Selasa, 26 Mei 2026

Ketika Google Baru Dibuka Dua Menit, Lalu Merasa Jadi Tahu Segalanya

Tentang Bahaya Orang Setengah Pintar

Ada satu jenis manusia modern yang sangat menarik untuk diamati. Ia baru menonton satu video YouTube berdurasi 8 menit, lalu mendadak berbicara seperti gabungan antara profesor Harvard, dukun spiritual Tibet, analis geopolitik CIA, dan dokter spesialis paru-paru.

Kemarin ia ahli virologi.
Hari ini ahli ekonomi global.
Besok kemungkinan besar mengulas taktik perang Romawi sambil merekomendasikan obat herbal untuk insomnia.

Kalau Leonardo da Vinci hidup hari ini, mungkin beliau minder.

Inilah yang diperingatkan oleh Umberto Eco: bahaya terbesar dunia bukanlah orang yang tidak tahu apa-apa, melainkan orang yang tahu sedikit lalu merasa tahu segalanya. Ketidaktahuan total itu sebenarnya cukup sopan. Ia tahu dirinya gelap, maka ia mencari lampu. Masalahnya muncul ketika seseorang baru menemukan korek api, lalu merasa dirinya matahari.

Eco menjelaskan hal ini lewat analogi listrik. Orang yang benar-benar tidak mengerti instalasi listrik biasanya akan berkata dengan rendah hati, “Waduh, saya nggak ngerti. Panggil tukang saja.”
Tetapi orang yang sudah membaca tiga artikel berjudul “Cara Mudah Pasang Kabel Sendiri Tanpa Ribet” justru paling berbahaya. Ia mulai memegang obeng dengan kepercayaan diri seperti Thor memegang palu.

Lalu rumah terbakar.

Ironisnya, di era media sosial, kebakaran semacam ini bukan lagi metafora. Setiap hari kita melihat “korsleting intelektual” massal. Satu utas Twitter dibaca setengah, satu video TikTok ditonton sambil makan bakso, lalu lahirlah pakar baru dengan energi meledak-ledak seperti mie instan yang baru diseduh.

Media sosial telah menciptakan spesies unik: Homo Commentarius Absolutus — manusia yang selalu yakin di kolom komentar.

Mereka ini luar biasa. Mereka bisa menjelaskan konflik Timur Tengah sambil rebahan. Bisa mengoreksi dokter hanya bermodal “katanya”. Bisa membantah profesor sejarah dengan kalimat sakti:

“Saya sudah riset sendiri di internet.”

Kalimat itu sekarang terdengar seperti seseorang berkata:

“Saya sudah belajar bedah jantung dari tutorial masak telur.”

Masalah utama dari pengetahuan setengah-setengah bukan cuma salah. Salah itu manusiawi. Yang berbahaya adalah rasa percaya diri yang muncul sebelum kebijaksanaan sempat tumbuh.

Ilmu sejati biasanya membuat orang lebih hati-hati. Semakin seseorang belajar, semakin ia sadar luasnya samudra ketidaktahuan. Orang bijak sering bicara pelan karena ia tahu dunia rumit. Sedangkan orang setengah tahu biasanya bicara paling keras, karena pikirannya masih sederhana seperti mi goreng tanpa bumbu.

Fenomena ini sebenarnya mirip orang baru belajar bela diri seminggu lalu. Ia mulai berjalan sambil merasa dirinya pendekar. Bahunya naik dua senti. Tatapannya berubah. Padahal kalau disuruh lari keliling lapangan dua putaran saja sudah minta teh hangat.

Begitulah pengetahuan dangkal bekerja. Ia memberi ilusi kekuatan tanpa fondasi kedewasaan.

Di dunia digital, algoritma juga memperparah keadaan. Media sosial tidak memberi hadiah kepada orang paling bijak, melainkan kepada orang paling yakin. Dunia maya lebih mencintai kalimat:

“INI FAKTA YANG DISENYEMBUNYIKAN!!!”

dibanding:

“Persoalan ini kompleks dan membutuhkan kajian multidisipliner.”

Yang kedua terdengar seperti dosen. Yang pertama terdengar seperti trailer film kiamat. Tentu netizen memilih kiamat.

Akibatnya, ruang publik berubah seperti warung kopi kosmik tempat semua orang berbicara bersamaan sambil membawa toa masing-masing. Yang paling keras dianggap paling benar. Yang paling tenang dianggap kurang percaya diri.

Padahal sering kali justru kebalikannya.

Dalam filsafat tasawuf, ada konsep menarik: semakin seseorang dekat pada hikmah, semakin ia merasa kecil. Ibarat pendaki gunung, dari bawah kita merasa bukit itu sudah tinggi. Tetapi setelah sampai puncak, kita baru sadar ternyata di baliknya masih ada Himalaya lain yang lebih besar. Orang bodoh melihat satu bukit lalu mendeklarasikan diri sebagai penguasa geografi.

Karena itu, pengakuan “saya tidak tahu” sebenarnya bukan aib. Itu tanda kesehatan intelektual. Kalimat itu mungkin sederhana, tetapi di era sekarang ia lebih langka daripada sinyal WiFi stabil saat hujan.

Lucunya, manusia modern sering malu mengaku tidak tahu, tetapi tidak malu salah besar di depan umum. Kita hidup di zaman ketika orang lebih takut terlihat bingung daripada terlihat ngawur.

Padahal sejarah penuh dengan kehancuran yang lahir bukan dari kebodohan murni, melainkan dari keyakinan dangkal. Banyak tragedi muncul karena seseorang merasa terlalu cepat paham. Seperti orang yang baru belajar mengemudi dua hari lalu lalu langsung membuka jasa travel antarkota.

Mungkin itulah sebabnya Eco terdengar begitu relevan hari ini. Dunia bukan kekurangan informasi. Informasi sekarang bertebaran seperti brosur diskon minimarket. Yang langka justru kedewasaan untuk berkata:

“Saya perlu belajar lebih banyak.”

Pada akhirnya, kebijaksanaan bukan soal siapa paling sering bicara, melainkan siapa yang masih sanggup ragu di tengah godaan untuk sok tahu.

Dan mungkin, di zaman sekarang, bentuk kecerdasan tertinggi bukan menjadi orang yang tahu segalanya.

Melainkan menjadi orang yang cukup waras untuk tidak merasa jadi ahli setelah menonton satu video berdurasi 3 menit sambil skip iklan.

 abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.