Dunia internasional hari ini kadang terasa seperti rapat warga yang terlalu lama dipimpin satu ketua RT. Awalnya warga senang. Jalan diaspal, ronda jalan, bahkan sesekali ada bantuan mie instan saat banjir. Tetapi lama-lama, sang ketua mulai merasa semua urusan gang harus lewat dirinya. Mau pasang jemuran? Izin. Mau beli ayam? Harus sesuai standar demokrasi kandang internasional. Bahkan kalau ada warga yang batuk terlalu keras, muncul sanksi administrasi dan seminar HAM.
Di tengah suasana itulah, muncullah seekor naga tua yang
selama puluhan tahun pura-pura sibuk menyapu halaman rumah sendiri. Ia tidak
banyak bicara. Tetangga mengira ia pemalu, padahal sebenarnya ia sedang
menabung tenaga sambil diam-diam membeli seluruh toko semen di kompleks.
Thread dari akun @OopsGuess pada dasarnya ingin mengatakan
hal sederhana namun dibungkus aroma geopolitik premium: China selama ini bukan
lemah, melainkan sedang menahan diri. Dan sekarang, setelah merasa aturan
kampung mulai dipakai seenaknya oleh Amerika, naga itu mulai belajar satu
kalimat sakti yang sangat ditakuti semua kekaisaran: “cukup.”
Masalahnya, dalam geopolitik, kata “cukup” tidak pernah
terdengar sederhana. Ia bisa berarti tarif impor. Bisa berarti embargo chip.
Bisa berarti kapal perang parkir sambil pura-pura memancing.
Selama bertahun-tahun, China memainkan peran seperti anak
kos yang pendiam. Ia tidak ikut debat grup WhatsApp dunia. Ia tidak banyak
ceramah soal moral internasional. Ia hanya bekerja, membangun pabrik, mencetak
insinyur, dan diam-diam membuat dunia kecanduan barang bertuliskan Made in
China. Sementara negara lain sibuk pidato tentang masa depan umat manusia,
Beijing tampak seperti tukang bakso yang diam-diam membeli ruko satu per satu.
Amerika, tentu saja, lama menikmati posisi sebagai “penjaga
warung global.” Semua transaksi lewat dolar. Semua aturan internasional pada
akhirnya punya aroma Washington. Bahkan kadang-kadang aturan itu lentur seperti
sandal swallow: bisa dipakai ke mana saja sesuai kebutuhan strategis.
Nah, menurut thread tersebut, titik balik terjadi ketika
China mulai merasa bahwa Amerika bukan lagi sekadar memimpin sistem dunia,
tetapi juga mulai menggerogoti sistem itu sendiri. Sanksi di mana-mana. Tekanan
finansial. Ancaman dagang. Aturan berubah-ubah seperti sinetron yang penulis
skenarionya sedang kehabisan ide.
Bagi Beijing, ini seperti ikut lomba sepak bola di mana
wasitnya juga striker lawan.
Akhirnya China mulai berubah. Nada bicaranya lebih keras
soal Taiwan. Perusahaan lokal dilarang terlalu patuh pada sanksi asing.
Diplomasi mulai memakai rahang, bukan sekadar senyum. Dunia pun panik. Karena
selama naga tidur, semua orang nyaman. Masalahnya, ketika naga bangun, bahkan
suara sendawanya bisa menggerakkan pasar saham.
Tentu saja narasi ini sangat menggoda, terutama bagi banyak
negara berkembang yang sudah lelah diperlakukan seperti murid abadi dalam kelas
geopolitik Barat. Banyak negara di Global South mulai merasa dunia
internasional terlalu sering memakai standar ganda. Ketika satu negara
melakukan intervensi disebut “menjaga stabilitas.” Ketika negara lain melakukan
hal serupa disebut “ancaman terhadap perdamaian dunia.”
Geopolitik memang kadang seperti pertandingan tinju yang
komentatornya dibayar salah satu petinju.
Namun di sinilah esai ini perlu sedikit waras di tengah
keributan romantisme naga. Sebab thread tadi juga punya kecenderungan memoles
China seperti tokoh pendekar dalam drama wuxia: tenang, bijak, dan hanya
menghunus pedang demi menjaga harmoni dunia.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
China juga punya ambisi. Punya proyek besar. Punya
kepentingan strategis. Laut China Selatan tidak dipenuhi kapal dan beton hanya
karena Beijing sedang mencari inspirasi arsitektur laut. Program Belt and Road
bukan sekadar sedekah infrastruktur sambil lalu. Semua kekuatan besar, cepat
atau lambat, akan punya gravitasi politik sendiri. Dan gravitasi, seperti utang
pinjol, selalu menarik sesuatu ke arahnya.
Amerika pun bukan semata-mata penjahat kartun yang bangun
pagi sambil mencari negara mana yang akan disanksi hari ini. Banyak institusi
global modern juga lahir dari arsitektur internasional yang dibangun AS
pasca-Perang Dunia II. Dunia yang relatif terbuka untuk perdagangan global,
teknologi, dan jalur laut aman juga tidak muncul begitu saja seperti mie instan
diseduh air panas.
Masalahnya adalah: ketika satu kekuatan terlalu lama
memegang setir, ia mulai lupa membedakan mana jalan raya dan mana halaman rumah
sendiri.
Dan ketika kekuatan baru muncul, ia sering berkata ingin
menciptakan dunia yang lebih adil—sampai akhirnya sadar bahwa menjadi pengelola
dunia juga membutuhkan kompromi, tekanan, dan kadang-kadang kemunafikan
administratif.
Itulah tragedi abadi geopolitik.
Setiap kekaisaran awalnya datang membawa janji ketertiban.
Lalu perlahan berubah menjadi pelanggan tetap toko sanksi.
Thread @OopsGuess sebenarnya menarik bukan karena ia
sepenuhnya benar, tetapi karena ia menangkap sesuatu yang memang sedang
berubah: dunia tidak lagi sepenuhnya satu kutub. Banyak negara mulai belajar
berkata, “mungkin kami tidak ingin memilih tim.”
Di era baru ini, perang bukan hanya soal tank dan rudal. Ia
soal chip semikonduktor, kabel bawah laut, AI, mata uang digital, dan siapa
yang menentukan format formulir internasional. Masa depan dunia mungkin tidak
diputuskan di medan perang, melainkan di ruang rapat yang penuh kopi dingin dan
presentasi PowerPoint bertuliskan “strategic resilience.”
Dan di balik semua itu, rakyat biasa tetap bangun pagi,
bayar cicilan, lalu melihat berita tentang dua negara adidaya saling mengancam
sambil tetap membeli produk satu sama lain.
Karena begitulah dunia modern bekerja.
Dua raksasa bertengkar soal masa depan peradaban manusia,
tetapi keduanya tetap membutuhkan charger buatan pabrik yang sama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.