Di zaman ketika keriput dianggap lebih menakutkan daripada cicilan, dan uban diperlakukan seperti musuh negara, pemikiran Simone de Beauvoir datang seperti tamu tak diundang yang berkata, “Santai saja, kamu bukan roti basi.” Lewat bukunya La Vieillesse, ia mengingatkan kita bahwa menjadi tua itu bukan kutukan, kecuali kita sendiri yang menjadikannya seperti sinetron penuh drama tanpa alur.
Beauvoir tampaknya ingin bilang: masalah utama dari penuaan
bukan pada lutut yang mulai bunyi “krek” tiap bangun, tapi pada hati yang mulai
kehilangan alasan untuk bangun. Ia seperti menyentil kita yang masih muda tapi
sudah pensiun dari makna. Secara biologis, ya kita pasti menua. Tapi secara
eksistensial? Nah, itu pilihan. Mau jadi lansia yang penuh cerita, atau sekadar
“arsip hidup” yang kerjanya mengenang masa lalu sambil bilang, “Dulu saya
begini…”
Bayangkan dua tipe orang tua. Yang pertama, bangun pagi
dengan semangat, mungkin tidak untuk lari maraton, tapi setidaknya untuk
menyapa dunia: membaca, menulis, bercocok tanam, atau sekadar mengomentari
politik dengan penuh gaya di grup WhatsApp. Yang kedua, bangun pagi lalu
bingung mau ngapain selain mengeluh: cuaca salah, anak salah, bahkan nasi
goreng pun dianggap kurang filosofis. Beauvoir jelas tidak sedang menghakimi,
tapi ia seperti memberi spoiler: tipe kedua berisiko menjalani masa tua sebagai
“komedi tragis”.
Masalahnya, kata Beauvoir, banyak masyarakat—terutama yang
terlalu sibuk mengejar produktivitas—memperlakukan orang tua seperti aplikasi
yang sudah tidak di-update: masih ada, tapi dianggap tidak relevan. Ini kritik
halus terhadap cara kita memandang usia. Seolah-olah nilai manusia punya
tanggal kedaluwarsa. Padahal, menurutnya, selama seseorang masih punya proyek
hidup—sekecil apa pun—ia belum selesai.
Namun, tentu saja, Beauvoir ini juga agak “optimis Paris”.
Tidak semua orang punya kemewahan untuk tetap produktif di usia tua. Tidak
semua lansia punya waktu untuk “mengejar passion”; sebagian bahkan masih sibuk
mengejar diskon minyak goreng. Di sini kita perlu sedikit realistis: kondisi
sosial, ekonomi, dan kesehatan itu nyata. Tidak semua orang bisa menua sambil
menulis buku filsafat di kafe dengan cahaya senja yang dramatis.
Tapi justru di situlah letak kejujuran pesannya. Bukan soal
semua orang harus jadi produktif ala LinkedIn sampai usia 90, melainkan soal
menjaga keterhubungan dengan hidup. Bahwa selama kita masih peduli, masih ingin
memberi, masih punya sesuatu—entah itu cinta, perhatian, atau sekadar candaan
receh—maka kita belum benar-benar “menua” dalam arti yang menyedihkan.
Jadi mungkin masalah kita bukan takut tua, tapi takut tidak
lagi penting. Kita sibuk membeli skincare, tapi lupa merawat makna. Kita rajin
olahraga, tapi jarang melatih alasan untuk tetap hidup dengan antusias.
Beauvoir seperti berbisik: “Keriput itu wajar. Yang berbahaya itu kosong.”
Pada akhirnya, masa tua bukanlah musuh yang harus
dikalahkan, tapi fase yang harus disiapkan—seperti menabung, tapi versi
eksistensial. Kita tidak hanya menabung uang, tapi juga tujuan, relasi, dan
alasan untuk tetap bangun pagi. Karena jika tidak, ya benar kata Beauvoir:
hidup bisa berubah jadi parodi—bukan karena usia, tapi karena kita berhenti
berpartisipasi di dalamnya.
Dan kalau boleh jujur, menjadi tua dengan makna itu mungkin
bukan soal menjadi luar biasa, tapi soal tetap bersedia ikut “main” sampai
akhir. Meskipun perannya sudah bukan tokoh utama, setidaknya kita tidak keluar
panggung sebelum tirai benar-benar ditutup.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.