Senin, 04 Mei 2026

Jangan Mati di Dalam: Catatan Ringan dari Orang yang Belum Siap Jadi Kursi Tamu

Ada dua jenis orang di dunia ini: yang takut mati, dan yang diam-diam sudah mati tapi masih rajin bayar listrik.

Kisah William Frankland masuk kategori yang kedua—eh, maksudnya kebalikannya. Beliau hidup sampai 108 tahun, bukan karena minum jamu rahasia nenek moyang atau tidur di dalam kulkas setiap malam, tapi karena satu prinsip sederhana yang terdengar seperti nasihat ibu-ibu arisan tapi ternyata lebih dalam dari filsafat Yunani: jangan putus koneksi.

Atau, dalam versi yang lebih terdengar seperti mantra sufi: La tanfasil.

Kalimat ini kalau dipasang di bio Instagram mungkin tidak akan viral. Tapi kalau dipasang di hidup, efeknya bisa bikin umur nambah—minimal nambah alasan untuk bangun pagi.

Mati Pelan-Pelan: Hobi Baru Tanpa Disadari

Mari jujur. Banyak dari kita sebenarnya tidak takut mati. Kita lebih takut hidup tanpa Wi-Fi.

Masalahnya, tanpa sadar kita sering melakukan hal yang jauh lebih berbahaya: memutus koneksi dari hidup itu sendiri. Kita berhenti penasaran, berhenti belajar, berhenti merasa penting. Kita hidup, tapi seperti aplikasi yang berjalan di background—ada, tapi tidak terasa.

Ini yang oleh tubuh diterjemahkan sebagai: “Oh, sepertinya kita sudah tidak dipakai lagi.”

Tubuh itu seperti pegawai negeri yang sangat patuh. Begitu dapat sinyal “tidak ada kerjaan,” dia langsung masuk mode hemat energi:

  • Tidur jadi aneh (antara kebanyakan atau kurang)

  • Energi turun (padahal tidak ngapa-ngapain)

  • Imun melemah (virus sampai bingung: “Ini kita disambut atau gimana?”)

Intinya: tubuh tidak membunuh kita. Ia hanya setuju dengan keputusan kita untuk pelan-pelan mundur dari kehidupan.

Rahasia Awet Muda: Bukan Skincare, Tapi “Dipakai”

Dr. Frankland tetap merawat pasien bahkan ketika usianya sudah lebih tua dari sejarah kemerdekaan beberapa negara. Bukan karena butuh uang, tapi karena satu hal yang sering kita remehkan: merasa dibutuhkan.

Ini rahasia yang tidak dijual di apotek:

  • Merasa berguna menurunkan stres

  • Punya tujuan bikin otak tetap “nyala”

  • Koneksi sosial bikin jantung lebih damai

Kalau ini obat, mungkin sudah dipatenkan dan dijual mahal dengan nama: PurposeMax 500 mg, diminum saat existential crisis.

Kritik Halus (Tapi Lumayan Ngena)

Esai ini sebenarnya sedang menyindir kita—dengan sopan, tapi tetap nyelekit.

Untuk para pensiunan:
“Istirahat total” itu kadang terdengar seperti hadiah, tapi kalau terlalu lama bisa berubah jadi pemanasan menuju kehampaan.

Untuk pekerja aktif:
Rutinitas tanpa makna itu seperti makan nasi tanpa lauk—kenyang, tapi tidak bahagia.

Untuk para pria (ini khusus, mohon duduk tegak):
Sering kali kita jago cari nafkah, tapi pelan-pelan memutus koneksi emosional. Lama-lama bukan cuma hubungan yang dingin, tapi hidup juga ikut mendingin.

Pertanyaan Paling Tidak Nyaman

Coba tanya ke diri sendiri, pelan-pelan:

“Saya ini hidup… atau cuma belum mati?”

Kalau jawabannya butuh waktu lebih dari lima detik, mungkin ada yang perlu disambungkan kembali.

Karena kematian paling sunyi bukan ketika jantung berhenti, tapi ketika rasa ingin tahu berhenti duluan.

Jangan Jadi Furnitur

Pada akhirnya, pesan dari William Frankland itu sederhana tapi mengganggu kenyamanan:

Jangan berhenti terhubung.

Dengan orang.
Dengan makna.
Dengan rasa ingin tahu.

Karena hidup itu bukan soal berapa lama kita bertahan, tapi seberapa lama kita tetap hadir.

Jadi, kalau suatu hari Anda merasa lelah, kosong, atau seperti NPC dalam game orang lain—ingat satu kata ini:

La tanfasil.

Jangan putus koneksi.

Dan yang paling penting:
jangan berubah jadi kursi tamu—selalu ada, tapi tidak pernah benar-benar hidup.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.