Kamis, 07 Mei 2026

Ketenangan Jiwa: Antara Menyalahkan Tetangga dan Menyalahkan Diri Sendiri (Versi Lebih Hemat Energi)

Di zaman modern ini, manusia punya dua hal yang selalu siap pakai: WiFi dan kambing hitam. Ketika hidup mulai terasa berat—tagihan menumpuk, badan meriang, hati ditinggal tanpa pesan—refleks pertama kita bukanlah berdoa, melainkan mencari siapa yang bisa disalahkan. Kalau perlu, tetangga yang cuma lewat sambil bawa galon pun bisa jadi tersangka utama.

Namun, sebuah nasihat singkat datang seperti tamu tak diundang yang justru membawa kue: sederhana, tapi mengenyangkan jiwa. Pesannya cukup radikal (dan agak tidak populer): jangan menyalahkan orang lain, coba sesekali salahkan diri sendiri dengan elegan.

Dari “Siapa yang Salah?” ke “Apa yang Bisa Saya Perbaiki?”

Biasanya, saat musibah datang, kita langsung berubah jadi detektif. Kita menyelidiki, menganalisis, dan menyimpulkan—semuanya dalam satu napas: “Ini pasti gara-gara dia.” Bahkan kalau tidak ada “dia”, kita tetap bisa menciptakan “dia” secara imajinatif.

Padahal, nasihat ini mengajak kita mengubah profesi mendadak tadi. Dari detektif yang sibuk mencari pelaku eksternal, menjadi auditor internal yang diam-diam memeriksa diri sendiri. Bukan untuk menyiksa diri, tapi untuk menemukan satu hal langka: kejujuran.

Karena ternyata, menyalahkan orang lain itu seperti makan gorengan: enak di awal, tapi bikin perut (dan hati) tidak nyaman dalam jangka panjang.

Muhasabah: Aktivitas yang Tidak Pernah Trending

Introspeksi diri atau muhasabah adalah aktivitas yang jarang viral. Tidak ada yang membuat status: “Lagi sibuk nyalahin diri sendiri, doakan ya.” Padahal, di situlah letak ketenangan yang sebenarnya.

Dengan muhasabah, kita mulai sadar bahwa hidup ini bukan sekadar rangkaian kejadian acak, melainkan skenario penuh makna. Setiap kejadian—bahkan yang menyebalkan sekalipun—bisa jadi adalah “pesan singkat” dari langit yang tidak pakai notifikasi.

Masalahnya, kita sering tidak membacanya. Kita lebih sibuk membaca chat lama dari mantan.

Rida: Seni Berdamai Tanpa Syarat

Masuklah kita pada konsep yang terdengar sederhana tapi praktiknya seperti diet: mudah diucapkan, sulit dijalankan. Namanya rida—menerima ketentuan Allah dengan lapang dada.

Ini bukan berarti kita pasrah seperti kucing kehujanan. Bukan juga berarti kita berhenti berusaha lalu rebahan sambil berkata, “Allah yang tanggung.” (Itu namanya malas yang diberi dalil.)

Rida adalah seni berdamai dengan takdir tanpa kehilangan semangat untuk berikhtiar. Kita tetap bekerja, tetap berusaha, tapi hati tidak panik. Seperti orang yang punya “backing” sangat kuat—bedanya, ini backing dari Yang Maha Kaya.

Bayangkan saja: kalau Anda ditanggung oleh orang terkaya di dunia, mungkin Anda sudah santai minum kopi tiap sore. Nah, ini yang menanggung adalah Pemilik seluruh alam. Harusnya, level santainya lebih tinggi—minimal tidak panik saat sinyal WiFi hilang lima menit.

Psikologi Sederhana: Jangan Jadi Korban Seumur Hidup

Secara psikologis, kebiasaan menyalahkan orang lain itu seperti berlangganan penderitaan. Kita merasa jadi korban, lalu menikmati peran itu dengan penuh dedikasi. Setiap kejadian buruk jadi bukti bahwa dunia memang “tidak adil”.

Sebaliknya, ketika kita berani melihat ke dalam diri, sesuatu yang aneh terjadi: hati jadi lebih ringan. Bukan karena masalah hilang, tapi karena kita tidak lagi menggendongnya sendirian.

Ada semacam “delegasi beban” ke langit.

Hidup Itu Sudah Berat, Jangan Ditambah Drama

Pada akhirnya, nasihat ini seperti mengingatkan kita: hidup itu sudah cukup menantang tanpa perlu kita tambahkan dengan drama menyalahkan orang lain.

Kalau bisa dipermudah dengan introspeksi, kenapa harus dipersulit dengan tuduhan?

Kalau bisa ringan dengan rida, kenapa harus berat dengan dendam?

Dan kalau memang Allah sudah “menanggung”, mungkin yang perlu kita lakukan hanyalah satu: berhenti sok jadi penanggung jawab seluruh alam semesta.

Karena ternyata, menjadi hamba itu jauh lebih ringan daripada menjadi “sutradara” hidup orang lain.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.