Di zaman ketika notifikasi lebih sering kita dengar daripada suara hati, manusia modern tampaknya mengalami satu fenomena unik: baterai ponsel 5% langsung panik, tapi baterai iman 0% masih santai ngopi.
Dalam sebuah kajian tasawuf yang merujuk pada Kitab Al-Hikam
karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, kita diberi kabar yang agak menohok namun
disampaikan tanpa fitur “skip ad”: bisa jadi hati kita sudah mati… tapi
masih aktif di media sosial.
Ketika Hati Mati, Tapi Masih Bisa Ketawa
Dalam dunia medis, mati itu serius. Tapi dalam dunia
spiritual, mati bisa sangat… santai. Bayangkan seseorang yang bisa meninggalkan
shalat dengan ekspresi datar, seperti melewatkan episode sinetron yang memang
sudah tidak menarik sejak episode ke-300.
Hati dalam tasawuf bukan sekadar organ pemompa darah, tapi
semacam “CPU spiritual”. Kalau CPU ini rusak, maka semua input kebaikan akan
mengalami lag, bahkan kadang not responding.
Penyakit Hati: Bukan Masuk Angin, Tapi Masuk Dunia
Menurut para sufi (yang jelas bukan influencer, tapi
pengaruhnya jauh lebih dalam), ada beberapa virus yang bikin hati kita crash:
- Hubuddunya:
cinta dunia berlebihan. Ini bukan sekadar suka diskon, tapi menganggap
dunia adalah segalanya—seolah akhirat cuma opsional DLC.
- Ghaflah:
lupa kepada Allah. Biasanya ditandai dengan lebih hafal password Wi-Fi
daripada doa sehari-hari.
- Dosa
berantai: satu dosa memanggil dosa lain, seperti nonton satu video,
tahu-tahu sudah 3 jam dan hidup terasa hampa.
Ditambah lagi empat “starter pack” penyakit hati ala Imam
Al-Ghazali: sombong, riya, ujub, dan iri. Paket lengkap. Tinggal pilih mau
rusak dari sisi mana.
Antara Keadilan dan Bonus Tak Terduga
Di sinilah bagian yang agak melegakan. Dalam logika kita,
hidup sering seperti ujian: nilai menentukan nasib. Tapi dalam logika Ilahi,
ada yang namanya bonus dadakan—alias fadhal (anugerah).
Kalau hidup ini murni pakai sistem keadilan (‘adl),
mungkin kita sudah “tidak lulus” sejak bab awal. Tapi karena ada anugerah, kita
masih diberi kesempatan remedial tanpa batas.
Ikhlas: Dari Niat ke Otomatis
Ada dua level ikhlas yang menarik:
- Mukhlisin:
orang yang berusaha ikhlas. Ini level “manual”—niat diluruskan, hati
ditata, sambil sesekali tergoda ingin pamer sedikit (manusiawi).
- Mukhlasin:
orang yang sudah otomatis ikhlas. Ini level “auto mode”—tanpa perlu mikir,
semua amal sudah bersih dari pamrih.
Kalau mukhlisin itu seperti orang diet yang menahan diri
lihat gorengan, mukhlasin itu sudah tidak tertarik lagi—bahkan lewat tukang
gorengan pun hatinya tenang.
Konon, bahkan Iblis menyerah menghadapi tipe kedua ini.
Bukan karena mereka kuat, tapi karena mereka sudah “tidak punya ego” untuk
digoda.
Versi Modern: Hati Offline di Era Online
Masalahnya, kita hidup di era di mana:
- Bangun
tidur cek HP, bukan cek hati
- Lebih
takut ketinggalan tren daripada ketinggalan shalat
- Lebih
cemas soal saldo daripada soal makna hidup
Fenomena ghaflah sekarang tampil dalam bentuk baru: doomscrolling,
overthinking masa depan, dan membandingkan hidup sendiri dengan highlight orang
lain.
Kita sibuk mengejar rezeki, tapi lupa bahwa Allah dikenal
sebagai Ar-Razzaq, bukan “HRD semesta yang harus kita yakinkan dengan
CV”.
Cara Menghidupkan Hati (Tanpa Perlu Service Center)
Kabar baiknya: hati tidak benar-benar “rusak permanen”. Ini
bukan gadget.
Beberapa langkah sederhana:
- Berhenti
menormalisasi dosa (minimal jangan bangga)
- Perbanyak
zikir (anggap saja ini “charging spiritual”)
- Sadar
bahwa kita lemah (ini bukan merendahkan diri, tapi memahami posisi)
Hati yang Masih Bisa Error Itu Berharga
Akhirnya, mungkin kita tidak perlu langsung menjadi wali.
Cukup mulai dari satu hal sederhana: mengakui bahwa hati kita butuh
dihidupkan kembali.
Itu detak pertama dari jantung spiritual yang mulai hidup
kembali.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.