Ketika “WKWK” Menggantikan Filsafat
Di zaman ketika satu “wkwk” bisa mewakili tawa, ironi,
bahkan eksistensialisme ringan, kita mungkin perlu duduk sebentar dan bertanya:
apakah kita masih berpikir, atau sekadar bereaksi?
Seorang pemikir bernama Christophe Clavé tampaknya gelisah
melihat kondisi ini. Ia seperti tetangga yang resah karena anak-anak zaman
sekarang lebih fasih berkata “anjir” daripada “analisis struktural.” Dan dari
keresahan itu, lahirlah kritik yang kurang lebih bisa diringkas begini: kalau
bahasa kita kurus, pikiran kita ikut diet ekstrem.
Masalahnya, ini bukan diet sehat. Ini diet yang bikin otak masuk mode hemat energi.
Isi: Dunia Tanpa Tenses dan Tanpa Masa Depan
Menurut Clavé, hilangnya berbagai bentuk waktu dalam bahasa
itu seperti kehilangan kemampuan traveling dalam pikiran. Dulu, kita bisa
jalan-jalan ke masa lalu (nostalgia), mampir ke masa depan (rencana), lalu
kembali ke masa kini (realita pahit). Sekarang?
Kita terjebak di “sekarang banget.”
Kalimat seperti:
“Aku akan mempertimbangkan kemungkinan tersebut berdasarkan
pengalaman sebelumnya”
perlahan berubah menjadi:
“Ya nanti lihat aja sih.”
Efisien? Ya. Dalam. Tidak.
Belum lagi tanda baca. Dulu koma dan titik itu seperti rambu
lalu lintas pikiran. Sekarang, semuanya jadi jalan tol tanpa marka:
“aku gak tau kenapa dia pergi padahal kemarin kita baik baik
aja mungkin dia capek atau aku yang terlalu berharap yaudahlah”
Ini bukan kalimat. Ini marathon emosi tanpa napas.
Clavé juga mengeluhkan hilangnya kata-kata seperti mademoiselle.
Dalam versi Indonesia, mungkin setara dengan hilangnya nuansa antara “mbak”,
“ibu”, dan “eh kamu.” Semua diratakan. Semua jadi “bro.”
Akhirnya, relasi sosial kita pun ikut terdampak. Dari yang dulu penuh lapisan makna, kini jadi seperti chat grup keluarga: cepat, padat, dan penuh salah paham.
Maksud: Bahasa Disederhanakan, Pikiran Disederhanakan,
Hidup... Disederhanakan Terlalu Jauh
Clavé tampaknya ingin mengingatkan kita bahwa bahasa itu
bukan sekadar alat komunikasi, tapi alat berpikir. Kalau alatnya tumpul, ya
hasilnya juga... ya begitu.
Ia bahkan menggaungkan bayangan distopia ala 1984 karya
George Orwell dan Fahrenheit 451 karya Ray Bradbury—di mana bahasa dipersempit
agar pikiran tidak sempat memberontak.
Bedanya, kalau di novel itu ada rezim otoriter, di sini yang menyederhanakan bahasa justru… kita sendiri. Dengan sukarela. Dengan senang hati. Bahkan dengan emoji.
Analisis: Antara Kekhawatiran dan Kenyataan “Santai Aja”
Clavé mungkin benar: bahasa yang miskin bisa membatasi
pikiran. Tapi di sisi lain, manusia juga kreatif. Kita bisa menyampaikan satu
paragraf emosi hanya dengan:
🙂🙃🙂💔🔥
Apakah ini kemunduran atau evolusi? Tergantung siapa yang
ditanya. Kalau ditanya ke dosen filsafat, mungkin jawabannya panjang. Kalau
ditanya ke netizen, jawabannya:
“yaudah sih ya, yang penting nyampe”
Masalahnya, “nyampe” ke mana dulu?
Di Indonesia sendiri, fenomena ini terasa sangat dekat.
Bahasa gaul merajalela, singkatan tumbuh seperti jamur, dan diskusi publik
seringkali berubah jadi adu cepat komentar, bukan adu dalam argumen.
Debat yang dulu mungkin berbunyi:
“Saya tidak sepakat dengan premis Anda karena terdapat
kekeliruan logika pada bagian ini...”
Kini menjadi:
“lah ngaco.”
Selesai. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada refleksi. Hanya kemenangan instan.
Membela Koma, Menyelamatkan Pikiran
Clavé mungkin terdengar seperti penjaga museum bahasa yang
terlalu serius. Tapi di balik itu, ada pesan penting: kerumitan itu bukan
musuh, tapi rumah bagi kebebasan berpikir.
Jadi lain kali ketika Anda ingin menulis:
“gpp sih santai aja wkwk”
cobalah sesekali menulis:
“Saya menerima keadaan ini dengan lapang dada, meskipun
terdapat sedikit kekecewaan yang tak terucapkan.”
Memang lebih panjang. Tapi siapa tahu, dari situ bukan cuma
kalimat yang bertambah—melainkan juga kedalaman diri.
Dan kalau terasa berat, tenang saja.
Bahasa, seperti hidup, memang tidak dimaksudkan untuk selalu
singkat.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.