Sabtu, 02 Mei 2026

Kebohongan Telanjang: Ketika Semua Tahu, Tapi Tetap Pura-Pura Kaget

Ada satu momen dalam hidup modern yang rasanya sangat universal: kita membaca sebuah pernyataan publik, mengernyitkan dahi, lalu bergumam dalam hati, “Ya kali…” Tapi anehnya, kita tetap lanjut scroll, minum kopi, dan hidup berjalan seperti biasa. Di titik inilah Aleksandr Solzhenitsyn muncul seperti tamu tak diundang, membisikkan kutipan legendarisnya tentang kebohongan yang semua orang sudah tahu—termasuk si pembohong itu sendiri.

Kalau kutipan itu adalah sebuah pesta, maka isinya adalah orang-orang yang saling tahu siapa yang bawa makanan basi—tapi tetap dimakan sambil tersenyum. Lebih absurd lagi, yang bawa makanan basi juga tahu kalau semua orang tahu makanannya basi. Namun, dengan penuh percaya diri, dia tetap berkata, “Ini fresh dari oven.” Dan semua orang mengangguk. Sedikit mual, tapi tetap sopan.

Di sinilah letak kejeniusan sekaligus kejenakaan pahit dari Solzhenitsyne. Ia tidak sedang mengungkap kebohongan biasa—yang masih punya harapan untuk dipercaya. Ia sedang membongkar kebohongan telanjang, yang bahkan sudah tidak repot-repot pakai selimut. Ini bukan lagi soal menipu, tapi soal siapa yang paling kuat memaksa semua orang untuk ikut pura-pura tertipu.

Bayangkan sebuah teater raksasa. Semua orang adalah aktor, tapi tidak ada yang ikut audisi. Naskahnya sudah jelas: “Kita semua percaya.” Padahal di balik panggung, semua tahu itu bohong. Namun justru karena semua tahu, tidak ada yang merasa perlu mengoreksi. Ini semacam kesepakatan diam-diam: “Saya tidak akan membongkar kebohonganmu, asal kamu juga tidak membongkar kepura-puraanku.”

Secara psikologis, ini seperti permainan “siapa yang duluan kedip.” Kita tahu bahwa orang lain tahu, dan orang lain tahu bahwa kita tahu. Tapi bertindak? Wah, itu urusan lain. Risiko sosialnya lebih besar daripada sekadar menelan kebohongan mentah-mentah. Akhirnya, kita semua jadi ahli dalam satu hal: berpura-pura tidak sadar sambil sangat sadar.

Lucunya, di era media sosial, fenomena ini justru makin canggih. Dulu, propaganda mungkin butuh poster besar dan pidato berapi-api. Sekarang? Cukup satu unggahan dengan font tegas dan musik dramatis. Kita tahu itu manipulatif. Mereka tahu kita tahu. Bahkan algoritma mungkin juga tahu kita tahu. Tapi tetap saja, kontennya viral, dibagikan, dan dibahas dengan serius—seolah-olah kita semua sedang ikut permainan tebak-tebakan yang jawabannya sudah tertulis di papan.

Di titik ini, kebohongan bukan lagi soal benar atau salah. Ia berubah jadi semacam olahraga kolektif. Ada yang jadi pelatih (pembuat narasi), ada yang jadi pemain (yang mengulang), dan ada yang jadi penonton (yang sinis tapi tetap nonton). Dan seperti olahraga pada umumnya, yang penting bukan menang atau kalah—tapi tetap ikut bermain.

Namun, Solzhenitsyne—dengan segala pengalaman pahitnya di Gulag—tidak sedang bercanda. Ia justru sedang menyindir kita semua. Katanya, masalah terbesar bukan pada kebohongan itu sendiri, tapi pada kita yang membiarkannya hidup nyaman. Karena setiap kali kita memilih diam, kita sebenarnya ikut menandatangani kontrak tak tertulis: “Silakan lanjutkan.”

Tentu saja, tidak semua orang punya keberanian untuk berdiri dan berkata, “Hei, ini bohong.” Kadang risikonya terlalu besar, kadang manfaatnya terasa terlalu kecil. Tapi di situlah ironi terbesar: kita hidup dalam dunia di mana kebenaran sudah jadi rahasia umum—dan justru karena itu, ia kehilangan daya kejutnya.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Mungkin tidak harus langsung jadi pahlawan revolusi. Kadang cukup dengan satu langkah kecil: tidak ikut mengulang kebohongan itu. Tidak ikut tertawa pada lelucon yang kita tahu tidak lucu. Atau minimal, tidak ikut bertepuk tangan pada sandiwara yang kita tahu naskahnya sudah basi.

Karena pada akhirnya, pertanyaan Solzhenitsyne tetap menghantui dengan nada yang hampir jenaka: kalau semua orang di ruangan ini tahu ini bohong… kenapa kita masih duduk manis, sambil pura-pura menikmati pertunjukannya?

Mungkin jawabannya sederhana. Bukan karena kita bodoh. Tapi karena kita terlalu pintar untuk tahu—dan terlalu lelah untuk peduli.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.