Kapitalisme yang Diam-Diam Minta Disuapi Negara
Di masa lalu, kita diajari bahwa pasar bebas adalah sistem
paling suci di muka bumi. Pemerintah, kata para ekonom berjanggut tipis di
televisi, sebaiknya jangan ikut campur. Biarkan perusahaan bertarung sendiri
seperti ayam jago di arena. Yang kuat menang, yang lemah bangkrut, lalu semua
orang pura-pura itu adil.
Lalu datanglah industri semikonduktor.
Tiba-tiba Amerika Serikat melakukan sesuatu yang sangat
tidak libertarian: membeli saham Intel hampir 10% senilai $8,9 miliar. Negara
yang biasanya ceramah tentang “kompetisi sehat” kini mendadak seperti om kaya
raya yang masuk ke warung bakso sambil berkata, “Sudah, sini saya talangi
dulu.”
Dan yang lebih lucu lagi, ternyata berhasil.
Kurang dari sembilan bulan, investasi itu katanya berubah
menjadi keuntungan belum terealisasi sebesar $47 miliar. Angka sebesar itu
membuat banyak negara berkembang spontan membuka kalkulator, lalu menatap
kosong ke arah langit sambil bertanya, “Kita selama ini salah jurusan ekonomi
ya?”
Ini bukan lagi bailout. Ini sudah seperti sinetron korporasi
dengan genre campuran antara geopolitik, drama keluarga, dan MLM teknologi.
Negara Sebagai Emak-Emak Grup WhatsApp
Yang paling menarik bukan cuma uangnya, melainkan cara
pemerintah AS bekerja.
Menteri Perdagangan Howard Lutnick berkeliling menemui
CEO-CEO raksasa seperti seorang ketua arisan yang sedang mengatur konsumsi
acara 17-an.
Ia menemui Apple, Tesla, dan Nvidia sambil kira-kira
berkata:
“Tolong ya, kalau bikin chip jangan semuanya di Taiwan.
Kasihan Intel. Dia lagi berusaha berubah.”
Bayangkan betapa absurdnya dunia modern. Pemerintah Amerika
yang dulu mempromosikan pasar bebas kini seperti mak comblang teknologi.
“Tim Cook, coba dong kasih kesempatan kedua buat Intel.”
“Jensen Huang, masa semua chip ditaruh di TSMC terus?
Variasi dikit kek.”
“Elon, tolong jangan beli pabrik chip di Mars dulu.”
Kapitalisme ternyata pada akhirnya tetap membutuhkan figur
ibu-ibu yang mengatur semuanya.
Apple dan Intel: Mantan yang Balikan Karena Situasi
Ekonomi
Hubungan Intel dan Apple ini sebenarnya sangat mirip
pasangan mantan pacar.
Pada 2020, Apple meninggalkan Intel dengan penuh drama.
Mereka pindah ke chip seri M buatan sendiri yang diproduksi oleh TSMC. Saat itu
Intel terlihat seperti mantan yang kalah glow up.
Apple berkata, dengan bahasa korporasi yang sangat sopan:
“Ini bukan salah kamu. Ini salah fabrikasi 14nm kamu yang
tak kunjung selesai.”
Intel pun ditinggalkan di pinggir jalan sejarah teknologi
sambil membawa kipas pendingin dan trauma benchmark.
Namun hidup memang penuh plot twist.
Ledakan AI membuat TSMC kewalahan. Semua orang rebutan chip.
Nvidia mau chip. AMD mau chip. Hyperscaler mau chip. Bahkan mungkin kulkas
pintar sebentar lagi ikut antre minta GPU.
Taiwan mendadak menjadi dapur semesta digital. Dan seperti
semua dapur yang terlalu sibuk, akhirnya muncul masalah:
“Pesanan Anda sedang diproses. Estimasi selesai: 2047.”
Di titik inilah Apple mulai melirik Intel lagi.
Bukan karena cinta lama bersemi kembali. Jangan romantis.
Ini murni hubungan supply chain.
Apple sekarang seperti orang yang dulu meninggalkan warung
langganan karena menemukan restoran fancy, lalu balik lagi karena restoran
fancy waiting list-nya 11 bulan.
TSMC: Satu Pulau Mengendalikan Dunia
Yang benar-benar lucu dari ekonomi global modern adalah
fakta bahwa nasib teknologi dunia bertumpu pada satu pulau kecil.
