Ada orang yang ingin “melipat dunia” supaya bisa sampai ke Mekkah dalam tiga detik. Ada juga yang ingin melipat dunia supaya cicilan motor hilang dari notifikasi bank. Namun dalam kajian Al-Hikam, KHM Luqman Hakim mengajarkan sesuatu yang jauh lebih sulit: melipat dunia dari hati. Dan ternyata, itu lebih rumit daripada melipat sprei ukuran king tanpa bantuan istri.
Di zaman sekarang, manusia hidup seperti peserta lomba lari yang lupa garis finisnya di mana. Semua orang berlari. Ada yang mengejar jabatan, followers, diskon tanggal kembar, sampai mengejar validasi dari orang yang bahkan lupa ulang tahun kita. Dunia bergerak begitu cepat sampai kadang kita merasa hidup bukan lagi perjalanan spiritual, melainkan simulasi permainan yang tombol “skip ad”-nya rusak.
Di tengah kegaduhan itu, tasawuf datang seperti seorang kakek bijak yang duduk santai di warung kopi sambil berkata, “Nak, yang capek itu bukan kakimu. Tapi keinginanmu.”
Melipat Dunia, Bukan Google Maps
KHM Luqman Hakim menjelaskan bahwa “melipat waktu dan ruang” dalam tasawuf bukan berarti tiba-tiba punya kemampuan teleportasi seperti tokoh anime. Bukan pula ilmu misterius untuk pindah dari Bandung ke Madinah sambil tetap sempat update status WhatsApp.
Melipat dunia yang sejati adalah ketika hati kita tidak lagi menjadikan dunia sebagai pusat gravitasi hidup.
Sederhananya begini: kebanyakan manusia itu seperti ayam yang mengejar jagung. Kepalanya terus menunduk ke tanah. Tasawuf mencoba mengangkat kepala ayam itu supaya sadar ternyata ada langit.
Maka ketika Syeikh Abdul Qadir al-Jailani berkata bahwa menuju Allah hanya perlu tiga langkah, itu bukan langkah pakai sepatu olahraga. Itu langkah batin:
Melangkahi dunia.
Melangkahi akhirat.
Melangkahi segala selain Allah.
Kalau dipikir-pikir, manusia modern baru sampai langkah pertama saja sudah ngos-ngosan. Baru mencoba meninggalkan dunia sedikit, eh diskon e-commerce muncul. Baru khusyuk dzikir lima menit, tahu-tahu ingat belum membalas chat grup keluarga.
Nafsu manusia memang seperti iklan YouTube: selalu muncul di saat paling tidak diharapkan.
Zuhud Itu Bukan Jadi Miskin Profesional
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang zuhud adalah anggapan bahwa orang sufi harus hidup kusut, makan singkong rebus, dan memandang sinis kepada pendingin ruangan.
Padahal yang dijelaskan dalam kajian ini justru sebaliknya. Zuhud bukan meninggalkan dunia secara fisik. Zuhud adalah ketika dunia tidak tinggal di hati.
Seseorang boleh kaya raya, jadi direktur, jadi pejabat, bahkan jadi pemilik tiga rumah dan empat grup WhatsApp keluarga—asal hatinya tidak diperbudak semua itu.
Tasawuf tidak melarang kita punya dompet tebal. Yang dilarang adalah ketika dompet itu pindah ke dalam hati.
Karena masalah manusia modern bukan kurang harta, melainkan terlalu banyak “parkiran dunia” di dalam dada. Isi hati sudah seperti gudang marketplace:
ada gengsi,
ada iri,
ada takut miskin,
ada trauma mantan,
ada cicilan,
dan ada draft balasan debat media sosial sejak tahun lalu yang belum move on.
Maka para sufi mencoba “membersihkan RAM spiritual” manusia. Sebab hati yang terlalu penuh dunia tidak bisa memuat ketenangan.
Karamah Instagramable
Bagian paling menarik dari kajian ini adalah ketika para sufi justru tidak terlalu kagum pada karamah spektakuler.
Di era media sosial, bahkan keajaiban pun harus punya angle kamera yang bagus.
Para sufi tahu bahwa berjalan di atas air mungkin lebih mudah daripada berjalan di atas ego sendiri. Terbang di udara mungkin lebih gampang daripada tidak marah saat dikritik di komentar Facebook.
Karena musuh terbesar manusia bukan gravitasi bumi, melainkan gravitasi nafsu.
Maka Abul Hasan asy-Syadzili lebih kagum kepada orang yang kehilangan uang tetapi wajahnya tetap tenang. Ini luar biasa. Sebab bagi kebanyakan manusia, saldo rekening itu seperti detak jantung spiritual. Begitu angka berkurang, iman ikut buffering.
Tasawuf ingin melahirkan manusia yang tidak roboh hanya karena dunia berubah posisi.
Semua dari Allah, Bahkan Kegagalan
KHM Luqman Hakim juga menjelaskan bahwa rezeki maupun kegagalan harus dilihat berasal dari Allah.
Ini bukan berarti manusia tidak boleh bekerja keras. Justru kita harus bekerja maksimal. Tetapi hati jangan bergantung kepada makhluk.
Orang modern sering stres karena terlalu percaya bahwa semua keberhasilan adalah hasil dirinya sendiri. Ketika sukses, ia menjadi sombong. Ketika gagal, ia hancur total.
Bahaya Mengandalkan Diri Sendiri
Tasawuf sangat keras terhadap penyakit merasa hebat.
Iblis jatuh bukan karena kurang ibadah. Ia jatuh karena merasa ibadahnya miliknya sendiri. Ia terlalu kagum kepada dirinya.
Ini penyakit yang sangat modern.
Kalimat itu kadang lebih sombong daripada pamer jam tangan.
Manusia modern sering menjadikan amal sebagai koleksi trofi spiritual. Sedekah difoto. Umrah dijadikan konten. Bahkan kadang doa pun terasa seperti proposal pencitraan kepada publik.
Dunia Sebagai Terminal, Bukan Rumah Permanen
Pada akhirnya, inti kajian ini sangat sederhana sekaligus sangat sulit: hiduplah di dunia tanpa diperbudak dunia.
Gunakan dunia, tapi jangan menyembahnya.
Tasawuf tidak meminta manusia berhenti bekerja, berhenti kaya, atau berhenti membangun peradaban. Tasawuf hanya meminta satu hal: jangan taruh dunia di singgasana hati.
Sebab hati manusia itu seperti gelas. Kalau penuh lumpur dunia, cahaya sulit masuk. Tapi kalau dibersihkan, sedikit dzikir saja bisa terasa seperti mata air di tengah gurun.
Mungkin itulah makna terdalam “melipat dunia”.
Dan mungkin, manusia yang paling dekat kepada Allah bukanlah yang paling sering terlihat religius, melainkan yang paling ringan hatinya ketika kehilangan dunia.
Melainkan pulang.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.