Di zaman ketika notifikasi lebih sering kita cek daripada detak jantung sendiri, manusia modern mengalami satu fenomena unik: sibuk sekali, tapi bingung mau ke mana. Kita lari ke sana-sini—ngejar karier, validasi, dan diskon tanggal kembar—namun tetap saja merasa kosong. Di titik inilah ajaran tasawuf, terutama dari Ibnu Atha'illah as-Sakandari lewat kitab Al-Hikam, datang seperti oase di tengah gurun notifikasi: menyegarkan, tapi juga sedikit menampar.
Lari dari Allah: Olahraga Paling Melelahkan
Mari kita mulai dari keanehan paling mendasar: manusia suka
sekali “lari” dari Allah. Lari ke pekerjaan, ke harta, ke ambisi, bahkan kadang
ke ibadah—yang anehnya juga bisa jadi ajang pamer. Padahal, kalau
dipikir-pikir, ini seperti ikan yang panik lalu melompat keluar dari laut untuk
menghindari air.
Masalahnya bukan pada larinya, tapi pada arah dan niatnya.
Kita meninggalkan yang abadi demi yang sementara. Menukar emas dengan bungkus
permen—dan herannya, kita bangga.
Lebih tragis lagi, ini bukan sekadar salah pilih, tapi tanda
mata hati sedang “error 404: tidak ditemukan.” Dalam istilah tasawuf, bashirah
kita lagi buram. Akibatnya? Kita menganggap dunia sebagai segalanya, lalu kaget
sendiri ketika hidup terasa seperti kerja kelompok tapi semua anggota
menghilang.
Hijrah: Dari Lemari ke Timeline?
Sekarang kita masuk ke topik sensitif: hijrah.
Di era media sosial, hijrah seringkali berubah dari
perjalanan batin menjadi… proyek branding. Dari yang awalnya niat mendekat
kepada Allah, pelan-pelan bergeser jadi: “Bagaimana caranya terlihat lebih
islami dalam 3 langkah mudah.”
Padahal, menurut perspektif sufistik, hijrah itu bukan
pindah gaya—tapi pindah arah hati. Bukan sekadar before-after di feed,
tapi within-after di jiwa.
Hijrah sejati adalah perjalanan ilallah (menuju
Allah) dan billallah (bersama Allah). Dan ini proses seumur hidup, bukan
paket 30 hari jadi saleh. Tidak ada sertifikatnya, apalagi checklist-nya.
Jadi kalau hijrah kita bikin kita makin sibuk menilai orang
lain, mungkin yang pindah bukan hati—tapi standar penghakiman.
Ketika Hijrah Berubah Jadi Kompetisi
Nah, ini yang agak rawan: ketika hijrah dijadikan alat untuk
merasa lebih baik dari orang lain.
Kalimat sederhana, tapi aromanya bisa langsung mengingatkan
kita pada satu tokoh klasik: Iblis. Ia juga punya masalah yang sama—merasa
lebih unggul. Bedanya, dia pakai argumen bahan baku (“aku dari api, dia dari
tanah”), kita pakai argumen outfit dan konten.
Padahal, semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya
semakin sadar bahwa dirinya… ya, tidak ada apa-apanya. Bukan makin tinggi hati,
tapi makin rendah—secara elegan, bukan minder.
Dalam bahasa tasawuf: merasa maha fakir di hadapan
Yang Maha Kaya. Jadi bukan, “Saya sudah sampai,” tapi lebih ke, “Saya bahkan
belum tahu jalan masuknya di mana.”
Hidup Seperti Keledai Multitasking
Di sisi lain, kajian ini juga menyindir gaya hidup modern
kita yang luar biasa sibuk—tapi sering tanpa arah. Bangun, kerja, target,
cicilan, tidur, ulang lagi. Seperti keledai yang muter di penggilingan:
bergerak terus, tapi tidak pernah benar-benar sampai.
Tasawuf datang bukan untuk menyuruh kita berhenti kerja dan
pindah ke gua (itu beda channel), tapi untuk mengoreksi orientasi. Bekerja
tetap, berusaha tetap—tapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.
Karena kalau dunia jadi tujuan, kita akan terus merasa
kurang. Tapi kalau Allah jadi tujuan, bahkan yang sedikit bisa terasa cukup.
Tidak Ada Jarak, Hanya Lupa
Akhirnya, inti dari semua ini cukup sederhana—dan justru
karena itu sering kita abaikan: tidak ada jarak antara kita dengan Allah.
Yang ada hanya lupa.
Kita tidak jauh. Kita hanya terdistraksi.
Hijrah, dalam arti paling dalam, adalah berpindah dari lupa
ke ingat. Dari pencitraan ke kejujuran. Dari sibuk terlihat baik… menjadi
diam-diam benar.
Dan yang menarik, orang yang benar-benar hijrah biasanya
tidak ribut soal status. Tidak sibuk mendeklarasikan diri. Bahkan kadang kita
tidak sadar—tahu-tahu dia sudah jauh lebih tenang, lebih rendah hati, dan lebih
“nyambung” dengan hidup.
Sementara kita? Masih update story.
Dan kalau suatu hari kita merasa sudah sangat baik—mungkin
itu tanda kecil untuk… mulai hijrah lagi.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.