Di zaman ketika dompet bisa tipis tapi storage HP 256 GB, manusia menemukan cara baru untuk merasa kaya: punya barang yang bahkan tidak sempat dipakai, tapi sempat dipamerkan. Kita hidup dalam peradaban di mana notifikasi lebih cepat datang daripada kesadaran diri, dan “healing” sering kali berarti pindah dari satu kafe estetik ke kafe estetik lainnya—dengan WiFi yang sedikit lebih kencang, tentu saja.
Lalu datanglah sebuah cerita sederhana: seorang ayah kaya,
dengan niat mulia (dan sedikit aroma konten motivasi LinkedIn), mengirim
anaknya ke keluarga petani miskin. Harapannya jelas: si anak pulang dengan
wajah tercerahkan sambil berkata, “Ayah, ternyata kita sangat beruntung.”
Tapi hidup, seperti biasa, lebih suka plot twist daripada
ekspektasi.
Anaknya pulang dan justru berkata, “Terima kasih, Ayah.
Sekarang aku sadar… kita ini miskin.”
Ayahnya mungkin langsung mengecek saldo rekening, takut-takut banknya ikut bangkrut tanpa pemberitahuan.
Anak itu lalu memaparkan “data empiris” hasil riset
lapangannya—yang, kalau dipresentasikan di seminar, mungkin akan diberi
standing ovation oleh burung-burung dan jangkrik.
Di titik ini, ayahnya mungkin mulai mempertimbangkan menjual rumahnya dan membeli… sawah. Atau minimal, mematikan WiFi selama 10 menit sebagai bentuk tobat digital.
Cerita ini seperti tamparan halus—bukan pakai tangan, tapi
pakai daun pisang—yang mengingatkan kita bahwa kita mungkin terlalu sibuk meng-upgrade
hidup, sampai lupa mengalami hidup itu sendiri.
Kita punya microwave yang bisa memanaskan makanan dalam 30
detik, tapi tidak punya kesabaran untuk menunggu air mendidih tanpa membuka HP.
Kita punya smart TV, tapi percakapan di rumah sering kali buffering.
Kita punya pagar tinggi dan alarm canggih, tapi tetap merasa tidak
aman—terutama dari overthinking sendiri.
Sementara itu, di tempat yang kita sebut “sederhana”, orang-orang punya sesuatu yang mulai langka di kota: waktu yang terasa, hubungan yang tidak di-mute, dan langit yang tidak kalah resolusinya dengan layar 4K.
Namun, mari kita jujur sebentar—tanpa kehilangan selera
humor. Cerita ini memang agak “drama Korea versi pedesaan.” Ia meromantisasi
kemiskinan seolah-olah hidup petani itu selalu diiringi musik latar harpa dan
angin sepoi-sepoi.
Padahal kenyataannya? Petani juga punya masalah: cuaca tidak
bisa di-refresh, panen tidak bisa di-undo, dan hidup tidak
menyediakan tombol skip ad. Ada kerja keras, ada ketidakpastian, ada
keterbatasan nyata yang tidak bisa diselesaikan dengan kutipan inspiratif.
Jadi ya, kalau kita tiba-tiba ingin pindah ke desa setelah baca cerita ini, sebaiknya jangan langsung jual kulkas. Minimal belajar dulu cara menanam cabai—karena cabai bukan aplikasi yang bisa di-install.
Lalu apa yang sebenarnya ingin disampaikan cerita ini?
Sederhana: kita mungkin sedang mengalami kemiskinan yang
tidak terlihat di laporan keuangan. Semacam affluenza—penyakit
kelebihan harta tapi kekurangan makna. Kita kaya secara materi, tapi miskin
dalam hal perhatian, kehadiran, dan kemampuan menikmati hal kecil tanpa perlu
difoto dulu.
Kita terlalu sering melihat dunia lewat layar, sampai lupa bahwa dunia itu tidak butuh brightness adjustment—yang butuh penyesuaian justru cara kita melihat.
Jadi, apakah solusinya harus kembali ke hutan, memeluk
pohon, dan berteman dengan kambing?
Tidak juga.
Mungkin cukup dengan hal-hal kecil: sesekali duduk tanpa
distraksi, melihat langit tanpa niat mengunggahnya ke Instagram, berbicara
dengan orang tanpa sambil mengecek notifikasi, dan menyadari bahwa tidak semua
yang berharga bisa dimasukkan ke dalam keranjang belanja.
Karena pada akhirnya, kekayaan sejati itu bukan soal
seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa dalam kita bisa hadir dalam apa
yang sudah ada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.