Minggu, 10 Mei 2026

Ketika Werner Herzog Menyuruh Kita Jalan Kaki, Netizen Justru Mencari Parkiran Terdekat

Di zaman modern ini, manusia punya hubungan yang sangat intim dengan kendaraan. Saking intimnya, ada orang yang pergi ke minimarket yang jaraknya cuma tiga rumah tetap naik motor sambil bilang, “Lumayan jauh.” Padahal ayam tetangga saja kalau dikejar masih sanggup lari lebih jauh tanpa mengeluh.

Lalu datanglah seorang pria Jerman bernama Werner Herzog yang dengan tenang berkata bahwa manusia sejatinya diciptakan untuk berjalan kaki. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi efeknya bagi manusia modern kira-kira sama seperti mendengar dosen berkata, “Ujian besok esai semua.”

Herzog membedakan dua jenis aktivitas berjalan. Yang pertama adalah strolling — jalan santai ala bapak-bapak habis subuh sambil membawa tangan di belakang punggung dan mengomentari pembangunan selokan. Yang kedua adalah traveling on foot — berjalan kaki sebagai cara memahami dunia, memahami hidup, dan mungkin memahami kenapa sandal selalu hilang sebelah di masjid.

Menurut Herzog, manusia modern terlalu cepat bergerak. Kita meluncur memakai mobil, kereta, pesawat, dan kadang emosi. Akibatnya kita tidak lagi benar-benar melihat dunia. Kita hanya melewatinya seperti orang menonton video TikTok: cepat, vertikal, dan lupa lima detik kemudian.

Dulu nenek moyang manusia berjalan ribuan kilometer melintasi savana demi bertahan hidup. Sekarang manusia berjalan tiga ratus meter menuju ATM saja sudah merasa seperti sedang manasik haji kecil-kecilan. Evolusi mungkin sedang bingung melihat keturunannya. Tulang kaki dibuat kokoh untuk menjelajah benua, tetapi sekarang dipakai terutama untuk mencari colokan charger.

Herzog tampaknya sedih melihat manusia kehilangan kemampuan “membaca dunia.” Sebab dunia, menurutnya, hanya membuka dirinya kepada mereka yang berjalan kaki. Ini terdengar sangat puitis. Namun kalau dipikir-pikir, memang benar. Saat berjalan kaki, kita memperhatikan hal-hal kecil: suara daun, bau gorengan, tulisan “kontrakan petak bebas ular”, atau bapak-bapak yang menyiram jalan dengan semangat seolah sedang memadamkan kebakaran nasional.

Berjalan kaki membuat manusia kembali akrab dengan realitas. Ketika naik mobil, kita merasa dunia ini rapi. Begitu jalan kaki lima menit di gang kompleks, barulah kita sadar bahwa hidup ternyata penuh tambalan aspal dan kabel menggantung yang bentuknya seperti mie instan gagal matang.

Yang lucu, manusia modern sebenarnya sangat menyukai filosofi berjalan kaki — asalkan dibaca sambil duduk di kafe ber-AC. Kutipan Herzog dibagikan di media sosial oleh orang-orang yang langkah hariannya rata-rata hanya dari kasur ke kulkas. Ada yang mengunggah kalimat “The world reveals itself to those who travel on foot” sambil menunggu ojek online datang ke depan pagar rumah.

Ironi terbesar modernitas memang begini: kita mengagungkan petualangan, tetapi panik kalau baterai ponsel tinggal 12 persen.

Herzog bahkan menyebut wisata modern sebagai semacam dosa. Ini tentu kabar buruk bagi rombongan wisata yang tujuan utamanya bukan memahami budaya lokal, melainkan mencari spot foto yang “instagramable”. Manusia sekarang bepergian bukan untuk melihat dunia, melainkan untuk memastikan dunia melihat mereka.

Ada orang datang ke pegunungan yang sunyi dan indah, lalu hal pertama yang dilakukan adalah mencari sinyal.

Padahal berjalan kaki punya efek spiritual yang aneh. Semakin lama berjalan, semakin banyak pikiran yang rontok. Di awal perjalanan kita masih memikirkan cicilan, notifikasi, dan mantan. Setelah dua jam berjalan, pikiran mulai sederhana: “Semoga ada warung.” Di titik itu manusia mencapai bentuk kesadaran paling murni.

Herzog tampaknya memahami bahwa tubuh manusia sebenarnya diciptakan bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk mengembara. Masalahnya, masyarakat modern telah berhasil mengubah aktivitas alami manusia menjadi sesuatu yang melelahkan. Kita bahkan punya istilah “healing”, seolah-olah pergi melihat sawah adalah prosedur medis darurat akibat terlalu lama melihat Excel.

Mungkin benar kata Herzog: dunia hanya membuka dirinya kepada pejalan kaki. Sebab dunia ini memang pemalu. Ia tidak mau bercerita kepada orang yang lewat sambil ngebut dan membunyikan klakson.

Dan mungkin, di tengah dunia yang terlalu cepat ini, berjalan kaki adalah satu-satunya cara agar manusia sempat mengejar dirinya sendiri yang tertinggal jauh di belakang.

 abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.