Di zaman modern ini, manusia punya hubungan yang sangat intim dengan kendaraan. Saking intimnya, ada orang yang pergi ke minimarket yang jaraknya cuma tiga rumah tetap naik motor sambil bilang, “Lumayan jauh.” Padahal ayam tetangga saja kalau dikejar masih sanggup lari lebih jauh tanpa mengeluh.
Lalu datanglah seorang pria Jerman bernama Werner Herzog
yang dengan tenang berkata bahwa manusia sejatinya diciptakan untuk berjalan
kaki. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi efeknya bagi manusia modern
kira-kira sama seperti mendengar dosen berkata, “Ujian besok esai semua.”
Herzog membedakan dua jenis aktivitas berjalan. Yang pertama
adalah strolling — jalan santai ala bapak-bapak habis subuh sambil
membawa tangan di belakang punggung dan mengomentari pembangunan selokan. Yang
kedua adalah traveling on foot — berjalan kaki sebagai cara memahami
dunia, memahami hidup, dan mungkin memahami kenapa sandal selalu hilang sebelah
di masjid.
Menurut Herzog, manusia modern terlalu cepat bergerak. Kita
meluncur memakai mobil, kereta, pesawat, dan kadang emosi. Akibatnya kita tidak
lagi benar-benar melihat dunia. Kita hanya melewatinya seperti orang menonton
video TikTok: cepat, vertikal, dan lupa lima detik kemudian.
Dulu nenek moyang manusia berjalan ribuan kilometer
melintasi savana demi bertahan hidup. Sekarang manusia berjalan tiga ratus
meter menuju ATM saja sudah merasa seperti sedang manasik haji kecil-kecilan.
Evolusi mungkin sedang bingung melihat keturunannya. Tulang kaki dibuat kokoh
untuk menjelajah benua, tetapi sekarang dipakai terutama untuk mencari colokan
charger.
Herzog tampaknya sedih melihat manusia kehilangan kemampuan
“membaca dunia.” Sebab dunia, menurutnya, hanya membuka dirinya kepada mereka
yang berjalan kaki. Ini terdengar sangat puitis. Namun kalau dipikir-pikir,
memang benar. Saat berjalan kaki, kita memperhatikan hal-hal kecil: suara daun,
bau gorengan, tulisan “kontrakan petak bebas ular”, atau bapak-bapak yang
menyiram jalan dengan semangat seolah sedang memadamkan kebakaran nasional.
Berjalan kaki membuat manusia kembali akrab dengan realitas.
Ketika naik mobil, kita merasa dunia ini rapi. Begitu jalan kaki lima menit di
gang kompleks, barulah kita sadar bahwa hidup ternyata penuh tambalan aspal dan
kabel menggantung yang bentuknya seperti mie instan gagal matang.
Yang lucu, manusia modern sebenarnya sangat menyukai
filosofi berjalan kaki — asalkan dibaca sambil duduk di kafe ber-AC. Kutipan
Herzog dibagikan di media sosial oleh orang-orang yang langkah hariannya
rata-rata hanya dari kasur ke kulkas. Ada yang mengunggah kalimat “The world
reveals itself to those who travel on foot” sambil menunggu ojek online datang
ke depan pagar rumah.
Ironi terbesar modernitas memang begini: kita mengagungkan
petualangan, tetapi panik kalau baterai ponsel tinggal 12 persen.
Herzog bahkan menyebut wisata modern sebagai semacam dosa.
Ini tentu kabar buruk bagi rombongan wisata yang tujuan utamanya bukan memahami
budaya lokal, melainkan mencari spot foto yang “instagramable”. Manusia
sekarang bepergian bukan untuk melihat dunia, melainkan untuk memastikan dunia
melihat mereka.
Ada orang datang ke pegunungan yang sunyi dan indah, lalu
hal pertama yang dilakukan adalah mencari sinyal.
Padahal berjalan kaki punya efek spiritual yang aneh.
Semakin lama berjalan, semakin banyak pikiran yang rontok. Di awal perjalanan
kita masih memikirkan cicilan, notifikasi, dan mantan. Setelah dua jam
berjalan, pikiran mulai sederhana: “Semoga ada warung.” Di titik itu manusia
mencapai bentuk kesadaran paling murni.
Herzog tampaknya memahami bahwa tubuh manusia sebenarnya
diciptakan bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk mengembara. Masalahnya,
masyarakat modern telah berhasil mengubah aktivitas alami manusia menjadi
sesuatu yang melelahkan. Kita bahkan punya istilah “healing”, seolah-olah pergi
melihat sawah adalah prosedur medis darurat akibat terlalu lama melihat Excel.
Mungkin benar kata Herzog: dunia hanya membuka dirinya
kepada pejalan kaki. Sebab dunia ini memang pemalu. Ia tidak mau bercerita
kepada orang yang lewat sambil ngebut dan membunyikan klakson.
Dan mungkin, di tengah dunia yang terlalu cepat ini,
berjalan kaki adalah satu-satunya cara agar manusia sempat mengejar dirinya
sendiri yang tertinggal jauh di belakang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.