Ada satu kesalahan manusia modern yang tampaknya sudah mencapai level kronis: mengira fasilitas dunia adalah hak milik abadi. Baru cicil motor 36 bulan, sudah merasa seperti Sultan Brunei. Baru punya kopi mahal dengan nama yang sulit dieja, langsung merasa tercerahkan secara spiritual. Padahal hidup kita kadang tidak lebih dari “penumpang transit” yang terlalu nyaman di ruang tunggu bandara.
Nasihat tentang “memanfaatkan fasilitas dunia untuk bekal
akhirat” sebenarnya sederhana. Tetapi justru karena sederhana, manusia sering
gagal memahaminya. Kita ini seperti tamu hotel yang terlalu semangat
mendekorasi kamar, sampai lupa bahwa besok jam 12 siang harus check-out.
Manusia dan Khayalan Kepemilikan
Lucunya, manusia itu cepat sekali merasa memiliki. Baru
punya ponsel baru tiga hari, casing-nya sudah seperti menjaga pusaka kerajaan.
Padahal dua tahun lagi ponsel itu nasibnya kemungkinan besar hanya jadi tempat
menyimpan resep masakan dan alarm subuh yang tidak pernah dimatikan.
Kita hidup seolah-olah semua ini permanen:
- rekening,
- jabatan,
- followers,
- bahkan
sandal swallow favorit.
Padahal dunia hanya fasilitas. Mirip troli di supermarket.
Tujuannya membantu membawa barang, bukan untuk dipeluk sambil menangis haru.
Tetapi manusia sering terbalik. Fasilitas dianggap tujuan.
Akhirnya hidup berubah menjadi perlombaan absurd: siapa paling sibuk
mengumpulkan barang yang nanti juga ditinggal.
Hukum Sebab-Akibat: Alam Semesta Tidak Bisa Disuap
Salah satu bagian paling menohok dari nasihat itu adalah
tentang hukum sebab-akibat. Bahwa hasil tidak mengkhianati proses.
Ini hukum yang sangat adil, meskipun kadang menyakitkan ego.
Orang yang tiap malam belajar biasanya lulus ujian. Orang yang tiap malam
rebahan sambil berkata “aku belajar lewat energi semesta” biasanya lulus
sebagai motivator TikTok.
Dalam urusan spiritual juga sama. Amal baik tidak hilang.
Bahkan senyum kecil, membantu orang, menyingkirkan duri dari jalan—semua
dicatat. Sistem administrasi langit tampaknya jauh lebih rapi daripada arsip
kantor kelurahan.
Yang menarik, Allah menggunakan istilah “zarrah”—partikel
sangat kecil—untuk menggambarkan amal. Ini berarti semesta ini bekerja dengan
presisi luar biasa. Tidak ada:
- “amal
pending,”
- “pahala
gagal sinkronisasi,”
- atau
“server akhirat sedang maintenance.”
Semua masuk.
Surat Al-Asr dan Tragedi Manusia Modern
Surat Al-Asr sebenarnya sangat pendek. Tetapi efek
tamparannya bisa lebih keras daripada notifikasi tagihan pinjaman online.
“Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.”
Kalimat ini luar biasa brutal. Tidak ada basa-basi motivasi:
Tidak. Langsung: rugi.
Dan lucunya, manusia modern memang tampak sibuk sekali
menjadi rugi dengan cara yang kreatif. Bangun pagi cek media sosial, siang
membandingkan hidup dengan orang lain, malam overthinking sambil makan mi
instan rasa galau.
Kita punya teknologi canggih, tetapi sering kehilangan arah.
Punya GPS, tapi hidup tetap nyasar.
Dunia sebagai Fasilitas: Jangan Salah Fungsi
Petugas gym bingung.
Begitulah kira-kira manusia terhadap dunia. Dunia diberi
sebagai alat untuk bertumbuh:
- kesehatan
untuk ibadah,
- ilmu
untuk memberi manfaat,
- harta
untuk membantu,
- waktu
untuk mendekat kepada Allah.
Tetapi yang terjadi sering sebaliknya. Fasilitas dipakai
untuk:
- perang
komentar,
- pamer
liburan,
- stalking
mantan,
- dan
menonton video konspirasi bahwa bumi sebenarnya dikendalikan kadal
multinasional.
Akhirnya hidup habis bukan karena kurang nikmat, tetapi
karena salah penggunaan.
Pertanggungjawaban: Semua Akan Ditanya
Bagian paling menggetarkan sebenarnya sederhana: semua
fasilitas akan dimintai pertanggungjawaban.
Dan ini menakutkan.
Bayangkan kalau waktu benar-benar bisa bicara:
“Saya diberikan 24 jam per hari. Kenapa 9 jam dipakai
scrolling video orang makan seblak?”
Atau dompet berkata:
“Saya dulu penuh. Mengapa saya dikorbankan demi diskon
tanggal kembar?”
Bahkan mungkin kasur pun bersaksi:
“Dia berniat tahajud. Tetapi kalah oleh selimut.”
Dalam perspektif ini, hidup jadi sangat lucu sekaligus
serius. Kita sibuk mengoleksi barang, padahal yang akan dibawa hanyalah amal.
Jangan Jadi Turis yang Lupa Pulang
Pada akhirnya, dunia ini seperti rest area panjang dalam
perjalanan menuju keabadian. Tempat singgah, bukan alamat akhir.
Orang bijak memanfaatkan fasilitas dunia seperti musafir
memakai bekal: secukupnya, seperlunya, sepermanfaatnya. Bukan malah membangun
istana di ruang tunggu.
Karena yang paling rugi bukan orang miskin. Yang paling rugi
adalah orang yang diberi banyak fasilitas tetapi lupa tujuan.
Dan ironinya, manusia sering baru sadar dunia itu sementara
ketika password akun email saja sudah lupa.
Wallahu a’lam bish-shawab.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.