Ada ironi besar dalam hidup modern: manusia berhasil menciptakan kecerdasan buatan, roket yang bisa mendarat ulang, dan kopi susu dengan tujuh belas varian gula aren—tetapi masih gagal memahami bahwa komentar “kok kamu gendutan ya?” bukan bentuk perhatian medis.
Di tengah peradaban yang begitu maju itu, muncullah sebuah
tweet panjang tentang Sigmund Freud yang mengingatkan manusia pada penemuan
paling revolusioner abad modern: ternyata mulut tetangga bisa lebih berbahaya
daripada bakteri.
Tweet tersebut terasa seperti pelukan hangat di tengah
timeline yang biasanya dipenuhi debat politik, teori konspirasi, dan orang yang
merasa wajib memberi motivasi hidup hanya karena berhasil bangun jam lima pagi
selama dua hari berturut-turut. Isinya sederhana namun menusuk: kata-kata bisa
menyembuhkan, dan kata-kata juga bisa menghancurkan.
Freud, dalam tweet itu, digambarkan hampir seperti kakek
bijak yang duduk di kursi rotan sambil berkata, “Nak, jangan kasar pada orang
lain. Jiwa manusia lebih rapuh daripada sinyal Wi-Fi saat hujan.”
Kalimat-kalimat ini biasanya diucapkan oleh orang yang kalau
ditanya kabar akan menjawab, “Aku blunt person,” padahal sebenarnya hanya belum
menemukan cara elegan untuk menjadi menyebalkan.
Freud mungkin benar ketika ia mulai memperhatikan bahwa
penderitaan manusia sering kali tidak terlihat di tubuh, tetapi bersembunyi di
kepala. Ada orang yang badannya sehat, hasil medical check-up bagus, kolesterol
aman, tetapi begitu mendengar nada notifikasi WhatsApp dari mantan, jantungnya
langsung seperti konser drum metal.
Di situlah Freud masuk dengan teori psikoanalisisnya. Ia
tidak cuma melihat pasien sebagai kumpulan organ biologis, tetapi juga sebagai
gudang kenangan memalukan yang disimpan rapi sejak umur tujuh tahun. Menurut
Freud, manusia tidak pernah benar-benar lupa. Alam bawah sadar kita itu seperti
admin grup keluarga: diam-diam menyimpan semuanya.
Dan celakanya, yang paling lama tersimpan biasanya bukan
pujian, melainkan penghinaan kecil.
Kalimat itu hidup abadi. Ia menetap dalam jiwa seperti file
“final_fix_revisi_beneran_FINAL(3).docx”.
Karena itu, tweet tadi terasa relevan. Di zaman sekarang,
manusia makin miskin perhatian tetapi kaya opini. Semua orang ingin berbicara,
sedikit yang mau mendengar. Bahkan curhat modern pun sering berubah menjadi
lomba siapa paling menderita.
Belum selesai cerita, lawan bicara sudah membuka presentasi
PowerPoint penderitaannya sendiri.
Media sosial memperparah keadaan. Dahulu orang harus
berjalan jauh untuk menyakiti hati orang lain. Sekarang cukup dengan kuota
internet dan keberanian anonim. Satu komentar jahat bisa dikirim sambil rebahan
memakai sarung dan ngemil kerupuk.
Peradaban benar-benar efisien.
Tetapi justru di situlah lucunya media sosial: tokoh serumit
Freud direduksi menjadi semacam motivator healing dengan kutipan estetik
berlatar senja.
Internet memang memiliki kemampuan ajaib mengubah filsuf
rumit menjadi caption mug kopi.
Dan sebaliknya, kita juga tahu bagaimana satu kalimat bisa
menghancurkan hari, minggu, bahkan bertahun-tahun hidup seseorang.
Ironisnya, manusia sering lebih berhati-hati memakai ponsel
daripada memakai mulut. HP dibungkus casing antijatuh, dipasang tempered glass,
dibersihkan tiap hari. Tetapi lidah dibiarkan mode brutal 24 jam.
Di titik ini, mungkin Freud akan tersenyum kecil sambil
menyalakan cerutunya. Setelah ratusan tahun perkembangan ilmu pengetahuan,
manusia akhirnya sampai pada kesimpulan yang sebenarnya sederhana: sebagian
orang tidak membutuhkan ceramah panjang, hanya membutuhkan didengarkan tanpa
dihakimi.
Sayangnya, kemampuan mendengar kini menjadi keterampilan
langka. Orang lebih cepat memberi solusi daripada empati. Baru dua menit
curhat, sudah disuruh ikut seminar, jogging pagi, minum air putih, menikah,
lalu ternak lele.
Seolah seluruh problem psikologis manusia bisa selesai
dengan “coba lebih positif aja.”
Dan mungkin itulah warisan paling penting dari Freud—bukan
sekadar teori rumit tentang alam bawah sadar, tetapi kesadaran bahwa manusia
adalah makhluk yang hidup dari relasi dan bahasa. Kita dibentuk oleh kata-kata,
dibesarkan oleh kata-kata, jatuh karena kata-kata, dan kadang bangkit lagi juga
karena kata-kata.
Maka, di tengah dunia yang semakin bising ini, barangkali
bentuk revolusi paling sederhana adalah berbicara dengan lebih lembut.
Karena siapa tahu, bagi seseorang yang sedang nyaris runtuh,
satu kalimat baik dari kita bisa bekerja lebih cepat daripada sinyal internet,
lebih ampuh daripada kopi literan, dan lebih menenangkan daripada fitur “mute
group selama 1 tahun.”
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.