(Tentang Membaca yang Terlalu Serius untuk Dianggap Main-main)
Di zaman ketika orang bisa menghabiskan tiga jam menonton
video “kucing jatuh dari meja lalu pura-pura tidak bersalah,” muncul sebuah
kutipan dari Hélène Gestern yang nadanya justru seperti ibu bijak yang tahu
anaknya diam-diam makan mie instan tengah malam.
Lewat bukunya Armen: l'exil et l'écriture, ia berkata
kurang lebih begini: “Nanti kalau kamu sudah bisa membaca, kamu tidak akan
pernah bosan lagi.”
Kalimat ini sederhana. Terlalu sederhana, sampai-sampai
terdengar seperti janji palsu—semacam iklan kuota internet “unlimited” yang
ternyata ada bintang kecilnya.
Namun bedanya, Gestern tidak sedang jualan paket data. Ia sedang menjual sesuatu yang jauh lebih berbahaya: kesadaran.
Membaca: Obat Anti Bosan yang Tidak Bisa Direfund
Kita semua pernah bosan. Bahkan, sebagian dari kita
menjadikan bosan sebagai identitas diri. “Aku lagi bosan” bukan lagi kondisi,
tapi status eksistensial.
Reaksinya biasanya dua:
- Tersinggung
- Atau
pura-pura mati
Padahal, di situlah letak kejeniusan ide ini. Membaca bukan sekadar aktivitas; ia adalah sabotase terhadap kebosanan. Dua puluh enam huruf disusun sedemikian rupa hingga mampu mengubah seseorang dari “tidak tahu mau ngapain” menjadi “lupa waktu, lupa makan, lupa mantan (sementara).”
Dua Puluh Enam Huruf: Modal Kecil, Ambisi Besar
Mari kita jujur: dua puluh enam huruf itu kelihatannya tidak
meyakinkan.
Bandingkan dengan:
- 12
zodiak (yang katanya bisa menjelaskan kepribadian)
- 118
unsur tabel periodik (yang benar-benar menjelaskan dunia)
- atau
bahkan 7 rasa dalam mie instan (yang menjelaskan kehidupan anak kos)
Huruf? Cuma 26.
Namun dari jumlah yang “receh” ini, manusia berhasil
menciptakan:
- puisi
patah hati,
- kontrak
politik,
- chat
“lagi apa?” yang tidak pernah punya jawaban jelas,
- hingga
kitab suci yang mengubah peradaban.
Jadi ya, kalau huruf ini adalah investasi, ini termasuk kategori high return, absurdly low capital.
Transaksi Aneh: Menukar Waktu dengan Kehidupan Orang Lain
Gestern bilang membaca itu seperti transaksi. Kita menukar
waktu kita dengan pengalaman orang lain.
Kalau dipikir-pikir, ini agak mencurigakan.
Kita duduk diam, mata bergerak sedikit, tubuh hampir tidak
berkontribusi—tapi tiba-tiba kita:
- ikut
perang tanpa luka,
- jatuh
cinta tanpa ditolak,
- atau
bangkrut tanpa kehilangan uang.
Ini satu-satunya aktivitas di mana Anda bisa hidup seribu
kehidupan tanpa harus bayar pajak tambahan.
Bandingkan dengan dunia nyata:
- Mau
pengalaman? Harus keluar rumah
- Mau
pengetahuan? Harus bayar kursus
- Mau
drama? Cukup buka grup keluarga
Ketika Dunia Nyata Mengecil, Huruf Membesar
Konteks Armen sendiri berbicara tentang penderitaan,
pengasingan, dan tubuh yang terbatas. Dan di titik ini, esai ini hampir
kehilangan kelucuannya—karena kenyataannya memang tidak lucu.
Namun justru di situlah twist-nya.
Ketika dunia nyata menyempit—karena sakit, karena trauma,
atau bahkan karena sinyal WiFi yang hanya satu bar—huruf-huruf justru melebar
tanpa batas.
Ironis, bukan?
Tubuh bisa terpenjara, tapi pikiran yang dipersenjatai dengan alfabet malah jadi pelancong paling bebas di dunia.
Membaca vs Scroll: Pertarungan Epik yang Tidak Seimbang
Membaca buku:
- butuh
fokus
- butuh
waktu
- kadang
butuh niat (yang ini paling mahal)
Scroll:
- tidak
butuh apa-apa
- bahkan
tidak butuh tujuan
- Anda
bisa mulai dari video resep dan berakhir di teori konspirasi tentang alien
yang membuka warung kopi
Dua Puluh Enam Huruf, dan Kita yang Sering Tidak
Sadar
Jadi, lain kali Anda merasa bosan, hampa, atau hidup terasa
seperti loading yang tidak selesai-selesai…
Mungkin bukan hidupnya yang kurang menarik.
Mungkin Anda hanya belum menukar dua puluh enam huruf itu
dengan kehidupan yang lain.
Dan percayalah—itu adalah transaksi paling menguntungkan
yang tidak pernah diajarkan di sekolah bisnis mana pun.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.