“If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking.”
Di zaman sekarang, menjadi manusia itu sulit. Baru buka mata
pagi hari, algoritma sudah menyambut lebih hangat daripada keluarga sendiri.
Belum sempat mengucek mata, TikTok sudah berkata, “Kami tahu Anda suka video
kucing, motivasi hidup, dan teori konspirasi tentang kenapa sandal jepit selalu
hilang sebelah.”
Lalu datanglah kutipan dari Haruki Murakami itu seperti
tamparan lembut memakai hardcover novel 700 halaman: “Jika kamu hanya
membaca buku yang dibaca semua orang, kamu hanya bisa berpikir seperti yang
dipikirkan semua orang.”
Masalahnya, di era sekarang, jangankan buku. Banyak orang
bahkan membaca caption Instagram saja sudah ngos-ngosan. Kita hidup di masa
ketika ringkasan buku lebih populer daripada bukunya, opini lebih pendek dari
umur baterai HP, dan debat intelektual sering berakhir dengan kalimat sakti:
“Terserah sih, tapi menurut konten yang aku lihat tadi…”
Ketika Timeline Menjadi Kandang Ayam Intelektual
Dulu orang mencari ilmu ke perpustakaan. Sekarang orang
mencari kebenaran lewat kolom komentar.
Dan seperti kita tahu, kolom komentar adalah tempat di mana:
- ahli
ekonomi lulusan “feeling pribadi”,
- filsuf
bersertifikat “katanya”,
- serta pakar kesehatan alumni “thread Facebook tahun 2017”berkumpul dengan penuh percaya diri.
Algoritma modern bekerja seperti ibu kos yang terlalu
perhatian. Ia tahu apa yang kita suka, lalu terus memberi hal yang sama sampai
otak kita empuk seperti biskuit dicelup teh.
Anda suka satu video stoikisme? Besok seluruh hidup Anda
dipenuhi lelaki berjanggut yang berkata:
“Jangan mengejar wanita. Kejarlah ketenangan.”
Anda suka satu video produktivitas? Tiba-tiba muncul orang
bangun jam 4 pagi, mandi es, meditasi sambil baca saham, lalu membuat kita
merasa gagal hanya karena sarapan pukul 9.
Lama-lama timeline kita berubah menjadi ruang gema. Semua
orang bicara hal yang sama, memakai istilah yang sama, bahkan marah dengan nada
yang sama. Seolah-olah seluruh umat manusia sedang direkrut menjadi NPC
intelektual.
Mentalitas Kawanan: Ketika Otak Ikut Arus demi Bertahan
Hidup
Dalam psikologi, manusia memang punya bakat alami
ikut-ikutan. Eksperimen Solomon Asch menunjukkan bahwa manusia bisa setuju pada
jawaban salah hanya karena mayoritas bilang begitu.
Kalau eksperimen itu dilakukan hari ini, mungkin hasilnya
lebih cepat.
Peneliti:
“Menurut Anda, garis A atau B yang paling panjang?”
Peserta:
“Sebenarnya A…”
Netizen:
“BANG, YANG B LAH 😭🔥”
Peserta:
“…iya deng, B.”
Kadang kita tidak benar-benar setuju dengan opini publik.
Kita hanya lelah berbeda. Karena berbeda di internet itu berat. Salah sedikit
langsung dianggap:
- kurang
literasi,
- tidak
open minded,
- antek
kapitalis,
- komunis,
- buzzer,
- atau
lebih parah: pengguna Android versi lama.
Padahal pertumbuhan intelektual sering lahir justru saat
kita merasa tidak nyaman. Jean Piaget menyebutnya disequilibrium—momen
ketika pikiran lama kita diguncang ide baru.
Sayangnya, manusia modern alergi diguncang. Kita maunya
membaca sesuatu yang membuat kita berkata:
“Nah, betul! Ini sesuai pendapat saya!”
Bukan:
“Waduh… jangan-jangan selama ini saya salah.”
Itulah sebabnya buku sulit sekarang kalah dari konten “5
cara cepat sukses tanpa usaha”. Otak manusia ternyata suka mie instan
intelektual: cepat matang, gurih, tapi gizinya meragukan.
Menjadi Pembaca yang Berani
Nasihat Haruki Murakami sebenarnya sederhana: jangan biarkan
isi kepala Anda disusun sepenuhnya oleh pasar dan algoritma.
Artinya, sesekali cobalah membaca buku yang:
- tidak
viral,
- tidak
masuk “best seller”,
- tidak
direkomendasikan influencer sambil ngopi estetik,
- dan
mungkin membuat Anda mengernyit lima halaman pertama.
Membaca buku berat memang tidak selalu menyenangkan. Kadang
baru tiga halaman sudah merasa IQ turun dua digit. Ada buku filsafat yang
membuat pembacanya berhenti sejenak lalu menatap tembok sambil bertanya:
“Ini penulisnya jenius atau saya yang kurang tidur?”
Tetapi justru di situlah latihan berpikir terjadi.
Orang yang hanya membaca hal populer biasanya mulai bicara
dengan template:
“Sebagai manusia kita harus healing.”
Sedangkan orang yang bacaannya aneh-aneh kadang berbicara
seperti:
“Menurut kaum Stoik, penderitaan adalah konsekuensi
ontologis dari eksistensi.”
Walaupun sama-sama sedih karena ditinggal chat tidak
dibalas.
Dunia Kerja Juga Penuh Tukang Fotokopi Pikiran
Di kantor, banyak orang ingin jadi inovator, tapi isi
kepalanya hasil copy-paste LinkedIn motivasional.
Semua ingin “out of the box”, padahal isi box-nya sama
semua.
Lucunya, inovasi besar sering muncul dari orang yang membaca
hal di luar bidangnya. Steve Jobs belajar kaligrafi, lalu dunia mendapatkan
tipografi komputer yang indah. Sementara sebagian orang sekarang bahkan memilih
font PowerPoint saja masih memakai Comic Sans dengan percaya diri penuh.
Mungkin masalah terbesar manusia modern bukan kurang
informasi. Kita justru tenggelam dalam informasi. Masalahnya adalah semua orang
berenang di kolam yang sama sambil merasa dirinya penjelajah samudra.
Kebebasan Terakhir: Hak untuk Tidak Ikut-ikutan
Pada akhirnya, kutipan Haruki Murakami bukan hanya soal
membaca buku. Ini soal keberanian menjaga isi kepala tetap merdeka.
Karena di zaman sekarang, berbeda pendapat sering dianggap
gangguan sistem. Orang lebih nyaman hidup dalam keramaian opini massal daripada
duduk sendirian bersama pertanyaan yang sulit.
Padahal pikiran yang sehat bukan pikiran yang selalu benar.
Pikiran yang sehat adalah pikiran yang masih berani berkata:
“Tunggu dulu… apakah saya benar-benar berpikir sendiri?”
Jadi sesekali, lawan algoritma Anda. Baca buku yang tidak
terkenal. Dengarkan pendapat yang membuat Anda kesal. Masuklah ke toko buku dan
pilih buku yang sampulnya tidak dipromosikan siapa pun.
Minimal, itu membuat hidup lebih menarik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.