Jumat, 01 Mei 2026

Memex di Saku Kita: Ketika Ramalan 1945 Nyasar Jadi Notifikasi 2026

Bayangkan ini: tahun 1945, dunia baru saja selesai perang besar, orang-orang masih sibuk memperbaiki puing-puing… lalu seorang ilmuwan duduk, menulis esai, dan tanpa sadar menciptakan nenek moyang dari scroll tanpa akhir yang kita lakukan sebelum tidur. Nama ilmuwan itu adalah Vannevar Bush—dan kalau beliau masih hidup hari ini, mungkin beliau akan berkata, “Saya bikin Memex buat ilmu pengetahuan… kok jadinya orang nonton kucing joget?”

Memex: Niat Awal Ilmiah, Takdir Akhirnya Rebahan

Dalam esainya As We May Think, Bush membayangkan sebuah mesin bernama Memex—singkatan dari Memory Extender. Bayangannya sederhana tapi jenius: satu alat yang bisa menyimpan semua buku, catatan, foto, dan surat, lalu menghubungkannya lewat “jalur asosiatif”.

Kalau diterjemahkan ke bahasa kita hari ini:
Memex = HP kamu + 72 tab browser yang nggak pernah ditutup + screenshot yang niatnya mau dibaca tapi tidak pernah dibuka lagi.

Bush membayangkan manusia akan berpindah dari satu ide ke ide lain dengan elegan, seperti ilmuwan yang sedang berpikir mendalam. Realitanya? Kita berpindah dari artikel serius ke video “cara masak mie instan level dewa” dalam waktu 3 detik.

Dari Memex ke Internet: Ketika Ide Jadi Takdir

Apa yang lebih lucu dari ramalan yang tepat? Ramalan yang terlalu tepat.

Orang-orang seperti Tim Berners-Lee, Douglas Engelbart, dan Ted Nelson membaca ide Bush, lalu berkata:
“Wah ini keren, mari kita wujudkan.”

Dan boom—lahirlah internet, hypertext, dan seluruh ekosistem digital. Setiap kali kamu klik tautan biru, itu sebenarnya warisan intelektual Bush. Setiap kali kamu buka 15 tab sekaligus, itu juga warisan Bush… meskipun mungkin bukan yang dia harapkan.

Masalah yang Diprediksi Bush: Kita Mengalaminya Sambil Makan Gorengan

Bush sudah melihat masalah besar: ledakan informasi.
Ia khawatir manusia tidak akan mampu mengikuti arus pengetahuan yang terlalu cepat.

Hari ini, kekhawatiran itu menjelma menjadi:

  • 3.000 email belum dibaca

  • 27 grup WhatsApp yang semuanya “penting”

  • Notifikasi yang muncul bahkan saat kita lagi niat jadi manusia lebih baik

Bush membayangkan solusi yang membantu manusia berpikir lebih dalam.
Kita justru menemukan cara baru untuk tidak berpikir sama sekali, tapi tetap merasa sibuk.

Jalur Asosiatif vs Algoritma: Dari Ilmuwan ke Influencer

Bush membayangkan seorang ilmuwan membuat “jalur pengetahuan”—semacam peta intelektual yang bisa diikuti orang lain.

Hari ini, jalur itu digantikan oleh algoritma yang berkata:
“Kalau kamu suka satu video, kamu pasti juga suka 49 video lain yang membuatmu lupa waktu.”

Dari associative trails menjadi addictive scroll.
Dari kolaborasi ilmiah menjadi “konten yang lagi viral, jangan sampai ketinggalan.”

Bush ingin kita menjadi lebih bijak.
Algoritma ingin kita tetap online.

Ironi Paling Halus dalam Sejarah Teknologi

Yang paling jenaka dari semua ini adalah:
Bush bukan orang sembarangan. Ia adalah ilmuwan besar yang terlibat dalam proyek raksasa seperti Manhattan Project.

Ia membantu menciptakan teknologi yang mengubah dunia secara fisik—lalu juga membayangkan teknologi yang mengubah dunia secara mental.

Dan entah bagaimana, dari dua hal besar itu, manusia memilih menggunakan hasil akhirnya untuk:

  • debat di kolom komentar

  • stalking mantan

  • dan mencari diskon tengah malam

Kita Hidup dalam Memex… Tapi Jadi Siapa?

Akhirnya, kita harus jujur:
kita memang hidup di dalam visi Vannevar Bush.

Tapi pertanyaannya bukan lagi:
“Seberapa canggih teknologinya?”

Melainkan:
“Apakah kita benar-benar menggunakan Memex untuk berpikir… atau hanya untuk menghindari berpikir?”

Karena di tangan Bush, Memex adalah alat untuk memperluas pikiran.
Di tangan kita, kadang ia berubah jadi alat untuk memperluas jam rebahan.

Dan mungkin, di situlah letak humornya:
sebuah mesin yang dirancang untuk membuat manusia lebih cerdas, justru sering kita gunakan untuk menunda jadi cerdas—besok saja.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.