Jumat, 08 Mei 2026

Berani Berpikir Lain: Ketika Algoritma Lebih Tahu Selera Kita daripada Ibu Sendiri

“If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking.”

— Haruki Murakami

Di zaman sekarang, menjadi manusia itu sulit. Baru buka mata pagi hari, algoritma sudah menyambut lebih hangat daripada keluarga sendiri. Belum sempat mengucek mata, TikTok sudah berkata, “Kami tahu Anda suka video kucing, motivasi hidup, dan teori konspirasi tentang kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah.”

Lalu datanglah kutipan dari Haruki Murakami itu seperti tamparan lembut memakai hardcover novel 700 halaman: “Jika kamu hanya membaca buku yang dibaca semua orang, kamu hanya bisa berpikir seperti yang dipikirkan semua orang.”

Masalahnya, di era sekarang, jangankan buku. Banyak orang bahkan membaca caption Instagram saja sudah ngos-ngosan. Kita hidup di masa ketika ringkasan buku lebih populer daripada bukunya, opini lebih pendek dari umur baterai HP, dan debat intelektual sering berakhir dengan kalimat sakti: “Terserah sih, tapi menurut konten yang aku lihat tadi…”

Ketika Timeline Menjadi Kandang Ayam Intelektual

Dulu orang mencari ilmu ke perpustakaan. Sekarang orang mencari kebenaran lewat kolom komentar.

Dan seperti kita tahu, kolom komentar adalah tempat di mana:

  • ahli ekonomi lulusan “feeling pribadi”,
  • filsuf bersertifikat “katanya”,
  • serta pakar kesehatan alumni “thread Facebook tahun 2017”
    berkumpul dengan penuh percaya diri.

Algoritma modern bekerja seperti ibu kos yang terlalu perhatian. Ia tahu apa yang kita suka, lalu terus memberi hal yang sama sampai otak kita empuk seperti biskuit dicelup teh.

Anda suka satu video stoikisme? Besok seluruh hidup Anda dipenuhi lelaki berjanggut yang berkata:

“Jangan mengejar wanita. Kejarlah ketenangan.”

Anda suka satu video produktivitas? Tiba-tiba muncul orang bangun jam 4 pagi, mandi es, meditasi sambil baca saham, lalu membuat kita merasa gagal hanya karena sarapan pukul 9.

Lama-lama timeline kita berubah menjadi ruang gema. Semua orang bicara hal yang sama, memakai istilah yang sama, bahkan marah dengan nada yang sama. Seolah-olah seluruh umat manusia sedang direkrut menjadi NPC intelektual.

Mentalitas Kawanan: Ketika Otak Ikut Arus demi Bertahan Hidup

Dalam psikologi, manusia memang punya bakat alami ikut-ikutan. Eksperimen Solomon Asch menunjukkan bahwa manusia bisa setuju pada jawaban salah hanya karena mayoritas bilang begitu.

Kalau eksperimen itu dilakukan hari ini, mungkin hasilnya lebih cepat.

Peneliti:

“Menurut Anda, garis A atau B yang paling panjang?”

Peserta:

“Sebenarnya A…”

Netizen:

“BANG, YANG B LAH 😭🔥”

Peserta:

“…iya deng, B.”

Kadang kita tidak benar-benar setuju dengan opini publik. Kita hanya lelah berbeda. Karena berbeda di internet itu berat. Salah sedikit langsung dianggap:

  • kurang literasi,
  • tidak open minded,
  • antek kapitalis,
  • komunis,
  • buzzer,
  • atau lebih parah: pengguna Android versi lama.

Padahal pertumbuhan intelektual sering lahir justru saat kita merasa tidak nyaman. Jean Piaget menyebutnya disequilibrium—momen ketika pikiran lama kita diguncang ide baru.

Sayangnya, manusia modern alergi diguncang. Kita maunya membaca sesuatu yang membuat kita berkata:

“Nah, betul! Ini sesuai pendapat saya!”

Bukan:

“Waduh… jangan-jangan selama ini saya salah.”

Itulah sebabnya buku sulit sekarang kalah dari konten “5 cara cepat sukses tanpa usaha”. Otak manusia ternyata suka mie instan intelektual: cepat matang, gurih, tapi gizinya meragukan.

Menjadi Pembaca yang Berani

Nasihat Haruki Murakami sebenarnya sederhana: jangan biarkan isi kepala Anda disusun sepenuhnya oleh pasar dan algoritma.

Artinya, sesekali cobalah membaca buku yang:

  • tidak viral,
  • tidak masuk “best seller”,
  • tidak direkomendasikan influencer sambil ngopi estetik,
  • dan mungkin membuat Anda mengernyit lima halaman pertama.

Membaca buku berat memang tidak selalu menyenangkan. Kadang baru tiga halaman sudah merasa IQ turun dua digit. Ada buku filsafat yang membuat pembacanya berhenti sejenak lalu menatap tembok sambil bertanya:

“Ini penulisnya jenius atau saya yang kurang tidur?”

Tetapi justru di situlah latihan berpikir terjadi.

Orang yang hanya membaca hal populer biasanya mulai bicara dengan template:

“Sebagai manusia kita harus healing.”

Sedangkan orang yang bacaannya aneh-aneh kadang berbicara seperti:

“Menurut kaum Stoik, penderitaan adalah konsekuensi ontologis dari eksistensi.”

Walaupun sama-sama sedih karena ditinggal chat tidak dibalas.

Dunia Kerja Juga Penuh Tukang Fotokopi Pikiran

Di kantor, banyak orang ingin jadi inovator, tapi isi kepalanya hasil copy-paste LinkedIn motivasional.

Semua ingin “out of the box”, padahal isi box-nya sama semua.

Lucunya, inovasi besar sering muncul dari orang yang membaca hal di luar bidangnya. Steve Jobs belajar kaligrafi, lalu dunia mendapatkan tipografi komputer yang indah. Sementara sebagian orang sekarang bahkan memilih font PowerPoint saja masih memakai Comic Sans dengan percaya diri penuh.

Mungkin masalah terbesar manusia modern bukan kurang informasi. Kita justru tenggelam dalam informasi. Masalahnya adalah semua orang berenang di kolam yang sama sambil merasa dirinya penjelajah samudra.

Kebebasan Terakhir: Hak untuk Tidak Ikut-ikutan

Pada akhirnya, kutipan Haruki Murakami bukan hanya soal membaca buku. Ini soal keberanian menjaga isi kepala tetap merdeka.

Karena di zaman sekarang, berbeda pendapat sering dianggap gangguan sistem. Orang lebih nyaman hidup dalam keramaian opini massal daripada duduk sendirian bersama pertanyaan yang sulit.

Padahal pikiran yang sehat bukan pikiran yang selalu benar. Pikiran yang sehat adalah pikiran yang masih berani berkata:

“Tunggu dulu… apakah saya benar-benar berpikir sendiri?”

Jadi sesekali, lawan algoritma Anda. Baca buku yang tidak terkenal. Dengarkan pendapat yang membuat Anda kesal. Masuklah ke toko buku dan pilih buku yang sampulnya tidak dipromosikan siapa pun.

Minimal, itu membuat hidup lebih menarik.

Karena kalau semua orang membaca hal yang sama, berpikir hal yang sama, marah pada hal yang sama, dan membuat opini yang sama… lama-lama umat manusia hanya seperti grup WhatsApp keluarga:
ramai, penuh forward, tapi tidak ada yang benar-benar tahu sumbernya.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.