Di zaman ketika satu tweet bisa lebih berpengaruh daripada rapat tiga jam tanpa snack, muncul sebuah unggahan dari akun @KateriSeraphina yang mengingatkan kita pada penyakit lama dengan nama yang terdengar seperti merek obat Yunani: Sindrom Hubris. Jangan salah, ini bukan penyakit yang bisa disembuhkan dengan teh jahe atau cuti tahunan. Ini penyakit yang biasanya muncul… setelah seseorang dapat kursi.
Bukan kursi plastik hajatan, tapi kursi kekuasaan—yang
empuknya bisa membuat tulang belakang moral sedikit melengkung.
Dari Pemimpin Jadi “Firaun Lite”
Dalam tweet tersebut, Sindrom Hubris digambarkan sebagai
kondisi ketika seseorang mulai merasa dirinya adalah paket lengkap: benar,
bijak, tampan (walau tidak selalu), dan—yang paling penting—tidak perlu
dikoreksi.
Gejalanya cukup khas:
- Setiap
ide yang keluar dari mulutnya dianggap wahyu level ringan
- Kritik
dianggap sebagai bentuk makar terselubung
- Rapat
berubah menjadi monolog satu arah (dengan audiens yang pura-pura mencatat)
Pada tahap lanjut, penderita mulai menunjukkan perilaku
“anak raja”—alias semua harus menyesuaikan dirinya. Jika AC terlalu dingin, itu
salah staf. Jika target gagal, itu salah tim. Jika kopi kurang manis… ya tetap
salah orang lain.
Dalam kondisi tertentu, ia bahkan bisa naik level menjadi
“Firaun versi startup”—memimpin bukan dengan visi, tapi dengan ego yang sudah
IPO duluan.
Bos Toxic atau Korban Kursi?
Yang menarik, tweet ini tidak sekadar mengajak kita mengeluh
tentang bos yang hobi “ngegas tanpa rem”, tapi memberi semacam kacamata
X-ray psikologis. Tiba-tiba kita jadi bisa mendiagnosis:
“Oh… ini bukan galak. Ini sudah masuk fase hubris ringan.”
Namun, di sinilah kita perlu sedikit waras. Tidak semua bos
yang percaya diri itu sakit. Ada juga yang memang kompeten (ini langka, tapi
ada). Kadang, yang kita kira “hubris” hanyalah orang yang tidak tersenyum saat
Senin pagi.
Lagipula, mendiagnosis atasan tanpa gelar psikolog itu mirip
seperti mendiagnosis diri sendiri lewat Google: hasilnya sering dramatis, tapi
belum tentu akurat.
Masalahnya Bukan Lama Berkuasa, Tapi Lama Tidak Dikritik
Sayangnya, dalam banyak organisasi, kritik itu seperti WiFi
kantor: ada, tapi lemah. Akhirnya, pemimpin hidup dalam gelembung pujian. Dan
kita semua tahu, terlalu lama di dalam gelembung bisa membuat seseorang lupa
bahwa dunia nyata punya gravitasi.
Contoh ekstremnya? Kita tidak perlu jauh-jauh. Dunia sudah
pernah melihat kasus seperti Elizabeth Holmes yang terlalu percaya pada narasi
dirinya sendiri, atau Travis Kalanick yang membangun budaya kerja sekeras beton
tanpa bantalan empati.
Mereka bukan kurang pintar. Mereka hanya terlalu lama tidak
dikoreksi.
Kekuasaan: Obat atau Racun Tergantung Dosis
Kekuasaan pada dasarnya netral. Ia bisa membuat seseorang
menjadi pemimpin bijak—atau karakter antagonis dalam grup WhatsApp kantor.
Maka satu-satunya penawar adalah kesadaran diri—sesuatu yang
ironisnya sering hilang justru ketika seseorang merasa sudah “paling sadar”.
Jangan-Jangan Kita Juga…
Karena jujur saja, siapa pun bisa terkena Sindrom Hubris.
Tidak harus CEO. Ketua panitia kurban pun berpotensi.
Cukup diberi sedikit kuasa, sedikit pujian, dan nol
koreksi—maka dalam waktu singkat, kita bisa berubah dari “teman diskusi”
menjadi “penguasa rapat”.
Kalau iya, mungkin sudah waktunya kita menurunkan
dosis—sebelum kursi itu benar-benar lebih berbahaya daripada gorengan yang
sudah tiga kali dipanaskan ulang.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.