Satu.
Pulau.
Kecil.
Seluruh umat manusia sekarang bergantung pada tempat yang
jika dilihat di Google Maps bahkan kadang harus dizoom dua kali.
Konsep “chokepoint thesis” sebenarnya sederhana: dunia
terlalu bergantung pada satu titik sempit.
Ini seperti seluruh warga planet bumi sepakat membeli
gorengan hanya dari satu abang gorengan di ujung gang. Ketika abang itu sakit,
ekonomi global langsung gemetar.
Amerika melihat situasi ini dan panik.
Karena bayangkan jika suatu hari Taiwan mengalami gangguan
besar. Dunia modern bisa lumpuh total. Mobil tidak jadi diproduksi. Smartphone
tertunda. Server AI berhenti. Dan yang paling mengerikan: orang LinkedIn tidak
bisa lagi membuat postingan tentang “leveraging innovation for scalable
disruption.”
Peradaban bisa runtuh.
Kapitalisme yang Diam-Diam Sosialis Saat Panik
Ada ironi besar dalam cerita ini.
Selama puluhan tahun, negara-negara berkembang diberi
ceramah:
“Jangan terlalu banyak intervensi negara.”
“Pasar tahu yang terbaik.”
“Privatisasi adalah jalan menuju kemajuan.”
Lalu ketika industri strategis Amerika mulai goyah,
pemerintah AS langsung masuk membeli saham, mengatur relasi bisnis, membangun
pabrik, memberi subsidi, dan secara halus berkata:
“Kalau kami yang melakukan, ini bukan intervensi. Ini
strategi nasional.”
Ternyata kapitalisme itu seperti anak kos.
Intel dan Keajaiban Motivasi Nasional
Yang lebih menghibur adalah transformasi Intel dari
perusahaan yang selama bertahun-tahun dijadikan meme teknologi menjadi simbol
kebangkitan nasional.
Dulu orang teknologi membicarakan Intel seperti guru BP
membicarakan murid yang nilainya turun terus:
“Potensinya sebenarnya ada…”
Kini Intel kembali dielu-elukan seperti tokoh anime yang
bangkit setelah training montage.
Saham naik. Investor bersorak. Pemerintah tersenyum. CNBC
membuat grafik dengan warna hijau menyala seperti lampu diskotek.
Padahal para insinyur Intel mungkin masih begadang sambil
panik:
“Bos, node 18A ini masih agak rough…”
Tapi pasar modal memang sering bekerja seperti penonton
sepak bola. Kadang belum lihat pertandingan selesai, sudah konvoi keliling
kota.
Dunia Baru: Dari Globalisasi ke “Tetangga yang Bisa
Dipercaya”
Yang sebenarnya sedang terjadi adalah perubahan besar dalam
cara dunia memandang globalisasi.
Inilah era friend-shoring.
Akibatnya semua negara sekarang ikut latah bikin industri
chip sendiri.
Semikonduktor kini diperlakukan seperti rendang keluarga:
semua orang takut terlalu bergantung pada dapur tetangga.
Dunia Dikuasai oleh Orang yang Bisa Membuat
Chip Kecil
Pada akhirnya, cerita Intel ini mengajarkan satu hal
penting:
Peradaban modern ternyata sangat rapuh.
Tetapi karena benda kecil bernama chip.
Seluruh ekonomi global, kecerdasan buatan, media sosial,
mobil listrik, cloud computing, bahkan perang meme internet, semuanya
bergantung pada kepingan silikon mungil yang ukurannya bahkan kalah besar dari
kerupuk udang.
Dan karena itu, pemerintah Amerika rela berubah dari nabi
pasar bebas menjadi investor aktif, makelar industri, sekaligus satpam rantai
pasok.
Apakah strategi ini akan berhasil jangka panjang?
Belum tentu.
Apakah Intel benar-benar akan bangkit?
Kita lihat saja.
Namun satu hal pasti: di abad ke-21, ternyata jalan menuju
kekuasaan dunia bukan lagi minyak, emas, atau senjata nuklir.
Melainkan kemampuan mencetak chip kecil sambil membuat
negara lain berkata:
“Tolong ya, sisain kapasitas produksi sedikit buat kami.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.