Ada dua jenis manusia di dunia ini.
Dan anehnya, orang kedua sering terlihat lebih bahagia.
Kutipan legendaris McKenna tentang keberanian eksistensial
pada dasarnya adalah versi spiritual dari kalimat: “Udah, lompat aja dulu.
Nanti semesta bantu.” Bedanya, kalau motivator biasa mengucapkannya sambil
memakai jas ketat dan headset wireless, McKenna mengucapkannya seperti seorang
dukun kosmik yang baru selesai ngobrol dengan jamur halusinogen di tengah hutan
Amazon.
Ia berkata bahwa alam mencintai keberanian. Kalimat ini
terdengar indah, meskipun kalau dipikir-pikir cukup membingungkan. Sebab
pengalaman rata-rata manusia modern justru menunjukkan bahwa alam sering kali
mencintai diskon, cicilan, dan notifikasi tagihan listrik.
Namun McKenna bersikeras: ketika manusia benar-benar
berkomitmen pada sesuatu yang tampaknya mustahil, semesta akan membantu
menyingkirkan rintangan. Dalam bahasa sehari-hari, ini seperti keyakinan para
pedagang gorengan bahwa “rezeki mah ada aja.” Sebuah filsafat yang tampak
sederhana, tetapi secara misterius membuat orang tetap kuat meskipun minyak
goreng naik dan cuaca hujan terus.
Masalahnya, manusia modern terlalu akrab dengan rasa aman.
Kita hidup di zaman ketika orang ingin segalanya serba pasti. Mau menikah harus
ada simulasi Excel. Mau buka usaha harus ada webinar, e-book, mentor bisnis,
dan minimal tiga quote stoik di Instagram. Bahkan untuk bahagia pun sekarang
orang mencari tutorial YouTube berdurasi tujuh menit.
McKenna datang membawa kabar buruk sekaligus kabar baik:
hidup tidak bisa dipahami sepenuhnya sebelum dijalani dengan nekat.
Ia menggunakan metafora yang sangat dramatis: “melemparkan
diri ke jurang dan menemukan bahwa ternyata itu hanya kasur bulu.” Ini adalah
kalimat yang sangat puitis, meskipun tetap terdengar seperti promosi hotel
ekstrem milik kaum sufi.
Mirip mahasiswa yang panik sebelum sidang skripsi, lalu
keluar ruangan sambil heran karena dosennya ternyata lebih sibuk memikirkan
makan siang daripada menghancurkan masa depan akademiknya.
McKenna tampaknya memahami sesuatu yang sering gagal
dipahami manusia modern: alam semesta tidak selalu merespons kehati-hatian
berlebihan. Kadang-kadang realitas baru membuka pintu setelah manusia cukup
gila untuk mengetuknya.
Inilah sebabnya ia menyebut para filsuf dan guru besar
sebagai mereka yang “menyentuh emas alkimia.” Dalam tradisi kuno, alkimia bukan
sekadar mengubah timah menjadi emas, tetapi mengubah manusia penakut menjadi
manusia sadar. Dan proses itu rupanya tidak terjadi lewat rebahan sambil
scrolling media sosial selama empat jam.
Tetapi manusia malah sibuk membuat PowerPoint tentang
kemungkinan gagal.
Tentu saja McKenna bukan sedang mengajak orang menjadi nekat
tanpa otak. Ini penting. Sebab selalu ada satu orang yang membaca filsafat
eksistensial lalu memutuskan resign besok pagi tanpa tabungan, tanpa rencana,
dan tanpa kemampuan memasak mi dengan benar.
Keberanian yang dimaksud McKenna bukan kecerobohan,
melainkan kesediaan untuk hidup secara total. Ada beda besar antara “percaya
pada semesta” dan “pinjam uang teman lalu menghilang demi mengejar pencerahan.”
Yang menarik, pesan McKenna terasa relevan justru di era
modern yang sangat rasional. Kita hidup di zaman penuh data, statistik, dan
algoritma, tetapi ironisnya semakin banyak orang kehilangan keberanian dasar
untuk hidup spontan. Semua ingin terkalkulasi. Semua ingin aman. Semua ingin
kepastian.
Padahal sebagian besar hal terbaik dalam hidup lahir dari
sedikit kegilaan yang elegan.
Dan mungkin benar kata McKenna: alam diam-diam menyukai
orang-orang seperti itu.
Sebab semesta tampaknya bosan dengan manusia yang hidup
seperti draft email—disimpan terus, diedit terus, tapi tidak pernah dikirim.
Pada akhirnya, kutipan McKenna adalah tamparan lembut bagi
jiwa manusia modern yang terlalu hati-hati. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan
ruang tunggu bandara tempat kita terus menunda keberangkatan sampai merasa
benar-benar siap.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.