, teori konspirasi, ramalan kiamat
digital, dan video seseorang yang dengan penuh keyakinan menjelaskan bahwa
dunia akan berubah total minggu depan. Minggu depannya? Ternyata dunia masih
sama. Yang berubah hanya sumber kecemasannya.
Dalam situasi seperti itu, kajian tentang kemuliaan
Rasulullah ﷺ dan kebersamaan Allah terasa seperti menemukan sumur di tengah
gurun notifikasi.
Tasbih dan Kesalahan Besar Manusia
Kajian tersebut dimulai dengan kata yang sering kita ucapkan
tanpa berpikir panjang: Subhanallah.
Biasanya kata ini keluar ketika melihat pemandangan indah,
harga cabai yang turun, atau ketika seseorang berhasil parkir mundur sekali
masuk tanpa mengulang.
Padahal para ulama menjelaskan bahwa Subhanallah jauh
lebih dalam daripada sekadar ekspresi kagum. Ia adalah pengakuan bahwa Allah
Mahasuci dari segala kekurangan, sementara seluruh makhluk hanyalah debu yang
sedang berusaha terlihat penting.
Masalahnya, manusia sering mengalami gangguan optik
spiritual. Kita melihat diri sendiri seperti tokoh utama film superhero,
padahal di hadapan Allah kita lebih mirip figuran yang bahkan tidak tahu
seluruh naskah cerita.
Karena itulah Imam Al-Ghazali berbicara tentang fanā':
kesadaran bahwa ego manusia hanyalah lilin kecil di bawah matahari. Ia tidak
perlu dipukul hingga padam; cukup disadarkan bahwa ada cahaya yang jauh lebih
besar.
Ironisnya, banyak kecemasan lahir karena kita ingin menjadi
sutradara, produser, penulis skenario, sekaligus pemeran utama kehidupan.
Ketika satu adegan tidak berjalan sesuai rencana, kita protes kepada semesta.
Padahal kita bahkan tidak tahu adegan berikutnya.
Gua Tsur dan Psikologi Orang Panik
Salah satu bagian paling menarik dalam kajian adalah kisah
Gua Tsur.
Bayangkan situasinya. Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar
bersembunyi. Musuh sedang mencari. Secara logika manusia, ini adalah momen yang
sangat layak untuk panik.
Dan Abu Bakar memang cemas.
Ini kabar baik bagi kita.
Karena ternyata orang saleh pun bisa cemas. Kecemasan bukan
dosa. Yang menjadi masalah adalah ketika kecemasan diangkat menjadi menteri
utama dalam pemerintahan hati.
Saat itulah Rasulullah ﷺ mengucapkan kalimat yang mungkin
menjadi salah satu terapi psikologis paling singkat namun paling dahsyat
sepanjang sejarah:
"Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama
kita."
Menariknya, beliau tidak berkata:
"Tenang, saya sudah membuat rencana cadangan."
Beliau juga tidak berkata:
"Tunggu sebentar, saya cek perkembangan situasi di
media sosial."
Beliau mengarahkan perhatian kepada sesuatu yang jauh lebih
besar daripada ancaman yang ada: kebersamaan Allah.
Di sinilah letak rahasia ketenangan.
Banyak orang ingin menghilangkan badai agar tenang.
Para nabi justru mengajarkan cara menjadi tenang meskipun
badai masih ada.
Hobi Manusia Menghitung Makar
Kajian ini juga membahas tentang makar atau rekayasa musuh.
Dan harus diakui, manusia memang memiliki hobi unik:
menghitung kekuatan musuh lebih rajin daripada menghitung pertolongan Allah.
Kita bisa menghafal daftar ancaman dengan sangat detail.
Tetapi ketika ditanya berapa kali Allah menyelamatkan kita
dari masalah yang tidak kita sadari, kita mendadak kehilangan data.
Seolah-olah kita bekerja sebagai analis intelijen bagi
kecemasan.
Padahal Al-Qur'an berulang kali mengingatkan bahwa sejarah
bukanlah pertandingan antara manusia melawan manusia.
Sejarah adalah panggung tempat kehendak Allah bekerja
melalui berbagai peristiwa.
Manusia membuat rencana.
Allah menciptakan realitas.
Perbedaannya cukup jauh.
Ibarat anak kecil menggambar perahu kertas lalu merasa
sedang bersaing dengan samudra.
Al-Kawtsar dan Cara Allah Membalas Ejekan
Surah Al-Kawtsar adalah contoh lain yang menakjubkan.
Ketika musuh-musuh Nabi ﷺ menganggap beliau akan terlupakan,
Allah justru memberikan kabar bahwa merekalah yang akan terputus.
Kalau dipikir-pikir, ini adalah bentuk humor ilahi yang
sangat elegan.
Manusia sering sibuk mengukur kemenangan dengan ukuran yang
pendek: jumlah pengikut, kekuasaan, popularitas, dan sorotan publik.
Allah menggunakan ukuran yang jauh lebih panjang:
keberkahan.
Karena itu ada orang yang memiliki banyak hal tetapi tidak
meninggalkan apa-apa.
Ada pula orang yang hidup sederhana namun jejaknya tetap
mengalir ribuan tahun kemudian.
Rasulullah ﷺ adalah bukti terbesar bahwa keberkahan lebih
kuat daripada propaganda.
Ketenangan Bukan Kasur Empuk
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang ketenangan adalah
menganggapnya sebagai kondisi tanpa masalah.
Padahal ketenangan bukanlah kasur empuk tempat kehidupan
berbaring santai.
Ketenangan adalah kompas.
Ia tidak menghilangkan badai, tetapi membuat kapal tidak
kehilangan arah.
Rasulullah ﷺ tetap berdakwah ketika ditolak.
Beliau tetap berjuang ketika dikepung.
Beliau tetap optimis ketika situasi tampak mustahil.
Artinya, sakinah bukan obat tidur spiritual.
Sakinah adalah tenaga tambahan untuk bergerak.
Jangan Menjadi Grup WhatsApp di Dalam Kepala
Mungkin pelajaran paling penting dari kajian ini adalah
bahwa hati manusia tidak boleh berubah menjadi grup WhatsApp yang tidak pernah
berhenti berbunyi.
Ada saatnya berita harus berhenti.
Ada saatnya analisis harus berhenti.
Ada saatnya ketakutan harus berhenti.
Lalu hati kembali mengingat kalimat sederhana yang pernah
menguatkan Abu Bakar di dalam gua:
"Innallāha ma'anā."
Allah bersama kita.
Kalimat itu tidak membuat gua menjadi istana.
Tidak membuat musuh langsung menghilang.
Tidak membuat jalan perjuangan menjadi mudah.
Tetapi kalimat itu mengubah sesuatu yang lebih penting: cara
memandang seluruh keadaan.
Dan sering kali, ketenangan tidak lahir karena dunia menjadi
lebih ramah.
Ketenangan lahir ketika hati akhirnya sadar bahwa di balik
seluruh keributan zaman, ada Dzat yang tidak pernah kehilangan kendali.
Maka jika suatu hari dunia kembali gaduh, berita kembali
menakutkan, dan pikiran mulai berlarian ke segala arah, mungkin kita tidak
perlu menjadi analis konspirasi paruh waktu.
Cukuplah menjadi hamba yang mengingat bahwa Allah masih
menjadi Tuhan.
Dan sejauh ini, itu terbukti cukup.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026





