Minggu, 03 Mei 2026

Hijrah Bukan Status: Ketika Hati Pindah, Tapi Bio Instagram Ikut Ribut

Di zaman ketika notifikasi lebih sering kita cek daripada detak jantung sendiri, manusia modern mengalami satu fenomena unik: sibuk sekali, tapi bingung mau ke mana. Kita lari ke sana-sini—ngejar karier, validasi, dan diskon tanggal kembar—namun tetap saja merasa kosong. Di titik inilah ajaran tasawuf, terutama dari Ibnu Atha'illah as-Sakandari lewat kitab Al-Hikam, datang seperti oase di tengah gurun notifikasi: menyegarkan, tapi juga sedikit menampar.

Lari dari Allah: Olahraga Paling Melelahkan

Mari kita mulai dari keanehan paling mendasar: manusia suka sekali “lari” dari Allah. Lari ke pekerjaan, ke harta, ke ambisi, bahkan kadang ke ibadah—yang anehnya juga bisa jadi ajang pamer. Padahal, kalau dipikir-pikir, ini seperti ikan yang panik lalu melompat keluar dari laut untuk menghindari air.

Masalahnya bukan pada larinya, tapi pada arah dan niatnya. Kita meninggalkan yang abadi demi yang sementara. Menukar emas dengan bungkus permen—dan herannya, kita bangga.

Lebih tragis lagi, ini bukan sekadar salah pilih, tapi tanda mata hati sedang “error 404: tidak ditemukan.” Dalam istilah tasawuf, bashirah kita lagi buram. Akibatnya? Kita menganggap dunia sebagai segalanya, lalu kaget sendiri ketika hidup terasa seperti kerja kelompok tapi semua anggota menghilang.

Hijrah: Dari Lemari ke Timeline?

Sekarang kita masuk ke topik sensitif: hijrah.

Di era media sosial, hijrah seringkali berubah dari perjalanan batin menjadi… proyek branding. Dari yang awalnya niat mendekat kepada Allah, pelan-pelan bergeser jadi: “Bagaimana caranya terlihat lebih islami dalam 3 langkah mudah.”

Ganti baju? Centang.
Update bio? Centang.
Posting quote? Jangan lupa watermark.

Padahal, menurut perspektif sufistik, hijrah itu bukan pindah gaya—tapi pindah arah hati. Bukan sekadar before-after di feed, tapi within-after di jiwa.

Hijrah sejati adalah perjalanan ilallah (menuju Allah) dan billallah (bersama Allah). Dan ini proses seumur hidup, bukan paket 30 hari jadi saleh. Tidak ada sertifikatnya, apalagi checklist-nya.

Jadi kalau hijrah kita bikin kita makin sibuk menilai orang lain, mungkin yang pindah bukan hati—tapi standar penghakiman.

Ketika Hijrah Berubah Jadi Kompetisi

Nah, ini yang agak rawan: ketika hijrah dijadikan alat untuk merasa lebih baik dari orang lain.

“Dia belum hijrah.”
“Saya sudah, alhamdulillah.”

Kalimat sederhana, tapi aromanya bisa langsung mengingatkan kita pada satu tokoh klasik: Iblis. Ia juga punya masalah yang sama—merasa lebih unggul. Bedanya, dia pakai argumen bahan baku (“aku dari api, dia dari tanah”), kita pakai argumen outfit dan konten.

Padahal, semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin sadar bahwa dirinya… ya, tidak ada apa-apanya. Bukan makin tinggi hati, tapi makin rendah—secara elegan, bukan minder.

Dalam bahasa tasawuf: merasa maha fakir di hadapan Yang Maha Kaya. Jadi bukan, “Saya sudah sampai,” tapi lebih ke, “Saya bahkan belum tahu jalan masuknya di mana.”

Hidup Seperti Keledai Multitasking

Di sisi lain, kajian ini juga menyindir gaya hidup modern kita yang luar biasa sibuk—tapi sering tanpa arah. Bangun, kerja, target, cicilan, tidur, ulang lagi. Seperti keledai yang muter di penggilingan: bergerak terus, tapi tidak pernah benar-benar sampai.

Capek? Pasti.
Bermakna? Belum tentu.

Tasawuf datang bukan untuk menyuruh kita berhenti kerja dan pindah ke gua (itu beda channel), tapi untuk mengoreksi orientasi. Bekerja tetap, berusaha tetap—tapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.

Karena kalau dunia jadi tujuan, kita akan terus merasa kurang. Tapi kalau Allah jadi tujuan, bahkan yang sedikit bisa terasa cukup.

Tidak Ada Jarak, Hanya Lupa

Akhirnya, inti dari semua ini cukup sederhana—dan justru karena itu sering kita abaikan: tidak ada jarak antara kita dengan Allah.

Yang ada hanya lupa.

Kita tidak jauh. Kita hanya terdistraksi.

Hijrah, dalam arti paling dalam, adalah berpindah dari lupa ke ingat. Dari pencitraan ke kejujuran. Dari sibuk terlihat baik… menjadi diam-diam benar.

Dan yang menarik, orang yang benar-benar hijrah biasanya tidak ribut soal status. Tidak sibuk mendeklarasikan diri. Bahkan kadang kita tidak sadar—tahu-tahu dia sudah jauh lebih tenang, lebih rendah hati, dan lebih “nyambung” dengan hidup.

Sementara kita? Masih update story.

Jadi, kalau boleh disimpulkan secara jenaka:
Hijrah itu bukan soal “sudah berubah apa belum,”
tapi “masih sibuk terlihat berubah, atau diam-diam benar-benar berubah.”

Dan kalau suatu hari kita merasa sudah sangat baik—mungkin itu tanda kecil untuk… mulai hijrah lagi.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.