Di zaman media sosial yang penuh filter dan efek cahaya, menjadi “wali vibes” tampaknya semakin mudah. Tinggal upload foto sambil memandang langit, tambahkan caption: “Kadang hati ini terlalu dekat dengan langit untuk dipahami bumi”, lalu selesai—minimal tiga orang akan berkomentar, “MasyaAllah, auranya beda.” Satu lagi bertanya, “Guru, buka kelas ma’rifat online nggak?”
Padahal belum tentu itu cahaya ilahi. Bisa jadi cuma efek
ring light 12 inci.
Di tengah fenomena “spiritual flexing” semacam itu, muncul
sebuah pelajaran tua dari dunia tasawuf yang terdengar sederhana namun
menghantam ego seperti sandal jepit emak-emak pengajian: adab lebih utama
daripada karomah.
Artinya, Allah mungkin lebih menyukai orang yang diam-diam
istiqomah tahajud selama 20 tahun meski tidak pernah melihat cahaya apa pun,
dibanding orang yang sekali mimpi ketemu seseorang berjubah putih lalu besoknya
langsung membuka praktik konsultasi ruhani plus air mineral doa Rp75 ribu per
botol.
Tasawuf ternyata bukan perlombaan efek spesial.
Karomah dan Godaan Menjadi “Manusia DLC”
Sebagian orang mengira tanda kesalehan tertinggi adalah
pengalaman mistik. Kalau habis zikir lalu merasa tubuh bergetar sedikit,
langsung curiga dirinya sedang naik level spiritual.
“Akhi… tadi saat wirid, saya merasa melayang.”
“Itu karena belum makan dari pagi.”
Ada juga yang sedikit-sedikit mengaku mendapat isyarat gaib.
“Semalam saya bermimpi bertemu seorang tua bercahaya.”
“Itu satpam kompleks. Lampu pos ronda memang terang.”
Lucunya, manusia memang suka hal spektakuler. Kalau ada
orang istiqomah salat subuh berjamaah selama 30 tahun, reaksinya biasa saja.
Tapi kalau ada yang mengaku melihat cahaya hijau di atas sajadah, seluruh grup
WhatsApp langsung aktif seperti sedang menerima bocoran kiamat.
Padahal para ulama tasawuf sejak dulu sudah mengingatkan:
jangan sibuk mengejar sensasi spiritual sampai lupa membersihkan kesombongan
hati.
Karena ego itu licik. Kadang ia tidak lagi berkata, “Aku
paling kaya.” Ia naik kelas menjadi, “Aku paling ikhlas.”
Ini lebih berbahaya. Orang sombong biasa masih bisa sadar
karena ditegur tetangga. Tapi orang sombong spiritual biasanya merasa teguran
itu justru ujian maqam.
Istiqomah: Superpower yang Membosankan
Masalah terbesar istiqomah adalah ia tidak dramatis.
Orang yang tiap malam bangun tahajud diam-diam tidak viral.
Tidak ada yang membuat film berjudul The Return of Tahajud Man. Padahal
justru itu yang berat.
Kita hidup di zaman yang menganggap konsistensi itu kalah
keren dibanding sensasi.
Padahal menurut hikmah para sufi, bisa terus beribadah tanpa
bosan itu sendiri sudah karomah besar.
Coba pikirkan: bangun jam tiga pagi saat hujan, air dingin,
kasur hangat, lalu tetap wudhu tanpa mengunggah status “lagi healing bersama
Allah” — itu kekuatan luar biasa.
Masalahnya manusia modern ingin ibadah yang hasilnya cepat
terlihat. Baru tiga hari zikir sudah berharap mendapat “akses premium” ke
rahasia langit.
Begitu tidak ada pengalaman mistik, mulai kecewa.
“Kenapa saya belum merasa apa-apa?”
Mungkin karena memang tujuan ibadah bukan menjadi paranormal
premium.
Semua Orang Sedang Menjalani Jatah Fasilitas dari Allah
Salah satu ajaran paling menenangkan dari tasawuf adalah:
semua posisi hidup hanyalah pembagian peran dari Allah.
Semua bisa menjadi mulia kalau dijalani dengan adab.
Masalah muncul ketika manusia mulai membandingkan takdir
seperti membandingkan paket internet.
“Kenapa dia dapat karomah unlimited, saya cuma istiqomah
reguler?”
Padahal bisa jadi istiqomah itulah hadiah terbesar.
Karena belum tentu orang yang terlihat “spiritual sekali”
benar-benar dekat dengan Allah. Kadang yang dekat justru ibu-ibu sederhana yang
tidak pernah bicara maqam, tapi diam-diam doanya menembus langit lebih cepat
daripada sinyal WiFi kantor.
Jalaliah dan Jamaliah: Dua Mode Pelayanan Ilahi
Dalam tasawuf dijelaskan bahwa Allah memiliki manifestasi
Jalaliah dan Jamaliah.
Jalaliah melahirkan keteguhan, disiplin, mujahadah. Orang
tipe ini hidupnya seperti santri alarm: stabil, teratur, konsisten.
Jamaliah melahirkan cinta, kelembutan, kerinduan spiritual.
Orang tipe ini sedikit-sedikit menangis saat dengar selawat.
Keduanya baik.
Masalahnya manusia suka membuat kasta.
Padahal bisa jadi yang satu sedang melatih cinta, yang lain
sedang melatih ketahanan. Dua-duanya sama-sama sedang dididik Allah.
Ibarat gym ruhani: ada yang latihan cardio, ada yang angkat
beban. Jangan saling menghina hanya karena alat olahraganya beda.
Sufi Palsu dan Nafsu Berkedok Tasawuf
Tasawuf juga punya penyakit internal: keinginan menjadi
“orang spesial.”
Ada orang yang awalnya belajar ikhlas, lalu tanpa sadar
malah ingin dikenal sebagai manusia paling ikhlas se-kecamatan.
Ini seperti orang diet supaya sehat, lalu akhirnya sibuk
upload foto timbangan tiap pagi.
Nafsu memang kreatif. Bahkan saat masuk dunia spiritual, ia
tetap membawa map prestasi.
Akhirnya perjalanan menuju Allah berubah seperti kompetisi
sertifikasi mistik nasional.
Padahal para sufi sejati justru takut dianggap istimewa.
Mereka lebih sibuk menjaga adab daripada mengumpulkan cerita ajaib.
Karena mereka tahu: orang yang benar-benar dekat dengan
Allah biasanya makin rendah hati, bukan makin sibuk branding diri sebagai “ahli
rahasia langit.”
Menjadi Hamba yang Tidak Ribut
Pada akhirnya, tasawuf bukan tentang menjadi manusia paling
bercahaya. Tasawuf adalah belajar menjadi hamba yang tidak ribut.
Sebab boleh jadi di akhirat nanti, yang paling dekat kepada
Allah bukan orang yang paling banyak cerita spiritualnya, melainkan orang yang
diam-diam menjaga adabnya ketika tidak ada yang melihat.
Dan mungkin, di saat sebagian manusia sibuk mengejar cahaya
mistik, Allah justru tersenyum kepada seorang bapak sederhana yang setiap subuh
berjalan ke masjid sambil membawa sandal jepit putus yang disambung pakai
peniti.
Karena langit, rupanya, tidak terlalu terkesan oleh drama.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.