Sabtu, 02 Mei 2026

Menua Tanpa Drama: Catatan Ringan dari Simone de Beauvoir (yang Mungkin Juga Lelah Lihat Kita Takut Keriput)

Di zaman ketika keriput dianggap lebih menakutkan daripada cicilan, dan uban diperlakukan seperti musuh negara, pemikiran Simone de Beauvoir datang seperti tamu tak diundang yang berkata, “Santai saja, kamu bukan roti basi.” Lewat bukunya La Vieillesse, ia mengingatkan kita bahwa menjadi tua itu bukan kutukan, kecuali kita sendiri yang menjadikannya seperti sinetron penuh drama tanpa alur.

Beauvoir tampaknya ingin bilang: masalah utama dari penuaan bukan pada lutut yang mulai bunyi “krek” tiap bangun, tapi pada hati yang mulai kehilangan alasan untuk bangun. Ia seperti menyentil kita yang masih muda tapi sudah pensiun dari makna. Secara biologis, ya kita pasti menua. Tapi secara eksistensial? Nah, itu pilihan. Mau jadi lansia yang penuh cerita, atau sekadar “arsip hidup” yang kerjanya mengenang masa lalu sambil bilang, “Dulu saya begini…”

Bayangkan dua tipe orang tua. Yang pertama, bangun pagi dengan semangat, mungkin tidak untuk lari maraton, tapi setidaknya untuk menyapa dunia: membaca, menulis, bercocok tanam, atau sekadar mengomentari politik dengan penuh gaya di grup WhatsApp. Yang kedua, bangun pagi lalu bingung mau ngapain selain mengeluh: cuaca salah, anak salah, bahkan nasi goreng pun dianggap kurang filosofis. Beauvoir jelas tidak sedang menghakimi, tapi ia seperti memberi spoiler: tipe kedua berisiko menjalani masa tua sebagai “komedi tragis”.

Masalahnya, kata Beauvoir, banyak masyarakat—terutama yang terlalu sibuk mengejar produktivitas—memperlakukan orang tua seperti aplikasi yang sudah tidak di-update: masih ada, tapi dianggap tidak relevan. Ini kritik halus terhadap cara kita memandang usia. Seolah-olah nilai manusia punya tanggal kedaluwarsa. Padahal, menurutnya, selama seseorang masih punya proyek hidup—sekecil apa pun—ia belum selesai.

Namun, tentu saja, Beauvoir ini juga agak “optimis Paris”. Tidak semua orang punya kemewahan untuk tetap produktif di usia tua. Tidak semua lansia punya waktu untuk “mengejar passion”; sebagian bahkan masih sibuk mengejar diskon minyak goreng. Di sini kita perlu sedikit realistis: kondisi sosial, ekonomi, dan kesehatan itu nyata. Tidak semua orang bisa menua sambil menulis buku filsafat di kafe dengan cahaya senja yang dramatis.

Tapi justru di situlah letak kejujuran pesannya. Bukan soal semua orang harus jadi produktif ala LinkedIn sampai usia 90, melainkan soal menjaga keterhubungan dengan hidup. Bahwa selama kita masih peduli, masih ingin memberi, masih punya sesuatu—entah itu cinta, perhatian, atau sekadar candaan receh—maka kita belum benar-benar “menua” dalam arti yang menyedihkan.

Jadi mungkin masalah kita bukan takut tua, tapi takut tidak lagi penting. Kita sibuk membeli skincare, tapi lupa merawat makna. Kita rajin olahraga, tapi jarang melatih alasan untuk tetap hidup dengan antusias. Beauvoir seperti berbisik: “Keriput itu wajar. Yang berbahaya itu kosong.”

Pada akhirnya, masa tua bukanlah musuh yang harus dikalahkan, tapi fase yang harus disiapkan—seperti menabung, tapi versi eksistensial. Kita tidak hanya menabung uang, tapi juga tujuan, relasi, dan alasan untuk tetap bangun pagi. Karena jika tidak, ya benar kata Beauvoir: hidup bisa berubah jadi parodi—bukan karena usia, tapi karena kita berhenti berpartisipasi di dalamnya.

Dan kalau boleh jujur, menjadi tua dengan makna itu mungkin bukan soal menjadi luar biasa, tapi soal tetap bersedia ikut “main” sampai akhir. Meskipun perannya sudah bukan tokoh utama, setidaknya kita tidak keluar panggung sebelum tirai benar-benar ditutup.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.