Di sebuah danau yang barangkali lebih jernih daripada timeline kita, Jorge Bucay menulis kisah sederhana: Kebohongan dan Kebenaran berenang bersama. Semuanya damai, sampai Kebohongan melakukan hal yang sangat manusiawi—memanfaatkan momen, mengambil kesempatan, dan… ya, mencuri baju.
Sejak saat itu, sejarah berubah. Bukan karena perang, bukan
karena revolusi, tapi karena outfit.
Ketika Wardrobe Lebih Penting daripada Worldview
Mari kita jujur (walau agak berisiko jadi tidak populer):
manusia itu bukan makhluk pencari kebenaran. Kita ini lebih mirip makhluk
pencari kenyamanan dengan estetika yang layak diunggah.
Kebenaran sering datang seperti tamu tak diundang:
- tanpa
basa-basi
- tanpa
make-up
- dan
kadang membawa kabar buruk tanpa disclaimer “trigger warning”
Sebaliknya, Kebohongan tahu cara masuk ke ruang tamu batin
kita:
- ia
mengetuk pelan
- membawa
presentasi PowerPoint
- dan
membuka dengan kalimat, “Menurut riset terbaru…”
Padahal risetnya dari grup WhatsApp keluarga.
Otak Kita: Lebih Suka Yang Enak daripada Yang Benar
Secara psikologis, kita ini sahabat dekatnya Leon
Festinger—penemu konsep cognitive dissonance. Artinya sederhana: kita
tidak suka merasa salah, apalagi kalau sudah capek-capek yakin.
Dan kita pun terharu. Bahkan mungkin share.
Era Post-Truth: Saat Kebohongan Sudah Punya Personal
Branding
Masalahnya sekarang, kita tidak lagi hidup di zaman
Kebohongan polos. Kita hidup di era Kebohongan yang sudah ikut kursus public
speaking, belajar data visualization, dan punya akun media sosial
dengan centang biru.
Di era post-truth, kebenaran tidak lagi diukur dari
fakta, tapi dari feel-nya:
- Apakah
terdengar meyakinkan?
- Apakah
sesuai dengan keyakinan saya?
- Apakah
bisa dijadikan caption?
Kalau iya, selamat—itu kemungkinan besar Kebohongan yang
sudah glow up.
Plato Sudah Bilang, Tapi Kita Lagi Sibuk Scroll
Fenomena ini sebenarnya sudah lama diingatkan oleh Plato
lewat alegori gua. Manusia lebih suka bayangan daripada realitas.
2026: Ketika Kebohongan Tidak Lagi Berbohong Sendirian
Masuk tahun 2026, situasinya makin menarik (atau
mengkhawatirkan, tergantung tingkat optimisme Anda). Dengan AI, deepfake,
dan konten generatif, Kebohongan tidak lagi perlu repot mencuri baju—ia bisa desain
sendiri, lengkap dengan ukuran yang pas dan warna yang sedang tren.
Bahkan kadang, kita sendiri yang menjahitkan bajunya:
- dengan
membagikan informasi tanpa cek
- dengan
membela narasi yang kita suka
- atau
dengan menolak fakta karena “tidak enak didengar”
Jadi, kalau dulu Kebohongan mencuri pakaian Kebenaran,
sekarang… kita buka butik untuknya.
Belajar Tidak Jijik pada Kebenaran
Dan ketika ada seseorang yang berbicara blak-blakan, tanpa
kemasan, tanpa diplomasi, tanpa soft launching—jangan buru-buru ilfeel.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.