Jumat, 08 Mei 2026

Adab Lebih Utama dari Karomah: Ketika Tukang Pamer Cahaya Kalah oleh Emak-emak Subuh

Di zaman media sosial yang penuh filter dan efek cahaya, menjadi “wali vibes” tampaknya semakin mudah. Tinggal upload foto sambil memandang langit, tambahkan caption: “Kadang hati ini terlalu dekat dengan langit untuk dipahami bumi”, lalu selesai—minimal tiga orang akan berkomentar, “MasyaAllah, auranya beda.” Satu lagi bertanya, “Guru, buka kelas ma’rifat online nggak?”

Padahal belum tentu itu cahaya ilahi. Bisa jadi cuma efek ring light 12 inci.

Di tengah fenomena “spiritual flexing” semacam itu, muncul sebuah pelajaran tua dari dunia tasawuf yang terdengar sederhana namun menghantam ego seperti sandal jepit emak-emak pengajian: adab lebih utama daripada karomah.

Artinya, Allah mungkin lebih menyukai orang yang diam-diam istiqomah tahajud selama 20 tahun meski tidak pernah melihat cahaya apa pun, dibanding orang yang sekali mimpi ketemu seseorang berjubah putih lalu besoknya langsung membuka praktik konsultasi ruhani plus air mineral doa Rp75 ribu per botol.

Tasawuf ternyata bukan perlombaan efek spesial.

Karomah dan Godaan Menjadi “Manusia DLC”

Sebagian orang mengira tanda kesalehan tertinggi adalah pengalaman mistik. Kalau habis zikir lalu merasa tubuh bergetar sedikit, langsung curiga dirinya sedang naik level spiritual.

“Akhi… tadi saat wirid, saya merasa melayang.”

“Itu karena belum makan dari pagi.”

Ada juga yang sedikit-sedikit mengaku mendapat isyarat gaib.

“Semalam saya bermimpi bertemu seorang tua bercahaya.”

“Itu satpam kompleks. Lampu pos ronda memang terang.”

Lucunya, manusia memang suka hal spektakuler. Kalau ada orang istiqomah salat subuh berjamaah selama 30 tahun, reaksinya biasa saja. Tapi kalau ada yang mengaku melihat cahaya hijau di atas sajadah, seluruh grup WhatsApp langsung aktif seperti sedang menerima bocoran kiamat.

Padahal para ulama tasawuf sejak dulu sudah mengingatkan: jangan sibuk mengejar sensasi spiritual sampai lupa membersihkan kesombongan hati.

Karena ego itu licik. Kadang ia tidak lagi berkata, “Aku paling kaya.” Ia naik kelas menjadi, “Aku paling ikhlas.”

Ini lebih berbahaya. Orang sombong biasa masih bisa sadar karena ditegur tetangga. Tapi orang sombong spiritual biasanya merasa teguran itu justru ujian maqam.

Istiqomah: Superpower yang Membosankan

Masalah terbesar istiqomah adalah ia tidak dramatis.

Tidak ada musik latar.
Tidak ada cahaya turun dari langit.
Tidak ada efek asap.

Orang yang tiap malam bangun tahajud diam-diam tidak viral. Tidak ada yang membuat film berjudul The Return of Tahajud Man. Padahal justru itu yang berat.

Kita hidup di zaman yang menganggap konsistensi itu kalah keren dibanding sensasi.

Padahal menurut hikmah para sufi, bisa terus beribadah tanpa bosan itu sendiri sudah karomah besar.

Coba pikirkan: bangun jam tiga pagi saat hujan, air dingin, kasur hangat, lalu tetap wudhu tanpa mengunggah status “lagi healing bersama Allah” — itu kekuatan luar biasa.

Masalahnya manusia modern ingin ibadah yang hasilnya cepat terlihat. Baru tiga hari zikir sudah berharap mendapat “akses premium” ke rahasia langit.

Begitu tidak ada pengalaman mistik, mulai kecewa.

“Kenapa saya belum merasa apa-apa?”

Mungkin karena memang tujuan ibadah bukan menjadi paranormal premium.

Semua Orang Sedang Menjalani Jatah Fasilitas dari Allah

Salah satu ajaran paling menenangkan dari tasawuf adalah: semua posisi hidup hanyalah pembagian peran dari Allah.

