Ada satu pertanyaan yang diam-diam menghantui sejarah politik manusia sejak ribuan tahun lalu:
Mengapa orang yang paling layak memimpin biasanya justru
ingin cepat pulang?
Dan mengapa orang yang paling ingin memimpin biasanya harus
disuruh pulang paksa?
Pertanyaan ini muncul setiap kali kita membaca kisah Lucius
Quinctius Cincinnatus, seorang petani Romawi yang dipanggil negara ketika
republik sedang sekarat. Bayangkan suasananya: beliau lagi nyangkul dengan
damai, mungkin sambil memikirkan pupuk kandang dan panen gandum, tiba-tiba
datang utusan negara dengan wajah panik seperti admin grup keluarga menjelang
Lebaran.
“Pak, Roma hampir runtuh. Tolong selamatkan negara.”
Dan yang lebih mengherankan lagi: beliau mau.
Di zaman sekarang, kebanyakan orang kalau ditawari jabatan
akan bereaksi seperti peserta giveaway. Belum resmi menjabat saja sudah pesan
baliho ukuran raksasa. Tapi Cincinnatus justru terlihat seperti bapak-bapak
yang diminta jadi ketua panitia kurban secara mendadak: menghela napas panjang,
memakai sandal, lalu berkata, “Ya sudah, saya bantu sebentar.”
Yang membuat kisah ini legendaris bukan cuma karena ia
berhasil menyelamatkan Roma dalam waktu singkat, melainkan karena setelah
semuanya selesai… dia pulang.
Tidak bikin partai.
Tidak bikin yayasan “Sahabat Cincinnatus”.
Tidak membuka kanal YouTube berjudul Leadership from the
Soil.
Tidak menjual kelas daring “Bangkitkan Jiwa Kaisar dalam
Dirimu.”
Beliau literally kembali nyangkul.
Dan justru di situlah dunia mulai bingung.
Ketika Kekuasaan Tidak Dianggap Mainan Koleksi
Masalah terbesar manusia modern adalah kita terlalu terbiasa
melihat kekuasaan seperti koleksi action figure: kalau sudah dapat satu, maunya
tambah lagi. Jabatan dianggap seperti langganan streaming—kalau bisa auto-renew
seumur hidup.
Karena itu, kisah Cincinnatus terdengar hampir tidak
realistis bagi telinga modern. Orang sekarang lebih rela kehilangan password
email daripada kehilangan jabatan.
Lucunya, orang Romawi sendiri sebenarnya sadar bahwa kisah
ini luar biasa. Mereka menjadikan Cincinnatus sebagai simbol ideal republik:
pemimpin yang datang ketika dibutuhkan dan pergi sebelum disuruh.
Semacam teknisi AC politik.
Datang. Memperbaiki kerusakan. Minum teh manis. Lalu pulang
tanpa meminta dibuatkan patung.
Tetapi sejarah punya selera humor yang gelap. Republik
Romawi yang memuja Cincinnatus justru akhirnya hancur oleh orang-orang yang
tidak pernah mau pulang. Setelah itu muncul tokoh-tokoh seperti Julius Caesar
yang melihat kekuasaan bukan sebagai “amanah darurat” melainkan “paket
langganan premium tanpa batas waktu.”
Dan sejak saat itu, politik dunia berubah menjadi semacam
kompetisi kursi musik yang aneh: semua orang berebut duduk, tetapi tidak ada
yang mau berdiri ketika musik berhenti.
George Washington dan Trauma Istana Eropa
Dua ribu tahun kemudian, sejarah mengulang leluconnya.
George Washington baru saja memenangkan perang kemerdekaan
Amerika. Rakyat mencintainya. Tentara mendukungnya. Kalau beliau mau mengangkat
diri jadi raja, kemungkinan besar orang-orang juga akan tepuk tangan sambil
bikin merchandise.
Tapi Washington malah pulang ke perkebunannya di Mount
Vernon.
Eropa syok.
Para raja di sana mungkin bingung seperti melihat influencer
menghapus akun Instagram centang biru lalu berkata, “Saya capek validasi
digital. Sekarang saya ingin fokus ternak lele.”
Konon George III sampai berkata bahwa jika Washington
benar-benar melepaskan kekuasaan secara sukarela, maka dia adalah orang
terbesar di dunia.
Karena bagi monarki Eropa, penguasa yang rela turun tahta
terdengar seperti konsep fiksi ilmiah.
Dan memang di situlah letak keanehannya: orang-orang seperti
Cincinnatus dan Washington memahami sesuatu yang sering gagal dipahami para
pecinta kursi kekuasaan—bahwa jabatan hanyalah alat, bukan identitas.
Mereka tidak bangun pagi sambil berbisik ke cermin:
“Aku tanpa kekuasaan bukan siapa-siapa.”
Mereka bisa hidup tenang tanpa panggung.
Sebuah kemampuan langka di zaman ketika sebagian orang
bahkan tidak bisa makan bakso tanpa mengunggahnya ke media sosial.
Republik dan Penyakit Bernama “Terlalu Betah”
Ada ironi besar dalam demokrasi modern. Kita selalu berkata
ingin pemimpin yang bijaksana, rendah hati, dan tidak haus kuasa. Tetapi setiap
musim politik tiba, kita justru terpesona pada orang yang paling percaya diri
mempromosikan dirinya sendiri.
Yang paling keras berbicara dianggap paling visioner.
Yang paling sering muncul dianggap paling layak.
Yang paling ambisius dianggap paling siap.
Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa manusia yang
terlalu mencintai kekuasaan biasanya memperlakukan negara seperti prasmanan
hotel bintang lima: ambil sebanyak mungkin sebelum waktu habis.
Awalnya mereka datang membawa slogan.
Lalu slogan berubah menjadi baliho.
Baliho berubah menjadi dinasti.
Dan tiba-tiba republik berubah menjadi bisnis keluarga
dengan logo nasional.
Sementara itu, orang-orang yang sebenarnya mungkin bijaksana
justru sibuk mengurus kebun, mengajar, membaca buku, atau menghindari debat
kusir di internet demi menjaga tekanan darah.
Karena orang bijak tahu satu hal penting: kekuasaan bukan
cuma fasilitas. Kekuasaan adalah stres dengan pengawalan.
Sawah Lebih Menyehatkan daripada Istana
Mungkin itulah pelajaran terbesar dari Cincinnatus.
Peradaban tidak selalu runtuh karena kurang orang pintar.
Kadang ia runtuh karena terlalu banyak orang yang tidak mau turun dari kursi.
Kita hidup di zaman ketika semua orang didorong untuk
menjadi “alpha”, membangun personal branding, mengejar pengaruh, dan tampil
dominan. Bahkan orang yang baru jadi ketua panitia buka puasa bersama kadang
sudah berfoto seperti calon gubernur.
Di tengah budaya seperti itu, sosok Cincinnatus terasa
nyaris revolusioner.
Dia menunjukkan bahwa puncak kebajikan bukanlah seberapa
lama seseorang berkuasa, melainkan seberapa rela ia melepaskannya.
Bahwa sawah bisa lebih sehat daripada istana.
Bahwa cangkul kadang lebih mulia daripada singgasana.
Dan mungkin doa paling tulus rakyat kepada pemimpinnya
sebenarnya sederhana saja:
“Pak, tolong selesaikan pekerjaan Anda dengan baik… lalu
pulanglah dengan elegan sebelum kami hafal semua angle wajah Anda di televisi.”
Sebuah harapan yang terdengar sederhana.
Tetapi sepanjang sejarah manusia, ternyata itu termasuk
kategori mukjizat politik.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.