Sabtu, 09 Mei 2026

Melompat ke Jurang, Ternyata Kasur Spring Bed: Terence McKenna dan Seni Nekat yang Berkelas

Ada dua jenis manusia di dunia ini.

Pertama, manusia yang kalau mau beli bakso saja membuka tiga aplikasi review, membaca rating bintang, membandingkan harga kuah, lalu akhirnya makan mi instan di rumah karena “lebih aman.”

Kedua, manusia seperti Terence McKenna, yang melihat jurang menganga lalu berkata:
“Hmm… sepertinya alam semesta sedang mengundang saya berdansa.”

Dan anehnya, orang kedua sering terlihat lebih bahagia.

Kutipan legendaris McKenna tentang keberanian eksistensial pada dasarnya adalah versi spiritual dari kalimat: “Udah, lompat aja dulu. Nanti semesta bantu.” Bedanya, kalau motivator biasa mengucapkannya sambil memakai jas ketat dan headset wireless, McKenna mengucapkannya seperti seorang dukun kosmik yang baru selesai ngobrol dengan jamur halusinogen di tengah hutan Amazon.

Ia berkata bahwa alam mencintai keberanian. Kalimat ini terdengar indah, meskipun kalau dipikir-pikir cukup membingungkan. Sebab pengalaman rata-rata manusia modern justru menunjukkan bahwa alam sering kali mencintai diskon, cicilan, dan notifikasi tagihan listrik.

Namun McKenna bersikeras: ketika manusia benar-benar berkomitmen pada sesuatu yang tampaknya mustahil, semesta akan membantu menyingkirkan rintangan. Dalam bahasa sehari-hari, ini seperti keyakinan para pedagang gorengan bahwa “rezeki mah ada aja.” Sebuah filsafat yang tampak sederhana, tetapi secara misterius membuat orang tetap kuat meskipun minyak goreng naik dan cuaca hujan terus.

Masalahnya, manusia modern terlalu akrab dengan rasa aman. Kita hidup di zaman ketika orang ingin segalanya serba pasti. Mau menikah harus ada simulasi Excel. Mau buka usaha harus ada webinar, e-book, mentor bisnis, dan minimal tiga quote stoik di Instagram. Bahkan untuk bahagia pun sekarang orang mencari tutorial YouTube berdurasi tujuh menit.

McKenna datang membawa kabar buruk sekaligus kabar baik: hidup tidak bisa dipahami sepenuhnya sebelum dijalani dengan nekat.

Ia menggunakan metafora yang sangat dramatis: “melemparkan diri ke jurang dan menemukan bahwa ternyata itu hanya kasur bulu.” Ini adalah kalimat yang sangat puitis, meskipun tetap terdengar seperti promosi hotel ekstrem milik kaum sufi.

Tetapi di situlah inti humornya kehidupan. Banyak ketakutan manusia ternyata hanyalah karangan pikiran sendiri. Kita membayangkan kegagalan seolah kiamat pribadi. Padahal sering kali setelah kejadian berlalu, kita malah berkata:
“Oh… cuma gitu?”

Mirip mahasiswa yang panik sebelum sidang skripsi, lalu keluar ruangan sambil heran karena dosennya ternyata lebih sibuk memikirkan makan siang daripada menghancurkan masa depan akademiknya.

McKenna tampaknya memahami sesuatu yang sering gagal dipahami manusia modern: alam semesta tidak selalu merespons kehati-hatian berlebihan. Kadang-kadang realitas baru membuka pintu setelah manusia cukup gila untuk mengetuknya.

Inilah sebabnya ia menyebut para filsuf dan guru besar sebagai mereka yang “menyentuh emas alkimia.” Dalam tradisi kuno, alkimia bukan sekadar mengubah timah menjadi emas, tetapi mengubah manusia penakut menjadi manusia sadar. Dan proses itu rupanya tidak terjadi lewat rebahan sambil scrolling media sosial selama empat jam.

Lucunya, manusia sangat pandai memelihara ketakutan. Kita merawat kecemasan seperti tanaman hias. Disiram setiap hari dengan overthinking. Dipupuk dengan skenario buruk. Lalu dipamerkan ke teman-teman:
“Kayaknya gue gak bakal berhasil deh…”

Padahal kadang-kadang semesta sudah berdiri di depan pintu sambil berkata:
“Tinggal jalan, Bos. Saya udah siap bantu.”

Tetapi manusia malah sibuk membuat PowerPoint tentang kemungkinan gagal.

Tentu saja McKenna bukan sedang mengajak orang menjadi nekat tanpa otak. Ini penting. Sebab selalu ada satu orang yang membaca filsafat eksistensial lalu memutuskan resign besok pagi tanpa tabungan, tanpa rencana, dan tanpa kemampuan memasak mi dengan benar.

Keberanian yang dimaksud McKenna bukan kecerobohan, melainkan kesediaan untuk hidup secara total. Ada beda besar antara “percaya pada semesta” dan “pinjam uang teman lalu menghilang demi mengejar pencerahan.”

Yang menarik, pesan McKenna terasa relevan justru di era modern yang sangat rasional. Kita hidup di zaman penuh data, statistik, dan algoritma, tetapi ironisnya semakin banyak orang kehilangan keberanian dasar untuk hidup spontan. Semua ingin terkalkulasi. Semua ingin aman. Semua ingin kepastian.

Padahal sebagian besar hal terbaik dalam hidup lahir dari sedikit kegilaan yang elegan.

Jatuh cinta adalah kegilaan.
Membuat karya adalah kegilaan.
Memulai usaha adalah kegilaan.
Mengatakan “saya bisa” ketika semua orang berkata “mustahil” juga kegilaan.

Dan mungkin benar kata McKenna: alam diam-diam menyukai orang-orang seperti itu.

Sebab semesta tampaknya bosan dengan manusia yang hidup seperti draft email—disimpan terus, diedit terus, tapi tidak pernah dikirim.

Pada akhirnya, kutipan McKenna adalah tamparan lembut bagi jiwa manusia modern yang terlalu hati-hati. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan ruang tunggu bandara tempat kita terus menunda keberangkatan sampai merasa benar-benar siap.

Karena rahasia besar kehidupan mungkin memang absurd:
sering kali kasur paling empuk berada tepat di dasar jurang yang paling kita takuti.

abah-arul.blospot.com., Mei 2026

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.