Rabu, 06 Mei 2026

Freud, Kata-Kata, dan Netizen yang Hobi Menjadi Trauma Berjalan

Ada ironi besar dalam hidup modern: manusia berhasil menciptakan kecerdasan buatan, roket yang bisa mendarat ulang, dan kopi susu dengan tujuh belas varian gula aren—tetapi masih gagal memahami bahwa komentar “kok kamu gendutan ya?” bukan bentuk perhatian medis.

Di tengah peradaban yang begitu maju itu, muncullah sebuah tweet panjang tentang Sigmund Freud yang mengingatkan manusia pada penemuan paling revolusioner abad modern: ternyata mulut tetangga bisa lebih berbahaya daripada bakteri.

Tweet tersebut terasa seperti pelukan hangat di tengah timeline yang biasanya dipenuhi debat politik, teori konspirasi, dan orang yang merasa wajib memberi motivasi hidup hanya karena berhasil bangun jam lima pagi selama dua hari berturut-turut. Isinya sederhana namun menusuk: kata-kata bisa menyembuhkan, dan kata-kata juga bisa menghancurkan.

Freud, dalam tweet itu, digambarkan hampir seperti kakek bijak yang duduk di kursi rotan sambil berkata, “Nak, jangan kasar pada orang lain. Jiwa manusia lebih rapuh daripada sinyal Wi-Fi saat hujan.”

Dan memang, semakin dipikir-pikir, sebagian besar luka manusia ternyata bukan berasal dari benda tajam, melainkan dari kalimat sederhana yang dilemparkan dengan santai:
“Ah, kamu mah lebay.”
“Kurang bersyukur aja.”
“Atasanku lebih galak dari itu, santai dong.”

Kalimat-kalimat ini biasanya diucapkan oleh orang yang kalau ditanya kabar akan menjawab, “Aku blunt person,” padahal sebenarnya hanya belum menemukan cara elegan untuk menjadi menyebalkan.

Freud mungkin benar ketika ia mulai memperhatikan bahwa penderitaan manusia sering kali tidak terlihat di tubuh, tetapi bersembunyi di kepala. Ada orang yang badannya sehat, hasil medical check-up bagus, kolesterol aman, tetapi begitu mendengar nada notifikasi WhatsApp dari mantan, jantungnya langsung seperti konser drum metal.

Di situlah Freud masuk dengan teori psikoanalisisnya. Ia tidak cuma melihat pasien sebagai kumpulan organ biologis, tetapi juga sebagai gudang kenangan memalukan yang disimpan rapi sejak umur tujuh tahun. Menurut Freud, manusia tidak pernah benar-benar lupa. Alam bawah sadar kita itu seperti admin grup keluarga: diam-diam menyimpan semuanya.

Dan celakanya, yang paling lama tersimpan biasanya bukan pujian, melainkan penghinaan kecil.

Coba perhatikan. Seseorang bisa lupa nilai matematika SMA-nya, tetapi masih ingat persis ucapan guru tahun 2009:
“Kamu ini potensinya ada, tapi sayang otaknya piknik terus.”

Kalimat itu hidup abadi. Ia menetap dalam jiwa seperti file “final_fix_revisi_beneran_FINAL(3).docx”.

Karena itu, tweet tadi terasa relevan. Di zaman sekarang, manusia makin miskin perhatian tetapi kaya opini. Semua orang ingin berbicara, sedikit yang mau mendengar. Bahkan curhat modern pun sering berubah menjadi lomba siapa paling menderita.

“Aku capek banget.”
“Capek? Aku lebih capek!”

Belum selesai cerita, lawan bicara sudah membuka presentasi PowerPoint penderitaannya sendiri.

Media sosial memperparah keadaan. Dahulu orang harus berjalan jauh untuk menyakiti hati orang lain. Sekarang cukup dengan kuota internet dan keberanian anonim. Satu komentar jahat bisa dikirim sambil rebahan memakai sarung dan ngemil kerupuk.

Peradaban benar-benar efisien.

Namun, seperti semua hal di internet, tweet tentang Freud itu juga sedikit romantis. Freud digambarkan terlalu lembut, padahal aslinya beliau adalah ilmuwan kontroversial yang membuat banyak orang modern berkata:
“Pak, ini teorinya serius atau habis mimpi aneh?”

Teori tentang kompleks Oedipus, seksualitas infantil, dan alam bawah sadar membuat Freud lebih mirip penulis plot serial Netflix daripada dokter biasa. Jika Freud hidup di era sekarang, kemungkinan besar beliau akan viral di TikTok dengan caption:
“Psikolog ini membongkar kenapa kamu suka orang toxic 😱”

Tetapi justru di situlah lucunya media sosial: tokoh serumit Freud direduksi menjadi semacam motivator healing dengan kutipan estetik berlatar senja.

Internet memang memiliki kemampuan ajaib mengubah filsuf rumit menjadi caption mug kopi.

Meski begitu, inti pesannya tetap kuat. Kata-kata memang punya daya luar biasa. Kita semua pernah diselamatkan oleh satu kalimat sederhana:
“Kamu nggak sendiri.”
“Aku percaya sama kamu.”
“Gapapa, istirahat dulu.”

Dan sebaliknya, kita juga tahu bagaimana satu kalimat bisa menghancurkan hari, minggu, bahkan bertahun-tahun hidup seseorang.

Ironisnya, manusia sering lebih berhati-hati memakai ponsel daripada memakai mulut. HP dibungkus casing antijatuh, dipasang tempered glass, dibersihkan tiap hari. Tetapi lidah dibiarkan mode brutal 24 jam.

Padahal kerusakan layar masih bisa diganti.
Kerusakan batin kadang harus dibawa sampai terapi.

Di titik ini, mungkin Freud akan tersenyum kecil sambil menyalakan cerutunya. Setelah ratusan tahun perkembangan ilmu pengetahuan, manusia akhirnya sampai pada kesimpulan yang sebenarnya sederhana: sebagian orang tidak membutuhkan ceramah panjang, hanya membutuhkan didengarkan tanpa dihakimi.

Sayangnya, kemampuan mendengar kini menjadi keterampilan langka. Orang lebih cepat memberi solusi daripada empati. Baru dua menit curhat, sudah disuruh ikut seminar, jogging pagi, minum air putih, menikah, lalu ternak lele.

Seolah seluruh problem psikologis manusia bisa selesai dengan “coba lebih positif aja.”

Padahal kadang orang tidak ingin solusi.
Mereka hanya ingin ditemani supaya tidak merasa sendirian di dalam kepalanya sendiri.

Dan mungkin itulah warisan paling penting dari Freud—bukan sekadar teori rumit tentang alam bawah sadar, tetapi kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang hidup dari relasi dan bahasa. Kita dibentuk oleh kata-kata, dibesarkan oleh kata-kata, jatuh karena kata-kata, dan kadang bangkit lagi juga karena kata-kata.

Maka, di tengah dunia yang semakin bising ini, barangkali bentuk revolusi paling sederhana adalah berbicara dengan lebih lembut.

Karena siapa tahu, bagi seseorang yang sedang nyaris runtuh, satu kalimat baik dari kita bisa bekerja lebih cepat daripada sinyal internet, lebih ampuh daripada kopi literan, dan lebih menenangkan daripada fitur “mute group selama 1 tahun.”

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.