Tentang Bahaya Orang Setengah Pintar
Ada satu jenis manusia modern yang sangat menarik untuk
diamati. Ia baru menonton satu video YouTube berdurasi 8 menit, lalu mendadak
berbicara seperti gabungan antara profesor Harvard, dukun spiritual Tibet,
analis geopolitik CIA, dan dokter spesialis paru-paru.
Kalau Leonardo da Vinci hidup hari ini, mungkin beliau
minder.
Inilah yang diperingatkan oleh Umberto Eco: bahaya terbesar
dunia bukanlah orang yang tidak tahu apa-apa, melainkan orang yang tahu sedikit
lalu merasa tahu segalanya. Ketidaktahuan total itu sebenarnya cukup sopan. Ia
tahu dirinya gelap, maka ia mencari lampu. Masalahnya muncul ketika seseorang
baru menemukan korek api, lalu merasa dirinya matahari.
Lalu rumah terbakar.
Ironisnya, di era media sosial, kebakaran semacam ini bukan
lagi metafora. Setiap hari kita melihat “korsleting intelektual” massal. Satu
utas Twitter dibaca setengah, satu video TikTok ditonton sambil makan bakso,
lalu lahirlah pakar baru dengan energi meledak-ledak seperti mie instan yang
baru diseduh.
Media sosial telah menciptakan spesies unik: Homo
Commentarius Absolutus — manusia yang selalu yakin di kolom komentar.
Mereka ini luar biasa. Mereka bisa menjelaskan konflik Timur
Tengah sambil rebahan. Bisa mengoreksi dokter hanya bermodal “katanya”. Bisa
membantah profesor sejarah dengan kalimat sakti:
“Saya sudah riset sendiri di internet.”
Kalimat itu sekarang terdengar seperti seseorang berkata:
“Saya sudah belajar bedah jantung dari tutorial masak
telur.”
Masalah utama dari pengetahuan setengah-setengah bukan cuma
salah. Salah itu manusiawi. Yang berbahaya adalah rasa percaya diri yang muncul
sebelum kebijaksanaan sempat tumbuh.
Ilmu sejati biasanya membuat orang lebih hati-hati. Semakin
seseorang belajar, semakin ia sadar luasnya samudra ketidaktahuan. Orang bijak
sering bicara pelan karena ia tahu dunia rumit. Sedangkan orang setengah tahu
biasanya bicara paling keras, karena pikirannya masih sederhana seperti mi
goreng tanpa bumbu.
Fenomena ini sebenarnya mirip orang baru belajar bela diri
seminggu lalu. Ia mulai berjalan sambil merasa dirinya pendekar. Bahunya naik
dua senti. Tatapannya berubah. Padahal kalau disuruh lari keliling lapangan dua
putaran saja sudah minta teh hangat.
Begitulah pengetahuan dangkal bekerja. Ia memberi ilusi
kekuatan tanpa fondasi kedewasaan.
Di dunia digital, algoritma juga memperparah keadaan. Media
sosial tidak memberi hadiah kepada orang paling bijak, melainkan kepada orang
paling yakin. Dunia maya lebih mencintai kalimat:
“INI FAKTA YANG DISENYEMBUNYIKAN!!!”
dibanding:
“Persoalan ini kompleks dan membutuhkan kajian
multidisipliner.”
Yang kedua terdengar seperti dosen. Yang pertama terdengar
seperti trailer film kiamat. Tentu netizen memilih kiamat.
Akibatnya, ruang publik berubah seperti warung kopi kosmik
tempat semua orang berbicara bersamaan sambil membawa toa masing-masing. Yang
paling keras dianggap paling benar. Yang paling tenang dianggap kurang percaya
diri.
Padahal sering kali justru kebalikannya.
Dalam filsafat tasawuf, ada konsep menarik: semakin
seseorang dekat pada hikmah, semakin ia merasa kecil. Ibarat pendaki gunung,
dari bawah kita merasa bukit itu sudah tinggi. Tetapi setelah sampai puncak,
kita baru sadar ternyata di baliknya masih ada Himalaya lain yang lebih besar.
Orang bodoh melihat satu bukit lalu mendeklarasikan diri sebagai penguasa
geografi.
Karena itu, pengakuan “saya tidak tahu” sebenarnya bukan
aib. Itu tanda kesehatan intelektual. Kalimat itu mungkin sederhana, tetapi di
era sekarang ia lebih langka daripada sinyal WiFi stabil saat hujan.
Lucunya, manusia modern sering malu mengaku tidak tahu,
tetapi tidak malu salah besar di depan umum. Kita hidup di zaman ketika orang
lebih takut terlihat bingung daripada terlihat ngawur.
Padahal sejarah penuh dengan kehancuran yang lahir bukan
dari kebodohan murni, melainkan dari keyakinan dangkal. Banyak tragedi muncul
karena seseorang merasa terlalu cepat paham. Seperti orang yang baru belajar
mengemudi dua hari lalu lalu langsung membuka jasa travel antarkota.
Mungkin itulah sebabnya Eco terdengar begitu relevan hari
ini. Dunia bukan kekurangan informasi. Informasi sekarang bertebaran seperti
brosur diskon minimarket. Yang langka justru kedewasaan untuk berkata:
“Saya perlu belajar lebih banyak.”
Pada akhirnya, kebijaksanaan bukan soal siapa paling sering
bicara, melainkan siapa yang masih sanggup ragu di tengah godaan untuk sok
tahu.
Dan mungkin, di zaman sekarang, bentuk kecerdasan tertinggi
bukan menjadi orang yang tahu segalanya.
Melainkan menjadi orang yang cukup waras untuk tidak merasa
jadi ahli setelah menonton satu video berdurasi 3 menit sambil skip iklan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.