Rabu, 06 Mei 2026

Dua Puluh Enam Huruf dan Satu Drama Kehidupan

 


(Tentang Membaca yang Terlalu Serius untuk Dianggap Main-main)

Di zaman ketika orang bisa menghabiskan tiga jam menonton video “kucing jatuh dari meja lalu pura-pura tidak bersalah,” muncul sebuah kutipan dari Hélène Gestern yang nadanya justru seperti ibu bijak yang tahu anaknya diam-diam makan mie instan tengah malam.

Lewat bukunya Armen: l'exil et l'écriture, ia berkata kurang lebih begini: “Nanti kalau kamu sudah bisa membaca, kamu tidak akan pernah bosan lagi.”

Kalimat ini sederhana. Terlalu sederhana, sampai-sampai terdengar seperti janji palsu—semacam iklan kuota internet “unlimited” yang ternyata ada bintang kecilnya.

Namun bedanya, Gestern tidak sedang jualan paket data. Ia sedang menjual sesuatu yang jauh lebih berbahaya: kesadaran.

Membaca: Obat Anti Bosan yang Tidak Bisa Direfund

Kita semua pernah bosan. Bahkan, sebagian dari kita menjadikan bosan sebagai identitas diri. “Aku lagi bosan” bukan lagi kondisi, tapi status eksistensial.

Nah, Gestern datang dengan solusi yang hampir terdengar ofensif:
“Coba baca.”

Bayangkan seseorang mengeluh, “Hidupku kosong.”
Lalu dijawab, “Sudah coba baca buku?”

Reaksinya biasanya dua:

  1. Tersinggung
  2. Atau pura-pura mati

Padahal, di situlah letak kejeniusan ide ini. Membaca bukan sekadar aktivitas; ia adalah sabotase terhadap kebosanan. Dua puluh enam huruf disusun sedemikian rupa hingga mampu mengubah seseorang dari “tidak tahu mau ngapain” menjadi “lupa waktu, lupa makan, lupa mantan (sementara).”

Dua Puluh Enam Huruf: Modal Kecil, Ambisi Besar

Mari kita jujur: dua puluh enam huruf itu kelihatannya tidak meyakinkan.

Bandingkan dengan:

  • 12 zodiak (yang katanya bisa menjelaskan kepribadian)
  • 118 unsur tabel periodik (yang benar-benar menjelaskan dunia)
  • atau bahkan 7 rasa dalam mie instan (yang menjelaskan kehidupan anak kos)

Huruf? Cuma 26.

Namun dari jumlah yang “receh” ini, manusia berhasil menciptakan:

  • puisi patah hati,
  • kontrak politik,
  • chat “lagi apa?” yang tidak pernah punya jawaban jelas,
  • hingga kitab suci yang mengubah peradaban.

Jadi ya, kalau huruf ini adalah investasi, ini termasuk kategori high return, absurdly low capital.

Transaksi Aneh: Menukar Waktu dengan Kehidupan Orang Lain

Gestern bilang membaca itu seperti transaksi. Kita menukar waktu kita dengan pengalaman orang lain.

Kalau dipikir-pikir, ini agak mencurigakan.

Kita duduk diam, mata bergerak sedikit, tubuh hampir tidak berkontribusi—tapi tiba-tiba kita:

  • ikut perang tanpa luka,
  • jatuh cinta tanpa ditolak,
  • atau bangkrut tanpa kehilangan uang.

Ini satu-satunya aktivitas di mana Anda bisa hidup seribu kehidupan tanpa harus bayar pajak tambahan.

Bandingkan dengan dunia nyata:

  • Mau pengalaman? Harus keluar rumah
  • Mau pengetahuan? Harus bayar kursus
  • Mau drama? Cukup buka grup keluarga

Sedangkan membaca?
Cukup buka halaman.

Ketika Dunia Nyata Mengecil, Huruf Membesar

Konteks Armen sendiri berbicara tentang penderitaan, pengasingan, dan tubuh yang terbatas. Dan di titik ini, esai ini hampir kehilangan kelucuannya—karena kenyataannya memang tidak lucu.

Namun justru di situlah twist-nya.

Ketika dunia nyata menyempit—karena sakit, karena trauma, atau bahkan karena sinyal WiFi yang hanya satu bar—huruf-huruf justru melebar tanpa batas.

Ironis, bukan?

Tubuh bisa terpenjara, tapi pikiran yang dipersenjatai dengan alfabet malah jadi pelancong paling bebas di dunia.

Membaca vs Scroll: Pertarungan Epik yang Tidak Seimbang

Sekarang kita masuk ke konflik utama zaman ini:
membaca buku vs scroll media sosial.

Membaca buku:

  • butuh fokus
  • butuh waktu
  • kadang butuh niat (yang ini paling mahal)

Scroll:

  • tidak butuh apa-apa
  • bahkan tidak butuh tujuan
  • Anda bisa mulai dari video resep dan berakhir di teori konspirasi tentang alien yang membuka warung kopi

Namun bedanya satu:
Scroll membuat waktu hilang.
Membaca membuat waktu berubah bentuk.

Dua Puluh Enam Huruf, dan Kita yang Sering Tidak Sadar

Pada akhirnya, pesan Hélène Gestern itu sederhana tapi sedikit “menyindir”:
Kita sudah diberi alat paling kuat untuk melawan kekosongan—dan sering kali kita memilih tidak memakainya.

Dua puluh enam huruf itu seperti kunci universal.
Masalahnya bukan pintunya yang tidak ada.
Masalahnya, kita sering lebih tertarik melihat gagang pintunya daripada membukanya.

Jadi, lain kali Anda merasa bosan, hampa, atau hidup terasa seperti loading yang tidak selesai-selesai…

Mungkin bukan hidupnya yang kurang menarik.

Mungkin Anda hanya belum menukar dua puluh enam huruf itu dengan kehidupan yang lain.

Dan percayalah—itu adalah transaksi paling menguntungkan yang tidak pernah diajarkan di sekolah bisnis mana pun.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.