Ada masa ketika orang membawa buku tebal ke kafe supaya terlihat intelektual. Sekarang? Orang membawa laptop, membuka 17 tab, lalu menonton video “5 Fakta Mengejutkan tentang Kucing yang Menguasai Dunia dalam 12 Detik.”
Di tengah dunia yang makin sibuk menggulir layar seperti
sedang mengaduk bubur digital, muncul suara garang dari sineas Jerman
legendaris Werner Herzog. Dengan gaya khas om-om Eropa yang tampak selalu marah
bahkan saat memesan kopi, Herzog berkata:
“Baca. Baca. Baca. Baca. Baca.”
Kalimat itu terdengar seperti instruksi satpam perpustakaan
yang habis kena PHK akibat e-book ilegal.
Namun Herzog tidak berhenti di situ. Ia mengatakan bahwa
orang yang membaca akan “memiliki dunia,” sedangkan mereka yang tenggelam dalam
internet dan televisi akan kehilangan dunia. Tentu saja, setelah kutipan itu
viral, banyak orang langsung membagikannya di Instagram Story… tanpa membaca
utuh isi kutipannya. Ironi modern bekerja sangat cepat.
Membaca: Aktivitas yang Kini Terlihat Seperti Ritual Kuno
Dulu membaca adalah tanda manusia beradab. Sekarang membaca
satu artikel penuh tanpa pindah aplikasi setiap tiga menit dianggap kemampuan
spiritual tingkat tinggi.
Coba lihat perilaku manusia modern saat membaca buku:
- Baru
dua halaman, sudah cek WhatsApp.
- Baru
satu bab, tiba-tiba ingin lihat cuaca di Islandia.
- Baru
masuk pendahuluan, eh malah berakhir nonton video “Kambing Marah karena
Sandalnya Hilang.”
Otak kita kini dilatih algoritma untuk hidup dalam
potongan-potongan kecil. Perhatian manusia modern mirip ikan cupang: indah,
aktif, tapi lupa tujuan hidup tiap tujuh detik.
Herzog tampaknya sadar bahwa membaca bukan sekadar menerima
informasi. Membaca itu olahraga mental. Ia memaksa kita duduk diam, bersabar,
mengikuti argumen panjang, dan hidup tanpa ledakan dopamin tiap lima detik.
Maka tidak heran banyak orang modern lebih takut membaca 20 halaman daripada
maraton drama 20 episode.
Generasi “Tahu Sedikit tentang Semua Hal”
Masalah terbesar zaman sekarang bukan kurang informasi.
Justru informasi terlalu banyak sampai manusia modern seperti orang masuk
prasmanan gratis lalu mengambil semua makanan sekaligus—akhirnya kekenyangan,
bingung, dan tidak menikmati apa pun.
Hari ini banyak orang tahu:
- judul
buku filsafat,
- potongan
podcast ekonomi,
- kutipan
stoikisme,
- teori
geopolitik,
- dan
cara membuat kopi ala barista Norwegia.
Tapi kalau ditanya lebih dalam, jawabannya:
“Nanti saya cari thread Twitter-nya dulu.”
Kita hidup di era manusia yang merasa pintar karena menonton
video “Ringkasan Nietzsche dalam 30 Detik.” Bayangkan kalau peradaban Yunani
kuno dibangun dengan format konten seperti itu:
“Socrates EXPOSED! Apa yang dia katakan sebelum minum racun
bikin Plato MENANGIS 😱”
Herzog mungkin akan langsung pindah planet.
AI dan Ilusi Kepintaran Instan
Kemunculan AI generatif membuat situasi makin lucu. Sekarang
orang bisa berkata:
“Saya sudah memahami buku itu.”
Padahal yang dibaca cuma:
“Ringkas dalam 5 poin penting.”
Kita mulai menciptakan generasi yang ingin mendapatkan
kebijaksanaan tanpa proses. Seperti ingin punya otot six-pack hanya dengan
menonton video gym sambil makan martabak.
AI sebenarnya alat luar biasa. Ia bisa membantu riset,
membuka akses ilmu, bahkan membantu menulis. Tetapi kalau semua hal hanya ingin
diringkas, dipadatkan, dipercepat, akhirnya manusia kehilangan satu kemampuan
penting: tenggelam dalam pemikiran panjang.
Dan memang, masalah utama zaman ini bukan kurang cerdas.
Masalahnya: terlalu sibuk merasa cerdas.
Algoritma: Pedagang Perhatian Abad Modern
Internet tentu bukan musuh. Banyak orang belajar filsafat,
sejarah, bahkan tafsir melalui dunia digital. Masalahnya, algoritma internet
itu seperti pedagang kaki lima yang terus berteriak:
“Hei! Klik ini! Ada video bayi panda jatuh dari kursi!”
Kita awalnya mau membaca artikel serius tentang peradaban
Romawi. Dua puluh menit kemudian, kita malah menonton kompilasi:
“Kucing-kucing yang gagal lompat 2026.”
Algoritma tidak peduli kita menjadi bijak atau bodoh. Yang
penting kita tidak berhenti menggulir. Dalam ekonomi digital, perhatian manusia
adalah minyak baru. Dan sayangnya, banyak dari kita menjualnya terlalu
murah—kadang cuma demi video orang terpeleset kulit pisang.
Orang yang Membaca Akan Memiliki Dunia
Di tengah kekacauan digital ini, pembaca buku mulai tampak
seperti kelompok bawah tanah yang bertahan dari kiamat budaya. Mereka duduk
diam di sudut ruangan, membawa novel 500 halaman, sementara dunia sekitar sibuk
menonton video “Cara Jadi Miliarder dengan Bangun Jam 3 Pagi.”
Ada sesuatu yang heroik dari orang yang masih mampu membaca
panjang di zaman serba pendek. Mereka memiliki stamina berpikir. Mereka tahan
terhadap kebisingan. Mereka tidak gampang panik hanya karena membaca headline
sensasional.
Dan mungkin inilah maksud terdalam Herzog: membaca bukan
sekadar menambah pengetahuan, melainkan mempertahankan kemanusiaan.
Sebab ketika semua orang hanya hidup dari potongan-potongan
informasi, orang yang membaca mendalam akan terlihat seperti penyihir. Mereka
bisa memahami konteks, melihat pola, dan berpikir tanpa perlu subtitle TikTok
di bawah wajahnya.
Kalau perlu sambil mengunci ponsel di lemari.
Karena di zaman ketika semua orang sibuk menggulir dunia,
mungkin orang yang benar-benar membaca memang akan memilikinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.