Senin, 25 Mei 2026

Ketika Manusia Menjadi Mi Instan: Melambat di Tengah Dunia yang Kesurupan WiFi

Ada masa ketika manusia makan sambil duduk. Sekarang manusia makan sambil mengecas ponsel, membalas pesan, melihat diskon sepatu, dan sesekali mengingat bahwa nasi di depannya sudah dingin seperti hubungan tanpa komunikasi. Dunia memang bergerak cepat. Bahkan kadang terlalu cepat sampai jiwa kita tertinggal beberapa halte di belakang tubuh.

Di tengah perlombaan global yang mirip acara diskon akhir tahun—semua orang saling dorong sambil berteriak “cepat sebelum habis!”—muncullah seorang pastor tua dari Prancis bernama Guy Gilbert dengan kritik yang terdengar sederhana namun terasa seperti tamparan lembut memakai roti baguette: “Dunia sudah gila dan bergerak terlalu cepat.”

Lucunya, kutipan itu viral di media sosial. Ya, seperti orang berkampanye hidup sehat sambil makan gorengan di depan treadmill. Ironi memang hobi favorit zaman modern.

Peradaban Tombol “Skip Ad”

Menurut Gilbert, manusia modern sudah kehilangan kemampuan menikmati hidup secara utuh. Kita tidak lagi makan—kita “mengisi bensin biologis”. Kita tidak lagi berbicara—kita hanya melempar emoji seperti petani menabur pakan lele. Kita tidak lagi membaca berita—kita hanya menggulir layar dengan kecepatan seorang ninja ADHD.

Hidup kita sekarang mirip remote televisi rusak: pencet, pindah. Pencet, pindah. Pencet, pindah. Tidak ada yang benar-benar tinggal cukup lama di hati.

Kita membuka lima aplikasi dalam tiga menit lalu lupa sedang mencari apa. Kadang kita membuka kulkas bukan karena lapar, tetapi karena jiwa sedang buffering.

Inilah tragedi modern: manusia menjadi makhluk tercepat yang paling bingung.

Dulu orang kehilangan sandal. Sekarang orang kehilangan fokus, tidur, makna hidup, dan password email dalam waktu bersamaan.

Hustle Culture: Ketika Istirahat Dianggap Dosa Ringan

Zaman sekarang, kalau seseorang berkata:
“Aku sedang sibuk sekali.”

Kalimat itu terdengar seperti medali kehormatan.

Padahal sering kali “sibuk” hanya berarti:

  • membuka 17 tab browser,
  • menjawab chat sambil panik,
  • dan pura-pura produktif agar tidak merasa hidupnya kosong.

Dunia modern memuja kecepatan seperti anak kecil memuja odong-odong: makin berputar makin dianggap menyenangkan, padahal semua orang tetap di tempat yang sama sambil pusing.

Budaya hustle membuat manusia merasa bersalah ketika beristirahat. Duduk diam lima menit saja terasa seperti korupsi waktu negara.

Padahal jiwa manusia itu bukan motor balap. Ia lebih mirip kebun kecil. Kalau terus dipaksa panen tanpa diberi hujan, akhirnya yang tumbuh cuma debu dan overthinking.

Notifikasi: Azan Baru Peradaban Digital

Ponsel modern mungkin benda paling sopan sekaligus paling kurang ajar di dunia. Ia selalu berkata:
“Permisi…”
lalu menghancurkan konsentrasi kita setiap tujuh menit.

Ding!
Ada pesan.

Ding!
Ada berita buruk.

Ding!
Ada video kucing memakai helm proyek.

Dan anehnya, semua terasa mendesak.

Kita hidup dalam ekonomi perhatian, di mana perusahaan teknologi berebut waktu kita seperti pedagang pasar berebut pembeli cabai menjelang Lebaran. Semakin lama kita menatap layar, semakin kaya mereka. Maka algoritma dirancang agar kita terus menggulir tanpa sadar, seperti kambing yang terus makan rumput sintetis.

Gilbert memahami sesuatu yang sering dilupakan zaman modern: perhatian adalah bentuk cinta.

Kalau perhatian kita dicuri terus-menerus, lama-lama kita tidak bisa mencintai apa pun secara penuh. Bahkan secangkir teh pun kalah bersaing dengan notifikasi promo gratis ongkir.

Melambat Itu Bukan Malas

Ajakan Gilbert untuk melambat sering disalahpahami. Banyak orang mengira hidup lambat berarti rebahan sambil menonton serial delapan musim dan menyebutnya “healing”.

Bukan itu maksudnya.

Melambat bukan berarti berhenti hidup. Melambat berarti hadir penuh dalam hidup.

Seekor kura-kura mungkin lambat, tetapi ia tahu ke mana pergi. Sedangkan manusia modern kadang berlari seperti peserta maraton yang lupa lokasi garis finis.

Melambat bisa sesederhana:

  • makan tanpa menonton video,
  • berjalan tanpa headset,
  • mendengarkan orang tanpa memikirkan balasan,
  • atau duduk sore sambil melihat langit tanpa merasa harus memotretnya dulu.

Sederhana sekali. Justru itu yang membuatnya sulit.

Karena manusia modern takut diam.

Diam membuat kita mendengar isi kepala sendiri. Dan sering kali isi kepala itu lebih berisik daripada konser dangdut koplo.

Dunia Tidak Membutuhkan Kita Secepat Itu

Ada satu kebohongan besar dalam peradaban modern: seolah-olah semuanya darurat.

Padahal kalau kita terlambat membalas pesan lima belas menit, bumi tetap mengorbit. Matahari tetap terbit. Tetangga tetap menjemur kasur.

Kita ini bukan pusat galaksi. Kadang kita bahkan bukan pusat grup WhatsApp keluarga.

Gilbert seperti ingin berkata:
“Hai manusia, tenanglah sedikit. Kamu bukan aplikasi yang harus selalu update.”

Dan mungkin di situlah letak spiritualitas kelambatan. Ia mengajarkan bahwa nilai hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang kita lakukan, tetapi dari seberapa sadar kita menjalani yang sedikit itu.

Sebab kopi paling nikmat bukan kopi yang diminum terburu-buru sebelum rapat Zoom, melainkan kopi yang sempat diajak berbincang oleh kesunyian.

Menjadi Manusia Lagi

Pada akhirnya, kritik Gilbert bukan ajakan kembali ke gua tanpa internet. Ia hanya mengingatkan bahwa teknologi seharusnya membantu hidup, bukan menggantikan pengalaman hidup itu sendiri.

Kita boleh memakai AI, media sosial, dan teknologi supercepat. Tetapi jangan sampai jiwa kita ikut menjadi aplikasi: selalu loading, cepat panas, dan butuh update setiap malam.

Mungkin keberanian terbesar hari ini bukan bekerja sampai burnout, melainkan berani berhenti sejenak tanpa merasa bersalah.

Karena hidup bukan lomba siapa paling sibuk.

Hidup lebih mirip menikmati semangkuk bakso di hari hujan: kalau dimakan terlalu cepat, lidah terbakar dan kuahnya tidak terasa.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.