Jumat, 08 Mei 2026

Ketika Buku Kalah oleh Reel 15 Detik: Ratapan Werner Herzog untuk Generasi “Scroll Terus”

Ada masa ketika orang membawa buku tebal ke kafe supaya terlihat intelektual. Sekarang? Orang membawa laptop, membuka 17 tab, lalu menonton video “5 Fakta Mengejutkan tentang Kucing yang Menguasai Dunia dalam 12 Detik.”

Di tengah dunia yang makin sibuk menggulir layar seperti sedang mengaduk bubur digital, muncul suara garang dari sineas Jerman legendaris Werner Herzog. Dengan gaya khas om-om Eropa yang tampak selalu marah bahkan saat memesan kopi, Herzog berkata:

“Baca. Baca. Baca. Baca. Baca.”

Kalimat itu terdengar seperti instruksi satpam perpustakaan yang habis kena PHK akibat e-book ilegal.

Namun Herzog tidak berhenti di situ. Ia mengatakan bahwa orang yang membaca akan “memiliki dunia,” sedangkan mereka yang tenggelam dalam internet dan televisi akan kehilangan dunia. Tentu saja, setelah kutipan itu viral, banyak orang langsung membagikannya di Instagram Story… tanpa membaca utuh isi kutipannya. Ironi modern bekerja sangat cepat.

Membaca: Aktivitas yang Kini Terlihat Seperti Ritual Kuno

Dulu membaca adalah tanda manusia beradab. Sekarang membaca satu artikel penuh tanpa pindah aplikasi setiap tiga menit dianggap kemampuan spiritual tingkat tinggi.

Coba lihat perilaku manusia modern saat membaca buku:

  • Baru dua halaman, sudah cek WhatsApp.
  • Baru satu bab, tiba-tiba ingin lihat cuaca di Islandia.
  • Baru masuk pendahuluan, eh malah berakhir nonton video “Kambing Marah karena Sandalnya Hilang.”

Otak kita kini dilatih algoritma untuk hidup dalam potongan-potongan kecil. Perhatian manusia modern mirip ikan cupang: indah, aktif, tapi lupa tujuan hidup tiap tujuh detik.

Herzog tampaknya sadar bahwa membaca bukan sekadar menerima informasi. Membaca itu olahraga mental. Ia memaksa kita duduk diam, bersabar, mengikuti argumen panjang, dan hidup tanpa ledakan dopamin tiap lima detik. Maka tidak heran banyak orang modern lebih takut membaca 20 halaman daripada maraton drama 20 episode.

Generasi “Tahu Sedikit tentang Semua Hal”

Masalah terbesar zaman sekarang bukan kurang informasi. Justru informasi terlalu banyak sampai manusia modern seperti orang masuk prasmanan gratis lalu mengambil semua makanan sekaligus—akhirnya kekenyangan, bingung, dan tidak menikmati apa pun.

Hari ini banyak orang tahu:

  • judul buku filsafat,
  • potongan podcast ekonomi,
  • kutipan stoikisme,
  • teori geopolitik,
  • dan cara membuat kopi ala barista Norwegia.

Tapi kalau ditanya lebih dalam, jawabannya:

“Nanti saya cari thread Twitter-nya dulu.”

Kita hidup di era manusia yang merasa pintar karena menonton video “Ringkasan Nietzsche dalam 30 Detik.” Bayangkan kalau peradaban Yunani kuno dibangun dengan format konten seperti itu:

“Socrates EXPOSED! Apa yang dia katakan sebelum minum racun bikin Plato MENANGIS 😱”

Herzog mungkin akan langsung pindah planet.

AI dan Ilusi Kepintaran Instan

Kemunculan AI generatif membuat situasi makin lucu. Sekarang orang bisa berkata:

“Saya sudah memahami buku itu.”

Padahal yang dibaca cuma:

“Ringkas dalam 5 poin penting.”

Kita mulai menciptakan generasi yang ingin mendapatkan kebijaksanaan tanpa proses. Seperti ingin punya otot six-pack hanya dengan menonton video gym sambil makan martabak.

AI sebenarnya alat luar biasa. Ia bisa membantu riset, membuka akses ilmu, bahkan membantu menulis. Tetapi kalau semua hal hanya ingin diringkas, dipadatkan, dipercepat, akhirnya manusia kehilangan satu kemampuan penting: tenggelam dalam pemikiran panjang.

Dan memang, masalah utama zaman ini bukan kurang cerdas. Masalahnya: terlalu sibuk merasa cerdas.

Algoritma: Pedagang Perhatian Abad Modern

Internet tentu bukan musuh. Banyak orang belajar filsafat, sejarah, bahkan tafsir melalui dunia digital. Masalahnya, algoritma internet itu seperti pedagang kaki lima yang terus berteriak:

“Hei! Klik ini! Ada video bayi panda jatuh dari kursi!”

Kita awalnya mau membaca artikel serius tentang peradaban Romawi. Dua puluh menit kemudian, kita malah menonton kompilasi:

“Kucing-kucing yang gagal lompat 2026.”

Algoritma tidak peduli kita menjadi bijak atau bodoh. Yang penting kita tidak berhenti menggulir. Dalam ekonomi digital, perhatian manusia adalah minyak baru. Dan sayangnya, banyak dari kita menjualnya terlalu murah—kadang cuma demi video orang terpeleset kulit pisang.

Orang yang Membaca Akan Memiliki Dunia

Di tengah kekacauan digital ini, pembaca buku mulai tampak seperti kelompok bawah tanah yang bertahan dari kiamat budaya. Mereka duduk diam di sudut ruangan, membawa novel 500 halaman, sementara dunia sekitar sibuk menonton video “Cara Jadi Miliarder dengan Bangun Jam 3 Pagi.”

Ada sesuatu yang heroik dari orang yang masih mampu membaca panjang di zaman serba pendek. Mereka memiliki stamina berpikir. Mereka tahan terhadap kebisingan. Mereka tidak gampang panik hanya karena membaca headline sensasional.

Dan mungkin inilah maksud terdalam Herzog: membaca bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan mempertahankan kemanusiaan.

Sebab ketika semua orang hanya hidup dari potongan-potongan informasi, orang yang membaca mendalam akan terlihat seperti penyihir. Mereka bisa memahami konteks, melihat pola, dan berpikir tanpa perlu subtitle TikTok di bawah wajahnya.

Maka seruan Herzog sebenarnya sederhana:
Matikan notifikasi sebentar. Pegang buku. Baca satu halaman. Lalu lanjut lagi.

Kalau perlu sambil mengunci ponsel di lemari.

Karena di zaman ketika semua orang sibuk menggulir dunia, mungkin orang yang benar-benar membaca memang akan memilikinya.

 abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.