Senin, 04 Mei 2026

Kaya Raya Tapi Kehilangan Bulan: Sebuah Esai Jenaka tentang Kemiskinan Modern

Di zaman ketika dompet bisa tipis tapi storage HP 256 GB, manusia menemukan cara baru untuk merasa kaya: punya barang yang bahkan tidak sempat dipakai, tapi sempat dipamerkan. Kita hidup dalam peradaban di mana notifikasi lebih cepat datang daripada kesadaran diri, dan “healing” sering kali berarti pindah dari satu kafe estetik ke kafe estetik lainnya—dengan WiFi yang sedikit lebih kencang, tentu saja.

Lalu datanglah sebuah cerita sederhana: seorang ayah kaya, dengan niat mulia (dan sedikit aroma konten motivasi LinkedIn), mengirim anaknya ke keluarga petani miskin. Harapannya jelas: si anak pulang dengan wajah tercerahkan sambil berkata, “Ayah, ternyata kita sangat beruntung.”

Tapi hidup, seperti biasa, lebih suka plot twist daripada ekspektasi.

Anaknya pulang dan justru berkata, “Terima kasih, Ayah. Sekarang aku sadar… kita ini miskin.”

Ayahnya mungkin langsung mengecek saldo rekening, takut-takut banknya ikut bangkrut tanpa pemberitahuan.

Anak itu lalu memaparkan “data empiris” hasil riset lapangannya—yang, kalau dipresentasikan di seminar, mungkin akan diberi standing ovation oleh burung-burung dan jangkrik.

“Kita cuma punya satu anjing, mereka punya empat.”
(Kita: minimalis. Mereka: overqualified.)

“Kita punya kolam renang dengan air kimia, mereka punya sungai jernih penuh ikan.”
(Kita berenang sambil khawatir mata merah. Mereka berenang sambil disapa ikan.)

“Kita punya lampu taman, mereka punya bulan dan bintang.”
(Kita bayar listrik. Mereka langganan galaksi—gratis, tanpa iklan.)

“Kebun kita dibatasi tembok, kebun mereka sampai ke ufuk.”
(Kita: property developer. Mereka: Tuhan langsung.)

“Hiburan kita dari CD dan layar, mereka dari konser live alam.”
(Kita streaming. Mereka surround system 360 derajat tanpa buffering.)

Dan puncaknya:
“Kita punya koneksi ke HP dan TV… mereka punya koneksi ke kehidupan.”

Di titik ini, ayahnya mungkin mulai mempertimbangkan menjual rumahnya dan membeli… sawah. Atau minimal, mematikan WiFi selama 10 menit sebagai bentuk tobat digital.

Cerita ini seperti tamparan halus—bukan pakai tangan, tapi pakai daun pisang—yang mengingatkan kita bahwa kita mungkin terlalu sibuk meng-upgrade hidup, sampai lupa mengalami hidup itu sendiri.

Kita punya microwave yang bisa memanaskan makanan dalam 30 detik, tapi tidak punya kesabaran untuk menunggu air mendidih tanpa membuka HP. Kita punya smart TV, tapi percakapan di rumah sering kali buffering. Kita punya pagar tinggi dan alarm canggih, tapi tetap merasa tidak aman—terutama dari overthinking sendiri.

Sementara itu, di tempat yang kita sebut “sederhana”, orang-orang punya sesuatu yang mulai langka di kota: waktu yang terasa, hubungan yang tidak di-mute, dan langit yang tidak kalah resolusinya dengan layar 4K.

Namun, mari kita jujur sebentar—tanpa kehilangan selera humor. Cerita ini memang agak “drama Korea versi pedesaan.” Ia meromantisasi kemiskinan seolah-olah hidup petani itu selalu diiringi musik latar harpa dan angin sepoi-sepoi.

Padahal kenyataannya? Petani juga punya masalah: cuaca tidak bisa di-refresh, panen tidak bisa di-undo, dan hidup tidak menyediakan tombol skip ad. Ada kerja keras, ada ketidakpastian, ada keterbatasan nyata yang tidak bisa diselesaikan dengan kutipan inspiratif.

Jadi ya, kalau kita tiba-tiba ingin pindah ke desa setelah baca cerita ini, sebaiknya jangan langsung jual kulkas. Minimal belajar dulu cara menanam cabai—karena cabai bukan aplikasi yang bisa di-install.

Lalu apa yang sebenarnya ingin disampaikan cerita ini?

Sederhana: kita mungkin sedang mengalami kemiskinan yang tidak terlihat di laporan keuangan. Semacam affluenza—penyakit kelebihan harta tapi kekurangan makna. Kita kaya secara materi, tapi miskin dalam hal perhatian, kehadiran, dan kemampuan menikmati hal kecil tanpa perlu difoto dulu.

Kita terlalu sering melihat dunia lewat layar, sampai lupa bahwa dunia itu tidak butuh brightness adjustment—yang butuh penyesuaian justru cara kita melihat.

Jadi, apakah solusinya harus kembali ke hutan, memeluk pohon, dan berteman dengan kambing?

Tidak juga.

Mungkin cukup dengan hal-hal kecil: sesekali duduk tanpa distraksi, melihat langit tanpa niat mengunggahnya ke Instagram, berbicara dengan orang tanpa sambil mengecek notifikasi, dan menyadari bahwa tidak semua yang berharga bisa dimasukkan ke dalam keranjang belanja.

Karena pada akhirnya, kekayaan sejati itu bukan soal seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa dalam kita bisa hadir dalam apa yang sudah ada.

Dan kalau suatu hari Anda melihat bulan tanpa memotretnya—selamat.
Anda mungkin sedang sedikit… menjadi kaya.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.