Sabtu, 09 Mei 2026

Dunia Itu Kos-Kosan, Bukan Rumah Permanen

Ada satu kesalahan manusia modern yang tampaknya sudah mencapai level kronis: mengira fasilitas dunia adalah hak milik abadi. Baru cicil motor 36 bulan, sudah merasa seperti Sultan Brunei. Baru punya kopi mahal dengan nama yang sulit dieja, langsung merasa tercerahkan secara spiritual. Padahal hidup kita kadang tidak lebih dari “penumpang transit” yang terlalu nyaman di ruang tunggu bandara.

Nasihat tentang “memanfaatkan fasilitas dunia untuk bekal akhirat” sebenarnya sederhana. Tetapi justru karena sederhana, manusia sering gagal memahaminya. Kita ini seperti tamu hotel yang terlalu semangat mendekorasi kamar, sampai lupa bahwa besok jam 12 siang harus check-out.

Manusia dan Khayalan Kepemilikan

Lucunya, manusia itu cepat sekali merasa memiliki. Baru punya ponsel baru tiga hari, casing-nya sudah seperti menjaga pusaka kerajaan. Padahal dua tahun lagi ponsel itu nasibnya kemungkinan besar hanya jadi tempat menyimpan resep masakan dan alarm subuh yang tidak pernah dimatikan.

Kita hidup seolah-olah semua ini permanen:

  • rekening,
  • jabatan,
  • followers,
  • bahkan sandal swallow favorit.

Padahal dunia hanya fasilitas. Mirip troli di supermarket. Tujuannya membantu membawa barang, bukan untuk dipeluk sambil menangis haru.

Tetapi manusia sering terbalik. Fasilitas dianggap tujuan. Akhirnya hidup berubah menjadi perlombaan absurd: siapa paling sibuk mengumpulkan barang yang nanti juga ditinggal.

Hukum Sebab-Akibat: Alam Semesta Tidak Bisa Disuap

Salah satu bagian paling menohok dari nasihat itu adalah tentang hukum sebab-akibat. Bahwa hasil tidak mengkhianati proses.

Ini hukum yang sangat adil, meskipun kadang menyakitkan ego. Orang yang tiap malam belajar biasanya lulus ujian. Orang yang tiap malam rebahan sambil berkata “aku belajar lewat energi semesta” biasanya lulus sebagai motivator TikTok.

Dalam urusan spiritual juga sama. Amal baik tidak hilang. Bahkan senyum kecil, membantu orang, menyingkirkan duri dari jalan—semua dicatat. Sistem administrasi langit tampaknya jauh lebih rapi daripada arsip kantor kelurahan.

Yang menarik, Allah menggunakan istilah “zarrah”—partikel sangat kecil—untuk menggambarkan amal. Ini berarti semesta ini bekerja dengan presisi luar biasa. Tidak ada:

  • “amal pending,”
  • “pahala gagal sinkronisasi,”
  • atau “server akhirat sedang maintenance.”

Semua masuk.

Surat Al-Asr dan Tragedi Manusia Modern

Surat Al-Asr sebenarnya sangat pendek. Tetapi efek tamparannya bisa lebih keras daripada notifikasi tagihan pinjaman online.

“Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian.”

Kalimat ini luar biasa brutal. Tidak ada basa-basi motivasi:

“Kamu hebat.”
“Kamu spesial.”
“Semesta mendukungmu.”

Tidak. Langsung: rugi.

Dan lucunya, manusia modern memang tampak sibuk sekali menjadi rugi dengan cara yang kreatif. Bangun pagi cek media sosial, siang membandingkan hidup dengan orang lain, malam overthinking sambil makan mi instan rasa galau.

Kita punya teknologi canggih, tetapi sering kehilangan arah. Punya GPS, tapi hidup tetap nyasar.

Dunia sebagai Fasilitas: Jangan Salah Fungsi

Bayangkan Anda datang ke gym. Di sana ada treadmill, barbel, dan alat fitness lengkap. Tetapi Anda malah rebahan di lobby sambil selfie:
“MasyaAllah, luar biasa fasilitasnya.”

Petugas gym bingung.

Begitulah kira-kira manusia terhadap dunia. Dunia diberi sebagai alat untuk bertumbuh:

  • kesehatan untuk ibadah,
  • ilmu untuk memberi manfaat,
  • harta untuk membantu,
  • waktu untuk mendekat kepada Allah.

Tetapi yang terjadi sering sebaliknya. Fasilitas dipakai untuk:

  • perang komentar,
  • pamer liburan,
  • stalking mantan,
  • dan menonton video konspirasi bahwa bumi sebenarnya dikendalikan kadal multinasional.

Akhirnya hidup habis bukan karena kurang nikmat, tetapi karena salah penggunaan.

Pertanggungjawaban: Semua Akan Ditanya

Bagian paling menggetarkan sebenarnya sederhana: semua fasilitas akan dimintai pertanggungjawaban.

Dan ini menakutkan.

Bayangkan kalau waktu benar-benar bisa bicara:

“Saya diberikan 24 jam per hari. Kenapa 9 jam dipakai scrolling video orang makan seblak?”

Atau dompet berkata:

“Saya dulu penuh. Mengapa saya dikorbankan demi diskon tanggal kembar?”

Bahkan mungkin kasur pun bersaksi:

“Dia berniat tahajud. Tetapi kalah oleh selimut.”

Dalam perspektif ini, hidup jadi sangat lucu sekaligus serius. Kita sibuk mengoleksi barang, padahal yang akan dibawa hanyalah amal.

Mobil tidak ikut.
WiFi tidak ikut.
Centang biru media sosial juga tampaknya tidak terlalu membantu di alam kubur.

Jangan Jadi Turis yang Lupa Pulang

Pada akhirnya, dunia ini seperti rest area panjang dalam perjalanan menuju keabadian. Tempat singgah, bukan alamat akhir.

Orang bijak memanfaatkan fasilitas dunia seperti musafir memakai bekal: secukupnya, seperlunya, sepermanfaatnya. Bukan malah membangun istana di ruang tunggu.

Karena yang paling rugi bukan orang miskin. Yang paling rugi adalah orang yang diberi banyak fasilitas tetapi lupa tujuan.

Punya waktu, tapi habis untuk lalai.
Punya ilmu, tapi dipakai menyombongkan diri.
Punya umur, tapi tidak pernah benar-benar hidup untuk Allah.

Dan ironinya, manusia sering baru sadar dunia itu sementara ketika password akun email saja sudah lupa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.