Selasa, 05 Mei 2026

Sindrom Hubris: Ketika Kursi Empuk Lebih Berbahaya dari Gorengan Kantor

Di zaman ketika satu tweet bisa lebih berpengaruh daripada rapat tiga jam tanpa snack, muncul sebuah unggahan dari akun @KateriSeraphina yang mengingatkan kita pada penyakit lama dengan nama yang terdengar seperti merek obat Yunani: Sindrom Hubris. Jangan salah, ini bukan penyakit yang bisa disembuhkan dengan teh jahe atau cuti tahunan. Ini penyakit yang biasanya muncul… setelah seseorang dapat kursi.

Bukan kursi plastik hajatan, tapi kursi kekuasaan—yang empuknya bisa membuat tulang belakang moral sedikit melengkung.

Dari Pemimpin Jadi “Firaun Lite”

Dalam tweet tersebut, Sindrom Hubris digambarkan sebagai kondisi ketika seseorang mulai merasa dirinya adalah paket lengkap: benar, bijak, tampan (walau tidak selalu), dan—yang paling penting—tidak perlu dikoreksi.

Gejalanya cukup khas:

  • Setiap ide yang keluar dari mulutnya dianggap wahyu level ringan
  • Kritik dianggap sebagai bentuk makar terselubung
  • Rapat berubah menjadi monolog satu arah (dengan audiens yang pura-pura mencatat)

Pada tahap lanjut, penderita mulai menunjukkan perilaku “anak raja”—alias semua harus menyesuaikan dirinya. Jika AC terlalu dingin, itu salah staf. Jika target gagal, itu salah tim. Jika kopi kurang manis… ya tetap salah orang lain.

Dalam kondisi tertentu, ia bahkan bisa naik level menjadi “Firaun versi startup”—memimpin bukan dengan visi, tapi dengan ego yang sudah IPO duluan.

Bos Toxic atau Korban Kursi?

Yang menarik, tweet ini tidak sekadar mengajak kita mengeluh tentang bos yang hobi “ngegas tanpa rem”, tapi memberi semacam kacamata X-ray psikologis. Tiba-tiba kita jadi bisa mendiagnosis:

“Oh… ini bukan galak. Ini sudah masuk fase hubris ringan.”

Namun, di sinilah kita perlu sedikit waras. Tidak semua bos yang percaya diri itu sakit. Ada juga yang memang kompeten (ini langka, tapi ada). Kadang, yang kita kira “hubris” hanyalah orang yang tidak tersenyum saat Senin pagi.

Lagipula, mendiagnosis atasan tanpa gelar psikolog itu mirip seperti mendiagnosis diri sendiri lewat Google: hasilnya sering dramatis, tapi belum tentu akurat.

Masalahnya Bukan Lama Berkuasa, Tapi Lama Tidak Dikritik

Banyak yang berpikir: “Ah, ini pasti karena dia terlalu lama di posisi.”
Padahal, masalahnya bukan durasi, tapi isolasi.

Seseorang bisa berkuasa lama tanpa berubah—asal masih ada yang berani bilang:
“Pak, itu ide bagus… tapi mungkin agak ngawur.”

Sayangnya, dalam banyak organisasi, kritik itu seperti WiFi kantor: ada, tapi lemah. Akhirnya, pemimpin hidup dalam gelembung pujian. Dan kita semua tahu, terlalu lama di dalam gelembung bisa membuat seseorang lupa bahwa dunia nyata punya gravitasi.

Contoh ekstremnya? Kita tidak perlu jauh-jauh. Dunia sudah pernah melihat kasus seperti Elizabeth Holmes yang terlalu percaya pada narasi dirinya sendiri, atau Travis Kalanick yang membangun budaya kerja sekeras beton tanpa bantalan empati.

Mereka bukan kurang pintar. Mereka hanya terlalu lama tidak dikoreksi.

Kekuasaan: Obat atau Racun Tergantung Dosis

Pada akhirnya, Sindrom Hubris ini seperti kopi kantor:
Sedikit, bikin melek.
Kebanyakan, bikin jantung berdebar dan keputusan jadi aneh.

Kekuasaan pada dasarnya netral. Ia bisa membuat seseorang menjadi pemimpin bijak—atau karakter antagonis dalam grup WhatsApp kantor.

Masalahnya, tidak ada label dosis pada kekuasaan. Tidak ada tulisan:
“Gunakan secukupnya. Hindari konsumsi tanpa pengawasan.”

Maka satu-satunya penawar adalah kesadaran diri—sesuatu yang ironisnya sering hilang justru ketika seseorang merasa sudah “paling sadar”.

Jangan-Jangan Kita Juga…

Tweet dari @KateriSeraphina itu sebenarnya bukan tentang “mereka”—para pemimpin di atas sana.
Ini tentang kita.

Karena jujur saja, siapa pun bisa terkena Sindrom Hubris. Tidak harus CEO. Ketua panitia kurban pun berpotensi.

Cukup diberi sedikit kuasa, sedikit pujian, dan nol koreksi—maka dalam waktu singkat, kita bisa berubah dari “teman diskusi” menjadi “penguasa rapat”.

Jadi mungkin pertanyaan terpenting bukan:
“Apakah kita pernah punya bos seperti itu?”

Tapi:
“Kalau besok kita jadi bos… apakah orang lain akan menulis tweet yang sama tentang kita?”

Kalau iya, mungkin sudah waktunya kita menurunkan dosis—sebelum kursi itu benar-benar lebih berbahaya daripada gorengan yang sudah tiga kali dipanaskan ulang.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.