Sabtu, 09 Mei 2026

Cincinnatus, Tukang Cangkul, dan Orang-Orang yang Betah di Kursi

Ada satu pertanyaan yang diam-diam menghantui sejarah politik manusia sejak ribuan tahun lalu:

Mengapa orang yang paling layak memimpin biasanya justru ingin cepat pulang?

Dan mengapa orang yang paling ingin memimpin biasanya harus disuruh pulang paksa?

Pertanyaan ini muncul setiap kali kita membaca kisah Lucius Quinctius Cincinnatus, seorang petani Romawi yang dipanggil negara ketika republik sedang sekarat. Bayangkan suasananya: beliau lagi nyangkul dengan damai, mungkin sambil memikirkan pupuk kandang dan panen gandum, tiba-tiba datang utusan negara dengan wajah panik seperti admin grup keluarga menjelang Lebaran.

“Pak, Roma hampir runtuh. Tolong selamatkan negara.”

Dan yang lebih mengherankan lagi: beliau mau.

Di zaman sekarang, kebanyakan orang kalau ditawari jabatan akan bereaksi seperti peserta giveaway. Belum resmi menjabat saja sudah pesan baliho ukuran raksasa. Tapi Cincinnatus justru terlihat seperti bapak-bapak yang diminta jadi ketua panitia kurban secara mendadak: menghela napas panjang, memakai sandal, lalu berkata, “Ya sudah, saya bantu sebentar.”

Yang membuat kisah ini legendaris bukan cuma karena ia berhasil menyelamatkan Roma dalam waktu singkat, melainkan karena setelah semuanya selesai… dia pulang.

Tidak bikin partai.

Tidak bikin yayasan “Sahabat Cincinnatus”.

Tidak membuka kanal YouTube berjudul Leadership from the Soil.

Tidak menjual kelas daring “Bangkitkan Jiwa Kaisar dalam Dirimu.”

Beliau literally kembali nyangkul.

Dan justru di situlah dunia mulai bingung.

Ketika Kekuasaan Tidak Dianggap Mainan Koleksi

Masalah terbesar manusia modern adalah kita terlalu terbiasa melihat kekuasaan seperti koleksi action figure: kalau sudah dapat satu, maunya tambah lagi. Jabatan dianggap seperti langganan streaming—kalau bisa auto-renew seumur hidup.

Karena itu, kisah Cincinnatus terdengar hampir tidak realistis bagi telinga modern. Orang sekarang lebih rela kehilangan password email daripada kehilangan jabatan.

Lucunya, orang Romawi sendiri sebenarnya sadar bahwa kisah ini luar biasa. Mereka menjadikan Cincinnatus sebagai simbol ideal republik: pemimpin yang datang ketika dibutuhkan dan pergi sebelum disuruh.

Semacam teknisi AC politik.

Datang. Memperbaiki kerusakan. Minum teh manis. Lalu pulang tanpa meminta dibuatkan patung.

Tetapi sejarah punya selera humor yang gelap. Republik Romawi yang memuja Cincinnatus justru akhirnya hancur oleh orang-orang yang tidak pernah mau pulang. Setelah itu muncul tokoh-tokoh seperti Julius Caesar yang melihat kekuasaan bukan sebagai “amanah darurat” melainkan “paket langganan premium tanpa batas waktu.”

Dan sejak saat itu, politik dunia berubah menjadi semacam kompetisi kursi musik yang aneh: semua orang berebut duduk, tetapi tidak ada yang mau berdiri ketika musik berhenti.

George Washington dan Trauma Istana Eropa

Dua ribu tahun kemudian, sejarah mengulang leluconnya.

George Washington baru saja memenangkan perang kemerdekaan Amerika. Rakyat mencintainya. Tentara mendukungnya. Kalau beliau mau mengangkat diri jadi raja, kemungkinan besar orang-orang juga akan tepuk tangan sambil bikin merchandise.

Tapi Washington malah pulang ke perkebunannya di Mount Vernon.

Eropa syok.

Para raja di sana mungkin bingung seperti melihat influencer menghapus akun Instagram centang biru lalu berkata, “Saya capek validasi digital. Sekarang saya ingin fokus ternak lele.”

Konon George III sampai berkata bahwa jika Washington benar-benar melepaskan kekuasaan secara sukarela, maka dia adalah orang terbesar di dunia.

Karena bagi monarki Eropa, penguasa yang rela turun tahta terdengar seperti konsep fiksi ilmiah.

Dan memang di situlah letak keanehannya: orang-orang seperti Cincinnatus dan Washington memahami sesuatu yang sering gagal dipahami para pecinta kursi kekuasaan—bahwa jabatan hanyalah alat, bukan identitas.

Mereka tidak bangun pagi sambil berbisik ke cermin:

“Aku tanpa kekuasaan bukan siapa-siapa.”

Mereka bisa hidup tenang tanpa panggung.

Sebuah kemampuan langka di zaman ketika sebagian orang bahkan tidak bisa makan bakso tanpa mengunggahnya ke media sosial.

Republik dan Penyakit Bernama “Terlalu Betah”

Ada ironi besar dalam demokrasi modern. Kita selalu berkata ingin pemimpin yang bijaksana, rendah hati, dan tidak haus kuasa. Tetapi setiap musim politik tiba, kita justru terpesona pada orang yang paling percaya diri mempromosikan dirinya sendiri.

Yang paling keras berbicara dianggap paling visioner.

Yang paling sering muncul dianggap paling layak.

Yang paling ambisius dianggap paling siap.

Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa manusia yang terlalu mencintai kekuasaan biasanya memperlakukan negara seperti prasmanan hotel bintang lima: ambil sebanyak mungkin sebelum waktu habis.

Awalnya mereka datang membawa slogan.

Lalu slogan berubah menjadi baliho.

Baliho berubah menjadi dinasti.

Dan tiba-tiba republik berubah menjadi bisnis keluarga dengan logo nasional.

Sementara itu, orang-orang yang sebenarnya mungkin bijaksana justru sibuk mengurus kebun, mengajar, membaca buku, atau menghindari debat kusir di internet demi menjaga tekanan darah.

Karena orang bijak tahu satu hal penting: kekuasaan bukan cuma fasilitas. Kekuasaan adalah stres dengan pengawalan.

Sawah Lebih Menyehatkan daripada Istana

Mungkin itulah pelajaran terbesar dari Cincinnatus.

Peradaban tidak selalu runtuh karena kurang orang pintar. Kadang ia runtuh karena terlalu banyak orang yang tidak mau turun dari kursi.

Kita hidup di zaman ketika semua orang didorong untuk menjadi “alpha”, membangun personal branding, mengejar pengaruh, dan tampil dominan. Bahkan orang yang baru jadi ketua panitia buka puasa bersama kadang sudah berfoto seperti calon gubernur.

Di tengah budaya seperti itu, sosok Cincinnatus terasa nyaris revolusioner.

Dia menunjukkan bahwa puncak kebajikan bukanlah seberapa lama seseorang berkuasa, melainkan seberapa rela ia melepaskannya.

Bahwa sawah bisa lebih sehat daripada istana.

Bahwa cangkul kadang lebih mulia daripada singgasana.

Dan mungkin doa paling tulus rakyat kepada pemimpinnya sebenarnya sederhana saja:

“Pak, tolong selesaikan pekerjaan Anda dengan baik… lalu pulanglah dengan elegan sebelum kami hafal semua angle wajah Anda di televisi.”

Sebuah harapan yang terdengar sederhana.

Tetapi sepanjang sejarah manusia, ternyata itu termasuk kategori mukjizat politik.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.