Ada yang diberi jalan ilmu.
Ada yang diberi jalan dakwah.
Ada yang diberi jalan bisnis.
Ada yang diberi jalan menjadi tukang kebun.
Dan ada yang diberi jalan menjadi admin grup keluarga yang setiap hari menghapus hoaks tentang daun kelor penyembuh segala penyakit.

Semua bisa menjadi mulia kalau dijalani dengan adab.

Masalah muncul ketika manusia mulai membandingkan takdir seperti membandingkan paket internet.

“Kenapa dia dapat karomah unlimited, saya cuma istiqomah reguler?”

Padahal bisa jadi istiqomah itulah hadiah terbesar.

Karena belum tentu orang yang terlihat “spiritual sekali” benar-benar dekat dengan Allah. Kadang yang dekat justru ibu-ibu sederhana yang tidak pernah bicara maqam, tapi diam-diam doanya menembus langit lebih cepat daripada sinyal WiFi kantor.

Jalaliah dan Jamaliah: Dua Mode Pelayanan Ilahi

Dalam tasawuf dijelaskan bahwa Allah memiliki manifestasi Jalaliah dan Jamaliah.

Jalaliah melahirkan keteguhan, disiplin, mujahadah. Orang tipe ini hidupnya seperti santri alarm: stabil, teratur, konsisten.

Jamaliah melahirkan cinta, kelembutan, kerinduan spiritual. Orang tipe ini sedikit-sedikit menangis saat dengar selawat.

Keduanya baik.

Masalahnya manusia suka membuat kasta.

Yang rajin ibadah dianggap kurang “dalam.”
Yang emosional spiritual dianggap lebih “tinggi.”

Padahal bisa jadi yang satu sedang melatih cinta, yang lain sedang melatih ketahanan. Dua-duanya sama-sama sedang dididik Allah.

Ibarat gym ruhani: ada yang latihan cardio, ada yang angkat beban. Jangan saling menghina hanya karena alat olahraganya beda.

Sufi Palsu dan Nafsu Berkedok Tasawuf

Tasawuf juga punya penyakit internal: keinginan menjadi “orang spesial.”

Ada orang yang awalnya belajar ikhlas, lalu tanpa sadar malah ingin dikenal sebagai manusia paling ikhlas se-kecamatan.

Ini seperti orang diet supaya sehat, lalu akhirnya sibuk upload foto timbangan tiap pagi.

Nafsu memang kreatif. Bahkan saat masuk dunia spiritual, ia tetap membawa map prestasi.

“Sudah berapa juz wirid antum?”
“Sudah berapa kali khalwat?”
“Sudah pernah mimpi apa?”

Akhirnya perjalanan menuju Allah berubah seperti kompetisi sertifikasi mistik nasional.

Padahal para sufi sejati justru takut dianggap istimewa. Mereka lebih sibuk menjaga adab daripada mengumpulkan cerita ajaib.

Karena mereka tahu: orang yang benar-benar dekat dengan Allah biasanya makin rendah hati, bukan makin sibuk branding diri sebagai “ahli rahasia langit.”

Menjadi Hamba yang Tidak Ribut

Pada akhirnya, tasawuf bukan tentang menjadi manusia paling bercahaya. Tasawuf adalah belajar menjadi hamba yang tidak ribut.

Tidak ribut ingin dipuji.
Tidak ribut ingin dianggap wali.
Tidak ribut ingin terlihat suci.

Kalau Allah memberi karomah, syukuri.
Kalau Allah hanya memberi kemampuan untuk tetap salat tepat waktu sampai tua, itu pun sudah nikmat besar.

Sebab boleh jadi di akhirat nanti, yang paling dekat kepada Allah bukan orang yang paling banyak cerita spiritualnya, melainkan orang yang diam-diam menjaga adabnya ketika tidak ada yang melihat.

Dan mungkin, di saat sebagian manusia sibuk mengejar cahaya mistik, Allah justru tersenyum kepada seorang bapak sederhana yang setiap subuh berjalan ke masjid sambil membawa sandal jepit putus yang disambung pakai peniti.

Karena langit, rupanya, tidak terlalu terkesan oleh drama.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.