Tentang Alam, Industri, dan Manusia Modern yang Sulit Hidup Tanpa Charger
Di zaman modern ini, ada banyak jenis manusia pencinta
lingkungan. Ada yang menanam pohon. Ada yang memilah sampah. Ada juga yang
memotret kopi di gelas bambu lalu merasa telah menyelamatkan planet bumi.
Namun di atas semuanya, ada level yang lebih tinggi lagi:
manusia modern yang mampu berbicara tentang harmoni alam sambil tetap
bergantung pada ribuan cerobong asap industri.
Kita hidup di zaman ketika seminar lingkungan diadakan di
hotel ber-AC dingin, menggunakan proyektor listrik penuh, lalu peserta pulang
memakai kendaraan yang terjebak macet sambil mengeluh polusi udara.
Di situlah letak kejeniusan peradaban modern:
kita bisa menanam seribu pohon sambil membangun lima ribu pabrik baterai mobil
listrik.
Alam dipeluk, tetapi sambil dihitung ROI-nya.
Ada slogan-slogan ekologis yang terdengar begitu indah:
“Air jernih dan gunung hijau adalah gunung emas dan gunung perak.”
Kalimat ini sangat puitis. Cocok ditulis di dinding kafe
organik dengan lampu temaram dan harga kopi yang membuat dompet ikut mengalami
krisis iklim.
Bahkan terdengar seperti kutipan pendekar:
“Pendekar sejati tidak mengejar emas. Ia mengejar gunung hijau.”
Lalu muridnya menjawab:
“Tapi guru… cicilan apartemen tetap harus dibayar.”
Dan memang di situlah problem utama manusia modern. Semua
orang ingin lingkungan lestari, tetapi AC tetap harus dingin, paket belanja
tetap harus tiba besok pagi, dan video kucing tetap harus streaming dalam
kualitas 4K.
Maka lahirlah berbagai konsep besar tentang “peradaban
ekologis”, “ekonomi hijau”, dan “pembangunan berkelanjutan” — istilah-istilah
yang terdengar seperti gabungan antara kitab filsafat kuno, proposal konferensi
internasional, dan brosur apartemen premium.
Hebatnya, manusia memang berhasil menghijaukan kembali
banyak wilayah tandus. Bukit-bukit gersang berubah hijau. Sungai mulai bersih.
Dunia kagum.
Tetapi kemudian seseorang membuka data emisi karbon dan
berkata pelan:
“Sebentar ya… kok asapnya masih banyak?”
Di situlah drama modern dimulai.
Kita membangun panel surya sambil tetap menambang batu bara.
Kita menjual mobil listrik sambil menggali separuh gunung demi nikel dan
litium.
Kita ingin menyelamatkan bumi menggunakan teknologi yang membutuhkan lebih
banyak tambang daripada sebelumnya.
Kadang manusia modern terasa seperti bapak-bapak yang rajin
jogging pagi tetapi masih merokok dua bungkus sehari.
Peradaban modern memang penuh paradoks.
Kita ingin hidup dekat alam, tetapi sinyal Wi-Fi jangan sampai hilang.
Kita ingin hutan lestari, tetapi furnitur kayu estetik tetap harus tersedia
untuk difoto dan diunggah dengan caption:
“Back to nature.”
Bahkan proyek pembangunan sering terasa seperti drama
keluarga besar:
di satu sisi membawa jalan, listrik, dan pekerjaan,
di sisi lain membawa buldoser yang membuat hutan mulai berkeringat dingin.
Negara berkembang pun sering bingung.
Kalau menolak pembangunan, disebut anti-kemajuan.
Kalau menerima semuanya, tiba-tiba sungai berubah warna seperti minuman rasa
anggur.
Namun harus diakui, manusia modern memahami satu hal
penting:
di zaman sekarang, narasi sama pentingnya dengan kenyataan.
Karena itu media sosial penuh dengan foto pegunungan hijau,
sungai bening, orang bersepeda estetik, dan kutipan bijak tentang bumi —
biasanya diposting memakai ponsel yang bahan bakunya diambil dari tambang yang
membuat bukit botak.
Tapi memang begitulah manusia.
Kita adalah makhluk yang mampu mencintai alam sekaligus mengurasnya secara
profesional.
Kita mengutuk polusi sambil panik ketika listrik padam lima
menit.
Kita marah pada perubahan iklim sambil tetap membuka kulkas setiap tiga menit
hanya untuk memastikan masih ada makanan.
Mungkin karena itu alam sering bingung menghadapi manusia.
Di satu sisi kita menulis puisi tentang gunung hijau.
Di sisi lain kita membuat gunung benar-benar habis demi baterai kendaraan yang
katanya ramah lingkungan.
Dan mungkin, jauh di suatu tempat, seekor panda sedang duduk
termenung sambil berkata:
“Manusia ini lucu sekali. Mereka merusak bumi dengan sangat
modern, lalu memperbaikinya dengan seminar.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.