Ada masa ketika manusia makan sambil duduk. Sekarang manusia makan sambil mengecas ponsel, membalas pesan, melihat diskon sepatu, dan sesekali mengingat bahwa nasi di depannya sudah dingin seperti hubungan tanpa komunikasi. Dunia memang bergerak cepat. Bahkan kadang terlalu cepat sampai jiwa kita tertinggal beberapa halte di belakang tubuh.
Di tengah perlombaan global yang mirip acara diskon akhir
tahun—semua orang saling dorong sambil berteriak “cepat sebelum
habis!”—muncullah seorang pastor tua dari Prancis bernama Guy Gilbert dengan
kritik yang terdengar sederhana namun terasa seperti tamparan lembut memakai
roti baguette: “Dunia sudah gila dan bergerak terlalu cepat.”
Lucunya, kutipan itu viral di media sosial. Ya, seperti
orang berkampanye hidup sehat sambil makan gorengan di depan treadmill. Ironi
memang hobi favorit zaman modern.
Peradaban Tombol “Skip Ad”
Menurut Gilbert, manusia modern sudah kehilangan kemampuan
menikmati hidup secara utuh. Kita tidak lagi makan—kita “mengisi bensin
biologis”. Kita tidak lagi berbicara—kita hanya melempar emoji seperti petani
menabur pakan lele. Kita tidak lagi membaca berita—kita hanya menggulir layar
dengan kecepatan seorang ninja ADHD.
Hidup kita sekarang mirip remote televisi rusak: pencet,
pindah. Pencet, pindah. Pencet, pindah. Tidak ada yang benar-benar tinggal
cukup lama di hati.
Kita membuka lima aplikasi dalam tiga menit lalu lupa sedang
mencari apa. Kadang kita membuka kulkas bukan karena lapar, tetapi karena jiwa
sedang buffering.
Inilah tragedi modern: manusia menjadi makhluk tercepat yang
paling bingung.
Dulu orang kehilangan sandal. Sekarang orang kehilangan
fokus, tidur, makna hidup, dan password email dalam waktu bersamaan.
Hustle Culture: Ketika Istirahat Dianggap Dosa Ringan
Kalimat itu terdengar seperti medali kehormatan.
Padahal sering kali “sibuk” hanya berarti:
- membuka
17 tab browser,
- menjawab
chat sambil panik,
- dan
pura-pura produktif agar tidak merasa hidupnya kosong.
Dunia modern memuja kecepatan seperti anak kecil memuja
odong-odong: makin berputar makin dianggap menyenangkan, padahal semua orang
tetap di tempat yang sama sambil pusing.
Budaya hustle membuat manusia merasa bersalah ketika
beristirahat. Duduk diam lima menit saja terasa seperti korupsi waktu negara.
Padahal jiwa manusia itu bukan motor balap. Ia lebih mirip
kebun kecil. Kalau terus dipaksa panen tanpa diberi hujan, akhirnya yang tumbuh
cuma debu dan overthinking.
Notifikasi: Azan Baru Peradaban Digital
Dan anehnya, semua terasa mendesak.
Kita hidup dalam ekonomi perhatian, di mana perusahaan
teknologi berebut waktu kita seperti pedagang pasar berebut pembeli cabai
menjelang Lebaran. Semakin lama kita menatap layar, semakin kaya mereka. Maka
algoritma dirancang agar kita terus menggulir tanpa sadar, seperti kambing yang
terus makan rumput sintetis.
Gilbert memahami sesuatu yang sering dilupakan zaman modern:
perhatian adalah bentuk cinta.
Kalau perhatian kita dicuri terus-menerus, lama-lama kita
tidak bisa mencintai apa pun secara penuh. Bahkan secangkir teh pun kalah
bersaing dengan notifikasi promo gratis ongkir.
Melambat Itu Bukan Malas
Ajakan Gilbert untuk melambat sering disalahpahami. Banyak
orang mengira hidup lambat berarti rebahan sambil menonton serial delapan musim
dan menyebutnya “healing”.
Bukan itu maksudnya.
Melambat bukan berarti berhenti hidup. Melambat berarti
hadir penuh dalam hidup.
Seekor kura-kura mungkin lambat, tetapi ia tahu ke mana
pergi. Sedangkan manusia modern kadang berlari seperti peserta maraton yang
lupa lokasi garis finis.
Melambat bisa sesederhana:
- makan
tanpa menonton video,
- berjalan
tanpa headset,
- mendengarkan
orang tanpa memikirkan balasan,
- atau
duduk sore sambil melihat langit tanpa merasa harus memotretnya dulu.
Sederhana sekali. Justru itu yang membuatnya sulit.
Karena manusia modern takut diam.
Diam membuat kita mendengar isi kepala sendiri. Dan sering
kali isi kepala itu lebih berisik daripada konser dangdut koplo.
Dunia Tidak Membutuhkan Kita Secepat Itu
Ada satu kebohongan besar dalam peradaban modern:
seolah-olah semuanya darurat.
Padahal kalau kita terlambat membalas pesan lima belas
menit, bumi tetap mengorbit. Matahari tetap terbit. Tetangga tetap menjemur
kasur.
Kita ini bukan pusat galaksi. Kadang kita bahkan bukan pusat
grup WhatsApp keluarga.
Dan mungkin di situlah letak spiritualitas kelambatan. Ia
mengajarkan bahwa nilai hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang kita
lakukan, tetapi dari seberapa sadar kita menjalani yang sedikit itu.
Sebab kopi paling nikmat bukan kopi yang diminum
terburu-buru sebelum rapat Zoom, melainkan kopi yang sempat diajak berbincang
oleh kesunyian.
Menjadi Manusia Lagi
Pada akhirnya, kritik Gilbert bukan ajakan kembali ke gua
tanpa internet. Ia hanya mengingatkan bahwa teknologi seharusnya membantu
hidup, bukan menggantikan pengalaman hidup itu sendiri.
Kita boleh memakai AI, media sosial, dan teknologi
supercepat. Tetapi jangan sampai jiwa kita ikut menjadi aplikasi: selalu
loading, cepat panas, dan butuh update setiap malam.
Mungkin keberanian terbesar hari ini bukan bekerja sampai
burnout, melainkan berani berhenti sejenak tanpa merasa bersalah.
Karena hidup bukan lomba siapa paling sibuk.
Hidup lebih mirip menikmati semangkuk bakso di hari hujan:
kalau dimakan terlalu cepat, lidah terbakar dan kuahnya tidak terasa.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.