Kamis, 07 Mei 2026

Bahasa yang Miskin, Pikiran yang Ikut Puasa: Tentang Kiamat Kosakata

Ketika “WKWK” Menggantikan Filsafat

Di zaman ketika satu “wkwk” bisa mewakili tawa, ironi, bahkan eksistensialisme ringan, kita mungkin perlu duduk sebentar dan bertanya: apakah kita masih berpikir, atau sekadar bereaksi?

Seorang pemikir bernama Christophe Clavé tampaknya gelisah melihat kondisi ini. Ia seperti tetangga yang resah karena anak-anak zaman sekarang lebih fasih berkata “anjir” daripada “analisis struktural.” Dan dari keresahan itu, lahirlah kritik yang kurang lebih bisa diringkas begini: kalau bahasa kita kurus, pikiran kita ikut diet ekstrem.

Masalahnya, ini bukan diet sehat. Ini diet yang bikin otak masuk mode hemat energi.

Isi: Dunia Tanpa Tenses dan Tanpa Masa Depan

Menurut Clavé, hilangnya berbagai bentuk waktu dalam bahasa itu seperti kehilangan kemampuan traveling dalam pikiran. Dulu, kita bisa jalan-jalan ke masa lalu (nostalgia), mampir ke masa depan (rencana), lalu kembali ke masa kini (realita pahit). Sekarang?

Kita terjebak di “sekarang banget.”

Kalimat seperti:

“Aku akan mempertimbangkan kemungkinan tersebut berdasarkan pengalaman sebelumnya”

perlahan berubah menjadi:

“Ya nanti lihat aja sih.”

Efisien? Ya. Dalam. Tidak.

Belum lagi tanda baca. Dulu koma dan titik itu seperti rambu lalu lintas pikiran. Sekarang, semuanya jadi jalan tol tanpa marka:

“aku gak tau kenapa dia pergi padahal kemarin kita baik baik aja mungkin dia capek atau aku yang terlalu berharap yaudahlah”

Ini bukan kalimat. Ini marathon emosi tanpa napas.

Clavé juga mengeluhkan hilangnya kata-kata seperti mademoiselle. Dalam versi Indonesia, mungkin setara dengan hilangnya nuansa antara “mbak”, “ibu”, dan “eh kamu.” Semua diratakan. Semua jadi “bro.”

Akhirnya, relasi sosial kita pun ikut terdampak. Dari yang dulu penuh lapisan makna, kini jadi seperti chat grup keluarga: cepat, padat, dan penuh salah paham.

Maksud: Bahasa Disederhanakan, Pikiran Disederhanakan, Hidup... Disederhanakan Terlalu Jauh

Clavé tampaknya ingin mengingatkan kita bahwa bahasa itu bukan sekadar alat komunikasi, tapi alat berpikir. Kalau alatnya tumpul, ya hasilnya juga... ya begitu.

Ia seolah berteriak (dengan tata bahasa yang sangat rapi):
“Hati-hati! Penyederhanaan ini bukan cuma soal praktis, tapi bisa jadi pembodohan terselubung!”

Ia bahkan menggaungkan bayangan distopia ala 1984 karya George Orwell dan Fahrenheit 451 karya Ray Bradbury—di mana bahasa dipersempit agar pikiran tidak sempat memberontak.

Bedanya, kalau di novel itu ada rezim otoriter, di sini yang menyederhanakan bahasa justru… kita sendiri. Dengan sukarela. Dengan senang hati. Bahkan dengan emoji.

Analisis: Antara Kekhawatiran dan Kenyataan “Santai Aja”

Clavé mungkin benar: bahasa yang miskin bisa membatasi pikiran. Tapi di sisi lain, manusia juga kreatif. Kita bisa menyampaikan satu paragraf emosi hanya dengan:

🙂🙃🙂💔🔥

Apakah ini kemunduran atau evolusi? Tergantung siapa yang ditanya. Kalau ditanya ke dosen filsafat, mungkin jawabannya panjang. Kalau ditanya ke netizen, jawabannya:

“yaudah sih ya, yang penting nyampe”

Masalahnya, “nyampe” ke mana dulu?

Di Indonesia sendiri, fenomena ini terasa sangat dekat. Bahasa gaul merajalela, singkatan tumbuh seperti jamur, dan diskusi publik seringkali berubah jadi adu cepat komentar, bukan adu dalam argumen.

Debat yang dulu mungkin berbunyi:

“Saya tidak sepakat dengan premis Anda karena terdapat kekeliruan logika pada bagian ini...”

Kini menjadi:

“lah ngaco.”

Selesai. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada refleksi. Hanya kemenangan instan.

Membela Koma, Menyelamatkan Pikiran

Clavé mungkin terdengar seperti penjaga museum bahasa yang terlalu serius. Tapi di balik itu, ada pesan penting: kerumitan itu bukan musuh, tapi rumah bagi kebebasan berpikir.

Karena pada akhirnya, orang yang punya banyak kata punya banyak cara untuk memahami dunia.
Dan orang yang hanya punya sedikit kata… ya, mungkin hanya punya sedikit dunia.

Jadi lain kali ketika Anda ingin menulis:

“gpp sih santai aja wkwk”

cobalah sesekali menulis:

“Saya menerima keadaan ini dengan lapang dada, meskipun terdapat sedikit kekecewaan yang tak terucapkan.”

Memang lebih panjang. Tapi siapa tahu, dari situ bukan cuma kalimat yang bertambah—melainkan juga kedalaman diri.

Dan kalau terasa berat, tenang saja.

Bahasa, seperti hidup, memang tidak dimaksudkan untuk selalu singkat.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.