Di zaman ketika manusia lebih hafal password Wi-Fi tetangga daripada isi hatinya sendiri, pertanyaan klasik itu datang dengan santun tapi menusuk: “Apakah hati sudah mengenal dirinya?” Sebuah pertanyaan yang, kalau muncul saat kita lagi scroll media sosial jam 2 pagi, biasanya langsung kita jawab dengan, “Nanti aja deh, lagi sibuk healing.”
Pesan ini disampaikan, —yang tampaknya
sadar bahwa manusia modern itu bukan tidak punya hati, tapi lebih sering lupa
password untuk mengaksesnya. Dalam video singkatnya, beliau mengajak kita
“menjenguk hati”. Istilah yang terdengar sederhana, tapi implikasinya dalam:
semacam silaturahmi internal yang sudah lama tidak kita lakukan. Bayangkan,
kita rajin menjenguk teman sakit, tapi hati sendiri sudah ICU sejak 2012—tidak
pernah ditengok.
Hati yang Murni vs Hati yang Multitasking
Menurut beliau, hati yang murni itu seharusnya diisi oleh
kehadiran Allah dan Rasulullah. Tapi dalam praktiknya, hati kita sering kali
seperti tab browser: ada Allah, iya… tapi juga ada diskon 11.11, mantan yang
belum move on, target karier, dan sedikit rasa iri yang disimpan rapi seperti
file rahasia.
Masalahnya bukan hati kita tidak punya kapasitas, tapi kita
terlalu demokratis—semua hal boleh masuk tanpa seleksi. Akibatnya, hati yang
seharusnya jadi “ruang VIP Ilahi” malah berubah jadi food court emosi: ramai,
bising, dan penuh antrean keluhan.
Hati Bandel dan Arsitektur Tembok yang Ambisius
Nasehat ini juga menyebut tentang “hati yang
bandel”—jenis hati yang kalau dinasihati malah bilang, “Terima kasih
masukannya, akan kami pertimbangkan,” lalu tidak berubah apa-apa.
Hati model ini biasanya hobi membangun dinding. Bukan
dinding biasa, tapi dinding spiritual dengan bahan premium: gengsi, dendam,
overthinking, dan sedikit sentuhan “aku paling benar”. Bata demi bata disusun
rapi, sampai akhirnya cahaya kebenaran datang pun harus antre dulu di
resepsionis.
Ironisnya, kita bangga dengan dinding itu. Kita bilang, “Ini
prinsip hidup!” padahal kalau dilihat dari dalam, lebih mirip bunker isolasi
daripada benteng kebijaksanaan.
Tragedi: Tahu Segalanya, Kecuali Diri Sendiri
Puncak tragedi dalam pesan ini adalah: hati yang tertutup
akhirnya tidak mengenal Tuhan, tidak mengenal Nabi, dan—ini yang paling
menyedihkan—tidak mengenal dirinya sendiri.
Ini semacam ironi modern: kita tahu algoritma, tahu tren,
tahu harga saham, tahu cara bikin kopi ala barista… tapi kalau ditanya, “Siapa
kamu di hadapan Tuhan?” jawabannya buffering.
Dalam dunia sufi, ini dikenal sebagai kegagalan mengenali
diri (al-jahl bi al-nafs). Sementara itu, pepatah legendaris mengatakan:
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.” Sayangnya,
banyak dari kita lebih mengenal fitur terbaru aplikasi daripada fitur dasar
jiwa sendiri.
Hati sebagai Kosmos (yang Sayangnya Jarang Dibersihkan)
Secara konsep, hati itu seperti mikrokosmos—miniatur alam
semesta. Semua ciptaan bertasbih, dan hati yang sehat seharusnya bisa
“mendengar” harmoni itu.
Tapi realitanya, hati kita lebih sering seperti kamar kos
mahasiswa: potensial luas, tapi penuh barang tidak penting, dan ada satu sudut
gelap yang tidak pernah dibersihkan sejak zaman prasejarah.
Akibatnya, bukan tasbih yang terdengar, tapi notifikasi
kecemasan, suara overthinking, dan bisikan, “Kayaknya hidup orang lain lebih
enak ya.”
Muhasabah: Audit Internal Tanpa Konsultan
Akhirnya, solusi yang ditawarkan bukan aplikasi baru atau
seminar motivasi 3 hari 2 malam, tapi sesuatu yang jauh lebih sederhana dan
lebih sulit: muhasabah.
Ini semacam audit internal, tapi tanpa Excel dan tanpa
deadline—hanya kejujuran. Pertanyaannya juga tidak banyak, tapi berat:
- “Aku
ini sebenarnya siapa?”
- “Hati
ini masih hidup, atau cuma aktif secara administratif?”
- “Yang
aku kejar ini, benar tujuan atau cuma distraksi berkedok ambisi?”
Muhasabah itu seperti membuka chat lama dengan diri sendiri—kadang bikin senyum, kadang bikin meringis, tapi selalu jujur.
Jangan Sampai Hati Unfollow Dirinya Sendiri
Pesan ini sebenarnya sederhana: hati
itu jangan sampai asing dengan dirinya sendiri. Karena kalau hati sudah tidak
kenal diri, ia akan mudah salah alamat—mencari kebahagiaan ke luar, padahal
kuncinya ada di dalam.
Mungkin kita tidak perlu langsung jadi sufi. Tidak perlu
juga langsung pindah ke gunung atau berhenti pakai media sosial (meskipun
kadang itu menggoda). Tapi setidaknya, sesekali, cobalah “menjenguk hati”.
Siapa tahu, di sana ada versi diri kita yang sudah lama
menunggu, sambil berkata pelan:
"Akhirnya kamu datang juga. Aku kira kamu sudah lupa
jalan pulang."
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.