Di zaman modern ini, manusia punya dua hal yang selalu siap pakai: WiFi dan kambing hitam. Ketika hidup mulai terasa berat—tagihan menumpuk, badan meriang, hati ditinggal tanpa pesan—refleks pertama kita bukanlah berdoa, melainkan mencari siapa yang bisa disalahkan. Kalau perlu, tetangga yang cuma lewat sambil bawa galon pun bisa jadi tersangka utama.
Namun, sebuah nasihat singkat datang seperti tamu tak diundang yang justru membawa kue: sederhana, tapi
mengenyangkan jiwa. Pesannya cukup radikal (dan agak tidak populer): jangan
menyalahkan orang lain, coba sesekali salahkan diri sendiri dengan elegan.
Dari “Siapa yang Salah?” ke “Apa yang Bisa Saya
Perbaiki?”
Biasanya, saat musibah datang, kita langsung berubah jadi
detektif. Kita menyelidiki, menganalisis, dan menyimpulkan—semuanya dalam satu
napas: “Ini pasti gara-gara dia.” Bahkan kalau tidak ada “dia”, kita
tetap bisa menciptakan “dia” secara imajinatif.
Padahal, nasihat ini mengajak kita mengubah profesi mendadak
tadi. Dari detektif yang sibuk mencari pelaku eksternal, menjadi auditor
internal yang diam-diam memeriksa diri sendiri. Bukan untuk menyiksa diri, tapi
untuk menemukan satu hal langka: kejujuran.
Karena ternyata, menyalahkan orang lain itu seperti makan
gorengan: enak di awal, tapi bikin perut (dan hati) tidak nyaman dalam jangka
panjang.
Muhasabah: Aktivitas yang Tidak Pernah Trending
Introspeksi diri atau muhasabah adalah aktivitas yang
jarang viral. Tidak ada yang membuat status: “Lagi sibuk nyalahin diri
sendiri, doakan ya.” Padahal, di situlah letak ketenangan yang sebenarnya.
Dengan muhasabah, kita mulai sadar bahwa hidup ini bukan
sekadar rangkaian kejadian acak, melainkan skenario penuh makna. Setiap
kejadian—bahkan yang menyebalkan sekalipun—bisa jadi adalah “pesan singkat”
dari langit yang tidak pakai notifikasi.
Masalahnya, kita sering tidak membacanya. Kita lebih sibuk
membaca chat lama dari mantan.
Rida: Seni Berdamai Tanpa Syarat
Masuklah kita pada konsep yang terdengar sederhana tapi
praktiknya seperti diet: mudah diucapkan, sulit dijalankan. Namanya rida—menerima
ketentuan Allah dengan lapang dada.
Ini bukan berarti kita pasrah seperti kucing kehujanan.
Bukan juga berarti kita berhenti berusaha lalu rebahan sambil berkata, “Allah
yang tanggung.” (Itu namanya malas yang diberi dalil.)
Rida adalah seni berdamai dengan takdir tanpa kehilangan
semangat untuk berikhtiar. Kita tetap bekerja, tetap berusaha, tapi hati tidak
panik. Seperti orang yang punya “backing” sangat kuat—bedanya, ini backing dari
Yang Maha Kaya.
Bayangkan saja: kalau Anda ditanggung oleh orang terkaya di
dunia, mungkin Anda sudah santai minum kopi tiap sore. Nah, ini yang menanggung
adalah Pemilik seluruh alam. Harusnya, level santainya lebih tinggi—minimal
tidak panik saat sinyal WiFi hilang lima menit.
Psikologi Sederhana: Jangan Jadi Korban Seumur Hidup
Secara psikologis, kebiasaan menyalahkan orang lain itu
seperti berlangganan penderitaan. Kita merasa jadi korban, lalu menikmati peran
itu dengan penuh dedikasi. Setiap kejadian buruk jadi bukti bahwa dunia memang
“tidak adil”.
Sebaliknya, ketika kita berani melihat ke dalam diri,
sesuatu yang aneh terjadi: hati jadi lebih ringan. Bukan karena masalah hilang,
tapi karena kita tidak lagi menggendongnya sendirian.
Ada semacam “delegasi beban” ke langit.
Hidup Itu Sudah Berat, Jangan Ditambah Drama
Pada akhirnya, nasihat ini seperti mengingatkan kita: hidup
itu sudah cukup menantang tanpa perlu kita tambahkan dengan drama menyalahkan
orang lain.
Kalau bisa dipermudah dengan introspeksi, kenapa harus
dipersulit dengan tuduhan?
Kalau bisa ringan dengan rida, kenapa harus berat dengan
dendam?
Dan kalau memang Allah sudah “menanggung”, mungkin yang
perlu kita lakukan hanyalah satu: berhenti sok jadi penanggung jawab seluruh
alam semesta.
Karena ternyata, menjadi hamba itu jauh lebih ringan
daripada menjadi “sutradara” hidup orang lain.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.